BAB V PEMAHAMAN DAN ANALISIS HIDROLOGY
5.2.4 Sirkulasi Air dalam Lansekap Regional
Dalam lansekap regional yang merupakan satu kesatuan wilayah sistem aliran air (daerah aliran sungai/watershed), air mengalami sirkulasi melalui atmosfer, permukan tanah dan di bawah tanah. Baik melalui permukaan ataupun dalam tanah, air mengalir dari area yang lebih tinggi menuju area yang lebih rendah. Area yang lebih tinggi di sebut area tangkapan (recharge area) dan mendapatkan air dari hujan. Sedangkan area yang lebih rendah disebut area buangan (dischrage area). Biasanya di area tangkapan, muka air tanah terletak relatif dalam, sedangkan pada area buangan air tanah relatif dangkal (mendekati muka tanah). Pola sirkulasi air dalam watershed tergantung pada:
a. Daerah iklim (posisinya terhadap matahari yang menetukan karakter curah hujan Topografi yang menetukan pola aliran;
b. Geologi serta sifat dan derajat ketertutupan tanah (termasuk adanya vegetasi) yang menetukan kemampuan infiltasi dan penyimpanan.
24
5.2.5 Sirkulasi Air RegionalPada dasarnya sumber air permukan adalah air hujan yang terjadi pada saat curah hujan melampui kecepatan infiltrasi, evaporasi, dan evapotransporasi. Jika air yang turun sebagai hujan (atau salju) tidak dapat diresapkan ke dalam tanah dan tidak habis pula diuapkan, air akan mengalir dipermukaan lahan sebagai limpasan permukaan. Limpasan permukaan terjadi di seluruh bagian lahan tempat air hujan jatuh, sebelum berkumpul ke dalam parit-parit kecil dan mengalir bersama-sama menuju sungai. Sungai mengangkut air menuju laut.
Pola limpasan alami suatu wilayah watershed yang muncul sebagai pola aliran sungai pada dasarnya sangat tergantung pada kondiri topografi dan geologi wilayah tersebut.
Berikut ini adalah ragam pola aliran sungai yang umum yang dipengaruhi dan mengindikasikan kondisi fisik lahan wilayah.
1. Denritik (seperti cabang pohon): daerah mempunyai struktur batuan yang homogen;
2. Rectangular (cabang-cabang aliran saling tegak lurus):
daerahnya mempunyai kekar-kekar atau sesar-sesar yang memiliki arah-arah tertentu;
3. Trellis (seperti sirip ikan): daerahnya merupakan daerah lipatan yang kuat atau lapisannya miring dengan macam-macam batuan (heterogen)
4. Radial menyebar: daerah gunung api (dome muda)
25
5. Annular (aliran melingkar dan menyebar ke segalka arah:dome dewasa yang telah banyak mengalami erosi;
6. Multi basinal (aliran terputus-putus): daerah karst dengan aliran hanya pada waktu hujan.
Pola limpasan permukaan akan termodifikasi dengan adanya penutupan lahan seperti vegetasi, bangunan, jalan, dan perkerasan.
5.2.6 Aliran Air Tanah dalam Struktur Lansekap
Jaring-jaring dan siklus hidrologi mencerminkan keterkaitan antar bagian dari sistem lansekap. Jaring-jaring ini muncul di permukaan, di atmosfer maupun di dalam tanah. Jejaring hidrologi pada permukaan lahan telah kita bahas secara singkat pada bagian limpasan permukaan regional. Sedangkan untuk memahami jejaring hidrologi dalam tanah, kita dapat mengadopsi konsep dari Toth (1963).
Berdasar konsep ini, aliran air dibawah tanah terdiri dari sistem jaringan yang bertingkat dan superimpose antara sub sistem hidrologi lokal dan regional. Pada prinsipnya, pada bagian-bagian lahan senantiasa ada bagian asupan (recharge area) dan bagian buangan (discharge area). Air selalu datang dari area asupan menuju area buangan. Sistem hidrologi lokal terjadi sebagai akibat dari kondisi topografi mikro (microlandform) dan kondisi tanahnya, sedangkan sistem hidrologi regional ditentukan oleh kondisi geologi dan topografi regional (macrolandform).
5.2.7 Lapisan Hidrogeologi
Bagian tanah yang dapat di masuki/dilalui air disebut sebagai lapisan tanah yang permeable, yaitu yang disebut sebagai lapisan aquifer. Di tempat inilah air tanah disimpan.
Tidak semua lapisan geologi memberi peluang terdapatnya air tanah. Berdasar pada sifat ini, pelapisan geologi dapat di bedakan menjadi:
1. Aquifer (lapisan pembawa air): lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang memiliki permeabilitas tinggi sehingga dpat menyimpan dan mengalirkan air tanah dalam jumlah besar;
26
2. Aquitard (lapisan kedap air): lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang memiliki permeable rendah yang hanya dapat menyimpan air tanah tetapi tidak dapat mengalirkannya;3. Aquiclude (lapisan kebal air) : lapisan, formasi,atau kelompok formasi satuan geologi yang impermeable, sama sekali tidak mengandung air.
Kondisi alami dan distribusi aquifer, aquitard dan aquiclude dalam sistem geologi ditentukan oleh lithologi, stratigrafi, dan struktur dari material simpanan geologi dan formasinya.
Tanah yang memiliki cukup rongga dapat untuk dimasuki air. Namun demikian, posisi bagian tanah ini juga mempengaruhi kapasitas kondisi air tanah pada suatu lahan. Secara geologi, bagian tanah yang menyimpan air dapat terletak di atas, di bawah, atau di antara suatu jenis tanah/batuan yang lain. Unconfined dan semiunconfined aquifer memiliki peluang untuk mendapatkan asupan air secara langsung mendapat dari permukaan tanah karena tidak adanya lapisan kedap air di atas lapisan ini. Lapisan-lapisan diatas dapat berulang secara vertikal. Berdasarkan posisinya, lapisan pembawa air (aquifer) dapat dibedakan menjadi:
1. Confined aquifer (lapisan pembawa air tertekan): Aquifer jenuh air yang terletak diantara aquiclude dan memiliki tekanan lebih besar dari tekanan atmosfer.
2. Unconfined aquifer (lapisan pembawa air bebas): Aquifer jenuh air yang dibatasi aquitard di bawahnya dan tidak memilki pembatas di atasnya.
3. Aquifer ini adalah aquifer yang memiliki muka air tanah (water table).
Terdapat 3 ragam unconfined aquifer adalah: akuifer lembah (danau dan sungai); akuifer aluvial. Artesian aquifer: merupakan confined aquifer, dimana konduktifitas hidroliknya lebih tinggi dari permukaan tanah, sehingga bila di lakukan pengeboran akan timbul pancaran ke atas (melawan gravitasi), hingga mencapai ketinggian hidroliknya.
Daerah-daerah yang banyak terdapat lapisan pembawa air (aquifer) adalah:
1. daerah dataran banjir 2. lembah-lembah mati 3. dataran pantai
4. dataran/lembah antar gunung
5. daerah batu gamping yang banyak rekahan 6. daerah bahan organik (mis: gambut)
27
Gambar 5.2 Posisi Lapisan Akuifer5.2.8 Muka Air Tanah
Sesuai dengan sifat dasar air, air tanah pada aquifer pun mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Relief bagian atas dari lapisan ini, atau yang disebut dengan muka air tanah, secara garis besar akan mengikuti/terefleksikan oleh topografi bila tidak ada perbedaan asupan maupun pengambilan di seluruh lahan. Namun bila terdapat asupan atau pengambilan air tanah, kedalam muka air tanah bervariasi. Pada bagian lahan yang banyak terjadi resapan air (misalnya tanah permeable dengan pepohonan rapat), muka air tanah akan menjadi dangkal. Bahkan pada suatu area lahan dengan elevasi rendah atau pada area lembah, muka air tanah dapat saja muncul ke permukaan, sejajar dengan muka air pada badan air seperti sungai, danau atau air tergenang. Hal ini menandakan bahwa pada tempat tersebut tanah dalam kondisi jenuh. Kebalikanya, muka air tanah akan turun bila terjadi pengambilan yang berlebihan. sebaran dan aliran ini sangat menentukan
5.2.9 Air Dalam Tanah
Air dalam tapak hanya merupakan potongan rangkaian kecil dari siklus hidrologi, bahkan masih relatif kecil dalam sirkulasi air pada daerah aliran sungai. Sirkulasi air dalam tapak tidak pernah dapat benar-benar tertutup dan hanya memiliki fase-fase yang sangat tidak lengkap. Namun demikian beberapa proses, seperti precipitasi, infiltrasi, run off, evaporasi, dan evapotransporasi tetap terjadi. Dalam tapak air juga berpeluang untuk
28
tersimpan atau mengalir di permukaan dan dalam tanah. Kejadian genangan, pola dan volume aliran permukaan serta besaran/simpanan air dalam tanah tergantung pada intensitas hujan, topografi dan jenis tanah pada tapak. Kondisi air permukaan dan air di dalam5.2.10 Air Permukaan dalam Tapak
Perilaku air permukaan sangat terkait dengan topografi. Terdapat hubungan kauasalitas yang timbal balik antara air permukaan dan topografi. Topograf menentukan lokasi, kecepatan aliran serta keberadaan genangan. Sebaliknya, perilaku air (bersama dengan angin dan komponen lain) yang membentuk/memodifikasi topografi kembali.
Pola aliran dan genangan air yang potensial muncul di atas permukan tanah dapat di interprestasikan dari peta kontur. Langkah pertama adalah mengindikasikan garis punggung bukit (ridgeline) dan lembah menerus (swaleline). Kemudian kita dapat menggambarkan arah aliran air (limpasan permukaan) dari sepanjang ridgeline menuju sepanjang swaleline.
Swaleline mengindikasikan jalur konsentrasi aliran air. Area lembah (lahan cekung) yang merupakan tempat bertemunnya beberapa swalelines merupakan area potensial genangan.
Besarnya limpasan permukaan terutama tergantung dari besarnya asupan curah hujan dan kapasitas infiltrasi. Sedangkan kecepatan (velocity) aliran air tergantung dari kondisi topografi lahan dan lapisan permukaannya.
Gambar 5.3 Pembagian Daerah Limpasan Air Pada Tapak Keterangan:
1. Punggung bukit (ridge) ditandai dengan garis putus-putus pada peta yang merupakan titik puncak dari lahan yang membentuk garis linear,
2. Swalelines (lembah aliran) bagian menyempit yang mengalirkan air dari punggung bukit
29
ke elevasi yang lebih rendah3. Arah aliran ditandai dengan garis panah yang menandakan arah aliran air menuju ke elevasi yang lebih rendah melalui lembah aliran.
4. Area genangan adalah bagian yang berkarakter cekung dipermukaan yang memiliki tingkat elevasi yang rendah sehingga berpotensi untuk menampung air/terjadinya genangan.
Kondisi permukaan
Koefisien run off untuk jangka waktu rancangan*
< 10 tahun 25 tahun 100 tahun Jalan, jalur kendaraan, pedestrian
Aspal
Halaman rumput pada tanah berpasir Halaman rumput pada tanah
lempung Padang rumput pada pasir
<2 % Padang rumput pada lempung
<2 % Lahan berpohon besar pada pasir
<2 %
30
5.2.11 Estimasi Debit Aliran PermukaanMetode paling sederhana untuk memperhitungkan debit aliran permukaan pada area yang tidak terlalu luas (skala tapak maksimum 0.8 Km2) adalah metode rasional dari Mulvaney (1850).
Rumus ini popular karena kemudahannya. Tetapi untuk keperluan perencanaan tapak harus di modifikasi dengan memperhatikan variasi dari variable-variable tersebut. Intensitas curah hujan dapat di anggap seragam untuk seluruh tapak, tetapi sebagaimana telah kita pelajari pada bab-bab sebelumnya, tidaklah demikian dengan kondisi topografi, jenis tanah, dan penutupan tanah. Variasi topografi dan kondisi tanah haruslah kita perhitungkan untuk itu perhitungan yang lebih realistis. Untuk itu koofisien C untuk seluruh tapak harus dimodifikasi.
Analisa limpasan pada tapak sebaiknya dilakukan setelah dilakukan pembagian watershed. Seperti telah dipelajari sebelumnya, pembagian watershed ditentukan oleh topografi dengan ridge (punggung bukit) sebagai batas yang membagi lahan menjadi beberapa watershed.
Dalam lingkup watershed, genangan juga di asumsikan mendapat air hanya dari lereng-lereng yang melingkupinya saja, kemudian lereng-lereng tersebut diperlakukan sebagai berikut:
1. klasifikasikanlahan berdasar kemiringan dan jenis tanah 2. hitung luasan perbagian klasifikasi lahan
3. perhitungkan juga penutupan atap
4. Berdasar data tersebut, perhitungkan kembali angKa C adalah:
Contoh:
Pada tapak terdapat 1,6 m2 permukaan aspal
3,0 m2 halaman rumput pada lempung 1,6 m2 atap
6,2 m2 Luas total
C = (0,9x1,6)+(1,26x3,0)+(0,95x1,6)
= 1,44 + 0,78 + 1,52
= 0,60
C = C
1A
1+ …. CnAn
A
31
Gambar 5. 4 Jumlah Debit Air pada Tiap Daerah Aliran Sungai.5.3 PENUTUP
Untuk mengukur keberhasilan menguasai materi, anda dapat melakukan tes terhadap diri sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Jelaskan mengapa kita perlu mempelajari air dalam konteks sistem lingkungn yang lebih luas dari tapak.
2. Sebutkan informasi apa saja terkait dengan kondisi hidrologi yang perlu dihimpun untuk keperluan perencanaan tapak, dan uraikan bagaimana anda dapat memanfaatkan informasi tersebut
3. Uraikan peluang-peluang pemanfaatan air dalam tapak untuk meningkatkan kualitas rancangan anda
32
BAB VIPEMAHAMAN DAN ANALISIS HIDROLOGY (Analisi Pola aliran Air dan Hitungan Genangan)
6.1 PENDAHULUAN 6.1.1 Deskripsi Singkat
Air dalam tapak merupakan elemen desain yang penting. Pada bagian ini berisi mengenai pemahaman mengenai genangan dan cara menghitung genangan. Pada dasarnya, bab ini memberi penekanan mengenai keterkaitan tata air dengan komponen-komponen tapak yang lain seperti topografi, tanah, dan iklim serta pemanfaatan pola aliran air yang berbeda-beda.
6.1.2 Manfaat
Pada bab ini nantinya peserta dapat menghitung genangan pada suatu kawasan/
daerah. Sehingga dengan mampu menghitung genangan air dapat sebagai dasar perencanaan wilayah yang lebih baik.
6.1.3 Learning Outcomes
Peserta Dapat memahami pola aliran air dan mampu menghitung genangan
6.2 URAIAN 6.2.1 Genangan
Setelah bergerak melalui permukaan lahan dan parit, air limpasan dapat mengalir menuju sungai yang akhirnya terbawa ke laut, tetapi dapat juga terjebak pada bagian lahan sebagai genangan. Genangan terjadi jika tedapat bagian lahan yang secara topografis berbentuk cekungan dan merupakan akhir dari aliran-aliran parit-parit dalam tapak.
Dengan demikian, genangan adalah air statis pada suatu bagian lahan. Volume air yang tergenang merupakan total debit dari watershed pada jangka waktu tertentu. Keberadaan dan kehilangan air pada genangan merupakan fungsi dari laju infiltrasi dan laju evoporasi.
33
Perhitungan diatas masih belum mempertimbangkan kapasitas reservoir. Pada suatutempat/suatu saat, kapasitas reservoir dapat terpenuhi hingga tanah menjadi jenuh.
Dalam kondisi ini pengurangan genangan hanya tergantung pada evaporasi saja. Untuk itu jika volume genangan cukup banyak dan cekungan cukup dalam, akan dimungkinkan terjadinya genangan permanen. Hal ini terjadi karena sebelum air terkeringkan oleh proses evaporasi, hujan yang baru telah datang kembali.
Pada lokasi seperti ini akan lebih baik jika sekalian dialokasikan untuk pond
T2 = waktu yang dibutuhkan genangan untuk hilang Ar = Luas area peresapan/dasar genangan
Ae = Luas area evaporasi
Persamaan teoritis infiltrasi:
F = k X A
F = laju infiltrasi (M3/detik);
k = koefisien rembesan tergantung jenis tanah (lihat table bagian air tanah)
A = luas area perembesan/genangan Persamaan Empiris Evaporasi
(hk. Dalton)
E = 0,35(es – e)(0,5 + 0,54 U2)E = kecepatan evaporasi ( mm/hari) E
s= Tekanan upa jenuh (lihat tabel) E = tekanan uap aktual udara (data) U
2= kecepatan angin pada
ketinggian 2 m di atas permukaan (data)
T2 = (Q x T
1)/(E x Ae)
34
Gambar 6.1 Visualisasi Sebaran Potensi Genangan pada Daerah Aliran Sungai pada Tapak 6.2.2 Prakiraan Debit Banjir dan Peningkatan Run Off
Krisis hidrologi perkotaan pada dasarnya diakibatkan oleh terganggunya siklus hidrologi, yaitu terpotongnya siklus air di alam, karenanya proses dinamis yang menentukan keseimbangan yang ada padanya rusak. Isu hidrologi ini dapat dilihat dari dua sisi: sisis pengambilan (pengadaan) dan sisi buangan (sisposal). Dua-duanya mengalami peningkatan seiring urbanisasi dan modernisasi. Kondisi ini mengarah pada peningkatan volume konsumsi dan minimal penyimpanannya. Masyarakat kota seolah berpikir bahwa air selalu tersedia dan melimpah, sehingga terjadi pengambilan air sebesar-besarnya tanpa ada upaya untuk mendaurnya. Padahal sebenarnya hanya 3 % dari air bumi yang siap sebagai air segar dan hanya 0,3 % yang layak minum. Sebagian besar (97 %) air bumi adalah air laut, yang bahkan untuk irigasipun harus di olah terlebih dahulu.
Air hujan akan jatuh pada wilayah permukiman dan perkotaan yang bentuk dan karakteristiknya saangat berpengaruh pada besarnya debit banjir. Kawasan dimana titik air hujan yang jatuh diatasnya, kemudian mengalir diatas permukaan kawasan dan menuju “out-fall (muara)” yang sama disebut DAS.
Analisa limpasan pada tapak sebaiknya dilakukan setelah dilakukan pembagian watershed. Pembagian watershed ditentukan oleh topografi dengan ridge (punggung bukit) sebagai batas yang membagi lahan menjadi beberapa watershed. Dalam lingkup watershed, genangan juga di asumsikan mendapat air hanya dari lereng-lereng yang melingkupinya saja, kemudian lereng-lereng tersebut diperlakukan sebagai berikut:
1. Klasifikasikan lahan berdasar kemiringan dan jenis tanah.
35
2. Hitung luasan perbagian klasifikasi lahan.3. Perhitungkan juga penutupan atap
6.2.3 Genangan & Zonasi Genangan
Setelah bergerak melalui permukaan lahan dan parit, air limpasan dapat mengalir menuju sungai yang akhirnya terbawa ke laut, tetapi dapat juga terjebak pada bagian lahan sebagai genangan. Genangan terjadi jika tedapat bagian lahan yang secara topografis berbentuk cekungan dan merupakan akhir dari aliran-aliran parit-parit dalam tapak.
Dengan demikian, genangan adalah air statis pada suatu bagian lahan. Volume air yang tergenang merupakan total debit dari watershed pada jangka waktu tertentu. Keberadaan dan kehilangan air pada genangan merupakan fungsi dari laju infiltrasi dan laju evoporasi.
6.2.4 Pemodelan untuk Analisis Limpasan dan Genangan
Pemodelan analisa genangan air secara umum dapat dilakukan dengan bantuan teknologi computer (computer modeling). Software berbasis GIS dan Surver mampu menggambarkan analisa genangan air secara baik dan mampu menampilkannya secara visual.
Pemodelan genangan air dengan menggunakan ArcGIS (software berbasis GIS) dapat dilakukan dengan beberapa data penunjang, diantaranya yaitu.
1. Peta Kontur
2. Peta Elevasi (ketinggian) 3. Peta Tutupan Lahan 4. Peta Jenis Tanah 5. Peta Intensitas Hujan
Perhitungan debit puncak (Qp) metode rasional:
Keterangan:
C = Cooefisien limpasan I = intensitas hujan mm/jam A = Luas Das / Subdas
Qp = 0,0028 (C I A)
36 Peta kontur merupakan data awal yang berfungsi untuk menggambarkan bentuk permukaan dari tapak (ketinggian permukaan). Peta kontur dapat ditransformasikan menjadi peta kelerangan lahan untuk menentukan seberapa cepat debit aluran air pada daerah DAS. Peta tutupan lahan adalah salah satu jenis data yang menggambarkan keanekaragamaan baik material alami maupun buatan manusia yang menutupi permukaan suatu lahan. Jenis peta ini sangat erat berkaitan dengan tingkat permeabilitas tanah diatas tapak. Peta jenis tanah menggambarkan jenis tanah pada suatu tapak, peta tanah pada dasarnya terdiri dari materi inti jenis tanah lumpur, lempung, atau pasir. Sedangkan peta intensitas hujan adalah data besaran curah hujan pada daerah tapak tertentu.
Penggabungan nilai atribute pada peta selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai Koefisien Run Off. Penilaian run off didasarkan dari hasil analisa overlay peta kelerengan, ketertutupan lahan, dan jenis tanah. Dari hasil overlay ketiga peta tersebut kemudian baru dapat di berikan penilaian koefisien run off dengan melihat tabel koefisien run off berdasarkan kondisi permukaan tanahnya.
6.2.5 Pemanfaatan Air dalam Tapak
Air adalah elemen rancangan tapak yang dapat di gunakan secara murni sebagai elemen estetika seperti kolam yang tenang, air mancur (jet water), dan air terjun atau dimanfaatakn untuk keperluan praktis seperti sumber air minum, irigasi, sarana rekreasi, peredam kebisingan, dan pendingin udara.
A. Pemanfaatan Umum
1. Konsumsi: Air sebagai sumber baku air minum bagi manusia dan atau binatang 2. Irigasi: Air digunakan untuk mengairi tanaman
3. Tata Iklim Mikro: Sifat air yang dpat menguap dapat mempengaruhi kelembaban udara, sedangkan sifatnya yang dapat menyimpan suhu lebih lama dapat menstabilkan susu udara. Pada malam hari suhu di sekitar kolam air terasa lebih hangat, sedangkan pada siang hari terasa lebih dingin dari area sekitarnya
4. Peredam suara: Kemampuannya menyerap gelombang suara dapat mereduksi kebisingan 5. Rekreasi: Air di gunakan sebagai media berenang, berperahu, menyelam, ski dan aktivitas
rekreasi air yang lain.
B. Pemanfaatan Visual 1. Kolam
37 Adalah air statis dalam bagian tapak berperan sebagai elemen rancangan berbentuk bidang horisontal dengan karakter tekstur halus, lunak dan transparan. Kolam juga dapat menjadi pemantul elemen-elemen rancangan didekatnya, terutama bentukan-bentukan vertikal.
2. Aliran
Adalah air yang bergerak pada suatu bentukan kanal. Sebagai elemen rancangan air kanal merupakan elemen linear. Bentukan geometri kanal tersebut mempengaruhi karakter dari pergerakan air: cepat, lambat atau memutar (turbulen), berisik atau tenang. Selain secara visual, efek penting dari air mengalir adalah suara yang di timbulkannya.
3. Air Terjun
Air terjun terjadi bila air melewati perbedaan ketinggian yang sangat kontras. Air terjun sungguh-sungguh mencerminkan gaya gravitasi secara total. Air terjun dapat berlaku sebagai fokus pandang (focal point) maupun tirai yang mendefinisikan suatu batasan ruang. Karena interaksinya dengan udara secara dinamis, air terjun juga sangat berpengaruh terhadap kondisi udara setempat
4. Semburan
Adalah air yang menyembur ke atas karena suatu kekuatan mekanis (pompa) atau kekuatan alam (artesis). Dalam arsitektur, kemanfaatan air semburan mirip dengan air terjun, tetapi lebih efektif sebagai focal point.
Gambar 6.2 Pemanfaatan air sebagai media improvisasi visual tapak.
6.3 PENUTUP
Untuk mengukur keberhasilan menguasai materi, anda dapat melakukan tes terhadap diri sendiri melalui pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Uraian konsep dan strategi dasar pengelolaan drainase dalam tapak
38 2. Buatlah suatu usulan pengolalan dan pemanfaatan air dalam tapak berkontur dari
peta yang telah disediakan.
39 BAB VII
PEMAHAMAN DAN ANALISIS IKLIM MIKRO
7.1 PENDAHULUAN 7.1.1 Deskripsi Singkat
Iklim mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia dan organisme lain. Dalam praktek profesi arsitek dan perencana lingkungan, iklim menjadi pertimbangan dalam lay out bangunan, ruang, pemilihan material, dan tata fisik lingkungan sekitar bangunan, misalnya pada pemilihan jenis tanaman. Secara berkebalikan, hasil rancang bangun dapat membentuk iklim pada tahap berikutnya. Perubahan iklim dapat juga mempengaruhi perubahan pola hidup penghuninya. Misalnya perubahan suhu akibat kerapatan bangunan dan berkurangnya tanaman menjadi penyebab perubahan pola berpakaian dan pemakaian energi.
7.1.2 Manfaat
Dari bagian ini pembaca akan mampu melakukan klasifikasi lahan dalam tapak atas dasar variasi responnya terhadap unsur cahaya dan angin yang didasarkan pada pemahaman yang cukup mengenai karakter iklim wilayah dan iklim mikro, serta perilaku unsur-unsur iklim di dalam tapak.
7.1.3 Learning Outcomes
Dapat memahami dan menganalisis iklim mikro
7.2 URAIAN
7.2.1 Unsur dan Skala Iklim
Kajian iklim pada skala menegah (meso) berkaitan misalnya dengan variasi dan dinamika iklim pada suatu wilayah seluas beberapa kilometer persegi; misalnya hanya bagian tengah kota, pinggiran, atau perbatas kota, area perkampungan, persawahan atau hutan.
Dinamika unsur-unsur iklim dalam berbagai wilayah tersebut dapat sangat berbeda meskipun letaknya berdekatan dikarenakan perbedaan jumlah, ragam dan bentuk komponen yang ada pada masing-masing wilayah lahan tersebut. Fenomena penting yang menggambarkan perbedaan iklim skala dalam regaional adalah adanya efek pulau panas (urban heat island). Yaitu adanya peningkatan temperatur di pusat kota dibandingkan area
40 sekitarnya.Iklim pada skala lebih kecil (tapak) disebut iklim mikro. Pada skala ini, kondisi iklim berkontak dan berpengaruh secara langsung terhadap kondisi komponen-komponen lingkungan seperti tanaman, binatang, manusia, bangunan dan benda fisik lainnya.
Kebalikannya, keberadaan dan aktifitas komponen-komponen tersebut memodifikasi beberapa unsur iklim seperti suhu, kelembaban, penetrasi cahaya dan dinamika angin.
Kebalikannya, keberadaan dan aktifitas komponen-komponen tersebut memodifikasi beberapa unsur iklim seperti suhu, kelembaban, penetrasi cahaya dan dinamika angin.