VIII. KESIMPULAN DAN SARAN
8.2. Saran
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dalam kesempatan ini peneliti memberikan beberapa saran yang menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait:
1. Agar penduduk Betawi kelompok empat puluh persen pendapatan terendah jumlahnya menjadi semakin kecil, maka Betawi pada kelompok ini hendaknya mengubah prilaku menjadi lebih produktif. Untuk mewujudkannya perlu perhatian yang lebih besar pada penduduk Betawi, terutama pelatihan bagaimana menggugah mereka untuk meningkatkan motivasi dari diri sendiri untuk berupaya meningkatkan taraf hidup.
2. Agar penduduk miskin tidak terjerat dalam keadaan kemiskinan yang tidak berujung, perlu peningkatan terhadap pendidikan. Bantuan pendidikan bagi penduduk miskin dipandang perlu setidaknya sampai jenjang SLTA (dan bea siswa perguruan tinggi bagi siswa yang berbakat), karena pekerjaan formal yang memberikan pendapatan tetap memiliki kualifikasi paling tidak sampai jenjang SLTA.
3. Agar penduduk miskin yang saat ini terlanjur hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat dasar, bisa mendapatkan penghasilan yang layak, perlu peningkatan penyediaan modal usaha untuk wirausaha. Namun penyediaan modal ini hendaknya dengan memperhatikan kesiapan mental target penerimaan bantuan. Seperti pada penduduk miskin dengan prilaku yang masih belum produktif, perlu diubah terlebih dahulu prilakunya. Untuk mewujudkannya, perlu pendidikan non formal.
4. Agar kepala keluarga pada khususnya dan penduduk miskin pada umumnya terjamin kesehatannya, bantuan jaminan kesehatan perlu ditingkatkan. Untuk mewujudkan program tersebut berdaya guna dan berhasil guna, penduduk yang menerima bantuan kesehatan perlu disosialisasikan manfaatnya dan mengajak mereka untuk datang ke fasilitas kesehatan jangan hanya setelah sakit tetapi juga saat masih sehat sebagai tindakan preventif.
5. Penanggulangan kemiskinan di DKI Jakarta hendaknya tidak sekadar menambah anggaran dan menambah jenis program pengentasan kemiskinan semata, namun perlu memperhatikan prilaku dari target sasaran program. Untuk mewujudkannya, perlu perhatian terhadap upaya memahami orientasi nilai budaya mereka, misalnya pada Betawi. Untuk itu, perlu kajian terhadap prilaku penduduk miskin di Jakarta, tidak hanya pada Betawi (atau pendatang yang dalam penelitian ini terbatas pada Jawa dan Sunda), tetapi juga pada suku-suku lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adiati, Gandari, Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan di DKI Jakarta, Studi Komperatif di RW Kumuh dan RW tidak Kumuh, tesis pascasarjana (Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2005).
Ahmad, Irdam dan Ilyas Saad (Eds.), Kajian Implementasi Kebijakan Trilogi Pembangunan di Indonesia (Jakarta: STEKPI, 2006).
Agresti, Alan, Categorical Data Analysis (Canada: A Wiley-Interscience Publication, 1990).
Anonim, Kompetensi Dasar Mengidentifikasi Sikap dan Prilaku Wirausaha, www.scribd.com/doc/5159291/ Kompetensi_Dasar_
Mengidentifikasi_sikap_dan_prilaku_wirasusaha, diakses 27 Mei 2011.
Anwar Affendi, “Memahami Proses Pembentukan Sistem Perkotaan dan Analisis
Ekonomi Kawasan Kota”, di dalam “Pengantar Kuliah-kuliah Mata Ajaran Sistem Ekonomi Perkotaan dan Pembangunan Regional‟‟, bahan kuliah Pascasarjana Program Studi PWD (Bogor: Institut Pertanian Bogor, September, 1999).
Arif, Dikdik Baehaqi, “Wawasan tentang Manusia dan Masyarakat dalam
Perspektif Kebudayaa”, baehaqiarif.files.wordpress.com/.../wawasan- tentang-manusia-dan-masyarakat-dalam-perspektif-kebudayaan.doc, diakses pada 21 Juni 2011.
Azis, Iwan Jaya, Ilmu Ekonomi Regional dan Beberapa Aplikasinya di Indonesia
(Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1994). Badan Perencanaan Daerah DKI Jakarta, Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta 2007 – 2012 (Jakarta: 2007). Badan Pusat Statistik, Indeks Pembangunan Manusia 2007-2008 (Jakarta: Badan
Pusat Statistik, 2009).
________________, Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2007, Buku 2: Kabupaten/Kota (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2008).
________________, Data dan Informasi Kemiskinan 2005-2006 (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2007).
________________, Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2005
(Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2005).
________________, Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan Tahun 2005
________________, Statistik Indonesia Tahun 2004 (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2005).
________________, Statistik Indonesia 2003 (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2004).
________________, Metodologi Penentuan Kriteria Kemiskinan (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2002).
________________, Jumlah Penduduk DKI Jakarta Hasil SP 2000 (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2000).
Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, “Tingkat Kemiskinan di DKI Jakarta Tahun 2011”, Berita Resmi Statistik, No. 28/07/31/Th.XIII, 1 Juli 2011 (Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2011).
__________________________________, Hasil Sensus Penduduk 2010 Data Agregat per Kabupaten/Kota Provinsi DKI Jakarta (Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2011).
__________________________________, “Tingkat Kemiskinan di DKI Jakarta
Tahun 2010”, Berita Resmi Statistik, No. 21/07/31/Th.XII, 1 Juli 2010 (Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2010).
__________________________________, Jakarta dalam Angka 2010 (Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta, 2010).
Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta dan Pemda DKI-Jakarta, Evaluasi Keadaan Rumahtangga Miskin di DKI Jakarta 2002 (Jakarta: Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, 2002).
Badan Pusat Statistik, Badan Perencanaan Nasional, et al, Ekonomi dari
Demokrasi -- Membiayai Pembangunan Manusia Indonesia (Jakarta: 2004).
Bamus Betawi, ‟‟Orang Betawi setelah 478 Tahun‟‟, 2005, http\\: www.bappedajakarta.go.id, diakses 22 Agustus 2009
Bratakusumah, Deddy Supriady, “Implikasi Perubahan UUD 1945 terhadap
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional”, mimeo, makalah diajukan
pada Seminar Nasional Sistem Perencanaan Pembangunnan Nasional dan Ekonomi Politik Baru Pasca Amanden UUD 1945, HPWD (Jakarta: 2 Juli 2003).
Bungin, Burhan (Ed.), Metodologi Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2001).
Djohan, Robby, Leaders and Social Capital: Lead to Togetherness (Jakarta: Fund Asia Education, 2007).
Grijns, Kees dan Peter J.M. Nas (Eds.), Jakarta-Batavia: Esai Sosio-Kultural, diterjemahkan oleh Gita Widya Laksmini dan Noor Cholis (Jakarta: KITLV dan Banana, 2007).
Gujarati, Damodar N., Essential of Econometrics -- Dasar-Dasar Ekonometrika Jilid 2, diterjemahkan oleh Devri Barnadi dan Wibi Hardani (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2007).
Harniati, Tipologi Kemiskinan dan Kerentanan Berbasis Agroekosistem dan Implikasinya pada Kebijakan Pengurangan Kemisinan, Disertasi Pascasarjana (Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2007).
Harrison, Lawrence E. Dan Samuel P. Huntington (Eds.), Kebangkitan Peran Budaya: Bagaimana Nilai-nilai Membentuk Kemajuan Manusia,
diterjemahkan oleh Retnowati (Jakarta: LP3ES, 2006).
Irawan, Puguh B., “Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan, Suatu
Pendekatan Kuantitatif”, Modul V dalam pelatihan Dasar-Dasar Analisis dan Diagnosis Kemiskinan di Indonesia, kerjasama Lembaga Penelitian SMERU dan World Bank Institute (Jakarta: 9-13 Maret 2005).
Ismani, Pokok-Pokok Sosiologi Perkotaan (Malang: Percetakan Express, 1991). Kantor Kelurahan Marunda, “Profil Kelurahan Marunda Tahun 2007” (Jakarta:
2007).
Kantor Kelurahan Menteng Dalam, “Profil Kelurahan Menteng Dalam Tahun 2007” (Jakarta: 2007).
Kantor Kelurahan Kebagusan, “Profil Kelurahan Kebagusan Tahun 2007”
(Jakarta: 2007).
Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Jilid I (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005).
______________, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, cetakan ke-22 (Jakarta: Djambatan, 1997).
______________, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan (Jakarta: PT Gramedia, 1993).
______________, Masyarakat Desa di Selatan Jakarta, Seri Monografi Nomor 1 (Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1975).
Kuncoro, Mudjarat, Ekonomi Pembangunan Teori, Masalah dan Kebijakan, Edisi Ketiga (Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 2003).
Kumpulan Artikel Indonesia, Motivasi Wirausaha, dalam
oJ:indofolder.info/%3Fs%3Dteori%2Bneed%2Bfor%2Bachievement+need +for+achievement+motivasi+wirausaha&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&clie nt=firefox-a&source=www.google.co.id, diakses 27 Juli 2011
Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat, “ Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan”, 2004, http\\: www. Menkokesra.go, diakses 1 Juni 2005.
Nasir Muhammad, Muh. Saichudin, Maulizar, “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kemiskinan Rumah Tangga di Kabupaten Purworejo,
Eksekutif, Volume 5, Nomor 2 (Lhokseumawe: Politeknik Negeri Lhokseumawe, 2008).
Nilamsari, Wati, “Pengaruh Perubahan Penguasaan dan Penggunaan Lahan
terhadap Pola Usaha Ekonomi Rumahtangga Etnik Betawi di Condet (Kasus di Kelurahan Condet Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta
Timur)”, tesis pascasarjana (Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2005).
Papilaya, Eddy Chiljon, “Akar Penyebab Kemiskinan menurut Rumah Tangga
Miskin dan Strategi Penanggulangannya (Kasus di Kota Ambon, Provinsi
Maluku, dan di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo)”, desertasi
pascasarjana (Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2006).
Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, “Laporan Penanggulangan
Kemiskinan di DKI Jakarta”, buku tidak dipublikasikan, 1997. PNPM Mandiri, Sistem Informasi Manajemen PNPM Mandiri Pusat,
http://simpadu-pnpm.bappenas.go.id, diakses, 8 Januari 2011.
Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta, http://www.jakarta.go.id, diakses 19 Juli 2011.
Rahmadona, Sari, Analisis Tingkat Kesejahteraan Etnik Betawi di Daerah Pinggiran Jakarta (Kasus di Desa Rawapanjang Kecamatan Rawapanjang, Kecamatan Bojong Gede Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat), Skripsi (Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2004).
Rokhani, “Strategi Nafkah Rumahtangga Petani Penggarap Sekitar DAS Cidanau,
Studi Kasus Komunitas Petani Penggarap di Desa Kalumpang, Kecamatan
Padarincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten”, tesis pascasarjana (Bogor: Institut Pertanian Bogor, 2005).
Rustiadi, Ernan dan Dyah Retno Panuju, “Suburbanisasi Kota Jakarta”, bahan
Seminar Nasional Tahun VII Persada (Bogor: 1999).
Sardjono, Sri Damayani Mulyandari, Pola Hubungan Sosial antara Orang Betawi dengan Pendatang-Studi di Kampung Pulo Kalibata, Kelurahan Kalibata Jakarta Selatan, skripsi sarjana (Jakarta: Universitas Indonesia, 1984).
Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Keempat (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 1993).
Shahab, Alwi, Robinhood dari Betawi (Jakarta: PT Republika, 2002) Shahab, Yasmine Zaki, Identitas dan Otoritas: Rekonstruksi Tradisi Betawi
(Depok: Laboratorium Antropologi, Fisip UI, 2004).
Tjiptoherijanto, Prijono, “Proyeksi Penduduk, Angkatan Kerja, Tenaga Kerja, dan
Peran Serikat Pekerja dalam Peningkatan Kesejahteraan”, Majalah Pembangunan, Edisi 23 Tahun 2001 (Jakarta: Bappenas, 2001).
Wikipedia Ensiklopedi Bebas, http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Administrasi_ Jakarta_Selatan, diakses pada 21 Juli 2011.
Wikipedia Ensiklopedi Bebas, http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Administrasi_ Jakarta_Utara, diakses pada 21 Juli 2011.
Wirartha, I Made, Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2006).
World Bank, Poverty Reduction Handbook (Washington: The World Bank, 1993). World Bank Institute, Introduction to Poverty Analysis, diterjemahkan oleh Ali
Said (Jakarta: The World Bank dan Badan Pusat Statistik, 2001).
World Bank Regional and Sectoral Studies, Indigenous People and Poverty in Latin America: Empirical Analysis, diedit oleh George Psacharopoulos dan Harry Anthony Patrinos (Washington: The World Bank, 1994).
Lampiran 1: Hasil pengolahan regersi logistik
Logistic Regression
Case Processing Summary
7099 100.0 0 .0 7099 100.0 0 .0 7099 100.0 Unweighted Casesa
Included in Analy sis Missing Cases Total Selected Cases Unselected Cases Total N Percent
If weight is in ef f ect, see classif ication table f or the total number of cases.
a.
Dependent Vari able Encoding
0 1 Original Value Tidak Miskin Miskin Internal Value
Categorical Variables Codings
884 1.000 .000 .000 .000 1676 .000 1.000 .000 .000 3143 .000 .000 1.000 .000 260 .000 .000 .000 1.000 1136 .000 .000 .000 .000 5633 .000 .000 1434 1.000 .000 32 .000 1.000
Berusaha dibantu buruh tetap/tdk tetap Berusaha sendiri Buruh/pegawai/kary awan Pekerja bebas di pertanian/non
pertanian/tdk dibay ar/tdk ker
Tidak bekerja Berwirausaha
tidak sakit sakit tidak kronis sakit kronis Sakit kronis
Frequency (1) (2) (3) (4)
Parameter coding
Classification Tablea,b 2104159 0 100.0 47581 0 .0 97.8 Observ ed Tidak Miskin Miskin poor3 Ov erall Percentage St ep 0
Tidak Miskin Miskin
poor3 Percentage
Correct Predicted
Constant is included in the model. a.
The cut v alue is .500 b.
Variables in the Equation
-3.789 .005 668076.3 1 .000 .023
Constant St ep 0
B S. E. Wald df Sig. Exp(B)
Variabl es not in the Equation
22208.172 1 .000 11054.323 4 .000 1031.974 1 .000 4745.285 1 .000 4524.746 1 .000 3858.493 1 .000 1083.927 1 .000 4.222 1 .040 53.677 1 .000 114.084 2 .000 68.966 1 .000 48.430 1 .000 1870.323 1 .000 54636.939 1 .000 21.364 1 .000 684.134 1 .000 83152.414 14 .000 x1_educ x2_statush x2_statush(1) x2_statush(2) x2_statush(3) x2_statush(4) x3_prodv x4_umur x5_jk x6_sehat x6_sehat(1) x6_sehat(2) X7_jamsh x8_jart x9_kredi x10_suku Variables
Ov erall Stat istics St ep
0
Score df Sig.
Block 1: Method = Enter
Omnibus Tests of Model Coefficients
73726.895 14 .000 73726.895 14 .000 73726.895 14 .000 St ep Block Model St ep 1 Chi-square df Sig.
Model Summary 383094.46a .034 .176 St ep 1 -2 Log likelihood
Cox & Snell R Square
Nagelkerke R Square
Estimation terminat ed at iteration number 8 because parameter est imat es changed by less than .001. a.
Hosmer and Lemeshow Test
2068.632 8 .000
Step 1
Chi-square df Sig.
Contingency Table for Hosmer and Lemeshow Test
216338 215970.3 0 367.734 216338 192435 192705.7 867 596.280 193302 215436 214501.2 0 934.773 215436 210190 209678.3 751 1262.676 210941 225893 225214.6 1200 1878.374 227093 211671 211990.3 2758 2438.734 214429 211864 211693.2 3256 3426.799 215120 210517 210924.7 5400 4992.283 215917 208122 208665.8 8649 8105.208 216771 201693 202814.9 24700 23578.138 226393 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 St ep 1 Observ ed Expected
poor3 = Tidak Miskin
Observ ed Expected poor3 = Miskin Total Classification Tablea 2103980 179 100.0 47412 169 .4 97.8 Observ ed Tidak Miskin Miskin poor3 Ov erall Percentage St ep 1
Tidak Miskin Miskin
poor3 Percentage
Correct Predicted
The cut v alue is .500 a.
Variables in the Equation 1.451 .012 13515.951 1 .000 4.268 5181.940 4 .000 -.625 .026 562.366 1 .000 .535 .480 .021 519.019 1 .000 1.616 .141 .022 40.489 1 .000 1.152 1.026 .027 1495.945 1 .000 2.790 .231 .017 181.593 1 .000 1.260 -.468 .020 550.153 1 .000 .626 .066 .016 16.240 1 .000 1.068 654.389 2 .000 -.309 .013 560.254 1 .000 .734 .540 .063 73.646 1 .000 1.716 .086 .012 49.470 1 .000 1.090 .511 .002 45246.542 1 .000 1.667 .403 .041 94.422 1 .000 1.496 -.317 .011 769.906 1 .000 .728 -7.750 .051 22684.054 1 .000 .000 x1_educ x2_statush x2_statush(1) x2_statush(2) x2_statush(3) x2_statush(4) x3_prodv x4_umur x5_jk x6_sehat x6_sehat(1) x6_sehat(2) X7_jamsh x8_jart x9_kredi x10_suku Constant St ep 1a
B S. E. Wald df Sig. Exp(B)
Variable(s) entered on step 1: x1_educ, x2_statush, x3_prodv , x4_umur, x5_jk, x6_sehat, X7_ jamsh, x8_jart, x9_kredi, x10_suku.
Lampiran 2: Contoh Hasil Studi Mendalam
Kota Administrasi : Jakarta Utara
Kecamatan : Cilincing
Kelurahan : Marunda
No. Responden : 16
Nama : Hll – Betawi
____________________________________________________________________
Hll (40 tahun) hanya bersekolah hingga bangku kelas tiga SD. Suaminya (55) tahun, bernama Saidi, tidak pernah mengenyam pendidikan. Saidi bekerja sebagai kuli empang dengan penghasilan saat itu sekitar Rp 250.000,00 per bulan. Hll memiliki lima orang anak yang kelimanya belum menikah. Anak pertamanya seorang laki-laki yang bernama Sapiih. Ia bersekolah hingga kelas tiga SD. Saat ini pemuda berusia 25 tahun tersebut tidak memiliki pekerjaan. Anak keduanya seorang perempuan, 22 tahun, hanya bersekolah hingga kelas empat SD, namun saat ini ia bekerja sebagai buruh jahit. Anak ketiganya, Rudi (18) tahun, hanya bersekolah hingga kelas dua SD. Saat ini ia tidak bekerja. Dua anaknya yang terakhir masih bersekolah. Mereka adalah Santi (14 tahun) yang saat itu kelas dua SMP dan Yani (11 tahun) yang duduk di kelas 3 SD.
Hll mengatakan “susah terus hidup ibu, tapi ibu mah pasrah aja, ditabah- tabahin dah.Pengen anak pinter tapi ga cukup uangnya. Ketiga anak tertua ibu cuma bisa SD, itu juga putus sekolah ga ampe tamat. Moga-moga anak ibu yang keempat
ama yang kelima bisa lebih tinggian sekolahnya”. anak ibu nampaknya memilih untuk tabah menjalani kesulitan dalam hidupnya. Hll tidak berencana apa pun dalam menjalani hidupnya. Bila menabung alasannya pun sangat sederhana. “Kalo soal nabung mah ibu ga punya rencana apa-apa, buat makan hari esok aja,” kata ibu
yang lahir di Marunda ini.
Mengenai kemungkinan untuk memanfaatkan sumberdaya alam pun, Hll nampaknya tidak berminat. Ibu yang sederhana ini tinggal di rumah seluas 50 m2, yang sudah sejak dulu ia tempati.
Seperti responden lainnya, Hll tidak memiliki tokoh panutan. Pada sisi lain,
ia mengganggap penting untuk membina hubungan baik dengan tetangga. “Penting buat tolong menolong,” katanya meski hal itu bukan berarti ia menggantungkan
hidupnya kepada tetangga. Hll menyetujui pendapat yang mengatakan “banyak anak
banyak rezeki”.
Hll merasa keteratasan ketrampilan yang dimilikinya lah yang membuat dirinya tidak bisa berpartisipasi bekerja. Oleh sebab itu ia menaruh harapan pendidikan yang lebih baik untuk kedua anaknya yang terakhir. Bantuan yang diharapkannya adalah uang untuk biaya sekolah.
Kota Administrasi : Jakarta Utara
Kecamatan : Cilincing
Kelurahan : Marunda
No. Responden : 17
Nama : Myn– Betawi
____________________________________________________________________
Myn, 45 tahun, ibu dari lima orang anak sehari-hari kegiatannya mengurus rumah tangga (tidak bekerja). Dua diantara anaknya sudah berkeluarga dan tinggal terpisah. Suami Myn bekerja sebagai tukang ojek. Seperti dirinya beserta suami yang hanya mengenyam pendidikan hingga bangku Sekolah Dasar, keempat anaknya pun hanya berhasil menamatkan pendidikan dasarnya. Sementara, anak bungsunya saat itu masih bersekolah di kelas empat SD. Myn merasa kehidupannya penuh
kesulitan. “Sudah nasib,” katanya. Ia menjalani saja kehidupannya tanpa memikirkan rencana di masa depan. Dalam menjalani kehidupannya, Myn hanya
berusaha untuk selalu berhemat. “Agar bisa makan,” katanya beralasan. Myn yang lahir dan tinggal sejak dulu di wilayah Marunda ini sebenarnya menginginkan anak- anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Namun ia mengaku tidak punya uang untuk mewujudkannya.
Myn memandang alam bukan sebagai sumber daya yang perlu dilestarikan maupun dimanfaatkan. Ia memilih untuk pasrah saja terhadap alam. Mengenai tempat tinggal, ia beserta keluarga tinggal di atas lahan seluas 50 m2, lahan yang
merupakan warisan dari ibunya “punya tanah dikit warisan emak 50 m2”.
Tak seorang pun yang menjadi tokoh panutan Myn. Di sisi lain, Myn merasa penting untuk membina hubungan baik dengan keluarga. “Tempat meminta tolong bila sewaktu-waktu mendapat kesulitan,” katanya. Namun hal ini bukan berarti dirinya menggantungkan kehidupannya kepada orang lain. Mengenai pendapat yang
mengatakan „banyak anak banyak rezeki‟, Myn mengaku tidak sependapat.
Menurut Myn sulitnya kehidupan disebabkan oleh sulitnya mencari uang. Untuk memperbaiki kehidupannya ia berharap mendapat bantuan berupa uang untuk membeli kebutuhan hidup.
Kota Administrasi : Jakarta Utara Kecamatan : Cilincing Kelurahan : Marunda No. Responden : 18 Nama : Mnr – Betawi ____________________________________________________________________
Mnr, 48 tahun, merupakan istri dari Sidik, 57 tahun. Mereka warga Betawi asli. Tidak seperti responden lainnya yang paling tidak pernah mengenyam pendidikan, Mnr dan Sidik tidak pernah bersekolah. Namun ketiga anaknya, Muniroh (25 tahun), Salma (23 tahun), dan Wari (20 tahun), dapat bersekolah meski hanya sampai dengan tingkat sekolah dasar. Sidik bekerja sebagai kuli empang. Mnr beserta ketiga anaknya (dua diantaranya telah menikah), tidak bekerja.
Dalam menjalani kehidupannya, Mnr dan keluarga memilih untuk berpikir sangat sederhana. Mereka merasa hidup yang mereka jalani begitu penuh kesulitan, namun di sisi lain Mnr mengatakan cita-citanya yang penting besok bisa makan kenyang. Dengan lugunya ia mengemukakan bahwa yang membuat dirinya beserta
keluarga bisa hidup lebih baik bila “banyak mendapat suruhan kuli empang”.
Hakekat bekerja bagi Mnr adalah untuk mendapatkan rezeki. Dulu Mnr berjualan ikan, namun sayang sekarang sudah tidak berjualan karena tidak ada modal. Selain itu, keadaan Mnr saat ini tidak memungkinkan untuk bekerja karena sakit.
Pandangan Mnr mengenai hakekat waktu, ia hanya memikirkan bagaimana kehidupan yang ia jalani saat ini. “Berhemat itu penting biar besok bisa makan,” ungkap ibu yang lahir di Kalibaru Jakarta yang pindah ke Marunda karena mengikuti suaminya itu. Rencana untuk pendidikan anak pun bukan suatu hal yang menjadi rencana bagi Mnr.
Hakekat pemanfaatan sumber daya alam, Mnrh mengaku untuk pasrah saja, tidak berusaha memanfaatkan dan tidak berupaya untuk melestarikan. Ia dan keluarga tinggal di lahan seluas 50 m2, merupakan tanah warisan yang diberikan oleh mertua.
Melihat bagaimana Mnr menjalani kehidupannya, tak mengherankan bila tak seorang pun yang menjadi figur/tokoh panutan. Mnr hanya berprinsip yang penting
ia selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan tetangga. Tetangga merupakan tempat untuk meminta pertolongan saat dalam kesulitan, meski ini bukan berarti ia menggantungkan hidupnya dengan tetangga. Di sisi lain, Mnr termasuk pribadi yang
menyetujui pandangan yang mengatakan „banyak anak banyak rezeki‟. “Berharap mendapat pertolongan di masa tua,” katanya.
Mnr memahami bahwa kesulitan hidupnya disebabkan pendapatan rumah tangga yang tidak memadahi, sementara harga barang-barang terus saja melambung tinggi. Ia tak mengerti bagaimana ia bisa keluar dari lingkaran kemiskinan yang dialaminya. Dengan pemikiran yang sangat sederhana ia hanya berharap bantuan berupa uang dari pemerintah untuk membeli kebutuhan sehari-hari “kepengennya dapet bantuan uang buat beli kebutuhan sehari-hari”.
Kota Administrasi : Jakarta Selatan
Kecamatan : Tebet
Kelurahan : Menteng Dalam
No. Responden : 22
Nama : Dsp - Pendatang
______________________________________________________________________________
Dsp seorang kepala rumah tangga. Ia tinggal di pinggir tempat pemakaman umum. Mata pencarian utamanya adalah usaha warung yang menjual minuman, kudapan, rokok, dan beberapa keperluan sehari-hari seperti, obat nyamuk, korek api, obat ringan yang boleh dijual bebas, dan sebagainya. Ia merasa kehidupannya saat ini masih perlu diperbaiki. Ada usaha konkrit yang diupayakannya agar hidupnya dapat lebih baik. Ia berpikir jangan sampai anaknya putus sekolah. Oleh sebab itu, untuk menambah penghasilannya, ia menjual tanaman hias di dalam pot. Tanaman yang akan dijual ia tanam sendiri. Ia menggunakan pupuk yang dibuatnya sendiri, berupa pupuk semacam kompos. Menurutnya, uang untuk membeli pupuk lebih baik dipergunakan untuk menambah ongkos anak sekolah. Selain itu, ia sering menjajakan minuman dagangannya kepada pengunjung makam yang sedang berziarah.
Di sela kesibukannya bekerja untuk mencari rezeki, ia ingin memajukan usaha dagangnya dengan anggapan bila dagangannya lebih banyak dan lebih bervariasi, maka tingkat penghasilannya dapat lebih banyak. Ia merasa cocok dengan pekerjaan yang dilakukannya. Menurutnya, dengan pendidikan yang hanya hingga kelas tiga SD, ia tidak mungkin mencari jenis pekerjaan yang lain. “Kepengen memperbaikin hidup, biar anak gak putus sekolah, nanam bunga bougenvile, jualan teh botol di pemakaman, penggali kuburan, bikin warung usaha saya. Pendidikan hanya sampe kelas tiga SD, ga ada pilihan lain mending berdagang aja” kata Dsp.
Dsp beranggapan bahwa dalam hidup ini masih ada masa depan yang perlu dipikirkan. Ia sering menabung untuk membayar uang sekolah dan keperluan untuk sekolah bagi kedua anaknya yang saat ini duduk di kelas dua SD dan kelas tiga SMEA. Ia juga beranggapan bahwa hidup berhemat itu penting. Ia berharap bila saat ini keadaannya penuh kesulitan, pada masa yang akan datang jangan sampai terus seperti ini.
Dsp menghabiskan masa kecilnya di Pekalongan. Ia tidak sempat lulus dari pendidikan dasar yang ditekuninya karena putus sekolah di kelas tiga SD akibat keterbatasan biaya. Ketika ia beranjak remaja, salah seorang teman mengajaknya untuk ke Jakarta, bekerja di toko yang
menjual sembako (sembilan bahan pokok), bertempat di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pukul tiga dini hari ia harus membungkus gula dan sembako lainnya. Kemudian ia menjaga toko dan membereskannya ketika toko tutup. Ia baru bisa beristirahat pukul 24.00. Walau pekerjaan tersebut melelahkan, upah yang diterimanya relatif rendah. Akhirnya ia meninggalkan pekerjaan tersebut.
Dari daerah Pasar Minggu, Dsp pindah ke daerah Kramat, Jakarta Pusat untuk berjualan teh botol. Menurutnya, ketika berjualan teh botol terkumpul uang sekitar 750 ribu rupiah yang disimpannya untuk modal.
Dari daerah Kramat, ia pindah ke daerah Mampang untuk ikut saudara yang mempunyai usaha kecil membuat tempe dan menjualnya. Bersama saudaranya itu, usaha pindah ke Bandung. Sayang beberapa waktu kemudian usaha terpaksa terhenti karena pada saat itu ada kasus keracunan makanan yang pada akhirnya berimbas ke usahanya. Dari Bandung ia bersama saudaranya kembali ke Jakarta, tinggal di daerah Cipayung, Jakarta Timur. Di sana ia hanya berjualan tempe.
Beberapa saat kemudian, ia pindah dan mengontrak di Rawabuaya. Ia berpisah dengan Saudaranya karena konflik internal. Di tempat yang baru ia berjualan cincau. Di sinilah ia bertemu dengan Siti Mariyam yang kemudian menjadi istrinya.