KELAS III SDN 026 BALIKPAPAN UTARA TAHUN PEMBELAJARAN 2017/2018
DI SMP NEGERI 1 PENAJAM PASER UTARA Minarni
Guru SMP Negeri 1 Penajam Paser Utara ABSTRAK
Berdasarkan hasil Ulangan 1 dengan materi Sistem Reproduksi Manusia dari enam kelas yaitu kelas IX-A s/d IX-F, kelas IX-D yang nilainya mencapai ketuntasan belajar (79) paling sedikit yaitu 7 siswa atau 25.93%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan dalam memahami pada materi tentang sistem reproduksi pada manusia. Kesulitan dalam memahami materi tersebut bisa disebabkan: 1) Metode yang digunakan kurang cocok diterapkan kelas IX-D; 2) Motivasi belajar siswa kurang. Untuk mengatasi hal tersebut maka diadakan Penelitian Tindakan Kelas yang berjudul
“Peningkatan Ketuntasan Belajar Sistem Reproduksi pada Makhluk Hidup Melalui Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together Kelas IX-D Semester Ganjil Tahun Pembelajaran 2018/2019 di SMP Negeri 1 Penajam Paser Utara”. Setelah diadakan Penelitian Tindakan Kelas hasil nilai siswa ≥ 79 (KKM=79) atau yang tercapai ketuntasan belajarnya pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 22,22% dari prasiklus. Pada siklus II siswa yang tercapai ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 14,81% dari siklus I. Penggunaan Model Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together dapat Meningkatkan Ketuntasan Belajar Sistem Reproduksi pda Makhluk Hidup pada Kelas IX-D Semester Ganjil Tahun Pembelajaran 2018/2019 di SMP Negeri 1 Penajam Paser Utara.
Kata Kunci: Ketuntasan belajar, NHT
PENDAHULUAN
Pembelajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Penajam Paser Utara kelas IX-A s/d IX-F tahun pelajaran 2018/2019 di semester ganjil materi Sistem Reproduksi pada manusia dengan menggunakan model yang sama dan waktu yang sama. Setelah materi selesai diadakan ulangan harian dari kelas IX-A sampai dengan IX-F. Berdasarkan hasil Ulangan 1 dengan materi Sistem Reproduksi Manusia dari enam kelas yaitu kelas IX-A sampai dengan IX-F, kelas IX-D yang nilainya mencapai ketuntasan belajar (79) paling sedikit yaitu 7 siswa atau 25.93%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan dalam
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017)
166 BORNEO, Volume XII, Nomor 1, Juni 2019
memahami pada materi tentang sistem reproduksi pada manusia. Kesulitan dalam memahami materi tersebut bisa disebabkan: 1) metode yang digunakan kurang cocok diterapkan kelas IX D; dan 2) Motivasi belajar siswa kurang.
Maka untuk mengatasi hal tersebut diperlukan strategi yang sesuai yang melibatkan siswa secara keseluruhan. Berdasarkan pada kenyataan tersebut bahwa strategi belajar yang digunakan oleh guru sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa, dan yang lebih penting lagi berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam belajar.
Berdasarkan permasalahan yang telah disebutkan di atas, diperlukan cara pembelajaran yang menarik, efisien, dan efektif yang dapat menyiapkan siswa untuk mampu berpikir logis, kritis, kreatif serta dapat beragumen dengan benar.
Sehingga penulis ingin menerapkan strategi pembelajaran “Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT)“ sebagai alternatif pemecahan masalah pembelajaran di sekolah dan untuk meningkatkan ketuntasan belajar di kelas IX-D semester Ganjil tahun pembelajaran 2018/2019.
Model pembelajaran kooperatif tipe NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang memiliki nomor dalam kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut.
Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.
Para peneliti dan praktisi telah menemukan bahwa siswa yang difasilitasi pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan intelektual, pemikiran kreatif, dan kemampuan dalam pemecahan masalah. Dengan kata lain, penelitian pendidikan memberikan bukti yang mendukung penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa merujuk Johnson
& Johnson (1991) dalam Zubaidah, dkk. (2013).
Berdasarkan latar belakang tersebut dilakukan penelitian yang berjudul
“Peningkatan Ketuntasan Belajar Sistem Reproduksi pada Makhluk Hidup melalui Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT) Kelas IX-D Semester Ganjil Tahun Pembelajaran 2018/2019 di SMP Negeri 1 Penajam Paser Utara”. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
“Apakah terdapat Peningkatan Ketuntasan Belajar Sistem Reproduksi pada Makhluk Hidup Kelas IX-D Semester Ganjil Tahun Pembelajaran 2018/2019 di SMPN 1 Penajam Paser Utara melalui Cooperative Learning Tipe NHT?”
Berdasarkan rumusan masalah tersebut tujuan penelitian yang utama adalah untuk menghasilkan desain pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk Peningkatan motivasi dan Ketuntasan Belajar Sekolah Menengah Pertama.
Lebih khusus tujuan penelitian tindakan kelas ini dimaksudkan dengan tujuan untuk: ”Peningkatan Ketuntasan Belajar Sistem Reproduksi pada Makhluk Hidup melalui Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together (NHT) Kelas IX-D Semester Ganjil Tahun Pembelajaran 2018/2019 di SMP Negeri 1 Penajam Paser Utara”.
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017 BORNEO, Volume XIII, Nomor 1, Juni 2019 167 KAJIAN PUSTAKA
Motivasi belajar salah satu unsur pokok dalam proses belajar mengajar.
Motivasi belajar ada 2 macam, yaitu motivasi yang ada dalam diri siswa dan motivasi yang ada dalam pembelajaran. Untuk peningkatan motivasi perlu dikembangkan desain pembelajaran ”Numbered Heads Together” adalah salah satunya.
Ada beberapa prinsip belajar dan motivasi yang disampaikan Hatnalik (2002), agar mendapatkan perhatian dari pihak perencana pengajaran khususnya dalam merencanakan kegiatan pembelajaran. Prinsip tersebut dapat digunakan oleh pendidik dalam mengupayakan pendidik dalam peningkatan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan belajar, sehingga didapatkan prestasi yang optimal.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2012), peningkatan artinya proses, perbuatan, cara meningkatkan (usaha,kegiatan,dsb).Ketuntasan artinya perihal (keadaan) tuntas atau selesai secara menyeluruh. Belajar artinya berusaha, berlatih untuk mendapat ilmu/pengetahuan. Jadi peningkatan ketuntasan belajar artinya cara atau usaha untuk meningkatkan mendapat pengetahuan secara menyeluruh.
Menurut Zubaidah, dkk. (2013) dalam model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT)” pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang memiliki kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut”. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.
Menurut Aqib (2013) model pembelajaran Numbered Heads Together pertama diperkenalkan oleh Spenser Kagan dengan ciri khas pemberian nomor pada setiap siswa dalam kelompok berbeda-beda. Numbered Heads Together merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif. Menurut Zubaidah dkk.
(2013) Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sengaja menciptakan interaksi yang saling menguntungkan karena memberi pengalaman belajar dengan membangun saling ketergantungan yang positif antar anggota kelompok, mengembangkan tanggungjawab individu dan ketrampilan bekerjasama secara seimbang.
METODE PENELITIAN
Pada bagian ini dibahas: 1) Rancangan Penelitian; 2) Prosedur Pengumpulan Data; 3) Instrumen Penelitian, dan 4) Teknik Analisis Data. Rancangan pada dasarnya merencanakan suatu kegiatan sebelum dilaksanakan. Kegiatan merencanakan itu mencakup komponen-komponen berikut: Jenis penelitian kuanlitatif, dengan rancangan penelitian PTK yang terdiri dari 2 siklus. Menurut Kemmis dan Taggard (1988) dalam Dasna (2013) setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: merencanakan tindakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati tindakan (observing), dan melakukan refleksi (reflecting). Bila siklus I belum mencapai indikator yang ditargetkan maka dilanjutkan dengan siklus II yaitu perbaikan rencana, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Model PTK Kemmis dan Taggard disajikan pada gambar berikut:
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017)
168 BORNEO, Volume XII, Nomor 1, Juni 2019
Gambar 1. Bagan Alur Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Penajam Paser Utara dengan Alamat: Jl Raya Penajam No. 12 A Penajam Paser Utara. Subyek penelitian adalah siswa. Kelas IX-D jumlah siswa 27 Orang, terdiri dari 14 orang siswa perempuan dan 13 orang siswa laki-laki. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11 Juli 2018 sampai tanggal 3 September 2019.
Kegiatan yang dilakukan pada siklus 1 meliputi: Perencanaan yaitu merencanakan tindakan berdasarkan tujuan penelitian. Beberapa perangkat yang disiapkan dalam tahap ini adalah: bahan ajar, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), Alat evaluasi, tugas-tugas, kuis dan lembar observasi. Pelaksanaan tindakan meliputi: 1) Siswa diberi penjelasan tentang pembelajaran Numbered Heads Together dan komponen-komponennya; 2) Guru memberi penjelasan tentang tujuan pembelajaran dan garis besar materi yang akan dipelajari; 3) Guru membentuk kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4 orang Siswa, satu kelompok beranggotakan 3 orang dan memberi nomor 1, 2, 3, dan 4 pada masing-masing kelompok; 4) Guru membagikan LKS (Lembar Kerja Siswa), kemudian siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam kelompoknya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing pertanyaan dalam LKS; 5) Guru menyebutkan salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harusmenjawab pertanyaan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut; 6) Guru memberi penghargaan pada kelompok yang paling aktif dalam diskusi kelompok maupun diskusi kelas; 7) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi; 8) Guru memberi kuis.
Selama tahap pelaksanaan peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan siswa pada masing-masing kelompok dan ketrampilan proses siswa selama
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017 BORNEO, Volume XIII, Nomor 1, Juni 2019 169
pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Pada kegiatan refleksi yaitu menganalisis hasil observasi mengenai: Keaktifan siswa melakukan eksplorasi, partisifasi dalam kelompok dan penerapan konsep (Hasil kegiatan kelompok, Hasil kuis, dan Kualitas presentasi kelompok). Hasil-hasil yang diperoleh dan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan tindakan dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang pada siklus berikutnya.
Pada siklus 2 dilakukan tahap-tahap seperti pada siklus 1 tetapi didahului dengan perencanaan ulang berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus 1, sehingga kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus 1 tidak terjadi pada siklus 2. Prosedur Pengumpulan Data meliputi: 1) observasi terhadap siswa dilakukan sebelum tindakan dan selama penerapan Strategi Numbered Heads Together. Data yang diperoleh berupa kondisi siswa sebelum tindakan. Observasi terhadap keterlaksanaan pembelajaran guru dalam menerapkan strategi pembelajaran Numbered Heads Together; 2) Catatan lapangan data yang diperoleh dari catatan lapangan berupa kegiatan yang tidak tercantum dalam lembar observasi kerja ilmiah dan lembar observasi keterlaksanaan guru. Data yang diambil tentang nama dan jumlah siswa yang tidak hadir, situasi saat kegiatan pembelajaran berlangsung, kerjasama siswa dalam pembelajaran, dan nama siswa yang ramai atau pasif; dan 3) Tes Akhir Siklus data yang diperoleh dari tes akhir siklus berupa skor tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa yang dilihat dari tingkat ketuntasan (KKM).
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan meliputi: 1) Lembar observasi digunakan untuk mengamati kegiatan siswa mengikuti proses kegiatan belajar; dan 2) Lembar Tes Soal digunakan untuk mengambil data tentang nilai belajar untuk menentukan ketuntasan belajar siswa. Penelitian ini menggunakan teknik analisis ketuntasan belajar. Adapun ketuntasan belajar berkaitan dengan pencapaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 79. Jika siswa memperoleh nilai ≥79 maka siswa dikatakan telah mencapai ketuntasan belajar dan siswa yang memperoleh nilai < 79 belum tuntas belajar. Analisis data ini dapat dilakukan setiap kali siklus pembelajaran berakhir.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada awal sebelum siklus dilakukan 4 kali pertemuan dengan alokasi 3 x 40 menit dan 2 x 40 menit secara selang seling, dilaksanakan tanggal 11, 16, 18 dan 23 Juli 2018 ulangan tanggal 25 Juli 2018. Dari hasil tes awal menggambarkan bahwa dari 27 siswa kelas IX-D, 7 siswa atau 25,93 % yang sudah mencapai nilai ketuntasan dan 20 siswa atau 74,07 % belum mencapai nilai ketuntasan. Hal ini menunjukkan sebagian besar siswa belum mencapai Kompetensi Dasar Sistem Reproduksi pada Manusia. Hal ini disebabkan antara lain: belum memahami materi, kurang belajarnya bahkan ada yang tidak belajar dan beberapa siswa masih belum paham (berdasarkan hasil angket yang diisi siswa). Berdasarkan tes awal itulah, maka diadakan penelitian tindakan kelas sebagai upaya perbaikan ketuntasan belajar dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heard Together (NHT).
Pada siklus ini rencana tindakan dilakukan selama 3 pertemuan dengan alokasi waktu menit dan menit secara berseling. Pertemuan
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017)
170 BORNEO, Volume XII, Nomor 1, Juni 2019
dilaksanakan tanggal 30 Juli, 6 Agustus, dan 8 Agustus 2018, ulangan tanggal 13 Agustus 2018. Pada siklus 1 ini yang dibahas kompetensi dasar Sistem Reproduksi pada Tumbuhan. Dalam melaksanakan strategi pembelajaran, langkah-langkah sebagai berikut:
1. Kegiatan pembukaan: Apersepsi dan motivasi selamat 10 menit.
2. Kegiatan inti: 50 menit (2JP) atau 80 menit (3JP), meliputi:
a. Guru memberi penjelasan tentang tujuan pembelajaran dan garis besar materi yang akan dipelajari.
b. Guru membentuk kelompok, setiap kelompok beranggotakan 4 orang siswa dan memberi nomor 1, 2, 3, dan 4 pada masing-masing kelompok.
c. Guru membagikan LKS (Lembar Kerja Siswa ), kemudian siswa berpikir bersama untuk menemukan jawaban dan menjelaskan jawaban kepada anggota dalam kelompoknya sehingga semua anggota mengetahui jawaban dari masing pertanyaan dalam LKS.
d. Guru menyebutkan salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara random memilih kelompok yang harusmenjawab pertanyaan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya disebut guru dari kelompok tersebut mengangkat tangan dan berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama menanggapi jawaban tersebut.
e. Guru memberi penghargaan, kemudian guru dan siswa menyimpulkan hasil diskusi.
3. Kegiatan penutup: 20 menit (2JP) atau 30 menit (3JP), meliputi:
a. Guru menyimpulkan pembelajaran, setelah itu mengadakan kuis.
b. Guru memberi tugas
Penilaian Kinerja dalam metode ini diawali dengan membuat kesepakatan tentang tata tertib siswa dalam belajar IPA: 1) Memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih tempat duduk dan anggota kelompok sudah ditentukan oleh guru; 2) Memberikan kebebasan siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti baik secara individu maupun kelompok; dan 3) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlomba memperoleh hasil yang terbaik.
Langkah awal ini terbukti memberikan dampak positif siswa terhadap pembelajaran IPA KD Sistem Reproduksi pada Tumbuhan, siswa menjawab LKS dengan menemukan sendiri jawaban dengan bantuan media yang disiapkan oleh guru, membaca membuka buku paket atau buku penunjang lainya.
Beberapa hal yang dicatat pada pertemuan ini adalah: 1) Waktu yang digunakan siswa belum maksimal; dan 2) Kurang telitinya siswa dalam menulis jawaban sesuai dengan media yang tersedia. Motivasi kinerja siswa mulai muncul, karena merasa ada kemudahan dalam mengerjakan LKS, karena hampir semua jawaban dapat ditemukan dalam media yang digunakan pada pembelajaran tersebut.
Berikut ini data aktivitas kinerja siswa selama diskusi untuk menyelesaikan LKS dan pembahasan LKS, dapat disimpulkan bahwa kinerja siswa pada siklus 1 rata-rata 74.8. Pada akhir tahap ini guru memberikan penilaian hasil kerja siswa.
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017 BORNEO, Volume XIII, Nomor 1, Juni 2019 171
Hal ini dimaksudkan untuk lebih memberikan motivasi kepada siswa, bahwa semakin sempurna dan teliti jawabannya akan mendapatkan nilai lebih baik.
Penilaian Hasil Belajar setelah 3x pertemuan diadakan ulangan pada Siklus I hasilnya siswa yang memperoleh nilai ketuntasan terdapat 13 siswa dari 27 siswa atau 48,15 % dan nilai rata-ratanya 74,82. Hal ini telah ada peningkatan ketuntasan sebesar 22,22 % dari pada pertemuan sebelum dilaksanakan penelitian tindakan. Walaupun kenaikan belum maksimal dan 7 siswa menunjukkan hasil belajar yang menurun, 2 siswa tetap, 18 siswa mengalami kenaikan dan masih ada siswa yang hasil belajarnya rendah (≥45).
Walaupun pada Siklus I ini baik proses maupun hasil yang cukup baik, tetapi beberapa catatan penyempurnaan masih perlu dilakukan antara lain sebagai berikut: 1) Pada saat diskusi kelompok tempat duduk siswa diatur berdekatan untuk memudahkan komunikasi antar siswa, dan menghadap kearah papan tulis supaya guru mudah untuk mengontrol siswa yang tidak aktif; 2) Tata tertib belajar perlu dilakukan penyempurnaan antara lain: a) Ketelitian siswa dalam penulisan jawaban, b) Kelengkapan jawaban; 3) Pada saat pembahasan LKS, guru sebaiknya menuliskan nomor-nomor soal yang akan diisi jawabannya oleh siswa sehingga siswa yang lain yang bernomor sama akan mudah memberi tanggapan.
Pada siklus II ini rencana tindakan dilakukan selama 3 x pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 40 menit dan 3 x 40 menit secara berseling setiap pertemuan, dilaksanakan pada tanggal 22, 27 dan 29 Agustus 2018 ulangan harian 3 dilaksanakan tanggal 3 September 2018. Pada siklus II ini yang dibahas kompetensi dasar Sistem Reproduksi pada Hewan.
Dalam melaksanakan strategi pembelajaran siklus II sama seperti pada siklus I tapi ada sedikit penyempuraan,yaitu: 1) Posisi tempat duduk siswa harus berdekatan, yang awalnya berhadapan muka belakang diubah berhadapan menyamping papan tulis; 2) Pada saat pembahasan LKS, guru sebaiknya menuliskan nomor-nomor soal yang akan diisi jawabannya oleh siswa sehingga siswa yang lain yang bernomor sama akan mudah memberi tanggapan.
Pada saat pembukaan pelajaran, guru memberi pengarahan ulang tentang tata cara belajar yang disempurnakan dari siklus I, meliputi: 1) Gunakan waktu sebaik-baiknya; dan 2) Telitilah dalam menulis jawaban sesuai dengan media yang tersedia.
Berikut ini data aktivitas kinerja siswa selama diskusi untuk menyelesaikan LKS dan pembahasan LKS dapat disimpulkan bahwa kinerja siswa pada siklus II rata-rata 81.1. Setelah 3 x pertemuan diadakan ulangan pada Siklus II hasilnya yang memperoleh nilai ketuntasan terdapat 17 siswa dari 27 siswa atau 62,96 %.
Siswa yag hasil belajarnya dari siklus I ke siklus II mengalami kenaikan ada 19, yang tetap 1 dan yang turun 7. Hal ini telah ada peningkatan ketuntasan sebesar 14,81 % dari siklus I.
Berdasarkan data-data yang ada pada siklus I dan siklus II dapat dirangkum bahwa nilai kinerja siswa dalam diskusi kelompok mengalami peningkatan sebesar 5,1. Berdasarkan data-data yang ada pada prasiklus, siklus I dan siklus II dapat dirangkum untuk mengetahui meningkat/tidaknya hasil belajar siswa.
Berdasarkan data tersebut nilai siswa ≥ 79 (KKM=79) atau yang tercapai ketuntasan belajar pada siklus I mengalami peningkatan sebesar 22,22% dari
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017)
172 BORNEO, Volume XII, Nomor 1, Juni 2019
prasiklus. Pada siklus II siswa yang tercapai ketuntasan belajar mengalami peningkatan sebesar 14,81% dari siklus I.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa Penggunaan Model Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together dapat Meningkatkan Ketuntasan Belajar Sistem Reproduksi pada Makhluk Hidup Kelas IX-D Semester Ganjil Tahun Pembelajaran 2018/2019 di SMP Negeri 1 Penajam Paser Utara.
SARAN
Berdasarkan hasil dan kesimpulan dalam penelitian ini disarankan: 1) Bagi guru IPA dapat mencoba menerapkan pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together pada pokok bahasan yang lain; 2) Bagi guru selain IPA dapat juga mencoba menerapkan pembelajaran Model Cooperative Learning Tipe Numbered Heads Together untuk meningkatkan ketuntasan belajar siswa; 3) Manfaat bagi sekolah: a) Memberi masukkan bagi sekolah untuk peningkatan kualitas dan ketuntasan belajar siswa, b) Sebagai sarana pemberdayaan untuk peningkatan kerjasama dan kreatifitas guru.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Arma dkk. 1994. Dasar-DasarPendidikan Jasmani. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Departemen Pendidikan Nasional 2004. KurikulumPendidikan Jasmani. Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional 2006. Panduan Pembelajaran Silabus SMP, SMA, SMK dan MAK . Jakarta.
Dinata, Marta. 2002. Senam Aerobik dan Peningkatan Kesegaran Jasmani.
Cerdas Jaya Lampung.
Dinata, Marta. 2004 Padat berisi dengan Aerobik. Cerdas Jaya Lampung.
Dinata, Marta. 2005. Dasar-dasar Melatih Senam Ketangkasan. Cerdas Jaya Bandar lampung.
Dinata, Marta. 2005.Rahasia Latihan Sang Juara. Cerdas Jaya Lampung.
Husein, Sudirman, 2008. Falsafah Pendidikan Jasmani. Seminar Lokakarya Penjas dan Olahraga. Bandar Lampung.
J. Matakupan. 1993. Teori Bermain. Jakarta: Depdikbud.
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017 BORNEO, Volume XIII, Nomor 1, Juni 2019 173