INDONESIA MENJADI NEGARA MAJU KELAS IX-C SMPN 1 RANTAU PULUNG TAHUN 2017/2018
Lois Taruklobo SMP Negeri 1 Rantau Pulung
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar siswa di sekolah khususnya mata pelajaran IPS. PTK ini terdiri dari dua siklus dengan enam kali pertemuan. Siklus I tiga kali pertemuan dan siklus II tiga kali pertemuan. Pada pertemuan pertama dan kedua pada setiap siklus membahas materi dengan model Problem Solving sedangkan di pertemuan ketiga adalah siswa mengerjakan tes formatif untuk mengukur prestasi belajar yang dicapai oleh siswa.
Hasil yang diperoleh siswa pada setiap siklus menunjukkan adanya peningkatan walaupun belum mencapai target ketuntasan pada siklus I,hal ini dikarenakan pada siklus I siswa belum mengerti tentang cara belajar dengan model Problem solving, siswa belum terbiasa berpikir kritis untuk memecahkan sebuah masalah akibatnya banyak tidak aktif sehingga hasil yang dicapai masih jauh di bawah target ketuntasan yang diharapakan.Siklus II siswa menunjukkan perkembangan yang sangat baik, sebagian besar sudah aktif bertanya, diskusi, merespon pendapat teman serta menjawab pertanyaan. Hasil yang diperoleh pun meningkat setelah diadakan tes formatif yaitu pada siklus I nilai rata-rata-rata prestasi belajar siswa 66,52 meningkat pada siklus II menjadi 74,82. Jadi, pada siklus II ini target ketuntasan 75% sudah tercapai.yang berarti bahwa penggunaan model problem solving dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.
Kata Kunci: Prestasi Belajar IPS, Problem solving
PENDAHULUAN
Mutu pendidikan sangat erat hubungannya dengan mutu siswa, karena siswa merupakan titik pusat proses belajar mengajar. Oleh karena itu, dalam meningkatkan mutu pendidikan harus diikuti dengan peningkatan mutu siswa.
Peningkatan mutu siswa dapat dilihat pada tingginya tingkat prestasi belajar siswa, sedangkan tingginya tingkat prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh besarnya minat belajar siswa itu sendiri.
Selama ini pelaksanaan pembelajaran yang bersifat monoton atau menggunakan pola klasik yaitu guru menerangkan, menata, dan memberikan contoh; itu dapat membuat siswa memiliki daya serap dan prestasi belajar yang
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017)
40 BORNEO, Volume XII, Nomor 1, Juni 2019
rendah dengan bukti adanya nilai hasil ulangan harian dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70 (Tujuh Puluh).
Selain itu minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) masih tergolong sangat rendah. Hal ini dapat dilihat pada sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran tidak fokus dan ramai sendiri. Bahkan ada sebagian siswa yang menganggap mata pelajaran IPS tidak begitu penting dikarenakan tidak masuk pada mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional (UN). Faktor minat itu juga dipengaruhi oleh adanya model pembelajaran yang digunakan guru dalam menyampaikan materi. Penggunaan model pembelajaran sangat diutamakan guna menimbulkan gairah belajar, motivasi belajar, merangsang siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran. Untuk itu penulis mencoba menerapkan salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran problem solving untuk mengungkap apakah dengan menggunakan model problem solving dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Dalam model ini guru berperan sebagai fasilitator dan siswa dapat belajar tentang cara berpikir kritis dalam pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan yang esensial dalam materi pelajaran.
Model pembelajaran problem solving dapat menjadi salah satu alternatif pilihan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional melalui proses pembelajaran di kelas, karena dalam model pembelajaran ini peran siswa dituntut aktif untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisis siswa dan inisiatif atas materi pelajaran. Para siswa juga dapat berpikir kristis dan analitis, serta mencari sumber pembelajaran yang sesuai. Melalui metode problem solving diharapkan dapat lebih mempermudah pemahaman materi pelajaran yang diberikan dan nantinya dapat mempertinggi kualitas proses pembelajaran yang selanjutnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Model pembelajaran problem solving dapat menjadi salah satu alternatif pilihan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional melalui proses pembelajaran di kelas, karena dalam model pembelajaran ini peran siswa dituntut aktif untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan analisis siswa dan inisiatif atas materi pelajaran. Para siswa juga dapat berpikir kristis dan analitis, serta mencari sumber pembelajaran yang sesuai.
Diharapkan dengan menggunakan metode problem solving dalam proses pembelajaran IPS akan menarik minat siswa mengikuti kegiatan belajar sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang terjadi di SMPN 1 Rantau Pulung sebagai berikut: 1) Masih rendahnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS;
2) Masih rendahnya minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPS; dan 3) Pembelajaran IPS masih didominasi dengan metode ceramah. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana penerapan metode problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SMPN 1 Rantau Pulung?
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1) Bagi guru, mampu menganalisa terjadinya permasalahan-permasalahan pembelajaran dan mampu mengatasi permasalahan tersebut, dan mampu menumbuhkan suasana pembelajaran yang kondusif dan meningkatkan kemandirian siswa; 2) Bagi peneliti, dapat menambah pengalaman peneliti untuk terjun ke bidang pendidikan; dan 3) Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa meningkat.
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017 BORNEO, Volume XIII, Nomor 1, Juni 2019 41 KAJIAN PUSTAKA
Hasil Belajar IPS
Menurut Sudjana (2005: 3) hakikat hasil belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Menurut Sudjana (1989: 38-40) hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Hasil belajar merupakan segala upaya yang menyangkut aktivitas otak (proses berfikir) terutama dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses berfikir ini ada enam jenjang, mulai dari yang terendah sampai dengan jenjang tertinggi (Suharsimi Arikunto, 2003: 114-115). Hasil belajar merupakan segala upaya yang menyangkut aktivitas otak (proses berfikir) terutama dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Proses berfikir ini ada enam jenjang, mulai dari yang terendah sampai dengan jenjang tertinggi (Arikunto, 2003: 114-115).
Metode Problem Solving
Metode problem solving adalah cara mengajar yang dilakukan dengan cara melatih para murid menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama (Alipandie, 1984:105). Menurut N.Sudirman (1987:146) model pembelajaran problem solving adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Sedangkan Hidayati (2008), berpendapat bahwa model pembelajaran problem solving (metode pemecahan masalah) didasarkan pada kesadaran terhadap kenyataan, bahwa mengajar bukanlah sekedar berpidato dan mengkomunikasikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Tetapi, mengajar adalah untuk meneliti dengan seksama, mencari, menyelidiki, memikirkan, menganalisis, dan sampai menemukan.
Karakteristik Siswa
Menurut Piuas Partanto,Dahlan (1994) karakteristik adalah tabiat/ watak, pembawaanatau kebiasaan yang dimiliki ileh individu yang relatip tetap.
Karakteristik siswa merupakan ciri atau sifat dan atribut yang melekat pada siswa yang menggambarkan kondisi siswa misalnya kemampuan akademis yang telah dimiliki, gaya dan cara belajar serta kondisi sosial ekonomi (Pribadi,2009: 211). Menurut Degeng dalam Budiningsih (2003: 10) karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang telah dimilikinya. Siswa sebagai input dari proses pendidikan memiliki profil perilaku maupun pribadi yang senantiasa berkembang menuju taraf kedewasaan (Makmun, 2004: 78-79). Perilaku dan pribadi siswa sudah memasuki masa remaja. Karakteristik siswa merupakan keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya dalam meraih cita-citanya.
(BORNEO, Volume XI, Nomor 2, Desember 2017)
42 BORNEO, Volume XII, Nomor 1, Juni 2019
METODE PENELITIAN