DAFTAR LAMPIRAN
6.3 Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi
Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi ekonomi terdiri dari sepuluh atribut, yaitu: (1) daya saing wisata; (2) perkembangan kontribusi PAD dari sektor pariwisata terhadap total PAD; (3) rata-rata biaya perjalanan wisata; (4) status kawasan; (5)
purchasing power parity; (6) rata-rata pengeluaran wisatawan puncak terhadap
PAD pariwisata; (7) jumlah KUKM di kawasan Puncak; (8) jumlah kunjungan wisata di kawasan Puncak; dan (9) jumlah industri besar dan sedang; (10) jumlah keluarga sejahtera (KS II, III dan III plus).
Hasil analisis MDS dengan menggunakan rap-tourism Puncak menunjukkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi di kawasan pariwisata Puncak Kabupaten Bogor sebesar 67,87. Berdasarkan klasifikasi status keberlanjutan angka tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi di kawasan Puncak memiliki status berkelanjutan, sebagaimana tertera pada gambar 27.
Status berkelanjutan tersebut disebabkan dari delapan atribut pendukung dimensi ekonomi yang diamati terdapat lima atribut termasuk kategori baik, yaitu atribut perkembangan kontribusi PAD dari sektor pariwisata terhadap total PAD, rata-rata biaya perjalanan wisata di Puncak, status kawasan, purchasing power
yang termasuk kategori buruk (rendah) adalah daya saing wisata, jumlah KUKM di Kawasan Puncak, jumlah industri besar dan sedang serta jumlah keluarga sejahtera (KS II, III dan III +).
R A P -T O UR IS M P UNC A K D im en s i E k o n o m i 67 .8 7 G O O D B A D UP D O W N -60 -40 -20 0 20 40 60 80 0 20 40 60 80 100 120
N ila i In d ik a to r K e b erla n ju ta n D imen s i E k o n o m i R a p -T o u ris m P u n c a k O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s R ea l V a lue R eferenc es A nc hors
Gambar 27. Indeks keberlanjutan dimensi ekonomi kawasan Puncak Kabupaten Bogor.
Kawasan wisata alam pegunungan Puncak dalam perwilayahan pariwisata Provinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai wilayah yang termasuk dalam satu dari sembilan kawasan wisata unggulan Provinsi Jawa Barat. Kondisi ini memicu peningkatan ekonomi wilayah yang terlihat dari peningkatan penerimaan daerah dari sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Penerimaan daerah dari sektor pariwisata berasal dari pajak dan retribusi yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata seperti kegiatan hotel, restoran dan tempat hiburan. Jumlah penerimaan pariwisata mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2006 sebesar Rp 21.395.077.363 meningkat menjadi Rp 35.509.323.990 pada tahun 2009.
Selain penerimaan dari sektor pariwisata yang dipungut oleh pemerintah melalui pajak dan retribusi, terdapat pengeluaran langsung wisatawan dalam bentuk biaya perjalanan wisata. Berdasarkan hasil survey dan analisis biaya perjalanan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, diperoleh rata-rata biaya perjalanan wisatawan di kawasan Puncak adalah Rp. 844.989 dan bila dikalikan jumlah wisatawan serta rata-rata lama tinggal di kawasan Puncak dalam satu
tahun, maka total dana yang dikeluarkan wisatawan dan beredar di kawasan Puncak atau purchasing power parity pariwisata adalah Rp. 1.935.695.900.264. Guna melihat atribut-atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi, dilakukan analisis leverage. Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh 6 atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi yaitu: jumlah KUKM di kawasan Puncak (10,65%), jumlah industri besar dan sedang (6,83%), purchasing power
parity pariwisata (5,86%), rata-rata pengeluaran wisatawan puncak terhadap
PAD pariwisata (5,79%), daya saing wisata (5,37%) dan rata-rata biaya perjalanan wisata (5,36%). Hasil analisis leverage dapat dilihat pada gambar 28. Berdasarkan data-data sekunder dan hasil analisis, penilaian untuk atribut jumlah KUKM dan jumlah industri menunjukkan nilai rendah, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya perbaikan agar secara ekonomi perkembangan di wilayah puncak akan semakin baik. Data KUKM yang diperoleh dari Dinas Koperasi, Perdagangan dan Industri Kabupaten Bogor tahun 2010 tertera pada tabel 55. Tabel 55. Rasio KUKM berdasarkan data KUKM (Koperasi, UMKM dan IKM)
dan jumlah penduduk
No. Kecamatan Koperasi UMKM IKM KUKM Jumlah Penduduk Rasio KUKM:pddk 1. Ciawi 36 259 23 318 92.642 0,0034 2. Cisarua 33 178 51 262 109.882 0,0024 3. Megamendung 17 176 14 207 91.036 0,0023 4 Kab.Bogor 645 8.700 1.910 11.255 4.340.520 0,0026 5. Rata-rata Kab Bogor 23 217 48 288 108.513 0,0027
Jumlah KUKM (Koperasi dan Usaha Kecil Menengah) yang ada di setiap wilayah dapat dijadikan salah satu indikator pertumbuhan dan pemerataan kegiatan ekonomi di masyarakat. Walaupun aktivitas pariwisata baik di Kecamatan Ciawi, Cisarua dan Megamendung berperan sebagai sektor unggulan dan memberikan kontribusi yang selalu meningkat tiap tahunnya terhadap PAD dan PDRB, namun dilihat dari aktivitas masyarakat setempat untuk berusaha di koperasi dan UKM masih kurang. Hal ini terlihat dari jumlah KUKM dan rasio KUKM terhadap penduduk.
Jumlah KUKM di Kecamatan Cisarua dan Megamendung dibawah rata-rata jumlah KUKM di tingkat Kabupaten, sedangkan jumlah KUKM di Ciawi lebih banyak dari jumlah rata-rata tingkat kabupaten, atau jika dibuat rata-rata tiga kecamatan tersebut maka jumlah KUKM di Kawasan Puncak (262 buah) masih lebih rendah dari rata-rata kabupaten (288 buah). Jika diamati dari rasio jumlah KUKM terhadap jumlah penduduk setempat, maka keberadaan KUKM masih dirasakan sangat kurang. Rasio KUKM di Kecamatan Ciawi, Cisarua dan Megamendung masing-masing adalah 3,4 permil, 2,4 permil dan 2,3 permil artinya dari seribu jumlah penduduk baru terdapat atau dilayani oleh 2-3 KUKM. Keberadaan atribut KUKM, industri dan purchasing power parity pariwisata (tourist expenditure) menjadi atribut yang sangat sensitif yang dapat mempengaruhi kinerja ekonomi secara keseluruhan di Kawasan Puncak. Sumbangan pendapatan sektor pariwisata yang tinggi baik berasal dari retribusi, pajak maupun belanja wisatawan (purchasing power parity) akan semakin dirasakan manfaatnya jika ditunjang dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi rakyat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh BPS tahun 2009, jumlah Keluarga Sejahtera di tiga kecamatan pada Kawasan Puncak terdapat sebanyak 9.675 keluarga masih lebih rendah daripada rata-rata keluarga sejahtera di tingkat Kabupaten yaitu 12.974 keluarga. Hal ini mengindikasikan perlunya dilakukan program-program pemberdayaan masyarakat melalui KUKM yang dikaitkan dengan pertumbuhan aktivitas wisata di Kawasan Puncak.
L ev era g e o f A ttrib u tes
D im en s i E k o n o m i R ap -T o u ris m P u n c ak 5 .3 7 4 .5 1 5 .3 6 5 .3 0 5 .8 6 5 .7 9 1 0 .6 5 4 .8 4 6 .8 3 4 .4 5 0 2 4 6 8 10 12 D A Y A S A ING W IS A TA P E R K E MB A N G A N K O NTR IB US I P A D P A R IW IS A T A TH D TO TA L P A D R A TA -R A TA B IA Y A P E R J A L A NA N W IS A TA S TA T US K A W A S A N P U R C H A S IN G P O W E R P A R IT Y P A R IW IS A TA R A TA -R A TA P E NG E L UA R A N W IS A TA W A N P U NC A K TH D P P A D P A R IW IS A T A J UML A H K UK M D I K A W A S A N P U NC A K J UML A H K U NJ UNG A N W IS A TA D I K A W A S A N P U NC A K J UML A H IND US TR I B E S A R D A N S E D A NG J UML A H K E L U A R G A S E J A H TE R A (K S II, III, III+ )
A tt ri b u te R o o t Me a n S q u a re C h a n g e i n O rd i n a ti o n w h e n S e l e c te d A ttri b u te R e m o v e d (o n S u s ta i n a b i l i ty s c a l e 0 to 100)
Gambar 28. Atribut pengungkit dimensi ekonomi di Kawasan Puncak Kabupaten Bogor.