DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Tata Ruang Pariwisata
Menurut Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, ruang adalah meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Sedangkan tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Secara umum perencanaan tata ruang adalah suatu proses penyusunan rencana tata ruang untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia, kualitas pemanfaatan ruang, yang secara struktural menggambarkan keterikatan fungsi lokasi yang terbagi dalam berbagai kegiatan. Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana
tata ruang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mengikat semua pihak (Sugandhy 1999).
Dalam menata ruang wilayah tempat kehidupan dan penghidupan, Indonesia menganut konsep ruang wilayah yang terdiri atas elemen wisma, karya, marga, suka dan penyempurna; disingkat WKMSP. Wisma adalah ruang wilayah permukiman, karya adalah ruang wilayah pekerjaan, marga adalah ruang wilayah pergerakan/mobilitas, suka adalah ruang wilayah bagi fasilitas yang mencakup rekreasi dan pariwisata dan penyempurna adalah ruang wilayah bagi fasilitas sosial budaya lainnya termasuk tempat ibadah (Warpani dan Warpani 2007).
Daerah/kota tidak berdiri sendiri, tetapi berinteraksi dengan daerah/kota lainnya dalam jaringan kegiatan ekonomi dan sosial-budaya. Elemen WKMSP di daerah/kota membentuk suatu jaringan saling ketergantungan, karena itu harus ditata secara terkoordinasi dalam satu satuan tata ruang wilayah. Daerah/kota bukan wilayah tertutup melainkan berhubungan satu sama lain secara fisik geografis dan juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Koordinasi tata ruang wilayah diperlukan agar terjadi keseimbangan pembangunan dan perkembangan antar daerah.
Kegiatan pariwisata menempati ruang di suatu wilayah (administrasi) atau bahkan ruang kegiatannya lebih dari satu wilayah administrasi daerah sehingga keberadaanya sangat bermakna sebagai bagian tata ruang wilayah dan sebaliknya pengembangan pariwisata pun harus mengacu kepada tata ruang wilayah. Jadi harus tercipta hubungan timbal balik antara pengembangan pariwisata dan rencana tata ruang wilayah.
Jarak geografis antara lokasi daya tarik wisata dengan asal wisatawan adalah salah satu aspek keruangan yang tidak dapat diabaikan. Akibat jarak geografis tersebut maka diperlukan prasarana dan sarana perangkutan untuk menunjang kegiatan pariwisata seperti, jaringan perangkutan, perhotelan, dan pelayanan lainnya, pada aspek inilah sering terjadi tumpang tindih dan konflik kepentingan atas ruang wilayah. Selain jarak antara daerah tujuan wisata dan wisatawan yang berjauhan, juga jarak antar daerah tujuan wisata sendiri yang tidak terkonsentrasi dalam satu lokasi tetapi terpencar pada wilayah yang cukup luas. Kondisi ini harus diperhitungkan dalam rencana tata ruang wilayah, tidak semua infrastruktur harus disediakan di setiap daerah tujuan wisata karena pada
dasarnya akan terjadi “pengaruh rambatan” (trickling down effect) yang biasa terjadi di wilayah yang terdapat kegiatan pariwisata (Warpani dan Warpani 2007).
Pemanfaatan ruang di setiap daerah tujuan wisata harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, perlu dikembangkan pola tata ruang yang menyerasikan tata guna tanah, air serta sumberdaya alam lainnya dalam satu kesatuan tatanan lingkungan yang harmonis dan dinamis serta ditunjang dengan pengelolaan perkembangan kependudukan yang serasi. Pendekatan perencanaan tata ruang melalui perencanaan tata guna lahan dapat dilakukan dengan cara penilaian terhadap komponen-komponennya, seperti tanah, iklim dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan manusia yang selalu berubah menurut waktu dan ruang (Sugandhy 1999).
Sebaran lokasi DTW pada skala nasional dan/atau daya tarik wisata pada skala regional, memicu terjadinya interaksi antardaerah sebagai manifestasi hubungan sediaan-permintaan. Hubungan antara daerah asal wisatawan dengan DTW adalah dalam bentuk mobilitas orang, sedangkan hubungan antar daerah dapat menyangkut mobilitas orang dan/atau barang. Selain arus mobilitas orang dan barang, sektor kepariwisataan berdampak terhadap peredaran uang. Berkenaan dengan pariwisata mancanegara, maka arus valuta asing mempunyai makna berarti bagi perekonomian suatu negara (Warpani dan Warpani 2007).
Santoso (2001), menguraikan masalah-masalah tata ruang dari mulai perencanaan, pemanfaatan sampai pengendalian ruang sebagai berikut:
1. Permasalahan perencanaan tata ruang meliputi: (1) penggunaan peta dasar, tingkat ketelitian peta dan data/informasi yang tidak seragam antar instansi/lembaga terkait; (2) penerapan kriteria teknis sektoral versus kriteria teknis ruang yang menimbulkan konflik antar instansi/lembaga dalam alokasi fungsi ruang; (3) penyusunan rencana tata ruang wilayah yang kurang mengakomodir perkembangan data/informasi sektor-sektor pengguna ruang; (4) pemahaman yang berbeda terhadap peraturan perundang-undangan; (5) pemahaman yang berbeda terhadap deliniasi fungsi ruang yang tergambar pada peta rencana tata ruang wilayah; (6) pemahaman yang berbeda terhadap keberadaan hak-hak pemanfaatan ruang yang masih belum berakhir
masa berlaku izinnya versus masa berlakunya arahan fungsi ruang didalam rencana tata ruang wilayah;
2. Masalah dalam pemanfaatan ruang meliputi: (1) belum tuntasnya penyelesaian masalah-masalah pertanahan, sehingga potensial menyebabkan kekeliruan dan/atau tumpang tindih hak atas pemanfaatan ruang wilayah; (2) kurang lengkap dan kurang jelasnya rencana tata ruang wilayah sehingga sulit menjadi acuan pembangunan, karena tidak berbasis pada evaluasi kemampuan/kesesuaian lahan serta kurang antisipatif terhadap kebutuhan pembangunan; (3) rendahnya kemampuan sektoral dan masyarakat dalam penjabaran rencana tata ruang wilayah, karena kurangnya sosialisasi dan diseminasi; (4) inkonsistensi dalam implementasi rencana tata ruang wilayah dengan pelaksanaan pembangunan prasarana wilayah, sehingga pemanfaatan ruang wilayah menjadi tidak terkendali;
3. Masalah-masalah dalam pengendalian pemanfaatan ruang meliputi: (1) tidak adanya kejelasan, wewenang dan prosedur pengawasan yang meliputi
monitoring, pelaporan dan evaluasi serta penertiban dalam pemanfaatan
ruang wilayah; (2) lemahnya pencatatan atau tidak tersedianya data/informasi adanya perubahan rencana tata ruang wilayah; (3) kurang tersedianya anggaran untuk pengendalian pemanfaatan ruang wilayah; (4) tidak adanya tindak lanjut hasil pengendalian oleh pihak-pihak yang kompeten; (5) kelemahan aparat dalam penerapan peraturan perundang-undangan.