KAJI ULANG SISTEM PENDANAAN RISET PEMERINTAH UNTUKMENGURAI STAGNASI INOVASI DI BIDANG KESEHATAN
2. KAJIAN PUSTAKA 1 Kolaborasi Riset
4.2 Strategi Pendanaan Riset Kesehatan Di Indonesia: Suatu Usulan Sementara
Mengacu pada temuan yang telah dipaparkan sebelumnya, selanjutnya dikemukakan usulan strategi pendanaan riset yang dapat dibangun pemerintah untuk mendorong inovasi teknologi bidang kesehatan di Indonesia. Pertanyaannya adalah pada tahap mana pemerintah seharusnya lebih banyak menginvestasikan untuk mendukung inovasi di riset bidang kesehatan?
Berdasarkan paparan sebelumnya terdapat beberapa resiko yang akan timbul akibat minimnya anggaran riset dari pemerintah di bidang kesehatan, seperti misalnya perguruan tinggi yang cenderung memilih untuk bekerja sama dengan mitra asing sehingga memperbesar resiko kepemilikan data atau hasil produk dimiliki oleh pihak mitra. Ditambah lagi dengan sistem pendanaan yang terpecah-pecah dan cenderung dengan birokrasi yang berbelit-belit membuat beberapa perguruan tinggi ataupun dari kalangan pemerintah sendiri akhirnya mengambil jalan untuk berkolaborasi dengan mitra asing dalam melakukan riset. Alasan yang mereka berikan adalah sistem pendanaan yang diberikan oleh mitra asing cenderung lebih fleksibel dan dapat mengikuti ritme penelitian di bidang kesehatan yang bersifat jangka panjang dan kontinyu.
Hal inilah yang membuat industri seperti PT Biofarma sulit untuk melakukan kerja sama dengan pemerintah, hingga akhirnya mereka lebih memilih untuk melakukan kerja sama dengan pihak asing karena proses birokrasi yang lebih mudah. Pada akhirnya networking
dengan mitra di luar negeri yang memberikan kemudahan dalam melaksanakan kegiatan riset di industri untuk menuju inovasi.
Resiko lain yang akan timbul bila tidak ada kesinambungan dalam riset dan akan berimbas terhadap output yang dihasilkan nantinya. Sebagian besar riset dalam bidang kesehatan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk sampai pada inovasi. Vaksin misalnya, dibutuhkan waktu sekitar 12 – 15 tahun untuk menghasilkan vaksin yang berkualitas. Jika pendanaan tidak memadai maka hal tersebut akan berimbas terhadap vaksin yang dihasilkan menjadi belum siap untuk dipasarkan atau bahkan dipergunakan.
Resiko lainnya jika riset dilakukan secara terpecah-pecah adalah riset di lakukan akan dengan mudahnya diambil alih manfaatnya oleh pihak asing/swasta. Ketika mengalami kesulitan dalam pendanaan atau bahkan tidak mempunyai pendanaan sendiri maka kita cenderung kehilangan bargaining position ketika melakukan kerja sama dengan mitra asing. Akibatnya, data yang kita dapatkan pun akan dengan mudahnya dimiliki oleh mitra asing/swasta karena kita tidak mempunyai bargaining position yang kuat. Hal ini pun tidak menutup kemungkinan ketika dalam publikasi nama kita tidak akan diikutsertakan dalam nama penulis.
Resiko lain yang muncul akibat minimnya pendanaan untuk anggaran riset di bidang kebijakan adalah keinginan peneliti untuk lebih memilih bekerja sama dengan mitra asing,
40
sedangkan saat ini belum ada kebijakan yang mengatur secara khusus mengenai standar upah/gaji peneliti ketika bekerja sama dengan mitra asing. Untuk itu diperlukan suatu peraturan/kebijakan khusus yang mengatur mengenai standar upah/gaji peneliti Indonesia ketika melakukan kolaborasi riset ini agar sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Beberapa temuan di lapangan menunjukkan bahwa aspek focusing dan coordinating
masih menjadi isu tersendiri dalam strategi pendanaan riset bidang kesehatan di Indonesia. Di negara lain, seperti Malaysia dan Cina misalnya, mereka fokus akan riset yang dijadikan unggulan pada bidang kesehatan hingga akhirnya mereka berhasil menghasilkan sesuatu. Perbedaan dengan riset bidang kesehatan yang terjadi di Indonesia adalah tidak fokusnya pendanaan riset terhadap bidang yang saat itu dijadikan unggulan. Fokus menjadi kata kunci yang dapat menjadikan riset di bidang kesehatan terorganisir dengan baik.
Selama ini para penggiat inovasi di sektor kesehatan merasa belum menemukan koordinator yang sesuai dalam hal pendanaan. Belum adanya koordinator antara lembaga pendanaan riset terkait, sehingga beberapa kegiatan riset tidak mendapat sokongan pendanaan yang mencukupi dan juga tidak mendapat dukungan dalam pendanaan riset yang berjangka panjang. Untuk itu, dibutuhkan koordinator yang dapat mengakomodir para pelaku inovasi di sektor kesehatan yang melibatkan unsur pemerintah, industri, dan perguruan tinggi. Keterlibatan unsur pemerintah, industri, dan perguruan tinggi akan sangat membantu tahapan demi tahapan pada sektor kesehatan untuk mencapai inovasi, dimana setiap unsur mempunyai peranan masing-masing. Hal ini terkait dengan pertanyaan pada tahap mana pemerintah seharusnya lebih banyak menginvestasikan. Usulan sementara yang diberikan oleh penulis terhadap peran pemerintah adalah sudah selayaknya pemerintah memberikan pendanaan di tahap awal penelitian (tahap pre-dicovery) yang dapat membiayai penelitian untuk jangka panjang. Karena pada tahap pre-dicovery institusi/lembaga yang melakukan penelitian sangat membutuhkan dana untuk jalannya riset. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penyalahgunaan data oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Mengapa? Karena ketika riset dilakukan dengan bantuan dana dari pihak lain, maka resiko kepemilikan data diambil oleh pihak lain pun sangat besar.
Kenyataan yang ada saat ini, sistem anggaran untuk riset di Indonesia lebih menekankan kepada sistem anggaran jangka pendek. Dimana setiap tahun nama kegiatan penelitian haruslah berbeda. Dengan kata lain sistem pendanaan untuk sebuah riset di bidang kesehatan cenderung terpecah-pecah dan tidak kontinyu, sehingga hasil riset tidak bisa menghasilkan produk inovasi. Usulan sementara yang diberikan adalah harus ada roadmap yang jelas dari pemerintah dalam menyesuaikan diri dengan riset-riset di bidang kesehatan yang berjangka panjang dan berkelanjutan.
Jika saja pemerintah lebih memperhatikan anggaran untuk riset, maka hal tersebut akan menambah kemudahan bagi para peneliti di Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya dan meningkatkan jumlah publikasi, baik nasional maupun internasional.
5. PENUTUP
Indonesia menghabiskan dana yang sangat kecil untuk Anggaran Iptek dan Belanja Litbang (hanya 0.08% terhadap PDB). Angka ini sangatlah kecil dibandingkan dengan anggaran belanja litbang di negara berkembang lainnya. Saat ini, setidaknya terdapat 19 Kementerian dan LPNK yang memiliki minat terhadap litbang, yang terbesar adalah Kemenristek, dengan hanya mengelola 29% dari total pengeluaran litbang pemerintah. Jadi sangat disayangkan jika minat yang begitu besar terhadap riset harus terhalang oleh masalah sistem pendanaan yang kurang fleksibel dan tidak mendukung lingkungan penelitian.
Skema pendanaan yang kurang fleksibel bukan hanya satu-satunya hal yang menjadi masalah dalam riset kesehatan, minimnya anggaran untuk riset kesehatan pun menjadi permasalahan tersendiri guna mendukung keberhasilan riset menuju inovasi. Dalam prosesnya, ketika terjadi kolaborasi riset dengan mitra dari negara lain, Indonesia seringkali mendapatkan hibah peralatan dimana proses kepemilikannya pun cenderung dipersulit. Padahal berdasarkan PP No. 93/ 2010 jo. PMK No.76/2011 menyatakan bahwa hibah dan
41
belanja untuk riset dan fasilitas pendidikan diperbolehkan sebagai pengurang, sepanjang dana tersebut disalurkan langsung pada institusi resmi yang relevan dan sesuai dengan ketentuan berlaku. Jadi sebetulnya tidak perlu lagi birokrasi yang berbelit-belit yang dapat mempersulit terjadinya kolaborasi riset di Indonesia.
Indonesia begitu kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang berkualitas, jadi sudah selayaknya jika pemerintah mendukung pendanaan riset di bidang kesehatan untuk mencapai inovasi. Pemerintah perlu untuk mengkaji ulang kembali skema pendanaan yang ada saat ini agar permasalahan yang ada terkait dengan dengan pendanaan di bidang kesehatan dapat diminimalisir. Pemotongan jalur birokrasi dalam proses pengajuan proposal riset di bidang kesehatan serta terintegrasinya sistem pendanaan riset antar institusi/unsur pemerintah, perguruan tinggi, dan industri akan mendukung riset di bidang kesehatan untuk mencapai inovasi. Selain itu pemerintah Indonesia pun harus dapat menentukan fokus penelitian apa yang ingin di capai dalam riset kesehatan sehingga mempermudah jalannya riset dan tujuan besar yang ingin dicapai nantinya.
Kaji ulang sistem pendanaan di bidang kesehatan ini tentu saja terkait dengan perencanaan awal penelitian atau ketika proses pembuatan kebijakan. Para pembuat kebijakan harus ikut serta aktif ke dalam desain pembuatan instrumenyang bertujuan meningkatkan pengaturan kerja sama ilmiah melalui evaluasi dampak yang ada dalam tahap perencanaan (evaluasi ex-ante). Sebagian dari keterbatasan penelitian di lapangan adalah karena kurangnya desain evaluasi ex-ante. Hal ini dikarenakan sifat dari proses pembuatan kebijakan memerlukan terus-menerus belajar dari pengalaman yang dapat dilihat dari proses evaluasi kebijakan, sama seperti riset di bidang kesehatan yang bersifat kontinyu dan terus menerus hingga ke inovasi.
Beberapa paparan di atas membawa penulis terhadap beberapa kesimpulan terkait sistem pendanaan riset pemerintah yang dapat dipertimbangkan untuk mengurai stagnasi inovasi di bidang kesehatan, yakni:
a) Dibutuhkan roadmap yang bersifat long-term dan kontinyu dalam perencanaan anggaran riset disesuaikan dengan sektor yang ada di Indonesia, khususnya sektor kesehatan, sehingga penelitian yang dilakukan akan menghasilkan produk hingga ke inovasi.
b) Ada pengaturan yang jelas secara nasional untuk mengatur standar penggajian/upah peneliti Indonesia yang melakukan kolaborasi riset dengan mitra asing.
c) Sistem pendanaan riset sebaiknya dibuat berbasis program, bukan program berbasis anggaran.
d) Melibatkan peran BUMN, BUMD, Pemda dan Swasta dalam melakukan riset dengan memperhatikan pembagian tugas dan wewenang dengan jelas.
e) Adanya koordinator yang dapat memotori dan mengakomodir hubungan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri yang bergerak dalam riset bidang kesehatan. Dalam hal ini Kemenristek dan Kemenkes lah yang harus mampu menjadi motor penggerak riset di bidang kesehatan ini.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kami ucapkan kepada Pappiptek LIPI yang telah memberikan dukungan secara finansial terhadap penelitian ini. Terima kasih turut pula kami haturkan kepada semua pihak, baik dari pihak pemerintah (BATAN), perguruan tinggi (UGM, UNAIR, dan UNHAS), maupun industri (PT Biofarma) yang telah membantu memberikan dukungan dan waktu untuk berdiskusi terkait dengan penelitian ini.
42 DAFTAR PUSTAKA
Altenburg, Schmitz, Stamm, 2008. Breakthrough? China’s and India’s Transition from
Production to Innovation. 36(2): 325–344
Ernst, dan Young, 2000. Convergence:The Biotechnology Industry Report 2000. Diakses dari
www.ey.com/industry/health. Pada tanggal 29 September 2013.
Drug Discovery and Development., 2007. Drug Discovery and Development: Understanding the R&D Process. Diakses dari http://innovation.org. Pada tanggal 29 September 2013. Grace, N., Wijayanti, R., Mardiana, E., Handayani, T., Rahmaida, R., dan Nadhiroh, IM., 2011.
Indikator Iptek Indonesia 2011. Jakarta: Pappiptek LIPI.
Katz, J.S., dan Martin, B.R., 1997. What is research collaboration?.Research Policy vol. 26: 1-18
Meiningsih, S., et. al., 2006. Indikator Iptek Nasional : Survei Litbang Sektor Perguruan Tinggi 2006. Jakarta: LIPI Press.
Moleong, J.Lexy., 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Roche., 2013. Research & Development Overview. Diakses dari Roche:
http://www.roche.com/research_and_development/r_d_overview.htm. Pada tanggal 29 September 2013.
Sonnenwald D.H., 2007. Scientific Collaboration: Annual Review of Information Science and Technology.Volume. 4: Pp. 643-681.
Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek. Diakses darihttp://jdih.ristek.go.id/. Pada tanggal 20 September 2012.
43
THE QUADRUPLE HELIX MODEL UNTUK SISTEM INOVASI LOKAL DALAM