HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1Deskripsi Data
5) Maksud Penutur
4.3.2 Kategori Mengancam Muka Sepihak
4.3.2.3 Subkategori Menunda Cuplikan tuturan 6 (B2) Cuplikan tuturan 6 (B2)
MT : “Tangi-tangi... Mengko bar tangi langsung asah-asah piring.”
P : “Mengko ah...” (Melanjutkan tidurnya).
MT : “Wolhaa... Anak jaman saiki nek dikon ratau mangkat.”
Berdasar hasil analisis, hanya terdapat 1 tuturan yang termasuk ke dalam kategori mengancam muka sepihak dengan subkategori menunda, yakni pada tuturan B2. Dilihat dari segi wujud pragmatik tuturan ini dikatakan tidak santun karena penutur berbicara dengan orang yang lebih tua dan dengan menggunakan cara yang ketus dalam penyampaian tuturannya. Selain itu, penutur yang menunda
suruhan mitra tutur justru melanjutkan tidutnya dan tidak peduli bahwa tindakannya membuat mitra tutur kesal.
Pembahasan mengenai penanda linguistik dapat dilihat dari unsur segmental dan suprasegmental, yakni diksi atau pilihan kata, gaya bahasa, kata fatis, intonasi, tekanan, dan nada bicara penutur. Tuturan B6 memiliki intonasi seru, yakni dengan ditandai dengan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi. Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan hati. Hal ini terlihat dari tuturan B2 yang menggambarkan perasaan hati penutur yang masih malas untuk bangun. Penutur juga menggunakan kata fatis dalam tuturannya. Kata fatis yang penutur gunakan adalah kata fatis ahh, yang artinya menekankan rasa penolakan atau acuh tak acuh. Makna kata fatis tersebut tergambar dari penolakan penutur dari suruhan mitra tutur. Nada yang digunakan penutur dalam menyampaikan tuturannya adalah nada sedang. Meskipun penutur menggunakan nada sedang, tuturannya tetap menjadi tuturan tidak santun karena mitra tutur merasa tidak dihiraukan oleh penutur. Nada yang digunakan penutur adalah nada sedang, tetapi penutur menekankan tuturannya dengan tekanan keras. Tekanan keras yang diberikan penutur karena ia menuturkan dengan sedikit tegas, yang memiliki arti bahwa ia benar-benar belum ingin bangun. Pilihan kata bahasa nonstandar menjadi pilihan kata yang digunakan penutur. Faktor utama alasan penutur memilih diksi ini adalah bahwa setiap hari ia berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa dengan keluarganya.
Penanda ketidaksantunan pragmatik yang dipaparkan oleh Leech (1983)
tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek yang pertama adalah aspek penutur dan mawan tutur. Penutur B2 adalah laki-laki berusia 16 tahun, sedangkan lawan tuturnya adalah perempuan, yakni ibu dari penutur. Penutur bersekolah di salah satu SMA di kabupaten Bantul. Ia merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Mitra tutur adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan sebagai petani. Suami mitra tutur atau ayah dari penutur berkerja sebagai nelayan, selain bekerja sebagai nelayan, ia mempunyai pekerjaan sampingan sebagai petani. Hubungan antara penutur dan mitra tutur tidaklah sedekat penutur dengan ayahnya. Keadaan tersebut dikarenakan penutur lebih sering bersama dengan ayahnya dalam melakukan banyak hal.
Aspek yang kedua adalah konteks tuturan, yakni mengenai semua latar belakang pengetahuan (back ground knowledge) yang dipahami oleh penutur dan mitra tutur. Konteks tuturan B2 adalah penutur masih tidur saat mitra tutur berusaha membangunkannya. Terdapat kerjaan yang harus dilakukan penutur setelah bangun tidur, yakni mencuci piring. Penutur menunda suruhan mitra tutur dan melanjutkan tidurnya. Mitra tutur merasa kesal karena suruhannya tidak dilaksanakan sesuai kehendak mitra tutur. Tanggapan mitra tutur yang kesal tersebut menjadikan tuturan penutur tidak santun.
Aspek ketiga yang dikemukakan oleh Leech (1983) dalam Wijana (1996) adalah tujuan penutur. Tujuan penutur B2 adalah melanjutkan tidurnya, sehingga penutur harus menunda suruhan mitra tutur.
Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini akan membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Tuturan B2 saat pagi hari di kamar tidur penutur.
Aspek yang terakhir adalah tuturan sebagai tindak verbal. Leech (1983) menjelaskan bahwa aspek ini memaparkan tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindakan penutur tersebut termasuk ke dalam tindak komisif. Karena tindak komisif merupakan jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikat dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, hal ini bisa berupa janji, ancaman, penolakan, dan ikrar. Penutur B2 menunda suruhan mitra tutur, sehingga ia menunda suatu tindakan di masa datang yang seharunya akan penutur kerjakan. Tindak perlokusi mitra tutur adalah bergumam terhadap kelakuan penutur yang sulit untuk dibangunkan. Mitra tutur semakin kesal karena penutur tidak memperhatikan mitra tutur dalam bertutur kata dan justru melanjutkan tidurnya. Hal ini yang menjadi ciri dari tuturan B2 termasuk ke dalam kategori mengancam muka sepihak dan masuk ke dalam subkategori menunda.
Penutur menjelaskan bahwa sebenarnya ia malas dengan kerjaan mencuci piring, apalagi pada waktu itu masih pagi. Sehingga penutur menyampaikan tuturannya dengan maksud menghindari pekerjaan yang diberikan mitra tutur. 4.3.2.4 Subkategori Menolak
Cuplikan tuturan 9 (B5)
MT : “Tukokke iki neng warung!”
P : “Wegah, males!”
Sama halnya dengan subkategori menunda yang hanya terdapat 1 tuturan, subkategori menolak juga demikian. Hanya tuturan B5 saja yang masuk ke dalam subkategori menolak. Tuturan ini disampaikan secara ketus oleh penutur. Bukan hanya itu saja yang menggambarkan wujud ketidaksantunan pragmatik tuturan ini, wujud yang lain adalah penutur berbicara dengan orang yang lebih tua, dan ia tidak merasa dirinya telah mengancam muka mitra tutur.
Penanda linguistik yang terdapat dalam tuturan B5 adalah pertama, intonasi seru. Keraf (1991) menjelaskan bahwa kalimat seru adalah kalimat yang menyatakan perasaan hati, atau keheranan terhadap suatu hal. Kalimat ini ditandai dengan intonasi yang lebih tinggi dari kalimat inversi. Selain ditandai dengan hal-hal tersebut, dalam intonasi ini juga ditandai dengan tanda baca seru (!). Penutur memperlihatkan perasaan yang sedang ia rasakan saat itu, yakni perasaan malas. Kedua, nada tutur yang digunakan saat menyampaikan tuturannya adalah nada tinggi. Nada tinggi yang diperlihatkan penutur seperti orang membentak. Selain itu, nada tinggi juga ditandai dengan emosinya si penutur saat menyampaikan tuturannya. Pranowo (2012:77) memaparkan bahwa jika suasana hati sedang marah, emosi, nada bicara penutur menaik dengan keras, kasar sehingga terasa menakutkan. Suasana hati penutur sedang kesal karena ia selalu disuruh oleh mitra tutur untuk apa saja, dalam tuturan ini penutur disuruh untuk pergi ke warung. Ketiga, selain nada yang digunakan penutur adalah nada tinggi, penutur juga memberikan penekanan keras pada frasa wegah. Penekanan pada frasa tersebut membuktikan bahwa penutur benar-benar menolak keras suruhan mitra tutur. Keempat, penutur dan mitra tutur dalam keseharian berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa Jawa, sehingga diksi yang digunakan penutur adalah bahasa nonstandar (bahasa yang terdapat unsur kedaerahan).
Penanda ketidaksantunan pragmatik yang dipaparkan oleh Leech (1983)
dalam Wijana (1996:10−13) meliputi aspek penutur dan mitra tutur, konteks
tuturan, tujuan penutur, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Aspek yang pertama adalah aspek penutur dan mawan tutur. Penutur B5 adalah laki-laki berusia 16 tahun, sedangkan lawan tuturnya adalah kakaknya sendiri, yakni laki-laki berusia 21 tahun. Penutur bersekolah di salah satu SMA di kabupaten Bantul. Mitra tutur sudah berkuliah di salah satu Univesitas besar di Yogyakarta. Mereka mempunyai hubungan yang akrab, hal ini dijelaskan sendiri oleh penutur bahwa dirinya dan mitra tutur sebenarnya mempunyai hubungan yang sangat dekat. Penutur yang setiap hari tidak bisa berjumpa dengan mitra tutur karena mitra tutur tinggal di Jogja dan hanya pulang ke rumah pada akhir minggu, mengaku bahwa mereka sering berkomunikasi melalui telepon genggam dengan intensitas yang cukup tinggi.
Aspek yang kedua adalah konteks tuturan, yakni mengenai semua latar belakang pengetahuan (back ground knowledge) yang dipahami oleh penutur dan mitra tutur. Konteks tuturan B5 adalah penutur dan mitra tutur sedang bersantai dan tiba-tiba mitra tutur menyuruh penutur untuk pergi ke warung membelikan sesuatu untuk mitra tutur. Penutur kesal karena ia selalu disuruh melakukan apapun yang sebenarnya mitra tutur bisa lakukan. Penutur menolak suruhan mitra tutur.
Aspek ketiga yang dikemukakan oleh Leech (1983) dalam Wijana (1996) adalah tujuan penutur. Tujuan penutur B5 adalah menolak suruhan mitra tutur untuk pergi ke warung. Jelas terlihat bahwa tuturan B5 memiliki tujuan menolak, hal ini terlihat jelas pada frasa Wegah.
Aspek yang keempat adalah tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Aspek ini akan membahas mengenai waktu dan tempat terjadinya tuturan. Tuturan ini terjadi di rumah, tepatnya di ruang keluarga pada siang hari.
Aspek yang terakhir adalah tuturan sebagai tindak verbal. Leech (1983) menjelaskan bahwa aspek ini memaparkan tindak verbal penutur dan tindak perlokusi mitra tutur. Tindakan penutur tersebut termasuk ke dalam tindak komisif. Karena tindak komisif merupakan jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikat dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang, hal ini bisa berupa janji, ancaman, penolakan, dan ikrar. Tuturan penutur sudah menandakan bahwa penutur menolak suruhan mitra tutur, dan bukti itu menggambarkan mengenai pengertian tindak verbal komisif. Tindak perlokusi mitra tutur adalah menanggapi penolakan penutur dengan ancaman. Mitra tutur mengancam penutur karena ia kesal dengan tindakan mitra tutur yang menolak suruhannya. Kekesalan mitra tutur tidak diperhatikan oleh penutur, dan penutur justru sibuk sendiri dengan aktivitasnya.
Penutur membenarkan bahwa ia memang memiliki maksud menolak suruhan mitra tutur. Penutur kesal dengan mitra tutur karena ia selalu menjadi korban kemalasan mitra tutur.