• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Cara Persalinan oleh Bidan Kampung

POTRET KESEHATAN IBU DAN ANAK DI DESA MUROI RAYA

3.4. Proses Persalinan di Desa Muroi Raya

3.4.2. Tata Cara Persalinan oleh Bidan Kampung

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari bidan kampung bahwa terdapat beberapa cara yang digunakan untuk permasalahan yang dialami ibu hamil pada saat proses persalinan. Ketika posisi bayi dalam kandungan sungsang, bidan kampung memiliki cara tradisional untuk mengubah posisi bayi tersebut sehingga posisi bayi ketika lahir tepat di mulut rahim. Menurut bidan kampung cara tradisional tersebut merupakan salah satu alternatif yang digunakan untuk membantu ibu hamil yang mengalami masalah pada persalinan tanpa harus melakukan operasi atau jasa medis.

Tentu saja ada teknik-teknik tertentu yang dilakukan bidan kampung untuk menolong proses persalinansehingga bayi dapat lahir dengan selamat. Bercerita tentang pengalamannya, bidan kampung tersebut menyatakan bahwa sejak 12 tahun yang lalu sudah memulai pekerjaansebagai bidan kampung. Bidan kampung tersebut juga mengatakan bahwa kehalian dalam menolong proses persalinan secara tradisionalia dapatkan turun temurun dari neneknya yang juga berprofesi sebagai bidan kampung.

Bidan kampung tersebut juga menginformasikan bahwa suami memiliki peran yang cukup penting pada masa kehamilan istrinya. Selama masa kehamilan istri, suami dari memiliki pantanganuntuk tpekerjaan seperti tidak melakukan pekerjaan seperti membunuh binatang, membelah kelapa, dsb. Apabila pantangan tersebut dilanggar maka masyarakat percaya akan terjadi pahingen atau cacat secara fisik pada tubuh bayi, seperti bibir sumbing, dsb. Apabila bayi yang baru dilahirkan mengalami cacat seperti bibir sumbing maka bidan kampungakan melakukan pengobatan secara tradisional yaitu dengan mengambil segumpal darah yang keluar pada saat proses persalinandilakukan lalu darah tersebut akan dioleskan di bagian yang cacat, sambil

mengucapkan kalimat syahadat 3 kali. Pengobatan tradisional tersebut hanya khusus dilakukan pada bayi yang mengalami bibir sumbing dan tidak bagi bayi yang mengalami cacat fisik lainnya seperti cacat pada kaki atau tangan.

Proses persalinan dengan menggunakan jasa bidan kampung tentu berbeda dengan proses persalinan yang menggunakan jasa tenaga medis. Perbedaan nampak sangat jelas tidak hanya pada tata cara tetapi jaga pada fasiltas alat-alat yang digunakan. Perbedaan ini juga diakui oleh bidan kampung yang mengatakan demikian:

“Kalau bidan mantri kan ada suntikan untuk perangsang supaya cepat melahirkan tapi kalau aku ini gak ada pakai itu, sesuai dengan takdir aja.”

Berdasarkan pernyataan bidan kampung tersebut maka dapat dikatakan bahwa proses persalinan dengan menggunakan jasa bidan kampung tidak dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Jaminan keselamatan ibu dan bayi pada proses persalinan semata-mata bergantung pada takdir atau pertolongan Yang Maha Kuasa. Sedangkan proses persalinan yang dilakukan oleh tenaga medis akan memberikan jaminan kesalamatan kepada ibu dan bayinya karena didukung oleh fasiltas kesehatan yang sudah lengkap dan memadai. Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan dan keyakinan masyarakat kepada tradisi atau budaya terkait pengobatan dan cara tradisional dalam menolong persalinan masih kuat.

Bidan kampung juga memberikan informasi terkait permalahan yang kerap terjadi pada saat menjelang proses persalinan. Biasanya pada saat menjelang persalinan bisa terjadi kasus kembar danum. Kembar danum ialah air yang keluard ari tubuh ibu yang akan melahirkan namun bukan merupakan air ketuban. Air tesebut biasanya dibiarkan saja keluar dari tubuh ibu

sampai habis barulah kemudia air ketuban mulai terisi dan pecah dan itulah tandanya bidan kampung boleh mulai membantu proses persalinan. Selain terjadi kasus kanduang danum bisa juga terjadi kasus kanduang daha. Kasus kanduang daha biasanya terjadi pada saat menjelang proses persalinan. Tanda-tanda terjadinya kanduang daha ialah keluarnya sedikit darah dari vagina disertai rasa sakit seperti hendak melahirkan. Untuk mengatsai masalah tersebut, bidan kamoung memberikan ramuan tradisional yang berasal dari jenis tanamanupak tewu

bahandang (kulit tebu merah). Bagian kulit luar dari tebu

tersebut dikikis dengan menggunakan pisau lalau dicampur dengan air hangat dan diminumkan pada ibu yang akan melakukan proses persalinan atau bisa juga dengan mengkonsumsi jahe dan gula merah. Setelah darah dan nyeri yang diakibatkan kanduang daha sudah dapat disembuhkan barulah bidan kampung melakukan pertolongan pada proses persalinan. Jika kanduang danum dan kanduang daha tidak diatasi terlebih dahulu maka dapat menyebabkan kematian pada bayi saat dilahirkan.

Jika hinggasaat dilahirkan posisi bayi tetap dalam posisi sungsang, maka masyarakat setempat akan menyebutnya dengan istilah turun tangga. Pengertin turun tangga ialah bayi dilahirkan dengan posisi yang tidak sempurna atau mengeluarkan salah satu kakinya terlebih dahalu. Tata cara yang dilakukan bidan kampung untuk mengeluarkan bayi dengan posisi sungsang yaitu jika salah satu kakinya sudah keluar maka bidan kampung akan mencari lagi kaki yang satunya. Jika kedua kakinya sudah keluar maka perut ibu di dorong pelan agar bayi keluar. Kemudian raba perut ibu tersebut untuk mencari tangan bayi, jika sudah terasa maka kedua tangan bayi harus diluruskan ke atas kepala bayi kemudian pelan di dorong kembali.

Sebagai bentuk perawatan bayi dalam kandungan ibu hamil, biasanya bidan kampung selalu menganjurkan kepada pasiennya untuk melakukan pijat 1 kali sebulan pada saat usia bayi memasuki 7 bulan ke atas. Tentu saja perawatan kehamilan terebut berbeda jika dilakukan menggunakan jasa medis yang biasanya menggunakan USG (ultrasonography) untuk mengetahui untuk menggambarkan struktur, ukuran dan hampir setiap detail patologis dari otot dan organ-organ internal lainnya.

Jika dalam kasus bayi kembar tetapi salah satu bayinya dalam posisi sungsang dan bayi lainnya dalam posisi normal maka cara seperti yang telah diuraikan sebelumnya tidak dapat digunakan. Cara yang dilakukan yaitu dengan terlebih dahulu mengeluarkanbayi yang berada dalam posisi normal, kemudian barulah kemudian mengeluarkan yang dalam berada dalam posisi sungsang. Menurut pendapat masyarakat, bayi kembar yang pertama kali keluar atau dilahirkandiposisikan sebagai adik dan yang terakhir dikeluarkan ialah sebagai kakak, karena menurut masyarakat bayi yang terakhir keluar dari kandungan ibunya itulah yang paling lama berada dalam kandungan.

Jika pada saat melakukan proses persalinan bayi mengalami kasus terlilit tali pusar, maka cara yang dilakukan oleh bidan kampung yaitu tetap mengeluarkan bayi tersebut sambil melepaskan lilitan tali pusar dan mendorong kembali bayi tersebut masuk ke dalam rahim ibunya. Menurut kepercayaan warga desa, kasus bayi terlilit tali pusar disebabkan perilaku ibu hamil yang melanggar pantangan selama kehamilan seperti misalnya meletakkan atau melilitkan handuk di bagian leher atau di atas kepala selesai melakukan aktifitas mandi dan keramas.