• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKANAN TERHADAP PERUBAHAN KUALITAS UDARA

Dalam dokumen BUKU II IKPLHD KAB.DHARMASRAYA 2016 (Halaman 165-171)

Curah hujan rata-rata tahun

KETERANGAN RIWAYAT / SUMBER DATA : 1 Peta Hasil Digitasi Citra Spot 5 , Bappeda Prop Sumbar (2007)

3.3. KUALITAS UDARA

3.3.1. TEKANAN TERHADAP PERUBAHAN KUALITAS UDARA

Tekanan atau Pressure yang menjadi penyebab terjadinya perubahan kualitas lingkungan terutama dipengaruhi oleh kondisi kualitas udara yang ada di Kabupaten Dharmasraya diantaranya yaitu:

a) Perubahan iklim secara global di seluruh dunia telah menjadi isu lingkungan, tidak hanya di tingkat internasional, namun juga nasional dan daerah. Sesuai dengan hasil dari Konvesi Protokol Tokyo - UNFCCC yang menyampaikan tentang isu-isu perubahan iklim, termasuk kajian-kajian iklim di negara maju dan berkembang mempunyai kewajiban mengantisipasi perubahan iklim tersebut. Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfir secara global dan selain itu juga berupa

perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.

Indonesia sangat rentan terhadap dampak ganda perubahan iklim, seperti (1).Prakiraan kenaikan temperatur yang tidak terlalu tinggi. Temperatur rata-rata tahunan di Indonesia telah mengalami kenaikan 0,3oC.

Adanya perubahan suhu udara dan cuaca secara mendadak, perubahan suhu permukaan bumi dengan munculnya titik panas atau titik api yang memicu kebakaran hutan/lahan. (2).Curah hujan yang lebih tinggi. Diperkirakan, akibat perubahan iklim, Indonesia akan mengalami kenaikan curah hujan 2-3 persen per tahun, serta musim hujan yang lebih pendek (lebih sedikit jumlah hari hujan dalam setahun), yang menyebabkan resiko banjir meningkat secara signifikan. Hal ini akan merubah keseimbangan air di lingkungan dan mempengaruhi pembangkit listrik tenaga air dan suplai air minum. (3).Ketahanan pangan. Perubahan iklim akan mengubah curah hujan, penguapan, limpasan air, dan kelembapan tanah; yang akan mempengaruhi produktivitas pertanian. Kesuburan tanah akan berkurung 2-8 persen dalam jangka panjang, yang akan berakibat pada penurunan produksi tahunan tanaman pangan pertanian. (4).Peningkatan berjangkitnya penyakit yang dibawa air dan vektor. Walaupun hubungan antara perubahan iklim dan masalah kesehatan belum banyak diteliti, ada potensi bahwa berjangkitnya penyakit yang dibawa air dan vektor akan meningkat. Beberapa berspekulasi bahwa peningkatan berjangkitnya kasus demam berdarah selama musim hujan di Indonesia, sebagiannya mungkin saja disebabkan oleh iklim yang lebih hangat.

Implikasi isu iklim ada di semua aspek, pertanian, kelautan, transportasi, kehutanan, kehidupan sehari-hari, RAN GRK perencanaan utk aksi isu perubahan iklim.

b) Pencemaran yang disebabkan oleh emisi sumber tak bergerak yaitu yang berasal dari penggunaan bahan bakar minyak, gas dan bahan bakar lainnya untuk kegiatan industri atau usaha/kegiatan pengolahan melalui tungku bakar, cerobong mesin boiler atau genset. Emisi yang berasal dari boiler atau ketel

uap harus memenuhi baku mutu emisi atau batas maksimum yang diperbolehkan masuk kedalam lingkungan sesuai dengan PermenLH nomor 07 tahun 2007.

Pada Tabel 3.3.1. terlihat penggunaan bahan bakar tahun 2016 yang berasal dari data penjualan Pertamina dan agen LPG di Kabupaten Dharmasraya. Selain penggunaan bahan bakar pada industri, penggunaan bahan bakar pada rumah tangga dan kendaraan bermotor juga menyumbang emisi kedalam lingkungan.

Tabel 3.3.1.

Jumlah Penggunaan Bahan Bakar Tahun 2016 di Kabupaten Dharmasraya

No Bahan BakarPenggunaan Gas LPG Bensin Solar

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Kabupaten 4.864,00 3.284.007,00 40.374.202,99 53.410.783,05 Sumber: Olahan Tabel-31. Lampiran Dokumen IKPLHD Kabupaten Dharmasraya, 2016.

Emisi juga dapat berasal dari pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga (dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum dan/atau fasilitas lainnya). Pengolahan sampah secara termal hanya dapat dilakukan terhadap sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga yang tidak mengandung B3, Limbah B3, kaca, Poli Vinyl Clorida (PVC), dan aluminium foil. Bagi usaha/kegiatan yang melakukan pengolahan sampah secara termal, wajib melakukan pemantauan emisi untuk mengetahui pemenuhan ketentuan baku mutu emisi, dan melakukan pengukuran kualitas udara ambien sekitar loksai usaha/kegiatnnya.

c) Pencemaran oleh emisi sumber bergerak yang berasal dari penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor. Setiap tahunnya terjadi peningkatan penggunaan kendaraan bermotor, ditandai dengan jumlah penjualan kendaraan bermotor. Bertambahnya jumlah kendaraan akan berimplikasi terhadap bertambahnya pemakaian bahan bakar dan penyediaan sarana dan prasarana jalan, serta penyediaan tempat sarana transportasi. Bahan bakar yang tidak ramah

lingkungan dan kendaraan yang tidak ramah lingkungan dapat memicu peningkatan pencemaran udara.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Dirlantas Padang untuk penjualan kendaraan bermotor dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2016 di Kabupaten Dharmasraya diperoleh data seperti pada Tabel.3.3.2. Bahwasanya penjualan kendaraan bermotor tahun 2016 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, namun jumlah kendaraan bermotor yang tercatat selama 4 (empat) tahun terakhir sudah meningkat pesat, total per-tahunnya yaitu sebanyak 5.556 unit tahun 2013, 6.288 unit tahun 2014, 4.396 unit tahun 2015 dan 4.332 unit tahun 2016.

Tabel 3.3.2.

Jumlah Penjualan Kendaraan Bermotor Tahun 2013 Sampai dengan Tahun 2016 di Kabupaten Dharmasraya

No Jenis Kendaraan

Bermotor 2013 2014Jumlah (unit)2015 2016

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Kendaraan 6.426 7.270 5.070 4.849 Sumber: Olahan Tabel-32A. Lampiran Dokumen IKPLH Kabupaten Dharmasraya, 2016

Tabel 3.3.3.

Jumlah Kendaraan Bermotor Tahun 2010 Sampai dengan Tahun 2016 di Kabupaten Dharmasraya

No Kendaraan Tahun Jumlah (unit)

2010 Tahun2011 Tahun2012 Tahun2013 Tahun2014 Tahun2015 Tahun2016

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

1 Kabupaten 50,147.00 31,173.00 57,673.00 35,508.00 33,403.00 5,897.00 4,849.00

Sumber: Olahan Tabel-32B. Lampiran Dokumen IKPLH Kabupaten Dharmasraya, 2016. Untuk menguji kelayakan kendaraan angkutan diperlukan uji KIR, namun jumlah angkutan yang melakukan uji KIR tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada. Pada Tabel.3.3.3. merupakan jumlah kendaraan yang ada di Kabupaten Dharmasraya mulai tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. Jumlah Kendaraan yang Uji KIR pada tahun 2016 sebanyak 1.163 unit. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua kendaraan angkutan yang

beroperasional telah lulus uji KIR dan memiliki kelayakan operasional. Kendaraan yang tidak layak operasional berarti tidak lulus terhadap uji beberapa parameter emisi yang telah ditetapkan dalam PermenLH nomor 05 tahun 2005 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama dan PermenLH nomor 04 tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru. Sedangkan untuk udara ambien lingkungan harus memenuhi baku mutu sesuai dengan PP nomor 41 Tahun 1999.(Sumber: Olahan Tabel-32A. Lampiran Dokumen IKPLHD Kabupaten Dharmasraya Tahun 2016).

d) Kebakaran hutan atau lahan yang dipicu oleh pembukaan lahan baru dan ditemukannya titik panas dan titik api pada beberapa lokasi di Kabupaten Dharmasraya tahun 2016 harus diwaspadai, karena berdampak terhadap perubahan kualitas udara.

Gambar 3.3.1.

Pada Gambar 3.3.1. dan Gambar 3.3.2 terlihat hasil pemantauan sebaran titik panas tahun 2016 dan jumlah sebaran titik panas tahun 2015 dan tahun 2016, dengan menggunakan hasil interpretasi dari citra satelit NOA (ASMC) dan LAPAN (MODIS dan NPP) yang ditampilkan pada website

http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/sebaran, atas kerjasama antara Direktorat

Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Direktorat Jenderal Pengendalian dan Perubahan Iklim KLHK RI, BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) dan LAPAN (Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional). Selama tahun 2016 telah ditemukan 62 (enam puluh dua) titik panas, sedangkan pada tahun 2015 ditemukan 80 (deapan puluh) titik panas yang tersebar di beberapa kecamatan di Kabupaten Dharmasraya. Jumlah titik panas yang terdeteksi banyak terdapat di Kecamata Timpeh, Koto Besar, Asam Jujuhan dan Pulau Punjung. Titik panas yang terdeteksi umumnya berada pada lahan hutan, lahan perkebunan dan lahan terbuka. (Sumber: Olahan Tabel-39E. Lampiran Dokumen IKPLHD

Kabupaten Dharmasraya Tahun 2016).

Gambar 3.3.2.

Jumlah Sebaran Titik Panas Tahun 2015 dan Tahun 2016 di Kabupaten Dharmasraya

Adapun kondisi lingkungan yang terjadi akibat tekanan/pressure yang timbul selama tahun 2016 akan diungkapkan berdasarkan informasi kondisi kualitas udara, seperti suhu udara rata-rata bulanan, kualitas air hujan, kualitas udara ambien, penggunaan bahan bakar, penjualan kendaraan bermotor dan perubahan penambahan ruas jalan, dengan melakukan perbandingan dengan baku mutu (standar/kriteria), perbandingan nilai antar lokasi dan antar waktu, serta analisis statistik sederhana menurut frekuensi, maksimum, minimum dan rata-rata hasil pengukuran kualitas udara ambien dan air hujan.

Dalam dokumen BUKU II IKPLHD KAB.DHARMASRAYA 2016 (Halaman 165-171)