• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORITIS Kinerja

Dalam dokumen JAK Vol.1 No.1 Februari 2011 (Halaman 86-89)

KINERJA INSTANSI PADA UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

TINJAUAN TEORITIS Kinerja

diteliti. Kinerja instansi ditinjau dari eisiensi dan efektiitas anggaran yang terealisasi. Data yang dipergunakan adalah data dari unit-unit kerja yang berhubungan dengan proses keefektifan pelaksanaan anggaran pada universitas Malikussaleh.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut:

1. Apakah profesionalisme aparatur berpengaruh terhadap keefektifan pelaksanaan anggaran universitas Malikussaleh.

2. Apakah profesionalisme aparatur dan keefektifan pelaksanaan anggaran mempengaruhi kinerja instansi universitas Malikussaleh baik secara simultan maupun parsial.

Sesuai perumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. untuk mengetahui apakah profesionalisme aparatur berpengaruh terhadap keefektifan pelaksanaan anggaran universitas Malikussaleh.

2. untuk mengetahui apakah profesionalisme aparatur dan keefektifan pelaksanaan anggaran mempengaruhi kinerja instansi universitas Malikussaleh baik secara simultan maupun parsial.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat:

1. Bagi universitas Malikussaleh mengenai profesionalisme aparatur dan keefektifan pelaksanaan anggaran dalam upaya peningkatan kinerja instansi.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberi dorongan untuk memperbaiki kondisi internal universitas Malikussaleh serta melakukan tindakan perbaikan terhadap keefektifan pelaksanaan anggaran.

3. Bagi pihak lain, penelitian ini dapat dijadikan

sebagai referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut terutama dalam bidang ilmu akuntansi sektor publik.

TINJAUAN TEORITIS Kinerja

Kinerja merupakan tingkat pencapaian hasil dari suatu kegiatan dalam sebuah organisasi yang harus diketahui dan diinformasikan kepada pihak tertentu yang dihubungkan dengan visi dan misi organisasi. Menurut Komite Penyempurnaan Manajemen Keuangan, (2006) kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan dan kualitas serta kuantitas terukur.

Hasibuan dalam Sujak (1990) dan Sutiadi (2003) mengemukakan bahwa kinerja adalah suatu hasil kerja yang dicapai seorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta waktu. Dengan kata lain bahwa kinerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Penilaian kinerja adalah sistem formal untuk memeriksa/mengkaji dan mengevaluasi secara berkala kinerja seseorang. Penilaian kinerja juga merupakan uraian sistematik, tentang kekuatan/ kelebihan dan kelemahan yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang/kelompok. Penilaian kinerja menurut Siegel dan Marconi (1989 : 199) adalah performance evaluation is the periodic assessment of the operatonal effectiveness of organization, its subunits, and its personel in light of predeterminet goals, standards criteria.

tujuan pokok penilaian kinerja untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam anggaran. Penilaian kinerja dilakukan untuk menekankan perilaku yang tidak semestinya, untuk merangsang dan menegakkan perilaku yang diinginkan melalui umpan balik hasil kerja pada

waktunya serta penghargaan, bersifat intristik maupun ekstrinsik (Mulyadi, 2001: 416). Kinerja Instansi

Suatu organisasi, baik pemerintah maupun swasta dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan harus melalui sarana dalam bentuk organisasi yang digerakkan sekelompok orang yang berperan aktif sebagai pelaku dalam upaya mencapai tujuan organisasi. tercapainya tujuan organisasi hanya dimungkinkan karena upaya pelaku yang terdapat pada organisasi. Dalam hal ini terdapat hubungan yang erat antara kinerja karyawan dengan kinerja lembaga. Dengan kata lain, bila kinerja karyawan baik, maka kemungkinan besar kinerja organisasi juga akan baik. Kinerja karyawan akan lebih baik apabila mempunyai keahlian yang tinggi, bersedia bekerja karena digaji, mempunyai harapan masa depan lebih baik (Sedarmayanti : 2007).

Menurut LAN ri (2003), kinerja instansi pemerintah sebagai penjabaran dari visi, misi dan strategi yang mengindikasikan tingkat keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan program dan kebijaksanaan yang ditetapkan.

LAN ri (2003), mengemukan bahwa ada beberapa indikator dari kinerja diantaranya : 1. Masukan (input) adalah segala sesuatu yang

dibutuhkan agar pelaksanaan kegiatan dan program dapat berjalan atau dalam rangka menghasilkan output, misalnya sumber daya manusia, dana, material, waktu, tehnilogi, dan sebagainya.

2. Keluaran (output) adalah sebagai sesuatu berupa produk/jasa (isik dan/atau non isik) sebagai hasil langsung dari pelaksanaan kegiatan dan program berdasarkan masukan yang digunakan.

3. Hasil (Outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah. Outcome adalah ukuran seberapa jauh setiap produk/ jasa dapat memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat. indikator kinerja hendaknya : (1) spesiik dan jelas, (2) dapat diukur secara objektif, (3) relevan dengan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, dan (4) tidak bias.

Dari beberapa pengertian diatas tentang kinerja, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja instansi merupakan tingkat pencapain hasil dari suatu rangkaian kegiatan dalam sebuah instansi pemerintah sehubungan dengan pelaksanaan program sesuai dengan kuantitas dan kualitas terukur dengan menggunakan prinsip eisiensi dan efektiitas.

Profesionalisme Aparatur

Profesionalisme sangat ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan menurut bidang tugas dan tingkatannya masing-masing. Hasil dari pekerjaan itu lebih ditinjau dari segala segi sesuai porsi, objek, bersifat terus-menerus dalam situasi dan kondisi dan jangka waktu penyelesaian pekerjaan yang relatif singkat (Almasdi, 2000:99). Hal di atas dipertegas kembali oleh thoha (2000:1) bahwa untuk mempertahankan kehidupan dan kedinamisan organisasi, setiap organisasi mau tidak mau harus adaptif terhadap perubahan organisasi. Birokrasi yang mampu bersaing dimasa mendatang adalah birokrasi yang memiliki sumberdaya manusia berbasis pengetahuan dengan memiliki berbagai keterampilan dan keahlian.

Mengingat sangat pentingnya eksistensi sumberdaya manusia dalam bidang kegiatan pemerintahan disebutkan dalam penjelasan umum undang-undang Nomor 43 tahun 1999 bahwa kelancaran penyelenggaraan tugas pemerintahan dan pembangunan nasional sangat tergantung pada keahlian SDM atau aparatur sesuai profesinya. Oleh karena itu setiap aparatur dituntut untuk dapat melakukan tugas dan fungsinya secara profesional. Menurut Christiawan. (2003:170), profesionalisme merupakan sikap dan perilaku seseorang dalam melakukan profesi tertentu.

Konsep profesionalisme menurut Hall (1968) yang dikutip dari rahmawati (1997) yaitu : 1. Ailiasi komunitas (Community afiliation)

yaitu menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, organisasi formal dan kelompok informal sumber ide utama pekerjaan. Melalui ikatan profesi para professional membangun kesadaran profesi.

2. Kebutuhan untuk mandiri (Autonomy demand) adalah suatu pandangan bahwa

4 KAMAriAH Jurnal Akuntansi dan Keuangan

seseorang yang professional harus mampu membuat suatu keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain pemerintah maupun klien mereka yang bukan anggota profesi. rasa kemandirian dapat berasal dari kebebasan melakukan apa yang terbaik menurut karyawan yang bersangkutan dalam situasi khusus.

3. Keyakinan terhadap peraturan sendiri/ profesi (belief self regulation) yaitu yang paling berwenang dalam menilai pekerjaan professional adalah rekan sesama profesi bukan orang luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka.

4. Dedikasi pada profesi (dedication on profesion) merupakan dedikasi professional dengan menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Keteguhan untuk tetap melaksanakan pekerjaan meskipun imbalan ekstrinsik kurang. Sikap ini merupakan ekspresi pencurahan diri total terhadap pekerjaan karena pekerjaan merupakan suatu tujuan. totalitas ini sudah menjadi komitmen pribadi, sehingga kompensasi utama diharapkan dari pekerjaan adalah kepuasan rohani dan setelah itu baru materi.

5. Kewajiban sosial (social obligation) adalah pandangan tentang pentingnya profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat maupun professional karena adanya pekerjaan tersebut.

Keefektifan Pelaksanaan Anggaran

Anggaran merupakan suatu rencana keuangan yang mencerminkan pilihan kebijakan suatu institusi atau lembaga tertentu untuk suatu periode di masa yang akan datang. Syamsi dalam Basri (2003) mendeinisikan, “anggaran adalah hasil perencanaan yang berkaitan dengan bermacam-macam kegiatan secara terpadu yang dinyatakan dalam satuan uang dalam jangka waktu tertentu”.

Suparmoko dalam Basri (2003) mendeinisikan anggaran (budget) adalah suatu daftar atau pernyataan yang terperinci tentang penerimaan dan pengeluaran negara yang diharapkan dalam

jangka waktu satu tahun. Dipihak lain Matz dan usry (2003:444) memberikan pengertian anggaran yaitu : A budget is simply a pla expressed

in inancial an other quantitative term.

Beberapa defenisi yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa anggaran dinyatakan dalam satuan mata uang secara kuantitatif dimana jangka waktu anggaran umumnya satu tahun. Anggaran juga merupakan rancangan keuangan tahunan pemerintah pusat maupun daerah yang berisi perincian penerimaan, pengeluaran dan pemebelanjaaan untuk periode tertentu.

Menurut Garrson dalam Widiarsi (2006) yang menyatakan manfaat penyusunan anggaran adalah:

a. Manajer diharuskan untuk lebih memprioritaskan penyusunan rencana dari pada kewajiban lainnya;

b. Memungkinkan manajer untuk memformulasikan upaya perencanaannya; c. Menyajikan sasaran dan tujuan dengan pasti

yang berfungsi sebagai benchmarks, untuk mengevaluasi prestasi berikutnya;

d. Dapat menemukan gejala kemacetan yang potensial sebelum kemacetan tersebut terjadi;

e. Dapat mengkoordinasikan aktivitas organisasi secara menyeluruh melalui integrasi rencana dan sasaran berbagai bagian dalam organisasi.

Dipihak lain Anthony dan reece (2004: 774- 776) mengemukakan bahwa anggaran memiliki banyak kegunaan diantaranya; (1) sebagai alat untuk mengkoordinir rencana dan tindakan unit- unit organisasi dalam periode anggarn sehingga para anggota organisasi dapat bekerja sama untuk mencapai tujuannya; (2) sebagai alat ukur kominikasi karena apa yang terkandung dalam anggarn perlu disampaikan kepada para manajer pusat pertanggungjawaban, sehubungan dengan pelaksanaan anggaran; (3) sebagai alat motivasi bagi para manajer untuk mencapai sasaran pusat pertanggungjawaban yang mereka pimpin; (4) sebagai alat pengukur dalam pengendalian kegiatan yang sedang dilaksanakan; (5) sebagai alat evaluasi, dalam hal ni yang dievaluasi

adalah manajer pusat pertanggungjawaban; dan (6) sebagai alat dalam mendidik para manajer mengenai pekerjaan mereka pada pusat pertanggungjawaban yang mereka pimpin.

Dari penjelasan diatas yang dikemukan oleh para ahli, tampak betapa pentingnya anggaran sebagai alat bagi organisai dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan anggaran juga merupakan alat bagi manajemen untuk mencapai tujuan dalam suatu organisasi. Agar tujuan suatu organisasi tercapai, maka dalam pelaksanaan kegiatan/program anggaran yang telah ditetapkan harus dilaksanakan seefektif mungkin dengan demikian akan tercapai tujuan dalam suatu organisasi.

Penganggaran adalah proses menyusun rencana keuangan yang didalamnya berisikan pendapatan dan pembiayaan, serta pendapatan tersebut dialokasikan kepada masing-masing kegiatan sesuai dengan fungsi dan sasaran yang hendak dicapai. Di dalam pemerintahan tahap- tahap di dalam penganggaran atau lebih dikenal sebagai “siklus anggaran” menurut Sabeni dalam Basri dkk (2003) merupakan masa atau jangka waktu mulai saat disusun sampai dengan saat perhitungan anggaran disahkan dengan undang- undang. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 bahwa siklus anggaran terdiri dari beberapa tahap, yaitu :

a. tahap penyusunan anggaran; b. tahap pengesahan anggaran; c. tahap pelaksanaan anggaran;

d. tahap pengawasan pelaksanaan anggaran; e. tahap pengesahan perhitungan anggaran.

Efektivitas diartikan sebagai pencapaian tujuan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan atau perbandingan terbaik antara hasil dengan tujuan. Gibson (1989) menyatakan efektivitas merupakan pencapaian sasaran dari upaya bersama. artinya konsep efektivitas harus dinilai terhadap tujuan yang bisa dilakukan, sesuai dengan sumber daya yang tersedia.

Efektivitas penggunaan anggaran berkaitan dengan menilai seberapa jauh realisasi anggaran dibandingkan dengan anggaran yang dibuat. Jika hasil yang dicapai sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan, berarti penggunaan dana anggaran telah efektif. Namun, jika hasilnya tidak sesuai, maka

akan terjadi dua kemungkinan, yaitu penyimpangan yang menguntungkan dan penyimpangan yang tidak menguntungkan. Penyimpangan menguntungkan harus diberi perhatian dan penghargaan, sedangkan yang tidak menguntungkan perlu dianalisis penyebabnya, sehingga dapat diperbaiki untuk mencegah tidak terulangnya kembali kesalahan yang sama di masa yang akan datang.

Menurut Indra (2006) eisiensi adalah hubungan antara input dan output dimana barang dan jasa yang dibeli oleh organisasi digunakan untuk mencapai output tertentu. Efektiitas adalah hubungan antara output dan tujuan, dimana efektiitas diukur berdasarkan seberapa jauh tingkat output, kebijakan, dan prosedur organisasi mencapai tujuannya, maka organisasi tersebut telah berjalan dengan efektif.

Disamping itu agar setiap anggaran dapat terealisasi dan efektif dalam pelaksanaan nya memerlukan sumber daya manusia yang professional sehingga akan mencapai target yang telah ditentukan dalam suatu organisasi. Apabila pelaksanaan anggaran telah efektif maka dengan sendirinya akan meningkatkan kinerja bagi instansi/ organisasi. Hal ini sesuai dengan pendapat (Baltol dan Martin, 1994 : 17) kinerja yang dicapai melalui pelaksanaan yang baik harus dapat memenuhi dua dimensi yaitu : (1) efektiitas, merupakan ukuran kinerja untuk menilai apakah suatu aktiitas/kegiatan telah menghasilkan output yang diinginkan; dan (2) eisien, merupakan ukuran kinerja untuk memproduksi sejumlah output tertentu. Karea suatu aktiitas /kegiatan dapat menerapkan efektiitas dan eisien secara otomatis akan dapat memenuhi kinerja yang diinginkan.

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen JAK Vol.1 No.1 Februari 2011 (Halaman 86-89)