• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tips: Apa Tugas Seorang Guru Sekolah Minggu?

Dalam dokumen publikasi e-binaanak (Halaman 56-60)

Tips: Apa Tugas Seorang Guru Sekolah Minggu?

Jawaban yang biasa kita dengar dari para guru adalah sebagai berikut.

1. "Tugas saya memimpin acara kebaktian sekolah minggu", jawaban ini muncul karena selama waktu acara sekolah minggu (1 -- 1,5 jam) itu, guru mendominasi 90% waktu dengan terus berbicara untuk memimpin seluruh acara sekolah minggu. Sementara itu, anak lebih banyak pasif mendengar guru, dan anak juga diperintah ini dan itu. (Misalnya: "Ayo berdoa, mari memuji Tuhan, tepuk tangan! Atau semua harus diam!"). Bahkan, anak dipaksa diam sepanjang acara, dengan slogan: "Anak yang diam itu, anak sekolah minggu yang baik!" Apa benar

tindakan guru semacam ini? Apakah ia tidak menjadikan anak hanya sebagai objek perintahnya: harus ini dan itu?

2. "Tugas saya memimpin pujian", jawaban ini muncul karena memang guru yang menyuruh anak menyanyi, dan sering memaksa anaknya bernyanyi dengan suara keras. Anak begitu pasif, hanya menjadi objek yang diperintah untuk bernyanyi, untuk bergaya, untuk bertepuk tangan, dan kadang malah ditertawakan jika mereka melakukan gerakan lucu!

3. "Tugas saya memimpin cerita", jawaban ini muncul karena memang guru mengisi waktu cerita 20-30 menit itu dengan ia berbicara sendiri, sementara anak dipaksa diam (sebagai pendengar setia), sedang guru sebagai "dosen" yang harus

didengarkan apa pun isi pembicaraannya.

4. "Tugas saya memimpin doa", jawaban ini muncul karena memang guru yang berdoa, anak cuma objek pendengar doa guru, anak ikut menutup mata dan membuka mata, itu pun harus diperintah oleh guru. Apakah anak itu sendiri sebagai subjek yang berdoa? Bukan! Tetapi justru gurunyalah yang berdoa. 5. "Tugas saya membuat alat peraga", "Tugas saya mengadakan kegiatan aktivitas

anak, baik mewarnai, hasta karya, dan lainnya", "Tugas saya mengajak anak ke sekolah minggu", "tugas saya mengadakan acara Natal sekolah minggu dan acara-acara anak yang lain", "Tugas saya mengikuti persiapan guru", dan jawaban lain yang senada dengan jawaban-jawaban itu. Semua itu sering kali membuat anak hanya menjadi objek yang pasif, sedang guru menjadi subjek yang aktif!

Coba kita analisa jawaban-jawaban tersebut secara cermat! Hasilnya dapat disimpulkan adanya model hubungan guru-anak sebagai berikut:

Guru ---> - memimpin (sesuatu kegiatan) ---> Anak SM

o mengajak (melakukan sesuatu hal)

o mengadakan (sesuatu kegiatan)

o menyiapkan (sesuatu hal)

Dengan kata lain, model hubungan guru-anak menjadi hubungan antara:

 

Subjek ---> (guru mendominasi 90% waktu/kegiatan) ---> Objek

superior inferior

aktif pasif

Perhatikan arus komunikasi di atas hanya searah: dari guru sebagai subjek kepada anak sebagai objek yang pasif, sehingga sekolah minggu adalah "acara dari guru dan oleh guru (dan akhirnya sering menjadi acara "untuk" guru juga)". Akibatnya, guru menjadi semakin pandai dalam segala hal (guru semakin pandai berdoa, bernyanyi, tetapi ia cepat kelelahan dan cepat jenuh), sedang anak sebagai murid hanya menjadi objek saja, dengan kemajuan yang kurang berarti! Padahal yang seharusnya menjadi subjek sekolah minggu adalah anak,

bukankah seharusnya anak yang dididik, sehingga semakin pandai dalam segala hal, semakin pandai dalam hal berdoa, memuji Tuhan, memahami firman Tuhan, dan sebagainya? Lalu bagaimana solusinya? sekolah minggu perlu memiliki pola pendidikan yang terencana.

Untuk mengetahui bagaimana mengatur sekolah minggu Anda dengan lebih terencana, silakan para Pelayan Anak melihat artikel selengkapnya di:

http://pepak.sabda.org/mendidik_anak_sekolah_minggu_secara_terencana Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku: Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu Judul asli artikel: Analisis Pertanyaan: "Apa Tugas Seorang GSM?" Penulis: Paulus Lie

Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta 1999 Halaman: 62 -- 63

Warnet Pena: Referensi Seputar "Peranan Guru Sekolah

Minggu Dalam Gereja" di Situs Pepak

Menjadi bagian dalam pekerjaan Allah adalah sebuah hal yang membanggakan bagi kita, para guru sekolah minggu tentunya. Tanggung jawab kita adalah membawa anak-anak akan pengenalan terhadap Kristus. Keterlibatan pelayan guru sekolah minggu ini, tentu saja tidak lepas dari peran gereja itu sendiri. Melihat salah satu dampak penting keberadaan sekolah minggu adalah penentu pertumbuhan gereja. Meskipun demikian, kita sebagai para pelayan anak juga tidak boleh lupa akan esensi penting dari

pelayanan kita, yakni membantu anak layan kita dalam pertumbuhan imannya. Berikut kami berikan referensi artikel tentang peran guru sekolah minggu terhadap gereja. Silakan berkunjung ke alamat berikut dan semoga membantu.

==> http://pepak.sabda.org/tanggung_jawab_guru_sm_terhadap_gereja ==>

http://pepak.sabda.org/bagaimana_seorang_guru_sekolah_minggu_mengasihi_gereja ==> http://pepak.sabda.org/hubungan_sekolah_minggu_dengan_gereja

 

==> http://pepak.sabda.org/guru_sm_sebagai_penentu_pertumbuhan_gereja ==>

http://pepak.sabda.org/bagaimana_seorang_guru_sekolah_minggu_mengasihi_gereja

Mutiara Guru

Giatlah membantu anak layan Anda belajar kehendak Tuhan dengan kasih dan kesabaran

 

e-BinaAnak 418/Februari/2009: Mengajar

Anak Bermisi

Salam dari Redaksi

Sudah menjadi rutinitas tahunan pada bulan Februari, gaung kasih sayang terdengar dengan kerasnya. Namun, dalam sekolah minggu, tentu saja gaung kasih sayang tidak hanya terdengar saat bulan Februari, bukan? Setiap pertemuan dengan anak-anak layan, para guru membawa pesan kasih dari Kristus, dan mengajarkan kasih sejati pula kepada mereka.

Salah satu hukum kasih yang sering diajarkan Pelayan Anak sekalian tentunya adalah mengasihi sesama manusia. Edisi bulan Februari ini akan membawa kita semua

menanamkan dalam hati anak-anak bahwa tidak hanya sesama orang Kristen saja yang harus kita kasihi, namun terlebih lagi mengasihi mereka yang belum mengenal Kristus. Anak dapat kita ajarkan untuk mengasihi jiwa-jiwa di luar Kristus melalui topik-topik mingguan berikut ini.

1. Bermisi 2. Berdoa 3. Memberi 4. Bersaksi

Redaksi berharap, beban yang ada dalam hati para Pelayan Anak sekalian, yaitu untuk membawa semakin banyak anak datang kepada Kristus, juga tertanam dalam hati anak-anak layan kita semua. Anak-anak dapat dipakai Tuhan juga untuk mewujudkan rencana-Nya bagi dunia ini. Selamat melayani!

Pimpinan Redaksi e-Binaanak, Davida Welni Dana

http://www.sabda.org/publikasi/arsip/e-binaanak/ http://pepak.sabda.org/

Karena aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini.

memandang wajah Bapa-Ku di sorga.

—(Matius 18:10)

 

Dalam dokumen publikasi e-binaanak (Halaman 56-60)