LANDASAN TEORI
C. Tokoh Utama
Sebelum membahas tokoh utama, ada baiknya peneliti kemukakan beberapa teknik yang digunakan oleh pengarang untuk menciptakan tokoh dalam fiksinya. Peneliti memandang penting hal itu karena keberhasilan pengarang menyajikan cerita rekaan atau fiksinya tercermin melalui pengungkapan setiap unsur cerita itu. Salah satu di antaranya adalah melalui ketepatan pelukisan tokoh cerita. Rupa, pribadi, dan watak sang tokoh harus tergambar sedemikian rupa sehingga berterima oleh kalangan pembaca.
Burhan Nurgiyantoro (2005: 176) menyatakan bahwa tokoh dalam fiksi dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan dari sudut pandang penamaan. Berdasarkan sudut pandang dan tinjauan penamaan, seorang tokoh dapat
commit to user
xli
dikategorikan sebagai: 1) tokoh utama dan tokoh tambahan; 2) tokoh protagonis dan tokoh antagonis; 3) tokoh sederhana dan tokoh bulat; 4) tokoh statis dan berkembang; dan 5) tokoh tipikal dan tokoh netral.
Lebih lanjut, Burhan Nurgiyantoro (2005: 176) menjelaskan bahwa apabila dipandang dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam sebuah cerita, ada tokoh yang sangat penting dan ditampilkan terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagaian besar cerita. Tokoh tersebut dinamakan tokoh utama. Tokoh utama diutamakan penceritaannya dan paling banyak diceritakan dalam sebuah novel atau fiksi yang lain.
M. Atar Semi (1993: 39) mengemukakan bahwa tokoh utama(tokoh sentral) adalah orang yang mengambil sebagaian besar peristiwa dalam cerita. Biasanya peristiwa atau kejadian-kejadian itu menyebabkan terjadinya perubahan pandangan pembaca terhadap tokoh tersebut, misalnya menjadi benci, senang atau menjadi simpati. Dendy Sugono (2003: 142) menyatakan hal senada bahwa tokoh utama disebut juga wirawan (pahlawan), yang berarti tokoh yang paling penting dalam sebuah lakon.
Herman J. Waluyo (2002: 164) menyatakan bahwa perwatakan berhubungan dengan karakteristik atau bagaimana watak tokoh-tokoh itu sedangkan penokohan berhubungan dengan cara pandang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta nama tokoh itu. Lebih lanjut, Herman J. Waluyo menambahkan bahwa pada prinsipnya ada tiga cara yang digunakan pengarang untuk menggambarkan tokoh yaitu
1) Metode analitis
Metode ini merupakan metode penggambaran tokoh secara langsung. Pengarang langsung mendeskripsikan keadaan atau kondisi tokoh. Penggambaran ini biasanya dilakukan dengan menggunakan tiga cara, yaitu penggambaran secara fisik (keadaan fisik), penggambaran secara psikis (watak tokoh), dan penggambaran secara sosial (kedudukan dan pangkat). Metode deskriptif ini sering dipandang memiliki kedudukan yang rendah dibandingkan dengan metode yang lain.
commit to user
xlii 2) Metode teknik tidak langsung
Dalam metode ini, pengarang tidak menggambarkan langsung keadaan tokoh. Penggambaran dilakukan dalam suatu alur cerita melalui hubungan tokoh dengan orang lain, penampilan fisiknya, cara hidup, cara berbicaranya, dan sebagainya. Jadi, pembaca menyimpulkan sendiri wujud tokoh melalui cerita yang dipaparkan.
3) Metode Kontekstual
Metode ini merupakan metode penggambaran tokoh melalui konteks bahasa dan bacaan yang digunakan pengarang. Misalnya, seorang yang diberi julukan “buaya” maka tokoh itu mempunyai watak yang mewakili sebutan “buaya”. Penggambaran watak itu mungkin secara panjang lebar melalui tingkah laku dari tokoh sindiran.
Berdasarkan uraian di atas dapat peneliti simpulkan bahwa tokoh utama merupakan tokoh yang diprioritaskan dan dipentingkan penceritaannya. Tokoh utama juga merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun orang yang melakukan pekerjaan. Bahkan, ada tokoh yang hadir dalam setiap kejadian dan ditemui di setiap halaman novel.
D. Alur
Alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalani dengan seksama, yang mengisahkan jalan cerita melalui perumitan ( pengawatan, atau komplikasi, pen) ke arah klimaks dan selesai. (Sudjiman dalam Indarti, 2006:50). Alur cenderung disamakan dengan jalan cerita. Alur merupakan suatu rangkaian kejadian atau peristiwa dalam karya fiksi yang susul-menyusul atau sering dikatakan sebagai jalan cerita.
Forster dalam Aspec of Novel mengartikan alur atau jalan cerita sebagai sebuah narasi berbagai kejadian yang sengaja disusun berdasarkan urutan waktu. Atau peristiwa demi peristiwa yang susul menyusul. Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita. Alur dapat disusun berdasarkan tiga hal, yaitu: 1. Berdasarkan urutan waktu terjadinya (kronologi). Alur yang demikian disebut
alur linear.
commit to user
xliii
2. Berdasarkan hubungan sebab akibat (kausal). Alur yang demikian disebut alur kausal.
3. Berdasarkan tema cerita. Alur yang demikian disebut alur tematik. Dalam cerita yang beralur tematik, setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami.
Adapun struktur alur adalah sebagai berikut:
1. Bagian awal, terdiri atas: 1) paparan (exposition), 2) rangsangan (inciting moment), dan 3) gawatan (rising action).
2. Bagian tengah, terdiri atas: 4) tikaian (conflict), 5) rumitan (complication), dan 6) klimaks.
3. Bagian akhir, terdiri atas: 7) leraian (falling action), dan 8- selesaian (denouement).’
Dalam membangun alur, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar alur menjadi dinamis. Faktor-faktor penting tersebut adalah:
a) Faktor kebolehjadian. Maksudnya, peristiwa-peristiwa cerita sebaiknya tidak selalu realistik tetapi masuk akal.
b) Faktor kejutan. Maksudnya, peristiwa-peristiwa sebaiknya tidak dapat secara langsung ditebak / dikenali oleh pembaca.
c) Faktor kebetulan. Yaitu peristiwa-peristiwa tidak diduga terjadi, secara kebetulan terjadi.
Kombinasi atau variasi ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan alur menjadi dinamis. Adapun hal yang harus dihindari dalam alur adalah lanturan (digresi). Lanturan adalah peristiwa atau episode yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau menyimpang dari pokok personal an yang sedang dihadapi dalam cerita.
Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. Ada alur progresif (runtut), ada kilas balik (flash back), dan ada percampuran antar keduanya. Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action). Narasi adalah pelukisan yang dinamis, penggambaran gerak (action) tokoh-tokohnya, serta
commit to user
xliv
pergerakan benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. Deskripsi adalah pelukisan suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana kamar yang berantakan, atau bangunan yang luluh lantak oleh bom. Dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh cerita. Ada dialog lahir (terucapkan), ada dialog batin (tidak terucapkan). Sedangkan laku/aksi adalah aktivitas fisik, gerakan anggota badan, dan perbuatan tokoh-tokoh cerita.
E. Latar
Pengertian latar secara umum sebagaimana yang dikemukakan oleh Abrams (dalam Burhan Nurgiyantoro, 2005: 216) yaitu landas tumpu yang menyaran pada pada pengertian tempat, waktu, dan lingkungan sosial tempat tcrjadinya peristiwa-peristiwa yang yang diceritakan. Latar dapat dibedakan dalam 3 unsur pokok, yaitu: tempat, waktu, dan sosial. Berikut peneliti sajikan uraian ketiga unsur latar dengan mengacu pada Burhan Nurgiyantoro (2005: 227-237). 1) Latar tempat
Latar tempat menyaran pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan dapat berupa tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, dan menunjuk lokasi tertentu juga dengan nama yang tidak jelas. Deskripsi tempat yang meyakinkan merupakan cerminan pengarang yang menguasai medan. Latar tempat menjadi sesuatu yang bersitat khas, tipikal, dan fungsional. Ia akan memengaruhi pengaluran dan penokohan dalam hal menjadi koheren-inherennya cerita secara keseluruhan. Akan tetapi, latar tempat dalam sebuah novel dapat berpindah-pindah sejalan dengan perkembangan alur dan penokohan.
2) Latar waktu
Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah kapan tersebut biasanya dihubungkan dengan waktu faktual atau waktu yang ada kaitannya dengan peristiwa sejarah. Masalah waktu dalam karya naratif dapat bermakna ganda; di satu pihak menyaran pada waktu penceritaan dan waktu penulisan
commit to user
xlv
cerita, tetapi di pihak lain menunjuk pada waktu dan uratan waktu terjadinya peristiwa di dalam karya tersebut. Sekalipun begitu, yang paling penting adalah latar waktu harus dikaitkan dengan dengan latar tempat dan sosial karena pada kenyataannya tempat akan berubah seiring dengan perkembangan waktu.
3) Latar sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial ini secara konkret dideskripsikan melalui kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir, dan bersikap. Latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh.