UJI CUNGKIT KULIT PADA ANAK USIA PRASEKOLAH
DI KOTA MEDAN
TESIS
RUDY
047103007/IKA
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UJI CUNGKIT KULIT PADA ANAK USIA PRASEKOLAH
DI KOTA MEDAN
T E S I S
RUDY
047103007/IKA
Untuk Memenuhi salah satu syarat memperoleh
Gelar Dokter Spesialis Anak
DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dengan ini diterangkan :
Dr. RUDY
Telah menyelesaikan Tesis sebagai persyaratan untuk mendapat gelar Dokter Spesialis Anak pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Tesis ini dipertahankan di depan Tim Penguji pada hari Senin, 17
November 2008 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima.
Tim Penguji
Penguji I
--- ...
Prof. Dr. Atan Baas Sinuhaji, SpA(K)
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Penulis menyadari penelitian dan penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan, oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan masukan yang berharga dari semua pihak di masa yang akan datang.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyatakan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. dr. H. Chairuddin P Lubis, DTM&H, SpA(K) dan Dekan FK-USU yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis Anak di FK- USU.
3. Prof. dr. H. Munar Lubis, SpA(K), selaku Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Anak FK-USU dan Dr. Hj. Melda Deliana, SpA(K), sebagai Sekretaris Program Studi yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan tesis ini.
4. Dr. H. Ridwan M. Daulay, SpA(K), selaku Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran USU/RSUP H. Adam Malik Medan periode 2007 – 2011, Prof. dr. H. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K), selaku Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran USU/RSUP H. Adam Malik Medan periode 2004-2007, Dr. H. Dachrul Aldy, SpA(K), selaku Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran USU/RSUP H. Adam Malik Medan periode 2000-2004, yang telah memberikan bantuan dalam penelitian dan penyelesaian tesis ini.
5. Dr. Lily Irsa, SpA(K) dan Dr. Rita Evalina, SpA yang telah sangat banyak membimbing serta membantu saya dalam menyelesaikan penelitian serta tesis ini.
7. Seluruh staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan dan RS. Dr. Pirngadi Medan yang telah memberikan sumbangan pikiran dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis ini.
8. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan dalam terlaksananya penelitian serta penulisan tesis ini.
Secara istimewa, terimakasih penulis ucapkan kepada kedua orang tua yang sangat saya cintai, ayahanda Dr. A.H. Sutanto, SpA(K) dan ibunda Soekijati binti Soekimin juga mertua saya Almh. Sukarmas dan istri saya Lili Darmayanty, anak saya Muhammad Ridwan Sutanto, Abdul Harris Sutanto, Nurul Hafizah Sutanto dan Abdul Majid Sutanto serta adik-adik serta seluruh handai taulan, yang dengan penuh kesabaran selalu mendoakan, memberi dorongan, bantuan moril dan materil selama penulis mengikuti pendidikan. Semoga Allah membalas segala budi baik yang telah diberikan, yang tak mungkin sanggup penulis balaskan. Akhirnya penulis mengharapkan semoga penelitian dan tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin. Wassalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
5.2 Saran 34
DAFTAR PUSTAKA 35
RINGKASAN 39
LAMPIRAN 1. Surat pernyataan kesediaan 43
2. Data umum 44
3. Data khusus 46
4. Penjelasan pada subjek penelitian 51
5. Etika Penelitian 53
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.5.1. Makanan Utama Penyebab Alergi 15 Tabel 4.1.1. Karakteristik Sampel 25 Tabel 4.1.2. Hasil Sensitisasi Positif 26 Tabel 4.1.1.1 Hubungan antara sensitisasi alergen susu sapi
dengan tingkat risiko atopi dan klinis atopi 28 Tabel 4.1.1.2 Hubungan Sensitisasi Alergen Kutu Debu Rumah
DAFTAR GAMBAR
Halaman
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
AAP : American Academy of Pediatrics cm : Centimeter
Da : Dalton
DA : Dermatitis Atopi IgE : Imunoglobulin E
kDa : KiloDalton
Kg : Kilogram mm : Milimeter
SPSS : Statistical Package for Social Science SD : Standar Deviasi
zα : Deviat baku normal untuk α zβ : Deviat baku normal untuk β
n : Jumlah subjek / sampel
P : Tingkat kemaknaan
x2 : Kai-kuadrat > : Lebih besar dari
ABSTRAK
Latar belakang Pencegahan dengan menghindari alergen merupakan cara terbaik untuk mengurangi keparahan kelainan atopi, terutama pada anak yang rentan secara genetik. Kelainan atopi dapat didiagnosis dengan riwayat individual atau keluarga. Pemeriksaan uji cungkit kulit merupakan uji in vivo terhadap adanya sensitisasi alergen dengan akurasi yang baik, murah dan tak menimbulkan rasa sakit.
Tujuan Mengetahui gambaran hasil uji cungkit kulit anak dan hubungannya dengan status risiko atopi keluarga
Metoda Penelitian ini bersifat analitik dengan metoda potong-lintang pada tiga Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak di Medan, pada Maret 2008 dengan sampel 74 anak berusia 3-6 tahun. Dilakukan uji cungkit kulit diikuti uji tapis riwayat atopi keluarga. Analisa statistik dilaksanakan dengan uji Kai-kuadrat.
Hasil Dari 74 anak, didapati 8 orang pada kelompok dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen susu sapi mempunyai hubungan bermakna dengan risiko atopi keluarga dan riwayat klinis atopi (p<0,05). Namun sejumlah alergen lain, tidak didapati hubungan bermakna terhadap riwayat risiko atopi keluarga.
Kesimpulan Hasil uji cungkit kulit terhadap alergen susu sapi mempunyai hubungan bermakna dengan risiko atopi keluarga dan riwayat klinis atopi
ABSTRACT
Background. Preventive measures by allergen avoidances is the best way to reducing severity in atopic disease, especially in genetically susceptible child. Atopic disease could be diagnosed by individual or familial history. Skin prick test is a form of in vivo test on allergen sensitization with good accuracy, cheap and painless.
Objective. To observe the feature of children’s skin prick test’s results and their relation withthe familial atopic risk state.
Methods. This was an analytic cross-sectional study on three playgroup and kindergarten student in medan, held during March 2008 with sample of 74 children aged 3-6 years. The skin prick test was done followed by familial atopic risk screening. Statistical analyses was performed by Chi-square tests Results. Out of 74 children who joined this study, there were 8 children with significant relation on positive skin prick test result with familial atopic risk and clinical atopic symptoms (p<0,05). There were no significant relation within the other allergens.
Conclusions. the skin prick test result of cow’s milk allergen had significant relation with familial atopic risk history and clinical atopic symptoms
Keywords : skin prick test, atopic, sensitization
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang
Pemeriksaan diagnostik alergi bertujuan untuk membantu mengenali alergen potensial yang terlibat dalam proses terjadinya penyakit alergi. Dengan cara tersebut pasien dapat menghindari alergen terkait tersebut dan klinisi dapat menatalaksana penyakit tersebut dangan benar.1 Pemeriksaan alergi dapat ditujukan pada berbagai alergen makanan, udara (hirup), racun hewan dan obat-obatan. 1,2
Terdapat dua jenis pemeriksaan alergi yakni pemeriksaan in vivo yaitu uji kulit dan in vitro yaitu pemeriksaan darah terhadap keberadaan imunoglobulin E spesifik.3 Uji kulit hingga kini masih merupakan perangkat praktis di bidang alergi.4 Uji kulit dibagi atas dua kategori umum: uji perkutan (alergen cair di cungkit atau digoreskan pada permukaan kulit) dan intradermal (alergen disuntikan ke dalam lapisan dermal). 1,2
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Berapa besar prevalensi atopi sampel ?
2. Apakah terdapat hubungan atopi pada orang tua dengan hasil uji cungkit kulit anak?
3. Apakah terdapat hubungan antara hasil uji cungkit kulit dengan manifestasi klinis atopi?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status risiko atopi keluarga dengan status sensitisasi pada anak yang ditunjukkan oleh gambaran uji cungkit kulit anak.
1.4. Hipotesis
1. Tidak terdapat hubungan atopi pada orang tua dengan nilai sensitisasi positif pada anak.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Memperoleh data prevalensi atopi pada sampel. 2. Memperoleh data atopi pada sampel.
3. Memperoleh data mengenai hasil uji cungkit kulit pada sampel.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sejarah Uji Kulit
Uji kulit pertama kali ditemukan lebih dari seabad yang lalu. Pada 1873, Charles Blackley melaksanakan uji kulit pertama dengan cara menggores permukaan kulit pasien diikuti pemberian serbuk sari pada goresan tersebut lalu mengamati reaksi yang terjadi. Pada 1908, Mantoux menemukan uji
intradermal yang kemudian digunakan sebagai uji alergi. Pada awal 1920,
Lewis dan Grant menemukan uji cungkit kulit. Prinsip dasar uji alergi tersebut masih dipraktikkan hingga kini dengan beberapa modifikasi menyangkut standardisasi peralatan dan ekstrak alergen.1
Sebelum pemeriksaan Radioallergosorbent (RAST) dikenali pada era 1970-an, uji cungkit kulit adalah merupakan satu-satunya metoda untuk konfirmasi atas suatu kelainan yang dimediasi IgE. 3
2.2. Atopi dan Atopic March
Istilah “atopi” berasal dari bahasa Yunani; atopos, yang berarti ”di luar jalur” merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan suatu kelainan yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE).7
herediter untuk memproduksi IgE berkepanjangan terhadap alergen sehari-hari pada lingkungan, dan dapat memiliki satu atau lebih manifestasi klinis atopi seperti rinitis alergika, asma, eksim atopi.7,8,9 Bahkan juga dapat mencetuskan reaksi berat pada anak yang telah tersensitisasi.10 Maka dapat disebutkan bahwa anak atopi, adalah anak yang mempunyai genetik yang rentan terhadap penyakit-penyakit alergi.11
Kelainan atopi diperkirakan terjadi pada 10% sampai 30% populasi negara maju.12 Di Swedia terdeteksi 1/3 anak berusia lebih dari 11 tahun mengidap kelainan atopi.13 Prevalensi kelainan atopi juga dikatakan meningkat di negara industri.14 Insiden yang meningkat di negara maju, dikaitkan dengan polusi udara dan terjadinya deviasi respons imun karena berkurangnya penyakit infeksi pada anak.12
Etiologi atopi mencakup faktor genetik kompleks yang belum sepenuhnya dipahami.8,13,14 Peningkatan prevalensi ini sering dikaitkan
“hipotesa higienis” yang menyatakan bahwa berkurangnya paparan mikroba
risiko hingga 50% sampai 80% untuk mendapat kelainan atopi dibanding dengan anak tanpa riwayat atopi keluarga (risiko hanya sebesar 20%). Risiko akan menjadi lebih tinggi jika kelainan alergi diderita oleh ibu dibanding ayah.12,16
Manifestasi gejala alergi atau atopi biasanya akan mengikuti pola tertentu yang telah dapat diprediksi disebut “atopic atau allergic march” yang ditandai dengan adanya tahapan gejala dan kondisi klinis khas, yang muncul pada usia tertentu, dan dapat menetap hingga beberapa tahun.11,17 Menurut urutan pada proses atopic march tersebut biasanya eksim dan gejala saluran cerna oleh alergi makanan adalah manifestasi klinis paling awal pada bayi atau anak, 11,17 yang mendahului timbulnya asma dan rinitis.17,18 Sejalan dengan pertumbuhan, anak tersebut akan cenderung mengidap gangguan saluran nafas atas atau bawah yang berulang ataupun kronis.11 Anak yang tersensitisasi zat yang terkandung pada makanan pada usia dini, kelak akan tersensitisasi oleh alergen hirup dikemudian hari,3,11 dan mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk mengidap asma dibanding anak normal.11
Metoda untuk diagnosis awal atopi yang praktis dan terpercaya akan sangat berguna untuk menghentikan laju proses atopic march tersebut.20
Kelainan atopi dapat didiagnosis dengan riwayat individual atau keluarga yang dikonfirmasikan dengan adanya IgE alergen spesifik, salah satunya dengan uji cungkit kulit.9,21 Hasil pemeriksaan IgE spesifik tersebut dapat digunakan untuk memprediksi perjalanan penyakit atopi.3 Juga disebutkan bahwa pada anak berusia kurang dari tiga tahun, atopik dapat didiagnosis berdasarkan hasil uji IgE yang positif terhadap alergen-alergen makanan dan alergen hirup dalam rumah seperti kutu debu.3,11
Namun masih terdapat kontroversi, dimana Ghrahani R dkk pada penelitian dengan sampel 284 anak berusia 30 sampai 41 bulan di Bandung menyatakan tak terdapat perbedaan hasil uji cungkit kulit dan IgE total pada kelompok anak dengan atau tanpa riwayat atopi.22
2.3. Imunoglobulin E sebagai Petanda Dini Atopi
Imunoglobulin E (IgE) merupakan mediator kunci dari penyakit alergi,19 IgE sudah dapat dideteksi pada usia tiga bulan, sebelum gejala klinis timbul.3 Pembentukan IgE dimulai pada masa awal kehidupan dimana sensitisasi sering dapat terdeteksi sebelum gejala klinis timbul.11 Ia merupakan suatu antibodi khusus yang diproduksi sistem imun sebagai respon terhadap antigen tertentu.3 IgE merupakan golongan Imunoglobulin yang paling akhir ditemukan,11 dan baru teridentifikasi dan dipastikan sebagai bahan aktif pada proses alergi pada tahun 1967.22
Setelah disekresikan oleh limfosit B, IgE mengikuti sirkulasi aliran darah hingga ia berikatan dengan permukaan membran sel mast dan basofil yang terdapat dipermukaan epitel di seluruh tubuh, misalnya pada saluran nafas, saluran cerna dan kulit. Pada paparan ulang, alergen akan bereaksi dengan membran yang terikat dengan IgE spesifik tersebut dan mencetuskan pelepasan zat mediator inflamasi seperti: histamin, leukotrin, prostaglandin, dan protease, sehingga menimbulkan tanda dan gejala alergi.3
2.4. Uji Cungkit (Tusuk) Kulit
Uji cungkit kulit merupakan suatu metoda konvensional, adalah salah satu cara termudah untuk memeriksa kelainan atopi dan sensitifitas terhadap alergi, 19,23 atas keberadaan antibodi IgE spesifik.1,19,24 Ia merupakan metoda pendekatan diagnostik yang tepat untuk mendeteksi sensitisasi IgE oleh alergen hirup, makanan, bisa hewan dan obat-obatan.25 Uji cungkit kulit, selain murah juga menyediakan hasil yang cepat didapat,6,17,25 sebagai alat diagnostik pada kelainan alergi anak.26 Uji ini biasanya direkomendasikan sebagai sarana uji diagnostik lini pertama untuk mendeteksi adanya reaktivitas spesifik.19,25
Beberapa studi menunjukkan bahwa uji cungkit kulit adalah merupakan teknik yang paling baik dan mempunyai hasil paling prediktif diantara uji kulit.4 Ia juga mempunyai keamanan dan sensitifitas yang baik, dengan hasil yang dapat dipercaya karena sudah sering diteliti secara luas.26
2.4.1 Cara Kerja, Reaksi Imunologis dan Penilaian Uji Cungkit Kulit
yang diaplikasikan, maka sel mast tersebut akan mengalami degranulasi dan
melepas mediator-mediator termasuk histamin,19 lalu menyebabkan reaksi
imun tipe I berupa reaksi bengkak kemerahan pada kulit tersebut.1,6,26 Bengkak kemerahan tersebut biasanya akan mencapai diameter maksimal dalam 15 sampai 20 menit sesudah pemberian alergen,1,3,4,17 yang dibandingkan dengan kontrol positif (histamin 1%) dan kontrol negatif (saline).1,3,6,24
Hasil uji kulit dapat dilaporkan secara subjektif dalam bentuk skala numerik atas diameter bengkak yang diukur.3 Dikatakan bahwa jumlah IgE spesifik dapat diperkirakan melalui ukuran bengkak tersebut.19
Terdapat beberapa sistem skor yang berbeda yang digunakan untuk mencatat hasil reaktivitas uji kulit.1,4 Namun hal yang terpenting adalah apakah hasil uji kulit tersebut positif atau negatif.4 Uji cungkit kulit dinyatakan positif jika suatu alergen mengakibatkan bengkak dan kemerahan dengan indurasi > 3 mm. 6,27 Bengkak kemerahan dengan diameter 3 mm atau lebih besar dari kontrol biasanya dinyatakan mempunyai nilai positif.1,4,17,24
2.4.2. Peralatan pada Uji Cungkit Kulit
2.4.3. Usia pada Pelaksanaan Uji Cungkit Kulit
Tidak terdapat batasan usia pada pelaksanaan uji cungkit kulit. Namun para ahli jarang melaksanakan uji ini pada anak berusia dibawah enam bulan sehubungan dengan:1
• Terbatasnya jumlah alergen yang dapat digunakan seperti: susu, kedelai, telur dan alergen hirup dari lingkungan rumah saja.
• Reaktivitas uji kulit mungkin kurang pada anak berusia sangat muda, hal ini membuat kontrol positif (histamin) dan kontrol negatif (saline) menjadi sangat penting.
• Terbatasnya jumlah uji kulit yang dapat dilaksanakan sehubungan dengan luas permukaan tubuh yang lebih kecil.
2.4.4. Sensitifitas dan Spesifisitas Uji Cungkit Kulit
Nilai prediktif Uji cungkit kulit telah dinyatakan dapat digunakan untuk memeriksa sensitisasi dan juga telah dipublikasikan.27 Uji cungkit kulit masih tetap merupakan uji untuk memeriksa IgE spesifik yang paling sensitif dan spesifik,19 dan telah dinyatakan lebih sensitif dibanding teknik radioallergosorbent (RAST) dalam mendeteksi reaktivitas IgE. 19,26
telah menunjukkan bahwa uji cungkit kulit mempunyai nilai positif terbesar dibanding uji food challenges dalam suatu studi plasebo-kontrol tersamar ganda.Dikutip dari 26
Uji cungkit kulit terutama akan membantu untuk mengeksklusikan alergen potensial yang dicurigai menimbulkan gejala alergi, karena jarang mempunyai hasil negatif-palsu,19 oleh keberadaan nilai prediksi negatifnya yang sangat tinggi (95%).24,28 Maka hasil uji negatif akan menunjukkan tidak terdapatnya reaktivitas alergi oleh mediasi IgE.19,28 Sebaliknya nilai prediksi positifnya biasanya hanya berkisar sekitar 30% sampai 50%, sehingga hasil uji kulit positif saja belum dapat menjadi bukti adanya reaksi terkait.24,28
2.4.5. Reaksi Sistemik pada Uji Cungkit Kulit
hanya enam reaksi sistemik ringan.2 Beberapa kasus fatal pada penggunaan uji cungkit kulit sejak 1895 sampai 1980 berkaitan dengan penggunaan produk biologis yang tak lagi digunakan seperti: serum tetanus yang berasal dari kuda, toksin difteria dan antiserum pneumokokus.26
Walaupun uji ini sangat aman, namun dikarenakan masih terdapat risiko terjadinya absorpsi sistemik dan reaksi anafilaksis pada individu dengan sensitisasi tinggi, maka uji harus dilaksanakan dibawah pengawasan klinisi terlatih dan berpengalaman,19,26 dan didukung ketersediaan sarana resusitasi. 3,19 Sementara itu uji cungkit kulit merupakan kontraindikasi pada pasien dengan penyakit asma yang tidak stabil.3
2.4.6. Pasien Dengan Perlakuan Khusus
Uji cungkit kulit dapat dilaksanakan pada siapa saja yang dicurigai memiliki reaksi yang dimediasi oleh IgE, namun terdapat beberapa situasi yang memerlukan pertimbangan klinis, seperti pada:1
• Pasien yang mempunyai eksim yang parah dapat meliputi permukaan kulit yang luas sehingga tak adekuat untuk pelaksanaan uji kulit.
• Antihistamin, dapat menekan reaktivitas uji kulit,1,23,,29 akan mengganggu terjadinya reaksi bengkak kemerahan,2,23 maka pemakaian obat tersebut harus dihentikan sementara sebelum pelaksanaan uji kulit agar uji tersebut tetap mendapatkan hasil yang baik.1,2,29 Antihistamin generasi pertama dapat dihentikan dua sampai tiga hari sebelum uji dilaksanakan,3,29 namun antihistamin generasi kedua dapat mempengaruhi uji kulit hingga 10 hari atau lebih.3,30
• Sedangkan obat kortikosteroid sistemik, dikarenakan pengaruhnya yang lebih kecil maka cukup hanya dihentikan selama 1 hari sebelum uji kulit dilakukan.29
2.5. Paparan Alergen dan Kecenderungan Sensitisasi
Alergen adalah molekul antigenik yang berperan pada reaksi imun yang menyebabkan alergi, sedangkan sensitisasi merupakan proses induksi pertama kali dari respon IgE terhadap suatu alergen.10
Susu sapi merupakan bagian dari alergen makanan 8-besar,19 adalah protein asing pertama yang didapat bayi yang sering menyebabkan reaksi alergi,32,34 yang merupakan kelainan atopi pertama, yang dapat berkembang menjadi berbagai kelainan alergi kelak.34 Alergi susu sapi mungkin dapat dikatakan sebagai indikator awal atopi.18
Tabel 2.5.1. Makanan utama penyebab alergi makanan: 33
BAYI ANAK DEWASA
Susu sapi Susu sapi Kacangtanah
Kedelai Telur Kacang pohon
Alergen hirup atau aero / inhallantallergen adalah merupakan alergen yang terdapat di udara pada lingkungan sehari-hari.4 Alergen hirup dapat dibagi dua: 19
1. Alergen hirup dalam rumah (Indoor-household): Kutu debu rumah, bulu dan serpihan kulit manusia atau hewan peliharaan.
2. Alergen hirup luar rumah (Outdoor): Serbuk sari rumput dan spora jamur
peliharaan, kecoa dan jamur),1,3,11 dimana sensitisasi terhadap alergen lingkungan luar rumah belum terjadi.3 Sementara anak berusia lebih dari empat tahun lebih cenderung menunjukkan sensitisasi terhadap serbuk sari.1
2.6. Kegunaan Pemeriksaan Alergen Spesifik pada Penyakit Alergi
Pemahaman terhadap progresifitas penyaki alergi akan berguna sebagai dasar untuk intervensi dini, sebagai strategi yang dapat memperbaiki prognosis jangka panjang kelainan atopi.11 Namun sangat sulit untuk membedakan kelainan alergi dan non alergi tanpa pemeriksaan diagnostik yang objektif dan hanya berdasarkan pada gejala, riwayat keluarga dan pemeriksaan fisik saja. Suatu penelitian menyatakan bahwa kemampuan spesialistik untuk memprediksi sensitisasi alergi tanpa pemeriksaan diagnostik jarang melebihi 50%.3
Merupakan suatu pendekatan umum untuk menguji tapis anak dengan dermatitis atopi untuk kemungkinan adanya alergi terhadap telur, susu, kacang tanah, kedelai dan gandum, dan jika dimungkinkan juga terhadap ikan, kacang-kacangan pohon (kacang mete dan kemiri) dimana pada anak dengan dermatitis atopi dan alergi makanan biasanya didapati 2/3 yang reaktif pada telur.28
klinisi membuat sangkaan diagnosis rinitis alergi hanya berdasarkan riwayat medis.30
Uji cungkit kulit juga merupakan cara optimal untuk menguji tapis pasien
urtikaria yang mungkin disebabkan makanan terutama untuk mengeksklusikan makanan yang dianggap terlibat.28
Asma oleh proses alergi dan rinitis alergi sering mempunyai pencetus yang sama. Paparan alergen pada anak yang sensitif merupakan penyebab yang penting atas timbulnya gejala maupun kekambuhan asma.20 Faktor risiko yang telah diketahui, adalah paparan dan sensitisasi terhadap kutu debu rumah. 2,35 Pedoman manajemen asma; The second National Heart,
Lung, and Blood Institute (NHLBI) guideline merekomendasikan pemeriksaan
Kerangka Konseptual
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah studi analitik dengan metoda potong-lintang untuk mengetahui hubungan atopi pada orang tua dan manifestasi klinis atopi pada anak dengan status sensitisasi anak yang ditunjukkan oleh hasil uji cungkit kulit anak.
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan adalah di tiga buah Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak, yaitu TK Al Azhar, TK Dhuafa dan TK Dharma Asih yang terletak di kota Medan ibukota propinsi Sumatera Utara, pada tanggal 24 sampai 28 Maret 2008. Sejumlah sekolah tersebut diperoleh dengan metoda random sampling. Protokol penelitian ini sudah disetujui oleh Komite Etik FK USU dan orang tua menyetujui dan menandatangani surat persetujuan untuk ikut penelitian ini.
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian
3.4. Besar Sampel
Besar sampel ditentukan dengan rumus:36
n= (z √ P0 Q0 + z √Pa Q a ) 2 (Pa – P0 ) 2
P0 = Proporsi anak uji cungkit kulit positif dari pustaka = 28 %
Pa = Proporsi anak uji cungkit kulit positif sesuai penilaian klinis (clinical judgment) = 48 %
n = Jumlah sampel
Z = 1,96 dengan nilai tingkat kemaknaan = 0,05 Z = 0,842
Q0 = 1- P0 = 0,72 Qa = 1- Pa = 0,52
Dengan memakai rumus diatas maka diperoleh jumlah sampel sebanyak 42 orang .
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
1. Anak berusia 3 sampai 6 tahun
2. Mendapat persetujuan tertulis dari orang tua dengan menandatangani Informed consent mengisi lembaran kuesioner. 3. Disetujui komite medik.
3.5.2. Kriteria Eksklusi
1. Anak yang sedang menggunakan obat-obatan yang mengandung antihistamin dalam tiga hari terakhir.
2. Anak yang sedang menggunakan obat-obatan yang mengandung kortikosteroid dalam satu hari terakhir.
3. Anak yang sakit berat, mempunyai kelainan kongenital dan mempunyai kelainan dermatografisme.
3.7. Bahan dan Cara kerja
Sebelum pemeriksaan dilaksanakan diadakan penyuluhan dan diskusi dengan orang tua maupun para guru mengenai manfaat dan risiko yang mungkin terjadi selama maupun sesudah penelitian dilaksanakan. Penyuluhan dilaksanakan tiga hari sebelum penelitian dilaksanakan agar anjuran untuk menghentikan konsumsi obat-obatan yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan dapat dilaksanakan.
Selanjutnya orang tua diminta untuk mengisi lembar persetujuan
(informed consent) dan kwesioner yang berisi data umum maupun khusus,
seperti: nama, umur (tanggal lahir), jenis kelamin, alamat, cara kelahiran, urutan kelahiran, jumlah saudara, juga nama, umur orang tua. Adapun kwesioner data khusus berisi riwayat klinis anak terhadap penyakit atopi, riwayat atopi keluarga (trace card), status imunisasi dasar dan pemakaian obat-obatan.
Test uji cungkit kulit dilaksanakan didahului dengan membersihkan lokasi volar lengan bawah kiri dan kanan anak dengan kapas berlarutan alkohol 70% Kemudian operator menggambar bagan untuk masing-masing alergen dan buffer. Setelah bagan selesai maka operator meneteskan ke-33 jenis alergen pada bagan yang tersedia. Alergen yang digunakan tersebut adalah: Alergen makanan (susu sapi, udang, putih telur, kuning telur, bandeng, tongkol, kakap, ayam, kepiting, cumi-cumi, kerang, kedelai, kacang tanah, kacang mete, tomat, coklat, nanas, kopi dan teh), serta alergen hirup (debu rumah, kecoa, tungau, serpihan kulit anjing, kucing, kuda dan manusia, bulu ayam, serbuk sari padi, rumput, jagung dan spora jamur berbagai jenis) buatan Klinik Asma & Alergi DR. Indrajana, Jakarta. Demikian juga alat pencungkit; jarum Morrow.
Alergen yang telah diteteskan tersebut dicungkit dengan menggunakan alat pencungkit khusus yang telah disterilisasi, dimulai dari kedua buffer. Sesudah pelaksanaan uji, anak disuruh menunggu selama 15 menit lalu indurasi yang timbul diperiksa oleh operator. Sensitisasi dinyatakan positif jika didapati ruam kemerahan berdurasi ≥ 3 mm dan sensitisasi dinyatakan negatif jika didapati ruam berdurasi < 3 mm sesudah aplikasi cungkit kulit. Sesudah pemeriksaan selesai kedua lengan anak dibersihkan dengan kapas berlarutan alkohol 70%.
3.8. Analisis Data
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Subjek yang ikut dalam pemeriksaan uji cungkit kulit terdiri dari 74 orang siswa – siswi dari ketiga Tempat Bermain dan Taman Kanak-kanak. Data karakteristik sampel dapat dilihat pada tabel 4.1.1.
Tabel 4.1.1. Karakteristik sampel
Risiko alergi keluarga (trace card) , n (%)
Risiko kecil 53 (71,6)
Dermatitis + rinitis 9 (12,2)
Empat orang 7 (9,5)
ASI + susu formula suplemen 13 (17,6)
ASI + susu formula 5 (6,8)
Susu formula 6 (8,1)
Susu formula suplemen + formula 3 (4,1)
Kacang mete 11 14,9
bayi, usia kehamilan, status imunisasi dasar, cara persalinan, urutan kelahiran dan jumlah saudara.
Tabel 4.1.1.1 Hubungan antara sensitisasi alergen susu sapi dengan tingkat risiko atopi dan klinis atopi
Didapati 11 anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen kacang mete dan 10 anak terhadap nanas yang mempunyai hubungan bermakna dengan jenis diet masa bayi ((p= 0,035) dan (p= 0,02)), namun tak didapati hubungan bermakna antara kedua alergen tersebut dengan riwayat klinis, usia kehamilan, status imunisasi dasar, cara persalinan, urutan kelahiran dan jumlah saudara.
Pada alergen makanan lainnya, seperti udang, kuning telur, bandeng, tongkol, kakap, kepiting, cumi-cumi, kerang, kacang tanah, coklat, wortel, gandum, kedelai, kopi dan teh, tidak kami dapati adanya hubungan bermakna ketika dihubungkan dengan riwayat klinis atopi, risiko atopi keluarga, jenis diet masa bayi, usia kehamilan, status imunisasi dasar, cara persalinan, urutan kelahiran dan jumlah saudara.
4.1.2 Alergen Hirup
Kami mendapati 11 anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen serbuk sari jagung dan 38 anak terhadap alergen tungau yang mempunyai hubungan bermakna dengan cara persalinan ((p= 0,020) dan
(p= 0,042)). Namun tidak kami dapati hubungan bermakna antara kedua
Tabel 4.1.1.2 Hubungan sensitisasi alergen kutu debu rumah dengan cara kelahiran.
Sensitisasi Kutu debu Rumah, n (%)
Positif Negatif p
Cara kelahiran, n (%)
Normal- spontan 28 (45,9) 33 (54,1 ) 0,042
Sectio Caesarea 10 (36,9) 3 ( 23,1)
Penelitian kami tidak mendapatkan hubungan yang bermakna pada alergen hirup lainnya, seperti debu rumah, kecoa, serpihan kulit anjing, kucing, manusia, kuda, bulu ayam,serbuk sari padi, serbuk sari rumput dan campuran spora jamur jika dihubungkan dengan riwayat klinis atopi, jenis diet masa bayi, usia kehamilan, status imunisasi dasar, cara persalinan, urutan kelahiran dan jumlah saudara.
4.2. Pembahasan
American Academy of Pediatrics (AAP) dan European committees telah
Susu sapi setidaknya mengandung 20 komponen protein, dimana fraksi protein utama casein (75%) dan whey yang mengandung beta-lactoglobulin,
alpha-lactalbumin, bovine Ig dan serum albumin dinyatakan dapat
menginduksi respons antibodi.37 Bayi yang mendapat ASI sering diberi suplemen susu formula dalam masa singkat sampai produksi ASI ibu lancar walaupun terdapat kontroversi, apakah pemberian susu formula tersebut mempengaruhi perkembangan penyakit alergi kelak.34 Host dkk menyatakan bahwa asupan dini protein asing pada neonatus merupakan faktor penting yang dapat berperan pada sensitisasi dan manifestasi alergi (“the dangerous bottle”).Dikutip dari 34 Pada penelitian ini didapati adanya hubungan bermakna pada hasil uji cungkit kulit alergen susu sapi yang positif pada 8 anak dengan riwayat risiko atopi keluarga (p= 0,000) dan juga dengan riwayat klinis atopi (p= 0,041). Sebaliknya de Jong MH dkk menyatakan bahwa rejimen pemberian makan (susu) yang ketat tak diperlukan pada masa neonatus sehubungan dengan kekawatiran akan timbulnya onset dini penyakit alergi.34
anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen daging ayam yang mempunyai hubungan bermakna dengan urutan kelahiran (p= 0,000). Nafstad dkk menyatakan bahwa urutan kelahiran yang dianggap mewakili adanya peningkatan paparan infeksi pada usia dini, tak mempunyai hubungan bermakna dengan efek preventif terhadap terjadinya kelainan atopi.29
Terbentuknya alergi protein makanan tergantung pada beberapa faktor seperti predisposisi genetik, paparan dini pada protein alergenik (waktu, dosis dan frekwensi). Makanan tambahan seharusnya tak diberikan pada bayi sehingga usia 5 bulan.29 Pada penelitian ini didapati 11 anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen kacang mete dan 10 anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap nanas yang mempunyai hubungan bermakna dengan jenis diet masa bayi (p= 0,035) dan (p= 0,02).
mempengaruhi perkembangan imunofisiologis yang memperberat risiko timbulnya penyakit.Dikutip dari 39
Pada penelitian ini didapati 12 anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen serbuk sari jagung yang mempunyai hubungan bermakna dengan cara persalinan (p= 0,020).
Terdapat beberapa mekanisma yang diharapkan dapat menjelaskan bagaimana vaksin mungkin dapat menyebabkan alergi atau penyakit autoimun. Namun vaksin kemungkinan lebih cenderung mencegah atau memodifikasi daripada menimbulkan penyakit autoimun.40 Pada penelitian ini didapati 12 anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen tungau yang mempunyai hubungan bermakna dengan status imunisasi dasar (p= 0,042).
Bagaimana janin in utero dapat terpapar oleh alergen hirup juga apa yang menyebabkan respons imun ini berkembang menjadi bersifat normal, protektif atau mengarah pada sensitisasi dan alergi di masa depan masih belum terjawab.38
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Hasil uji cungkit kulit terhadap alergen susu sapi pada anak usia prasekolah mempunyai hubungan bermakna dengan risiko atopi keluarga dan riwayat klinis atopi. Sedangkan anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen daging ayam mempunyai hubungan bermakna dengan urutan kelahiran. Dan anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen kacang mete dan nanas mempunyai hubungan bermakna dengan jenis diet masa bayi.
Pada uji dengan menggunakan alergen hirup, anak dengan hasil uji cungkit kulit positif terhadap alergen serbuk sari jagung dan alergen tungau mempunyai hubungan bermakna dengan cara persalinan.
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
1. Lasley MV, Shapiro GG. Testing for allergy. Pediatr. Rev. 2000;21;39-43.Diunduh dari http://pedsinreview.aappublications.org. Diakses pada September 2008
2. James TLI. Allergy testing. Am Fam Physician 2002;66:621-4. Diunduh dari: www.aafp.org/afp
3. Kang LRC. Specific IgE testing: Objective laboratory evidence supports allergy diagnosis and treatment. Diunduh dari: www.mlo-online.com. Diakses pada December 2007
4. Bock SA. Diagnostic evaluation. Pediatrics 2003:111; 1638-44. Diunduh dari: www.pediatrics.org. Diakses pada November 2005 5. Arvola T, Moilanen E, Vuento R, Isolauri E. Weaning to
hypoallergenic formula Improves gut barrier function in breast-fed infants with atopic eczema. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2004;38:92-96.
6. Edgar JDM. Allergy. Dalam: Immunology a core text with self-assessment. Elsevier Churchill Livingstone. Toronto;2006. h.71 – 82.
7. MacKay RI, Rosen FS. Allergy and allergic diseases. N Engl J Med. 2001;344:30 – 7. Diunduh dari: www.nejm.org.
8. Prescott SL, Tang MLK. The Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy position statement : summary of allergy prevention in children. MJA. 2005;182:464-67. Diunduh dari: http://www.allergy.org.au/pospapers/Allergy_prevention.htm
9. Holgate ST, Lack G. Improving the management of atopic disease. Arch Dis Child. 2005;90:826-31. Diunduh dari: adc.bmj.com. Diakses pada Agustus 2007
10. Businco L, Bruno G,Giampietro PG. Soy protein for the prevention and treatment of children with cow-milk allergy. Am J Clin Nutr 1998;68:1447S–52S. Diunduh dari: www.ajcn.org. Diakses pada Juli 2006
11. Kang LRC. Specific IgE testing: The progression of allergic disease. Diunduh dari: www. mlo-online.com. Diakses pada Desember 2007 12. Terr AI. Atopic diseases. Dalam: Parslow TG, Stites DP, Terr AI,
Imboden JB, penyunting. Medical immunology. Edisi ke-10. New York. Lange; h. 349 – 55.
prophylaxis. Arch Dis Child 1997;77:4-10. Diunduh dari: adc.bmjjournals.com. Diakses pada Desember 2005
14. Han YS, Park HY, Ahn KM, Lee JS, Choi HM, Lee SL. Short-term effect of partially hydrolyzed formula on the prevention of development of atopic dermatitis in infant at high risk. J Korean Med Sci. 2003;18:547-51.
15. Wolf RL.Food Allergy. Dalam: Essential pediatric allergy, asthma, and immunology. New York: Mc Graw-Hill; 2004. h. 37 – 49.
16. Kabondo NW, Sterne JAC, Golding J, Kennedy CTC, Archer CB, Dunnill MGS. Association of parental aczema, hayfever and asthma with atopic dermatitis in infancy : birth cohort study. Arch Dis Child. 2004;89:917-21. Diunduh dari: adc.bmjjournals.com. Diakses pada November 2005
17. Weinberg EG. The atopic march. Current allergy & clinical immunology 2005;18:4-5.
18. Crittenden RG, Bennett LE. Cow’s milk allergy: A complex disorder. Journal of the American college of nutrition 2005:24;582S–591s
19. O’Brien RM. Skin prick testing and in vitro assays for allergic sensitivity. Aust Prescr 2002;25:91–3.
20. Cantani A, Micera M. The prick by prick test is safe and reliable in 58 children with atopic dermatitis and food allergy.Eur Rev Med Pharmacol Sci 2006; 10:115-120.
21. Zeiger RS. Food allergen avoidance in the prevention of food Allergy in Infants and Children. Pediatrics 2003;111:1662-71. Diunduh dari: www.pediatrics.org. Diakses pada Desember 2005
22. Ghrahani R, Setiabudiawan B, Soepriadi M, Kartasasmita CB. Gambaran hasil uji cungkit kulit pada anak dengan dan tanpa riwayat atopi pada keluarga. Dibawakan pada PIT IKA III IDAI,Yogyakarta , 6- 9 Mei, 2007.
23. Martin IR, Crane J. To skin prick test or not to skin prick test – this is the question. NZMJ 2002; 115:1-6. Diunduh dari: http://www.nzma.org.nz/journal/
24. Sampson HA, Sicherer SH, Birnbaum AH. American gastroenterological association: AGA technical review on the evaluation of food allergy in gastrointestinal disorders. Gast 2001;120:1026–1040.
25. Liccardi G, D’Amato G, Canonica GW, Salzillo A, Piccolo A, Passalacqua G. Systemic reactions from skin testing: literature review. J Investig Allergol Clin Immunol 2006;16:75-78. Diakses pada 26 Mei 2006
27. Nafstad P, Brunekreef B, Skrondal A, Nystad W. Early respiratory infections, asthma, and allergy:10-Year follow-up of the Oslo birth cohort. Pediatrics 2005;116:255-62. Diunduh dari: http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/116/2/e255
28. Burks W. Skin manifestations of food allergy. Pediatrics 2003;111;1617-1624. Diunduh dari: www.pediatrics.org. Diakses pada Oktober 2005
29. Host A, Koletzko B, Dreborg S, Muraro A,Wahn U, Agget P et al . Dietary products used in infants for treatment and prevention of food allergy. Arch Dis Child .1999;81:80–84.
30. Ashcroft DM ,Dimmock P,Garside R, Stein K, Williams HC. Efficacy and tolerability of topical pimecrolimus and tacrolimus in the treatment of atopic dermatitis: meta-analysis of randomised controlled trials. BMJ 2005;330;516-25. Diunduh dari: bmj.com. Diakses pada Juli 2005
31. Sicherer SH. Manifestation of food allergy : Evaluation and management. AAFP1999;59:3- 9.
32. Munasir Z, Siregar SP. Pentingnya pencegahan dini dan tatalaksana alergi susu sapi. Dibawakan pada Workshop & Symposium, New Trend in Management of Pediatric Problems 2008, Medan,14-18 Januari, 2008.
33. Sampson HA, Sicherer SH, Birnbaum AH. American gastroenterological association medical position statement: Guidelines for the evaluation of food allergies .Gast 2001;120:1023– 1025
34. de Jong MH, Scharp vander Linden VTM, Aalberse RC, Oosting J, Tijssen JGP, de Groot CJ. Randomised controlled trial of brief neonatal exposure to cows’ milk on the development of atopy. Arch Dis Child. 1998;79:126- 30.
35. Macdonald C, Sternberg A, Hunter PR. A systematic review and meta-analysis of interventions used to reduce exposure to house dust and their effect on the development and severity of asthma. environ health perspect 2007;115:1691–1695. Diunduh dari: http://dx.doi.org. Diakses pada September 2007
36. Madiyono B, Moeslichan MS, Satroasmoro S, Budiman I, Purwanto SH. Perkiraan besar sampel. Dalam: Sastroasmoro S, Ismael S, penyunting. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis.edisi ke2. Jakarta: Sagung Seto;2002.h.259-86
38. Björkstén B. Perinatal events in relation to sensitization in the human. Am J Respir Crit Care Med 2000;162:105–7. Diunduh dari: www.atsjournals.org
39. Salminen S, Gibson G R, McCartney A L. Influence of mode of delivery on gut microbiota composition in seven year old children. Gut 2004;53:1386–90. Diunduh dari: www.gutjnl.com
RINGKASAN
Seseorang penderita atopi mempunyai predisposisi herediter untuk
memproduksi antibodi IgE terhadap alergen lingkungan sehari-hari dan dapat
memiliki satu atau lebih manifestasi klinis atopi seperti rinitis alergika, asma,
eksim atopi. Namun kelainan atopi tersebut dapat juga bersifat asimtomatis.
Didapati peningkatan prevalensi atopi di seluruh dunia yang dikaitkan dengan
terjadinya deviasi respons imun
Perjalanan alamiah manifestasi gejala alergi atau atopi biasanya akan
mengikuti pola tertentu yang disebut “atopic march” yang ditandai dengan
adanya tahapan gejala dan kondisi klinis khas yang muncul pada usia
tertentu dan dapat menetap hingga beberapa tahun. Pencegahan masih
merupakan pilihan utama untuk menghentikan laju proses atopi tersebut.
Kelainan atopi dapat didiagnosis dengan riwayat individual atau keluarga
yang dikonfirmasikan dengan adanya IgE alergen spesifik. Pemeriksaan uji
cungkit kulit merupakan pemeriksaan in vivo terhadap sensitisasi alergen
yang baik pada anak dengan akurasi yang baik, murah dan kurang
menimbulkan rasa sakit.
Penelitian ini adalah studi analitik dengan metoda potong-lintang yang
bertujuan untuk mengetahui hubungan atopi pada orang tua dan manifestasi
hasil uji cungkit kulit anak yang dilaksanakan pada tiga buah Kelompok
Bermain dan Taman Kanak-kanak, yaitu TK Al Azhar, TK Dhuafa dan TK
Dharma Asih yang terletak di kota Medan ibukota propinsi Sumatera Utara,
pada tanggal 24 sampai 28 Maret 2008, dengan protokol penelitian yang
disetujui oleh Komite Etik FK USU .
Populasi penelitian adalah siswa - siswi Taman Kanak-kanak dan
Kelompok Bermain yang berusia 3 sampai 6 tahun.
Dari 74 anak, didapati 8 orang pada kelompok dengan hasil uji cungkit
kulit positif terhadap alergen susu sapi mempunyai hubungan bermakna
dengan risiko atopi keluarga dan riwayat klinis atopi. Maka dapat disimpulkan
uji cungkit kulit sangat berguna untuk menguji-tapis, terutama pada anak
dengan risiko atopi yang tinggi, untuk mengetahui dan menghindari alergen
terkait, sebagai suatu usaha untuk memperbaiki prognosis jangka panjang
SUMMARY
An atopy individual has had a hereditary predisposition to continously
producing the IgE antibodies against daily common environmental allergens.
Those persons would also tends to having one or more clinical atopic
manifestations such as rhinitis allergic, asthma and or the atopic eczema.
But these atopic state could also present as an asymptomatic one. It has
been noted that there were increasing trend in atopy prevalence all over the
world, that has been related to so-called immune respons deviations.
The nature of the allergic symptom manifestations generally would
follows certain path, the atopic march, that characterized by the sequences of
symptoms and certain clinical conditions that shows up on certain age and
could be persists for years. Preventional measures still be a first line measure
in order to interfere the progressions of the atopic process.
The atopic disease could be diagnosed by individual or familial history
that been confirmed with the present of specific IgE antibodies. The skin prick
test is an in vivo test on allergen sensitizations that suitable for children,
having a good accuracy, cheap and causing less pain.
This analytic cross-sectional study was aimed to determine the
relationship between the parental atopic state and their children clinical atopy
by their skin prick test results. The study was held in three kindergarten and
play groups; the TK Al Azhar, TK Dhuafa and TK Dharma Asih, which each
was situated downtown the city of Medan, the capital city of Sumatera Utara
province, on March 24th till 28th Maret 2008. The study protocols was
approved by the Ethical board of Medical School of Universitas Sumatera
Utara.
The study sample were 74 students of those schools, whose age were
ranged from 3 to 6 years old by the time.
There were 8 children in the group whose had possitive results on cow’s
milk allergen whose also had a significant relation to their familial atopic
history and clinical symptoms of atopy.
So the study has concluded that the skin prick test was having a great
value to screen up the population, especially on the high risk children for
atopy, to determine and then avoid the related allergens, in attemp to
promote best long term prognosis and to stop the progression of atopic
Lampiran 1
Surat Pernyataan Kesediaan Ikut Penelitian
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ...
Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan
Umur : ...Tahun...Bulan
Alamat : ...
Setelah mempelajari dan mendapat penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai
penelitian dengan judul: Uji Cungkit ( Cungkit ) Kulit Pada Anak Kelompok Bermain
dan Taman Kanak- kanak Dengan atau Tanpa Riwayat Atopi, dan setelah
mengetahui dan menyadari sepenuhnya risiko yang mungkin terjadi, dengan ini saya
menyatakan bahwa saya mengijinkan dengan rela anak saya menjadi subjek
penelitian tersebut dengan catatan sewaktu-waktu bisa mengundurkan diri apabila
merasa tidak mampu mengikuti penelitian ini.
Dengan pernyataan ini diperbuat dengan sebenarnya dengan penuh
kesadaran dan tanpa paksaan dari siapapun juga.
Medan, ...2008
Yang membuat pernyataan Pimpinan Penelitian
(...)
Saksi (dr.Rudy)
4. SLTA [ ] [ ]
5. Perguruan Tinggi [ ] [ ]
Pekerjaan
1. Wiraswasta [ ] [ ]
2. Buruh / Tani [ ] [ ]
3. Pegawai Negeri [ ] [ ]
4. Pegawai swasta [ ] [ ]
5. TNI / POLRI [ ] [ ]
6. Profesional [ ] [ ]
Lampiran 3
1. Risiko Atopi (Trace card- UKK Alergi – Imunologi IDAI)
Berikan nilai terhadap semua anggota keluarga dengan tanda-tanda alergi :Dermatitis/ Eksim/ Kemerahan/ Diare/ Muntah/ Kolik/ Pilek/ Nafas berbunyi/ Asma sesuai dengan petunjuk berikut :
Nilai Kondisi
2 ibu, bapak dan/atau salah satu saudara sekandung anak yang dinyatakan terkena alergi
1 ibu, bapak dan/atau salah satu saudara sekandung anak diduga terkena alergi
0 ibu, bapak dan/atau salah satu saudara sekandung anak tanpa riwayat alergi apapun
Jumlahkan nilai tersebut, kemudian gunakan tabel di bawah ini untuk memeriksa tingkat risiko alergi: (berilah tanda pada kolom yang sesuai)
Keluarga Dinyatakan Diduga Tanpa riwayat NILAI
Ibu
Bapak
Saudara Sekandung
Tabel 1.
Nilai keluarga yang diprediksikan digunakan untuk menentukan kemungkinan terkena alergi
Nilai Keluarga Tingkat Risiko terkena alergi 0 Diadaptasi dari M Yadav, Causal Triggers of Allergy & Asthma, 2004
2. Hasil Uji Cungkit Kulit
Alergen makanan Positif Negatif
19 Gandum
- Rinitis alergi :
• Pernahkah anak Bapak / Ibu mengalami pilek, hidung berair , tersumbat atau perasaan gatal di hidung atau mata yang terjadi terutama pada saat malam atau pagi hari? ( ya / tidak )
- jika ya , mulai usia...tahun / bulan, sampai usia...tahun / bulan
• MP ASI ...( ya / tidak ) - mulai usia...tahun / bulan
5. Penggunaan obat-obatan :
Lampiran 4
LEMBAR PENJELASAN KEPADA SUBJEK PENELITIAN
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Bersama ini saya akan memberi sedikit keterangan kepada ibu/bapak.
Asma dan penyakit alergi lainnya telah menjadi suatu penyakit yang umum yang cenderung meningkat. Peningkatan insiden pada beberapa dekade terakhir ini dikaitkan dengan polusi udara dan terjadinya gangguan sistem kekebalan tubuh anak
Alergi adalah kelainan keturunan yang mempunyai gejala klinis seperti rinitis alergi (pilek) , asma (bengek) dan dermatitis atopi (ruam susu). Namun alergi dapat juga bersifat tanpa gejala. Anak yang lahir dari keluarga dengan riwayat alergi pada kedua orang tua mempunyai risiko hingga 50 - 80% untuk terkena penyakit alergi dibanding dengan anak tanpa riwayat keluarga ( risiko hanya sebesar 20%). Risiko akan jadi lebih tinggi jika penyakit alergi diderita oleh ibu dibanding ayah.
Guna mengurangi keparahan penyakit alergi pada anak , zat-zat / bahan yang disangkakan dapat menimbulkan penyakit tersebut harus dihindari
Awalnya saya akan melakukan pemeriksaan fisik berupa berat badan (BB), tinggi badan (TB) yang kemudian dilanjutkan dengan meneteskan sejumlah kecil bahan / zat yang dicurigai sebagai penyebab alergi tersebut lalu di tekankan dengan alat khusus pada kulit lengan bawah.
Jika bahan / zat tersebut adalah zat yang berpotensi menyebabkan alergi pada putra / putri Bapak / Ibu maka pada tempat yang diberi bahan tersebut akan muncul bengkak ringan yang berwarna kemerahan seperti digigit nyamuk dalam waktu hanya 15 menit ,yang akan segera menghilang dalam waktu 1 hari. Selanjutnya bahan / zat tersebut harus dihindari untuk mencegah terjadinya penyakit-penyakit alergi .
Agar hasil pemeriksaan ini tidak terganggu oleh obat-obatan maka tiga hari sebelum pemeriksaan sampai hari pelaksanaan diharapkan putra / putri Bapak / Ibu tidak mengkonsumsi obat / jamu-jamuan apapun juga.
Jika dari pemeriksaan tersebut terdapat keluhan berkelanjutan pada putra / putri Bapak / Ibu, silahkan menghubungi :
dr. Rudy (HP: 0811619332) dr. Rita Evalina, SpA (HP : 08163131981) dr. Lily Irsa, SpA K (HP : 0811636456)
Demikian informasi ini kami sampaikan. Atas bantuan dan partisipasinya, kami ucapkan terimakasih.
Wassalam,
Lampiran 4
RIWAYAT HIDUP
Sekolah Dasar di SD St Joseph, Medan, tamat tahun 1984 ,
Atas di SMA St Thomas I Medan, tamat Tanggal lahir : 23 Okt
2. Sekolah Menegah Pertama di SMP St Thomas I Medan tamat tahun 1987
4. Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia, Medan, tamat tahun 2002
Riwayat Pekerjaan : -
Pendidikan Spesialis