EFEKTIVITAS MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN
KAMPOENG WISATA CINANGNENG
ANNISA AMALIA IKHSANIA
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Efektivitas Media Komunikasi Pemasaran Kampoeng Wisata Cinangneng adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi berasal atau dikutip dari karya yang telah diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis ini kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Mei 2015
Annisa Amalia Ikhsania
ABSTRAK
ANNISA AMALIA IKHSANIA. Efektivitas Media Komunikasi Pemasaran
Kampoeng Wisata Cinangneng. Dibimbing oleh YATRI INDAH KUSUMASTUTI Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan agrowisata. Salah satu pengembangan agrowisata yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat adalah Kampoeng Wisata Cinangneng. Semakin banyaknya perusahaan agrowisata, membuat setiap pengelola agrowisata berusaha memperkenalkan keunggulan serta keunikan untuk mempertahankan eksistensi melalui media komunikasi pemasaran. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik wisatawan dan keterdedahan media komunikasi pemasaran; menganalisis efektivitas media komunikasi pemasaran; menganalisis hubungan karakteristik wisatawan dan keterdedahan media komunikasi pemasaran dengan efektivitas media komunikasi pemasaran. Metode penelitian yang digunakan ialah penelitian kuantitatif yang didukung dengan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik wisatawan dengan efektivitas media komunikasi pemasaran pada tingkat kognisi dan tingkat konasi serta ragam media sumber informasi dan frekuensi penerimaan pesan dengan tingkat kognisi.
Kata kunci: agrowisata, efektivitas, media komunikasi pemasaran
ABSTRACT
ANNISA AMALIA IKHSANIA. Effectiveness of Marketing Communication
Media Kampoeng Wisata Cinangneng. Supervised by YATRI INDAH KUSUMASTUTI
Indonesia has a great potential to develop agrotourism. Agrotourism which is using community based tourism is Kampoeng Wisata Cinangneng. Increasing number of companies of agrotourism make every manager trying to introduce the excellence and to maintain the existence of other agrotourism company through marketing communication media. The purpose of this study was to identify the characteristics of tourists and media exposed of marketing communication media; analyze the effectiveness of marketing communication media; analyze the relationship between the characteristics of tourists and media exposed of marketing communication media to the effectiveness of marketing communication media. This study combined quantititve approach and supported by qualitative data. The results showed the relationship between characteristics of tourists and effectiveness of marketing communication media on aspect of cognitive and conative, also the relationship between variety of media resources and receipt of message frequency with effectiveness of marketing communication media on aspect of cognitive.
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Pada
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
EFEKTIVITAS MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN
KAMPOENG WISATA CINANGNENG
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
2015
Judul Skripsi : Efektivitas Media Komunikasi Pemasaran Kampoeng Wisata Cinangneng
Nama Mahasiswa : Annisa Amalia Ikhsania
NIM : I34110138
Disetujui oleh
Ir Yatri Indah Kusumastuti MSi Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir Siti Amanah MSc Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Efektivitas Media Komunikasi Pemasaran Kampoeng Wisata Cinangneng” ini dengan baik.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Ibu Ir Yatri Indah Kusumastuti Msi sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama proses penulisan hingga penyelesaian laporan skripsi ini. Penulis juga menyampaikan hormat dan rasa terimakasih kepada orang tua tercinta, Bapak Dr Ir Tri Prartono MSc dan Ibu Yenny Sri Relawati yang selalu mendoakan dan senantiasa melimpahkan kasih sayang serta dukungannya kepada penulis serta Aisya Zainurahmalia selaku adik yang selalu menyemangati dan mendoakan penulis. Selain itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak Kampoeng Wisata Cinangneng, khususnya kepada Ibu Hester Basoeki, Pak Roy, dan Mbak Risa Maria yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di lokasi Kampoeng Wisata Cinangneng serta membantu penulis selama proses pengambilan data. Kemudian, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Tiffany Diahnisa, Iradhatie Wurinanda, Gina Sutanti, Yunizar Sri Wulandari, Cynda Adissa Lianita, Desi Rosita, Riski Bayuni Sagala, dan Dara Fegy Pratiwi yang telah memberi masukan, semangat, dan dorongan kepada penulis selama proses penulisan skripsi ini. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada teman-teman seperjuangan SKPM 48 atas kebersamaannya dan kesediaannya berbagi pengalaman dan memberikan saran-saran dalam penulisan skripsi ini.
Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Mei 2015
DAFTAR ISI
TINJAUAN PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined. Tinjauan Pustaka 5 Komunikasi Pemasaran... 5Media Komunikasi Pemasaran ... 6
Efektivitas Media Komunikasi Pemasaran ... 10
Agrowisata ... 11 Teknik Pemilihan Responden dan Informan 21 Teknik Pengumpulan Data 22 Teknik Pengolahan dan Analisis Data 22 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 25
Sejarah Kampoeng Wisata Cinangneng 25 Lokasi Kampoeng Wisata Cinangneng 26 Pelibatan Masyarakat Sekitar Kampoeng Wisata Cinangneng 26 Visi, Misi, dan Tujuan Kampoeng Wisata Cinangneng 26 Fasilitas Wisata di Kampoeng Wisata Cinangneng 27 Kegiatan Wisata di Kampoeng Wisata Cinangneng 28 MEDIA KOMUNIKASI PEMASARANKAMPOENG WISATA KARAKTERISTIK WISATAWAN KAMPOENG WISATA CINANGNENG . 37 Usia 37 Jenis Pekerjaan 38 Tingkat Pendidikan 38 Ragam Tujuan Kunjungan 39 Jenis Jangkauan Geografis 41 Keterdedahan Media Komunikasi PemasaranKampoeng Wisata Cinangneng .... 42
Frekuensi Penerimaan Pesan 46 EFEKTIVITAS MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN KAMPOENG
WISATA CINANGNENG ... 47
Tingkat Kognisi 47
Tingkat Afeksi 48
Tingkat Konasi 49
HUBUNGAN KARAKTERISTIK WISATAWAN DENGAN EFEKTIVITAS MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN ... 51
Hubungan Usia dengan Tingkat Kognisi 51
Hubungan Usia dengan Tingkat Afeksi 52
Hubungan Usia dengan Tingkat Konasi 53
Hubungan Jenis Pekerjaan dengan Tingkat Kognisi 54 Hubungan Jenis Pekerjaan dengan Tingkat Afeksi 54 Hubungan Jenis Pekerjaan dengan Tingkat Konasi 55 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Kognisi 55 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Afeksi 56 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Konasi 57 Hubungan Ragam Tujuan Kunjungan dengan Tingkat Kognisi 57 Hubungan Ragam Tujuan Kunjungan dengan Tingkat Afeksi 58 Hubungan Ragam Tujuan Kunjungan dengan Tingkat Konasi 58 Hubungan Jenis Jangkauan Geografis dengan Tingkat Kognisi 59 Hubungan Jenis Jangkauan Geografis dengan Tingkat Afeksi 59 Hubungan Jenis Jangkauan Geografis dengan Tingkat Konasi 60 HUBUNGAN KETERDEDAHAN MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN DENGAN EFEKTIVITAS MEDIA KOMUNIKASI PEMASARAN ... 61
Hubungan Ragam Media Sumber Informasi dengan Tingkat Kognisi 61 Hubungan Ragam Media Sumber Informasi dengan Tingkat Afeksi 62 Hubungan Ragam Media Sumber Informasi dengan Tingkat Konasi 62 Hubungan Frekuensi Penerimaan Pesan dengan Tingkat Kognisi 63 Hubungan Frekuensi Penerimaan Pesan dengan Tingkat Afeksi 64 Hubungan Frekuensi Penerimaan Pesan dengan Tingkat Konasi 64 PENUTUP ... 65
Simpulan 65
Saran 66
DAFTAR TABEL
1 Profil jenis media utama 7
2 Daftar paket dan kegiatan satu hari di Kampoeng Wisata Cinangneng 29 3 Daftar paket dan kegiatan menginap di Kampoeng Wisata Cinangneng 30 4 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan kategori usia 37
5 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan kategori jenis pekerjaan 38
6 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan kategori tingkat pendidikan 39
7 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan kategori ragam tujuan kunjungan 40
8 Jumlah dan presentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan jenis jangkauan geografis 41
9 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan ragam media sumber informasi 42
10 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan frekuensi penerimaan pesan 46
11 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan tingkat kognisi responden 47
12 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan tingkat afeksi responden 48
13 Jumlah dan persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng
berdasarkan tingkat konasi responden 49
14 Nilai koefisiensi korelasi dan signifikansi antara karakteristik wisatawan
dengan efektivitas media komunikasi pemasaran 51
15 Nilai koefisiensi korelasi dan signifikansi antara keterdedahan media
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
1 Kerangka pemikiran 16
2 Situs website Kampoeng Wisata Cinangneng 32
3 Leaflet Kampoeng Wisata Cinangneng 33
4 Papan reklame Kampoeng Wisata Cinangneng 35
5 Persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng terhadap ragam
tujuan kunjungan 41
6 Persentase responden Kampoeng Wisata Cinangneng terhadap ragam
media sumber informasi 43
1 Denah lokasi penelitian 70
2 Jadwal kegiatan penelitian 71
3 Daftar responden 72
4 Dokumentasi penelitian 74
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) yang sangat beragam yang jika dikelola dengan tepat, keanekaragaman hayati tersebut mampu menjadi andalan perekonomian nasional. Didukung dengan posisi geografis di khatulistiwa serta kondisi alam, hayati, dan budaya yang beragam menjadikan Indonesia sebagai potensi besar untuk mengembangkan pariwisata. Pariwisata menjadi salah satu sektor penting dalam upaya pembangunan ekonomi suatu negara. Usaha mengembangkan dunia pariwisata, didukung dengan UU Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan yang menyebutkan bahwa keberadaan obyek wisata pada suatu daerah akan sangat menguntungkan, antara lain meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatnya taraf hidup masyarakat dan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan rasa cinta lingkungan serta melestarikan alam dan budaya setempat (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia 2011). Data perkembangan pariwisata menunjukkan perkembangan jumlah pemasukan perjalanan wisata nusantara sejak tahun 2009 hingga 2013 meningkat 39.93 triliun (Pusdatin Kemenparekraf).
sehingga dapat mengetahui dan mendapat pengalaman intelektual dan budaya setempat.
Salah satu agrowisata yang melakukan pendekatan pemberdayaan masyarakat (community based tourism) adalah Kampoeng Wisata Cinangneng. Kampoeng Wisata Cinangneng banyak dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Agrowisata ini terletak di Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Kampoeng Wisata Cinangneng melakukan pengembangan wisata pedesaan dengan melibatkan masyarakat sekitar sebagai upaya memberdayakan pariwisata berbasis masyarakat yang tidak hanya menawarkan pemandangan indah khas suasana pedesaan. Namun, Kampoeng Wisata Cinangneng juga menawarkan berbagai fasilitas dan kegiatan wisata, seperti pengenalan seni budaya tradisional, berkeliling ke industri rumah tangga (tour home industry), dan wisata edukasi pertanian melalui praktik langsung.
Semakin banyaknya perusahaan agrowisata, membuat setiap pengelola agrowisata berusaha memperkenalkan keunggulan serta keunikan untuk mempertahankan eksistensi di tengah persaingan ketat perusahaan agrowisata lainnya. Komunikasi pemasaran merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh pengelola Kampoeng Wisata Cinangneng untuk memperkenalkan keunggulan dan keunikan tersebut kepada khalayak. Komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, memengaruhi/membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan atas perusahaan yang bersangkutan (Tjiptono 2008).
Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik wisatawan dan keterdedahan media komunikasi pemasaran Kampoeng Wisata Cinangneng?
2. Bagaimana efektivitas media komunikasi pemasaran dilihat dari tingkat kognisi, afeksi, dan konasi?
3. Bagaimana hubungan karakteristik wisatawan dengan efektivitas media komunikasi pemasaran?
4. Bagaimana hubungan keterdedahan media komunikasi pemasaran dengan efektivitas media komunikasi pemasaran?
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi karakteristik wisatawan dan keterdedahan media komunikasi pemasaran Kampoeng Wisata Cinangneng.
2. Menganalisis efektivitas media komunikasi pemasaran dilihat dari tingkat kognisi, afeksi, dan konasi.
3. Menganalisis hubungan karakteristik wisatawan dengan efektivitas media komunikasi pemasaran.
4. Menganalisis hubungan keterdedahan media komunikasi pemasaran dengan efektivitas media komunikasi pemasaran.
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak, yaitu: 1. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan
memperkaya literatur penelitian-penelitian selanjutnya yang sejenis. Peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan dari penelitian ini.
2. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat untuk lebih mengenal produk dan program-program pelatihan yang ditawarkan oleh perusahaan agrowisata.
PENDEKATAN TEORITIS
Tinjauan Pustaka
Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan atas perusahaan yang bersangkutan (Tjiptono 2008). Sementara, Kotler dan Keller (2009) menyatakan bahwa komunikasi pemasaran adalah sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan khalayak secara langsung maupun tidak langsung mengenai produk yang ditawarkan. Kennedy dan Soemanegara (2006) seperti dikutip oleh Kusumastuti (2009) mengemukakan komunikasi pemasaran adalah aplikasi komunikasi yang bertujuan untuk membantu kegiatan pemasaran sebuah perusahaan. Aplikasi itu sangat dipengaruhi oleh berbagai bentuk media yang digunakan, daya tarik pesan, dan frekuensi penyajian. Terdapat tiga unsur pokok dalam model komunikasi pemasaran menurut Tjiptono (2008). Unsur tersebut meliputi:
1. Pelaku komunikasi, yaitu terdiri atas pengirim (sender) atau komunikator yang menyampaikan pesan dan penerima (receiver) atau komunikasi pesan. Pengirim (sender) dalam kegiatan pemasaran berarti pihak yang mengirim pesan pemasaran kepada konsumen (receiver).
2. Material komunikasi, yaitu gagasan, pesan, media, response, feed back, dan gangguan. Material komunikasi tersebut dianggap penting dalam berlangsungnya proses komunikasi pemasaran.
3. Proses komunikasi pemasaran, dalam proses penyampaian pesan maupun pengiriman kembali respon memerlukan dua kegiatan, yaitu encoding (fungsi mengirim) dan decoding (fungsi menerima). Encoding adalah proses merancang atau mengubah gagasan secara simbolik menjadi suatu pesan untuk disampaikan kepada penerima. Pada proses tersebut pemasar menentukan bagaimana pesan pemasaran dapat dikemas dengan baik sehingga khalayak atau konsumen dapat memahami dan merespon secara positif pesan tersebut. Sementara, decoding adalah proses menguraikan atau mengartikan simbol sehingga pesan yang diterima dapat dipahami oleh khalayak. Pada proses tersebut pesan pemasaran yang disampaikan melalui media yang akan diterima oleh khalayak atau konsumen, konsumen akan memberikan respon terhadap pesan yang disampaikan.
Peran komunikasi dalam komunikasi pemasaran menurut Kusumastuti (2009), yaitu:
1. Memberi informasi atau pesan dan membuat konsumen menyadari keberadaan produk yang ditawarkan;
2. Meningkatkan konsumen tentang keberadaan produk;
4. Menunjukkan perbedaan produk yang ditawarkan oleh suatu perusahaan dengan perusahaan lain;
5. Menghantarkan nilai-nilai sosial pada masyarakat.
Menurut Tijptono (2008) komunikasi pemasaran meliputi tiga tujuan utama, yaitu untuk menyebarkan informasi (komunikasi informatif), mempengaruhi untuk melakukan pembelian atau menarik konsumen (komunikasi persuasif), dan mengingatkan khalayak untuk melakukan pembelian ulang (komunikasi mengingatkan kembali). Bentuk komunikasi pemasaran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dikenal dengan bauran promosi (promotional mix). Istilah bauran promosi digunakan untuk aktivitas pemasaran yang berhubungan dengan promosi. Terdapat lima jenis teknik yang dimaksud dengan bauran promosi, yaitu periklanan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat dan publisitas (public relations and publicity), dan pemasaran langsung (direct marketing) (Kusumastuti 2009).
Upaya komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh obyek agrowisata saat ini adalah melalui periklanan, personal selling, dan direct marketing. Namun, upaya komunikasi pemasaran tersebut dirasa masih belum efektif dilakukan karena belum menjangkau seluruh konsumen yang datang untuk berkunjung. Oleh karena itu, diperlukan upaya komunikasi pemasaran agrowisata yang lain untuk memperkenalkan kepada konsumen mengenai keunggulan dan keunikan yang ditawarkan oleh usaha agrowisata, salah satunya melalui media komunikasi pemasaran. Kegiatan komunikasi pemasaran agrowisata dilakukan dengan menekankan pada penyampaian pesan agar konsumen mengetahui keberadaan agrowisata yang dipasarkan tanpa adanya usaha mempersuasi untuk membeli, mengonsumsi, atau menerapkan, tetapi diharapkan dapat memicu adanya perubahan lainnya.
Media Komunikasi Pemasaran
Media merupakan suatu alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak (Shimp 2003). Tanpa media, pesan tidak akan sampai pada kelompok audiens yang diinginkan. Pemasar menggunakan berbagai macam media untuk menginformasikan produknya kepada khalayak, pada intinya proses ini merupakan proses komunikasi, yaitu adanya penyampaian pesan dari suatu sumber melalui suatu medium (media) kepada penerima. Untuk mencapai sasaran komunikasi dapat memilih salah satu atau gabungan dari beberapa media, bergantung pada tujuan yang akan dicapai, pesan yang akan disampaikan, dan teknik yang akan dipergunakan. Pemilihan media yang tepat akan sangat menentukan pesan yang ingin disampaikan pada kelompok sasaran akan sampai atau tidak.
media elektronik, media cetak, dan media luar ruang (Tjiptono 2008). Menurut Morrisan (2010) terdapat suatu metode yang mendunia untuk saling tukar menukar informasi dan berkomunikasi melalui komputer yang saling terkoneksi disebut internet. Kemudian, Yassiranda (2011) mengemukakan bahwa word of mouth juga termasuk dalam kegiatan media komunikasi pemasaran.
Setiap media memiliki keunggulan dan keterbatasannya masing-masing. Pengelola perusahaan berusaha untuk memilih media yang karakteristiknya paling cocok dengan merek yang diiklankan untuk mencapai khalayak sasarannya dan menyampaikan pesan yang dimaksud. Pengelola agrowisata menggunakan berbagai jenis media komunikasi dalam pemasarannya sebagai alat untuk memberi tahu, mempengaruhi, dan membujuk masyarakat luas agar mengunjungi tempat wisata dengan menikmati fasilitas dan kegiatan yang terdapat pada agrowisata tersebut.
Tabel 1 Profil jenis media utama
Sumber: Kotler dan Keller (2009)
Media Keunggulan Keterbatasan
Surat Kabar
Fleksibilitas; tepat waktu; cakupan pasar lokal yang baik; penerimaan luas; tingkat kepercayaan tinggi.
Umur pendek; kualitas reproduksi
buruk; pemirsa “yang-meneruskan
(pass-along)” sedikit.
Televisi
Menggabungkan pandangan, suara, dan gerakan; menarik pancaindra; perhatian tinggi; jangkauan tinggi.
Biaya absolut tinggi; kerumunan yang tinggi; paparan singkat; selektivitas pemirsa kurang. geografis dan demografis tinggi; biaya rendah.
Hanya presentasi audio; perhatian lebih rendah daripada televisi; struktur peringkat tidak terstandarisasi; paparan singkat.
Majalah
Selektivitas geografis dan demografis tinggi; kredibilitas dan gengsi; kualitas produksi tinggi; umur panjang; tingkat pembaca meneruskan (pass-along readership) yang baik.
Waktu tunggu/jeda iklan yang lama, ada sirkulasi buangan; tidak ada jaminan posisi.
Luar ruang Fleksibilitas; paparan ulang tinggi; biaya rendah; persaingan rendah. iklan yang panjang; keterbatasan kreatif.
Buletin Selektivitas sangat tinggi; kendali penuh; peluang interaktif; biaya relatif rendah.
Biaya bisa melambung tinggi.
Pamphlet Fleksibilitas; kendali penuh; dapat mendramatisasikan pesan.
Kelebihan produksi dapat menyebabkan biaya melambung tinggi.
Telepon Banyak pengguna; peluang untuk memberikan sentuhan pribadi.
Biaya relatif tinggi, kecuali menggunakan sukarelawan.
Internet Selektivitas tinggi; kemungkinan interaktif; biaya relatif rendah.
a. Media massa
Media massa terdiri atas media massa elektronik dan media cetak (Kusumastuti 2009). Menurut Tjiptono (2008) media elektronik merupakan salah satu ragam media yang disukai oleh khalayak baik dari sumber informasi dan desain pesan yang disampaikan. Media elektronik adalah media dengan teknologi elektronik dan hanya bisa digunakan bila ada jasa transmisi siaran. Contoh dari media elektronik adalah televisi dan radio. Kedua media tersebut telah menjadi media yang sangat penting dan dominan bagi pemasang iklan. Suatu perusahaan yang menggunakan media elektronik harus selalu inovatif dan kreatif dalam memasarkan produknya kepada khalayak. Media televisi memiliki keunggulan pada kekuatan informasi persuasi yang lebih sempurna karena televisi mampu menimbulkan pengaruh yang kuat dengan menekankan pada dua indera sekaligus, yaitu pendengaran dan penglihatan sehingga efek yang ditimbulkan lebih dahsyat baik yang positif maupun negatif. Selain televisi, radio, juga menjadi media yang penting. Sebagaimana televisi, para pendengar radio adalah khalayak yang penting bagi pemasar. Radio sangat bersifat personal, membiarkan imajinasi pendengar memainkan perannya (Shimp 2003). Sementara, media cetak merupakan media yang statis dan mengutamakan pesan-pesan dengan sejumlah kata, gambar, atau foto, baik dalam tata warna maupun hitam putih (Tjiptono 2008). Majalah dan koran saat ini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat (Morissan 2010). Majalah adalah media yang paling terspesialisasi dibandingkan media lainnya. Selain majalah, terdapat koran yang tidak saja digunakan oleh perusahaan besar atau pemasang iklan skala nasional untuk mempromosikan produknya, kebanyakan perusahaan kecil dan bahkan pengecer juga mengandalkan koran sebagai media untuk beriklan (Morissan 2010).
b. Media personal
Media personal merupakan media yang berisi informasi mengenai gambaran atau profil dari suatu perusahaan. Contoh dari media personal adalah katalog, profil korporat, dan folder (Kusumastuti 2009). Leaflet perusahaan termasuk dalam media personal karena menginformasikan gambaran atau profil dari suatu perusahaan.
c. Media luar ruang
Media luar ruang, yaitu media iklan (biasanya berukuran besar) yang dipasang di tempat-tempat terbuka, seperti di pinggir jalan, pusat keramaian, atau tempat-tempat khusus lainnya, seperti di dalam bus kota, gedung, pagar tembok, dan sebagainya (Tjiptono 2008). Media yang memanfaatkan ruang publik, antara lain poster, sticker, billboard, baliho, spanduk, umbul-umbul, balon raksasa, dan lain-lain. Kekuatan utama pada media ruang publik antara lain jangkauannya yang luas, penampilannya menarik, dan tingkat frekuensinya tinggi. Media ini sangat efektif untuk menjangkau semua segmen dari populasi, terlebih apabila diletakkan di lokasi strategis, seperti di daerah lalu lintas yang ramai (Shimp 2003).
d. Media internet
membangun hubungan merek yang lebih kuat dengan konsumen, karyawan serta berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya melalui komunikasi dua arah. Shimp (2003) mengatakan bahwa pemasar telah beralih ke internet sebagai calon media untuk mempromosikan merek mereka dan melakukan transaksi penjualan. Saat ini semakin banyak perusahaan dan konsumen yang menggunakan internet karena media ini relatif murah dan mudah digunakan. Internet merupakan jaringan global yang dapat menjadi media promosi efektif serta alat bantu pemasaran yang tangguh. Internet dioperasikan antara lain melalui aplikasi web atau website. Saat ini situs web di internet memberikan banyak keuntungan, diantaranya tidak saja menghemat waktu dan tempat tetapi juga biaya. Sebagian besar perusahaan, tak terkecuali perusahaan agrowisata, telah memiliki situs web atau website sebagai media komunikasi pemasaran. Dewasa ini, situs web telah dikelola dengan cara yang lebih jauh kreatif, tidak saja sekadar informasi tetapi juga didukung dengan berbagai fasilitas lain, seperti tampilan grafis, ruang dialog (chat rooms), suara (audio), animasi, video, dan bahkan transaksi penjualan barang dan jasa secara online (Morissan 2010). Media internet menjadi salah satu media yang dapat mempengaruhi pengunjung agrowisata. Beberapa ragam media komunikasi pemasaran melalui internet, selain website, situs jejaring sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dan MySpace), dan pemasaran viral (email, blog).
e. Media word of mouth
Menurut penelitian Yassiranda (2011) „word of mouth‟ juga termasuk dalam kegiatan media komunikasi pemasaran. Word of mouth merupakan bentuk promosi yang dilakukan oleh konsumen melalui perbincangan dengan konsumen lain dan tidak ada satupun dari mereka adalah pemasar (Kotler dan Keller 2009). Menurut Prisgunanto (2014) word of mouth atau disebut juga dengan komunikasi getok tular dapat diartikan dengan komunikasi desas-desus yang beredar dan muncul di antara para konsumen dan calon pembeli. Komunikasi getok tular (word of mouth) sedemikian handal dalam memasarkan dan mempromosikan produk atau jasa dari produsen kepada konsumen. Melalui komunikasi getok tular produsen merasa diuntungkan dengan beredarnya pembicaraan tentang produk sehingga produk atau jasa menjadi lebih bernilai dan berharga karena selentingan isu yang dibicarakan oleh konsumen. Bentuk komunikasi pemasaran ini dapat terjadi karena kesan mendalam konsumen terhadap produk atau perusahaan tertentu. Konsumen yang puas akan menyampaikan atau mempromosikan informasi yang ia ketahui tentang produk atau perusahaan kepada konsumen lainnya. Komunikasi pemasaran melalui word of mouth merupakan jenis komunikasi pemasaran yang ampuh, efektif, dan berbiaya paling murah. Walaupun tidak memerlukan biaya yang begitu besar, namun informasi dari mulut ke mulut mampu memberikan dampak yang besar bagi perusahaan.
khalayak dalam melihat suatu tayangan di media disebut dengan keterdedahan media. Keterdedahan media komunikasi pemasaran merupakan proses seseorang untuk mencari pesan yang dapat membantu untuk menentukan sikap. Keterdedahan dapat dilihat dari seberapa sering khalayak melihat tayangan pada suatu media (frekuensi) dan media apa yang digunakan. Morissan (2010) juga mengemukakan bahwa bauran media ditentukan melalui: 1) media apa yang akan digunakan dan 2) berapa banyak masing-masing media akan digunakan (frekuensi).
Upaya komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh pengelola agrowisata dalam mempromosikan keunggulan serta keunikan obyek wisatanya adalah melalui media internet, seperti website dan facebook, media cetak, seperti brosur dan surat kabar, media personal berupa leaflet, dan media ruang publik, seperti baliho, banner, dan billboard. Kemudian, diikuti oleh media massa, seperti radio dan televisi dan media komunikasi lisan (word of mouth). Media internet menjadi salah satu media yang dapat memengaruhi pengunjung agrowisata. Mengutip pendapat Permana (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Perancangan Media Promosi Wana Wisata Tanjung Papuma Jember, media internet dapat menjangkau banyak orang, lebih tersegmen, dapat diupdate dengan cepat, dan informasi yang disajikan lengkap.
Efektivitas Media Komunikasi Pemasaran
Kegiatan komunikasi pemasaran memerlukan suatu kegiatan komunikasi pemasaran yang efektif agar informasi yang disampaikan dapat tersampaikan dengan baik kepada khalayak. Komunikasi yang efektif dapat dilihat dari: kedekatannya dengan masyarakat, menyasar target audiens yang tepat, menggunakan media yang tepat sebagai perantara penyampai informasi ke masyarakat, dan memberikan tawaran yang menarik kepada masyarakat (Permana 2009). Menurut Kusumastuti (2009) strategi komunikasi pemasaran bertujuan untuk mencapai tiga tahap perubahan yang ditujukan bagi konsumen, dalam hal ini wisatawan. Tahap pertama adalah tahap pengetahuan, yaitu pengetahuan mengenai suatu produk wisata. Tahap kedua adalah tahap perubahan sikap yang ditentukan oleh tricomponent attitude changes; cognition (pengetahuan), affection (perasaan), dan conation (perilaku). Jika ketiga komponen ini telah terpenuhi, maka kemungkinan akan terjadi perubahan sikap. Pada tahap ketiga, yaitu tahap perubahan perilaku, dimaksudkan agar konsumen tidak beralih pada produk lain, dan terbiasa menggunakannya. Menurut Kotler dan Keller (2009) pengukuran hasil komunikasi pemasaran dapat dilihat dari dampak komunikasi pemasaran terhadap khalayak sasaran, seperti kesadaran khalayak terhadap pesan yang disampaikan, frekuensi khalayak menerima bentuk komunikasi pemasaran, dan perubahan sikap atau perilaku khalayak setelah menerima bentuk komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
iklan pada media dengan intensitas tinggi. Menurut Tjiptono (2008) terdapat tiga komponen yang menjadi efek atau respon konsumen, yaitu:
a. Efek kognitif adalah membentuk kesadaran informasi tertentu. Menurut Effendy (2002) dampak kognitif yang timbul pada komunikasi yang menyebabkan komunikan menjadi tahu atau meningkatkan intelektualitasnya. Pesan yang disampaikan komunikator ditujukan kepada pemikiran komunikan. Tujuan komunikator hanyalah berkisar pada upaya mengubah pikiran komunikan.
b. Efek afektif adalah memberikan pengaruh untuk melakukan sesuatu. Tujuan komunikator bukan hanya sekadar agar komunikan menjadi tahu, tetapi tergerak hatinya dan menimbulkan perasaan tertentu (Effendy 2000).
c. Efek konatif adalah membentuk pola khalayak menjadi perilaku selanjutnya. Efek pada konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu.
Menurut Effendy (2002) komunikasi dapat dikatakan efektif jika dapat menimbulkan dampak kognitif, yaitu meningkatkan pengetahuan komunikan, afektif, yaitu perubahan pandangan komunikan karena hatinya tergerak akibat komunikasi, dan behavioral, yaitu perubahan perilaku atau tindakan yang terjadi pada komunikasi. Selain itu, menurut Arindi (2012) efektivitas media komunikasi pemasaran dapat dilihat dari perilaku dan sikap konsumen mengenai produk yang dipasarkan. Jika iklan melalui media berhasil membujuk khalayak maka khalayak akan memiliki keinginan untuk mencari informasi mengenai produk yang dipasarkan tersebut sehingga aspek kognitif, afektif, dan konatif khalayak akan tinggi. Bermula dari individu yang mulai sadar akan sebuah obyek, kemudian memperoleh informasi dan membentuk kepercayaan mengenai kemampuan obyek tersebut. Setelah kepercayaan terbentuk, perasaan, dan evaluasi atas produk tersebut dikembangkan dan timbul suatu niat untuk mengikuti pesan dalam pemasaran tersebut atau tidak. Sebuah sikap, kemudian, terbentuk alur berpikir (kognitif), merasa (afektif), dan berperilaku (konatif). Jika iklan melalui media berhasil membujuk khalayak maka khalayak akan memiliki keinginan untuk mencari informasi mengenai produk yang dipasarkan tersebut sehingga aspek kognitif (pengetahuan), afektif (kesukaan), dan konatif (perilaku) khalayak akan tinggi.
Agrowisata
lokal (indigenous knowledge) yang umumnya telah sesuai dengan kondisi lingkungan alaminya (Departemen Pertanian 2005). Wisata agro bukan semata merupakan usaha atau bisnis di bidang jasa yang menjual jasa bagi pemenuhan konsumen akan pemandangan yang indah dan udara yang segar, namun juga dapat berperan sebagai media promosi produk pertanian serta media pendidikan bagi masyarakat.
Indonesia sebagai negara agraris memiliki keunggulan dan keunikan di sektor pertanian yang meliputi tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang luas dan tersebar di daerah-daerah yang dapat dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik agrowisata. Keunggulan agrowisata dibanding wisata lainnya, antara lain menambah pengetahuan, mempunyai keunikan dan kualitas, melibatkan masyarakat lokal, merupakan pasar hasil pertanian (agribisnis), dan mengembangkan wilayah. Agrowisata memiliki kajian sisi positif tersendiri dibandingkan wisata sejenis lainnya, diantaranya pengunjung dapat melestarikan sumberdaya alam, menikmati keindahan dan kesejukan alam, taman rekreasi, mencari pengetahuan dan pengalaman secara langsung, memiliki daya tarik berbeda mulai dari keindahan alamnya, nilai sejarahnya atau bahkan budayanya, serta memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk belajar kehidupan pertanian. Selain itu, agrowisata juga memberi peluang pengunjung untuk terlibat dalam aktivitas rekreasi pedesaan untuk memperluas pengetahuan pengunjung, pengalaman rekreasi, dan hubungan usaha di bidang agro. Menurut Aryanto (2006) terdapat karakteristik dan manfaat dari agrowisata. Karakteristik dari agrowisata meliputi: 1) tidak terpisah dari kegiatan penduduk lokal; 2) mendukung pertumbuhan ekonomi lokal; 3) memanfaatkan produk-produk lokal; dan 4) terlibat dalam aktivitas lokal. Sementara, manfaat adanya agrowisata, antara lain: meningkatkan konservasi lingkungan, meningkatkan nilai estetika dan keindahan alam, memberikan nilai rekreasi, meningkatkan kegiatan ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan, dan mendapatkan keuntungan ekonomi.
Menurut Muzha (2014) bahwa dewasa ini pengembangan agrowisata menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat (community based tourism). Melalui community based tourism diharapkan masyarakat ditempatkan sebagai subjek pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pengelola agrowisata. Hal tersebut dapat menyejahterakan masyarakat melalui pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat. Masyarakat sebagai salah satu stakeholder pembangunan memiliki peran strategis tidak saja sebagai penerima manfaat pengembangan kepariwisataan, namun dapat juga membantu dalam hal promosi agrowisata. Pemberdayaan tidak hanya ditujukan kepada masyarakat lokal saja, tetapi juga para pengunjung agrowisata. Bertambahnya wawasan mengenai produk pertanian dan cara bertani yang benar merupakan salah satu contoh pemberdayaan pengunjung dari aspek pendidikan, pengunjung dapat berinteraksi langsung sehingga dapat mengetahui dan mendapat pengalaman intelektual dan budaya setempat.
Ruang lingkup agrowisata meliputi pertanian, peternakan, hortikultura, perkebunan, dan perikanan. Menurut Aryanto (2006) klasifikasi agrowisata terdiri atas empat jenis, yaitu:
kegiatan bisnis sehingga konsumen akan mendapatkan kepuasan dan juga akan mendapatkan kebutuhan wisatanya.
2. Agrowisata rekreasi, kegiatan wisata yang dilakukan dengan tujuan berekreasi. Dewasa ini, agrowisata ini cukup berkembang. Agrowisata ini ditujukan untuk rekreasi dalam obyek wisata agro sehingga konsumen akan mendapatkan kepuasan dan menghilangkan penat.
3. Agrowisata budaya, kegiatan wisata yang dilakukan dengan pengembangan budaya dalam bidang agro. Agrowisata ini ditujukan untuk menambah pengetahuan mengenai kebudayaan dan kehidupan masyarakat pertanian yang mayoritas masih bersifat alami dan tradisional.
4. Agrowisata scientific, kegiatan wisata yang dilakukan melalui kegiatan pendidikan dalam bidang agro. Agrowisata ini ditujukan untuk menambah dan meningkatkan pengetahuan dalam bidang agro.
Pengunjung yang melakukan kunjungan biasanya karena termotivasi dengan adanya obyek dan daya tarik di suatu daerah/tempat. Daya tarik wisata sangat memegang peranan penting bagi sebuah daerah tujuan wisata. Obyek dan daya tarik wisata adalah suatu bentukan dan/atau aktivitas dan fasilitas yang berhubungan, yang dapat menarik minat wisatawan atau pengunjung untuk datang ke suatu daerah/tempat tertentu. Komponen-komponen yang dijadikan sebagai bahan konsumsi para wisatawan dalam melakukan kunjungan ke obyek agrowisata mencakup daya tarik (attraction), fasilitas dan kenyamanan (amenities) yang dinikmati wisatawan, serta kemudahan untuk mencapai daya tarik agrowisata (accessibilities) (Aryanto 2006).
1. Daya tarik agrowisata, terdiri atas daya tarik alami dan daya tarik buatan. Daya tarik alami mencakup keadaan alam (lingkungan fisik) di sekitar lokasi obyek agrowisata, seperti pemandangan alam dan cuaca/iklim yang hangat atau sejuk. Sementara, daya tarik buatan, merupakan daya tarik yang sengaja diciptakan manusia yang mencakup komoditas pertanian (perkebunan, kebun buah-buahan), kegiatan budidaya pertanian, kegiatan yang dapat melibatkan wisatawan (pemetikan teh, panen padi di sawah), serta rekreasi lain yang dapat dilakukan di obyek wisata tersebut (bersepeda, memancing, dan lain sebagainya).
2. Fasilitas dan pelayanan wisata. Hal ini mencakup keberadaan sarana dan prasarana penunjang di tempat agrowisata tersebut, baik sarana dan prasarana penunjang pariwisata umum, seperti toilet (kamar mandi), mushalla, toko cinderamata, maupun fasilitas yang merupakan penunjang kegiatan agro itu sendiri, seperti lahan pembibitan, pabrik pengolahan,dan lainnya.
3. Aksesibilitas, yaitu kemudahan pencapaian suatu tempat dari tempat lain, dalam hal ini dari daerah asal wisatawan. Aksesibilitas mencakup dimensi jarak, waktu, dan biaya. Waktu tempuh, ketersediaan angkutan umum dan biaya yang harus dikeluarkan, kondisi jalan yang dilalui (baik, buruk, beraspal) dapat mempengaruhi tingkat aksesibilitas suatu daya tarik wisata.
Karakteristik Wisatawan
tidak semua orang asing yang masuk atau datang berkunjung dapat diklasifikasikan sebagai wisatawan. Termasuk dalam batasan ini adalah orang-orang yang melakukan perjalanan berbisnis (business reasons), untuk mencari kesenangan (travel for pleasure), kunjungan keluarga (family reasons), atau perjalanan untuk menyembuhkan suatu penyakit (travel for health). Yoeti (2008) menetapkan kriteria bahwa orang-orang yang tersebut di bawah ini dapat dianggap sebagai wisatawan :
a. Mereka yang mengadakan perjalanan untuk pertemuan (meeting) atau sebagai utusan untuk keperluan tertentu (ilmiah, diplomatik, keagamaan, dan olahraga).
b. Mereka yang melakukan perjalanan untuk usaha (business).
c. Pengunjung yang melakukan perjalanan untuk tujuan bersenang-senang (travel for pleasure), kunjungan keluarga (family reasons), menyembuhkan suatu penyakit (travel for health).
d. Penumpang yang datang berkunjung dengan kapal pesiar, walau tinggal kurang dari 24 jam.
Ismayanti (2010) mengelompokkan wisatawan dalam berbagai pendekatan, diantaranya karakteristik wisatawan berdasarkan aspek sosio-ekonomi, karakteristik wisatawan berdasarkan geografi, dan karakteristik wisatawan berdasarkan pola perjalanan. Karakteristik tersebut dapat mempengaruhi wisatawan untuk datang ke suatu obyek agrowisata. Suatu perusahaan dalam pemasarannya harus memikirkan juga keinginan atau kebutuhan yang dimiliki oleh masing-masing wisatawan berdasarkan karakteristiknya.
a. Karakteristik wisatawan berdasarkan aspek sosio-ekonomi diantaranya adalah usia dan latar belakang pendidikan.
1. Usia. Sifat wisatawan berkaitan dengan usia karena berdampak pada kegiatan wisata yang dilakukan. Kebutuhan dan keinginan wisatawan berubah seiring dengan perubahan usia.
2. Latar belakang pendidikan. Latar belakang pendidikan erat kaitannya dengan preferensi dalam pemilihan kegiatan wisata. Ia yang berpendidikan rendah biasanya memiliki kemampuan dan pendapatan yang rendah sehingga cenderung mempunyai keterbatasan dalam pemilihan kegiatan wisata, bersifat pasrah dan pasif, cenderung tidak fleksibel terhadap pilihan daerah wisata, jarang membangun hubungan dengan masyarakat setempat. Ia yang memiliki pendidikan tinggi cenderung memiliki pendapatan yang lebih tinggi dan mempunyai variasi pilihan wisata, berminat untuk mendalami segala sesuatu, sangat fleksibel dengan perubahan, bersosialisasi dengan penduduk setempat, serta banyak meminta dan memiliki standar kebutuhan yang lebih tinggi. b. Karakteristik wisatawan berdasarkan aspek geografi. Wisatawan dibedakan
berdasarkan geografi atau wilayah asal kedatangannya (jangkauan geografis). Daerah asal wisatawan merupakan aspek penting dalam memahami karakteristik wisatawan karena hal tersebut berkaitan dengan kebudayaan, nilai, sikap, kepercayaan, dan sistem. Morissan (2010) juga mengemukakan bahwa kebiasaan konsumen, dalam hal ini wisatawan, berbeda-beda yang dipengaruhi oleh lokasi di mana mereka tinggal.
Goeldner 2003, Gee 1999) seperti dikutip oleh Ismayanti (2010) memiliki tiga kelompok kunjungan, seperti berikut ini:
1. Leisure and recreation (vakansi dan rekreasi). Segala kegiatan yang memiliki tujuan 1) vakansi dan rekreasi, 2) mengunjungi event budaya, 3) kesehatan, 4) olah raga aktif (yang bukan personal), dan 5) tujuan liburan lain, termasuk dalam kategori bersenang-senang. Kegiatan utama dalam kategori ini berupa kegiatan berjalan-jalan, keliling kota, dan makan.
2. Business and professional (bisnis dan professional). Beberapa tujuan kunjungan dalam kategori bisnis dan professional adalah: 1) rapat, 2) misi, 3) perjalanan insentif, dan 4) bisnis. Tujuan-tujuan itu berhubungan erat dengan pekerjaan. Perjalanan yang dilakukan tidak untuk mencari nafkah, tetapi kegiatannya berdampak pada pekerjaannya. Kegiatan utamanya berkaitan dengan konsultasi, konveksi, dan inspeksi.
Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran ini menjelaskan korelasi antar variabel penelitian. Hubungan keefektivitasan media komunikasi pemasaran dilihat dari karakteristik wisatawan, yang terdiri atas usia, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, ragam tujuan kunjungan, dan jenis jangkauan geografis. Selain itu, hubungan keefektivitasan media komunikasi pemasaran juga dilihat dari keterdedahan media komunikasi pemasaran. Keterdedahan media komunikasi pemasaran merupakan proses seseorang untuk mencari pesan yang dapat membantu untuk menentukan sikap. Keterdedahan media komunikasi pemasaran terdiri atas ragam media sumber informasi dan frekuensi penerimaan pesan. Ragam media sumber informasi adalah variasi jenis media yang digunakan oleh responden sebagai sumber informasi mengenai Kampoeng Wisata Cinangneng, seperti melalui media massa, media personal, media internet, media luar ruang, dan media word of mouth. Frekuensi penerimaan pesan adalah banyaknya atau seberapa sering responden dalam menerima atau mengakses informasi mengenai Kampoeng Wisata Cinangneng dalam kurun waktu tertentu. Efektivitas media komunikasi pemasaran adalah keberhasilan pelaksanaan komunikasi pemasaran dalam mencapai tujuan-tujuan komunikasi pemasaran. Efektivitas media komunikasi pemasaran dilihat melalui melalui tingkat kognisi, tingkat afeksi, dan tingkat konasi.
Keterangan:
: berhubungan
Gambar 1 kerangka pemikiran
X1 Karakteristik Wisatawan:
X1.1 Usia
X1.2 Jenis Pekerjaan X1.3 Tingkat Pendidikan X1.4 Ragam Tujuan Kunjungan X1.5 Jenis Jangkauan Geografis
Y Efektivitas Media Komunikasi Pemasaran:
Y1.1 Tingkat Kognisi Y1.2 Tingkat Afeksi Y1.3 Tingkat Konasi
X2 Keterdedahan Media Komunikasi Pemasaran:
Hipotesis
Berdasarkan kerangka analisis di atas, maka hipotesis penelitiannya adalah sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan antara karakteristik pengunjung dengan efektivitas media komunikasi pemasaran; dan
2. Terdapat hubungan antara keterdedahan media komunikasi pemasaran dengan efektivitas media komunikasi pemasaran.
Definisi Operasional
Penelitian ini terdiri atas beberapa variabel yang terbagi menjadi beberapa indikator. Masing-masing variabel dan indikator diberi batasan terlebih dahulu sehingga dapat ditemukan skala pengukurannya. Definisi operasional untuk masing-masing variabel adalah sebagai berikut:
1. Karakteristik wisatawan merupakan faktor-faktor yang terdapat pada diri seorang wisatawan dan mempengaruhi diri wisatawan tersebut. Karakteristik wisatawan dapat diukur melalui beberapa variabel. Variabel tersebut meliputi usia, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, ragam tujuan kunjungan, dan jenis jangkauan geografis.
a. Usia adalah lamanya seseorang hidup, terhitung sejak dia dilahirkan hingga saat menjadi responden penelitian yang dinyatakan dalam satuan tahun. Pengukuran usia diukur menggunakan skala ordinal berdasarkan data yang diperoleh di lapang. Pengelompokan usia dibagi menjadi tiga kategori, yakni:
1. Dewasa awal (skor 1): 19–26 tahun 2. Dewasa menengah (skor 2): 27–37 tahun 3. Dewasa tua (skor 3): ≥ 38 tahun
b. Pekerjaan adalah kegiatan atau kesibukan utama yang dilakukan oleh responden untuk memperoleh pendapatan. Jenis pekerjaan tersebut diukur berdasarkan data yang diperoleh di lapang. Jenis data pada variabel ini adalah data nominal. Jenis pekerjaan dapat dibedakan menjadi lima kategori, yaitu:
1. Tidak bekerja (ibu rumah tangga dan pensiunan) (diberi kode 1); 2. Pelajar/mahasiswa (diberi kode 2)
3. Karyawan (diberi kode 3); 4. Guru sekolah (diberi kode 4); 5. Lainnya (diberi kode 5).
c. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh responden. Tingkat pendidikan tersebut diukur dengan menggunakan skala ordinal berdasarkan data yang diperoleh di lapang dan dikategorikan sebagai berikut:
1. Rendah (skor 1): tamat SMA/SMK/Sederajat;
2. Sedang (skor 2): tamat Diploma (D1/D2/D3/Akademi);
d. Ragam tujuan kunjungan adalah variasi tujuan yang mendorong responden mengunjungi Kampoeng Wisata Cinangneng. Variabel ini diukur menggunakan skala ordinal berdasarkan jawaban responden.
1. Rendah (skor 1): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 1 2. Sedang (skor 2): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 2 3. Tinggi (skor 3): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 3 e. Jangkauan geografis adalah wilayah atau lokasi tempat tinggal responden
yang didasarkan pada asal wilayah responden di lapang. Jenis data pada variabel ini adalah data nominal. Jangkauan geografis dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Wilayah Bogor (diberi kode 1)
2. Wilayah Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi (diberi kode 2)
3. Luar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (diberi kode 3)
2. Keterdedahan media komunikasi pemasaran merupakan intensitas khalayak dalam menerima atau mengakses informasi mengenai Kampoeng Wisata Cinangneng melalui media komunikasi pemasaran. Keterdedahan media komunikasi pemasaran dapat dilihat dari variabel ragam media sumber informasi dan frekuensi penerimaan pesan.
a. Ragam media sumber informasi adalah variasi jenis media yang digunakan oleh responden sebagai sumber informasi mengenai Kampoeng Wisata Cinangneng, seperti melalui media massa, media personal, media internet, media luar ruang, dan media word of mouth. Variabel ini diukur menggunakan skala ordinal. Pengukuran indikator dilakukan dengan memberikan lima pertanyaan. Kriteria pengukuran yang dilakukan adalah: “Ya” (skor 2) dan “Tidak” (skor 1). Hasil akumulasi jawaban kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori:
1. Rendah (skor 1): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 5 – 6
2. Sedang (skor 2): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 7 – 8
3. Tinggi (skor 3): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 9 – 10
b. Frekuensi penerimaan pesan adalah banyaknya atau seberapa sering responden dalam menerima atau mengakses informasi mengenai Kampoeng Wisata Cinangneng melalui beragam media komunikasi pemasaran dalam kurun waktu tertentu. Pengukuran ini dapat dilihat dari frekuensi khalayak sasaran menggunakan media komunikasi pemasaran Kampoeng Wisata Cinangneng. Variabel ini diukur menggunakan skala ordinal berdasarkan data yang diperoleh di lapang. Hasil akumulasi jawaban kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori:
1. Rendah (skor 1), apabila akumulasi frekuensi penerimaan pesan responden adalah 0-1;
2. Sedang (skor 2), apabila akumulasi frekuensi penerimaan pesan responden adalah 2-3;
3. Efektivitas media komunikasi pemasaran adalah indikator keberhasilan suatu media komunikasi pemasaran untuk mencapai tujuannya. Efektivitas media komunikasi pemasaran dilihat melalui melalui tingkat kognisi, tingkat afeksi, dan tingkat konasi.
a. Tingkat kognisi adalah tingkat pengetahuan responden mengenai obyek wisata yang ditawarkan Kampoeng Wisata Cinangneng setelah mendapatkan informasi melalui media komunikasi pemasaran. Variabel ini diukur menggunakan skala ordinal. Pengukuran indikator dilakukan dengan memberikan empat pertanyaan dengan pilihan jawaban. Kriteria pengukuran dilakukan berdasarkan jawaban responden. Hasil akumulasi jawaban kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori:
1. Rendah (skor 1): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 4 – 6
2. Sedang (skor 2 ): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 7 – 9
3. Tinggi (skor 3): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 10 – 12
b. Tingkat afeksi adalah aspek yang berhubungan dengan perasaan atau penilaian yang dirasakan responden mengenai obyek wisata Kampoeng Wisata Cinangneng setelah mendapatkan informasi melalui media komunikasi pemasaran. Pengukuran indikator dilakukan dengan memberikan enam pertanyaan. Kriteria pengukuran yang dilakukan adalah: “Sangat Setuju” (skor 4), “Setuju” (skor 3), “Tidak Setuju” (skor 2), dan “Sangat Tidak Setuju” (skor 1). Hasil akumulasi jawaban kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori:
1. Rendah (skor 1): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 6 – 11
2. Sedang (skor 2): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 12 – 17
3. Tinggi (skor 3): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 18 – 24
c. Tingkat konasi adalah aspek yang berhubungan dengan tindakan responden atau kecenderungan untuk melakukan suatu tindakan setelah mendapatkan informasi melalui media komunikasi pemasaran. Variabel ini diukur menggunakan skala ordinal. Pengukuran indikator dilakukan dengan memberikan enam pertanyaan. Kriteria pengukuran yang dilakukan adalah: “Sangat Setuju” (skor 4), “Setuju” (skor 3), “Tidak Setuju” (skor 2), dan “Sangat Tidak Setuju” (skor 1). Hasil akumulasi jawaban kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori:
1. Rendah (skor 1): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 6 – 11
2. Sedang (skor 2): apabila akumulasi skor dari semua pertanyaan 12 – 17
PENDEKATAN LAPANG
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif sebagai fokus utama yang didukung dengan data kualitatif untuk memperkaya analisis. Pendekatan kuantitatif yang digunakan adalah penelitian survei kepada responden. Menurut Singarimbun dan Effendi (2008), penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok (primer). Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner yang diisi dengan mewawancarai responden.
Sementara, data kualitatif diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam dengan pihak informan serta melalui wawancara dengan pihak responden. Data kualitatif dikumpulkan dengan menggunakan instrumen panduan wawancara mendalam kepada pihak pengelola Kampoeng Wisata Cinangneng serta melakukan observasi lapang. Pendekatan kuantitatif dan data kualitatif dikombinasikan dalam upaya memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial yang diteliti.
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di Kampoeng Wisata Cinangneng yang berlokasi di Jalan Babakan Kemang RT 01 RW 02, Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor (Lampiran 1). Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan beberapa pertimbangan, antara lain: 1) Kampoeng Wisata Cinangneng menggunakan media komunikasi pemasaran dalam melakukan aktivitas promosi, 2) Kampoeng Wisata Cinangneng merupakan agrowisata yang melibatkan masyarakat sekitar sebagai upaya memberdayakan pariwisata berbasis masyarakat, dan 3) Kampoeng Wisata Cinangneng merupakan agrowisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) hingga pengunjung luar Jabodetabek.
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari - Mei 2015. Penelitian ini meliputi penyusunan proposal skripsi, kolokium, perbaikan proposal skripsi, pengambilan data lapang, pengolahan dan analisis data, penulisan draft skripsi, uji petik, sidang skripsi, dan perbaikan laporan skripsi (Lampiran 2).
Teknik Pemilihan Responden dan Informan
orang, yang didasarkan pada jumlah minimum pengambilan responden sebanyak 30 orang. Pengambilan responden sebanyak 50 responden dianggap sudah mewakili dari keseluruhan wisatawan yang datang ke Kampoeng Wisata Cinangneng.
Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu yang mengambil keputusan untuk melakukan kunjungan ke Kampoeng Wisata Cinangneng. Pemilihan responden dalam penelitian ini dilakukan pada setiap hari, utamanya pada saat weekdays karena pada hari-hari tersebut banyak wisatawan yang datang untuk melakukan kunjungan ke Kampoeng Wisata Cinangneng.
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-probability sampling dengan prosedur metode accidental sampling, yakni metode penentuan sampel berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu (Rianse dan Abdi 2009). Melalui metode tersebut, peneliti memilih sampel secara spontanitas atau mengambil sampel wisatawan Kampoeng Wisata Cinangneng yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti bila dipandang wisatawan tersebut cocok dengan sumber data. Pemilihan metode accidental sampling didasarkan pada pertimbangan tidak adanya data jumlah populasi wisatawan Kampoeng Wisata Cinangneng yang menyebabkan peneliti tidak dapat menyusun sampling frame. Kemudian, yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pihak pengelola dan karyawan Kampoeng Wisata Cinangneng.
Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui kuesioner yang akan ditujukan kepada responden, wawancara mendalam dengan informan, serta dokumen perusahaan Kampoeng Wisata Cinangneng. Adapun informasi yang diperoleh melalui wawancara mendalam dengan pihak pengelola Kampoeng Wisata Cinangneng berupa informasi mengenai gambaran umum perusahaan, fasilitas dan kegiatan yang ditawarkan, serta media komunikasi pemasaran yang digunakan dalam kegiatan komunikasi pemasaran agrowisata. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui dokumen yang berasal dari instansi pemerintahan, seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta berbagai literatur yang relevan dengan penelitian ini, seperti buku, jurnal penelitian, disertasi, skripsi, dan situs internet.
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
variabel keterdedahan media komunikasi pemasaran, dan variabel efektivitas media komunikasi pemasaran. Uji korelasi Rank Spearman dilakukan untuk mengukur korelasi variabel berskala ordinal. Sementara, untuk mengetahui perbedaan jenis pekerjaan dan jenis jangkauan geografis dari karakteristik wisatawan menggunakan analisis data chi-square. Hal tersebut dilakukan karena jenis data tersebut adalah data nominal.
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
Sejarah Kampoeng Wisata Cinangneng
Kampoeng Wisata Cinangneng merupakan salah satu kawasan agrowisata yang terletak di Kabupaten Bogor. Konsep yang ditawarkan oleh Kampoeng Wisata Cinangneng adalah konsep wisata alam dan wisata penginapan. Jika dilihat dalam klasifikasi agrowisata, Kampoeng Wisata Cinangneng termasuk dalam agrowisata budaya, rekreasi, dan scientific. Kampoeng Wisata Cinangneng melakukan pengembangan wisata pedesaan dengan melibatkan masyarakat sekitar sebagai upaya memberdayakan pariwisata berbasis masyarakat yang tidak hanya menawarkan pemandangan indah khas suasana pedesaan. Namun, lebih dari itu, Kampoeng Wisata Cinangneng menawarkan berbagai fasilitas dan kegiatan wisata, seperti pengenalan seni budaya tradisional, serta berkeliling ke industri rumah tangga (tour home industry), dan wisata edukasi pertanian melalui praktik langsung,. Pengelola hendak menawarkan program-program wisata budaya yang menyehatkan dan sarat dengan unsur edukasi bagi keluarga. Basis pengembangan wisata Kampoeng Wisata Cinangneng adalah kegiatan yang dapat melibatkan masyarakat desa setempat serta mengenalkan seni dan budaya tradisional Sunda kepada khalayak.
Kampoeng Wisata Cinangneng dimiliki secara pribadi oleh Ibu HB. Pada tahun 1991, Ibu HB membeli sebidang tanah seluas 3.000 meter di kawasan Desa Cinangneng sebagai tempat peristirahatan bagi keluarga saja. Tahun 1994 beliau bersama dengan suaminya, WB, memiliki inisiatif untuk menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat penginapan (guest house). Awalnya Ibu HB menyewakan guest house tersebut kepada beberapa wisatawan. Ternyata wisatawan tersebut suka dan menceritakan pengalaman mereka kepada orang lain. Secara perlahan, mulai banyak wisatawan yang datang ke rumah peristirahatan milik Ibu HB.
Desa Cinangneng memberikan nuansa yang berbeda bagi wisatawan. Aliran Sungai Cinangneng, hamparan sawah yang menghijau, udara pegunungan yang masih segar, dan kehidupan masyarakat yang bersahaja menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Pada tahun 2000, atas saran dari wisatawan yang pernah menginap di guest house tersebut serta keinginan Ibu HB agar wisatawan yang datang tidak hanya sekadar untuk beristirahat maka dibentuklah suatu program yang dapat melakukan aktivitas menikmati kehidupan alam pedesaan sekaligus berinteraksi dengan penduduk. Program tersebut dikenalkan sebagai program Poelang Kampoeng. Hal ini yang membuat Desa Cinangneng menjadi desa yang ramai dikunjungi oleh wisatawan.
Lokasi Kampoeng Wisata Cinangneng
Agrowisata Kampoeng Wisata Cinangneng terletak di Jalan Babakan Kemang RT 01 RW 02, Desa Cihideung Udik, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Keunggulan Kampoeng Wisata Cinangneng dibandingkan dengan agrowisata sejenis lainnya, pertama, berkaitan dengan kebersihan, penghijauan, dan keindahan alam. Lokasinya yang berada di kaki Gunung Salak dan tepat di pinggir Sungai Cinangneng menjadikan kawasan ini sebagai obyek wisata alam dengan suasana yang nyaman untuk beristirahat. Banyaknya pepohonan dan tanaman yang tumbuh dengan baik di dalam lokasi dan sekitar lokasi Kampoeng Wisata Cinangneng sangat membantu membuat udara menjadi terasa sejuk. Kedua, adanya pelibatan dan interaksi dengan masyarakat desa sekitar dalam setiap kegiatan dan dalam pengelolaan Kampoeng Wisata Cinangneng. Kampoeng Wisata Cinangneng merupakan salah satu agrowisata yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat (community based tourism).
Pelibatan Masyarakat Sekitar Kampoeng Wisata Cinangneng
Melalui community based tourism masyarakat ditempatkan sebagai subjek melalui pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pengelola agrowisata. Berdirinya Kampoeng Wisata Cinangneng menjadi sumber mata pencaharian bagi masyarakat sekitar Kampoeng Wisata Cinangneng. Setiap kegiatan wisata di Kampoeng Wisata Cinangneng melibatkan masyarakat desa sekitar, mulai dari pemandu wisata (tour guide), guru atau instruktur pada setiap kegiatan, pembuat souvenir, juru masak, petugas parkir, hingga petugas keamanan. Perekrutan tersebut sengaja dilakukan karena penduduk asli lebih memahami keadaan dan kebudayaan di daerah setempat. Selain itu, mereka juga sempat diberikan pelatihan Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda karena cukup banyak wisatawan asing berasal dari kedua negara tersebut yang datang ke Kampoeng Wisata Cinangneng. Melalui pelatihan tersebut diharapkan dapat memudahkan komunikasi antara karyawan dengan wisatawan asing. Karyawan Kampoeng Wisata Cinangneng mayoritas berasal dari desa sekitar Kampoeng Wisata Cinangneng, beberapa pegawai lainnya ada yang berasal dari Jakarta. Jumlah pegawai Kampoeng Wisata Cinangneng hingga saat ini berjumlah 35 orang dan pegawai freelance berjumlah 30 orang.
Visi, Misi, dan Tujuan Kampoeng Wisata Cinangneng
Visi dan misi yang dimiliki oleh Kampoeng Wisata Cinangneng adalah sebagai berikut:
1. Mengenalkan kondisi pedesaan dan kehidupan masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-hari serta dalam kegiatan bertani hingga proses pengolahannya dari jenis-jenis tanaman yang ada;
2. Mendukung pelestarian kebudayaan daerah;
4. Membuat setiap tamu yang datang merasakan kepuasan dengan kunjungannya ke Kampoeng Wisata Cinangneng;
5. Penduduk dan wisatawan yang datang mendapatkan pengetahuan, pengalaman, kebudayaan daerah, khususnya Jawa Barat.
Tujuan terbentuknya Kampoeng Wisata Cinangneng adalah membantu khalayak dalam mengenalkan seni dan budaya tradisional Sunda serta mengenalkan suasana khas pedesaan dengan melibatkan masyarakat desa sekitar.
Fasilitas Wisata di Kampoeng Wisata Cinangneng
Kampoeng Wisata Cinangneng merupakan obyek wisata yang tepat bagi wisatawan yang ingin berlibur, bersantai, serta beristirahat sejenak dari rutinitas sehari-hari dengan suasana alam yang sejuk dan asri. Kegiatan berlibur, bersantai, dan beristirahat tersebut dapat ditunjang oleh fasilitas wisata yang terdapat di lokasi obyek wisata. Kampoeng Wisata Cinangneng menyediakan fasilitas wisata alam dan wisata penginapan. Tentunya, fasilitas tersebut dapat digunakan oleh wisatawan yang datang. Berikut adalah fasilitas wisata yang terdapat di Kampoeng Wisata Cinangneng:
1. Kebun. Pengelola Kampoeng Wisata Cinangneng menyediakan kebun sebagai sarana penghijauan serta penunjang keindahan alam sehingga wisatawan dapat menikmati suasana yang sejuk melalui pepohonan serta tanaman yang ada. Selain pepohonan, seperti pohon jambu, pohon kecapi, pohon rambutan, pohon durian, pohon manggis, pohon pisang, terdapat pula kebun singkong, tanaman bunga anggrek, bunga nusa indah, bunga pucuk merah.
2. Arena persawahan dan Sungai Cinangneng. Arena persawahan yang memiliki luas 8.000 meter ini umumnya digunakan sebagai kegiatan pagelaran sendratari di alam terbuka dan kegiatan praktik menanam padi. Lokasi arena persawahan terletak dekat dengan rumah penduduk. Di tengah-tengah arena persawahan terdapat danau untuk menambah daya tarik tempat wisata ini. Selain sawah dan danau, terdapat Sungai Cinangneng yang mengalir dari kaki Gunung Salak hingga melalui Sungai Cisadane. Sungai Cinangneng umumnya digunakan wisatawan untuk kegiatan memandikan kerbau dan kegiatan menyeberang sungai.
3. Saung/pendopo. Saung/pendopo yang terdapat di Kampoeng Wisata Cinangneng dapat digunakan untuk kegiatan membuat masakan dan minuman tradisional. Selain itu, saung/pendopo tersebut dapat digunakan oleh wisatawan yang ingin bersantai dan beristirahat sejenak sembari menikmati udara yang sejuk dengan suasana pedesaan yang asri. Saung/pendopo yang terdapat di Kampoeng Wisata Cinangneng berjumlah delapan buah, diantaranya adalah Saung Cihideung, Saung Kebun, Saung Tenda, Saung Caping, Saung Petani, Saung Cinangneng, Saung Kesenian, dan Saung Penggilingan.
Cinangneng. Souvenir yang dijual antara lain angklung, obor, gantungan kunci, pensil, dompet, gelas, aneka aksesoris, tas, sandal, kipas, keranjang tisu, dan kaus bertuliskan Kampoeng Wisata Cinangneng.
5. Lobi dan Balai Kampoeng. Lobi terletak setelah pintu masuk Kampoeng Wisata Cinangneng. Umumnya, lobi digunakan oleh jumlah kelompok wisatawan yang sangat banyak untuk melakukan briefing, makan bersama, hingga melakukan kegiatan menari tradisional apabila saat hujan tiba. Balai Kampoeng adalah saung terbesar yang terdapat di Kampoeng Wisata Cinangneng. Balai Kampoeng digunakan oleh wisatawan dalam jumlah banyak untuk mengadakan meeting dan gathering.
6. Guest house (penginapan). Kampoeng Wisata Cinangneng menawarkan kegiatan wisata alam sekaligus wisata penginapan didukung dengan suasana pedesaan yang sejuk dan asri. Penginapan di Kampoeng Wisata Cinangneng terdiri atas tiga tipe, yakni family room, triple room, dan standar room. Ketiga tipe tersebut memiliki pemandangan yang berbeda-beda di bagian depan kamarnya, seperti hamparan kebun, pemandangan Sungai Cinangneng, dan pemandangan kolam renang. Fasilitas di dalam penginapan yang diperoleh wisatawan adalah AC, televisi, laundry, private bath dengan air panas dan air dingin, dan fasilitas kolam renang.
Selain fasilitas wisata yang telah disebutkan sebelumnya, terdapat pula fasilitas pendukung, yakni toilet dan lapangan parkir. Kampoeng Wisata Cinangneng selalu menjaga kebersihan dengan menyediakan tempat sampah di setiap sudut area.
Kegiatan Wisata di Kampoeng Wisata Cinangneng
Tabel 2 Daftar paket dan kegiatan satu hari di Kampoeng Wisata Cinangneng
Paket Satu Hari Kegiatan Harga
Paket A Program Poelang
Kampoeng
Tour Kampoeng (mengunjungi industri rumah tangga dan melihat dari dekat kehidupan masyarakat)
Belajar bermain angklung dan menyanyi lagu Sunda
Belajar memainkan gamelan Sunda / Jawa Barat
Belajar menari Sunda / Jawa Barat
Belajar menanam padi
Belajar membuat masakan tradisional
Belajar membuat minuman tradisional
Mendampingi anak selama kegiatan berlangsung melihat dari dekat kehidupan masyarakat)
Foto menggunakan pakaian desa
Belajar memainkan gamelan Sunda / Jawa Barat
Belajar menari tarian khas Sunda / Jawa Barat
Belajar menanam padi
Belajar membuat masakan tradisional
Belajar membuat minuman