HASIL PENELITIAN
HUBUNGAN ANTARA PELURUSAN RAMBUT (REBONDING) DENGAN KEJADIAN RAMBUT RONTOK PADA SISWI SMA NEGERI 1 MEDAN
OLEH : RIKA OCTAVIANI
090100247
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
LEMBAR PENGESAHAN
Hubungan antara Pelurusan Rambut (Rebonding) dengan Kejadian Rambut Rontok pada Siswi SMA Negeri 1 Medan
Nama : Rika Octaviani NIM : 090100247
Pembimbing
NIP. 19630208 198903 1 004 dr. Kristo A. Nababan, Sp.KK
Penguji I
NIP. 19700908 200003 2 001 dr. Nurchaliza H. Siregar, Sp. M
Penguji II
NIP. 19711208 200312 2 001 dr. Esther R.D. Sitorus, Sp. PA
Medan, 14 Januari 2013 Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
NIP. 19540220 198011 1 001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Salam
serta shalawat senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, suri tauladan yang
baik sepanjang sejarah. Sebagai salah satu area kompetensi dasar yang harus dimiliki
oleh seorang dokter umum, penelitian ini disusun sebagai rangkaian tugas akhir
dalam menyelesaikan pendidikan di program studi Pendidikan Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Penyelesaian karya tulis ilmiah ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD – KGEH, sebagai Dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan
untuk mengikuti program pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara.
2. dr. Kristo A. Nababan, Sp.KK, selaku dosen pembimbing yang dengan sepenuh
hati telah mendukung, membimbing, dan mengarahkan penulis mulai dari
perencanaan penelitian sampai selesainya penelitian ini.
3. dr. Nurchaliza H. Siregar, Sp.M dan dr. Esther R.D. Sitorus, Sp.PA selaku
dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran demi perbaikan
penelitian ini.
4. Prof. dr. Guslihan Dasatjipta, Sp.A(K), dr. Muhammad Rusda, Sp.OG(K), dr.
Isti Ilmiati Fujiati, M.Sc, tim Medical Education Unit, Komisi Disiplin, Panitia
Penerimaan Mahasiswa Baru dan adik-adik mahasiswa matrikulasi PMB FK
USU 2012 yang telah banyak membantu dalam penelitian ini.
5. Ayahanda dan Ibunda tercinta, Uli Aceng dan Nurhayati, yang telah
penulis untuk menyelesaikan pendidikan. Dalam doa mereka terkandung
harapan kesuksesan bagi penulis.
6. Kakanda tercinta Brigadir Hendra Sinulingga, SH yang telah banyak
memberikan kasih sayang, dorongan moril maupun materil serta do’a, sehingga
penulis bisa menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah sebagai salah satu syarat untuk
meraih gelar Sarjana Kedokteran.
7. Teman-teman satu kelompok penelitian penulis, Ro Rabian Rein Roza
Tampubolon dan Gusda Aqram yang telah banyak memberikan saran dan
bantuan selama proses pengerjaan Karya Tulis Ilmiah ini.
8. Teman-teman seperjuangan yang telah membantu dan memberi berbagai
dukungan serta keceriaan selama penyusunan KTI ini, Vera Arista,
Mardhatillah Fuady, Hardiyanti Fitri, Fanisha Prama Cindy, Sarah Zoraya
Mirza, Mega Rizkina, Abduh Halim Harahap.
9. Semua pihak yang secara langsung dan tidak langsung telah mendukung,
membantu dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
Untuk seluruh dukungan yang diberikan kepada penulis selama ini, penulis
mengucapkan terima kasih. Hanya Allah SWT yang mampu memberikan balasan
terbaik kepada orang-orang tersebut. Semoga penelitian ini dapat memberikan
sumbangsih bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ilmu
kedokteran.
Penulis menyadari bahwa laporan hasil penelitian ini belum sempurna, baik dari
segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan laporan hasil
penelitian ini.
Medan, 14 Januari 2013
ABSTRAK
Berkurangnya rambut kepala dapat menimbulkan stres psikis terutama pada wanita. Mekanisme pertumbuhan dan kerontokan rambut kepala dapat berlangsung secara fisiologik maupun patologik oleh faktor-faktor luar dan dalam tubuh, antara lain status gizi, hormonal, pemakaian obat, stres psikologik dan lain sebagainya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tindakan rebonding yang dihubungkan dengan terjadinya kerontokan rambut. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Medan, mulai kelas X sampai XI, dan melibatkan 53 siswi dengan metode total sampling. Data akan diolah secara analitik dengan program SPSS.
Dari 53 siswi yang melakukan rebonding, 36 orang (67,9 %) diantaranya mengalami kerontokan rambut, 17 orang (32,1 %) yang lain tidak mengalaminya. Yang paling banyak mengalami kerontokan rambut adalah siswi yang melakukan rebonding dengan frekuensi 1x1 tahun, yaitu sebanyak 20 orang (55,6 %), dan paling sedikit dengan frekuensi 1x3 tahun yaitu sebanyak 1 orang (2,7 %).
Uji chi-square menunjukkan nilai p<0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tindakan rebonding dengan terjadinya rambut rontok. Oleh karena itu, disarankan kepada seluruh pihak agar tidak melakukan tindakan rebonding karena efek negatif yang ditimbulkannya.
ABSTRACT
Scalp hair loss can make psychological stress especially for woman. Growth and hair loss mechanism can occur not only physiologically but also pathologically of external and internal factors, those are nutrition status, hormonal factor, drugs, psychologic stress and others.
The aim of our study is to know the relationship of rebonding activity and the hair moult. This study has been done in SMA Negeri 1 Medan, from Class X to XI. There are 55 respondents taken by using total sampling technique. The data were analyzed analytically using statistical package program.
From 53 respondents who has done rebonding activity, there were 36 respondents (67,9 %) was caused effluvium (hair moult), and 17 responden (32,1 %) weren’t happened of it. Most happened of effluvium (hair moult) were done rebonding with frequency 1x1 year, that is counted 20 responden ( 55,6 %), and at least were done rebonding with frequency 1x3 year that is each counted 1 responden ( 2,7 %).
Chi-Square test show p value<0,05. So We can be conclude that there is significant association between rebonding activity with the happening of effluvium (hair moult). Therefore, It is suggested to all people in order not to do rebonding because of its negative effect.
DAFTAR ISI
Halaman Persetujuan ………. i
Abstrak……… ii
Abstract………..……. iii
Kata Pengantar... iv
Daftar Isi... vi
Daftar Tabel... ix
Daftar Gambar... x
Daftar Istilah..... xi
BAB 1 PENDAHULUAN...…… 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 2
1.4. Manfaat Penelitian ... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... . 4
2.1. Kerontokan Rambut ... 4
2.1.1.Anatomi Rambut ... 4
2.1.2. Fisiologi Rambut ... 6
2.1.3. Siklus Aktivitas Folikel Rambut ... 7
2.1.4. Pengaturan dan Siklus Pertumbuhan Rambut... 8
2.1.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Rambut... 9
2.1.5.1 Keadaan Fisiologik ... 9
2.1.5.2 Keadaan Patologik ... 11
2.1.6. Efluvium (Kerontokan Rambut) ... 13
2.1.6.1 Definisi... 13
2.1.6.3 Klasifikasi... 13
2.2. Pelurusan Rambut... 15
2.2.1 Meluruskan Rambut Dengan Teknik Rebonding……... 15
2.2.1.1. Sejarah Rebonding. ... 15
2.2.1.2. Rebonding ... 15
2.3. Bahan-bahan Kimia Untuk Kosmetika Rambut………... 16
2.3.1. Jenis-jenis Bahan Kimia……….... 16
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL... 22
3.1. Kerangka Konsep ... 22
3.2. Definisi Operasional... 22
3.2.1. Rebonding ... 22
3.2.2 Kerontokan rambut ………... 22
3.3. Hipotesis ... 23
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN ... 24
4.1. Jenis Penelitian... 24
4.2. Lokasi dan Waktu penelitian ... 24
4.3. Populasi Penelitian ... 24
4.3.1. Kriteria inklusi... 24
4.3.2. Kriteria eksklusi... 24
4.4 Besar Sampel ... 25
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 25
5.1. Hasil Penelitian ... 25
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 25
5.1.3 Deskripsi Karakteristik Responden ... 26
5.1.3.1. Usia ... 26
5.1.3.2. Kelas ... 26
5.1.3.3. Frekuensi Rebonding ... 27
5.2. Hasil Analisis Data ... 27
5.2.1. Kerontokan Rambut Setelah Rebonding ... 27
5.2.2. Hubungan Rebonding Dengan Kejadian Rambut Rontok ... 28
5.3. Pembahasan ... 28
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
6.1 Kesimpulan ... 30
6.2 Saran ... 30
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Struktur Rambut 6
2.2 Siklus Rambut 8
3.1 Defenisi Operasional 21
5.1 Distribusi Berdasarkan Karakteristik Kerontokan Rambur 25
5.2 Distribusi Sampel Berdasarkan Usia 26
5.3 Distribusi Sampel Berdasarkan Kelas 26
5.4 Distribusi Sampel Berdasarkan Frekuensi Rebonding 27
5.5 Distribusi Sampel Berdasarkan Waktu Kerontokan Rambut
Setelah Rebonding 27
5.6 Kelompok Rebonding Dengan Kelompok Rambut Rontok 28
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
DAFTAR ISTILAH
Nama Istilah Makna Halaman
Lenan Bahan-bahan yang terbuat dari kain 17
ABSTRAK
Berkurangnya rambut kepala dapat menimbulkan stres psikis terutama pada wanita. Mekanisme pertumbuhan dan kerontokan rambut kepala dapat berlangsung secara fisiologik maupun patologik oleh faktor-faktor luar dan dalam tubuh, antara lain status gizi, hormonal, pemakaian obat, stres psikologik dan lain sebagainya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tindakan rebonding yang dihubungkan dengan terjadinya kerontokan rambut. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Medan, mulai kelas X sampai XI, dan melibatkan 53 siswi dengan metode total sampling. Data akan diolah secara analitik dengan program SPSS.
Dari 53 siswi yang melakukan rebonding, 36 orang (67,9 %) diantaranya mengalami kerontokan rambut, 17 orang (32,1 %) yang lain tidak mengalaminya. Yang paling banyak mengalami kerontokan rambut adalah siswi yang melakukan rebonding dengan frekuensi 1x1 tahun, yaitu sebanyak 20 orang (55,6 %), dan paling sedikit dengan frekuensi 1x3 tahun yaitu sebanyak 1 orang (2,7 %).
Uji chi-square menunjukkan nilai p<0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tindakan rebonding dengan terjadinya rambut rontok. Oleh karena itu, disarankan kepada seluruh pihak agar tidak melakukan tindakan rebonding karena efek negatif yang ditimbulkannya.
ABSTRACT
Scalp hair loss can make psychological stress especially for woman. Growth and hair loss mechanism can occur not only physiologically but also pathologically of external and internal factors, those are nutrition status, hormonal factor, drugs, psychologic stress and others.
The aim of our study is to know the relationship of rebonding activity and the hair moult. This study has been done in SMA Negeri 1 Medan, from Class X to XI. There are 55 respondents taken by using total sampling technique. The data were analyzed analytically using statistical package program.
From 53 respondents who has done rebonding activity, there were 36 respondents (67,9 %) was caused effluvium (hair moult), and 17 responden (32,1 %) weren’t happened of it. Most happened of effluvium (hair moult) were done rebonding with frequency 1x1 year, that is counted 20 responden ( 55,6 %), and at least were done rebonding with frequency 1x3 year that is each counted 1 responden ( 2,7 %).
Chi-Square test show p value<0,05. So We can be conclude that there is significant association between rebonding activity with the happening of effluvium (hair moult). Therefore, It is suggested to all people in order not to do rebonding because of its negative effect.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rambut adalah mahkota bagi setiap orang. Penataan rambut memberikan
pengaruh yang besar atas kesan pertama penampilan seseorang. Oleh karena itu,
penampilan seseorang dengan busana bagus, rias wajah benar dan aksesori yang
serasi tidak akan terlihat sempurna jika tidak ditunjang dengan rambut yang sehat,
terpelihara dan ditata dengan baik. (Endang, Zahida. 2001)
Secara biologis sebenarnya rambut kepala tidak begitu mempunyai fungsi
penting bagi manusia. Rambut kepala mencerminkan gambaran sosial yang
merupakan mahkota keindahan bagi wanita serta lambang kejantanan bagi pria. (Lily
Soepardiman. 2002)
Selain berfungsi sebagai mahkota (perhiasan), rambut juga berfungsi sebagai
pelindung terhadap bermacam-macam rangsang fisik, seperti panas, dingin, udara
kering, kelembapan, sinar dan lain-lain. Pelindung terhadap rangsang mekanis, seperti
pukulan, gosokan, tekanan, dan lain sebagainya. Pelindung terhadap rangsang kimia
seperti berbagai zat kimia dan keringat. (Endang, Zahida. 2001)
Rambut merupakan struktur solid yang terdiri atas sel yang mengalami
keratinisasi padat, berasal dari folikel epidermal yang berbentuk seperti kantong yang
tumbuh ke dalam dermis. Rambut normal dan sehat, tampak berkilat, elastis, tidak
mudah patah, serta dapat menyerap air. Komposisi rambut terdiri atas karbon 50,60%,
hidrogen 6,36%, nitrogen 17,14%, sulfur 5,0%, dan oksigen 20,80% (Erdina H.D.
2002). Rambut juga merupakan salah satu adneksa kulit yang terdapat pada seluruh
tubuh kecuali telapak tangan, telapak kaki, kuku, dan bibir (Lily Soepardiman. 2010).
Jenis rambut dapat digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu; rambut terminal,
rambut kasar yang mengandung banyak pigmen, terdapat di kepala, alis, bulu mata,
ketiak, dan genitalia eksterna, serta rambut velus, rambut halus sedikit mengandung
Berkurangnya rambut kepala dapat menimbulkan stres psikis terutama pada
wanita. Mekanisme pertumbuhan dan kerontokan rambut kepala dapat berlangsung
secara fisiologik maupun patologik oleh faktor-faktor luar dan dalam tubuh, antara
lain status gizi, hormonal, pemakaian obat, stres psikologik dan lain sebagainya. (Lily
Soepardiman. 2002)
Kerontokan rambut adalah kehilangan rambut terminal dalam bentuk apapun
dan dimanapun asal mula terjadinya yang berkisar lebih dari 100 helai per hari.
(Robin dan Tony; Erdina H.D. 2002)
Dalam teorinya, ada beberapa hal yang bisa menyebabkan rambut rontok,
diantaranya karena penyakit akut, penyakit kronis, kelainan endokrin, dan
obat-obatan (Erdina H.D. 2002). Selain itu, rambut rontok juga disebabkan karena
aktivitas penataan rambut yang berlebihan, termasuk aktivitas pelurusan rambut.
Pelurusan rambut akan mengakibatkan folikel rambut menjadi lemah, dan akan
menyebabkan kerusakan pada struktur rambut, sehingga akan meningkatkan resiko
kerontokan rambut. (Clara. 2011)
Melihat kondisi siswi SMA Negeri 1 Medan yang sangat marak menjadikan
rebonding (pelurusan rambut) sebagai bentuk perawatan dan estetika rambut mereka,
maka penulis ingin meneliti apa sebenarnya efek atau akibat yang ditimbulkan dari
rebonding (pelurusan rambut) terhadap terjadinya kerontokan rambut.
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh rebonding (pelurusan rambut) terhadap kesehatan rambut
seseorang.
2. Berapa besar aktivitas rebonding (pelurusan rambut) terhadap terjadinya rambut
rontok.
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan umum
Mengetahui pengaruh rebonding (pelurusan rambut) terhadap terjadinya
1.3.2. Tujuan Khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:
1. Melihat jumlah siswi SMA Negeri 1 Medan yang melakukan rebonding (pelurusan
rambut).
2. Melihat jumlah siswi SMA Negeri 1 Medan yang mengalami kerontokan rambut
akibat rebonding (pelurusan rambut).
3. Melihat berapa kali perlakuan rebonding (pelurusan rambut) bisa menyebabkan
rambut rontok pada seseorang.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada semua orang
tentang efek yang paling mungkin ditimbulkan jika melakukan pelurusan rambut.
2. Masukan dan tambahan rujukan untuk semua orang yang mungkin akan melakukan
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pertumbuhan Rambut 2.1.1. Anatomi Rambut
Rambut merupakan salah satu adneksa kulit yang terdapat pada seluruh
tubuh kecuali telapak tangan, telapak kaki, kuku, dan bibir. Rambut juga berupa
batang-batang tanduk yang tertanam secara miring di dalam kantung (folikel)
rambut. Jenis rambut pada manusia pada garis besarnya dapat di golongkan 2
jenis :
1. Rambut terminal, rambut kasar yang mengandung banyak pigmen. Terdapat
di kepala, alis, bulu mata, ketiak, dan genitalia eksterna. Rambut terminal
diproduksi oleh folikel-folikel rambut besar yang ada di lapisan subkutis.
Secara umum diameter rambut > 0,03mm.
2. Rambut velus, rambut halus sedikit mengandung pigmen, terdapat hampir di
seluruh tubuh. Rambut velus di produksi oleh folikel-folikel rambut yang
sangat kecil yang ada dilapisan dermis, diameternya < 0,03mm. (Lily
Soepardiman. 2010; Kusumadewi, dkk; Olsen. 1994)
Rambut dapat dibedakan menjadi bagian-bagian sebagai berikut:
a. Folikel Rambut, yaitu suatu tonjolan epidermis ke dalam berupa tabung yang
meliputi:
1) Akar rambut ( folicullus pili), yaitu bagian rambut yang tertanam
secara miring di dalam kulit dan terselubung oleh folikel rambut.
2) Umbi rambut (bulbus pili), yaitu ujung akar rambut terbawah yang
daerah yang terdiri dari sel-sel yang membelah dengan cepat dan
berperan dalam pembentukan batang rambut . Dasar umbi rambut yang
melekuk ini mencakup gumpalan jaringan ikat, pembuluh darah dan
saraf yang berguna untuk 16drene makanan kepada matriks rambut.
(Kusumadewi, dkk; Robin dan Tony Burns)
Selain itu, folikel rambut juga menyelubungi akar rambut,
mulai dari permukaan kulit, mulai dari permukaan kulit sampai di
bagian terbawah umbi rambut. Pada selubung ini dapat di bedakan
16drene yang bersal dari dermis dan 16drene yang berasal dari
epidermis. (Kusumadewi, dkk)
Unsur dari epidermis terdiri dari kandung akar luar dan
kandung akar dalam. Kandung akar luar terdiri atas sel bening, dan
baru mulai berdifrensiasi pada daerah ismus tanpa membentuk
stratum granulosum. Kandung akar dalam terdiri atas 3 bagian yaitu:
lapisan Henle, lapisan Huxley, dan kutikula kandung dalam.
(Kusumadewi, dkk; Erdina H.D. 2002)
b. Batang Rambut, yaitu bagian rambut yang berada di atas permukaan kulit
berupa benang-benang halus yang terdiri dari zat tanduk atau keratin. Batang
rambut terdiri atas 3 bagian, yaitu kutikula (selaput rambut), yang terdiri dari
6-10 lapis sel tanduk dan tersusun seperti genteng atap; korteks(kulit rambut),
terdiri atas sel-sel tanduk yang membentuk kumparan, tersusun secara
memanjang , dan mengandung butir-butir melanin; dan medulla (sumsum
rambut), yang terdiri atas 3-4 lapis sel kubus yang berisi keratohialin, badan
lemak, dan rongga udara. (Lily Soepardiman. 2010; Kusumadewi, dkk;
Endang, Zahida. 2001)
c. Otot Penegak Rambut (muskulus arector pili), merupakan otot polos yang
berasal dari batas dermo-epidermis dan melekat di bagian bawah kandung
untuk menegakkan rambut bila kedinginan serta sewaktu mengalami tekanan
emosional. (Kusumadewi, dkk; Robin dan Tony Burns)
Struktur Isi Lokasi
Infundibulum - Epidermis
Papila dermis Mesenkima embrionik -
Itsmus Keratinisasi trikhilemma Dermis
Kandung akar dalam Trikohialin, sitrullin -
Medula Trikohialin, sitrullin -
Bulb - Subcutis
2.1.2 Fisiologi Rambut
1. Pengaturan Suhu Badan
Rambut pada manusia memiliki fungsi yang beraneka ragam, salah
satunya adalah sebagai pengaturan suhu tubuh. Rambut yang
menutupi kulit dapat mengurangi kehilangan panas dari tubuh.
Dalam kondisi dingin, pori-pori rambut akan mengecil. Apabila
dalam kondisi panas, maka kondisi tersebut berlaku sebaliknya. (M.
Ridwan)
2. Fungsi Sebagai Alat Perasa
Rambut memperbesar efek rangsang sentuhan terhadap kulit.
mata. Kepekaan kulit terhadap sentuhan berbanding sejajar dengan
kelebatan pertumbuhan rambut. Maka kulit kepala dengan kelebatan
pertumbuhan rambut 312/cm2 sangat peka terhadap sentuhan.
(Kusumadewi, dkk). Rambut meningkatkan kepekaan kulit terhadap
rangsangan sentuhan. Pada beberapa spesies yang lebih rendah,
fungsi ini mungkin lebih disempurnakan. Sebagai contoh, sungut
kucing sangat peka dalam hal ini. Peran rambut yang lebih penting
pada hewan-hewan rendah adalah konservasi panas, tetapi fungsi ini
tidak begitu bermakna bagi manusia yang relative tidak berbulu.
(Sherwood. 2001)
2.1.3 Siklus Aktivitas Folikel Rambut
Setelah pembentukan folikel rambut dan rambut, perkembangan folikel
rambut selanjutnya akan berhenti pada bulan ke-5 kehamilan. Folikel mengalami
involusi memasuki fase katagen, dimana papilla dermis akan mengalami regresi
dan akhirnya folikel memasuki fase istirahat. Sampai saat ini belum diketahui
mengapa papilla dermis yang telah terbentuk harus mengalami regresi terlebih
dahulu dan kemudian mengalami aktivitas kembali. (Erdina H.D. 2002)
Siklus pertumbuhan folikel rambut adalah demikian. Sejak pertama kali
terbentuk folikel rambut mengalami siklus pertumbuhan yang berulang. Fase
pertumbuhan dan fase istirahat bervariasi berdasarkan umur dan regio tempat
rambut tersebut tumbuh dan juga dipengaruhi faktor fisiologis maupun patologis.
Siklus pertumbuhan yang normal adalah masa anagen, masa katagen, dan masa
telogen. (Lily Soepardiman. 2010)
1. Masa anagen: sel-sel matriks melalui mitosis membentuk sel-sel baru
mendorong sel-sel yang lebih tua ke atas. Aktivitas ini lamanya
2. Masa katagen: masa peralihan yang didahului oleh penebalan jaringan
ikat di sekitar folikel rambut, disusul oleh penebalan dan
mengeriputnya selaput hialin. Papil rambut lalu mengelisut dan tidak
lagi berlangsung mitosis dalam matriks rambut. Bagian tengah akar
rambut menyempit dan bagian dibawahnya melebar dan mengalami
pertandukan sehingga terbentuk gada (club). Masa peralihan ini
berlansung 2-3 minggu. (Kusumadewi, dk; Lily Soepardiman. 2010)
3. Masa telogen atau masa istirahat dimulai dengan memendeknya sel
epitel dan berbentuk tunas kecil yang membuat rambut baru sehingga
rambut gada akan trdorong keluar. (Lily Soepardiman. 2010)
Lama masa anagen adalah berkisar 1000 hari, sedang masa telogen
sekitar 100 hari sehingga perbandingan rambut anagen dan telogen berkisar
antara 9:1. Jumlah folikel rambut pada kepala manusia sekitar 100.000, rambut
pirang dan merah jumlahnya lebih sedikit dari rambut hitam. Jumlah rambut
yang rontok per hari 100 helai. Densitas folikel rambut pada bayi 1135/cm2 dan
berkurang menjadi 615/cm2 pada umur tiga puluhan, karena meluasnya
permukaan kulit. Pada umur 50 tahunan ada pengurangan atau kerusakan
beberapa folikel sehingga jumlah menjadi 485/cm2. Untuk mengetahui jumlah
rambut anagen dan telogen yang disebut trikogram, sedikitnya 50 helai rambut
harus dicabut dan diperiksa untuk menghindari deviasi standar yang tinggi.
Jumlah rambut anagen pada wanita + 85% dan laki-laki 83% dan jumlah rambut
telogen pada wanita + 11%, sedang pada laki-laki 15%. (Lily Soepardiman.
2010)
Tabel 2.2: Siklus Rambut
Fase Masa
Telogen 3 bulan, 14% kulit kepala
Katagen 3 minggu, 2% kulit kepala
Sumber: (Jaffer, Saeed N dan Abrar A. Qureshi)
2.1.4 Pengaturan dan Siklus Pertumbuhan Rambut
Pertumbuhan dan perkembangan folikel rambut dipengaruhi beberapa
oleh beberapa sitokin dan growth factor (GF) yang diproduki oleh sel papilla
dermis. Substansi ini memulai dan mengontrol epitel intrafolikular dan interaksi
mesenkimal. Juga mempengaruhi poliferasi dan diffrensiasi sel matriks folikel
rambut dengan mengeluarkan sinyal spesifik yang menginduksi berbagai stadium
siklus rambut. Molekul bioaktif tersebut antara lain interleukin-1 alfa, FGF, EGF,
KGF, substansi P, IGF-1, hormone tiroid, paratiroid, dan androgen. Aktivitas sel
papilla dermis sendiri dikontrol oleh substansi yang diproduksi oleh lapisan
spinosum sarung akar luar dan hormon. Beberapa peptida yang dihasilkan lapisan
spinosum dan mempengaruhi papilla dermis antara lain basic fibroblast growth
factor (bFGF), platelet derived growth factor (PDGF), dan transforming growth
factor beta (TGF-beta). (Erdina H.D. 2002)
Berbagai macam molekul sinyal yang mengontrol siklus rambut tersebut
digolongkan dalam3 kelompok:
1. Memulai fase anagen, IGF 1,bFGF, EGF,VEGF, TGF-alfa yang
merupakan faktor mitrogenik kuat untuk keratinosit dan sel endotel.
2. Mempertahankan folikel anagen matang, IGF 1, VEGF, yang
menstimulasi poliferasi vaskularisasi dan proses diferensiasi.
3. Menginduksi fase katagen dan degradasi folikel rambut, IL 1, IL 4,
TNF-alfa, TNF-beta, merupakan sitokin pro-apoptotic dan penghambat
2.1.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Rambut
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rambut adalah sebagai
berikut:
2.1.5.1 Keadaan Fisiologik 1. Hormon
Hormon yang berperan adalah androgen,estrogen, tiroksin, dan
kortikosteroid. Masa pertumbuhan rambut 0,35 mm/hari, lebuh cepat
pada wanita daripada pria. Hormon androgen dapat mempercepat
pertumbuhan dan menebalkan rambut di daerah janggut, kumis,
ketiak, kemaluan, dada, tungkai laki-laki, serta rambut-rambut kasar
lainnya. Namun, pada kulit kepala penderita alopesia androgenetik
hormone androgen bahkan memperkecil diameter batang rambut
serta memperkecil waktu pertumbuhan rambut anagen. Pada wanita
aktivitas hormon androgen akan menyebabkan hirsutisme,
sebaliknya hormon estrogen dapat memperlambat pertumbuhan
rambut, tetapi memperpanjang anagen. (LiLy Soepardiman. 2010)
2. Nutrisi
Malnutrisi berpengaruh pada pertumbuhan rambut terutama
malnutrisi protein dan kalori. Pada keadaan ini rambut menjadi
kering dan suram. Adanya kehilangan pigmen setempat sehingga
rambut tampak berbagai warna. Kekurangan vitamin B12, asam folat,
dan zat besi juga dapat menyebabkan kerontokan rambut. (Lily
Soepardiman. 2010)
3. Kehamilan
Pada kehamilan muda, yaitu tiga bulan pertama, jumlah rambut
telogen masih dalam batas normal, tetapi pada kehamilan tua
4. Masa baligh
Pada masa ini terjadi peningkatan kadar hormon seks. Ini berakibat
pertumbuhan rambut ketiak dan rambut kemaluan, tetapi rambut
kepal justru akan rontok. (Kusumadewi, dkk)
5. Kelahiran
Dalam masa 3 bulan setelah melahirkan folikel-folikel rambut kepala
sang ibu dengan cepat beralih ke fase telogen, sehingga selama masa
ini dijumpai nilai telogen 35%. (Kusumadewi, dkk)
6. Masa baru lahir
Jika rambut janin dalam rahim seluruhnya berada dalam fase anagen,
maka beberapa minggu setelah bayi lahir akan tampak kerontokan
rambut, yang disusul dengan pertumbuhan rambut baru selama tahun
pertama dan kedua kehidupannya. (Kusumadewi, dkk)
7. Masa menjadi tua
Wanita dan pria sama-sama menderita kerontokan rambut karena usia
lanjut. Kerontokan dimulai di ubun-ubun, dahi, dan pelipis, lalu
bergeser ke belakang. Di bagian-bagian ini fase anagen rambut
menjadi singkat, rambut lebih cepat rontok dan rambut halus tumbuh
sebagai gantinya (Kusumadewi, dkk), folikel rambut mengalami
atrofi, fase pertumbuhan bertambah singkat, rambut lepas lebih cepat
dan densitas rambut juga berkurang. (Erdina H.D. 2002)
8. Vaskularisasi
Vaskularisasi dapat mempengaruhi pertumbuhan rambut, namun
pertumbuhan rambut, karena destruksi bagian 2/3 bawah folikel
sudah berlangsung sebelum susunan pembuluh darah mengalami
perubahan. (Pieter)
2.1.5.2 Keadaan Patologik
1. Peradangan sistemik atau setempat
Kuman lepra yang menyerang kulit akan menyebabkan kulit menjadi
atrofi dan folikel rambut rusak, akan terjadi kerontokan rambut pada
alis mata dan bulu mata (madarosis). Pada penyakit eritematosis sifilis
stadium II dapat menyebabkan rambut menipis secara rata maupun
setempat secara tidak rata sehingga disebut moth eaten appearance.
Infeksi jamur di kulit kepala dan rambut akan menyebabkan
kerontokan, maupun kerusakan batang rambut. (Lily Soepardiman.
2010)
2. Obat
Setiap obat menghalangi pembentukan batang rambut dapat
menyebabkan kerontokan, umunya obat antineoplasma misalnya
bleomisin, endoksan, vinkristin, dan obat antimitotik, misalnya
kolkisin. Obat antikoagulan heparin atau kumarin dapat mempercepat
terjadinya folikel anagen ke dalam fase telogen dalam jumlah besar,
sehingga menyebabkan effluvium telogen. Logam berat yang akan
terikat pada grup sulfhidril dalam keratin anatara lain talium, merkuri
dan arsen. (Lily Soepardiman. 2010; Pieter)
3. Mekanis
Mencabut rambut gada atau melukai folikel rambut akan mempercepat
terjadinya masa anagen dengan mempersingkat masa telogen.
4. Kelainan endokrin
Kelainan endokrin dapat mempengaruhi fisiologi folikel rambut,
menambah atau mengurangi produksi rambut. Hipotiroidisme dapat
menyebabkan mengecilnya diameter rambut dan meningkatkan
kerontokan rambut. (Erdina H.D.2002; Pieter)
5. Penyakit Kronis
Kerontokan rambut tidak selalu didapatkan pada penyakit kronis,
kecuali terdapat kekurangan protein dalam jumlah besar. (Pieter)
2.1.6 Efluvium (Kerontokan Rambut) 2.1.6.1 Definisi
Kerontokan rambut adalah kehilangan rambut yang berkisar
lebih kurang 120 helai per hari. Dapat terjadi difus atau setempat (lokal).
Kelainan setempat dapat berupa unifokal atau multifokal. Bila kerontokan
ini berlanjut dapat terjadi kebotakan (alopesia). (Lily Soepardiman. 2010)
2.1.6.2 Etiologi dan Patogenesis
Klasifikasi etiopatogenesis kerontokan rambut dapat membantu
menentukan jenis kerontoka rambut:
1. Kegagalan pertumbuhan rambut, umumnya disebabkan oleh karena
2. Abnormalitas batang rambut: a). instrinsic hair breakage dan b).
unruly hair, dapat terjadi secara kongenital akibat kelainan metabolik
atau didapat akibat kerusakan mekanik atau kimia.
3. Abnormalitas siklus rambut (jumlah rambut yang lepas meningkat),
dapat menyebabkan effluvium telogen, effluvium anagen, dan alopesia
areata.
4. Kerusakan folikel rambut dapat disebabkan oleh faktor eksogen
(trauma/tekanan), faktor endogen (infeksi/keganasan/beberapa
penyakit dengan proses destruktif) dan aplasia kutis kongenital (Pieter)
2.1.6.3 Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, klasifikasi kerontokan rambut dapat
dibagi menjadi: congenital, kelainan siklus pertumbuhan rambut, kelainan
batang rambut, obat, gangguan hormonal, trauma, infeksi, dan penyakit
dengan proses destruktif. (Pieter )
Kerontokan rambut akibat trauma
Secara umum, kerontokan rambut atau alopesia yang disebabkan
oleh trauma mekanis dapat dibagi menjadi 3 tipe, trauma, tekanan, dan
tarikan.
a. Alopesia traumatic
Kerontokan rambut sampai alopesia akibat trauma memiliki daerah
yang berbatas tegas dan merupakan penyebab tersering alopesia
sikatrisial.
b. Alopesia karena tekanan.
Tekanan yang lama, misalnya pada pasien yang berbaring lama dapat
ini mengakibatkan kerontokan rambut yang berkembang menjadi
alopesia sikatrisial yang umumnya bersifat irreversibel.
c. Alopesia karena tarikan
Tarikan kronis dapat menyebabkan atrofi folikel rambut disertai
inflamasi folikular dan rambut yang patah mengakibatkan kerontokan
rambut sampai alopesia setempat. Keadaan ini dapat dijumpai pada
gadis-gadis remaja dengan kuncir ekor kuda yang kencang, dan
anak-anak Afro-Karabia dengan kuncir-kuncir kecil di rambut serta pada
keadaan trikotilomania. (Pieter)
2.2 Pelurusan Rambut
2.2.1 Meluruskan Rambut Dengan Teknik Rebonding
Ada beberpa teknik pelurusan rambut, diantaranya adalah teknik
pengepresan, teknik smoothing (tanpa alat), dan teknik rebonding. Namun
penulis akan membahas tentang teknik rebonding saja sesuai judul penelitian ini.
2.2.1.1 Sejarah rebonding
Rebonding atau teknik pelurusan rambut sudah ada sejak zaman
dahulu, dengan tahun 1996 penglurusan dilakukan dengan menggunakan
teknik papan, dari tahun 1997 sampai 1999 hanya melakukan teknik
smoothing, dimana hasil yang didapatkan belum sempurna dan tidak
terlihat natural. Pada tahun-tahun tersebut digolongkan pada “Era
Straightener”. Memasuki tahun 2000 sampai 2002 ada terobosan
baru/penemuan alat catok Ceramid, kemudian sekitar tahun 2003
sampai2005 maju lagi dengan teknik rebonding system, dimana hasil
yang didapatkan terlihat alami dan lebih tahan lama. Pada tahun-tahun ini
berkembang teknik terbaru dengan “Natural Express Rebonding”.
Dengan kemajuan teknologi canggih, digital turbo ion dan bionic hair
drayer dalam waktu tidak sampai 2 jam kita sudah dapat merasakan dan
melihat hasilnya dan kita sudah dapat membentuk style sesuka hati ala
Natural Express Rebonding. Pada tahun 2007 berkembang Rebon cling
with I zone. (Rostamailis,dkk. 2008)
2.2.1.2 Rebonding
Rebonding adalah suatu teknik meluruskan rambut dimana
setelah dilakukan smoothing, rambut dicuci dan dikeringkan dengan
tingkat kekeringan 50 sampai 70%, kemudian rambut dicatok dengan
memakai alat. Kelebihan dari teknik rebonding adalah rambut bisa lurus
lebih maksimal dan hasil pelurusan lebih tahan lama. Akan tetapi teknik
ini juga mempunyai kekuranagan, dalam penggunaan alat iron hendaklah
ekstra hati-hati dan pelaksanaan harus sesuai dengan standar teknik
produk yang digunakan. (Rostamaili, dkk. 2008)
Sebelum melakukan pelurusan rambut dengan teknik rebonding,
rambut juga harus dianalisa terlebih dahulu seperti yang sudah dijelaskan
pada uraian sebelumnya guna menentukan:
1) Formula apa yang akan digunakan/dipakai (sesuai dengan jenis dan
kondisi rambut).
2) Rambut re-growth dan rambut yang sudah di rebonding.
a. Rambut tumbuh baru dengan jenis keriting, terbagi: keriting
asli dan keriting ikal, maka dilakukan pengolesan cream.
b. Rambut yang sudah di rebonding beberapa waktu yang lalu,
maka dilakukan treatment terlebih dahulu.
3) Perlu tidaknya di treatment terlebih dahulu (dengan menggunakan
HAIR REPAIR). Ini tergantung tingkat kerusakan rambut.
Tingkat kerusakan rambut umumnya dapat dikelompokkan pada
tingkatan ringan, sedang (pourositas area 1 dan 2) dan rusak parah
(pourositas area 3).
1) Kerusakan ringan, penyebabnya adalah sinar matahari, air dan proses
styling. Adapun ciri-ciri rambut terlihat kusam, kering dan kemerahan.
2) Kerusakan sedang (pourositas area 1 dan2), penyebabnya adalah
proses kimia. Ciri-cirinya rambut kusam, kering dan kasar serta
kemerahan.
3) Rusak parah (pourositas area 3), penyebabnya bleaching. Ciri-cirinya
rambut terlihat kusam, kering dan kasa, kemerahan serta seperti kapas.
Sebelum melakukan pelurusan teknik rebonding, lakukan terlebih
dahulu; persiapan kerja, peralatan, lenan dan bahan komestika yang
diperlukan. Jangan lupa mensterilkan semua peralatan dan lenan yang
akan digunakan. Tempatkan model/pelanggan pada tempat yang sudah
disediakan. Lakukan pendekatan dan konsultasikan model
keinginannnya. Analisa kondisi kulit kepala dan rambut klien dengan
seksama, untuk menentukan produk yang cocok untuk dipergunakan.
(Rostamailis, dkk. 2008)
Dengan semakin majunya perkembangan IPTEK dibidang
kecantikan rambut, maka saat ini banyak produk yang ditawarkan dengan
kualitas yang lebih bagus untuk menanggulanngi kerusakan rambut.
Seperti halnya produk pelurus rambut telah disediakan berbagai jenis
kosmetika yang dalam pemakaiannya disesuaikan dengan kondisi rambut
dan penggunaannya secara step by step. (Rostamailis, dkk. 2008)
Bahan penyusun atau pembuat kosmetika perawatan rambut biasanya
berasal dari campuran bahan-bahan kimia. Beberapa bahan-bahan kimia yang
kimia yang digunakan untuk kosmetika rambut, adalah sebagai berikut:
1. Asam
Asam adalah senyawa dengan pH dibawah 7 yang sangat berguna untuk
rambut dan kulit kita. Pada dasarnya kulit juga bersifat asam. Oleh karena
itu, rambut dapat lebih bertahan bila terdapat senyawa asam selama
senyawa tersebut tidak terlalu keras. Larutan ataupun bahan-bahan
kosmetika rambut yang bersifat asam banyak digunakan dalam perawatan
rambut guna mencapai berbagai tujuan sebagai berikut:
a. Untuk menutup dan memperkecil imbrikasi rambut, yang karena
berbagai faktor menjadi terbuka lebih lebar.
b. Untuk memperkuat batang rambut dengan cara membuatnya menyusut
lebih padat.
c. Untuk membersihkan secara lebih sempurna sisa sampo, yang pada
dasarnya bersifat basa atau mencuci.
d. Untuk membuat hidrogen peroksida stabil dalam penyimpanan. Dalam
keadaan stabil, hydrogen peroksida dapat disimpan lebih lama.
(Endang; Zahida. 2001)
Menurut Kusumadewi dkk, asam dapat dibedakan dalam dua golongan
seperti dibawah ini:
a) Asam inorganik, yaitu asam keras yang banyak digunakan dalam
industri pupuk, pewarna, obat-obatan, dan sebagainya. Asam ini tidak
digunakan untuk bahan kosmetika rambut. Yang termasuk dalam
golongan ini ialah asam sulfat, asam klorida, asam fosfat, dan asa
nitrat.
b) Asam organik, yaitu asam yang berasal dari hewan dan
dan asam laktat dari susu. Asam-asam tersebut merupakan asam lemah
yang banyak digunakan sebagai pembilas rambut, lotion kulit, dan
sebagainya.
Beberapa golongan asam yang dipakai sebagai bahan dasar kosmetika
rambut adalah sebagai berikut:
a) Asam asetat: penggunaan asam asetat dalam penataan rambut adalah
untuk membuat rambut mudah disisir dan diatur serta untuk
mengkilapkan rambut.
b) Asam sitrat: asam sitrat digunakan dalam penataan rambut sebagai
lemon rinse agar rambut mudah diatur.
c) Asam salisilat: dalam penataan rambut, asam ini digunakan sebagai
bahan dasar beberapa komestika perawatan kulit seperti tonik atau
lotion rambut.
d) Asam tioglikolat (thioglycolyc acid): sebagai bahan dasar larutan
pengeriting (cold wave solution) yang dapat mengubah susunan/bentuk
rambut dengan melepaskan ikatan-ikatan antara molekul-molekul
tanduk.
2. Garam
Garam adalah hasil persenyawaan antara asam dengan basa. Garam yang
banyak dipakai sebagai bahan dasar dalam pembuatan kosmetika untuk
penataan rambut biasanya berupa kristal, bisa bewarna maupun tidak
berwarna.
3. Basa
Senyawa basa atau alkali juga banyak digunakan dalam pembuatan
menjadi penyebab utama berbagai kerusakan rambut. Larutan dan
kosmetika rambut yang bersifat basa digunakan untuk mencapai beberapa
tujuan sebagai berikut:
a. Untuk membuka dan memperbesar imbrikasi rambut yang menutup
terlalu rapat.
b. Untuk membuat batang rambut mengembang dan menjadi lebih lunak
sehingga mudah dibentuk.
c. Untuk membersihkan minyak/lemak alami terutama yang berada di
celah-celah antara sisik selaput rambut secar lebih bersih dan lebih
mudah.
d. Untuk membuat larutan hidrogen peroksida menjadi tidak stabil
sehingga larutan tersebut siap digunakan.
Basa atau alkali yang banyak digunakan dalam pembuatan kosmetika
untuk penataan rambut adalah sebagai berikut:
a) Amonium hidroksida, yang berguna untuk mengaktifkan hidrogen
peroksida dalam proses bleaching.
b) Kalsium oksida, sebagai sumber panas eksoternik dalam keriting
panas.
c) Kalsium hidroksida, untuk membuat sabun lunak atau sabun hijau
(green soap).
d) Natrium hidroksida, berguna untuk menghilangkan lemak dan minyak
serta dapat digunakan juga sebagai bahan dasar kosmetika pelurus
rambut.
4. Hidrogen Peroksida
Di dalam bahan kosmetika untuk pengeritingan rambut, hydrogen
peroksida digunakan untuk meregangkan hubungan antara sirip-sirip
kutikula rambut dan menghentikan daya kerja larutan pengeritingan
5. Amonium Tioglikolat
Larutan garam ini adalah cairan dingin dengan pH 9-9,5. Bila pH-nya
terletak antara 9-11, garam ini dapat digunakan untuk menghilangkan
bulu. Di dalam penggunaannya, harus memakai sarung tangan karena
dapat mengakibatkan kemerah-merahan bila di dalam rambut terdapat
garam besi.
6. Tembaga Sulfat
Tembaga sulfat digunakan dalam cat rambut yang memberikan warna
cokelat dan hitam. Warna tersebut terjadi karena tembaga sulfat berubah
menjadi tembaga oksida.
7. Seng Oksida
Seng oksida berwujud serubuk putih dan digunakan bersama seng
karbonat dalam calamine lotion yang sangat berguna untuk mengatasi
rasa terbakar pada kulit setelah melakukan pengecatan rambut.
8. Damar gandarukem diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan digunakan
untuk mempercepat pengeringan setting lotion dan membuat
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel dependen
Pelurusan Rambut Rambut Rontok
(Rebonding)
Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
3.2 Definisi Operasional 3.2.1 Rebonding
Rebonding (pelurusan rambut) adalah meluruskan rambut agar rambut jatuh
lebih lurus dan lebih indah.
3.2.2Kerontokan Rambut
Kerontokan rambut adalah kehilangan rambut yang berkisar lebih dari 100
[image:36.612.125.513.630.696.2]helai per hari kira-kira senggenggam tangan.
Tabel 3.1 : Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Skala Rebonding Rebonding (pelurusan
rambut) adalah meluruskan
Rambut rontok
rambut agar rambut jatuh
lebih lurus dan lebih indah.
Kerontokan rambut adalah
kehilangan rambut yang
berkisar lebih dari 100 helai
per hari.
Kuesioner Nominal
3.3 Hipotesis
Ada hubungan antara rebonding (pelurusan rambut) dengan kejadian rambut
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan penelitian cross sectional
study (potong lintang).
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian direncanakan akan dilakukan di SMA Negeri 1 Medan karena
sampel dari penelitian ini adalah siswi-siswi yang menjalani studinya di SMA Negeri
1 Medan. Penelitian akan dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan Oktober
2012.
4.3 Populasi Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswi-siswi kelas 1 dan 2 SMA
Negeri 1 Medan yang melakukan rebonding (pelurusan rambut).
4.3.1 Kriteria inklusi 1. Melakukan rebonding
2. Jenis kelamin perempuan
4.3.2 Kriteria eksklusi
1. Sedang mengalami trauma psikis dan stress berat
2. Sedang mengkonsumsi obat-obat anti pembekuan darah, obat henti jantung, obat
kontrasepsi, dan lain-lain
3. Sedang mengalami infeksi berat/demam tinggi
4. Sedang mengalami penyakit kronis/menahun
6. Infeksi di kepala, seperti Tinea kapitis, dan Ptiriasis sicca.
4.4 Besar Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah seluruh siswi SMA Negeri 1 Kelas 1 sampai
Kelas 2 yang melakukan rebonding (pelurusan rambut) atau disebut dengan total sampling. Total sampling digunakan apabila subjeknya kurang dari 100 orang.
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
Berikut ini akan dijelaskan hasil dari penelitian tentang hubungan rebonding
dengan kejadian rambut rontok pada siswi SMA Negeri 1 Medan kelas X dan XI,
yang dilakukan pada bulan Agustus sampai Oktober 2012 di SMA Negeri 1 Medan
dengan jumlah yang melakukan rebonding sebanyak 53 orang.
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Medan, Jalan Teuku Cik Ditiro No 1,
Medan, Sumatra Utara.
[image:40.612.108.533.425.509.2]
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden
Tabel 5.1. Distribusi Berdasarkan Karakteristik Kerontokan Rambut
Kerontokan Rambut Jumlah (Orang) Persentase (%)
<100 helai/hari (Fisiologis) 17 32,1
>100 helai/hari (Patologis) 36 67,9
Total 53 100,0
Berdasarkan tabel 5.1. tersebut, dari 53 orang yng melakukan rebonding,
menunjukkan 17 orang (32,1 %) mengalami kerontokan rambut yang fisiologis (<100
helai/hari), dan 36 orang (67,9 %) mengalami kerontokan yang patologis (>100
helai/hari). Dengan demikian, sampel yang diikutkan dalam pembahasan penelitian
5.1.3. Deskripsi Karakteristik Responden 5.1.3.1. Usia
Tabel 5.2. Distribusi Sampel Berdasarkan Usia
Usia (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
14 8 22,2
15 10 27,8
16 14 38,9
17 4 11,1
Total 36 100,0
Bedasarkan tabel 5.2. kebanyakan sampel berusia 16 tahun sebanyak 14 orang
(38,9 %), usia 15 tahun sebanyak 10 orang (27,8 %), usia 14 tahun sebanyak 8 orang
(22,2 %), dan usia 17 tahun sebanyak 4 orang (11,1 %).
5.1.3.2. Kelas
Tabel 5.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Kelas
Kelas Jumlah (Orang) Persentase (%)
X 16 44,4
XI 20 55,6
Total 36 100,0
Berdasarkan tabel 5.3. kebanyakan sampel berasal dari kelas XI sebanyak 20
[image:41.612.107.534.445.531.2]5.1.3.3. Frekuensi Rebonding
Tabel 5.4. Distribusi Sampel Berdasarkan Frekuensi Rebonding
Frekuensi Rebonding Jumlah (Orang) Persentase (%)
1x6 bulan 11 30,6
1x1 tahun 20 55,6
1x2 tahun 4 11,1
1x3 tahun 1 2,7
Total 36 100,0
Berdasarkan tabel 5.4. kebanyakan sampel melakukan rebonding dengan
frekuensi 1x1 tahun, yaitu sebanyak 20 orang (55,6 %), 1x6 bulan, yaitu sebanyak 11
orang (30,6 %), 1x2 tahun, yaitu sebanyak 4 orang (11,1 %), dan 1x3 tahun, yaitu
sebanyak 1 orang (2,7 %).
5.2. Hasil Analisis Data
5.2.1. Kerontokan Rambut Setelah Rebonding
Tabel 5.5. Distribusi Sampel Berdasarkan Waktu Kerontokan Rambut Setelah
Rebonding
Kerontokan Rambut
Setelah Rebonding
Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 minggu-1 bulan 12 33,3
1-3 bulan 13 36,1
3-6 bulan 6 16,7
[image:42.612.111.532.568.695.2]Total 36 100,0
Berdasarkan tabel 5.5. kebanyakan sampel mengalami kerontokan rambut 1-3
bulan setelah rebonding, yaitu 13 orang (36,1 %), yang mengalami kerontokan
1minggu-1 bulan setelah rebonding, yaitu 12 orang (33,3 %), 3-6 bulan, yaitu 6 orang
(16,7 %), dan 6 bulan-1 tahun, yaitu sebanyak 5 orang (13,9 %).
[image:43.612.108.535.302.406.2]5.2.2. Hubungan Rebonding Dengan Kejadian Rambut Rontok Tabel 5.6. Kelompok Rebonding Dengan Kelompok Rambut Rontok
Rebonding Kerontokan Rambut
(Orang)
Persentase (%)
< 1 tahun 31 86,1
> 1 tahun 5 13,9
Total 36 100,0
Uji hipotesis penelitian ini menggunakan metode Chi-Square. Tabel ini layak
diuji dengan Chi-Square karena tidak adanilai expected yang kurang dari lima.
Pada hasil uji Chi-Square, nilai yang dipakai adalah nilai pada Person
Chi-Square. Nilai significancy yang didapat adalah 0,001. Confidence Interval yang
digunakan adalah 95 %. Karena faktor peluang (p value) kurang dari 5 %, maka hasil
tersebut bermakna. Artinya Ho ditolak, terdapat hubungan antara rebonding dengan
kerontokan rambut.
5.3. Pembahasan
Sampel dari penelitian ini adalah seluruh siswi SMA Negeri 1 Medan kelas X
dan XI yang melakukan rebonding atau yang disebut dengan total sampling. Setelah
jumlah tersebut, yang mengalami kerontokan rambut sebanyak 36 orang (67,9 %).
Maka responden yang diikitkan dalam penelitian ini sebanyak 36 orang saja.
Rentang usia dari 36 orang itu berkisar 14-17 tahun, dengan usia tebanyak 16
tahun yaitu sebanyak 14 orang (38,9 %) dan paling sedikit usia 17 tahun yaitu
sebanyak 4 orang (11,1 %).
Rentang kelas dari 36 orang itu bervariasi, mulai dari kelas X-XI. Kebanyakan
sampel berasal dari kelas XI (55,6 %) sebanyak 20 orang, dan dari kelas X sebanyak
16 orang (44,4 %).
Rentang frekuensi melakukan rebonding dari 36 orang itu juga bervariasi.
Kebanyakan sampel melakukan rebonding dengan frekuensi 1x1 tahun, yaitu
sebanyak 20 orang (55,6 %), kemudian 11 orang (30,6 %) melakukannya 1x6 bulan,
4 orang (11,1 %) melakukannya 1x2 tahun, dan 1 orang (12,7 %) melakukannya 1x3
tahun.
Peneliti juga melihat adanya variasi dalam hal waktu terjadinya kerontokan
rambut setelah dilakukan rebonding. Kebanyakan sampel mengalami kerontokan
rambut 1-3 bulan setelah rebonding, yaitu 13 orang (36,1%). Kemudian 1 minggu-1
bulan setelah rebonding sebanyak 12 orang (33,3 %), 3-6 bulan setelah rebonding
sebanyak 6 orang (16,7 %), dan 6 bulan-1 tahunsetelah rebonding sebanyak 5 orang
(13,9 %).
Dari seluruh mahasiswi yang melakukan rebonding, didapatkan sampel yang
mengalami kerontokan rambut (>100 helai/hari) sebanyak 36 orang (67,9%)
sedangkan sampel yang tidak mengalami kerontokan rambut (≤ 100 helai/hari) sebanyak 17 orang (32,1 %). Hasil tersebut menyatakan bahwa terdapat hubungan
antara rebonding dengan kerontokan rambut, dimana p value < 0,05. (Wahyuni,
Arlinda Sari)
Menurut Clara Lana (2011) menyatakan bahwa rambut rontok dapat disebabkan
karena aktivitas penataan rambut yang berlebihan, termasuk aktivitas pelurusan
rambut. Pelurusan rambut akan mengakibatkan folikel rambut menjadi lemah dan
resiko kerontokan rambut. Juga dikatakan (Supardiman, Lily) bahwa tarikan kronis
dapat menyebabkan atrofi folikel rambut disertai inflamasi folikular dan rambut yang
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Sampel dari penelitian ini sebanyak 36 orang, karena dari 56 orang yang
melakukan rebonding, didapatkan 36 orang (67,9 %) yang mengalami
kerontokan rambut.
Yang terbanyak dari sampel penelitian ini berusia 16 tahun, sebanyak 14
orang (38,9 %).
Yang terbanyak dari sampel penelitian ini yaitu kelas XI, sebanyak 20 orang
(55,6 %).
Yang terbanyak dari sampel penelitian ini melakukan rebonding dengan
frekuensi 1x1 tahun, sebanyak 20 orang (55,6 %).
Sampel penelitian yang melakukan rebonding <1 tahun sebanyak 31 orang
(86,1 %), sedangkan yang melakukan rebonding >1 tahun sebanyak 5 orang
(13,9 %).
Dari pengukuran dengan metode chi-square didapatkan bahwa faktor peluang
(p value) kurang dari 5 %, maka hasil tersebut bermakna. Artinya terdapat
hubungan antara rebonding dengan kerontokan rambut.
6.2. Saran
Dari penelitian yang saya lakukan dan melihat hasil yang menyatakan bahwa
terdapat hubungan antara rebonding dengan kerontokan rambut, maka ada beberapa
Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang berkaitan dengan judul ini agar lebih
menambah wawasan masyarakat, khususnya para wanita dengan sampel yang
lebih banyak.
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui pengaruh frekuensi
rebonding dan jenis obat yang digunakan terhadap terjadinya kerontokan
rambut.
Kepada masyarakat khusunya para wanita agar berkonsultasi terlebih dahulu
sebelum melakukan rebonding.
Kepada produsen yang bergerak di bidang kecantikan rambut, agar
menjelaskan kepada pelanggan efek samping yang diakibatkan dari aktivitas
rebonding.
Diharapkan juga agar seluruh pihak bisa memberikan kritik yang membangun
terhadap penelitian ini, agar bisa semakin disempurnakan dan lebih dapat
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta, 134.
Brown, Robin Graham dan Tony Burns. Dermatologi Edisi Kedelapan. Jakarta:
Erlangga, 4-6.
http://mediawanita-samoa.blogspot.com/2011/01/ [Accesed on 2 March 2011]
Jaffer, Saeed N dan Abrar A. Qureshi. Dermatology Quick Glance. Mc Graw-Hill,
150.
Kusumadewi, dkk. 2001. Pengetahuan dan Seni Tata Rambut Moderen. Jakarta:
Meutia Cipta Sarana & DPP. Tiara Kusuma, 19-36.
Lana, Clara. 2011. Tanda Gejala Penyebab Rambut Rontok. Media Wanita. Available
from:
Olsen, E. A, dkk. 1994. Hair Growth Disorders. Mc Graw-Hill, 754.
Pusponegoro, Erdina H.D. 2002. Kerontokan Rambut Etiopatogenesis. Dalam:
Wasitaadmadja, Sjarif M, dkk. Kesehatan dan Keindahan Rambut. Jakarta:
Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia, 1-13.
Ridwan, Muhammad. 2009. Keajaiban Rambut Mahkota yang sering Terabaikan.
Semarang: Pustaka Widyamara, 4.
Soepardiman, Lily. 2010. Kelainan Rambut. Dalam: Djuanda, Adhi, dkk. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 301-311.
Suling, Pieter L. Hair Fall. Dalam: Cosmetic Dermatology Update. Simposium
Nasional, Pameran, dan Pelatihan Dermatologi Kosmetik, 1-15.
Supardiman, Lily. 2002. Berbagai Macam Kerontokan Rambut. Dalam: Wasitaadmadja,
Sjarif M, dkk. Kesehatan dan Keindahan Rambut. Jakarta: Kelompok Studi
Dermatologi Kosmetik Indonesia, 15-27.
Wahyuni, Arlinda Sari. 2008. Statistika Kedokteran. Jakarta: Bamboedoea
Lampiran 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Rika Octaviani
Tempat/Tanggal Lahir: Pkl. Susu, 18 Oktober 1990
Agama : Islam
Alamat : Jl. T.Imam Bonjol N0.208, Binjai
Riwayat Pendidikan : 1. SD Dharma Patra, Pkl. Susu
2. SMP Dharma Patra, Pkl. Susu
3. SMA Dharma Patra, Pkl. Brandan
Riwayat Pelatihan : 1. Balut Bidai TBM FK USU 2010
Lampiran 2
LEMBAR PENJELASAN SUBYEK PENELITIAN
Saya Rika Octaviani, mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara akan mengadakan penelitian yang berjudul “Hubungan Antara Pelurusan Rambut (Rebonding) Dengan Kejadian Rambut Rontok Pada Siswi SMA Negeri 1 Medan”. Saya mengikut sertakan saudari dalam penelitian ini untuk mengetahui efek pelurusan rambut (rebonding) dengan kejadian rambut rontok.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tindakan
pelurusan rambut dengan teknik rebonding bisa mempengaruhi kerontokan rambut.
Partisipasi saudari dalam penelitian ini adalah sukarela. Identitas saudari
dalam penelitian ini akan disamarkan. Kerahasiaan identitas saudara/i akan di jamin
sepenuhnya.
Saya mengucapkan terima kasih atas bantuan, partisipasi dan kesedian waktu
saudari sekalian dalam penelitian ini.
Peneliti,
Lampiran 3
LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN ( Informed Consent )
Saya yang bertanda tangan dibawah bawah ini :
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Kelas :
Alamat :
Setelah mendapat keterangan dan penjelasan secara lengkap, maka dengan
penuh kesadaran dan tanpa paksaan, saya menandatangani dan menyatakan bersedia
berpartisipasi pada penelitian ini.
Peneliti, Medan, / / 2012
Peserta penelitian,
Lampiran 4
KUESIONER PENELITIAN TENTANG HUBUNGAN ANTARA PELURUSAN RAMBUT (REBONDING) DENGAN KEJADIAN RAMBUT RONTOK PADA SISWI SMA NEGERI 1 MEDAN KELAS 1 SAMPAI KELAS 2
Nama : Kelas :
Umur : Tanda Tangan :
Nb: Pertanyaan No 7 harap dihitung benar-benar untuk kerontokan rambut yang terjadi, mulai bangun tidur sampai tidur kembali, baik saat sisiran, cuci rambut, bangun tidur, dan lain-lain.
1. Berapa kali Anda melakukan rebonding (pelurusan rambut)?
A. 1x6 bulan C. 1x2 tahun E. Lainnya ………
B. 1x1 tahun D. 1x3 tahun
2. Dimana Anda melakukan rebonding (pelurusan rambut)?
A. Rumah kecantikan
B. Salon
C. Lainnya ………..
3. Apa alasan Anda melakukan rebonding (pelurusan rambut)?
A. Kecantikan
B. Trend
4. Berapa biaya yang dibutuhkan untuk sekali rebonding (pelurusan rambut)?
A. Rp 10.000-Rp 50.000
B. Rp 50.000-Rp 100.000
C. Lainnya ……….
5. Apakah Anda mengalami kerontokan rambut setelah melakukan rebonding
(pelurusan rambut)?
A. YA
B. TIDAK
Jika Ya, jawab soal No 6-13
6. Berapa lama setelah melakukan rebonding (pelurusan rambut) Anda mengalami
kerontokan rambut?
A. 1 minggu-1bulan C. 3 bulan-6 bulan E. Lainnya ……….
B. 1 bulan-3 bulan D. 6 bulan-1 tahun
7. Berapa helai kerontokan rambut yang Anda alami?
A. < 50/hari C. 100-120/hari
B. 50-100/hari D. > 120/hari
8. Apakah saat ini Anda sedang mengkonsumsi obat-obatan?
A. YA
B. TIDAK
9. Jika Ya, obat apa saja dibawah ini yang sedang Anda konsumsi?
A. Anti kanker C. Obat henti jantung E. Hormon
10. Apakah Anda pernah mengalami penyakit kulit di kepala?
A. YA
B. TIDAK
11. Bila Ya, sebutkan apa saja?
A. Tinea kapitis C. Ptiriasis sicca/ketombe
B. Lupus eritematosus D. Lainnya ………
12. Apakah Anda pernah mencat rambut Anda?
A. YA
B. TIDAK
13. Jika Ya, berapa kali Anda mencat rambut Anda?
A. 1x3 bulan C. 1x1 tahun E. Lainnya ……….
B. 1x6 bulan D. 1x2 tahun
Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak
Apakah saat ini Anda sedang mengalami penyakit
kronis/menahun?
Apakah dalam 3 bulan ini Anda mengalami demam
berat?
Apakah saat ini Anda sedang mengalami penyakit
tiroid?
ketat?
Lampiran 6
Tabel 5.1. Distribusi Berdasarkan Karakteristik Kerontokan Rambut
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid <100/hari 17 32.1 32.1 32.1
>100/hari 36 67.9 67.9 100.0
[image:57.612.110.532.325.455.2]Total 53 100.0 100.0
Tabel 5.2. Distribusi Sampel Berdasatkan Usia
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 14 8 22.2 22.2 22.2
15 10 27.8 27.8 50.0
16 14 38.9 38.9 88.9
17 4 11.1 11.1 100.0
Total 36 100.0 100.0
Tabel 5.3. Distribusi Sampel Berdasarkan Kelas
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid X 16 44.4 44.4 44.4
XI 20 55.6 55.6 100.0
[image:57.612.110.533.501.626.2]Tabel 5.4. Distribusi Sampel Berdasarkan Frekuensi Rebonding
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1x1 thn 20 55.6 55.6 55.6
1x2 thn 4 11.1 11.1 66.7
1x3 thn 1 2.8 2.8 69.4
1x6 bln 11 30.6 30.6 100.0
Total 36 100.0 100.0
Tabel 5.5. Distribusi Sampel Berdasarkan Waktu Kerontokan Rambut Setelah
Rebonding
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid 1 bln - 3 bln 13 36.1 36.1 36.1
1 mggu - 1 bln 12 33.3 33.3 69.4
3 bln - 6 bln 6 16.7 16.7 86.1
6 bln - 1 thn 5 13.9 13.9 100.0
Tabel 5.6. Kelompok Rebonding Dengan Kelompok Rambut Rontok
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid < 1 tahun 31 86.1 86.1 86.1
> 1 tahun 5 13.9 13.9 100.0
Total 36 100.0 100.0
Chi-Square Tests
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(2-sided)
Exact Sig.
(1-sided)
Pearson Chi-Square 11.490a 1 .001
Continuity Correctionb 9.382 1 .002
Likelihood Ratio 11.106 1 .001
Fisher's Exact Test .002 .001
Linear-by-Linear
Association
11.273 1 .001
N of Valid Cases 53
a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.81.
Lampiran 7
DATA INDUK MAHASISWI REBONDING YANG TIDAK MENGALAMI
KERONTOKAN RAMBUT (≤ 100 HELAI/HARI)
No Kelas Usia Frekuensi Rebonding Kerontokan Setelah
Rebonding
1 X 15 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
2 X 15 1x2 tahun 1-3 bulan
3 X 15 1x3 tahun 1-3 bulan
4 X 15 1x3 tahun 1-3 bulan
5 XI 16 1x2 tahun 1 minggu-1 bulan
6 XI 16 1x3 tahun 1-3 bulan
7 XI 16 1x2 tahun 3-6 bulan
8 XI 16 1x3 tahun 1-3 bulan
9 XI 16 1x1 tahun 1-3 bulan
10 XI 17 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
11 XI 16 1x1 tahun 3-6 bulan
12 XI 16 1x2 tahun 1-3 bulan
13 XI 16 1x3 tahun 1-3 bulan
15 XI 16 1x1 tahun 3-6 bulan
16 X 15 1x2 tahun 6 bulan-1 tahun
17 XI 16 1x1 tahun 3-6 bulan
DATA INDUK SISWI REBONDING YANG MENGALAMI KERONTOKAN RAMBUT (> 100 HELAI/HARI)
No Kelas Usia Frekuensi Rebonding Kerontokan Setelah Rebonding
1 X 15 1x1 tahun 3-6 bulan
2 X 15 1x6 bulan 1-3 bulan
3 X 14 1x3 tahun 6 bulan-1 tahun
4 X 15 1x2 tahun 6 bulan-1 tahun
5 X 15 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
6 X 15 1x2 tahun 1 minggu-1 bulan
7 X 15 1x1 tahun 6 bulan-1 tahun
8 X 14 1x1 tahun 1-3 bulan
9 X 14 1x1 tahun 6 bulan-1 tahun
10 X 14 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
11 X 14 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
12 X 14 1x6 bulan 1-3 bulan
13 X 15 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
15 X 14 1x2 tahun 1-3 bulan
16 XI 16 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
17 XI 16 1x1 tahun 3-6 bulan
18 XI 16 1x1 tahun 1-3 bulan
19 XI 17 1x6 bulan 3-6 bulan
20 XI 16 1x1 tahun 1-3 bulan
21 XI 16 1x6 bulan 3-6 bulan
22 XI 17 1x6 bulan 1-3 bulan
23 XI 17 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
24 XI 16 1x6 bulan 1-3 bulan
25 XI 16 1x1 tahun 3-6 bulan
26 XI 16 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
27 XI 16 1x6 bulan 1 minggu-1 bulan
28 XI 15 1x6 bulan 1-3 bulan
29 XI 17 1x1 tahun 6 bulan-1 tahun
30 XI 16 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
31 XI 16 1x1 tahun 3-6 bulan
32 XI 15 1x2 tahun 1-3 bulan
33 XI 16 1x6 bulan 1 minggu-1 bulan
34 X 16 1x1 tahun 1 minggu-1 bulan
35 X 15 1x1 tahun 1-3 bulan