DAFTAR PUSTAKA
Artiani, ListyaEndang, Seminar NasionalInformatika 2011 (semnasIF 2011) ISSN: 1979-2328 UPN ”Veteran” Yogyakarta, 2 Juli 2011
Bacharudin, R.,1994. ZonasiRisikoBahayaGunungapi. Proceedings SimposiumNasionalMitigasiBencanaAlam.:
BadanPenerbitanFakultasGeografi, UGM.Yogyakarta
Darmawaty, S., 2005.BeberapaFaktorSosialEkonomi yang MempengaruhiProduktivitas, BiayaMatahelumual, J.
Hewitt, K.,1997, Regions at risk. Harlow: Longman.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2009. TeoriSosiologi Modern. Kencana. Jakarta:
Soekartawi. 1990. AnalisisUsahatani. UI Press.Jakarta
________, 1995.Pembangunan Pertanian. Manajemen PT Raja GrafindoPersada, Jakarta
________, 2002, PrinsipDasarEkonomiPertanian( EdisiRevisi, PT. Raja GrafindoPersada, Jakarta.
Sugiyono. 2010. MemahamiPenelitianKualitatif. Jakarta: Alfabeta.
Sumarnonugroho. 1984. SistemIntervensiKesejahteraanSosial, Yogyakarta,Hanindita.
Sumarwoto, Otto. 2009. AnalisisMengenaiDampakLingkungan. GadjahMadaUversityPress.Yogyakarta.
Majalahdan Internet
MajalahGeo EducasiaTahun I, Vol I, Tahun 2012, (15 Februari 2014)
Rusmiyati, Chatarina,Informasi, Vol. 17, No. 02 Tahun 2012 (15 Februari 2014) United Nations Disaster Relief Coordinator, UNDRCO, 1991 (20 Februari 2014) SuaraKarya Online 21 Oktober2012(20 Februari 2014)
http://www.majalahglobalreview.com(20 Februari 2014)
http://www.tempointeraktif.com(20 Februari 2014)
http://www.wikipedia.com. (20 Februari 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi(23 Februari 2014)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. JenisdanPendekatanPenelitian 1. JenisPenelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yaitu penelitiantentang data yang dikumpulkandandinyatakandalambentukangka-angka,meskipunjugaberupa data kualitatifsebagaipendukungnya, seperti
kata-kataataukalimat yang tersusundalamangket,
kalimathasilkonsultasiatauwawancaraantarapenelitidaninforman.Data
kuantitatifadalah data yang berbentukangkaatau data kualitatif
yangdiangkakan.Data kualitatif yang
diangkakanmisalnyaterdapatdalamskalapengukuran.Bentukpertanyaantertutup (close ended) denganteknikdichotomus choicehanyamenyediakan 2 jawabanalternatif, respondenmemilihsalahsatudiantaranya.
Penelitiankuantitatifmengambiljarakantarapenelitidenganobjek
yangditeliti.Penelitiankuantitatifmenggunakaninstrumen-instrumen formal, standardanbersifatmengukur.(Sukmadinata,2006: 95).
2. PendekatanPenelitian
Sesuaipermasalahan yang
diangkatpadapenelitianiniadalahpermasalahanasosiatif,
omparasi yang ditelitiadalahuntukmengetahuisignifikansiperbedaansosialekonomimasyarakatsebe lumdansetelahbencanaerupsiGunungapiSinabung.Variabeldampaksosialterdiridari :kematian, risikokesehatan, trauma mental, menurunnyaperekonomian, terganggunyakegiatanpendidikan (anak-anaktidakdapatpergikesekolah), terganggunyaaktivitaskantorpelayananpublik, kekuranganmakanan, energi, air; danvariabeldampakekonomimencakupkehilanganmateri,
gangguankegiatanekonomi (orang tidakdapatpergikerja, terlambatbekerja, atautransportasikomoditasterhambat, dan lain-lain).
3.2.TempatdanWaktuPenelitian 1. TempatPenelitian
Tempatpelaksanaanpenelitianiniadalahpada masyarakat 18 Desa pada radius 5 Km yang terdapat di 4 Kecamatan, yakni kecamatan Simpang Empat, Kecamatan Naman Teran, Kecamatan Payung dan Kecamatan Tiganderket yang terdampak langsung erupsi Gunungapi Sinabung.
2. WaktuPenelitian
Aktivitaspenelitianinisecarakeseluruhandilaksanakanselamalimabulan, sejakbulanFebruarisampaidenganbulanJuni2014.
Jumlahclustersamplingyang ditentukansecaraproporsionaladalah 3 desa, yakni:
1. Desadalam radius 3 Km = DesaSukameriah 2. Desadalam radius 4 Km = DesaKutaGugung 3. Desadalam radius 5 Km = DesaBerastepu
Penelitianinipopulasinyahomogenmasyarakatpetani,
Sampel =99 orang dibulatkanmenjadi 100 orang
3. DistribusiSampling
Salah satucarapengambilansampel yang
representatifadalahsecaraacakataurandom.
Pengambilansampelsecaraacakberartisetiapindividudalampopulasimempunyaipelu ang yang samauntukdijadikansampel. (Sukmadinata,2006:253). Sampel yang representatif, carapengambilansampelmenggunakanproporsional random dengancaradiundi. Penghitungannyamenggunakanrumusproporsi random sampling dengancaradiundi. (Sugiyono, 2007: 68)
Keterangan:
n1 = banyaknyasampel di setiapdesa n = banyaknyapopulasi di setiapdesa N = banyaknyapopulasiseluruhdesa N1 = banyaknyasampelpenelitian
Tabel-3:
DistribusiRespondenMenurutDesa
No Desa N n1
1 Sukamariah 130 11
2 Kutagugung 254 21
3 Berastepu 801 68
Jumlah 1185 100
3.4. MetodePengumpulan Data
yaitupenelitian yangdilakukandenganmempelajariliteratur-literatur yang adahubungannyadenganpenelitianini.
2. PenelitianLapangan (Field Work Research)
yaitupenelitianlangsung dilapangandenganmenggunakan: a)Observasi,
yaitumelakukanpengamatanlangsungterhadapkehidupanmasyarakatdesa yang tinggal di sekitarGunungapiSinabung.
b)Angket,
yaitumenyebarkanlangsungdaftarpertanyaankepadarespondensecaraproporsi onal.
c) Dokumentasi, yaitumengumpulkan data-data yang berhubungandenganpenelitian.
d) Wawancaraterhadaprespondenmasyarakatdesa, KepalaDesa, BadanPermusyawaratanDesadanTokoh Agama, TokohMasyarakat.
3.5. MetodeAnalisis
Metodeanalisis data yang
digunakanpadapenelitianiniadalahmetodeanalisisdeskriptifdanmetodeanalisisstatis tik.
a. MetodeAnalisisDeskriptif
Metodeanalisisdeskriptifadalahsuatumetodeanalisisdimanadata yang dikumpulkandandigolongkankemudiandianalisisdandiinterprestasikansecarao bjektif.
Uji t-Test adalahsebagaiujikomparasiantar 2 sampelbebas (independent). Tesiniditerapkanjikaanalisis data bertujuanuntukmengetahuiapakah 2 waktuberbedadalamvariabeltertentu.
[ ]
Keterangan:
t = r– ratio / t-Test / t analisis yang dihitung M 1 = rata-rata pada waktu sebelum erupsi M 2 = rata-rata pada waktu setelah erupsi
Mh = mean hipotetik. Dalam hal ini mean hipotetik adalah 0. Sebab secara hipotetik disebutkan bahwa mean antar 2 waktu sama/ tidak ada perbedaaan.
SDbm = standard kesalahan perbedaan mean c. PengujianHipotesis
Untukhipotesiskomparatifsatusampel, biladatanyaberbentuk interval ataurasio, menggunakanmetodeujibedadarisatukelompokobservasilapangan (t-Test one sample for means)denganderajatsignifikansi 5 %. (Sugiyono, 2005:128).
Dalampengujianinimenggunakanhipotesis:
Ho = ditolakjika t hasilanalisis> t tabel (titikkritis) padatarafsignifikansiα =
0,1
H1 = diterimajika t hasilanalisis<t tabel (titikkritis) padatarafsignifikansiα =
0,1
Penelitianini
didesignuntukmengetahuiadatidaknyadampakerupsiGunungapiSinabungterhadaps
osialekonomimasyarakat di
sekitarGunungapiSinabung.Untukmendapatkanpersepsiyangsamaatasvariabel yang disajikan, maka data operasionaldalampenelitianiniadalahsebagaiberikut:
1. Dampakadalahsuatuperubahan yang
terjadisebagaiakibatsuatuaktivitasmanusia di sekitarGunungapiSinabungpascaerupsi.
2. ErupsiGunungapiSinabungadalahmeletusnyaGunungapiSinabung yang mengeluarkanabuvulkanik, lahar dingin yang menggangguaktivitasmanusiadankerusakanlahandantanamanpertanian, jalandanrumah.
3. DampaksosialadalahdampakerupsiGunungapiSinabungyang terdiridari :kematian, risikokesehatan, trauma mental, menurunnyaperekonomian, terganggunyakegiatanpendidikan (anak-anaktidakdapatpergikesekolah), terganggunyaaktivitaskantorpelayananpublik, kekuranganmakanan, energi&airsebelumdansesudaherupsi.
4. DampakekonomiadalahdampakerupsiGunungapiSinabungterhadapekonom imencakupkehilanganmateri, gangguankegiatanekonomi (orang
tidakdapatpergikerja, terlambatbekerja,
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.Keadaan Wilayah Kabupaten Karo
4.1.1. Letak Geografis
Kabupaten Karo adalah salah satu pemerintah daerah otonom di Provinsi Sumatera Utara, dengan luas wilayah 2.127,25 Km² (212.725 Ha). Secara Geografis terletak pada 2º50’–3º19’ Lintang Utara dan 97º55’–98º38’ Bujur
Timur dengan luas 2.127,25 Km2 atau 2,97% dari luas Provinsi Sumatera Utara. Dari posisi geografisnya Kabupaten Karo merupakan dataran tinggi yang sebagian besar wilayahnya dipagari oleh jajaran Bukit Barisan, memiliki dua gunung berapi aktif yaitu Gunungapi Sinabung dan Gunungapi Sibayak yang memiliki jarak lokasi berdekatan, sehingga Kabupaten Karo termasuk wilayah rawan gempa vulkanik.
Adapun daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Karo sebagai berikut: - Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Deli
Serdang
- Sebelah Selatan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Samosir
- Sebelah Timur dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun dan
- Sebelah Barat dengan Provinsi Nangroe Aceh Darusalam.
Tabel-4:
Komposisi Kecamatan dari Letak DPL dan Luas Wilayah No Kecamatan Letak dpl (m) Luas wilayah (km2)
Sumber : Kabupaten Karo Dalam Angka, 2012
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kecamatan yang paling rendah dari permukaan laut adalah Kecamatan Mardinding dan Lau Baleng, yakni setinggi 280 mdpl; sedangkan kecamatan yang paling tinggi adalah Kecamatan Simpang Empat, Tiganderket dan Kecamatan Naman Teran mencapai 1420 mdpl. Wilayah paling luas adalah Kecamatan Mardingding, yakni 267,11 Km2; sedangkan wilayah paling rendah dari permukaan laut adalah Kecamatan Payung, yakni hanya 47,24 Km2.
4.1.2.Iklim
sampai dengan bulan Mei.Sedangkan musim kemarau biasanya berlangsung pada bulan Februari, Juni dan Juli.Curah hujan di Kabupaten Karo tahun 2010 tertinggi pada bulan November sebesar 268 MM dan terendah pada bulan Januari sebesar 64 MM sedangkan jumlah hari hujan tertinggi pada bulan November sebanyak 21 hari dan terendah pada bulan Februari sebanyak 7 hari. Suhu udara berkisar antara 18,8ºC sampai dengan 19,8ºC dengan kelembaban udara rata-rata setinggi 84,66%.Arah angin terbagi 2 (dua) arah/gerak yaitu angin yang berhembus: - Dari arah Barat kira-kira bulan Oktober sampai dengan bulan Maret
- Dari arah Timur dan Tenggara antara bulan April sampai dengan bulan September.
4.1.3.Pemerintahan dan Kependudukan
Tabel-5 :
Komposisi Kecamatan menurut Wilayah Adminsitrasi dan Jumlah Penduduk
No Kecamatan Pemerintahan Kependudukan
Desa Kelurahan KK Jiwa Lk Pr Sumber : Kabupaten Karo Dalam Angka, 2012
4.1.4. Mata Pencaharian Penduduk
secara signifikan menjadi primadona penyumbang utama perekonomian Kabupaten Karo.
a. Sub Sektor Tanaman Pangan
Cakupan subsektor tanaman pangan meliputi padi/palawija dan holtikultura.Produksi padi pada tahun 2012 tercatat padi ladang sebesar 38.603 ton, mengalami peningkatan jika dibanding tahun 2011 yang berjumlah 36.108 ton.Untuk padi sawah produksi 93.474 ton pada tahun 2012, keadaan ini juga meningkat jika dibanding dengan produksi tahun 2011 yang berjumlah 73.172 ton. Sedangkan komoditi jagung produksi tahun 2011 sebesar 419.619 ton, juga mengalami peningkatan dibanding tahun 2012 sebesar 427.747 ton. Sedangkan tanaman ubi jalar tahun 2011 berproduksi sebesar 9.908 ton mengalami penurunan pada tahun 2012 yaitu sebesar 6.337 ton.
b. Sub Sektor Perkebunan
sebesar 7.287,80 ton, tahun 2012 menjadi 7.013,98 ton. Sedangkan produksi coklat mengalami peningkatan, tahun 2008 sebesar 2.231,00 ton dan tahun 2012 menjadi 2.588,00 ton.
c. Sub Sektor Peternakan
Usaha Peternakan umumnya diusahakan oleh rakyat yang bertujuan untuk dikonsumsi dan juga menambah pendapatan rumah tangga.Ternak yang umum dipelihara masyarakat Karo adalah sapi, kerbau, kambing, babi, kuda, ayam, kelinci dan itik.Beberapa jenis ternak yang mengalami perubahan jumlah populasi adalah sapi, babi, kambing dan ayam.Pada tahun 2011 populasi sapi potong mencapai 23.056 ekor namun menurun menjadi 20.023 ekor pada tahun 2012. Sedangkan ternak babi meningkat dari tahun 2011 yang berjumlah 28.747 ekor dan pada tahun 2012 menjadi 30.611 ekor. Populasi kambing mengalami peningkatan, dimana tahun 2011 berjumlah 12.689 ekor, meningkat menjadi 21.194 ekor tahun 2012. Populasi ayam juga mengalami peningkatan, dimana tahun 2011 berjumlah 284.317 ekor menjadi 294.878 ekor pada tahun 2012. d. Sub Sektor Perikanan
e. Sub Sektor Kehutanan
Kawasan hutan sangat vital bagi kehidupan, selain sebagai paru-paru dunia hutan juga merupakan tempat habitat hidup berbagai jenis hewan.Hutan juga berfungsi sebagai resapan air.Di Kabupaten Karo terdapat hutan lindung seluas 98.644,5 Ha yaitu daerah kawasan Leuser.Sedangkan hutan suaka alam ada 7 Ha, hutan produksi terbatas ada 15.592 Ha.Hutan produksi ada seluas 11.293 Ha. Dari seluas 125.536,50 Ha hutan yang terdapat di Kabupaten Karo kondisinya sudah sangat memprihatinkan hal ini dapat kita lihat dari hasil produksi hutan seperti getah damar, rotan, kayu dan lain-lain yang semakin menurun tiap tahun, dimana beberapa tahun terakhir sudah tidak ada lagi.
4.1.5.Karakteristik Responden
Penelusuran data dilakukan sesuai karakteristik responden yang ditemukan di lapangan agar dapat mengggambarkan hasil penelitian yang sahih. Karakteristik responden adalah ciri-ciri khusus responden yang menjadi objek penelitian untuk dapat membedakannya dengan kelompok lain. Beberapa data karakteristik responden yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel-6 :
Tabel di atas menjabarkan bahwa responden laki-laki mayoritas dengan jumlah 92 (92,00%); selebihnya perempuan sebanyak 8 orang (8,00%) menyandang status janda dan berperan sebagai Kepala Keluarga. Karakteristik selanjutnya adalah karakteristik umur, sebagaimana terlihat pada tabel berikut:
atas, yakni sebanyak 6 orang (6,00%). Hasil penelusuran yang lain adalah
sangat mengganggu kestabilan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak bencana. Karakteristik responden lainnya yang juga penting yaitu jumlah tanggungan, sebagaimana table di bawah ini;
Tabel-10 : responden (14,00%) yang tidak memiliki anak dalam tanggungan. Dengan demikian gagal panen akan menyebabkan kaum ibu dan anak-anak akan menanggung dampak yang sangat besar. Lebih lanjut, perlu pula untuk memperhatikan karakteristik status kepemiliki rumah responden, agar dapat dilihat tingkat kelayakan hunian para korban bencana pascaerupsi terjadi.
Tabel-11 :
responden (11,00%). Rumah merupakan salah satu indikator standar hidup layak, oleh karena itu kerusakan rumah dapat menjadi penyumbang besar terhadap merosotnya kehidupan sosial ekonomi masyarakat terdampak bencana. Kondisi sosial ekonomi responden dapat pula diukur melalui data status kepemilikan rumah, pendataan terhadap karakteristik tersebut, terlihat dalam table sebagai berikut;
Dapat dipahami bahwa mayoritas responden memiliki ladang sendiri, yakni sebanyak 63 responden (63,00%); dan masih terdapat responden yang tidak memiliki ladang dengan rincian menyewa sebanyak 23 responden (23,00%); dan menumpang tetapi tidak menyewa sebanyak 14 responden (14,00%). Karakteristik responden yang terakhir adalah;
disebabkan berbagai alasan antara lain rumah mengalamai kerusakan akibat erupsi gunungapi Sinabung.
4.2.Kondisi Erupsi Gunung Sinabung 4.2.1. Kronologi Erupsi Gunung Sinabung
Di wilayah Sumatera terdeteksi 13 gunungapi tipe A, 12 gunungapi tipe B dan 6 gunungapi tipe C. Salah satu gunungapi aktif tipe A terdapat di Sumatera Utara Kabupaten Karo yaitu gunungapi Sinabung. Pada awalnya gunungapi Sinabung merupakan Gunungapi tipe B, yaitu gunungapi yang tidak memiliki catatan letusan sesudah tahun 1600 Masehi. Tetapi kemudian ditetapkan menjadi tipe Aoleh Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi Kementerian ESDM, dengan kronologi sebagai berikut :
Setelah lebihkurang 400 tahun tidak ada aktivitas, gunungapi Sinabung
kembali mengeluarkan letusan freatikpada 27 Agustus 2010. Sejak itu tipe Gunungapi Sinabung diklasifikasikan tipe A.
15 September 2013 Gunungapi Sinabung kembali erupsi dan dinyatakan
SIAGA (LEVEL III) Radius 3 Km dan pada 29 September turun statusnya menjadi WASPADA (LEVEL II).
24 November 2013 - Saat ini Aktivitas Gunungapi Sinabung semakin
meningkat, sejak 24 November 2013 status naik menjadi AWAS (LEVEL IV) radius 5 Km. Terhitung mulai November sampai 14 Januari tercatat telah terjadi 749 kali erupsi.
Tanggal 27-28 Agustus letusan abu/freatik dari kawah puncak, Tanggal 29-30
berkisar 1500-2000 m, Tanggal 3 dan 7 September letusan abu dengan tinggi kolom abu berkisar 2000-5000 m.
Sejak 15 September – 25 November 2013 sudah terjadi 107 kali letusan abu
yang kadang-kadang disertai lontaran pasir-kerikil (lk Terjauh 5 Km) dan aliran awan panas dengan jarak luncur terjauh lk 1,5 km Terjadi 22 kali letusan dengan kolom abu 1200-7000 m 125 kali guguran awan panas dengan jarak luncur 0,5-3,5 Km ke arah Tenggara. Tanggal 15 September pukul 02:51 WIB : Terjadi erupsi abu diikuti lontaran batu pijar di sekitar kawah, statusnya dinaikkan menjadi SIAGA. 3 Desa (900 jiwa) diungsikan.
Tanggal 29 September status diturunkan menjadi WASPADA Tanggal 15,
23, 24, 25, 26, 29, 30, dan 31 terjadi erupsi abu, tinggi 700 hingga 5000 meter. Sebagian erupsi diikuti lontaran batu pijar dan jatuh di sekitar kawah. Tanggal 3 November status dinaikkan menjadi SIAGA (4 desa (1.695 jiwa)
diungsikan.
Tanggal 5-14, 17 – 20, 23 dan 24: terjadi erupsi abu, tinggi 500 hingga
10.000 meter dan tersebar ke arah Baratdaya-Barat, Timur-Tenggara, umumnya disertai suara gemuruh. Sebagian besar erupsi diikuti awan panas ke arah Tenggara dengan jarak luncur 500 – 1500 meter. Erupsi tanggal 24 mencapai 20 kejadian, statusnya dinaikkan menjadi AWAS pada pukul 10:00 WIB. Desa (17.713 jiwa) diungsikan.
Tanggal 20 Januari status AWAS (LEVEL IV) radius 5 Km ditambah 6 Desa
Surat BVMBG No. 1270/43/BGL.V/2014, tanggal 11 April 2014 penurunan
status AWAS (LEVEL IV) menjadi status SIAGA (LEVEL III). 4.2.2.Wilayah Terkena dan Terdampak
Wilayah kecamatan yang terkena bencana erupsi Gunungapi Sinabung terdiri dari 4 Kecamatan, yakni Kecamatan Naman Teran, Simpang Empat, Payung dan Kecamatan Tiganderket. Sedangkan wilayah terdampak mencapai radius 10 Km dari kawah, yakni Kecamatan Munte, Merdeka dan Kecamatan Dolatrayat.Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi membagi Kawasan Rawan Bencana (KRB) kedalam KRB I, II dan III.
a. Kawasan Rawan Bencana III (< 3 Km)
Kawasan berpotensi tinggi terlanda awan panas, aliran lava, guguran lava dan gas beracun serta sangat berpotensi tertimpa lontaran batu (pijar) berdiameter lebih dari 6 cm dan hujan abu lebat:Desa Sukameriah, Desa Gunung, Desa Simacem, Desa Sigarang-garang, Desa Bekerah, Desa Naman, Desa Kuta Kebayaken, Desa Sukanalu, Desa Kuta Mbelin, Desa Gamber, Desa Kuta Rakyat dan Desa Gurukinayan.
b. Kawasan Rawan Bencana II (< 5 Km)
Kawasan berpotensi terlanda awan panas, aliran lava dan guguran lava, hujan abu lebat serta berpotensi tertimpa lontaran batu pijar berdiameter 2-6 cm terdiri dari Desa Kuta Gungpinto, Desa Galoh, Desa Ndeskati, Desa Beras Tepu, Desa Suka Tepu, Desa Perbaji, Desa Deram, Desa Selandi, Desa Sukandebi.
Kawasan berpotensi terlanda lahar hujan dan kemungkinan perluasan awan panas, berpotensi tertimpa hujan abu dan kemungkinan dapat tertimpa material batu pijar berdiameter lebih kecil dari 2 cm, adalah; Desa Kuta Temburun,Desa Cinta Rakyat, Desa Tiganderket, Desa Torong Baru,Desa Batu Karang, Desa Ujung Payung, Desa Rimo Kayu, Desa Cimbang, Desa Ujung Teran.
4.2.3. Distribusi Dampak Sosial Ekonomi
Jawaban responden atas dampak sosial ekonomi pascaerupsi Gunungapi Sinabung disajikan dalam indikator: risiko kesehatan, trauma, tingkat pendapatan, pelayanan pendidikan, pelayanan publik, pemenuhan kebutuhan, penerangan dan kebutuhan air bersih. Indikator tersebut disajikan dalam bentuk tabel silang dengan data sebelum dan setelah erupsi Gunungapi Sinabung terjadi.
a. Risiko Kesehatan
Risiko kesehatan adalah kemungkinan responden menderita suatu penyakit tertentu yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dan rendahnya kualitas lingkungan yang menimbulkan penyakit. Pelayanan penyakit yang diderita terdiri dari ada tidak adanya Rumah Sakit/Puskesmas/Pustu, pelayanan dokter dan paramedis serta kemudahan dalam mendapatkan obat-obatan, yang disajikan dalam tabel di bawah ini:
Tabel-14 :
Mengidap suatu penyakit sebelum dan setelah Erupsi Gunung Idap penyakit
Sebelum Erupsi Setelah erupsi
No Uraian F % No Uraian F %
1 Jarang 91 91,00 1 Jarang 4 4,00 2 Sering 9 9,00 2 Sering 96 96,00
Sumber: Angket Penelitian, 2014
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa responden lebih sering mengidap penyakit setelah terjadi erupsi, yakni sebanyak 96 (96,00%) sebelum erupsi dan setelah erupsi mencapai 9 orang (9,00%). Perbedaan peningkatan seringnya mengidap penyakit mencapai 93,00% disebabkan karena dampak erupsi Gunungapi Sinabung mengeluarkan abu vulkanik yang menyebabkan penduduk menderita batuk dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), khususnya bagi masyarakat rentan seperti Balita dan Lansia. Demikian juga bagi responden yang masih berada di pengungsian di jambur-jambur dengan ruangan terbuka dan hanya terlindung oleh tenda-tenda menyebabkan responden masuk angin dan diare.
Tabel-15 :
Pelayanan Dokter/Paramedis Pelayanan Dokter/Paramedis
Sebelum Erupsi Setelah erupsi
No Uraian F % No Uraian F %
1 Mudah 90 90,00 1 Mudah 87 87,00 2 Sulit 10 10,00 2 Sulit 13 13,00 Jumlah 100 100,00 Jumlah 100 100,00 Sumber: Angket Penelitian, 2014
dan Puskesmas Pembantu serta menjalin kerja sama rujukan rumah sakit ke Rumah Sakit Umum Kabanjahe, Rumah Sakit Swasta di Kabanjahe-Berastagi dan di RSU Adam Malik Medan bagi masyarakat yang masih berada di pengungsian.
Tabel-16 :
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa akses mendapatkan obat-obatan apabila sakit mudah didapatkan sebelum erupsi, yakni mencapai 90 responden (90,00%); sedangkan setelah erupsi kemudahan mencapai 81 responden (81,00%).
b. Trauma atas kejadian
Erupsi Gunungapi Sinabung sejak tanggal 15 September 2013 yang berlanjut sampai saat ini membuat warga sekitar lereng Gunungapi Sinabung menjadi trauma dan takut.Hal ini dapat dilihat terdapat beberapa desa yang tidak direkomendasi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk mengungsi tetapi karena ketakutan masyarakat tersebut mengungsi, antara lain Desa Rimo Kayu dan Desa Batukarang Kecamatan Payung. Trauma masyarakat sebelum dan setelah erupsi Gunungapi Sinabung dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel-17 :
Sumber: Angket Penelitian, 2014
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa responden mayoritas tidak takut/trauma erupsi Gunungapi Sinabung, yakni sebanyak 89 responden (89,00%); setelah erupsi Gunungapi Sinabung responden merasa takut/trauma terdapat sebanyak 99 responden (99,00%).
c. Pendapatan Keluarga
Abu vulkanik, material batuan, lahar dan awan panas telah merusak sebagian besar tanaman pertanian dan perkebunan serta peternakan masyarakat yang merupakan sumber utama pendapatan masyarakat di sekitar Gunungapi Sinabung. Akibat kerusakan kebun, tanaman dan gagal panen menyebabkan pendapatan keluarga yang umumnya bermata pencaharian tani mengalami penurunan. Pendapatan yang menurun atau bahkan hilang sama sekali menjadikan daya beli masyarakat otomatis juga mengalami penurunan. Masyarakat terdampak yang menyelamatkan diri ke pengungsian juga tidak dapat beraktifitas mengurus kebunnya seperti biasa, merupakan faktor lain yang menyumbang terhambatnya pergerakan ekonomi dan turunnya daya beli korban bencana. Untuk mengetahui pendapatan dan kemampuan masyarakat dalam daya belinya sebelum dan setelah erupsi Gunungapi Sinabung dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pendapatan responden sebelum erupsi mayoritas di atas Rp2.000.000,-/bulan, yakni sebanyak 100 responden (100,00%); sedangkan setelah erupsi tidak ada yang memiliki pendapatan Rp500.000 - Rp2.000.000,-. Hal ini menujukkan pendapatan responden mengalami penurunan setelah erupsi Gunungapi Sinabung, karena pendapatan dari sektor pertanian mengalami penurunan dan bahkan kehilangan pendapatan.
Tabel-19 :
responden (96,00%) sedangkan setelah erupsi mengalami penurunan dimana hanya 3 responden (3,00%) makan sebanyak 3 kali sehari.
d. Pelayanan Pendidikan
Pelayanan pendidikan bagi anak sekolah SD, SLTP dan SLTP mengalami kekurangan , antara lain peralatan dan perlengkapan sekolah, jarak sekolah dan aktivasi sekolah, kehadiran guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel-21 :
Aktivitas Anak Sekolah Aktivitas anak sekolah
Sebelum Erupsi Setelah erupsi
No Uraian F % No Uraian F %
1 Normal 100 100,00 1 Normal - - 2 Terganggu - - 2 Terganggu 100 100,00
Jumlah 100 100,00 Jumlah 100 100,00 Sumber: Angket Penelitian, 2014
Tabel-22 : setelah erupsi mengalami kondisi ekstrim, dimana sebelum erupsi seluruh responden menyatakan kehadiran guru tinggi dan setelah erupsi seluruh responden menyatakan kehadiran guru rendah. sebelum dan setelah erupsi mengalami kondisi ekstrim, dimana sebelum erupsi seluruh responden menyatakan kehadiran murid tinggi dan setelah erupsi seluruh responden menyatakan kehadiran murid rendah.
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa fasilitas dan peralatan sekolah sebelum dan sesudah erupsi berada pada kondisi ekstrim.Seluruh responden menyatakan peralatan sekolah lengkap sebelum erupsi dan setelah erupsi peralatan/perlengkapan sekolah tidak lengkap.
Tabel-25 :
Pendapatan/Penghasilan Mampu Memenuhi Kebutuhan Makan setiap hari
Sebelum Erupsi Setelah erupsi
No Uraian F % No Uraian F %
1 3 kali 89 89,00 1 3 kali 16 16,00 2 2 kali 11 11,00 2 2 kali 84 84,00 Jumlah 100 100,00 Jumlah 100 100,00 Sumber: Angket Penelitian, 2014
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pendapatan responden sebelum erupsi mampu memenuhi kebutuhan sebanyak 89 responden (89,00%); setelah erupsi seluruh responden sebanyak 3 kali sehari; sedangkan setelah erupsi mengalami penurunan dimana hanya 16 responden (16,00%) makan sebanyak 3 kali sehari.
e. Pelayanan Publik
Tabel-26 :
f. Pemenuhan Energi
Pemenuhan energi dalam penelitian ini adalah terkait dengan sumber daya energi listrik/penerangan dan air bersih yang merupakan kebutuhan primer, dan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel-28 :
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pemenuhan penerangan listrik sebelum erupsi mudah,yakni sebanyak 67 responden (67,00%) menyatakan mudah mendapatkan penerangan listrik; sedangkan setelah erupsi responden yang menyatakan kesulitan penerangan listrik mencapai 74 responden (74,00%).
Tabel-29 :
ketika gempa-gempa vulkanik terjadi sumber mata air desa mengalami pergeseran yang menyebabkan debit air ke desa mengalami penurunan. Namun demikian beberapa desa telah diadakan rehabilitasi atas sumber air desa yang mengalami permasalahan.
4.3. Dampak Erupsi Gunungapi Sinabung 4.3.1. Dampak Terhadap Sosial Ekonomi
Bencana erupsi Gunungapi Sinabung Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara sudah berlangsung selama ±8 bulan, sejak Bulan September 2013 sampai saat ini. Penilaian kerusakan dan kerugian (Damage and Looses Assesment/DaLA) serta Penilaian Pemulihan Kebutuhan Manusia (Human Recovery Needs Assesment/HRNA) masih sedang dalam proses perumusan oleh BNPB. Penilaian kedua kebutuhan tersebut berasal dari dampak kerusakan yang disebabkan oleh bencana erupsi Gunungapi Sinabung.walaupun erupsi gunungapi Sinabung berdampak terhadapseluruh sektor kehidupan dan penghidupan masyarakat, akan tetapi dalam pembahasan difokuskan pada dampak terhadap sosial ekonomi masyarakat terdampak bencana.
1. Pertanian
19.008,89 Ha dan puso 3.867,45 Ha.Secara faktual, lahar dingin dan awan panas menimbun dan menghancurkan lahan, tanaman, sarana dan hasil pertanian.
Tabel-30 :
Komoditi dan Lahan Pertanian terkena dampak erupsi Gunungapi Sinabung
No Komoditi Luas (ha) Terkena (ha) Puso (ha) 1 Pangan 26.667,91 26.667,91 1.229,905 2 Hortikultura
1. Sayuran 11.101,52 11,101,52 3.550,55
2. Buah 7.896,67 7.896,67 314,70
3. Hias 9 9 0,5
4. Biofarmaka 1,7 1,7 1,7
Jumlah Hortikultura 19.008,89 19.008,89 3.867,45 Total 1 + 2 45.675,00 45.675,00 5.097,35 Sumber: Dinas Pertanian Kab. Karo, 2014.
Daerah yang mengalami gagal panen terdapat di 4 Kecamatan: Naman Teran, Simpang Empat, Tiganderket dan Kecamatan Payung. Sedangkan daerah terdampak terdapat 14 Kecamatan: Tiga Binanga, Juhar, Munte, Kuta Buluh, Payung, Tiganderket, Simpanag Empat, Naman Teran, Merdeka, Kabanjahe, Berastagi, Tiga panah, Dolat Rayat dan Kecamatan Barusjahe.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan bencana alam letusan Gunungapi Sinabung akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja perbankan dan perekonomian daerah setempat, khususnya daerah secara langsung terkena bencana. OJK memberikan kebijakan dengan memberikan perlakuan khusus terhadap kredit, dan perlakuan khusus itu diberikan kepada debitur di 4 (empat) kecamatan : Naman Teran, Simpang Empat, Payung dan Kecamatan Tiganderket dengan cara merestrukturisasi kredit selama 3 tahun sejak keputusan OJK ditetapkan dari 5.800 debitur dengan nilai kredit Rp85 milyar.
2. Infrastruktur
a. Infrastruktur Sumber Daya Air
Terdapat material lavatik ukuran 3-12 M dan informasi dari PVMBG tanggal24 April 2014 volumenya mencapai ± 30 juta M3; terdapat material piroklastik sudah menyebar prediksi volume lahar dan informasi dari PVMBG tanggal 24 April 2014 sebesar 10 juta M3.
Hasil survey diluar zona 5 Km untuk mengetahui kondisi aliran Sungai Borus dan melakukan inventarisasi bangunan prasarana yang mungkin terkena dampak apabila terjadi banjir lahar dingin, dengan hasil sebagai berikut:
- Terdapat beberapa daerah Irigasi (DI) yang bending dan jaringannya mengalami kerusakan longsor dan amblas akibat over-toping dimana penampang saluran dan terisi sedimen seperti DI Payung-Batukarang 960 Ha mengalami kekeringan, maka perlu rehabilitasi jaringan irigasi pada beberapa Daerah Irigasi yang terdapat erupsi Gunungapi Sinabung. b. Infrastruktur Air Bersih
Sumber mata air bersih bagi masyararat desa di sekitar Gunungapi Sinabung berasal dari mata air yang terdapat di sekitar badan gunung, dan sebahagian lagi berasal dari Sungai Lau Borus. Gempa-gempa vulkanik menyebabkan sumber mata air bergeser dan pindah ke lokasi lain dan bahkan terdapat mata air berhenti karena dampak awan panas, aliran lahar, sehingga masyarakat desa kehilangan sumber air bersih dan diperlukan pemulihan dengan teknologi pipanisasi, pompa dan gravitasi.
c. Infrastruktur Jalan-Jembatan
Dampak erupsi Gunungapi Sinabung adalah infrastruktur jalan dan jembatan tidak mengalami kerusakan, akan tetapi rehabilitasi dan rekonstruksi jalan-jembatan segera dilaksanakan karena kepentingan mitigasi, misalnya akses dari Desa Kebayaken tidak dapat melalui jalan yang sudah ada selama ini, melainkan harus dibangun jalan akternatif, karena akses ke desa tersebut harus melalui lokasi < 3 Km dari kawah Gunungapi Sinabung. Demikian juga jalan-jembatan harus dibangun berbasis mitigasi dalam konteks jalur evakuasi apabila erupsi besar (bluster eruption) kembali terjadi.
Dampak ke sektor pemukiman walaupun dalam kategori rusak ringan rumah pada 16 Desa dan 2 Dusun hampir keseluruhan atapnya ambruk, karena beban abu vulkanik terdapat 1893 unit rumah rusak dan 13 unit rumah ambruk. Didalamnya sudah termasuk kerusakan atap pada pemukiman, fasiltas sosial dan fasilitas umum.Agak berbeda dengan 16 desa yang sudah pulang, kerusakan pada atap rumah tidak terlalu parah.Hal ini disebabkan karena beban abu vulkanik terlalu berat dan terlalu lama, sehingga atap rumah ambruk.
4.3.2.Perkembangan Pengungsi
Selama masa tanggap darurat tahap I, pada tanggal15 s.d 22 September 2013, jumlah pengungsi sebanyak ± 15.000 jiwa, namun pada masa tanggap darurat tahap II tanggal 23 s.d 29 September 2013 mengalami penurunan yang signifikan. Desa Suka Meriah, Simacem dan Bekerah masih dikategorikan dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) Tingkat III (lintasan awan panas dan lahar). Jumlah pengungsi mengalami puncak pada bulan Februari 2014, jumlah pengungsi sebanyak 33.206 jiwa yang terdiri dari 10.314 KK, terdiri dari 14.933laki-laki dan 15.376 perempuan. Terdapat kelompok rentan yakni: lansia sebanyak 2.411 jiwa; ibu hamil 232 jiwa dan bayi sebanyak 1.357 jiwa.
Langkat, merupakan penduduk yang bertempat tinggal di desa bersebelahan dan berlokasi sekitar Desa Telagah, sehingga lebih mudah untuk menjangkau daerah tersebut mengamankan diri dan keluarga mereka.
Berdasarkan rekomendasi PVMBG pemulangan tahap I telah dilaksanakan untuk 16 Desa dan 2 Dusun kembali ke desa masing-masing.Akan tetapi, hal yang juga penting mendapat perhatian serius pemerintah, baik daerah maupun pusat adalah program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana setelah para pengungsi dipulangkan.Para pengungsi harus sungguh-sungguh dijamindapat hidup lebih baik dari sebelumnya. Antara lain dengan melaksanakan upaya pemulihan pada 5 sektor, akan diuraikan pada bab 2.5. Berikut ini disajikan data pengungsi yang sudah kembali ke desa masing-masing, yang memungkinkan untuk didiami, setelah terjadi erupsi gunungapi Sinabung, pada tabel di bawah ini:
Tabel-31:
Masyarakat yang sudah dipulangkan ke desa
Sumber: Komando Tanggap Darurat Kab Karo, 2014
Walaupun rekomendasi PVMBG Pemulangan Tahap II sudah dapat dilaksanakan, akan tetapi sampai saat ini masih terdapat pengungsi sebanyak 15.353 jiwa dan 4.335 KK yang belum dapat dipulangkan. Hal ini terjadi disebabkan berbagai persoalan yang menghambat pemulangan pengungsi, antara lain masalah kordinasi lintas sektor dan kinerja birokrasi penanggulangan bencana erupsi gunungapi Sinabung. Uraian komposisi penduduk yang belum dipulangkan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel-32:
Masyarakat yang masih berada di Pengungsian
Saat ini pengungsi tersebar di 32 titik pengungsi di Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat.Para pengungsi belum dapat dipulangkan karena rumah masyarakat pengungsi pada 16 Desa dan 2 Dusun belum dapat dihuni karena hampir keseluruhan atap rumah penduduk ambruk karena beban abu vulkanik selama ± 8 bulan; dan atap rumah dari seng menjadi keropos karena kandungan zat asam abu vulkanik sangat tinggi.
4.4. Upaya Pemulihan Kondisi Sosial Ekonomi
4.4.1. Pemulihan Awal (Early Recovery), Rehabilitasi dan Rekonstruksi Poin 19 ketentuan umumPP. nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencanamenyatakan; peran pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah disingkat (BPBD). Namun dalam operasionalnya upaya penanganan bencana memberikan peluang yang luas kepada masyarakat dan dunia usaha untuk turut berperan aktif, sebagaimana tertera dalam pasal 28 UU nomor 24 tahun 2007.Dengan demikian pemerintah daerah melalui BPBDmemiliki peran yang sangat penting dalam setiap tahap-tahapan penanganan bencana, terutama melakukan fungsi kordinasi lintas sektoral dan stake holder (pemangku kepentingan) penanganan bencana yang terdapat di daerah tersebut.
berlangsung mulai tahun 2010 kemudian berlanjut sepanjang tahun 2013 dan awal tahun 2014. Tidak optimalnya peran pemerintah menyebabkan potensi penanganan bencana termasuk masyarakat dan dunia usaha tidak dapat tergalang dengan baik dalam mekanisme penanganan pasca bencana yaitu pemulihan (early recovery), rehabilitasi dan rekonstruksi khususnya pada aspek sosial ekonomi.
Kendala lain penanganan bencana erupsi Gunungapi Sinabung Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara adalah perbedaan karakteristik penanganan bencana jika dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia.Dimana pada umumnya penanganan bencana tahap pemulihan (early recovery), rehabilitasi dan rekonstruksi dilaksanakan setelah bencana sudah melewati masa tanggap darurat (emergency response).Permasalahannya program pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap masyarakat terdampak bencana erupsi secara fisik, nonfisik serta sarana-prasarana harus dilaksanakan agar masyarakat dapat segera kembali kepada kehidupan normal padahal masa tanggap darurat belum berakhir..
Berdasarkan kondisi tersebut, Penilaian Kebutuhan Manusia (Human Recovery Needs Assesment/HRNA) dan Penilaian Kerusakan dan Kerugian (Damage and Looses Asesment/DaLA) belum dapat dilaksanakan secara finalSehingga sampai saat ini BNPB masih merumuskan hasil penilaian terhadap kedua faktor tersebut, sebagai dasar untuk merumuskan Pemenuhan Kebutuhan Pasca-bencana (Post Disaster Needs Assesment/PDNA).
untuk dapat memulihkan kehidupan masyarakat di Kabupaten Karo. Jika rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana erupsi gunungapi SinabungKabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara segera dilaksanakan. Namun, dalam praktek pemulihan pascabencana di Indonesia, terdapat sebuah periode transisi dari fase tanggap darurat menuju ke fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Rehabilitasi dan rekonstruksi seringkali tidak dapat langsung dijalankan segera setelah fase tanggap darurat berakhir karena terkait dengan masalah kordinasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah daerah serta lintas sektoral, menyebabkan implementasi program pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi serta proses pencairan anggaran menjadi rumit dan cukup memakan waktu.
Untuk mengisi periode transisi antara tanggap darurat dan rehabilitasi rekonstruksi Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara, dipandang perlu adanya kegiatan pemulihan awal.Kegiatan pemulihan awal merupakan serangkaian kegiatan mendesak yang harus segera dilakukan pada saat berakhirnya masa tanggap darurat menuju ke tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Tujuan kegiatan pemulihan awal pascabencana erupsi Gunungapi Sinabung Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara adalah:
1. Memulihkan fungsi dan layanan dasar pemerintahan serta pemulihan pada sarana dan prasarana vital masyarakat.
3. Memulihkan kelembagaan sosial dalam masyarakat yang terdampak bencana yang dapat berperan penting bagi proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
4. Memberikan stimulus atau rangsangan untuk pemulihan matapencaharian danpendapatan masyarakat.
5. Membangun landasan yang cukup kuat bagi dimulainya proses rehabilitasi danrekonstruksi.
Kegiatan pemulihan awal pasca-bencana erupsi Gunungapi Sinabung di Kabupaten Karo dilakukan selama 2 (dua) bulan pada periode transisi setelah berakhirnyakegiatan tanggap darurat dan sebelum dimulainya kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.Sebagian kebutuhan pemulihan baik fisik maupun kemanusiaan, setelah dinilai skalaprioritasnya, dapat dijadikan acuan untuk kegiatan pemulihan awal.Kegiatan pemulihan awal ini, pada prinsipnya merupakan kegiatan penanganan pascabencana transisi yangdilaksanakan setelah berakhirnya kegiatan tanggap darurat sebelum dimulainya kegiatanrehabilitasi dan rekonstruksi.Kegiatan pemulihan awal difokuskan pada pemulihan terhadapfungsi dan layanan dasar masyarakat serta pemulihan pada sarana dan prasarana vital.Ruang lingkup pelaksanaan kegiatan pemulihan awal meliputi:
1. Sektor perumahan, antara lain melalui:
a. Pembuatan panduan dan prinsip mekanisme rencana relokasi rumah b. Perbaikan atap rumah masyarakat sehingga dapat dihuni kembali c. Fasilitasi pengorganisasian pembersihan rumah dan lingkungan berbasis masyarakat
2. Sektor infrastruktur, antara lain melalui:
a. Membuat dan memperbaiki jalan-jembatan sebagai akses dari-ke desa sebagai jalur evakuasi di masa mendatang
b. Fasilitasi pengelolaan air bersih dan jamban. 3. Sektor sosial, antara lain melalui:
a. Penyediaan layanan trauma healing b. Penyediaan layanan kesehatan umum
c. Bantuan biaya dan peralatan sekolah untuk siswa SD, SMP dan SMA yang terdampak
d. Pemulihan kegiatan keagamaan dan revitalisasi organisasi keagamaan e. Revitalisasi sistem keamanan desa
f. Revitalisasi seni budaya yang berguna untuk mendorong pemulihan. 4. Sektor ekonomi produktif, antara lain melalui:
a. Revitalisasi kelompok tani, kebun dan ternak b. Program alternatif untuk usaha pertanian c. Penyediaan bibit tanaman cepat panen
d. Bantuan modal usaha untuk pedagang dan industri kecil menengah e. Bantuan sewa ladang bagi desa rencana relokasi.
5.Lintas sektor, difokuskan pada:
a. Revitalisasi fungsi pelayanan administrasi pemerintahan b. Revitalisasi sistem dan data kependudukan
a. Perbaikan rumah
Prioritas pada sektor perumahan pada masa early recovery terdiri dari perbaikan rumah, pembangunan rumah rubuh sehingga rumah dapat dihuni kembali. Sektor perumahan yang perlu mendapatkan perbaikan adalah 8 Desa dan 1 Dusun, yakni:
Tabel-33:
Kondisi Rumah Rusak dan Roboh pada 8 Desa
No Desa Rumah
Sumber: Satgas Nasional TD, 2014 b. Pembersihan Pekarangan
Sebelum dilaksanakan pemulangan Tahap II bagi 8 Desa dan 1 Dusun terlebih dahulu dilaksanakan pembersihan desa dari abu vulkanik yang telah menutup aset, infrastruktur desa, dan sarana pelayanan publik dan sosial budaya.Pemulihan desa melalui pembersihan desa merupakan prioritas utama sebelum masyarakat pengungsi dipulangkan ke desa masing-masing.
c. Sewa rumah
1. Desa Relokasi
Desa rencana direlokasi terdapat 3 (tiga) Desa, artinya sebelum relokasi rumah mereka selesai, maka akan diberikan uang sewa rumah selama 1 tahun menunggu rumah selesai untuk ditempati, desa-desa tersebut adalah:
Tabel-34:
Desa rencanadirelokasi
No D e s a Jiwa KK
1 Simacem 464 120
2 Bekerah 292 97
3 Sukameriah 1.051 254
Jumlah 1.807 471
Sumber : Camat Payung dan Camat Naman Teran, 2014 a. Desa Belum Boleh Pulang
Karena pertimbangan tingkat kerawanan dampak erupsi pada beberapa desa maka pengungsi yang berasal dari 4 Desa dan 1 Dusun belum dapat dipulangkan sampai situasi normal, yakni:
Tabel-35:
Desa boleh pulang ke desa
No D e s a Jiwa KK Keterangan
1 Gurukinayan 555 206 -
2 Kuta Tonggal 814 274 -
3 Gamber 2.276 558 -
4 Berastepu 423 112 Dusun Sibintun
Jumlah 9.275 2.633
Sumber : Satgasnas PB, 2014
rehabilitasi dan rekonstruksi adalah pembangunan rumah relokasi yang terdiri dari 358 unit rumah.
Ad.2. Sektor Infrastruktur
Sektor infrastruktur yang menjadi prioritas dalam masa early recovery (pemulihan awal) adalah perbaikan sarana air bersih.Kebutuhan sarana air bersih menjadi prioritas dalam rangka pemulihan, karena kebutuhan air terkait kepada kebutuhan pertanian dan tingkat kesehatan masyarakat.Pascaerupsi Gunungapi Sinabung terdapat sumber mata air yang berhenti yang disebabkan oleh gempa-gempa vulkanik, sehingga perlu segera direhabilitasi sebelum masyarakat yang berada di pengungsian dipulangkan ke desa masing-masing.
Pembangunan jalan evakuasi dari Kabupaten Karo ke Kabupaten Langkat menjadi prioritas utamauntuk memudahkan masyarakat mengevakuasi diri ke Kabupaten Langkat yang berjarak lebih dekat daripada ke Kabanjahe ataupun Berastagi. Jarak Desa Kuta rayat dan 6 Desa sekitarnya jalur evakuasi ke Kabanjahe mencapai ±18 Km, sedangkan jalur evakuasi keKabupaten Langkat hanya ±16 Km. Perbaikan jalan-jembatan sebagai akses masyarakat ke-dari desa maupun untuk kepentingan mitigasi/alternatif menghindarkan jarak dengan kawah Gunungapi Sinabung perlu segera dilaksanakan.
Rehabilitasi dan rekonstruksi dilaksanakan setelah pemulihan awal pada sektor infrastruktur dilaksanakan sebagai prioritas pertama. Jenis infrastruktur yang dilaksankaan hampir sama, seperti jalan-jembatan, air bersih, normalisasi sungai, tetapi rehabilitasi dan rekonstruksi adalah prioritas bagi masyarakat yang berada pada KRB I serta wilayah terdampak dimana sumber air desa terganggu pascaerupsi Gunungapi Sinabung.
Ad.3. Sektor Sosial
Sektor sosial yang menjadi prioritas dalam masa pemulihan awal (early recovery) adalah berupa bantuan sosial dan dana stimulasi bagi masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat untuk dapat survive untuk memulai hidup baru setelah bencana selesai. Sektor sosial diprioritaskan kepada rehabilitasi rumah tempat tinggal, sekolah sebagai sarana pendidikan dasar pada 8 sekolah SD, dan 1 sekolah SMA yang mengalami kerusakan; bantuan sosial juga diberikan kepada masyarakat dan siswa SD, SMP dan SMA/SMK dalam menunjang pendidikan siswa-siswi pengungsi, berupa pakaian, peralatan dan perlengkapan sekolah. Jenis bantuan sosial lainnya berupa pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi yang baru kembali ke desa.
Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pada sektor sosial pada tahap pemulihan kemudianakan meluas pada dukungan sosial lainnyasebagai kelanjutan yang telah dilaksanakan pada masa pemulihan awal seperti pelatihan keterampilan bagi para pengungsi yang telah pulang ke desanya.
Sektor ekonomi produktif yang menjadi prioritas dalam masa pemulihan awal (early recovery) adalah berupa pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan pertanian dan perkebunan serta peternakan yang terdiri dari:
a. Revitalisasi kelompok tani, kebun dan ternak b. Program alternatif untuk usaha pertanian c. Penyediaan bibit tanaman cepat panen d. Bantuan alat pertanian (alistan)
e. Program pemberdayaan kewirausahaan bagi masyarakat.
Pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, sektor ekonomi produktif merupakan perhatian utama pemerintah diberikan kepada masyarakat, akan tetapi bantuan diprioritaskan pada KRB I, II, III.
Ad.5. Sektor Lintas Sektor
Sektor Lintas Sektor tidak terlalu banyak mendapatkan pemulihan awal, karena pelayanan pemerintahan hampir tidak menjadi kendala.Sistem pemerintahan desa dapat pulih segera setelah masyayrakat kembali ke desa.Kantor pemerintah desa tidak ada yang perlu mendapatkan rehabilitasi.
4.4.2. Kebutuhan dan Anggaran Pemulihan Awal (Early Recovery) serta Rehabilitasi dan Rekonstruksi
1. Kebutuhan dan Anggaran Pemulihan Awal (Early Recovery) Memerlukan dana sebesar Rp368,641,864,679.00 (tiga ratus enam puluh delapan milyar enam ratus empat puluh satu juta delapan ratus enam puluh empat ribu enam ratus tujuh puluh sembilan rupiah). Direncanakan kontribusi dari Pemkab Karo sebesar Rp3,500,000,000.00 (tiga milyar lima ratus juta rupiah) dan sisanya diharapkan dari APBN sebesar Rp365,141,864,679.00 (Tiga ratus enam puluh lima milyar seratus empat puluh satu juta delapan ratus enam puluh empat ribu enam ratus tujuh puluh sembilan rupiah).
2. Kebutuhan dan Anggaran Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Perhitungan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi memerlukan dana dan anggaran sebesar Rp. 749,617,598,521.00,-(tujuh ratus empat puluh sembilan milyar enam ratus tujuh belas juta lima ratus sembilan puluh delapan ribu lima ratus dua puluh satu rupiah). Kontribusi Kabupaten Karo sebesar Rp. 9,298,625,000.00 (sembilan milyar dua ratus sembilan puluh delapan juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah); kontribusi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp50,553,000,000.00 (lima puluh milyar lima ratus lima puluh tiga juta rupiah).
3. Total Kebutuhan dan Anggaran
dana dan anggaran sebesar Rp. 749,617,598,521.00,- (tujuh ratus empat puluh sembilan milyar enam ratus tujuh belas juta lima ratus sembilan puluh delapan ribu lima ratus dua puluh satu rupiah). Pemerintah telah menyepakati sumber dana akan direalisasikan dari APBD Kabupaten Karo sebesar Rp. 9,298,625,000.00 (sembilan milyar dua ratus sembilan puluh delapan juta enam ratus dua puluh lima ribu rupiah); kontribusi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp50,553,000,000.00 (lima puluh milyar lima ratus lima puluh tiga juta rupiah). Sisanya akan ditalangi oleh dana APBN untuk perbaikan lingkungan daerah bencana, perbaikan prasarana dan sarana umum, bantuan perbaikan rumah masyarakat, pemulihan sosial psikologis, pelayanan kesehatan dan pemulihan sosial ekonomi, fungsi pemerintahan serta pelayanan publik. Namun program rehabilitasi dan rekonstruksi mengalami hambatan pada realisasi dana, disebabkan komunikasi dan kordinasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Karo tidak berlangsung lancar. Keadaan ini memberi pengaruh pada pemulihan aspek sosial ekonomi agar kehidupan masyarakat terdampak kembali normal mengalami kesulitan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
KajianterhadapdampakbencanaerupsigunungapiSinabungsertaupaya-upaya yang
dilakukanpemerintahdaninstitusiswastaterhadappemulihanaspeksosialekonomimas yarakatkabupatenKaro,memberikankesimpulanberikut:
1.
ErupsiGunungapiSinabungberdampaknegatifterhadapaspeksosialekonomimasyara
kat, didasarkanpada data yang
memperlihatkan;menurunnyaderajatkesehatansebesar 10%;
peningkatantrauma terhadaperupsisebesar25%;
PendapatanKeluargamengalamipenurunansebesar 17%;
Kemampuanmencukupikebutuhanhidupjugamenurunsebesar 39%; dampakpadabidangPelayananPendidikandiukurdarifrekuensikehadiransiswa, kehadiran guru danfasilitas/peralatansekolahmengalamipenurunansebesar 100%. DalambidangPelayananPubliksepertipengurusanadministrasisurat-surat di
Kantor Desadan Kantor Camat,
khususnyapengurusanadminsistrasikependudukanmengalamigangguansebesar 25 %.Serta PemenuhanEnergiterkaitpasokansumberdayaenergilistrikdan air bersihmenurunsebesar 8%
2.
giatanrehabilitasidanrekonstruksi, termasukdidalamnyapemulihanawal(early recovery). Namunsampaidenganprosesipenelitianberakhir, kegiatanrehabilitasidanrekonstruksitermasukpemulihanawalbelummenunjukkannk
emajuansebagaimana yang diharapkan,
akibatlemahnyasumberdayamanusiapemerintahdalamhalini BPBD KabupatenKaromelakukankordinasidankomunikasilintassektoral.
5.2. SARAN
Berdasarkantemuan-temuan yang diperolehdalampenelitian,
direkomendasikan saran-saran agar
dampakbencanaerupsiGunungapiSinabungterhadapaspeksosialdanekonomimasyar akatdapatdicegahdandiminimalisir, sebagaiberikut:
1. Upayarehabilitasidanrekonstruksipascabencanaharusmerupakan agenda yang
dilaksanakansecarasistemikolehpemerintahdaerahdanpemerintahpusat, sehinggapenanggulanganbencanadapatberjalanefektifdanefisien,
denganmemperkuatfungsidankedigdayaaninstansiBadanPenanggulanganB encana Daerah sebagaimana yang telahdiatur di dalam UU Nomor 24 tahun 2007, melaluipemberdayaan SDM dan stake holder yang terkaitdengankebencanaan.
2. Masyarakatterdampakperlumendapatpembinaandanpelatihandalambidangb udidayaindustrikecilmenengahselainpertaniansebagaivarianmatapencahari analternatif,
3. Bagimasyarakatterdampak yang tidakmungkinkembalikedesanyadisebabkantertimbun material vulkanikdan lahar
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Dampak Erupsi Gunungapi
2.1.1. Dampak erupsi terhadap perubahan aktivitas
Dampak merupakan sesuatu yang muncul setelah adanya suatu kejadian.Dampak secara sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh atau akibat.Menurut Soemarwoto (2009:38), dampak adalah suatu perubahan yang terjadi sebagai akibat suatu aktivitas. Aktivitas tersebut dapat bersifat alamiah, baik kimia, fisik maupun biologi.
Bencana dapat mengganggu atau menghancurkanberbagai macam fungsi dan banyak lembaga sekaligus dapat membawa krisis masyarakat lebih melebar atausistemik (Hewitt, 1997:36), mengisyaratkan bahwa dalam menyelesaikan masalah darurat semua aspekmembutuhkan penanganan berkelanjutan yang mampu menyelaraskan perkembangan kebutuhan pasca kondisi darurat. Laporan kerugian bencana alam menunjukkan bahwa dampaknya terbatas pada nilai infrastruktur fisik dan tidak menggabungkan potensi sistemik yang lebih besar terhadap ekonomi regional maupun nasional.(dalam Artiani, 2011).
Sudden-onset disasters (badai, gempa bumi, banjir) terutama akan menghancurkan modal produktif dan infrastruktur. Sedangkan bencana yang masuk dalam kategori Slow-onset disasters (kekeringan dan banjir) dampaknya akan lebih luas dan berjangka panjang, menurunkan tingkat tabungan masyarakat, investasi, permintaan domestik secara agregat dan menurunkan kapasitas produktif. Kelompok Compound disasters (aktivitas vulkanik) akan menimbulkan keadaan darurat kemanusiaan yang kompleks.(Bacharudin, 1994).
2.1.2. Dampak terhadap Ekonomi Pertanian
Dalam suatu letusan gunung berapi, beberapa material akan keluar dari kepundan gunung berapi. Material letusan tersebut antara lain adalah abu vulkanik, lava, gas beracun, hingga batuan beku yang terlempar ke atmosfer. Semua material tersebut memiliki dampak yang berbeda-beda terhadap lingkungan hidup, terdapat dampak negatif dan ada pula dampak positif yang dapat kita ambil dari bencana yang melanda.
Dengan kadar keasamannya, tanah yang terkena abu vulkanik akan memiliki kadar keasaman (Ph) tanah sebesar 5 – 5,5.(Soekartawi,1995).
Padahal normalnya suatu tanah dikatakan subur jika memiliki tingkat keasaman (Ph) sebesar 6 – 7. Turunnya kadar keasaman (Ph) tanah ini akan turut menurunkan tingkat kesuburan tanah. Sehingga tanah yang terkena abu vulkanik, akan mengalami penurunan produktivitas lahan, jika dimanfaatkan untuk bidang pertanian. Di samping itu, dalam jangka pendek abu vulkanik dapat mengusir hama serangga atau gulma yang biasa menjadi musuh petani. Hal ini dikarenakan, makhluk hidup tersebut tidak dapat hidup dalam kadar keasaman tanah yang terlalu asam, sehingga populasi makhluk tersebut akan menurun. Dalam jangka panjang, abu vulkanik juga akan memberikan dampak yang sangat positif bagi peningkatan produktivitas tanah. Saat kadar keasaman dari abu vulkanik telah dapat dinormalisasi melalui proses alamiah ataupun dengan bantuan manusia menggunakan dolomite sebagai penetral, maka kandungan mineral yang tersimpan dalam abu vulkanik akan menjadi pupuk alamiah yang sangat baik untuk perkembangan tanaman pertanian.
Kesuburan tanah pertanian adalah satu hal penting yang sangat berpengaruh pada produksi pertanian.Kesuburan tersebut didukung dengan ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, meliputi unsur hara essensial dan nonessensial. Pada penelitian ini, unsur yang terdeteksi yaitu Fe, Al, Mg dan Si berpengaruh pada kondisi kesuburan tanah, dimana pada wilayah sekitar lereng Gunung Merapi merupakan daerah pertanian yang subur. Unsur Fe dan Mg termasuk dalam unsur hara essensial sedangkan unsur Al dan Si termasuk dalam unsur hara nonessensial tetapi hampir selalu ada dalam tanaman.Unsur hara esensial adalah unsur hara yang kandungan unsur Fe, Al, Mg dan Si yang terdeteksi pada abu vulkanik merupakan beberapa unsur logam yang ikut mempengaruhi kondisi kesuburan tanah di sekitar gunung berapi. Selama kadar masing-masing unsur yang ada pada abu vulkanik masih berada dalam batas aman, maka abu vulkanik tidak bersifat racun bagi tanaman.(Hermawati, Nofia.dkk. 2010).
Menurut Suara Karya Online 21 Oktober 2012, letusan gunungapi dapat menyemburkan lava, lahar, material-material padat berbagai bentuk dan ukuran, uap panas, serta debu-debu vulkanik. Selain itu, letusan gunungapi selalu disertai dengan adanya gempa bumi lokal yang disebut dengan gempa vulkanik.
selain terbakar terkena lava juga akan tertimbun akibat lahar dingin dan menimbulkan longsor pada tanah yang curam.
Selain itu uap belerang yang keluar dari pori-pori tanah dapat mencemari tanah sebagai lahan pertanian dan air yang digunakan untuk kebutuhan hidup manusia dan tumbuhan pun akan tercemari disebabkan kandungan belerang dapat meningkatkan kadar asam yang terkandung air dan tanah. Debu-debu vulkanik sangat berbahaya bila terhirup oleh makhluk hidup (khususnya manusia dan hewan), hal ini dikarenakan debu-debu vulkanik mengandung kadar silika (Si), sedangkan debu-debu vulkanik yang menempel di dedaunan tanaman pertanian tidak dapat hilang dengan sendirinya. Hal ini menyebabkan tumbuhan tidak bisa melakukan fotosintesis sehingga lambat laun akan menyebabkan daun layu dan kemudian hari akan mati. Dampak letusan gunung memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat kembali normal. Lama tidaknya waktu untuk kembali ke kondisi normal tergantung pada kekuatan ledakan dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Akan tetapi, setelah kembali ke kondisi normal, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang subur karena mengalami proses peremajaan tanah.
Dapat disimpulkan bahwa dampak negatif dari gunung meletus pada pertanian adalah:
1. Lava akan membakar tanaman pertanian
3. Gas belerang yang keluar dari dalam tanah akan merusak tanah dan air karena akan meningkatkan kadar asam yang terkandung didalam tanah dan air. Dampak positif dari gempa bumi terhadap pertanian.setelah gunung selesai meletus tanah akan subur karena mengalami pemulihan.
2.2. Sosial Ekonomi
2.2.1. Pengertian Sosial Ekonomi
Pengertian sosial ekonomi memiliki pemahaman yang sangat luas, karena terkait dengan kegiatan sosial dan kegiatan ekonomi manusia.Artinya seluruh aktivitas manusia tidak terlepas dari aktivitas ekonominya.
Kata sosial berasal dari kata “socious” yang artinya kawan, teman.Dalam hal ini arti kawan bukan terbatas sebagai teman sepermainan, teman kerja, teman sekampung dan sebagainya. Dalam hal ini kawan adalah mereka (orang-orang) yang ada disekitar kita, yakni yang tinggal dalam satu lingkungan tertentu dan mempunyai sifat yang saling mempengaruhi satu sama lain. (Mahadi, 1993).
Menurut Suharso (2005), kata sosial adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat. Sedangkan dalam konsep sosiologis, manusia sering disebut makhluk sosial yang artinya bahwa manusia itu tidak dapat hidup dengan wajar tanpa orang lain disekitarnya.
Istilah Ekonomi secara etimologi berasal dari bahasa yunani yaitu “Oikos”
yang artinya rumah tangga dan “Nomos” artinya mengatur. Jadi secara harfiah,
Ekonomi juga sering diartikan sebagai cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.(http://www.wikipedia.com).
Sejarah sosial ekonomi berhubungan dengan keadaan-keadaan dimana manusia-manusia itu hidup, kemungkinan-kemungkinan perkembangan materi dan batas-batasnya yang tidak bisa diikuti manusia.Penduduk dan kepadatan penduduk, konsumsi dan produksi pangan, perumahan, sandang, kesehatan dan penyakit, sumber-sumber kekuatan dan pada tingkat dasarnya faktor-faktor ini berkembang tidak menentu dan sangat drastis mempengaruhi kondisi-kondisi dimana manusia itu harus hidup.(Ahmad, 1992).
2.2.2. Ekonomi Pertanian
Keberhasilan usahatani dipengaruhi oleh faktor produksi (modal, tanah, tenaga kerja).Modal diperlukan untuk pengadaan sarana produksi (bibit, pupuk, pestisida dan peralatan), biaya pemeliharaan tanaman, biaya penyimpanan, pemasaran dan pengangkutan.Petani cenderung mengalami hambatan dalam mengembangkan hasil usahataninya dengan menambah luas lahan maupun pengadaan sarana produksi.(Darmawaty, 2005).
Ilmu usahatani merupakan cabang ilmu pertanian. Mosher (1968) mengartikan usahatani sebagai himpunan dari sumber-sumber alam yang ada di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah dan air, perbaikan – perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunan – bangunan yang didirikan di atas tanah itu dan sebagainya.
dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu.Ditinjau dari beberapa pengertian di atas tentunya ilmu usahatani sangat penting dalam ilmu pertanian.Dan untuk memaksimalkan dalam pengelolaan usahatani itu sendiri diperlukan unsur-unsur pokok yang merupakan faktor-faktor utama dalam usahatani.Unsur – unsur pokok tersebut sering disebut faktor produksi (input). Proses produksi pertanian adalah proses yang mengkombinasikan faktor-faktor produksi pertanian untuk menghasilkan produksi pertanian (output).
Soekartawi (1987) menjelaskan bahwa tersedianya sarana atau faktor produksi (input) belum berarti produktivitas yang diperoleh petani akan tinggi. Namun bagaimana petani melakukan usahanya secara efisien adalah upaya yang sangat penting. Efisiensi teknis akan tercapai bila petani mampu mengalokasikan faktor produksi sedemikian rupa sehingga produksi tinggi tercapai. Bila petani mendapat keuntungan besar dalam usahataninya dikatakan bahwa alokasi faktor produksi efisien secara alokatif.Cara ini dapat ditempuh dengan membeli faktor produksi pada harga murah dan menjual hasil pada harga relatif tinggi.Bila petani mampu meningkatkan produksinya dengan harga sarana produksi dapat ditekan tetapi harga jual tinggi, maka petani tersebut melakukan efisiensi teknis dan efisiensi harga atau melakukan efisiensi ekonomi.
2.2.3.SosialEkonomi Masyarakat
tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan.Hal ini berawal dari, tidak tersedia atau terbatasnya fasilitas umum, sosial dan sanitasi lingkungan yang buruk sehingga menimbulkan ketidaknyamanan bahkan dapat menjadi sumber penyakit. Kehilangan harta benda menyebabkan korban menjadi jatuh miskin, apalagi sumber matapencaharian berupa lahan pertanian dan perkebunan juga mengalami kerusakan. Kehilangan anggota keluarga, khususnya sumber pencari nafkah keluarga, seringkali menyebabkan timbulnya perasaan khawatir, ketakutan bahkan trauma yang berkepanjangan. Bantuan dari berbagaisumber yang berbentuk materi mungkin dapat memenuhi kebutuhan fisik korban bencana, tetapi belum tentu dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Kehilangan orang yang dicintai, rumah, harta benda, sawah, atau ternak yang menjadi matapencaharian, dapat menyebabkan guncangan jiwa dan trauma hebat.
Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyebutkan potensi gangguan terhadap kehidupan sosial ekonomi selalu ada bagi penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana seperti Indonesia.Risiko bencana alam membawa pengaruh negatif terhadap pembangunan, terutama pembangunan ekonomi.Bencana alam menyusutkan kapasitas produktif dalam skala besar yang berakibat pada kerugian finansial. (http://www.majalahglobalreview.com).
Menurut Nugroho dalam (http://www.majalahglobalreview.com), dampak bencana yang diakibatkan oleh bencana pada kehidupan masyarakat di antaranya adalah:
- Dampak sosial mencakup kematian, risiko kesehatan, trauma mental, menurunnya perekonomian, terganggunya kegiatan pendidikan (anak-anak tidak dapat pergi ke sekolah), terganggunya aktivitas kantor pelayanan publik, kekurangan makanan, energi, air, dan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya.
- Dampak ekonomi mencakup kehilangan materi, gangguan kegiatan ekonomi (orang tidak dapat pergi kerja, terlambat bekerja, atau transportasi komoditas terhambat, dan lain-lain).
- Dampak lingkungan mencakup pencemaran air (oleh bahan pencemar yang dibawa oleh banjir) atau tumbuhan disekitar sungai yang rusak akibat banjir.
Pascabencana erupsi gunungapi selalu berdampak kepada faktor sosial, ekonomi, dan psikis. Permasalahan yang dihadapi para korban setelah pulang dari pengungsian adalah mengenai pemenuhan kebutuhan dasar.Korban bencana sebagai manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat yang sedang menghadapi masalah, mempunyai kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Apabila kebutuhan hidup itu tidak dapat terpenuhi dalam kurun waktu yang lama maka akan menjadi masalah sosial, sehingga manusia dan masyarakat tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya.
Kebutuhan dasar hidupmanusia menurut Maslow (dalamSumarnonugroho, 1984: 6) adalah:
c. Menyayangi dan disayangi d. Penghargaan diri
e. Aktualisasi diri
Sementara Laird dan Laird (dalamSumarnonugroho, 1984: 6) mengemukakankebutuhan dasar hidup manusia meliputi:
a. Hidup
b. Merasa aman
c. Penghargaan atas eksistensi dirinya d. Melakukan pekerjaan yang disenangi
Kebutuhan dasar manusia menurutElizabeth Nicolds (1965: 59) meliputi: a. Rasa aman (security) dari ancamanlingkungan manusia dan alam serta
rasaaman dari gangguan penyakit.
b. Kasih sayang (affection) baik dari keluargamaupun masyarakat lingkungannya c. Mencapai cita-cita (achievment) dalamkondisi kehidupan sesuai yang
diinginkan.
d. Penerimaan (acceptance) eksistensi diriditengah masyarakat sekitarnya.
LP Getubig dan Sonke Schmidt (dalam Rusmiyati 2012), mengemukakan bahwa individu dan kelompokorang atau masyarakat dapat dikatakan amansecara sosial (socially secured) apabila terpenuhikebutuhan hidupnya dalam aspek: a. Pendapatan yang tetap dan cukup (adequateand stable income)
b. Kesehatan (health care)