Pengaruh Kegiatan Wisata Terhadap Kualitas Air Sungai Sibiru Biru Kecamatan Biru-Biru Kabupaten Deli Serdang

Teks penuh

(1)

Lampiran 2. Foto sampel air dan aktivitas penelitian

a. Sampel Air

b. Bahan Metode Winkler

c. Alat Pengukuran DO Dan BOD

5

d. Jarum Suntik

e. GPS

f. pH Meter

(2)

i.

Aktivitas Wisata

j. Akivitas Wisata

(3)

Lampiran 3. Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas

Sumber : (PP No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air Dan Pengendalian Kualitas Air)

PARAMETER

SATUAN

KELAS

KETERANGAN

I

II

III

IV

FISIKA

TEMPERATUR

o

C

Deviasi 3

Deviasi 3 Deviasi 3

Deviasi 5 Deviasi Temperatur alamiah

KIMIA ORGANIK

pH

6-9

6-9

6-9

5-9

Apabila secara alamiah di luar rentang

tersebut, maka ditentukan berdasarkan kondisi

alamiah

BOD

mg/L

2

3

6

12

DO

mg/L

6

4

3

0

Angka Batas Minimun

MIKROBIOLOGI

-

Fecal coliform

Jml/100 ml

100

1000

2000

2000

Bagi pengolahan air minum secara

(4)

52

(5)

52

Lampiran 5. Status Mutu Kualitas Air Menurut Sistem Nilai STORET di Sungai Sibiru Biru

Parameter Satuan Baku Mutu

Kelas II Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

Stasiun 2

: Lokasi Aktivitas Wisata dan Masyarakat

(6)

54

Lampiran 6. Perhitungan Sampel Pengunjung

�= �

1 +� (�)²

�= 400

1 + 400 (0.5)²

�= 400

1 + 400 (0.0225)

�= 400 1 + 9

�=400 10

�= 40

Keterangan :

n = Ukuran sampel yang dibutuhkan

N = Ukuran populasi

(7)

55

Lampiran 7. Perhitungan Nilai Kenyamanan Kawasan Sungai Sibiru Biru

��= ���

��� �100%

��=25

40�100%

��= 62.5%

Keterangan :

Ers

: Jumlah responden yang mengatakan nyaman

Ero

: Jumlah seluruh responden

Na

: Nilai kenyamanan alam (%)

Kriteria/nilai kenyamanan alam :

Na

75%

: Nyaman (3)

40%

Na

75%

: Cukup Nyaman (2)

(8)

56

Lampiran 8. Perhitungan Nilai Keindahan Kawasan Sungai Sibiru Biru

��= ���

��� �100%

��=23

40�100%

��= 57.5 %

Keterangan :

ERs : Jumlah responden yang mengatakan indah

ERo

: Jumlah seluruh responden

Ka

: Nilai keindahan alam (%)

Kriteria/nilai keindahan alam :

Ka

≥ 75%

: Indah (3)

40%

≤ Ka ≤ 75%

: Cukup indah (2)

(9)

57

Lampiran 9. Tabulasi Kuisioner Pengunjung

No

Variabel

Jumlah Pengunjung

N

%

Tujuan Wisata

1 Frekuensi kunjungan

Sering

15

37,5 %

Tidang sering

20

50 %

Belum pernah

5

12,5 %

2 Tujuan kedatangan

Rekreasi

39

97,5 %

Pendidikan

0

0

Penelitian

1

2,5 %

3 Informasi tempat

Teman

35

87,5 %

Media masaa

5

12,5 %

Travel

0

0

4 Waktu kunjungan

1-5 jam

34

85 %

1 harian

6

15 %

Lebih dari 1 hari

0

0

5 Rencana datang kembali

Ya

25

62,5 %

Tidak

15

37,5 %

Aktivitas

1 Memahami aturan

Ya

35

87,5 %

Tidak

5

12,5 %

2 Jenis kegiatan

Mandi disungai

30

75 %

Bersantai dipondok

10

25 %

3 Darimana mengetahui peraturan

Pengelola

37

92,5 %

Papan informasi

0

0

Teman

3

7,5 %

Dll

0

0

4 Pengelola pernah memberitahu

Ya

20

50%

Tidak

20

50%

5 Anda menjumpai sampah

Ya, berpengaruh

30

75 %

Ya, tidak berpengaruh

10

25 %

(10)

58

6 Pernah membuang sampah

Pernah

15

37,5 %

Tidak

25

62,5 %

7 Jika tidak ada tempat sampah

Membuang sembarangan

10

25 %

Membuang ditempat tersembunyi

5

12,5 %

Membawa sampah menemukan

tempat

25

62,5 %

8 Yang dilakukan dengan sampah

Ditinggalkan

3

7,3%

Dibakar

10

25 %

Dibuang ditempat sampah

27

67,5%

Dibuang di sungai

0

0

9 Merasa nyaman

Ya

25

62,5%

Tidak

15

37,5 %

10 Pemandangan yang indah

Ya

23

57,5%

Tidak

17

42,5%

11 Diterapkan aturan

Ya

25

62,5%

Tidak

15

37,5 %

12 Sarana dan prasarana memadai

(11)

59

Lampiran 10.Tabulasi Kuisioner Pengelola

No

Variabel

JumlahPengelola

N

%

5 Perubahankualitas air

Ada, cukupsignifikan

2

50%

Tidakada

1

25%

7 Hasilsampah yang tertampung

Tidak

0

0

9 Cara pengelolaansampah

Dikelolasendiri

4

100%

Dikelolaolehpemerintah

0

0

Dibiarkansaja

0

0

10 Tempatpembuanganakhir

Dibawa TPA

0

0

Dibuangkedalamsungai

0

0

Ditumpukkemudiandibakar

4

100%

11 Menyediakantoilet

(12)

60

Tidak

0

0

12 Cara pengelolaanlimbahhasil toilet

Ditampungdalamseptic tank

4

100%

Dibuangkesungai

0

13 Adakahlaranganmembuangsampah

Ada

4

100%

Tidakada

0

0

14 Pengunjungmembuangsampahpadatempat

nya

Mau (sering)

2

50%

Mau (jarang)

2

50%

(13)

61

KuisionerPenelitianuntukpengelola (masyarakat) tempatwisata

A. Identitasresponden

1. Nama

:

2. JenisKelamin

:

3. Umur

:

4. Pekerjaan

:

B. TempatWisata

1. Sudahberapa lama andamembukatempatpemandianini?

SejakTahun (...)

2. Berapajumlahpondok yang andamiliki di tempatpemandianini?

A. Kurangdari 10

B. Lebihdari 10

3. Berapajumlahpengunjung yang datangkepemandianinipadasaatharikerja (Week

Day)

A. Tidakada

B. 5 sampai 10 orang

C. Lebihdari 10 Orang

4. Berapajumlahpengunjung yang datangkepemandian ini pada saat hari libur

sekolah/Weekend

A. Kurangdari 10 Orang

B. ± 50 Orang

C. ± 100 Oran

(14)

62

5. Menurut pendapat anda, adakahperubahan kualitas air di Sungai Sibiru Biru ini

semenjak anda mulaimembukausaha pemandian ini (dalamkondisicuaca yang

sama)?

A. Ada, Cukupsignifikan

B. Tidakada

C. Tidak tahu

6. Adakahpengunjung yang mengalamigatal-gatalsetelah mandi di pemandianini?

A. Ada (Sering)

B. Ada (Jarang)

C. Tidakada

D. Tidak tahu

7. Berapa jumlah tong sampah yang tersedia di objek wisata Sungai Sibiru Biru?

A. Kurang dari 10

B. Lebih dari 10

8. Berapahasilsampah yang tertampungdalam tong sampah yang dihasilkan per

harinya?

A. Tidakada

B. Kurang dari 1 Kg

C. Lebihdari 1 Kg

9. Menurutanda, mauatautidakpengunjung yang datang

ketempatiniuntukmembuangsampahpadatempat yang telahdisediakan?

A. Tidak mau

B. Mau

(15)

63

10. Bagaimancarapengelolaansampah yang dihasilkandaritempat pemandianini?

A. Dikelola sendiri

B. Dikelola olehpemerintah

C. Dibiarkansaja

11. Kalauandamengelolasendiri,

dimanakahtempatpembuanganakhir darisampah sampahtersebut?

A. Dibawaketempatpembuanganakhir (TPA)

B. Dibuang ke badansungai

C. Ditumpuk, kemudiandibakar

12. Apakahandamenyediakansaranaumumsepertitoilet di tempatini?

A. Ya

B. Tidak

13. Bagaimanacarapenangananlimbah yang dihasilkantoilettersebut?

A. Ditampung di dalamsaptic tank

B. Dibuangataudialirkanlangsungkesungai

14. Apakahadapapanpengumumantentanglaranganmembuangsampah kesungai?

16. Selainuntukkegiatanwisata, digunakan untuk apa sajakah air Sungai Sibiru

Biru ini?

...

(16)

64

B. Tidakterlalusering (....) kali

C. Belumpernahsamasekali

2. Apa tujuanan anda mengunjungitempatwisataini?

A. Rekreasi

B. Pendidikan

C. Penelitian

3. Dari mana andamemperolehinformasimengenaitempatini?

A. Teman

B. Media massa

C. Travel

4. Berapa lama andamenghabiskanwaktu di tempatwisataini?

A. 1–5 Jam

B. 1 harian

C. Lebihdari 1 hari

5. Apakahadarencana untukdatangkembalisetelahkunjunganini?

A. Ya

B. Tidak

7. Apakahandamengetahuidanmemahamiperaturanberkunjung di

(17)

65

A. Ya

B. Tidak

8. Jeniskegiatanapa yang andalakukan di pemandianalamini?

A. Mandi di sungai

B. Bersantai di pondok-pondok yang telahdisediakan

9. Darimanaandamengetahuiperaturantersebut?

A. Pengelola

B. Papaninformasi

C. Teman

D. Dll....

10. Apakah pengelola pernah memberitahu mengenai aturan membuang sampah?

A. Ya

B. Tidak

11. Apakahandamenjumpaisampah di kawasanwisataini?

A. Ya, berpengaruhterhadapkenyamanan

B. Membuang di tempattersembunyi

C. Membawasampaimenemukantempatsampah

14. Apa yang andalakukandengansampah yang andahasilkanselama berada

di kawasanwisataini?

A. Ditinggalkan

B. Dibakar

C. Dibuangketempatsampah

(18)

66

15. Apakahandamerasanyamanberada di tempatwisataini?

A. Ya

B. Tidak

16. Menurut anda apakah objek wisata Sungai Sibiru Biru memiliki

pemandangan alam yang indah?

A. Ya

B. Tidak

17. Apakahanda

setujuapabiladiterpakanaturandilarang

membuang

sampahsembarangan?

A. Ya

B. Tidak

18. Menurutandaapakah saranadanprasarana di kawasaninisudahmemadai?

A. Sudah

B. Belum, perluditambah :...

19. Secara umum,

bagaimanakesanandatentangpengelolaansampahataukebersihansetalahmelakuk

ankunjungankepemandianalamini?

A. Puas

B. CukupPuas

C. TidakPuas

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Aria, G. D. 2014. Analisis Dampak Kegiatan Wisata Terhadap Kualitas Air SungaiBetimusKecamatanSibolangitKabupatenDeliSerdang [Skripsi].

Universitas Sumatera Utara. Medan.

Arikunto, S. 2002. Prosedur Suatu Penelitian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Barus, T. A. 2004. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Daratan. USU Press Medan.

Dwidjoseputro, D. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia Pustaka Utama. Medan.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.

Ginanjar, A. 2012. Kaji Potensi Pariwisata Berbasis Masyarakat Melalui Pengembangan

Desa Wisata Peternakan di Pangelangan Kabupaten Jawa Barat. [Skripsi]. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

Harthayasa, I. M. D. 2002. Partisipasi Masyarakat Dalam Perencanaan Sungai Badung Sebagai Obyek Wisata Air “City Tour”di Kota Denpasar. Semarang. Program Pasca Sarjana, Universitas Diponogoro. Semarang.

Hutagalung., Horas, P., Deddy, S dan Hadi, R. 1997. Metode Analisis Air Laut, Sedimen dan Biota. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Julita, N. 2008. Analisis Kualitas Air di Hutan Wisata Sungai Dumai

Sebagai Kajian Untuk Kegiatan Pengelolaan Wisata Alam Bunga

Tujuh [Skripsi]. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas

Sumatera Utara. Medan.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 115 Tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air.

Khotimah, S. 2013. Kepadatan Bakteri Coliform di Sungai Kapuas Kota Pontianak. FMIPA, Universitas Lampung. Lampung.

Maryono, A. 2009. Kajian Lebar Sempadan Sungai (Studi Kasus Sungai-Sungai di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta). Jurnal Dinamika Teknik Sipil. 9 (1): 56-66.

Nastiti, P. E. C dan Ema, U. 2013. Faktor Pengembangan Kawasan Wisata Bahari di Kabupaten Jember. Jurnal Teknik Pomits. 2 (2): 2301-9271.

(20)

Odum, E, P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Gajah Mada University Press. Jogjakarta.

Ompusunggu, H. 2009. Analisa Kandungan Nitrat Air Sumur Gali Masyarakat di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Di Desa Namo Bintang Kecamatan Pancur Baru Kabupaten Deli Serdang Tahun 2009 [Skripsi]. Universita Sumatera Utara. Medan.

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun: 2001 Tentang Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Santoso, A, D. 2007. Kandungan Zat Hara Fosfat Pada Musim Barat dan Musim Timur di Teluk Hurun Lampung. Jurnal. Teknik Lingkungan. 8 (3): 207-210.

Simanjuntak, H. 2009. Studi Korelasi Antara BOD Dengan Unsure Hara N, P dan K Dari Limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Tesis. Sekolah pascasarjana. Universita Sumatera Utara. Medan.

Sudewi, N. M. K. K. 2000. Analisis Peluang Investasi. Sektor Pariwisata Bahari di

Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Suin, N. 2002. Metode Ekologi. Penerbit Universitas Andalas. Padang.

Sutrisno, T. 2006. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Rhineka Cipta. Jakarta.

Suwondo. 2004. Kualitas Biologi Sungai Senapela, Sago, dan Sail di Kota Pekanbaru Berdasarkan Bioindikator Plankton dan Benthos. Universitas Riau. Pekanbaru.

Thayyibah, Z. 2010. Penentuan Total Suspended Solid (TSS) Dalam Air Sungai Deli dan Pengaruhnya Terhadap Waktu Penyimpanan. Jurnal Sains. 11(2).

Undang-Undang Nomor: 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air.

Undang Undang Republik Indonesia Nomor: 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.

Yudo, S. 2010. Kondisi Kualitas Air Sungai Ciliwung di Wilayah DKI Jakarta di tinjau Dari Parameter Organik, Amoniak, Fosfat, Deterjen dan Bakteri Coli. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 6 (1).

Yulianda, F. 2004. Pedoman Analisis Penentuan Status Kawasan Konservasi Laut. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

(21)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Mei 2015.

Penelitian ini dilaksanakan di Sungai Sibiru Biru, Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten Deli

Serdang. Analisis sampel air dilakukan di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan

Pengendalian Penyakit Medan.Lokasi Penelitian dapat dilihat Pada Gambar 2.

Gambar 2. Lokasi Penelitian.

Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan adalah kamera digital, GPS (Global Positioning

System), botol sampel, ember 5 liter, botol winkler, jarum suntik, pipet tetes, erlenmeyer,

(22)

plastik, alat tulis, gunting, kalkulator, cool box dan peralatan analisa kualitas air seperti

bola duga, termometer dan pH meter.

Bahan yang digunakan adalah bahan kimia dalam proses kerja metode winkler

yaitu, MnSO4, KOH-KI, H2SO4, amilum, Na2S2O3, data kuisioner, akuadesdan es untuk

sampel air sungai. Proses kerja metode winkler dapat dilihat pada lampiran 1 serta alat

dan bahan penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2.

Pengambilan Data

Data yang dikumpulkan di lapangan adalah data primer yaitu data parameter

fisika, kimia, biologi air Sungai Sibiru Biru dan data umum masyarakat yang tinggal di

sekitar wilayah sungai Sibiru Biru, contoh : nama, jenis kelamin, umur dan pendidikan.

Data yangnilainya langsung didapat dari lapangan meliputi parameter kualitas air seperti

Suhu, Kecepatan Arus, pH, DO dan BOD5. Serta hasil kuisioner terhadap pengunjung

dan penduduk sekitar, sedangkan data lain seperti TSS,Total Coliform, N dan P hasilnya

diperoleh melalui analisis laboratorium.

Prosedur Penelitian

Penentuan stasiun ditetapkan berdasarkan perbedaan aktivitas (pemanfaatan

sungai) oleh masyarakat. Stasiun yang diamati terdiri dari 3 titik, dimana pada setiap

stasiun terdapat 1 titik dengan 3 kali pengulangan dengan kriteria seperti terlihat pada

deskripsi area.

Deskripsi Area

Stasiun 1

Stasiun 1 terletak di Sungai Sibiru Biru, Desa Sarilaba Jahe, Kecamatan

(23)

98°39’44,4” BT. Daerah ini merupakan daerah yang masih sedikit terdapat aktivitas dan

stasiun 1 dijadikan sebagai stasiun kontrol. Lokasi stasiun 1 dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Lokasi Stasiun 1

Stasiun 2

Stasiun 2 terletak di Sungai Sibiru Biru, Desa Sarilaba Jahe, Kecamatan

Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang. Titik koordinat lokasi stasiun 2 adalah 3°21’47,8” LU dan

98°40’1,6” BT. Di lokasi stasiun 2 terdapat aktivitas masyarakat seperti MCK (mandi, cuci

dan kakus) dan aktivitas wisata. Lokasi stasiun 2 dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Lokasi Stasiun 2

(24)

Stasiun 3 terletak di Sungai Sibiru Biru, Desa Sarilaba Jahe, Kecamatan

Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang. Titik koordinat lokasi stasiun 3 adalah

3°22’01,6” LU dan 98°40’20,7”

Gambar 5. Lokasi Stasiun 3

BT. Pada daerah ini terdapat aktivitas budidaya dan

pertanian. Lokasi stasiun 3

dapat dilihat pada Gambar 5.

Pengukuran Faktor Fisika, Kimia dan Biologi Perairan

Pengukuran parameter fisika, kimia dan biologi air dilakukan dengan dua cara,

yakni secara langsung (in situ) dan secara tidak langsung (ex situ). Pengukuran langsung

dilapangan (in situ) dilakukan terhadap parameter suhu, pH kecepatan arus, DO dan

BOD5, sedangkan TSS, Total Coloform, N dan P dilakukan di Balai Teknik Kesehatan

Lingkungan (BTKL) Medan.

Analisis Data

(25)

Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah metode Purposive

Sampling (sampel dengan tujuan tertentu), yaitu cara pengambilan sampel dengan cara sesuai dengan tujuan penelitianyang dapat mewakili setiap unsur yang ada dalam

populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah wisatawan yang berkunjung ke Sungai

Sibiru Biru dalam waktu satu setengah bulan.

Pemilihan sampel pengunjung harus representatif atau mewakili populasi dengan

kriteria cukup dewasa (umur 17 tahun ke atas), sehat jasmani dan mampu berkomuniksi

dengan baik. Menurut Arikunto (2002), jika subjek penelitian atau wisatawan kurang dari

100 maka lebih baik diambil semuanya sebagai sampel dan jika jumlah sampel lebih dari

100 maka sampel dapat diambil antara 10%-15% sebagai ukuran sampel. Untuk

perhitungan sampel tersebut dapat digunakan rumus slovin (Nugraha, 2007)

�= �

1 +�(�)2

Keterangan :

n = Ukuran sampel yang dibutuhkan

N = Ukuran populasi

e = Margin error yang diperkenankan (10%-15%)

Persepsi Wisatawan Terhadap Keindahan dan Kenyamanan Kawasan

Analisis mengenai persepsi wisatawan digunakan untuk mengetahui tingkat

keindahan dan kenyamanan objek wisata Sungai Sibiru Biru. Tingkat keindahan dan

kenyamanan dibagi atas keindahan dan kenyamanan alam lokasi wisata. Penilaian

terhadap keindahan kawasan dilakukan dengan membuat daftar pertanyaan (kuisioner)

yang ditujukan kepada wisatawan. Keindahan yang dinilai adalah keindahan alami, tidak

termasuk buatan manusia. Secara kuantitatif dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut

(26)

��= ���

��� �100%

Keterangan :

ERs : Jumlah responden yang mengatakan indah

ERo : Jumlah seluruh responden

Ka : Nilai keindahan alam (%)

Kriteria/nilai keindahan alam :

Ka ≥ 75% : Indah (3)

40% ≤ Ka ≤ 75% : Cukup indah (2)

Ka < 40% : Tidak indah (1)

Kenyamanan kawasan merupakan nilai yang diberikan oleh wisatawan terhadap

rasa kelapangan, ketentraman dan keamanan. Nilai kenyamanan dilakukan dengan

membuat daftar pertanyaan yang ditujukan kepada wisatawan. Perhitungan dilakukan

dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Yulianda, 2004) :

��=���

��� �100%

Keterangan :

Ers : Jumlah responden yang mengatakan nyaman

Ero : Jumlah seluruh responden

Na : Nilai kenyamanan alam (%)

Kriteria/nilai kenyamanan alam :

Na ≥ 75% : Nyaman (3)

40% ≤ Na ≤ 75% : Cukup Nyaman (2)

Na < 40% : Tidak Nyaman (1)

(27)

Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 115 Tahun

2003, Metoda STORET merupakan salah satu metoda untuk menentukan status mutu air

yang umum digunakan. Dengan metoda STORET ini dapat diketahui

parameter-parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air. Secara prinsip metoda

STORET adalah membandingkan antara data kualitas air dengan baku mutu air yang

disesuaikan dengan peruntukannya guna menentukan status mutu air. Cara untuk

menentukan status mutu air adalah dengan menggunakan sistem nilai dari “US-EPA

(Environmental Protection Agency)” dengan mengklasifikasikan mutu air dalam empat

kelas, yaitu :

1. Kelas A: Baik sekali, skor = 0 (Memenuhi baku mutu)

2. Kelas B : Baik, skor = -1 s/d -10 (Tercemar ringan)

3. Kelas C: Sedang, skor = -11 s/d -30 (Tercemar sedang)

4. Kelas D: Buruk, skor >= -31 (Tercemar berat)

Penentuan status mutu air dengan menggunakan metoda STORET dilakukan

dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Lakukan pengumpulan data kualitas air dan debit air secara periodik sehingga

membentuk data dari waktu ke waktu (time series data).

2. Bandingkan data hasil pengukuran dari masing-masing parameter air dengan nilai baku

mutu yang sesuai dengan kelas air.

3. Jika hasil pengukuran memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran < baku mutu)

maka diberi skor 0.

4. Jika hasil pengukuran tidak memenuhi nilai baku mutu air (hasil pengukuran > baku

mutu), maka diberi skor sesuai dengan tabel penentuan sistem nilai untuk

menentukan status mutu air yang dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Penentuan sistem nilai untuk menentukan status mutu air

Jumlah Nilai Parameter

(28)

<10 Maksimum -1 -2 -3

Minimum -1 -2 -3

Rata-Rata -3 -6 -9

≥ 10 Maksimum -2 -4 -6

Minimum -2 -4 -6

Rata-Rata -6 -12 -18

5. Jumlah negatif dari seluruh parameter dihitung dan ditentukan status mutunya dari

jumlah skor yang didapat dengan menggunakan sistem nilai. Kriteria baku mutu air

(29)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Analisis Kualitas Air

Analisis kualitas air Sungai Sibiru Biru dilakukan sebanyak tiga kali dan

dilakukan pada kondisi hujan dan tidak hujan. Hasil Analisis Kualitas Air Sungai Sibiru

Biru pada setiap pengambilan dapat dilihat pada Lampiran 4. Koordinat untuk

masing-masing titik pengambilan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Titik Koordinat Lokasi Penelitian

No Lokasi Koordinat

Lintang Utara Bujur Timur 1. Stasiun 1 (Kontrol) 3°21’43,3” LU 98°39’44,4” BT 2. Stasiun 2 (Aktivitas Wisata dan Masyarakat) 3°21’47,8” LU 98°40’1,6” BT 3. Stasiun 3 (Aktivitas Pertanian dan Budidaya) 3°22’01,6” LU 98°40’20,7” BT

Hasil analisis kualitas air Sungai Sibiru Biru Menurut PP No. 82 Tahun 2001 dan

sistem penilaian STORET dapat dilihat pada Lampiran 5. Parameter yang digunakan

dalam penentuan kualitas air adalah kecepatan arus, pH, suhu, DO, BOD5, TSS, N, P serta Total Coliform. Hasil analisis kualitas air dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Kualitas Air

Parameter Satuan Baku Mutu

Kelas II

Stasiun

1 2 3

Suhu °C Dev 3 25 26,2 26,2

(30)

Kecepatan Arus m/detik 0,57 0,73 0,52

Kualitas Air Sungai Sibiru Biru

Hasil analisis kualitas air Sungai Sibiru Biru yang telah dibandingkan dengan

Kriteria Mutu Kualitas Air berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 kelas II dan menurut

Sistem Nilai STORET yang tercantum pada tabel 3 menunjukkan bahwa, skor parameter

kualitas air untuk stasiun 1 adalah 0. Hal ini menandakan perairan sungai pada stasiun 1

masuk dalam kelas A (Baik Sekali) dengan kategori Memenuhi Baku Mutu. Skor

parameter kualitas air pada stasiun 2 adalah 0. Nilai tersebut masuk dalam kelas A (Baik

Sekali) dengan kategori Memenuhi Baku Mutu dan skor parameter kualitas air pada

stasiun 3 adalah 0. Nilai tersebut juga masuk dalam kelas A (Baik Sekali) dengan

kategori Memenuhi Baku Mutu.

Persepsi Pengunjung Terhadap Objek Wisata Sungai Sibiru Biru

Hasil kuisioner menunjukkan nilai tingkat kenyamanan pengunjung terhadap

objek wisata Sungai Sibiru Biru sebesar 62,5% atau sebanyak 25 orang dari keseluruhan

jumlah responden yang disebar yakni sebanyak 40 responden dan sebanyak 37,5% atau

15 orang mengatakan tidak nyaman. Perhitungan sampel pengunjung dapat dilihat pada

Lampiran 6 dan untuk perhitungan nilai kenyamanan objek wisata Sungai Sibiru Biru

dapat dilihat pada Lampiran 7. Grafik tingkat kenyamanan pengunjung dapat dilihat pada

(31)

Gambar 6. Grafik Tingkat Kenyamanan Pengunjung

Hasil kuisioner menunjukkan, nilai keindahan objek wisata Sungai Sibiru Biru

adalah 57,5% atau sebanyak 23 orang mengatakan objek wisata Sungai Sibiru Biru indah

dan sebanyak 42,5% atau sebanyak 17 orang mengatakan tidak indah. Perhitungan nilai

keindahan objek wisata Sungai Sibiru Biru dapat dilihat pada Lampiran 8. Grafik tingkat

keindahan objek wisata Sungai Sibiru Biru dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Grafik Tingkat Keindahan Objek Wisata Sungai Sibiru Biru 0

Tingkat Keindahan Sungai Sibiru Biru

Persentase Keindahan

57,5%

(32)

Hasil penelitian menunjukkan nilai kepuasan pengunjung saat melaksanakan

aktivitas wisata di Sungai Sibiru Biru sebesar 50% atau sebanyak 20 orang menyatakan

puas berwisata di objek wisata Sungai Sibiru Biru. Sedangkan 25% atau sebanyak 10

orang pengunjung menyatakan cukup puas dan 12,5% atau 5 orang menyatakan tidak

puas. Tabulasi kuisioner pengunjung dapat dilihat pada Lampiran 9. Grafik tingkat

kepuasan pengunjung dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Grafik Tingkat Kepuasan Pengunjun

Persentase Pengelola Terhadap Wilayah Kelolanya

Hasil kuisioner menunjukkan, sebanyak 100% atau sebanyak 4 pengelola

menangani sampah dari hasil aktivitas wisata dengan cara ditumpuk lalu dibakar dan

tidak terdapat pengelola yang menangani sampah hasil aktivitas wisata dengan cara

dibawa ke TPA dan dibuang ke dalam sungai. Grafik penanganan sampah hasil aktivitas

wisata oleh pengelola dapat dilihat pada Gambar 9. 0

Puas Cukup Puas Tidak Puas

(33)

Gambar 9. Penanganan Sampah Aktivitas Pengunjung

Hasil kuisioner menunjukkan sebanyak 25% pengelola atau sebanyak 1 pengelola

mengatakan tidak tahu ada atau tidak wisatawan merasakan gatal-gatal setelah melakukan

aktivitas mandi-mandi di sungai dan sebanyak 75% atau sebanyak 3 pengelola

mengatakan tidak ada wisatawan yang mengelami gatal-gatal saat selesai melakukan

aktivitas mandi-mandi di Sungai Sibiru Biru tersebut.

Hasil kuisioner juga menunjukkan, terdapat 50% atau sebanyak 2 pengelola

mengatakan terdapat perubahan kualitas air akibat aktivitas wisata secara signifikan dan

sebanyak 25% atau sebanyak 1 pengelola mengatakan tidak terjadi perubahan kualitas air

akibat aktivitas wisata serta sebanyak 25% atau sebanyak 1 penelola mengatakan tidak

tahu ada atau tidak ada perubahan kualitas air akibat dari aktivitas wisata. Tabulasi

kuisioner pengelola dapat dilihat pada Lampiran 10. 0%

(34)

Pembahasan

Kualitas Air

Suhu

Hasil penelitian menunjukkan, suhu rata-rata perairan objek wisata Sungai Sibiru

Biru pada stasiun 1 adalah 25°C, pada stasiun 2 26,2°C dan pada stasiun 3 26,2°C. Nilai

suhu dari ketiga stasiun penelitian tidak jauh berbeda dan masih memenuhi baku mutu

kualiatas air sesuai dengan PP No. 82 Tahun 2001.

Pola temperatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas

cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggin

geografis dan juga oleh faktor kanopi (penutupan oleh vegetasi) dan pepohonan yang

tumbuh di tepi (Brehm dan Meijering, 1990).

Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia dan

evaporasi. Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air,

misalnya gas O2, CO2, N2, CH4 (Effendi, 2003). Grafik rata-rata Suhu di Sungai Sibiru

Biru dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Grafik Rata-Rata Suhu di Sungai Sibiru Biru

24

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

(35)

Total Suspended Solid (TSS)

Nilai TSS di Sungai Sibiru Biru masih memenuhi baku mutu kualitas air sesuai

dengan PP No. 82 Tahun 2001. Nilai TSS tertinggi berada pada stasiun 2 yaitu 18,6 mg/L

sedangkan nilai TSS terendah berada pada stasiun 1 yaitu 14 mg/L dan nilai TSS pada

staiun 3 berada pada kisaran nilai TSS stasiun 1 dan stasiun 2, yaitu 16,6 mg/L.

Dari ketiga stasiun yang diamati, nilai TSS pada stasiun 2 memiliki nilai lebih

tinggi dari pada stasiun 1 dan stasiun 3. Hal ini dikarenakan aktivitas yang terdapat pada

stasiun 2 sangat berpengaruh pada nilai TSS di stasiun 2 tersebut. Tingginya nilai TSS

pada stasiun 2 diakibatkan terdapat limbah domestik yang dibuang secara langsung

keperairan, dimana limbah tersebut berasal dari aktivitas MCK (mandi, cuci dan kakus)

serta aktivitas wisata yang mandi-mandi di perairan sungai tersebut. Grafik rata-rata TSS

di Sungai Sibiru Biru dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Grafik Rata-Rata TSS di Sungai Sibiru Biru

Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang

heterogen dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat

menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan. Penetrasi cahaya

matahari ke permukaan dan bagian yang lebih dalam tidak berlangsung efektif akibat 0

5 10 15 20

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

(36)

terhalang oleh zat padat tersuspensi, sehingga fotosintesis tidak berlangsung sempurna

(Tarigan, 2003).

Kecepatan Arus

Hasil penelitian menunjukkan,nilai kecepatan arus pada stasiun 1 sebesar 0,57

m/detik, pada stasiun 2 sebesar 0,73 m/detik dan pada stasiun 3 sebesar 0,52 m/detik.

Nilai kecepatan arus tertinggi berada pada stasiun 2 dan nilai keceparan arus terendah

berada pada stasiun 1.Grafik rata-rata Kecepatan Arus di Sungai Sibiru Biru dapat dilihat

pada Gambar 12.

Gambar 12. Grafik Rata-Rata Kecepatan Arus di Sungai Sibiru Biru

Perbedaan nilai kecepatan arus yang terdapat pada setiap stasiun dipengaruhi oleh

substrat yang berbeda. Pada stasiun 1 substrat yang terlihat adalah berbatu dan keadaan

substrat relatif datar. Pada stasiun 2 substrat yang terlihat adalah berbatu, namun

keberadaan substrat lebih miring. Pada stasiun 2 lebih banyak dijumpai batu-batu yang

berukuran besar, sehingga arus bergerak ke segala arah dan air terlihat berdistribusi ke

seluruh bagian dari perairan.

Jenis substrat pada stasiun 3 berbatu, namun jumlah batu lebih sedikit dan

disertai oleh pasir, sehingga kecepatan arus pada stasiun 3 lebih rendah daripada stasiun 1 0

Stasiun 1 Stasiun 2 Satsiun 3

(37)

dan stasiun 2. Kecepatan arus sungai dipengaruhi oleh kemiringan, kesuburan kadar

sungai, Kedalaman dan keleburan sungai, sehingga kecepatan arus di sepanjang aliran

sungai dapat berbeda-beda (Odum, 1993).

pH

Hasil penelitian menunjukkan,nilai pH terendah berada pada stasiun 2,

sedangkan pada stasiun 1 dan stasiun 3 memiliki nilai pH yang sama dan berada di atas

nilai pH stasiun 2. Adapun nilai pH pada stasiun 1 sebesar 7,8, pada stasiun 2 sebesar 7,6

dan pada stasiun 3 sebesar 7,8. Grafik nilai rata-rata pH di Sungai Sibiru Biru dapat

dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Grafik Rata-Rata pH di Sungai Sibiru Biru

Nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme pada umumnya antara 7 sampai

8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan

kelangsungan hidup organism, karena akan menyebabkan terjadinya gangguan

metabolisme dan respirasi (Barus, 2004). Dari hasil penelitian yang didapat, nilai pH air

Sungai Sibiru Biru masih sesuai dengan baku mutu kualitas air seperti yang tercantum

dalam PP No. 82 Tahun 2001 yaitu kisaran pH untuk badan air kelas II adalah 6-9. 7,5

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

(38)

Dissolved Oxygen (DO)

Dari hasil penelitian yang dilakukan, nilai DO terendah berada pada stasiun 2

yaitu 5,28 mg/L. Sementara itu, nilai DO tertinggi berada pada stasiun 1 yaitu sebesar

6,42 mg/L sedangkan nilai DO pada stsiun 3 adalah 6,00. Apabila dibandingkan dengan

nilai DO yang ditetapkan oleh PP No. 82 Tahun 2001 nilai DO dari ketiga stasiun masih

memenuhi baku mutu.

Rendahnya nilai DO pada stasiun 2 disebabkan lebih banyak dijumpai aktivitas

pada stasiun tersebut. Aktivitas yang dilakukan oleh penduduk sekitar dan wisatawan

sangat berpengaruh terhadap kualitas air sungai. kurangnya kesadaran masyarakat yang

memanfaatkan air sungai secara langsung mengakibatkan berkurangnya nilai DO di

perairan tersebut. Namun perbedaan nilai DO ketiga stasiun tidak terlalu signifikan dan

masih memenuhi baku mutu kualitas air. Hal ini dikarenakan arus ketiga stasiun

tergolong deras.

Derasnya arus juga berpengaruh terhadap tingginya nilai oksigen terlarut, dimana

arus berkonsentrasi memasukkan oksigen dari udara kedalam air melalui proses difusi.

Dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan organik dapat mengurangi kadar oksigen

terlarut hingga mencapai nol (Effendi, 2003). Grafik rata-rata Dissolved Oxygen (DO) di

Sungai Sibiru Biru dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Grafik Rata-Rata Dissolved Oxygen (DO) di Sungai Sibiru Biru 4,5

5 5,5 6 6,5

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

(39)

Biochemical Oxygen Demand (BOD5)

Hasil penelitian menunjukkan, nilai BOD5 pada stasiun 1 sebesar 1,06 mg/L,

pada stasiun 2 sebesar 1,04 mg/L dan stasiun 3 sebesar 1,07 mg/L. Nilai BOD5

Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk

menguraikan (mengoksidasi) hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat

organik yang tersuspensi dalam air (Simanjuntak, 2009). Nilai BOD

dari ketiga

stasiun masih memenuhi baku mutu kualitas air sesuai dengan PP No. 82 Tahun 2001.

5 dari ketiga stasiun

tersebut tergolong kecil sehingga menandakan beban limbah di perairan sungai tersebut

tidak begitu besar. Grafik rata-rata Biochemical Oxygen Demand (BOD5) di Sungai

Sibiru Biru dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15. Grafik Rata-Rata BOD5

Nitrat (NO

di Sungai Sibiru Biru

3

Hasil penelitian menunjukkan nilai nitrat pada setiap stasiun penelitian masih

memenuhi nilai baku mutu kualitas air sesuai dengan PP No. 82 Tahun 2001. Nilai nitrat

tertinggi berada pada stasiun 2 dan terendah pada stasiun 1. Adapun nilai nitrat pada

stasiun 1 sebesar 0,42 mg/L, pada stasiun 2 sebesar 0,92 mg/L dan pada stasiun 3 sebesar

0,66 mg/L. Grafik rata-rata Nitrat (NO )

3)di Sungai Sibiru Biru dapat dilihat pada Gambar

16.

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun3

(40)

Gambar 16. Grafik Rata-Rata Nitrat (NO3

Peningkatan kadar nitrat di perairan disebabkan oleh masuknya limbah domestik

atau pertanian (pemupukan) yang umumnya banyak mengandung nitrat (Hutagalung,

dkk. 1997).Keberadaan nitrat di Sungai Sibiru Biru dihasilkan oleh limbah domestik,

pertanian dan budidaya. Keberadaan rumah penduduk di pinggiran Sungai Sibiru Biru

menghasilkan limbah domestik. Banyaknya wisatawan yang mandi-mandi di perairan

sungai juga sangat berpengaruh terhadap nilai nitrat pada perairan sungai tersebut,

terlebih pada saat hari libur, dimana jumlah wisatawan yang berkunjung lebih banyak. )di Sungai Sibiru Biru

Menurut pengakuan pengelola, bahwasanya pengelola menyediakan septic tank

sebagai wadah penampungan kotoran manusia. Namun, tidak jarang anak-anak yang

bertempat tinggal di sekitar Sungai Sibiru Biru membuang kotoran secara langsung ke

perairan sungai.

Fosfat (PO4

Hasil penelitian menunjukkan nilai fosfat pada stasiun 1 sebesar 0,034 mg/L,

pada stasiun 2 sebesar 0,075 mg/L dan pada stasiun 3 sebesar 0,042 mg/L. Nilai fosfat

tersebut masih memenuhi baku mutu kualitas air sesuai dengan PP No. 82 Tahun 2001. )

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

(41)

Fosfat merupakan unsur yang penting dalam pembentukan protein dan membantu

proses metabolisme sel suatu organisme. Fosfat diabsorpsi oleh fitoplankton dan

seterusnya masuk kedalam rantai makanan. Senyawa fosfat dalam perairan berasal dari

sumber alami seperti erosi tanah, buangan dari hewan dan pelapukan tumbuhan

(Hutagalung, 1997). Grafik rata-rata Fosfat (PO4) di Sungai Sibiru Biru dapat dilihat pada

Gambar 17.

Gambar 17. Grafik Rata-Rata Fosfat (PO4) di Sungai Sibiru Biru

Total Coliform

Dari hasil penelitian yang dilakukan, nilai total coliform pada setiap stasiun

bervariasi, tetapi perbedaan nilai tidak terlalu signifikan. Nilai total coliform pada stasiun

1 sebesar 983 jml/100 ml, padasatsiun 2 sebesar 1600 jml/100 ml dan pada stasiun 3

sebesar 1366 jml/100 ml. Walaupun keberadaan total coliform diperairan Sungai Subiru

Biru cukup tinggi, namun masih memenuhi baku mutu kualitas air sesuai dengan PP No.

82 Tahun 2001. Grafik rata-rata Total Coliform di Sungai Sibiru Biru dapat dilihat pada

Gambar 18.

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

(42)

Gambar 18. Grafik Rata-Rata Total Coliform di Sungai Sibiru Biru

Keberadaan bakteri total coliform diperairan pasti berdampak buruk bagi

makhluk hidup yang memanfaatkan perairan tersebut. Menurut Sutrisno (2004) Air tidak

boleh mengandung coliform. Air yang mengandung golongan coli dianggap telah

terkontaminasi dengan kotoran manusia. Nilai total coliform pada setiap stasiun berbeda.

Pengaruh limbah seperti feses atau sisa makanan lainnya masih mendominasi

sebagai faktor penyebab pencemaran lingkungan air. Lokasi pemukiman padat penduduk

dengan kerapatan penduduk yang tinggi, jarak antara

satu rumah dengan rumah yang lain sangat dekat, jarak antara pembuangan limbah dan

septic tank sumber air cenderung berdekatan serta kebiasaan penduduk ditepian sungai membuang limbah secara langsung ke sungai menyebabkan pencemaran bakteri coliform

(Khotimah, 2013).

Persepsi Pengunjung Terhadap Tempat Wisata

Nilai tingkat kepuasan pengunjung terhadap objek wisata Sungai Sibiru Biru

adalah 50% atau sebanyak 20 orang puas berwisata di Sungai tersebut. Selanjutnya 0

500 1000 1500 2000

Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3

(43)

terdapat 25% atau sebanyak 10 orang yang mengatakan cukup puas. Sedangkan 12% atau

sebanyak 5 orang mengatakan tidak puas.

Dari hasil kuisioner, terdapat beberapa alasan kenapa pengunjung merasa puas

dan tidak puas berkunjung ke objek wisata Sungai Sibiru Biru. Adapun alasan tersebut

yakni, pengunjung merasa puas atas tersedianya pondok yang disediakan oleh pengelola

untuk tempat wisatawan bersatai-santai sambil menikmati panorama alam yang asri.

Selain itu pengunjung juga merasa puas atas pelayanan yang diberikan oleh pengelola

objek wisata Sungai Sibiru Biru dengan disediakan beberapa tim pengaman yang

memantau wisatawan saat melalukan aktivitas mandi-mandi di sungai. Dengan

diadakannya tim pengaman tersebut pengunjung merasa aman dan tidak terlalu khawatir

melakukan aktivitas mandi-mandi terkusus untuk anak-anak.

Wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Sungai Sibiru Biru tidak semua

merasa puas ketika berwisata, namun ada beberapa yang merasa tidak puas.

Ketidakpuasan pengunjung memiliki alasan yang cukup membangun untuk pengelola

objek wisata Sungai Sibiru Biru tersebut. Pengunjung meminta agar pengelola

menyediakan jumlah toilet yang cukup. Hal ini dikarenakan wisatawan menunggu terlalu

lama untuk mengantri di toilet disaat pengunjung berwisata pada hari libur.

Dari 40 data kuisioner yang diberikan kepada pengunjung, tingkat kenyamanan

yang dirasakan wisatawan adalah 62,5% atau sebanyak 25 orang mengatakan nyaman dan

sebanyak 37,5% atau sebanyak 15 orang mengatakan tidak nyaman. Menurut Sudewi

(2000), sesuai dengan kriteria dari Ditjen PHPA bahwa suatu obyek wisata dapat

dikatakan nyaman apabila nilai tingkat kenyamanan berada pada kisaran 60%-79%.

Apabila dilihat dari nilai yang telah diperoleh, objek wisata Sungai Sibiru Biru masuk

dalam kategori nyaman.

Dari hasil kuisioner, ada beberapa alasan wistawan mengatakan nyaman

berwisata ke Sungai Sibiru Biru. Pengunjung merasa nyaman dengan keadaan panorama

(44)

suasana Sungai Sibiru Biru lebih teduh. Selain itu keadaan pondok-pondok yang tertata

rapi dan tidak terlalu rapat satu sama lain membuat wisatawan nyaman untuk beristirahat.

Namun, kurangnya jumlah tong sampah membuat pengunjung tidak nyaman. Hal ini

mengakibatkan pengunjung dengan sengaja membuang sampah tidak pada tempatnya,

sehingga pengunjung merasa risih berada disekitar sampah yang berserakan.

Dari hasil kuisioner, terdapat 50% atau 20 orang wisatawan yang pernah

diberitahu oleh pengelola untuk mematuhi aturan berwisata di Sungai Sibiru Biru dan

sebanyak 50% atau sebanyak 20 orang tidak diberitahu pengelola aturan berwisata. Di

Sungai Sibiru Biru tidak terdapat aturan berwisata berupa papan pengumuman yang berisi

himbauan atau ajakan untuk menjaga kebersihan dll. Pengelola memberitahu secara

langsung kepada pengunjung untuk menjaga kebersihan. Hal ini kurang memadai untuk

menjalankan tata cara berwisata yang baik dan dengan jumlah pengunjung yang banyak

akan mengakibatkan arahan tidak tersebar secara merata kesetiap pengunjung.

Jumlah wisatawan yang telah menaati aturan sebanyak 62,5% atau sebanyak 25

orang dan sebanyak 37,5% atau sebanyak 15 orang mengatakan tidak menaati aturan.

Tidak tersedianya aturan berwisata di objek wisata Sungai Sibiru Biru mengakibatkan

banyak wisatawan yang tidak menaati aturan berwisata. Hal ini dapat menjadi lebih buruk

apabila pengelola atau penyedia fasilitas wisata tidak menjalankan kaidah konservasi.

(45)

Gambar 19. Grafik Perilaku Pengunjung

Persepsi Pengelola Terhadap Wilayah Kelolanya

Objek wisata Sungai Sibiru Biru ini telah dibuka dari tahun 1990. Pengelola

objek wisata Sungai Sibiru Biru ini sudah sering berganti. Pengelola yang sekarang

mengembangkan usaha objek wisata Sungai Sibiru Biru telah berlangsung selama 5

tahun. Sebanyak 75% atau sebanyak 3 pengelola menyediakan pondok lebih dari 10 dan

sebanyak 25% atau 1 pengelola yang manyediakan pondok kurang dari 10.

Dari hasil kuisioner terdapat 100% atau 4 pengelola menyediakan toilet yang

digunakan oleh pengunjung. Selain itu toilet juga dilengkapi dengan septic tank sebagai

wadah penampung hasil limbah dari toilet. Hasil kuisioner juga menunjukkan sebanyak

100% pengelola membakar sampah yang dihasilkan oleh pengunjung. Respon dari

pengelola dan masyarakat sekitar objek wisata Sungai Sibiru Biru belum sepenuhnya

dapat dikatakan baik. Hal ini dikarenakan himbauan dari masyarakat sekitar sungai dan

pengelola kepada pengunjung untuk bekerjasama dalam penerapan berwisata berbasis

konservasi tidak dilaksanakan. Tidak ditemukannya larangan atau himbauan kepada

pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya mengakibatkan wisatawan lalai

atas pentingnya menjaga kebersihan di objek wisata Sungai Sibiru Biru tersebut. 0

Menaati Aturan Tidak Menaati Aturan

(46)

Dari hasil kuisioner menunjukkan sebanyak 100% atau 4 pengelola mengatakan telah

memberikan himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya. Namun himbauan

tersebut dilakukan secara langsung kepada pengunjung. Dari hasil kuisioner, diperoleh

sebanyak 50% atau 2 pengelola mengatakan pengunjung mau membuang sampah (sering)

dan sebanyak 50% atau 2 orang mengatakan pengunjung mau membuang sampah

(jarang).

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, objek wisata Sungai Sibiru Biru tidak

menyediakan papan pengumuman berupa spanduk, stiker atau lain sebagainya yang dapat

menghimbau wisatawan untuk menjaga kebersihan. Selain itu, ketersediaan tong sampah

juga masih sedikit dijumpai. Hal ini mengakibatkan kelalaian dari wisatawan yang

berkunjung keobjek wisata Sungai Sibiru Biru untuk menjaga kebersihan dan bahkan

tidak jarang dijumpai dengan sengaja wisatawan membuang sampah keperairan.

Berkaitan dengan hal ini, hasil pemantauan menunjukkan bahwa jarak antara pondok

dengan perairan sungai terlalu dekat, yaitu kurang dari 1 meter. Sehingga wisatawan

sangat mudah membuang sampah langsung keperairan sungai. Tabulasi Kuisioner Data

Kuisioner dilihat pada Lampiran 11. Grafik persepsi pengelola dapat dilihat pada Gambar

20.

(47)

Dibutuhkannya kerjasama baik dari pihak pengelola maupun masyarakat

setempat untuk memantau kondisi objek wisata Sungai Sibiru Biru. Menyediakan

papan-papan pengumuman yang berisikan himbauan atau ajakan kepada pengunjung untuk

meningkatkan kesadaran bahwa pentingnya untuk menjaga kebersihan. Selain itu

perlunya disediakan tong sampah dalam jumalah yang cukup. Tersedianya jumlah tong

sampah yang cukup memudahkan wisatawan membuang sampah pada tempatnya.

Tersedianya jumlah toilet yang cukup memberikan kenyamanan untuk

pengunjung. Hal ini dikarenakan terjadinya desakan dan kejenuhan pengunjung untuk

memanfaatkan fasilitas toilet dengan mengantri pada saat pengunjung berjumlah banyak

atau pada hari libur. Untuk terjaganya kualitas air sungai, keberadaan pondok juga perlu

di perhatikan. Keberadaan pondok memiliki posisi yang terlalu dekat yaitu kurang dari 1

meter, sehingga banyak dijumpai wisatawan tanpa berpikir panjang membuang sampah

(48)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Aktivitas wisata Sungai Sibiru Biru menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air

di sungai tersebut, walaupun kualitas air tersebut pada umumnya masih memenuhi

baku mutu kualitas air sesuai dengan PP No. 82 tahun 2001 kelas II dan sistem

penilaian STORET.

2. Tingkat kenyamanan wisatawan terhadap objek wisata Sungai Sibiru Biru sebesar

62,5% dengan kategori cukup nyaman dan tingkat keindahan objek wisata Sungai

Sibiru Biru sebesar 57,5%, dengan kategori cukup indah. Namun, tingkat kesadaran

pengunjung akan pentingnya nilai kebersihan masih perlu ditingkatkan yaitu sebesar

50%.

3. Terdapat 100% atau 4 pengelola menyediakan toilet untuk pengunjung. Namun

pengelola tidak menyediakan papan pengumuman yang dapat menghimbau

wisatawan untuk menjaga kebersihan. Ketersediaan tong sampah juga masih sedikit

dijumpai, sehingga perlu ditingkatkan.

Saran

Penelitian mengenai pengaruh aktivitas wisata terhadap kualitas air Sungai Sibiru

Biru perlu dilakukan secara berkesinambungan. Diperlukan penelitin terhadap daerah

hulu perairan, agar diperoleh gambaran dan hasil yang lebih lengkap. Hal ini bertujuan

untuk menjaga kualitas air. Kerjasama pengelola objek wisata dan wisatawan dalam

menjaga kebersihan objek wisata Sungai Sibiru Biru juga diperlukan, agar keberadaan

(49)

TINJAUAN PUSTAKA

Perairan Sungai

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 2004 tentang

Sumberdaya Air, dinyatakan bahwa sungai merupakan salah satu bentuk alur air

permukaan yang harus dikelola secara menyeluruh, berwawasan lingkungan hidup

dengan mewujudkan kemanfaatan sumberdaya air yang berkelanjutan untuk kemakmuran

rakyat. Dengan demikian sungai harus dilindungi dan dijaga kelestariannya, ditingkatkan

fungsi dan kemanfaatannya dan dikendalikan dampak negatif terhadap lingkungannya.

Dalam rangka mewujudkan kemanfaatan sungai serta mengendalikan kerusakan sungai,

perlu ditetapkan garis sempadan sungai, yaitu garis batas perlindungan sungai. Garis

sempadan sungai ini selanjutnya akan menjadi acuan pokok dalam kegiatan pemanfaatan

dan perlindungan sungai serta sebagai batas permukiman di wilayah sepanjang sungai

(Maryono, 2009).

Ekosistem sungai dibagi menjadi beberapa zona, dimulai dengan zona krenal

(mata air) yang umumnya terdapat di daerah hulu. Zona krenal dibagi menjadi

rheokrenal, yaitu mata air yang berbentuk air terjun, biasanya terdapat pada tebing-tebing

yang curam, limnokrenal, yaitu mata air yang membentuk genangan air yang selanjutnya

membentuk rawa-rawa. Selanjutnya aliran air dari beberapa mata air akan membentuk

aliran sungai di daerah pegunungan. Zona rithral, ditandai dengan relif aliran sungai yang

sangat terjal. Zona rithral dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu epirithral (bagian yang

paling hulu), metarhitral (bagian tengah dari aliran sungai di zona rithral) dan hyporithral

(bagian paling akhir dari zona rithral). Setelah melewati zona hyporithral, aliran sungai

akan memasuki zona potamal, yaitu aliran sungai pada daerah-daerah yang relatif lebih

(50)

bagian, yaitu epipotamal (bagian atas dari zona potamal), metapotamal (bagian tengah)

dan hypopotamal (bagian akhir dari zona potamal) (Barus, 2004).

Sungai sebagai salah satu komponen lingkungan yang memiliki fungsi penting

bagi kehidupan manusia, termasuk untuk menunjang pembangunan perekonomian. Akan

tetapi sebagai akibat adanya peningkatan kegiatan pembangunan di berbagai bidang,

maka baik secara langsung ataupun tidak langsung akan mempunyai dampak terhadap

kerusakan lingkungan termasuk didalamnya pencemaran sungai. Pencemaran sungai

umumnya berasal dari limbah domestik maupun limbah non domestik, seperti limbah dari

perumahan, perkantoran, pabrik dan industri. Oleh karena itu pencemaran air sungai dan

lingkungan sekitarnya perlu dikendalikan seiring dengan laju pembangunan agar fungsi

sungai dapat dipertahankan kelestariannya (Yudo, 2010).

Pariwisata

Undang-udang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan

menjelaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan pariwisata, yaitu :

1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok

orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan

pribadi atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka

waktu sementara.

2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.

3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas

serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan

Pemerintah Daerah.

4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan

(51)

orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama

wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha.

5. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan nilai

yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang

menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.

6. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah

kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di

dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesibilitas

serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.

7. Usaha Pariwisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi

pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata.

8. Pengusaha Pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan kegiatan

usaha pariwisata.

Saat ini wisata yang banyak diminati oleh masyarakat baik lokal maupun non

lokal yakni wisata yang mengarah ke alam. Salah satu jenis wisata alam yang sekarang

ini banyak menghasilkan wisatawan lokal maupun asing yaitu wisata bahari. Dapat

diartikan wisata bahari adalah salah satu jenis pariwisata yang memiliki objek sajian

meliputi wisata alam dan berhubungan dengan sumberdaya air (Nastiti, 2013).

Menurut Yulianda (2007), konsep pemanfaatan wisata dapat diklasifikasikan

menjaditiga kelompok yaitu:

a. Wisata alam (nature tourism), merupakan aktivitas wisata yang ditujukan

pada pengalaman terhadap kondisi alam atau daya tarik panoramanya.

b. Wisata budaya (cultural tourism), merupakan wisata dengan kekayaan budaya sebagai

objek wisata dengan penekanan pada aspek pendidikan.

c. Ekowisata (Ecotourism,), merupakanwisata berorientasi pada lingkungan untuk

menjembatani kepentingan perlindungan sumberdaya alam/lingkungan dan industri

(52)

Parameter Kualitas Air

Suhu

Temperatur disuatu ekosistem air berfluktuasi baik harian maupun tahunan.

Fluktuasinya terutama mengikuti pola temperatur udara lingkungan sekitarnya. Selain itu

pola temperatur perairan dapat dipengaruhi oleh factor-faktor anthropogen atau faktor

yang diakibatkan oleh aktivitas manusia (Barus, 2004).

Suhu air pada berbagai lapiasan dapat diukur dengan menggunakan termometer

yang dibenamkan dalam air. Kisaran suhu lingkungan perairan lebih sempit dibandingkan

dengan lingkungan daratan, karena itulah maka kisaran toleransi organisme akuatik

terhadap suhu juga relatif sempit dibandingkan dengan organisme akuatik (Suin, 2002).

Kecepatan Arus

Menurut Barus (2004), arus air adalah faktor yang mempunyai peranan sangat

penting baik pada perairan lotik maupun perairan lentik. Hal ini berhubungan dengan

penyebaran organisme, gas-gas terlarut dan mineral yang terdapat di dalam air.

Kecepatan aliran air akan bervariasi secara vertikal. Arus air yang pada perairan lotik

umumnya bersifat turbulen, yaitu arus air yang bergerak ke segala arah, sehigga air akan

terdistribusi ke seluruh bagian dari perairan tersebut. Selain itu dikenal arus laminar,

yaitu arus air yang bergerak ke satu arah tertentu saja.

Total Suspended Solid (TSS)

Zat Padat Tersuspensi dapat diklasifikasikan menjadi zat padat terapung yang

selalu bersifat organik dan zat padat terendap yang dapat bersifat organik dan anorganik.

Zat padat terendap adalah zat padat dalam suspensi yang dalam keadaan tenang dapat

(53)

pH

Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion hidrogen dalam suatu larutan,

didefenisikan sebagai logaritma dari resifprokal aktivitas ion hidrogen dan secara

matematika dinyatakan sebagai pH= log l/H- dimana H- adalah banyaknya ion hidrogen

dalam mol/liter larutan. Kemampuan air untuk mengikat atau melepaskan ion hidrogen

akan menunjukkan apakah larutan tersebut bersifat asam atau basa (Barus, 2004).

DO

Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam ekosistem

air, terutama sekali dibutuhkan dalam proses respirasi bagi sebagian besar organisme air.

Umumnya kelarutan oksigen dalam air sangat terbatas dibandingkan dengan kadar

oksigen di udara yang mempunyai konsentrasi sebanyak 21% volume. Sedangkan air

hanya mampu menyerap oksigen sebanyak 1% volume saja. Sumber utama oksigen

terlarut dalam air adalah difusi oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air

dengan udara dan dari proses fotosintesis, selanjutnya air kehilangan oksigen melalui

pelepasan dari permukaan ke atmosfir dan melalui kegiatan respirasi dari semua

organisme air (Barus, 2004).

BOD

Biological Oxygen Demand(BOD) adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologi yang benar-benar terjadi dalam air.

Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan

(mengoksidasi) hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat organik yang

(54)

Nitrat (NO3

Sumber pencemaran nitrat dalam air umumnya berasal dari limbah industri,

septic tank, limbah hewan (misalnya burung dan ikan) dan limbah dari angkutan air (perahu, kapal dan lain-lain). Selain itu limbah dari lahan-lahan pertanian akibat aktivitas

pemupukan, penggunaan pestisida dan lain-lain memberikan kontribusi yang sangat besar

terhadap polusi nitrat di dalam air permukaan (surface water) dan air bawah tanah

(ground water) (Ompusunggu, 2009). )

Fosfat (PO4

Unsur fosfor di alam banyak dijumpai dalam bentuk ion fosfat, baik dalam

bentuk organik maupun anorganik. Keberadaan unsur ini di lapisan tanah tidak stabil,

karena berbentuk mineral-mineral yang sangat reaktif terhadap air yang mengalir di

permukaannya. Unsur ini akan mudah mengalami proses pengikisan, pelapukan dan

pengenceran karena limpasan air. Selama terjadi proses-proses tersebut mineral-mineral

fosfat akan terurai menjadi ion fosfat yang merupakan salah satu zat hara yang diperlukan

(Santoso, 2007). )

Total Coliform

Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran

pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri

patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya bakteri coliformfecal adalah bakteri indikator

adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliformfecal menjadi indikator

pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan

(55)

Pengaruh Kegiatan Wisata Terhadap Kualitas Air Sungai

Dampak negatif dari kegiatan wisata terjadi apabila tingkat penggunaan lebih

besar daripada kemampuan lingkungan untuk mengatasi hal tersebut. Aktivitas yang

dilakukan oleh pelaku wisata, produk perencanaan dan sistem pengelolaan wisata serta

kondisi sarana dan prasarana dapat mempengaruhi terjadinya intensitas dampak

lingkungan yang berbeda (Ginanjar, 2012).

Pada umumnya wisatawan melakukan kegiatan wisata tergantung dengan kondisi

atraksi dari objek wisatanya. Memberdayakan objek wisata tidak banyak membutuhkan

dana, karena tinggal melakukan pendekatan dan koordinasi dengan masyarakat setempat.

Masalah cukup berat adalah memberikan pemahaman dan pengertian kepada masyarakat

bahwa keikutsertaan dan peran serta langsung dari mereka akan punya andil dan besar

dalam meningkatkan kepariwisataan secara makro maupun kehidupan atau kesejahteraan

masyarakat sendiri secara mikro (Harthayasa, 2002).

Pengembangan pariwisata dapat menimbulkan kerusakan besar pada

ekosistem.Kerusakan dan masalah ekosistem yang ditimbulkan dapat berupa sedimentasi,

bangunan yang dibuat kadang-kadang menghalangi arus sungai dan drainase serta

pencemaran langsung yang disebabkan oleh limbah hotel dan restoran. Masalah

lingkungan terbesar bagi bangunan dan fasilitas pariwisata adalah penggunaan energi dan

pembuangan limbah.Sampah padat yang dihasilkan dari pembangunan dan konstruksi

sarana akomodasi menjadi limbah beracun yang mencemari air, udara dan tanah (Aria,

(56)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Air merupakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang

banyak, bahkan oleh

semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumberdaya air harus

dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup

yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana,

dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Aspek pengamatan dan pelestarian sumberdaya air harus ditanamkan pada segenap

pengguna air. Pengelolaan sumberdaya air sangat penting agar dapat dimanfaatkan

secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu langkah

pengelolaan yang dilakukan adalah pemantauan dan interpretasi data kualitas air,

mencakup kualitas fisika, kimia dan biologi. Namun melangkah pada tahap pengelolaan

diperlukan pemahaman yang baik tentang terminologi, karakteristik dan interkoneksi

parameter-paramter kualitas air (Effendi, 2003).

Air sungai merupakan salah satu sumber air yang sangat penting untuk kehidupan

manusia. Manfaat terbesar sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum,

sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah serta tidak jarang dijumpai

dijadikan sebagai objek wisata. Namun, pada proses pemanfaatan sungai sebagai

penunjang kehidupan manusia selalu menimbulkan dampak. Menurut Julita

(2008),sebenarnya setiap upaya kegiatan yang memanfaatkan sumberdaya alam pasti

menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, untuk itu dalam penyusunan rencana

pembangunan wisata alam perlu antisipasi agar dampak yang muncul dapat ditanggulangi

(57)

Sungai Sibiru Biru merupakan salah satu objek wisata sungai yang terdapat di

Desa Sarilaba Jahe, Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang. Air Sungai Sibiru

Biru berasal dari mata air yang terletak di Desa Negeri Sua dan Desa Sarang Kulit,

Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang dan hilir Sungai Sibiru Biru terletak di

kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

Sungai Sibiru Biru digunakan untuk mendukung berbagai aktivitas masyarakat,

adapun aktivitas masyarakat tersebut adalah aktivitas rumah tangga yang menghasilkan

limbah MCK (mandi, cuci dan kakus) serta kegiatan pertanian dan budidaya. Selain

aktivitas tersebut, Sungai Sibiru Biru juga dijadikan sebagai objek wisata yang didatangi

oleh pengunjung dari berbagai tempat. Banyaknya jumlah pengunjung yang berwisata ke

Sungai Sibiru Biru akan mempengaruhi kualitas air sungai tersebut. Oleh karena itu

diperlukan suatu analisis dampak kegiatan wisata terhadap kualitas air Sungai Sibiru

Biru, Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang.

Perumusan Masalah

Sungai Sibiru Biru dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana penunjang

kehidupan. Adapun manfaat dari sungai tersebut sebagai sumber pengairan aktivitas,

yaitu aktivitas MCK (mandi, cuci dan kakus), pertanian dan budidaya serta Sungai Sibiru

Biru juga dijadikan masyarakat sebagai tempat objek wisata.

Aktivitas-aktivitas yang terdapat di Sungai Sibiru Biru sangat berpengaruh

terhadap kualitas air. Beberapa permasalahan yang terdapat dalam suatu rumusan

masalah yaitu:

1. Bagaimana pengaruh aktivitas wisata terhadap kualitas air Sungai Sibiru Biru?

2. Bagaimana persepsi pengunjung terhadap obejek wisata Sungai Sibiru Biru?

3. Bagaimana sistem pengelolaan terhadap objek wisata Sungai Sibiru Biru, Kecamatan

(58)

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui pengaruh aktivitas wisata terhadap kualitas air Sungai Sibiru biru.

2. Mengetahui persepsi pengunjung terhadap objek wisata Sungai Sibiru Biru.

3. Menilai sistem pengelolaan objek wisata Sungai Sibiru Biru, Kecamatan Biru-Biru,

Kabupaten Deli Serdang.

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai pengaruh aktivitas

wisata terhadap faktor fisika, kimia dan biologi Sungai Sibiru Biru, sehingga dapat

dijadikan aspek dasar pengelolaan dan informasi wisataSungai Sibiru Biru, Kecamatan

Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang.

Kerangka Pemikiran

Aktivitas yang terdapat di Sungai Sibiru Biru adalah aktivitas domestik,

pertanian, budidaya dan pariwisata. Dari berbagai aktivitas tersebut akan mempengaruhi

faktor fisika, kimia dan biologi yang akhirnya akan merubah kualitas air sungai tersebut

dan selanjutnya membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan. Berdasarakan

(59)

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Kawasan Sungai Sibiru Biru

Aktivitas yang Terdapat di Perairan Sungai Sibiru Biru

Penurunan Kualitas Air

Persepsi Masyarakat Tentang Objek Wisata Sungai Sibiru Biru

Figur

Gambar 2. Lokasi Penelitian.

Gambar 2.

Lokasi Penelitian. p.21
Gambar 4. Lokasi Stasiun 2

Gambar 4.

Lokasi Stasiun 2 p.23
Gambar 3. Lokasi Stasiun 1

Gambar 3.

Lokasi Stasiun 1 p.23
Gambar 5. Lokasi Stasiun 3

Gambar 5.

Lokasi Stasiun 3 p.24
Tabel 2. Titik Koordinat Lokasi Penelitian

Tabel 2.

Titik Koordinat Lokasi Penelitian p.29
Tabel 3. Hasil Analisis Kualitas Air

Tabel 3.

Hasil Analisis Kualitas Air p.29
Gambar 6.

Gambar 6.

p.30
Gambar 6. Grafik Tingkat Kenyamanan Pengunjung

Gambar 6.

Grafik Tingkat Kenyamanan Pengunjung p.31
Gambar 7. Grafik Tingkat Keindahan Objek Wisata Sungai Sibiru Biru

Gambar 7.

Grafik Tingkat Keindahan Objek Wisata Sungai Sibiru Biru p.31
Gambar 8. Grafik Tingkat Kepuasan Pengunjun

Gambar 8.

Grafik Tingkat Kepuasan Pengunjun p.32
Gambar 9. Penanganan Sampah Aktivitas Pengunjung

Gambar 9.

Penanganan Sampah Aktivitas Pengunjung p.33
Gambar 10. Grafik Rata-Rata Suhu di Sungai Sibiru Biru

Gambar 10.

Grafik Rata-Rata Suhu di Sungai Sibiru Biru p.34
Gambar 11. Grafik Rata-Rata TSS di Sungai Sibiru Biru

Gambar 11.

Grafik Rata-Rata TSS di Sungai Sibiru Biru p.35
Gambar 12. Grafik Rata-Rata Kecepatan Arus di Sungai Sibiru Biru

Gambar 12.

Grafik Rata-Rata Kecepatan Arus di Sungai Sibiru Biru p.36
Gambar 13. Grafik Rata-Rata pH di Sungai Sibiru Biru

Gambar 13.

Grafik Rata-Rata pH di Sungai Sibiru Biru p.37
Gambar 14. Grafik Rata-Rata Dissolved Oxygen (DO) di Sungai Sibiru Biru

Gambar 14.

Grafik Rata-Rata Dissolved Oxygen (DO) di Sungai Sibiru Biru p.38
Gambar 15. Grafik Rata-Rata BOD5 di Sungai Sibiru Biru

Gambar 15.

Grafik Rata-Rata BOD5 di Sungai Sibiru Biru p.39
Gambar 16. Grafik Rata-Rata Nitrat (NO3)di Sungai Sibiru Biru

Gambar 16.

Grafik Rata-Rata Nitrat (NO3)di Sungai Sibiru Biru p.40
Gambar 17. Nilai Rata-rata Fosfat (mg/L)Fosfat (PO4)

Gambar 17.

Nilai Rata-rata Fosfat (mg/L)Fosfat (PO4) p.41
Gambar 18. Grafik Rata-Rata Total Coliform  di Sungai Sibiru Biru

Gambar 18.

Grafik Rata-Rata Total Coliform di Sungai Sibiru Biru p.42
Gambar 19. Grafik Perilaku Pengunjung

Gambar 19.

Grafik Perilaku Pengunjung p.45
Gambar 20. Grafik Persepsi Pengelola

Gambar 20.

Grafik Persepsi Pengelola p.46
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Gambar 1.

Kerangka Pemikiran Penelitian p.59

Referensi

Memperbarui...

Outline : TINJAUAN PUSTAKA