Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Oleh: Rachmawati
(1110070000102)
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
ii Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Oleh: Rachmawati
(1110070000102)
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“
Bukan karena bahagia kita lalu bersyukur,
tetapi karena selalu bersyukur kita akan selalu
bahagia “
Skripsi ini dipersembahkan untuk orang tua,
keluarga dan orang-orang yang telahmembantu
(C) Rachmawati
(D) Pengaruh Subjective Well-Being, Social Influence, Self-Esteem, dan Faktor Demografis terhadap Impulse Buying.
(E) xiv + 86 halaman + lampiran
(F)Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah ada pengaruh dari subjective well-being, social influence, self-esteem, dan faktor demografis terhadap
Impulse Buying. Pada penelitian ini peneliti menggunakan dimensi
subjective well-being, social influence, self-estee dan faktor demografis sebagai IV. Peneliti berhipotesis bahwa ada pengaruh subjective well-being, social influence, self-estee dan faktor demografis terhadap impulse buying.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi berganda. Sampel berjumlah 210 orang pembeli ritel Alfamidi, Alfamart dan Indomart di Jl. Otista Raya Sasak Tinggi Ciputat. Mengunakan teknik pengambilan sampel probability sampling dan peneliti mengadaptasi skala dari Verplanken & Herabadi (2001), Diener et al,. (1985), Clark, Watson & Tellegen (1988), Bearden et al,. (1989), Tafarodi and Swann (2001).
Hasil penelitian menunjukkan pengaruh signifikan dari subjective well-being (cognitif dan affect), social influence (component normative dan
component informational), self-esteem (self-liking dan self-competence)
terhadap impulse buying. Hasil uji hipotesis minor menunjukkan hanya ada tiga dimensi yang signifikan dari social influence (component normative dan component informational) dan factor demografis (jenis kelamin).
Peneliti berharap implikasi penelitian ini dapat dikaji ulang dan dapat
ditingkatkan untuk penelitian masa depan. Misalnya, dengan
menambahkan variabel lain yang relevan impulse buying
vi
(C)Rachmawati
(D)Effect subjective well-being, social influence, self-esteem and faktor demografis toward impulse buying.
(E) xiv + 86 pages + appendix
(F)This study is to examine effect of subjective well-being, social influence, self-esteem and faktor demografis toward impulse buying. On this study researcher use dimensions of subjective well-being, social influence, self-esteem and faktor demografis (IV). Researcher hypothesis that there subjective well-being, social influence, self-esteem and faktor demografis toward impulse buying.
This study use quantitative approach with multiple regression analysis. Participants were 210 consumens ritels Alfamidi, Alfamart dan Indomart on Jl. Otista Raya Sasak Tinggi Ciputat. The sampling technique is non probability sampling. In this study, researcher addapt instruments of Verplanken & Herabadi (2001), Diener et al,. (1985), Clark, Watson & Tellegen (1988), Bearden et al,. (1989), Tafarodi and Swann (2001).
The results showed a significant influence of subjective well-being (cognitive and Affect), social influence (component of normative and informational component), self-esteem (self-liking and self-competence) against impulse buying. Minor hypothesis test results showed there were only three significant dimensions of social influence (component of normative and informational component) and demographic factors (gender)..
Researcher hope the implication of this study can be reexamined and can be improved for future research. For example, by adding other relevant variable with impulse buying
sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan judul baik
“pengaruh subjektif wellbeing, sosial influence, self-esteem dan faktor
demografis terhadap impulse buying”. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, pemimpin dan tauladan
bagi umat manusia, yang membawa manusia dari zaman jahiliyah ke zaman yang
terang benderang.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak penulis tidak
akan mampu menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali
ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang
sebesar-besarnya kepada:
1.Bapak Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Si Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam
Negeri Syarif HIdayatullah Jakarta, beserta seluruh jajaran wakil Dekan
Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, atas
arahan dan bimbingannya kepada seluruh mahasiswa demi terciptanya
kemajuan ilmu pengetahuan yang disertai perilaku yang mencerminkan akhlak
mulia.
2.Drs. Sofiandy Zakaria, M.Psi, selaku dosen Pembimbing Skripsi atas kesabaran
dan keikhlasannya meluangkan waktu dan tenaga dalam memberikan
bimbingan, arahan serta koreksi kepada penulis agar mampu menghasilkan
skripsi yang bermutu dan berkualitas. Juga atas dorongan dan dukungan yang
tiada henti agar penulis tetap bersemangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
3.Bapak Miftahuddin, M.Si, Dosen pembimbing Akademik atas Motivasinya
selama penulis mengerjakan skripsi dan selama penulis menjalani pendidikan
di Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
viii pembelajaran dikampus ini.
5.Seluruh responden pengunjung Alfamart, Alfamidi dan Indomart di Jl.Otista
Raya, terimakasih banyak atas kesempatan dan izin yang diberikan kepada
penulis untuk dapat berpartisipasi dalam penelitian.
6.Kedua orang tua penulis Bapak Matum dan Ibu Ernawati untuk doa, kasih
saying, dukungan, semangat dan kepercayaan yang selalu diberikan selama ini.
Terima kasih karena tidak pernah bosan untuk mengingatkan, menasehati,
membimbing, mendoakan karena berkat mereka penulis selalu termotivasi
untuk menyelesaikan satu tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya. Semoga
Allah SWT selalu memberikan rahmat dan kebahagiaan yang berlimpah untuk
Ibu dan Ayah. Kakak Penulis Arif Rahman serta Adik penulis Maulia
Mukhtaromah dan Siti Ghonia yang selalu memberikan dukungan dan
mendoakan penulis sehigga penulis semakin bersemangat dalam
menyelesaikan skripsi ini.
7.Sahabat-sahabat penulis GG (Lisa, Mayang, Vina dan Nadiya) yang selalu
membagi suka maupun duka bersama. Selalu menemani penulis dalam
mengerjakan skripsi, menyebar kuesioner dan terimakasih atas
kebersamaannya sehingga dapat memotivasi penulis untuk segera
menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat terdekat penulis andil, anggi, pacil, dan siska yang selalu memberikan
semangat dan doa sehingga membuat penulis semakin termotivasi untuk
menyelesaikan skripsi.
9.Syahid Izharudin S.Psi dan Muhammad Dwi Rifqi S.Psi yang telah
memberikan bantuan yang sebesar-besarnya dalam mengolah data dan segala
hal dalam bidang statistik yang penulis tidak mengerti sehingga skripsi ini
kita mpikan selama ini. Semoga Allah SWT senantiasa bersama kalian
11.Seseorang yang penulis sayang, Dwi Mohammad Luthfi Yahya. Terima kasih
atas perhatian, kasih sayangnya yang tak pernah lelah untuk memotivasi
penulis. Serta tempat berbagi suka maupun duka, bimbingannya untuk
menjadikan penulis lebih dewasa dalam menyelesaikan skripsi ini.
12.Semua pihak yang belum bisa disebutkan satu persatu, Karena dukungan
moral, doa dan pengertian mereka, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Hanya kata terima kasih yang sebesar-besarnya penulis dapat ucapkan, semoga
mereka mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang mereka berikan.
Hanya asa dan doa yang dapat penulis panjatkan. Semoga semua pihak yang
membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini mendapatkan ridho dan balasan
yang berlipat ganda dari Allah SWT. Akhir kata, sangat besar harapan penulis agar
skripsi ini memberikan manfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi siapa
saja yang membaca dan berkeinginan untuk mengeksplorasi lebih lanjut.
Tangerang, 8 januari 2015
x
1.4 SistematikaPenilitian ... ... 11
BAB 2 LANDASAN TEORI ... 12
2.1 Impulse Buying ... 12
2.1.1Pengertian impulse buying ... 13
2.1.2 Jenis-jenis impulse buying ... 14
2.1.3 Karakteristik impulse buying ... 15
2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi impulse buying ... 16
2.1.5 Perbedaan perilaku impulsif dan non impulsive ... 20
2.1.6 Pengukuran impulse buying ... 21
2.2 Subjective Well-being ... 22
2.2.1 Pengertian subjective well-being ... 22
2.2.2 Aspek subjective well-being ... 24
2.2.3 Karakteristik subjective well-being……… ... 25
2.2.4 Pengukuran subjective well-being……… 26
2.5.2 Jenis kelamin……… 38
2.6 Kerangka Berfikir... 39
2.7 Hipotesis Penelitian... 41
BAB 3 METODE PENELITIAN... 43
3.1 Populasi, Sampel danTeknik Pengambilan Sampel... 43
3.1.1 Populasi dan sampel... 43
3.1.2 Teknik pengambilan sampel... 43
3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional... 44
3.2.1 Variabel penelitian... 44
3.2.2 Definisi operasional variabel………... 44
3.3Instrumen Penelitian……….... ... 45
3.3.1 Teknik pengumpulan data ………... 45
3.3.2 Alat ukur penelitian ………... 47
3.4 Uji Validitas Konstruk……….... 50
3.4.1 Uji validitas konstruk impulse buying……... 52
3.4.2 Uji validitas konstruk subjective well-being... 53
3.4.3 Uji validitas konstruk social influence..…… …………... 56
3.4.4 Uji validitas konstruk self-esteem... 58
3.5 Teknik Analisis Data……….... .. 60
4.3 Kategorisasi Skor Variabel Penelitian……….…………... . 68
xii
Tabel 3.1 Tabel pilihan jawaban ... 46
Tabel 3.2 Blue print skala impulse buying ... 47
Tabel 3.3 Blue print skala subjective well-being ... 48
Tabel 3.4 Blue print skala social influence ... 49
Tabel 3.5 Blue print skala self-esteem ... 50
Tabel 3.6 Muatan faktor item impulse buying ... 53
Tabel 3.7 Muatan faktor item kognitif ... 54
Tabel 3.8 Muatan faktor item affect ... 55
Tabel 3.9 Muatan faktor item component informational ... 56
Tabel 3.10 Muatan faktor item component normative ... 57
Tabel 3.11 Muatan faktor item self-liking ... 59
Tabel 3.12 Muatan faktor item self-competence ... 60
Tabel 4.1 Gambaran umum subjek penelitian ... 65
Tabel 4.2 Statistik deskriptif ... 67
Tabel 4.3 Pedoman interpretasi skor ... 68
Tabel 4.4 Kategorisasi skor variabel ... 68
Tabel 4.5 Model Summary Analisis Regresi ... 70
Tabel 4.6 Tabel ANOVA Pengaruh Keseluruhan IV terhadap DV ... 71
Tabel 4.7 Koefisien Regresi ... 72
xiv
Lampiran B Path Diagram
BAB 1
PENDAHULUAN
Dalam bab pendahuluan ini akan dibahas mengenai latar belakang penelitian,
batasan dan perumusan masalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan
sistematika penelitian.
1.1Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan perekonomian yang terus meningkat menyebabkan
keberadaan berbagai macam toko ritel besar maupun pusat perbelanjaan terus
bertumbuh dan berkembang di Indonesia. Munculnya berbagai macam toko ritel
di Indonesia juga memberikan pengaruh pada pengusaha karena persaingan bisnis
yang semakin ketat, sehingga perusahaan ritel harus mempunyai strategi-strategi
perusahan agar dapat terus bertahan dari dunia bisnis. Salah satu aspek penting
yang perlu diperhatikan adalah mengenai perilaku konsumen yang merupakan
kunci dalam merencanakan suatu strategi promosi yang baik dengan mempelajari
konsumen yang berbelanja. Pernyataan ini diperkuat dengan data hasil survey
yang dilakukan oleh Nielsen Media Research dan Retail Asia Magazine (dalam
Rahmasari, 2010) bahwa jumlah gerai hypermarket di tahun 2008 meningkat
sekitar 25 persen dari 109 menjadi 146 unit; sementara supermarket
pertumbuhannya lebih cepat yakni sekitar 29 persen dari 85 menjadi 120.
Peningkatan jumlah gerai yang paling tajam terjadi pada minimarket. Alfamart
jumlahnya berkembang menjadi 2750 gerai. Peningkatan Indomart bahkan lebih
fantastis, dari 1401 pada tahun 2005 menjadi 3093 pada tahun 2008.
Banyaknya penawaran barang oleh ritel yang berkembang pesat diduga
akan menimbulkan semakin meningkatnya perilaku impulse buying. Bellenger
et.al. (dalam Dincer, 2010) menunjukkan hasil penelitian mereka bahwa 38,7%
dari pembelian di department store merupakan perilaku pembelian impulsif.
Tingginya insiden perilaku pembelian impulsif juga dilaporkan dalam penelitian
lain yang menunjukkan bahwa hampir 90% konsumen kadang-kadang melakukan
pembelian impulsif, diantaranya 30% dan 50% dari semua pembelian dapat
diklasifikasikan sebagai pembelian impulsif.
Sedangkan menurut Bell et.al. (dalam Soeseno, 2011) penelitian di
Amerika dan Eropa menemukan kontribusi belanja impulsif ini mencapai 60
sampai 70% dari total penjualan terjadi dalam toko ritel. Nilai belanja impulsif
semakin meningkat searah dengan kemajuan ekonomi dan gaya hidup masyarakat
setempat. Menurut Abrahams et.al, (dalam kacen & lee, 2002) perilaku pembelian
konsumen secara impulsif diakui secara luas berdasarkan fenomena di Amerika
Serikat yaitu dengan menyumbang hingga 80% dari semua pembelian di kategori
produk tertentu.
Sementara itu menurut Ramaun (2010) mengacu pada hasil studi yang
dilakukan Nielsen melalui wawancara tatap muka dengan 1.804 responden,
dengan belanja rumah tangga lebih dari Rp 1.5 juta per bulan di Jakarta, Bandung,
Surabaya, Makassar, dan Medan, 21% konsumen mengaku tidak pernah membuat
dengan perilaku impulse buying meningkat dua kali lipat dari tahun 2003 yang
hanya 13%. Secara tidak langsung hal ini dapat meningkatkan pendapatan
produsen sendiri, termasuk pusat perbelanjaan yang memanfaatkan kebiasaan
pembelian impulsif dari konsumen saat ini. (http://www.antaranews.com).
Persaingan antar pusat perbelanjaan semakin kompetitif sehingga
menuntut para retailer di pusat perbelanjaan untuk mengembangkan strategi
pemasaran yang lebih baik dan efektif lagi sehingga dapat meningkatkan
penjualan serta meningkatkan keeksistensiannya di dalam pusat perbelanjaan.
Sementara itu menurut hasil penelitian POPAI (Point Of Purchase Advertising
Institute, 2007) dan GMA (Grocery Marketing Association, 2007) (dalam
Soeseno, 2011) mengindikasikan 75% keputusan pembelian dilakukan di dalam
toko adalah keputusan impulsif.
Fenomena tersebut mempengaruhi konsumen untuk membeli barang pada
sebuah pasar atau perusahaan tanpa perencanaan sebelumnya. Hal ini dapat
didorong oleh perhitungan yang hanya melihat kebutuhan jangka pendek,
sehingga berhubungan dengan keputusan konsumen untuk membeli barang yang
tidak direncanakan. Keadaan ini juga dapat melibatkan kurangnya perencanaan
dan emosi konsumen, terutama dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang
bersifat segera.
Menurut Rook (1987) impulse buying terjadi ketika seorang konsumen
mengalami dorongan tiba-tiba, kuat dan dorongan yang tetap untuk membeli
sesuatu dengan segera. Sedangkan menurut Dawson et al. (2009) bahwa
seseorang. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Verplanken dan Herabadi (dalam Widawati, 2011) yang menjelaskan bahwa
impulse buying terdiri dari dua elemen, yaitu: kognisi, dalam hal kurangnya
perencanaan dan pertimbangan serta emosi, dalam hal adanya perasaan nikmat
dan senang.
Sedangkan Coley (2002) yang menyatakan, bahwa kognitif dan afektif
bersama-sama mempengaruhi bagaimana dan untuk apa emosi yang besar dan
atau alasan-alasan yang menimbulkan impulsif atau kontrol diri. Afektif
mencerminkan sebuah dorongan yang tak tertahankan untuk membeli, emosi
pembelian positif, dan pengelolaan suasana hati. Sedangkan kognitif
mencerminkan pertimbangan kognitif, pembelian yang tidak direncanakan, dan
mengabaikan masa depan. Selain itu komponen kognitif mengacu pada struktur
mental dan proses yang terlibat dalam pemikiran. Sehingga dapat dimungkinkan
konsumen yang lebih mementingkan afektifnya dari pada kognitifnya dalam
melakukan pembelian, memiliki kecenderungan lebih besar dalam melakukan
pembelian impulsif.
Dari beberapa fenomena mengenai impulse buying terdapat bebarapa
faktor yang mempengaruhi impulse buying. Menurut Chang dan Lucas (dalam
David et al., 2008) salah satunya faktor yang mempengaruhi impulse buying
adalah subjective well-being yang berhubungan positif dengan optimisme,
self-esteem dan berhubungan negatif dengan depresi. Subjective well-being adalah
persepsi seseorang terhadap pengalaman hidupnya, yang terdiri dari evaluasi
psikologisnya. Menurut Argyle (dalam David et al., 2008) menyimpulkan bahwa
faktor eksternal, termasuk faktor-faktor demografi seperti pendidikan dan status
sosial ekonomi, secara kolektif menyumbang sekitar 15% terhadap subjektif
well-being.
Meskipun subjective well-being telah dipelajari secara luas dalam
psikolog, ada relatif sedikit riset pemasaran terhadap subjective well-being.
Menurut Oropesa (dalam David et al., 2008) penelitian dalam pemasaran
memfokuskan pada bagaimana perolehan barang material berhubungan dengan
kepuasan kehidupan, dimana impulse buying berfungsi terutama sebagai cara
untuk menghindari keadaan psikologis yang negatif pada seseorang.
Selain subjective well-being, impulse buying juga dipengaruhi oleh faktor
social influence. Menurut Bearden (1992) sosial influence telah diperiksa dalam
konteks CSII (consumer susceptibility to interpersonal influence) dimana CSII
adalah suatu kondisi dimana pilihan konsumen akan suatu barang dipengaruhi
oleh orang lain. Menurut Bearden et al. (dalam Kropp et al., 2005) juga menguji
hubungan antara CSII dan sensitivitas atributional dan menemukan bahwa
konsumen cenderung rentan terhadap pengaruh orang lain untuk membeli produk
yang mereka anggap akan menyebabkan orang lain membuat atribusi yang
menguntungkan tentang mereka.
Menurut David et.al (2008) Social influence mengandung dua dimensi
yaitu komponen informasi dan komponen normatif. Komponen informasi
mengukur kecenderungan individu untuk memperoleh informasi tentang produk
Komponen normatif mengukur kebutuhan individu dengan menggunakan
pembelian untuk mengidentifikasi atau meningkatkan gambarannya di mata orang
lain yang signifikan dan kemauan agar sesuai dengan harapan orang lain dalam
membuat keputusan pembelian.
Selain itu faktor lain yang juga mempengaruhi impulse buying adalah
self-esteem. Self-esteem adalahpenilaian individu terhadap dirinya sendiri. Bagaimana
seseorang dapat menilai dirinya secara umum maupun secara keseluruhan dirinya.
Penelitian yang dilakukan O'Guinn dan Faber (1989) menemukan bahwa
seseorang yang melakukan compulsive buying memiliki self-esteem yang rendah.
Terlepas dari kenyataan bahwa ada perbedaan penting antara compulsive buying
dan impulsive buying (Rook dalam David et al., 2008). Dimana compulsive buying
yaitu pembelian kronis yang berulang yang menjadi respon utama terhadap
kejadian atau perasaan negatif, sedangkan impulse buying yaitu pembelian yang
terjadi ketika seseorang membeli barang dan tiba-tiba ingin membeli barang
tersebut. Menurut O'Guinn dan Faber (1989) hasil ini konsisten dengan proposisi
bahwa impulse buying bisa berfungsi sebagai pelarian dari keadaan psikologis
seperti keadaan self-esteem seseorang yang rendah. Selain itu, Verplanken et al.
(dalam David et al., 2008) menyatakan bahwa self-esteem yang rendah cenderung
menjadi sumber yang sangat kuat dari keadaan psikologis negatif yang terkait
dengan impulse buying.
Selain faktor-faktor diatas yang mempengaruhi impulse buying, ternyata
faktor demografis seperti usia dan jenis kelamin juga berpengaruh terhadap
bergerak di bidang pembelian impuls untuk alasan emosional dengan demikian
mungkin remaja perempuan lebih cenderung tertarik ke sebuah obyek dan
keinginan untuk mendapatkan kepuasan dengan segera.
Rook dan Hoch (1985) menemukan bahwa perbedaan jenis kelamin dalam
impulsif konsumen sebagian bisa mencerminkan fakta bahwa pria dan wanita
biasanya berbelanja untuk berbagai jenis produk. Pada umumnya di dalam toko
ritel konsumen dapat menemukan produk laki-laki, produk perempuan, dan
produk anak-anak, baik kebutuhan pribadi konsumen maupun pakaian dan mainan
yang telah disegmentasi oleh pembagian pada lantai belanja di toko ritel.
Perbedaan usia dan jenis kelamin membuat pengaruh berbeda terhadap belanja
impulsif.
Bellenger et al. (dalam Kaceen & lee, 2002) menemukan pembeli di
bawah usia 35 lebih rentan terhadap impulse buying dibandingkan dengan mereka
yang memiliki usia lebih dari 35 tahun. Sedangkan menurut Eysenck et al. (dalam
Kaceen & lee, 2002) individu-individu yang lebih muda memiliki skor yang lebih
tinggi pada tindakan impulsif dibandingkan dengan orang yang lebih tua dan
menunjukkan kurang kontrol diri dari pada orang dewasa.
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan sebelumnya, penting untuk
mengkaji lebih lanjut pengaruh subjective well-being, social influence, self-esteem
danfaktor demografis terhadap impulse buying. Judul skripsi ini adalah pengaruh
1.2Batasan dan Perumusan Masalah 1.2.1 Batasan masalah
Dalam batasan dan perumusan masalah penelitian ini hanya dibatasi mengenai
pengaruh subjective well-being, social influence, self-esteem dan faktor
demografis terhadap impulse buying. Selain itu subjek penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah konsumen yang belanja pada pusat
perbelanjaan seperti ritel dan peniliti memfokuskannya pada Alfamidi,
Alfamart dan Indomart di Jl. Otista Raya Sasak Tinggi Ciputat. Adapun
mengenai konsep-konsep variabel yang menjadi fokus penelitian dibatasi
sebagai berikut:
1. Impulse buying dalam penelitian ini adalah sebagai pembelian yang tidak
rasional dan diasosiasikan dengan pembelian yang cepat dan tidak
direncanakan, diikuti oleh konflik fikiran dan dorongan emosional
(Verplanken & Herabadi, 2001).
2. Subjektif well-being dalam penelitian ini adalah evaluasi kognitif dan
afektif individu terhadap hidupnya, evaluasi ini mencakup reaksi
emosional terhadap peristiwa serta pertimbangan kognitif mengenai
kepuasan dan pemenuhan kehidupan (Diener et al., 2005)
3. Social influence dalam penelitian ini adalah kecenderungan seseorang
untuk belajar tentang produk dan jasa dengan mengamati, mencari
informasi agar sesuai dengan harapan orang lain (Bearden et al., 1992).
4. Self-Esteem dalam penelitian ini adalah mengukur sikap negatif dan positif
5. Adapun variabel demografis dalam penelitian ini adalah usia dan jenis
kelamin (laki-laki dan perempuan).
a. Aspek demografis usia diukur dari data identitas sampel yang
diperoleh.
b. Aspek demografis jenis kelamin dari data identitas sampel yang
diperoleh
1.2.2 Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas mengenai
Pengaruh subjective well-being, social influence, self-esteem dan faktor
demografis terhadap impulse buying, maka penelitian ini dirumuskan sebagai
berikut :
1. Apakah ada pengaruh subjective well-being terhadap impulse buying?
2. Apakah ada pengaruh social influence terhadap impulse buying?
3. Apakah ada pengaruh self-esteem terhadap impulse buying?
4. Apakah ada pengaruh faktor demografis (usia dan jenis kelamin)
terhadap impulse buying?
1.3Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang akan dicapai dalam
penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh subjektif well-being, sosial influence,
self-esteem dan faktor demografis (jenis kelamin dan usia) terhadap impulse
2. Untuk mengukur kontribusi pengaruh setiap Independent Variable (IV)
terhadap Dependent Variabel (DV).
3. Untuk mengetahui kategori setiap Independent Variable (IV).
1.3.2 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan berbagai pihak
baik konsumen yang melakukan pembelian maupun pihak lain yang terkait
dalam penelitian ini yaitu:
1.3.2.1Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang faktor-
faktor yang secara potensial dapat menyebabkan konsumen melakukan
impulse buying. Selain itu penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi
acuan dan memberikan manfaat berupa kerangka teoritis tentang perilaku
impulse buying yang dilakukan konsumen serta faktor-faktor penyebabnya
dan nantinya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
melakukan penelitian lebih lanjut variabel-variabel lain yang
mempengaruhi impulse buying.
1.3.2.2 Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan temuan yang bermanfaat
bagi para praktisi produk yang rentan terhadap impulse buying. Sehingga
temuan dari penelitian ini dapat dijadikan masukan dan bahan
pertimbangan bagi manager dalam menyusun strategi pemasaran yang
dan keinginannya berbelanja sesuai dengan kemampuan ekonomi yang
dimilikinya dan pertimbangan rasional lainnya.
1.4 Sistematika Penelitian
Penulisan skripsi ini dibagi dalam lima bab dengan sistematika
penulisan sebagai berikut :
BAB 1 : Pendahuluan
Bab ini menguraikan secara singkat isi dari penelitian yang meliputi Latar
Belakang Penelitian, Pembatasan dan Perumusan masalah, Tujuan Penelitian,
Manfaat Peneltian dan Sistematika Penelitian.
BAB 2 : Landasan Teori
Bab ini menguraikan teori-teori yang berkaitan dengan impulse buying,
subjective well-being, social influence, self-esteem dan faktor demografis,
kerangka berfikir, dan pengajuan hipotesis.
BAB 3 : Metode Penelitian
Bab ini menguraikan populasi dan sampel, teknik pengambilan sampel,
variabel penelitian dan definisi operasional variabel, instrumen pengumpulan
data, teknik analisis data, dan prosedur penelitian.
BAB 4 : Hasil Penelitian
Bab ini menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan. Pembahasan
tersebut meliputi dua bagian yaitu, analisis deskriptif dan pengujian hipotesis
penelitian.
BAB 5 : Kesimpulan, Diskusi dan Saran
12 BAB 2
LANDASAN TEORI
Bab ini mencakup tujuh subbab, yaitu pembahasan teoritis mengenai impulse
buying sebagai Dependent Vaiabel (DV). Selanjutnya pembahasan teoritis
mengenai subjective well-being, social influence, self-esteem dan faktor
demografis sebagai Independent Variabel (IV). Dan akan dibahas juga
mengenai instrument serta analisis data yang digunakan untuk menemukan
jawaban atas hipotesis penelitian
2.1 Impulse Buying
2.1.1 Pengertian impulse buying
Impulse buying merupakan pembelian yang tidak direncanakan,
dimana karekteristiknya adalah pengambilan keputusan yang dilakukan dalam
waktu relatif cepat, pada saat melihat barang dan mengingat barang yang
persediannya hampir habis, karena adanya kebutuhan dan penawaran yang
menarik.
Menurut Rook (1987) impulse buying adalah pembelian yang terjadi
ketika seorang konsumen mengalami dorongan tiba-tiba, kuat dan dorongan
yang tetap untuk membeli sesuatu dengan segera. Selain itu menurut Rook
(1987) impulse buying cenderung mengganggu perilaku konsumen, sedangkan
pembelian kontemplatif lebih mungkin untuk menjadi bagian dari rutinitas
seseorang, karena seseorang yang melakukan impulse buying lebih
sebagai sesuatu yang "buruk" dari pada yang "baik" sehingga konsumen lebih
cenderung merasa lepas kendali saat pembelian impulsif dari pada ketika
melakukan pembelian kontemplatif.
Sedangkan Piron (dalam Madhavaram & laverie, 2004) berbeda
pendapat dengan definisi Rook (1987), ia menyiratkan bahwa reaksi
emosional dan kognitif harus menyertai pembelian, karena reaksi pengalaman
emosional dan kognitif konsumen tergantung pada faktor-faktor ekonomi,
kepribadian, dan budaya atas nama konsumen sedangkan karakteristik dan
harga atas nama produk.
Selain itu Beatty dan Ferrel (1998) memperluas definisi dari Rook
(1987), ia menyatakan bahwa impulse buying adalah pembelian tiba-tiba dan
langsung tanpa niat sebelum berbelanja baik untuk membeli kategori produk
tertentu atau untuk memenuhi tugas membeli tertentu. Perilaku tersebut terjadi
setelah mengalami dorongan untuk membeli dan cenderung spontan tanpa
banyak refleksi dan tidak termasuk pembelian item sederhana, yang
merupakan item yang hanya persediaan barang di rumah telah habis.
Sedangkan Verplanken dan Herabadi (2001) sebagai pembelian yang tidak
rasional dan diasosiasikan dengan pembelian yang cepat dan tidak
direncanakan, diikuti oleh konflik fikiran dan dorongan emosional.
Menurut Dincer (2010) impulse buying dapat didefinisikan sebagai
sejauh mana seorang individu mungkin membeli sesuatu yang tidak
impulse buying yang tinggi memiliki kecenderungan dorongan secara umum
untuk membeli barang-barang dari semua kategori produk.
Berdasarkan penjelasan dari beberapa pendapat ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa impulse buying adalah pembelian yang tidak di
rencanakan, disertai dorongan emosional yang kuat serta reaksi kognitif harus
menyertai pembelian, pengambilan keputusan yang cepat dan berlangsung
secara tiba-tiba serta, mengabaikan konsekuensi berbahaya yang berujung
kepada penyesalan. Adapun teori yang digunakan untuk variabel impulse
buying yang menjadi landasan penilitian yaitu teori yang digunakan oleh
Verplanken dan Herabadi (2001) .
2.1.2 Jenis-jenis impulse buying
Beberapa ilmuwan menyatakan tentang beberapa jenis impulse buying, salah
satunya menurut Loudon dan Bitta (1993) terdapat beberapa jenis impulse
buying yaitu :
1. Pure impulse buying yaitu dorongan untuk membeli produk baru, mencari
variasi baru, atau pembelian terhadap produk diluar kebiasaan pembelinya.
2. Reminder impulse buying yaitu dorongan saat melihat barang pada rak
toko, display, atau mengingat iklan dan informasi lain tentang sebuah
produk.
3. Sugestion impulse buying yaitu dorongan yang didasarkan pada toko dan
ditunjang dengan pemberian saran, baik dari sales promotion, pramuniaga,
4. Planned impulse buying yaitu pembelian yang terjadi ketika kondisi
penjualan tertentu diberikan. Dorongan berupa intensi membeli
berdasarkan harga khusus, kupon, diskon lain sebagainya tanpa
merencanakan produk yang akan dibeliya.
Dalam penelitian ini peneliti tidak membatasi jenis impulse buying yang
dilakukan oleh partisipan karena tidak adanya wawancara langsung terhadap
partisipan.
2.1.3 Karakteristik impulse buying
Rook (dalam Eangle et al., 1995) menggolongkan seseorang yang
melakukan impulse buying dapat memiliki satu atau lebih karakteristik, ia
menggolongkan kedalam empat karakteristik yaitu spontanitas, kekuatan,
paksaan, dan intensitas, kegembiraan dan stimulasi serta mengabaikan
konsekuensi. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Spontanitas. Artinya bahwa pembelian dilakukan secara tidak diharapkan
dan memotivasi konsumen untuk membeli saat itu juga, sering dalam
menanggapi rangsangan visual langsung.
2. Kekuasaan, paksaan dan intensitas. Hal ini dapat menjadi motivasi untuk
menempatkan dan mengenyampingkan segalanya dan segera bertindak.
3. Kegembiraan dan stimulasi. Artinya dorongan seseorang yang mendadak
untuk membeli seringkali disertai oleh emosi yang ditandai sebagai hal
4. Mengabaikan konsekuensi. Artinya dorongan seseorang untuk membeli
barang bisa begitu tak tertahankan dengan konsekuensi yang berpotensi
negatif yang diabaikan.
2.1.4 Faktor yang mempengaruhi impulse buying
Menurut Dawson dan Kim (2009) faktor yang mempengaruhi impulse buying
dibagi ke dalam dua faktor yaitu faktor eksternal dan internal berikut
penjelasannya:
1. Faktor eksternal
Menurut Youn dan Faber (dalam Dawson & Kim, 2009) faktor eksternal
impulse buying mengacu pada isyarat pemasaran atau rangsangan yang
ditempatkan dan dikendalikan oleh pemasar dalam upaya untuk memikat
konsumen dalam perilaku pembelian.
2. Faktor internal
Menurut Kacen dan lee (dalam Dawson & Kim, 2009) Faktor internal
impulse buying fokus langsung pada individu, faktor internal dan
karakteristik individu yang membuat mereka terlibat dalam perilaku
pembelian impuls. Faktor-faktor eksternal tersebut melibatkan ciri
kepribadian konsumen yang menentukan tingkat impulse buying mereka,
seperti kondisi emosional, componentnormative, dan faktor demografi.
Stimulus internal diproses oleh konsumen melalui afektif atau
kognitif yang menghasilkan perilaku impulsif atau non impulsif. Menurut
mencakup dorongan tak tertahankan untuk membeli, emosi membeli yang
positif, dan manajemen mood.
Sedangkan component normative menurut Rook dan Fisher (dalam
Dawson & Kim, 2009) sebagai penilaian konsumen tentang kesesuaian
yang membuat pembelian impulsif dalam situasi pembelian tertentu.
Konsumen terlibat dalam impulse buying hanya ketika mereka merasa
sesuai dengan orang lain. Kecenderungan impuls konsumen digagalkan
ketika mereka percaya impulse buying secara sosial tidak pantas.
Selain itu Stern (1986) menyebutkan bahwa terdapat sembilan faktor yang
mempengaruhi seseorang melakukan impulse buying. Faktor-faktor tersebut
yaitu low price, Marginal Need for Hem, Mass Distribution, Mass
Distribution, Self-Service, Mass Advertising, Prominent Store Display,
Short Product Life, Small Size or Light Weight, Ease of Storage.
Penjelasannya adalah sebagai berikut yaitu:
1. Low Price.
Dari beberapa faktor yang paling banyak mempengaruhi impulse buying
adalah harga, harga mungkin faktor yang paling langsung dapat dirasakan
oleh pembeli. Harga juga mempengaruhi pembelian impulsif barang
kenyamanan misalnya, jika pembeli berencana untuk membeli dua batang
sabun dengan harga sekitar Rp. 3000 masing-masing tetapi menemukan
akan membeli 3 buah sabun dengan harga khusus tersebut, sehingga hal ini
memungkinkan pembeli untuk melakukan impulse buying.
2. Marginal Need for Item
Beberapa barang yang dapat membuat nyaman atau dapat menyenangkan
konsumen. Banyak barang kenyamanan dalam kategori bukan kebutuhan,
karena barang-barang ini bukan tujuan utama dari perjalanan belanja, dan
kebutuhan mereka tidak mendesak, mereka cenderung menjadi pembelian
yang tidak direncanakan dan lebih cenderung menjadi barang impuls.
3. Mass Distribution
Semakin banyak outlet di mana suatu barang dapat tersedia, semakin
banyak peluang konsumen harus mencari dan membelinya. Karena ia tidak
belanja khusus untuk suatu barang, tetapi harus dibuat tersedia baginya di
banyak tempat di mana dia mungkin berbelanja.
4. Self-Service
Tentu saja pelayanan diri sendiri memungkinkan pembeli untuk membeli
lebih cepat dan dengan kebebasan yang lebih besar dari pada pelayanan
petugas. Karena lebih banyak barang yang tersedia untuk pembeli untuk
melayani dirinya sendiri, terjadi peningkatan kesempatan untuk membeli
impuls.
5. Mass Advertising
Sebagian besar impulse buying didasarkan pada pengetahuan konsumen
tentang suatu barang. Pengetahuan ini diperoleh dari pengalaman
6. Prominent Store Display
Display yang menonjol dari barang-barang tersebut diperlukan untuk
meningkatkan kesempatan bagi konsumen melakukan impulse buying.
Tampilan disini termasuk posisi peletakan rak, promosi dan kemasan yang
menarik.
7. Short Product Life
Fakta bahwa pembeli cenderung membeli barang yang memiliki jangka
waktu kadarluarsa lebih lama dibandingkan kadaluarsa yang lebih singkat
sehingga pembeli sering mengurangi kebutuhannya untuk merencanakan
hal tersebut.
8. Small Size or Light Weight
Berat atau ukuran adalah masalah yang berhubungan dengan barang yang
mewajibkan pembeli untuk melakukan beberapa perencanaan khusus dan
dengan demikian mengurangi impulse buying. Di sisi lain, kecil, ringan,
barang yang mudah diangkut menjadi tidak masalah dan lebih
memungkinkan pembeli untuk menjadi impulse buying.
9. Ease of Storage
Masalah di mana pembelanja harus menempatkan barangnya di dalam
rumah juga mempengaruhi impulse buying. Misalnya, pembelanja
terdorong untuk membeli banyak es krim tetapi, dia tidak memiliki ruang
untuk menyimpan dalam freezer. Sebaliknya, barang-barang yang tidak
Jadi faktor yang mempengaruhi dalam penelitian ini adalah menurut Dawson
dan Kim (2009) dimana component normative dan faktor demografis
digunakan sebagai independent variabel (IV) dalam penelitian ini.
2.1.5 Perbedaan perilaku impulsif dan nonimpulsif
Perilaku impulse buying memiliki beberapa perbedaan dengan perilaku
nonimpulsif. Menurut Rook dan Hock (1985), terdapat lima elemen penting
yang membedakan perilaku konsumen impulsif dengan non impulsif yaitu:
1. Perilaku impulsif melibatkan keinginan tiba-tiba dan spontan untuk
bertindak, mewakili perilaku sebelumnya yang sedang berlangsung, gagasan
perubahan yang cepat dalam keadaan psikologis sesuai dengan representasi
neurofisiologis, dimana dorongan digambarkan sesuai dengan gelombang
perubahan aktif disepanjang serat saraf (Wolman dalam Rook, 1985).
Dengan cara yang sama bahwa impuls saraf memicu beberapa respon
biologi, impuls psikologis dapat dilihat sebagai agen stimulasi didorong oleh
proses mental sadar dan bawah sadar.
2. Dorongan tiba-tiba untuk melakukan suatu kegiatan belanja yang
menempatkan konsumen dalam keadaan di sekuilibrium secara psikologis,
dimana impulse buying dapat menyebabkan seseorang merasa kehilangan
kendali untu sementara waktu.
3. Elemen yang ketiga dari impulse buying yaitu konflik psikologis dan
perjuangan yang mungkin terjadi (Thaler & Sherin, dalam Rook, 1985).
kekuatan yang bersaing, kesenangan dan prinsip realitas (id dan superego).
Konsumen ditarik didalam dua arah, dan harus mempertimbangkan manfaat
dari kepuasan untuk segera melawan apapun konsekuensi jangka panjang
yang mungkin diakibatkan.
4. Elemen yang keempat aspek-aspek yang membedakan pembelian impulsif
adalah evaluasi kognitif mereka dari atribut produk. Sebagian besar perilaku
yang dimunculkan ketika impulse buying ialah otomatis, aktifasi efektif
tinggi, dan kontrol yang rendah saat keputusan membeli.
5. Akhirnya seseorang sering mengkonsumsi secara impulsif tanpa
mempertimbangkan konsekuensinya. Indivdu hanya sedikit memikirkan
konsekuensi dari perilakunya saat ini.
2.1.4Pengukuran impulse buying
Seseorang memiliki tingkat impulse buying yang berbeda-beda, untuk
mengetahui tingkat impulse buying pada seseorang dapat menggunakan skala
impulse buying yang digunakan oleh skala Asugman dan Cote (1993).
Sebelumnya Asugman dan Cote mengadaptasi skala afektif dari Larsen dan
Diener yaitu Affect Intensity Measure Questionaire (AIMQ) (1993), skala
kognisi dari Cacioppo, Petty dan Kao masing-masing dengan jumlah 18 item.
Dari dua skala tersebut didapat 17 item yang sesuai untuk diklasifikasikan
kedalam karakteristik dekriptif reactive buying (9 item) dan reminder buying
(8 item). Asugman dan Cote merevisi semua skala tersebut setelah
terdapat delapan item yang valid, lima item mengukur reactive buying dan
tiga item mengukur reminder buying.
Selain itu Verplanken dan Herabadi (2001) mengukur impulse buying
dengan menggunakan impulse buying tendency scale (IBTS). IBTS terdiri
dari 20 item yang mengukur dua apsek kognitif dan afektif. Aspek kognitif
melihat mengenai kurangnya perencanaan dan kehati-hatian, sedangkan pada
aspek afektifnya mengukur perasaan menyenangkan, kegairahan, tekanan,
kontrol yang rendah dan rasa penyesalan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat ukur yang digunakan
oleh Verplanken dan Herabadi (2001), karena peneliti tidak membatasi jenis
impulse buying yang dilakukan partisipan dan hanya melihat secara kognitif
dan afektifnya saja.
2.2Subjective Well-Being
2.2.1 Pengertian subjective well-being
Dalam hidup ini, kebahagiaan merupakan tujuan dari kehidupan. Kebahagiaan
dapat merujuk ke banyak arti seperti rasa senang (pleasure), kepuasan hidup,
emosi positif, hidup bermakna, atau bisa juga merasakan kebermaknaan
(contentment). Beberapa peneliti menulis kebahagiaan sebagai sinonim dari
subjective well-being .
Menurut Diener et.al. (2005) subjective well-being adalah evaluasi
kognitif dan afektif individu terhadap hidupnya, yang mana evaluasi ini
kepuasan dan pemenuhan kehidupan. Dengan demikian, subjective well-being
merupakan suatu konsep umum yang mencakup mengalami emosi yang
menyenangkan, rendahnya tingkat suasana hati negatif, dan kepuasan hidup
yang tinggi. Pengalaman positif yang terkandung dalam kesejahteraan
subjektif yang tinggi adalah konsep inti dari psikologi positif karena mereka
membuat hidup mereka berharga.
Meskipun subjectif well-being telah banyak dipelajari dalam psikologi,
terdapat riset pemasaran yang relatif kecil pada subjectif well-being. Menurut
Oropesa (dalam David et.al., 2008) penelitian yang berfokus pada bagaimana
perolehan barang material berhubungan dengan kepuasan kehidupan. Selain
itu Penelitian sebelumnya yang dilakukan Deneve dan Cooper (dalam David
et.al., 2008) menunjukkan bahwa kepuasan hidup secara langsung berkaitan
dengan pengaruh positif dan berbanding terbalik dengan pengaruh negatif.
Pengaruh negatif terkait dengan neurotisisme dan pengaruh positif terkait
dengan extraversion, keramahan, kesadaran dan keterbukaan terhadap
pengalaman.
Adapun teori yang digunakan untuk variabel subjectif well-being yang
menjadi landasan penilitian yaitu teori yang digunakan oleh Diener et.al.,
(2005) menyatakan bahwa subjectif well-being adalah evaluasi kognitif dan
afektif individu terhadap hidupnya, yang mana evaluasi ini termasuk reaksi
emosional terhadap peristiwa serta penilaian kognitif terhadap kepuasan dan
2.2.2 Aspek subjective well-being
Subjective well-being mencangkup beberapa aspek. Beberapa ilmuwan
menyatakan tentang aspek-aspek subjective well-being. Menurut Diener aspek
tersebut dibagi menjadi dua yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Aspek
kognitif mencangkup evaluasi terhadap kepuasan hidup secara global dan
evaluasi terhadap kepuasan domain tertentu. Sedangkan aspek afektif
mencangkup evaluasi terhadap keberadaan afek positif dan evaluasi terhadap
keberadaan afek negatif. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Aspek kognitif dari subjective well-being adalah evaluasi terhadap
kepuasan hidup individu. Evaluasi tersebut dapat dikategorikan menjadi
evaluasi umum (global) dan evaluasi khusus (domain tertentu). Berikut ini
penjelasan lebih lanjut mengenai kedua penilaian tersebut.
a. Evaluasi terhadap kepuasan hidup secara global, yaitu evaluasi individu
terhadap kehidupannya secara menyeluruh. Penilaian umum ini
merupakan penilaian individu yang bersifat reflektif terhadap kepuasan
hidupnya (Diener et.al., 2005).
b. Evaluasi terhadap kepuasan domain tertentu, yaitu penilaian yang
dibuat individu dalam mengevaluasi domain atau aspek tertentu dalam
kehidupannya, seperti kesehatan fisik dan mental, pekerjaan, rekreasi,
hubungan sosial, kehidupan dengan pasangan dan kehidupan dengan
keluarga (Diener et.al., 2005).
2. Aspek afektif dari subjective well-being merefleksikan pengalaman dasar
menjadi evaluasi terhadap keberadaan afek-afek positif dan evaluasi
terhadap afek-afek negatif.
a. Evaluasi terhadap keberadaan afek positif. Afek-afek positif dianggap
bagian dari subjective well-being karena afek-afek tersebut
merefleksikan reaksi individu terhadap sejumlah peristiwa dalam hidup
yang menunjukkan bahwa hidup berjalan sesuai dengan apa yang
diinginkan Diener et.al. (2005).
b. Evaluasi terhadap keberadaan afek negatif. Afek negatif
merepresentasikan mood dan emosi yang tidak menyenangkan dan
merefleksikan respon negatif yang dialami individu sebagai reaksinya
terhadap kehidupan, kesehatan, keadaan, dan peristiwa yang mereka
alami (Diener et.al., 2005).
2.2.3 Karakteristik subjective well-being
Subjective well-being memiliki beberapa karakteristik. Menurut Diener (dalam
Diener, Suh & Oishi, 1997) terdapat tiga karakteristik dasar subjective
well-being. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Subjective well-being mencangkup faktor-faktor yang membedakan
seseorang yang cukup bahagia dan sangat bahagia, kepuasan hidup dan
kepuasan spesifik. Selain itu subjective well-being juga mencakup keadaan
yang tidak diinginkan seperti depresi atau anxiety. Individu yang memiliki
subjective well-being yang tinggi dalam satu faktor, dapat memiliki
mengukur keseluruhan subjective well-being perlu dilakukan pengkuran
mental lainnya.
2. Subjective well-being merupakan pengalaman pribadi individu, bukan sudut
pandang para ahli dan peneliti.
3. Subjective well-being merupakan fokus jangka panjang dan bukan
merupakan emosi sesaat.
2.2.4 Pengukuran subjective well-being
Salah satu alat ukur untuk mengukur subjective well-being adalah
Satisfaction with life scale (SWLS) yang dikembangkan oleh Diener et.al
(1985). Skala SWLS ini berisi lima item dengan mengukur penilaian kognitif
seseorang terhadap kepuasan kehidupannya. Selain itu untuk mengukur
subjective well-being dapat juga menggunakan Flourishing Scale (FS). Skala
tersebut dikembangkan oleh Diener et.al (dalam Diener et al., 2010) yang
terdiri dari delapan item yang dirancang untuk mengukur social-psychological
prosperity, untuk melengkapi keberadaan pada pegukuran subjective
well-being.
Untuk mengukur komponen afektif seseorang terdapat beberapa jenis
skala yang dapat digunakan, salah satunya yaitu Positive Affect Negative Affect
Schedule (PANAS) dari Watson, Clark dan Tellegen (1988). PANAS scale
mengukur tingkat afek positif dan afek negatif individu yang terdiri dari 20
item. Selain itu terdapat Scale of Positive and Negative Experience (SPANE)
gairah, atau sifat dalam budaya barat di mana sebagian skala telah diciptakan
yang terdiri dari 12 item (Diener et al., 2010).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan skala SWLS dari Diener et.al
(1985) dan PANAS dari Watson, Clark dan Tellegen (1988). Alasan peneliti
menggunakan skala tersebut karena ingin melihat kepuasan hidup seseorang
secara kognitif dan afektif seseorang.
2.3Social Influence
2.3.1Pengertian social influence
Social influence adalah perubahan sikap, keyakinan, dan opini individu
setelah berinteraksi dengan individu atau kelompok lain. Menurut Coleman
et.al. (dalam Zagenczyk, 2006) social influence adalah seseorang yang menjaga
hubungan satu sama lain akan memiliki kesamaan interpersonal yang lebih
besar mengenai persepsi atau sikap. Selain itu menurut Bearden (dalam
Bearden et.al., 1992) social influence adalah kecenderungan seseorang untuk
belajar tentang produk dan jasa dengan mengamati, mencari informasi agar
sesuai dengan harapan orang lain.
Menurut McGuire (Hoffman & Broekhuizen) social influence adalah sifat
umum yang bervariasi pada seseorang dan pengaruh kemampuan relatif
seseorang dalam satu situasi cenderung memiliki hubungan positif yang
signifikan terhadap kemampuan mempengaruhi seseorang dalam berbagai
situasi sosial lainnya. Adapun teori yang digunakan untuk variabel social
2.3.2Aspek social influence
Beberapa ilmuwan menyatakan tentang beberapa aspek social influence.
Menurut Bearden et.al. (1992) terdapat dua aspek social influence yaitu
component normative dan component informational penjelasannya adalah
sebagai berikut:
1. Component normative
Menurut Bearden et.al (dalam Bearden et.al., 1992) component
normative dianggap sebagai nilai ekspresif atau utilitarian. Nilai ekspresi
mencerminkan keinginan untuk meningkatkan citra seseorang di mata
orang lain yang relevan dan beroperasi melalui proses identifikasi.
Pengaruh utilitarian menurut Burnkrant et.al (dalam Bearden et.al., 1992)
adalah mencerminkan upaya individu untuk memenuhi harapan referen
untuk mencapai rewads atau menghindari sanksi dari rujukan tersebut dan
beroperasi melalui prosess kepatuhan. Dengan demikian, individu-individu
yang tinggi component normativenya cenderung untuk membeli produk
dimana mereka merasa orang lain akan menyetujui atau melihat positif.
Sedangkan menurut Kropp et.al. (2005) component normative adalah
seorang individu perlu menggunakan produk atau merek untuk
mengidentifikasi citra mereka di mata orang lain (nilai ekspresif) dan
kemauan individu untuk menyesuaikan diri dengan harapan orang lain
dalam membuat keputusan pembelian (utilitarian).
Sedangkan menurut Cialdini dan Goldstein (dalam Hoffman &
yang didorong oleh keinginan untuk mencapai rasa memiliki, untuk
mengidentifikasi dengan orang lain atau untuk mendapatkan persetujuan
sosial.
2. Component informational
Menurut Deutsch et.al (dalam Bearden et.al., 1992) component
informational dipandang sebagai kecenderungan untuk menerima
informasi sebagai bukti realitas dengan mengamati orang lain atau aktif
mencari informasi dari orang lain yang memiliki pengetahuan. Component
informational tercermin dalam keinginan untuk memperoleh informasi
yang obyektif tentang produk dan merek.
Selain itu menurut Kropp et.al. (2005) komponen informasi mengukur
kecenderungan individu untuk mendapatkan informasi tentang produk atau
jasa dengan mengamati atau langsung mencari informasi dari orang lain.
Sedangkan menurut Bearden et al. (dalam Hoffmann & Broekhuizen)
component informatinal adalah kerentanan terhadap pengaruh informasi
antar seseorang yang mencerminkan kecenderungan individu untuk
menerima informasi dari orang lain sebagai bukti kredibel tentang realitas.
Selain menurut Park dan Lessig (dalam Hoffman & Broekhuizen)
pengaruh informasi dapat diperoleh dengan meminta informasi dari orang
lain atau dengan mengamati orang lain
Menurut Cialdini dan Goldstein (dalam Hoffman & Broekhuizen)
jika informasi dari orang lain meningkatkan pengetahuan individu tentang
beberapa aspek lingkungan. Pengaruh informasi didorong oleh keinginan
untuk membentuk interpretasi yang akurat tentang realitas dalam rangka
untuk membuat keputusan yang lebih dan berperilaku dengan cara yang
benar.
2.3.3 Macam-macam social influence
Beberapa ilmuwan menyatakan tentang macam-macam social influence salah
satunya yaitu menurut Kelman (1958) terdapat tiga proses social influence
yang dapat dibedakan yaitu:
1. Compliance yaitu induvidu menerima pengaruh karena ia berharap untuk
mencapai reaksi baik dari seseorang atau kelompok lain.
2. Identification yaitu ketika seorang individu menerima pengaruh karena dia
ingin membangun atau mempertahankan hubungan untuk memuaskan
seseorang atau kelompok lain.
3. Internalization yaitu ketika seorang individu menerima pengaruh karena
terdorong perilaku yang berisi ide-ide dan tindakan yang bermanfaat.
2.3.4 Pengukuran social influence
Lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap keputusan yang diambil
oleh seseorang termasuk dalam melakukan pembelian suatu barang. Oleh sebab
itu faktor penting dari perilaku individu dipengaruhi oleh orang lain.
Pengukuran social influence dalam penelitian ini menggunakan skala
(1989) dimana skala ini mengukur seberapa besar seseorang akan terpengaruh
terhadap lingkungan sosialnya.
Skala Consumers Susceptibility to Interpersonal Influence (CSII) terdiri
dari 12 item yang mengukur dua subskala. Subskala pertama melihat pengaruh
komponen informational yang mencakup tiga item untuk mengukur sejauh
mana individu mencari informasi yang berkaitan dengan pembelian dari
lingkungan sosialnya. Sedangkan subskala kedua melihat pengaruh komponen
normatif yang mencakup sembilan item mengukur sejauh mana konsumen
mendapatkan persetujuan atau penegasan dari lingkungan sosial mereka.
2.4 Self-Esteem
2.4.1 Pengertian self-esteem
Self-esteem adalah sikap, yaitu evaluasi individu dari konsep diri.
Self-esteem menurut Tafarodi dan Swann (1995) harus mengukur sikap negatif dan
positif secara keseluruhan terhadap dirinya. Sedangkan menurut Rosenberg
(dalam Guindon,2009) self-esteem adalah sikap terhadap objek tertentu setiap
karakteristik diri dievaluasi dan menghasilkan perkiraan karakteristik tersebut
dan setiap elemen diri dievaluasi sesuai dengan nilai yang telah berkembang
selama masa kanak-kanak dan remaja.
Selain itu menurut Minchington (1993) self-esteem adalah nilai yang kita
tempatkan pada diri kita sendiri. Nilai tersebut adalah penilaian kita sebagai
manusia, berdasarkan persetujuan atau ketidaksetujuan dari diri kita sendiri dan
yang kita percaya. Meskipun kita berpikir apakah kita sebagai seseorang yang
baik.
Self-esteem menurut Minchington (1993) bukanlah kualitas tunggal atau
aspek dalam arti yang lebih luas, tetapi self-esteem adalah kombinasi dari
sifat-sifat dan sikap yang berhubungan dan merupakan pusat dasar di mana kita
membangun kehidupan kita dan karena kita tidak hidup terisolasi dengan
lingkungan, cara kita merasa tentang diri kita dapat mempengaruhi bagaimana
kita berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita dan setiap aspek
kehidupan lainnya. Adapun teori yang digunakan untuk variabel self-esteem
yang menjadi landasan penelitian yaitu teori yang digunakan oleh Tafarodi and
Swann (1995).
2.4.2 Aspek self-esteem
Beberapa ilmuwan menyatakan tentang aspek-aspek self-esteem, salah satunya
yaitu menurut Tafarodi dan Swann (1995) membagi self esteem menjadi dua
aspek atau dua dimensi yaitu self-liking dan self-competence penjelasannya
adalah sebagai berikut:
1. Self-liking adalah penilaian afektif kita tentang diri kita, persetujuan atau
ketidaksetujuan dari diri kita, sejalan dengan nilai-nilai sosial
diinternalisasi, keinginan diri yang tinggi ditandai dengan positif
mempengaruhi, penerimaan diri, dan kenyamanan dalam pengaturan sosial
Rogers (dalam Tafarodi & Swann, 1995).
2. Self-competence adalah rasa keseluruhan dalam diri yang mampu, efektif
ia akan memiliki afektif dan evaluatif karakteristik yang positif (Tafarodi
& Swann, 1995).
Sedangkan menurut Michington (1993) self-esteem bukanlah sifat atau
aspek tunggal saja, melainkan sebuah kombinasi dari beragam sifat dan
perilaku kemudian ia membagi aspek self-esteem menjadi tiga aspek yaitu:
1. Perasaan mengenai diri sendiri
a. Menerima diri sendiri
Individu dapat menerima dirinya secara penuh, merasa nyaman dengan
keadaan dirinya dan memandang baik tentang dirinya apapun
kondisinya. Oleh karena itu, apapun yang terjadi individu mampu
menilai dirinya memiliki keunikan tersendiri, menghargai setiap
potensi yang dimiliki tanpa pernah mengeluh.
b. Memaafkan diri sendiri
Memaafkan diri sendiri atas ketidaksempurnaan dan kesalahan yang
dibuatnya. Jika seseorang tidak menyukai dirinya sendiri, membiarkan
orang lain merendahkannya, kerap mencela dirinya sendiri, serta
merendahkan diri maka ia akan merasakan kepedihan dan penderitaan
mental. Dua hal ini pada puncaknya akan termanifestasikan dalam
harga diri yang rendah
c. Menghargai diri sendiri.
Dengan menghargai dirinya sendiri, perasaannya tentang kompetensi
lebih tinggi dan tidak bergantung pada kondisi eksternal. Dimana
self-esteem rendah berusaha membuktikan dirinya dan ingin
mengesankan orang lain. Apabila melakukan kesalahan dan orang lain
mencacinya, maka ia pun akan menghukum dirinya sendiri. Dengan
demikian orang dengan self-esteem rendah tidak akan berani mencoba,
karena tidak berani mengambil resiko.
d. Mengendalikan emosi diri
Seseorang dengan harga diri yang tinggi memegang kendali atas
emosinya sendiri. Sebaliknya, keadaan yang buruk dapat
mempengaruhi perasaan seseorang dengan self-esteem yang rendah.
2. Perasaan terhadap hidup
a. Menerima realita (kenyataan)
Perasaan terhadap realitas berarti menerima tanggung jawab atas setiap
bagian hidup yang dijalaninya. Maksudnya, seseorang dengan
self-esteem tinggi akan lapang dada dan tidak menyalahkan orang lain atas
segala masalah yang dihadapinya. Ia sadar bahwa semuanya itu terjadi
berkaitan dengan pilihan dan keputusannya sendiri, bukan karena
faktor eksternal.
b. Harapan yang realitas
seseorang yang memiliki self-esteem yang tinggi akan membangun
harapan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Perasaan
seseorang terhadap hidup juga menentukan apakah ia akan
menganggap sebuah masalah adalah rintangan hebat atau kesempatan
c. Memegang kendali atas diri sendiri
Seseorang dengan self-estem tinggi tidak akan berusaha untuk
mengendalikan orang lain, sebaliknya ia akan dengan mudah dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan.
3. Hubungan dengan orang lain
a. Menghargai orang lain
Seseorang dengan toleransi dan penghargaan yang sama terhadap
semua orang berarti memiliki self-esteem yang baik. Ia percaya bahwa
setiap orang termasuk dirinya, mempunyai hak yang sama dan patut
dihormati.
b. Bijaksana dalam melakukan hubungan
Seseorang dengan self-esteem yang tinggi mampu memandang
hubungannya dengan orang lain secara lebih bijaksana.
c. Bersikap asertif
Secara alami seseorang dengan self-esteem yang tinggi akan menjadi
seseorang yang asertif. Ia menghormati kebutuhan dirinya serta
mengakui kebutuhan orang lain. Ia tahu apa yang ia inginkan dan tidak
takut mewujudkannya.
2.4.3 Karakteristik individu berdasarkan tingkatan self-esteem
Michington (1993) menjelaskan beberapa karakteristik individu ditinjau
dari tinggi rendahnya atau positif negatifnya self-esteem. Oleh karena itu setiap
1.Karakteristik individu dengan self-esteem tinggi
a. Seseorang dapat menerima dirinya tanpa syarat, seperti ia menghargai
nilai dirinya sebagai manusia.
b. Seseorang yang memiliki self-esteem yang tinggi memliki suatu
keyakinan bahwa ia memiliki rasa bertanggung jawab dan merasa
mampu mengontrol setiap bagian kehidupannya.
c. Tingginya self-esteem dapat terlihat dari bagaimana cara seseorang
dalam bentuk rasa penghormatan, toleransi, kerja sama dan saling
memiliki antara satu dengan yang lain.
2.Karakteristik individu dengan self-esteem yang rendah:
a. Seseorang dengan self-esteem yang rendah meyakini bahwa dirinya
memiliki kemampuan instrinsik yang kecil, merasa bahwa keberhasilan
yang diperolehnya merupakan sebuah prestasinya.
b. Seseorang dengan self-esteem yang rendah merasa bahwa kehidupan ini
sering berada diluar kontrol atau kendali dirinya.
c. Seseorang dengan self-esteem yang rendah kita kurang menghormati
dasar bagi orang lain, tidak toleran terhadap orang-orang dan percaya
bahwa mereka harus hidup dengan cara yang kita inginkan.
2.4.4 Pengukuran self-esteem
Beberapa ilmuan mengemukakan beberapa pengukuran mengenai
self-esteem. Diantaranya yaitu Rosenberg Self-Esteem (RSE) (1965), skala ini
terdiri dari sepuluh item dan skala ini cukup sensitif terhadap manipulasi
Michinton (1993) terdiri dari 25 item yang mengukur perasaan terhadap diri
sendiri, perasaan terhadap orang lain dan perasaan terhadap kehidupan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan skala yang diperkenalkan
oleh Tafarodi and Swann (2001) yaitu Self-Lliking and Competence
Scale-Revised (SLCS-R). SLCS-R berisi dua sub-skala, yang masing-masing diukur
dengan delapan item. Self-liking subskala merupakan senilai sosial (misalnya
"saya merasa hebat tentang siapa saya"), dan self-competence merupakan
subskala perasaan keberhasilan dan kontrol (misalnya "Saya hampir selalu
mampu untuk mencapai apa yang saya coba" ). Tanggapan pada semua item
diberikan dengan menggunakan skala likert.
2.5 Faktor Demografis 2.5.1 Usia
Usia merupakan suatu tahapan perkembangan individu, yang tumbuh dan
berkembang secara potensial. Variabel demografis ini atau usia dapat
membedakan variasi tingkat impulse buying pada setiap jenjang hidup
manusia. Menurut Rawlings (dalam Činjarević, 2010) bahwa seseorang yang memliki usia muda memiliki impulsif yang lebih dibandingkan dengan orang
tua. Selain itu, konsumen yang lebih muda lebih cenderung mengalami
dorongan untuk membeli hal-hal secara spontan ketika terkena benda-benda
yang relevan dan untuk bertindak berdasarkan dorongan. Sedangkan konsumen
orang tua dapat menunjukkan kemampuan lebih baik untuk mengendalikan