• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dialektika Hukum Progresif Obrolan Ringk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Dialektika Hukum Progresif Obrolan Ringk"

Copied!
0
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

Dialektika Hukum Progresif

Obrolan Ringkas Buku-buku Satjipto

Rahardjo

Diandra Preludio R • Benny Prasetyo • Unu P

Herlambang • Muhtar Said • AP Edi Atmaja •

Benny Karya Limantara • Syandi Rama

Sabekti • Alfajrin A Titaheluw • Rian Adhivira

• Nindi Achid Arifki • Rahmad Syahroni

Rambe • Lilik Haryadi • James Marihot

Panggabean

Kaum Tjipian

(5)

Dialektika Hukum Progresif

Obrolan Ringkas Buku-buku Satjipto Rahardjo

Diandra Preludio R, Benny Prasetyo, Unu P Herlambang, Muhtar Said, AP Edi Atmaja, Benny Karya Limantara, Syandi Rama Sabekti, Alfajrin A Titaheluw, Rian Adhivira, Nindi Achid Arifki, Rahmad Syahroni Rambe, Lilik Haryadi, James Marihot Panggabean

© Kaum Tjipian, 2014

Diterbitkan pertama kali dalam format buku digital (e-book) Desember 2014

140 halaman; 12 x 18 cm

1. Ilmu Hukum 2. Satjipto Rahardjo 3. Hukum Progresif

Penyunting: AP Edi Atmaja Perancang Sampul: AP Edi Atmaja Penata Isi: AP Edi Atmaja

Kaum Tjipian

(6)

Sekapur Sirih

BUKU ini memuat serampai karangan mengenai sebagian (kecil) buku-buku anggitan Prof Dr Satjipto Rahardjo, SH. Sang begawan hukum yang karib disapa Prof Tjip itu mewariskan banyak sekali buku pasca-wafatnya, bahkan ada buku yang terbit benar-benar setelah Prof Tjip meninggal dunia.

Karangan-karangan dalam buku ini tidak (pernah) berpretensi untuk memfatwakan kebenaran. Bahkan dari teks yang paling terang-benderang pun pasti tersembunyi keremang-remangan. Bukan maksud buku ini untuk meringkus dan meringkas pemikiran Prof Tjip dalam sebutir tablet yang siap-minum—kendati mesti diakui bahwa para pengarang (kami menyebutnya “pemantik”) terdiri dari golongan yang boleh dibilang “penafsir garda depan” pemikiran Prof Tjip.

Para pemantik yang seluruhnya merupakan mahasiswa dan alumnus Magister Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro, itu tergabung dalam komunitas diskusi yang menamakan diri Kaum Tjipian.

(7)

Tagore dan murid-muridnya, hingga di emperan gedung di mana para gadis berseliweran menggoda iman pun jadilah.

Alhasil, dari kongko-kongko yang mempertaruhkan iman itu lahirlah buku mungil yang tak bisa lebih tebal dari Nietzsche (2012) ini.

Barangkali terasa kasip mengingat karangan-karangan ini berhasil dijilid dan terbit lebih dari dua tahun setelah mereka disampaikan dalamjagongan rutin. Namun, adakah yang terlambat untuk ide-ide? Kami hanya coba merawat pemikiran guru kami, Profesor Satjipto Rahardjo. Syukur-syukur kalau buku ini dapat memantik letupan lanjutan yang jauh lebih bermutu.

Akhirnya, buku ini hanyalah kado dari anak-anak muda ingusan yang mengaku-aku sebagai penafsir garda depan Prof Tjip, yang lahir pada 15 Desember 1930. Tapi apalah arti penafsir garda depan jikalau memperkenankan pikiran menampik penolakan, kritik, dan makian. Oleh sebab itu, melalui penerbitan buku ini, kami Kaum Tjipian mengharap penolakan dari siapa pun Anda.

Pekanbaru, 28 Desember 2014

(8)

Senarai Isi

Sekapur Sirih —6

Senarai Isi —8 Bab I Sebelum

Hukum dalam Jagat Ketertiban —11

Diandra Preludio R

Diskursus mengenai Hukum dan Masyarakat —23

Benny Prasetyo

Mempelajari Keteraturan, Menjumpai Ketidakteraturan: Pembacaan Seorang Cantrik —36

Unu P Herlambang

Sosiologi Hukum: Pengamat atau Pemberi Solusi? —43

Muhtar Said

Bab II Semasa

Kapita Selekta Hukum Progresif: Pada Mulanya adalah Koran—56

AP Edi Atmaja

Dasar-dasar Hukum Progresif —65

Benny Karya Limantara

Hukum Progresif dan Keberanian Kita —73

(9)

Kredo Penegakan Hukum Progresif —78

Alfajrin A Titaheluw

Bab III Sesudah

Dinamika dalam Mengikuti Perubahan Sosial —85

Rian Adhivira

Mendudukkan Undang-Undang Dasar? —94

Nindi Achid Arifki

Pendidikan Hukum sebagai Pendidikan Manusia —105

Rahmad Syahroni Rambe

Polisi Indonesia di Tengah Perubahan Sosial —115

Lilik Haryadi

Rakyat Bahagia di Negara Hukum —122

James Marihot Panggabean

(10)

Bab I

(11)

Hukum dalam Jagat Ketertiban

1

DIANDRA PRELUDIO RAMADA

“… Law grows with the growth, and strengthens with the strength of the people, and finally dies away as a nation loses its nationality …” –Karl Von Savigny

SUNGGUH, penulis menyimpan kedukaan yang sangat mendalam ketika tanpa alasan yang jelas penulis memilih buku ini untuk diceritakan kembali menurut pemahaman penulis sendiri. Kesedihan itu datang saat penulis merasa bahwa penulis belum sanggup menyerap seluruh inti sari dari buku Hukum dalam Jagat Ketertiban ini. Jadi, penulis mengharap pemakluman yang teramat sangat bagi Anda yang telanjur membaca tulisan ini.

Apa yang dipaparkan dalam kumpulan tulisan Prof Satjipto Rahardjo ini merupakan penjelajahan yang tak kunjung henti dari seorang musafir pencari kebenaran. Keprihatinan Prof Tjip (sebutan akrab bagi Prof Satjipto Rahardjo) terhadap keterpurukan hukum di Indonesia, yang dinyatakan baik berupa lisan maupun tulisan, sering membuat banyak kalangan, para akademisi, serta praktisi

1Karangan, yang merupakan ulasan dari buku

(12)

hukum terhenyak dan mengerutkan kening. Salah satu kritiknya adalah hukum telah cacat sejak dilahirkan—yang dianggap Prof Tjip sebagai tragedi hukum.2

Modernisasi, industrialisasi, rasionalisasi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam beberapa dekade terakhir dipengaruhi gelombang besar di mana negara-negara di dunia berusaha mencapai status yang lebih baik. Tak dapat dimungkiri, kita masih berada pada keterbelakangan ekonomi, politik, sosial, ilmu, dan sebagainya sehingga, mau tidak mau, hukum modern itulah yang kemudian dijadikan pisau bedah terhadap masalah-masalah hukum yang timbul. Tatkala para praktisi “latah” membaca dan memaknai undang-undang dari perspektif yuridis-normatif belaka dan berujar bahwa hukum harus diutamakan agar membawa ketertiban, ketenteraman, dan kesejahteraan bagi masyarakat. Prof Tjip mengambil sikap berbeda. Menurut dia, hukum itu menempati satu sudut kecil dalam jagat ketertiban.3

2

Masyarakat diatur oleh hukum yang penuh cacat, karena ketidakmampuannya merumuskan secara tepat hal-hal yang ada di masyarakat. Tentu saja kritik tersebut merupakan palu godam bagi lembaga legislatif, penegak hukum, dan insan hukum yang hanya melandaskan hukum hanya sebagai peraturan perundang-undangan. Padahal menurut refleksi kritis Prof Tjip, hukum dilukiskan sebagai perilaku manusia, yang didasarkan pada pemikiran filosofis bahwa hukum untuk manusia dan bukan sebaliknya. Satjipto Rahardjo, “Tidak menjadi Tawanan Undang-undang”, dalamSisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia

(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003), hlm 120.

3

(13)

Wajah Hukum dalam Perkembangan

BukuHukum dalam Jagat Ketertiban ini berisi kumpulan karya tulis Prof Tjip. Dia mengawalinya dengan sebuah konstruksi tentang sejarah hukum. Dimulai dengan Rene Descartes yang memisahkan manusia sebagai makhluk “yang mengetahui” dari alam “yang untuk diketahui”, dengan ucapan terkenalnya cogito ergo sum. Descartes ingin menyatakan bahwa manusia baru memperoleh makna setelah dengan rasionya memberi arti.4 Pemikiran tersebut memberi pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan teorisasi ilmu pengetahuan. Logika dan rasionalitas menjadi sesuatu yang sangat bermakna dalam pencarian manusia terhadap dirinya. Namun, seiring dengan perkembangan pengetahuan tentang manusia sebagai makhluk seutuhnya yang berperasaan dan berketuhanan, kecerdasan intelektual (IQ) yang dulu begitu dibanggakan harus diimbangi dengan kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) dalam rangka membangun

4

Liek Wilardjo,Realita dan Desiderata(Yogyakarta: Duta Wacana University Press, 1990), hlm 246.

(14)

kecerdasan berlipat (multiple intelligence).

Positivisme menanamkan kaki ilmu pengetahuan dengan mengamati alam dan kehidupan di sekelilingnya. Sekalian peristiwa yang tidak terdapat di situ tidak boleh dijadikan objek ilmu pengetahuan. Semua harus bisa diamati secara fisik, diukur dan ditimbang. Menggunakan rasio sebagai alat analisis sejak Francis Bacon (metode induksi) dan Descartes (metode rasional) di Abad Pencerahan (Enlightment, Aufklarung), maka ilmu pengetahuan mulai secara agresif berusaha menguasai objeknya dengan cara mengotak-kotakkan, memisah-misahkan, memfragmentasi, menyis-temisasi, mengorganisasi, dan sebagainya.

Ilmu pengetahuan memang berkembang dengan sangat pesat dengan metode seperti itu, namun perkembangannya membawa problem tersendiri. Ternyata, dengan hilangnya keutuhan itu, hilang pulalah kebenaran sejati. Akhirnya, suatu entitas utuh tidak berhasil didekati, apalagi dijelaskan oleh sains atau teori yang telah mereduksi keutuhan itu menjadi kepingan-kepingan yang terbatas. Agar teori seperti itu tetap bisa digunakan, dilakukanlah manipulasi kebenaran, yaitu dengan cara membuang sebagian realitas sehingga menyisakan realitas yang hanya bisa dijelaskan oleh teori itu.

(15)

substansi, metodologi, maupun administrasinya.5 Studi hukum di awal abad keduapuluh diawali dengan perkembangan menarik, yakni studi hukum yang ditarik keluar dari ranah peraturan perundang-undangan dengan kemunculan aliran sociological jurisprudence yang dipelopori oleh Roscoe Pound.

Berkembanglah sistem produksi ekonomi kapitalis yang mendasarkan pada perhitungan efisiensi yang bercirikan semuanya harus bisa dihitung dengan jelas dan pasti. Berapa barang dan ongkos produksi, penjualan, pembelian, dan sebagainya. Ini berbeda dengan sistem ekonomi lama yang didasarkan atas kebutuhan, bukan perhitungan. Rasionalisasi sistem ekonomi tersebut membutuhkan orde sosial baru yang harus dapat dimasukkan ke dalam komponen produksi dan bisa dihitung. Sedangkan orde sosial lama dengan konsep struktur yang tidak eksak dan terkesan kacau (chaotic) dapat mengganggu kelancaran sistem produksi ekonomi yang telah menjadi rasional dan kapitalis.

Hukum modern tampil menjawab kebutuhan zaman itu. Capaian hukum modern yang menjawab tantangan tersebut adalah tertulis dan publik. Ini sangat mendukung kebutuhan sistem ekonomi baru yang membutuhkan prediktabilitas. Negara dan hukum modern adalah sebuah rekonstruksi rasional yang dibangun di atas puing-puing tatanan lama.

Namun, seperti diketahui, modernisme sejak awal telah menyimpan bibit penyakit dari modernisasi itu sendiri. Semakin jauh berjalan, cacat dan penyakit itu semakin

5

(16)

terlihat dan terbuka. Hukum modern dengan asas kepastian hukumnya meluluh-lantakkan orde sosial lama yang bersifat lebih otentik, alami, dan sosiologis. Hukum modern secara gamblang menyamaratakan eksistensi tiap-tiap kelompok masyarakat yang nyata-nyata berbeda. Pondasi hukum modern yang dibangun berdasarkan rasionalitas dianggap tidak mampu untuk melingkupi segala bentuk permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Boaventura de Sousa Santos berpendapat bahwa kita sekarang berada di tengah-tengah dinamika ketidakseimbangan, antara prinsip regulasi dan emansipasi yang oleh dia disebut sebagai transisi paradigmatik (paradigmatic transition).6 Posmodernisme dimulai dari pemikiran kritis mengenai modernitas itu sendiri. Balkin berpendapat bahwa posmodernisme adalah kelanjutan dalam bentuk perkembangan dan reaksi terhadap suatu periode dalam sejarah manusia yang disebut modernitas.7

Hukum dalam Jagat Ketertiban

Bagian kedua buku ini memuat kajian Prof Tjip mengenai jagat ketertiban. Jagat ketertiban menampilkan suatu

6

Menurut Santos, kita sekarang berada dalam masa transisi yang selama duaratus tahun berlangsung ekses regulasi atas kerugian emansipasi. Titik berat ada pada regulasi, istilah yang dipakai Santos untuk modernisme, yang mencoba untuk mengubah keadaanchaosmenjadi tertib. Arah emansipasi adalah dari ketidaktahuan menuju keadaan tahu, yang oleh Santos disebut dari kolonialisme menuju solidaritas. Di sini,

posmodernisme ingin membalikkan keadaan dinamika

ketidakseimbangan itu menjadi keuntungan emansipasi (to reassess the emancipation and grant its primacy over knowledge-as-regulation). Boaventura de Sousa Santo,Toward A New Common Sense: Law, Science, and Politics in Paradigmatic Transition(New York: Routledge, 1995).

7

(17)

jaringan yang kompleks. Jagat ketertiban itu meliputi dan menerima kehadiran komunitas yang majemuk sehingga ketertiban juga menjadi kompleks. Kompleksitas inilah yang menjadi basis ketertiban-ketertiban lain. Ketertiban ekonomi, misalnya, juga tidak dapat meminggirkan ketertiban lain, seperti hukum dan politik.

Sejak hukum menempati satu sudut saja dalam jagat ketertiban yang jauh lebih luas dan sejak hukum negara ingin memegang hegemoni, kita pantas mempertanyakan bagaimana hukum negara itu berinteraksi dengan komunitas-komunitas lain dalam jagat ketertiban.8 Komunitas lain tersebut ternyata tidak bisa ditundukkan oleh kekuasaan dan kedaulatan hukum negara. Saat berbicara tentang akses terhadap keadilan, Marc Galanter berbicara tentang apa yang ia sebut sebagai “justice in many rooms”.9 Sekalipun perkara dibawa ke pengadilan untuk diselesaikan, tidak selalu pengadilan yang benar-benar memutus.

Ellickson mengatakan bahwa yang lebih menentukan bagaimana ketentuan-ketentuan dalam hukum diwujudkan bukanlah hukum itu sendiri, melainkan rakyat sebagai adressat hukum.10 Ellickson menambahkan, betapa banyak

8Komunitas lain ini adalah kaidah-kaidah sosial yang didukung oleh

komunitasnya masing-masing. Satjipto Rahardjo,Hukum dalam Jagat Ketertiban(Jakarta: UKI Press, 2006), hlm 100.

9Tulisan Galanter memberitahu kita tentang kompleksitas dari institusi

pengadilan yang tidak bisa dimonopoli oleh pengadilan negara. Kalau dikatakan bahwa orang mencari keadilan bagi perkara yang dihadapi, muncul pertanyaan: di mana keadilan itu? Di mana tempatnya? Siapa atau apa yang memberikan keadilan itu? Marc Galanter, “Justice in Many Rooms” dalam Mauro Cappelletti (ed.),Acces to Justice and the Welfare State(Sijthoff: Alphen aan den Rijn, 1981).

10

(18)

segmen kehidupan sosial itu tidak dibentuk oleh atau merupakan karya hukum, melainkan oleh komunitas itu sendiri. Jadi tidak benar ungkapan “hukum dan ketertiban” di mana digambarkan bahwa negara mengontrol perilaku anggota masyarakat. Itu bohong sama sekali.11

Hukum bekerja dan tertanam dalam sebuah matriks sosio-kultural. Itulah awal dari apa yang kita sebut sebagai budaya hukum. Bagaimanapun, hegemoni hukum negara itu tidak pernah sepenuhnya berhasil memastikan apa yang diwajibkan berlaku dalam masyarakat. Masyarakat akan menuntun, membatasi, dan menentukan seberapa jauh dan bagaimana hukum itu akan nyata-nyata berjalan, bekerja, dan berlaku dalam masyarakat. Mengatur masyarakat tidak berarti harus melakukannya secara penuh atau total. Maka dari itu, pengaturan tidak perlu melakukan intervensi dan penetrasi penuh ke dalam kehidupan masyarakat. Jika kepedulian kita adalah manusia dan masyarakat, maka bisa dengan membuat suatu skema besar, sedangkan proses-proses nyata diserahkan kepada masyarakat. Inilah yang disebut mengatur kehidupan yang sudah berjalan.12

without Law: How Neighbors Settle Disputes(Cambridge: Harvard University Press, 1991).

11

Ketertiban lebih sering muncul secara serta merta. Peraturan yang dibuat oleh negara akan dilengkapi bahkan isinya bisa diganti dengan aturan menurut mereka sendiri. Ellickson menepis anggapan bahwa negara atau pemerintahlah yang mengendalikan koordinasi dan mengarahkan.Loc. cit.

12Jepang merupakan contoh bagus untuk penggambaran tentang ini.

(19)

Dari segala pemaparan di atas, sampailah kita pada apa yang selalu Prof Tjip dengung-dengungkan. Ya, benar: hukum progresif. Dijelaskan oleh Prof Tjip dalam buku ini, bahwa yang akan secara penuh diorientasikan untuk dibicarakan adalah mengenai penafsiran hukum yang progresif.

Sejak hukum dikodifikasikan menjadi teks, pembacaan terhadap teks menjadi penting sekali. Maka, penafsiran hukum tidak dapat dihindarkan, dan hampir tidak mungkin hukum dapat dijalankan tanpa membuka pintu bagi penafsiran. Lalu diajukanlah sebuah adagium, “membaca hukum adalah menafsirkan hukum”, dan yang mengatakan bahwa teks hukum sudah jelas adalah suatu cara saja bagi pembuat hukum untuk bertindak pragmatis seraya diam-diam mengakui bahwa ia mengalami kesulitan untuk memberikan penjelasan.13

Pertama, persoalan bahasa. Pertanyaan dasarnya, mampukah bahasa mewadahi pemikiran yang akan kita sampaikan? Menurut saya tidak. Hemat saya, tiap kali suatu pemikiran akan dituangkan ke dalam kalimat, ia akan mengalami risiko kegagalan. Artinya, pemikiran tersebut menjadi kurang utuh begitu dirumuskan ke dalam bahasa. Selalu ada nuansa, makna yang tercecer, atau tidak terwadahi dalam bahasa tulis.

Kemudian, yang mengejutkan, jika bahasa menjadi kendaraan untuk menyampaikan pemikiran ke dalam undang-undang, maka sesungguhnya hukum Indonesia pascakolonial harus dibaca lewat teks yang asli, yaitu bahasa Belanda. Dengan demikian, teks-teks terjemahan dari bahasa Belanda itu tidak sah, baik secara linguistik maupun

13

(20)

secara hukum. Jadi selama ini hukum di Indonesia itu dijalankan berdasarkan konvensi atau tradisi saja. Sebagai akibatnya, andaikata ada dua orang menerjemahkan teks asli Belanda ke bahasa Indonesia, kemungkinan besar akan ada dua naskah terjemahan yang berbeda dan keduanya adalah “sah”. Dalam bukunya tentang Mahkamah Agung Indonesia, Sebastian Pompe menunjuk pada kemampuan berbahasa Belanda di kalangan para hakim yang hampir nol, sebagai salah satu penyebab menurunnya kualitas putusan pengadilan di Indonesia.14

Kedua, penafsiran itu sendiri dalam membaca teks peraturan hukum tertulis. Pembuatan dan penafsiran merupakan dua sisi dari barang yang sama, yaitu hukum. Teks hukum tidak lain adalah suatu rumusan bentuk konseptualisasi dari apa yang terjadi di alam. Misalnya, pencurian yang merupakan peristiwa alam yang dirumuskan ke dalam teks hukum. Setiap perumusan adalah pencitraan tentang suatu hal. Pencitraan adalah pembuatan konsep. Pembuatan konsep melahirkan pembeda antara apa yang dirumuskan dengan yang tidak. Sedangkan perumusan konsep pemikiran menjadi tekstual akan berhadapan dengan risiko kegagalan yang hampir pasti.

Menurut Jakob Sumardjo, dalam adat Jawa terdapat setidaknya limabelas macam pencurian. Hal itu berarti untuk komunitas Jawa, Pasal 362 KUHP mengandung cacat besar, karena pasti tidak mampu merumuskan kelimabelas macam itu secara benar hanya dalam satu kalimat.15 Sehingga, di

14Sebagai negeri bekas jajahan Belanda, banyak teks hukum yang

berbahasa Belanda, yang sialnya masih dirujuk oleh para hakim dengan pengetahuan bahasa Belanda yang sangat rendah. S van Hoeij

Schilthouwer Pompe,The Indonesia Supreme Court: Fifty Years of Judicial Development, Disertasi, 1996.

15

(21)

sinilah peran penafsiran sebagai jembatan untuk jurang yang menganga antara objek yang dirumuskan dan perumusannya.

Pekerjaan merumuskan akan melibatkan penilaian. Ini mengapa legislatif mereduksi kenyataan menjadi seperti ini atau itu, yang ditentukan oleh penilaian manusia-manusia di belakangnya. Oleh karena itu, rumusan yang diproduksi tidak bebas nilai, dan karena itu terbuka untuk penilaian yang berbeda. Maka dari itu, penafsiran adalah pekerjaan untuk dapat “membenarkan”, “meluruskan”, “membumikan”, dan “mengadilkan” hukum.

Memasuki ranah penafsiran adalah memasuki ranah yang luas yang di dalamnya dipenuhi pemikiran dan aliran-aliran. Ada pendapat yang mengatakan bahwa menafsirkan hukum tidak boleh melalui batas-batas yang sudah dibuat oleh legislatif dalam ranah rumusan hukum tersebut. Pendapat ini menganggap bahwa teks hukum memiliki otonomi mutlak sehingga tidak boleh ada hal baru dalam penafsiran. Pemikiran tersebut melebarkan jurang yang memisahkan hukum dengan masyarakat. Hukum benar-benar menjadi dunia yang esoteris. Kekakuan pandangan seperti itu menjauhkan hukum dari keadilan dan kebutuhan masyarakat.

(22)

mengatakan bahwa “keadilan dalam hukum itu ada, tetapi masih harus ditemukan”.16

Hukum progresif berpegangan pada paradigma “hukum untuk manusia”. Kemanusiaan menjadiprimus pada saat kita memberi kedudukan terhadap hukum dan masyarakat. Hukum berawal tidak dari hukum itu sendiri, melainkan dari manusia dan kemanusiaan. Membicarakan hukum haruslah lebih dahulu diawali dengan membicarakan dan menuntaskan pembicaraan mengenai kemanusiaan. Kita pun tidak dapat membicarakan hukum dengan menutup pintu bagi kemanusiaan karena kemanusiaan akan terus mengalir memasuki hukum. Maka, jadilah hukum bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk mengabdi dan melestarikan kemanusiaan.

Demikian sang begawan telah merintis jalan pembuka bagi penerus-penerusnya. Kini tinggal kita para penerus Prof Tjip melakukan apa yang kita harus dan bisa lakukan. Kerinduan yang sangat sederhana dan lugas tapi sangat dalam dari dirinya adalah agar para mahasiswanya menjadi lilin-lilin pembawa terang dalam kegelapan yang menyelimuti nuansa keilmuan di dunia, khususnya ilmu hukum. Dengarlah pesan terakhir Sang Guru:

“...di pundak saudara-saudaralah hukum progresif itu memperoleh bentuknya. Saya hanya merintis jalan…” []

16

(23)

Diskursus mengenai Hukum dan

Masyarakat

17

BENNY PRASETYO

BAGI negara-negara yang sedang berkembang, yaitu negara yang memperoleh kemerdekaannya sesudah Perang Dunia II, pembangunan merupakan semacam panacea, satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk memerdekakan diri dari segala tuntutan dan kesulitan. Indonesia juga tidak merupakan kekecualian dalam hal ini. Sejak Soeharto mengambil alih tampuk kekuasaan, secara pasti negara ini menempatkan diri di barisan negara sedang berkembang yang memberikan prioritas pertama kepada pembangunan.

Memperhatikan fungsi hukum dalam masyarakat, yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang efektif antaranggota masyarakat, kiranya sulit bagi kita untuk memikirkan suatu masyarakat yang dapat berjalan tanpa menerima pelayanan hukum. Keadaan ini menjadi lebih jelas lagi apabila kita berhadapan dengan masyarakat yang ridak lagi tradisional di mana kontak-kontak pribadi serta konflik-konflik kepentingan terjadi lebih intensif. Keadaan ini tidak berubah pada masyarakat yang sedang berada dalam masa

17Karangan, yang merupakan ringkasan dari buku

(24)

pembangunan. Sekalipun demikian, di masa seperti itu, kedudukan hukum menjadi problematis berhubungan dengan adanya pergeseran dalam prioritas kegiatan negara.

Lalu, sampailah pada masalah hubungan antara hukum dan pembangunan. Hukum merupakan suatu kebutuhan yang melekat pada kehidupan sosial itu sendiri, yaitu sebagai sarana untuk melayani hubungan di antara sesama anggota masyarakat, sehingga terdapat kepastian dalam lalu lintas hubungan itu. Dengan demikian, mudah dimengerti bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat pada gilirannya akan menyebabkan terjadinya perubahan pada hukum yang harus melayani masyarakat itu. Apabila untuk keperluan pembangunan dibutuhkan masuknya modal luar negeri, perombakan susunan kepemilikan tanah, penyediaan tanah untuk pembuatan jalan-jalan, pabrik, jembatan, dan sebagainya, maka hukum akan diminta jasanya untuk menyusun peraturan-peraturan atau sistem peraturan baru yang memungkinkan dilaksanakannya rencana tersebut.

(25)

suatu alat yang digunakan secara sadar oleh manusia untuk mengubah lingkungan hidupnya.

Pendapat tadi mempunyai banyak pengikut sekalipun mereka tidak sepaham mengenai kegunaan dan pentingnya hukum untuk menimbulkan perubahan sosial. Kelompok lain lagi berpendapat bahwa hukum merupakan suatu nilai, atau suatu proses yang fundamental dalam perwujudan nilai-nilai tertentu, sehingga ia menjadi terkait erat dengan nilai-nilai itu sendiri. Misalnya saja, banyak orang percaya bahwa hukum itu penting untuk melindungi perorangan serta perwujudan kesamaan. Mereka juga percaya bahwa pengembangan lembaga-lembaga hukum serta proses-prosesnya, sehingga menjadi efektif, akan dapat memberikan bantuannya untuk memperkuat hak-hak seseorang dan untuk mencapai kesamaan.

Dari pendapat para ahli tersebut dapat diketahui bahwa orang mulai mengkaji tentang fungsi hukum di masyarakat. Dan pada itu juga dapat dilihat bahwa sasaran pembicaraan bukan berkisar pada hukum sebagai suatu sistem yang konsisten, logis, dan tertutup, melainkan sebagai sarana untuk menyalurkan kebijakan-kebijakan dalam pembangunan atau perubahan masyarakat. Dengan demikian, pembicaraan mengenai hukum telah membaurkan diri dengan pembicaraan tentang aksi-aksi sosial, tentang hukum sebagai proses dan sebagainya.

(26)

secara lebih tepat mengenai hubungan antara hukum dan masyarakat.

Studi terhadap Hukum dan Masyarakat

Pemikiran hukum sosiologis

Pemikiran hukum sosiologis mulai dikembangkan tidak lebih awal dari permulaan abad keduapuluh. Sebelum itu, apabila orang memikirkan tentang hukum dan keadilan, ia tidak segera melihat perkaitannya dengan tertib masyarakat yang lebih luas di mana hukum itu berlaku atau di mana ide-ide tentang keadilan itu dianut.

Rescoe Pound membedakan antara ahli hukum dengan kerangka berpikir sosiologis dan ahli hukum dari aliran yang lain. Perbedaan itu, menurut Pound, adalah bahwa mereka yang termasuk aliran sosiologis ini:

 lebih mengarahkan penglihatannya kepada beker-janya hukum daripada kepada isinya yang abstrak;  memandang hukum sebagai suatu lembaga sosial

yang dapat dikembangkan melalui usaha manusia dan menganggap kewajiban mereka untuk mene-mukan cara–cara terbaik dalam memajukan dan mengarahakan usaha sedemikian itu;

 lebih menekankan kepada tujuan-tujuan sosial yang dilayani oleh hukum daripada sanksinya;

(27)

Hukum dan nilai-nilai masyarakat

Tentang bekerjanya hukum di masyarakat, Robert B Seidman menguraikan dalil-dalil sebagai berikut.

 Setiap peraturan hukum memuat tentang bagaimana pemegang peranan (masyarakat/role occupant) diharapkan untuk bertindak.

 Bagaimana seorang pemegang peranan akan bertindak sebagai suatu respons terhadap peraturan hukum merupakan fungsi peraturan-peraturan yang ditujukan kepadanya, sanksi-sanksinya, aktivitas dari lembaga-lembaga pelaksana serta keseluruhan kompleks kekuatan sosial, politik, dan lain-lainnya.  Bagaimana lembaga-lembaga pelaksana itu akan

bertindak sebagai respons terhadap peraturan hukum merupakan fungsi peraturan-peraturan hukum yang ditujukan kepada mereka, sanksi-sanksinya, keseluruhan kompleks kekuatan-kekuatan sosial, politik, dan lainnya, yang mengenai diri mereka serta umpan-umpan balik (feedback) yang datang yang datang dari pemegang peranan.  Bagaimana para pembuat undang-undang akan

bertindak merupakan fungsi peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku mereka, sanksi-sanksinya, keseluruhan kompleks kekuatan-kekuatan sosial, politik, ideologis, dan lain-lain, mengenai diri mereka serta umpan-umpan balik yang datang dari pemegang peranan serta birokrasi.

(28)

Regenerasi atau penerapan hukum hanya dapat terjadi melalui manusia sebagai perantaranya. Masuknya faktor manusia ke dalam pembicaraan tentang hukum, khususnya dalam hubungan dengan bekerjanya hukum, membawa kita kepada penglihatan mengenai hukum sebagai karya manusia di masyarakat.

Dalam pembentukan hukum, di mana dijumpai pertentangan nilai-nilai serta kepentingan-kepentingan, Schuyt menunjukkan bahwa ada dua kemungkinan yang dapat timbul, yakni (1) sebagai sarana untuk mencairkan pertentangan (conflict loosing) dan (2) sebagai tindakan yang memperkuat terjadinya pertentangan lebih lanjut (conflictversterking).

Hukum diciptakan untuk dijalankan. “Hukum yang tidak pernah dijalankan pada hakikatnya telah telah berhenti menjadi hukum,” demikian Scholten. Hukum tidak dapat bekerja atas dasar kekuatannya sendiri. Dengan perkataan lain, hukum itu hanya akan dapat berjalan melalui manusia. Manusialah yang menciptakan hukum, tetapi juga untuk pelaksanaan hukum yang telah dibuat masih diperlukan campur tangan manusia.

(29)

organisasi-organisasi seperti pengadilan, kepolisian, lembaga legislatif, dan sebagainya, menjalani kehidupannya sendiri, serta mengejar tujuannya sendiri pula.

Selznick mengatakan, dewasa ini dapat dikenali adanya konflik antara dua pandangan hukum: yang pertama melihat hukum sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja, sementara yang kedua berpendapat bahwa hukum itu mencita-citakan tercapainya tujuan-tujuan moral.

Dalam konsep hukum yang normatif, yaitu yang membebani hukum dengan tugas-tugas untuk mewujudkan nilai-nilai, kehadiran hukum di masyarakat itu tidak hanya sekadar didorong oleh keharusan sosial, melainkan juga karena ada tugas-tugas yang harus dijalankannya. Konsep tersebut selanjutnya menerima adanya nilai-nilai laten yang terdapat dalam hukum, yang akan bekerja sebagai sumber referensi bagi penilaian terhadap hukum. Nilai-nilai yang menjadi dasar penilaian itu bukannya diadakan oleh orang yang melakukan pengamatan, melainkan ia berada secara inheren dalam fenomena ketertiban itu sendiri (inner order of the phenomenon).

(30)

Hukum dan Perubahan Sosial

Perubahan sosial

Timbulnya golongan menengah telah merubah susunan dan keseimbangan masyarakat yang semula ditentukan oleh golongan ningrat, perwira, dan agama. Selanjutnya, timbulnya golongan buruh sebagai buah perindustrian telah kuasa pula mengubah susunan masyarakat pada masanya. Pranata-pranata sosial juga disesuaikan pada perubahan-perubahan tersebut, sehingga menimbulkan kultur hukum yang memiliki karakteristik untuk zamannya.

Bermacam-macam alasan dapat dikemukakan, yang dapat dipandang sebagai bagian dari timbulnya suatu perubahan di masyarakat. Perubahan dalam penerapan hasil teknologi modern dewasa ini banyak disebut sebagai salah satu sebab bagi terjadinya perubahan sosial. Penemuan-penemuan baru di bidang teknologi tidak hanya memberikan tambahan kekayaan kebudayaan material, melainkan juga menimbulkan kebutuhan untuk melakukan penyesuaian pada penggunaan hasil teknologi yang baru tersebut.

(31)

melaksanakan modernisasi dengan berhasil suatu sistem politik itu pertama-tama harus mampu untuk melakukan pembaruan kebijakan, yaitu untuk memajukan kehidupan sosial dan ekonomi dengan perombakan melalui tindakan-tindakan kenegaraan.

Kita juga tidak dapat melihat kehidupan hukum, yang merupakan salah satu sistem dalam kehidupan sosial, terlepas dari bidang-bidang yang lain, serta juga dari perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Hukum, di samping mempunyai kepentingannya sendiri untuk mewujudkan nilai-nilai tertentu di masyarakat, tetap terikat pada bahan-bahan yang dapat disediakan oleh masyarakatnya. Dengan demikian, secara singkat hendak dikatakan bahwa hukum sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan di sekelilingnya.

Sekalipun hukum merupakan sarana untuk mengatur kehidupan sosial, satu hal yang menarik adalah bahwa justru ia hampir senantiasa tertinggal di belakang objek yang diaturnya. Ketika peraturan-peraturan menjadi kompleks sifatnya, justru dengan semakin meluasnya pengaturan oleh hukum itu dan hubungan-hubungan sosial lebih banyak dituangkan ke dalam bagan-bagan yang abstrak, semakin besar pula kemungkinan bagi tertinggalnya hukum di belakang peristiwa dan perikelakuan yang nyata. Kenyataan mengenai tertinggalnya hukum di belakang masalah yang diaturnya sering dikatakan sebagai ciri hukum yang khas.

(32)

kepada hukum berbeda dengan jelas dari tingkah laku yang dikehendaki oleh hukum.

Hukum represif dan restitutif

Durkheim membuat perbedaan antara hukum yang menindak (repressive) dan hukum yang mengganti (restitutive). Hukum yang menindak ini adalah hukum pidana. Hukum yang menindak mencerminkan masyarakat yang bersifat kolektif. Hukum restitutif mencerminkan masyarakat yang memiliki diferensiasi dan spesialisasi fungsi-fungsinya. Dalam konsep hukum restitutif, hukum yang dibutuhkan bukan lagi hukum yang cara bekerjanya adalah dengan cara menindak, membatasi, tetapi yang memberikan penggantian sehingga keadaanya menjadi pulih lagi seperti semula. Yang membedakan sanksi ini adalah bahwa ia tidak bersifat mengenakan denda tetapi semata-mata hanya untuk memulihkan pada keadaan semula.

Apakah hukum mempunyai kemampuan untuk menggerakkan perubahan dalam masyarakat? Savigny, pelopor aliran sejarah, dengan tegas menyangkal kemungkinan penggunaan hukum sebagai sarana untuk melakukan perubahan. Pendapatnya didasari oleh konsepsinya mengenai hukum, yang melihat hukum sebagai sesuatu yang tumbuh secara alamiah dari dalam pergaulan masyarakat itu sendiri.

(33)

untuk menimbulkan perubahan di bidang teknologi dan ekonomi yang menjadi basis dari adanya hukum itu sendiri.

Apapun dikemukakan oleh teori-teori yang menentang penggunaan hukum sebagai sarana untuk menggerakkan perubahan sosial secara sadar, namun kenyataan yang kita hadapi sekarang menunjukkan bahwa perundang-perundangan merupakan sandaran negara untuk mewujudkan kebijaksanaannya. Seperti yang dikatakan Seidman, tata hukum itu merupakan saringan yang menyaring kebijaksanaan pemerintah, sehingga menjadi tindakan yang dapat dilaksanakan.

Hukum sebagai sarana rekayasa sosial

Ada dua fungsi yang dapat dijalankan oleh hukum di dalam masyarakat, yaitu (1) sebagai sarana kontrol sosial dan (2) sebagai sarana untuk melakukan rekayasa sosial (social engineering). Sebagai sarana kontrol sosial, hukum bertugas untuk menjaga agar masyarakat tetap berada dalam pola-pola tingkah laku yang diterima olehnya. Dalam perannya yang demikian itu, hukum hanya mempertahankan apa yang telah menjadi sesuatu yang tetap diterima di masyarakat—atau hukum sebagai penjaga status quo. Tetapi di luar itu, hukum masih dapat menjalankan fungsinya yang lain dengan tujuan untuk mengadakan perubahan-perubahan di masyarakat.

(34)

mencoba menimbulkan suatu keadaan tertentu di dalam masyarakat, atau untuk mengendalikan keadaan. Kadang-kadang, orang ingin menggunakan undang-undang itu untuk menimbulkan suatu perubahan sosial yang nyata. Penguasaan atau pengarahan proses sosial ini disebut sebagai rekayasa sosial.

Batas-batas Kemampuan Hukum

Edwin M Schrur berpendapat bahwa para penulis hukum biasanya mengakui bahwa peraturan-peraturan hukum itu memberikan pengarahan, pengaruh dan efek yang memperkuat. Pertanyaannya adalah seberapa banyak?

Pada umumnya, pengaruh hukum terhadap bidang kehidupan sosial adalah tidak sama. Ada bidang-bidang yang dengan mudah menerima pengaruh perubahan yang dikehendaki oleh hukum, sedangkan bidang yang lain tidak dapat dipengaruhi semudah itu atau bahkan tidak dapat dipengaruhi sama sekali. Yehezkel Dror berpendapat bahwa tindakan-tindakan di dalam masyarakat yang semata-mata bersifat instrumental, seperti dalam kegiatan komersial, dengan nyata sekali dapat menerima pengaruh dari peraturan-peraturan hukum yang baru.

(35)
(36)

Mempelajari Keteraturan,

Menjumpai Ketidakteraturan:

Pembacaan Seorang Cantrik

18

UNU P HERLAMBANG

JALAN yang dilalui seorang pendekar silat yang waskita tidak pernah mulus. Untuk sampai pada pikiran yang lurus, jalan yang lempeng-mulus adalah mustahil. Demikian Pak Tjip: Awal perjalanannya memasuki dunia ‘persilatan’, sekitar tahun 1950-an, dimulai di Fakultas Paedagogi Universitas Gajah Mada; tidak lama kemudian, karena merasa kurang puas, beliau pindah ke Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Indonesia. Dalam babakan kedua di bangku akademisi inilah yang kemudian mengantarkan Pak Tjip menjadi suhu besar. Sedari awal, hukum tidak dilihatnya sebagai media profesi, namun sebagai objek keilmuan berdasarkan rasa keinginan tahu (curiosity). Sehingga, pada waktu belajar hukum, beliau “selalu berusaha untuk melihat kaitan dengan hal-hal di belakang hukum” (hlm 192). Keinginannya untuk melihat logika sosial dari hukum lebih besar daripada logika hukum atau peraturan

perundang-18Karangan, yang merupakan ulasan dari pidato mengakhiri masa jabatan

(37)

undangan. Walaupun konsekuensi dari kepo hukum itu, beliau harus memakan waktu selama delapan tahun untuk menyelesaikan pendidikan dan menjadi meester in de rechten (sebutan untuk sarjana hukum waktu itu).

Dengan berbekal ijazah meester in de rechten, Pak Tjip mulai memasuki kancah sebagai guru untuk ‘mengajarkan hukum’ di Universitas Diponegoro. Menjadi bagian dari sistem pendidikan hukum yang berlaku, mulanya beliau juga turut meyakinkan mahasiswa bahwa hukum itu satu sistem peraturan yang tersusun secara logis, bahwa hukum menciptakan keteraturan, kepastian hukum, dan lain-lain (lihat hlm 192). Disadari sepenuhnya bahwa berdiri di depan mahasiswa yang nantinya akan mengisi profesi di bidang hukum— jaksa, advokat, dan hakim—beliau pun ikut melarutkan diri ke dalam wacana profesional: hukum sebagai sistem yang rasional. Kerena itu beliau “turut memasukkan ke dalam pikiran mahasiswa tentang berbagai keharusan, dogma, adagia, doktrin, asas, dan sebagainya yang biasa menjadi kelengkapan bagi para profesional di bidang hukum” (hlm 194). Diakuinya sendiri, pada masa awal-awal itu beliau belum banyak mempunyai waktu untuk merenungkan secara lebih saksama kebenaran dari yang diajarkan kepada mahasiswa.

(38)

dapat dikenali adanya kegelisahan kecil terhadap ilmu hukum yang diajarkan kepada para mahasiswa” (hlm 194).

Cara berhukum (modern) ini, yang kita terima sebagai warisan penjajahan Belanda, membuat perundang-undangan memiliki kedudukan sangat sentral dalam kehidupan berhukum Indonesia. Padahal, hukum dibaca sebagai undang-undang. Hukum yang berkelindan dengan undang-undang, adalah fenomena yang relatif baru dibanding masa ribuan tahun sebelumnya: selama masa ribuan tahun itu cara berhukum manusia tidak berputar di seputar undang-undang, melainkan di seputar keadilan itu sendiri.

Seiring mengalirnya waktu, akumulasi dari ‘kegelisahan kecil’ itu lantas beliau tularkan kepada para mahasiswa melalui buku Ilmu Hukum yang terbit pada awal 1980an: “Esensi yang dituangkan ke dalam buku tersebut merupakan semacam otokritik terhadap paham-paham absolut legal-dogmatik yang waktu lalu turut saya komunikasikan kepada mahasiswa” (hlm 195). Lewat Ilmu Hukum, mahasiswa dan masyarakat umum diajaknya untuk melihat hukum sebagai suatu institusi manusia dan bukan semata-mata media profesi. Dengan nada provokatif beliau memaparkan bahwasanya hukum modern yang kita terapkan bukan merupakan hasil dari perkembangan di ‘alam’ Indonesia, melainkan sebagai sesuatu yang ‘imposed from outside’.

Hukum: Perdebatan antara Profesi dan Ilmu

(39)

awam-hukum, kita (atau saya?) melihat hukum adalah hukum yang “ada untuk dirinya sendiri”. Sebuah sistem rasional yang punya logika internalnya sendiri: logis, matematis, dan kaku-positivistik. Hukum semata-mata mengenai ‘peraturan’ dan ‘sanksi’ dalam cita-citanya untuk mewujudkan keteraturan. Tidak salah memang, nampaknya demikian yang terjadi dalam sistem pendidikan tinggi hukum (dan pendidikan tinggi lain). Program S-1 adalah program ketrampilan (skill), sedangkan program pascasarjana (S-2 dan S-3) adalah program keilmuan. Program yang disebut belakangan ini “pada intinya adalah perburuan terhadap kebenaran (searching for truth)” (hlm 199). Maka, program S-1 tidak dapat disebut pendidikan keilmuan dalam arti yang sebenarnya, melainkan sekadar ilmu praktis (practical science). Menyangkut hal ini, lebih lanjut secara ringkas beliau menjelaskan:

(40)

hukum adalah bicara mengenai hukum sebagai profesi. Di luar itu tidak ada hukum.

Untuk mendiskusikan masalah tersebut, Pak Tjip membuat konsep yang mampu menerangi masalah yang dihadapi. Konsep itu adalah tatanan (order). Tatanan (order) merupakan suatu wilayah yang amat luas dan sangat pantas menjadi rujukan dalam mempelajari hukum secara ilmiah. Tatanan adalah ‘hukum’ yang lebih utuh, sedangkan hukum positif atau lawyer’s law hanya menempati satu sudut kecil saja dalam peta tatanan yang utuh dan besar tersebut. Beliau membagi ‘tatanan’ menjadi tiga bagian, yaitu (1) tatanan transendental (transcendental order); (2) tatanan sosial (social order); (3) tatanan politik (political order). Secara luas, pembicaraan mengenai hukum akan berada dalam tiga tatanan tersebut: “Maka tentu saja, apabila kita berada dalam ranah keilmuan, kita tidak dapat meniadakan salah satu dari tiga itu, semata-mata karena tidak benar lagi” (lihat hlm 201).

“Kalau ilmu pengetahuan didefinisikan sebagai institusi pencarian kebenaran,” demikian kata Pak Tjip, “maka pada waktu yang sama kita juga harus mengatakan, pencarian kebenaran adalah proses yang dramatis” (hlm 204). Dalam perburuannya, ilmu pengetahuan menyadari bahwa, kebenaran itu sendiri (kebenaran absolut), tidak akan pernah ditemukan. Seperti runtuhnya era fisika Newton yang digantikan fisika kuantum. Sehingga garis perbatasan ilmu pengetahuan, dalam misinya memburu kebenaran, selalu berubah, bergeser labih maju.

Mencari Sebuah Keutuhan

(41)

meninggalkan cara berpikir yang linear dan terkotak-kotak menuju kepada pemikiran yang lebih utuh (wholism, wholistic). Pak Tjip melihat puncaknya dengan diterbitkannya buku Danah Zohar dan Ian Marshall yang berjudul Spiritual Intellegence pada tahun 2000. Sejak permulaan abad ke-20, IQ-lah yang menjadi pusat perhatian. Manusia dijebak dan dibuai oleh rasionalitas yang kemudian memerangkap dirinya sendiri ke dalam situasi yang irrasional. Hukum yang legal-dogmatis-positivistik dianggap telah jauh meninggalkan tujuannya: keadilan. Hal ini disebabkan kecongkakan hukum sebagai sistem rasional, menyingkirkan unsur-unsur lain yang dianggap tidak rasional sebagai bukan hukum.

Spiritual Intellegence mengakomodasi pentingnya perangkat emotional qoutient (EQ) dan spiritual qoutient (SQ), selain IQ, dalam mengukur kualitas manusia. Saya menduga (sekali lagi: menduga) bahwa Pak Tjip mengutip Zohar dan Marshall untuk menjelaskan konsepnya mengenai ‘tatanan’. Bahwa tatanan politik (social order), yang meliputi lawyer’s law di dalamnya, adalah representasi dari penggunaan IQ; tatanan transenden (transcendental order) representasi penggunaan SQ; dan tatanan sosial (social order) adalah representasi penggunaan EQ. Ketiga perangkat kecerdasan itu mestinya digunakan bersama-sama dalam menjalankan ketiga tatanan tadi. Sehingga tercapai apa yang disebut sebagai ultimate intellegence untuk membawa kita kepada puncak pemahaman, yaitu menjangkau sampai ke konteks makna.

(42)

tersebut, meskipun jenis tatanan ini ada dan hidup dalam tatanan masyarakat. penerimaan suatu tipe tatanan lain di luar yang positif tersebut akan mengganggu kebenaran sistem rasional dari teori tersebut.

(43)

Sosiologi Hukum: Pengamat atau

Pemberi Solusi?

19

MUHTAR SAID

JUJUR, pertama kali masuk fakultas hukum, saya bangga sekali, karena saya bermimpi bisa menjadi dewa penyelamat. Sebab, semua persoalan di masyarakat dalam impian saya langsung bisa teratasi dengan mudah. Permasalahan pidana, perdata, sampai urusan rumah tangga akan saya selesaikan dengan menggunakan pengetahuan hukum yang saya punyai, terutama dengan penguasaan undang-undang. Undang-undang menjadi alat untuk melancarkan pergerakan saya dalam menyelesaikan permasalahan, sebab waktu itu yang saya ketahui bahwa hanya orang-orang yang belajar di fakultas hukum itulah yang mengerti tentang undang-undang. Inilah yang membuat saya bangga dan menjadikan diri saya seolah-olah mempunyai nilai lebih daripada orang lain.

Impian yang indah itu ternyata berubah menjadi cerita yang berbeda dari angan-angan yang ada di mimpi saya itu. Dimulai dari datangnya persoalan-persoalan nyata yang menghampiri saya (terutama permasalahan yang berkaitan dengan sengketa yang melibatkan orang yang mempunyai

19

Karangan, yang merupakan ulasan dari bukuSosiologi Hukum, Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah(Yogyakarta: Genta Publishing, 2010), anggitan Satjipto Rahardjo, ini disampaikan dalam

(44)

kuasa dan modal lebih, seperti kasus tanah di Bandungan, penggusuran pedagang kaki lima di Semarang, sertifikat tanah ganda yang kebanyakan mucul di pedesaan). Saat itu, sebagai orang yang mengenyam pendidikan fakultas hukum, pertama kali yang saya jadikan senjata adalah dalil-dalil yang tertulis dalam perundang-udangan. Dengan wajah agak sombong saya berharap permasalahan tersebut langsung bisa selesai.

Namun, walaupun segenap pengetahuan saya tentang hukum sudah saya keluarkan, permasalahan belum juga dapat selesai, malah menjadi tambah semrawut tak karuan. Niatnya ingin menyelesaikan masalah, tetapi malah menambah masalah, bertambah pusing lagi ketika berhadapan dengan orang-orang yang sama, lulusan fakultas hukum. Pasal-pasal yang saya keluarkan bisa dilawan dengan pasal, asas dilawan dengan asas, dan lain sebagainya. Begitu juga sebaliknya, ketika dia mengeluarkan dalil-dalilnya saya juga membantah dengan dalil-dalil saya, terus seperti itu sampai pertemuan buntu. Padahal, persoalan yang kami perdebatkan adalah masalah kecil yang seharusnya bisa langsung diselesaikan secara singkat, namun malah menjadi sangat rumit dan memakan waktu yang lama. Sungguh memakan waktu dan energi yang hebat.

(45)

memberikan kesibukan pada hakim, seolah-olah masalah kecil seperti itu mengesampingkan permasalahan yang lebih besar namun tidak teratasi secara tuntas, seperti korupsi dan lain sebagainya. Seharusnya, kasus pencurian sandal seperti itu cukup diselesaikan dengan memberi sanksi kepada pelaku untuk menguras kamar mandi, misalnya.

Pencurian sandal jepit tersebut saya anggap sebagai permasalahan kecil dan seharusnya tidak dibawa kemeja hijau yang akan membutuhkan waktu lama. Penyelesaian permasalahan seperti ini sungguh disesalkan, apalagi peristiwa tersebut terjadi di negara yang menjunjung tinggi asas musyawarah mufakat. Perlu diketahui, di Greenland (Denmark), kasus ringan seperti itu sanksinya tidak sampai masuk penjara, namun hukumannya berupa sanksi sosial: terpidana dihukum dengan hukuman sosial.

Dari pengamatan kasus tersebut, diri saya agak tercerahkan. Ternyata penegakan hukum memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

(46)

Permasalahan itulah yang dikesampingkan oleh kebanyakan ahli hukum, pengacara, polisi, dan lain sebagainya, yang hanya berpegang teguh pada kaidah hukum normatif, dengan tidak mempertimbangkan ilmu lainnya, terutama sosiologi hukum. Padahal, sosiologi hukum merupakan ilmu yang empiris, yang bisa memberikan data dan fakta mengenai permasalahan tersebut. Marc Galanter menggambarkan sosiologi hukum dapat melihat hukum dari ujung teleskop yang lain (from the other end of the telescope).20 Jika aliran normatif mengamati permasalahan dengan sudut kacamata undang-undang, maka sosiologi hukum memandang permasalahan tersebut dengan menggunakan banyak cara.

Inilah yang membedakan cara berpikir sosiologi hukum dengan cara berpikir positivistik-legalistik, di mana cara berpikir positivistik-legalistik berangkat dari peraturan hukum, sedangkan sosiologi hukum berangkat dari kejadian yang nyata dari lapangan. Di sinilah letak perbedaan sosiologi hukum terhadap cara berpikir positivistik-legalistik.21 Perlu diketahui juga bahwa sosiologi hukum

20

Marc Galanter, dalam Satjipto Rahardjo,Sosiologi Hukum, Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah(Yogyakarta: Genta Publishing, 2010), hal 190.

21

(47)

merupakan ilmu yang boleh dibilang masih muda. Karena masih muda, ilmu ini kurang mendapat tempat di perguruan tinggi, terutama di strata satu (S-1). Sebab mahasiswa strata satu memang diarahkan untuk menjadi seorang profesional, pengacara, hakim, jaksa, dan lain sebagainya. Jadi, dituntut untuk mempunyai keahlian dalam menerapakan pasal-pasal. Keahlian yang dipunyai bukan berarti tidak bermanfaat bagi penegakan hukum, melainkan sangat bermanfaat guna menegakkan kepastian hukum dan juga memunculkan keadilan. Namun, keadilan itu bersifat formal karena diperoleh atau dicari dengan menaati prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh hukum.

Hukum adalah undang-undang, merupakan pemaknaan hukum yang terlalu sempit, bahkan bisa merendahkan hukum itu sendiri. Jika memang hukum dimaknai sebagai undang-undang saja, maka tidak perlu bertahun-tahun belajar di fakultas hukum, cukup dengan mengikuti perkembangan undang-undang baru yang akan dibuat oleh lembaga legislatif dan kemudian membaca serta menghafalkannya, pasti akan menjadi pakar hukum yang terkenal.

Saat ini, hukum yang berkembang adalah hukum dari para professional. Jadi, seolah-olah hukum dikeluarkan untuk menjadi alat para profesional, bukan hukum

(48)

dikeluarkan untuk menjaga ketertiban. Jadi, ilmu hukum saat ini sudah melenceng jauh dari kodratnya, yaitu dari memberikan pengayoman kepada masyarakat menjadi memberikan pundi-pundi uang bagi para pekerja profesional. Hakim dalam aliran positivistik-legalistik hanya terpaku pada undang-undang belaka sehingga mengesampingkan dasar keyakinan hakim sebagai dasar untuk melakukan vonis. Padahal, untuk memberikan rasa yakin pada hati nurani hakim dibutuhkan penggalian-penggalian yang lebih mendalam lagi, bahkan bisa saja keluar dari peraturan-peraturan perundang-undangan. Jika memang peraturan perundang-undangan dirasa belum cukup memberikan keyakinan hakim, maka bisa keluar dari itu. Hal ini juga dilakukan seorang polisi yang mengatur lalu lintas yang padat dan macet. Untuk memberi kelancaran bagi pengguna jalan, seorang polisi bisa melakukan terobosan untuk melanggar perundang-undangan lalu lintas, karena mengabaikan lampu lalu lintas. Cara seperti itu dilaksanakan sebab bisa berguna bagi masyarakat banyak.

Mengulas lagi mengenai aliran positivistik-legalistik yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-19, aliran ini bisa besar karena memang mendapatkan dukungan dari kaum profesional. Jika dilihat secara kasat mata, aliran ini dirasa bisa dengan cepat dan praktis digunakan untuk memecahkan masalah. Akan tetapi, pada kenyataannya, permasalahan belum juga berakhir walaupun sudah ada vonis dari hakim.22 Seperti kasus yang dulunya sangat

22

Penggunaan sosiologi hukum memang sangat ampuh untuk

(49)

moncer, yaitu masalah pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Prita Mulyasari terhadap Rumah Sakit Omni International. Permasalahan tidak akan berlarut-larut dan menjadi terkenal apabila tidak dibawa ke lembaga yang berwenang, melainkan diselesaikan dengan tatap muka.

Pemikiran hukum yang terlalu kaku juga membuat para intelektual hukum merasa dirinya terpenjara dalam kekakuan hukum pada saat itu. Padahal zaman sudah berubah dan tentunya harus ada inovasi terhadap hukum itu sendiri. Tidak mungkin cara-cara lama bisa digunakan pada permasalahan yang baru muncul. Harus ada modifikasi dan pemikiran baru untuk menerapkan cara-cara tersebut.

Sekarang, sudah tidak mempan lagi seorang laki-laki ketika ingin mendapatkan wanita pujaannya hanya melakukan lobi-lobi cinta kepada orang tua wanita yang dia incar. Strategi seperti itu kurang bisa secara langsung mendapat targetnya jika tidak ada terobosan selain itu, seperti melakukan pendekatan kepada wanita incarannya itu sendiri.

Zaman dahulu mencari jodoh itu mudah: jika orang tua setuju, anaknya pasti ngikut. Namun, cara seperti itu tidak berlaku di zaman sekarang. Oleh karena itu, harus mempersiapkan banyak strategi. Begitu juga dengan ilmu hukum dalam mengatasi permasalahan yang selalu berkembang. Pada abad ke-18-19, mungkin, pemikiran normatif sangat ampuh diterapkan. Namun, bisa jadi hal itu

(50)

tidak mempan lagi jika diterapkan pada zaman sekarang karena semakin kompleksnya permasalahan. Untuk menjawab itu semua para penegak hukum dituntut untuk tidak mengandalkan teks-teks perundang-undangan semata, harus ada perkembangan terhadap ilmu pengetahuan yang akan digunakan.

Berbicara masalah perkembangan ilmu pengetahuan, tidak akan melupakan nama Thomas Kuhn, yang mengemukakan bahwa ilmu dari waktu ke waktu selalu mengalami revolusi dimulai dengan perubahan dalam paradigma yang digunakan. Contoh peristiwa besar mengenai revolusi ilmu, yaitu berakhirnya era Newton melalui suatu revolusi. Padahal, pada zaman itu, menurut fisika dan paradigma Newton yang baru, seluruh alam dianggap telah dapat dilihat dalam suatu susunan yang tertib. Tetapi era Newton bukan akhir segalanya. Alam masih menyimpan kompleksitas yang tidak dapat dijelaskan atau dijangkau oleh teori Newton.23

Memang pada waktu teori Newton dirasa tidak bisa menjawab persoalan fisika, muncullah teori kuantum yang pada kenyataannya lebih mampu menjawab persoalan-persoalan fisika yang sebelumnya tidak bisa dipecahkan. Kejadian tersebut memberi dampak pada dunia pemikiran mengenai realitas alam. Gambaran pergeseran dari teori Newton ke kuantum seolah-olah memosisikan ilmu pengetahuan dalam posisi yang selalu labil, karena akan terfalsifikasi oleh ilmu pengetahuan yang akan datang yang muncul akibat tuntutan zaman.

23

Satjipto Rahardjo,Merintis Visi Program Doktor Hukum Undip

(51)

Perselingkuhan Hukum dengan Ekonomi

Mencermati kondisi perkembangan ilmu pengetahuan seperti yang dijelaskan tadi, kemudian ditangkap dengan jeli oleh Satjipto Rahardjo yang memasukan ide-ide tersebut ke dalam ilmu hukum. Ketika pemikiran pada umumnya memosisikan hukum sebagai disiplin ilmu yang independen, tidak bisa dimasuki oleh disiplin ilmu lain, Satjipto berani memasukan antardisiplin ilmu ke dalam pembahasan ilmu hukum. Memang pada kenyataannya ilmu akan selalu berputar dan saling menyambung antara ilmu satu ke ilmu yang lain. Hal itu juga diamini oleh Wilson, yang berpendapat bahwa kemajuan sains merupakan awal untuk melajukan penyatuan (unifikasi) antara sains alam, sains sosial, dan sain kemanusiaan. Pencarian hubungan antardisiplin merupakan tugas penting, dan Wilson menghimpun beberapa disiplin secara luas dan anggun.24

Sebab ilmu hukum saat ini bukan hanya mengkaji mengenai masalah pencarian keadilan, sekarang posisi hukum juga dijadikan alat untuk melakukan perubahan sosial, seperti yang didermakan oleh Roscoe Pound. Di negara-negara modern, peranan hukum sangat penting untuk memberikan legitimasi bekerjanya negara. Dalam melaksanakan kinerjanya, aparat negara harus mempunyai payung hukum. Dalam situasi ini, hukum mempunyai peranan sebagai pencegah agar negara tidak terlalu otoriter terhadap masyarakatnya.

Namun, dalam pandangan kritis seperti yang diutarakan oleh Karl Marx, hukum merupakan tatanan peraturan untuk

24

Satjipto Rahardjo,Ilmu Hukum: Pencarian, Pembebasan, dan

(52)

kepentingan kelas yang berpunya dalam masyarakat.25 Derma Marx mungkin patut dibetulkan, karena bangunan hukum rawan dengan perselingkuhan dengan ekonomi yang cenderung kapitalistik. Golongan borjuis sudah sadar bahwa untuk melancarkan misinya dalam mengeksploitasi kekayaan alam demi kekayaan dirinya, mereka harus mempunyai landasan hukum supaya dianggap sah dan apabila ada perlawanan mereka bisa menunjukkan surat keterangan sahnya itu. Suap kepada aparat negara menjadi alat ampuh untuk memengaruhi kebijakan-kebijakan yang akan dikeluarkan agar memberikan keuntungan bagi golongan borjuis.

Kekuatan ekonomi yang dipunyai oleh kalangan borjuis jelas sangat ampuh untuk bisa memengaruhi kinerja birokasi atau penguasa setempat untuk memberikan kebijakan-kebijakan yang condong atau melanggengkan usahanya agar tidak tersaingi oleh kalangan kecil yang akan merintis usahanya. Hukum dijadikan penghambat bagi kalangan kecil yang ingin merintis usahanya.

Penelitian yang dilakukan oleh De Soto di Peru menemukan hasil bahwa untuk memulai usaha secara sah (legal) dibutuhkan biaya yang mahal. Inilah yang tidak bisa dijangkau oleh rakyat kecil, namun bisa dijangkau oleh kelas borjuis. Akhirnya, karena tidak bisa memenuhi biaya yang disyaratkan oleh hukum, mereka melakukan usaha secara ilegal dan apabila ketahuan oleh pemerintah mereka akan digusur dan dirampas dagangannya. Contoh ini memberi opini bahwa hukum sebagai alat penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya memang benar-benar terjadi.

25

(53)

Bagi penganut Marxis klasik, untuk melawan kezaliman semacam itu, harus dilakukan revolusi. Sebab, tidak ada celah lagi bagi kaum proletar untuk bisa membuat jalan atau berjuang untuk memperbaiki nasibnya secara legal: selamanya mereka akan menjadi kaum buruh di pabrik-pabrik kapital.

Di Indonesia, sudah bukan rahasia lagi bahwa produk hukum jika tidak ada yang mensponsori pembuatannya tidak akan pernah jadi walaupun rancangan undang-undang tersebut dinilai sangat urgen untuk masyarakat. Seperti permasalahan Konsep KUHP yang sudah bertahun-tahun tidak pernah disahkan oleh lembaga legislatif. Lembaga ini malah lebih senang mengeluarkan undang-undang yang berbau komersial dan politik. Hal itu disebabkan konsep KUHP bukanlah proyek yang menghasilkan uang untuk mereka.

Inilah menjadi bukti bahwa hukum tidak akan pernah terlepas dari nilai-nilai yang berada di luar hukum itu sendiri. Banyak faktor yang memengaruhi pembentukan hukum, dan saat bekerjanya hukum itu sendiri. Orang selalu sibuk dengan perdebatan mengenai penerapan pasal-pasal perundang-undangan, namun jarang membahas mengenai bekerjanya hukum. Wilayah ini merupakan ranah di mana ilmu sosiologi hukum menampakan dirinya.

(54)

sebagai pengayom masyarakat, karena dalam sosiologi memberikan pertanyaan kepada polisi: masyarakat yang mana yang akan diayomi. Banyak peritiwa yang terjadi seperti di Bima dan Mesuji, di dua daerah tersebut “seolah-olah” memberikan gambaran bahwa polisi melindungi kelas bojuis.

Padahal, di lembaga-lembaga hukum yang ada di negara ini, kepolisian merupakan lembaga yang paling memperlihatkan sifat sosiologisnya dalam bekerja. Hal itu disebabkan polisi mempunyai keterlibatan langsung dengan masyarakat secara intens.

Dalam masyarakat terdiri dari berbagai individu. Tetapi, masing-masing individu tidak bisa dikatakan langsung bisa bermasyarakat. Hal itu disebabkan ada juga individu yang tidak mempunyai rasa sosial. Oleh karena itu, untuk menggabungkan mereka dalam masyarakat dibutuhkan suatu tindakan yang bisa dikatakan sebagai pemaksaan untuk menjadikan individu tersebut bermasyarakat.

(55)

Bab II

(56)

Kapita Selekta Hukum Progresif:

Pada Mulanya adalah Koran

26

AP EDI ATMAJA

DULU, dulu sekali, saya benar-benar mengagumi (almarhum) Prof Dr Satjipto Rahardjo, SH. Sosok yang kemudian kita kenal sebagai Prof Tjip itu begitu melegenda di Fakultas Hukum, lalu Universitas Diponegoro, lalu Jawa Tengah. Belakangan, Prof Tjip ternyata—meminjam frasa Prof Arief Hidayat—“aset nasional”. Artinya, dia telah menjadi “kekayaan” bangsa Indonesia. Lebih belakangan lagi, saya semakin takjub, sebab Prof Tjip ternyata juga “aset internasional”: pendekar hukum Indonesia yang kepakarannya bahkan dikagumi (almarhum) Prof Daniel S Lev, Indonesianis terkemuka asal Amerika Serikat. Prof Lev, tutur Prof Tjip, suatu kali pernah berkata kepadanya, “Saya tidak bisa menulis lagi soal hukum Indonesia, karena tidak bisa mencium aromanya. Aroma itu saya baca dari tulisan-tulisan Anda.”27

Baik, itu dulu. Kini, kekaguman itu barangkali telah menghilang. Namun, hilangnya kekaguman itu bukan berarti

26

Karangan, yang merupakan ulasan dari bukuPenegakan Hukum Progresif(Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010), ini disampaikan dalam

jagonganrutin Kaum Tjipian pada 8 Oktober 2012 di Ruang C104, Gedung Magister Ilmu Hukum, Universitas Diponegoro.

27

Subur Tjahjono, “Satjipto, 33 Tahun Menulis Artikel”, dalam

(57)

buruk. Kini, seiring bertambahnya usia, semakin beragamnya bacaan yang mengenalkan saya pada pemikir-pemikir (hukum) lain di dunia, kekaguman saya kepada Prof Tjip berubah menjadi rasa hormat. Hormat pada perjuangan tak kenal lelah Prof Tjip dalam menyebarkan ilmu yang dipopulerkannya sebagai sosiologi hukum itu: ilmu yang mencoba mengawinkan hukum dengan kemasyarakatan, dus kemanusiaan. Pemikir hukum yang berjuang di jalan itu, sepengetahuan saya, bahkan di dunia, masih amat langka.28

Perjumpaan saya buat kali pertama dengan Prof Tjip terjadi dalam ruang kelas yang suntuk. Perkuliahan mahasiswa tingkat sarjana (S-1), kita tahu, demikian menjemukannya. Adalah sangat langka dosen yang mampu meramu kuliah yang dapat merangsang keingintahuan mahasiswa akan persoalan hukum kontemporer. Kuliah hukum lebih sering saya habiskan dengan melamun, paling sial tertidur. Ini, saya ketahui belakangan, ternyata pernah jadi sasaran kritik Prof Tjip.29

28

Segelintir yang bisa disebut antara lain Brian Z Tamanaha, Roberto M Unger, Paul Scholten, William J Chambliss, Robert D Seidman, Marc Galanter, Philippe Nonet, Philip Selznick, dan Talcott Parsons.

29

(58)

Dalam suasana hati yang sebal dengan suasana kuliah di kampus itulah saya mengenal Prof Tjip.

Malam-malam, di rumah, saya iseng baca-baca majalah usang koleksi bapak saya. Majalah Tempo edisi 15 Desember 1990. Baru sebentar membaca, di halaman 26, saya mendapati artikel, sebuah kolom, berjudul The Dirty Harry. Pengarangnya lamat-lamat saya ingat pernah disinggung dosen matakuliah Pengantar Ilmu Hukum tadi pagi. Sepertinya kenal, saya membatin. Saya teruskan membaca.

Luar biasa. Cara orang ini merangkai kata demikian ciamik-nya. Renyah. Esainya—berkisah tentang seorang polisi yang gandrung puisi—disajikan dengan manusiawi.So human. Tulisannya adalah sebentuk kritikan terhadap pemerintah Orde Baru yang waktu itu melarang pementasan penyair WS Rendra. Nama pengarang esai itu, tertera di bawah judul, tercetak tebal: Satjipto Rahardjo.

Sejak saat itu, saya memburu segala informasi tentang pria kelahiran Banyumas, 15 Desember 1930, itu. Dalam perburuan, saya menemukan bahwa nama Prof Tjip, dalam industri media cetak, rupanya bukanlah anak ingusan kemarin sore. Tulisan opininya mengenai persoalan hukum tersebar di mana-mana. Di harianKompas, misalnya, tulisan Prof Tjip mencapai angka ratusan. Belum diSuara Merdeka, Tempo, dan media lain yang belum lagi saya ketahui. Tentang “kegilaannya” itu, saya baca satu reportase tentang Prof Tjip, mengenang kepulangannya pada awal 2010 lalu:

(59)

Tjip membuktikan, ilmu hukum bukanlah ilmu yang kering dan tidak menarik. Hukum kalau ditulis dari sisi teknis memang tidak menarik, tetapi kalau dilihat dalam hubungan dengan masyarakatnya, hal itu tidak akan ada habis-habisnya. Berbagai macam ide segar menyangkut bidang yang ditekuninya itu ditumpahkannya pula dalam artikel-artikelnya.30

***

PADA mulanya adalah koran. Pengantar yang bernuansa sedikit curahan hati di atas tentu ada relevansinya dengan materi yang hendak saya bahas dalam kesempatan kali ini. Ya, pada mulanya adalah koran.

Buku bersampul warna cokelat berhias wajah Satjipto Rahardjo yang kita bedah dalam kesempatan kali ini bisa dikatakan adalah buku pertama Prof Tjip yang terbit setelah dia wafat. Mengapa pertama? Sebab, saya yakin, buku-buku lain akan lekas terbit kendati pengarangnya telah tiada. Pertama, karena nama Prof Tjip sebagai akademisi-cum-pengarang telah demikian masyhur sehingga buku-buku lamanya kemungkinan besar akan dicetak ulang dan bakal laris manis tanjung-kimpul.Kedua, karena kebanyakan buku Prof Tjip adalah kumpulan artikelnya di koran-koran.31 Padahal, kita tahu, artikelnya itu berjumlah ratusan, yang belum semuanya diterbitkan dalam bentuk buku.

Buku Penegakan Hukum Progresif ini—berisi artikel-artikel yang pernah dimuat di harianKompas—adalah buku

30

Subur Tjahjono,op. cit.

31Andreas Harsono punya sebutan jenaka untuk buku jenis ini, yaitu

(60)

Prof Tjip paling gres yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas. Sebelumnya telah terbit, antara lain, Sisi-sisi Lain dari Hukum di Indonesia (2003), Membedah Hukum Progresif (2006), Biarkan Hukum Mengalir (2007), dan Hukum dan Perilaku (2009). Menurut editornya, Aloysius Soni BL de Rosari, buku Penegakan Hukum Progresif ini adalah “kapita selekta Satjipto Rahardjo”, sebab isinya artikel pilihan dari buku-buku itu.32

Lantaran pada awalnya tidak ditujukan sebagai buku utuh (babon), buku ini lekat dengan pengulangan di sejumlah tempat. Apalagi mengingat bahwa ia juga merupakan “perulangan” dari buku-buku yang telah terbit sebelumnya. Sehingga, kadang cukup sulit bagi kita untuk tidak merasa “bosan” dengan pengulangan itu, alih-alih menjadi semakin terjelaskan. Namun, buku ini tetap kita anggap berharga untuk memahami sekaligus memetakan teori hukum progresif yang digagas Prof Tjip.

BukuPenegakan Hukum Progresif terbagi ke dalam lima bab. Kelima bab itu adalahApa dan Bagaimana Penegakan Hukum Progresif, Implementasi Penegakan Hukum Progresif di Indonesia, Penguasa dan Penegakan Hukum Progresif, Penegakan Hukum Progresif, dan Peran Masyarakat dalam Penegakan Hukum Progresif.

32

(61)

Dalam tulisan bertajuk “Di Luar Pengadilan”, Prof Tjip mengkaji soal penyelesaian perkara yang dapat dilakukan tanpa melalui mekanisme peradilan formal. Bagi para pemikir formal-legalistik, demikian Prof Tjip, penyelesaian perkara di luar pengadilan (out of court settlement) dianggap sebagai sesuatu yang aneh, tabu, dan luar biasa. Namun, bagi mereka yang melihat persoalan itu melalui optik sosiologi hukum, itu adalah hal yang biasa, lumrah adanya. Sebab, penganut sosiologi hukum mengutamakan fungsi, bukan bentuk seperti halnya pemikir formal-legalistik.

Tatkala hukum dibakukan dalam sebuah teks perundang-undangan, maka panggung hukum berganti menjadi panggung hukum tertulis. Hukum yang tertulis itu erat kaitannya dengan negara modern yang embrionya telah ada sejak abad ke-18.33 Sejak saat itu, seluruh institusi kemasyarakatan didominasi negara. Terjadilah hegemoni negara, mulai dari hukum negara, pengadilan negeri, undang-undang, dan seterusnya.

Padahal, menurut Prof Tjip, ketika hukum diundangkan dan dialih-bentuk menjadi teks (legislated law), bahasa (talig) memegang kendali. Saat itu, cara berhukum memasuki dimensi baru, yakni cara berhukum melalui skema—yang terdiri dari kalimat dan kata-kata. Kalimat dan kata-kata memiliki daya jangkau yang terbatas untuk mencerap realitas. Jadi, berhukum dengan skema melalui bahasa sejatinya tengah mereduksi makna hukum yang hakiki. Hukum pun lalu segera cacat kala dilahirkan, ketika diutarakan dalam kalimat dan kata-kata.

33

(62)

Sudah barang tentu ada yang tercecer di sana, dari hukum yang diformulasikan menjadi kalimat dan kata-kata itu. Prof Tjip memisalkan munculnya konsep “pencurian” dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Pencurian yang konon dalam masyarakat Jawa terdiri dari sepuluh macam, seperti maling, jambret, copet, ngutil, nggarong, dan seterusnya, dirumuskan kembali oleh KUHP menjadi “barangsiapa dengan sengaja mengambil barang milik orang lain”. Dan hukumannya juga disamaratakan: tidak lagi melihat kadar (kuantitas dan/atau kualitas) barang yang “dicuri”.

Lebih lanjut, Prof Tjip mengatakan, buat mengatasi keterceceran tadi, hukum mesti dipahami pula sebagai perilaku. Hukum adalah perilaku kita sendiri. Di sini, hukum yang oleh kaum positivis dilihat sebagai teks yang mengeliminasi faktor dan peran manusia dikoreksi besar-besaran dengan menempatkan manusia sebagai posisi sentral cara berhukum. Maka, konsep hukum yang telah mapan mesti diubah: bukan lagi semata aturan (rule), tetapi juga perilaku (behavior).

(63)

Ilmu yang berkembang sekarang ini, baik eksak maupun sosial, kata Prof Tjip, semakin mendewasa: tidak lagi berpikir secara hitam-putih, melainkan mengakui kompleksitas, ketidakpastian, kekelabuan, atawa relativitas. Era Newton, Descartes, dan Bacon di abad ke-17, yang sarat kepastian, rasionalitas, dan determinisme, sudah berlalu. Struktur dunia fisik tidak lagi mekanis-masinal ibarat mesin yang bekerja otomatis, melainkan sudah menjadi kenyataan yang non-mekanis. Ketertiban (order) tidak lagi berlawanan dengan kekacauan (chaos), tetapi berjalin kelindan dan sama-sama diperlukan. Hukum tidak pernah lagi otonom, melainkan senantiasa dipengaruhi oleh segala hal yang berada di dalam ataupun di luar dirinya.

Sebetulnya, cara berpikir yang mengakui kompleksitas dan relativitas telah jauh merasuk di lubuk hati bangsa-bangsa Timur. Namun, hal itu terpinggirkan oleh dominasi (peradaban) Barat, oleh arus dominan cara berpikir yang rasional-Cartesian dan eksperimental-Baconian. Ikon sains saat ini, yang mengedepankan relativisme dan ketidakpastian, sesungguhnya amat lazim di kalangan bangsa-bangsa Timur, yang memandang segala hal tidak dengan kecerdasan emosional, melainkan kecerdasan spiritual.

(64)

hanya kepastian, kemanfaatan, atau keadilan, melainkan juga kebahagiaan.

Prof Tjip meramalkan kebuntuan, kemacetan, kegagalan, dan akhirnya kematian hukum. Sebab hukum buntu, macet, gagal, lalu mati, menurut Prof Tjip, adalah ketidakmampuan hukum (yang diperlakukan) otonom untuk mengakomodasi perubahan sosial yang bergerak dinamis. Hukum terlalu berasyik-masyuk dengan diktum “hukum ada untuk hukum itu sendiri”, terjebak dalam urusan kepastian, sistem, dan logika peraturan yang tak bisa memberi respons yang baik atas problem sosial.

Buat mengatasi sekalian persoalan itu, Prof Tjip merumuskan semacam manifesto atau tesis tentang hukum yang mampu memerdekakan manusia—yang disebutnya dengan hukum progresif. Hukum progresif mengandung empat karakteristik utama.34 Pertama, paradigma hukum progresif adalah bahwa hukum adalah untuk manusia. Kedua, hukum progresif menolak untuk mempertahankan keadaanstatus quo (mapan) dalam berhukum.

Ketiga, jika diakui bahwa peradaban hukum tertulis akan memunculkan sekalian akibat dan risiko, maka cara kita berhukum sebaiknya juga mengantisipasi bagaimana mengatasi hambatan-hambatan dalam menggunakan hukum tertulis tersebut.Keempat, hukum progresif memberi perhatian besar terhadap peranan perilaku manusia dalam hukum. []

34

(65)

Dasar-dasar Hukum Progresif

35

BENNY KARYA LIMANTARA

PEMBENAHAN perundang-undangan bukannya tidak perlu, tetapi bukanlah satu-satunya cara. Di tengah kesibukan membenahi perundang-undangan, gerakan supremasi hukum ternyata kurang memberi hasil. Dunia dan kehidupan hukum kita masih berjalan di tempat dengan segala karut-marutnya. Lalu, di mana salahnya? Apanya yang salah?

Dari pengamatan terhadap praktik hukum selama ini tampak “intervensi perilaku” terhadap normativitas hukum. Orang membaca peraturan dan berpendapat bahwa orang harus bertindak semacam itu. Tetapi yang terjadi ternyata berbeda atau tidak persis seperti yang dimengerti orang. Inilah yang disebut sebagai intervensi perilaku. Kemudian, dibangun teori bahwa hukum bukan hanya urusan peraturan (a business of rules), tetapi juga perilaku (matter of behavior). Dalam suatu peraturan, misalnya, jelas tercantum secara limitatif bahwa yang boleh mengajukan peninjauan kembali (PK) terhadap perkara pidana adalah terpidana atau ahli warisnya. Tetapi, suatu kali jaksa pernah mengajukan PK dan diterima pengadilan. Jadi, perwujudan hukum PK telah diintervensi oleh perilaku jaksa.

35

(66)

Van Doorn, seorang sosiolog hukum, mengutarakan secara lain. Hukum yang merupakan skema yang dibuat untuk menata (perilaku) manusia itu sendiri ternyata cenderung terjatuh di luar skema yang diperuntukkan baginya. Ini disebabkan oleh faktor pengalaman, pendidikan, tradisi, dan lain-lain, yang memengaruhi dan membentuk perilakunya. Maka, dalam usaha untuk membenahi hukum di Indonesia, kita perlu menaruh perhatian yang saksama terhadap masalah perilaku bangsa. Kehidupan hukum tidak hanya menyangkut urusan teknis, seperti pendidikan hukum, tetapi juga menyangkut soal pendidikan dan pembinaan perilaku individu sosial yang lebih luas.

Referensi

Dokumen terkait

Bahan makanan berupa fruit leather merupakan salah satu jenis makanan sehat yang berbahan alami, kaya vitamin dan dapat dijadikan alternatif pangan olahan yang dibuat

Fakta diatas menunjukkan bahwa pemahaman ibu yang cukup merupakan suatu kemampuan dalam hal pemahaman rehidrasi oral pada balitadiare, ibu yang memiliki pemahaman cukup tentang

– Zat atau obat yg berasal dari tanaman a bukan tanaman, sintetis a semi sintetis yg dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi

jantung pada dinding dada.Batas bawahnya adalah garis yang menghubungkan sendi kostosternalis ke-6 dengan apeks jantung... FISIK DIAGNOSTIK JANTUNG DAN

Begitu pula dengan hasil observasi siswa menunjukkan adanya peningkatan pada tanggung jawab, kerjasama dan kedisiplinan saat pembelajaran dengan memperoleh nilai

Akankah esok kembali ,aku masih kau beri kehidupan yang berarti?. Wahai dunia dan

Saat ini kerap terjadi pelanggaran privasi di media sosial berbasis ojek online, timbulnya pelanggaran privasi pada ojek online ini karena aplikasi

Listwise deletion based on all variables in