• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN COPING STRESS PADA ANAK SULUNG DAN BUNGSU DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN COPING STRESS PADA ANAK SULUNG DAN BUNGSU DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Sejumlah ahli berpendapat masa anak merupakan masa terpanjang dalam rentang kehidupan, masa dimana terjadinya periode perkembangan dan pertumbuhan yang dimulai dari periode prenatal sampai remaja. Pada rentang perkembangan dan pertumbuhannya seorang anak akan melewati periode penting, berupa perkembangan kritis atau yang disebut juga golden age yang terjadi pada rentangan usia 0-4 tahun.

Pada masa prenatal sampai remaja, anak akan mengalami pertumbuhan sesuai dengan tahapan perkembangannya. Tahap-tahap perkembangan mencakup: (a) masa prenatal yang dimulai dari masa konsepsi sampai masa lahir; (b) masa bayi dan tatih dimulai saat usia 18 bulan pertama sampai umur 3 tahun; (c) masa kanak-kanak pertama dengan rentang usia 3-6 tahun, dikenal juga dengan masa pra sekolah; (d) masa kanak-kanak kedua merupakan masa sekolah dengan rentang usia 6-12 tahun; (e) masa remaja masa mencari identitas diri dengan rentang usia 12-18 tahun (Hawadi, 2001).

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, meliputi faktor heredokonstitusional seperti gen (DNA) dan lingkungan seperti faktor gizi, penyakit, keluarga, sosial ekonomi, pendidikan, budaya, agama dan lain-lain adalah hal-hal yang berkontribusi dalam membentuk kepribadian anak, baik secara positif atau sebaliknya (Hasan, 2005). Artinya, perkembangan motorik, kognitif dan afektif anak sangat dipengaruhi oleh perlakuan orang-orang terdekat, orang tua, pengasuhan dan lingkungan anak.

(2)

2

Sebaliknya, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang harmonis, penuh konflik, gap communication dan tidak menerapkan pola asuh yang baik, akan menjadikan anak memiliki perkembangan emosi yang terganggu (Rahardjo, 2006).

Brown (1961) mengatakan bahwa keluarga adalah lingkungan yang pertama kali menerima kehadiran anak. Orang tua mempunyai berbagai macam fungsi yang salah satu diantaranya ialah mengasuh putra-putrinya. Dalam mengasuh anaknya, orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada dilingkungannya. Disamping itu, orang tua juga diwarnai oleh sikap-sikap tertentu untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena orang tua mempunyai pola pengasuhan tertentu.

Keluarga merupakan lembaga pertama dan utama dalam kehidupan anak, tempat belajar, menyatakan diri sebagai makhluk sosial dan tempat pertama kali anak berinteraksi. Pengalaman berinteraksi di dalam keluarga akan menentukan pula pola perilaku anak tehadap orang lain dalam lingkungannya (Tarmudji, 2001).

Hurlock (2002), menyebutkan bahwa perkembangan emosi anak akan optimal jika orang tua dapat memberikan pengasuhan yang efektif. Pola asuh orang tua yang berkualitas, secara bertahap akan mendorong potensi anak menjadi pribadi yang memiliki kemampuan kecerdasan yang tinggi, pengendalian emosi yang baik dan spiritual yang tertata.

Dimana dalam hal ini peranan orang tua, ayah atau ibu mereka sebagai pengasuh dan pendidik memegang peranan yang dominan dalam hal membentuk kepribadian anak-anaknya. Selain itu orang tua juga menentukan kemana keluarga akan dibawa dan apa yang harus diberikan sebelum anak-anak dapat bertanggung jawab pada dirinya sendiri, ia masih tergantung dan sangat memerlukan bekal dari orang tua. Oleh karena itu anak tidak dapat dipisahkan dari keluarganya.

(3)

3

dan tantangan. Segala perlakuan orang tua yang berupa tindakan dan ucapan yang bertujuan untuk menumbuh kembangkan anak disebut pola asuh orang tua. Yusuf (2011) menambahkan, terdapat tiga pola asuh yang biasa diterapkan orang tua terhadap anak-anaknya yang memberikan dampak tersendiri terhadap perkembangan emosi dan kepribadian anak. Ketiga pola asuh tersebut diantaranya authoritarian, permissive dan authoritative.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) pada tahun 2005 menerima 700 kasus pengaduan kekerasan anak dan 138 kasus diantaranya terbukti orang tua melakukan tindak terhadap anak. Misalnya, kasus yang terjadi pada An. Y (3 tahun) dan An. K (11 Bulan) yang dibakar oleh ibunya sendiri Mrs.Y (29 tahun) dengan alasan beban ekonomi yang lama menghimpit keluarga, atau kasus yang terjadi pada An. W (9 tahun), yang tubuhnya terkelupas karena disetrika dan dipukul dengan tambang oleh ayahnya Mr.J, yang diduga mencuri uang seratus ribu rupiah miliknya. Bila perlakuan dan kondisi ini terus berlangsung pada setiap pola asuh orang tua terhadap anaknya, tidak menutup kemungkinan banyaknya anak Indonesia yang mengalami trauma hidup dengan membenci orang tua sebagai figure yang jahat dan kejam serta banyak ditemukan anak-anak Indonesia yang bermasalah secara fisik, mental, sosial, neuorosis, psikosis yang kerap menjadi beban bangsa (Hidayah, Maret 2006).

Cara terbaik untuk dapat mewujudkan kepribadian anak yang konstruktif, menurut Baumrind (dalam Santrock, 2002) hendaknya para orang tua tidak menghukum atau mengucilkan anak, tetapi menggantinya dengan mengembangkan aturan-aturan bagi anak dan mencurahkan kasih sayang yang tulus. Orang tua harus menjadi lebih sabar dan tenang ketika mendisiplinkan anak untuk hal-hal tertentu.

(4)

4

negatif. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa memperhatikan stresor atau penyebab (Isaacs, dalam Sriati, 2008).

Stress merupakan reaksi atau respons tubuh terhadap stresor psikososial

(tekanan mental atau beban kehidupan). Stress dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai, berupa respons fisiologis, perilaku dan subjektif terhadap stress (WHO, dalam Sriati, 2008).

Menurut Alvin (dalam Pranadji & Nurlela, 2009), anak-anak masa kini menghadapi apa yang seharusnya menjadi masalah orang dewasa lebih dini dalam kehidupannya. Tidak seperti anak-anak di generasi lalu yang memiliki banyak waktu untuk bermain bersama dengan teman-temannya. Hasil penelitian, sekitar 60% anak-anak di Jabotabek dan beberapa kota besar lebih banyak menghabiskan waktunya mengikuti kegiatan les sepulang sekolah.

Fenomena menarik yang sekarang perlu diamati adalah semakin mudanya usia pada penderita stress. Jika beberapa tahun lalu, stress lebih banyak dialami oleh usia produktif di atas 20 tahun, kini stress banyak diderita oleh anak sampai usia remaja. Bahkan dalam beberapa kasus, anak-anak banyak diperkirakan telah mengalami stress. Yang berhubungan dengan fenomena tersebut, seperti pengasuhan orang tua dan traumatis anak. Sehingga, menimbulkan cara untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap masalah dan tekanan yang menimpa anak. Usaha-usaha tersebut disebut sebagai perilaku coping yang dilakukan individu untuk menyeimbangkan emosi dalam situasi yang penuh tekanan (Solomon, dalam Milyawati & Hastuti, 2009).

Coping dilakukan untuk memberikan reaksi terhadap tekanan yang berfungsi

(5)

5

menghindarkannya dari berbagai tindakan maladaptif akibat stressor pada individu.

Menurut Corey (1995) urutan kelahiran dan interpretasi terhadap posisi seseorang dalam keluarga berpengaruh terhadap cara seseorang berinteraksi akibat situasi psikologis yang berbeda pada urutan kelahiran tersebut. Adapun urutan kelahiran yang diidentifikasikan oleh Adler adalah anak tunggal, anak sulung, anak tengah dan anak bungsu. Dengan memahami konsep teori Adler tersebut, dimungkinkan bahwa terdapat perbedaan tentang cara individu beradaptasi terhadap stressor yang dihadapi.

Kemandirian dan cara individu mengadaptasi stress juga muncul karena adanya perbedaan cara hidup yang dimiliki dan urutan kelahirannya. Selain membentuk karakter tertentu, urutan kelahiran juga memunculkan sindrom tertentu. Hurlock (2002) mengemukakan terdapat beberapa perbedaan sindrom antara anak sulung dan anak bungsu. Anak sulung cenderung bersikap bergantung, mudah dipengaruhi dan manja, sedangkan anak bungsu lebih manja, merasa tidak mampu atau rendah diri serta tidak bertanggung jawab.

Mengingat perbedaan-perbedaan dalam dinamika keluarga yang terlihat dengan urutan kelahiran, tidak mengherankan bahwa anak-anak yang lahir duluan dan yang lahir belakangan memiliki karakteristik yang berbeda. Anak-anak yang lahir duluan lebih berorientasi dewasa, suka menolong, dapat menyesuaikan diri, cemas dan dapat mengendalikan diri dibandingkan saudara-saudaranya yang lahir kemudian. Orang tua memberi lebih banyak perhatian kepada anak-anak yang lahir duluan dan ini berkaitan dengan perilaku pengasuhan anak-anak yang lahir duluan. Tetapi beberapa tekanan yang sama yang dikenakan kepada anak-anak yang lahir duluan dari pada yang lahir kemudian untuk berprestasi tinggi dapat menjadi sebab mengapa mereka juga memiliki rasa bersalah yang tinggi, cemas, sulit mengatasi situasi yang tidak menyenangkan dan lebih sering masuk klinik-klinik bimbingan anak (Santrock, 2002).

(6)

6

kekuasaan dan kekayaan, selain itu anak pertama juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi adik-adiknya. Kondisi ini juga berdampak pada cara orang tua melakukan jalan keluar atau coping stress pada anak-anaknya (Hurlock, 2002).

Hasil penelitian Hamid (2004) menunjukkan bahwa orang tua cenderung memperlihatkan perasaan marah, sedikit menekan dan melakukan nasihat yang cukup panjang pada anak sulung ketika mengalami stress. Sebaliknya orang tua cenderung menasehati ringan dan penuh hati-hati dalam memperlakukan pada anak bungsunya, di samping anggapan bahwa anak bungsu adalah anak lemah dan perlu diberikan perhatian lebih. Akibatnya, anak akan mencari cara tersendiri untuk menghadapi stress yang datang.

Hasil penelitian Susonti dan Nathalina (2009), menemukan bahwa urutan kelahiran, pola asuh orang tua, keterlibatan dan tanggung jawab yang diberikan orang tua terhadap anak, mempengaruhinya dalam memilih perilaku coping tertentu, seperti emotion focused coping dengan self-control, positive reappraisal dengan problem focused coping dan plan problem solving dengan social support. Dan social support merupakan perilaku coping yang dapat mendukung anak untuk meminimalisir stress sehingga subjek dapat berkembang lebih baik dan memiliki gambaran diri yang positif.

Berdasarkan fenomena di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini lebih jauh dan berfokus “Adakah perbedaan coping stress pada anak sulung dan bungsu ditinjau dari pola asuh orang tua”.

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini: Adakah perbedaan coping stress pada anak sulung dan bungsu ditinjau dari pola asuh orang tua?

C.Tujuan Penelitian

(7)

7

D.Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmiah dan psikologis, khususnya dalam disiplin psikologi perkembangan dan anak.

2. Manfaat Praktis

(8)

i

PERBEDAAN COPING STRESS PADA ANAK SULUNG DAN BUNGSU DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA

SKRIPSI

Oleh : Yeni Mahdalina

07810025

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(9)

ii

PERBEDAAN COPING STRESS PADA ANAK SULUNG DAN BUNGSU DITINJAU DARI POLA ASUH ORANG TUA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu persyaratan untuk Memperoleh

Gelar Sarjana Psikologi

Oleh : Yeni Mahdalina

07810025

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(10)
(11)
(12)
(13)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Perbedaan Coping Stress Pada Anak Sulung dan Bungsu Ditinjau dari Pola Asuh Orang Tua”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Drs. Tulus Winarsunu, M. Si, selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

2. Diah Karmiyati, Dr. M. Si dan Lindayani Pusfiyaningsih, S. Psi., M. Si selaku Pembimbing I dan Pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan arahan yang sangat berguna, hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Dra. Cahyaning Suryaningrum, M. Si selaku dosen wali yang telah mendukung dan memberi pengarahan sejak awal perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.

4. Kepala kelurahan Tompokersan Lumajang-Kabupaten Lumajang dan kepala kelurahan Merjosari-Kabupaten Malang yang telah memberikan ijin dan fasilitas bagi penulis untuk melakukan penelitian.

5. Warga Tompokersan dan Merjosari atas kerjasamanya yang telah mengisi skala dalam penelitian ini.

6. Ayah dan ibu yang selalu memberi dukungan, doa dan kasih sayang sehingga penulis memiliki motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.

(14)

ii

kesabaran, bantuan, dan dukungan yang selalu memberikan perhatian mendengarkan keluh kesah disaat Yeni bingung dan frustasi.

8. Seluruh Dosen Fakultas Psikologi yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis dan segenap Staf Tata Usaha atas segala bantuannya selama ini.

9. Teman-teman Angkatan 2007 khususnya Kelas A yang selalu memberikan semangat sehingga penulis terdorong untuk menyelesaikan skripsi ini.

10.Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah banyak memberikan bantuan pada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari tiada satupun karya manusia yang sempurna, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini sangat penulis harapkan. Meski demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.

Malang, 6 Januari 2012 Penulis

(15)

iii INTISARI

Yeni Mahdalina. (2012). Perbedaan Coping Stress pada Anak Sulung dan Bungsu Ditinjau dari Pola Asuh Orang Tua. Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Pembimbing : (1) Diah Karmiyati, Dr. M.Si. (2) Lindayani Pusfiyaningsih, S.Psi. M.Si.

Kata kunci: Coping Stress, Anak Sulung dan Bungsu, Pola Asuh Orang Tua Coping stress dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan individu maupun kelompok individu baik secara kognisi maupun perilaku, untuk mengurangi suatu kejadian yang penuh tekanan, yang muncul baik dari dalam diri maupun dari lingkungan. Dalam mengasuh dan membesarkan anak-anaknya, orang tua cenderung menggunakan pola asuh yang berbeda dan secara langsung anak sulung dan bungsu memiliki coping stress tertentu. Setiap pola asuh coping yang dilakukan juga memiliki karakteristik tertentu yang disesuaikan dengan kondisi anak.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang menekankan analisisnya pada data-data numerical (angka) yang diolah dengan metode statistika. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak sulung dan bungsu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak sulung dan bungsu di Kelurahan Merjosari Malang yang berjumlah 216 orang, adapun jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak 77 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan teknik statistik.

Berdasarkan hasil penelitian menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan (0,020<0,05%) dan (0,014<0,05%) coping stress pada anak sulung dan bungsu ditinjau dari pola asuh orang tua. Artinya bahwa dari hasil analisis chi-square ada perbedaan antara urutan kelahiran dan pola asuh orang tua terhadap coping stress, hubungan dari ke tiga variabel.

(16)

iv ABSTRACT

Yeni Mahdalina. (2012). The difference of Coping Stress on the firstborn and the youngest children reviewed from the parenting. Thesis, Faculty of Psychology University of Muhammadiyah Malang. Advisors: (1) Diah Karmiyati, Dr. M.Si. (2) Lindayani Pusfiyaningsih, S.Psi. M.Si.

Key words: Coping Stress, the firstborn and the youngest, parenting

Coping stress can be regarded as the action conducted by individual or a group of individual whether it is cognitively or even in behavioral, to lessen an occurrence with hard pressure that appears inside or even from environment. In bringing up and raising children, parents tend to use different parenting and directly, the firstborn and the youngest have such coping stress. Each parenting of coping conducted also has such characteristic that is adjusted with the condition of children.

This study is quantitative study in which it emphasizes its analysis on numerical data that is analyzed by using statistical method. Subject of this study is the firstborn and the youngest children. Population of this study is all the firstborn and the youngest children in Merjosari, Malang; they are 216 children; the number of subject in this study is 77 children. Data collection method used in this study is scale. Data analysis used in this study is statistical technique.

Based on the result of study, it shows that there is any significant difference (0,020<0,05%) and (0,014<0,05%) of coping stress on the firstborn and the youngest children reviewed from their parents’ parenting. It means that from the result of chi-square analysis, there is any difference between the number of birth and parents’ parenting toward coping stress, the correlation among thre variables.

(17)

v

E. Dinamika Perbedaan Coping Stress Pada Anak Sulung Dan Bungsu Ditinjau Dari Pola Asuh Orang Tua ... 33

F. Kerangka Pemikiran ... 38

G. Hipotesis ... 39

BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 40

B. Variabel Penelitian ... 40

1. Identifikasi variabel penelitian ... 40

(18)

vi

C. Populasi dan Sampel ... 43

D. Jenis Data dan Metode Penelitian ... 44

1. Jenis data ... 44

2. Metode pengumpulan data ... 44

E. Validitas dan Reliabilitas ... 49

F. Prosedur Penelitian ... 56

G. Teknik Analisis Data ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi data ... 58

B. Analisa Data ... 61

C. Pembahasan ... 61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 69

B. Saran-saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

(19)

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Ciri Kepribadian Menurut Urutan Kelahiran ... 24

Tabel 3.1 : Blue Print Skala Coping Stress ... 46

Tabel 3.2 : Blue Print Skala Pola Asuh Orang Tua ... 48

Tabel 3.3 : Sebaran Butir Valid Skala Coping Stress Try Out ... 51

Tabel 3.4 : Blue Print Coping Stress Setelah Uji Validitas ... 52

Tabel 3.5 : Hasil Uji Validitas Item Pola Asuh Orang Tua Try Out ... 53

Tabel 3.6 : Blue Print Pola Asuh Orang Tua Setelah Uji Validitas ... 53

Tabel 3.7 : Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Skala Coping Stress Try Out ... 54

Tabel 3.8 : Rangkuman Hasil Uji Reliabilitas Skala Pola Asuh Orang Tua Try Out ... 55

Tabel 3.9 : Rangkuman Skala Coping Stress Setelah Uji Reliabilitas .. 55

Tabel 3.10 : Rangkuman Skala Pola Asuh Orang Tua Uji Reliabilitas .. 56

Tabel 3.11 : Analisis Varian Satu Jalur ... 58

Tabel 4.1 : Usia Anak Sulung dan Bungsu ... 59

Tabel 4.2 : Jenis Kelamin Anak Sulung dan Bungsu ... 60

Tabel 4.3 : Pendidikan Anak Sulung dan Bungsu ... 60

Tabel 4.4 : Urutan Kelahiran ... 61

Tabel 4.5 : Pola Asuh Orang Tua ... 61

Tabel 4.6 : Coping Stress ... 62

(20)

viii

DAFTAR GAMBAR

(21)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala pola asuh try out ... 76

Lampiran 2 Skala pola asuh gugur ... 83

Lampiran 3 Data uji coba pola asuh try out ... 84

Lampiran 4 Reliability pola asuh try out ... 86

Lampiran 5 Skala coping stress try out ... 95

Lampiran 6 Skala coping stress yang gugur ... 102

Lampiran 7 Data uji coba coping stress try out ... 103

Lampiran 8 Reliability coping stress try out... 106

Lampiran 9 Skala pola asuh penelitian ... 124

Lampiran 10 Skala coping stress penelitian ... 129

Lampiran 11 Hasil penelitian ... 133

Lampiran 12 Surat keterangan try out ... 141

Lampiran 13 Absensi responden try out ... 142

Lampiran 14 Surat keterangan penelitian ... 143

(22)

x

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. (2007). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Aswi. (2008). 50 Cara Mengatasi Stres. Jakarta: Hi-Fesh Publishing.

Atkinson, R. (1998). Pengantar Psikologi. (Edisi Ke-11 Jilid 2). Batam: Interaksara.

Azwar, S. (2001). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _______. (2008). Dasar-Dasar Psikometri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _______. (2010). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. _______. (2010). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Balson. (1993). Bagaimana Menjadi Orang Tua yang Baik. Jakarta: Bumi Aksara Bonner, H. (1953). Social Psychology. New York: American Book Company. Chaplin, J. P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers.

Corey, G. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Semarang: IKIP Semarang Press.

Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Davison, G. C., Neale, M. J., & Kring, M. A. (2006). Psikologi Abnormal (Edisi

ke-9). Jakarta: Rajawali Pers.

Gerungan, A. W. (2000). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.

Goleman, D. (2002). Emotional Intelligence (terjemahan). Jakata: Gramedia Pustaka Utama.

Gurung, R. A. R. (2006). Health Psychology (A Cultural Approach). Thomson Wadsworth: University of Wisconsin, Green Bay.

Gustiarti, Leila. (2010) Stres dan Kepuasan Kerja. Sumatera Utara: Fakultas Kedokteran Program Studi Psikologi Universitas Sumatera Utara.

(23)

xi

Hamid, S. Y. (2004). Komunikasi Terapeutik Teori & Praktek. Jakarta: EGC. Hawadi, R. A. (2001). Psikologi Perkembangan Anak Mengenal Sifat, Bakat dan

Kemampuan Anak. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Hidayah, Rifa. (2006). Psikologi Pengasuhan Anak. Malang: UIN Malang Press. Hidayat, R. D. (2009). Pengantar Psikologi untuk Tenaga Kesehatan Ilmu

Perilaku Manusia. Jakarta: Trans Info Media.

Huffman, K., Vernoy, M., & Vernoy, J. (1997). Psychology In Action (forth edition). Canada: John Wiley and Sons, Inc.

Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

___________. (2002). Psikologi Perkembangan:Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Lahey, B. B.(2004). Psychology an Introduction (Eighth Edition). New York: Companies Inc.

Lau, P., & Wong, R. 2006. Risks and complications in orthodontic treatment. Hong Kong Dental Journal, 2006: edisi ke-3, hlm. 15-22.

Lazarus, R & Folkman, S. (2003). Stress Appraisal & Coping. New York: Publishing Company.

Maramis, F. W. (2005). Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya: Airlangga University Press.

Mas’ud. (1999). Persepsi Kortek Otak Manusia. Malang: Unibraw.

Milyawati, L., & Hastuti, D. (2009). Dukungan Keluarga, Pengetahuan dan Persepsi Ibu serta Hubungannya Dengan Strategi Koping Ibu Pada Anak Dengan Gangguan Autism Spectrum Disorder (ASD). Jurnal Ilmiah Keluarga dan Konseling, p: 137-142 Vol. 2, No.2 ISSN: 1907-6037.

Muslifar, R. (2008). Stress dan Strategi Coping.Diakses 12 Juli 2011 http://www.blogger.com.

Mu’tadin, Z. (2002). Kemandirian sebagai Kebutuhan Psikologis Pada Remaja. Diakses 28 Mei 2011 http://www.e-psikologi.com/remaja.htm[on-line] Nathalina, D & Susonti. (2009). Gambaran Stres dan Coping Remaja Putri Yang

(24)

xii

Papalia, E. D., Olds, W. S., & Feldman, R. D. (2009). Human development (Perkembangan Manusia). Jakarta: Salemba Humanika.

Poerwanti & Nurwidodo. (2009). Perkembangan Perserta Didik. Malang : UMM Pranadji, D. K,. & Nurlaela. (2009). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat

Stres pada Anak Usia Sekolah Dasar yang Sibuk dan Tidak Sibuk. Bogor: Jurnal Ilmu Keperawatan, Keluarga dan Konseling, p: 57-63 Vol. 2, No.1 ISSN: 1907-6037.

Rahardjo, B. (2006). Pendidikan Usia Dini Masih Eksklusif Peranan Keluarga Mendidik Anak Usia Dini. Kaltim Post Allright Reserved.

Santrock, J. W. (2002). Life Span Development. Jakarta: Erlangga.

Safaria, T., & Saputra, N. E. (2005). Autism, Pemahaman Baru Untuk Hidup Bermakna Bagi Orang Tua. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Simandjuntak, B., & Pasaribu, L. (1984). Pengantar Psikologi Perkembangan. Bandung: Tarsito.

Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: Grasindo. Sobur, A. (1986). Anak Masa Depan. Bandung: Angkasa.

Sriati, A. (2008). Tinjauan Tentang Stress. Jatinagor: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran.

Sujanto, A., Lubis, H., & Hadi. (2009). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara.

Tarmudji, T. (2001). Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Agresifitas Remaja. Semarang: Jurnal UNS.

Taylor, S. E. (2003). Health Psychology (Fifth Edition). New York: MCGRAW. HILL.

Winarsunu, T. (2002). Statistik Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang: UMM Press.

Wiramihardja, A. S. (2005). Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Refika Aditama.

Referensi

Dokumen terkait

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyeleseikan skripsi dengan judul “Peran

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum (skripsi)

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Hubungan

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga penulis dapat menyelesaikan

Puji syukur alhamdulilah penulis panjatkan kehadirat allah SWT atas segala limpahan rahmat, karunia, dan hidayah–Nya atas terselesaikannya skripsi yang berjudul “Hubungan

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-NYA sehingga penulis dapat menyelesaikan SKRIPSI