PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK
TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
(Studi Quasi Eksperimen di SMPN 48 Jakarta)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Disusun Oleh:
DINI RAHMAWATI
105016300581
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ABSTRACT
Dini Rahmawati, "The influence of Project-Based Learning Model to the Student Physics Achievement.", Physics education Studies Program, Departement of Natural Science Education, Faculty of Tarbiya’ and Teacher Training, State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.
The aims of this research was to determine the influence of project-based learning model to the student physic achievement. This research has been done at SMPN 48 Jakarta, on March-April 2010. The method in the this research is quasi-experiment. We used sample divided into experiment and control classes. Experiment class used multiple choice test instrument (0-1 score), with 20 question and 4 alternative answers.The results of this research are tasted through a statistical tes of “t”. Based on calculations obtained for tcount value was 2.79 greater than 2.00 at ttable level L = 0.05 of significance. It can be concluded that Ha stating that there is influence between project based-learning to the student physic achievement. It means that alternative hypothesis (Ha).
ABSTRAK
Dini Rahmawati, “Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa”. Skripsi, Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil belajar fisika siswa. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Maret–April 2010 di SMPN 48 Jakarta. Metode Penelitian yang digunakan adalah Kuasi-Eksperimen. Sampel diambil dua kelas, menggunakan cluster samplingdan dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes pilihan ganda dengan skor 0-1 sebanyak 20 soal dan 4 pilihan jawaban. Hasil penelitian ini diuji dengan melalui statistik uji “t”. Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai t hitung sebesar 2,79 ternyata lebih besar dari t tabel sebesar 2.00 pada taraf signifikasi L= 0,05. Sehingga Hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan terdapat pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil belajar fisika siswa diterima.
i
KATA PENGANTAR
Tiada kata yang pantas terucap selain syukur hanyalah untuk Allah SWT
yang telah banyak mengaruniai penulis dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga dapat terselesaikan skripsi dengan judul “ Pengaruh Model Pembelajaran
Berbasis Proyek terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa. Tak lupa shalawat beserta
salam tercurah kepada Rasulullah SAW, sang pembuka gerbang gelap jahiliahan
menuju jalan yang penuh cahaya dengan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak sedikit kesulitan
dan hambatan yang dihadapi selama penulisan skripsi ini. Namun, atas bimbingan
dan motivasi dari berbagai pihak penulis menyadari bahwa keberhasilan dan
kesempurnaan merupakan sebuah proses yang harus dijalani. Oleh sebab itu, pada
kesempatan ini tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, diantaranya:
1. Bapak Prof Dr. Dede Rosyada, M.A., Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc., Ketua Jurusan Pendidikan IPA.
3. Bapak Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd, pembimbing I dan Ibu Diah Mulhayatiah,
M.Pd., pembimbing II yang penuh kesabaran dan keikhlasan dalam
membimbing penulis selama ini.
4. Seluruh dosen Jurusan IPA yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan
serta bimbingan kepada penulis selama mengikuti perkuliahan, semoga ilmu
yang telah Bapak dan Ibu berikan mendapat keberkahan dari Allah SWT.
5. Kepala Sekolah, Guru, dan Staf di SMP Negeri 48 Jakarta yang telah
memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian.
6. Teristimewa untuk kedua orang tua saya Lukman Hadi Purnomo dan Tutun
Hasanah yang telah memberikan segalanya kepada penulis baik moril maupun
materil serta curahan kasih sayang yang tiada henti sehingga penulis dapat
menyelesaikan studi ini. Hanya Allah SWT yang dapat membalasnya, semoga
ii
7. Saudara-saudaraku, aa dan ade yang selalu memberikan motivasi kepada
penulis.
8. Teman-teman VDA (Vian,Dian,Ari, Arum, Ana, Ela) dan teman-temanku di
kelas IPA Fisika angkatan 2005, yang tidak bisa penulis sebutkan namanya
satu persatu, terimakasih atas persahabatan dan dukungannya, semoga kita
kompak selalu
9. Yang jauh disana, Mas Lilik Hernawan, terimakasih dukungannya selama ini.
10. Teman seperjuangan, Dian, Sunarto, Sulaeman, terimakasih dukungannya.
Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya tiada untaian kata yang berharga kecuali ucapan
Alhamdulillahirabbil’alaminatas rahmat, karunia, dan ridha-Nya. Semoga skripsi ini bermanfaat khusunya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Amiin.
Jakarta, Mei 2011
iii DAFTAR ISI
Kata Pengantar ………... i
Daftar Isi ……… iii
Daftar Tabel ………... vi
Daftar Gambar ………... vii
Daftar Lampiran ……… viii
BAB I PENDAHULUAN………. 1
A. Latar BelakangMasalah………. 1
B. Identifikasi Masalah………... 3
C. Pembatasan Masalah……….. 4
D. Perumusan Masalah……… 4
E. Tujuan Penelitian ………... 4
F. Manfaat Penelitian ………. 4
BAB II DESKRIPSI TEORETIK, KERANGKA PIKIR DAN PENGUJIAN HIPOTESIS………... 6
A. Deskripsi Teoretik...……….. 6
1. Konstruktivisme…………. ………... 6
2. Model Pembelajaran Berbasis Proyek……….. 9
a. Definisi Pembelajaran Berbasis Proyek ………... 9
b. Landasan Teori Pembelajaran Berbasis Proyek ………… 12
c. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek ……… 13
d. Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek ………. 15
e. Peranan Pengajar dalam Pembelajaran Berbasis Proyek .. 21
f. Kelebihan Model Pembelajaran Berbasis Proyek ………. 20
g. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek ………. 22
h. Perbedaan Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Pembelajaran Konvensional ………... 24
3.Hakikat Hasil Belajar Fisika ……….. 24
a. Hakikat Belajar………. 26
iv
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar……….. 28
d. Pengertian Hasil Belajar Fisika……….. 31
4.Hakikat Bunyi………. 31
a. Pengertian Bunyi………... 31
b. Sifat-sifat Bunyi………... 32
c. Cepat Rambat Bunyi……… ……… 32
d. Pengaruh Suhu Terhadap Cepat Rambat Bunyi…………. 32
e. Perambatan Bunyi Pada Berbagai Zat……… 33
f. Jenis-jenis Bunyi………. 33
g. Resonansi Bunyi……… 34
h. ManfaatPemantulan Bunyi……… 35
B. Penelitian yang Relevan………... 35
C. Kerangka Pikir……… 38
D. Pengajuan Hipotesis ……….. 40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN………. 41
A. Waktu dan Tempat Penelitian………... 41
B. Metode Penelitian……….. 41
C. Populasi dan Sampel………. 42
D. Variabel Penelitian……… 42
E. Prosedur Penelitian……… 43
F. Instrumen Penelitian……….. 44
G. Teknik Analis Data……… 49
H. Hipotesis Statistik……….. 52
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………. 53
A. Deskripsi Data………... 53
B. Teknik Analis Data……… 58
C. Pembahasan………... 61
D. Keterbatasan Penelitian………. 63
BAB V PENUTUP………….………. 64
A. Kesimpulan ………. ……….. 64
v
DAFTAR PUSTAKA……….. 66
vi DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Desain Penelitian……….. 41
Tabel 3.2Klasifikasi Tingkat Kesukaran………. 45
Tabel 3.3 Klasifikasi Daya Beda………. 48
Tabel 3.4 Klasifikasi N-Gain……….. 52
Tabel 4.1 Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data HasilPretest………. 53
Tabel 4.2 Ukuran Pemusatan dan Penyebaran Data HasilPosttest…………... 55
Tabel 4.3 Data Mean N-Gain Kelompok Kontrol dan Eksperimen…………... 56
Tabel 4.4 Kategori Nilai N-Gain Kelompok Kontrol dan Eksperimen……….. 57
Tabel 4.5 Uji Normalitas HasilPretest……….. 58
Tabel 4.6 Uji Normalitas HasilPosttest………. 58
Tabel 4.7 Perhitungan Uji Homogenitas HasilPretest……….. 59
Tabel 4.8 Perhitungan Uji Homogenitas HasilPosttest………. 59
vii
DAFTAR GAMBAR
viii
DAFTAR LAMPIRAN
A. Instrumen Penelitian dan Uji Coba Instrumen penelitian
A.1 Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar………. 68
A.2 Soal Uji Coba Instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar……….. 83
A.3 Kunci Jawaban Soal Uji Coba Instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar. 92 A.4Validitas Instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar………... 93
A.5 Realibilitas Instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar………... 94
A.6Tingkat Kesukaran Instrumen penelitian Tes Hasil Belajar…………... 97
A.7Distribusi Daya Pembeda Instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar……. 98
A.8Rekapitulasi Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar…. 99 A.9 Soal instrumen Penelitian Tes Hasil Belajar yang Dipakai dalam Penelitian……… 100
A.10 Kunci Jawaban Soal Penelitian Tes Hasil Belajar……….... 105
B. Perangkat Pembelajaran B.1 RPP Kelompok Eksperimen……… 106
a. RPPPertemuan Pertama………. 106
b. RPP Pertemuan Kedua………... 109
c. RPP Pertemuan Ketiga………... 112
d. RPP Pertemuan Keempat………... 115
B.2 RPP Kelompok Kontrol……….. 118
a. RPP Pertemuan Pertama………. 118
b. RPP Pertemuan Kedua………... 121
c. RPP Pertemuan Ketiga………... 123
d. RPP Pertemuan Keempat………... 125
B.3 Lembar Kerja Siswa a. LKS Pertemuan Pertama……… 126
a. LKS Pertemuan Kedua……….. 127
b. LKS Pertemuan ketiga………... 129
ix C. Uji Analisis Data
C.1 Hasil PenelitianPretestKelompok Kontrol dan Eksperimen…………. 133 a. Data Hasil PenelitianSkor PretestKelompok Kontrol……….. 133 b. Tahapan pembuatan Tabel Distribusi FrekuensiPretestKelompok
Kontrol………... 134
c. Persiapan Uji Normalitas dan Uji HomogenitasPretestKelompok
Kontrol………... 135
d. Tabel Perhitungan Uji NormalitasPretestKelompok Kontrol…….. 136 e. Langkah Perhitungan Uji Normalitas LilieforsPretestKelompok
Kontrol………... 137
f. Data Hasil Penelitian SkorPretestKelompok Eksperimen………… 138 g. Tahapan Pembuatan Tabel Distribusi FrekuensiPretestKelompok
Eksperimen……… 139
h. Persiapan Uji Normalitas dan Uji HomogenitasPretestKelompok
Eksperimen……… 140
i. Tabel Perhitungan Uji NormalitasPretestKelompok Eksperimen… 141 j. Langkah Perhitungan Uji Normalitas LilieforsPretestKelompok
Eksperimen……… 142
k. Uji HomogenitasPretest……… 143 l. Perhitungan dan Pengujian Hipotesis Uji-tPretest………. 144 C.2 Hasil PenelitianPosttestKelompok Kontrol dan Eksperimen
a. Data Hasil Penelitian SkorPosttest kelompok Kontrol………. 145 b. Tahapan Pembuatan Tabel Distribusi FrekuensiPosttestKelompok
Kontrol………. 146
c. Persiapan Uji Normalitas dan UJi HomogenitasPosttestKelompok
Kontrol………... 147
d. Tabel Perhitungan Uji Normalitas dan Uji HomogenitasPosttest
Kelompok Kontrol………... 148
e. Langkah Perhitungan Uji Normalitas Liliefors Posttest Kelompok
Kontrol………. 149
x
g. Tahapan Pembuatan Tabel Distribusi Frekuensi Posttest Kelompok
Eksperimen……….. 152
h. Persiapan Uji Normalitas dan UJi Homogenitas Posttest Kelompok
Eksperimen……….. 153
i. Tabel Perhitungan Uji NormalitasPosttestKelompok Eksperimen…... 154 j. Langkah Perhitungan Uji Normalitas Liliefors Posttest Kelompok
Eksperimen……….. 155
k. Uji HomogenitasPosttest………... 157 l. Perhitungan dan Pengujian Hipotesis Uji-tPosttest……… 158 C.3 Hasil PenelitianN-GainKelompok Kontrol dan Eksperimen
a. Data Hasil Penelitian SkorN-GainKelompok Kontrol……….. 159 b. Tahapan Pembuatan Tabel Distribusi Frekuensi N-Gain Kelompok
Kontrol………. 160
c. Persiapan Uji Normalitas dan Uji Homogenitas N-Gain Kelompok
Kontrol………. 161
d. Tabel Perhitungan Uji NormalitasN-GainKelompok Kontrol……….. 162 e. Langkah Perhitungan Uji Normalitas Liliefors N-Gain Kelompok
Kontrol………. 163
f. Data Hasil Penelitian SkorN-GainKelompok Eksperimen……… 164 g. Tahapan Pembuatan Tabel Distribusi Frekuensi N-Gain Kelompok
Eksperimen……….. 165
h. Persiapan Uji Normalitas dan Uji Homogenitas N-Gain Kelompok
Eksperimen……….. 166
i. Tabel Perhitungan Uji NormalitasN-GainKelompok Eksperimen…… 167 j. Langkah Perhitungan Uji Normalitas Liliefors N-Gain Kelompok
Eksperimen……….. 168
k. Uji HomogenitasN-Gain……… 169 l. Perhitungan dan Pengujian Hipotesis Uji-tN-Gain………. 170 D. Daftar Tabel
xi
D.3 Tabel Nilai Kritis Untuk Uji Liliefors………... 174
D.4 Tabel Distribusi F……….. 175
D.5 Tabel Nilai “t”………... 177
E. Surat Keterangan E.1 Surat BimbinganSkripsi………. 178
E.2 Surat Permohonan Izin Penelitian………... 179
E.3 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian………... 180
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu upaya untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa dan merupakan kegiatan belajar mengajar yang berlangsung terus
menerus. Kegiatan mengajar tersebut diselenggarakan pada semua jenis dan
jenjang pendidikan yang meliputi wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun,
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Jalur yang tepat untuk meningkatkan sumber daya manusia adalah melalui
jalur pendidikan. Oleh sebab itu sudah sepantasnya pembangunan di bidang
pendidikan menjadi prioritas utama yang dilakukan oleh pemerintah agar dapat
melahirkan generasi bangsa yang memiliki tingkat intelektual yang tinggi.
Salah satu bentuk evaluasi yang dipakai untuk mengukur tercapainya tujuan
belajar adalah melalui Ujian Akhir Nasional (UAN) yang berganti nama menjadi
Ujian Nasional (UN). Sejak diberlakukannya sistem ini pada tahun 2003, standar
nilai kelulusan terus meningkat. Tahun 2007 standar kelulusan UN sebesar 5,0
menjadi 5,5 pada tahun 2009. Dalam konferensi pers pada Mei 2010 lalu,
Mendiknas menyebutkan bahwa angka kelulusan UN di Sekolah Menengah
(SMP) tahun 2010 menurun cukup signifikan dibanding UN 2009. DKI Jakarta
yang selama ini menjadi barometer pendidikan nasional pun mencatat hasil UN
tidak menggembirakan dan masuk dalam salah satu propinsi yang memiliki angka
ketidaklulusan yang tertinggi (28,97%). Kecenderungan penurunan angka
kelulusan salah satunya adalah karena adanya proses belajar yang tidak efektif
yang diakibatkan oleh ketidakmampuan guru dalam menjelaskan materi pelajaran,
fasilitas pendidikan minim, juga ketidakmampuan siswa dalam menyerap
pelajaran.1
Hingga kini ilmu fisika masih dinilai sebagai pelajaran yang sulit untuk
dikuasai dan membosankan. Oleh karena itu, perlu ada suatu strategi yang dapat
1
menimbulkan minat para siswa untuk mempelajari ilmu fisika serta
menumbuhkan satu kesadaran bahwa fisika merupakan pelajaran yang mudah dan
menyenangkan.
Hakikat belajar sains tentu saja tidak cukup sekadar mengingat dan
memahami konsep seperti yang ditemukan atau dilakukan oleh para ilmuwan.
Akan tetapi, yang sangat penting adalah pembiasaan perilaku ilmuwan dalam
menemukan konsep yang dilakukan melalui percobaan dan penelitian ilmiah.
Proses penemuan konsep yang melibatkan keterampilan-keterampilan yang
mendasar melalui percobaan ilmiah dapat dilaksanakan dan ditingkatkan melalui
kegiatan laboratorium.
Pembelajaran fisika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah selama
ini ditandai dengan pembelajaran yang lebih didominasi oleh aktivitas guru
dibandingkan aktivitas siswa (teacher centered). Pembelajaran yang terjadi hanya
melakukan perpindahan pengetahuan dari guru ke siswa dan terkadang guru lebih
terfokus pada penghapalan rumus-rumus saja. Akibatnya, siswa menjadi terbebani
dan tidak mampu mengaplikasikan rumus tersebut untuk memecahkan persoalan.
Selama ini guru hanya mengenal metode ceramah saja yang bisa dilakukan untuk
semua tipe atau karakteristik materi pelajaran. Padahal tidaklah demikian, materi
fisika berbeda-beda, untuk mengatasi permasalahan tersebut guru sebaiknya
menggunakan model pembelajaran berbasis proyek.
Pembelajaran berbasis proyek adalah model pembelajaran yang berfokus
pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama dari suatu disiplin, melibatkan
siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainya,
memberi peluang siswa bekerja secara otonom mengkonstruk belajar mereka
sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya siswa bernilai, dan realistik.2 Menurut the buck institute yang dikutip dalam Project-Based Learning for health careers pathway, the san mateo county office of educationdalam challenge 2000 multimedia project website, memberikan beberapa alasan bagi guru untuk
menerapkan pembelajaran proyek:
2
1. Project based learning, mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka,
2. Project based learning, memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara interdisiplinaritas dimana siswa menerapkan dan mengintegrasikan isi dari setiap disiplin dan segala spek dalam dunia nyata
3. Project based learning, memberikan kesempatan bagi guru dan siswa untuk mengembankan hubungan mereka, dimana guru berperan sebagai fasilitator.
4. Project based learning Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun hubungan satu sama lain.3
Salah satu materi yang dibahas dalam fisika adalah ’Bunyi’ yang membahas mengenai pengertian bunyi. Proses pembelajaran materi tersebut dapat
menggunakan model pembelajaran berbasis proyek karena dalam proses
pembelajaran siswa dapat berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran, yang
selama ini hanya diajarkan teori-teori saja tetapi praktek langsung.
Dari uraian di atas, penulis dapat melihat keunggulan pembelajaran fisika
menggunakan model pembelajaran berbasis proyek memegang peranan penting
dalam keberhasilan pembelajaran fisika. Berdasarkan latar belakang di atas,
penulis tertarik membahas model pembelajaran berbasis proyek untuk
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika terutama mengenai
materi pelajaran yang terkait dengan ’Bunyi’, Maka dari latar belakang masalah tersebut, skripsi ini diberikan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis
Proyek Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat
diidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut:
1. Masih banyak siswa menilai bahwa ilmu fisika merupakan pelajaran yang sulit
untuk diketahui dan dipahami.
2. Pembelajaran fisika masih ditandai dengan pembelajaran yang lebih didominasi
oleh aktivitas guru dibandingkan aktivitas siswa (teacher centered).
3
3. Pembelajaran fisika hanya menekankan pada perpindahan pengetahuan dari
guru ke siswa tidak sesuai dengan prinsip dan hakikat fisika itu sendiri
(transfer of knowledge).
C. Pembatasan Masalah
Hasil belajar ada tiga aspek yaitu aspek afektif, aspek kognitif, dan aspek
psikomotorik. Dalam penelitian ini dibatasi pada aspek kognitif yang meliputi
jenjang ingatan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3) dan analisis (C4).
D. Rumusan Masalah
Mengacu pada identifikasi masalah maka masalah dalam penelitian ini
adalah: Bagaimana pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil
belajar fisika siswa?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan maka penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil
belajar fisika siswa pada konsep bunyi.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak, diantaranya
sebagai berikut:
1. Bagi guru, agar dapat membuka wawasan dalam pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran berbasis proyek dalam pencapaian hasil
belajar siswa.
2. Bagi siswa, diharapkan dapat mengalami perubahan paradigma tentang belajar
sehingga memunculkan semangat dalam dirinya yang berakibat pada
pencapaian hasil belajar yang optimal.
3. Bagi peneliti, sebagai pengalaman dalam melakukan perbaikan-perbaikan
pendekatan pembelajaran guna meningkatkan mutu pembelajaran karena
4. Bagi sekolah, sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan untuk
BAB II
DESKRIPSI TEORITIK, KERANGKA PIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teorotik
1. Pengertian Konstruktivisme
Konstruktivisme muncul sebagai alternatif terhadap pendekatan
objektivitas yang kurang melibatkan, mengikutsertakan dan membimbing peserta
didik untuk aktif belajar. Dasar dari pandangan konstruktivisme adalah anggapan
bahwa dalam proses belajar (a) murid-murid tidak menerima begitu saja
pengetahuan yang didapatkan mereka dan menyimpannya di kepala, melainkan
mereka menerima informasi dari dunia sekelilingnya, kemudian membangun
pandangan mereka sendiri tentang pengetahuan yang mereka dapatkan, dan (b)
semua pengetahuan disimpan dan digunakan oleh setiap orang melalui
pengalaman yang berhubungan dengan ranah pengetahuan tertentu.
Konstruktivisme ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan
aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai. Bagi
siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan,
memecahkan masalah dalam menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha
dengan susah payah dengan ide-ide.4
Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa dengan
menggunakan pengalaman dan struktur kognitif yang sudah dimiliki. Konsep
dasar dari konstruktivisme adalah bahwa pengetahuan itu tidak dapat dialihkan
dari pikiran guru ke pikiran siswa secara utuh tetapi dibangun sendiri oleh peserta
didik di dalam kepalanya lebih tepatnya dalam struktur kognitifnya.
Konstruktivisme menganggap bahwa peserta didik mulai dari usia kanak-kanak
4
sampai dengan perguruan tinggi memiliki gagasan atau pengetahuan tentang
lingkungan danperistiwa (gejala) yang terjadi di lingkungan sekitarnya.5
Model konstruktivisme menjelaskan bahwa, pengetahuan tidak pernah
dapat diamati secara leluasa. Kenyataannya pengetahuan mestilah diperoleh dari
kesadaran seseorang; pengetahuan tidak dapat ditransfer (dipindahkan) dari
seseorang kepada orang lain seperti ketika orang mengisi sebuah tong kosong.
Pengetahuan tidak seperti kegiatan psikologis lainnya yang dapat digambarkan
secara kimia. Selain itu pengetahuan membutuhkan satu kepercayaan (comitment)
seseorang dalam mempertanyakan, menjelaskan, dan uji penjelasan sebagai
pengabsahannya.6
Menurut konsep konstruktivisme, pengetahuan seseorang bersifat
temporer, terus berkembang dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan itu tidak
pernah berhenti berkembang. Pengetahuan dalam diri seseorang terbentuk ketika
mengalami berbagai macam konflik. Melalui perspektif ini belajar dapat dipahami
sebagai proses terbentuknya konflik kognitif yang bergulir dengan sendirinya
dalam diri seseorang ketika yang bersangkutan memperoleh pengalaman konkrit,
wacana kolaborasi dan kegiatan melakukan refleksi.
Salah satu teori belajar konstruktivisme yang terkenal adalah teori
perkembangan Piaget. Teori ini biasa disebut dengan teori perkembangan kognitif.
Menurut Piaget, tingkat perkembangan intelektual atau kognitif anak meliputi
empat tingkatan, yaitu: a) tingkat sensorik motoris (0-2 tahun), b) tingkat
pra-operasional (2-7 tahun), c) tingkat pra-operasional konkret (7-11 tahun), dan d) tingkat
operasi formal (11 tahun–ke atas).7
Berdasarkan kategori di atas siswa pada jenjang pendidikan SMP berada
pada tingkat operasi formal, yang memiliki sifat antara lain: pola berpikirnya
sudah sistematis, mampu memecahkan masalah dengan berpikir secara hipotesis,
deduktif, rasional, abstrak, dan reflektif mengevaluasi informasi. Dari pandangan
5
Paulina Pannen, Konstruktivisme dalam Pembelajaran, (Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka, 2001), h.3
6
Marja Sinurat, Jurnal Teknologi Pendidikan, vol.5, no.3, Desember 2005 , Pendekatan Konstruktivisme Dalam Pembelajaran, h.86
7
Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak, dapat dipahami bahwa pada
tahap tertentu cara maupun perkembangan anak mengkonstruksi ilmu
berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak.8
Konstruktivisme merupakan teori yang paling mendasar tentang
bagaimana siswa mempelajarinya. Siswa membangun pemahaman dan
pengetahuan mereka melalui pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Oleh
karena itu, ketika siswa mengalami pengalaman yang baru, siswa harus menerima
itu dengan ide sebelumnya dan pengalaman yang mereka dapat. Untuk itu, siswa
harus membangun pikiran mereka dan menilai tentang apa yang mereka ketahui.
Menurut konstruktivisme belajar merupakan proses aktif siswa
mengkonstruksi arti, wacana, dialog, pengalaman fisik dan lain-lain. Belajar juga
merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi
yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki siswa sehingga
pengetahuannya berkembang. Proses tersebut bercirikan:
a. Belajar berarti membentuk makna.
b. Konstruksi berarti merupakan proses terus menerus.
c. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih merupakan suatu proses pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru.
d. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam kesenjangan yang merangsang pemikiran lebih lanjut.
e. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman siswa dengan dunia fisik dan lingkungannya.
f. Hasil belajar siswa tergantung pada apa yang telah diketahui siswa: konsep-konsep, tujuan dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.9
Dengan demikian belajar menurut konstruktivisme bukanlah kegiatan
memindahkan dari guru kepada siswa, melainkan suatu kegiatan yang
memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Pengetahuan yang
berasal dari pemahaman dan konteks dibangun oleh siswa sendiri bukan guru.
8
Muhammad Bani Sukron, Jurnal Widyatama, vol.2, no.4, Desember 2005Pengembangan Model Pembelajaran Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains,h.21
9
2. Model Pembelajaran Berbasis Proyek a. Definisi Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran Berbasis Proyek atau Project-Based learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah
awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan berdasarkan
pengalaman siswa dalam beraktifitas secara nyata. PBL dirancang untuk
digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan siswa dalam melakukan
investigasi dan memahaminya.
Berikut pengertianProject-Based Learningmenurut beberapa ahli adalah : 1) PBL adalah model pembelajaran secara konstruktif untuk pendalaman
pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan
pertanyaan yang berbobot, nyata dan relevan bagi kehidupan siswa.
2) PBL adalah model komprehensif untuk pengajaran dan pembelajaran yang
dirancang agar siswa melakukan riset terhadap permasalahan nyata.
3) PBL adalah model yang konstruktif dalam pembelajaran menggunakan
permasalahan sebagai stimulus dan berfokus kepada aktifitas siswa.
4) PBL adalaha model pembelajaran yang berpusat pada aktifitas siswa,
mengajak siswa untuk melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap
suatu topik.10
Model pembelajaran berbasis proyek dapat dipandang sebagai salah satu
model penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong siswa mengkonstruk
pengetahuan dan keterampilan secara personal. Adanya peluang untuk
menyampaikan ide, mendengarkan ide-ide orang lain, dan mereflesikan ide sendiri
pada ide-ide orang lain, adalah suatu bentuk pengalaman pemberdayaan
pengetahuan (meaning making process). Selain itu siswa juga untuk mengalami
tahap pembelajaran yang disebut sebagai “Interactive Research Cycle” yang
10
terdiri dari tahap pertanyaan, perencanaan, pengumpulan data, mensintesis
pengetahuan, dan evaluasi.11
Jadi, dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran berbasis proyek adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada
aktivitas siswa untuk dapat memahami suatu konsep dan prinsip dengan
melakukan investigasi yang mendalam tentang suatu masalah dan mencari suatu
solusi yang relevan serta diimplementasikan dalam pengerjaan proyek, sehingga
siswa mengalami proses pembelajarn yang bermakna dengan membangun
pengetahuannya sendiri.
Pembelajaran berbasis proyek juga dikatakan sebagai model pembelajaran
yang inovatif dan lebih menekankan pada pembelajaran kontekstual melalui
kegiatan-kegiatan yang kompleks. Dalam pembelajaran berbasis proyek ini
berfokus pada pembelajaran yang terletak pada prinsip dan konsep inti dari suatu
disiplin ilmu, melibatkan siswa dalam investigasi dalam pemecahan masalah dan
kegiatan tugas-tugas yang bermakna lainnya, dan memberi kesempatan siswa
bekerja secara otonom dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri, dan
puncaknya untuk menghasilkan produk nyata. Pembelajaran berbasis proyek
memiliki potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih
menarik dan bermakna bagi siswa.
Model Pembelajaran berbasis proyek adalah pembelajaran fisika atau sains
dimana siswa dalam kelompok diminta membuat atau melakukan suatu proyek
bersama, dan mempresentasikan hasil dari proyek itu. Dan proyek ini sendiri
diharapkan lebih bersifat membuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat dengan
prinsip fisika. Biasanya proyeknya lebih baik bersifat interdisipliner; bukan hanya
konsep fisika, tetapi juga sains yang lain yang terkait dan nilai kemanusiaan yang
lain.12
Model proyek ini adalah gabungan dari berbagai model pembelajaran
seperti belajar bersama, dan lain-lain. Pembelajaran model proyek ini bersifat
11
Agus Sampurno, Penerapan Metode Belajar Aktif dan Pembelajaran Berbasis Proyek,( Jakarta : PT.Rineka Cipta),h.52
12
kontruktivis, yaitu siswa, juga bersifat multiple intelligence, karena siswa menggunakan berbagai intelegensi dalam melakukan proyek yang dilakukan
seperti intelegensi matematis-logis, ruang-visual, kinestetik, interpersonal,
linguistik, lingkungan, dan lain-lain.13
Model ini biasanya menarik untuk siswa karena biasanyan dilakukan
diluar kelas bahkan di luar sekolah, dan berlaku untuk beberapa waktu; bukan
terbatas pada satu jam sekolah. Banyak hal dapat didapat dari proyek ini antara
lain :
1) Mengerti prinsip fisika lebih mendalam karena melakukan sesuatu
2) Kerjasama dengan teman lebih baik karena melakukan bersama
3) Ada keuntungan yaitu memperoleh hasil dari proyek sendiri.14
Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model pembelajaran yang
didukung oleh atau berpijak pada teori belajar konstruktivistik. Strategi
pembelajaran yang menonjol dalam pembelajaran konstruktivistik antara lain
adalah strategi belajar kolaboratif, mengutamakan aktivitas siswa daripada
aktivitas guru, mengenai kegiatan laboratorium, pengalaman lapangan, studi
kasus, pemecahan masalah, panel diskusi, diskusi, brainstorming, dan simulasi.
Model Pendekatan proyek merupakan salah satu dari model-model
pembelajaran yang membantu siswa menggali informasi, ide-ide, keterampilan,
nilai-nilai, cara berpikir, dan cara-cara menepresikan diri sendiri dengan melihat
proyek-proyek yang telah disediakan oleh guru. Selain itu guru juga mengajari
bagaimana cara menemukan ide-ide yang berkaitan dengan proyek yang tersedia.
Salah satu strategi mengajar yang menekankan keaktifan siswa adalah metode
pendekatan proyek. Menurut teori belajar ini, siswa di dalam proses belajar
membangun pengetahuaanya sendiri melalui interaksi atas apa yang sudah
dimiliki dengan lingkungannya pada situasi baru. Model pembelajaran pendekatan
proyek memberi kesempatan kepada siswa untuk menguji gagasannya,
13
Martins yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. (Pamulang : Gaung Persada Pers),2004, h.76
14
mengemukakan pendapat berdasarkan pengetahuan awal yang sudah dimiliki
sebelumnya dan pengetahuan yang di dapat selama proses belajar berlangsung.
Dari berbagai karakteristiknya, Pembelajaran Berbasis Proyek didukung
teori-teori belajar konstruktivistik. Dalam konteks pembaruan di bidang teknologi
pembelajaran, Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dipandang sebagai pendekatan
penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong pebelajar mengkonstruksi
pengetahuan dan keterampilan melalui pengalaman langsung. Proyek dalam
Pembelajaran Berbasis Proyek dibangun berdasarkan ide-ide pebelajar sebagai
bentuk alternatif pemecahan masalah riil tertentu, dan pebelajar mengalami proses
belajar pemecahan masalah itu secara langsung.15
b. Landasan Teori Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek dilandaskan pada teori yang dipaparkan oleh
beberapa ahli, yaitu :
1) John Dewey dan kelas demokratis
Metode proyek berasal dari gagasan John Dewwey tentang konsep
“Learning by doing” yakni proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama proses penguasaan
anak tentang bagaimana melakukan sesuatu tujuan. Pada John Dewwey
menggambarkan suatu pandangan tentang pendidikan di mana sekolah seharusnya
mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium
untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Dewwey menganjurkan guru untuk
mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan
membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan soaial. Dewwey
dan kill Patrick mengemukakan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya lebih
memiliki manfaat daripada dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil
untuk menyelesaikan proyek yang menarik dan pilihan mereka sendiri.16
15
http://waraskamdi.com/content/view/52/16,3 Juni 2010 16
2) Peaget, Vygotsky dan Kontuktrivisme
Jean Piaget dan Lev Vygotsky adalah tokoh dalam pengembangan konsep
konstruktivisme. Pada konsep inilah dasar pijak pembelajaran berbasis proyek
diletakkan. Piaget mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif
terlibat dalam perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri.
Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada
saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan
memodifikasi pengetahuan awal mereka. Vygotsky, seperti halnya Piaget percaya
bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan
pengalaman baru dan menantang, ketika mereka berusaha untuk memecahkan
masalah yang dimunculkan oleh pengalaman tersebut. Dalam upaya mendapatkan
pemahaman, individu mengaitkan pengetahuan baru. Namun berbeda dengan
Piaget tentang perkembangan intelektual setiap individu yang tanpa memandang
latar konteks social. Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain
memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual
siswa.17
c. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek memiliki lima karakteristik yang merupakan
ciri yang dapat membedakan pembelajaran berbasis proyek dengan model
pembelajaran lain, yaitu :
1) Centrality, proyek sebagai pusat atau sentral.
2) Driving Question, Project-Based Learning difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang memicu siswa untuk menyelesaikan permasalahan dengan
konsep, prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai.
3) Conscrutive Investigations, proyek harus disesuaikan dengan kemampuan siswa dan proyek yang dijalankan harus memberikan keterampilan dan
pengetahuan baru bagi siswa.
17
4) Autonomy, aktifitas siswa sangat penting, siswa sebagai pemberi keputusan dan berperan sebagai pencari solusi (Problem solver).
5) Realisme, kegiatan siswa difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan situasi yang sebenarnya atau dunia nyata. Aktifitas ini mengintegrasikan
tugas otentik dan menghasilkan sikap professional.18
Lima karakteristik dari pembelajaran berbasis proyek yaitu Centrality, Driving Questions, Constructive Investigations, Autonomy, dan Realisme adalah karakter yang harus ada dalam model pembelajaran ini. Karakter ini
menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis proyek mengutamakan
aktivitas siswa dalam menghimpun konsep dan pengetahuannya. Lima karakter ini
membedakan pembelajaran berbasis proyek dengan model pembelajaran lainnya.
Model pembelajaran berbasis proyek sering disamakan dengan model lain,
seperti model pembelajaran berbasis masalah. Antara dua model tersebut memang
memiliki tahap pembelajaran yang hampir sama. Namun, yang membedakan
adalah dalam Project Based-learning harus ada proses pembuatan atau pelaksanaan proyek yang sifatnya autentik, konstruktif, dan siswa harus
mempelajari keterampilan dasar yang baru dan mengalami peningkatan
pengetahuan.19
Proyek merupakan pusat atau sentral dari model pembelajaran ini, oleh
karena itu pengerjaan proyek harus terlebih dahulu direncanakan dengan matang.
Selain itu, proyek juga harus memiliki karakteristik seperti dibawah ini :
1) Authenticity, proyek harus sesuai dengan permasalahan dan realistik.
2) Academy rigor, proyek harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan dan mengaplikasikan penegtahuan dan keterampilannya, siswa
menggunakan metode penelitian ilmiah untuk meningkatkan kemampuan
berpikir dan kemampuan menyelesaikan masalah.
18
John W. Thomas,A Review of Research on Project-Based Learning,(California : The Autodesk Foundation,2000),h.3-9
19
3) Applied Learning, proyek dikembangkan tidak hanya pada keterampilan pokok dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada
peningktan keterampilan menyelesaikan masalah.
4) Adult Relationship, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertemu dan mengobservasi dari ahli yang sesuai dengan bidang masalah.
5) Assesment, penilaian dilakukan pada proses pembelajaran dan hasil atau produk pembelajaran. Hasil akhir dapat berupa presentasi, pameran,
portofolio atau laporan.20
MenurutThe Buck Institutuyang dikutip dalamProject Based-Learning for Health Carees Pathwaypembelajaran berbasis proyek memiliki karakteristik : 1) Siswa membuat keputusan dan membuat kerangka kerjas.
2) Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya.
3) Siswa merancang proses untuk mencapai hasil
4) Siswa bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi yang
dikumpulkan.
5) Siswa yang mwlakukan evaluasi secara kontinu.
6) Siswa secara teratur melihat kembali apa yang meraka kerjakan.
7) Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya.21
d. Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek
Pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek, dijalankan dengan melalui
beberapa tahap pembelajaran atau langkah-langkah kerja. Belum ada ketetapan
baku untuk menjalankan tahap-tahap pembelajaran berbasis proyek, namun pada
umumnya didasarkan dan mencontoh pada tahap pembelajaran konstruktivisme.
Langkah-langkah pembelajaran dalamProject-Based Learning atau pembelajaran Berbasis Proyek sebagaimana yang dikembangkan oleh The George Lucas Educational Foundation(2005) terdiri dari :
21
1) Start With the Essential Question
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan essensial, yaitu pertanyaan yang
dapat mengeksplorasi pengetahuan awal siswa serta memberi penugasan siswa
dalam melakukan suatu aktivitas.
2) Design a Plan for the Project
Perencanaan proyek yang dilakukan secara kolaboratif antara guru dan
siswa, dalam menentukan aturan main pengerjaan proyek. Pada tahap ini guru
membantu siswa untuk menentukan judul proyek yang sesuai dengan materi dan
permasalahannya.
3) Create a Schedule
Tahap ketika guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas
dalam meneyelesaikan proyek.
4) Monitor the Students and the Progress of the Project
Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas
siswa selama menyelesaikan proyek.
5) Assess the Outcome
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian
standard an tujuan belajar.
6) Evaluasi the Experince
Guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil akhir proyek yang
sudah dijalankan.22
Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan proses
evaluasi baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini siswa diminta
untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan
proyek. Guru dan siswa mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki
kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu
22
temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada
tahap pembelajaran.
Tahapan pembelajaran yang dikemukakan di atas menunjukan kerja sama
antara guru dan siswa, yang saling memberikan kontribusi dalam proses
pembelajaran. Tahapan dalam model pembelajaran berbasis proyek memang
belum ada bentuk bakunya. Tahapan pembelajaran berbasis proyek juga
didasarkan pada tahap pembelajaran berbasis masalah, yang terdiri dari tujuh fase,
yaitu :
1) Good Description, fase dalam menampilkan masalah untuk dipecahkan dan menetapkan tujuan.
2)Specify Criteria, fase dalam menentukan kriteria memecahkan masalah solusi, dan menetukan fokus yang akan dicapai, dan kemampuan apa yang akan
dicapai.
3)Background Knowledge, fase untuk menentukan pengetahuan atau konsep yang dibutuhkan, dan mencari informasi kepada ahlinya.
4)Generate ideas, generalisasi konsep dan menyusun hipotesis.
5)Implement Solution, fase dalam mencari dan mengimplementasikan solusi serta membandingkannya dengan solusi lain.
6) Reflect, mengevaluasi seluruh proses pembelajaran mulai dari proses, solusi, dan produk.
7) Generalize, fase untuk menyusun konsep, mengeeralisasi fakta dan pengetahuan menjadi teori.23
Tahap pembelajaran berbasis masalah di atas merupakan salah satu teori
yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menyusun tahapan pembelajaran
berbasis proyek. Dalam tahapan pembelajaran berbasis masalah, siswa lebih
difokuskan untuk merumuskan solusi dan mengimplementasikannya terhadap
konsep lain. Tahapan yang digunakan oleh peneliti adalah tahapan secara umum,
yang digunakan dan dicontohkan juga oleh Mike Carbonaro dalam proses
pembelajaran proyek lingkungan, yaitu :
23
Frank Kurzel and Michelle Rath, Project Based Learning and Learning Enviroments,
1) Engage,tahap awal untuk menstimulus siswa dalam mengetahui konsep yang sudah dipahami dan tahap ketika guru memberikan pertanyaan essensial yang
memacu siswa untuk berfikir.
2) Explore, kegiatan untuk mencari materi dan sumber informasi sebagai referensi dalam menyelesaikan masalah dan membuat jadwal kerja.
3) Investigate, membandingkan dan memfokuskan solusi yang akan digunakan dalam memecahkan masalah.
4) Create, tahap pembuatan atau pengimplementasian solusi dan tahap dalam menghasilkan suatu produk atau karya.
5) Share,tahap presentasi produk atau karya.
6) Evaluation, tahap evaluasi atau penilaian proses dan hasil belajar.24
Tahap pembelajaran yang terdiri dariengage, explore, investigate, create, share,danevaluationmenekankan proses belajar pada aktivitas siswa. Dalam tiap tahap pelaksanaannya siswa harus lebih aktif dalam proses belajar. Siswa
merumuskan informasi dan solusi serta harus dapat menyelesaikan hasil akhir,
bisa dalam bentuk produk, presentasi, dan lainnya.
e. Peranan Pengajar dalam Pembelajaran Berbasis Proyek
Selama berlangsungnya proses pembelajaran berbasis proyek siswa akan
mendapat bimbingan dari guru ataupun narasumber lain, yang peranannya adalah
sebagai berikut :
1) Mengajar kelompok dan menciptakan suasana yang nyaman.
2) Memastikan bahwa sebelum mulai setiap kelompok telah memiliki seorang anggota yang bertugas membaca materi, sementara teman-temannya mendengarkan, dan seseorang anggota yang bertugas mencatat informasi yang penting sepanjang jalannya diskusi.
3) Memberikan materi atau informasi pada saat yang tepat, sesuai dengan perkembangan kelompok.
4) Memastikan bahwa sesi diskusi kelompok diakhiri dengan self-evaluation.
5) Menjaga agar kelompok terus memusatkan perhatian pada pencapaian tujuan.
6) Memonitor jalannya diskusi dan membuat catatan tentang berbagai masalah yang munculdalam proses belajar, serta mengajar agar proses
24
belajar terus berlangsung, agar tidak ada tahapan dalam proses belajar yang dilewati atau diabaikan dan agar tiap tahapan dilakukan dalam urutan yang tepat.
7) Menjaga motivasi siswa dengan mempertahankan unsure tantangan dalam penyelesaian tugas dan juga mempertahankan untuk mendorong siswa keluar dari kesulitannya.25
Peranan pengajar dalam proses pembelajaran berbasis proyek dari
penjelasan yang dijabarkan diatas menunjukkan bahwa pengajar lebih diutamakan
berperan sebagai pendamping dan fasilitator. Pengajar harus dapat menjaga proses
pembelajaran tetap berlangsung aktif dan terkontrol, walaupun pengajar tidak
memiliki otoritas penuh terhadap pengerjaan proyek. Pengajar harus memiliki
kemampuan dalam memberikan bimbingan dan saran yang membangunserta
membuat proses evaluasi yang baik dan autentik.26
f. Kelebihan Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Penggunaan model pemebelajaran berbasis proyek dapat memberikan
keuntungan bagi siswa, guru, dan perkembangan kualitas sekolah, seperti yang
disebutkan dibawah ini :
1) Mempersiapkan siswa menghadapi dan berkembang sesuai dengan dunia
nyata.
2) Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar, dan mendorong kemampuan
mereka untuk melakukan pekerjaan penting.
3) Menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan dunia nyata. Dengan
melaksanakan proyek siswa tidak hanya menghafal fakta, namun
menghubungkan dan berpikir bagaimana mengaplikasikan ilmu yang dimiliki
ke dalam dunia nyata.
4) Membentuk sikap kerja siswa. Dalam mengerjakan proyek siswa diajak untuk
saling mendengarkan pendapat dan bernegosiasi untuk mencari solusi.
5) Meningkatkan kemampuan kemampuan komunikasi dan social.
6) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
25
Jennifer Railsback, Project Based-Instruction: Creating Excitement for Learning, (Oregon : Northwest Regional educational Laboratory, 2002), h.23-24
26
7) Meningkatkan keterampilan siswa untuk menggunakan informasi dengan
beberapa disiplin ilmu yang dimiliki.
8) Meningkatkan kepercayaan diri siswa.
9) Meningkatkan kemampuan siswa menggunakan teknologi dalam belajar.27 Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan model
pembelajaran berbasi proyek. Guru di Whasington State menggunakan model
pembelajaran berbasis proyek dalam kelas matematika dan sains melaporkan
bahwa muridnya lebih memiliki semangat belajar ketika mengerjakan proyek.
Namun, masih ada kelemahan dan kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan
pembelajaran berbasis proyek, seperti wauktu dan biaya yang lebih banyak
dibutuhkan. Bahkan untuk mencapai proses pembelajaran yang maksimal dalam
mengimplementasikan Project-Based Learning, diperlukan desain khusus untuk kelas atau sekolah yang menggunakannya. Tahap pembelajaran dalam model
pembelajaran proyek ini selalu mengikutsertakan presentasi atau performance, maka dibutuhkan disain sekolah dan kelas yang lebih efektif dan dinamis.28
Penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan dan disesuaikan
dengan kondisi yang ada pada kelas atau sekolah. Desain khusus untuk sekolah
dapat diwujudkan jika keadaan memang ideal. Namun, jika sekolah belum bisa
mewujudkan desain kelas atau sekolah yang sesuai dengan karakter pembelajaran
berbasis proyek, maka guru atau staf sekolah yang lain dapat memaksimalkan
fasilitas yang ada ataupun menyesuaikan dengan kemampuan sekolah dan
kemampuan murid. Peran guru sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran
berbasis proyek, walaupun keadaan terbatas, guru dapat memotivasi siswa dan
bermotivasi agar pembelajaran yang bermakna dapat terwujud.29
27
Ibid, h.26-27 28
Mike Carbonaro,Op Cit,h.5 29
g. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek
Menurut Foundation for the road ahead, keuntungan menggunakan pembelajaran proyek adalah :
1) Meningkatkan motivasi. Sebelum menggunakan pembelajaran proyek
kebanyakan sisa menolak menggunakan banyak waktu dan sulit untuk
dimintai partisipasinya untuk melakukan proyek.
2) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian untuk
meningkatkan keterampilan kognitif siswa amat dibutuhkan dalam tugas-tugas
yang memerlukan pemecahan masalah dan instruksional yang spesifik tentang
bagaimana memecahkan masalah.
3) Meningkatkan keterampilan penelitian kepustakaan. Kebanyakn proyek yang
dikerjakan siswa membutuhkan sejumlah sumber informasi seperti buku-buku
teks, dan kamus-kamus. Informasi teknologi termasuk sumber informasi
utama yaitu komputer, cd rom, dan internet.
4) Meningkatkan kemampuan kolaborasi. Yang dibutuhkan bekerja dalam
sebuah kelompok bagi siswa adalah keterampilan dan berkomunikasi.
5) Meningkatkan sumber keterampilam manajemen. Bagian yang menjadikan
pembelajaran bebas adalah dalam mengambil tanggung jawab untuk
melengkapi tugas-tugas yang kompleks. Pelaksanaan pembelajaran proyek
yang baik memberikan kegiatan instruksi siswa dalam mengatur proyek
mereka, dan mengalokasi waktu dan sumber-sumber lainnya seperti
perlengkapan untuk melengkapi tugas-tugas yang sudah terjadwal.30
Agar proyek sungguh menarik siswa untuk melakukan dan dapat
menambah kedalaman dari pengetahuan mereka, maka beberapa sifat proyek
perlu diperhatikan dalam memilih.
1) Proyek harus menantang siswa untuk melakukan dan menyelesaikan.
2) Hasilnya memang sungguh ada gunanya baik untuk masyarakat dan untuk
siswa sendiri.
30
Anonim,Fondation for the road ahead : Project Based-Learning and information technology.
3) Proyek itu tidak terlalu mudah sehingga menantang; tetapi tidak terlalu sulit
sehingga dapat diselesaikan.
4) Proyek itu ada unsurnya membuat sesuat atau meneliti sesuatu yang belum
biasa dilakukan.
5) Dalam proyek sendiri dimungkinkan beberapa siswa bekerja sama secara
intensif.
6) Tentu proyek mengandung prinsip atau nilai fisika, diutamakan membutuhkan
beberapa ata banyak pendekatan.
7) Sebaiknya proyeknya bersifat multidisiplin, interdisipliner, sehingga lebih
kaya dan siswa dapat mengerti persoalannya secara menyeluruh.31
h. Perbedaan Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran berbasis proyek memiliki perbedaan yang nyata dengan
pembelajaran bersifat konvensional, antra lain :
Tabel 1. Perbedaan Pembelajaran Berbasis Proyek Dengan Pembelajaran Konvensional Fokus kurikulum Kedalaman pemahaman Cakupan isi
Pemahaman konsep-konsep
“building-block” dalam isolasi
Lingkup dan
Urutan
Mengikuti minat siswa Mengikuti urutan
kurikulum secara ketat
Unit-unit besar terbentuk
dari problem dan isu yang
Berjalan dari blok ke blok
atau unit ke unit
31
kompleks
Meluas, fokus
interdisipliner
Memuat, fokus berbasis
disiplin
Peranan guru Penyedia sumber belajar
dan partisipan di dalam
kegiatan belajar
Penceramah dan direktur
pembelajaran
Pembimbing/partner Ahli
Fokus pengukuran Proses dan produk Produk
Pencapaian yang nyata Skor tes
Unjuk kerja standard dan
kemauan dari waktu ke
waktu
Membandingkan dengan
yang lain
Demonstrasi pemahaman Reproduksi informasi
Bahan-Bahan
Pembelajaran
Langsung sumber-sumber
asli : bahan-bahan tercetak,
interview, dokumen, dll
Teks, ceramah, dan
presentasi
Data dan bahan
dikembangkan oleh siswa
Kegiatan dan lembar
latihan dikembangkan
guru
Penggunaan
teknologi
Utama integral Penyokong, periferal
Diarahkan siswa Dijalankan guru
Kegunaan untuk
memperluas persentasi
siswa atau penguatan
kemampuan siswa
Kegunaan untuk
perluasaan persentasi guru
Konteks kelas Siswa bekerja dalam
kelompok
Siswa bekerja sendiri
Siswa kolaboratif satu
dengan yang lainnya
Siswa berkompetisi satu
dengan yang lainnya
berkonstribusi, dan
melakukan sintesis
informasi
dan guru
Peranan siswa Melakukan kegiatan belajar
yang diarahkan oelh diri
sendiri
Menjalankan perintah
guru
Pepenyaji, integrator, dan
penyaji ide
Pengingat dan pengulang
fakta
Siswa menentukan tugas
mereka sendiri dan bekerja
secara independen dalam
waktu yang besar
Siswa menerima dan
menyelesaikan
tugas-tugas laporan pendek
Tujuan jangka
pendek
Pemahaman dan aplikasi
ide dan proses yang
kompleks
Pengetahuan tentang
fakta, istilah, dan isi
Tujuan jangka
panjang
Dalam pengetahuan Luas pengetahuan
Lulusan yang berwatak dan
terampil m engembangkan
diri, mandiri, dan belajar
sepanjang hayat.
Lulusan yang memiliki
pengertahuan yang
berhasil pada tes standard
pencapaian belajar
Perbedaan model pembelajaran berbasis proyek dengan pendeketan
pembelajaran yang bersifat tradsional terlihat dalam beberapa aspek, antara lain
dari aspek peranan guru dan siswa, dalam pembelajaran berbasis proyek siswa
dan guru bekerja sama dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai partner
bagi siswa. Kemudian dalam pembelajaran berbasis proyek proses pembelajaran
ditekankan pada aktifitas siswa untuk berhasil menyelesaikan tes atau ujian, tetapi
menyiapkan siswa kepada dunia nyata, dan memberikan kesempetan siswa untuk
mengembangkan diri dan pengetahuannya32
32
3. Hakikat Hasil Belajar Fisika a. Hakikat Belajar
Belajar adalah “perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalamanatau latihan yang diperkuat”.33.
Belajar adalah “hasil perubahan mental yang terus menerus sebagaimana kita membuat makna dari pengalaman kita”34.
Belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi sudah
mampu, terjadi dalam jangka waktu. Perubahan yang terjadi harus secara relatif
bersifat menetap dan tidak hanya terjadi pada prilaku yang saat ini nampak, tetapi
perilaku yang mungkin terjadi dimasa mendatang.35 belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya.
Dalam psikologi proses belajar berarti cara-cara atau langkah-langkah
khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapai tujuan
tertentu.36 Dalam pengertian tersebut tahapan perubahan dapat diartikan sepadan dengan proses. Jadi proses belajar adalah tahapan perubahan perilaku kognitif,
afektif dan psikomotorik yang terjadi dalam diri siswa.
Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku di mana perubahan
itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada
kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Menurut
pengertian ini, belajar merupakan suatu proses kegiatan dan bukan suatu hasil
atau tujuan.
Menurut Slameto belajar adalah “peoses memanusiakan manusia, dimana hanya belajarlah manusia menemukan dirinya dalam relasinya dengan sesame,
lingkungan dan juga dengan sang pencipta”.37
33
Tata Sudjana,Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas, di akses pada 22 Januari 2010, Di http: // Belajar.htm
34 Depdiknas
, Strategi Pembelajaran MIPA.( Direktorat tenaga kependidikan Direktorat jenderal Peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan Departemen pendidikan nasional, 2008.), h. 24.
35
Zikri Neni, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta: Kizi Brother’s, 2006), Cet. 1, h.76
36
Muhibbin Syah,Op.Cit., h.111 37
M. Dalyono mendefinisikan belajar adalah “suatu usaha perbuatan yang dilakukan sungguh-sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi
yang dimiliki, baik fisik, mental, dana, panca indra, otak dan anggota tubuh
lainnya”.38
Belajar adalah “kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan”.39 Dengan demikian berhasil atau tidaknya tujuan dari belajar tesebut sangat
tergantung terhadap proses dalam pembelajaran yang dilaksanakn oleh guru.
Dalam bukunya berjudul Psikologi Pengajaran, W. S. Winkel menyebutkan
bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan
dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai serta sikap”.
Dengan demikian, perubahan-perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan
fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah
tidak termasuk sebagai belajar. Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu usaha seseorang dengan
menggunakan potensi yang dimilikinya untuk mengadakan perubahan fisik,
mental juga tingkah laku yang harus didukung oleh lingkungannya. Belajar
merupakan kewajiban bagi setiap manusia, karena sebagai mahluk sosial dan
berbudaya memerlukan perkembangan yang baik antara dirinya dan
lingkungannya, sehingga dengan belajar manusia bisa mengembangkan dirinya.
Sebelum menguraikan definisi belajar, maka dijelaskan dahulu konsep belajar.
Dalam kamus bahasa Indonesia, yang dimaksud dengan belajar adalah berusaha
(berlatih) supaya mendapat suatu kepandaian.
Menurut Zikri Neni Iska ”belajar adalah perubahan yang secara relatif berlangsung lama pada perilaku yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman”.40 Perubahan yang terjadi karena pengalaman ini akan membentuk sifat dan juga
38
M. Dalyono,Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta 1997), Cet. 1, h. 49. 39
Muhibin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004). Cet 1, h. 59 40
sikap siswa yang nantinya akan di aplikasikan oleh siswa kedalam masyarakat
tempat dimana siswa tinggal dan menjalankan aktifitasnya sehari-hari.
Belajar dapat juga diartikan sebagai proses membangun makna dan
pemahaman terhadap informasi atau pengalaman, di mana proses tersebut disaring
dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Selain itu,
sesorang yang semula tidak tahu menjadi tahu dan akan mengalami
perkembangan dalam arah kognitif dalam proses belajar. Kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok, Ini berarti berhsil atau tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan hanya bergantung pada proses belajar yang dialami
siswa sebagai anak didik. Belajar merupakan proses pengumpulan atau suatu fakta
dan bentuk informasi atau materi pelajaran, belajar merupakan latihan seperti
membaca dan menulis.41
Dari beberapa pendapat tentang definisi belajar tersebut dapat disimpulkan
bahwa dalam proses belajar mengajar mengharuskan perubahan pada diri
seseorang tersbut, karena belajar merupakan kegiatan yang kompleks dengan
melalui proses, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep, sehingga terjadi
perubahan pada diri seseorang tersebut kearah yang lebih baik yang meliputi
pengetahuan, kebiasaan, sikap, dan tingkah laku.
b. Definisi Hasil Belajar
Setelah siswa melaksanakan kegiatan atau proses belajar, maka
dilaksanakanlah suatu evaluasi hasil belajar. Evaluasi hasil belajar ini
dilaksanakan untuk melihat apakah terdapat perubahan atau tidak pada diri siswa,
atau pembelajaran yang dilaksanakan berhasil atau tidak. Hal ini seperti yang
telah diungkapkan oleh Bloom yang dikutip oleh Daryanto, Evaluasi adalah
pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam
kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana
tingkat perubahan dalam pribadi siswa.42 Sedangkan menurut Muhibin Syah
41
Muhibin Syah, Psikologi Belajar(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), Ed ke 3 h. 64. 42
evaluasi adalah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan
yang telah ditetapkan dalam sebuah program.43
Adapun tujuan diadakanya evaluasi hasil belajar yaitu:
1) Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam kurun waktu proses belajar tertentu.
2) Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.
3) Untuk mengetahui tigkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. 4) Untuk mngetahui hingga sejauh mana siswa telah mendayagunakan
kapasitas kognitifnya untuk keperluan belajar.
5) Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses mengajar-belajar.44
Hasil Belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah belajar,
yang wujudnya berupa kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.45
Hasil belajar adalah pola-pola perubahan nilai-nilai, pengertian-pengertian,
sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut Bloom, hasil belajar adalah
mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku secara keseluruhan bukan
hanya salah satu aspek potensi kemanusian saja. Artinya, hasil pembelajaran yang
dikategorikan oleh para pakar pendidikan sebagaimana tersebut di atas tidak
dilihat secara fragmentaris atau terpisah,melainkan komprehensif.
Keberhasilan pengajaran dapat dilihat dari segi hasil yang dicapai siswa,
tentunya mengharapkan bahwa semua hasil yang diperoleh itu membentuk suatu
sistem nilai (value sistem) yang dapat membentuk kepribadian siswa, sehingga
memberi warna dan arah dalam semua perbuatannya.
Prosedur hasil belajar membantu guru dalam beberapa hal :
1) Menolong siswa dalam memberikan pengetahuan tentang enter behavior siswa.
2) Menolong dalam menetapkan, memperbaiki dan memperjelas tujuan yang
realistis bagi tiap siswa.
43
Muhibin Syah,Op.Cit., h. 175
44
Ibid,h. 176-177
45 Trimo
dan Rusatiningsih. ArtikelMeningkatan Hasil Belajar IPS melalui Kolaborasi Metode Quantum Teaching dan Snowball Throwing.22 Januari 2010.http://Artikel
3) Menolong dalam mengevaluasi tingkat pencapaian tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan.
4) Menolong dalam menentukan, mengevaluasi dan memperbaiki teknik-teknik
mengajarnya.
5) Membantu memperbaiki informasi tentang kesulitan-kesulitan belajar siswa,
kemudian dapat dijadikan petunjuk untuk memperbaikinya.46
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Dalam belajar terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut
Muhibbin Syah dalam bukunya, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa
dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1) Faktor Intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa ssendiri.
2) Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar siswa.
Dari berbagai penjelasan di atas motivasi belajar dapat diartikan sebagai
segala sesuatu yang menjadi pendorong proses perubahan tingkah laku individu
yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan
lingkungannya untuk mencapai tujuan tertentu.
Jadi, secara umum, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan
prestasi belajar terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini
penulis akan menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan kedua faktor tersebut.47 1) Faktor Internal
Faktor Internal adalah faktor yang ada dalam diri seseorang dalam hal ini
dalam diri siswa. Faktor ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
a) Faktor Fisiologis
Faktor ini ditinjau berdasarkan keadaan jasmani. Kondisi umum
jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran
46
Nana Sujana,Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001), h.3
46Muhibin
Syah. Op.
47