PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE INQUIRY PADA PEMBELAJARAN IPA KELAS IV SD NEGERI 3 MARGADADI TAHUN 2012/2013

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

PENINGKATAN HASIL BELAJAR MELALUI METODE INQUIRY PADA PEMBELAJARAN IPA

KELAS IV SD NEGERI 3 MARGADADI TAHUN 2012/2013

Oleh JUWARTI

Masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar siswa. Sedangkan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah hasil belajar IPA pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Marga Dadi dapat ditingkatkan menggunakan metode inquiry. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar IPA menggunakan metode inquiry pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Marga Dadi Jati Agung Lampung Selatan tahun 2013.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research), dalam bentuk siklus yang masing-masing siklus terdiri dari rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Sedangkan subyek penelitian adalah siswa kelas IV SD Negeri 3 Marga Dadi yang berjumlah 23 orang siswa terdiri dari 13 orang putra dan 10 orang putri. Pengumpulan data dalam penelitian ini melalui tes tertulis bentuk objektif. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan persentase .

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar IPA pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Marga Dadi Lampung Selatan tahun 2013. Hal tersebut dibuktikan dari hasil pengolahan data penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar dari siklus I ke siklus III. Data hasil belajar pada siklus I sebanyak 11 orang (47,80%), siklus II sebanyak 15 orang (65,20%), dan siklus III sebanyak 21 orang (91,30%) siswa tuntas. Kesimpulan penelitian ini adalah adanya peningkatan hasil belajar IPA kelas IV SD Negeri 3 Marga Dadi dengan menggunakan metode Inquiry. Saran dari hasil penelitian ini adalah kepada guru yang melakukan penelitian dalam mata pelajaran IPA kelas IV hendaknya menggunakan metode inquiry agar dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa.

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Istilah pendidikan memiliki makna yang cukup luas, seluas pemahaman manusia dalam mencukupi kebutuhan. Pendidikan mengandung tiga bagian yaitu mengajar, membimbing, dan melatih. Peningkatan kualitas pendidikan akan mempengaruhi sumber daya manusia, karena dengan adanya peningkatan kualitas pendidikan maka sumber daya manusia juga akan meningkat dan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Peningkatan kualitas pendidikan terutama pendidikan di sekolah tidak terlepas dari proses pembelajaran.

(3)

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Karakteristik pendidikan IPA yang digariskan oleh Departemen Pedidikan Nasional sejalan dengan pandangan para pakar pendidikan IPA di tingkat internasional. Menurut Trowbridge & Bybee (Situmorang, 2011: 48), bahwa: 1. IPA merupakan perwujudan dari suatu hubungan dinamis yang mencakup tiga

faktor utama, yaitu: IPA sebagai suatu proses dan metode (methods and processes).

2. IPA sebagai produk-produk pengetahuan (body of scientific knowledge) 3. IPA sebagai nilai-nilai (values)

(4)

3

5. IPA atau ilmu pengetahuan ilmiah, misalnya observasi, pengukuran, merumuskan, menguji hipotesis, mengumpulkan data, bereksperimen, dan prediksi.

Dalam wacana seperti itu maka IPA bukan sekadar cara bekerja, melihat, dan cara berfikir, melainkan “science as a way of knowing”. Artinya. IPA sebagai proses juga dapat meliputi kecenderungan sikap/ tindakan, keingintahuan, kebiasaan berfikir, dan seperangkat prosedur. Sementara nilai-nilai (values) IPA berhubungan dengan tanggung jawab moral, nilai-nilai sosial, manfaat IPA untuk IPA dan kehidupan manusia, serta sikap dan tindakan (misalnya: keingintahuan, kejujuran, ketelitian, ketekunan, hati-hati, toleransi, hemat, dan pengambilan keputusan).

(5)

Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan sebagai sentral pembelajaran.

Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses belaajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi lebih efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang dismapaikan akan membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran tersebut.

Guru mengemban tugas yang berat untuk tercapainya tujuan Pendidikan Nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani., juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap tanah air, mempertebal semagat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial. Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Depdiknas (1999).

(6)

5

menyampaikan materi pelajaran agar diperoleh peningkatan aktivitas belajar siswa khususnya pelajaran IPA. Misalnya dengan membimbing siswa untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan mampu bembantu siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Pemahaman ini memerlukan minat dan motivasi. Tampa adanya minat menandakan bahwa siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Untuk itu, guru harus memberikan suntikan dalam bentuk motivasi sehingga dengan bantuan itu anak didik dapat keluar dari kesulitan belajar.

Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, kegagalan dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan belajar. Sehingga nilai rata-rata mata pelajaran IPA sangat rendah yaitu 43,47% siswa tuntas KKM. Hal ini disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan metode ceramah, tanpa menggunakan alat peraga, dan materi pelajaran tidak disampaikan secara kronologis. Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukaan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan siswa serta guruyang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep IPA.

(7)

Untuk lebih jelas nilai formatif siswa tersebut dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 1.1 Tes Formatif Kelas IV Mata Pelajaran IPA

No Nilai Frekuensi Kategori

1 10 0 Belum tuntas

Dari tabel di atas hasil belajar siswa dinyatakan masih rendah karena nilai Kriteria Ketuntasan Minimal yang telah diterapkan pada SD Negeri 3 Margadadi yaitu 63.00, sedangkan dari tabel di atas hanya 10 orang (43,47%) siswa tuntas KKM dan 13 orang (56,53%) siswa belum tuntas KKM . Hasil observasi guru kelas IV SD Negeri 3 Margadadi Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan untuk meningkatkan hasil belajar IPA perlu adanya perbaikan dalam metode pembelajarn yang digunakan, untuk itu penerapan model pembelajaran inquiry dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada siswa kelas IV merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mencapai hasil belajar yang maksimal dan sesuai apa yang diterapkan.

1.2 Identifikasi Masalah

(8)

7

pembelajaran di kelas IV SD Negeri 3 Margadadi Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam mata pelajaran IPA, diantaranya:

1. Hasil belajar IPA rendah, 56,53% siswa belum tuntas KKM.

2. Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran IPA pada pokok bahasan wujud benda dan sifat-sifatnya.

3. Guru dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan metode ceramah, tanpa menggunakan alat peraga, dan materi pelajaran tidak disampaikan secara kronologis.

4. Kurang adanya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

1.3 Rumusan Masalah

Masalah pada penelitian ini adalah hasil IPA rendah, adapun rumusan masalahnya adalah “apakah hasil belajar IPA dapat ditingkatkan dengan menggunakan metode

inquiry pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Margadadi”?

1.4 Tujuan Penelitian

(9)

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat bagi siswa dalam pembelajaran

a. Memperbaiki kualitas proses pembelajaran dengan sasaran akhir memperbaiki hasil belajar siswa

b. Kesalahan dan kesulitan dalam proses pembelajaran akan dengan cepat di analisis dan diagnosis sehingga kesalahan tersebut tidak berlarut-larut/ segera diatasi.

c. Adanya hubungan timbal balik antara pembelajaran dan hasil belajar siswa. d. Meningkatkan prestasi dan hasil belajar pada mata pelajaran IPA.

1.5.2 Manfaat bagi guru

a. Guru memiliki kemampuan memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang mendalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya.

b. Dengan melakukan PTK, guru dapat berkembang dan meningkatkan kinerjanya secara profesional, karena guru mampu menilai, merefleksi diri, dan mampu memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya.

c. Melalui PTK, guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri.

d. Dengan PTK, guru akan lebih merasa percaya diri.

(10)

9

1.5.3 Manfaat bagi sekolah

a. Menambahkan inovasi baru memacu tumbuhnya semangat kolaborasi antar komponen pendidikan di sekolah.

b. Berbagi strategi/ teknik pembelajaran dapat dihasilkan dari sekolah ini untuk disebarluaskan ke sekolah lain.

c. Sekolah yang berhasil mendorong terjadinya inovasi pada diri guru telah berhasil pula meningkatkan kualitas pendidik untuk para siswa.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari kesalahpahaman yang mungkin timbul, maka ruang lingkup penelitian ini adalah:

1.6.1 Hasil belajar IPA

Hasil belajar IPA adalah hasil belajar yang diperoleh siswa baik keaktifan siswa dalam mengikuti proses maupun hasil evaluasi setelah kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran inquiry.

1.6.2 Pembelajaran berbasis inquiry

(11)

unsur-unsur tersebut dapat muncul sesuai rencana atau spontan selama proses interaksi belajar mengajar berlangsung.

1.6.3 Materi pokok

Materi pembahasan dibatasi pada pokok bahasan wujud benda dan sifat-sifatnya (sifat-sifat benda padat, benda cair dan benda gas).

1.6.4 Subjek penelitian

(12)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Hasil Belajar

Pengertian hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya, sedangkan menurut Gagne hasil belajar harus harus didasarkan pada pengamatan tingkah laku melalui stimulus respon (Sudjana, 2005:19). Hasil belajar berkenaan dengan kemampuan siswa di dalam memahami materi pelajaran. Menurut Hamalik (2007: 31) mengemukakan, “hasil belajar pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, ablititas dan keterampilan”.

Hasil belajar tampak sebagai terjadi perubahan tingkah laku pada diri siswa yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap kurang sopan menjadi sopan dan sebagainya (Hamalik, 2007: 155)

(13)

teknik penilaian pembelajaran yang mendidik. Perencanaan penilaian proses serta hasil belajar dan pembelajaran mencakup penilaian eksternal dan internal.

Langkah perencanaan penilaian proses serta hasil belajar dan pembelajaran mencakup rencana penilaian proses pembelajaran dan rencana penilaian hasil belajar peserta didik. Rencana penilaian proses serta hasil belajar dan pembelajaran merupakan rencana penilaian yang akan dilakukan oleh guru untuk memantau proses kemajuan perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai dengan potensi yang dimiliki dan kemampuan yang diharapkan secara berkesinambungan.

Berdasarkan Taksonomi Bloom, hasil belajar dalam rangka pembelajaran meliputi tiga kategori ranah, yaitu:

1. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu:

a). Pengetahuan (C.1) b). Pemahaman (C. 2) c). Penerapan (C. 3) d). Analisis (C. 4) e). Sintesis (C. 5) f). Evaluasi (C. 6).

2. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan, yaitu:

a). Menerima

(14)

13

c). Menilai Organisasi

d). Karakteristik dengan suatu nilai e). Kompleks Nilai.

3. Ranah psikomotor, meliputi: a). Keterampilan motorik b). Manipulasi benda-benda

c). Koordinasi neuromuscular (menghubungkan, mengintai)

Tipe hasil belajar kognitif lebih dominan daripada afektif dan psikomotor karena lebih menonjol namun hasil belajar psikomotor dan afektif harus menjadi bagian dari hasil penilaian dan proses pembelajaran di sekolah. Berdasarkan dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya dan hasil tersebut dapat digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan dan hal ini dapat tercapai apabila siswa sudah memahami belajar dengan diringi oleh perubahan tingkah laku yang lebih baik lagi.

2.2Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

(15)

2.2.1 Faktor Internal

Faktor internal meliputi faktor fisiologis, yaitu kondisi jasmani dan keadaan fungsi-fungsi fisiologis. Faktor fisiologis sangat menunjang atau melatar belakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmani yang sehat akan lain pengaruhnya dibanding jasmani yang keadaannya kurang sehat. Untuk menjaga agar keadaan jasmani tetap sehat, nutrisi harus cukup. Hal ini disebabkan, kekurangan kadar makanan akan mengakibatkan keadaan jasmani lemah yang mengakibatkan lekas mengantuk dan lelah.

Faktor psikologis, yaitu yang mendorong atau memotivasi belajar. Faktor-faktor tersebut diantaranya:

a) Adanya keinginan untuk tahu

b) Agar mendapatkan simpati dari orang lain. c) Untuk memperbaiki kegagalan.

d) Untuk mendapatkan rasa aman.

2.2.2 Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal, yaitu faktor dari luar diri anak yang ikut mempengaruhi belajar anak, yang antara lain berasal dari orang tua, sekolah, dan masyarakat.

a) Faktor yang berasal dari orang tua

(16)

15

laisses faire. Cara atau tipe mendidik yang dimikian masing-masing mempunyai

kebaikannya dan ada pula kekurangannya.

Menurut hemat peneliti, tipe mendidik sesuai dengan kepemimpinan Pancasila lebih baik dibandingkan tipe-tipe diatas. Karena orang tua dalam mencampuri belajar anak, tidak akan masuk terlalu dalam.

Prinsip kepemimpinan Pancasila sangat manusiawi, karena orang tua akan bertindak ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Dalam kepemimpinan Pancasila ini berarti orang tua melakukan

kebiasaan-kebiasaan yang positif kepada anak untuk dapat diteladani. Orang tua juga selalu memperhatikan anak selama belajar baik langsung maupun tidak langsung, dan memberikan arahan-arahan manakala akan melakukan tindakan yang kurang tertib dalam belajar.

b) Faktor yang berasal dari sekolah

(17)

c) Faktor yang berasal dari masyarakat

Anak tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Faktor masyarakat bahkan sangat kuat pengaruhnya terhadap pendidikan anak. Pengaruh masyarakat bahkan sulit dikendalikan. Mendukung atau tidak mendukung perkembangan anak, masyarakat juga ikut mempengaruhi.

2.3Hakikat Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar

Pendidikan IPA adalah ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah (scientific knowledge). Siswa diharapkan dalam mempelajari IPA mempunyai kemampuan

berfikir kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan IPA. Agar menjadi bermakna, pembelajaran IPA harus dipusatkan pada aktifitas siswa (student centered hands-on activities). Siswa harus aktif baik secara fisik maupun pikiran selama pembelajaran IPA berlangsung. Dengan demikian siswa mampu sense of science yang baik, sehingga segala sesuatu yang berkaitan tentang IPA sudah tertanam di benak mereka (Situmorang, 2011: 2).

(18)

17

pengetahuan dan teknologi yang saling mengisi (komplementer), ibarat mata uang yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of technology).

IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan eksperimen.

2.4Cara Mengelola Pembelajaran IPA

Menurut Salamah (Situmorang, 2011: 30), cara mengelola pembelajaran IPA adalah sebagai berikut:

1. Menyajikan kegiatan yang beragam sehingga tidak membuat siswa jenuh. 2. Menggunakan sumber belajar yang bervariasi, disamping buku acuan.

3. Sesekali dapat bekerjasama dalam masyarakat, kantor-kantor, bank, dan lain-lain.

4. Sebagai sumber informasi yang terkait dengan praktek kehidupan sehari hari. 5. Memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar karena belajar akan

bermakna bila berhubungan langsung pada permasalahan lingkungan sekitar siswa.

(19)

7. Menciptakan suasana kelas yang menarik misalnya pajangan hasil karya siswa dan benda-benda lain, peraga yang mendukung proses pembelajaran.

2.5 Metode Pembelajaran Inquiry

Inquiry yaitu salah satu metode pengajaran dengan cara guru menyuguhkan suatu

peristiwa kepada siswa yang menimbulkan teka-teki, dan memotivasi siswa untuk mencari pemecahan masalah. Metode inquiry ditelusuri dari fakta menuju teori. Dengan harapan agar siswa terangsang untuk mencari dan meneliti, serta memecahkan masalah dengan kemampuannya sendiri. Dalam pelaksanaannya metode inquiry dapat dilakukan dengan cara guru membagi tugas meneliti suatu masalah di kelas. Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus diselesaikan. Kemudian tugas itu mereka pelajari, mereka teliti, serta dibahas bersama-sama dalam kelompoknya. Setelah dibahas, dan didiskusikan, kemudian masing-masing kelompok itu membuat laporan hasil kerja, dengan cara sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Langkah-langkah kegiatan inquiry: a. Merumuskan masalah

b. Mengamati atau observasi

c. Menganalisis dan menyajikan basil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya.

(20)

19

Model mengajar inquiry merupakan salah satu model kognitif yang diunggulkan untuk pembelajaran sains di sekolah. Hal ini sesuai dengan bekerja ilmiah dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) rumpun sains atau IPA. Perlunya guru sains merancang program pembelajaran yang berbasis inquiry teleh ditekankan sejak lama oleh para pakar pendidikan dan pakar pendidikan sains. Di Indonesia sendiri sekitar tahun 1980-an telah diperkenalkan salah satu model pengajaran IPA yang mengembangkan kemampuan berinkuiri, yaitu model latihan inkuiri (MLI) yang diturunkan dari model inkuiri suchaman, dan undangan inkuiri (invitations into inquiry) dari Schwab (Suyatna, 2010: 89). Pembelajaran berbasis inkuiri dapat dilaksanakan melalaui berbagai kegiatan atau cara. Menurut Collete dalam Suyatna (2010: 89), cara untuk memulai dan melaksanakan pengajaran inkuiri adalah dengan melalui kegiatan demonstrasi tentang kejadian-kejadian yang bertentangan, kegiatan pemecahan masalah, kegiatan induktif, kegiatan deduktif, dan kegiatan tugas kelompok. Namun demikian tidak semua unsur-unsur tersebut dapat muncul dalam satu pertemuan inkuiri dengan intensitas yang sama, artinya bahwa unsur-unsur tersebut dapat muncul sesuai rencana atau spontan selama proses interaksi belajar mengajar berlangsung.

2.6Strategi Pelaksanaan Metode Inquiry Strategi pelaksanaan inquiry adalah:

2.6.1Guru memberikan penjelasan, instruksi atau pertanyaan terhadap materi yang akan diajarkan.

(21)

2.6.3 Guru memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang mungkin membingungkan peserta didik.

2.6.4 Resitasi untuk menanamkan fakta-fakta yang telah dipelajari sebelumnya. 2.6.5 Siswa merangkum dalam bentuk rumusan sebagai kesimpulan yang dapat

dipertanggungjawabkan.

Metode inquiry menurut Roestiyah dalam Suyatna (2010:86) merupakan suatu teknik atau cara yang dipergunakan guru untuk mengajar di depan kelas, dimana guru membagi tugas meneliti suatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan, kemudian mereka mempelajari, meneliti, atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka di dalam kelompok didiskusikan, kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Akhirnya hasil laporan dilaporkan ke sidang pleno, dan terjadilah diskusi secara luas. Dari sidang pleno kesimpulan akan dirumuskan sebagai kelanjutan hasil kerja kelompok. Dan kesimpulan yang terakhir bila masih ada tindak lanjut yang harus dilaksanakan, hal itu harus dilaksanakan.

(22)

21

melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisa data, menarik kesimpulan. Pada metode inquiry dapat ditumbuhkan sikap obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, dan sebagainya. Akhirnya dapat mencapai kesimpulan yang disetujui bersama. Bila siswa melakukan semua kegiatan di atas berarti siswa sedang melakukan inquiry.

2.7 Keunggulan dan Kekurangan Metode Inquiry

2.7.1 Teknik inquiry ini memiliki keunggulan yaitu:

1. Dapat membentuk dan mengembangkan konsep dasar kepada siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar ide-ide dengan lebih baik.

2. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.

3. Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersifat jujur, obyektif, dan terbuka.

4. Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri. 5. Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.

6. Situasi pembelajaran lebih menggairahkan.

7. Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu. 8. Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.

2.7.2 Adapun kekurangan metode inquiry antara lain:

(23)

2. Pelaksanaan pengajaran melalui metode ini, dapat memakan waktu yang cukup panjang. Apalagi proses pemecahan masalah itu memerlukan pembuktian secara ilmiah

3. Proses jalannya inquiry akan menjadi terhambat, apabila siswa telah terbiasa cara belajar “nrimo” tanpa kritik dan pasif apa yang diberikan oleh gurunya

4. Tidak semua materi pelajaran mengandung masalah. Akan tetapi justru memerlukan pengulangan dan penanaman nilai. Misalnya pada pengajaran agama, mengenai keimanan, ibadah dan akhlak

2.8Hasil Penelitian yang Relevan

Metode inquiry merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Berdasarkan penelitian tindakan yang dilakukan di SD Negeri 1 Gedong Kiwo tahun 2011/ 2012 dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Melalui pembelajaran metode inquiry pada mata pelajaran IPA 2011/ 2012 meningkatkan aktivitas belajar siswa.

2. Melalui pembelajaran metode inquiry pada mata pelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

(24)

23

Berdasarkan penelitian tindakan yang dilakukan di SD Negeri 1 Sekaran Kecamatan Gunung Pati Semarang tahun 2009/ 2010 dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Melalui pembelajaran metode inquiry pada mata pelajaran IPA 2009/ 2010 meningkatkan aktivitas belajar siswa.

2. Melalui pembelajaran metode inquiry pada mata pelajaran IPA dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

3. Melalui pembelajarn metode inquiry pada mata pelajaran IPA dapat melibatkan siswa secara aktif dan kreatif, serta menimbulkan motivasi belajar (Supatmi, 2010).

2.9 Kerangka Pikir

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam proses pembelajaran, belajar berkaitan dengan proses pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan oleh guru untuk memperoleh hasil yang terbaik bagi siswa. Agar mencapai tujuan tersebut, siswa harus berperan aktif dalam proses pebelajaran itu sendiri karena proses pembelajaran akan terjadi jika ada interaksi atau komunikasi yang baik antarasiswa dan guru sehingga akan memungkinkan siswa mencapai tujuan belajar yang optimal.

(25)

SD Negeri 3 Margadadi Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan, pada pokok bahasan wujud benda dan sifat-sifat-sifatnya belum mampu menguasai materi karena banyak kekurangan yang masih ada, diantaranya: takut dengan mata pelajaran, banyak anak yang masih menyepelekan materi, malu untuk maju atau bertanya pada guru, dan masih banyak yang lainnya. Untuk mencapai nilai rata-rata yang masih kurang dari ketentuan ketuntasan minimal, maka guru lebih sering mengadakan tanya jawab, tugas, dan latihan. Selain itu pengguanaan pendekatan inquiry dan alat peraga digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak menjadi kongkret, dapat menjelaskan pada anak agar mudah dipahami.

2.10 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, hipotesis penelitian tindakan kelas adalah metode inquiry dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa kelas IV SD Negeri

(26)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

penelitian tindakan (action research) merupakan penelitian pada upaya pemecahan masalah atau perbaikan yang dirancang menggunakan metode penelitian tindakan yang bersifat reflektif dan kolaboratif. Prosedur pelaksanaan penelitian tindakan berupa suatu siklus atan daur ulang bentuk spiral yang setiap langkahnya terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi menurut Kemmis dan Taggart dalam Wiraatmadja (2006: 66).

3.2Setting Penelitian3.2

Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil bulan November 2012 sampai Januari 2013 pada Kelas IV SD Negeri 3 Margadadi Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan TP. 2012/ 2013. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV yang berjumlah 23 orang siswa, terdiri dari 13 orang putra dan 10 orang putri. Selain peneliti sendiri, penelitian melibatkan satu orang observer (kolaborator).

3.3Teknik dan Alat Pengumpulan Data3.3

(27)

1. Lembar observasi

Lembar observasi yang digunakan adalah lembar pengamatan kinerja guru pada saat proses pembelajaran. Data kinerja guru diperoleh dengan menggunakan yaitu jika ya di beri skor 1 dan jika tidak di beri skor 0, skor maksimal . Kriteria pada lembar observasi guru dengan indikator sebagai berikut:

Tabel 3.1 daftar indikator lembar IPKG No. Indikator Kategori

1. 18-22 aktivitas Sangat baik 2. 12-17 aktivitas Baik 3. 6-11 aktivitas Cukup baik 4. 0-5 aktivitas Kurang baik

2. Tes

Tes yang digunakan adalah tes tertulis, bentuk tes objektif (pilihan ganda) sebanyak 10 butir soal, untuk mengetahui kemampuan siswa sebagai hasil belajar setelah pembelajaran IPA menggunakan metode inquiry. Setiap butir soal dengan jawaban benar mendapat skor 2, dan skor 0 untuk jawaban salah. Total skor maksimal adalah 20 dan skor minimal 0.

3.4Teknik Analisis Data 3.4

Teknik analisis data yang dilakukan adalah mengumpulkan semua data kuantitatif dari siklus I sampai siklus III.

(28)

27

3.4.1 Penilaian hasil belajar

Peneliti menjumlahkan skor yang diperoleh siswa, selanjutnya dibagi dengan skor maksimal yang ditentukan. Nilai siswa didapat dengan menggunakan rumus:

4.3.2 Penilaian ketuntasan belajar

Dalam penelitian ini terdapat dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara individu dan klasikal. Ketuntasan belajar individual didapat dari KKM mata pelajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah yaitu siswa dinyatakan tuntas dalam belajarnya jika telah mendapatkan nilai 63, sedangkan dibawah 63 dinyatakan belum tuntas. Ketuntasan belajar secara klasikal yaitu mengukur tingkat keberhasilan ketuntasan belajar siswa menyeluruh, untuk menghitung persentase ketuntasan belajar klasikal menggunakan rumus:

3.5Validasi Instrumen

Validasi instrumen dalam penelitian ini menggunakan validitas isi (content validity) maka perlu dibuat kisi-kisi soal sebelum soal disusun. Hal ini penting

dilakukan dengan alasan diantaranya :

a) Kisi-kisi dibuat dengan maksud supaya materi yang dibuat sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

(29)

3.6 Prosedur Penelitian

Siklus aktivitas dalam PTK diawali dengan perencanaan tindakan, penerapan tindakan, mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan, dan melakukan refleksi, dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan diharapkan tercapai (Situmorang, 2011: 34).

Berikut ini adalah alur siklus PTK:

Gambar 3.1 Alur Siklus PTK (Situmorang, 2011: 37)

Penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 3 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi. Adapun langkah-langkah dari setiap siklus antara lain :

SIKLUS I

3.6.1 Tahap Perencanaan

(30)

29

b. Menetapkan standar kompetensi yang akan dicapai sesuai dengan kurikulum yang berlaku di sekolah.

c. Menyiapkan silabus dan RPP serta menyiapkan media pendukung dalam pembelajaran.

d. Menyiapkan instrumen evaluasi dan rubrik penilaian. e. Menyiapkan instrumen observasi guru dan Siswa.

3.6.2 Tahap Pelaksanaan

Pembelajaran pada siklus I dilaksanakan 2 x pertemuan yang berlangsung 2 x 35 menit. Diakhir pertemuan diadakan tes hasil belajar.

Siklus I Pertemuan 1 (2 x 35 menit)

a. Guru memberitahukan tujuan pembelajaran.

b. Guru menyampaikan manfaat mempelajari materi yang akan diajarakan

c. Guru membagi siswa dalam kelompok yang terdiri dari 3-5 siswa pada setiap kelompok diberi nomor 1-5.

d. Guru membagi lembar kegiatan siswa (LKS).

e. Siswa bekerja sama menyelesaikan tugas yang diberikan guru.

f. Guru menunjuk salah satu kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.

g. Guru dan siswa membuat kesimpulan.

3.6.3 Tahap Observasi

(31)

3.6.4 Tahap Refleksi

Refleksi meliputi kegiatan menganalisis, memahami dan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan. Refleksi dilakukan dengan menganalisis hasil observasi dan hasil tes pelajaran IPS yang digunakan sebagai dasar untuk perbaikan pada siklus berikutnya.

3.7 Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian kategori mencapai keberhasilan dengan kriteria minimal 75% siswa tuntas sesuai dengan KKM sekolah yaitu 63.

3.8 Jadwal Penelitian Tabel 3.2 Jadwal penelitian

No. Materi pokok November desember

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

1 Wujud Benda √

2 Sifat-sifat Benda Padat

3 Sifat-sifat Benda Cair

4 Sifat-sifat Benda Gas

(32)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan. pembelajaran IPA dengan metode inquiry pada siswa kelas IV SD Negeri 3 Marga Dadi Jati Agung Lampung Selatan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Adanya peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA dengan menggunakan metode inquiry dari siklus I sampai dengan siklus III. Terjadi peningkatan dalam pemahaman materi dan siswa mengerjakan tes evaluasi dengan hasil yang baik. Pada siklus III hasil belajar siswa mencapai target penelitian dengan rata-rata persentase 91,30% siswa tuntas KKM sekolah. 2. Adanya peningkatan kinerja guru pada mata pembelajaran IPA dengan

(33)

5.2Saran

Penulis berharap dengan adanya kegiatan pembelajaran IPA menggunakan metode inquiry dapat dijadikan model pembelajaran kreatif dan inovatif bagi pendidik sehingga dapat menghasilkan lulusan SD yang lebih berkualitas.

1. Saran kepada guru apabila akan meningkatkan hasil belajar IPA dapat menggunakan metode inquiry. Dalam proses pembelajaran, guru hendaknya mengembangkan semua aspek prilaku siswa baik yang bersifat pengembangan keterampilan kognitif, afektif, maupun psikomotor yang dapat dikembangkan dengan metode inquiry.

2. Untuk para peneliti berikutnya dapat lebh mengembangkan lagi penggunaan metode inquiry dalam pembelajaran sebagai salah satu bahan penelitian peningkatan hasil balajar IPA di sekolah dasar.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

Abid, bindus. 2011. Laporan Penelitian Tindakan Kelas.

http://www.ifqowordpress.com.diakses 18 November 2012.

Annurrahman,dkk. 2010. Penelitian Pendidikan SD. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi kementrian pendidikan Nasional. Jakarta: Universitas Terbuka.

Arikunto, Suharsini. 2008. Penelitian Tindakan Kelas, cetakan ke IV. Jakarta: Bumi Aksara.

Asih B, Setyowati. 2012. Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA melalui Metode Inquiry pada Siswa Kelas IV SDN 1 Gedong Kiwo. Laporan Hasil Penelitian (PTK): Universitas Yogyakarta. Yokyakarta.

Aswida. 2012. Penggunaan Media Realia Sebagai Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPA pada Siswa Kelas V SDN 1 Sukabumi. Laporan Hasil Penelitian (PTK): Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Depdiknas. 1999. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Hamalik, Oemar. 2007. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Slameto. 2003. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Situmorang, Heddy. 2011. Peningkatan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPA dengan Pendekatan Coontextual Teaching and Learning di Kelas IV A SD Negeri I Sukarame Dua Teluk Betung Barat Bandar Lampung, Laporan Hasil Penelitian (PTK) : Universitas Lampung. Bandar lampung.

Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya.

(35)

Suyatna, Agus. 2010. Pembelajaran Aktif Inovatif, Kreatif Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM). Bandar Lampung : UNILA.

Figur

Tabel 3.1 daftar indikator lembar IPKG

Tabel 3.1

daftar indikator lembar IPKG p.27
Gambar 3.1 Alur Siklus PTK (Situmorang, 2011: 37)

Gambar 3.1

Alur Siklus PTK (Situmorang, 2011: 37) p.29
Tabel 3.2 Jadwal penelitian

Tabel 3.2

Jadwal penelitian p.31

Referensi

Memperbarui...