• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategy of capture fisheries development in nunukan regency East Kalimantan, Indonesia-Malaysia Border

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Strategy of capture fisheries development in nunukan regency East Kalimantan, Indonesia-Malaysia Border"

Copied!
440
0
0

Teks penuh

(1)

TIMUR, PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA

IIN SOLIHIN

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi ―Strategi Pengembangan Perikanan Tangkap di Wilayah Kabupaten Nunukan Kalimantan Tumur, Perbatasan Indonesia-Malaysia‖ adalah karya saya sendiri dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

(4)
(5)

East Kalimantan, Indonesia-Malaysia Border. SUGENG HARI WISUDO, DRAJAT MARTIANTO and JOHN HALUAN

The aims of this research are (i) to analyse the development of fishery product marketing (ii) to analyse the development of capture fishery production (iii) to analyse the development of capture fishery institutions (iv) to analyse the development of fishery strategic environment and (v) to formulate development strategy for capture fishery in the border area. The location of this research is Nunukan Regency, East Kalimantan. Survey to the capture fishery areas centers in both Nunukan Regency, Indonesia and Tawau, Malaysia – the area exactly in the border of Nunukan, was conducted in order to investigate the capture fishery conditions. Data were taken from March – April 2009 and then in Januari 2010.

The catch marketing still have not give sufficient price for Nunukan’s fisher

because there is a relatively large dependence of the fishers in Nunukan District to the owners of capital from Tawau through Nunukan middle men. Fishing productivity relatively small namely, 95 kg/ catching trip, and fisher productivities only reach approximately 3,97kg/day. Superior commodities in Nunukan Regency include white shrimp (Penaeus merguiensis), black pomfret (Formio

niger), anchovies (Stolephorus spp), narrow-barred Spanish mackerel

(Scomberomorus commerson),silver pomfret (Pampus argenteus),, Greasy

rockcod (Epinephelus tauvina),, Spotted javelinfish (Pomadasys maculatus), jack trevallies (Caranx spp), stingrays (Dasyatis spp), four finger treadfin (Eleutheronema tetradactylum). The problems are the fishing port has not functioned as a supporting infrastructure for capture fisheries and the IUU Fishing. There is no specific regulatin about capture fisheries management in the border area comprehenshiply. Achivement for capture fisheries management in

border area are (i) to increase fisher’s and state’s income by improving catch trade

system to abroad (ii) keeping fish resouces in the border area waters by IUU Fishing handling and imroving cooperation between Indonesia Malaysia in fisheries resources utilization. Nunukan regional economic have adventages to support capture fisheries development but there is infrastructure problems to support fisheries resources utilization. Strategies for capture fisheries development consist of (i) developing master plan blue print of capture fisheries development in the border area, (ii) strengthening fisher’s institutions, (iii) increasing fisher’s skill (iv) strengthening fisher’s financial capital (v) increasing fleet/boat capacity to cruise over seas (vi) optimalization fishing port function and accelerating fishing port and fish processing industry development (vii) optimalization to prevent illegal fishing practices (viii) optimalization role fishery mentoring (ix) cooperation to manage capture fisheries resources in border regions between Indonesia and Malaysia government (x) reformulating fisher collaboration system.

(6)
(7)

Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur, Perbatasan Indonesia - Malaysia. Dibimbing oleh SUGENG HARI WISUDO, DRAJAT MARTIANTO dan JOHN HALUAN

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar terdapat 92 pulau terluar. Potensi sumberdaya alam yang dimiliki sebagian besar wilayah terluar Indonesia adalah sumberdaya kelautan dan perikanan. Hal ini dapat dipahami mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dimana aspek kelautan menjadi sangat dominan. Sangat menungkinkan apabila sektor perikanan dan kelautan dapat menjadi basis dan andalan pengembangan ekonomi wilayah perbatasan tersebut.

Namun demikian, dalam kenyataannya wilayah-wilayah perbatasan dengan basis perikanan belum banyak yang berkembang. Terbatasnya akses dari dan ke wilayah tersebut menyebabkan aktifitas perekonomian dan pembangunan pada umumnya belum optimal dilaksanakan. Di sisi lain akses dari wilayah tersebut ke negara tetangga relatif lebih baik. Hal ini menyebabkan interaksi antara masyarakat Indonesia di wilayah terluar tersebut dengan masyarakat negara tetangga lebih intensif dibandingkan dengan masyarakat lain di dalam wilayah Indonesia.

Kondisi seperti yang digambarkan di atas juga terjadi di Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Potensi pengembangan perikanan tangkap di wilayah ini diperkirakan masih relatif besar. Pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap yang baik, tidak hanya akan mengurangi kerugian negara akibat pencurian ikan oleh nelayan-nelayan asing, tetapi lebih dari itu akan memberikan dampak yang besar bagi peningkatan kesejahteraan pelaku perikanan khususnya dan masyarakat Nunukan pada umumnya. Mengingat karakteristik fisik dan masyarakat yang relatif unik dibandingkan dengan wilayah lain, maka perlu dibangun model pengembangan perikanan tangkap tertentu yang tidak hanya memperhatikan karakteristik potensi perikanan yang ada, tetapi juga aspek-aspek yang perbatasan perlu mendapat penekanan.

Penelitian ini bertujuan (i) menganalisis pengembangan pemasaran hasil tangkapan ikan, (ii) menganalisis pengembangan produksi penangkapan ikan, (iii) menganalisis pengembangan kelembagaan pengelolaan perikanan tangkap, (iv) menganalisis pengembangan lingkungan strategis pengembangan perikanan tangkap dan (v) merumuskan strategi pengembangan perikanan tangkap di wilayah perbatasan

Dalam rangka melihat kondisi perikanan tangkap maka dilakukan survey ke wilayah-wilayah konsentrasi perikanan tangkap di Nunukan dan daerah Tawau Malaysia yang merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Indonesia di wilayah tersebut. Pengambilan data dilakukan pada Maret – April 2009 dan bulan Januari 2010.

(8)

ditunjukkan oleh nilai produktifitas alat tangkap maupun produktifitas nelayan yang masing-masing baru mencapai 95 kg/hari/alat tangkap dan 3,97 kg/nelayan/hari. Komoditas unggulannya di Kabupaten Nunukan adalah udang putih (Penaeus merguiensis), bawal hitam (Formio niger), teri (Stolephorus spp), tenggiri (Scomberomorus commerson), bawal putih (Pampus argenteus), udang bintik, kerapu lumpur (Epinephelus tauvina), arut (gerot-gerot) (Pomadasys maculatus), kuwe/putih (Caranx spp), pari kembang/pari macan (Dasyatis spp) dan Kurau (Eleutheronema tetradactylum). Permasalahan yang dihadapi adalah pelabuhan perikanan belum berfungsi sebagai prasarana pendukung penangkapan ikan dan adanya praktek IUU Fishing.

Belum adanya peraturan yang spesifik mengatur mengenai pengelolaan perikanan tangkap di perbatasan secara komprehensif. Tujuan pengelolaan perikanan di perbatasan adalah (i) meningkatkan pendapatan nelayan dan negara melalui penyempurnaan sistem perdagangan hasil tangkapan ke luar negeri (ii) menjaga kelestarian sumberdaya ikan di wilayah perairan perbatasan melalui penanganan praktek IUU Fishing dan meningkatkan kerjasama antara Indonesia dan Malaysia dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan.

Kondisi ekonomi wilayah mempunyai keunggulan dan mendukung pengembangan perikanan tangkap. Namun demikian aspek infrastruktur yang relatif terbatas menjadikan kendala dalam pengembangan perikanan tangkap.

(9)

@Hak Cipta milik IPB, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulisan ini tanpa mencatumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

(10)
(11)

PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA

IIN SOLIHIN

Disertasi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada

Program Studi Teknologi Kelautan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

Penguji pada Ujian Tertutup : Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc

Dr. Ir. M. Imron, M.Si

Penguji pada Ujian Terbuka : Dr. Ir. Bustami Mahyudin, MM

(13)

Indonesia-Malaysia

Nama : Iin Solihin

NIM : C461060051

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Sugeng Hari Wisudo, M.Si Ketua

Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Si

Anggota Anggota

Diketahui,

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Teknologi Kelautan Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro, M.Sc Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc

(14)
(15)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema penelitian yang dilaksanakan pada bulan Maret-April 2009 dan Januari 2010 ini adalah pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Nunukan yang merupakan perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

Beberapa bab dalam tulisan ini telah dan sedang diajukan terbit pada jurnal ilmiah. Bab 4 mengenai pengembangan pemasaran hasil tangkapan diajukan pada Internasional Fisheries Research Jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Riset Perikanan Tangkap Badan Riset Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bab 5 mengenai pengembangan produksi perikanan tangkap telah diterbitkan pada Buletin PSP yang diterbitkan oleh Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.

Keberhasilan penyelesaian disertasi ini tidak terlepas dari bantuan dan kontribusi berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Dr. Ir. Sugeng Hari Wisudo, M.Si, Prof. Dr. Ir. John Haluan, M.Sc dan Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Si selaku dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Mulyono S. Baskoro dan Dr. Ir. M. Imron selaku penguji pada ujian tertutup, Dr. Ir. Bustami Mahyudin, MM dan Dr. Ir. Triwiji Nurani, M.Si selaku penguji pada ujian terbuka, Ir. Bambang Sutejo dan Dr. Aji Sularso yang berkenan menjadi narasumber untuk penelitian ini. Kepada Pimpinan dan staf Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Nunukan, Pimpinan dan staf Bappeda Kab. Nunukan, Pengelola PPI Sebatik, penulis juga mengucapkan terima kasih atas bantuannya selama penelitian di lapangan. Ucapan terima juga disampaikan kepada Ditjen Pendidikan Tinggi yang telah memberikan bantuan beasiswa BPPS sekaligus bantuan penelitian doktor, Pimpinan IPB, FPIK dan Departemen PSP yang telah memberikan dorongan untuk menyelesaikan disertasi ini. Penghargaan dan ucapan terima kasih yang tiada terhingga juga disampaikan kepada bapak, ibu,ibu mertua, istri dan anak-anak tercinta yang rela berbagi perhatian, waktu, tenaga, pikiran dan materi demi terselesaikan studi ini. Teman sejawat di Departemen PSP yang juga memberikan dorongan dan suasana kekeluargaan sehingga penulis merasa betah bekerja, sdri Yuningsih dan sdri Dini yang telah memberikan bantuan pencarian pustaka dan pengurusan admistrasi, dan sdr. Yeyen Kurniawan atas bantuan dalam suka dan dukanya.

Semoga disertasi ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang perikanan tangkap.

(16)

Penulis dilahirkan di Kabupaten Kuningan Jawa Barat pada tanggal 10

Desember 1970 dari ayah bernama Saleh Hidayat dan ibu bernama Arnesah dan

merupakan putra pertama dari dua bersaudara. Menikah dengan Yanti pada tahun

1996 dan dikaruniai 3 orang anak : Zulfahmi, Nabila Nurul Habibah dan

Muhammad Naufal An Nabhani.

Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di kota kelahiran pada

rentang waktu 1977-1989. Pada tahun 1989, penulis diterima di Institut Pertanian

Bogor jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Sesaat setelah lulus pada

tahun 1994, penulis bekerja di perusahaan swasta perikanan sampai akhirnya pada

tahun 1997 diterima sebagai dosen di Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya

Perikanan IPB. Penulis kemudian melanjutkan studi S2 dan lulus pada tahun

2003 dari Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan

Perdesaan Program Pascasarjana IPB dan penulis kembali meneruskan pendidikan

jenjang S3 pada Program Studi Teknologi Kelautan Sekolah Pascasarjana IPB

yang lulus pada tahun 2012.

Selama ini penulis sering melakukan kajian-kajian mengenai perikanan

tangkap khususnya kajian pembangunan dan manajemen pelabuhan perikanan dan

pembangunan wilayah. Sebagian besar lokasi yang menjadi sentra perikanan

tangkap pernah menjadi obyek penelitian dan kajian diantaranya adalah Propinsi

Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu,

Pulau Jawa, Bali, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah dan lain-lain.

Sedangkan penelitian tentang kajian pengembangan perikanan tangkap di wilayah

perbatasan pernah dilakukan di Kota Sabang Nanggroe Aceh Darussalam,

Kabupaten Kepulauan Riau dan Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur.

Disamping sebagai dosen, penulis juga diberi amanah untuk menangani

Pengembangan Karir Mahasiswa di Direktorat Pengembangan Karir dan

Hubungan Alumni Institut Pertanian Bogor yang sebelumnya bernama Kantor

Jasa Ketenagakerjaan dan Pusat Jasa Ketenagakerjaan sejak tahun 1999 sampai

(17)
(18)

CPUE : Catch per unit of effort, adalah jumlah atau bobot hasil tangkapan yang diperoleh dari satu satuan alat tangkap dalam kurun waktu tertentu, yang merupakan indeks kelimpahan (abundance) suatu stok ikan.

Ikan : Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan.

Interaksi sosial : Suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat.

Dengan adanya nilai dan norma yang

berlaku,interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika aturan - aturan dan nilai – nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik.

Jaminan atau agunan : Aset pihak peminjam yang dijanjikan kepada

pemberi pinjaman jika peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman tersebut. Jika peminjam gagal bayar, pihak pemberi pinjaman dapat memiliki agunan tersebut. Dalam pemeringkatan kredit, jaminan sering menjadi faktor penting untuk meningkatkan nilai kredit perseorangan ataupun perusahaan.

Infrastruktur : Kebutuhan dasar fisik pengorganisasian sistem

struktur yang diperlukan untuk jaminan ekonomi sektor publik dan sektor privat sebagai layanan dan fasilitas yang diperlukan agar perekonomian dapat berfungsi dengan baik

Kapal Perikanan : Kapal, perahu atau alat apung lain yang digunakan untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengangkutan ikan, pengolahan ikan, pelatihan perikanan dan penelitian/eksplorasi perikanan.

Kebijakan : Rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman

(19)

bagi individu atau anggota masyarakat.

Komoditas Ikan Unggulan : Jenis-jenis ikan yang menjadi andalan dari suatu wilayah baik yang dilihat dari produksi, nilai jual, ketersediaannya.

Konflik : Suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa

juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha

menyingkirkan pihak lain dengan

menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

Lingkungan strategis : kondisi eksternal suatu sistem yang sangat

berpengaruh terhadap kinerja sistem tersebut

Perikanan : Semua kegiatan yang berhubungan dengan

pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.

Penangkapan ikan : Kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan yang

tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun, termasuk kegiatan yang menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan, mendinginkan, menangani, mengolah, dan/atau mengawetkannya.

Pelabuhan perikanan : Tempat yang terdiri atas daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh, dan/atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan.

Pemasaran : Proses penyusunan komunikasi terpadu yang

bertujuan untuk memberikan informasi mengenai

barang atau jasa dalam kaitannya dengan

memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.

(20)

Pembangunan berkelanjutan :Proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi

kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan

pemenuhan kebutuhan generasi masa depan

Pengelolaan perikanan : Semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati

Produktifitas alat tangkap: Jumlah tangkapan ikan yang dihasilkan oleh suatu unit alat penangkapan dalam satuan waktu tertentu seperti trip, hari, bulan atau tahun.

Produktifitas nelayan : Jumlah tangkapan yang diperoleh setiap nelayan dalam suatu satuan waktu atau alat tangkap tertentu.

Rekayasa sosial : Campur tangan sebuah gerakan ilmiah dari visi ideal

tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial.

Sistem : Gugus atau kumpulan dari komponen yang saling

berinteraksi dan terorganisasi dalam rangka

mencapai suatu tujuan atau gugus tujuan tertentu

Strategi : Rencana yg cermat mengenai kegiatan untuk

mencapai sasaran khusus

Sumber daya ikan : Potensi semua jenis ikan

SWOT : Metode perencanaan strategis yang digunakan untuk

mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk

akronim SWOT (strengths, weaknesses,

opportunities, dan threats).

(21)

Manajemen : Sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efisien

Model : Rencana, representasi, atau deskripsi yang

menjelaskan suatu objek, sistem, atau konsep, yang seringkali berupa penyederhanaan atau idealisasi. Bentuknya dapat berupa model fisik (maket, bentuk prototipe), model citra (gambar rancangan, citra komputer), atau rumusan matematis.

Nelayan : Orang yang mata pencahariannya melakukan

penangkapan ikan.

Wilayah perbatasan : Daerah atau jalur pemisah antara unit-unit politik (negara).

WPP : Wilayah pengelolaan perikanan untuk penangkapan

ikan, pembudidayaan ikan, konservasi, penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan zona ekonomi eksklusif Indonesia.

ZEEI : Jalur di luar dan berbatasan dengan laut teritorial

(22)
(23)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... v DAFTAR GAMBAR ... vii DAFTAR LAMPIRAN ... ix

1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 4 1.4 Manfaat Penelitian ... 5 1.5 Kerangka Penelitian ... 5 1.5.1 Pengembangan produksi perikanan tangkap ... 5 1.5.2 Pengembangan pemasaran hasil tangkapan ... 7 1.5.3 Kelembagaan pengelolaan ... 8 1.5.4 Pengembangan lingkungan strategis ... 8

2 TINJAUAN PUSTAKA ... 10 2.1 Perikanan Tangkap ... 10 2.1.1 Komponen sistem perikanan tangkap ... 10 2.1.2 Pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan ... 14 2.1.3 Konflik pengelolaan sumberdaya perikanan dan

penyelesaiannya ... 17 2.1.4 Potensi sumberdaya ikan ... 21 2.2 Konsepsi Pembangunan Wilayah ... 22 2.2.1 Pengertian pembangunan wilayah ... 22 2.2.2 Interaksi antar wilayah ... 25 2.2.3 Tantangan dan kendala pembangunan wilayah perbatasan ... 27 2.3 Sistem dan Pemodelan ... 31

3 METODOLOGI ... 34 3.1 Lokasi Penelitian ... 34 3.2 Pengumpulan Data ... 34 3.3 Pengolahan dan Analisis Data ... 34 3.3.1 Analisis pengembangan pasar ... 34 3.3.2 Analisis pengembangan produksi penangkapan ... 37 3.3.3 Analisis pengembangan kelembagaan pengelolaan ... 40 3.3.4 Analisis lingkungan strategis ... 42 3.3.5 Penyusunan strategi pengembangan perikanan tangkap di

(24)

4 KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN ... 44 4.1 Letak Geografi dan Topografi ... 44 4.2 Kependudukan ... 47 4.3 Ketenagakerjaan ... 50 4.4 Kebijakan Pembangunan Daerah ... 53

5 PENGEMBANGAN PEMASARAN HASIL TANGKAPAN ... 57

5.1 Pola Distribusi Hasil Tangkapan ... 57 5.2 Pola Hubungan Sosial Masyarakat Nelayan ... 58 5.3 Pembahasan ... 62

6 PENGEMBANGAN PRODUKSI HASIL TANGKAPAN ... 69

6.1 Ketersediaan Sumberdaya Ikan ... 69 6.2 Komoditas Ikan Unggulan ... 73 6.3 Tingkat Teknologi Penangkapan Ikan ... 74 6.4 Praktek IUU Fishing ... 78 6.5 Infrastruktur Pelabuhan Perikanan ... 82 6.6 Industri Pengolahan Hasil Tangkapan ... 88 6.7 Sumberdaya Manusia Perikanan Tangkap ... 89 6.8 Pembahasan ... 90

7 PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN

PERIKANAN TANGKAP DI PERBATASAN ... 96 7.1 Kajian Peraturan dan Kebijakan Pengelolaan ... 96 7.2 Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan ... 107

8 PENGEMBANGAN LINGKUNGAN STRATEGIS PENGELOLAAN

(25)

9 STRATEGI PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI

KABUPATEN NUNUKAN ... 141 9.1 Gambaran Masalah Pengembangan Perikanan Tangkap ... 142 9.2 Identifikasi Solusi Atas Isu ... 142 9.3 Model Konseptual Pengembangan Perikanan Tangkap ... 144 9.3.1 Sub sistem produksi dan nilai tambah ... 144 9.3.2 Sub sistem pemasaran hasil tangkapan dan hubungan sosial ... 147 9.3.3 Sub sistem kelembagaan pengelolaan ... 149 9.3.4 Sub sistem pengembangan lingkungan strategis ... 151 9.3.5 Integrasi model ... 153 9.4 Perbandingan Model Konseptual dan Dunia Nyata ... 154 9.5 Langkah Perubahan dan Pilihan Strategi ... 157

10 KESIMPULAN DAN SARAN ... 166 10.1 Kesimpulan ... 166 10.2 Saran ... 167

DAFTAR PUSTAKA ... 168

(26)
(27)

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Batas laut, status hukum dan pemanfaatan sumberdaya alam ... 16

2 Data yang dibutuhkan ... 36

3 Kriteria analisis isi peraturan pengelolaan perikanan tangkap ... 41

4 Matrix analysis fungsi dan kewenangan pengelolaan ... 41 5 Nama Kecamatan di Kabupaten Nunukan dan luas wilayahnya ... 46

6 Nama Pulau di Kabupaten Nunukan dan luasannya ... 47

7 Jumlah dan kepadatan penduduk tahun 2000-2009 ... 48

8 Jumlah dan kepadatan penduduk tiap kecamatan tahun 2009 ... 49

9 Perkembangan jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan rasionya ... 49

10 Jumlah penduduk tiap kecamatan menurut jenis kelamin dan rasio jenis kelamin 2009 ... 50

11 Persentase penduduk berumur 15 tahun keatas menurut kegiatan utama

2003 – 2009 (%) ... 50 12 Persentase penduduk usia kerja menurut kegiatan utama tahun 2009 ... 51

13 TPAK, TPT dan TKK menurut jenis kelamin tahun 2006-2009 ... 52

14 Indikator Ketenagakerjaan Kabupaten Nunukan Tahun 2006-2009 ... 53

15 Harga ikan di tingkat nelayan Nunukan, pedagang pengumpul dan Pasar

Tawau ... 61 16 Margin Harga di tingkat nelayan, pedagang pengumpul

dan Pasar Tawau ... 62

17 Hasil tangkapan per upaya penangkapan ikan tahun 2005-2010 ... 72

18 Komoditas unggulan berdasarkan perhitungan skoring ... 74

19 Perkembangan jumlah alat tangkap di Kabupaten Nunukan tahun 2005-2010 ... 76

20 Trip penangkapan ikan berdasarkan alat tangkap ... 77

21 Produktifitas alat tangkap per trip penangkapan ... 77

22 Asal dan jenis kapal asing yang tertangkap di Perairan Nunukan

Kalimantan Timur ... 79 23 Perkembangan penangkapan ikan illegal di Perairan Nunukan ... 80

24 Permasalahan pengawasan kapal ikan ... 81

25 Tugas pokok dan fungsi instansi terkait penanganan

(28)

27 Jumlah pemilik usaha pengolahan tahun 2010 ... 88

28 Perkembangan jumlah nelayan dan produktifitas penangkapannya ... 90

29 Aspek pengawasan praktek IUU Fishing ... 93

30 Hasil analisis isi peraturan perikanan ... 106

31 Pengelompokkan tujuan pengelolaan perikanan ... 110

32 Tujuan yang ingin dicapai dan aturan tambahan... 111

33 Kegiatan dan fungsi kelembagaan ... 112

34 Distribusi PDRB Atas Dasar Harga Konstan menurut lapangan usaha tahun 2003 – 2007 ... 114 35 PDRB perkapita Kab. Nunukan 2005-2009 ... 115

36 Hasil analisis shiftshare berdasarkan PDRB Kab. Nunukan ... 117

37 Jumlah pelintas batas Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Malaysia

tahun 2007-2009 ... 119

38 Banyaknya kedatangan warga negara asing menurut negara asala tahun

2007-2009 ... 120

39 Panjang jalan kabupaten menurut jenis tahun 2009 ... 122

40 Kondisi jalan kabupaten tahun 2007-2009 ... 123

41 Jumlah desa yang telah dialiri listrik tahun 2009 ... 123

42 Kewenangan pemerintah dalam pengelolaan wilayah perbatasan ... 126

43 Hasil analisis elemen yang diinginkan di masa yang akan dating ... 144

44 Pelaksanaan fungsi pelabuhan perikanan di Nunukan ... 145

45 Perbandingan model konseptual dengan dunia nyata pada sub sistem

peningkatan produktifitas dan nilai tambah ... 155

46 Perbandingan model konseptual dengan dunia nyata pada sub sistem

pemasaran dan hubungan sosial ... 155

47 Perbandingan model konseptual dengan dunia nyata pada sub sistem

kelembagaan pengelolaan ... 156

48 Perbandingan model konseptual dengan dunia nyata pada sub sistem

lingkungan strategis ... 156

49 Pilihan skenario pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten

(29)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Kerangka pemikiran penelitian ... 9

2 Kompleksitas sistem perikanan ... 14

3 Evolusi pemikiran pembangunan ... 23

4 Segitiga perdagangan yang dinikmati negara sendiri (Kiri) dan negara lain (Kanan) (Caves and Jones, 1981 dalam Nugroho dan Dahuri, 2004) 26 5 Peta lokasi penelitian ... 35

6 Alur analisis kelembagaan ... 42

7 Langkah langkah soft system methodology... 43

8 Peta Kabupaten Nunukan ... 45

9 Pola distribusi hasil tangkapan ikan dari Kabupaten Nunukan ... 58

10 Pembagian Tauke Tawau ... 60

11 Wilayah pengelolaan perikanan (Permen KP. 01/2009)... 69 12 Produksi penangkapan ikan di WPP RI 716 tahun 2008 ... 70 13 Produksi perikanan laut Kab. Nunukan tahun 2005-2009 ... 71 14 Nilai produksi perikanan laut Kab. Nunukan tahun 2005-2010 ... 72

15 Perkembangan jumlah armada penangkapan ikan di Kabupaten Nunukan

tahun 2005-2009 ... 75

16 Sebaran armada penangkapan ikan di Kabupaten Nunukan Tahun 2020 . 75

17 Sebaran pelabuhan perikanan di Kalimantan Timur ... 86 18 Perkembangn jumlah RTP perikanan laut tahun 2001-2010 ... 89

19 Perkembangan PDRB atas dasar harga konstan Kab. Nunukan tahun

2005-2009 ... 113 20 Komposisi PDRB Kab. Nunukan atas dasar harga konstan per sektor

tahun 2009 ... 114 21 Pertumbuhan PDRB perkapita ... 116 22 Arus lalu lintas penumpang angkutan laut luar negeri tahun 2004-2009 .. 119 23 Arus bongkar muat barang menurut tujuan dalam negeri tahun

2004-2009 ... 121 24 Arus bongkar muat barang menurut tujuan luar negeri tahun 2004-2009 . 122 25 Penggambaran permasalahan pengembangan perikanan tangkap ... 143

26 Model konseptual bagi produksi dan nilai tambah pada pengembangan

perikanan tangkap di Nunukan ... 146

27 Model konseptual bagi pemasaran dan hubungan sosial pada

(30)

28 Model konseptual bagi pengelolaan pada pengembangan perikanan tangkap di Nunukan ... 151

29 Model konseptual bagi lingkungan strategis pada pengembangan perikanan

(31)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Produksi perikanan laut Kabupaten Nunukan berdasarkan jenis ikan ... 173 2. Nilai produksi/produksi hasil tangkapan berdasarkan jenis ikan ... 175 3. Perhitungan skoring komoditas unggulan ... 177 4. Struktur organisasi Badan Pengelola Kawasan Perbatasan ... 179 5. Struktur organisasi Biro Perbatasan, Penataan Wilayah dan Kerjasama 180

6. Peraturan menteri Kelautan dan Perikanan No 6 Tahun 2008 tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara... 181 7. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor

Per.14/Men/2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.06/Men/2008 tentang

(32)

1.1 Latar Belakang

Pada hakekatnya tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketimpangan kesejahteraan antar

kelompok masyarakat dan wilayah. Namun demikian sampai saat ini

kesejahteraan masih belum dapat sepenuhnya dirasakan oleh sebagian besar

masyarakat. Disamping itu, seiring dengan pembangunan ekonomi yang semakin

berorientasi kepada mekanisme pasar serta adanya pergeseran struktur

perekonomian, ketimpangan pembangunan antar wilayah di Indonesia merupakan

hal yang sulit dihindari. Kesenjangan antar daerah terjadi terutama antara

perdesaan dan perkotaan, antara Jawa dan luar Jawa, antara Kawasan Barat

Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia serta antara kawasan hinterland dengan kawasan perbatasan. Berbagai bentuk kesenjangan yang timbul meliputi

kesenjangan tingkat kesejahteraan ekonomi maupun sosial. Kesenjangan yang ada

juga diperburuk oleh faktor tidak meratanya potensi sumber daya terutama sumber

daya manusia dan sumber daya alam antara daerah yang satu dengan yang lain,

serta kebjakan pemerintah yang selama ini terlalu sentralistis baik dalam proses

perencanaan maupun pengambilan keputusan.

Salah satu ketimpangan pembangunan adalah antara wilayah-wilayah

terluar yang merupakan perbatasan dengan negara-negara tetangga dengan

wilayah-wilayah dalam. Kondisi sebagian besar wilayah terluar masih sangat jauh

dari memadai dibandingkan dengan wilayah lainnya. Permasalahan utama dari

ketertinggalan pembangunan di wilayah perbatasan ini adalah arah kebijakan

pembangunan kewilayahan yang selama ini cenderung berorientasi ’inward

looking’ sehingga seolah-olah kawasan perbatasan hanya menjadi halaman belakang dari pembangunan negara. Akibatnya, wilayah-wilayah perbatasan

dianggap bukan merupakan wilayah prioritas pembangunan oleh pemerintah pusat

maupun daerah. Sementara itu pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia sulit

berkembang terutama karena lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau.

Diantaranya banyak yang tidak berpenghuni atau sangat sedikit jumlah

(33)

Hal ini tentu menjadi sangat krusial mengingat besarnya tekanan-tekanan

dari negara lain terhadap wilayah terluar ini berupa tekanan-tekanan politik,

ekonomi, sosial dan budaya. Masyarakat pada wilayah-wilayah tertentu bahkan

lebih mengenal dan berinteraksi dengan masyarakat negara tetangga daripada

dengan masyarakat Indonesia sendiri. Apabila hal tersebut dibiarkan bukan tidak

mungkin akan mengancam integritas Indonesia sebagai suatu negara dan bangsa.

Beberapa kasus sengketa perbatasan menunjukkan betapa kerugian yang cukup

besar dialami Indonesia karena kehilangan wilayah-wilayah perbatasan ini seperti

lepasnya Sipadan dan Ligitan.

Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun

2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar terdapat 92 pulau terluar.

Potensi sumberdaya alam yang dimiliki sebagian besar wilayah terluar Indonesia

tersebut adalah sumberdaya kelautan dan perikanan. Hal ini dapat dipahami

mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dimana aspek kelautan

menjadi sangat dominan. sektor perikanan dan kelautan sangat menungkinkan

menjadi basis dan andalan pengembangan ekonomi wilayah perbatasan tersebut.

Namun demikian, dalam kenyataannya wilayah-wilayah perbatasan

dengan basis perikanan belum banyak berkembang. Terbatasnya akses dari dan ke

wilayah tersebut menyebabkan aktifitas perekonomian dan pembangunan pada

umumnya belum optimal dilaksanakan. Di sisi lain akses dari wilayah tersebut ke

negara tetangga relatif lebih baik. Hal ini menyebabkan interaksi antara

masyarakat Indonesia di wilayah terluar tersebut dengan masyarakat negara

tetangga lebih intensif dibandingkan dengan masyarakat lain di dalam wilayah

Indonesia.

Di masa lalu, pembangunan di wilayah terluar ini lebih ditekankan pada

pendekatan keamanan semata dan kurang memperhatikan pengintegrasian dengan

aspek lainnya. Namun demikian ternyata pendekatan ini mempunyai kelemahan

dimana wilayah yang harus diawasi relatif luas sementara jumlah SDM dan

peralatan militer relatif terbatas. Oleh karena itu perlu pendekatan pembangunan

lain dalam mengawasi wilayah-wilayah terluar tersebut. Satu faktor yang relatif

terlupakan di masa yang lalu adalah peran masyarakat setempat dalam menjaga

(34)

depan negara atau pintu gerbang negara‖ ini. Inti dari segala kebijakan pembangunan di daerah perbatasan adalah menyejahterakan hidup masyarakat

lokal. Manifestasi dari cita-cita ideal ini harus tercermin dalam berbagai program

pembangunan daerah, yang disesuaikan dengan potensi lokal, sebab diskursus

tentang isu daerah perbatasan selalu terpaut dengan ―pendekatan keamanaan‖. Konsekuensi dari pendekatan keamanan yang ditonjolkan pada rezim

pemerintahan di masa lalu telah berdampak pada dinegasikannya peningkatan

mutu hidup masyarakat di garis terdepan negara, sebagai ujung tombak

pertahanan negara itu sendiri.

Pendekatan tersebut seyogyanya diubah dengan tidak hanya melalui

pendekatan keamanan tetapi lebih dipentingkan melalui pendekatan-pendekatan

eknomi dan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat

di perbatasan. Oleh karena itu, program/kegiatan-kegiatan yang mengarah pada

pembangkitan aktifitas perekonomian perlu didorong dan dikembangkan di

wilayah terluar ini. Fokus terhadap pembangunan prasarana fisik seperti jalan,

pasar dan fasilitas umum lainnya, harus diikuti dengan pembangunan manusia

yang mampu mengenal dan memanfaatkan potensi lokal untuk perbaikan mutu

hidup mereka. Pada wilayah yang mempunyai potensi sumberdaya perikanan

yang besar, maka aktifitas perekonomian yang berbasis perikanan menjadi hal

yang strategis untuk dilakukan.

1.2 Perumusan Masalah

Perairan Propinsi Kalimantan Timur termasuk Kabupaten Nunukan masih

mempunyai potensi sumberdaya perikanan laut yang relatif besar. Perairan ini

termasuk ke dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) RI 716 yaitu Laut

Sulawesi. Potensi sumberdaya ikan di perairan ini terutama ikan pelagis kecil,

pelagis besar dan ikan demersal. Namun demikian dalam kenyataannya,

pengusahaan perikanan laut belum sepenuhnya memberikan dampak yang

signifikan terhadap peningkatan produksi perikanan, pengembangan industri,

pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Pengelolaan dan pengembangan perikanan tangkap di wilayah ini

(35)

pengelolaan perikanan tangkap itu sendiri dan posisi geografis Kabupaten

Nunukan yang berbatasan dengan negara lain yaitu Malaysia yang berimplikasi

pada kondisi sosial dan politik wilayah Nunukan. Permasalahan-permasalahan

perikanan tangkap di wilayah perbatasan dapat dikelompokkan ke dalam :

1. Bagaimana kondisi pemasaran hasil tangkapan yang berjalan selama ini?

Apakah pola pemasaran tersebut telah memberikan keberpihakan kepada

nelayan Nunukan untuk mendapatkan keuntungan yang memadai?

2. Bagaimana kondisi pengusahaan penangkapan ikan yang dilakukan oleh

nelayan? Bagaimana kondisi sumberdaya ikan, unit penangkapan,

infrastruktur pelabuhan perikanan dan sumberdaya manusia perikanan

dalam memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi penangkapan

ikan?

3. Apakah kelembagaan pengelolaan perikanan tangkap yang ada mampu

berjalan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pengelolaan

perikanan tangkap?

4. Faktor apa saja di luar perikanan tangkap yang menjadi lingkungan strategis

dan dapat mempengaruhi kinerja perikanan tangkap?

5. Strategi apa yang perlu dilakukan dalam mengembangkan perikanan

tangkap di wilayah perbatasan.

Mengatasi permasalahan tersebut, perlu ada strategi yang menyeluruh

dengan memperhatikan faktor-faktor penentu keberhasilan pengembangan

perikanan tangkap di perbatasan. Mengingat karakteristik fisik dan masyarakat

yang relatif unik dibandingkan dengan wilayah lain non perbatasan, maka strategi

pengembangan perikanan tangkap perlu mengelaborasikan antara elemen-elemen

perikanan tangkap dan elemen-elemen wilayah perbatasan.

1.3 Tujuan Penelitian

1. Menganalisis pengembangan pemasaran hasil tangkapan ikan

2. Menganalisis pengembangan produksi penangkapan ikan

3. Menganalisis pengembangan kelembagaan pengelolaan perikanan tangkap

4. Menganalisis pengembangan lingkungan strategis pengembangan perikanan

(36)

5. Merumuskan strategi pengembangan perikanan tangkap di wilayah

perbatasan

1.4 Manfaat Penelitian

Secara umum penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu

pengetahuan terutama bidang pengelolaan perikanan tangkap. Secara khusus

penelitian ini bermanfaat sebagai masukan bagi pengelolaan dan pengembangan

perikanan tangkap di wilayah perbatasan terutama wilayah Nunukan Kalimantan

Timur.

1.5 Kerangka Pikir Penelitian

Pembangunan perikanan tangkap di wilayah perbatasan mempunyai nilai

strategis yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena sebagian besar wilayah

perbatasan Indonesia dengan negara lain berupa perairan laut dimana sumberdaya

yang cukup dominan di wilayah tersebut adalah perikanan tangkap.

Pengembangan perikanan tangkap di wilayah perbatasan ini perlu memperhatikan

empat komponen utama yaitu pengembangan produksi perikanan tangkap,

pengembangan pemasaran hasil tangkapan, kelembagaan pengelolaan dan

pengembangan lingkungan strategis.

1.5.1 Pengembangan produksi perikanan tangkap

Undang-undang no 31 tahun 2004 menyatakan bahwa yang dimaksud

dengan penangkapan ikan adalah kegiatan untuk memperoleh ikan di perairan

yang tidak dalam keadaan dibudidayakan dengan alat atau cara apapun termasuk

kegiatan dengan menggunakan kapal untuk memuat, mengangkut, menyimpan,

menangani, mengolah dan atau mengawetkannya. Upaya pengembangan

penangkapan sangat terkait dengan ketersediaan sumberdaya ikan yang ada di

perairan tersebut. Dalam konteks penangkapan sebagai suatu bisnis, tentu tidak

sembarang ikan yang akan ditangkap tetapi terutama ikan-ikan yang mempunyai

mempunyai nilai jual yang tinggi dan tersedia dalam jumlah yang memadai untuk

diusahakan. Oleh karena itu, identifikasi komoditas unggulan menjadi sangat

(37)

Tingkat teknologi penangkapan seharusnya juga menjadi bahan

pertimbangan dalam upaya meningkatkan produksi penangkapan ikan. Teknologi

penangkapan akan berpengaruh terhadap efisiensi dan efektifitas penangkapan

yang dilakukan. Efisiensi mengacu pada penggunaan sumberdaya yang lebih

kecil untuk mendapatkan hasil yang sama atau bahkan lebih besar seperti

penggunaan modal, sarana penangkapan dan penggunaan sumberdaya manusia.

Sedang efektifitas mengacu pada besaran hasil tangkapan yang dapat diperoleh

dengan menggunakan alat tangkap tertentu. Penggunaan alat tangkap tertentu

dapat dipengaruhi oleh karakteristik sumberdaya ikan yang menjadi target

penangkapan, karakteristik daerah penangkapan, jumlah hasil tangkapan yang

ingin ditangkap, ketersediaan modal pendukung dan adanya permintaan pasar

terhadap komoditas ikan tertentu.

Praktek penangkapan ikan illegal (Illegal, Unreported, Unregulated

Fishing) menjadi permasalahan penting dalam penanganan perikanan tangkap di wilayah-wilayah perbatasan. Adanya praktek penangkapan seperti ini tidak hanya

merugikan secara ekonomi maupun finansial, terlebih lagi akan memberikan

ketidakpastian jumlah potensi sumberdaya ikan yang dimiliki. Pada gilirannya hal

ini akan menyebabkan terjadinya bias dalam pengambilan kebijakan pengelolaan

sumberdaya ikan yang ada.

Infrastruktur pelabuhan perikanan merupakan bagian dari sistem perikanan

tangkap. Perannya sangat besar sebagai fishing base dan market base bagi hasil

tangkapan yang didaratkan. Sebagai fishing base, pelabuhan perikanan berperan

dalam penyediaan bahan perbekalan melaut (es, air, BBM, dll). Sedangkan

sebagai market base, pelabuhan perikanan merupakan rantai terpenting dalam pendistribusian hasil tangkapan ke wilayah-wilayah pemasaran. UU no 45 tahun

2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang

Perikanan menyatakan bahwa Pelabuhan Perikanan mempunyai fungsi

pemerintahan dan pengusahaan guna mendukung kegiatan yang berhubungan

dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai

dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Fungsi-fungsi

tersebut berupa pelayanan tambat dan labuh kapal perikanan, pelayanan bongkar

(38)

distribusi ikan, pengumpulan data tangkapan dan hasil perikanan, tempat

pelaksanaan penyuluhan dan pengembangan masyarakat nelayan, pelaksanaan

kegiatan operasional kapal perikanan, tempat pelaksanaan pengawasan dan

pengendalian sumber daya ikan, pelaksanaan kesyahbandaran, tempat pelaksanaan

fungsi karantina ikan, publikasi hasil pelayanan sandar dan labuh kapal perikanan

dan kapal pengawas kapal perikanan, tempat publikasi hasil riset kelautan dan

perikanan, pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari dan/atau pengendalian

lingkungan.

1.5.2 Pengembangan pemasaran hasil tangkapan

Pemasaran dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan nilai

ekonomi suatu barang. Kotler, 2007 mengatakan bahwa pemasaran merupakan

suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok

mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan,

menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain.

Pemasaran menjadi penghubung antara produsen dan konsumen.

Hasil tangkapan ikan tidak mempunyai nilai ekonomi sampai

didistribusikan dan dipasarkan kepada konsumen. Aspek pemasaran ini sangat

penting dalam pengembangan perikanan tangkap. Hal ini terkait dengan

karakteristik sumberdaya ikan yang relatif cepat mengalami penurunan mutu .

Oleh karena itu hasil tangkapan ini harus segera dipasarkan kepada konsumen

untuk dikonsumsi atau menjadi bahan baku industri pengolahan. Disamping itu,

pemasaran memainkan peranan yang besar dalam upaya meningkatkan

pendapatan dan kesejahteraan para pelakunya terutama nelayan. Hasil tangkapan

yang dipasarkan dengan baik akan memberikan keuntungan yang besar kepada

nelayan yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan

mereka.

Namun demikian dalam pelaksanaannya pemasaran hasil tangkapan relatif

kompleks terlebih lagi pemasaran hasil tangkapan di wilayah perbatasan.

Kompleksitas tersebut pertama berkaitan dengan daerah pemasaran yang tidak

hanya pemasaran antar daerah di dalam negeri, tetapi yang lebih memungkinkan

adalah pemasaran luar negeri dengan pelaku usaha negara tetangga. Kedua,

(39)

nelayan relatif tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk usaha

penangkapannya. Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan tersebut, nelayan

meminta bantuan permodalan kepada pihak lain yaitu para pemilik modal. Dalam

kenyataannya, para nelayan ini tidak mempunyai sumberdaya yang dapat

meningkatkan kemampuan tawar mereka dengan para pemilik modal. Akibatnya,

usaha penangkapan nelayan sepenuhnya mengikuti pola/kebijakan dari para

pemilik modal. Pola-pola interaksi inilah yang perlu diungkap untuk selanjutnya

dilakukan intervensi kebijakan apabila terjadi ketidakadilan dalam hubungan

tersebut.

1.5.3 Kelembagaan pengelolaan

Kelembagaan adalah suatu aturan yang dikenal atau diikuti secara baik

oleh anggota masyarakat, yang memberi naungan (liberty) dan meminimalkan

hambatan (constraints) bagi individu atau anggota masyarakat. Kelembagaan

kadang ditulis secara formal dan ditegakkan oleh aparat pemerintah, tetapi

kelembagaan juga tidak ditulis secara formal seperti aturan adat dan norma yang

dianut masyarakat. Kelembagaan itu umumnya dapat diprediksi dan cukup stabil

serta dapat diaplikasikan pada situasi berulang (Wiratno dan Tarigan, 2002 dalam

Yopulalan, 2009). Aspek kelembagaan ini terkait dua unsur yaitu tata

aturan/peraturan yang menjadi landasan pengelolaan dan organisasi pengelola

yang melaksanakan pengelolaan

Kompleksitas pengelolaan perikanan tangkap terkait dengan lingkup

pengelolaan yang tidak hanya dilakukan oleh lembaga-lembaga yang terkait

langsung dengan perikanan tangkap (Kementerian Kelautan dan Perikanan atau

Dinas Perikanan dan Kelautan) tetapi juga instansi pemerintah lainnya. Hal ini

berimplikasi pada adanya permasalahan sinkronisasi aturan dan kegiatan dan

koordinasi antar lembaga terkait.

1.5.4 Pengembangan lingkungan strategis

Pengembangan perikanan tangkap di suatu daerah merupakan bagian dari

pengembangan perekonomian wilayah secara keseluruhan. Keberhasilan

perikanan tangkap juga sangat dipengaruhi oleh peran dan keterkaitannya dengan

(40)

tersebut terkait dengan kondisi makro ekonomi wilayah secara keseluruhan,

infrastruktur wilayah, kondisi masyarakat, aksesibilitas wilayah dan kebijakan

pengelolaan wilayah perbatasan.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, kerangka pemikiran penelitian dapat

diskemakan seperti terlihat pada Gambar 1.

Ketersediaan Sumberdaya Ikan

Komoditas Unggulan

Teknologi Penangkapan Ikan

Penanganan IUU Fishing

Infrastruktur Pelabuhan Perikanan

Tata Aturan dan Kebijakan Pengelolaan

Organisasi Pengelola

Infrastruktur Perbatasan

Kebijakan Perbatasan Pola Distribusi Hasil

Tangkapan

Pola Interaksi Sosial

Pengembangan Produksi Penangkapan Ikan

Pengembangan Pemasaran Hasil

Tangkapan

Kelembagaan Pengelolaan

Pengembangan Lingkungan

Strategis

Pengembangan Perikanan Tangkap di

Wilayah Perbatasan

(41)

2.1 Perikanan Tangkap

2.1.1 Komponen sistem perikanan tangkap

Charles (2001) membagi sistem perikanan kedalam tiga subsistem utama

yaitu sistem alam (natural system), sistem manusia (human system) dan sistem

pengelolaan (management system). Masing-masing sub sistem tersebut terdiri

atas berbagai macam komponen pendukung yang demikian kompleks.

Sistem Manusia

Karakteristik masyarakat nelayan dan usahanya sangat berbeda dengan

masyarakat pedesaan lainnya dimana corak mata pencahariannya pertanian.

Pollnac (1988) mengatakan karakteristik tersebut adalah bahwa para petani

menghadapi situasi ekologis yang relatif dapat dikontrol sedangkan nelayan

menghadapi situasi ekologis yang sulit dikontrol yang diakibatkan oleh sifat

sumberdaya ikan yang berpindah-pindah dan berada di dalam perairan sehingga

menyulitkan untuk diketahui dan dipantau.

Resiko usaha yang besar dimana faktor kondisi alam sangat menentukan

keberhasilan usaha penangkapan. Kondisi alam yang dimaksud adalah keadaan

gelombang, hujan, badai dan lain-lain dimana pada kondisi yang ekstrim akan

dapat melenyapkan unit penangkapan yang digunakan. Sistem usaha yang bersifat

musiman, tergantung dari keberadaan ikan di perairan dan kondisi cuaca yang ada.

Dengan kondisi seperti itu, maka nelayan tidak dapat melaut sepanjang tahun.

Pada saat tidak melaut dengan sendirinya mereka tidak mempunyai pendapatan

dari usaha penangkapan yang mungkin saja merupakan mata pencaharian

satu-satunya.

Nelayan terbiasa dengan kehidupan di laut yang keras sehingga mereka

umunya bersikap keras, tegas dan terbuka. Kondisi kerja di laut yang keras

membentuk sikap kerjasama dan saling ketergantungan yang kuat diantara

nelayan yang melakukan penangkapan. Adanya spesialisasi peran dari setiap

awak dan kondisi fisik lingkungan laut, menambah penting sikap kerjasama dan

(42)

dibangun bukan hanya antar awak kapal, tetapi juga antara awak kapal dengan

pemilik kapal yang sering kali tidak ikut dalam operasi penangkapan tersebut.

Hal ini dapat dipahami karena segala kemungkinan dapat terjadi di tengah laut

yang berakibat pada hilangnya armada penangkapan. Bahkan kalau tidak ada

kerjasama dan saling kepercayaan, maka bisa saja terjadi moral hazard dari awak kapal dengan memanipulasi produksi hasil tangkapan yang didapatkan ataupun

kondisi dan keberadaan unit penangkapannya sendiri.

Nelayan juga mempunyai sifat kemandirian yang besar. Anggapan ini

berasal dari kondisi lingkungan dan mata pencaharian menangkap ikan. Mereka

dipaksa untuk mengambil keputusan secara cepat dan sering berhadapan dengan

ketidakpastian – keputusan yang mempunyai efek segera terhadap keselamatan kapal dan waknya ataupun keberhasilan operasi penangkapannya itu sendiri.

Lebih dari itu, nelayan di laut jauh dari pertolongan masyarakat banyak di darat.

Di laut, mereka melakukan tugas yang rumit secara mandiri, dengan sedikit

komunikasi lisan.

Charles (2001) membagi perikanan komersial ke dalam dua katagori yaitu

perikanan artisanal (perikanan skala kecil) dan perikanan industri (perikanan skala

besar). Beberapa ciri dari perikanan tradisional adalah (1) ketergantungan yang

tinggi terhadap keluarga, kesempatan bekerja di luar nelayan relatif kecil, kadang

pendapatan yang diperoleh relatif kecil, (2) kapal yang digunakan relatif kecil dan

biasanya merupakan milik sendiri, (3) sering kali lebih menerapkan sistem bagi

hasil antara pemilik kapal, nakhoda dan anak buah kapal daripada menggunakan

sistem penggajian, (4) umumnya relatif jauh dari pusat aktifitas ekonomi dan

politik seperti di pedesaan dan (5) sering dipandang oleh analis kebijakan dalam

satu dari dua yang berbeda : sebagai obyek untuk aktifitas modernisasi dan

rasionalisasi atau sebagai orang atau kelompok yang mendapat perlakuan dari

kekuatan ekonomi eksternal dan memerlukan perlindungan.

Lebih lanjut Orbach dalam Charles (2001) mengatakan bahwa sumberdaya

manusia perikanan tidak terbatas pada nelayan saja, tetapi juga pihak-pihak lain

yang terkait dengan penangkapan dari habitat tersebut. Untuk setiap nelayan

komersial, terdapat tiga kelompok SDM dalam aktifitas tersebut yaitu keluarga

(43)

galangan kapal, supplier, fasilitas pelayanan yang secara integral bergantung pada

aktifitas penangkapan dan distributor, pedagang dan konsumen yang menciptakan

permintaan produk tersebut.

Sektor pasca penangkapan juga memiliki peranan yang cukup penting

terlebih dikaitkan dengan maksimisasi manfaat/keuntungan dari setiap ikan yang

ditangkap secara berkelanjutan. Pendekatan pembangunan berkelanjutan

mendorong jumlah ikan yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efisien untuk

tujuan-tujuan pemenuhan kebutuhan nutrisi, ketenagakerjaan, dan pembangunan

sosial ekonomi. Hal tersebut sangat relevan dengan sektor pasca penangkapan,

yang dibutuhkan untuk mengurangi limbah dan penyusutan pasca penangkapan,

maksimisasi nilai tambah (added value) melalui pengolahan, membangun dan

atau memperbaiki sistem distribusi dan pemasaran, dan mengintegrasikan

perikanan ke dalam upaya-upaya pembangunan pedesaan secara keseluruhan.

Pemasaran merupakan aktifitas penting dalam perikanan. Dalam konteks

komersial, suatu tangkapan yang baik hanya bermanfaat apabila hasil tangkapan

tersebut dijual. Marketing merupakan aktifitas pengalokasian dan penyusunan

suatu pasar (khususnya pembeli) untuk hasil tangkapan yang didapatkan oleh

nelayan, koperasi perusahaan atau masyarakat.

Sistem Pengelolaan Perikanan

Charles (2001) mengatakan bahwa secara ide dasar pembangunan

perikanan bertujuan untuk menginisiasi suatu yang baru, memperbaiki kondisi

yang ada dari sistem perikanan yang memberikan keuntungan secara

berkelanjutan. Secara umum, proses pembangunan perikanan terdiri dari dua

tahapan yaitu menduga tingkat pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan

(menghitung tingkat tangkapan yang berkelanjutan dan hubungannya dengan

ukuran armada) dan membangun input sumberdaya manusia dan sumberdaya fisik

supaya mendapatkan manfaat dari sumberdaya alam yang ada.

Pembangunan perikanan merupakan suatu proses yang penting yang

mencakup upaya-upaya meningkatkan manfaat (benefit) secara berkesinambungan

tidak hanya melalui pelaksanaan ukuran-ukuran manajemen, tetapi melalui

perbaikan-perbaikan (improvement) beberapa hal pada sistem perikanan. Hal

(44)

penangkapannya mulai dari subsidi pembuatan kapal sampai dukungan terhadap

motorisasi armada penangkapan artisanal, (2) adaptasi teknologi penangkapan

yang sesuai, (3) pelatihan nelayan dalam hal metoda penangkapan maupun

penanganan hasil tangkapan, (4) penguatan kelembagaan baik manajemen

individu maupun organisasi, (5) fasilitasi pengembangan koperasi dan

organisasi-organisasi nelayan lainnya, (6) perbaikan pada tahapan pasca penangkapan

termasuk pengembangan pasar, kontrol kualitas pengolahan dan proses distribusi

produk, (7) pembangunan inrastruktur yang diperlukan seperti pelabuhan

perikanan dan (8) perlindungan lingkungan dan upaya-upaya perbaikan

produktivitas stok sumberdaya ikan.

Dalam konteks kewilayahan, pembangunan perikanan berkaitan dengan

pembangunan masyarakat pantai dan lingkungan sosial ekonomi wilayah pesisir

tersebut. Hal ini mengarahkan pada suatu fokus pada pembangunan wilayah

pesisir secara terpadu dimana perhatian diberikan pada semua sumberdaya pesisir

secara simultan termasuk pada orang dan masyarakat yang ada di wilayah pesisir

tersebut (Charles 2001).

Budiono dan Sri Atmini (2002) mengatakan bahwa rencana dan strategi

pengelolaan perikanan hendaknya mencakup hal hal (1) optimasi manajemen

pemanfaatan sumberdaya perikanan. Hal ini diantaranya dilakukan melalui

pengurangan tekanan penangkapan pada wilayah-wilayah fully dan over exploited

dan meningkatkan penangkapan pada wilayah yang under exploited. Didukung oleh pembangunan infrastruktur dan sistem pemasaran, kerjasama antara usaha

skala kecil dan skala besar, memperkuat sistem monitoring untuk mendorong

kepatuhan terhadap kebijakan pengelolaan, (2) reformulasi perencanaan spasial

dari zona penangkapan, (3) memproteksi dan merehabilitasi lingkungan dan

ekosistem pesisir termasuk rehabilitasi dan pengelolaan karang, mangrove,

kontrol pencemaran air, pengelolaan dan pembangunan pesisir yang terintegrasi

dan (4) dukungan program dan strategi untuk peningkatan kepedulian masyarakat,

peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan perikanan dan membuat

alternatif-alternatif pembangkitan pendapatan. Secara substansi yang lebih

kompleks dari sistem perikanan digambarkan Charles (2001) sebagaimana

(45)

Gambar 2 Kompleksitas sistem perikanan (Charles, 2001)

2.1.2 Pengelolaan perikanan tangkap di wilayah perbatasan

Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di wilayah

perbatasan negara telah diatur dalam aturan internasional yaitu dalam Konvensi

Hukum Laut Internasional (UNCLOS) tahun 1982. Khusus mengenai konservasi

dan manajemen perikanan laut dalam ZEE Pasal 61 UNCLOS mewajibkan negara

pantai seperti Indonesia untuk menentukan jumlah yang dapat ditangkap atau total Lingk

Biofisik

Lingk Sosial Ekonomi

Ekosistem Rumah

tangga dan masyarakat

Ikan Kapal Nelayan

Penangkapan

Dinamika tenaga kerja Dinamika

modal Dinamika

populasi

Pasca penangkapan

Pasar Kondisi pasar

(46)

allowable catch (TAC). Menurut Djalal (2003), dalam penentuan TAC di ZEE, negara pantai berkewajiban, antara lain:

(1) memastikan tidak terjadi eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya

perikanan;

(2) bekerjasama dengan organisasi-organisasi internasional yang kompeten;

(3) berusaha memulihkan kembali jenis populasi ikan yang ditangkap;

(4) menjamin maximum sustainable yield (MSY); dan

(5) menjaga agar jangan terjadi akibat yang negatif dari penangkapan tertentu

terhadap jenis-jenis kehidupan laut lainnya yang berkaitan atau jenis yang

tergantung dari perikanan tersebut.

Beberapa tindakan untuk pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan ZEE

seperti dikemukakan Hasim DJalal (1995) yang diacu Monintja (1996), di

antaranya:

(1) Untuk mengatur pemanfaatan kekayaan alam di ZEE, Indonesia perlu

mengeluarkan peraturan-peraturan perikanan yang diperkenankan oleh

konvensi, seperti izin penangkapan ikan, penentuan umur dan ukuran ikan

yang boleh ditangkap, ukuran dan jumlah kapal penangkap ikan yang boleh

digunakan, penurunan seluruh atau sebagian hasil tangkapan oleh kapal

tersebut di pelabuhan negara pantai, dan sebagainya.

(2) Mengatur dengan negara/organisasi regional dan internasional tentang

pemeliharaan dan pengembangan sumber-sumber perikanan yang terdapat di

ZEE dua negara atau lebih, highly migratory species dan memperhatikan

ketentuan-ketentuan mengenai ―marine mammals, anadromous dan

catadromous species, serta sedentary species.

Pemanfaatan Sumberdaya Alam berdasarkan Konvensi Hukum Laut

(UNCLOS) 1982 dapat disarikan sebagaimana Tabel 1.

Pasal 3 UU No. No. 5 tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Ekslusif

Indonesia menyatakan apabila Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia tumpang tindih

dengan zona ekonomi eksklusif negara-negara yang pantainya saling berhadapan

atau berdampingan dengan Indonesia, maka batas zona ekonomi eksklusif antara

Indonesia dan negara tersebut ditetapkan dengan persetujuan antara Republik

(47)

dan tidak terdapat keadaan-keadaan khusus yang perlu dipertimbangkan, maka

batas zona ekonomi eksklusif antara Indonesia dan negara tersebut adalah garis

tengah atau garis sama jarak antara garis-garis pangkal laut wilayah Indonesia

atau titik-titik terluar Indonesia dan garis-garis pangkal laut wilayah atau titik-titik

terluar negara tersebut, kecuali jika dengan negara tersebut telah tercapai

persetujuan tentang pengaturan sementara yang berkaitan dengan batas Zona

Ekonomi Eksklusif Indonesia.

Tabel 1 Batas laut, status hukum dan pemanfaatan sumberdaya alam

Bagian laut Status hukum Pemanfaatan Sumberdaya Alam

Hak Kewajiban

Perairan pedalaman Kedaulatan Pemanfaatan Penuh Konservasi

Perairan kepulauan Kedaulatan Pemanfaatan Penuh Konservasi

Mengakui Hak Perikanan Tradisional Negara Tetangga

Laut teritorial Kedaulatan Pemanfaatan Penuh Konservasi

Zona tambahan Yurisdiksi terbatas Pengawasan

(sepanjang berkaitan)

Laut lepas Kebebasan Kebebasan Konservasi

Menghormati Hak Negara Lain

Laut kontinen Hak-hak berdaulat Pemanfaatan ekslusif Memberi sumbangan dari hasil produksi di luar 200 mil laut

diundangkan, masih terdapat 70 % batas-batas yuridiksi perairan ZEEI tersebut

belum disepakati oleh negara-negara tetangga. Perbatasan yang belum disepakati

tersebut mencakup perbatasan dengan negara Timor Leste, Filipina, Vietnam,

Thailand, dan India (Kompas, 3 Maret 2007). Masih banyaknya wilayah

perbatasan yang belum disepakati dengan negara berpotensi menimbulkan konflik

dengan negara yang bersangkutan yang pada akhirnya akan merugikan

(48)

2.1.3 Konflik pengelolaan sumberdaya perikanan dan penyelesaiannya

Fisher et al. (2000), Rubin et al. (1994), Sarwono (2001) dalam Shaliza (2004) mendefinisikan konflik sebagai hubungan antara dua pihak atau lebih

(individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran

yang tidak sejalan. Dengan perkataan lain terdapat pertentangan antar dua pihak

atau lebih. Bahkan Sarwono menegaskan bahwa pertentangan tersebut tidak hanya

pada tataran individu tetapi juga dapat terjadi antar kelompok masyarakat bahkan

antar bangsa dan negara. Soekanto (1982) dalam Hasyim (2007) menyatakan

bahwa faktor-faktor yang menyebabkan munculnya konflik di dalam suatu

masyarakat karena adanya perbedaan individu, perbedaan budaya, perbedaan

kepentingan dan terjadinya perubahan sosial di dalam masyarakat. Perbedaan

individu/budaya terjadi karena perbedaan lingkungan yang membentuk kedua

belah pihak yang melahirkan prinsip-prinsip nilai kebiasaan atau tatacara yang

berbeda. Konflik dapat terjadi jika masing-masing pihak tidak dapat menerima

atau menghormati prinsip atau sistem nilai yang dimiliki pihak lain.

Lebih lanjut Fisher et al (2000) mengatakan bahwa pada dasarnya konflik dapat terjadi karena dipicu oleh beberapa hal, yaitu

(1) Polarisasi, ketidakpercayaan dan permusuhan diantara kelompok yang

berbeda dalam suatu masyarakat (teori hubungan masyarakat)

(2) Terdapat posisi-posisi yang tidak selaras dan perbedaan pandangan tentang

konflik oleh pihak-pihak yang mengalami konlik (teori negosiasi prinsip)

(3) Adanya usaha untuk menghalang-halangi pemenuhan kebutuhan dasar

manusia, baik kebutuhan fisik, mental dan sosial (teori kebutuhan manusia)

(4) Terancamnya identitas yang sering berakar pada hilangnya sesuatu hal atau

karena penderitaan di masa yang lalu yang tidak terselesaikan (teori

identitas)

(5) Ketidakcocokkan dalam cara-cara berkomunikasi diantara berbagai budaya

yang berbeda (teori kesalahfahaman antar budaya)

(6) Masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai

masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi (teori transformasi konflik)

Dalam konteks pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam berpotensi

(49)

sumberdaya tersebut. Bennet dan Neiland (2000) dalam Budiono (2005) berpendapat bahwa interaksi antara sumberdaya yang menjadi konflik dengan

ekosistem juga harus mendapat perhatian, karena perubahan salah satu sistem dari

ekosistem akan mempengaruhi ekosistem lain secara keseluruhan. Pemanfaatan

sumberdaya alam dapat menimbulkan eksternalitas yang terkadang tidak

diperhitungkan ke dalam pemanfaatan sumberdaya. Terdapat tiga jenis

eksternalitas yang menjadi dilema dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan

yaitu (Schlager et al, 1992 dalam Budiono, 2005) :

(1) Appropriation externalities. Dalam perhitungan ekonomi, ketika seorang

nelayan menangkap ikan dari stok yang tersedia di laut, proses tersebut

meningkatkan biaya marjinal dari setiap tambahan ikan yang ditangkapnya

sekaligus menurunkan manfaat marjinal dari setiap tambahan upaya

penangkapannya. Dengan demikian, peningkatan biaya penangkapan ikan

karena mengecilnya stok ikan di laut tidak hanya berpengaruh pada nelayan

yang menangkap ikan, tetapi juga nelayan lainnya yang ikut memanfaatkan

stok ikan tersebut.

(2) Technological externalities. Eksternalitas ini muncul ketika nelayan secara

fisik saling melakukan intervensi di lokasi penangkapan ikan yang pada

akhirnya dapat memicu timbulnya konflik. Ekternalitas ini dapat didefinisikan

sebagai terjadinya pelanggaran alat tangkap terhadap alat tangkap lainnya atau

bentuk-bentuk ketersinggungan fisik lainnya yang muncul akibat nelayan

melakukan penangkapan ikan sangat berdekatan satu sama lainnya.

(3) Assignment problem. Assignment problem muncul ketika nelayan menangkap

ikan secara tidak terkoordinasi sehingga tidak mampu mengalokasikan diri

mereka secara efisien pada daerah penangkapan tersebut. Permasalahan

muncul mengenai siapakah yang memiliki akses ke daerah produktif tersebut

dan bagaimana akses tersebut harus ditetapkan/dibagikan. Kegagalan dalam

memecahkan assignment problems ini dapat memicu konflik dan

meningkatkan biaya produksi.

Pada pengelolaan perikanan tangkap, terdapat tujuh penyebab konflik

Gambar

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian
Gambar 2 Kompleksitas sistem perikanan (Charles, 2001)
Gambar 5 Peta lokasi penelitian
Tabel 2 Data yang dibutuhkan
+7

Referensi

Dokumen terkait