• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Self-Directed Learning Ditinjau dari Pola Pembelajaran E-learning Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perbedaan Self-Directed Learning Ditinjau dari Pola Pembelajaran E-learning Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Oleh

MAULIDINI NAZLELY 071301030

(2)

Perbedaan Self Directed Learning Ditinjau Dari Pola

Pembelajaran E-learning Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

Maulidini Nazlely dan Filia Dina Anggaraeni

ABSTRAK

Self directed learning adalah seseorang dalam kegiatan belajarnya dan merupakan peningkatan pengetahuan, kemampuan, pencapaian, atau pengembangan diri yang dipilih dan dilakukan oleh seorang individu dengan cara apapun dan kapanpun dia inginkan. Menurut Wedemeyer (dalam Rusman, 2010), self directed learning dianggap luwes, tidak mengikat serta melatih kemandirian mahasiswa dalam pembelajaran terutama pada pembelajaran e-learning. Romiszowski (dalam, Naidu, 2002) menyatakan bahwa ada empat pola pembelajaran e-learning yaitu, pola pembelajaran e-learning individual self paced e-learning online, pola pembelajaran e-learning individual self paced e-learning offline, pola pembelajaran e-learning group based synchronously dan pola pembelajaran e-learning group based asynchronously. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan self directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

(3)

Differences In Self Directed Learning On E-learning Modalities Of Student University North Sumatera

Maulidini Nazlely dan Filia Dina Anggaraeni

ABSTRACT

Self directed learning is learning activity and an increase in knowledge, skill, accomplishment, or personal development that an individual selects and brings about by his or her own efforts using any method in any circumstances at any times. According to Wedemeyer (in Rusman, 2010), self directed learning is considered flexible and train student independence in learning, especially in e-learning. Romiszowski (in, Naidu, 2002) states that there are four modalities of learning which is individual self paced e-learning online, individual self paced e-e-learning offline, group based group based synchronously and group based asynchronously. The purpose of this research is to find out if there are differences in self-directed learning in modalities of e-learning of student learning at the University of North Sumatra.

(4)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul “Perbedaan Self-Directed Learning Ditinjau dari Pola Pembelajaran E-learning Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara”, guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

Berbagai proses telah penulis alami selama ini. Perlu banyak usaha, kerja keras dan kemauan yang tinggi dalam setiap prosesnya. Bagi penulis penyelesaian penelitian ini merupakan titik awal untuk mencapai mimpi-mimpi lainnya. Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan dukungan dari banyak pihak. Terutama sekali penulis ingin mengucapkan Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas segala Nikmat dan KaruniaMu, penulis juga ingin berterima kasih kepada kedua orang tua penulis Dr. Nazaruddin Jaffar dan Dr. Maharani yang telah memberikan banyak perhatian, dukungan baik secara moril dan materil serta doa yang tiada henti-hentinya kepada penulis. Penulis juga sangat mengucapkan terima kasih serta penghargaan yang tak terhingga kepada :

1. Ibu Prof. Dr. Irmawati selaku dekan Fakultas Psikologi USU.

2. Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd, selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan setulus hati telah banyak meluangkan waktu, pikiran dan memberikan petunjuk, saran serta semangat selama proses penyusunan. Semoga Allah membalas segala kebaikan Ibu selama ini dengan jannah-Nya.

(5)

4. Kakak dan abang tersayang, Harry Zulkarnaen, Drg. Radiah Nazmah Sari dan Rabithah Nazran, SH, terima kasih atas semangat dan bantuan yang begitu berarti untuk saya.

5. Seluruh Staf Pegawai Fakultas Psikologi Universitas Sumtera Utara. Bapak Iskandar, Bapak Aswan, Kak Ari, Bang Ronal dan Kak Devi, yang telah banyak membantu penulis khususnya dalam hal administrasi.

6. Kepada Novita Armayanti, Trisa Novia, Rina Melati, Maria, Fenny Kurniawan, kakanda Sarah, Risa Fadillah serta teman semua teman senasib dan seperjuangan. Terima kasih untuk bersedia memberikan bantuan, semangat, masukan dan saran-sarannya.

7. Kepada Briyogi Shadiwa, terima kasih untuk dukungan dan doa yang telah diberikan selama ini.

8. Kepada kakak Stevie Duma, terima kasih untuk bersedia memberikan bantuannya, bimbingan, semangat, masukan dan saran-sarannya.

9. Terima kasih juga penulis ucapkan pada semua pihak yang telah memberikan dukungan moril dan materil kepada penulis sehingga penelitian ini dapat terselesaikan.

(6)

DAFTAR ISI

B. Perumusan Masalah ... 15

C. Tujuan Peneletian ... 15

E. Sistematika Penulisan ... 16

BAB II LANDASAN TEORI ... 10

A. Self-Directed Learning ... 10

1. Pengertian belajar ... 10

2. Pengertian self-directed learning... 11

3. Dimensi self-directed learning ... 13

4. Proses self-directed learning dalam konteks online ... 16

5. Pengukuran Self-Directed Learning ... 18

B. E-learning ... 18

1. Pola-pola e-learning ... 20

2. Komponen e-learning ... 21

3. Kelebihan dan kekurangan pada e-learning ... 22

C. Mahasiswa ... 24

(7)

1. Variabel tergantung : Self-directed learning ... 31

2. Variabel bebas : Pola pembelajaran e-learning ... 31

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian... 31

1. Self-directed learning ... 31

2. Pola pembelajaran e-learning ... 32

C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel ... 34

1. Populasi dan Sampel ... 34

2. Metode pengambilan sampel ... 35

3. Jumlah sampel penelitian ... 36

D. Metode Pengumpulan Data ... 37

1. Skala self-directed learning ... 37

2. Skala pola pembelajaran e-learning ... 39

E. Validitas Dan Reliabilitas Alat Ukur ... 40

1. Validitas ... 40

2. Uji Daya Beda Aitem ... 41

3. Reliabilitas ... 42

4. Hasil Uji Coba Alat Ukur ... 42

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ... 47

1. Tahap Persiapan Penelitian ... 47

G. Tahap Pelaksanaan Penelitian... 48

H. Tahap Pengolahan Data ... 49

I. Metode Analisis Data ... 49

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Analisa Data ... 51

1. Gambaran Subjek Penelitian ... 51

B. Hasil Penelitian ... 52

1. Uji normalitas sebaran ... 52

(8)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 62

A. Kesimpulan ... 62

B. Saran ... 63

1. Saran Metodologis ... 63

2. Saran Praktis ... 64

(9)

Tabel 1.Penyebaran Jumlah Mahasiswa S1 Universitas Sumatera Utara …… 33 Tabel 2.Blue Print Skala Self-directed learning Sebelum Uji Coba

Tabel. 3. Blue print Skala Gaya Belajar Sebelum Uji Coba

Tabel 4. Blue Print Skala Self Directed Learning Setelah Uji Coba

Tabel 5. Blue Print Skala Self Directed Learning Setelah Uji Coba Dengan Penomoran Baru

Tabel 6. Blue Print Skala pola pembelajaran e-learning Setelah Uji Coba

Tabel 7. Skala pola pembelajaran e-learning Setelah Uji Coba dengan Penomoran Baru

Tabel 8. Pengelompokan Berdasarkan Pola Pembelajaran E-learning

Tabel 9. Normalitas Sebaran Variabel Self directed learning pada Pola pembelajaran e-larning

Tabel 10. Uji Homogenitas

Tabel 11. Hasil Analisis Varians SDL di Tinjau Dari Pola Pembelajaran E-learning

(10)

Perbedaan Self Directed Learning Ditinjau Dari Pola

Pembelajaran E-learning Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

Maulidini Nazlely dan Filia Dina Anggaraeni

ABSTRAK

Self directed learning adalah seseorang dalam kegiatan belajarnya dan merupakan peningkatan pengetahuan, kemampuan, pencapaian, atau pengembangan diri yang dipilih dan dilakukan oleh seorang individu dengan cara apapun dan kapanpun dia inginkan. Menurut Wedemeyer (dalam Rusman, 2010), self directed learning dianggap luwes, tidak mengikat serta melatih kemandirian mahasiswa dalam pembelajaran terutama pada pembelajaran e-learning. Romiszowski (dalam, Naidu, 2002) menyatakan bahwa ada empat pola pembelajaran e-learning yaitu, pola pembelajaran e-learning individual self paced e-learning online, pola pembelajaran e-learning individual self paced e-learning offline, pola pembelajaran e-learning group based synchronously dan pola pembelajaran e-learning group based asynchronously. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan self directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

(11)

Differences In Self Directed Learning On E-learning Modalities Of Student University North Sumatera

Maulidini Nazlely dan Filia Dina Anggaraeni

ABSTRACT

Self directed learning is learning activity and an increase in knowledge, skill, accomplishment, or personal development that an individual selects and brings about by his or her own efforts using any method in any circumstances at any times. According to Wedemeyer (in Rusman, 2010), self directed learning is considered flexible and train student independence in learning, especially in e-learning. Romiszowski (in, Naidu, 2002) states that there are four modalities of learning which is individual self paced e-learning online, individual self paced e-e-learning offline, group based group based synchronously and group based asynchronously. The purpose of this research is to find out if there are differences in self-directed learning in modalities of e-learning of student learning at the University of North Sumatra.

(12)

A. Latar Belakang

Pada paradigma lama proses belajar mengajar pada umumnya berlangsung di ruang kelas dan ditandai dengan kehadiran pendidik di muka kelas. Pendidik memiliki tanggung jawab penuh terhadap jalannya proses belajar mengajar dan bisa dianggap sebagai salah satu sumber daya paling penting dari sebuah proses belajar mengajar. Sebaliknya pada paradigma baru proses belajar mengajar harus berfokus pada aktifitas “belajar” dan bukan pada aktifitas “mengajar” seperti pada

paradigma lama. Para paradigma baru mahasiswa menjadi active learner. Oleh karena itu, mahasiswa harus difasilitasi sesuai kebutuhannya masing-masing. (Widhiartha, 2008).

(13)

pengembangan karakter, serta menyiapkan mahasiswa untuk bisa belajar selama seumur hidup mereka (Gibbons, 2002).

Dalam hal ini yang dimaksud dengan self directed learning adalah suatu peningkatan pengetahuan, kemampuan, pencapaian atau pengembangan diri yang dipilih individu dan membuat usaha mereka sendiri dengan mengunakan metode dan situasi apapun pada setiap waktu. Selain itu, mahasiswa mengontrol atas pengalaman belajarnya, mampu mengembangkan ketrampilannya dalam pembelajaran, mahasiswa juga mengubah diri pada kinerja yang paling baik, mampu untuk manajemen diri dan yang terakhir adalah motivasi diri serta penilaian diri (Gibson, 2002).

Self-directed learning memberikan kesempatan kepada mahasiwa untuk

menentukan tujuan belajar, merencanakan proses belajar, menggunakan sumber-sumber belajar yang dipilih, membuat keputusan-keputusan akademis, dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan belajar. Self-directed learning merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa

(14)

dasarnya mengarah pada pengertian yang sama. Huruf “e” pada e-learning berarti

elektronik, sedangkan kata learning sering diartikan dengan belajar pendidikan (education) atau pelatihan (training). Jadi, e-learning bisa diartikan pembelajaran dengan menggunakan media atau jasa bantuan perangkat elektronika. Dalam pelaksanakannya, e-learning menggunakan jasa audio, video, perangkat komputer atau kombinasi dari ketiganya yang dilakukan melalui network (jaringan). Ini berarti dengan e-learning memungkinkan tersampainya bahan ajar kepada mahasiswa menggunakan media teknologi informasi dan komunikasi berupa komputer dan jaringan internet atau intranet (Munir, 2008).

Pembelajaran melalui e-learning sudah mulai diterapkan di universitas-universitas yang ada di Indonesia, salah satunya di Universitas Sumatera Utara (USU). Kepala Pusat Sistem Informasi (PSI) USU menjelaskan bahwa konsep pembelajaran e-learning sudah dijalankan sejak tahun ajaran 2009/2010, hanya saja masih banyak dosen yang belum memanfaatkan fasilitas e-learning ini. Beliau juga menyatakan bahwa hanya sekitar 10 persen dosen USU yang memakai e-learning (dalamMuslim, 2010).

(15)

paced e-learning offline yang mengacu pada situasi di mana seorang individu belajar dengan bantuan media elektonik secara offline. Ketiga adalah group-based e-learning synchronously mengacu pada situasi di mana sekelompok pelajar bekerja sama melalui intranet atau internet. Terakhir group-based e-learning asynchronously mengacu pada situasi di mana sekelompok pelajar bekerja melalui

intranet atau internet dan dalam pertukaran atau proses pembelajaran antara peserta terjadi dengan adanya jeda waktu (dalam Naidu, 2006).

Selaras dengan ini penelitian oleh Duma (2009) terhadap mahasiswa USU yang meneliti tentang sikap mahasiswa USU terhadap pola-pola e-learning. Hasil dari penelitian ini bahwa sampel berada di kategori netral pada setiap pola pembelajaran e-learning, yaitu pada pola pembelajaran individualized self-paced e-learning online, individualized self-paced e-learning offline, group-based e-learning synchronously dan group-based e-learning asynchronously. Sampel berada dikategori netral dapat diartikan bahwa mahasiswa yang tidak memiliki kepercayaan, perasaan ataupun kecenderungan perilaku yang terlalu positif maupun negatif terhadap pola pembelajaran e-learning. Hal ini terjadi karena kurangnya pengalaman para mahasiswa dengan dunia teknologi sehingga mereka tidak mengemukakan sikap yang positif maupun negatif pada e-learning yang digunakan.

(16)

directed learning bisa membantu para mahasiswa supaya mereka dapat

mengontrol diri mereka sendiri dalam pembelajaran dan mempunyai tanggung jawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya untuk mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri.

Self-directed learning dapat mengontrol mahasiswa dalam melakukan

pembelajaran dengan menggunakan e-learning secara mandiri. Mahasiswa dapat mengakses berbagai referensi dan bahan belajar yang disediakan. Tidak ada instruktur ataupun waktu khusus untuk berdiskusi dengan sesama peserta didik. Masing-masing peserta didik melakukan proses belajar sesuai dengan kebutuhannya. Pada pembelajaran e-learning sebenarnya menuntut para mahasiswa untuk bisa mengontrol, merencanakan pembelajarannya, memonitor dirinya sendiri serta mengevaluasi dan menilai dirinya sendiri (Widhiartha, 2008).

(17)

mahasiswa tidak bisa fokus dalam mengerjakan tugasnya karena lebih tertarik membuka jejaring sosial.

Selain data yang diatas terdapat beberapa hal yang menyebabkan para mahasiswa tidak melakukan proses pembelajarannya dengan baik. Hal ini disebabkan 45,33% mahasiswa tidak mengetahui letak fasilitas e-learning, seperti Wi-Fi, bahkan beberapa mahasiswa tidak mengetahui fitur-fitur e-library dan e-journal pada situs Universitas. Selain itu disebabkan terbatasnya akses ke fasilitas

e-library yang memuat berbagai literature yang dibutuhkan oleh mahasiswa.

(18)

bertujuan untuk memecahkan masalah atau memfasilitasi dalam kegiatan pembelajaran pada mahasiswa. Pembelajaran e-learning memang memiliki potensi memudahkan dalam penyampaikan modul baru pembelajaran, mengatasi sumber daya, waktu, dan kendala tempat, dan menyamakan kesempatan belajar. Sebanarnya pada pembelajaran e-learning, self-directed learning bisa sangat membantu karena para mahasiswa dituntut lebih aktif dalam melakukan pembelajaran (Song & Hill, 2007). Tetapi, pada kenyataannya ada beberapa mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang masih belum mampu menggunakan e-learning secara baik, selain itu dengan fasilitas e-learning pada setiap Fakultas

juga belum setara. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik ingin mengetahui apakah ada perbedaan antara self-directed learning dengan pola pembelajaran e-learning pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini apakah ada perbedaan self-directed learning ditinjai dari pola pembelajaran e-learning pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

C. Tujuan Peneletian

(19)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

a. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah dan membantu mengembangkan ilmu psikologi khususnya Psikologi Pendidikan dan bidang lainnya dalam aplikasinya dan memberikan sumbangsih karya ilmuiah yang berhubungan dengan perbedaan self-directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara sehingga dapat memperkaya teori yang ada sebelumnya.

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perbedaan self-directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning yang

dimiliki oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara kepada pembaca khususnya mahasiswa psikologi dan pendidik serta masyarakat luas.

b. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti lebih lanjut mengenai self-directed learning dan pola pembelajaran e-learning.

E. Sistematika Penulisan

(20)

BAB I : Pendahuluan

Bab I berisi tentang uraian singkat mengenai latar belakang masalah, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.

BAB II : Landasan Teori

Bab II berisi uraian teori yang menjadi acuan dalam pembahasan masalah. Disini peneliti mencoba menguraikan teori-teori yang menjadi landasan dilakukannya penelitian ini, yang kemudian disimpulkan dalam suatu hipotesa.

BAB III : Metode Penelitian

Berisikan mengenai metode-metode dalam penelitian yaitu identifikasi variabel, definisi operasional variabel penelitian, subjek penelitian, lokasi penelitian, instrumen dan alat ukur yang digunakan, metode pengambilan sampel, dan metode analisis data.

Bab IV : Analisa dan Interpretasi Data Hasil Penelitian

(21)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Self-Directed Learning 1. Pengertian belajar

Lahey (2007) mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku yang relatif permanen dan terjadi sebagai hasil dari latihan dan pengalaman. Belajar tidak semestinya melibatkan penguasaan fakta atau konsep sesuatu bidang ilmu tetapi juga melibatkan perasaan-perasaan yang berkaitan dengan emosi, kasih sayang, benci, hasrat, dengki dan kerohanian.

Spears (dalam Suryabrata, 2002) yang menyatakan belajar sebagai suatu proses atau kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan pada seseorang dalam melakukan kegiatan belajar. Perubahan yang terjadi ketika belajar juga dapat berbentuk perubahan cara berpikir yang mungkin dapat menyebabkan perubahan tujuan dan arah kehidupan, sehingga apa yang dilakukan sebelumnya ditinggalkan sama sekali.

(22)

2. Pengertian self-directed learning

Self-directed learning atau kemandirian belajar merupakan salah satu

kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa pendidikan jarak jauh atau pengguna e-learning. Definisi self-directed learning atau belajar mandiri bukan berarti belajar sendiri dan diselesaikan sendiri, tetapi lebih kepada bagaimana dapat memperoleh pengetahuan atas inisiatif sendiri. Self-directed learning memberikan kesempatan kepada mahasiwa untuk menentukan tujuan belajar, merencanakan proses belajar, menggunakan sumber-sumber belajar yang dipilih, membuat keputusan-keputusan akademis, dan melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan belajar (Seamolec, 2008).

(23)

dilakukan. Pendidikan jarak jauh atau e-learning merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan untuk mengatasi keterpisahan yang hampir permanen dalam jarak ruang dan waktu antara mahasiswa dan dosen. Penyelenggaraan pendidikan tersebut menitikberatkan pada penggunaan media dan sistem belajar yang lebih banyak menyerahkan kendali pembelajaran kepada mahasiswa.

Menurut Knowles (dalam, Tennant, 2006), self-directed learning adalah dimana individu mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dalam mendiagnosa kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar, mengidentifikasi sumber daya manusia dan material untuk belajar, memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang tepat dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Sedangkan Wedemeyer (dalam Rusman, 2011) menyatakan bahwa self-directed learning adalah seseorang belajar secara mandiri mempunyai kebebasan untuk belajar tanpa harus menghadiri pembelajaran yang diberikan dosen dikelas.

Candy (dalam Tennant, 2006) menyatakan bahwa self-directed learning dapat dianggap suatu proses dimana mahasiswa secara bertahap mengendalikan pembelajaran mereka atau sebagai titik akhir yang ideal di mana self-directed learning dapat dikembangkan. Sedangkan Gibbons (2002) menyatakan

(24)

Jadi, self-directed learning merupakan suatu kemampuan dari individu untuk dapat berpikir, merencanakan, memilih strategi belajar, dan mengevaluasi performanya sehingga individu dapat menyelesaikan masalahnya secara efektif. Self-directed learning bisa dikatakan kemandirian seseorang dalam kegiatan belajarnya.

3. Dimensi self-directed learning

Menurut Gibbons (2002) ada beberapa dimensi dari self-directed learning yaitu:

a. Mahasiswa mengontrol pengalaman belajarnya.

(25)

mereka sendiri, mereka tidak hanya belajar secara efektif tetapi mereka juga menjadi sendiri mereka sendiri.

b. Perkembangan ketrampilan

Dimana mahasiswa belajar untuk fokus dan mengeluarkan bakat dan energi. Untuk alasan ini, penekanan dalam self directing learning ada pada perkembangan ketrampilan dan proses yang mengarah pada kegiatan yang produktif. Mahasiswa belajar untuk mencapai hasil yang baik, berpikir secara independen, dan merencanakan dan melaksanakan kegiatan mereka sendiri. Proses-proses, dan keterampilan yang terlibat di dalamnya, datang secara bersama-sama untuk melakukan suatu tindakan. Mahasiswa mempersiapkan dan kemudian bernegosiasi dengan diri mereka sendiri dengan dosennya, sering dalam bentuk perjanjian tertulis yang menjadi catatan dari kontrak. Tujuannya adalah untuk menyediakan sebuah kerangka kerja yang memungkinkan mahasiswa untuk mengidentifikasi kepentingan mereka dan melengkapi mereka untuk mewujudkannya dengan sukses.

c. Mengubah diri pada kinerja yang paling baik

Self-direction disini akan terbengkalai jika tidak diberikan tantangan. Pertama,

(26)

risiko untuk melampaui yang mudah dan susah. Bagi mahasiswa itu berarti mahasiswa mau untuk menunjukan kemampuan mereka yang terbaik.

d. Manajemen diri

Manajemen diri yaitu, pengelolaan diri dan usaha mereka dalam belajar. Dalam self-directed learning, pilihan dan kebebasan akan dicocokkan dengan kontrol diri dan tanggung jawab. Mahasiswa belajar untuk mengekspresikan kontrol diri dengan mencari, dan membuat komitmen untuk, kepentingan pribadi inti. Dalam proses ini, mereka tidak hanya menentukan apa yang akan mereka lakukan tetapi jenis penampilan yang akan mereka lakukan. Self-directed learning membutuhkan keyakinan, keberanian, dan tekad untuk memberi energi pada usaha yang akan dilakukan. Mahasiswa mengembangkan sifat ini agar mereka terampil dalam mengelola waktu mereka sendiri dan usaha serta sumber daya yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka. Bahkan dalam hal organisir dengan baik. Dalam menghadapi hambatan, mahasiswa belajar untuk memecahkan kesulitan mereka, mencari alternatif, dan memecahkan masalah mereka dalam rangka mempertahankan produktivitas yang efektif.

e. Motivasi diri dan penilaian diri.

(27)

pekerjaan mereka, dan mencapai sukses, mereka belajar untuk menginspirasi usaha mereka sendiri. Demikian pula, mahasiswa belajar untuk mengevaluasi kemajuan mereka sendiri mereka menilai kedua kualitas pekerjaan mereka dan proses yang mereka dirancang untuk melakukan itu. Dalam self-directed learning, penilaian diri adalah cara penilaian yang penting dalam belajar dan belajar bagaimana belajar menjadi mahasiswa kritis dan penilaian akan kegiatan mereka sendiri. Sama seperti motivasi diri memberikan energi mahasiswa untuk menghasilkan prestasi yang dievaluasi, penilaian diri, dan memotivasi mahasiswa untuk mencari prestasi terbaik.

4. Proses self-directed learning dalam konteks online

Beberapa peneliti juga telah memeriksa dampak pembelajaran online pada proses self-directed learning (dalam Gibbons, 2002). Tiga bidang utama telah dieksplorasi, yaitu:

a. Perencanaan

Belajar online menyediakan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk kecepatan belajar mereka sendiri. Dalam pembelajaran e-learning (misalnya, chatting atau classroom-virtual), mahasiswa masih memiliki fleksibilitas untuk memilih tempat

(28)

bagi mahasiswa untuk menciptakan ruang belajar mereka sendiri dan menentukan kecepatan belajar mereka sendiri dan urutan.

b. Monitoring

Fleksibilitas yang diberikan dalam pembelajaran online menawarkan kebebasan lebih untuk mahasiswa, namun juga menyajikan tantangan (dalam Gibbons, 2002). Beberapa tantangan dapat diamati oleh mahasiswa untuk memonitoring pembelajaran mereka. Tidak seperti di ruang kelas tradisional dimana instruktur dapat dengan mudah melihat apakah mahasiswa memperhatikan atau aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelas dengan mengamati isyarat fisik mereka (seperti ekspresi wajah), dalam sebuah lingkungan belajar online, tanggung jawab memotitoring diri sangat besar.

c. Mengevaluasi

(29)

5. Pengukuran Self-Directed Learning

Salah satu cara untuk mengetahui self-directed learning subjek adalah dengan menggunakan pengukuran self-directed learning. Metode self-report yang akan digunakan untuk mengungkapkan self-directed learning yang mengacu dari teori Gibbon (2002). Metode ini dianggap sebagai salah satu metode yang paling bisa diandalkan dengan menggunakan beberapa daftar pernyataan-pernyataan yang harus dijawab oleh individu. Metode ini sering disebut dengan skala self-directed learning. Dari respon subjek pada setiap pernyataan akan disimpulkan guna mengetahui arah dan intensitas self-directed learning pada setiap subjek. Salah satu sifat skala self-directed learning adalah isi pernyataannya dapat berupa pernyataan langsung yang jelas tujuan ukurnya, akan tetapi dapat pula berupa pernyataan langsung yang kurang jelas bagi para subjek. Para subjek akan mendapatkan stimulus tentang self-directed learning yang jawabannya berupa setuju sampai tidak setuju (Azwar, 2000).

B. E-learning

(30)

E-learning bisa juga diartikan sebagai pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau

internet. E-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas. E-learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet. Sebenarnya materi e-learning tidak harus didistribusikan secara online baik melalui jaringan lokal maupun internet, distribusi secara offline

menggunakan media CD/DVD pun termasuk pola e-learning (E-learning system, 2008).

E-learning sering disebut penggunaan jaringan pada teknologi informasi

(31)

1. Pola-pola e-learning

Menurut Romiszowski (dalam Naidu, 2006), ada 4 (empat) pola dalam penggunaan e-learning yaitu,

a. Individualized self-paced e-learning online

Individualized self-paced e-learning online mengacu pada situasi dimana

seorang individu belajar melalui mengakses sumber belajar seperti database atau course content online via intranet atau internet, contohnya tipikal dari ini adalah

seorang mahasiswa belajar sendiri atau melakukan beberapa penelitian di internet atau local network.

b. Individualized self-paced e-learning offline

Individualized self-paced e-learning offline mengacu pada situasi di mana

seorang pembelajar menggunakan sumber belajar seperti database atau secara offline belajar dengan bantuan komputer (misalnya, meskipun tidak tersambung

ke intranet atau internet), contoh dari hal ini adalah mahasiswa bekerja sendirian dari hard drive, CD atau DVD.

c. Group-based e-learning synchronously

Group-based e-learning synchronously mengacu pada situasi dimana

kelompok mahasiswa belajar bersama melalui intranet atau internet. Ini mungkin termasuk konferensi berbasis chat, dan satu atau dua arah audio atau video-conference, contoh ini termasuk mahasiswa yang terlibat dalam chatting atau

(32)

d. Group-based e-learning asynchronously

Group-based e-learning asynchronously mengacu pada situasi di mana

sekelompok mahasiswa belajar bersama melalui intranet atau internet dan dalam pertukaran atau proses pembelajaran antara peserta terjadi dengan jeda waktu (yakni, tidak secara real time), contoh umum semacam ini aktivitas termasuk diskusi online melalui mailing list dan text-based conferencing dalam sistem pembelajaran manajemen.

2. Komponen e-learning

Secara garis besar, menurut Romiszowski (dalam Naidu, 2006) ada 3 (tiga) komponen utama yang menyusun e-learning, yaitu:

a. Sistem e-learning

Sistem perangkat lunak yang memvirtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan learning managements system (LMS).

b. Konten e-learning

(33)

multimedia-based content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau text-based content

(konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa) c. Peralatan e-learning

Infrastruktur e-learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer dan perlengkapan multimedia. Termasuk di dalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui

teleconference.

3. Kelebihan dan kekurangan pada e-learning

Rusman (2011) ada beberapa kelebihan dari e-learning yaitu :

a. Tersedianya fasilitas e-moderating dimana dosen dan mahasiswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara regular atau kapan saja tanpa dibatasi jarak, tempat, dan waktu.

b. Dosen dan mahasiswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.

c. Mahasiswa dapat belajar atau me-review bahan pelajaran setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan, mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.

(34)

e. Baik dosen maupun mahasiswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah mahasiswa yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.

f. Perubahan dari mahasiswa yang pasif ke aktif dan lebih mandiri.

g. Relatif lebih efisien, misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi.

Selain itu, ada terdapat beberapa kritik mengenai e-learning menurut Bullen (dalam Rusman, 2011), yaitu :

a. Kurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa atau bahkan antar sesama mahasiswa itu sendiri.

b. Kecenderungan mengabaikan aspek akademis atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.

c. Proses pembelajaran cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.

d. Perubahan peran dosen dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT/medium komputer.

e. Mahasiswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal. f. Tidak semua tempat tersedia difasilitasi internet.

g. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan mengoperasikan internet.

(35)

C. Mahasiswa

Mahasiswa dalam peraturan pemerintah RI No.30 tahun 1990 adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar di perguruan tinggi tertentu. Menurut Susantoro (dalam Puspita 2009) mahasiswa merupakan kalangan muda yang berumur antara 19 sampai 28 tahun yang memang dalam usia tersebut mengalami suatu peralihan dari tahap remaja ke tahap dewasa. Sosok mahasiswa juga kental dengan nuansa kedinamisan dan sikap kenyataan objektif, sistematik dan rasional.

Menurut Papalia (2003), mahasiswa termasuk dalam tahap pencapaian (achieving stage), yaitu tahap dimana indivdu menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk mencapai kemandirian dan kompetensi, misalnya dalam hal karir dan keluarga. Masa di kampus merupakan tempat dimana mahasiswa dapat mengembangkan rasa ingin tahu mereka secara intelektual, dan meningkatkan kemampuan dalam hal bekerja serta meningkatkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan. Memilih untuk kuliah merupakan suatu gambaran untuk memperoleh karir di masa depan dan hal ini akan cenderung mempengarhui pola berpikir individu.

(36)

tersendiri, sehingga mahasiswa mencapai komitmen yang relatif dimana dia membuat pertimbangan sendiri dan memilih nilai serta kepercaan yang benar menurutnya.

Menurut Piaget (dalam Papalia, 2003) mahasiswa termaksud dalam tahap berpikir post-formal, yaitu pola berpikir yang matang didasari pada pengalaman dan intuisi subjektif, tapi tetap berlandaskan pada logika untuk mengatasi keraguan, ketidakpastian dan lainnya. Secara umum, mahasiswa adalah seseorang yang terdaftar dan aktif dalam perkuliahan di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) adalah para peserta didik yang terdaftar, aktif dan belajar di perguruan tinggi USU. Mahasiswa USU Stara-1 (S-Stara-1) tersebar di Stara-13 fakultas, dimana sudah mulai menggunakan sistem e-learning. Salah satu bentuk dari e-learning adalah dari pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) yang sekarang dilakukan secara online dengan mengakses portal akademik. Selain itu para mahasiswa USU sering menggunakan media elektronik sebagai alat pendukung dalam pembelajarannya seperti dengan menggunakan laptop, in-focus, flashdisk, Wi-Fi dan lainnya.

(37)

media untuk mengirim tugas serta menggunakan milis Fakultas sebagai tempat untuk berbagi informasi atau untuk berdiskusi baik dengan dosen maupun teman-teman. Wi-Fi juga sudah hampir ada di setiap kawasan USU, dengan menggunakan weblogin USU dimana mahasiswa bisa mengakses internet secara gratis dengan memasukan username dan password yang ada pada setiap mahasiswa

D. Hubungan Self-Drected Learning dengan Pola Pembelajaran E-learning Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara

Belajar adalah sebagai perubahan perilaku yang relatif permanen dan terjadi sebagai hasil dari latihan dan pengalaman (Lahey, 2007). Proses dimana seseorang belajar sering juga disebut dengan pembelajaran. Pembelajaran merupakan upaya sengaja dan bertujuan yang berfokus kepada kepentingan, karakteristik, dan kondisi orang lain agar orang tersebut dapat belajar dengan efektif dan efisien (Miarso, 2004). Di dalam proses pembelajaran, para mahasiswa selalu diarahkan untuk menjadi mahasiswa yang mandiri, dan untuk menjadi seorang mahasiswa dituntut untuk belajar, sehingga dapat dicapai suatu kemandirian belajar atau self directed learning.

(38)

(2002) menyatakan ada lima dimensi dalam mahasiswa mengontrol atas pengalaman belajarnya, mampu mengembangkan ketrampilannya dalam pembelajaran, mahasiswa juga mengubah diri pada kinerja yang paling baik, mampu untuk manajemen diri dan yang terakhir adalah motivasi diri serta penilaian diri.

Kerka (dalam Hiemstra, 2009) menyatakan bahwa self directed learning bersifat fleksibel dalam proses pembelajaran baik secara waktu dan tempat. Self directed learning bisa digunaka pada setiap metode pembelajaran termaksud pada

pembelajaran e-learning. Hal ini selaras dengan Ruelland (dalam Hiemstra, 2009), bahwa e-learning menyediakan flesibilitas dalam ritme pembelajaran.

(39)

learning yang tidak baik maka mahasiswa tidak akan mampu melakukan salah

satu dari pola pembelajaran e-learning secara baik.

E-learning bisa diartikan pembelajaran dengan menggunakan media atau jasa bantuan perangkat elektronika (Munir, 2008). Sedangkan Romiszowski (dalam Naidu, 2006) menyatakan terdapat empat pola dari e-learning yang digunakan untuk keperluan pembelajaran, yaitu individualized self-paced e-learning online yang mengacu pada situasi dimana seorang individu belajar

melalui mengakses sumber belajar seperti database atau course content online via intranet atau internet. Individualized self-paced e-learning offline mengacu pada situasi dimana seorang pembelajar menggunakan sumber belajar seperti database atau secara offline belajar dengan bantuan komputer (misalnya, meskipun tidak tersambung ke intranet atau internet). Group-based e-learning synchronously mengacu pada situasi dimana kelompok pelajar bekerja sama melalui intranet atau internet. Hal ini termasuk konferensi berbasis chat, dan satu atau dua arah audio atau video-conference, dan group-based e-learning asynchronously mengacu pada situasi dimana sekelompok pelajar bekerja melalui intranet ata internet dan dalam pertukaran atau proses pembelajaran antara peserta terjadi dengan jeda waktu.

(40)

pembelajaran e-learning tetapi para mahasiswa juga sudah mulai melakukan kegiatan belajar dengan menggunakan pola pembelajaran e-learning.

Hal ini bisa dilihat jelas bahwa pada self directed learning mahasiswa USU memiliki keterkaitan dengan pola pembelajaran yang ada di USU. Perbedaan antara self directed learning dengan pola pembelajara e-learning yang dimaksudkan sebagai perbedaan pada suatu peningkatan pengetahuan, kemampuan, pencapaian atau pengembangan diri yang dipilih individu dan membuat usaha mereka sendiri yang ditinjau dari penggunaan pola-pola pembelajaran e-learning itu sendiri yaitu, Pertama, individualized self-paced e-learning online, Kedua, individualized self-paced e-learning offline, Ketiga, group-based e-learning synchoronously dan yang Keempat, group-based e-learning asynchoronously.

(41)

pola pembelajaran e-learning group-based e-learning synchoronously dimana mahasiswa lebih suka untuk memilih dan mengontrol pembelajarannya dalam belajar secara kelompok dengan menggunakan sarana internet seperti menggunakan chatting room, video conference dan lainnya. Terakhir pada pola pembelajaran e-learning group-based e-learning synchoronously mahasiswa akan mengontrol, memonitoring dan memilih pembelajarannya dalam belajar secara kelompok dimana melalui internet yang terdapat jeda waktu didalamnya.

E. Hipotesa Penelitian

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini akan menjelaskan metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh self directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU).

A. Identifikasi Variabel

Variabel-variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Variabel tergantung : Self-directed learning

2. Variabel bebas : Pola pembelajaran e-learning

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Adapun definisi operasional dari variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Self-directed learning

(43)

untuk dapat meraih kinerja baru dalam pembelajarannya atau hal baru agar lebih menarik agar mahasiswa mau untuk menunjukan kemampuan mereka yang terbaik. Serta, memanjemen diri sendiri dalam belajar yang akan disesuaikan dengan kontrol diri dan tanggung jawab. Serta mampu memotivasi dan menilai diri untuk bisa mengevaluasi memberikan feedback pada diri sendiri dan dapat mengejar tujuan. Dalam penelitian ini self-directed learning diukur menggunakan skala self directed learning yang disusun menggunakan dimensi self directed learning yang dikemukakan oleh Gibbons (2002).

Pada skala self directed learning, semakin tinggi skor yang didapatkan oleh subjek penelitian, maka semakin tinggi self directed learning yang dimiliki oleh subjek penelitian dan sebaliknya, semakin rendah skor yang diperoleh subjek penelitian, maka semakin rendah self directed learning yang dimiliki oleh subjek penelitian.

2. Pola pembelajaran e-learning

(44)

a. Individualized self-paced e-learning online

Individu belajar dengan menggunakan sumber belajar seperti database atau course content online melalui intranet atau internet.

b. Individualized self-paced e-learning offline

Individu belajar menggunakan sumber belajar secara offline dengan bantuan media elektronik.

c. Group-based e-learning synchronously

Sekelompok pelajar belajar bersama melalui intranet atau internet, seperti menggunakan konferensi berbasis chat, audio atau video-conference, dan lainnya.

d. Group-based e-learning asynchronously

Sekelompok pelajar belajar bersama melalui intranet atau internet dan dalam pertukaran atau proses pembelajaran antara pelajar terjadi dengan jeda waktu.

(45)

e-C. Populasi dan Metode Pengambilan Sampel 1. Populasi dan Sampel

Populasi adalah seluruh individu atau penduduk yang dimaksudkan untuk diteliti. Populasi dibatasi sebagai jumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Hadi, 2000). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang masih aktif kuliah. Jumlah populasi mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 32.401 orang. Penyebaran jumlah mahasiswa strata-1 (S-1) Universitas Sumatera Utara bisa dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Penyebaran Jumlah Mahasiswa S1 Universitas Sumatera Utara

No Fakultas Jumlah

Sumber : Pusat Sistem Informasi Universitas Sumatera Utara

(46)

kurang dari populasi. Sampel harus mempunyai paling sedikit satu sifat yang sama (Hadi, 2000).

Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan mempertimbangkan suatu hal yang bersifat praktis didasarkan pada keterbatasan peneliti, antara lain keterbatasan kesempatan yang diberikan, izin dari pihak akademik dan waktu yang tersedia. Adapun populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:

a. Mahasiswa/mahasiswi Universitas Sumatera Utara yang masih aktif (tidak sedang dalam masa cuti kuliah/PKA) dalam mengikuti perkuliahan.

b. Mahasiswa/mahasiswi Universitas Sumatera Utara yang mampu dan aktif menggunakan e-learning.

2. Metode pengambilan sampel

(47)

setara dan memiliki fakultas, departemen serta jurusan sendiri. Adapun fakultas yang setara dan menjadi sasaran subjek penelitian adalah Fakultas Ekonomi, Fakultas Pertanian, dan Fakultas MIPA. Lalu peneliti mengambil secara random kelompok-kelompok sampel yang akan dijadikan subjek penelitian dengan cara mengundinya. Dari hasil pengundian didapatkan sampel untuk subjek penelitian adalah Fakultas Ekonomi angkatan 2009, Fakultas Pertanian angkatan 2011, dan Fakultas MIPA angkatan 2010.

3. Jumlah sampel penelitian

(48)

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dijadikan alat ukur dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan skala. Metode skala digunakan karena data yang ingin diukur berupa konstruk atau konsep psikologis yang dapat diungkap secara tidak langsung melalui indikator-indikator perilaku yang diterjemahkan dalam bentuk aitem-aitem pernyataan (Azwar, 2000). Azwar (2000) mengemukakan kebaikan-kebaikan skala dan alasan-alasan penggunaannya, yaitu

a. Pertanyaan disusun untuk memancing jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan subjek sendiri yang tidak disadari.

b. Skala digunakan untuk mengungkap suatu atribut tunggal.

c. Subjek tidak menyadari arah jawaban yang sesungguhnya diungkap dari pertanyaan skala.

1. Skala self-directed learning

(49)

atribut yang diukur, sedangkan aitem unfavorable adalah aitem yang isinya tidak mendukung atau tidak menggambarkan ciri atribut yang diukur (Azwar, 2009).

Pada pengisian skala self directed learning, subjek diminta untuk memilih salah satu dari lima alternatif jawaban yang tersedia. Adapun alternatif jawaban yang disediakan adalah Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Netral (N), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (TST). Bobot penilaian untuk pernyataan favorable adalah SS=5, S=4, N=3, TS=2, STS=1, sedangkan bobot penilaian untuk pernyataan unfavorable adalah SS=1, S=2, N=3, TS=4, STS=5. Blueprint skala self directed learning yang disajikan sebagai berikut:

Tabel 2. Blue Print Skala Self-directed learning Sebelum Uji Coba

No Dimensi Indikator

Perilaku

a. Mahasiswa menetukan metode pembelajaran mereka sendiri b. Belajar secara diskusi 39,43

,49

a. Berusaha mencapai nilai yang baik

a. Tanggung jawab 11,29,

35

(50)

Skala self directed learning terlebih dahulu diuji coba sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian. Aitem-aitem yang berkualitas akan ditunjukkan oleh koefisien kolerasi yang tinggi antar aitem dengan jumlah skor total dari seluruh aitem (rit). Kriteria pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem dengan jumlah skor total dari seluruh aitem menggunakan batasan rit ≥ 0.250. Semua aitem yang mencapai koefisien minimal 0.250 dianggap memiliki daya beda aitem yang baik.

Selain aitem-aitem tersebut pada skala juga tertera identitas diri yang harus diisi oleh subjek penelitian. Identitas diri itu meliputi nama, jenis kelamin, fakultas/jurusan, dan usia. Data identitas ini akan digunakan sebagai gambaran subjek penelitian. Setelah uji coba selesai, maka selanjutnya peneliti akan melakukan penomoran kembali pada aitem-aitem skala untuk dijadikan sebagai alat pengumpulan data penelitian yang sebenarnya.

2. Skala pola pembelajaran e-learning

(51)

Tabel. 3. Blue print Skala Gaya Belajar Sebelum Uji Coba 1 Individualized self

paced e-learning

2 Individualized self paced e-learning

E. Validitas Dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas

Validitas dan reliabilitas alat ukur yang digunakan dalam sebuah penelitian sangat menentukan keakuratan dan keobjektifan hasil penelitian yang dilakukan. Suatu alat ukur yang tidak valid dan tidak reliabel akan memberikan informasi yang tidak akurat mengenai keadaan subjek atau individu yang dikenai tes ini (Azwar, 2000).

(52)

dimensi yang akan diukur ditentukan, peneliti akan menyusun aitem-aitem mengacu pada blueprint yang telah dibuat sebelumnya. Selanjutnya, peneliti meminta pertimbangan professional judgement yang dalam hal ini adalah dosen pembimbing peneliti sebelum aitem-aitem mana yang dapat dijadikan alat ukur sesuai dengan blue-print yang ada.

2. Uji Daya Beda Aitem

(53)

3. Reliabilitas

Pengertian dari Reliabilitas adalah keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya. Dapat dikatakan reliabilitas alat ukur itu adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. “dapat dipercaya”

disini maksudnya adalah dalam beberapa kali pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur di dalam diri subjek memang belum berubah (Azwar, 2000).

Reliabilitas alat ukur mengacu pada konsistensi atau keterpercayaan hasil ukur yang mengandung makna kecermatan pengukuran. Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai dengan 1,00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi reliabilitasnya. Sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati 0 berarti semakin rendah reliabilitasnya. Uji reliabilitas daya beda aitem dilakukan dengan menggunakan SPSS 17.0 for Windows

4. Hasil Uji Coba Alat Ukur

(54)

a. Skala self directed learning

Aitem yang diujicobakan pada skala self directed learning ini ada sebanyak 58 aitem dan diperoleh 33 aitem yang memiliki daya beda aitem yang baik dan 25 aitem gugur, yang akan dipaparkan pada tabel 4.

Tabel 4. Blue Print Skala Self Directed Learning Setelah Uji Coba

No Dimensi Indikator

Perilaku

a. Mahasiswa menetukan metode pembelajaran mereka sendiri

b. Belajar secara diskusi 39,43 ,49

a. Berusaha mencapai nilai yang baik

a. Tanggung jawab 11,29,

35

(55)

yang baik dan mewakili dari masing-masing dimensi dari self directed learning. Hasil dari uji coba terhadap skala self directed learning menunjukkan reliabilitas α = 0.837 dengan daya beda aitem yang bergerak dari 0.252 sampai dengan 0.486. Setelah mendapatkan aitem-aitem yang sesuai dari uji reliabilitas, selanjutnya peneliti melakukan penomoran ulang untuk skala penelitian. Tabel 5 menunjukkan distribusi aitem skala untuk penelitian.

Tabel 5. Blue Print Skala Self Directed Learning Setelah Uji Coba Dengan Penomoran Baru

No Indikator Indikator

Perilaku

a. Mahasiswa menetukan metode pembelajaran mereka sendiri

a. Berusaha mencapai nilai yang baik

a. Tanggung jawab 11(23),

29(33),

a. Member umpan balik pada hasil pembelajaran

25(11), 41(26)

(56)

b. Skala pola pembelajaran e-learning

Aitem yang diujicobakan pada skala pola pembelajaran e-learning ini ada sebanyak 29 aitem dan diperoleh 20 aitem yang memiliki daya beda aitem yang baik dan 9 aitem gugur, yang akan dipaparkan pada tabel 6.

Tabel 6. Blue Print Skala pola pembelajaran e-learning Setelah Uji Coba No Pola Pembelajaran

e-learning

Indikator Perilaku

Aitem Total Bobot 1 Individualized self

paced e-learning

(57)

menunjukkan reliabilitas α = 0.635, pola pembelajaran learning group based

e-learning synchrously menunjukkan reliabilitas α = 0.694, dan pada pola pembelajaran e-learning group based e-learning asynchrously menunjukkan reliabilitas α = 0.710, dengan daya beda aitem yang bergerak dari 0.30 sampai dengan 0.574.

Setelah mendapatkan aitem-aitem yang sesuai dari uji reliabilitas, selanjutnya peneliti melakukan penomoran ulang untuk skala penelitian. Tabel 7 menunjukkan distribusi aitem skala untuk penelitian.

Tabel 7. Skala pola pembelajaran e-learning Setelah Uji Coba dengan Penomoran Baru 1 Individualized self

paced e-learning

(58)

F. Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Prosedur pelaksanaan penelitian terdiri dari tiga tahap. Ketiga tahap tersebut yaitu persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, dan pengolahan data.

1. Tahap Persiapan Penelitian

Tahap persiapan penelitian terdiri dari: a. Pembuatan alat ukur

Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa Skala self directed learning yang disusun oleh peneliti berdasarkan dimensi dari self directed learning yang dikemukakan oleh Gibbons (2002), skala ini terdiri dari 58 aitem. Kedua adalah skala pola pembelajaran e-learning yang memiliki 29 aitem. Penyusunan skala ini dioperasionalisasikan dalam bentuk aitem-aitem pernyataan dan kemudian dibuat cetak biru dari skala tersebut. Setelah keseluruhan aitem selesai dibuat, peneliti kemudian meminta penilaian profesional dari dosen pembimbing untuk menelaah aitem-aitem skala kecemasan komunikasi tersebut.

b. Perizinan

Sebelum melakukan penelitian, peneliti langsung meminta izin kepada dosen dan asisten dosen terlebih dahulu. Setelah meminta izin peneliti bisa menyebarkan skala seusai kelas selesai.

c. Uji coba alat ukur

(59)

Setelah dilakukan pengujian reliabilitas maka diperoleh 33 aitem pada skala self directed learning dan pada skala pola pembelajaran e-learning didapatkan

18 aitem yang memenuhi validitas dan reliabilitasnya. d. Perbaikan alat ukur

Setelah peneliti melakukan uji coba alat ukur maka peneliti menguji validitas dan reliabilitas skala. Setelah diketahui aitem-aitem yang memenuhi validitas dan reliabilitasnya, maka kemudian peneliti menyusun aitem-aitem tersebut ke dalam alat ukur yang digunakan untuk mengambil data penelitian.

G. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Skala alat ukur yang sudah diujicobakan tersebut akan direvisi dan diberikan pada subjek penelitian, yaitu mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Peneliti meminta kesediaan subjek untuk mengisi skala. Peneliti melakukan pengambilan data yang diujicobakan pada tanggal 19-27 Maret 2012 pada 269 orang mahasiswa Universitas Sumatera Utara dengan menggunakan teknik cluster sampling, dimana peneliti meminta izin untuk masuk kedalam kelas dan memberikan skala kepada kelompok subjek penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya.

(60)

H. Tahap Pengolahan Data

Hasil dari data skala yang diperoleh akan diolah dengan menggunakan bantuan program SPSS 17.0 for windows. Alasan yang mendasari digunakannya analisa statistik adalah karena statistik dapat menunjukkan kesimpulan (generalisasi) penelitian. Pertimbangan lain yang mendasari adalah statistik bekerja dengan angka, statistik bersifat objektif, dan universal (Hadi, 2000).

I. Metode Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis uji Anava 1 Jalur. Anava jalur 1 merupakan teknik statistik parametrik yang digunakan untuk menguji perbedaan antara 3 atau lebih kelompok data berskala interval atau rasio yang berasal dari 1 variabel bebas (Winarsunu, 20009). Analisis ini bertujuan untuk melihat perbedaan self directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning mahasiswa. Uji ini dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows versi 17.0. Sebelum data-data yang terkumpul dianalisa, maka

terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yang meliputi:

1. Uji Normalitas

(61)

2. Uji Homogenitas

(62)

BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menguraikan analisa data dan pembahasan. Pembahasan akan dimulai dengan memberikan gambaran umum subjek penelitian dan dilanjutkan dengan hasil penelitian dan pembahasan.

A. Analisa Data

1. Gambaran Subjek Penelitian

Penelitian ini melibatkan 334 subjek penelitian yang merupakan mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Hasil dari penelitian untuk Pengelompokan subjek berdasarkan pola pembelajaran e-learning yang terdiri dari 4 pola bisa dilihat dari tabel 8 berikut ini.

Tabel 8. Pengelompokan Berdasarkan Pola Pembelajaran E-learning No. Pola pembelajaran e-learning Jumlah

1 Individualized self paced e-learning online 161 orang 2 Individualized self paced e-learning online 49 orang 3 Group based e-learning asynchrously 49 orang 4 Group based e-learning asynchrously 75 orang

(63)

pembelajaran e-learning group based e-learning synchrously, dan 75 orang (22,4%) memiliki pola pembelajaran e-learning group based e-learning asynchrously. Penyebarannya bisa dilihat pada grafik 1.

Grafik 1. Penyebaran Subjek berdasarkan pola pembelajaran e-learning

B. Hasil Penelitian

1. Uji normalitas sebaran

Uji normalitas dilakukan utuk mengetahui apakah distribusi data penelitian telah menyebar secara normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan tes Kolmogorov-Smirnov. Data akan dikatakan terdistribusi normal jika harga p > 0.05 (Hadi, 2000). Pengujian asumsi dan analisa data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17.0 for Windows.

Tabel 9. Normalitas Sebaran Variabel Self directed learning pada Pola pembelajaran e-larning

Variabel N Z p Keterangan

Pola pembelajaran e-learning 161 .714 .688 Normal

0 50 100 150 200

Pola Pembelajaran E-learning

(64)

Variabel N Z p Keterangan Pola pembelajaran group based

e-learning synchrously

49 .587 .881 Normal

Pola pembelajaran group based e-learning synchrously

75 .624 .831 Normal

a. Uji normalitas data pola pembelajaran learning individual self paced e-learning online dilakukan dengan metode statistik tes

Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas diperoleh Z = .714 dan p = .688. Jika p > 0,05 artinya distribusi data pola pembelajaran e-learning individual online telah menyebar secara normal. Penyebaran dapat dilihat pada grafik 2 dibawah ini.

Grafik 2. Penyebaran Normalitas Pola Pembelajaran E-Learning Individual Self Paced E-Learning Online

(65)

e-p>0,05 artinya distribusi data pola pembelajaran e-learning offline telah menyebar secara normal. Penyebaran dapat dilihat pada grafik 3 dibawah ini.

Grafik 3. Penyebaran Normalitas Pola Pembelajaran E-Learning Individual Self Paced E-Learning Offline

c. Uji normalitas data pola pembelajaran group based e-learning synchrously dilakukan dengan metode statistik tes Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas diperoleh Z = .587 dan p = .881. Jika p > 0,05 artinya distribusi data pola pembelajaran group based e-learning synchrously telah menyebar secara normal. Penyebaran dapat dilihat pada grafik 4 dibawah ini.

(66)

d. Uji normalitas data pola pembelajaran group based e-learning asynchrously dilakukan dengan metode statistik tes Kolmogorov-Smirnov.

Hasil uji normalitas diperoleh Z = .624 dan p = .831. Jika p > 0,05 artinya distribusi data pola pembelajaran group based e-learning asynchrously telah menyebar secara normal. Penyebaran dapat dilihat pada grafik 5 dibawah ini.

Grafik 4. Penyebaran Normalitas Pola Pembelajaran Group Based E-Learning Asynchronously

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dalam penelitian adalah homogen. Pengujian homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji

(67)

Tabel 10. Uji Homogenitas

Levene Statistic p Ket

1.658 1.76 Homogen

Dari data yang diperoleh pada tabel 10, maka dapat dilihat bahwa nilai p sebesar 1.76 yang artinya p > α . Sehingga dapat disimpulkan bahwa varians dari sampel penelitian ini sama atau homogen yang berarti bahwa kelompok sampel berasal dari populasi dengan varians yang sama.

C. Hasil Analisa Data

Hipotesis penelitian ini diuji kembali dengan menggunakan analisis uji Anava 1 Jalur. Hipotesa nol (Ho): tidak ada perbedaan self directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning. Hipotesa penelitian (Ha): ada perbedaan self directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning. Kriteria pengujian: Ho diterima bila p > .05, Ho ditolak bila p < .05.

Tabel 11. Hasil Analisis Varians SDL di Tinjau Dari Pola Pembelajaran E-learning

Variabel F p Ket

Self directed learning * pola pembelajaran e-learning

3.356 .019 Signifikan

(68)

perbedaan signifikan self-directed learning ditinjau dari pola pembelajaran e-learning.

Selain itu, akan dilihat lebih jauh diantara kelompok-kelompok pola pembelajaran e-learning yang benar-benar berbeda nilai rata-rata skor self directed learning-nya. Pada tabel 11, menunjukkan perbandingan nilai rata-rata

skor self directed learning di antara pola pembelajaran e-learning.

Tabel 12. Post Hoc Test SDL Ditinjau Pola Pembelajaran E-learning Pola

Pada tabel 12 tampak bahwa :

(69)

e-b. Tidak ada perbedaan self directed learning pada individual self paced e-learning online dan group based e-e-learning synchrously, dimana nilai p=

.269 > 0.05.

c. Ada perbedaan self directed learning pada individual self-paced e-learning online dan group based e-learning asynchrously, dimana nilai p= .002 < 0.05.

d. Tidak ada perbedaan self directed learning pada individual self-paced e-learning offline dan group based e-learning asynchrously, dimana nilai p

= .216 > 0.05.

e. Tidak ada perbedaan self directed learning pada group based e-learning synchrously dan individual self-paced e-learning offline, dimana nilai p= .883 > 0.05.

f. Terakhir Tidak ada perbedaan self directed learning pada group based e-learning synchrously dan group based e-learning asynchrously, dimana nilai p= .161 > 0.05.

D. Pembahasan

(70)

learning pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Dalam hal ini terlihat

bahwa self directed learning bisa digunakan pada keempat pola pembelajaran e-learning di Universitas Sumatera Utara. Singh (dalam Kerka, 1999), menyatakan

bahwa pembelajaran secara kelompok dapat memberdayakan individu untuk bergerak dari self directed learning yang rendah menjadi ketinggi. Selain itu, peningkatan kemampuan self directed learning individu cenderung untuk membantu kelompok menjadi lebih baik.

Jadi, pada dasarnya self directed learning ini bisa dilakukan baik secara individu dan kelompok. Hal ini dikarenakan self directed learning yang melibatkan kemampuan yang cukup fleksibel untuk pindah ke peran yang berbeda dan beradaptasi sesuai dengan perbedaan individu mahasiswa, kelompok dan parameter kelembagaan. Kebanyakan dari semua, itu berarti mampu menyeimbangkan apa yang ingin mahasiswa lakukan untuk diri mereka sendiri dengan apa yang pengajar inginkan, dengan menggunakan wawasan dari teori-teori belajar mengarahkan diri sendiri dan transformatif sebagai panduan (Margo, dalam Kerka, 2005).

(71)

Dari keempat pola pembelajaran ini tidak ada terdapat perbedaan yang signifikan dalam self directed learning pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.

Pada penelitian Wilson (2003), menjelaskan bahwa self directed learning pada pola pembelajaran e-learning individual self paced e-learning online, maka kemandirian belajar pada kegiatan pembelajaran meliputi penilaian keterampilan, praktek keterampilan, simulasi pembelajaran, dan bisa melalui World Wide Web atau intranet yang menciptakan pengalaman menarik dan realistis bagi mahasiswa. Pada pola pembelajaran e-learning individual self paced e-learning offline, disini mahasiswa belajar sendiri secara mandiri yang ditandai dengan opsi dimana individu dapat mengakses konten pembelajaran kapan saja mereka mau tanpa menggunakan jaringan internet seperti menggunakan slide powerpoint, DVD atau CD-ROM (Fuad, 2011).

Self directed learning pada proses pola pembelajaran e-learning group

based e-learning synchrously (real-time) adalah pola pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa untuk belajar secara mandiri di dalam kelompok dengan online pada saat yang sama dan pada kecepatan yang sama seperti yang dilakukan oleh kelompok tersebut, namun dari tempat yang berbeda. Umumnya dikenal teknologi yang memungkinkan fleksibilitas semacam ini adalah konferensi audio dan video, dan teknologi baru seperti telepon Internet (VoIP), interrelay chatting, dan game online. Dan terakhir self directed learning pada pola

(72)

pertanyaan dan diskusi via e-mail atau instant messaging, monitoring group participation levels, dan kelompok diskusi di jejaring sosial (Wilson, 2003).

Hasil dari penelitian Wilson (2003) menyatakan bahwa ada keterkaitan antara self directed learning pada setiap pola pembelajaran e-learning, dimana harus diperhatikan fasilitas dan kesesuaian pada setiap pola tersebut. Selaras dengan penelitian ini ada terdapat perbedaan yang signifikan antara self directed learning dengan pola pembelajaran e-learning. Lalu, tidak ada perbedaan yang signifikan antara pola pembelajaran e-learning individual online, indivial offline, group synchrously dan group asynchrously, kecuali pada individual self-paced

Gambar

Tabel 1. Penyebaran Jumlah Mahasiswa S1 Universitas Sumatera Utara
Tabel 2. Blue Print Skala Self-directed learning Sebelum Uji Coba
Tabel. 3. Blue print Skala Gaya Belajar Sebelum Uji Coba
Tabel 4. Blue Print Skala Self Directed Learning Setelah Uji Coba
+7

Referensi

Dokumen terkait

Simpulan Penelitian : Tidak terdapat perbedaan Self Directed Learning Readiness yang signifikan antara mahasiswa semester I dengan mahasiswa semester VII di

Penerapan Inquiry Based Learning dalam pembelajaran diharapkan akan mampu meningkatkan self directed learning mahasiswa karena dampak pengiring dari pelaksanaan pembelajaran

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Self Directed Learningdan Indeks Prestasi Mahasiswa.Self Directed Learning adalah kesedian diri untuk mengatur tujuan

Simpulan Penelitian : Tidak terdapat perbedaan Self Directed Learning Readiness yang signifikan antara mahasiswa semester I dengan mahasiswa semester VII di

Berdasarkan beberapa pandangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model self directed learning merupakan model pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa untuk

dibelajarkan dengan model web based learning baik yang menggunakan media blog maupun moodle ; (2) ada perbedaan hasil belajar kognitif siswa ditinjau dari kemampuan

68 E-portfolio implementation: Examining learners’ perception of usefulness, self-directed learning process and value of learning Boon Khing Song Republic Polytechnic, Singapore

Self-directed learning 2  Peserta didik dituntut untuk melakukan identifikasi masalah yang perlu diinvestigasi  Peserta didik harus mencari sumber-sumber belajar yang relevan 