Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pengetahuan Wanita Usia 20-50 Tahun Tentang SADARI Sebagai Salah Satu Deteksi Dini Kanker Payudara di Kelurahan Tanjung Rejo Medan

65  Download (0)

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN TINGKAT

PENGETAHUAN WANITA USIA 20-50 TAHUN TENTANG

SADARI SEBAGAI SALAH SATU DETEKSI DINI KANKER

PAYUDARA DI KELURAHAN TANJUNG REJO MEDAN

KARYA TULIS ILMIAH

Oleh:

APRILIA PRAFITA SARI ROITONA 120100137

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pengetahuan Wanita Usia 20-50 Tahun

Tentang SADARI Sebagai Salah Satu Deteksi Dini Kanker Payudara di Kelurahan

Tanjung Rejo Medan

Nama : Aprilia Prafita Sari Roitona

NIM : 120100137

Pembimbing,

dr. Bambang Prayugo, Sp.B NIP 19800228 200501 1 003

Penguji I,

dr. Vita Camelia, Sp.KJ NIP 19780404 200501 2 002

Penguji II,

dr. Bayu Rusfandi Nasution, Sp. PD NIP 198505142009121002

(3)

ABSTRAK

Kanker Payudara merupakan pembunuh kedua pada wanita setelah kanker serviks. Prevalensi kanker payudara di Indonesia tahun 2013 adalah sebesar 0,5‰ atau diperkirakan sebanyak 61.682 penderita. Lebih dari 60% pasien kanker payudara datang ke dokter pada tahap yang sudah lanjut. Oleh sebab itu, deteksi dini kanker payudara sangat dianjurkan untuk mengurangi keterlambatan diagnosis. Salah satu deteksi dini kanker payudara adalah periksa payudara sendiri (SADARI).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan SADARAI. Desain penelitian ini adalah studi analitik dengan metode cross-sectional. Populasi dalam penelitian adalah wanita usia 20-50 tahun di Kelurahan Tanjung Rejo, Medan. Sampel penelitian berjumlah 126 orang yang diambil dengan metode consecutive sampling. Data hasil penelitian kemudian diolah dengan menggunakan uji chi square.

Dari 126 responden, 3 responden tidak sekolah (2,4%), 43 responden pendidikan dasar (34,1%), 47 responden pendidikan menengah (37,3%), dan 33 reponden pendidikan tinggi (26,2%). Tingkat pengetahuan baik tentang SADARI berdasarkan tingkat pendidikan responden terdapat pada pendidikan menengah (50%), diikuti pendidikan tinggi (30%), pendidikan dasar (20%), dan tidak sekolah (0%). Tingkat pengetahuan cukup secara berurutan adalah pendidikan menengah (37,2%), pendidikan dasar (30,2%), pendidikan tinggi (27,9%), dan tidak sekolah (4,7%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan kurang paling banyak terdapat pada pendidikan dasar (41,3%), diikuti pendidikan menengah (33,3%), pendidikan tinggi (26,2%), dan tidak sekolah (2,4%). Hasil uji hipotesis tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang SADARI (p value 0,506).

(4)

ABSTRACT

Breast cancer is the second killer in women after cervical cancer. The prevalence

of breast cancer in Indonesia in 2013 is estimated at 0.5 ‰ or as many as 61.682 people.

More than 60% of breast cancer patients come to the doctor at an advanced stage. Therefore, early detection of breast cancer is highly recommended to reduce delays in diagnosis. One of early detection for breast cancer is breast self-examination (BSE).

The purpose of this study was to determine the relationship between level of education and level of knowledge about BSE. The design of this study is an analytic study with cross-sectional method. The population were women aged 20-50 years in the village of Tanjung Rejo, Medan. These samples included 126 people who were taken by consecutive sampling method. The data was analyzed by chi square test.

Based on 126 respondents, three respondents are out of school/uneducated (2.4%), 43 respondents are primary education (34.1%), 47 respondents are secondary education(37.3%), and 33 respondents are tertiary education (26.2%). Good level of knowledge about BSE according to education level is highest in secondary education (50%), followed by tertiary education (30%), primary education (20%), and uneducated (0%). In a sequence, sufficient level of knowledge are secondary education (37.2%), primary education (30.2%), tertiary education (27.9%), and uneducated (4.7%). Lack of knowledge is highest in primary education (41.3%), followed by secondary education (33.3%), tertiary education (26.2%), and uneducated (2.4%). The hypothesis test results showed that no relationship between education level with the level of knowledge about BSE (p value 0,506).

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah ‘azza wa jalla atas petunjuk ilmu yang dikaruniakan-Nya, penelitian berjudul Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat

Pengetahuan Wanita Usia 20-50 Tahun Tentang SADARI Sebagai Salah Satu Deteksi Dini Kanker Payudara di Kelurahan Tanjung Rejo Medan ini dapat

diselesaikan. Besar harapan penulis karya tulis ini dapat bermanfaat untuk peningkatan

kualitas kesehatan di Indonesia.

Laporan Hasil Penelitian ini alhamdulillah bisa diselesaikan atas dukungan dari

banyak pihak, kepada mereka penulis mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya,

diantaranya:

1. Prof. dr. Gontar A. Siregar, SpPD, KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. dr. Bambang Prayugo, Sp.B, selaku dosen pembimbing penulis yang telah memberikan koreksi dan masukannya.

3. Keluarga tercinta penulis, khususnya ummi dan abi, yang telah memberikan segala dukungannya dan kasihnya sejak penulis kecil. 4. Rekan-rekan seperjuangan di BKM Ar-Rahmah FK USU dan KSQ

Medan, atas dukungan dan motivasinya.

Penulis meyakini bahwa hasil laporan penelitian ini masih jauh dari

kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan guna

proses penyempurnaannya. Semoga karya tulis ini pada akhirnya dapat turut

berkonstribusi bagi kemajuan Indonesia.

Medan, Desember 2015

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Persetujuan ... i

Kata Pengantar ... ii

Daftar Isi ... iii

Daftar Tabel ... iv

Daftar Gambar ... v

Daftar Lampiran ... vi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan ... 4

2.1.1 Definisi Pengetahuan ... 4

2.1.2 Tingkat Pengetahuan 4 2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan ... 5

2.2 Pendidikan ... 6

2.2.1 Definisi Pendidikan... 6

2.2.2 Jenis-jenis Pendidikan ... 7

2.3. Kanker Payudara ... 8

2.3.1 Anatomi Payudara ... 8

2.3.2 Definisi Kanker Payudara ... 9

2.3.3 Etiologi dan Faktor Risiko ... 10

(7)

2.3.5 Diagnosis ... 11

2.3.6 Stadium ... 12

2.3.7 Penatalaksanaan ... 14

2.3.8 Prognosis ... 14

2.4 SADARI Sebagai Salah Satu Cara Deteksi Dini Kanker Payudara ... 15

2.4.1 SADARI ... 15

2.4.2 Prosedur SADARI ... 15

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep ... 19

3.2 Definisi Operasional ... 19

3.3 Hipotesis ... 20

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian... 21

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 21

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 21

4.3.1 Populasi ... 21

4.3.2 Sampel ... 21

4.4 Metode Pengumpulan Data ... 22

4.4.1 Instrumen Penelitian 22 4.4.2 Data Sekunder 23 4.5 Pengolahan dan Analisis Data ... 24

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian... 25

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 25

5.1.2. Deskripsi Resnponden Penelitian... 25

5.1.2. Hasil Analisis Data... 26

(8)

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan ... 31

6.2. Saran ... 31 DAFTAR PUSTAKA

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 5-year survival rate pasien kanker payudara 15

3.1 Definisi Operasional Penelitian 19 4.1 Hasil uji validitas da reliabilitas kuesoner 23 5..1 Distribusi frekuensi dan perentase berdasarkan

karakteristik responden

25

5.2 Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan pengetahuan responden penelitian

27

5.3 Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan aplikasi SADARI responden penelitian

27

5.4 Distribusi frekuensi dan perentase berdasarkan sumber pengetahuan responden penelitian tentang SADARI

28

5.5 Tabulasi singkat pendidikan dan tingkat pengetahua nresponden tentang SADARI

(10)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

Gambar 2.1 Anantomi Payudara 9

Gambar 2.2 Prosedur SADARI melihat payudara di depan cermin

dengan posisi tangan di samping

16

Gambar 2.3 Prosedur SADARI melihat payudara di depan cermin

dengan posisi tangan di kelapa dan di pinggang

16

Gambar 2.4 Prosedur SADARI meraba seluruh bagian payudara dalam

posisi berbaring

17

Gambar 2.5 Prosedur SADARI meraba seluruh bagian payudara dalam

posisi berdiri

17

Gambar 5.1 Gambaran kategori tingkat pendidikan responden penelitian

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Riwayat Hidup Peneliti

Lampiran 2. Kuesioner Penelitian

Lampiran 3. Lembar Penjelasan dan Lembar Persetujuan

Lampiran 4. Ethical Clereance

(12)

ABSTRACT

Breast cancer is the second killer in women after cervical cancer. The prevalence

of breast cancer in Indonesia in 2013 is estimated at 0.5 ‰ or as many as 61.682 people.

More than 60% of breast cancer patients come to the doctor at an advanced stage. Therefore, early detection of breast cancer is highly recommended to reduce delays in diagnosis. One of early detection for breast cancer is breast self-examination (BSE).

The purpose of this study was to determine the relationship between level of education and level of knowledge about BSE. The design of this study is an analytic study with cross-sectional method. The population were women aged 20-50 years in the village of Tanjung Rejo, Medan. These samples included 126 people who were taken by consecutive sampling method. The data was analyzed by chi square test.

Based on 126 respondents, three respondents are out of school/uneducated (2.4%), 43 respondents are primary education (34.1%), 47 respondents are secondary education(37.3%), and 33 respondents are tertiary education (26.2%). Good level of knowledge about BSE according to education level is highest in secondary education (50%), followed by tertiary education (30%), primary education (20%), and uneducated (0%). In a sequence, sufficient level of knowledge are secondary education (37.2%), primary education (30.2%), tertiary education (27.9%), and uneducated (4.7%). Lack of knowledge is highest in primary education (41.3%), followed by secondary education (33.3%), tertiary education (26.2%), and uneducated (2.4%). The hypothesis test results showed that no relationship between education level with the level of knowledge about BSE (p value 0,506).

(13)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker payudara merupakan kanker terbanyak yang dijumpai pada wanita baik di negara maju maupun negara berkembang. Kanker payudara juga merupakan pembunuh akibat kanker pertama pada wanita. Diperkirakan lebih dari 220.000 wanita di Amerika Serikat didiagnosis dengan kanker payudara setiap tahunnya dan lebih dari 40.000 akan mati. Jumlah kasus baru setiap tahun diperkirakan akan meningkat dari 10 juta pada 2002 menjadi 15 juta pada tahun 2025 dengan 60% dari kasus-kasus yang terjadi di negara-negara berkembang. Insiden kanker payudara meningkat di negara berkembang karena peningkatan angka harapan hidup, urbanisasi, dan perubahan gaya hidup (WHO, 2009).

Prevalensi kanker payudara di Indonesia tahun 2013 sebesar 0,5‰ atau diperkirakan sebanyak 61.682 penderita. Di Sumatera Utara, penderita kanker payudara tercatat 2.682 penderita (Depkes RI, 2013). Data Rumah Sakit H. Adam Malik Medan, menunjukkan bahwa prevalensi tertinggi kanker payudara terdapat pada usia 45-64 tahun (Balasubramaniam, 2010).

Lebih dari 60% pasien kanker payudara datang ke dokter pada tahap yang sudah lanjut (Oemati, 2011). Pada penelitian yang dilaksanakan pada tahun 1998-2000 di RS dr. M Djamil Padang, didapatkan data bahwa 68,6% pasien kanker payudara mencari pengobatan ke rumah sakit pada kanker stadium lanjut. Dari 146 pasien kanker payudara usia 24-80 tahun di RS Adam Malik, didapatkan data bahwa 39,7% pasien didiagnosis kanker payudara stadium IV dan 34,2 % stadium IIIB dengan prevalensi tertinggi usia 50 tahun (Ponniah, 2009).

(14)

tua, belum menikah, berpenghasilan rendah, dan tingkat pendidikan yang rendah (Taplin et al, 2004).

Saat ini, ada tiga cara deteksi dini kanker payudara yang sering digunakan, yaitu; periksa payudara sendiri (SADARI), pemeriksaan payudara oleh petugas kesehatan, dan mamografi.

SADARI sebagai salah satu deteksi dini kanker payudara sangat direkomendasikan karena pemeriksaannya mudah dan tidak memerlukan biaya sehingga dapat menjangkau seluruh kalangan (Dekes RI,2009). Selain itu, SADARI nyaman dilakukan karena dapat dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.

SADARI adalah pemeriksaan payudara yang dilakukan sendiri dan idealnya dilakukan satu kali per bulan (sekitar 7-10 hari setelah menstruasi). SADARI ini sangat penting dilakukan secara rutin untuk melihat perubahan pada payudara. Perubahan payudara yang dapat diamati meliputi perubahan bentuk, ukuran, dan kontur kulit payudara. Tujuan SADARI ini adalah apabila ditemukan perubahan-perubahan tidak normal pada payudara dapat melapor ke petugas kesehatan untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut. Jika ditemukan kelainan pada payudara dan segera mendapatkan tindak lanjut yang tepat, maka kemungkinan sembuh dapat mencapai 95% (Depkes RI, 2009). Mengingat pentingnya pencegahan primer dilakukan, American cancer society merekomendasikan SADARI dilakukan setiap bulan sejak usia 20 tahun (Kosters et al, 2008).

Berdasarkan data bahwa sebagian besar pasien kanker payudara didiagnosis pada stadium lanjut, peneliti memiliki ketertarikan untuk meneliti pengetahuan wanita tentang SADARI. Lebih jauh lagi, peneliti ingin meneliti hubungan tingkat pendidikan degan pengetahuan wanita usia 20-50 tahun di Kelurahan Tanjung Rejo Medan tentang SADARI.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang ingin digali peneliti dalam penelitian ini adalah:

(15)

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan wanita usia 20-50 tahun dengan tingkat pengetahuan SADARI di Kelurahan Tanjung Rejo.

1.3.2 Tujuan khusus

Yang menjadi tujuan khusus dari penelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui distribusi tingkat pendidikan responden

b. Untuk mengetahui distribusi tingkat pengetahuan responden tentang SADARI berdasarkan tingkat pendidikan

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

a. Memperoleh gambaran hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan wanita usia 20-50 tahun di kelurahan Tanjung Rejo tentang SADARI.

(16)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan

2.1.1. Definisi Pengetahuan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun 2008, pengetahuan berarti segala sesuatu yang diketahui, kepandaian, atau segala sesuatu yg diketahui berkenaan dengan hal, misal mata pelajaran. Pengetahuan dapat berupa hasil dari tahu dari seseorang setelah melakukan penginderaan terhadap objek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba.

2.1.2. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbeda-beda. Secara garis besar, pengetahuan memiliki 6 tingkatan (Notoatmodjo,2003) :

a. Tahu (know)

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Oleh sebab itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain: menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.

c. Aplikasi (aplication)

(17)

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan memisahkan, dan mencari hubungan antara komponen-komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang telah sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, mengelompokan, atau membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjukan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau meletakan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri.

Ircham (2005) membagi pengetahuan responden menjadi 3 tingkatan, yaitu: a. Pengetahuan baik: 76-100%

b. Pengetahuan cukup: 56-75% c. Pengetahuan kurang: <56%

2.1.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan

Menurut Mubarak (2007) ada tujuh faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :

a. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain terhadap suatu hal agar mereka dapat memahami. Biasanya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin baik pengetahuannya.

b. Pekerjaan

(18)

c. Umur

Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada aspek psikis dan psikologis (mental). Pertumbuhan fisik secara garis besar ada empat kategori perubahan, yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri-ciri-ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis dan mental taraf berfikir seseorang semakin matang dan dewasa.

d. Minat

Sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih dalam.

e. Pengalaman

Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang baik seseorang akan berusaha untuk melupakannya, namun jika pengalaman terhadap objek tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan yang membekas dalam emosi sehingga menimbulkan sikap positif.

f. Kebudayaan

Kebudayaan lingkungan sekitar, apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.

g. Informasi

Kemudahan memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru.

2.2. Pendidikan

2.2.1. Definisi Pendidikan

(19)

2.2.2. Jenis-Jenis Pendidikan

Pendidikan di Indonesia terdiri dari:

a. Pendidikan formal

Menurut Undang Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang sistem penidikan nasional, tingkat pendidikan formal di Indonesia dibagi menjadi tiga, yaitu:

a) Pendidikan Dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

b) Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.

c) Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi

b. Pendidikan nonformal

(20)

c. Pendidikan informal

Pendidikan informal merupakan pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan dan keluarga. Pendidikan informal lebih bersifat pendidikan moral.

2.3. Kanker Payudara 2.3.1. Anatomi Payudara

Payudara dewasa terletak di dareh dada, antara iga ke dua sampai dengan iga ke enam secara vertikal dan antara tepi sternum sampai dengan liea aksilaris media secara horizontal. Ukuran diameter payudara berkisar sekitar 10-12 cm, dan ketebalan antara 5-7 cm, jaringan payudara juga dapat berkembang sampai ke aksila yang disebut axillary tail of spence. Kelenjar payudara ini dimiliki oleh pria dan wanita. Namun, pada masa pubertas, payudara wanita secara bertahap akan membesar hingga membentuk setengah lingkaran, sedangkan pada pria tidak. Pembesaran ini terutama terjadi akibat penimbunan lemak dan dipengaruhi oleh berbagai hormon (Snell, 2006).

Bentuk payudara biasanya kubah (dome) yang bervariasi antara bentuk konikal pada nulipara hingga bentuk pendulous pada multipara. Payudara terdiri dari tiga unsur yaitu kulit, lemak subkutan, dan jaringan payudara yang terdiri dari jaringan parenkim dan stromal. Jaringan stroma dan jaringan subkutaneus payudara terdiri dari lemak, jaringan ikat, pembuluh darah, dan limfatik. Aliran limfe payudara sering dikaitkan dengan metastasis kanker payudara.

Pasokan darah ke kulit payudara tergantung pada pleksus subdermal dan memasok sampai ke parenkim payudara. Pasokan darah payudara berasal dari berikut ini:

1. Perforator mammae internal 2. Arteri thoracoacromial 3. Arteri thoracis lateral

4. Cabang-cabang arteri intercosta 3-8

(21)

Untuk mempermudah mendeskripsikan letak suatu kelainan, payudara dibagi menjadi lima regio, yaitu:

1. Kuadran medial atas (inner upper quadrant) 2. Kuadran lateral atas (outer upper quadrant) 3. Kuadran medial bawah (inner lower quadrant) 4. Kuadran lateral bawah (outer lower quadrant) 5. Regio putig susu (nipple)

Gambar 2.1 Anatomi Payudara (Sumber: http://humansanatomy.org/ 2013/11/26/ breast-anatomy/ breast_anatomy4/)

2.3.2. Definisi Kanker Payudara

(22)

2.3.3. Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab pasti kanker payudara masih belum bisa dipastikan, namun beberapa faktor risiko yang dikaitkan dengan beberapa faktor risiko di bawah ini (Stopect, 2014):

a. Jenis kelamin

Wanita lebih berisiko menderita kanker payudara dibanding laki-laki. Hal ini berhubungan dengan hormon terutama estrogen.

b. Penuaan

Risiko terkena kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia. Setiap sepuluh tahun, risiko kanker payudara meningkat hingga dua kali lipat, dengan puncak usia 40-50 tahun.

c. Genetik

Sekitar 5% sampai 10% dari kasus kanker payudara terjadi turun-temurun, yang berarti bahwa wanita tersebut mendapat mutasi gen yang diwarisi dari orangtua. Mutasi gen yang terjadi diduga adalah BRCA1 dan BRCA2 yang secara normal, gen ini membantu mencegah kanker dengan membuat protein yang menjaga sel-sel tumbuh abnormal.

d. Usia saat kehamilan pertama

Wanita yang hamil pertama pada usia 30 tahun mempunyai risiko terkena kanker payudara dua kali lipat dibandingkan dengan hamil pada usia 20 tahun. e. Penggunaan hormone replacement therapy (HRT)

f. Faktor gaya hidup (berat badan, gaya hidup, konsumsi alkohol)

2.3.4. Gejala Klinis

Keluhan pasien payudara berbeda-beda tergantung stadiumnya. Sebagian besar pasien kanker payudara in situ, T1, atau T2 mempunyai keluhan massa abnormal dengan atau tanpa disertai nyeri. Sebagian kecil pasien dapat menjumpai hasil yang abnormal pada saat screening dengan mamografi.

(23)

discharge dari puting susu. Pada beberapa kasus, dapat juga dijumpai pembesaran kelenjar getah bening axilla akibat metastasis (Hoskins et al, 2005).

2.3.5. Diagnosis

Penegakan diagnosis kanker payudara menurut WHO (2006) adalah sebagai berikut:

A. Anamnesis

Anamnesis harus mencakup unsur-unsur berikut: 1. Gejala berupa :

a) massa payudara b) nyeri payudara c) nipple discharge

d) puting atau kulit retraksi e) massa/sakit daerah axilla f) lengan bengkak

g) gejala kemungkinan penyebaran metastasis h) temuan yang mencurigakan pada mamografi rutin 2. Riwayat penyakit payudara terdahulu

3. Riwayat keluarga kanker payudara dan kanker lainnya terutama pada kanker ginekologi.

4. Riwayat reproduksi: a) usia menarche

b) usia persalinan pertama

c) jumlah kehamilan, anak, dan keguguran d) usia menopause

e) riwayat penggunaan pil kontrasepsi (jenis dan durasi) dan HRT (jenis dan durasi).

B. Pemeriksaan fisik payudara

Pemeriksaan fisik payudara harus mencakup sebagai berikut: a) Massa payudara

(24)

Menentukan apakah terdapat eritema (lokasi dan luasnya), edema (lokasi dan luasnya), dimpling, infiltrasi, ulserasi, dan nodul satelit.

c) Perubahan puting

Perubahan puting yang diamati meliputi retraksi puting, eritema, erosi, ulserasi, dan discharge.

d) Pembesaran kelenjar getah bening

Kelenjar getah bening aksila pada kedua sisi (jumlah, ukuran, lokasi dan fiksasi ke node lain atau struktur yang mendasari) dan kelenjar getah bening supraklavikula.

e) Pemeriksaan lokal dimana lokasi tersering metastasis

C. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi: a) Hitung darah lengkap, ginjal, dan profil hati b) Mamografi bilateral dan atau USG

c) Biopsi

d) Foto toraks ± dihitung pencitraan tomografi (CT) dada jika diperlukan e) Abdomen USG ± CT perut

f) CT Tulang jika diindikasikan

Berdasarkan lokasinya, kanker payudara sering ditemukan pada (Sohn et al, 2008):

a) Kuadran atas lateral 58% b) Kuadran atas medial 9% c) Kuadran bawah medial 14% d) Kuadran bawah lateral 10% e) Daerah puting susu 9%

2.3.6. Stadium

(25)

(AJCC) tahun 2010, stadium pada kanker payudara mengunakan sistem TNM. Kriteria klasifikasi sistem stadium TNM adalah sebagai berikut.

Tumor primer (T)

T0 Tidak ada bukti tumor primer.

Tis Ductus carcinoma in situ (DCIS) atau lobular carcinoma in situ (LCIS), atau paget’s disease.

T1 Diameter tumor kurang dari 2 cm . T2 Diameter tumor 2-5 cm

T3 Diameter tumor lebih dari 5 cm.

T4 Tumor dari berbagai ukuran dengan ekstensi langsung ke dinding dada atau kulit

T4a Ekstensi dinding dada tetapi tidak termasuk otot dada

T4b Edema, termasuk peau d'orange, ulserasi kulit kulit, atau nodul satelit terbatas pada payudara yang sama

T4c Kedua T4a dan T4b

T4d Karsinoma inflamasi, infiltrasi, dan ulserasi kulit

Kelenjar getah bening regional (N)

N0 Tidak ada metastasis ke kelenjar getah bening

N1 Metastasis ke kelenjar getah bening aksila ipsilateral.

N2 Metastasis ke kelenjar getah bening aksila ipsilateral dan melekat satu sama lain atau melekat ke struktur lengan.

N3a Metastasis ke kelenjar getah bening ipsilateral infraklavikula

N3 Kanker menyebar ke mammary lymph node atau supraclavicular lypmh node ipsilateral.

Metastasis (M)

(26)

Stadium

Stadium 0: Tis, N0, M0 Stadium I: T1, N0, M0 Stadium IIa: T0, N1, M0 T1, N1, M0 T2, N0, M0 Stadium IIb: T2, N1, M0 T3, N0, M0 Stadium IIIa: T0, N2, M0 T1, N2, M0 T2, N2, M0 T3, N1, M0 T3, N2, M0 Stadium IIIb: T4, N0, M0 T4, N1, M0 T4, N2, M0 Stadium IIIc: Semua T, N3

Stadium IV: Semua T, Setiap N, M1

2.3.7. Penatalaksanaan Kanker Payudara

Saat ini terdapat empat tata laksana kanker paydudara (PubMed Health, 2015), yaitu:

a. Operasi b. Radiasi c. Kemoterapi d. Terapi hormonal

2.3.8. Prognosis

(27)

Tabel 2.1. 5-year survival rate pasien kanker payudara (American Cancer Society, 2014)

Stadium 5-year Relative

Survival Rate

0 100%

I 100%

II 93%

III 72%

IV 22%

2.4. SADARI Sebagai Salah Satu Cara Deteksi Dini Kanker Payudara 2.4.1. SADARI

Deteksi dini adalah pemeriksan yang dilakukan untuk menemukan kondisi (misal kanker payudara) pada orang yang tanpa gejala (Komen, 2014). SADARI merupakan salah satu cara deteksi dini kanker payudara. Pemeriksan ini berguna untuk memastikan bahwa payudara seseorang masih normal. Bila ada kelainan seperti infeksi, tumor, atau kanker dapat ditemukan lebih awal. Kanker payudara yang diobati pada stadium dini mempunyai angka kesembuhan mendekati 95%. Sebaiknya, SADARI dilakukan oleh setiap perempuan tiap bulan dimulai pada usia 20 tahun atau sejak menikah. Waktu terbaik melakukan SADARI yaitu pada hari ke 7-10 dihitung sejak hari ke 1 haid atau bagi yang telah menopause SADARI dilakukan dengan memilih tangal tetap setiap bulannya.

2.4.2. Prosedur SADARI 1. Melihat Payudara

a. Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berdiri di depan cermin dengan lengan di sisi tubuh.

(28)

Gambar 2.2 Prosedur SADARI melihat payudara di depan cermin dengan posisi tangan di samping (Sumber: Buku Saku Pencegahan Kanker Serviks dan Kenker Payudara)

c. Meletakan tangan di kepala dan di pinggang sambil mengamati keseluruhan payudara

Gambar 2.3 Prosedur SADARI melihat payudara di depan cermin dengan posisi tangan di kepala dan di pinggang (Sumber: Buku Saku Pencegahan Kanker Serviks dan Kenker Payudara)

d. Memperhatikan kelainan lain misalnya kerutan, lekukan seperti lesung pipi pada kulit.

e. Dengan lembut tekan masing-masing puting dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk melihat apakah ada cairan yang keluar.

2. Meraba Payudara

a. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sambil berdiri atau berbaring. b. Jika pemeriksaan dalam keadaan berbaring:

(29)

b) Lengan kiri diangkat ke atas kepala

c) Tangan kanan menekan payudara dengan ketiga jari tengah (telunjuk, tengah, manis)

d) Pemeriksaan dimulai dari daerah puting susu dan ketiga jari digerakkan dengan gerakan memutar di seluruh permukaan payudara. Pemeriksaan juga dilakukan di daerah yang berada di antara payudara, di bawah lengan, dan di bawah tulang selangka.

e) Merasakan apakah terdapat benjolan atau penebalan

f) Lengan kanan diangkat ke atas kepala dan ulangi pemeriksaan unruk payudara sebelah kanan dengan menggunakan tangan kiri.

Gambar 2.4 Prosedur SADARI meraba seluruh bagian payudara dalam posisi berbaring (Sumber: Buku Saku Pencegahan Kanker Serviks dan Kenker Payudara)

Gambar 2.5 Prosedur SADARI meraba seluruh bagian payudara dalam posisi berdiri (Sumber: Buku Saku Pencegahan Kanker Serviks dan Kenker Payudara)

(30)

diperhatikan apakah terdapat perubahan ukuran maupun bentuk benjolan tersebut dibandingkan bulan sebelumnya.

(31)

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep

Pada Penelitian ini, tingkat pengetahuan wanita usia 20-50 tahun (responden) tentang SADARI diuraikan berdasarkan variabel tingkat pendidikan.

3.2. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian

Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala

(32)

Tingkat

pengetahu-an

Segala sesuatu yang diketahui oleh responden tentang

SADARI. Dalam konsep penelitian ini, pengetahuan yang diukur hanya dalam batas “tahu”.

Pengisian

kuesioner

Kuesioner -

Pengetahu-an baik

-

Pengetahu-an cukup

-

Pengetahu-an kurPengetahu-ang

Kategorik

3.3. Hipotesis

Hipotesis Nol (Ho) : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan

tingkat pengetahuan SADARI pada wanita usia 20-50 tahun di Kelurahan

Tanjung Rejo, Medan.

Hipotesis Alternatif (Ha) : Ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan

tingkat pengetahuan SADARI pada wanita usia 20-50 tahun di Kelurahan Tanjung

(33)

BAB 4

METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan desain cross sectional, yang kemudian didapatkan gambaran pengetahuan responden tentang SADARI dan hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan responden tentang SADARI.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Pengumpulan dan pengolahan data penelitian ini dilaksanakan selama tujuh bulan, yaitu bulan Mei sampai November 2015 pada wanita usia 20-50 tahun di Kelurahan Tanjung Rejo, Kota Medan. Peneliti memilih Kelurahan Tanjung Rejo sebagai lokasi penelitian karena Kelurahan Tanjung Rejo merupakan salah satu kelurahan yang padat penduduk dan memilki tingkat pendidikan yang beragam.

4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi

Populasi target dalam penelitian ini adalah wanita usia 20-50 tahun yang tercatat sebagai penduduk Kelurahan Tanjung Rejo pada tahun 2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Populasi penelitian ini berjumlah 8.222 orang.

4.3.2. Sampel

Sampel diambil dengan menggunakan teknik non probability sampling, yaitu dengan teknik consecutive sampling, dimana semua orang yang memenuhi kriteria dijadikan sebagai sampel penelitian. Adapun kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini adalah:

Kriteria inklusi :

1. Wanita usia 20-50 tahun

(34)

Kriteria eksklusi :

1. Mengalami gangguan fisik atau mental yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penelitian

Menurut Sastroasmoro (2014), jumlah sampel minimal akan dihitung dengan menggunakan rumus:

√ √

Keterangan :

Zα = Derivat baku alfa Zβ = derivat baku beta P1 = Proporsi efek standar

P2 = Proporsi efek yang diteliti

Q1 = 1-P1

Q2 = 1-P2

Berdasarkan rumus diatas, besarnya sampel yang diperlukan dalam penelitian ini adalah :

√ √

Dari rumus besar sampel di atas, didapatkan n = 62,8. Jika

,

maka jumlah sampel minimal yang diperlukan dalam penelitian ini

yaitu 126 orang.

4.4 Metode Pengumpulan Data 4.4.1 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Tingkat pengetahuan responden dikelompokkan berdasarkan kategori berikut:

(35)

c. Pengetahuan kurang: <56%

Nilai yang didapat responden akan dihitung menggunakan rumus:

Peneliti mengadaptasi kuesioner penelitian sebelumnya dimana kuesioner telah diuji validitas dan reabilitasnya dengan menggunakan teknik korelasi “product moment” dan uji reliabilitas dengan menggunakan program SPSS (Chandra, 2009).

Tabel 4.1 Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesoner Variabel No Total Pearson

Correlation

Status Alpha Status

Pengetahuan 1 0,630 valid 0,924 Reliabel

2 0,785 valid Reliabel

3 0,501 valid Reliabel

4 0,784 valid Reliabel

5 0,784 valid Reliabel

6 0,785 valid Reliabel

7 0,608 valid Reliabel

8 0,630 valid Reliabel

9 0,784 valid Reliabel

10 0,608 valid Reliabel

11 0,785 valid Reliabel

12 0,501 valid Reliabel

4.4.2 Data Sekunder

Data sekunder pada penelitian ini berupa jumlah penduduk wanita usia 20-50 tahun diperoleh dari kantor Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan.

(36)

4.5. Pengolahan dan Analisis Data

a. Kuesioner yang telah diisi oleh responden diperiksa secara manual. Sistem skoring untuk kuesioner:

1) Jika pada pertanyaan pertama responden menjawab Tidak Tahu maka pertanyaan tidak dilanjutkan. Skor total yang didapat responden adalah nol.

2) Pertanyaan no. 1-2, 4-6, dan 8-12, masing-masing pertanyaan memiliki poin 1. Jika responden menjawab benar, maka responden mendapat skor 1. Jika salah atau tidak tahu, responden mendapat skor 0.

3) Untuk pertanyaan no. 3 dan 7, jika responden menjawab salah mendapat poin 1, jika pasien menjawab benar atau tidak tahu mendapat skor 0.

4) Total poin untuk seluru pertanyaan adalah 12

(37)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal yang dipimpin oleh Bapak Abu Kasim Nasution, S.Sos, MAP.

Responden penelitian adalah wanita dengan rentang usia 20-50 tahun yang bertempat tinggal di Kelurahan Tanjung Rejo. Responden penelitian berjumlah 126 orang dan memiliki riwayat pendidikan yang beragam, yaitu: 3 orang tidak sekolah, 15 orang SD/sederajat, 28 orang SMP/sederajat, 47 orang SMA/sederajat, dan 33 orang PT/sederajat (Tabel 5.1).

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan perentase berdasarkan karakteristik responden (N=126)

(38)

Pekerjaan

Riwayat pendidikan responden dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu: tidak sekolah, pendidikan dasar (SD dan SMP/sederajat), pendidikan menengah (SMA/sederajat), dan pendidikan tinggi (PT).

Gambar 5.1. Gambaran kategori tingkat pendidikan responden penelitian (N=126)

5.1.3. Hasil Analisis Data

(39)

Tabel 5.2. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan pengetahuan responden penelitian (N=126)

Pengetahuan Jumlah Responden Persentase (%) Gambaran Pengetahuan

Pengetahuan responden tentang SADARI tidak selalu diikuti aplikasi untuk melakukan SADARI. Dari 75 responden yang mengetahui istilah SADARI, 60 orang pernah melakukan SADARI dan 15 orang lainnya tidak pernah melakukan SADARI. (Tabel 5.3)

Tabel 5.3. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan aplikasi SADARI responden penelitian

(40)

Tabel 5.4. Distribusi frekuensi dan perentase berdasarkan sumber pengetahuan responden penelitian tentang SADARI

Sumber Pengetahuan Jumlah Responden Persentase (%) Internet

Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan responden tentang SADARI, peneliti menggunakan uji chi square. Hasil uji chi square dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 5.5. Tabulasi tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan responden tentang SADARI berarti bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan SADARI.

5.2. Pembahasan

(41)

Penyuluhan kesehatan tentang SADARI sudah seharunsya digalakan. Puskesmas sebagai layanan kesehatan primer secara program dapat memberikan penyuluhan SADARI kepada masyarakat. Namun, berdasarkan sumber yang peneliti dapat, hanya 17,3% responden yang mendapatkan informasi SADARI dari layanan kesehatan (puskesmas). Hal ini tentu disayangkan karena pada dasarnya puskesmas berperan penting dalam menyebarluaskan informasi SADARI.

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang salah satunya dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas sebagai sumber informasi. Di era globalisasi ini, informasi mengenai SADARI bisa didapatkan tidak hanya dari penyuluhan kesehatan, tetapi juga dari internet. Berdasarkan hasil, 18,7% responden mendapatkan informasi SADARI dari internet. Persentase terbesar sumber informasi SADARI adalah teman, yaitu 38,7%. Hal ini sesuai dengan faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2003), pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain dapat memperluas pengetahuan seseorang.

Dari hasil penelitian, 60 dari 75 responden yang mengetahui SADARI pernah mengaplikasikannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Syafitri (2008) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan tentang SADARI dengan perilaku/aplikasi SADARI walaupun dengan korelasi yang kurang

erat. Penelian tersebut membuktikan bahwa ada kecenderungan semakin tinggi

tingkat pengetahuan tentang SADARI maka semakin baik pula perilaku SADARI dan

semakin rendah tingkat pengetahuan tentang SADARI maka semakin kurang baik

pula perilaku SADARI.

Dari hasil yang peneliti dapatkan, sebagian besar responden (50%) memilki pengetahuan kurang tentang SADARI. Pengetahuan yang kurang ini menunjukkan bahwa responden tidak tahu atau salah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner.

Secara umum, responden tidak mengetahui atau salah dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:

(42)

b. SADARI merupakan deteksi dini kanker payudara, bukan pengobatan pada kanker payudara

c. Waktu melakukan SADARI

d. Sejak usia berapa SADARI dianjurkan untuk dilakukan e. Langkah-langkah SADARI secara lengkap

Tingkat pengetahuan baik tentang SADARI berdasarkan tingkat pendidikan responden terdapat pada pendidikan menengah (50%), diikuti pendidikan tinggi (30%), pendidikan dasar (20%), dan tidak sekolah (0%). Tingkat pengetahuan cukup secara berurutan adalah pendidikan menengah (37,2%), pendidikan dasar (30,2%), pendidikan tinggi (27,9%), dan tidak sekolah (4,7%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan kurang paling banyak terdapat pada pendidikan dasar (41,3%), diikuti pendidikan menengah (33,3%), pendidikan tinggi (26,2%), dan tidak sekolah (2,4%).

Dari hasil analisa data didapatkan p value=0,506 dimana p>0,05 yang berarti tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan responden tentang SADARI. Hasil ini berbeda dengan yang didapatkan oleh Lubis (2011) dimana terdapat hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang SADARI (p=0,018). Pada penelitian yang dilakukan oleh Damanik (2009) menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan wanita tentang SADARI (p=0,925). Pada penelitian ini didapatkan hasil yang tidak berhubungan dikarenakan tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh berbagai faktor, tidak hanya pendidikan. Beberapa faktor lain yaitu: pekerjaan, usia, kebudayaan, dan informasi (Notoatmodjo, 2003).

(43)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

a. Dari 126 responden penelitian, 3 reponden (2,4%) tidak sekolah, 43 responden (34,1%) sekolah dasar, 47 responden sekolah menengah (37,3%), dan 33 responden (26,2%) pendidikan tinggi.

b. Dari hasil pengisian kuesioner tentang SADARI, didapatkan bahwa 63 responden (50%) memiliki tingkat pengetahuan kurang, 43 responden (34,1%) tingkat pengetahuan cukup, dan 20 responden (15,9%) tingkat pengetahuan baik.

c. Berdasarkan analisa statistik, didapatkan p value dengan uji chi square sebesar 0,506. Dari hasil penelitian ini, disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan wanita usia 20-50 tahun di Kelurahan Tanjung Rejo tentang SADARI.

6.2. Saran

a. Puskesmas dapat melakukan penyuluhan kesehatan tentang SADARI ke masyarakat agar informasi SADARI dapat tersebar dengan baik. Penyuluhan dilakukan kepada seluruh wanita, baik dari yang pendidikan tinggi ataupun tidak sekolah.

b. Pemerintah dapat menyebarluaskan informasi SADARI baik pada berbagai media terutama media elektronik karena media ini mudah dan sering diakses masyarakat.

c. Wanita sangat dianjurkan untuk mencari informasi tentang kesehatan wanita terutama tentang kanker payudara dan deteksi dini karena kanker payudara.

(44)
(45)

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2014. Breast Cancer. http://www.cancer.org/cancer/ breast cancer/detailedguide/breast-cancer-survival-by-stage (Diakses pada 10 Mei 2015)

American Joint Committee on Cancer. 2010. Breast Cancer Staging.

https://cancerstaging.org/references-tools/quickreferences/Documents/BreastMedium.pdf (Diakses 4 Juni 2015)

Balasubramaniam, Banurekha. 2010. Prevalensi Kanker Payudara Pada Wanita di

RSUP H. Adam Malik Tahun 2009.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21569/7/.pdf (Diakses Mei 2015)

Chandra, Yenni. 2009. Gambaran Pengetahuan Wanita Tentang SADARI sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara di Kelurahan Petisah Tengah Tahun 2009. 48-55

Damanik, Nina Munawaroh. 2009. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pengetahuan Wanita Usia 20-40 Tahun di Kelurahan Polonia Kecamatan Medan Polonia tentang SADARI sebagai Salah Satu Cara untuk

Dinas Kesehatan Kabupaten Bariko Kalimantan Selatan. Pemeriksaan payudara sendiri. http://dinkes.baritokualakab.go.id/index.php?option= comconten t&view= article &id=83:pemeriksaan-payudara-sendiri-sadari-&catid=52:bina-kesga&Itemid=79 (Diakses pada 15 April 2015)

Depkes RI. 2009. Buku Saku Pencegahan Kanker Serviks dan Kenker Payudara. Diakses 16 April 2015 http://www.pppl.depkes.go.id/_asset/ download/ bukusakukanker.pdf

________. 2013. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Indonesia. Diakses 27 Juni 2015 www.depkes.go.id/download.php?file=download /pusdatin/...kanker. pdf

(46)

Hoskins, William J, Robert C. Young, et al. 2005. Breast Cancer. In: Principles and Practice of Gynecologic Oncology. Ed. 4th. Phialadelphia: Lippincoot William&Wilkins, 1077-1155.

Ircham, Machfoedz. 2008. Ilmu Pengetahuan dan Aplikasinya dalam Masyarakat. Yogyakarta: Fitramaya

Lubis, Wizni Nadra. 2011. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pengetahuan Wanita Usia 20-50 tahun Mengenai SADARI Sebagai Salah Satu Cara Mendeteksi Dini Kanker Payudara di Kelurahan Babura Tahun 2011. http://core.ac.uk/display/15416470 (Diakses Desember 2015)

Kamil, Mustofa. 2007. Membangun Pendidikan Nonformal melalui PKBM. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/196111091 987031001-MUSTOFA_KAMIL/BAB_I_minggu__9__december_jadi.pdf (Diakses 17 Desember 2015)

KBBI. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.2008. http://bahasa. kemdiknas.go.id/ kbbi/index.php (Diakses 16 April 2015)

Komen, Susan G. 2014. Breast Cancer Detection. http://ww5.komen.org/ uploadedfiles /content binaries/806-374a.pdf (Diakses 10 Mei 2015) Kosters, JP. Gotzsche, PC. 2008. Regular self-examination or clinical

examination for early detection of breast cancer. Cochraine Journal. 2-18 Mubarak, Wahid Iqbal et al. 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Pengantar Proses

Belajar Mangajar dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Kosep Perilaku dan Perilaku Kesehatan. Dalam: Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 121-128

___________________.2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Eka Cipta. Hal. 92.

Oemati, Ratih. Rahajeng, Ekowati , Kristanto, Antonius Yudi. 2011. Prevalensi Tumor dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan; Vol. 39:190-204. http://download.portal garuda.org/article.php?article=70991&val= 4882 (Diakses pada 16 April 2015)

(47)

Snell, Richard S. 2006. Extremitas Superior dalam Anatomi Klinik. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 420-422

Sohn, VY, Arthurs ZM, Sebesta JA, Brown TA. 2008. Primary tumor location impacts breast cancer survival. The American journal of surgery. Vol. 195(5). Hal:641-644. http://www.americanjournalofsurgery.com/article /S0002-9610%2808%2900102-5/abstract.(Diakses 5 Mei 2015)

Stopeck, Alison T. 2014. Breast Cancer Risk Factors dalam Medscape References..http:// emedicine.medscape.com/article/1945957-overview (Diakses 21 April 2015)

Syahfitri, Azmeilia. 2010. Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Kanker Payudara dan SADARI dengan Perilaku SADARI pada Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara Angkatan 2008. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31861 (Diakses pada 28 November 2015)

Taplin, Stephen H et al. 2004. Reason for Late-Stage Breast Cancer. Journal of National Cancecr Institute: Vol. 96, No.20, Hal. 1518

http://jnci.oxfordjournals.org/content/96/20/1518.full.pdf+html (Diakses pada 4 Juni 2015)

Wahyuni, Arlinda Sari. 2008. Statistika Kedokteran. Jakarta: Bamboeda Communication, 87-102

(48)

LAMPIRAN 1

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Aprilia Prafita Sari Roitona Tempat/Tanggal Lahir : Cirebon, 3 April 1994

Agama : Islam

Alamat : Jl. Perjuangan, Perumahan Anthurium, no.2, Kec. Medan Sunggal, Medan

Riwayat Pendidikan : 1. TK Fatahillah 2. SDN 1 Lohbener

3. SMPN Unggulan Sindang 4. SMAN 1 Sindang

No Riwayat Oraginsasi Tahun Jabatan 1. Komunitas Sahabat Al-Quran

(KSQ)

2015-2016 Sekretaris Pembinaan 2. BKM Ar-Rahmah FK USU 2015 Sekretaris

Kaderisasi

3. MPMFK USU 2014 Staf Komisi III

4. Desa Produktif Etos Medan 2014 Sekretaris umum 5. Kesatuan Aksi Mahasiswa

Muslim Indonesia (KAMMI)

(49)
(50)

LAMPIRAN 2

KUESIONER Identitas Responden (wajib diisi)

Nama : _____________________

Usia : _____ tahun

Pendidikan saat ini/terakhir : Tidak Sekolah/SD/SMP/ SMA/ Perguruan Tinggi* Status Perkawinan : Menikah/ Belum Menikah*

(*) Coret yang tidak perlu

Berilah tanda ( ) pada SATU jawaban yang PALING BENAR Menurut Anda. 1. Apakah ibu pernah mendengar SADARI? Ya Tidak

(jika ya, lanjut ke no.2)

2. SADARI adalah ... 3. Dari mana Ibu Mendengar SADARI? (Boleh lebih dari satu)

Televisi Internet 1. Salah satu cara pemeriksaan yang

dilakukan untuk mendeteksi dini kanker payudara adalah dengan SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) 2. SADARI dapat dilakukan oleh semua

orang tanpa membutuhkan alat apapun

6. SADARI dilakukan secara rutin setiap bulan

(51)

8. Struktur payudara akan berubah setiap bulannya

9. SADARI dapat dilakukan dengan posisi berdiri tegak meghadap kaca

10. SADARI dapat dilakukan dengan posisi berbaring

11. Pada saat melaksanakan SADARI posisi berbaring, satu tangan berada di bawah bahu yang akan diperiksa dan tangan satunya melakukan pemeriksaan 12. SADADRI dapat dilakukan dengan jari

(52)

LAMPIRAN 3

LEMBAR PENJELASAN

Dengan hormat,

Saya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara semester VII yang sedang melakukan penelitian berjudul Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Pengetahuan Wanita Usia 20-50 Tahun Tentang SADARI Sebagai Salah Satu Deteksi Dini Kanker Payudara di Kelurahan Tanjung Rejo Medan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan tingkat pendidikan dengan tingkat pengetahuan wanita usia 20-50 tahun tentang

SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Oleh karena itu, saya meminta kesediaan Saudara untuk ikut serta menjadi subjek penelitian ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner. Adapun data individu dalam penelitian ini tidak akan dipublikasikan

(53)

LEMBAR PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : ………

Umur : ………

Pekerjaan : ………

Alamat : ………

Setelah mendapat keterangan dan penjelasan secara lengkap serta memahaminya, maka dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan saya menyatakan bersedia berpartisipasi pada penelitian ini. Demikianlah lembar persetujuan ini saya

perbuat tanpa paksaan dan apabila di kemudian hari saya mengundurkan diri, saya tidak dituntut apapun.

Medan, ……... 2015

Peneliti Yang membuat pernyataan

(54)
(55)
(56)

LAMPIRAN 5

Hasil Uji Statistik

Usia Yang Dikelompokkan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid 20-29 24 19.0 19.0 19.0

30-39 34 27.0 27.0 46.0

40-50 68 54.0 54.0 100.0

Total 126 100.0 100.0

Pekerjaan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid Guru 4 3.2 3.2 3.2

Ibu RT 95 75.4 75.4 78.6

Karyawan 1 .8 .8 79.4

Mahasiswi 16 12.7 12.7 92.1

Pedagang 2 1.6 1.6 93.7

Pegawai 1 .8 .8 94.4

Pembantu RT 2 1.6 1.6 96.0

Wiraswasta 5 4.0 4.0 100.0

(57)

Pendidikan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid PT 33 26.2 26.2 26.2

SD 15 11.9 11.9 38.1

SMA 47 37.3 37.3 75.4

SMP 28 22.2 22.2 97.6

Tidak Sekolah 3 2.4 2.4 100.0

Total 126 100.0 100.0

Pendidikan Yang Dikelompokkan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid dasar 43 34.1 34.1 34.1

menengah 47 37.3 37.3 71.4

Tidak Sekolah 3 2.4 2.4 73.8

tinggi 33 26.2 26.2 100.0

Total 126 100.0 100.0

Pengetahuan Yang Dikelompokkan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid baik 20 15.9 15.9 15.9

cukup 43 34.1 34.1 50.0

kurang 63 50.0 50.0 100.0

(58)

Pendidikan Yang Dikelompokkan * Pengetahuan Yang Dikelompokkan Crosstabulation

PengetahuanYgDikelompokkan

Total

baik cukup kurang

PendidikanYgDikelompokkan Tidak Sekolah Count 0 2 1 3

% within

a. 3 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum

(59)

DATA INDUK

Nama Usia Pekerjaan Pendidikan Kel.Pendidikan

(60)
(61)
(62)
(63)
(64)
(65)

Figur

Gambar 2.1 Anatomi Payudara (Sumber: http://humansanatomy.org/

Gambar 2.1

Anatomi Payudara (Sumber: http://humansanatomy.org/ p.21
Tabel 2.1. 5-year survival rate pasien kanker payudara  (American Cancer

Tabel 2.1.

5-year survival rate pasien kanker payudara (American Cancer p.27
Gambar 2.2 Prosedur SADARI melihat payudara di depan cermin dengan

Gambar 2.2

Prosedur SADARI melihat payudara di depan cermin dengan p.28
Gambar 2.3 Prosedur SADARI melihat payudara di depan cermin dengan

Gambar 2.3

Prosedur SADARI melihat payudara di depan cermin dengan p.28
Gambar 2.4 Prosedur SADARI meraba seluruh bagian payudara dalam

Gambar 2.4

Prosedur SADARI meraba seluruh bagian payudara dalam p.29
Gambar 2.5 Prosedur SADARI meraba seluruh bagian payudara dalam

Gambar 2.5

Prosedur SADARI meraba seluruh bagian payudara dalam p.29
Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian

Tabel 3.1

Definisi Operasional Penelitian p.31
Tabel 4.1 Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesoner

Tabel 4.1

Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesoner p.35
Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan perentase berdasarkan karakteristik responden (N=126)

Tabel 5.1.

Distribusi frekuensi dan perentase berdasarkan karakteristik responden (N=126) p.37
Gambar 5.1. Gambaran kategori tingkat pendidikan responden  penelitian

Gambar 5.1.

Gambaran kategori tingkat pendidikan responden penelitian p.38
Tabel 5.3. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan aplikasi SADARI

Tabel 5.3.

Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan aplikasi SADARI p.39
Tabel 5.4. Distribusi frekuensi dan perentase berdasarkan sumber pengetahuan

Tabel 5.4.

Distribusi frekuensi dan perentase berdasarkan sumber pengetahuan p.40
Tabel 5.5. Tabulasi tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan responden tentang SADARI

Tabel 5.5.

Tabulasi tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan responden tentang SADARI p.40

Referensi

Outline : Pembahasan

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di