PENGARUH BISING PESAWAT TERBANG
PADA PETUGAS GROUND HANDLING PT. GAPURA ANGKASA BANDAR UDARA POLONIA MEDAN
Oleh :
AMELIA MISELLA SAMOSIR 090100272
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PENGARUH BISING PESAWAT TERBANG
PADA PEKERJA GROUND HANDLING PT. GAPURA ANGKASA BANDAR UDARA POLONIA MEDAN
“Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran”
Oleh :
AMELIA MISELLA SAMOSIR 090100272
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Karya tulis ilmiah ini berjudul “Pengaruh Bising Pesawat Terbang pada Petugas Ground Handling PT.Gapura Angkasa Bandar Udara Polonia Medan”. Dalam penyelesaian penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Harry A. Asroel, Sp.THT-KL, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberi arahan dan masukan kepada penulis, sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.
3. dr. M. Rusda, Sp.OG(K) dan dr. Erjan Fikri, Sp.B,Sp.BA, selaku dosen penguji yang telah memberikan penilaian terhadap penulis, sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.
4. Seluruh staf pengajar dan civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
5. Rasa hormat dan terima kasih yang tidak terhingga saya persembahkan kepada kedua orang tua saya, papa Drs. Benny Samosir dan mama Dra. M. Elly Silalahi, Msi atas doa, perhatian, dan dukungan sebagai bentuk kasih sayang kepada saya. Juga kepada saudara-saudara saya Kevin Yosua Samosir dan Sarah Patricia Samosir terima kasih atas dukungan dan perhatian yang diberikan.
7. Teman-teman yang telah mendukung penuh selama proses penyusunan karya tulis ilmiah ini, Septrina Amelia Fransisca Ginting dan Melvia Bodi Panjaitan.
Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca agar penulis dapat menyempurnakan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat berguna bagi kita semua.
Medan, 11 Januari 2013 Penulis,
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR LAMPIRAN ... iv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
1.3. Tujuan Penelitian ... 3
1.4. Manfaat Penelitian ... 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1. Telinga ... 5
2.1.1. Anatomi Organ Telinga ... 5
2.1.2. Fisiologi Pendengaran ... 9
2.2. Macam-macam Gangguan Pendengaran ... 11
2.2.1. Gangguan Pendengaran Akibat Bising ... 12
2.3. Suara ... 19
2.4. Macam-macam Evaluasi Pendengaran ... 23
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 30
3.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 30
3.2. Definisi Operasional Variabel ... 30
3.2.1. Variabel Independen ... 30
3.2.2. Variabel Dependen ... 31
BAB 4 METODE PENELITIAN ... 32
4.1. Jenis Penelitian ... 32
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ... 32
4.3. Populasi Sampel ... 32
4.3.1. Populasi ... 32
4.3.2. Sampel ... 32
4.4. Teknik Pengumpulan Data ... 34
4.5. Pengolahan dan Analisis Data ... 34
DAFTAR PUSTAKA ... 36
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
2.1. Batas Pajanan Bising sesuai Menteri Tenaga Kerja 1999 ... 18
2.2. Interpretasi Hasil Uji Rinne ... 24
2.3. Interpretasi Hasil Uji Schwabach ... 25
2.4. Klasifikasi Kehilangan Pendengaran ... 27
5.1. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Jenis Kelamin ... 36
5.2. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Usia ... 36
5.3. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Pemakaian APD ... 37
5.4. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Keluhan Tinitus ... 38
5.5. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Kelainan Audiogram ... 38
5.6. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Lama Kerja (tahun) ... 39
5.7. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Lama Kerja (jam) ... 40
5.8. Distribusi Tuli berdasarkan Masa Kerja pada Telinga Kanan ... 41
5.9. Distribusi Tuli berdasarkan Masa Kerja pada Telinga Kiri ... 41
5.10. Distribusi Tuli Telinga Kanan berdasarkan Lama Paparan Harian ... 42
5.11. Distribusi Tuli Telinga Kiri berdasarkan Lama Paparan Harian ... 43
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar Penjelasan Lampiran 2 Informed Consent Lampiran 3 Kuestioner
Lampiran 4 Daftar Riwayat Hidup Lampiran 5 Data Inti
ABSTRAK
Noise induced hearing loss atau yang sering disebut sebagai gangguan pendengaran akibat bising adalah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Bandara Polonia merupakan bandara terbesar keempat di Indonesia. Dalam satu hari ada 150 penerbangan dan 3,8 juta penumpang yang ada di bandara Polonia. Kondisi tersebut cenderung akan meningkatkan faktor risiko kebisingan di Bandara, yang berakibat pada kemungkinan timbulnya gangguan kesehatan bagi petugas yang ada di bandara. Metode pemeriksaan yang menjadi baku emas untuk mengetahui seseorang menderita NIHL adalah dengan menggunakan audiometri. Pemeriksan ini dapat membedakan apakah seseorang menderita tuli ringan, sedang, ataupun berat. Sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan tentang pengaruh kebisingan terhadap petugas ground handling bandar udara Polonia, sementara data ini sangat penting untuk mengetahui gangguan pendengaran yang terjadi pada petugas ground handling. Untuk itulah penelitian ini dilaksanakan guna mencari tahu hubungan bising pesawat terbang dengan petugas ground handling bandar udara Polonia.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan diTerminal Kedatangan Internasional Bandar Udara Poloni, Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui pembagian kuesioner dan pemeriksaan menggunakan audiometri dipilih dengan metode total sampling. Gambaran audiometri yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan klasifikasi ISO tahun 1964.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran tuli yang paling banyak di Bandar Udara Polonia, Medan adalah tuli ringan pada telinga kanan sebanyak 58 orang (58%) dan tuli ringan pada telinga kiri sebanyak 38 orang (38%)
ABSTRACT
Noise induced hearing loss is a hearing loss condition that caused due to exposure to noise is quite loud in a long enough period of time and is usually caused by noisy work environment .Polonia Airport is the fourth largest airport in Indonesia. In one day there are 150 flights and 3.8 million passengers. These conditions are likely to increase the risk factor in airport noise, resulting in potential health problems for officers at the airport. The method checks the gold standard to determine a person suffering from NIHL is using a audiometri. This examination can determine whether someone suffers from deafness mild, moderate, or severe. Until now there is no data demonstrating the effect of noise on workers Polonia airport ground handling, while the data is very important to know the hearing loss that occurs in ground handling staff. For that reason, the study was conducted to find out the relationship with the officer noisy aircraft ground handling Polonia airport.
The method of this descriptive study is cross sectional, which is conducted in the international arrivals terminal Polonia airport. Data collecting procedure collected through the distribution of questionnaires and audiometric examination by a method using total sampling. Audiometric picture obtained ISO grouped by classification in 1964
The results of this study indicate that most deaf picture at Polonia Airport, Medan is mild deafness in the right ear as many as 58 people (58%) and mild deafness in the left ear in 38 people (38%)
ABSTRAK
Noise induced hearing loss atau yang sering disebut sebagai gangguan pendengaran akibat bising adalah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Bandara Polonia merupakan bandara terbesar keempat di Indonesia. Dalam satu hari ada 150 penerbangan dan 3,8 juta penumpang yang ada di bandara Polonia. Kondisi tersebut cenderung akan meningkatkan faktor risiko kebisingan di Bandara, yang berakibat pada kemungkinan timbulnya gangguan kesehatan bagi petugas yang ada di bandara. Metode pemeriksaan yang menjadi baku emas untuk mengetahui seseorang menderita NIHL adalah dengan menggunakan audiometri. Pemeriksan ini dapat membedakan apakah seseorang menderita tuli ringan, sedang, ataupun berat. Sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan tentang pengaruh kebisingan terhadap petugas ground handling bandar udara Polonia, sementara data ini sangat penting untuk mengetahui gangguan pendengaran yang terjadi pada petugas ground handling. Untuk itulah penelitian ini dilaksanakan guna mencari tahu hubungan bising pesawat terbang dengan petugas ground handling bandar udara Polonia.
Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan diTerminal Kedatangan Internasional Bandar Udara Poloni, Medan. Pengumpulan data dilakukan melalui pembagian kuesioner dan pemeriksaan menggunakan audiometri dipilih dengan metode total sampling. Gambaran audiometri yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan klasifikasi ISO tahun 1964.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran tuli yang paling banyak di Bandar Udara Polonia, Medan adalah tuli ringan pada telinga kanan sebanyak 58 orang (58%) dan tuli ringan pada telinga kiri sebanyak 38 orang (38%)
ABSTRACT
Noise induced hearing loss is a hearing loss condition that caused due to exposure to noise is quite loud in a long enough period of time and is usually caused by noisy work environment .Polonia Airport is the fourth largest airport in Indonesia. In one day there are 150 flights and 3.8 million passengers. These conditions are likely to increase the risk factor in airport noise, resulting in potential health problems for officers at the airport. The method checks the gold standard to determine a person suffering from NIHL is using a audiometri. This examination can determine whether someone suffers from deafness mild, moderate, or severe. Until now there is no data demonstrating the effect of noise on workers Polonia airport ground handling, while the data is very important to know the hearing loss that occurs in ground handling staff. For that reason, the study was conducted to find out the relationship with the officer noisy aircraft ground handling Polonia airport.
The method of this descriptive study is cross sectional, which is conducted in the international arrivals terminal Polonia airport. Data collecting procedure collected through the distribution of questionnaires and audiometric examination by a method using total sampling. Audiometric picture obtained ISO grouped by classification in 1964
The results of this study indicate that most deaf picture at Polonia Airport, Medan is mild deafness in the right ear as many as 58 people (58%) and mild deafness in the left ear in 38 people (38%)
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi suara, mengenal suara dan berperan dalam keseimbangan posisi tubuh. Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Bagian luar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga dalam yang berisi cairan untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut. Telinga dalam berisi dua sistem sensorik yang berbeda yaitu koklea, yang mengandung reseptor-reseptor untuk mengubah gelombang suara menjadi impuls-impuls saraf, sehingga kita dapat mendengar dan aparatus vestibularis, yang penting untuk sensasi keseimbangan (Sherwood, 2001). Sebagai suatu organ, telinga juga dapat mengalami kelainan, seperti kelainan bentuk anatomi, peradangan akibat infeksi, dan yang paling sering menimbulkan keluhan adalah gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran bisa dialami oleh bayi, anak dan geriatri. Penyebab-penyebab dari gangguan pendengaran antara lain akibat bising dan obat ototoksik. Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss) ialah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Sifat ketuliannya adalah tuli sensorineural koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga (Soepardi.dkk, 2007).
Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Secara audiologik bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi. Bising yang intensitasnya 85 desibel (dB) atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran corti di telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah alat corti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 3000 Hertz (Hz) sampai dengan 6000 Hz dan yang terberat kerusakan alat corti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 4000Hz (Soepardi.dkk, 2007).
satu faktor resiko seseorang terkena gangguan pendengaran akibat kebisingan. Masyarakat yang berisiko terhadap faktor kebisingan antara lain buruh pabrik dan petugas di lapangan terbang (ground handling).
Sebagai pintu gerbang Sumatera Utara, Bandara Polonia merupakan bandara internasional terbesar keempat setelah Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, Juanda Surabaya dan Ngurah Rai Denpasar (Bandar Udara Polonia Medan, 2009). Dari tahun ke tahun arus penumpang Polonia cenderung mengalami peningkatan antara 15 hingga 20 persen. Pada tahun 2003, arus penumpang mencapai 2.736.332 orang, naik dari 2.090.519 pada tahun sebelumnya. Jumlah pergerakan pesawat adalah 36.359 pada tahun 2003, naik dari 29.894 pada tahun 2002. Tercatat ada 13.713 penerbangan domestik dan 4.387 penerbangan internasional dari Polonia pada 1998. Pada 2004 jumlahnya telah mencapai 35.100 penerbangan domestik dan 8.266 penerbangan internasional. Dari segi jumlah penerbangan, pada 1998 terdapat 56 penerbangan dalam sehari, namun pada tahun 2005 telah meningkat antara 125 hingga melebihi 150 penerbangan perhari, dengan penumpang lebih kurang 3,8 juta orang pertahun, baik domestik dan internasional (Kantor Kesehatan Pelabuhan, 2007). Kondisi tersebut cenderung akan meningkatkan faktor risiko kebisingan di Bandara, yang berakibat pada kemungkinan timbulnya gangguan kesehatan bagi petugas yang ada di Bandara. Pengaruh utama kebisingan bagi kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran yang menyebabkan ketulian progresif.
PT. Gapura Angkasa memiliki tenaga kerja yang sangat banyak dan tersebar hampir di seluruh Indonesia (PT. Gapura Angkasa, 2008). Banyaknya pekerja yang sering terpapar bising pesawat terbang menjadi salah satu faktor risiko terjadinya gangguan pendengaran.
Saat ini pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menentukan jenis dan derajat ketulian adalah audiometri. Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan jenis ketulian, apakah tuli konduktif tuli saraf (sensorineural) atau tuli campuran. Metode pemeriksaan ini menggunakan alat audiometer. Sebagai salah satu tahapan dalam melakukan upaya pengendalian dampak kebisingan, perlu dilakukan pemantauan tingkat kebisingan yang diterima oleh para petugas di lapangan terbang (ground handling).
Sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan tentang pengaruh kebisingan terhadap petugas ground handling PT. Gapura Angkasa bandar udara Polonia, sementara data ini sangat penting untuk mengetahui gangguan pendengaran yang terjadi pada petugas ground handling, sehingga pada akhirnya dapat juga dilakukan penatalaksaan yang sesuai serta tindakan rehabilitasi. Maka penulis tertarik untuk melakukan penetian mengenai pengaruh kebisingan pesawat terbang terhadap petugas ground handling yang nantinya akan diperoleh data yang menunjukkan pengaruh kebisingan pesawat terbang terhadap petugas ground handling
1.2. Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh kebisingan pesawat terbang pada petugas ground handling PT. GAPURA ANGKASA bandar udara Polonia, Medan.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat kemampuan pendengaran petugas di lapangan terbang (ground handling).
b. Mengetahui tingkat kebisingan yang diterima oleh para petugas ground handling.
c. Mengetahui hubungan tajam dengar dengan karakteristik responden (masa kerja dan pemakaian alat pelindung diri).
1.4. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian yang diperoleh dapat dipergunakan sebagai sumber informasi data epidemiologi untuk penelitian ilmiah tentang gangguan pendengaran akibat kebisingan di masa mendatang, baik oleh peneliti maupun oleh pihak-pihak lainnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Telinga
2.1.1. Anatomi Organ Telinga
Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi suara, mengenal suara dan berperan dalam keseimbangan posisi tubuh. Telinga mengandung bagian vestibulum dari keseimbangan, namun orientasi kita terhadap lingkungan juga ditentukan oleh kedua mata kita dan alat perasa pada tendon dalam. Jadi telinga adalah organ pendengaran dan keseimbangan (Sloane, 2004). Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Bagian liar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga dalam yang berisi cairan untuk memperkuat energi suara dalam proses tersebut. Telinga dalam berisi dua sistem sensorik yang berbeda yaitu koklea, yang mengandung reseptor-reseptor untuk mengubah gelombang suara menjadi impuls-impuls saraf, sehingga kita dapat mendengar dan aparatus vestibularis, yang penting untuk sensasi keseimbangan (Sherwood,2001).
a. Telinga Luar
Telinga luar atau pinna merupakan gabungan dari rawan yang diliputi kulit. Liang telinga memiliki tulang rawan pada bagian lateral namun bertulang di sebelah medial. Seringkali ada penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang dan rawan ini. Sendi temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadap liang telinga sementara prosesus mastoideus terletak di belakangnya. Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalan ke lateral menuju prosesus stiloideus di posteroinferior liang telinga, dan kemudian berjalan di bawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis (Higler, 2000).
sempit yang panjangnya sekitar 2,5 cm yang merentang dari aurikula sampai membran timpani (Sloane, 2004).
b. Membrana Timpani
Membrana timpani atau gendang telinga adalah perbatasan telinga tengah. Membran ini memisahkan telinga luar dari telinga tengah, dan memiliki tegangan, ukuran, dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis (Sloane, 2004).
Membrana timpani adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya umbo, mengarah ke medial. Membrana timpani umumnya bulat. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus, meluas melampaui batas atas membrana timpani, dan bahwa ada bagian hipotimpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. Membrana timpani tersusun oleh suatu lapisan epidermis di bagian luar, lapisan fibrosa di bagian tengah di mana tangkai maleus dilekatkan, dan lapisan mukosa bagian dalam. Lapisan fibrosa tidak terdapat di atas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membran timpani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid) (Higler, 2000).
c. Telinga Tengah
stapedius dan berjalan ke lateral depan menuju inkus tetapi di medial maleus, untuk keluar dari telinga tengah lewat sutura petrotimpanika. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingualis dan menghantarkan serabut-serabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan serabut-serabut pengecap dari dua pertiga anterior lidah. Dasar telinga tengah adalah atap bulbus jugularis yang di sebelah superolateral menjadi sinus sigmodeus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya adalah aliran vena utama rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke telinga tengah dari dasarnya. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus. Di atas kanalis ini, muara tuba eustakius dan otot tensor timpani yang berinsersi pada leher maleus. Dinding lateral dari telinga tengah adalah dinding tulang epitimpanum di bagian atas, membrana timpani, dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah. Bagian yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran koklea yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintasi promontorium ini. Fenestra rotundum terletak di posteroinferior dari promontorium, sedangkan kaki stapes terletak pada fenestra ovalis pada batas posterosuperior promontorium. Kanalis falopii bertulang yang dilalui saraf fasialis terletak di atas fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis di anterior hingga piramid stapedius di posterior (Higler, 2000).
d. Tuba Eustakius
pleksus faringealis dan saraf mandibularis. Tuba eustakius berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membrana timpani (Higler, 2000).
e. Telinga dalam
Telinga dalam berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal, di sisi medial telinga tengah.Bentuk telinga tengah sedemikian kompleksnya sehingga disebut sebagai labirin. Derivat vesikel otika membentuk suatu rongga tertutup yaitu labirin membrana yang terisi endolimfe, satu-satunya cairan ekstraselular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium.Labirin membrana dikelilingi oleh cairanoerilimfe (tinggi natrium, rendah kalium) yang terdapat dalam kapsul otika bertulang. Labirin tulang dan membran memiliki bagian vestibular dan bagian koklear. Bagian vestibularis (pars superior) berhubungan dengan keseimbangan, sementara bagian koklearis (pars inferior) merupakan organ pendengaran kita (Higler, 2000).
Terletak di atas membrana basilaris dari basis ke apeks adalah organ Corti, yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam (3.000) dan tiga baris sel rambut liar (12.000). Sel-sel ini menggantung ng-lewat lubang-lubang dengan horisontal dari suatu jungkat-jangkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa dan aselular, dikenal sebagai membrana tektoria. Membrana tektoria disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial disebut sebagai limbus (Sherwood,2001).
Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulum, utrikulus dan kanalis semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel-sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar daripada ensolimfe. Karena pengaruh gravitasi, maka gaya dari otkan membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor (Higler, 2000).
2.1.2. Fisiologi Pendengaran
Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul-molekul udara yang berselang seling dengan daerah bertekanan rendah karena penjarangan molekul tersebut (Sherwood, 2001).
Sewaktu suatu gelombang suara mengenai jendela oval, tercipta suatu gelombang tekanan di telinga dalam. Gelombang tekanan menyebabkan perpindahan mirip gelombang pada membran basilaris terhadap membrana tektorium Sewaktu menggesek membrana tektorium, sel-sel rambut bertekuk. Hal ini menyebabkan terbentuknya potensial aksi. Apabila deformitasnya cukup signifikan, maka saraf-saraf aferen yang bersinaps dengan sel-sel rambut akan terangsang untuk melepaskan potensial aksi dan sinyal disalurkan ke otak (Corwin, 2001).
Frekuensi gelombang tekanan menentukan sel-sel rambut yang akan berubah dan neuron aferen yang akan melepaskan potensial aksi. Misalnya, sel-sel rambut yang terletak dibagian membranan basilaris dekat jendela oval adalah sel-sel yang mengalami perubahan oleh suara berfrekuensi tinggi, sedangkan sel-sel-sel-sel rambut yang terletak di membrana basilaris yang paling jauh dari jendela oval adalah sel-sel yang mengalami perubahan oleh gelombang berfrekuensi rendah. Otak menginterpretasikan suatu suara berdasarkan neuron-neuron yang diakftifkan. Otak menginterpretasikan intensitas suara berdasarkan frekuensi impuls neuron dan jumlah neuron aferen yang melepaskan potensial aksi (Corwin, 2001).
cukup besar terjadi apabila kita menempelkan garpu tala atau benda lain yang bergetar langsung ke tengkorak. Jaras ini juga berperan dalam penghantaran bunyi yang sangat keras (Ganong, 2002).
2.2. Macam-macam Gangguan Pendengaran
Ada tiga jenis gangguan pendengaran yang dapat dikenali dengan uji pendengaran yaitu gangguan konduktif, gangguan sensorineural dan gabungan keduanya atau tipe campuran. Gangguan pendengaran konduktif adalah akibat kelainan telinga luar atau tengah. Gangguan pendengaran sensorineural timbul sekunder dari kelainan koklearis, saraf kedelapan atau saluran auditorik sentral (Higler, 2000).
Tuli konduktif disebabkan oleh hal yang menggangu hantaran normal daripada gelombang suara ke organ corti. Jadi merupakan gangguan konduksi rangsangan suara melalui liang telinga, membran timpani, ruang telinga tengah, dan tulang pendengaran (Hassan et al, 2007).
Pada telinga luar misalnya serumen prop atau benda asing dalam liang telinga, otitis eksterna, eksostosis. Pada telinga tengah misalnya OMA supurativa dan nonsupurativa, otitis media kronik dengan atau tanpa mastoiditis, perforasi membranan timpani, otitis media serosa (glue ear), otitis media adesiva, otosklerosis, sumbatan tuba eustachii, barotrauma, trauma kepala disertai gangguan fungsi telinga oleh ossicular chain disruption atau oleh hematoma dalam telinga tengah, neoplasma (Hassan et al, 2007).
Pada tulis sensorineural (perseptif) kelainan terdapat pada koklea (telinga dalam, nervus VIII atau di pusat pendengaran (Soepardi et al, 2007). Tuli saraf disebabkan oleh hal yang merintangi atau mengurangi reaksi normal dari sel /rambut terhadap stimulasi oleh gelombang suara atau hal yang merintangi atau mengganggu reaksi normal dari jalan serabut saraf organ corti ke korteks serebral (Hassan et al, 2007).
neoplasma (akustik neuroma, glomus jugulare), obat ototoksi (streptomisin, kanamisin, preparat kina), gangguan serebrovaskular (Hassan et al, 2007).
2.2.1. Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss) Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss) ialah gangguan pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Sifat ketuliannya adalah tuli sensorineural koklea dan umunya terjadi pada kedua telinga (Hassan et al, 2007).
Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpajan bising, antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar bising, mendapat pengobatan yang bersifat racun terhadap telinga (obat ototoksik) seperti streptomisin, kanamisin, garamisin (golongan aminoglikosida), kina, asetosal dan lain-lain (Corwin, 2001).
a. Gejala Klinis
Kurang pendengaran disertai tinitus (berdenging di telinga) atau tidak. Bila sudah cukup berat disertai keluhan sukar menangkap percakapan dengan kekerasan biasa dan bila sudah berat percakapan yang keraspun sukar dimengerti. Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi, peningkatan ambang dengar sementara (temporary threshold shift) dan peningkatan ambang dengar menetap (permanent threshold shift) (Hassan et al, 2007).
Gejala klinis lainnya yaitu :
2. Peningkatan ambang dengar sementara merupakan keadaan terdapatnya peningkatan ambang dengar akibat pajanan bising dengan intensitas cukup tinggi. Pemulihan dapat terjadi dalam beberapa menit atau jam. Jarang terjadi pemulihan dalam satuan hari.
3. Peningkatan ambang dengar menetap merupakan keadaan dimana terjadi peningkatan ambang dengar menetap akibat pajanan bising dengan intensitas sangat tinggi berlangsung singkat (explosif) atau berlangsung lama yang menyebabkan kerusakan pada berbagai struktur koklea, antara lain kerusakan organ Corti, sel-sel rambut, stria vaskularis dll (Higler, 2000).
b. Klasifikasi
Secara umum dibedakan dua macam yaitu :
- Pengaruh Auditorial berupa tuli akibat bising (noise induced hearing loss) dan umumnya terjadi dalam lingkungan kerja dengan tingkat kebisingan yang tinggi.
- Pengaruh non auditorial dapat bermacam-macam misalnya gangguan komunikasi, gelisah, rasa tidak nyaman, gangguan tidur, peningkatan tekanan darah dan lain sebagainya (Hassan et al, 2007).
c. Patologi
Jenis kerusakan pada struktur organ tertentu yang ditimbulkan bergantung pada intensitas lama pajanan dan frekuensi bising. Penelitian menggunakan intensitas bunyi 120 dB dan kualitas bunyi nada murni sampai bising dengan waktu pajanan 1-4 jam menimbulkan beberapa tingkatan kerusakan sel rambut. Kerusakan juga dapat dijumpai pada sel penyangga, pembuluh darah dan serabut aferen (Hassan et al, 2007).
Stimulasi bising dengan intensitas sedang mengakibatkan perubahan ringan pada silia dan Hensen’s body, sedangkan stimulasi dengan intensitas yang lebih keras dengan waktu pajanan yang lebih lama akan mengakibatkan kerusakan pada struktur sel rambut lain seperti mitokondria, granula lisosom, lisis sel dan robekan di membran reisner. Pajanan bunyi dengan efek destruksi yang tidak begitu besar menyebabkan terjadinya ‘floppy silia’ yang sebagian masih reversibel. Kerusakan silia menetap ditandai dengan fraktur ‘rootlet’ silia pada lamina retikularis (Warren, 2008).
d. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan, pemeriksaan fisik dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang untuk pendengaran seperti audiometri (Hassan et al, 2007).
menunjukkan adanya fenomena rekrutmen (recruitment) yang patognomonik untuk tuli sensorineural koklea (Hassan et al, 2007).
Rekrutmen adalah suatu fenomena pada tuli sensorineural koklea, dimana telinga yang tuli menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi tertentu setelah terlampaui ambang dengarnya. Sebagai contoh orang yang pendengarannya normal tidak dapat mendeteksi kenaikan bunyi 1 dB bila sedang mendengarkan bunyi nada murni yang kontinyu, sedangkan bila ada rekrutmen dapat mendeteksi kenaikan bunyi tersebut. Contoh sehari-hari pada orang tua yang menderita presbikusis (tuli sensorineural koklea akibat proses penuaan) bila kita berbicara dengan kekerasan (volume) biasa dia mengatakan jangan berisik, tetapi bila kita berbicara agak keras dia mengatakan jangan berteriak, sedangkan orang yang pendengarannya normal tidak menganggap kita berteriak (Higler, 2000).
Orang yang menderita tuli sensorineural koklea sangat terganggu oleh bising latar belakang (background noise), sehingga bila orang tersebut berkomunikasi di tempat yang ramai akan mendapat kesulitan mendengar dan mengerti pembicaraan. Keadaan ini disebut cocktail party deafness (Higler, 2000).
Apabila seseorang yang tuli mengatakan lebih mudah berkomunikasi di tempat yang sunyi atau tenang, maka orang tersebut menderita tuli sensorineural koklea (Higler, 2000).
e. Penatalaksanaan
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga terhadap bising, seperti sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff) dan pelindung kepala (helmet) (Warren, 2008).
mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar / ABD (hearing aid). Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat perlu dilakukan psikoterapi agar dapat menerima keadaanya. Latihan pendengaran (auditory training) agar dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan, serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi. Di samping itu, oleh karena pasien mendengar suaranya sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara juga diperlukan agar dapat mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan (Hassan et al, 2007).
f. Prognosis
Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli sensorineural koklea yang sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati dengan obat maupun pembedahan, maka prognosisnya kurang baik. Oleh karena itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya ketulian (Hassan et al, 2007).
g. Pencegahan
masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Tutup telinga memberikan proteksi lebih baik dari pada sumbat telinga, sedangkan helm selain pelindung telinga terhadap bising juga sekaligus sebagai pelindung kepala. Kombinasi antara sumbat telinga dan tutup telinga memberikan proteksi yang terbaik. Pekerja yang menjadi tuli akibat terpajan bising di lingkungan kerja berhak mendapat santunan (Hassan et al, 2007).
Tabel 2.1 Batas pajanan bising yang diperkenankan sesuai keputusan Menteri Tenaga Kerja 1999
Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dB, walau sesaat
mengurangi tenaga kerja dari kerusakan atau kehilangan pendengaran akibat kebisingan di tempat kerja, tujuan lain adalah mengetahui status kesehatan pendengaran tenaga kerja yang terpajan bising berdasarkan data-data. Untuk mencapai keberhasilan program konservasi pendengaran, diperlukan pengetahuan tentang seluk beluk pemeriksaan audiometri, kemampuan dan ketrampilan pelaksana pemeriksaan audiometri, kondisi audiometer dan penilaian hasil audiogram (Hassan et al, 2007).
Aktivitas Program Konservasi Pendengaran antara lain adalah melakukan identifikasi sumber bising melalui survey kebisingan di tempat kerja (walk through survey), melakukan analisis kebisingan dengan mengukur kebisingan menggunakan Sound Level Meter (SLM) atau Octave Band Analyzer, melakukan kontrol kebisingan dengan berbagai cara peredaman bising, melakukan tes audiometri secara berkala pada pekerja ynag berisiko, menerapkan sistem komunikasi, informasi, dan edukasi, serta menerapkan penggunaan APD (alat pelindung diri) secara ketat dan melakukan pencatatan dan pelaporan data (Hassan et al, 2007).
2.3. Suara
berbagai variasi dalam kurva responsnya. Gelombang suara di atas 20 kHz disebut ultrasonik dan di bawah 20 Hz disebut infrasonik (Stach, 1998).
Gelombang bunyi terdiri dari molekul-molekul udara yang bergetar maju-mundur. Tiap saat, molekul-molekul itu berdesakan di beberapa tempat sehingga menghasilkan wilayah tekanan rendah. Gelombang bertekanan tinggi dan rendah secara bergantian bergerak di udara menyebar dari sumber bunyi (Stach, 1998).
Bunyi merambat di udara dengan kecepatan 1.224 km/jam. Bunyi merambat lebih lambat jika suhu dan tekanan udara lebih rendah. Di udara tipis dan dingin pada ketinggian lebih dari 11 km, kecepatan bunyi 1.000 km/jam. Di air, kecepatannya 5.400 km/jam, jauh lebih cepat daripada di udara (Higler, 2000). Suara merambat melalui gelombang suara dan menghasilkan fluktuasi tekanan udara, yang dikonversi menjadi gelombang mekanik ke telinga manusia dan dirasakan oleh otak (Higler, 2000).
Suara merupakan energi mekanik yang merambat melalui materi dalam bentuk gelombang. Melalui cairan dalam bentuk gelombang kompresi dan melalui padat dalam bentuk gelombang kompresi dan geser. Suara dianggap secara lebih rinci melalui gelombang generik, yaitu frekuensi, panjang gelombang, periode, amplitudo, kecepatan, dan arah. Kecepatan dan arah ini digabungkan menjadi vektor kecepatan, atau panjang gelombang dan arah digabungkan menjadi vektor gelombang (Hassan et al, 2007).
Suara tidak dapat terdengar pada ruang hampa udara karena bunyi membutuhkan zat perantara untuk menghantarkan bunyi baik zat padat, cair maupun gas (Higler, 2000).
a. Penentuan Arah Sumber Suara
Seseorang menentukan sumber suara dalam arah horizintal melalui dua prinsip yaitu perbedaan waktu antara masuknya suara ke dalam satu telinga dan masuknya ke dalam telinga yang lain, dan perbedaan antara intensitas suara dalam kedua telinga (Hassan et al, 2007).
lebih tinggi karena kepala bertindak sebagai sawar suara yang lebih baik pada frekuensi-frekuensi ini. Mekanisme perbedaan waktu dalam membedakan arah, jauh lebih tepat daripada mekanisme intensiats, karena mekanisme ini tidak bergantung pada faktor-faktor luar, melainkan hanya bergantung pada interval waktu yang tepat antara dua sinyal akustik. Jika seseorang melihat lurus ke arah sumber suara, suara akan mencapai kedua telinga dengan jarak waktu yang tepat sama, sedangkan jika telinga kanan lebih dekat dengan suara daripada telinga kiri, sinyal suara dari telinga kanan akan memasuki otak lebih dahulu daripada sinyal dari telinga kiri (Higler, 2000).
Kedua mekanisme yang telah disebutkan tidak dapat mengatakan apakah suara berasal dari depan atau dari belakang, dari atas atau dari bawah seseorang. Pembedaan ini terutama dicapai melalui aurikula kedua telinga. Bentuk aurikula mengubah kualitas suara yang masuk ke telinga, yang bergantung pada arah dari sumber suara. Hal ini terjadi melalui penguatan frekuensi bunyi spesifik yang berasal dari berbagai arah (Guyton, 2007).
b. Mekanisme Saraf untuk Mendeteksi Arah Suara
Kerusakan korteks auditorik pada kedua sisi otak, akan menyebabkan hilangnya hampir semua kemampuan untuk mendeteksi arah datangnya suara. Analisis saraf untuk proses deteksi ini dimulai dari nukleus olivarius superior di dalam batang otak, meskipun ternyata jaras persarafan pada semua jalur dari nukleuis ini ke korteks dibutuhkan untuk menginterpretasikan sinyal. Mekanisme tersebut dianggap terjadi sebagai berikut. Nukleus olivarius superior dibagi menjadi dua bagian yaitum nukleus olivarius suoerior medial dan nukleus olivarius superior lateral. Nukleus lateral bertanggung jawab untuk mendeteksi arah sumber suaram agaknya melalui perbandingan sederhana diantara perbedaan intensitas suara yang mencapai kedua telingam dan mengirimkan sinyal yang tepat ke korteks suditorik untuk memperkirakan arahnya (Higler, 2000).
yang memasuki kedua telinga. Nukleus ini terdiri atas sejumlah besar neuron yang mempunyai dua dendrit utama, satu menonjol ke kanan dan satu menonjol ke kiri. Sinyal akustik dari telinga kanan mengenai dendrit kanan, dan sinyal dari telinga kiri mengenai dendrit kiri. Intensitas eksitasi di setiap neuron sangat sensitif terhadap perbedaan waktu yang spesifik antara dua sinyal akustik yang berasal dari kedua telinga. Neuron yang dekat dengan salah satu perbatasan nukleus akan berespons secara maksimum terhadap perbedaan waktu yang singkat, sedangkan yang dekat dengan perbatasan yang berlawanan akan berespons terhadap perbedaan waktu yang sangat panjang. Neuron yang berada di antara keduanya akan berespons terhadap perbedaan waktu sedang. Jadi, pola spasial perangsangan neuron berkembang di dalam nukleus olivarius superior medial dengan suara yang datang langsung dari depan kepala merangsang satu perangkat neuron olivarius secara maksimal dan suara dari sudut sisi yang berebeda menstimulasi perangkat neuron lainnya pada sisi yang tepat berlawanan. Orientasi spasial sinyal ini kemudian dijalarkan ke korteks auditorik, tempat arah suara ditentukan oleh lokus neuron yang dirangsang secara maksimal. Diduga bahwa semua sinyal yang digunakan untuk penentuan arah suara dijalarkan melalui jaras yang berbeda dan merangsang lokus yang berbeda dalam korteks serebri, dari jaras penjalaran dan lokus terkahir untuk pola gaya suara (Stach, 1998).
Mekanisme untuk mendeteksi arah datangnya suara kembali menunjukkan bagaimana informasi spesifik dalam sinyal sensorik dipotong ketika sinyal melalui tingkat aktivitas neuron yang berbeda (Hassan et al, 2007).
c. Menentukan Kekerasan Suara
Kekerasan suara ditentukan oleh sistem pendengaran, sekurang-kurangnya melalui tiga cara (Guyton, 2007).
Kedua, ketika amplitudo getaran meningkat akan menyebabkan semakin banyak sel-sel rambut di pinggir bagian membran basilar yang beresonansi menjadi terangsang sehingga menyebabkan penjumlahan spasial impuls yaitu, transmisi melalui banyak serabut saraf dan bukan melalui beberapa serabut saraf (Hassan et al, 2007).
Ketiga, sel-sel rambut luar tidak terangsang secara bermakna sampai getaran membran basilar mencapai intensitas yang tinggi dan perangsangan sel-sel ini tampaknya yang mengabarkan pada sistem saraf bahwa suara tersebut sangat keras (Hassan et al, 2007).
2.4. Macam-macam Evaluasi Pendengaran 1. Uji Rinne
Uji Rinne membandingkan hantaran tulang dan hantaran udara pendengaran pasien. Tangkai penala yang bergetar ditempelkan pada mastoid pasien (hantaran tulang) hingga bunyi tidak lagi terdengar. Penala kemudian dipindahkan ke dekat telinga sisi yang sama (hantaran udara). Telinga normal masih akan mendengar penala melalui hantaran udara, temuan ini disebut Rinne positif ( HU>HT). Hasil ini dapat dijelaskan sebagai hambatan yang tak sepadan (Higler, 2000).
Pasien dengan gangguan pendengaran sensorineural juga akan memberi Rinne positif seandainya sungguh-sungguh dapat mendengar bunyi penala, sebab gangguan sensorineural seharusnya mempengaruhi baik hantaran udara maupun hantaran tulang ( HU>HT) (Hassan et al, 2007).
Istilah Rinne negatif dipakai bila pasien tidak dapat mendengar melalui hantaran udara setelah penala tidak lagi terdengar melalui hantaran tulang (HU<HT). (Stach, 1998).
Tabel 2.2 Interpretasi Hasil uji Rinne
Positif HU ≥ HT Normal atau gangguan sensorineural
Tak ada atau koklearis-retrokoklearis
Negatif HU < HT Gangguan Konduktif Telinga luar atau tengah
2. Uji Schwabach
Uji Schwabach membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa. Pasien diminta melaporkan saat penala bergetar yang ditempelkan pada mastoidnya tidak lagi dapat didengar. Pada saat itu, pemeriksa memindahkan penala ke mastoidnya sendiri dan menghitung beberapa lama (dalam detik) ia masih dapat menangkap bunyi (Higler, 2000).
[image:36.595.161.517.113.216.2]Uji Schwabach dikatakan normal bila hantaran tulang pasien dan pemeriksa hampir sama. Uji Schwabach memanjang atau meningkat bila hantaran tulang pasien lebih lama dibandingkan pemeriksa, misalnya pada kasus gangguan pendengaran konduktif. Jika telinga pemeriksa masih dapat mendengar penala setelah pasien tidak lagi mendengarnya, maka dikatakan Schwabach memendek. Interpretasi uji Schwabach (Hassan et al, 2007).
Tabel 2.3 Interpretasi Hasil uji Schwabach Hasil Uji
Schwabach Status Pendengaran Lokus
Normal Normal Tak ada
Memanjang Tuli konduktif Telinga luar dan/ atau tengah
3. Uji Weber
Uji Weber membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga pasien. Cara melakukan uji weber dengan menggetarkan garpu tala 512 Hz lalu tangkainya kita letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Gagang penala yang bergetar ditempelkan di tengah dahi dan pasien diminta melaporkan apakah suara terdengar di telinga kiri, kanan atau keduanya (Hassan et al, 2007).
Umumya pasien mendengar bunyi penala pada telinga dengan konduksi tulang yang lebih baik atau dengan komponen konduktif yang lebih besar. Jika nada terdengar pada telinga yang dilaporkan lebih buruk, maka tuli konduktif perlu dicurigai pada telinga tersebut. Jika terdengar pada telinga yang lebih baik, maka dicurigai tuli sensorineural pada telingga yang terganggu. Fakta bahwa pasien mengalami lateralisasi pendengaran pada telinga dengan gangguan konduksi dan bukannya pada telinga yang lebih baik mungkin terlihat aneh bagi pasien dan kadang-kadang juga pemeriksa (Higler, 2000).
Uji Weber sangat bermanfaat pada kasus-kasus gangguan unilateral, namun dapat meragukan bila terdapat gangguan konduktif maupun sensorineural (campuran), atau bila hanya menggunakan penala frekuensi tunggal (Stach, 1998).
4. Audiometri
desibel dan kontinuitas intensitas, dan lahirlah suatu era modern audiometri nada murni. Desibel (dB) adalah satuan yang sangat cocok yaitu, logaritma dari rasio dua daya atau tekanan (Higler, 2000).
a. Audiometri Nada Murni
Audiometer nada murni adalah suatu alat elektronik yang menghasilkan bunyi yang relatif bebas bising ataupun energi suara pada kelebihan nada, karenanya disebut “murni”. Terdapat beberapa pilihan nada terutama dari oktaf skala C : 125, 250, 500, 1000, 2000, 4000, dan 8000 Hz. Tersedia pula nada-nada dengan interval setengah oktaf (750, 1500, 3000 dan 6000 Hz). Audiometer memiliki tiga bagian penting yaitu suatu osilator dengan berbagai frekuensi untuk menghasilkan bunyi, suatu peredam yang memungkinkan berbagai intensitas bunyi (umumnya dengan peningkatan 5 dB), dan suatu transduser (earphone atau penggetar tulang dan kadang-kadang pengeras suara) untuk mengubah energi listrik menjadi energi akustik (Stach, 1998).
Ada dua sumber bunyi, yang pertama adalah dari earphone yang ditempelkan pada telinga. Masing-masing telinga diperiksa secara terpisah dan hasilnya digambarkan sebagai audiogram hantaran udara. Sumber bunyi kedua adalah suatu osilator atau vibrator hantaran tulang yang ditempelkan pada mastoid (atau dahi) melalui suatu head band. Vibrator menyebabkan osilasi tulang tengkorak dan menggetarkan cairan dalam koklea. Hasil pemeriksaan digambar sebagai audiogram hantaran tulang, dan biasanya diinterpretasikan sebagai suatu metoda yang memintas telinga tengah, sebagai alat pengukur cadangan koklearis dan mencerminkan keadaan sistem saraf pendengaran (Higler, 2000).
normal grafik berada diatas. Grafiknya terdiri dari skala desibel, suara dipresentasikan dengan aerphon (air conduction) dan skala skull vibrator (bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL (Stach, 1998).
Langkah-langkah melakukan tes audiometri nada murni yaitu (Stach, 1998) :
a. Tes telinga yang normal terlebih dahulu yang ditanya kepastiannya melalui anamnese. Ambang batas telinga normal akan berperan penting untuk tujuan masking. Jika pendengaran kedua telinga dilaporkan sama maka dimulai dari telinga kanan,
b. Ambang batas dimulai pada 1000 Hz yang mudah diterima dan biasanya frekuensi yang baik untuk pendengaran,
c. Nada terus-menerus atau bergelombang diperdengarkan selama 1 detik,
d. Mulai dengan memberikan nada pada intensitas dimana penderita dapat mendengarnya secara jelas. Apabila pendengarannya normal, maka dimulai pada 40 dB. Jika pendengaranya mengalami gangguan ringan, maka dimulai pada intensitas yang lebih tinggi,
e. Jika pasien tidak merespon, tingkatkan intensitas sebanyak 20 dB sampai ada respon. Jika pasien merespon maka mulai mencari ambang batas pendengaran,
f. Untuk mencari ambang batas dipakai aturan “naik 10, turun 5”. Aturan ini menyatakan bahwa jika pasien mendengar nada maka diturunkan 10 dan apabila tidak mendengar nada maka dinaikkan 5,
h. Ketika ambang batas sudah ditentukan pada 1000 Hz, lakukan tes pada 2000 Hz, 3000 Hz, 4000 Hz, 6000 Hz, 8000 Hz, 1000z, 500 Hz dan 250 Hz. Mengulangi tes pada 1000 z pada telingan yang sudah diperiksa untuk memastikan bahwa respon tidak membaik walaupun pasien sudah mengetahui cara kerja pemeriksaan,
i. Lakukan tes pada telinga yang lain dengan cara yang sama. Hasilnya ditunjukkan dalam desibel (dB) dan dimasukkan ke bentuk audiogram. Audiogram nada murni yang lengkap terdiri dari 4 plots yang berbeda yaitu hantaran tulang dan tulang masing-masing untuk telingan kanan dan kiri. Juga mempunyai simbol untuk hantaran udara (O) dan hantaran tulang (∆). Kombinasi audiometri hantaran tulang dan udara akan membagi gangguan pendengaran menjadi konduktif, sensorineural dan campuran (Stach, 1998).
menghasilkan getaran suara yang tidak langsung atau jarang berhubungan langsung dengan kulit sehingga getaran yang ditransmisikan ke tulang sangat kecil. Supra-aural earphone berhubungan langsung dengan kulit sehinnga mengurangi jumlah interaural attenuation tetapi meningkatkan resiko crossover. Transduser pada hantaran tulang menggetarkan kulit dan tulang secara langsung yang mengakibatkan penurunan jumlah interaural attenuation dan meningkatkan resiko crossover (Stach, 1998).
Tabel 2.4 Klasifikasi Kehilangan Pendengaran
Kehilangan dalam
Desibel Klasifikasi
0-15 Pendengaran normal
>15-25 Kehilangan pendengaran kecil >25-40 Kehilangan pendengaran ringan >40-55 Kehilangan pendengaran sedang
>55-70 Kehilangan pendengaran sedang sampai berat
>70-90 Kehilangan pendengaran berat >90 Kehilangan pendengaran berat sekali
b. Audiometri Tutur
melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur, kemudian disalurkan melalui telepon kepada telinga yang diperiksa pendengarannya, atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman, kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometri tutur. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setiap kata yang didengar, dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan, pendengar diminta untuk menebaknya. Pemeriksa mencatat presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya adalah intensitas suara kata-kata yang didengar, sedangkan ordinatnya adalah presentasi kata-kata yang diturunkan dengan benar. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu
- Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50 % dari sejumlah kata-kata yang dututurkan pada suatu intensitas minimal dengan benarm yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT dan dinyatakannya dengan satuan desibel (dB),
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bising dari pesawat terbang pada petugas ground handling PT. Gapura Angkasa bandar udara Polonia, Medan.
Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, maka kerangka konsep dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
3.2 . Definisi Operasional Variabel
Variabel yang akan diteliti mencakup variabel independen dan variabel dependen yaitu :
3.2.1. Variabel independen
Paparan bising adalah bunyi yang tidak dikehendaki karena tidak sesuai konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia. Paparan bising juga bisa dipengaruhi oleh umur, masa kerja dan intensitas bising.
Alat ukur yang digunakan untuk menilai adanya kebisingan yaitu : Sound level meter, alat ini digunakan untuk mengukur kebisingan antara 30-130 dB dan dari frekuensi 20 -20.000 Hz. Sound level meter terdiri dari mikrofon, amplifier, dan sirkuit attenuator dan beberapa alat lain. Sound level meter dilengkapi dengan tombol pengaturan skala pembobotan seperti A, B, C dan D. Skala A, contohnya adalah rentang skala
Variabel independen :
pembobotan yang melingkupi frekuensi suara rendah dan frekuensi suara tinggi yang masih dapat diterima oleh telinga manusia normal. Sementara skala B, C dan D digunakan untuk keperluan-keperluan khusus, misalnya pengukuran kebisingan yang dihasilkan oleh pesawat terbang bermesin jet.
3.2.2. Variabel dependen
Gangguan pendengaran adalah ketidak mampuan seseorang dalam mendengar pembicaraan dan mengontrol suaranya sendiri. Cara menilai gangguan pendengaran adalah melalui pemeriksaan audiometri nada murni
Hearing loss ASA 1951 (dB)
Hearing loss ISO 1964 (dB)
Normal -10 s/d 15 -10 s/d 26
Tuli ringan 16 s/d 29 27 s/d 40
Tuli menengah 30 s/d 44 41 s/d 55
Tuli menengah berat 45 s/d 55 56 s/d 70
Tuli berat 56 s/d 79 71 s/d 90
3.3. Hipotesis
Dengan mempertimbangkan landasan teori yang telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian metode potong lintang (cross sectional study)
4.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di bandar udara Polonia, Medan. Adapun pertimbangan memilih lokasi tersebut adalah banyak terdapat pesawat terbang dengan intensitas suara mesin yang dihasilkan cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan gangguan pendengaran.
Pengumpulan data penelitian dilakukan Desember 2012
4.3. Populasi Sampel 4.3.1. Populasi
Populasi adalah petugas ground handling PT. Gapura Angkasa yang terpapar bising dengan gangguan pendengaran.
4.3.2. Sampel a. Kriteria Inklusi
- Petugas ground handling yang bersedia menjadi responden dalam penelitian sampai selesai
- Lama kerja ≥ 1 tahun.
- Terpapar bising dengan intensitas ≥ 85 dB.
b. Kriteria Eksklusi
- Tidak mengalami pajanan bising
- Petugas ground handling tidak bersedia menjadi responden
- Trauma kepala berat
4.4. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti terlebih dahulu mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian kepada pihak PT. Gapura Angkasa bandar udara Polonia. Setelah mendapatkan izin, peneliti melaksanakan proses pengumpulan data penelitian.
4.4.1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh melalui pemeriksaan audiometri nada murni
4.4.2. Data Sekunder
Data yang didapat dari kuesioner untuk mengambil sampel berupa jenis kelamin, usia petugas, tingkat pendidikan dan lama bekerja.
4.5. Pengolahan dan Analisis Data 4.5.1. Pengolahan data
Pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara tertentu :
1. Editing
2. Coding
Data yang telah terkumpul dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan komputer.
3. Entry
Data yang telah dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam program komputer (Statistical Package for The Social Sciences / SPSS).
4. Cleaning
Pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam komputer guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data
5. Saving
Penyimpanan data untuk siap dianalisis
Data yang telah terkumpul dari hasil wawancara akan ditabulasi untuk kemudian diolah lebih lanjut dengan menggunakan program Statistic Package for Social Science (SPSS).
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Bandar udara Polonia adalah sebuah bandar udara internasional yang terletak sekitar 2 km dari pusat kota Medan, Indonesia. Bandara ini melayani penerbangan ke kota-kota besar di Indonesia. Dihitung dari jumlah arus penumpang, Polonia adalah bandara terbesar keempat di Indonesia setelah Soekarno-Hatta, Juanda, dan Ngurah Rai. Bandara Polonia mempunyai luas sebesar 144 hektar. Panjang landasan pacu 2.900 meter. Bandara Polonia dirancang untuk dapat memuat maksimum sekitar 900.000 penumpang setiap tahunnya. Penelitian ini dilakukan di terminal kedatangan internasional Bandara Polonia (Widodo, 2004).
5.1.2. Deskripsi Data Penelitian
Data penelitian yang digunakan adalah data primer, yaitu data yang berasal dari observasi langsung terhadap petugas ground handling bandar udara Polonia. Data yang diambil berasal dari kuesioner yang dibagikan dan hasil pemeriksaan audiometri
5.1.2.1. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Jenis Kelamin
[image:49.595.150.515.238.325.2]Distribusi data penelitian berdasarkan jenis kelamin petugas ground handling dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 5.1. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Orang (N) Persentase (%)
Laki-laki 84 84
Perempuan 16 16
Total 100 100
Berdasarkan tabel 5.1. didapati bahwa distribusi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki 84 orang (84%) dan perempuan 16 orang (16%).
5.1.2.2. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Kelompok Usia Distribusi data penelitian yang menunjukkan usia petugas ground handling dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5.2. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Usia
Usia (Tahun) Jumlah Orang (N) Persentase(%)
18-28 32 32
29-36 37 37
37-45 20 20
46-53 9 9
>53 2 2
[image:49.595.135.507.576.725.2]Berdasarkan tabel 5.2. didapati bahwa distribusi subjek penelitian berdasarkan usia adalah pada rentang 18-28 tahun sebanyak 32 orang (32%), pada rentang 29-36 tahun 37 orang (37%), pada rentang 37-45 tahun 20 orang (20%), pada rentang 46-53 tahun 9 orang (9%), dan pada rentang diatas 53 tahun 2 orang (2%).
5.1.2.3. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Pemakaian APD Distribusi data penelitian yang menunjukkan pemakaian APD pada petugas ground handling yang menjadi subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 5.3. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Pemakaian APD
Pemakaian APD Jumlah Orang (N) Persentase (%)
Menggunakan 12 12
Tidak Menggunakan 88 88
Total 100 100
Berdasarkan tabel 5.3. didapati bahwa petugas ground handling yang mengikuti penelitian lebih banyak yang tidak menggunakan APD yaitu 88 orang (88%) dan yang menggunakan APD 12 orang (12%).
5.1.2.4. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Keluhan Telinga Berdengung
Tabel 5.4. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Keluhan Telinga Berdengung
Berdasarkan tabel 5.4. didapati bahwa petugas ground handling yang memiliki keluhan telingaberdengung 52 orang (52%) dan 48 orang (48%) yang tidak memiliki keluhan telinga berdengung.
5.1.2.5. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Kelainan Audiogram
[image:51.595.148.525.517.731.2]Distribusi data penelitian petugas ground handling yang mempunyai kelainan audiogram dapat dilihan pada tabel berikut.
Tabel 5.5. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Kelainan Audiogram
Audiogram
Telinga
Kanan Kiri
Jumlah Orang
(N)
%
Jumlah Orang
(N)
%
Normal 34 34 50 50
Tuli Ringan 58 58 38 38
Tuli Sedang 6 6 12 12
Tuli Berat 2 2 - -
Total 100 100 100 100
Telinga Berdengung/
Tidak Jumlah Orang (N) Persentase(%)
Telinga Berdengung 52 52
Tidak Bedengung 48 48
Berdasarkan tabel 5.5. diketahui bahwa subjek penelitian dengan audiogram normal pada telinga kanan sebanyak 34 orang (34%) dan pada telinga kiri sebanyak 50 orang (50%), subjek penelitian dengan tuli ringan pada telinga kanan sebanyak 58 orang (58%) dan telinga kiri sebanyak 38 orang (38%), subjek penelitian dengan tuli sedang pada telinga kanan sebanyak 6 orang (6%) dan pada telinga kiri sebanyak 12 orang (12%), subjek penelitian dengan tuli berat pada telinga kanan sebanyak 2 orang (2%) dan pada telinga kiri sebanyak 0 orang (0%).
5.1.2.6. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Lama Kerja (Tahun)
Distribusi data penelitian petugas ground handling berdasarkan lama kerja dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5.6. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Lama Kerja (Tahun)
Lama Kerja
(Tahun) Jumlah Orang (N) Persentase(%)
1-6 48 48
7-12 36 36
13-18 1 1
19-24 10 10
25-30 3 3
31-36 2 2
[image:52.595.166.516.457.643.2]Berdasarkan tabel 5.6. didapati bahwa subjek penelitian yang bekerja dalam rentang waktu 1-6 tahun sebanyak 48 orang (48%), pada rentang waktu 7-12 tahun 36 orang (36%), pada rentang 13-18 tahun 1 orang (1%), pada rentang 19-24 tahun 10 orang (10%), pada rentang 25-30 tahun 3 orang (3%), pada rentang 31-36 tahun 2 orang (2%).
Tabel 5.7. Distribusi Subjek Penelitian berdasarkan Lama Kerja (jam)
Lama Kerja (Jam)
Jumlah Orang (N)
Persentase (%)
6-8 27 27
9-11 24 24
12-14 43 43
≥15 6 6
Total 100 100
Berdasarkan tabel 5.7. didapati bahwa subjek penelitian yang bekerja dalam rentang waktu 6-8 jam sebanyak 27 orang (27%), pada rentang waktu 9-11 jam 24 orang (24%), pada rentang 12-14 jam 43 orang (43%), dan pada rentang waktu ≥ 15 jam 6orang (6%)
5.1.3. Hasil Analisis Data
Pengujian hipotesis untuk melihat ada tidaknya hubungan antara bising pesawat terbang dengan pendengaran petugas ground handling dilakukan dengan program statistik. Pada penelitian ini sampel dianalisis dengan menggunakan Chi-Square.
Tabel 5.8. Distribusi Tuli berdasarkan Masa Kerja pada Telinga Kanan
Masa Kerja (tahun)
Audiogram Telinga Kanan
Total % P value Normal Tuli Ringan Tuli Sedang Tuli Berat
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
≤ 18 36 36 10 10 2 2 0 0 48 48
0,001
>18 0 0 47 47 3 3 2 2 52 52
Total 50 50 39 39 11 11 0 0 100 100
[image:54.595.67.536.176.303.2]Dari tabel 5.8. diperoleh kelompok dengan masa kerja ≤ 18 tahun sebanyak 47 orang (47%) mengalami tuli ringan, dan 2 orang (2%) mengalami tuli sedang. Kelompok dengan masa kerja >18 tahun sebanyak 47 orang (47%) mengalami tuli ringan, 3 orang (3%) mengalami tuli sedang, dan 2 orang(2%) mengalami tuli berat. Nilai p pada uji Chi-square pada penelitian ini sebesar 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang dikemukakan sebelumnya dapat diterima karena nilai p lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara masa kerja dengan gangguan pendengaran pada petugas ground handling.
Tabel 5.9. Distribusi Tuli berdasarkan Masa Kerja pada Telinga Kiri
Masa Kerja (tahun)
Audiogram Telinga Kiri
Total % P value Normal Tuli Ringan Tuli Sedang Tuli Berat
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
≤ 18 49 49 8 8 5 5 0 0 62 62
0,001
>18 1 1 31 31 6 6 0 0 38 38
[image:54.595.66.574.574.703.2]Dari tabel 5.9. diperoleh kelompok dengan masa kerja ≤ 18 tahun sebanyak 8 orang (8%) mengalami tuli ringan, dan 5 orang (5%) mengalami tuli sedang. Kelompok dengan masa kerja >18 tahun sebanyak 8 orang (8%) mengalami tuli ringan, dan 6 orang (6%) mengalami tuli sedang. Nilai p pada uji Chi-square pada penelitian ini sebesar 0,001. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang dikemukakan sebelumnya dapat diterima karena nilai p lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara masa kerja dengan gangguan pendengaran pada petugas ground handling.
Tabel 5.10. Distribusi Tuli telinga kanan berdasarkan Lama Paparan Harian
Lama Paparan
Harian (jam)
Audiogram Telinga Kanan
Total % P Value Normal Tuli
Ringan
Tuli
Sedang Tuli Berat Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
≤10 21 21 26 26 2 2 0 0 49 49
0,003
>10 15 15 31 31 3 3 2 2 51 51
Total 36 36 57 57 5 5 2 2 100 100
Tabel 5.11. Distribusi Tuli telinga kiri berdasarkan Lama Paparan Harian Lama Paparan Harian (jam)
Audiogram Telinga Kiri
Total % P Value Normal Tuli
Ringan
Tuli
Sedang Tuli Berat Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
≤10 23 23 17 17 4 4 0 0 44 44
0,003
>10 27 27 22 22 7 7 0 0 56 56
Total 50 50 39 39 11 11 0 0 100 100
Dari tabel 5.11. diperoleh kelompok dengan masa kerja ≤ 10 jam/hari sebanyak 22 orang (22%) mengalami tuli ringan, dan 4 orang (4%) mengalami tuli sedang. Kelompok dengan masa kerja >10 jam/hari sebanyak 17 orang (17%) mengalami tuli ringan,dan 7 orang (7%) mengalami tuli sedang.. Nilai p pada uji Chi-square pada penelitian ini sebesar 0,003. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang dikemukakan sebelumnya dapat diterima karena nilai p lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara lama paparan harian dengan gangguan pendengaran pada petugas ground handling.
Tabel 5.12. Distribusi Telinga yang Mengalami Noise Induced Hearing Loss (NIHLS)
Telinga
Total % Normal Kiri & Kanan % Tuli Kanan Saja
% Tuli Kiri
Saja %
Tuli Kanan &
Kiri
%
[image:56.595.89.537.175.323.2]5.2 Pembahasan
5.2.1. Bising Pesawat Terbang
Pada pengukuran secara objektif intensitas dan spektrum kebisingan di Avron Bandara Polonia Medan saat aktivitas petugas ground handling dijumpai kebisingan dengan intensitas 78-105 dBA dengan rerata bising 92,1 dBA. Ini berada diatas nilai ambang batas yang telah ditetapkan oleh SE.No 01/Menaker-Transkop/1978 maupun oleh beberapa organisasi sedunia. Hasil ini cukup berbahaya bagi keselamatan pendengaran petugas ground handling yang terpapar, apalagi pada kenyataanya belum dijumpai upaya pengendalian terhadap kebisingan maupun perlindungan dengan memakai alat pelindung telinga. Hal ini dapat terlihat dengan rendahnya partisipasi petugas ground handling yang menggunakan APD saat bertugas yaitu hanya 12 orang (12%) dari subjek penelitian.
Pengukuran bising pesawat terbang pada penelitian ini menggunakan sound level meter merek Larson Davis model 720 type 2. Didapati pada bagian depan pesawat Garuda Indonesia boeing 737 intensitas suara pada saat pesawat tidak bergerak 73-76 dBA, pada bagian baling-baling intensitas suara 85-90 dBA. Intensitas bising pada saat pesawat akan lepas landas berkisar 78-105 dBA. Menurut keputusan menteri tenaga kerja 1999, paparan bising yang diperbolehkan pada tingkat kebisingan 85 dBA adalah 8 jam/hari.
Yadnya Putra dkk (2004) pada penelitian di bandara Ngurah Rai, Bali tingkat kebisingan pada landasan yang terjadi setiap harinya berkisar 70,9 dBA – 107,9 dBA dengan jam kerja petugas ground handling 8-14 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 22 orang dengan masa kerja ≤12 jam, sebanyak 6 orang (37,5%) mengalami penurunan tajam dengar dan 10 orang (62,5%) normal. Dari 22 orang dengan masa kerja >12 jam sebanyak 17 orang (77,3%) mengalami penurunan tajam dengar dan 5 orang (22,7%) normal.