Korelasi Ukuran Testis Dengan Bobot Badan Dan Konsentrasi Spermatozoa Pada Tiga Jenis Ayam Lokal

52 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

KORELASI UKURAN TESTIS DENGAN BOBOT BADAN

DAN KONSENTRASI SPERMATOZOA PADA

TIGA JENIS AYAM LOKAL

EMILIA KAMUNG HAMBU

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Korelasi Ukuran Testis dengan Bobot Badan dan Konsentrasi Spermatozoa pada Tiga Jenis Ayam Lokal adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Oktober 2016

Emilia Kamung Hambu

(4)

RINGKASAN

EMILIA KAMUNG HAMBU. Korelasi Ukuran Testis dengan Bobot Badan dan Konsentrasi Spermatozoa pada Tiga Jenis Ayam Lokal. Dibimbing oleh RADEN IIS ARIFIANTINI, BAMBANG PURWANTARA, dan SRI DARWATI.

Peningkatan produktivitas ayam lokal diperlukan karena beberapa jenis ayam lokal Indonesia merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang perlu dilestarikan. Ayam lokal Indonesia memiliki potensi sebagai penghasil daging dan telur. Pelestarian dan pengembangan ayam lokal dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas bibit yang dihasilkan melalui perkawinan dengan pejantan unggul. Pejantan memiliki peran penting meningkatkan performa generasi berikutnya. Kualitas reproduksi ternak jantan dapat diprediksi berdasarkan ukuran testis. Testis berhubungan dengan potensi produksi spermatozoa dan testosteron. Testis ayam terletak di dalam tubuh, sehingga untuk mengetahui potensi reproduksi berdasarkan ukuran testis hanya bisa dilakukan dengan nekropsi. Teknik memprediksi ukuran testis ayam tanpa melakukan nekropsi perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur potensi reproduksi ayam lokal melalui analisis korelasi berat badan, ukuran testis, dan konsentrasi spermatozoa.

Sebanyak 15 ekor ayam jantan dari 3 jenis berbeda yang terdiri dari merawang, kampung, dan persilangan sentul kampung kedu (SK kedu) digunakan dalam penelitian. Penelitian ini terdiri atas 4 tahap, 1) penimbangan bobot badan. 2) analisis kualitas semen segar 3) pengukuran testis menggunakan USG. 4) pengukuran testis secara langsung. Tahap 1. Penimbangan bobot badan dilakukan seminggu sekali, dengan menggunakan timbangan digital (Osuka, skala max 5 kg, d = 1 g). Tahap 2. Analisis kualitas semen segar, dilakukan setelah pengumpulan semen dengan metode masase, dan diperoleh 540 total ejakulasi, (36 ejakulasi dari masing-masing ayam).

Evaluasi makroskopis meliputi volume, warna, konsistensi, dan pH serta evaluasi mikroskopis meliputi gerakan massa, motilitas, viabilitas, konsentrasi, dan morfologi abnormal spermatozoa. Tahap 3, Pengukuran organ testis menggunakan USG dilakukan pada bagian atas paha menggunakan frekuensi 7-9 MHz untuk menentukan ukuran penampang melintang dari testis kiri dan kanan. Tahap 4, Koleksi dan pengukuran testis secara langsung setelah ayam dinekropsi. Testis dikumpulkan dan diukur menggunakan electronic caliper pada penampang memanjang dan penampang melintang testis. Berat testis ditimbang menggunakan timbangan digital (skala max 1000 g, d = 0.1 g) dan volume testis menggunakan gelas ukur.

Penelitian tahap 1 dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Penelitian tahap 2 menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) tersarang Penelitian tahap 3 dan 4, ukuran testis hasil USG dan ukuran testis hasil pengukuran langsung dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dan uji independen sample (t-test). Korelasi bobot badan dengan ukuran testis dan konsentrasi sel spermatozoa dianalisis menggunakan analisis korelasi.

Hasil penelitian menunjukkan bobot badan ayam merawang (2 712±320 g)

(5)

semua ayam kecuali pada parameter volume. Evaluasi mikroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa. Hanya pada konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat yang menunjukkan adanya perbedaan. Ayam merawang memiliki volume, konsentrasi spermatozoa, dan total spermatozoa per ejakulat yang lebih tinggi dibandingkan ayam kampung dan ayam SK kedu. Kualitas semen segar antara individu dalam jenis ayam menunjukkan adanya variasi antara semua individu dalam jenis ayam.

Ukuran penampang melintang testis kiri dan kanan masing-masing berkisar antara 15.94±2.59-18.92±0.93 mm dan 17.06±2.63-19.76±3.19 mm. Ukuran testis hasil pengukuran langsung menunjukkan tidak berbeda pada berat (g), volume (mL), penampang memanjang (mm), dan penampang melintang (mm) testis. Berdasarkan hasil uji independen sample (t-test) adanya perbedaan antara ukuran testis yang diukur menggunakan USG dan ukuran testis yang diukur secara langsung. Ukuran testis hasil USG lebih kecil dibandingkan ukuran testis hasil pengukuran langsung.

Ukuran testis hasil USG dengan bobot badan berkorelasi negatif tetapi ukuran testis hasil pengukuran langsung berkorelasi positif dengan bobot badan namun tidak nyata. Ukuran testis hasil pengukuran langsung berkorelasi positif dengan konsentrasi spermatozoa tetapi tidak nyata. Terdapat korelasi positif antara ukuran penampang melintang testis hasil USG dengan konsentrasi spermatozoa.

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bobot badan, volume, konsentrasi spermatozoa, dan total spermatozoa per ejakulat ayam merawang lebih tinggi dibandingkan ayam kampung dan SK kedu. Konsentrasi spermatozoa ayam dapat diduga dengan mengukur penampang melintang testis menggunakan USG.

(6)

SUMMARY

EMILIA KAMUNG HAMBU. Correlation beetwen Body Weight, Testis Size and Concentration of Spermatozoa in Three Types of Local Chicken. Supervised by RADEN IIS ARIFIANTINI, BAMBANG PURWANTARA, and SRI DARWATI.

The increase of Indonesian local chicken productivity is needed several types of Indonesian local chickens are native germplasm that need to be preserved. Indonesian local chicken have potential productivity as meat and eggs producer. Preservation and development of local chickens can be done by improving its quality by mating hen with superior roosters. Rooster have an important role in improving performance of the generation. The quality of sperm production can be predicted based on testicular size. Testes have been associated with the potential of spermatozoa and testosterone production. Rooster testicles located inside the body. To determine its reproductive potensial base on testicle size can only be done by a necropsy. The technique to predict rooster potential through measuring testis size without necropsy need to be done. This experiment aims to measure the reproductive potential of local chicken rooster through the correlation analysis of body weight, testicular size, and sperm concentration.

A total of 15 roosters of 3 different chicken breeds i.e. merawang, kampung, and sentul kampung kedu crosses (SK kedu) were used in this experiment. The study divided into four activities, 1) measurement of body weight. 2) assessment of fresh semen quality 3) measurement of testicular size by using ultrasound. 4) collection and measurement of testicular size post mortem. Activity 1. Body weight measurement conducted once a week, using digital balance (Osuka, scale max 5 kg d = 1 g). Activity 2. Analyze of fresh semen quality, performed after semen collection by the dorso-abdominal and cloaca massage method, in total 540 ejaculate were obtained, (36 ejaculate from each rooster).

Macroscopically evaluation including volume, color, consistency, and pH and microscopic evaluation including mass movement, motility, viability, concentration, and morphological abnormalities of sperm. Activity 3, Testicular size measurement using an ultrasound using the 7-9 MHz frequency to determine the cross section of the left and right testis. Activity 4, Collection and measurement of testicular size directly of post mortem rooster. Testes were collected and measurement using electronic caliper on the longitudinal sections and cross section of the testicles. Testicular weight using digital balance (scale max 1000 g x 0.1 g) and testicular volume using measuring cup.

The data ware analyzed using a completely randomized design (CRD) for activity 1; nested design for activity 2; for activity 3 and 4, the data were analyzed using CRD and independent test sample (t-test), correlation between body weight, testicular size and sperm concentrations were analyzed using correlation analysis used SPSS 16 software.

(7)

motility, viability as well as sperm abnormality. Merawang rooster showed the tendency of higher values on semen volume, sperm concentration, and total sperm per ejaculate compared to kampung and SK kedu. Fresh semen quality among individuals within breeds showed a variation in all chicken.

The cross section of the left and right testis ranged between 15.94±2.59 to 18.92±0.93 mm and 17.06±2.63 to 19.76±3.19 mm respectively. Post mortem testicular size of 3 types of local chickens showed no difference between breed on the weight, volume, longitudinal sections and in cross section. Independent sample (t-test) between ultrasound and testicular size post mortem, were different where testicular size of post mortem was higher than ultrasound.

There were negative correlation between body weight and ultrasound testicular size but there were positive correlation between body weight and post mortem testicular size in all breed chicken. Positive correlation but not significant were detected between, post mortem testicular size and sperm concentration. There was significant positive correlation between sperm concentration with ultrasound cross section of testis.

It is concluded that body weight, semen volume, sperm concentration and total number sperm in ejaculate of merawang were superior than kampung and SK kedu roosters. Sperm concentration of roosters can be estimated by untrasound throught measuring the cross section of testis.

(8)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2016

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(9)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Biologi Reproduksi

KORELASI UKURAN TESTIS DENGAN BOBOT BADAN

DAN KONSENTRASI SPERMATOZOA PADA

TIGA JENIS AYAM LOKAL

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2016

(10)
(11)
(12)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari sampai Juli 2016 ialah Korelasi Ukuran Testis dengan Bobot Badan dan Konsentrasi Spermatozoa pada Tiga Jenis Ayam Lokal.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Institut Pertanian Bogor sebagai almamater penulis. Terima kasih dan rasa hormat penulis ucapkan kepada Ibu Prof Dr Dra Raden Iis Arifiantini MSi, Prof Dr drh Bambang Purwantara MSc, dan Dr Ir Sri Darwati MSi selaku komisi pembimbing dan motivator yang telah meluangkan waktunya untuk menemani dan membimbing selama penelitian dan memberi banyak masukkan serta saran dalam penulisan. Terima kasih kepada Prof Dr drh M Agus Setiadi selaku Ketua Program Studi Biologi Reproduksi dan Prof Dr drh Tuty L Yusuf, MS selaku penguji yang telah memberikan masukan untuk penyempurnaan tesis ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr Ir W Marlene Nalley, MSi yang selalu memotivasi dan mendukung penulis selama menempuh pendidikan S2. Terima kasih kepada drh Fakhrul Ulum Msi yang sudah meluangkan waktu untuk ikut membantu penulis selama penelitian.

Penulis berterima kasih kepada seluruh staf dan pegawai pada Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Bapak Bondan Ahmadi SE, Bapak Ugan, Ibu Yanti, Ibu Seli dan Pak Dadang. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada rekan seperjuangan penelitian Sipora Petronela Telnoni, Magfira dan Nila Pratiwi Abdullah untuk semangat dan kerja sama tim selama penelitian serta penulis mengucapkan terima kasih kepada kakak Nikolaus Kia Pati, kakak Yelly M. Mulik, kakak Elisabet Bre Boli dan adik Ardi Umbu Pandangara yang selalu membantu penulis selama penelitian.

Penulis berterima kasih kepada keluarga besar gamanusratim, teman-teman kosan kakak Yane, kakak Ano, kakak Ogen, kakak Ian, kakak Moni, om Somar, Risma dan Bunga yang sudah menjadi keluarga terdekat penulis selama di Bogor. Penulis juga mengucakpan terima kasih kepada rekan-rekan seperjuangan Biologi Reproduksi 2014, mbak Alvin, kakak Elma, kakak Yuli, Pak Dadang, Pak Jaya, Siska, Ani, Nanda, bang Mus, kakak Aji. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) yang telah memberikan penulis Beasiswa Pendidikan Tesis untuk pembiayaan penelitian.

Rasa hormat dan terima kasih penulis persembahkan kepada kedua orang tua Bapak Laurensius Hambu, Ibu Dorince Tasi, kakak adik tersayang (kakak Yovi, kakak Nardi, kakak Esti, Kakak Berti, kakak Rido, kakak Nel, adik Seli, Engki, Ina dan Apri), sahabat terbaik penulis Febby, Venta, dan Uni Tatik yang senantiasa memberikan doa, semangat, dukungan dan kasih sayangnya. Penulis menyadari karya ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Oktober 2016

(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI xiiii

DAFTAR TABEL xv

DAFTAR GAMBAR xv

1 PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 3

2 TINJAUAN PUSTAKA 4

Ayam Merawang 4

Ayam Kampung 4

Ayam Silangan 5

Anatomi Organ Reproduksi Ayam 5

Karakteristik Semen Ayam 6

Konsentrasi Spermatozoa 8

Bobot Badan 8

Ultrasonografi (USG) Testis 9

3 MATERI DAN METODE 10

Waktu dan Tempat Penelitian 10

Hewan Penelitian 10

Tahap Penelitian 10

Tahap 1. Penimbangan Bobot Badan 10

Tahap 2. Pemeriksaan Karakteristik Semen Segar 11 Tahap 3. Pengukuran Organ Testis dengan Ultrasonografi

(USG) 12

Tahap 4. Koleksi dan Pengukuran Organ Testis Secara

Langsung 12

Prosedur Analisis Data 13

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14

Kualitas Semen Ayam Merawang, Kampung, dan SK Kedu 14

Kualitas Semen Ayam Merawang 15

Kualitas Semen Ayam Kampung 17

Kualitas Semen Ayam SK Kedu 19

Bobot Badan Ayam Lokal 20

Berat, Volume, dan Penampang Memanjang Testis Hasil

Pengukuran Langsung 21

Penampang Melintang Testis Hasil Pengukuran Langsung dan

Ultrasonografi 22

Korelasi Bobot Badan dengan Ukuran Testis Hasil Pengukuran

Langsung dan Konsentrasi Spermatozoa 25

(14)

Pengukuran Langsung 25 Korelasi Bobot Badan dengan Konsentrasi Spermatozoa 26

Korelasi Ukuran Testis Hasil Pengukuran Langsung dengan

Konsentrasi Spermatozoa 26

Korelasi Bobot Badan dengan Ukuran Testis Hasil

Ultrasonografi dan Konsentrasi Spermatozoa 27

5 SIMPULAN DAN SARAN 29

Simpulan 29

Saran 29

DAFTAR PUSTAKA 30

(15)

DAFTAR TABEL

1 Kualitas semen merawang, kampung, dan SK kedu (rerata± SD) 14

2 Bobot badan 3 jenis ayam lokal (rerata±SD) 21

3 Bobot badan individu dalam jenis ayam lokal (rerata±SD) 21 4 Berat, volume, dan penampang memanjang testis 3 jenis ayam

lokal (rerata±SD) 22

5 Penampang melintang testis hasil pengukuran langsung dan

hasil USG pada 3 jenis ayam lokal (rerata±SD) 22 6 Selisih ukuran testis hasil pengukuran langsung dengan hasil

USG pada 3 jenis ayam lokal (rerata±SD) 24

7 Pedoman interpretasi terhadap koefisien korelasi 25 8 Korelasi (r) antara bobot badan dengan bobot testis, volume

testis, penampang memanjang testis, penampang melintang

testis, dan konsentrasi spermatozoa 3 jenis ayam lokal 25 9 Korelasi (r) antara ukuran testis dengan konsentrasi spermatozoa

3 jenis ayam lokal 27

10 Korelasi (r) antara penampang melintang testis hasil USG dengan bobot badan dan konsentrasi spermatozoa pada 3 jenis

ayam lokal 28

DAFTAR GAMBAR

1 Organ reproduksi ayam jantan 6

2 Volume semen individu ayam merawang 16

3 Persentase motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, dan

abnormalitas spermatozoa dari individu ayam merawang 16 4 Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat dari

individu ayam merawang 17

5 Volume semen individu ayam kampung 18

6 Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat

individu ayam kampung 18

7 Volume semen individu ayam SK kedu 19

8 Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat

individu ayam SK kedu 20

9 Pengukuran penampang melintang testis menggunakan USG 23 10 Pengukuran penampang melintang testis secara langsung

menggunakan electronic calipers 23

(16)
(17)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berlimpah di antaranya jenis ayam seperti ayam lokal asli Indonesia maupun ayam lokal introduksi yang telah lama beradaptasi di Indonesia. Beberapa di antaranya terdapat ayam merawang, ayam kampung dan ayam silangan sentul kampung dan Kedu (SK kedu). Ayam lokal dikenal sebagai ayam buras (bukan ras). Ayam lokal memiliki kemampuan beradaptasi yang baik pada kondisi lingkungan tropis, mothering ability yang baik, resistance terhadap penyakit tertentu. Namun ayam lokal memiliki kelemahan yaitu laju pertumbuhan lambat, produksi telur rendah, dan berukuran tubuh kecil jika dibandingkan dengan ayam ras (Dessie et al. 2011). Dijelaskan lebih lanjut oleh Sulandari et al. (2007) bahwa beberapa kelemahan yang dimiliki ayam lokal adalah masih mempunyai sifat mengeram, lambat dewasa kelamin, mutu genetik rendah, dan memiliki harga relatif mahal karena permintaan tinggi yang tidak diimbangi oleh peningkatan produksi.

Peningkatan produktivitas ayam lokal perlu dilakukan mengingat beberapa jenis ayam lokal Indonesia merupakan plasma nutfah asli Indonesia yang perlu dijaga kelestariannya. Ayam lokal memiliki sumber daya genetik yang berpotensi sebagai penghasil daging dan telur. Kontribusi ayam lokal dalam mencukupi kebutuhan pangan hewani di Indonesia yaitu 23% untuk kebutuhan daging dan 40% untuk kebutuhan telur (Suprijatna 2010). Beberapa indikasi menunjukkan adanya peningkatan permintaan produk ayam lokal dari tahun ke tahun. Tingginya preferensi masyarakat terhadap produk ayam lokal karena rasa daging yang khas,

trend beralihnya konsumen dari produk daging berlemak ke produk daging yang lebih organik, adanya pasar ayam lokal terlihat dari banyaknya rumah makan yang menggunakan ayam lokal. Tingginya permintaan produk ayam lokal dapat mengancam populasi bila tidak diimbangi dengan pelestariannya.

Permasalahan yang sering ditemukan dalam meningkatkan produksi ayam lokal adalah kurang tersedianya bibit unggul. Pencarian calon bibit unggul, selain didasarkan pada tampilan luarnya juga dapat dilakukan melalui pemuliaan ternak (Darwati 2000). Pemuliabiakan jenis ternak ayam lokal dilakukan untuk menghasilkan bangsa ayam baru (proven breed) dengan mutu genetik yang lebih baik.

Peningkatan mutu genetik ternak dapat dilihat dari aspek reproduksi yaitu hubungan antara usia, berat badan, karakteristik testis, dan ukuran tubuh (Tariq

et al. 2012). Pelestarian dan pengembangan ayam lokal dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas bibit yang dihasilkan melalui perkawinan dengan pejantan unggul. Pejantan memiliki peranan yang sangat besar dalam menghasilkan keturunan dan meningkatkan performa generasi berikutnya. Penilaian keunggulan seekor pejantan dapat diduga berdasarkan ukuran testis karena testis berhubungan dengan potensi produksi spermatozoa dan testosteron.

(18)

2

karena dipengaruhi oleh kadar testosteron (Wahid dan Yunus 1995). Testosteron berperan dalam pematangan spermatozoa dalam epididimis, pertumbuhan organ kelamin, dan sifat-sifat kelamin sekunder peningkatan kekuatan dan massa otot, penguatan dan pertumbuhan tulang (Pineda dan Dooley 2003).

Ukuran testis pada ternak sapi, kambing, dan domba secara tidak langsung dapat diketahui dengan mengukur lingkar skrotum (Ningrum 2008). Lingkar skrotum dapat mengasumsikan kuantitas spermatozoa, yang meliputi volume dan konsentrasi spermatozoa. Berbeda dengan jenis ternak lainnya, ayam mempunyai anatomi testis berbeda yaitu 2 buah testis berada di dalam rongga badan dekat tulang belakang atau di belakang paru-paru bagian depan dari ginjal sehingga untuk mengetahui ukuran testis ayam hanya dapat dilakukan dengan nekropsi.

Testis berukuran besar diharapkan memiliki kuantitas spermatozoa yang baik. Berat dan ukuran testis ternak dipengaruhi oleh umur, bobot badan, dan bangsa ternaknya (Barth dan Waldner 2002; Togun et al. 2006). Bobot badan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi kualitas dan kuantitas semen. Togun et al. (2006) menyatakan bahwa terdapat korelasi positif antara bobot badan dengan ukuran testis sedangkan ukuran testis sangat memengaruhi kualitas semen. Semen berkualitas dari seekor pejantan unggul dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu berat badan, umur pejantan, sifat genetik, suhu, musim, frekuensi ejakulasi, dan pakan (Susilawati et al. 1993). Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan pada ternak sapi maka perlu dilakukannya penelitian pada ayam untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara ukuran testis dengan bobot badan.

Agar ternak ayam tetap bisa hidup, maka diperlukan suatu metode pengamatan tanpa melakukan nekropsi untuk mengetahui ukuran testis pada ayam jantan yaitu dengan menduga dari bobot badan ayam dan pemeriksaan ultrasonografi (USG) testis. Penggunaan USG pada ternak jantan telah dilakukan untuk mengetahui kondisi morfologi organ reproduksi di antaranya pemeriksaan testis babi dan rusa (Cartee et al. 1986) juga sapi (Eilts dan Pechman 1988) serta ukuran testis pada ayam jantan (Richardson et al. 2002; Bowling et al. 2003). Mengingat peranan testis yang sangat penting maka informasi mengenai korelasi ukuran testis dengan bobot badan dan konsentrasi spermatozoa pada 3 jenis ayam lokal perlu diteliti lebih lanjut.

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum :

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi reproduksi ayam lokal.

Tujuan Khusus :

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk :

1. Menganalisis kualitas semen segar dari 3 jenis ayam lokal dengan cara membandingkan kualitas semen segar antara jenis ayam dan antara individu dalam jenis ayam;

(19)

3 3. Menganalisis ukuran testis ayam lokal dengan cara membandingkan ukuran

testis hasil Ultrasonografi (USG) dan ukuran testis hasil pengukuran langsung. Manfaat Penelitian

(20)

4

2

TINJAUAN PUSTAKA

Ayam Merawang

Ayam merawang merupakan ayam lokal berasal dari daerah Merawang Kepulauan Bangka Belitung. Ayam merawang ditinjau dari aspek plasma nutfah, merupakan suatu keuntungan sebagai salah satu ayam lokal khas Indonesia yang sangat potensial mendukung sektor peternakan. Ayam merawang memiliki spesifikasi khusus, warna bulunya seragam coklat kemerahan dan keemasan mirip ayam ras petelur Rhode Island Red serta daging berwarna kuning. Ayam ini berasal dari Cina yang dibawa ke Pulau Bangka beberapa ratus tahun yang lalu. Ayam merawang disamping merupakan plasma nutfah dan aset bagi Bangka Belitung juga mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkan dan ditingkatkan produktifitasnya (Hasnelly dan Kuntoro 2006).

Ayam merawang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ayam dwiguna yaitu sebagai penghasil telur dan daging. Bila dibandingkan dengan ayam kampung biasa produksi telurnya lebih tinggi dengan rata-rata 165 butir ekor-1 tahun-1 (Abubakar et al. 2005) sedangkan ayam lokal lainnya hanya

40-60 butir ekor-1 tahun-1. Bobot badan ayam merawang betina berkisar

1.35-2.5 kg ekor-1 (Armayanti 2005) dan bobot badan ayam merawang jantan

berkisar 1.9-3.1 kg ekor-1 (Ulfah 2005).

Ayam Kampung

Ayam kampung adalah ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam hutan merah yang telah berhasil dijinakkan. Akibat dari proses evolusi dan domestikasi, terciptalah ayam kampung yang telah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga lebih tahan terhadap penyakit dan cuaca dibandingkan dengan ayam ras. Penyebaran ayam kampung hampir merata diseluruh pelosok tanah air. Di Indonesia ayam kampung diternakkan secara tradisional dan turun temurun karena sistem pemeliharaan yang sederhana dan modal yang rendah (Nataamijaya 2000). Selera konsumen terhadap ayam kampung sangat tinggi terlihat dari permintaan ayam kampung yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari peningkatan produksi ayam kampung pada tahun 2001-2005 terjadi peningkatan sebanyak 4.5% dan pada tahun 2005-2009 konsumsi ayam kampung dari 1.49 juta ton meningkat menjadi 1.52 juta ton (Aman 2011).

(21)

5 Ayam Silangan

Pengembangkan sektor peternakan ayam buras salah satunya dapat dilakukan melalui persilangan antara galur ayam buras. Persilangan ayam dilakukan dengan tujuan memperoleh hasil persilangan yang lebih produktif daripada salah satu tertuanya dan untuk mengambil keuntungan dari kualitas bagus yang berasal dari 2 atau lebih bangsa yang berbeda. Melakukan persilangan ayam diharapkan menghasilkan keturunan dengan pertumbuhan badan yang cepat dalam waktu singkat dan persentase karkas yang tinggi (Gunawan dan Sartika 2001).

Bangsa ternak berbeda yang tidak mempunyai hubungan keluarga jika disilangkan akan menghasilkan keturunan pertama (F1) yang lebih baik dari kedua tertuanya (Williamson et al. 1993). Salah satu jenis ayam silangan baru yang ada di Indonesia adalah silangan ayam sentul, kampung dan kedu (SK kedu) yang merupakan keturunan dari 2 generasi. Generasi pertama adalah silangan antara ayam sentul dan ayam kampung. Ayam jantan dari hasil persilangan kedua ayam ini kemudian disilangkan kembali dengan ayam kedu betina.

Anatomi Organ Reproduksi Ayam Jantan

Organ reproduksi ayam jantan terdiri atas sepasang testis, epididimis, sepasang vas deferens, dan sebuah alat kopulasi yang disebut phallus yang seluruhnya terletak di dalam rongga perut. Dijelaskan lebih lanjut bahwa unggas jantan tidak memiliki kelenjar-kelenjar kelamin pelengkap, akan tetapi semen unggas di vas deferens bercampur cairan dari badan-badan vaskuler yang terletak dekat ujung posterior vas deferens. Alat kopulasi pada ayam atau phallus terletak pada lubang kloaka dan mengalami rudimenter (Ensminger 1992).

Testis merupakan organ kelamin primer yang mempunyai 2 fungsi yaitu menghasilkan spermatozoa dan mensekresikan hormon kelamin jantan yaitu testosteron. Spermatozoa dihasilkan di dalam tubuli seminiferi sedangkan testosteron diproduksi oleh sel-sel interstitial dari sel leydig. Pengukuran penampang memanjang dan penampang melintang testis pada ayam berbeda dari ternak lainnya karena tidak dapat dilakukan secara lagsung. Hal ini disebabkan oleh anatomi organ reproduksi ayam berbeda dengan beberapa hewan ternak lainnya. Struktur testis ayam tidak menggantung seperti sapi, kambing, domba, dan kuda tetapi terletak di dalam rongga perut, melekat pada bagian punggung dan dekat dengan ujung anterior ginjal. Testis melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh ligamentum mesorchium. Testis ayam berbentuk bulat oval seperti kacang dengan warna pucat kekuningan.

(22)

6

Testis dilapisi selaput tipis (tunica albugenia). Di dalam testis, secara histologis terdapat tubuli seminiferi yang mengandung beberapa lapis epitel yang akan menghasilkan spermatozoa. Spermatozoa yang dihasilkan dalam tubulus seminiferus akan segera disalurkan ke dalam rete testis, kemudian ke duktuli efferens testis, duktus epididimis dan disimpan dalam vas deferens sebelum diejakulasikan. Di antara tubuli seminiferi terdapat sel-sel interstisial dalam jumlah kecil, yang mampu memproduksi dan mensekresikan hormon androgen (testosteron). Sel-sel interstisial penghasil hormon androgen ini disebut juga sel

leydig (Castro et al. 2002). Organ reproduksi ayam jantan dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Organ reproduksi ayam jantan (Ensminger 1992; Jacob dan Pescatore 2011)

Karakteristik Semen Ayam

(23)

7 Berdasarkan laporan Almahdi et al. (2014) yang melakukan penelitian pada ayam lingnan, bangkok, kedu, dan ayam arab semen ayam normal berwarna putih susu.

Secara umum semen ayam memiliki volume yang rendah tetapi memiliki konsentrasi spermatozoa yang tinggi (Malik et al. 2013). Rendahnya volume semen unggas disebabkan unggas tidak mempunyai kelenjar aksesoris (Ensminger 1992). Individu berbeda dalam jenis ayam yang sama dapat menghasilkan volume semen yang berbeda. Rata-rata volume semen ejakulat menggunakan teknik masase pada bagian abdominal yaitu 0.25 mL. Bah et al. (2001) melaporkan rata-rata volume semen ayam yaitu 0.28±0.14 mL. Volume semen ayam yang dikoleksi berkisar antara 0.37±0.02 dan 0.73±0.01 mL (Peters et al. 2008; Tuncer

et al. 2008). Variasi volume semen antara jenis ayam dapat disebabkan oleh fisiologis normal proses spermatogenesis dan respon terhadap teknik masase selama koleksi semen (Tarif et al. 2013). Donoghue et al. (2000) menyatakan bahwa volume ejakulasi bergantung pada bangsa, umur, individu, musim, pencahayaan, dan faktor lingkungan lainnya.

Semen unggas memiliki pH sedikit basa dengan kisaran 7.0-7.5 (Abdillah 1996). Motilitas spermatozoa umumnya tinggi pada kisaran pH 7.0-7.4 dan juga meningkatkan kemampuan fertilitas dibandingkan kisaran pH 6.4, hal ini disebabkan oleh kerusakan membran plasma yang terjadi pada spermatozoa pada kisaran pH rendah (Latif et al. 2005). Siudzinska dan Lukaszewicz (2008b), melaporkan beberapa percobaan mengindikasikan spermatozoa ayam mampu bertahan pada kisaran pH 6.0-8.0. Peters et al. (2008) juga melaporkan bahwa rerata pH semen ayam adalah 7.01±0.01, sedangkan Tuncer et al. (2008) dan Bah

et al. (2001) melaporkan pH semen ayam berkisar antara 7.54±0.04 sampai 7.80±0.03.

Gerakan massa spermatozoa adalah gerakan spermatozoa dalam sekelompok spermatozoa yang mempunyai kecenderungan bergerak bersama-sama ke satu arah sehingga gerakan tersebut terlihat seperti gelombang yang tebal atau tipis dan bergerak cepat atau lambat. Gerakan massa dapat digunakan sebagai perkiraan gambaran motilitas spermatozoa (Yusuf 2015). Gerakan massa yang baik pada ayam menurut Junaedi et al. (2016) adalah plus 3 (+++). Gerakan individu spermatozoa dapat digambarkan oleh gerakan massa. Gerakan massa semen yang baik seperti awan tebal dan bergerak cepat. Semakin aktif dan semakin banyak spermatozoa yang bergerak ke depan, semen akan mempunyai kualitas yang semakin baik.

Motilitas spermatozoa merupakan salah satu parameter yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi semen. Indikator ukuran kemampuan spermatozoa membuahi ovum dalam proses fertilisasi salah satunya dilihat dari motilitas spermatozoa. Garner dan Hafez (2000) melaporkan bahwa motilitas pada unggas berkisar 60%-80%. Motilitas spermatozoa menunjukkan presentase spermatozoa yang bergerak motil progresif. Froman dan Kirby (2008) yang menyatakan kualitas semen dipengaruhi oleh bangsa, individu, umur, ukuran badan, nutrisi pakan, dan frekuensi penampungan semen.

(24)

8

spermatozoa yang hidup tidak akan menyerap warna (transparan) pada bagian kepala spermatozoa. Persentase spermatozoa hidup lebih tinggi dari pada spermatozoa motil karena dari jumlah spermatozoa yang hidup belum tentu semuanya motil progresif (Kostaman dan Sutama 2006). Secara fisiologi terdapat hubungan antara membran plasma utuh dengan motilitas dan daya hidup spermatozoa. Kerusakan membran plasma apabila terjadi dapat menyebabkan hilangnya enzim-enzim yang diperlukan dalam proses metabolisme sehingga tidak dihasilkan energi sehingga motilitas serta daya hidup rendah (Rizal et al. 2003).

Evaluasi terhadap abnormalitas spermatozoa penting dilakukan. Abnormalitas yang tinggi dapat mengganggu fertilitas jantan secara umum (Garner dan Hafez 2000). Abnormalitas pada ayam ada 2 jenis yaitu abnormalitas primer dan abnormalitas sekunder. Abnormalitas primer merupakan ketidaknormalan morfologi spermatozoa yang terjadi ketika spermatozoa masih di dalam tubuli seminiferi (spermatogenesis). Semen dengan persentase abnormalitas cukup tinggi cenderung memiliki fertilitas yang rendah karena berkaitan dengan kemampuan mengawali fertilisasi. Abnormalitas sekunder merupakan morfologi spermatozoa tidak normal yang terjadi selama spermatozoa melewati saluran reproduksi. Arifiantini et al. (2005) mengatakan spermatozoa abnormal biasanya disebabkan karena ketidakseimbangan nutrisi dan endokrin.

Konsentrasi Spermatozoa

Konsentrasi spermatozoa adalah jumlah spermatozoa per mL semen. Konsentrasi spermatozoa menggambarkan sifat-sifat semen dan digunakan sebagai salah satu kriteria penentuan kualitas semen. Penilaian konsentrasi spermatozoa yang akurat sangatlah penting (Maes et al. 2010), karena akan menentukan jumlah bahan pengencer yang akan ditambahkan. Seekor hewan atau ternak harus memenuhi standar konsentrasi tertentu agar dapat membuahi sel telur (Knox et al. 2002). Konsentrasi spermatozoa sangat penting untuk menentukan dosis IB (Junaedi et al. 2016).

Salisbury dan Vandemark (1985) menyatakan bahwa konsentrasi spermatozoa ayam bervariasi antara 0.03-11 milyar sel mL-1. Perbedaan

konsentrasi spermatozoa antar ayam dapat disebabkan oleh faktor jumlah pakan yang dikonsumsi, perbedaan bobot badan dan rumpun (Malik et al. 2013) serta umur dan musim (Elagib et al. 2012). Rumpun ayam yang besar memiliki konsentrasi spermatozoa yang tinggi (Donoghue et al. 2000). Kekentalan atau konsistensi semen akan meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi spermatozoa. Teknik yang telah lama dikenal dalam melakukan penilaian konsentrasi spermatozoa adalah dengan menggunakan neubauer chamber

(Arifiantini 2012).

Bobot Badan

(25)

9 pertambahan bobot badan yang semakin menurun dan peningkatan bobot badan tidak terjadi setelah dewasa tubuh dicapai. Saat mencapai dewasa kelamin ternak tetap mengalami pertumbuhan dengan kecepatan yang semakin berkurang sampai dengan pertumbuhan tulang dan otot berhenti (Herren 2000).

Bobot badan merupakan karakter kuantitatif yang ditentukan oleh faktor genetik (Daryono et al. 2012). Zainal et al. (2012) menyatakan bahwa penyebab terjadinya perbedaaan bobot badan, adalah faktor genetik, pakan dan lingkungan serta rataan bobot badan meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Menurut Tadondjou et al. (2013) bobot badan ayam jantan dipengaruhi oleh kandungan energi dalam pakan, suhu lingkungan, konsumsi pakan, dan konversi pakan.

Ultrasonografi (USG) Testis

USG adalah suatu teknik diagnosis organ yang dihasilkan oleh gelombang suara berfrekuensi tinggi yaitu antara 1-10 MHz (Barr 1990). Alat ini digunakan sebagai alat bantu diagnostik suatu penyakit dengan melihat gambaran organ dalam hewan dan digunakan untuk membantu pengambilan sampel biopsi guna menentukan spesifitas penyakit (Noviana et al. 2012). Penggunaan USG pada ternak jantan telah dilakukan, di antaranya untuk pemeriksaan testis babi, rusa (Cartee et al. 1986) dan sapi (Eilts dan Pechman 1988). USG juga telah digunakan untuk menilai status ovarium dan perkembangan folikel pada ayam betina (Melnychuk et al. 2002) serta ukuran testis pada ayam jantan (Richardson et al.

2002; Bowling et al. 2003). Dijelaskan lebih lanjut bahwa saat ini dengan teknologi USG memungkinkan untuk mengidentifikasi ukuran bahkan bagian patologi organ dalam serta pengukuran penampang melintang testis menggunakan USG lebih disarankan karena dapat mengukur dengan akurat tanpa melukai ternak.

(26)

10

3

MATERI DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari-Juli 2016 di Kandang Pemuliaan Fakultas Peternakan IPB dan di Laboratorium Unit Rehabilitasi Reproduksi, Divisi Reproduksi dan Kebidanan, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Semua prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini telah mendapatkan persetujuan atas perlakuan etik (ethical approval) dari Komisi Etik Institut Pertanian Bogor dengan Sertifikat Persetujuan Etik Hewan Nomor: 024/ACUC/10/2016.

Hewan Penelitian

Penelitian ini menggunakan 15 ekor ayam jantan dari 3 jenis ayam jantan yang berbeda masing-masing 5 ekor ayam jantan merawang, 5 ekor ayam jantan kampung, dan 5 ekor ayam jantan silangan SK kedu. Ayam jantan yang digunakan berumur 1.5 tahun yang diketahui berdasarkan hasil rekording dari kandang pemuliaan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Semua ayam yang digunakan dalam penelitian adalah ayam sehat yang telah dewasa kelamin dan sudah bereproduksi serta divaksinasi secara teratur.

Ayam jantan dikandangkan secara individual pada kandang berukuran 50 cm x 50 cm x 90 cm (panjang x lebar x tinggi) yang dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yang diberikan setiap pagi dan sore hari dengan jumlah 100 g ekor-1 hari-1, serta air minum yang

diberikan ad libitum. Pakan yang diberikan berupa pakan komersial berbentuk

crumble dari perusahaan PT. Gold Coin Indonesia. Kandungan zat gizi pakan yang diketahui dari label karung pakan yaitu 17% protein kasar, 2 229.40 Kkal energi metabolime, 13% kadar air, 6% serat kasar, 3% lemak, 14% abu, 0.6%-1% phosphor dan 3.0%-4.2% kalsium.

Tahap Penelitian Penelitian dilaksanakan dalam 4 tahap yaitu :

1. Penimbangan bobot badan;

2. Pemeriksaan karakteristik semen segar;

3. Pengukuran organ testis menggunakan ultrasonografi (USG); dan 4. Koleksi dan pengukuran organ testis secara langsung.

Tahap 1 Penimbangan Bobot Badan

(27)

11 Tahap 2 Pemeriksaan Karakteristik Semen Segar

Koleksi Semen. Semen dikoleksi dari setiap ayam 3 kali seminggu menggunakan teknik pengurutan (masase) pada bagian punggung dan kloaka ayam. Semua ayam telah dilatih agar terbiasa untuk dikoleksi semennya. Penampungan semen dilakukan 2 orang. Sebelum koleksi, kloaka dibersihkan menggunakan kapas yang telah dibasahi NaCl fisiologis. Orang pertama memegang ayam pada kedua pahanya dengan tangan kiri sambil mengurut bagian punggung sampai ujung ekor dengan tangan kanan untuk merangsang keluarnya semen, Pengurutan dilakukan beberapa kali sampai terjadinya rangsangan pada ayam yang ditandai dengan peregangan tubuh ayam, naiknya bulu ekor dan keluarnya papillae dari proktodaeum kloaka. Saat ereksi mencapai maksimal, akan diikuti ejakulasi dan semen dikoleksi oleh orang kedua yang bertugas mengkoleksi semen yang telah diejakulasikan.

Evaluasi Semen. Ejakulat dievaluasi secara makroskopis dan mikroskopis. Evaluasi semen secara makroskopis meliputi volume, warna, konsistensi, dan pH. Pemeriksaan secara mikroskopis meliputi gerakan massa, motilitas, persentase spermatozoa hidup, abnormalitas, konsentrasi dan jumlah spermatozoa per ejakulat. Teknik evaluasi mengadopsi Arifiantini (2012) dengan beberapa modifikasi.

Evaluasi makroskopis. Volume semen, warna dan konsistensi dievaluasi secara visual. pH semen dievaluasi menggunakan pH special indicator paper (Merk skala 6.4-8). Semen diteteskan sebanyak 1 µL di atas kertas pH dan dibiarkan 15-30 detik lalu warna kertas pH dicocokan dengan standar.

Evaluasi mikroskopik. Pengamatan gerakan massa dilakukan dengan meneteskan 5 µL semen di atas object glass kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya (Olympus CH 20) dengan pembesaran 100 kali. Penilaian dilakukan dengan melihat gelombang spermatozoa dan dinilai dengan (+3) jika gelombang massa tebal dan cepat berpindah tempat, (+2) jika gelombang massa tebal tetapi lambat berpindah tempat atau gelombang massa sedang tetapi cepat berpindah tempat, (+1) jika gelombang massa tipis dan lambat berpindah tempat, dan (-) jika tidak ada gelombang massa (Arifiantini 2012).

Pengamatan motilitas spermatozoa dilakukan dengan meneteskan 2 µL semen di atas object glass kemudian diteteskan 1 tetes NaCl fisiologis. Larutan dihomogenkan dan ditutup dengan cover glass. Preparat diamati di bawah mikroskop pembesaran 400 kali. Motilitas spermatozoa dinilai secara estimasi dari 5-10 lapangan pandang dengan cara membandingkan jumlah spermatozoa yang bergerak maju ke depan dengan gerakan spermatozoa yang lain, nilai dinyatakan dalam persen.

(28)

12

% spermatozoa hidup =

∑ x 100%

Pengamatan morfologi spermatozoa (normalitas dan abnormalitas) menggunakan pewarnaan yang sama untuk pemeriksaan spermatozoa hidup. Persentase spermatozoa abnormal dan normal dilakukan pada 10 lapang pandang dengan jumlah sel minimal > 200 sel.

% spermatozoa abnormal = ∑

∑ x 100%

Konsentrasi spermatozoa dihitung menggunakan neubauer chamber.

Semen diencerkan dengan formolsalin 500 kali (2 µL semen dalam 998 µL formolsalin). Kamar hitung neubauer chamber diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 kali. Penghitungan jumlah spermatozoa dilakukan pada 5 kamar hitung menurut arah diagonal. Penghitungan konsentrasi spermatozoa berdasarkan rumus berikut : konsentrasi spermatozoa per mL semen = jumlah spermatozoa terhitung x 25 x 106. Total spermatozoa per ejakulat dihitung dengan

mengalikan konsentrasi spermatozoa dan volume semen.

Tahap 3 Pengukuran Organ Testis dengan Ultrasonografi (USG)

Hewan coba dipuasakan ±3 jam sebelum dilakukan pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan menggunakan portable ultrasonografi (sonomed model SD5V) dengan transduser semi convex (frekuensi 7-9 MHz). Hewan dipegang secara langsung dan dibaringkan pada posisi dimiringkan ke samping kanan ataupun kiri (lateral recumbence) yang nyaman tanpa menggunakan sedasi atau pembiusan. Pemeriksaan dilakukan pada bagian atas paha kiri dan kanan pada kulit atau otot antar rusuk. Bulu pada daerah pemeriksaan dicabut dan digunakan gel ultrasound untuk memperoleh gambar yang baik. Pemeriksaan dilakukan pada potongan melintang dari testis. Interpretasi dilakukan secara real time dan

sonogram yang diperoleh disimpan dalam gambar digital.

Tahap 4 Koleksi dan Pengukuran Organ Testis Secara Langsung

Koleksi organ testis pada 3 jenis ayam lokal diawali dengan melakukan euthanasia secara fisik yaitu pemenggalan leher (decapitation). Ayam dieuthanasia dengan cara memotong 3 saluran yang terletak pada bagian leher yang terdiri dari saluran pernapasan, pencernaan, dan pembuluh darah. Euthanasia dilakukan secara cepat dalam waktu singkat. Ayam yang dipastiakan sudah benar-benar mati dilanjutkan dengan tahap nekropsi. Organ testis ayam yang berwana putih terletak di anterior ginjal kiri dan kanan diambil menggunakan gunting dan dilanjutkan dengan pengukuran.

(29)

13 satu per satu sesuai dengan jenis ayam. Selisih perubahan angka dengan volume awal pada gelas ukur berisi cairan NaCl fisiologis merupakan volume testis yang diukur. Penampang memanjang testis diukur tegak lurus sepanjang testis dan penampang melintang testis diukur pada bagian terlebar testis menggunakan

electronic calipers dalam satuan mm.

Prosedur Analisis Data

Data yang diperoleh pada penelitian tahap 1 disampaikan dalam bentuk rerata dan standar deviasi (SD) dan dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Penelitian tahap 2 menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) tersarang dengan 15 ulangan. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dan menggunakan analisis of variance (ANOVA) menggunaakan software SPSS 16 jika ditemukan adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan, dilanjutkan dengan uji Duncan.

(30)

14

4

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kualitas Semen Ayam Merawang, Kampung, dan SK kedu

Kualitas semen 3 jenis ayam pada penelitian ini secara umum memiliki volume semen rendah akan tetapi konsentrasi spermatozoa tinggi. Pemeriksaan makroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara warna semen, konsistensi, dan pH. Semua ayam menunjukkan warna semen putih susu dengan konsistensi kental dan pH berkisar antara 6.94±0.20 sampai 6.97±0.21, pH semen yang diperoleh berada dalam kisaran normal. Kualitas semen ayam merawang, kampung, dan SK kedu dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Kualitas semen ayam merawang, kampung, dan SK kedu (rerata±SD)

Parameter Merawang Jenis Ayam Kampung SK kedu

Makroskopis

Volume (mL) 0.40 ±0.26a 0.24±0.12b 0.16±0.10c

Warna Putih susu Putih susu Putih susu

Konsistensi Kental Kental Kental

pH 6.97±0.21 6.96±0.18 6.94±0.20

Mikroskopis

Gerakan Massa 3+ 3+ 3+

Motilitas Spermatozoa (%) 81.83±6.36 82.67±4.81 82.93±4.35

Spermatozoa Hidup (%) 90.02±6.00 91.05±4.34 91.45±4.49

Abnormalitas spermatozoa (%) 3.22±3.54 3.62±4.31 2.99±2.63 Konsentrasi spermatozoa (106 sel mL-1) 4 490±2 890a 3 245±2 199b 3 751±2 369b

Total spermatozoa per ejakulat (106 sel) 2 066±1 978a 789±639b 613±546b Ket: huruf berbeda yang mengikuti angka pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata

(P<0.05). SD: standar deviasi

Hasil penelitian menunjukkan volume semen ayam merawang (0.40±0.26 mL) lebih tinggi (P<0.05) dari ayam kampung (0.24±0.12 mL) dan SK kedu (0.16±0.10 mL). Volume semen hasil penelitian ini berada pada kisaran yang sama dengan hasil penelitian Siudzinska dan Lukaszewicz (2008a) pada jenis ayam green legged partridge, black minorca, white crested black polish, dan

italian partridge yaitu antara 0.24 mL sampai dengan 0.52 mL. Perbedaan volume semen sebelumnya telah dilaporkan oleh Malik et al. (2013) pada ayam red jungle, ayam domestik dan ayam bantam masing-masing yaitu 0.33±0.16 mL, 0.29±0.18 mL, dan 0.10±0.10 mL.

(31)

15 Karakteristik mikroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan (P>0.05) antara gerakan massa, motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, dan abnormalitas spermatozoa dari ketiga jenis ayam (Tabel 1). Gerakan massa spermatozoa ayam +3. Persentase motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup dan abnormalitas spermatozoa pada ayam merawang, kampung, dan SK kedu secara berturut-turut adalah 81.83±6.36%, 82.67±4.81%, dan 82.93±4.35%; 90.02±6.00%, 91.05±4.34%, dan 91.45±4.49%; 3.22±3.54%, 3.62±4.31% dan 2.99±2.63%.

Konsentrasi spermatozoa antara 3 jenis ayam lokal menunjukkan perbedaan. Ayam merawang memiliki konsentrasi tertinggi (4 490 x 106 mL-1) (Tabel 1)

sedangkan konsentrasi ayam kampung dan SK kedu tidak berbeda (P>0.05), yaitu (3 245 x 106 mL-1) dan (3 751 x 106 mL-1). Perbedaan konsentrasi pada beberapa

jenis ayam juga telah dilaporkan oleh Malik et al. (2013) dan Hermiz et al. (2016). Malik et al. (2013) melaporkan konsentrasi spermatozoa pada ayam red jungle,

ayam domestik dan ayam bantam adalah 4 440±9.05 × 106 mL-1,

2 730±10.50 × 106 mL-1 dan 1 830±7.43 × 106 mL-1. Hermiz et al. (2016)

melaporkan konsentrasi spermatozoa ayam jantan yaitu 3 650 × 106 mL-1 sampai

5 890 × 106 mL-1. Tarif et al. (2013) juga melaporkan bahwa konsentrasi

spermatozoa bervariasi antara ayam jantan dari 9 600 × 106 ke 7 500 × 106 per mL.

Perbedaan konsentrasi spermatozoa antara ayam diduga disebabkan oleh faktor jumlah pakan yang dikonsumsi, perbedaan bobot badan, dan rumpun (Malik et al.

2013) serta umur dan musim (Elagib et al. 2012). Rumpun ayam yang besar memiliki konsentrasi spermatozoa yang tinggi (Donoghue et al. 2000).

Total spermatozoa per ejakulat hasil penelitian berbeda (P<0.05) antar 3 jenis ayam lokal. Rerata total spermatozoa per ejakulat ayam merawang (2 066±1 978 x 106 sel per ejakulat) lebih tinggi dibandingkan ayam kampung

(789±639 x 106 sel per ejakulat) dan SK kedu (613±546 x 106 sel per ejakulat).

Perbedaan total spermatozoa per ejakulat antar jenis ayam disebabkan oleh perbedaan konsentrasi dan volume semen antar jenis ayam. Lebih tingginya total spermatozoa per ejakulat pada ayam merawang dikarenakan ayam merawang memiliki konsentrasi dan volume yang lebih tinggi dibandingkan ayam kampung dan ayam SK kedu.

Kualitas Semen Ayam Merawang

Kualitas semen 5 ekor ayam merawang pada penelitian ini menunjukkan karakteristik makroskopis yang sama pada warna dan pH. Semua individu ayam merawang menunjukkan warna semen putih susu dengan pH 6.90±0.10 sampai dengan 7.0±0.05. Konsistensi semen berkisar antara encer sampai kental. Volume semen ayam merawang menunjukkan adanya perbedaan antar individu. Volume semen tertinggi ditunjukkan oleh ayam nomor 5 (M5) yaitu 0.66±0.03 mL dan terendah pada M3 (0.17±0.03 mL) (Gambar 2). Hasil penelitian ini berbeda dengan Tarif et al. (2013) yang melaporkan tidak terdapat perbedaan volume semen antar individu ayam. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor jumlah pakan yang dikonsumsi, manajemen, dan respons individu terhadap teknik masase. Volume semen individu ayam merawang dapat dilihat pada Gambar 2.

(32)

16

spermatozoa. Gerakan massa berkisar antara +2 dan +3. Motilitas dan spermatozoa hidup pada M1, M3, M4, dan M5 menunjukkan hasil yang sama, keempatnya lebih tinggi dari M2 (Gambar 3). Menurut Tarif

motilitas spermatozoa berkisar antara 81.70±1

dan persentase spermatozoa hidup berkisar antara 82.20% sampai dengan 87.30% bahkan bisa mencapai 93.08% (Hermiz

satu parameter yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi fertilit spermatozoa. Perbedaan persentase motilitas spermatozoa dan spermatozoa hidup dapat disebabkan oleh faktor individu.

Gambar 2 Volume semen individu ayam merawang. M1: merawang 1; M2: merawang 2; M3: merawang 3; M4: merawang 4; M5: merawang 5 Abnormalitas spermatozoa ayam merawang menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). Rerata abnormalitas spermatozoa individu ayam merawang yaitu M1 (3.50±0.90%), M2 (0.58±2.00%), M3 (4.88±0.90%), M4 (2.90±0.90%), dan M5 (2.11±0.90%) (Gambar 3). A

tertinggi terdapat pada M3 (4.88±0.90%) dan terendah pada M2 (0.58±2.00%). Berdasarkan hasil penelitian abnormalitas spermatozoa yang diperoleh masih berada dalam kisaran normal. Selvan (2007) melaporkan abnormalitas spermatozoa pada ayam Rock

kandungan protein pakan, vitamin E, dan kalsium.

spermatozoa, spermatozoa hidup, dan abnormalitas spermatozoa dari individu ayam merawang dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Persentase motilitas spermatozoa ( abnormalitas spermatozoa (

merawang 1; M2: merawang 2; M3: merawang 3; M5: merawang 5

motilitas spermatozoa berkisar antara 81.70±1.70% sampai dengan 85.00±2.90% dan persentase spermatozoa hidup berkisar antara 82.20% sampai dengan 87.30% bahkan bisa mencapai 93.08% (Hermiz et al. 2016). Motilitas merupakan salah satu parameter yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi fertilit spermatozoa. Perbedaan persentase motilitas spermatozoa dan spermatozoa hidup dapat disebabkan oleh faktor individu.

Gambar 2 Volume semen individu ayam merawang. M1: merawang 1; M2: merawang 2; M3: merawang 3; M4: merawang 4; M5: merawang 5 Abnormalitas spermatozoa ayam merawang menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). Rerata abnormalitas spermatozoa individu ayam merawang yaitu M1 (3.50±0.90%), M2 (0.58±2.00%), M3 (4.88±0.90%), M4 (2.90±0.90%), dan M5 (2.11±0.90%) (Gambar 3). Abnormalitas spermatozoa tertinggi terdapat pada M3 (4.88±0.90%) dan terendah pada M2 (0.58±2.00%). Berdasarkan hasil penelitian abnormalitas spermatozoa yang diperoleh masih berada dalam kisaran normal. Selvan (2007) melaporkan abnormalitas

Rock berkisar 3.09% - 5.75% bergantung pada umur, kandungan protein pakan, vitamin E, dan kalsium. Persentase motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, dan abnormalitas spermatozoa dari individu ayam merawang dapat dilihat pada Gambar 3.

Persentase motilitas spermatozoa ( ), spermatozoa hidup (

abnormalitas spermatozoa ( ) dari individu ayam merawang. M1: merawang 1; M2: merawang 2; M3: merawang 3; M4: merawang 4; M5: merawang 5 dan persentase spermatozoa hidup berkisar antara 82.20% sampai dengan 87.30% 2016). Motilitas merupakan salah satu parameter yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi fertilitas spermatozoa. Perbedaan persentase motilitas spermatozoa dan spermatozoa hidup

Gambar 2 Volume semen individu ayam merawang. M1: merawang 1; M2: merawang 2; M3: merawang 3; M4: merawang 4; M5: merawang 5 Abnormalitas spermatozoa ayam merawang menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). Rerata abnormalitas spermatozoa individu ayam merawang yaitu M1 (3.50±0.90%), M2 (0.58±2.00%), M3 (4.88±0.90%), M4 bnormalitas spermatozoa tertinggi terdapat pada M3 (4.88±0.90%) dan terendah pada M2 (0.58±2.00%). Berdasarkan hasil penelitian abnormalitas spermatozoa yang diperoleh masih berada dalam kisaran normal. Selvan (2007) melaporkan abnormalitas 5.75% bergantung pada umur, Persentase motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, dan abnormalitas spermatozoa dari individu

(33)

17 Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat ayam merawang menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). M4 memiliki konsentrasi spermatozoa yang paling tinggi (6 158±693 x 106 mL-1) dan M2 (2 066±693 x 106 mL-1) memiliki konsentrasi spermatozoa yang paling rendah

(Gambar 4). Total spermatozoa per ejakulat tertinggi terdapat pada M5 (3 396±421 x 106) dan M4 (3 110±421 x 106) dan terendah pada M2 (486±942 x 106).

Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat dari individu ayam merawang dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4 Konsentrasi spermatozoa ( ) dan total spermatozoa per ejakulat ( ) dari individu ayam merawang. M1: merawang 1; M2: merawang 2; M3: merawang 3; M4: merawang 4; M5: merawang 5

Perbedaan konsentrasi antara individu juga dilaporkan oleh Tarif et al. (2013) yaitu pada rumpun ayam sasso namun konsentrasi spermatozoanya lebih tinggi yaitu berkisar antara 9 200±0.30 x 106 mL-1 sampai dengan 9 900±0.30 x 106 mL-1. Konsentrasi spermatozoa M4 yang dilaporkan pada hasil penelitian ini

lebih tinggi dibandingkan laporan Siudzinska and Lukaszewicz (2008b) pada ayam white crested black polish dan black minorcas yaitu 4 700 × 106 mL-1 dan

4 200 × 106 mL-1. Rerata total spermatozoa per ejakulat pada individu ayam

merawang lebih tinggi dibandingkan hasil penelitian Sonseeda et al. (2013) pada ayam thai yaitu 1 477 x 106 sel per ejakulat dan Junaedi et al. (2016) pada ayam

pelung yaitu 706.47±48.5 x 106 sel per ejakulat.

Karakteristik semen dalam individu ayam merawang menunjukkan adanya variasi antar individu. Variasi terlihat dari volume semen, gerakan massa, motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas spermatozoa, konsentrasi spermatozoa, dan total spermatozoa per ejakulat. Individu terbaik di dalam jenis ayam merawang secara berturut-turut adalah M4, M5, dan M1. Faktor yang memengaruhi kualitas semen antar individu dalam jenis ayam merawang dapat disebabkan oleh faktor genetik, bangsa, pakan, dan lingkungan (Tabatabaei et al. 2010; Elagib et al. 2012). Kismiati (1997) menegaskan secara khusus bahwa faktor pakan, terutama jumlah protein, dan energi, menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas semen ayam yang dihasilkan.

Kualitas Semen Ayam Kampung

(34)

18

sampai dengan 7.0±0.05. Konsistensi semen berki

Volume semen ayam kampung menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). Volume semen tertinggi ditunjukkan oleh ayam nomor 1 (K1) yaitu 0.29±0.03 mL dan K5 (0.28±0.03 mL) dan terendah pada K3 (0.17±0.03 mL) Volume semen individu ayam kampung dapat dilihat pada Gambar 5

Gambar 5 Volume semen individu ayam kampung. K1: kampung 1; K2: kampung 2; K3: kampung

Karakteristik mikroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas spermatozoa sedangkan konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat

perbedaan (P<0.05) antara individu ayam kampung. Gerakan massa berkisar antara +2 sampai +3. Motilitas s

spermatozoa masing-masing berkisar antara 81.33±1.30 90.59±1.26-92.46±1.26% dan 1.60±0.91

dan total spermatozoa per ejakulat individu ayam kampung dapat dilihat p Gambar 6.

Gambar 6 Konsentrasi spermatozoa (

individu ayam kampung. K1: kampung 1; K2: kampung 2; K3: kampung 3; K4: kampung 4; K5: kampung 5

Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat seme

kampung menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). K2 memiliki konsentrasi spermatozoa (5 913±445 x 10

sampai dengan 7.0±0.05. Konsistensi semen berkisar antara encer sampai kental. Volume semen ayam kampung menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). Volume semen tertinggi ditunjukkan oleh ayam nomor 1 (K1) yaitu 0.29±0.03 mL dan K5 (0.28±0.03 mL) dan terendah pada K3 (0.17±0.03 mL)

semen individu ayam kampung dapat dilihat pada Gambar 5.

Volume semen individu ayam kampung. K1: kampung 1; K2: kampung 2; K3: kampung 3; K4: kampung 4; K5: kampung 5 Karakteristik mikroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada ilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas spermatozoa sedangkan dan total spermatozoa per ejakulat menunjukkan adanya perbedaan (P<0.05) antara individu ayam kampung. Gerakan massa berkisar antara +2 sampai +3. Motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas masing berkisar antara 81.33±1.30-84.00±1.30%, 92.46±1.26% dan 1.60±0.91-4.88±0.91%. Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat individu ayam kampung dapat dilihat p

Gambar 6 Konsentrasi spermatozoa ( ) dan total spermatozoa per ejakulat ( individu ayam kampung. K1: kampung 1; K2: kampung 2; K3: kampung 3; K4: kampung 4; K5: kampung 5

Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat seme

kampung menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). K2 memiliki konsentrasi spermatozoa (5 913±445 x 106 mL-1) dan total spermatozoa per Volume semen ayam kampung menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). Volume semen tertinggi ditunjukkan oleh ayam nomor 1 (K1) yaitu 0.29±0.03 mL dan K5 (0.28±0.03 mL) dan terendah pada K3 (0.17±0.03 mL)

Volume semen individu ayam kampung. K1: kampung 1; K2: 3; K4: kampung 4; K5: kampung 5 Karakteristik mikroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada ilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas spermatozoa sedangkan menunjukkan adanya perbedaan (P<0.05) antara individu ayam kampung. Gerakan massa berkisar permatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas 84.00±1.30%, Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat individu ayam kampung dapat dilihat pada

) dan total spermatozoa per ejakulat ( ) individu ayam kampung. K1: kampung 1; K2: kampung 2; K3:

Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat semen ayam kampung menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). K2 memiliki ) dan total spermatozoa per ) dan K3 memiliki konsentrasi spermatozoa ) dan total spermatozoa per ejakulat terendah

Rerata konsentrasi spermatozoa dan total

b b

(35)

spermatozoa per ejakulat

sama dengan hasil penelitian Junaedi (2015) pada ayam kamp 3 126±84.22 x 106 mL

Berdasarkan karakteristik semen individu dalam jenis ayam kampung menunjukkan bahwa adanya variasi antar individu dilihat dari volume, konsentrasi spermatozoa dan total s

menyatakan bahwa kualitas semen bervariasi antar individu bergantung bangsa, umur, bobot badan, frekuensi penampungan, suhu lingkungan, dan nutrisi pakan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa konsentrasi spe

perkembangan seksual, tingkat kedewasaan pejantan, kualitas pakan, dan musim.

Kualitas semen 5 ekor ayam SK kedu pada penelitian menunjukkan karakteristik makroskopis tidak berbeda pada warna dan pH. S

ayam SK kedu menunjukkan warna semen putih susu dengan pH 6.87±0.05 sampai 6.99±0.05. Konsistensi semen berkisar antara encer sampai kental. Volume semen ayam SK kedu menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). Volume semen tertingg

0.26±0.03 mL dan volume terendah pada SK5 (0.09±0.03 mL) individu ayam SK kedu dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Volume semen individu ayam SK kedu. kedu 2; SK3: SK kedu 3; SK4:

Karakteristik mikroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas spermatozoa sedangkan konsentrasi spermatozoa menunjukkan adanya perbedaan (P

ayam SK kedu. Gerakan massa berkisar antara +2 sampai +3. Motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup dan abnormalitas spermatozoa masing

individu berkisar antara 81.67±1.30 2.73±0.91-3.70±0.91%.

Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat semen ayam

SK kedu menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). SK4 (5 073±572 x 106 mL

sama, keduanya memiliki konsentrasi spermatozoa lebih tinggi dibandingkan 3 individu lainnya (Gambar 7). SK4 (876±127 x 10

spermatozoa per ejakulat 5 individu ayam kampung berada pada kisaran yang sama dengan hasil penelitian Junaedi (2015) pada ayam kamp

mL-1 dan 641.74±56.9 x 106 per ejakulat.

Berdasarkan karakteristik semen individu dalam jenis ayam kampung menunjukkan bahwa adanya variasi antar individu dilihat dari volume, konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat. Salisbury dan Vandemark (1985) menyatakan bahwa kualitas semen bervariasi antar individu bergantung bangsa, umur, bobot badan, frekuensi penampungan, suhu lingkungan, dan nutrisi pakan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa konsentrasi spermatozoa dipengaruhi oleh perkembangan seksual, tingkat kedewasaan pejantan, kualitas pakan, dan musim.

Kualitas Semen Ayam SK Kedu

Kualitas semen 5 ekor ayam SK kedu pada penelitian menunjukkan karakteristik makroskopis tidak berbeda pada warna dan pH. S

ayam SK kedu menunjukkan warna semen putih susu dengan pH 6.87±0.05 sampai 6.99±0.05. Konsistensi semen berkisar antara encer sampai kental. Volume semen ayam SK kedu menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). Volume semen tertinggi ditunjukkan oleh ayam nomor 2 (SK2) yaitu 0.26±0.03 mL dan volume terendah pada SK5 (0.09±0.03 mL). Volume semen individu ayam SK kedu dapat dilihat pada Gambar 7.

ume semen individu ayam SK kedu. SK1: SK kedu 1; SK2: SK kedu 2; SK3: SK kedu 3; SK4: SK kedu 4; SK5: SK kedu 5

Karakteristik mikroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas spermatozoa sedangkan konsentrasi spermatozoa menunjukkan adanya perbedaan (P<0.05) antara individu ayam SK kedu. Gerakan massa berkisar antara +2 sampai +3. Motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup dan abnormalitas spermatozoa masing

individu berkisar antara 81.67±1.30-85.00±1.30%, 90.65±1.26-92.24±1.26% dan 0.91%.

Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat semen ayam

SK kedu menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). SK4 mL-1) dan SK1 (4 791±572 x 106 mL-1) menunjukkan hasil yang

memiliki konsentrasi spermatozoa lebih tinggi dibandingkan 3 individu lainnya (Gambar 7). SK4 (876±127 x 106), SK2 (849±127 x 10

19 5 individu ayam kampung berada pada kisaran yang

sama dengan hasil penelitian Junaedi (2015) pada ayam kampung yaitu Berdasarkan karakteristik semen individu dalam jenis ayam kampung

menunjukkan bahwa adanya variasi antar individu dilihat dari volume, konsentrasi permatozoa per ejakulat. Salisbury dan Vandemark (1985) menyatakan bahwa kualitas semen bervariasi antar individu bergantung bangsa, umur, bobot badan, frekuensi penampungan, suhu lingkungan, dan nutrisi pakan. rmatozoa dipengaruhi oleh perkembangan seksual, tingkat kedewasaan pejantan, kualitas pakan, dan musim.

Kualitas semen 5 ekor ayam SK kedu pada penelitian menunjukkan karakteristik makroskopis tidak berbeda pada warna dan pH. Semua individu ayam SK kedu menunjukkan warna semen putih susu dengan pH 6.87±0.05 sampai 6.99±0.05. Konsistensi semen berkisar antara encer sampai kental. Volume semen ayam SK kedu menunjukkan adanya perbedaan antar individu i ditunjukkan oleh ayam nomor 2 (SK2) yaitu . Volume semen

SK1: SK kedu 1; SK2: SK SK kedu 4; SK5: SK kedu 5

Karakteristik mikroskopis menunjukkan tidak terdapat perbedaan pada motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup, abnormalitas spermatozoa sedangkan <0.05) antara individu ayam SK kedu. Gerakan massa berkisar antara +2 sampai +3. Motilitas spermatozoa, spermatozoa hidup dan abnormalitas spermatozoa masing-masing 92.24±1.26% dan Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat semen ayam

SK kedu menunjukkan adanya perbedaan antar individu (P<0.05). SK4 ) menunjukkan hasil yang

(36)

20

SK1 (736±127 x 106) memiliki total spermatozoa per ejakulat yang sama,

ketiganya lebih tinggi dibandingkan 2 individu lainnya.

Tuncer et al. (2008) melaporkan konsentrasi spermatozoa ayam berkisar antara 2 420±0.02 x 106 spermatozoa mL-1. Konsentrasi spermatozoa dan total

spermatozoa per ejakulat ayam silangan SK kedu lebih tinggi dibandingkan ayam

silangan kampung broiler hasil penelitian Junaedi et al. (2016) yaitu 2 623±51 x 106 mL-1 dan 361.04±45 x 106 per ejakulat. Faktor yang memengaruhi

perbedaan ini dapat disebabkan oleh jumlah ejakulat dan interval penampungan kondisi pejantan, dan lingkungan (Johnson et al. 2000) serta dapat disebabkan juga oleh perbedaan jenis ayam, faktor pakan yang dikonsumsi, dan manajemen. Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat individu ayam SK kedu dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Konsentrasi spermatozoa ( ) dan total spermatozoa per ejakulat ( ) individu ayam SK kedu. SK1: SK kedu 1; SK2: SK kedu 2; SK3: SK kedu 3; SK4: SK kedu 4; SK5: SK kedu 5

Berdasarkan karakteristik semen individu dalam jenis ayam SK kedu menunjukkan bahwa adanya variasi antar individu dilihat dari volume, konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat. Setiap individu memiliki kualitas spermatozoa yang bebeda meskipun dipelihara dengan sistem dan manajemen pakan yang seragam. Sukmawati et al. (2014) menyatakan bahwa pada ternak sapi kondisi masing-masing individu seperti kualitas organ reproduksi akan memengaruhi kualitas semen demikian juga pada ayam.

Bobot Badan Ayam Lokal

Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (P<0.05) pada

bobot badan antara 3 jenis ayam lokal. Bobot badan ayam merawang (2 712±320 g) lebih tinggi dibandingkan ayam kampung (2 571±406 g) dan SK

Figur

Gambar 1.
Gambar 1 . View in document p.22
Gambar 3   Persentase motilitas spermatozoa (Persentase motilitas spermatozoa (abnormalitas spermatozoa (merawang 1; M2: merawang 2; M3: merawang 3;M5: merawang 5), spermatozoa hidup (abnormalitas spermatozoa () dari individu ayam merawang
Gambar 3 Persentase motilitas spermatozoa Persentase motilitas spermatozoa abnormalitas spermatozoa merawang 1 M2 merawang 2 M3 merawang 3 M5 merawang 5 spermatozoa hidup abnormalitas spermatozoa dari individu ayam merawang. View in document p.32
Gambar 4  Konsentrasi spermatozoa ( ) dan total spermatozoa per ejakulat (
Gambar 4 Konsentrasi spermatozoa dan total spermatozoa per ejakulat . View in document p.33
Gambar 5   Volume semen individu ayam kampung. K1: kampung 1; K2: Volume semen individu ayam kampung
Gambar 5 Volume semen individu ayam kampung K1 kampung 1 K2 Volume semen individu ayam kampung. View in document p.34
Gambar 7 Volume semen individu ayam SK kedu. ume semen individu ayam SK kedu. SK1: SK kedu 1; SK2: SK
Gambar 7 Volume semen individu ayam SK kedu ume semen individu ayam SK kedu SK1 SK kedu 1 SK2 SK . View in document p.35
Tabel 4 Berat, volume, dan penampang memanjang  testis 3 jenis ayam lokal  (rerata±SD)
Tabel 4 Berat volume dan penampang memanjang testis 3 jenis ayam lokal rerata SD . View in document p.38
Gambar 9  Pengukuran penampang melintang testis menggunakan USG
Gambar 9 Pengukuran penampang melintang testis menggunakan USG . View in document p.39
Tabel 6  Selisih ukuran testis hasil pengukuran langsung dengan hasil USG  pada
Tabel 6 Selisih ukuran testis hasil pengukuran langsung dengan hasil USG pada . View in document p.40
Tabel 7 Pedoman interpretasi terhadap koefisien korelasi
Tabel 7 Pedoman interpretasi terhadap koefisien korelasi . View in document p.41
Tabel 10  Korelasi (r) antara penampang melintang testis hasil USG dengan bobot
Tabel 10 Korelasi r antara penampang melintang testis hasil USG dengan bobot . View in document p.44

Referensi

Memperbarui...