Communication pattern on vegetable farmers’ entrepreneurship capacity development (case: Taiwan Technical Mission Assistance)

371 

Teks penuh

(1)

i

POLA KOMUNIKASI PADA PENGEMBANGAN KAPASITAS KEWIRAUSAHAAN PETANI SAYURAN

(Kasus Pendampingan Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor)

Oleh

Cahyono Tri Wibowo

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

ii

SURAT PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul “Pola Komunikasi pada Pengembangan Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran (Kasus Pendampingan Misi Teknik Taiwan di Boyolali dan Bogor),” adalah karya saya sendiri dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan oleh penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka pada bagian akhir disertasi ini.

Bogor, 4 Juli 2012

(3)

iii ABSTRACT

CAHYONO TRI WIBOWO, Communication Pattern on Vegetable Farmers’

Entrepreneurship Capacity development (Case: Taiwan Technical Mission Assistance). Supervised by SUMARDJO as Head of Supervisory Commission; DIDIN HAFIDHUDDIN and SARWITI S. AGUNG as Commission Members.

The objectives of this research were: (1) to analyze effect of characteristic factors such as social dynamic, physical environment, farmers’ characteristics and socio-economic environment of entrepreneurship communication patterns; (2) to ensure important factors that will strongly influence the increasing of entrepreneurship capacity; (3) to formulate effective communication pattern for entrepreneurship capacity development efforts of vegetable farmer in the Taiwan’s technical mission in two districts in Indonesia. This research resulted several outputs, namely: (1) communication pattern of farmers’ entrepreneurship in Taiwan’s technical mission was categorized good enough and significantly influenced by group dimensions i.e membership and group climate on social dynamics; (2) the development of farmers’ entrepreneurship capacity in Taiwan’s technical mission was categorized good and it was directly influenced by education level characteristics and farmers’ business experiences, it was also influenced by physical environment on dimensions of communication infrastructure and technology characteristics, it was significantly influenced by socio-economic environment on dimension of support social system and mass media information, and also significantly affected by family support dimension, institutional support and local knowledge functioning of socio-economic environment and significantly influenced by dialogic dimension on farmers’ communication entrepreneurship pattern; (3) effective communication patterns regarding development of entrepreneurship capacity of farmers was dialogic communication patterns, and communication pattern itself were strengthened by these factors: social dynamic on group climate and group dimension of membership dimensions. (4) someof the forms of technical skill, social skill, and managerial skill that potentially can improve and compete towards farmers were entrepreneur technical skill, social skill, and managerial skill. By improving their technical skill, social skill, and managerial skill, it was expected farmers were able to improve their productivity, income, autonomy which at the end can develop farmers’ welfare in Indonesia.

Keywords: Communication pattern, entrepreneurship, capacity development, vegetable farming

(4)

iv RINGKASAN

CAHYONO TRI WIBOWO, Pola Komunikasi pada Pengembangan Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran (Kasus Pendampingan Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor. Dibimbing oleh SUMARDJO sebagai Ketua; DIDIN HAFIDHUDDIN dan SARWITITI S. AGUNG sebagai Anggota Komisi Pembimbing.

Kebanyakan petani di Indonesia kurang memahami kewirausahaan petani. Di dalam memperkenalkan kewirausahaan petani diperlukan konsep untuk mengembangkan kedinamisan berpikir dan bertindak, berani mengambil resiko dan rasa percaya diri. Pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran telah dimulai yayasan misi teknik Taiwan dengan memberikan bimbingan teknik budidaya, penyediaan sarana produksi, dan memasarkan hasil panen pertanian.

Salah satu kendala yang dihadapi sektor pertanian adalah keterbatasan kualitas sumberdaya manusia (SDM) bidang pertanian. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan kemampuannya dalam menyerap informasi dan mengadopsi teknologi relatif terbatas sehingga kurang menghasilkan produk yang berkualitas. Rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan petani berakibat pada rendahnya kemampuan petani dalam mengelola usahanya sehingga tidak dapat berkembang dan menyebabkan rata-rata pendapatannya menjadi rendah.

Penelitian bertujuan menjawab masalah-masalah berikut: (1) Sejauhmana pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor dipengaruhi oleh dinamika sosial, lingkungan fisik dan lingkungan sosial ekonomi? (2) Faktor manasajakah yang berpengaruh terhadap pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor? (3) Bagaimana pola komunikasi yang efektif bagi pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor? dan menguji dua hipotesis penelitian, yakni: (1) terdapat pengaruh nyata antara dinamika sosial, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial ekonomi terhadap pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran; (2) terdapat pengaruh nyata antara karakteristik petani, lingkungan fisik, lingkungan sosial ekonomi, dan pola komunikasi kewirausahaan petani terhadap pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran.

Desain penelitian adalah sensus ex post facto, dilaksanakan di Kabupaten Boyolali menyebar di Kecamatan Selo, Teras, Ampel, Banyudono, Boyolali Kota dan di Kabupaten Bogor meliputi Kecamatan Dramaga dan Leuwiliang. Alasan pemilihan lokasi dikarenakan kedua kabupaten tersebut merupakan pilot project. Di Kabupaten Boyolali telah selesai dibimbing dan sekarang pembinaannya sudah diserahkan kepada Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan melalui pembentukkan suatu UPT Usaha Pertanian yang berkantor di KecamatanTeras, sedangkan di Kabupaten Bogor masih dalam bimbingan. Penelitian ini melibatkan 124 petani sayuran, terdiri dari 78 orang di Kabupaten Boyolali dan 46 orang di Kabupaten Bogor. Data primer diperoleh melalui kuesioner, wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan diskusi (FGD). Data sekunder diperoleh dari pemerintahan setempat dan instansi yang terkait.

Uji validitas kuesioner dilakukan dengan koefisien korelasi productmoment

(5)

v

bahwa dari 130 butir pertanyaan/pernyataan pada kuesioner sebagian besar valid atau mempunyai hasil uji validitas lebih kecil dari rtabel (α < 0,05). Hanya 10 yang tidak valid. Delapan butir dibuang, dan dua butir pertanyaan/pernyataan dimodifikasi. Nilai koefisien reliabilitas teknik belah dua (split halfreliability test

Spearman-Brown) dengan sofware SPSS 19 terhadap setiap bagian kuesioner: karakteristik lingkungan fisik, lingkungan sosial ekonomi, dinamika kelompok, pola komunikasi kewirausahaan, dan kapasitas kewirausahaan petani sayuran; diperoleh nilai koefisien reliabilitas sebesar 0,624; 0,668; 0,701; 0,753; dan 0,689. Berarti, kelima bagian kuesioner tersebut terandal. Data dianalisis menggunakan

descriptive statistic dengan menampilkan distribusi frekuensi, persentase, rataan skor dan total rataan skor; dan inferential statistic berupa uji beda dan analisis jalur (path analysis) untuk mengetahui pengaruh antar peubah dan menemukan model empiris pengaruh antar peubah dan faktor-faktor pendukungnya.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa karakteristik petani sayuran peserta misi teknik Taiwan di dua kabupaten umumnya berpendidikan SMA (Boyolali) SMP (Bogor); berusia 42 sampai 63 tahun; mayoritas laki-laki; pendapatan per panen kategori tinggi (Boyolali) karena lahan yang digunakan luas, rata-rata 3000 m2, sedangkan petani sayuran di Bogor berpendapatan rendah, karena lahan yang dikelola relatif sempit rata-rata sekitar 2000 m2; kepemilikan aset kategori tinggi (Boyolali) karena lebih dulu dibimbing misi teknik Taiwan selama 10-16 tahun, dan kategori rendah kepemilikan aset petani Bogor karena banyak petani yang masih taraf mencoba berusahatani sayuran, dengan bimbingan misi teknik Taiwan kurang dari 7 tahun; tingkat kekosmopolitan rendah; pengalaman bertani sayuran tergolong sedikit sekitar lima tahun dan ketika harga turun, kembali lagi ke padi, lalu kembali lagi ke sayuran, sehingga petani tidak konsisten menekuni bidang usahatani sayuran; keberanian mengambil resiko secara keseluruhan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik petani sayuran di dua kabupaten memiliki potensi untuk mengembangkan kewirausahaan, namun perlu didukung oleh faktor-faktor eksternal yang mempengaruhinya.

Petani sayuran di dua kabupaten menunjukkan dinamika sosial yang rendah, terlihat dari keanggotaan, kepemimpinan, dan jaringan komunikasi tradisional kelompok. Dinamika sosial ini perlu ditingkatkan, baik dari size

keanggotaan kelompok minimal 20 orang yang aktif dan kepemimpinan kelompok. Misalnya, melalui leadership training dan memanfaatkan jaringan komunikasi tradisional. Namun demikian, ekologi, status-kekuasaan dan iklim kelompok tergolong tinggi. Di Boyolali, dinamika sosial untuk indikator keanggotaan, ekologi, status dan kekuasaan, kepemimpinan dan suasana kelompok, serta jaringan komunikasi tradisional lebih dominan dibanding di Bogor, kecuali indikator kepemimpinan kelompok. Artinya dinamika sosial di Boyolali lebih kondusif dibanding Bogor.

(6)

vi

teknologi pertanian yang sosialisasinya dilakukan tidak hanya oleh misi teknik Taiwan, tetapi juga oleh Penyuluh Swakarsa Mandiri (PSM), LSM dan mahasiswa IPB yang praktek kerja lapang, mereka langsung mengadopsi teknologi karena yakin manfaatnya.

Lingkungan sosial ekonomi petani sayuran di dua kabupaten tergolong rendah, terlihat dari dukungan kelembagaan, mitra usaha, iklim kewirausahaan syariah, dan informasi media massa. Terlihat petani sayuran tidak memanfaatkan kelembagaan yang ada, hanya mengandalkan pada hubungan baik dengan misi teknik Taiwan dalam bentuk hubungan bisnis di mana misi teknik Taiwan secara kelembagaan mampu menyediakan beberapa kebutuhan pokok petani. Dalam hal iklim kewirausahaan syariah, petani di dua kabupaten tersebut tidak mendapatkan sosialisasi tentang kewirausahaan syariah, baik dari penyuluh pemerintah maupun dari fasilitator misi teknik Taiwan, pemahaman tentang kewirausahaan syariah secara umum kebanyakan hanya didapat dari TV dan ustadz. Lembaga keuangan yang diharapkan memotori iklim kewirausahaan syariah belum banyak tumbuh di dua kabupaten tersebut. Informasi media massa masih rendah, petani sayuran di dua kabupaten tersebut cenderung membaca dan menonton tayangan hiburan, kurang memanfaatkan media massa untuk mendapatkan informasi pertanian, khususnya pengembangan wirausahatani sayuran. Lingkungan sosial ekonomi untuk dukungan keluarga, dukungan sistem sosial, iklim kewirausahaan syariah, keberfungsian kearifan lokal, dan informasi media massa di Boyolali lebih baik dibanding di Bogor. Untuk dukungan kelembagaan, mitra usaha dan keterbukaan pasar di Bogor lebih baik dibandingkan Boyolali.

Pola komunikasi dialogik kewirausahaan di Bogor lebih baik dari pada di Boyolali. Namun, keduanya berada pada kategori tinggi karena aktifnya penyuluh misi teknik Taiwan, sehingga terjadi sinergi yang baik antara petani sayuran dengan pendamping misi teknik Taiwan, dan ini mengkondisikan komunikasi dua arah transaksional, konvergen dan didapatkan mutual sharing di antara mereka. Faktor dinamika sosial, indikator iklim dan keanggotaan kelompok berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap komunikasi dialogik. Artinya, makin kondusif suasana kelompok, dan makin besar jumlah keanggotaan kelompok maka makin dialogik pola komunikasinya. Untuk lingkungan fisik, indikator infrastruktur/sarana komunikasi berpengaruh nyata (p<0,05) negatif terhadap komunikasi dialogik. Artinya, dengan makin tersedianya telepon seluler, internet dan media yang lain maka makin tidak dialogik pola komunikasi petani sayuran tersebut. Pada peubah lingkungan sosial ekonomi, hampir semua indikator tidak signifikan (p>0,05) pengaruhnya terhadap pola komunikasi. Hanya dukungan kelembagaan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) negatif terhadap pola komunikasi monologik.

Kapasitas kewirausahaan petani sayuran di Boyolali untuk technical skill,

dan social skill lebih baik dibanding di Bogor, namun untuk managerial skill di Bogor lebih baik. Untuk managerial skill, sebenarnya misi teknik Taiwan tidak mengajarkan secara spesifik, tetapi banyak penyuluhan peningkatan manajerial

(7)

vii

Lingkungan fisik yang secara sangat signifikan (p<0,01) berpengaruh langsung terhadap kapasitas kewirausahaan petani sayuran, adalah sarana komunikasi dan karakteristik teknologi. Bedanya sarana komunikasi memiliki pengaruh signifikan dengan nilai negatif. Artinya, semakin tinggi sarana komunikasi semakin menurun kapasitas kewirausahaan petani sayuran. Hal ini disebabkan oleh perilaku petani yang mencari informasi tidak menggunakan sarana komunikasi yang tersedia seperti internet, televisi, radio, majalah, telepon seluler dll. Para petani cenderung memanfaatkan sarana komunikasi untuk kebutuhan hiburan, dan jarang sekali digunakan untuk mencari informasi pertanian. Kalaupun petani hendak mencari informasi terkait dengan pertanian para petani lebih mempercayai media komunikasi yang bersifat interpersonal seperti kepada petani lain, petani maju, dan penyuluh dari misi teknik Taiwan. Semakin karakteristik teknologi diterapkan oleh petani sayuran, makin meningkatkan kapasitas kewirausahaannya. Contohnya, pemanfaatan teknologi budidaya pertanian sayuran yang tepat guna. Pengaruh lingkungan fisikterhadap kapasitas kewirausahaan petani sayurantidak langsung melalui pola komunikasi. Pengaruh lingkungan sosial ekonomi langsung dan tidak langsung terhadap kapasitas kewirausahaan petani sayuran yang sangat signifikan (p<0,01) adalah dukungan sistem sosial dan informasi media massa. Dukungan keluarga, dukungan kelembagaan dan keberfungsian kearifan lokal yang berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap kapasitas kewirausahaan seorang petani. Dukungan kelembagaan memiliki pengaruh negatif, dimana semakin besar dukungan kelembagaan maka semakin menurun kapasitas kewirausahaan seorang petani. Hal tersebut diakui oleh beberapa petani bahwa petani kurang tertarik untuk bekerja sama dengan lembaga yang berada di sekitar wilayah mereka. Mereka beranggapan bahwa lembaga tersebut (BPP, LSM Pertanian, Koperasi simpan pinjam) hanya berbicara mengenai moral dan tidak berbicara banyak mengenai bagaimana meningkatkan produktivitas dalam waktu yang lebih pendek. Alasan tersebutlah yang membuat para petani lebih senang bekerja sama dengan misi teknik Taiwan karena mereka langsung kepada hal teknis budidaya sayuran.

Pengaruh signifikan pola komunikasi terhadap kapasitas kewirausahaan petani sayuran adalah pola dialogik, artinya semakin sering menggunakan pola komunikasi dialogik maka semakin tinggi kapasitas kewirausahaan petani; sedang pola monologik tidak berpengaruh signifikan pada kapasitas kewirausahaan petani sayuran. Hal ini dikarenakan petani sayuran di dua kabupaten sudah cerdas, tidak lagi hanya menerima saja apa yang disampaikan oleh penyuluh melalui komunikasi searah/top down, melainkan mereka lebih sering berinteraksi secara aktif di antara mereka sehingga didapatkan mutual sharing yang sangat baik.

(8)

viii

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber :

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(9)

ix

POLA KOMUNIKASI PADA PENGEMBANGAN KAPASITAS KEWIRAUSAHAAN PETANI SAYURAN

(Kasus Pendampingan Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor)

Oleh

Cahyono Tri Wibowo NRP. I 362080011

Disertasi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(10)

x

Penguji Luar Komisi Ujian Tertutup : Tanggal 30 Mei 2012 Tempat: Ruang Ujian SPs Lt.V Gedung Andi Hakim Nasution Kampus IPB Darmaga Bogor

1. Dr. Ir. Basita G. Sugihen, MA

(Dosen pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat FEMA-IPB)

2. Dr. Ir. Ninuk Purnaningsih, MSi

(Dosen pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat FEMA-IPB)

Penguji Luar Komisi Ujian Terbuka: Tanggal 4 Juli 2012

Tempat: Ruang Sidang Senat Akademik Lantai VI Gedung Andi Hakim Nasution Kampus IPB Darmaga Bogor

1. Dr. Ir Anas D. Susila, MSc (Kepala University Farm - IPB) 2. Dr. Ir. Momon Rusmono, MS

(11)

xi

Judul Disertasi : Pola Komunikasi pada Pengembangan Kapasitas

Kewirausahaan Petani Sayuran (Kasus Pendampingan Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor)

Nama : Cahyono Tri Wibowo

NIM : I362080011

Program Studi : Sains Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Perdesaan

Disetujui : Komisi Pembimbing

Prof. Dr.Ir. Sumardjo, MS Ketua

Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, MS Dr.Ir. Sarwititi S Agung, MS

Anggota Anggota

Diketahui :

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr

(12)

xii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan disertasi yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar Strata 3 pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

Judul disertasi ini adalah “Pola Komunikasi pada Pengembangan Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran (Kasus Pendampingan Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor). Terima kasih yang sebesar-besarnya saya haturkan kepada Prof. Dr.Ir. Sumardjo, MS, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, MS, dan Dr.Ir. Sarwititi S. Agung, MS sebagai komisi pembimbing, atas semua bimbingan, arahan dan dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi ini.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Rektor IPB, Para Wakil Rektor IPB, Direktur Keuangan IPB yang telah mengijinkan penulis bekerja sambil kuliah, penulis juga menghaturkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Dekan Sekolah Pascasarjana IPB, Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS sebagai Ketua Program Studi KMP, Prof. Dr. Ir. Marimin, MSc selaku Sekretaris Program Doktor SPs, Dr. Ir. Amiruddin Saleh, MS selaku Wakil ketua Program Studi KMP, Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya, Prof. Dr. Ir. Ronny M. Noor, Dr. Erizal, Bu Nining, Pak Susanto, Amd, Pak Wahari, SE, Pak Setiawan, SE teman-teman: di Direktorat Keuangan, di Unit Layanan Pengadaan, di Direktorat Faspro, di LPPM, di Sekolah Pascasarjana, dan IPB pada umumnya yang telah membantu proses penyelesaian disertasi ini.

(13)

xiii

mbak Tyas, mas Widi, mbak Iin, mbak Anty, mbak Yanti, mas Yudha, mas Budi, mbak Ayuk, mas Fauzan, dan cucu-cucu saya Anina, Anindya, Justine, Dea, KH. Abdul kadir, KH. Ahmad Musaffa, Prof.Dr.Ir. H. Kudang Boro Seminar, MSc. Ibu Metri, Pak Bowo, Mas Agus Niam, mas Yoga, Pak Syafrudin yang telah memberikan dorongan semangat dan do’a yang tiada henti-hentinya.

Penulis sampaikan beribu terima kasih kepada semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu atas bantuannya selama penulis menempuh pendidikan doktor di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Semoga disertasi ini bermanfaat.

Bogor, 4 Juli 2012

(14)

xiv

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Boyolali tanggal 25 Januari 1962 putra ketiga dari tiga bersaudara dari pasangan bapak H. Soedardji Prawiromartono dan Almarhumah ibu Soeparti. Pada tahun 1992 penulis menikah dengan Sri Mujiharini Ritanung, SE yang dikaruniai tiga orang anak: Hanung Suryo Panggondo Nagoro, Cahyani Nur Aisyah dan Rawda Syarifa Jannah. Pendidikan Sekolah Dasar diselesaikan tahun 1974 dan Sekolah Menengah Pertama diselesaikan tahun 1977 kedua sekolah tersebut berada di Dukuh Malangan, Desa Kunti, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Sekolah Menengah Atas diselesaikan di SMA Negeri II Surakarta tahun 1980, Strata 1 diselesaikan di Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta tahun 1987, Strata 2 diselesaikan di Magister Manajemen Agribisnis di Institut Pertanian Bogor tahun 2002. Tahun 2008 penulis diterima pada program doctor di program studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Departemen Sains Komunikasi Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor.

Pada Tahun 1989 penulis berkerja di Bagian Keuangan Biro Administrasi Umum Institut Pertanian Bogor, pada tahun 1989-1991 membantu Prof. Dr. Ir. Surjono Surjokusumo, MSF (Staf pengajar Fahutan IPB) pada proyek Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – World Bank Second University Project (Bank Dunia 17) di Depdikbud Jakarta, tahun 1991-2002 penulis menjadi anggota tim kerjasama IPB- OECF/JBIC Japan phase I dan II (selama 2 periode loan agreement) sebagai financial officer. Pada tahun 2002-2005 penulis menjadi anggota tim duelike IPB – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi World Bank Project.

(15)

xv

Difusi Inovasi dan Proses Pengambilan Keputusan Inovasi Pertanian ... 14

(16)

xvi

Deskripsi Faktor Internal dan EksternalPetani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 82

Pengembangan Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 97

Pengaruh Dinamika Sosial, Lingkungan Fisik dan Lingkungan Sosek terhadap Pola Komunikasi Kewirausahaan Petani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 99

Pengaruh Dinamika Sosial terhadap Pola Komunikasi Kewi- rausahaan Petani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabu- paten Boyolali dan Bogor ... 99

Pengaruh Lingkungan Fisik terhadap Pola Komunikasi Kewirausahaan Petani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 101

Pengaruh Lingkungan Sosek terhadap Pola Komunikasi Kewirausahaan Petani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor……… 102

Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Faktor-Faktor Internal dan Eksternal terhadap Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor……. 103

Pengaruh Karakteristik Petani Sayuran terhadap Pengembang- an Kewirausahaan Petani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 105

(17)

xvii

Pengaruh Lingkungan Sosial Ekonomi terhadap Pengemba- ngan Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran pada Misi

Teknik Taiwan di Kabupaten Bogor dan Boyolali ... 109

Pengaruh Pola Komunikasi Kewirausahaan Petani Sayuran terhadap Pengembangan Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran pada Misi Teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 114

Pola Komunikasi Kewirausahaan Petani Sayuran Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Bogor ... 116

Pengembangan Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran antara Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 117

Strategi Pengembangan Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Bogor ... 119

SIMPULAN DAN SARAN ... 125

Simpulan ... 125

Saran ... 125

DAFTAR PUSTAKA ... 127

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Spesifikasi skala kecerdasan spiritual ... 43 2. Penelitian awal tentang paradigma pola komunikasi kewirausahaan

petani antara monologik dan dialogik di dua lokasi amatan ... 52 3. Ciri-ciri utama dari model komunikasi monologik dan dialogik ... 52 4. Kesenjangan technical, sosial and managerial skill kewirausahaan

petani di lokasi amatan saat ini dibandingkan kondisi ideal ... 53 5. Keterkaitan peubah, indikator, dan parameter ... 61 6. Sebaran responden berdasarkan karakteristik petani sayuran di

Kabupaten Boyolali dan Bogor (dalam persen) ... 84 7. Rataan skor dinamika sosial pendampingan misi teknik Taiwan di

Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 90 8. Rataan skor faktor lingkungan fisik petani pendampingan misi

teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... .. 92 9. Rataan skor lingkungan sosial ekonomi petani sayuran pendamping-

an misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 93 10. Pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik

Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor ... 96 11. Pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran di Kabupa-

ten Boyolali dan Bogor ... 97 12. Pengaruh peubah-peubah bebas terhadap peubah terikat pola Komu-

nikasi kewirausahaan petani sayuran ... 100 13. Pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap pengembangan

kapasitas kewirausahaan petani sayuran di Kabupaten Boyolali dan

Bogor ... 104 14. Uji beda pola komunikasi monologik dan dialogik antara Kabupaten

Bogor dan Boyolali ... 117 15. Uji beda pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran

(19)

xix

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Tahapan proses keputusan inovasi (Rogers, 2003) ... 15 2. Model komunikasi konvergen (Rogers & Kincaid, 1981) ... 32 3. Model penciptaan dan berbagi informasi dalam proses

pemahaman bersama (Kincaid & Schramm 1975

dalam Rogers & Kincaid 1981) ... 33 4. Kerangka berpikir pola komunikasi pada pengembangan kapasitas

kewirausahaan petani sayuran ... 55 5. Model jalur pola komunikasi efektif pada pengembangan kapasitas

(20)

xx

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Uji Validitas ... 134

2. Uji Reliabilitas ... 146

3. Uji Normalitas Data Untuk Setiap Variabel ... 151

4. Regresi Berganda dan Rataan Skor ... 161

5. Analisa Jalur ... 169

(21)

1

PENDAHULUAN Latar Belakang

Sebagai akibat krisis multi dimensi yang terjadi di belahan dunia berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia dan hingga kini masih terus berlangsung. Boleh dikatakan bahwa hal ini merupakan bencana besar di sektor ekonomi. Fenomena ini jelas memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan negara Indonesia dengan negara-negara lain. Apa yang terjadi di negara lain, seketika akan pula berpengaruh terhadap negara Indonesia. Beberapa tahun terakhir ini krisis global mengimbas pula pada sektor pertanian dengan ikut menurunnya kinerja sektor pertanian yang di antaranya diindikasikan dengan masih tingginya jumlah penduduk miskin yang kebanyakan dari mereka adalah masyarakat pedesaan yang mayoritas petani.

Menurut data Bappenas (Sumardjo, 2010) pada tahun 1990 jumlah penduduk miskin 15,1 juta terus meningkat sejalan dengan berlanjutnya krisis ekonomi dan puncaknya pada tahun 1998 sebesar 24,2 juta lalu menurun pada tahun 2006 sebesar 16,6 juta. Mengacu pada garis kemiskinan satu dollar per hari di Indonesia setara dengan Rp 97.000,-- per bulan atau kurang dari separuh garis kemiskinan nasional versi BPS, angka kemiskinan sekitar 20,6% pada tahun 1990 dan 7,5% pada tahun 2006.

Menurut data Badan Pusat Statistik (2010) dengan perhitungan yang berbeda pada tahun 2009 jumlah penduduk miskin versi BPS sebesar 9,8% atau 32,5 juta, yaitu 11,9 juta (10,7%) dari jumlah penduduk berada di perkotaan dan 20,6 juta (17,4%) berada di perdesaan. Berdasarkan garis kemiskinan ini Indonesia telah mencapai sasaran Millenium Development Goals (MDGs) yaitu 10%, meskipun tampaknya berhenti di sini dan belum ada peningkatan. Ditinjau dari indeks kedalaman kemiskinan juga terjadi stagnasi pada tahun 1990 sebesar 2,7% dan pada tahun 2008 sebesar 2,7%. Berdasarkan perhitungan pada garis kemiskinan dua dollar per hari kemiskinan di Indonesia sekitar 49%. Indeks kemiskinan nasional pada tahun 1990 sebesar 15,1% dan tahun 2008 sebesar 15,4%, sedangkan target MDGs sebesar 7,5 persen.

(22)

ekonomi, pemerintahan, dan lemahnya keberdayaan masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan. Lemahnya keberdayaan masyarakat ini tampak dari tingkat kemandirian, partisipasi, kemampuan warganya mengakses terhadap pengelolaan sumberdaya dan beradaptasi terhadap perubahan dan lingkungannya (Sumardjo, 2010).

Dalam kondisi krisis ekonomi global ini, sektor pertanian semakin sulit bersaing dengan pasar global. Selain tidak terintegrasi optimal dengan industri pengolahan, hasil-hasil pertanian Indonesia juga tak jarang kalah bersaing dengan produk impor di pasar konsumsi domestik. Hal ini salah satunya adalah disebabkan oleh rendahnya bea masuk tarif impor produk pertanian ke Indonesia. Industri pengolahan kakao misalnya, memasok bahan baku impor, sementara Indonesia banyak mengekspor biji kakao. Buruknya penanganan pascapanen atau tidak adanya industri pengolahan antara, industri hilir menjadi tidak efisien apabila memanfaatkan bahan baku hasil pertanian dalam negeri.

Salah satu kendala yang dihadapi sektor pertanian adalah keterbatasan kualitas sumberdaya manusia (SDM) bidang pertanian. Rendahnya tingkat pendidikan petani menyebabkan kemampuannya dalam menyerap informasi dan mengadopsi teknologi relatif sangat terbatas sehingga menghasilkan produk yang berkualitas rendah. Rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan petani berakibat pada rendahnya kemampuan petani dalam mengelola usahanya sehingga tidak dapat berkembang dengan baik dan rata-rata pendapatan menjadi rendah. Rendahnya soft skill (kemampuan petani dalam bekerja sama dan kurangnya motivasi untuk meningkatkan mutu/nilai tambah produk yang dihasilkannya) mendorong rendahnya kinerja pembangunan pertanian secara keseluruhan (Awang, 2008).

Pada tingkat penyuluh, ketersediaannya di lapangan juga sangat terbatas jumlah dan kualitasnya. Selain kemampuan dasar yang masih rendah, sebagian besar penyuluh juga belum memiliki kapasitas technical skill,social skill, dan

(23)

pola kemitraan adalah yang sudah dibina oleh pemerintah sementara petugas pembina (penyuluh) kurang memadai dan perlunya penyediaan sarana transportasi oleh pemerintah lokal (Purnaningsih, 2006).

Adapun di tingkat pengambil kebijakan, masih banyak instansi daerah yang belum mampu memetakan sumberdaya pertanian di daerah secara komprehensif dan memiliki kecermatan dalam membuat konsep pemanfaatannya. Keperluan SDM pertanian yang berkualitas, khususnya yang mampu memahami karakter pelaku pembangunan pertanian di lapangan (petani) menjadi sangat penting, dikarenakan arah pengembangan pertanian dalam konsep revitalisasi bersifat pendekatan partisipatif lokal. ”Think globally, act locally” (berpikir secara global dan bertindak sesuai dengan kondisi lokal) diharapkan dapat diimplementasikan oleh aparatur pertanian dalam menghadapi krisis ekonomi global. Bagi petani dengan kultur perdesaan dengan semangat gotong-royong dan kebersamaan hidup yang kuat, interaksi yang sangat dekat satu dengan yang lain dalam wilayah tertentu, dengan struktur yang tidak terdiferensiasi secara tajam dituntut membentuk kelembagaan kelompok usaha bersama, misalnya kelompok tani, dan/atau koperasi (Purnaningsih, 2006).

Pada tataran mikro, sumberdaya manusia memerlukan proses pembelajaran berkesinambungan. Belajar harus diintegrasikan ke dalam suatu pekerjaan sebagai bagian dan paket kerja harian, budaya belajar juga mengandung makna bahwa setiap individu pelaku pembangunan pertanian harus selalu memiliki daya tanggap dan keterampilan tinggi (technical skill, social skill dan managerial skill) terhadap setiap fenomena perekonomian yang ada. Dengan demikian, tidak harus kelimpungan dan panik berlebihan menghadapi setiap guncangan eksternal yang ada, seperti krisis moneter global sekarang ini (Mangkuprawira, 2008).

Rendahnya kapasitas technical skill, social skill, dan managerial skill

(24)

skill yang dimaksud ialah kemampuan SDM pertanian, teknik budidaya pertanian, membangun jiwa kewirausahaan, dalam berkomunikasi, kerjasama, dan kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan strategis di semua bidang pembangunan pertanian, kemampuan mengelola wirausaha pertanian sayuran agar berkelanjutan dan terus meningkat.

Salah satu bentuk technical skill, social skill, dan managerial skill yang mempunyai potensi berkembang dan mampu bersaing bagi para petani dan pengusaha tani di Indonesia adalah technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan. Dengan pengembangan technical skill, social skill, dan

managerial skill kewirausahaannya, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, pendapatan, kemandirian yang pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia.

Pembangunan pertanian di Indonesia dalam menghadapi krisis multi dimensi masih menghadapi beberapa hambatan yang salah satunya adalah belum berperan aktifnya petani dalam mengakses informasi sebagai akibat dari belum efektifnya proses komunikasi antara petani dan penyuluh sebagai sumber informasi pemerintah. Oleh karena itu, agar sektor pertanian semakin kuat dalam menghadapi krisis ekonomi global, diperlukan pola komunikasi untuk mendukung peningkatan kapasitas technical skill, social skill dan managerial skill kewirausahaan sebagai salah satu bentuk peningkatan kapasitas sumberdaya manusia pertanian yang diharapkan nantinya mampu memberdayakan petani dan mau berperan aktif di setiap lini pembangunan pertanian.

Berdasarkan data ICDF Taiwan (2011), dari kerjasama pendampingan oleh misi teknik Taiwan di Indonesia dengan Kementerian Pertanian dari lima jenis usaha budidaya: perikanan, peternakan, sayuran dan buah-buahan ternyata

trend perdagangan yang mempunyai kecenderungan bertahan di pasar dan

(25)

Kebanyakan petani di Indonesia kurang memahami kewirausahaan petani. Di dalam memperkenalkan kewirausahaan petani diperlukan konsep untuk mengembangkan kedinamisan berpikir dan bertindak, berani mengambil resiko dan rasa percaya diri. Pengembangan kewirausahaan petani sayuran telah dimulai yayasan misi teknik Taiwan dengan memberikan bimbingan teknik budidaya pertanian, penyediaan sarana produksi tani dan memasarkan hasil panen.

Masalah

Berdasarkan uraian di atas, muncul beberapa persoalan aktual yang dapat dirumuskan sebagai masalah penelitian di antaranya adalah:

1. Sejauhmana pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik Taiwan di Indonesia dipengaruhi oleh dinamika sosial, lingkungan fisik dan lingkungan sosial ekonomi?

2. Faktor mana sajakah yang berpengaruh terhadap pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor?

3. Bagaimana pola komunikasi yang efektif bagi pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor?

Tujuan

Secara umum penelitian ini bertujuan menganalisis proses yang terjadi pada pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran mempengaruhi efektivitas peningkatan technical skill, social skill dan managerial skill kewirausahaan petani sayuran. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk menganalisis pengaruh-pengaruh dari faktor karakteristik petani dinamika sosial, lingkungan fisik, dan lingkungan sosial ekonomi terhadap pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor.

(26)

3. Untuk merumuskan pola komunikasi yang efektif bagi upaya pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran pada misi teknik Taiwan di Kabupaten Boyolali dan Bogor.

Kegunaan

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rumusan pola komunikasi dalam mengembangkan technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaan petani sayuran di kabupaten Boyolali dan kabupaten Bogor yang akhirnya berguna bagi berbagai kalangan sebagai berikut:

1) Kalangan praktisi, yaitu petani dan pengusaha tani agar dapat berkembang kapasitas technical skill, social skill, dan managerial skill kewirausahaannya dalam rangka meningkatkan kesiapan/kapasitas petani meningkatkan daya saing produk baik kualitas maupun kuantitas untuk menghadapi perdagangan bebas pada globalisasi ekonomi ke depan.

2) Bagi kalangan birokrat, yaitu para pejabat pengambil keputusan pembangunan pertanian dan perdesaan di Indonesia, aparat pelaksana kebijakan, maupun para pengawas pelaksanaan kebijakan di lapangan sehingga dari sisi manajemen dapat diambil langkah-langkah antisipasi yang cepat, akurat dan tepat, dengan kata lain efektif dan efisien.

3) Bagi kalangan akademisi, akan berguna untuk mengembangkan dan menyempurnakan konsep pola komunikasi dalam pengembangan kapasitas kewirausahaan dalam konteks komunikasi pembangunan pertanian ke depan agar lebih bermanfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi.

Hasil Penelitian yang Telah Dilakukan

Pendekatan modernisasi yang dilakukan oleh Rogers 1985 disebut sebagai paradigma dominan, media masa ditempatkan sebagai alat untuk mencapai tujuan nasional yang mempunyai kekuatan mempengaruhi individu untuk bertindak dan berpikir secara modern selanjutnya pandangan tersebut disangkal oleh ahli-ahli teori ketergantungan dari Amerika Latin yang memandang bahwa struktur global kapitalisme yang menindas individu, kelompok ataupun masyarakat marjinal, terutama masyarakat petani di negara-negara berkembang (Slamet, 2003).

(27)

bersifat partisipatori dan memberdayakan dengan pergeseran perhatian dari level analisis pembangunan di tingkat nasional ke tingkat lokal dengan fokus kekuatan komunitas dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah (Rogers & Kincaid, 1981). Lebih jauh, belakangan ini para ahli komunikasi pembangunan memberi tempat pada gerakan sosial untuk melengkapi pendekatan partisipatori komunikasi pembangunan yang lebih menekankan kemampuan komunitas marginal, dan menjadikan sasaran pembangunan sebagai subyek pembangunan (Slamet, 2003).

Mengikuti pengkategorian Melkote (2002), pendekatan komunikasi pembangunan dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yakni kelompok paradigma dominan (modernisasi) dan paradigma alternatif (pemberdayaan).

Teori Difusi dan Inovasi (Diffusion of Innovation Theory) dari Rogers yang berkembang tahun 1970an mempunyai anggapan bahwa pembangunan terjadi melalui penyebaran (difusi) inovasi dari agen pembangunan ke luar sistem sosial di tingkat lokal melalui berbagai saluran (media massa, interpesonal, kelompok dan lain-lain) kepada anggota-anggota sistem sosial dalam kurun waktu tertentu. Perubahan perilaku di tingkat individu melalui proses adopsi inovasi diakhiri dengan keputusan menerima atau menolak (Sarwititi, 2005).

Penyuluh atau pendamping atau fasilitator pemberdaya masyarakat pada dasarnya adalah salah satu pelaku utama komunikasi pembangunan. Beberapa penelitian disertasi di beberapa tempat menunjukkan bahwa kompetensi penyuluh pada dekade awal abad 21 terkait dengan tuntutan pembangunan saat itu, dinilai masih rendah (Sumardjo, 2008). Hal ini dapat dilihat pada hasil penelitian (disertasi) Jelamu (2007) di Nusa Tenggara Timur, Bambang Gatut (2008) di Jawa Barat, serta hasil penelitian behavioral penyuluh lainnya yaitu Herman Subagio (2008) tentang kapasitas petani di Jawa Timur.

(28)

berupa model atau pola komunikasi dengan melalui pendampingan anggota kelompok tani.

Konsep pola komunikasi berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi komunikasi dan sarana komunikasi serta beberapa kondisi yang terjadi di masyarakat di antaranya faktor sosial ekonomi, lingkungan fisik, dinamika sosial masyarakat, dan tidak kalah pentingnya adalah faktor karakteristik pengguna komunikasi. Untuk mendapatkan konsep pola komunikasi yang berkontribusi pada pengembangan kapasitas kewirausahaan, termasuk faktor-faktor yang diduga berhubungan dengan kedua peubah dependen: pola komunikasi dan pengembangan kapasitas kewirausahaan, berikut beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan hal tersebut, di antaranya:

1. Afrina S. et al., (2010) mengenai Pengaruh Pola Komunikasi Keluarga dalam Fungsi Sosialisasi Keluarga terhadap Perkembangan Anak di Kota Bekasi, dengan metode kuantitatif survei deskriptif ex post facto. Temuannya menyebutkan bahwa perkembangan anak dipengaruhi secara nyata oleh pola komunikasi keluarga, dan secara bersamaan dipengaruhi oleh variabel bentuk komunikasi verbal dan nonverbal yang digunakan orang tua saat berkomunikasi dengan anak mereka.

2. Retnowati et al., (2008) dalam penelitiannya yang berjudul Pola Komunikasi Orangtua Tunggal dalam Membentuk Kemandirian Anak (Kasus di Kota Yogyakarta), menemukan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara karakteristik personal dan perilaku komunikasi dengan pola komunikasi, dan ketiga peubah tersebut beberapa indikatornya juga menunjukkan korelasi signifikasi dengan kemandirian anak sebagai peubah dependennya.

3. Hedge (2005) pada penelitian surveinya tentang Entrepreneurs Experiences in Agriculture, Presented at the VII Agricultural Science Congress at the College of

Agriculture, menyatakan beberapa faktor-faktor internal dan eksternal petani responden turut mempengaruhi perilaku berwirausahatani mereka. Pengalaman berwirausahatani dalam studi kuantitatifnya malah menunjukkan hubungan yang sangat nyata dengan kewirausahaan petani tersebut.

(29)

In Dutch with English summary, menyimpulkan Dinamika sosial petani di Belanda dan Inggris, dan Kewirausahaan tani berpengaruh terhadap interaksi sosial di kalangan petani.

5. Rusmini Suryadi (2000) mengenai hubungan Karakteristik dengan Persepsi Dari Penyuluh dan Petani Kecil tentang Kendala Berkomunikasi (Kasus Kabupaten Bogor). Temuan penelitiannya dengan desain survei bersifat deskriptif korelasional menyatakan, bahwa faktor utama yang menyebabkan kendala komunikasi berdasarkan persepsi Penyuluh adalah faktor motivasi bekerjasama antara Penyuluh dengan PNK (petani-nelayan kecil), sedangkan berdasarkan persepsi PNK adalah faktor kurangnya kesempatan berkomunikasi PNK dengan Penyuluh. Persepsi penyuluh dan PNK terhadap faktor kendala komunikasi tidak seluruhnya berhubungan nyata dengan karakteristik penyuluh dan PNK. Karakteristik Penyuluh yang berpengaruh terhadap persepsinya tetang kendala berkomunikasi dengan PNK adalah masa kerja dan tingkat keterdedahan pada media massa. Adapun karakteristik PNK yang berpengaruh terhadap persepsinya tentang kendala berkomunikasi dengan penyuluh adalah umur dan tingkat pendidikan non-formal.

6. Smit (Bokelman, 2004) dalam studinya Changing External Conditions Require High Levels of Entrepreneurship in Agriculture, menyimpulkan bahwa banyak faktror eksternal yang turut berperan dalam rangka pengembangan kewirausahaan petani, termasuk didalamnya faktor lingkungan dan sosial ekonomi petani, dan lingkungan fisik petani.

7. Saleh dan Rosihan (2011) dalam studi berjudul Efektivitas Komunikasi Kelompok Tani dalam Mewujudkan Keberdayaan Petani di Aceh Singkil menyimpulkan, bahwa hubungan karakteristik petani (umur, pendidikan formal, dan kekosmopolitan), faktor eksternal dan komunikasi kelompok (dinamikasi sosial) berhubungan nyata dengan beberapa indikator efektivitas komunikasi kelompok tani di Aceh Singkil.

(30)

pola komunikasi yang dapat membentuk kemandirian tidak selalu berbentuk linier (monologik), interaksi dan transaksi (dialogik). Sehingga hasilnya bisa berbeda-beda sangat tergantung pada pola komunikasi yang digunakan . Dalam perkembangannya penggunaan pola komunikasi interaksi dan traksaksi (dialogik) lebih dominan dibandingkan pola komunikasi linier, dengan kata lain komunikasi dua arah (dialogik) lebih tepat digunakan dalam membentuk kemandirian. Dengan mempelajari beberapa tulisan diatas terinspirasi untuk membangun penelitian pola komunikasi pada pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sayuran.

Pada penelitian terdahulu yang relevan dengan kewirausahaan adalah : aspek–aspek ; etos kerja yang tinggi, menghargai waktu, berani mengambil resiko, sinerji bekerjasama secara berjamaah, sistem pemasaran yang pasti, teknik pengemasan yang baik agar produknya awet. Hal ini bisa dilihat dari nilai kewirausahaan yang dikembangkan setidaknya memiliki niat/ motivasi yang gigih, tujuan usahanya tidak jangka pendek tetapi berorientasi ke depan dan yang terakhir dengan cara atau metode/ teknik yang tepat.

Sebagai salah satu pelaku utama komunikasi pembangunan petani perlu mengetahui lebih jauh tentang pola komunikasi yang dilakukan, seperti pola komunikasi monologik, dialogik yang bersifat interaksional, transaksional dan konvergen, dari sisi pengembangan kapasitas kewirausahaan petani perlu mengetahui lebih jauh tentang technical, social dan managerial skill, yang bisa ditingkatkan melalui pendekatan kognitif, afectif dan psychomotoric. Lebih lanjut banyak faktor yang mempengaruhi pola komunikasi pada pengembangan kapasitas kewirausahaan petani tersebut di antaranya sebagai faktor dominan adalah lingkungan fisik, dinamika sosial, karakteristik petani, lingkungan sosial ekonomi. Semua faktor-faktor tersebut di atas diharapkan mampu mewujudkan keberdayaan petani melalui pola komunikasi yang efektif dan pengembangan kapasitas kewirausahaan petani

Novelty

(31)

1. Adanya pengetahuan membangun kesadaran untuk berwirausaha bagi petani melalui pendekatan pola komunikasi yang efektif.

2. Pengembangan kapasitas kewirausahaan petani sebagai upaya menuju keberdayaan Petani.

3. Kontribusi atas pemahaman secara ilmiah, bagaimana memberdayakan dan menggalang partisipasi petani di seluruh Indonesia untuk berwirausahatani.

(32)
(33)

13

TINJAUAN PUSTAKA Teori Inovasi Pertanian

Dalam komunikasi pembangunan pertanian, message atau pesannya haruslah berupa teknologi pertanian. Teknologi pertanian adalah segala sesuatu yang dihasilkan melalui kegiatan penelitian dan pengkajian pertanian untuk membantu pengembangan pertanian secara umum (Dilla, 2007). Secara umum teknologi (inovasi) pertanian dapat berupa produk (varietas benih), pengetahuan (knowledge) maupun alat dan mesin pertanian. Ketiga jenis teknologi pertanian ini memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga membutuhkan penanganan strategi penyampaiannya kepada petani dengan tahapan dan teknik yang berbeda pula (IRRI, 1998 dalam Dilla, 2007).

Menurut Rogers (2003), inovasi adalah gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subyektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang, maka ide tersebut adalah inovasi untuk orang tersebut. Konsep ’baru’ dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali. Secara umum, dalam konsep teori difusi inovasi, terdapat lima karakteristik inovasi yang dapat mempengaruhi tingkat adopsi seseorang secara individu, yaitu: (1) Relative advantage (keuntungan relatif), (2) Compatibility (kesesuaian), (3)

Complexity (kerumitan), (4) Trialability (kemungkinan dicoba), dan (5)

Observability (kemungkinan diamati). Kekurang-ajekan dalam mengukur tingkat kerumitan suatu inovasi, dikritisi oleh Leeuwiss (2004) dengan mengganti indikator tersebut dengan less complexity. Berikut ulasan lebih detil tentang kelima ciri inovasi tersebut.

Relative advantage adalah derajat dimana inovasi dirasakan lebih baik daripada ide lain yang menggantikannya. Derajat keuntungan tersebut dapat diukur secara ekonomis, tetapi faktor prestise sosial, kenyamanan dan kepuasan juga merupakan faktor penting. Semakin besar keuntungan relatif inovasi yang dapat dirasakan, tingkat adopsi inovasi juga akan menjadi lebih cepat.

(34)

dengan nilai-nilai dan norma sistem sosial tidak akan diadopsi secara cepat sebagaimana inovasi yang sesuai.

Less complexity adalah derajat kemudahan inovasi untuk dipahami dan digunakan. Ide-ide baru yang lebih sederhana untuk dipahami akan lebih cepat diadopsi daripada inovasi yang mengharuskan adopter mengembangkan keahlian dan pemahaman baru.

Trialability adalah derajat kemudahan inovasi untuk dicoba pada keadaan sumber daya yang terbatas. Ide-ide baru yang dapat dicoba pada sebagian tahapan penanaman secara umum akan lebih mudah dan cepat diadopsi daripada inovasi yang tidak dapat diuji-cobakan dalam skala yang lebih kecil.

Observability adalah derajat kemudahan inovasi untuk dilihat dan disaksikan hasilnya oleh orang lain. Kemudahan dalam melihat hasil inovasi oleh seseorang akan memudahkannya dalam mengadopsi inovasi.

Difusi Inovasi dan Proses Pengambilan Keputusan Inovasi Pertanian Teori utama yang mendasari penelitian survai ini adalah teori difusi inovasi Rogers (2003) tentang proses pengambilan keputusan inovasi pertanian, yang beberapa kasus sudah digunakan oleh misi teknik Taiwan di Indonesia yang merupakan suatu konsep dan fenomena sosial sehingga perlu merumuskan hubungan antar konsep yang sudah dibangun dan meneliti saluran-saluran komunikasi dari tahap knowledge, persuation, decision, implementation sampai confirmation.

Menurut Rogers (2003) pada kondisi-kondisi awal ada empat peubah yang mempengaruhi, yaitu praktek kegiatan sebelumnya, kebutuhan yang dirasakan/masalah-masalah yang dihadapi, kebaharuan/ide-ide yang baru, dan norma sistem sosial.

(35)

ation-decisions. Pilihan untuk mengadopsi atau dilakukan oleh seseorang secara bebas terha

dalam sebuah sistem sosial. Dalam kasus ungkinan dipengaruhi oleh norma dan jaringan kom

nnovation-decisions. Pilihan untuk mengadops yang dilakukan oleh konsensus antara anggot . Seluruh unit dalam sistem sosial bi terhadap keputusan yang dibuat oleh sistem sos

nnovation-decisions. Pilihan untuk mengadopsi yang dilakukan oleh beberapa orang yang rel ang memiliki kekuasaan, status atau keahlian te usan inovasi adalah proses yang dilakukan oleh putusan lainnya mulai dari pencarian informasi a

n sikap terhadap inovasi, pembuatan ke menolak, penerapan ide baru, dan konfi udah diambil. Rogers (2003) menggambarkan

erjadi dalam lima tahapan (Gambar 1).

ahapan proses keputusan inovasi (Rogers, 2003)

u komunikasi Persepsi mengenai karakteristik inovasi:

(36)

pengambil keputusan lainnya diterpa informasi mengenai keberadaan sebuah inovasi dan memperoleh pemahaman mengenai bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Tahap kedua, bujukan (persuation) terjadi pada saat seseorang atau pengambil keputusan lainnya merasakan kenyamanan atau ketidaknyamanan terhadap inovasi. Tahap ketiga, keputusan (decisions) terjadi pada saat seseorang atau pengambil keputusan lainnya melakukan kegiatan yang mengarah pada sebuah pilihan untuk mengadopsi atau menolak inovasi. Tahap keempat, penggunaan (implementation) terjadi pada saat seseorang atau pengambil keputusan lainnya menentukan untuk menggunakan ide baru tersebut. Tahap yang kelima, konfirmasi (confirmation) terjadi pada saat seseorang atau pengambil keputusan mencari penegasan kembali terhadap keputusan inovasi yang telah dibuat yang kemungkinannya dapat mengubah keputusan yang telah dibuat jika diterpa informasi yang berlawanan terhadap inovasi.

Hasil review teori difusi inovasi Roger tersebut menyatakan bahwa dalam proses introduksi teknologi, teori difusi inovasi secara khusus dapat mempengaruhinya dalam tiga proses. Pertama, mengingat adopsi merupakan hal yang kompleks, maka proses pembangunan sosial merupakan hal yang pertama harus dilakukan. Kedua, setiap individu memiliki persepsi yang berbeda-beda berkaitan dengan teknologi yang dapat mempengaruhi proses adopsi. Ketiga/terakhir, keberhasilan pelaksanaan adopsi teknologi harus memperhatikan dengan serius berbagai hal yang berkaitan dengan aspek kognitif, emosi dan konteks.

Sumberdaya Manusia Pertanian

Sumberdaya Manusia adalah kekayaan lembaga/institusi yang menjadi faktor penentu keberhasilan aktivitas lembaga. Program yang cemerlang atau sarana prasarana yang canggih tidak akan memberikan manfaat yang berarti bagi lembaga apabila tidak didukung oleh ketersediaan SDM yang berkualitas. Sebagai manusia, SDM memiliki pikiran, perasaan dan perilaku tertentu yang melandasi motivasi, sikap, loyalitas, pemahaman peran, komitmen, dan kepuasannya dalam bekerja (Istijanto, 2008).

(37)

Dengan demikian, salah satu subsistem yang terpenting dari pembangunan pertanian adalah "manusia pertanian" (SDM pertanian), sebagai pelaku utama pembangunan, yang merupakan motor penggerak sekaligus pelaksana kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian dan perdesaan. Sumberdaya manusia pertanian secara umum terdiri atas aparatur pemerintah dan masyarakat tani. Termasuk dalam jajaran aparatur pemerintah untuk SDM pertanian adalah dari pengambil kebijakan level menteri sampai kepada petugas lapangan yaitu para penyuluh pertanian. Adapun masyarakat tani adalah petani dan keluarganya (Deptan, 2005).

Aparatur pertanian dipandang bukan hanya sebagai tenaga kerja, tetapi sebagai SDM yang menempatkan aparatur pertanian sebagai manusia seutuhnya yaitu mahluk ciptaan Allah SWT yang ditakdirkan menjadi khafilah di bumi ini. SDM adalah konsep manusia sebagai subyek atau pelaku di muka bumi atau manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Dengan konsep ini manusia diharapkan memiliki ilmu dan bermartabat tinggi. Jadi pada hakekatnya pengembangan SDM termasuk menuntut ilmu adalah diwajibkan bagi setiap manusia manakala ingin menjadi manusia seutuhnya atau subyek di muka bumi ini. Secara garis besar ada dua jenis SDM pertanian yaitu: (1) SDM yang bekerja di sektor pertanian dan (2) aparatur pertanian yang melayani mereka.

Aparatur atau SDM pertanian diharapkan dapat menjadi fasilitator, motivator dan dinamisator pembangunan pertanian agar terjadi gerakan pembangunan pertanian oleh petani, pengusaha pertanian dan pedagang pertanian sebagai subyek dalam pembangunan pertanian itu sendiri. Secara status, aparatur pertanian dibedakan menjadi dua. Pertama, aparatur Departemen Pertanian Pusat yang secara hierarkis dan pembinaan karirnya berada langsung di bawah tanggung jawab dan kewenangan Departemen Pertanian. Kedua, aparatur pertanian daerah, yang secara administrasi dan pembinaan karir sepenuhnya tanggung jawab dan kewenangan pemerintah daerah. Departemen Pertanian berkewajiban hanya dalam pembinaan kemampuan teknis aparatur pertanian daerah.

(38)

misi pembangunan pertanian di antaranya adalah mewujudkan birokrat yang profesional dan memiliki integritas moral yang tinggi. Oleh karena itu, baik dalam pembinaan maupun perekrutan sumberdaya pertanian Departemen Pertanian sebagai aparatur pemerintah diarahkan tidak hanya pada kecerdasan intelektualitas, namun juga kecerdasan emosional dan spiritual.

Pemberdayaan Petani

Pendekatan pemberdayaan banyak digunakan dalam pengorganisasian komunitas, pendidikan dan psikologi komunitas. Oleh karena itu, pemberdayaan dapat diartikan dalam banyak hal dan dapat diamati pada berbagai level yakni individual, organisasi dan komunitas. Di tingkat komunitas pemberdayaan berarti proses peningkatan kontrol kelompok-kelompok terhadap konsekuensi-konsekuensi yang penting bagi anggota kelompok dan orang lain dalam komunitas yang lebih luas (Fawcett et al., 1984 dalam Melkote, 2002). Di tingkat individu, Rappaport (1987) dalam Melkote (2002) mendefinisikan pemberdayaan sebagai “perasaan psikologis berkenaan dengan pengendalian atau pengaruh pribadi dan kepedulian terhadap pengaruh sosial yang aktual, kekuasaan politis, hukum legal.” Isu pemberdayaan dalam pembangunan selama ini, lebih banyak diatasi di tingkat individu daripada di tingkat kelompok atau komunitas.

Mengingat penyuluh/pemberdaya masyarakat sebagai pelaku utama dalam komunikasi pembangunan harus mampu beradaptasi dengan lingkungan wilayah kerjanya, maka budaya organisasi yang jelas perlu dikembangkan, misalnya menjunjung nilai (value) berkomunikasi secara asertif, dialogis dan konvergen; mengemban tugasnya secara seimbang, adil dan beradab; berpikir/berorientasi global dalam mengelola sumberdaya lokal; hari esok harus lebih baik dari hari ini, dan sebagainya.

(39)

Kompetensi diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan, yang didasari oleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan unjuk kerja yang ditetapkan (standar). Pengertian ini sejalan dengan Gilley dan Enggland (1989) yang menyatakan bahwa kompetensi merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang, sehingga yang bersangkutan dapat menyelesaikan tugasnya. Spencer dan Spencer (1993) menyatakan bahwa kompetensi itu harus ada “Kriteria Pembanding” (criterion reference) untuk membuktikan bahwa sebuah elemen kompetensi mempengaruhi baik atau buruknya kinerja seseorang. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa kompetensi merupakan karakteristik dasar seseorang yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak, membuat generalisasi terhadap segala situasi yang dihadapi, serta bertahan cukup lama dalam diri manusia.

Kebutuhan kompetensi bagi penyuluh/pemberdaya setidaknya disusun berdasarkan dua hal, yaitu: (1) kebutuhan pembangunan masyarakat, dan (2) kebutuhan kompetensi berdasarkan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pendamping/ penyuluh/fasilitator pemberdaya masyarakat.

Pengertian Kewirausahaan

Kewirausahaan adalah usaha kreatif yang dibangun berdasarkan inovasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru, memiliki nilai tambah, memberi manfaat, menciptakan lapangan pekerjaan, dan hasilnya berguna bagi orang lain (Soegoto,2009).

Adapun kewirausahaan menurut instruksi Presiden RI Nomor 4 Tahun 1995 adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi atau memperoleh keuntungan lebih besar (Sekneg, 1995). Wira, berarti: utama, gagah, berani, luhur, teladan, ksatria atau pejuang, Swa berarti: sendiri, Sta adalah: berdiri. Kalau digabungkan maka wiraswasta berarti sifat-sifat keberanian, keutamaan dan keteladanan dalam mengambil resiko yang bersumber pada kemampuan diri sendiri.

(40)

menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Namun dengan sikap wira, maka seorang wirausahawan akan melakukan usahanya dengan penuh kehormatan. Seseorang yang memiliki sikap mental wirausaha adalah gambaran seorang yang ideal karena kemampuannya mengejawantahkan sikap wira dalam pemenuhan kebutuhan dan kehidupannya. Kewirausahaan sesungguhnya mencakup beberapa unsur penting yang satu dengan lainnya saling terkait dan tidak lepas dalam kehidupan sehari-hari, yaitu: 1. Unsur kognitif (daya pikir)

2. Unsur psikomotorik (keterampilan) 3. Unsur afektif (sikap mental)

4. Unsur intuitif (kewaspadaan).

Keberhasilan hanya akan tercapai apabila pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental positif dilebur menjadi satu. Banyak pengusaha menyatakan bahwa keberhasilannya dalam dunia bisnis adalah karena kuatnya daya intuisinya. Satu hal yang tidak dapat diajarkan adalah passion, seperti bagaimana Wayne Huizenga mengendarai truk sampah ketika mengawali bisnis Waste Management

(Soesarsono, 1996).

(Dinsi, 2004) dalam bukunya Jangan Mau Seumur Hidup Menjadi Orang Gajian, yang mengajarkan untuk melawan kebiasaan tradisional yang sudah mapan di dalam pikiran kita serta mengubah paradigma lama yakni setelah kita lulus bekerja sebagai pegawai seumur hidup berubah menjadi paradigma baru yaitu menjadi seorang wirausahawan. Demikian juga Zimmere dan Scarborough (2002) menyebut seorang pencipta kerja atau seorang wirausahawan sebagai seorang pahlawan.

Bill Gates, pendiri Microsoft yang menjadi orang terkaya kedua di dunia adalah mahasiswa yang drop out dari Harvard University bahwa dalam banyak hal seorang entrepreneur mengandalkan intuisinya dalam mengambil keputusan, namun bukan berarti pembenaran meninggalkan pendidikan. Intuisi muncul berkat tempaan pengalaman, sedangkan salah satu sumber pengalaman adalah pendidikan (Harera & Siadari, 2007).

(41)

dari jumlah penduduk, contoh negara Singapura tahun 2005 memiliki jumlah

entrepreneur 7,2% dari jumlah penduduknya. Pendidikan kewirausahaan memiliki peranan penting dalam mengembangkan karakter positif secara pribadi dan juga menanamkam nilai kebaikan universal dalam masyarakat. Peranan tersebut di antaranya adalah:

1. Menstimulasi kompetensi wirausaha, meliputi mengambil inisiatif, menjadi pro-aktif, menghadapi resiko dan implementasi ide.

2. Menstimulasi kompentensi manajemen, meliputi perencanaan, pengambilan keputusan, komunikasi dan mengambil tanggung jawab.

3. Menstimulasi kompetensi sosial, meliputi kerjasama, membangun jejaring, melaksanakan peran baru.

4. Menstimulasi kompetensi perseorangan, meliputi percaya diri, motivasi untuk berprestasi, berpikir kritis dan belajar mandiri.

Pada puluhan tahun lalu pendapat yang diyakini adalah bahwa kewirausahaan tidak dapat diajarkan, namun pada dekade terakhir ini kewirausahaan telah diajarkan di sebagian dunia dan seluruh perguruan tinggi dunia. Pertumbuhan wirausahawan ini membawa peningkatan ekonomi yang luar biasa, mereka telah memperkaya pasar dengan berbagai produk berupa barang jasa yang kreatif dan inovatif (Saiman, 2009).

Pelaku Wirausaha

Richard Cantillon (1755) dalam (Harera & Siadari, 2007) yang dianggap sebagai pencetus istilah entrepreneur menyebutkan inti dari kegiatan entrepreneur

adalah menanggung resiko. Menurut Cantillon, entrepreneur adalah mereka yang membayar harga tertentu untuk produk tertentu untuk kemudian menjualnya dengan harga tidak pasti, sambil membuat keputusan-keputusan tentang upaya mencapai dan memanfaatkan sumberdaya-sumberdaya, dan menerima resiko berusaha. Artinya, tidak ada jaminan esok hari akan memperoleh keuntungan. Oleh sebab itu Cantillon mengatakan bahwa entrepreneur adalah a self-emplayed person with uncertain return.

Jean-Babtiste (1810) dalam (Harera & Siadari, 2007) menyatakan bahwa

(42)

bergeraknya segala sesuatu. Di tangan seorang entrepreneur, sesuatu yang masih bersifat abstrak, bisa diwujudkan menjadi sesuatu yang dinikmati orang banyak.

Scumpeter (1942) dalam Harera dan Siadari (2007) mendefinisikan

entrepreneur sebagai seorang innovator yang kreatif . Sebagai seorang yang kreatif mereka dilihat sebagai seorang yang menyimpang secara sosial. Menyimpang karena memilih cara yang berbeda dengan orang kebanyakan, Ketika orang kebanyakan ingin menjadi pekerja di perusahaaan besar, seorang

entrepreneur justru memilih mendirikan bisnisnya sendiri. Mereka ingin berkarya dan menghasilkan yang terbaik. Mereka adalah orang-orang yang menyimpang dalam arti positif, a creative innovator (Harera & Siadari, 2007).

Menurut Longenecker et al., (2000), entrepreneur adalah seorang yang memulai atau mengoperasikan sebuah bisnis. Menurut Zimmere dan Scarborough (2002), entrepreneur adalah seorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dengan mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber- daya yang diperlukan untuk mendirikannya.

Adapun terminologi kewirausahaan menurut Hisrich, et al., (2008) adalah proses dinamis atas penciptaan tambahan kekayaan. Kekayaan diciptakan oleh individu yang berani mengambil resiko utama dalam hal modal, waktu, dan atau komitmen karier atau menyediakan nilai untuk berbagai barang dan jasa. Secara ringkas, kewirausahaan berarti proses penciptaan sesuatu yang baru serta pengambilan resiko dan imbal hasil.

Zimmere dan Scarborough (2002) menjelaskan bahwa bagi seorang wirausahawan, pekerjaan mereka adalah kesenangan. Memang benar bahwa menjadi orang kaya kita memiliki peluang lebih besar untuk hidup bahagia dibandingkan kehidupan dalam kemiskinan.

Longenecker et al., (2000) menuturkan bahwa setiap orang tertarik pada wirausahawan karena adanya imbalan yang kuat. Imbalan kewirausahaan dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) kategori:

(43)

3. Kepuasan menjalani hidup, bebas dari rutinitas, kebosanan dan pekerjaan yang tidak menantang.

Kapasitas Kewirausahaan Petani Sayuran

Dari uraian di atas dalam meningkatan kapasitas kewirausahaan petani sayur setidaknya ada tiga syarat keahlihan yaitu: technical skill, social skill, dan

managerial skill. Pada pendampingan misi teknik Taiwan di Indonesia dalam rangka meningkatkan daya saing petani di Indonesia, kapasitas kewirausahaan dapat ditumbuhkembangkan dengan peningkatan technical skill dan soft skill

petani melalui pola komunikasi kelompok.

Pengertian soft skill dalam literatur pembangunan menurut Patrick (1996) dalam bukunya Making College Count, menyebutkan bahwa soft skill dapat dikategorikan ke dalam tujuh area yang disebut Winning Characteristics, yaitu:

communication skills (keahlian berkomunikasi), organizational skills (keahlian dalam berorganisasi), leadership (kepemimpinan), logic (logika), effort (daya upaya/karya), group skills (kemampuan berkelompok), dan ethics (etika). Soft skill merupakan kemampuan nonteknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) namun sangat diperlukan. Soft skills juga dapat didefinisikan sebagai: “a sociological term for a person's "EQ" (Emotional Intelligence Quotient), which

refers to the cluster of personality traits, social graces, communication, ability

with language, personal habits, friendliness, and optimism that mark each of us in

varying degrees.” (merupakan istilah sosiologi untuk kecerdasan emosional yang berhubungan dengan serangkaian dari sifat kepribadian, keluwesan sosial, komunikasi, kemampuan berbicara, kebiasaan pribadi, keramah-tamahan, dan optimisme yang menandakan diri kita berada dalam derajat yang beragam).

Terdapat enam komponen dalam soft skill menurut de Bono (2008), yaitu: (1) Interpersonal skills (keahlian interpersonal) terdiri atas: listening skill

(keahlian mendengarkan), assertion skill (keahlian menyatakan), dan

collaborative problem solving skill (keahlian pemecahan permasalahan secara kerja sama); (2) Team spirit (semangat untuk bekerja sama); (3) Social Grace

Figur

Gambar 2.  Model komunikasi konvergen (Rogers & Kincaid, 1981)
Gambar 2 Model komunikasi konvergen Rogers Kincaid 1981 . View in document p.52
Tabel 2. Penelitian awal tentang paradigma pola komunikasi
Tabel 2 Penelitian awal tentang paradigma pola komunikasi . View in document p.72
Gambar 4.    Kerangka berpikir pola komunikasi pada pengembangan
Gambar 4 Kerangka berpikir pola komunikasi pada pengembangan . View in document p.75
Tabel 6. Sebaran responden berdasarkan karakteristik petani sayuran di Kabupaten Boyolali dan Bogor (dalam persen)
Tabel 6 Sebaran responden berdasarkan karakteristik petani sayuran di Kabupaten Boyolali dan Bogor dalam persen . View in document p.104
Tabel 12.   Pengaruh peubah-peubah bebas terhadap peubah terikat pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran
Tabel 12 Pengaruh peubah peubah bebas terhadap peubah terikat pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran . View in document p.120
Tabel 13. Pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap pengembangan
Tabel 13 Pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap pengembangan . View in document p.124
Gambar 5. Model Jalur Pola Komunikasi Efektif pada Pengembangan
Gambar 5 Model Jalur Pola Komunikasi Efektif pada Pengembangan . View in document p.135
Tabel 14. Uji beda pola komunikasi monologik dan  dialogik                             antara Kabupaten Boyolali dengan Bogor
Tabel 14 Uji beda pola komunikasi monologik dan dialogik antara Kabupaten Boyolali dengan Bogor . View in document p.137
Gambar 2.  Model komunikasi konvergen (Rogers & Kincaid, 1981)
Gambar 2 Model komunikasi konvergen Rogers Kincaid 1981 . View in document p.230
Tabel 2. Penelitian awal tentang paradigma pola komunikasi
Tabel 2 Penelitian awal tentang paradigma pola komunikasi . View in document p.249
Gambar 4.    Kerangka berpikir pola komunikasi pada pengembangan
Gambar 4 Kerangka berpikir pola komunikasi pada pengembangan . View in document p.252
Tabel 6. Sebaran responden berdasarkan karakteristik petani sayuran di Kabupaten Boyolali dan Bogor (dalam persen)
Tabel 6 Sebaran responden berdasarkan karakteristik petani sayuran di Kabupaten Boyolali dan Bogor dalam persen . View in document p.281
Tabel 12.   Pengaruh peubah-peubah bebas terhadap peubah terikat pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran
Tabel 12 Pengaruh peubah peubah bebas terhadap peubah terikat pola komunikasi kewirausahaan petani sayuran . View in document p.297

Referensi

Memperbarui...