PT. INDOMILK
Oleh:
HAMID AH
NIM: 102070026000
Skripsi diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam
memperoleh gelar Sarjana Psikologi
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGEIRI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKA,RTA
Skripsi
Diajukan i<epada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat
memperoleh gelar Sarjana Psikologi
Oleh:
HAMID AH
NIM 102070026000
Di Bawah Bimbingan:
/
-p・ュ「ゥセセ@
LIANY L.UZVINDA.MSi
FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAHI
Skripsi yang berjudul HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG
SUPERVISOR DENGAN SIKAP KERJA KARYAWAN PT. INDOMILK te,lah
diajukan dalam munaqasyah Fakultas Psikolcgi Universitas Islam Negeri
Syarif hidayatullah Jakarta pada tanggal 31 Januari 2007. skripsi ini telah
diterima sebagai salah satu syarat untuk rr.emperoleh gel21r Sarjana
Psikologi.
Jakarta, 31 Januari 2007
Sidang Munaqasyah,
Dekan/
kap Anggota,
Anggota,
Ora. Nett artati
M.
Si.NIP:
150 2 5 938
Penguji ,
artati M. Si.
NIP: 150 15
938
Pembimbi g I,
Ora. adhilah Surala .
M.
SiNIP:
150 215 283
Anggota:
Pembantu Dekan/
Sekretaris Merangkap
Penguji II,
d・Nfゥセ[@
NIP: 150215
283
p・ュ「ゥュ「ゥイセ@
セセ@
/
akan membuatmu lebih berguna don bermanfaat untuk
dirimu, keluarga, masyarakat don agama.
Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kesanggupanya.
(Al-Baqarah 2: 286)
'l{arya setferfzana ini
'l{upersem6afzRg.n untuk.JanB tercinta tfan
tersayang
ayaliantfa (Vsmanu{Jlrifin) .cfan
i6untfa (SitiJlifiafz)
<Dan
rァNrァNセrァNrァNォLウ・イエ。@
atfi/?..;atfik,k,u
tersayang
(A) Fakultas Psikologi
(B) Januari 2007
(C) Hamidah
(D) Hubungan antara Persepsi Tentang Supervisor dengan Sikap Kerja
Karyawan PT. lndomilk
(E) Halaman xiv+ 74
(F) Supervisor adalah individu yang memiliki kemampuan mempengaruhi
tingkah laku orang lain dan menggunakan pengaruh tersebut untuk
merubah tingkah laku orang yang pendapat pengaruh tersebut. lni
berarti supervisor akan menggunakan orientasi pada berkembangnya
sikap kerja karyawan. Sikap kerja karyawan mencermi11kan pada
tingkat kepuasan, keterlibatan dan komitmen terhadap organisasi,
dimana sikap sebagai derajat efek positif atau efek negative.
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari secara empirik hubungan
Persepsi tentang supervisor dengan Sikap Kerja. Populasi dari
penelitian ini adalah karyawan bagian produksi PT.lndomilk. Teknik
sampling yang digunakan adalah sampel 1andom sampling (n
=
40).Adapun teknik pengumpulan data dengan menggunakatn 2 skala, yaitu
skala persepsi tentang supervisor dan skala sikap kerja.
Dari hasil perhitungan diketahui bahwa nilai r hitung sebesar 0,508
lebih besar dari r table 0,312 pada taraf signifikansi 5 %. Hal ini
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
persepsi tentang supervisor dengan sikap kerja karyaw.an PT. lndomilk.
(G) Daftar Pustaka 37 buah (1950 - 2005) + 2 Skripsi
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Yang berkuasa atas segala
sesuatu, syukur yang tak henti-hentinya atas segala nikmat yang telah
diberikan dan atas kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad :SAW,
keluarganya, sahabat dan para pengikutnya yang tetap istiqornah di
jalan-Nya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini tiaiak dapat
selesai tanpa adanya bimbingan dan dukungan yang penuh k'etulusan, baik
secara moril maupun materiil dari semua pihak oleh karena itu dalam
kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
I. Dekan Fakultas Psikologi, lbu Hj. Ora. Netty Hartati, M. Si., lbu Hj. Ora.
Zahrotun Nihayah, M. Si. Pembantu dekan I bagian akademik, dan
seluruh dosen serta staf Fakultas. Terima kasih atas ilmunya, bimbingan
dan motivasi yang dengan tulus ikhlas diberikan kepada ーセイョオャゥウ@ dari mulai
semester I hingga selesai skripsi ini.
2. lbu Hj.Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si. Dasen pembimbing 。セZ。、・ュゥォN@ Terima
kasih atas bimbingan dan fasilitas yang diberikan selama penulisan skripsi
ini dan Bapak Asep Haerul Ghani, Psi. atas motivasi yang diberikan
kepada penulis.
3. lbu Ora. Fadhitah Suralaga, M. Si. Pembimbing I dan lbu Liany Luzvinda,
M. Si, selaku pembimbing II, yang sudah banyak meluangkan waktunya
untuk membimbing dan memberi arahan serta motivasi sellingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.
dan mengarungi kehidupan, lbu Bapak saya mencintaimu, saya akan
membahagiakanmu dan memberikan yang terbaik untukmu. Terima kasih, ya
Allah lindungilah dan sayangilah kedua orangtuaku, Amin.
Kakak-kakak dan Adik-adikku yang tercinta kak lbah,kak Yati, kak Ahmad, kak
Udin, kak Akim, Mai, Zaki dan Hafiz yang selalu memberikan keceriaan dan
semangat pada penulis.
Pimpinan, staff dan seluruh karyawan bagian produksi PT. lndomilk. Terima
kasih alas l<esempatan yang diberikan l<epada penulis untuk rnengadakan
penelitian ini.
Teman-teman TLC ( Jamali, Andhie Kamaruzsaman, Yudhi Syarief, S.Psi dan
Ahmad Subekti Mubarak), Ahmad Gunawan, Muhtar Wahid, Jol<o Bagus
Setiawan, H. M. Sugandi, lta Puspitasari, Nenden Damayanti, Nurniawati,
Yatmi, Dedeh , Agustina, dan teman-teman angkatan 2002 lainnya, terima
kasih atas l<asih sayang dan kebersamaannya mari kita menuju l<esuksesan,
karena sukses adalah l<ewajian kita.
Semua teman sepekerjaan, yang tidak bisa disebutl<an satu persatu. Terima
l<asih atas kebersamaannya, tetap semangat!!
Sahabatku yang baik, lta, Holinda dan Rita , terima kasih atas referensi dan
sarannya.
Perpustakaan Fakultas Psil<ologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UPI YAI, dan
UI.
Rental computer Mas Agus , dan Mbah (Orion).
Sauradaku, l<elompol< KKL Duren Sawit dan adik-adikku yang tercinta di panti
menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
hirnya, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan saudaraku semua dan
1u yang ada bertambah serta bermanfaat. Amin. Tidak ada yan!J sempurna di
nia ini, maka dengan senang hati penulis akan menerima kritik dan saran yang
rsifat membangun demi sempurnanya skripsi ini. Semoga karya sederhana ini
rmanfaat.
Jakarta, 31 Januari 2007
A.LAMAN PERSETUJUAN ... .
; ii
A.LAMAN PENGESAHAN ... . iii
OTTO ... . iv
EDIKASI ... . iv
BSTRAK ... . v
A.TA PENGANTAR ... .. vi
A.FTAR ISi ... . IX A.FT AR T ABEL. ... . xii
A.FTAR GAMBAR ... . xiii
A.FTAR LAMPIRAN ... .. xiv
A.81. PENDAHULUAN...
1-9
I. I. Latar Belakang Masalah .. .... .. .... .... ... ... ... 1セ@ 1.2. ldentifikasi Masalah ... .... ... .. .... ... .. .... .... .... ... ... .. .. ... .... . 6
1.3. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6
1.3.1. Pembatasan Masalah ... 6
1.3.2. Perumusan Masalah ... 8
1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
1.5. Sistematika Penulisan ... 9
1\8 2. KAJIAN PUST AKA... 10 - 37 2.1. Sikap Kerja Karyawan . .. . .. . .. .. . .. . .. .. . .. .. . .. .. .. .. . .. .. .. .. .. .. . .. .. . 10
2.1.1. Definisi Sikap Kerja .. .. .. ... ... ... .. .. .. ... .... .. ... 1 O 2.1.2. Faktor-faktor Sikap Kerja ... 12
2.1.3. Fungsi Sikap ... 17
2.1.4. Pembentukan Sikap... 19
2.2.3. Proses terjadinya Persepsi .. . ... ... ... ... .. ... 30
2.2.4. Definisi Supervisor ... . 31
2.2.5. Tugas-tugas dan Tanggung jawab Supervisor .... 32
2.2.6. Persepsi tentang Supervisor... 35
2.3. Kerangka Berfikir ... 36
2.4. Hipotesis ... . AB 3. METODOLOGI PENELITIAN... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. . ... ... . 38 - 52 3.1. Jenis Penelitian ... 38
3.1.1. Pendekatan Penelitian ... 38
3 .1.2. Metode Penelitian . . . .. . . .. . .. ... ... ... .. . ... .. 38
3.2. Variabel Penelitian ... ,,... 39
3.2.1. Definisi Variabel ... .. .. ... .. . .. . ... .. . ... ... ... 39
3.2.2. Definisi Operasional Variabel .... .. . ... ... . ... . .. . . . .. . . ... 39
3.3. Pengambilan Sampel ... 41
3.3.1. Populasi dan Sampel... 41
3.3.2. Teknik Pengambilan Sampel ... 42
3.4. Teknik Pengumpulan Data... 43
3.5. Hasil Uji lnstrumen Penelitian ... 46
3.6. Teknik Analisa Data ... 49
3.7. Prosedur Penelitian ... 51
AB 4. PRESENTASI DAN ANALISA DATA... 53 -69 4.1. Gambaran Umum Responden Penelitian .. . ... .. ... . ... . . .. 53
4.1.1. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 53
4.1.2. Gambaran Respoden Berdasarkan Usia... ... . 54
4.2.3. Katagorisasi Skar Penelitian .. ... ... ... ... .. ... .... .. 60
4.3. Pengujian Hipotesis ... . 63
AB 5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN... 70
5.1. Kesimpulan ... .... ... ... ... .. ... . ... ... ... . .. .... .. .... .... ... . .. . . ... . ... 70
5.2. Diskusi .. . . .. . . .. .. .. . .. . . .. . ... ... .. ... ... ... . .. . .. . ... ... ... ... . . .. . . .. . . 71
5.3. Saran ... ... 74
AFTARPUSTAKA
·abel 3.1. Blue Print Persepsi tentang Supervisor
·abel 3.2. Blue Print Sikap Kerja
·abel 3.3. Skoring Jawaban
abel 3.4 Blue Print Revisi Persepsi tentang Supervisor
abel 3.5 Blue Print Revisi Skala Sikap Kerja
abel 4.1. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelarnin
abel 4.2. Gambaran Responden Berdasarkan Usia
abel 4.3. Gambaran Responden Berdasarkan Masa kerja
abel 4.5. Kategorisasi persepsi tentang supervisor
abel 4.6. Kategorisasi Sikap Kerja
abel 4.7. Uji Hipotesis Variabel Persepsi Tentang Supervisor dengan Sikap Kerja
abel 4.8. koefesien Determinan
abel 4.9. Independent Samples Test
abel 4. 10. Independent Samples Test
abel 4. 11. Uji F
[image:12.595.42.459.118.550.2]Gambar 2.1 Kerangka berpikir
Gambar 4.1 Scatterplot persepsi tentang supervisor
Lampiran 1. Surat izin penelitian
Lampiran 2. Surat keterangan telah melakukan penelitian
Lampi ran 3. Kuesioner try out
Lampiran 4. Sko.- hasil try out skala persepsi tentang supervisor
Lampiran 5. Reliability skala persepsi tentang supervisor
Lampiran 6. Skor hasil try out skala sikap kerja
Lampiran 7. Reliability skala sikap kerja
Lampiran 8. Kuesioner Penelitian
Lampiran 9. Skor hasil penelitian persepsi tentang supervisor
Lampi ran 10. Skor hasil penelitian skala sikap kerja
Lampi ran 11. Uji normalitas skala persepsi tentang supervisor dan sikap kerja
Lampiran 12. Uji homogenitas
Lampiran 13. Descriptives
Lampiran 15. Koefesien Determinan
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi yang terjadi pada zaman modern
sekarang ini, dan berkat studi-studi sosial serta saran-saran psikologis, maka
dunia organisasi mengalami banyak perubahan dan kemajuan serta
melahirkan terciptanya berbagai jenis organisasi di Indonesia. Kondisi ini
membuat organisasi dituntut meningkatkan keunggulan agair mampu
menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal.
Kemajuan dan keberhasilan suatu organisasi, salah satunya didukung oleh
faktor baik buruknya manajemen organisasi yang dimilikinya. Manajemen
yang bail< tidal< hanya mengandalkan pimpinan, tetapi juga memperhatikan
peran tenaga kerja atau karyawan. Pimpinan dan karyawan harus bekerja
sama bagi terciptanya kondisi yang kondusif dalam mencapai tujuan
Manusia sebagai tenaga kerja merupakan sumber daya yang berperan
penting dalam organisasi (Siagian, 1998) dan hal tersebutjuga didukl)ng oleh
pernyataan Bernard Poduska, seorang pakar psikologi organisasi bahwa
sumber daya manusia yang bernilai lebih akan bermanfaat bagi organisasi
(Herry Tjahjono, 1999). Peran penting manusia dalam dunia kerja menuntut
penampilan kerja yang prima, sikap kerja merupakan penunjang penampilan
kerja karyawan tersebut.
Sikap kerja karyawan mencerminkan tingkat kepuasan, keterlibatan dan
komitmen.kerjanya. Manifestasi sikap kerja karyawan tersebut dapat bersifat
positif maupun negatif, seperti yang dikemukakan oleh Thurstone (Saifuddin
Azwar, 2000), bahwa sikap sebagai derajat efek positif atau negatif terhadap
suatu objek psikologis. Sikap tersebut perlu diperhatikan dan dikelola oleh
pihak instansi, apabila ada indikasi timbulnya sikap positif rnaka
kebijakan-kebijakan yang sudah diterapkan perlu dipelihara. Sebalikn)la bila ada
indikasi timbulnya sikap kerja yang negatif, maka obyek sikap kerja tersebut
perlu dievaluasi.
Berdasarkan indikasi tersebut, maka bila sikap kerja karyawan dapat
diungkapkan sangatlah baik manfaatnya bagi perusahaan sebagai sarana
mengevalusi kebijakan yang telah dilaksanakan. Sikap kerja karyawan
organisasi instansi tersebut. Disisi lain, bila karyawan dapat mengungkapkan
sikapnya dan mendapat perhatian dari organisasinya maka karyawa_q akan
merasa dihargai, sehingga partisipasi dan konstribusinya bagi organisasi
akan meningkat Artinya karyawan berusaha menampilkan potensi-potensi
yang dimiliki secara optimal, hal ini akan menguntungkan pihak organisasi.
Sikap kerja karyawan yang tidak disiplin, malas, tidak bertanggung jawab,
dan lain-lain, kerap kali menimbulkan anggapan bahwa masalah ini
disebabkan oleh kesalahan-kesalahan karyawan saja, dimana karyawan
tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya secara memadai. Anggapan ini
dikemukan karena karyawanlah yang secara langsung menunjukkan sikap
kerja yang kurang baik,namun hal ini bukan hanya menjadi masalah bagi
karyawan semata karena tidak mudah bagi karyawan untuk
mempertangungjawabkan sendiri pekerjaannya.
Tentu saja tidak semua karyawan memiliki sikap yang sama, namun masalah
ini telah demikian kompleks, sehingga tidak dapat diatasi secara parsial. Oleh
karena itu perlu digerakkan kembali upaya penyempurnaan pembinaan
sumber daya manusia (SOM) dalam lingkungan perusahaan ini secara
komprehensif dan integral melalui pembenahan manajemen dan pembinaan
sikap dan perilaku dalam diri individu maupun dalam suatu kelompok
Upaya penyempurnaan pembinaan SDM tersebut dapat diterapkan dalam
pembenahan fungsi-fungsi manajemen, satah satunya pada fungsi syorang
supervisor. Supervisor sebagai bagian dari sebuah manajernen perusahaan
memainkan peranan penting dalam upaya meningkatkan produkifitas kerja.
Menjadi supervisor berarti menduduki jabatan dengan tanmiung jawab dan
pekerjaan yang sangat menantang. Produktifitas sebuah perusahaan
dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya adalah penyeliaan atau
pengawasan yang baik dan efektif.
Seperti dikatakan oleh Mudrik (dalam Nanang Falah, 1996) l:iahwa
pengawasan merupakan proses dasar yang secara essensial tetap
diperlukan bagaimanapun rumitnya dan luasnya suatu organisasi. Seorang
supervisor atau penyelia secara obyektif rasional harus pula memiliki
kemampuan memimpin, agar mendapatkan rasa hormat dari seluruh
karyawannya. tni berarti supervisor akan menggunakan orientasi pada
berkembangnya sikap kerja karyawan.
Hal tersebut pula yang menjadi dasar diadakannya studi kepemimpinan
Michigan, pada tahun 1947, dilakukan penelitian di Newark, New Jersey,
pada perusahaan asuransi Prudential yang dijelaskan sebagai berikut :
Pada penelitian tersebut pengukuran yang sistematis dibuat berdasarkan
kemudian dihubungkan dengan pengukuran pelaksanaan pekerjaan (Thoha,
1990). Sesuai dengan pengukuran tersebut, persepsi dan sikap 、ゥィオセオョァォ。ョ@
menjadi variabel yang diukur. Proses terbentuknya sikap kerja didahului
dengan tahap pembentukan persepsi. Persepsi yang ada dalam diri individu
bersifat subyektif, dengan demikian besar kemungkinan karyawan memiliki
persepsi yaang berbeda-beda terhadap supervisor.
Jika karyawan mempersepsikan supervisor tidak sesuai dengan nilai yang
berlaku pada dirinya, maka akan timbul persepsi yang negatif terhadap
supervisor dan akan membawa dampak sikap kerja karyawan yang negatif
pula . Sebaliknya jika supervisor dipersepsikan positif atau sesuai dengan
nilai yang berlaku pada dirinya maka karyawan akan memiliki sikap kerja
yang positif pula.
Melihat dari kondisi tersebut bila dikaitkan dengan ilmu psikologi pada
umumnya serta psikologi industri dan organisasi pada khususnya, maka
masalah supervisor kaitannya dengan sikap kerja karyawan perlu pengkajian
yang mendalam. Hal ini menjadi alasan untuk dilakukannya penelitian
dengan judul : " Hubungan Antara Persepsi tentang Supervisor dengan Sikap
1.2
ldentifikasi Masalah
Pada identifikasi masalah, permasalahan yang mungkin timbul 。、。ャ。セ@ :
1 . Bagaimana persepsi karyawan tentang supervisor?
2. Bagaimana sikap kerja karyawan PT.lndomilk?
3. Bagaimana pengaruh persepsi terhadap sikap kerja ?
4. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi sikap kerja?
5. Adakah hubungan antara persepsi tentang supervisor dengan sikap
kerja karyawan ?
1.3
Pembatasan dan Perumusan Masalah Penelitian
1.3.1. Pembatasan masalah
1. Persepsi tentang supervisor yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
suatu aktifitas menginderaan, mengidentifikasi dan meml:ieri penilaian
pada supervisor. Kelley (1983 datam Sears, 1994). Adapun indikator yang
digunakan datam penetitian ini adatah merunjuk pada pendapat
Robert.L.Katz (197 4 dalam Leslie, 1996), yang ditihat dari seorang
supervisor adatah keterampitannya dalam pengetahuan l:entang
pekerjaan, pengetahuan tentang organisasi, kemampuan berhubungan
dengan orang lain, dan keterampitan datam membuat keputusan dan
pemecahan masalah. Supervisor adatah individu yang memiliki
pengaruh tersebut untuk merubah tingkah laku orang yang mendapat
pengaruh tersebut.
2. Sikap kerja adalah pernyataan evaluatif yang mencerminkan bagaimana
seseorang karyawan merasakan dan mengungkapkan kesiapan mental
dalam menghadapi obyek-obyek yang ada dalam pekerjaan. lndikator dari
sikap kerja ini adalah merunjuk pada teori Robbins (200·t ), ada tiga faktor
sikap kerja yaitu kepuasan kerja, keterlibatan kerja dan komitmen
terhadap organisasi.
3. P.T. lndomilk yang berkedudukan di jalan raya Bogar, Gandaria, Jakarta
Timur. Yang didirikan pada tanggai 15 Desember 1967. PT. lndomilk ini
bergerak dalam bidang manufacturing. Memiliki karyawan sudah lebih dari
1000 karyawan dari berbagai devisi. Untuk bagian produksi memiliki 350
orang, dengan tiga shift yaitu shift malam, pagi dan sian9. Dengan lama
bekerja 8 jam sehari. Fasilitas yang dimiliki PT. lndomilk antara lain yaitu
ruang rapat dan kendaraan, papan pengumuman, pemungutan iuran,
1.3.2 Perumusan masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan セ。ャ。ュ@
penelitian ini adalah sebagai berikut : " Apakah ada hubungan yang signifikan
antara persepsi supervisor dengan sikap kerja karyawan PT. lndomilk ".
1.4 Tujuan Dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan penelitian
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi
tentang supervisor dengan sikap kerja karyawan.
1.4.2 Manfaat penelitian
Dari hasil penelitian yang dilakukan ini, peneliti berharap hasilnya dapat
diaplikasikan secar teoritis dan praktis.
a. Secara teoritis
Dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan dalam pengembangan,
teori mengenai persepsi dan sikap kerja khususnya, daN pengembangan
pengetahuan psikologi pada umumnya.
b. Secara praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi perusahaan
1.5 Sistematika Penulisan
Bab
1
Pendahuluan ; Pada bab ini terbagi pada beberapa bagian, yaiy.1 latarbelakang masalah, identifikasi masalah, batasan dan rumusan masalah ,
tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
Bab 2 Kajian Pustaka ; Kajian pustaka dan pengajuan hipotBsa, bab ini akan
membahas tentang teori persepsi, sikap kerja, supervisor dan hubungan
persepsi tentang supervisor dengan sikap kerja.
Bab 3 Metodologi Penelitian ; Pada bagian ini penulis juga membagi
kedalam beberapa bagian diantaranya jenis penelitian, ー・ョセゥ。ュ「ゥャ。ョ@ sampel,
teknik pengumpulan data, analisa data dan prosedur penelitian.
[image:23.595.50.460.145.488.2]Bab 4 Hasil Penelitian ; Pada bab ini penulis akan menyampaikan tentang
gambaran umum subjek penelitian, dan hasil utama penelitian. Yakni dengan
menyajikan data yang diperoleh,analisa dan interpretasi data.
Bab 5 Kesimpulan, Diskusi dan Saran ; Pada bab ini penulis akan
menyampaikan tentang kesimpulan, diskusi yang membahas hasil-hasil
penelitian serupa yang diperoleh sebelumnya, dan saran-saran yang
KAJIAN
PUSTAKA
2.1
Sikap Kerja Karyawan
2.1.1 Definisi sikap kerja
Perusahaan merupakan suatu organisasi yang diketahui sebagai sistem
sosial dimana anggota-anggotanya berinteraksi, yang pada akhimya akan
melahirkan sikap. Banyaknya karyawan sebagai anggota yang dimiliki oleh
suatu organisasi menyebabkan munculnya bermacam-macam sikap
karyawan dalam menghadapi pekerjaan.
Pengertian sikap kerja banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya
Robbins (2001) menyatakan bahwa sikap kerja adalah pemyataan evaluatif
-baik menguntungkan atau tidak menguntungkan - yang mencerminkan
bagaimana seseorang mengungkapkan perasaannya meng1:mai obyek
pekerjaannya. Bila seseorang mengatakan bahwa dirinya menyukai
pekerjaannya, maka orang itu akan mengungkapkan sikapnya mengenai
kerja. Seringkali datam menghadapi obyek-obyek yang ada dalam pekerjaan,
Menurut Siagian (1998), sikap kerja negatif bisa terdapat pada karyawan
yang merasa kecewa terhadap pekerjaan, ini mengakibatkan seseorang akan
;
menjadi minimalis dalam arti kata hanya akan melaksanakan tugas
sedemikian rupa sehingga persyaratan minimun terpenuhi, tetapi tidak lebih
dari itu.
Sedangkan sikap kerja positif cenderung terdapat pada karyawan yang
merasa lebih mencintai pekerjaannya karena mendapat perhatian dari
lingkungan kerjanya. Kondisi sikap kerja yang negatif tidak boleh dibiarkan,
maka diperlukan cara untuk mengubahnya.
Apabila terlihat perkembangan pola sikap pada seorang karyawan yang tidak
cocok dengan situasi dan lingkungan, harus segera dilakukan tindakan
koreksi dan kemudian berusaha mengubah sikapnya, selanjutnya yang perlu
dilakukan adalah mengubah sikap kerja karyawan dengan menolong
menyadari reaiitas yang sebenarnya dengan menganalisanya atau
memberinya umpan balik berupa reaksi orang lain terhadap sikapnya atau
dapat juga dilakukan dengan cara mengubah pola-pola dalam sikap
karyawan meggunakan potensinya bagi pengalaman baru
Jadi berdasarkan definisi yang telah diuraikan maka dapat clisimpulkan
bahwa sikap kerja adalah pernyataan evaluatif yang mencerminkan · .;
bagaimana seorang karyawan merasakan dan mengungkapkan kesiapan
mental dalam menghadapi obyek-obyek yang ada dalam pekerjaan.
2.1.2 Faktor-faktor sikap kerja
lnteraksi yang dialami individu dalam suatu lingkungan sosial menciptakan
adanya reaksi yang membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek
psikologis yang dihadapinya. Disamping lingkungan, mekanisme mental juga
dapat menjadi faktor yang menentukan sikap kerja.
Siagian (1998) menyatakan berbagai faktor seperti faktor biografi,
lingkungan dan situasi turut membentuk kepribadian seseorang yang
tercermin dalam sikap. Rosenberg (Gibson & Donelly, 1995), mengemukakan
salah satu teori yang menyatakan bahwa sikap individu dipe1ngaruhi faktor
kesesuaian antara kenyakinan dengan perasaan terhadap obyek.
Secara garis besar, faktor -faktor yang menentukan sikap kerja merupakan
kumpulan dari faktor-faktor kognitif, afektif dan konatif yang saling berinterasi
dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu obyek.
Unsur kognitif merupakan kepercayaan yang bersifat menilai terhadap obyek
yang meliputi penilaian untung atau tidak, baik atau buruk, dan sebaQ13inya.
Unsur afektif menunjukkan adanya emosi dan hubungannya1 dengan obyek
yang dihadapinya dalam lingkungan kerja berupa perasaan senang atau
tidak, disukai atau tidak disukai. Sedangkan unsur kecenderungan bertindak
mencakup kesiapan-kesiapan bertingkah laku yang berkaitan dengan sikap
seseorang.
Beberapa tokoh mendukung pernyataan tersebut, seperti Atkinson dkk.(1996)
mengkaji tentang sikap yang terdiri alas tiga bagian, yaitu kognitif, afektif dan
perilaku. Robbins (1996) menyatakan komponen kognitif suatu sikap adalah
segmen pengertian atau kenyakinan, komponen afektif adalah suatu segmen
emosional atau perasan dan komponen perlakuan diartikan sebagai satu
kehendak untuk berperilaku sebagai reaksi terhadap stimulus dari
lingkungan.
Menurut Davis dan Newstrom (1989) ada tiga faktor sikap kerja, yaitu
kepuasan kerja, keterlibatan kerja dan komitmen terhadap organisasi.
Kemudian Robbins (2001) menegaskan bahwa banyak riset dalam perilaku
organisasi yang membahas tiga faktor sikap kerja yang ineliputi kepuasan
kerja, keterlibatan kerja dan komitmen terhadap organisasi. Faktor-faktor
a. Kepuasan kerja Uob satisfaction)
Kepuasan kerja erat kaitannya dengan sikap kerja, seperti pendapat セッ「「ゥョウ@
(2001) bahwa kepuasan kerja sebagai suatu sikap umum s13seorang individu
terhadap pekerjaannya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi
menunjukkan sikap yang positif terhadap kerja itu. Seseorang yang tidak
puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap negatif.
Hertzberg (Thoha, 1999) mengemukakan bahwa ada dua kelompok faktor
dalam kepuasan kerja, yaitu :
1. Faktor motivator (Satisfer), terdiri dari keberhasilan, ー・ョセゥィ。イァ。。ョL@
pekerjaan itu sendiri, rasa tanggung jawab dan faktor pe11ingkatan yang
kesemuanya itu merupakan isi pekerjaan Uob content).
Robbins (2001) menambahkan bahwa hadirnya faktor ini menimbulkan
kepuasa11 kerja.
2. Faktor hygiene (Dissatisfier), terdiri dari upah dan gaji, k()ndisi tempat
kerja, teknik pengaw&san antara bawahan dan pengawasnya, dan
kebijaksanaan administrasi organisasi, yang merupakan aspek keadaan
yan berhubugan dengan pekerjaan Uob content).
Davis & Newstrom (1990) menambahkan bahwa, fakt()r tersebut bukan
b. Keterlibatan kerja (Job Involvement)
Keterlibatan kerja mengukur derajat sejauhmana seseorang secara · ,
psikologis memihak pada pekerjaannya dan menganggap kinerjanya tersebut
penting untuk rasa harga dirinya. Secara praktis dapat dijabarkan menjadi
unsur-unsur utama keterlibatan kerja, antara lain penghayatan atau
identifikasi akan makna kerja, bersedia berkorban waktu dan tenaga,
partisipasi dengan usaha penuh dalam melakukan pekerjaan. Kesemuanya
itu disebabkan adanya suatu ekspresi yang diungkapkan terhadap aktifitas
yang sedang berlangsung, yang menimbulkan kebanggaan, jika berhasil
melakukannya dengan baik.
c. Komitmen terhadap organisasi.
Komitmen terhadap organisasi dapat didefinisikan sebagai sifat hubungan
seseorang dengan organisasi. Menurut Gibson dan Donnelly (1995),
komitmen pada organisasi adalah rasa menyatu, terkait dan loyalitas
diungkapkan pegawai terhadap perusahaan, komitmen menunjukkan adanya
identifikasi terhadap tujuan organisasi dan kesetiaan. Ciri-ciri yang
ditunjukkan karyawan untuk menyatakan komitmennya terhadap organisasi
menurut Porter & Smith (Steers, 1985) yaitu ... adanya keinginan kuat untuk
tetap menjadi anggota organisasi, kesediaan untuk tetap memjadi anggota
organisasi, kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan
organisasi dan kepercayaan serta penerimaan yang kuat terhadap nilai dan
Secara umum, dalam berbagai referensi, sikap memiliki 3 komponen yakni:
kognitif, afektif, dan kecenderungan tindakan (Morgan dan King, 197!:(; Krech
dan Ballacy, 1963, Howard dan Kendler 1974, Gerungan, 2000). Komponen
kognitif merupakan aspek sikap yang berkenaan dengan penitaian individu
terhadap obyek atau subyek. tnformasi yang masuk ke dalam otak manusia,
melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan mengha:silkan nilai baru
yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah
ada di dalam otak manusia. Nilai - nilai baru yang diyakini b(mar, baik, indah,
dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen
afektif dari sikap individu.
Oleh karena itu, komponen afektif dapat dikatakan sebagai perasaan (emosi)
individu terhadap obyek atau subyek, yang sejalan dengan hasil
penilaiannya. Sedangkan komponen kecenderungan bertindak terhadap
keinginan individu untuk metakukan perbuatan sesuai dengan keyakinan dan
keinginannya.
Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau
negatif. Manifestasi sikap tertihat dari tanggapan seseorang apakah ia
menerima atau menotak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau
Komponen sikap berkaitan satu dengan yang lainnya. Keterkaitan antar
komponen sikap dan secara bersama-sama komponen kognitif, afekt)f, dan
kecenderungan bertindak menumbuhkan sikap individu. Dari manapun kita
memulai dalam analisis sikap, ketiga komponen tersebut tetap dalam ikatan
satu sistem.
Sikap individu sangat erat kaitannya dengan perilaku mereka. Jika faktor
sikap telah mempengaruhi ataupun menumbuhkan sikap seseorang, maka
antara sikap dan perilaku adalah konsisten, sebagaimana yang dikemukan
oleh Krech (1962). Komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak
merupakan suatu kesatuan sistem, sehingga tidak dapat dileipas satu dengan
lainnya. Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap
pribadi
Jadi faktor-faktor yang menentukan sikap kerja karyawan teirdiri dari
kepuasan kerja, keterlibatan kerja dan komitmen terhadap organisasi yang di
dalamnya terkandung unsur-unsur kognitif, afektif dan konatif.
2.1.3 Fungsi sikap
Konsep sikap merupakan konsep sentral dalam psikotogi sosial, sikap sering
digunakan untuk meramalkan tingkah laku, baik tingkah laku perseorangan,
Secara terbalik dapat dikatakan bahwa tingkah laku sebagian merupakan
fungsi dari sikap. Pernyataan ini harus dimengerti secara hati-hati. Ka,ta
sebagian di sini mengandung arti bahwa ada hal-hal lain selain sikap yang
ikut menentukan tingkah laku seseorang.
Banyak sosiolog dan psikolog memberi batasan bahwa sikap merupakan
kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap
stimulus yang ada dalam lingkungan sosial.Sejumlah ahli telah mencoba
memberikan definisi sikap. Definisi-definisi tersebut berbeda satu dengan
yang lain, lebih karena perbedaan tekanan yang diberikan. Howard dan
Kendler mengatakan (dalam Gerungan, 2000} sikap merupakan suatu
kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, positif atau negatif
terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide,
konsep dan sebagainya.
Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau
negatif. Manifestasi sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia
menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau
subyek. Hal ini juga sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sarwono
( 1996) bahwa sikap dapat bersifat positif dan negatif. Dalam sikap yang
positif, kecenderungan tindakan akan mendekati, menyenangi, dan
terdapat kecenderungan tindakan yang menjauhi, menghindari, membenci
dan tidak menyukai obyek sikap tersebut.
Sikap memiliki beberapa fungsi yang sangat penting dalam kehidupan
seseorang. Hollander (1976) mengatakan setidaknya ada dua fungsi penting
dari sikap, yaitu:
(1) Menyediakan dasar atau kerangka untuk menginterpmtasi dunia dan
memproses informasi-informasi baru.
(2) Merupakan cara untuk mendapatkan dan mempertahankan identitas
sosial.
2.1.4. Pembentukan sikap
Sikap manusia berkembang bersamaan dengan perkembangan dirinya.
Dalam kehidupan, seseorang selalu berkembang di tengah-tengah orang lain
dan berkembang pula bersama-sama dengan orang lain.
Di
tengahhubungan antara individu dengan dunia sekitarnya; antara individu yang satu
dengan individu tainnya sebagai sesama anggota suatu koh3ktivitas.Dalam
interaksi sosiat juga terjadi saling mempengaruhi antara individu yang satu
dengan individu lainnya, melalui interaksi inilah sikap seseorang terbentuk.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap rnenurut Saefuddin
a. Pengalaman Pribadi
Pengalaman dengan obyek sikap akan memberikan kesempatan kepfiida
individu untuk memiliki pengetahuan dan tanggapan serta penghayatan atas
obyek tersebut. Pengetahuan dan tanggapan inilah yang kemudian menjadi
salah satu unsur dalam komponen sikap seseorang.
b. Kebudayaan
Kebudayaan masyarakat dimana seseorang hidup dan dibHsarkan
mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan sikap orang
yang bersangkutan. Nilai-nilai dan norma-normanya kebudayaan telah
memberikan arah bagi sikap yang sesuai terhadap berbagai masalah dalam
kehidupan.
c. Orang Lain yang dianggap penting
Seseorang yang dianggap penting, yang istimewa, yang tak ingin
dikecewakan, yang dibutuhkan persetujuannya, akan banyak mempengaruhi
pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Orang yang biasanya dianggap
penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih
tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, isteri atau suami, dan
d. Media massa
lnformasi yang disampaikan oleh media massa, terselip pula pesan-Pc!'San
yang dapat membentuk opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai
suatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal
tersebut. Sementara itu pesan-pesan sugestif yang menyertainya, apabila
cukup kuat, maka akan memberi dasar afektif dalam menilai hal tersebut.
e. lnstitusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan dan lembaga agama mempunyai pengaruh dalam
pembentukan sikap karena keduanya adalah yang meletakkan dasar
pengertian konsep moral dalam diri individu. Konsep-konsep moral
menentukan sistem kepercayaan seseorang tentang segala sesuatu. lni
merupakan unsur komponen kognitif yang sangat penting dalam sikap
seseorang.
f. Emosi
Kadang-kadang suatu sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh
emosi, yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan
bentuk mekanisme pertahanan diri. Salah satu bentuk sikap yang didasari
Untuk menumbuhkan sikap karyawan menurut Blum (19!i0), pada diri
karyawan perlu adanya aspek-aspek seperti berikut, yaitu :
1. Perasaan diterima, diikutsertakan dan menjadi bagian dari suatu kegiatan
kelompok.
2. Persamaan tujuan umum dengan kelompok.
3. Keyakinan bahwa tujuan organisasi memang diinginkan oleh kelompok.
4. Kerjasama diantara anggota kelompok datam usaha mencapai tujuan
yang tetah ditetapkan.
Lebih lanjut dijelaskan oteh Blum, jika keempat aspek tersebut ada pada diri
karyawan suatu organisasi atau perusahaan, maka dapat diharapkan
karyawan akan cenderung untuk menampitkan tingkah laku yang dapat
menyokong keberhasilan organisasi. Karyawan akan lebih .giat dan senang
mengerjakan pekerjaannya. Sebaliknya jika aspek-aspek ini tidak ada datam
diri karyawan suatu organisasi, maka karyawan akan cenderung
menampilkan tingkah laku yang dapat menghambat tujuan organisasi.
2.1.5. Perubahan sikap
Sikap dapat berubah atau dapat diubah melalui banyak cara. Sikap adatah
suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan untuk menyesuaikan diri dalam
situasi sosial, atau respon terhadap stimuli sosial yang telah dikondisikan
2.2
Persepsi Karyawan tentang Supervisor
2.2.1.
Definisi persepsiPersepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu perangkat psikologis
yang menandai kemampuan seseorang untuk mengenal dan memaknakan
sesuatu objek yang ada di lingkungannya. Menurut Scheereir persepsi
adalah representasi phenomenal tentang objek distal sebagai hasil dari
pengorganisasian dari objek distal itu sendiri, medium dan mngsangan
proksinal . Dalam persepsi dibutuhkan adanya objek atau stimulus yang
mengenai alat indera dengan perantaraan syaraf sensorik, kemudian
diteruskan ke otak sebagai pusat kesadartin (proses psikologis). Selanjutnya,
dalam otak terjadilah sesuatu proses hingga individu itu dapat mengalami
persepsi (proses psikologis).
Psikologi kontemporer menyebutkan persepsi secara umum diperlukan
sebagai satu vRrii:ibel campur tangan (intervening variabel), bergantung pada
faktor-faktor motivasional. Artinya suatu objek atau satu kejadian objektif
ditentukan baik oleh kondisi perangsang maupun oleh faktor-faktor
organisme. Dengan alasan sedemikian, persepsi mengenai dunia oleh
pribadi-pribadi yang berbeda juga akan berbeda, karena. setiap individu
menanggapinya berkenaan dengan aspek-aspek situasi tadi yang
Proses pemaknaan yang bersifat psikologis sangat dipengaruhi oleh ,
pengalaman, pendidikan dan lingkungan sosial secara umum. Sarwono
mengemukakan bahwa persepsi juga dipengaruhi oleh
pengalaman-pengalaman dan cara berpikir serta keadaan perasaan atau minat tiap-tiap
orang sehingga persepsi seringkali dipandang bersifat subjektif. Karena itu
tidak mengherankan jika seringkali terjadi perbedaan paham yang
disebabkan oleh perbedaan persepsi antara 2 orang terhadap 1 objek.
Persepsi tidak sekedar pengenalan atau pemahaman tetapi juga evaluasi
bahkan persepsi juga bersifat inferensional (menarik kesimpulan)
(Sarwono, 1983).
Persepsi sosial menurut David 0 Sears adalah bagaimana kita membuat
kesan pertama, prasangka apa yang mempengaruhi mereka, jenis informasi
apa yang kita pakai untuk sampai pada kesan tersebut, dan bagaimana
akuratnya kesan itu (David 0 Sears, et. al, 1994). Menurut l:stiqomah dkk,
Persepsi sosial mengandung unsur subyektif. Persepsi seseiorang bisa keliru
atau berbeda dari persepsi orang lain. Kekeliruan atau ー・イ「ャセ、。。ョ@ persepsi
ini dapat membawa macam-macam akibat dalam hubungan antar manusia.
Persepsi sosial menyangkut atau berhubungan dengan adanya
banyak hal, dapat terdiri dari (a) orang atau orang-orang berikut ciri-ciri,
kualitas, sikap dan perilakunya, (b) persitiwa-peristiwa sosial dalam -..
pengertian peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang-oran!;1, secara langsung
maupun tidak langsung, norma-norma, dan lain-lain (lstiqomah, dkk, 1988).
Terkait dengan persepsi sosial, lstiqomah menyebutkan ada 3 hal yang
mempengaruhi, yakni 1) variabel obyek-stimulus, 2) variabel latar atau
suasana pengiring keberadaan obyek-stimulus, dan 3) variabel diri preseptor
(pengalaman, intelegensia, kemampuan menghayati stimuli, ingatan,
disposisi kepribadian, sikap, kecemasan, dan pengharapan) (lstiqomah, dkk,
1988).
Ada tiga dimensi yang terkait dengan persepsi, menurut Osgood tentang
konsep diferensial semantik menjelaskan tiga dimensi dasar yang terkait
dengan persepsi, yakni evaluasi (baik-buruk}, potensi (kuat-·lemah}, dan
aktivitas (aktif-pasif). Menurutnya evaluasi merupakan dimEmsi utama yang
mendasari persepsi, disamping potensi dan aktivitas (David 0 Sears, et. al,
1994).
Persepsi kerap ditafsirkan sebagai sebuah konsep dengan dua macam
proses dan pengertian, yang kedua mengacu kepada hasil daripada proses
itu sendiri.
Banyak ahli di bidang psikologi sosial yang condong untuk mendefinisikan
persepsi sebagai: suatu proses melekatkan atau memberikcin makna kepada
informasi sensor! yang diterima seseorang.
Proses ini dapat digambarkan sebagai berikut, misalnya seorang melintas di
depan kita, melalui indera penglihatan kita dapat menangkap sejumlah ciri
yang terdapat pada dirinya. Ciri-ciri tersebut merupakan kumpulan informasi
sensoris yang tidak mempunyai makna apa-apa sebelum kita melekatkan
suatu makna padanya.
Penglihatan kita memberikan informasi bahwa makhluk yang sedang
melintas itu adalah seorang wanita, berambut panjang hing9a ke bahu,
berhidung mancung, berkulit mulus, bertubuh semampai dan lain-lain, lalu
kita memberikan penilaian bahwa wanita yang sedang melintas adalah gadis
cantik dan menawan {berbahagialah pria yang dapat menikahinya). Adanya
penilaian, kesan atau makna yang kita berikan kepada informasi sensoris
yang sampai pada diri kita, hal tersebut menunjukkan 「。ィキゥセ@ persepsi telah
bekerja pada diri kita. Tanpa pemaknaan, maka pengalaman yang kita
Persepsi juga didefinisikan sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa,
atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan ゥョヲッセュ。ウゥ@
dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli
inderawi (sensory stimu/y). Walaupun begitu makna informasi inderawi tidak
hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan
memori (Walgito, 2002).
Di sisi lain Felley, et. al. (dalam Unika, 2006) mengidentifikasi tiga komponen
utama dari proses persepsi. Pertama, seleksi atau screening yang sangat
erat hubungannya dengan pengamatan dan stimulus yang dilihat. Kedua,
interpretasi, yaitu proses pengorganisasian informasi ウ・ィゥョセQァ。@ mempunyai
arti bagi seseorang. lnterpretasi ini tergantung pada berbagai faktor, seperti
pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dipunyai seorang, motivasi
kepribadian, kecerdasan dan sebagainya. Ketiga, kemampuan seseorang
untuk mengadakan kategorisasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi
informasi yang komplek, menjadi lebih sederhana, yaitu interpretasi behavior
terhadap sesuatu obyek persepsi.
Branca, Woodworth dan Marquis sebagaimana dikutip w。ャセQゥエッ@ ( 2002)
mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses yang didahului oleh
penginderaan. Penginderaan adalah merupakan suatu proses diterimanya
tersebut tidak berhenti di situ saja, pada umumnya stimulus tersebut
diteruskan oleh syaraf ke otak sebagai pusat susunan syaraf, dan prq_ses
selanjutnya merupakan proses persepsi. Karena itu proses persepsi tidak
dapat lepas dari proses penginderaan, dan proses pengindewaan merupakan
proses yang mendahului terjadinya persepsi, dengan persepsi individu dapat
menyadari, dapat mengerti tentang keadaan lingkungan セイ。ョァ@ ada di
sekitarnya, dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan
(Davidoff, 1981 ).
Berdasarkan teori-teori yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan, bahwa
persepsi secara psikologis adalah proses pencarian informasi melalui
kegiatan seleksi, pengorganisasian dan penafsiran stimulus berdasarkan
pengalaman yang didapatkan dari lingkungan yang dapat mempengaruhi
tindakan selanjutnya.
2.2.2
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsiMenurut Robbins (2001) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut
adalah:
a. Karakterisrik individu yang mempersepsikan (perceiver).
Bila seseorang individu memandang suatu obyek dan menc:oba menafsirkan
apa yang dilihatnya, penafsiran tersebut sarat dipengaruhi oleh
memberikan respon stimuli itulah yang menentukan persepsi. Karakteristik
pribadi relevan tersebut adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, .•.
pengalaman masa lalu dan pengharapan.
b. Karakteristik obyek y;:ing dipersepsikan (perceived)
Menyatakan bahwa karakteristik-karakteristik pada obyek yang diamati juga
dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Selanjutnya Thoha (1999)
pada umumnya karakteristik obyek yang dilihat dalam proses persepsi sosial
antara lain status orang yang dinilai, pengelompokan obyek dalam
kategori-kategori untuk memudahkan pandangan orang yang menilai dan sifat
perangai obyek yang dinilai.
c. Situasi kondisi yang berlangsung
Bagian ini berisi unsur-unsur lingkungan sekitar yang secara keseluruhan
mempengaruhi persepsi. Memahami lingkungan merupakan proses yang
aktif untuk membuat lingkungannya mempunyai arti bagi seseorang tersebut.
2.2.3
Proses terjadinya persepsiMempersepsikan sesuatu tidak terjadi begitu saja, tetapi ada unsur yang
dapat menciptakan sebuah persepsi atau suatu proses yang dapat membuat
terjadinya suatu persepsi, seperti berikut ini, (Walgito,1994) menyatakan
diteruskan ke syaraf sensori;alat alat indera/reseptor ke pusat susunan syaraf
yaitu otak;perhatian;karena tanpa adanya perhatian tidak ada ー・イウ・ーセゥN@
Persepsi bermula dari penginderaan, hal ini berarti bahwa teirjadinya proses
ini dirangsang kehadiran sesuatu/sekumpulan obyek yang tertangkap oleh
alat-alat indera manusia. lnformasi yang disalurkan ke da!am alam pikiran,
kemudian mengalami beberapa tahapan pengolahan mulai dari seleksi dan
organisasi dari rangsang-rangsang atau stimuli mengenai ke1seluruhannya.
Dikatakan oleh French, bahwa persepsi berlangsung lebih cepat dari proses
pengenalan atau berpikir biasa.persepsi harus dibedakan dari proses
inderawi. Proses inderawi adalah proses kerja indera kita, dan proses
persepsi adalah cara kita memproses data inderawi tadi menjadi informasi
agar dapat kita artikan (Sukadji,
1980).
2.2.4 Definisi supervisor
lstilah supervisor sebenamya berasal dari bahasa latin "sup13rvisor" yang
berarti "memeriksa" atau "mengawasi". Langkah awal untuk mendapat
batasan pengetian mengenai supervisor ini, peneliti berusaha dengan cara
mengajukan beberapa definisi. Definisi pertama diambil dari "The
National-Management Relation Act" (dalam Spriegel,dkk
1957)
adalah supervisorseseorang yang memiliki otoritas dalam memilih, mengganti.,
mendisiplinkan karyawan lain. Dengan perkataan lain supervisor adalah
individu yang bertanggung jawab mengarahkan dan membimbing karyawan
lain.
Menurut Spriegel & Schulz, menyatakan bahwa supervisor !t)ertanggung
jawab atas hubungan antara manusia dan pekerjaannya. Di satu pihak
supervisor bertanggung jawab terhadap hasil produksi, di pihak lain harus
bertanggung jawab atas proses pembuatan produksi tersebut melalui orang
lain.
Sedangkan dalam "The Fair Labor Standards Acf' (Spriegel, dkk 1957)
mendefinisikan supervisor harus mampu menggunakan kekuasaan yang
telah diberikan padanya dalam rangka pelaksanaan tugasnya.
Berdasarkan dari definisi-definisi yang telah disebut dapat dikatakan bahwa
supervisor adalah individu yaang memiliki kemampuan mempengaruhi
tingkah laku orang lain dan menggunakan pengaruh tersebut untuk tujuan
mengubah tingkah laku orang yang mendapat pengaruh tersebut.
2.2.5.
Tugas-tugas dan tanggung jawab supervisorPada dasarnya fungsi adalah sekelompok tugas atau kegiatan yang harus
dijalankan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan sebagai pemimpin
ini dilandaskan suatu pemikiran bahwa segala aktivitas dalam organisasi
akan dapat berjalan lancar dan berhasil mencapai tujuan seperti yang telah
ditetapkan (Bittel dan Newstrom, 1994). Di datam manajemen secara
fundamental tanggung jawab supervisor dapat diklasifikasikan alas
komponen-komponen,yaitu :
1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan datan arti tua s adatah penetapan tujuan manajemen
(setting obyektives), peramatan kondisi-kondisi masa depan dan
penentuan tindakan serta kebijakan masa dating yang diperlukan untuk
mnecapai sasaran atau tujuan tersebut. Pengerian tersebut dalam
penerapannya adalah tugas direksi atau pimpinan manajemen. Walaupun
demikian supervisor mempunyai tugas yang hampir sama, hanya dibatasi
jangkauannya. Supervisor lebih merencanakan kerangka kerja dan
kebijakan tujuan bagian atau kelompok yang dipimpinnya. Selain itu pula
harus bertanggung jawab atas hubungan interpersonal antar bawahannya
sehingga diperoleh hasil yang maksimal.
2. Pengorganisasian (Organizing)
Mengorganisasian di sini dalamarti supervisor menetapkan peraturan
pada bawahan mengenai sistim kerja dan juga mengatur serta
produksi sedemikian rupa dengan tujuan agar memperoleh hasil produksi
yang maksimal dengan biaya yang minimal.
3. Pelaksanaan atau Pengoperasian (Executing or Operating)
Arti dari tugas dalam pelaksanaan atau pengoperasian ini adlah
pelaksanaan rencana kerja yang telah diterapkan baik oleh manajemen
pusat maupun bagian atau kelompok. Di dalam pelksanaan rencana kerja
perlu adanya wakil yang mempraksai dan mengadakan penelitian kembali
(cheking) terhadap hasil yang diperoleh. Dengan demikian pada tugas ini
supervisor memberikan sebagian dari tanggung jawab dan otoritasnya
kepada orang lain. Hal ini terjadi karena supervisor tidak ada waktu atau
tidak memiliki kemampuan mengerjakannya sendiri secara efisien.
Dengan catatan tanggung jawab dan otoritas yang diberikan kepada
orang lain tersebut dalam batas tertentu. Dengan perkataan lain yang
bertanggung jawab atas proses pembuatannya, akan tetapi hasil terakhir
merupakan tanggung jawab supervisor. Untuk tujuan tersebut supervisor
perlu memprakasai pelaksanaannya agar tidak terjadi peinyimpangan dari
rencana kerja yang telah ditetapkan.
Tugas penting bagi seorang supervisor adalah memimpin. Kepemimpinan
untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Untuk dapat mempengaruhi
atau memimpin orang lain, seorang supervisor harus dapat ュ・ョオョェオォセ。ョ@
hal-hal yang mesti dilakukan, bagaimana melakukannya, memberi kesempatan
bagi bawahan untuk mengajukan gagasan, mengikutsertakan mereka dalam
pengambilan keputusan atau memberi kesempatan bagi bawahan untuk
menunjukkan kemampuan berkinerja dengan baik atau sekedar mendukung
dan mendorong bawahannya.
Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Robert L.Kat2: (1974 dalam
Leslie 1996) bahwa seorang supervisor harus mempunyai 4 macam
keterampilan yaitu keterampilan teknik/pekerjaan, keterampiifan berhubungan
dengan orang lain, keterampilan administrasi, dan keterampilan membuat
keputusan dan pemecahan masalah.
2.2.6 Persepsi tentang supervisor
Persepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu perangkat psikologis
yang menandai kemampuan seseorang untuk mengenal dan memaknakan
sesuatu objek yang ada di lingkungannya.
Dalam persepsi dibutuhkan adanya objek atau stimulus yang mengenai alat
indera dengan perantaraan syaraf sensorik, kemudian diteruskan ke otak
terjadilah sesuatu proses hingga individu itu dapat mengalarni persepsi
(proses psikologis). .,
lnformasi ini akan diproses oleh seorang karyawan sehingga informasi
tersebut dapat diinterpretasikan, karena seorang karyawan tahu tentang apa
yang dihayati atau dimengerti. Maka setiap karyawan mempunyai perbedaan
dalam memberikan makna tersebut.
Persepsi tentang supervisor adalah suatu aktifitas menginderaan,
mengidentifikasikan dan memberi penilaian pada supervisor. Kelley (1983)
(dalam Sears,1994). Sesuai dengan penelitian yang dilakukan yang
berpatokan pada teori Robert L. Katz (1974), penilaian itu berupa empat
keterampilan yang harus dimiliki supervisor yaitu keterampilan dalam
pekerjaan, keterampilan berhubungan dengan orang lain, ke1terampilan
administrasi dan keterampilan dalam membuat keputusan dan memecahkan
masalah.
2.3
Kerangka Berpikir
Untuk memudahkan menyelami pemikiran penulis, berikut adalah kerangka
berpikir dari penelitian ini :
Perlakuan
セMk⦅。⦅イケ⦅。⦅キ⦅。⦅ョ⦅セセ@
Persepsitentang supervisor
Karyawan yang mendapatkan stimulus atau perlakuan dari supervisor
kemudian mempersepsikannya sebagai sesuatu yang sesuai (positif) atau •
tidak sesuai (negatif). Jadi bila karyawan mempersepsikan perlakuan
supervisor sebagai sesuatu yang positif maka karyawan akan memiliki sikap
kerja yang baik, sedangkan bila karyawan mempersepsikan perlakuan
supervisor sebagai sesuatu yang negatif maka karyawan ak<m memiliki sikap
kerja yang buruk. Dalam hal ini bias diduga bahwa semakin positif persepsi
tentang supervisor akan semakin positif sikap kerja karyawan.
2.4
Hipotesis
Berdasarkan konsep teori yang telah diuraikan, maka dapat diambil hipotesis.
Hipotesis yang diajukan penulis dalam penelitian ini yaitu :
Hipotesis Alternatif (Ha) : Ada hubungan yang signifikan antara persepsi
tentang supervisor dengan sikap kerja karyawan
Hipotesis Nihil (Hi) Tidak ada hubungan yang signifikan antara
persepsi supervisor dengan sikap kerja
METODOLOGI PENELITIAl\I
3.1. Jenis Penelitian
3.1.1. Pendekatan penelitian
Pendekatan dalarn penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, di rnana
penelitian yang bekerja dengan angka, yang datanya berNujud bilangan (skor
atau nilai, peringkat, atau frekuensi), yang dianalisis dengan rnenggunakan
statistik untuk rnenjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya
spesifik, dan untuk rnelakukan prediksi bahwa suatu variabel tertentu
rnernpengaruhi variabel yang lain ( Alsa,2004).
3.1.2. Metode penelitian
Metode yang digunakan dalarn penelitian ini adalah rnetode deskriptif yang
rneliputi kegiatan pengurnpulan data dalarn rangka rnenguji hipotesis atau
rnenjawab pertanyaan yang rnenyangkut kegiatan pada waktu sedang
penelitian. Jenis penelitian ini adalah korelasional untuk rnengetahui tingkat
hubungan antara variabel yang berbeda dalarn suatu populasi (Sevilla,
3.2. Variabel Penelitian
3.2.1. Definisi variabel
Variabel adalah suatu karakteristik yang memiliki dua atau leibih nilai. Di
dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel
terikat. Variabel bebas adalah variabel yang diduga dapat
mempengaruhi/mengakibatkan perubahan pada variable terikat. Sedangkan
variabel terikat adalah variabel yang diduga dapat dipengaruhi oleh variable
bebas penelitian.
Variabel Bebas : Persepsi tentang supervisor (X)
Variabel Terikat : Sikap kerja (Y)
3.2.2. Definisi operasional variabel
Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan alas sifat-sifat hal yang
sama yang dapat diamati atau di observasi. Definisi operasional merupakan
perincian kegiatan peneliti dalam menentukan pelaksanaan pengukuran
suatu variabel. Berikut ini adalah definisi operasional dan variabel-variabel
1. Persepsi tentang supervisor
Persepsi tentang supervisor adalah suatu aktifitas mengindeiraan,
mengidentifikasi dan memberi penilaian pada supervisor (Keilley (1983),
dalam Sears (1994)).
lndikator yang dipakai untuk persepsi tentang supervisor ini mengacu pada
teori yang dikembangkan oleh Robert L. Katz (1974) dalam Leslie (1996),
yang menyatakan bahwa seorang supervisor harus memiliki empat
keterampilan yaitu :
1. Keterampilan dalam teknik/pekerjaan
2. Keterampilan berhubungan dengan orang lain
3. Keterampilan dalam administrasi
4. Keterampilan membuat keputusan dan pemecahan masalah
2. Sikap kerja
Sikap kerja adalah pernyataan evaluatif yang mencerminkan bagaimana
seseorang karyawan merasakan dan mengungkapkan kesiapan mental
dalam menghadapi obyek-obyek yang ada dalam pekerjaan.
Sedangkan untuk mengetahui sikap kerja dapat diketahui deingan beberapa
indikator antara lain kepuasan kerja, keterlibatan kerja dan komitmen
3.3. Pengambilan Sampel
3.3.1. Populasi dan sampel
Gay (1976 dalam Sevilla 1993) mendefinisikan populasi sebagai kelompok
dimana peneliti akan menggeneralisasikan hasil ー・ョ・ャゥエゥ。ョョセイ。N@ Sedangkan
menurut Kerlinger seperti yang dikutip Sevilla bahwa populasi adalah
keseluruhan anggota, kejadian, atau objek-objek yang telah ditetapkan
dengan baik.
Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan-karyawan PT.lndomilk,
Jakarta Timur, sebanyak 350 pada karyawan bagian produksi. Dengan
karakteristik sebagai berikut:
1 ) Karyawan bekerja dibagian produksi
2) Berusia 20-40 tahun, laki-laki atau perempuan
3) Bekerja di perusahaan tersebut minimal 2 tahun
Sampel adalah beberapa bagian kecil atau cuplikan yang didapat dari
populasi (Sevilla, 1993). Sampel penelitian ini adalah sebagian karyawan
yang mewakili keseluruhan populasi di bagian produksi pada PT.lndomilk
yang telah di karakteristikkan, sebanyak 40 orang karyawan.
Alasan memilih karyawan yang telah bekerja selama 2 tallun, karena pada
cukup baik. Sedangkan usia subjek diantara 20 sampai 40 tahun didasarkan
pertimbangan bahwa dengan rentang usia tersebut sangat rnudah 、ゥセ。ー。エ@
dan pengalaman bekerja karyawan sudah mencapai ュゥョゥュ。セ@ 2 tahun.
3.3.2. Teknik pengambilan sampel
Proses yang meliputi pengambilan sebagian dari populasi, melakukan
pengamatan pada populasi secara keseluruhan disebut den1ian sampling/
pengambilan sampel (Sevilla, 1993). Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah teknik random sampling yaitu suatu metod!e pemilihan
ukuran sampel dari suatu populasi di mana setiap anggota populasi
mempunyai peluang yang sama dan semua kemungkinan penggabungannya
yang diseleksi sebagai sampel mempunyai peluang yang sama (Sevilla,
1993). Dengan cara Equi-Probability yaitu setiap anggota populasi yang
termasuk dalam sampel mempunyai peluang yang sama. Me!nurut Sulaiman
(2002) sampel random adalah sebuah sampel yang terdiri dari unsur-unsur
yang dipilih dari populasi. Dianggap random bila tiap unsur yang terdapat
dalam populasi tersebut memiliki probabilitas yang sama untuk dipilih.
Menurut Arikunto (2002) jika jumlah subyeknya besar, peneliti dapat
mengambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih, tergantung dari:
2) Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini
menyangkut banyak sedikitnya data.
3) Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala model
Likert. Menurut Saifuddin (1995) menjelaskan bahwa skala rnengungkapkan
data konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek
kepribadian individu. Pertanyaan dalam skala dibuat untuk memancing
jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subjek yang biasanya
tidak disadari oleh subjek yang bersangkutan.
Adapun skala yang digunakan adalah skala model Likert dengan empat
alternatif jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak :setuju (TS) dan
sangat tidak setuju (STS). Pernyataanya dibuat dengan kategori favorabel
dan unfavorable. Adapun cara subyek memberikan jawaban terhadap tipe
skala model Likert adalah dengan memberikan tanda silang (X) atau check
list( v') pad a salah satu alternatif jawaban berkisar antara 1-4 , untuk item
positif (favorable) skor jawaban SS=4, S=3, TS=2 dan STS=1, dan untuk item
negative (unfavorable) sebaliknya, untuk jawaban SS=1, S=:Z, TS=3 dan
Berikut ini adalah blue print persepsi tentang supervisor dan blue print sikap
kerja:
1. Skala persepsi tentang supervisor
Untuk mengukur persepsi tentang supervisor pada penelitian ini
menggunakan skala model Likert, berdasarkan teori yang di kemukan oleh
Robert.L.Katz adapun tabel blue print penyebaran item ウ・「。Qセ。ゥ@ berikut:
Tabel
3.1.
Blue Print Persepsi tentang Supervisor
No Aspek Pernyataan Jml
Fav Unfav
1 Keterampilan pekerjaan 4,8, 12,24,29,30 6,10,16 9
2 Keterampilan berhubungan 1,3,5,21,22 9, 15,40
8 dengan orang lain
3 Keterampilan administrasi 2, 11, 18,25,33 19,36,38,39
9
4 Keterampilan membuat 14,31,32 7, 13, 17',20,23,26,
keputusan dan 27,28,34,35,37 14
memecahkan masalah
[image:57.595.43.466.197.637.2]2. Skala sikap kerja
Untuk mengukur sikap kerja pada penelitian ini menggunakan skala ir!odel
likert, berdasarkan teori yang dikemukan oleh Robbins adapun tabel blue
print sikap kerja sebagai berikut :
Tabel 3.2.
Blue Print Sikap Kerja
Pernyataan
No Aspek Jml
Fav Unfav
1 Kepuasan 4,5, 12, 19,28,29,32 18,20,21,24,33,36,37,40
15 kerja
2 Keterlibatan 7, 11, 13, 14,26,30,34,35 8,9, 16, 17,27,38,39,46
16 kerja
3 Komitmen 1,2,3,6, 10,31,42,45 15,22,23,25,41,43,44,47
terhadap 16
organisasi
24 24 47
Jumlah
Pada masing-masing skala tersebut terdapat pernyataan yang mendukung
(favorable) dan pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable).
Pengukuran tersebut berdasarkan skala model Likert dari ernpat kategori
jawaban, yaitu: sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat
[image:58.595.41.467.161.522.2]Tabel 3.3.
Skoring Jawaban
Alternatif Jawaban Favorable Unfavorable
Sangat setuju 4 1
Setuju 3
2
Tidak setuju
2
3Sangat tidak setuju 1 4
3.5.
Hasil Uji Instrument
Penelitian
1. lnstrumen persepsi tentang supervisor
berdasarkan hasil uji coba terhadap 40 item dalam instrument ini, maka
terdapat 31 item yang valid baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada
taraf signifikansi 1 %, yaitu item nomor : 4, 10, 12, 24, 29, 30, 1, 5, 15, 22, 40,
11, 19,25,33,36, 38,39, 7, 13, 14, 17,20,23,27,28, 31, 32, 34,35, 37.
Sedangkan 9 item yang tidak valid, yaitu pada item nomor: El, 8, 16, 3, 9, 21,
[image:59.595.47.463.90.502.2]Tabel 3.4
Blue Print Persepsi tentang Supervisor
Pemyataan
No Faktor Jml
Fav IJnfav
1 Keterampilan pekerjaan 2,7,16,20,21
,.
,) 62 Keterampilan berhubungan 1,3,14 15,40
5 dengan orang lain
3 Keterampilan administrasi 6,17,24 12,27,29,30
7
4 Keterampilan membuat 9,22,23 4,8, 11, 13, 15,
keputusan dan memecahkan 18, 19,25,26,28 13
masalah
Jumlah 14 17 31
Uji reliabilitas skala persepsi tentang supervisor dilakukan dengan
menggunakan Alpha Cronbach. Dari uji reliabilitas tersebut, diperoleh
koefisien reliabilitas sebesar 0,93. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
instrument penelitian ini sangat reliabel untuk digunakan, karena menurut
Singarimbun dan Effendi (1989), suatu kuesioner dikatakan reliabel jika nilai
[image:60.595.41.461.121.497.2]2. tnstrumen sikap kerja
Berdasarkan hasit uji coba terhadap 47 item datam instrument ini, maka
terdapat 30 item yang valid baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada
taraf signikansi 1 % yaitu item nomor: 4, 5, 12, 28, 29, 32, 18, 20, 21, 24, 33,
36, 37, 14, 30, 34, 35, 9, 17, 38, 39, 46, 2, 3, 45, 23, 25, 43, 44, 47.
Sedangkan 17 item tainnya tidak valid, yaitu nomor: 19, 40, 7, 11, 13, 26, 8,
16, 27, 1, 6, 10, 31, 42, 15, 22, 41. Berikut ini adatah blue ptint revisi sikap
kerja:
Tabel 3.5
Blue Print Skala Sikap Kerja
No Faktor
Pernyataan
Jml
Fav Unfav
1 Kepuasan kerja 3,4,6,15,16,18 9,10,11,12
13 ,19,22,23
2 Keterlibatan kerja 7, 17,20,21 5,8,24,25,29
9
3 Komitmen terhadap 1,2,28 13, 14,26,27 ,30
8 organisasi
Jumlah 13 17 30
Uji realibilitas skala sikap kerja ditakukan dengan menggunakan Alpha
Cronbach. Dari uji retiabititas tersebut, diperoteh koefisien seb,esar 0,92.
[image:61.595.42.460.213.618.2]reliabel untuk digunakan, karena menurut Singarimbun dan Effendi (1989),
suatu kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Alpha Cronbach lebih bes<;ir dari
0,60.
3.6. Teknik Analisa Data
Pengolahan data dilakukan dengan analisa statistic sebagai cara untuk
mengetahui hubungan antar variabel, menempatkan persepsi tentang
supervisor sebagai variabel independen terhadap sikap kerja. Dalam
penelitian ini penulis menggunakan beberapa rumus, yaitu :
1. Rumus Korelasi Sederhana
Ru mus korelasi Product Moment dari Pearson dimaksudkan untuk
melukiskan hubungan antara variabel bebas dengan terikat atau digunakan
untuk analisa daya pembeda item, dalam hal ini untuk melihat adanya
hubungan antara variabel persepsi tentang supervisor dengan sikap kerja.
Untuk mengetahui validitas instrumen (uji validitas) dimana skor tiap item
dikorelasikan dengan skor total (Arikunto, 2002).
Untuk menghitungnya, penulis menggunakan program SPSS versi 11.5
Adapun rumus Product Moment dari Pearson adalah sebagai berikut :
Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi product moment
N : Jumlah subjek
Lxy
:
Jumlah hasil perkalian antara skor X dan YL:X : Jumlah seluruh skor X
L:Y : Jumlah seluruh skor Y
2. Rumus Reliabilitas
Untuk menghitung reliabilitas ala! pengumpulan data (uji reliabilitas)
digunakan teknik Alpha-Cronbach, dengan penghitungannya menggunakan
program SPSS versi 11.5. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut (Azwar,
2003).
a
=
{セ}@
[1-