• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara persepsi tentang supervisor dengan sikap kerja Karyawan PT. Indomilk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan antara persepsi tentang supervisor dengan sikap kerja Karyawan PT. Indomilk"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

PT. INDOMILK

Oleh:

HAMID AH

NIM: 102070026000

Skripsi diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam

memperoleh gelar Sarjana Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGEIRI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKA,RTA

(2)

Skripsi

Diajukan i<epada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat

memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Oleh:

HAMID AH

NIM 102070026000

Di Bawah Bimbingan:

/

-p・ュ「ゥセセ@

LIANY L.UZVINDA.MSi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UIN SYARIF HIDAYATULLAHI

(3)

Skripsi yang berjudul HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TENTANG

SUPERVISOR DENGAN SIKAP KERJA KARYAWAN PT. INDOMILK te,lah

diajukan dalam munaqasyah Fakultas Psikolcgi Universitas Islam Negeri

Syarif hidayatullah Jakarta pada tanggal 31 Januari 2007. skripsi ini telah

diterima sebagai salah satu syarat untuk rr.emperoleh gel21r Sarjana

Psikologi.

Jakarta, 31 Januari 2007

Sidang Munaqasyah,

Dekan/

kap Anggota,

Anggota,

Ora. Nett artati

M.

Si.

NIP:

150 2 5 938

Penguji ,

artati M. Si.

NIP: 150 15

938

Pembimbi g I,

Ora. adhilah Surala .

M.

Si

NIP:

150 215 283

Anggota:

Pembantu Dekan/

Sekretaris Merangkap

Penguji II,

d・Nfゥセ[@

NIP: 150215

283

p・ュ「ゥュ「ゥイセ@

セセ@

/

(4)

akan membuatmu lebih berguna don bermanfaat untuk

dirimu, keluarga, masyarakat don agama.

Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai

dengan kesanggupanya.

(Al-Baqarah 2: 286)

'l{arya setferfzana ini

'l{upersem6afzRg.n untuk.JanB tercinta tfan

tersayang

ayaliantfa (Vsmanu{Jlrifin) .cfan

i6untfa (SitiJlifiafz)

<Dan

rァNrァNセrァNrァNォLウ・イエ。@

atfi/?..;atfik,k,u

tersayang

(5)

(A) Fakultas Psikologi

(B) Januari 2007

(C) Hamidah

(D) Hubungan antara Persepsi Tentang Supervisor dengan Sikap Kerja

Karyawan PT. lndomilk

(E) Halaman xiv+ 74

(F) Supervisor adalah individu yang memiliki kemampuan mempengaruhi

tingkah laku orang lain dan menggunakan pengaruh tersebut untuk

merubah tingkah laku orang yang pendapat pengaruh tersebut. lni

berarti supervisor akan menggunakan orientasi pada berkembangnya

sikap kerja karyawan. Sikap kerja karyawan mencermi11kan pada

tingkat kepuasan, keterlibatan dan komitmen terhadap organisasi,

dimana sikap sebagai derajat efek positif atau efek negative.

Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari secara empirik hubungan

Persepsi tentang supervisor dengan Sikap Kerja. Populasi dari

penelitian ini adalah karyawan bagian produksi PT.lndomilk. Teknik

sampling yang digunakan adalah sampel 1andom sampling (n

=

40).

Adapun teknik pengumpulan data dengan menggunakatn 2 skala, yaitu

skala persepsi tentang supervisor dan skala sikap kerja.

Dari hasil perhitungan diketahui bahwa nilai r hitung sebesar 0,508

lebih besar dari r table 0,312 pada taraf signifikansi 5 %. Hal ini

menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

persepsi tentang supervisor dengan sikap kerja karyaw.an PT. lndomilk.

(G) Daftar Pustaka 37 buah (1950 - 2005) + 2 Skripsi

(6)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Yang berkuasa atas segala

sesuatu, syukur yang tak henti-hentinya atas segala nikmat yang telah

diberikan dan atas kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad :SAW,

keluarganya, sahabat dan para pengikutnya yang tetap istiqornah di

jalan-Nya.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini tiaiak dapat

selesai tanpa adanya bimbingan dan dukungan yang penuh k'etulusan, baik

secara moril maupun materiil dari semua pihak oleh karena itu dalam

kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

I. Dekan Fakultas Psikologi, lbu Hj. Ora. Netty Hartati, M. Si., lbu Hj. Ora.

Zahrotun Nihayah, M. Si. Pembantu dekan I bagian akademik, dan

seluruh dosen serta staf Fakultas. Terima kasih atas ilmunya, bimbingan

dan motivasi yang dengan tulus ikhlas diberikan kepada ーセイョオャゥウ@ dari mulai

semester I hingga selesai skripsi ini.

2. lbu Hj.Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si. Dasen pembimbing 。セZ。、・ュゥォN@ Terima

kasih atas bimbingan dan fasilitas yang diberikan selama penulisan skripsi

ini dan Bapak Asep Haerul Ghani, Psi. atas motivasi yang diberikan

kepada penulis.

3. lbu Ora. Fadhitah Suralaga, M. Si. Pembimbing I dan lbu Liany Luzvinda,

M. Si, selaku pembimbing II, yang sudah banyak meluangkan waktunya

untuk membimbing dan memberi arahan serta motivasi sellingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.

(7)

dan mengarungi kehidupan, lbu Bapak saya mencintaimu, saya akan

membahagiakanmu dan memberikan yang terbaik untukmu. Terima kasih, ya

Allah lindungilah dan sayangilah kedua orangtuaku, Amin.

Kakak-kakak dan Adik-adikku yang tercinta kak lbah,kak Yati, kak Ahmad, kak

Udin, kak Akim, Mai, Zaki dan Hafiz yang selalu memberikan keceriaan dan

semangat pada penulis.

Pimpinan, staff dan seluruh karyawan bagian produksi PT. lndomilk. Terima

kasih alas l<esempatan yang diberikan l<epada penulis untuk rnengadakan

penelitian ini.

Teman-teman TLC ( Jamali, Andhie Kamaruzsaman, Yudhi Syarief, S.Psi dan

Ahmad Subekti Mubarak), Ahmad Gunawan, Muhtar Wahid, Jol<o Bagus

Setiawan, H. M. Sugandi, lta Puspitasari, Nenden Damayanti, Nurniawati,

Yatmi, Dedeh , Agustina, dan teman-teman angkatan 2002 lainnya, terima

kasih atas l<asih sayang dan kebersamaannya mari kita menuju l<esuksesan,

karena sukses adalah l<ewajian kita.

Semua teman sepekerjaan, yang tidak bisa disebutl<an satu persatu. Terima

l<asih atas kebersamaannya, tetap semangat!!

Sahabatku yang baik, lta, Holinda dan Rita , terima kasih atas referensi dan

sarannya.

Perpustakaan Fakultas Psil<ologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UPI YAI, dan

UI.

Rental computer Mas Agus , dan Mbah (Orion).

Sauradaku, l<elompol< KKL Duren Sawit dan adik-adikku yang tercinta di panti

(8)

menyelesaikan penyusunan skripsi ini.

hirnya, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan saudaraku semua dan

1u yang ada bertambah serta bermanfaat. Amin. Tidak ada yan!J sempurna di

nia ini, maka dengan senang hati penulis akan menerima kritik dan saran yang

rsifat membangun demi sempurnanya skripsi ini. Semoga karya sederhana ini

rmanfaat.

Jakarta, 31 Januari 2007

(9)

A.LAMAN PERSETUJUAN ... .

; ii

A.LAMAN PENGESAHAN ... . iii

OTTO ... . iv

EDIKASI ... . iv

BSTRAK ... . v

A.TA PENGANTAR ... .. vi

A.FTAR ISi ... . IX A.FT AR T ABEL. ... . xii

A.FTAR GAMBAR ... . xiii

A.FTAR LAMPIRAN ... .. xiv

A.81. PENDAHULUAN...

1-9

I. I. Latar Belakang Masalah .. .... .. .... .... ... ... ... 1

セ@ 1.2. ldentifikasi Masalah ... .... ... .. .... ... .. .... .... .... ... ... .. .. ... .... . 6

1.3. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 6

1.3.1. Pembatasan Masalah ... 6

1.3.2. Perumusan Masalah ... 8

1.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

1.5. Sistematika Penulisan ... 9

1\8 2. KAJIAN PUST AKA... 10 - 37 2.1. Sikap Kerja Karyawan . .. . .. . .. .. . .. . .. .. . .. .. . .. .. .. .. . .. .. .. .. .. .. . .. .. . 10

2.1.1. Definisi Sikap Kerja .. .. .. ... ... ... .. .. .. ... .... .. ... 1 O 2.1.2. Faktor-faktor Sikap Kerja ... 12

2.1.3. Fungsi Sikap ... 17

2.1.4. Pembentukan Sikap... 19

(10)

2.2.3. Proses terjadinya Persepsi .. . ... ... ... ... .. ... 30

2.2.4. Definisi Supervisor ... . 31

2.2.5. Tugas-tugas dan Tanggung jawab Supervisor .... 32

2.2.6. Persepsi tentang Supervisor... 35

2.3. Kerangka Berfikir ... 36

2.4. Hipotesis ... . AB 3. METODOLOGI PENELITIAN... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .. . ... ... . 38 - 52 3.1. Jenis Penelitian ... 38

3.1.1. Pendekatan Penelitian ... 38

3 .1.2. Metode Penelitian . . . .. . . .. . .. ... ... ... .. . ... .. 38

3.2. Variabel Penelitian ... ,,... 39

3.2.1. Definisi Variabel ... .. .. ... .. . .. . ... .. . ... ... ... 39

3.2.2. Definisi Operasional Variabel .... .. . ... ... . ... . .. . . . .. . . ... 39

3.3. Pengambilan Sampel ... 41

3.3.1. Populasi dan Sampel... 41

3.3.2. Teknik Pengambilan Sampel ... 42

3.4. Teknik Pengumpulan Data... 43

3.5. Hasil Uji lnstrumen Penelitian ... 46

3.6. Teknik Analisa Data ... 49

3.7. Prosedur Penelitian ... 51

AB 4. PRESENTASI DAN ANALISA DATA... 53 -69 4.1. Gambaran Umum Responden Penelitian .. . ... .. ... . ... . . .. 53

4.1.1. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 53

4.1.2. Gambaran Respoden Berdasarkan Usia... ... . 54

(11)

4.2.3. Katagorisasi Skar Penelitian .. ... ... ... ... .. ... .... .. 60

4.3. Pengujian Hipotesis ... . 63

AB 5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN... 70

5.1. Kesimpulan ... .... ... ... ... .. ... . ... ... ... . .. .... .. .... .... ... . .. . . ... . ... 70

5.2. Diskusi .. . . .. . . .. .. .. . .. . . .. . ... ... .. ... ... ... . .. . .. . ... ... ... ... . . .. . . .. . . 71

5.3. Saran ... ... 74

AFTARPUSTAKA

(12)

·abel 3.1. Blue Print Persepsi tentang Supervisor

·abel 3.2. Blue Print Sikap Kerja

·abel 3.3. Skoring Jawaban

abel 3.4 Blue Print Revisi Persepsi tentang Supervisor

abel 3.5 Blue Print Revisi Skala Sikap Kerja

abel 4.1. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelarnin

abel 4.2. Gambaran Responden Berdasarkan Usia

abel 4.3. Gambaran Responden Berdasarkan Masa kerja

abel 4.5. Kategorisasi persepsi tentang supervisor

abel 4.6. Kategorisasi Sikap Kerja

abel 4.7. Uji Hipotesis Variabel Persepsi Tentang Supervisor dengan Sikap Kerja

abel 4.8. koefesien Determinan

abel 4.9. Independent Samples Test

abel 4. 10. Independent Samples Test

abel 4. 11. Uji F

[image:12.595.42.459.118.550.2]
(13)
[image:13.595.54.463.145.524.2]

Gambar 2.1 Kerangka berpikir

Gambar 4.1 Scatterplot persepsi tentang supervisor

(14)

Lampiran 1. Surat izin penelitian

Lampiran 2. Surat keterangan telah melakukan penelitian

Lampi ran 3. Kuesioner try out

Lampiran 4. Sko.- hasil try out skala persepsi tentang supervisor

Lampiran 5. Reliability skala persepsi tentang supervisor

Lampiran 6. Skor hasil try out skala sikap kerja

Lampiran 7. Reliability skala sikap kerja

Lampiran 8. Kuesioner Penelitian

Lampiran 9. Skor hasil penelitian persepsi tentang supervisor

Lampi ran 10. Skor hasil penelitian skala sikap kerja

Lampi ran 11. Uji normalitas skala persepsi tentang supervisor dan sikap kerja

Lampiran 12. Uji homogenitas

Lampiran 13. Descriptives

Lampiran 15. Koefesien Determinan

(15)

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi yang terjadi pada zaman modern

sekarang ini, dan berkat studi-studi sosial serta saran-saran psikologis, maka

dunia organisasi mengalami banyak perubahan dan kemajuan serta

melahirkan terciptanya berbagai jenis organisasi di Indonesia. Kondisi ini

membuat organisasi dituntut meningkatkan keunggulan agair mampu

menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal.

Kemajuan dan keberhasilan suatu organisasi, salah satunya didukung oleh

faktor baik buruknya manajemen organisasi yang dimilikinya. Manajemen

yang bail< tidal< hanya mengandalkan pimpinan, tetapi juga memperhatikan

peran tenaga kerja atau karyawan. Pimpinan dan karyawan harus bekerja

sama bagi terciptanya kondisi yang kondusif dalam mencapai tujuan

(16)

Manusia sebagai tenaga kerja merupakan sumber daya yang berperan

penting dalam organisasi (Siagian, 1998) dan hal tersebutjuga didukl)ng oleh

pernyataan Bernard Poduska, seorang pakar psikologi organisasi bahwa

sumber daya manusia yang bernilai lebih akan bermanfaat bagi organisasi

(Herry Tjahjono, 1999). Peran penting manusia dalam dunia kerja menuntut

penampilan kerja yang prima, sikap kerja merupakan penunjang penampilan

kerja karyawan tersebut.

Sikap kerja karyawan mencerminkan tingkat kepuasan, keterlibatan dan

komitmen.kerjanya. Manifestasi sikap kerja karyawan tersebut dapat bersifat

positif maupun negatif, seperti yang dikemukakan oleh Thurstone (Saifuddin

Azwar, 2000), bahwa sikap sebagai derajat efek positif atau negatif terhadap

suatu objek psikologis. Sikap tersebut perlu diperhatikan dan dikelola oleh

pihak instansi, apabila ada indikasi timbulnya sikap positif rnaka

kebijakan-kebijakan yang sudah diterapkan perlu dipelihara. Sebalikn)la bila ada

indikasi timbulnya sikap kerja yang negatif, maka obyek sikap kerja tersebut

perlu dievaluasi.

Berdasarkan indikasi tersebut, maka bila sikap kerja karyawan dapat

diungkapkan sangatlah baik manfaatnya bagi perusahaan sebagai sarana

mengevalusi kebijakan yang telah dilaksanakan. Sikap kerja karyawan

(17)

organisasi instansi tersebut. Disisi lain, bila karyawan dapat mengungkapkan

sikapnya dan mendapat perhatian dari organisasinya maka karyawa_q akan

merasa dihargai, sehingga partisipasi dan konstribusinya bagi organisasi

akan meningkat Artinya karyawan berusaha menampilkan potensi-potensi

yang dimiliki secara optimal, hal ini akan menguntungkan pihak organisasi.

Sikap kerja karyawan yang tidak disiplin, malas, tidak bertanggung jawab,

dan lain-lain, kerap kali menimbulkan anggapan bahwa masalah ini

disebabkan oleh kesalahan-kesalahan karyawan saja, dimana karyawan

tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya secara memadai. Anggapan ini

dikemukan karena karyawanlah yang secara langsung menunjukkan sikap

kerja yang kurang baik,namun hal ini bukan hanya menjadi masalah bagi

karyawan semata karena tidak mudah bagi karyawan untuk

mempertangungjawabkan sendiri pekerjaannya.

Tentu saja tidak semua karyawan memiliki sikap yang sama, namun masalah

ini telah demikian kompleks, sehingga tidak dapat diatasi secara parsial. Oleh

karena itu perlu digerakkan kembali upaya penyempurnaan pembinaan

sumber daya manusia (SOM) dalam lingkungan perusahaan ini secara

komprehensif dan integral melalui pembenahan manajemen dan pembinaan

sikap dan perilaku dalam diri individu maupun dalam suatu kelompok

(18)

Upaya penyempurnaan pembinaan SDM tersebut dapat diterapkan dalam

pembenahan fungsi-fungsi manajemen, satah satunya pada fungsi syorang

supervisor. Supervisor sebagai bagian dari sebuah manajernen perusahaan

memainkan peranan penting dalam upaya meningkatkan produkifitas kerja.

Menjadi supervisor berarti menduduki jabatan dengan tanmiung jawab dan

pekerjaan yang sangat menantang. Produktifitas sebuah perusahaan

dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya adalah penyeliaan atau

pengawasan yang baik dan efektif.

Seperti dikatakan oleh Mudrik (dalam Nanang Falah, 1996) l:iahwa

pengawasan merupakan proses dasar yang secara essensial tetap

diperlukan bagaimanapun rumitnya dan luasnya suatu organisasi. Seorang

supervisor atau penyelia secara obyektif rasional harus pula memiliki

kemampuan memimpin, agar mendapatkan rasa hormat dari seluruh

karyawannya. tni berarti supervisor akan menggunakan orientasi pada

berkembangnya sikap kerja karyawan.

Hal tersebut pula yang menjadi dasar diadakannya studi kepemimpinan

Michigan, pada tahun 1947, dilakukan penelitian di Newark, New Jersey,

pada perusahaan asuransi Prudential yang dijelaskan sebagai berikut :

Pada penelitian tersebut pengukuran yang sistematis dibuat berdasarkan

(19)

kemudian dihubungkan dengan pengukuran pelaksanaan pekerjaan (Thoha,

1990). Sesuai dengan pengukuran tersebut, persepsi dan sikap 、ゥィオセオョァォ。ョ@

menjadi variabel yang diukur. Proses terbentuknya sikap kerja didahului

dengan tahap pembentukan persepsi. Persepsi yang ada dalam diri individu

bersifat subyektif, dengan demikian besar kemungkinan karyawan memiliki

persepsi yaang berbeda-beda terhadap supervisor.

Jika karyawan mempersepsikan supervisor tidak sesuai dengan nilai yang

berlaku pada dirinya, maka akan timbul persepsi yang negatif terhadap

supervisor dan akan membawa dampak sikap kerja karyawan yang negatif

pula . Sebaliknya jika supervisor dipersepsikan positif atau sesuai dengan

nilai yang berlaku pada dirinya maka karyawan akan memiliki sikap kerja

yang positif pula.

Melihat dari kondisi tersebut bila dikaitkan dengan ilmu psikologi pada

umumnya serta psikologi industri dan organisasi pada khususnya, maka

masalah supervisor kaitannya dengan sikap kerja karyawan perlu pengkajian

yang mendalam. Hal ini menjadi alasan untuk dilakukannya penelitian

dengan judul : " Hubungan Antara Persepsi tentang Supervisor dengan Sikap

(20)

1.2

ldentifikasi Masalah

Pada identifikasi masalah, permasalahan yang mungkin timbul 。、。ャ。セ@ :

1 . Bagaimana persepsi karyawan tentang supervisor?

2. Bagaimana sikap kerja karyawan PT.lndomilk?

3. Bagaimana pengaruh persepsi terhadap sikap kerja ?

4. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi sikap kerja?

5. Adakah hubungan antara persepsi tentang supervisor dengan sikap

kerja karyawan ?

1.3

Pembatasan dan Perumusan Masalah Penelitian

1.3.1. Pembatasan masalah

1. Persepsi tentang supervisor yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

suatu aktifitas menginderaan, mengidentifikasi dan meml:ieri penilaian

pada supervisor. Kelley (1983 datam Sears, 1994). Adapun indikator yang

digunakan datam penetitian ini adatah merunjuk pada pendapat

Robert.L.Katz (197 4 dalam Leslie, 1996), yang ditihat dari seorang

supervisor adatah keterampitannya dalam pengetahuan l:entang

pekerjaan, pengetahuan tentang organisasi, kemampuan berhubungan

dengan orang lain, dan keterampitan datam membuat keputusan dan

pemecahan masalah. Supervisor adatah individu yang memiliki

(21)

pengaruh tersebut untuk merubah tingkah laku orang yang mendapat

pengaruh tersebut.

2. Sikap kerja adalah pernyataan evaluatif yang mencerminkan bagaimana

seseorang karyawan merasakan dan mengungkapkan kesiapan mental

dalam menghadapi obyek-obyek yang ada dalam pekerjaan. lndikator dari

sikap kerja ini adalah merunjuk pada teori Robbins (200·t ), ada tiga faktor

sikap kerja yaitu kepuasan kerja, keterlibatan kerja dan komitmen

terhadap organisasi.

3. P.T. lndomilk yang berkedudukan di jalan raya Bogar, Gandaria, Jakarta

Timur. Yang didirikan pada tanggai 15 Desember 1967. PT. lndomilk ini

bergerak dalam bidang manufacturing. Memiliki karyawan sudah lebih dari

1000 karyawan dari berbagai devisi. Untuk bagian produksi memiliki 350

orang, dengan tiga shift yaitu shift malam, pagi dan sian9. Dengan lama

bekerja 8 jam sehari. Fasilitas yang dimiliki PT. lndomilk antara lain yaitu

ruang rapat dan kendaraan, papan pengumuman, pemungutan iuran,

(22)

1.3.2 Perumusan masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan セ。ャ。ュ@

penelitian ini adalah sebagai berikut : " Apakah ada hubungan yang signifikan

antara persepsi supervisor dengan sikap kerja karyawan PT. lndomilk ".

1.4 Tujuan Dan Manfaat Penelitian

1.4.1 Tujuan penelitian

Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi

tentang supervisor dengan sikap kerja karyawan.

1.4.2 Manfaat penelitian

Dari hasil penelitian yang dilakukan ini, peneliti berharap hasilnya dapat

diaplikasikan secar teoritis dan praktis.

a. Secara teoritis

Dari hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan dalam pengembangan,

teori mengenai persepsi dan sikap kerja khususnya, daN pengembangan

pengetahuan psikologi pada umumnya.

b. Secara praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi perusahaan

(23)

1.5 Sistematika Penulisan

Bab

1

Pendahuluan ; Pada bab ini terbagi pada beberapa bagian, yaiy.1 latar

belakang masalah, identifikasi masalah, batasan dan rumusan masalah ,

tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

Bab 2 Kajian Pustaka ; Kajian pustaka dan pengajuan hipotBsa, bab ini akan

membahas tentang teori persepsi, sikap kerja, supervisor dan hubungan

persepsi tentang supervisor dengan sikap kerja.

Bab 3 Metodologi Penelitian ; Pada bagian ini penulis juga membagi

kedalam beberapa bagian diantaranya jenis penelitian, ー・ョセゥ。ュ「ゥャ。ョ@ sampel,

teknik pengumpulan data, analisa data dan prosedur penelitian.

[image:23.595.50.460.145.488.2]

Bab 4 Hasil Penelitian ; Pada bab ini penulis akan menyampaikan tentang

gambaran umum subjek penelitian, dan hasil utama penelitian. Yakni dengan

menyajikan data yang diperoleh,analisa dan interpretasi data.

Bab 5 Kesimpulan, Diskusi dan Saran ; Pada bab ini penulis akan

menyampaikan tentang kesimpulan, diskusi yang membahas hasil-hasil

penelitian serupa yang diperoleh sebelumnya, dan saran-saran yang

(24)

KAJIAN

PUSTAKA

2.1

Sikap Kerja Karyawan

2.1.1 Definisi sikap kerja

Perusahaan merupakan suatu organisasi yang diketahui sebagai sistem

sosial dimana anggota-anggotanya berinteraksi, yang pada akhimya akan

melahirkan sikap. Banyaknya karyawan sebagai anggota yang dimiliki oleh

suatu organisasi menyebabkan munculnya bermacam-macam sikap

karyawan dalam menghadapi pekerjaan.

Pengertian sikap kerja banyak dikemukakan oleh para ahli, diantaranya

Robbins (2001) menyatakan bahwa sikap kerja adalah pemyataan evaluatif

-baik menguntungkan atau tidak menguntungkan - yang mencerminkan

bagaimana seseorang mengungkapkan perasaannya meng1:mai obyek

pekerjaannya. Bila seseorang mengatakan bahwa dirinya menyukai

pekerjaannya, maka orang itu akan mengungkapkan sikapnya mengenai

kerja. Seringkali datam menghadapi obyek-obyek yang ada dalam pekerjaan,

(25)

Menurut Siagian (1998), sikap kerja negatif bisa terdapat pada karyawan

yang merasa kecewa terhadap pekerjaan, ini mengakibatkan seseorang akan

;

menjadi minimalis dalam arti kata hanya akan melaksanakan tugas

sedemikian rupa sehingga persyaratan minimun terpenuhi, tetapi tidak lebih

dari itu.

Sedangkan sikap kerja positif cenderung terdapat pada karyawan yang

merasa lebih mencintai pekerjaannya karena mendapat perhatian dari

lingkungan kerjanya. Kondisi sikap kerja yang negatif tidak boleh dibiarkan,

maka diperlukan cara untuk mengubahnya.

Apabila terlihat perkembangan pola sikap pada seorang karyawan yang tidak

cocok dengan situasi dan lingkungan, harus segera dilakukan tindakan

koreksi dan kemudian berusaha mengubah sikapnya, selanjutnya yang perlu

dilakukan adalah mengubah sikap kerja karyawan dengan menolong

menyadari reaiitas yang sebenarnya dengan menganalisanya atau

memberinya umpan balik berupa reaksi orang lain terhadap sikapnya atau

dapat juga dilakukan dengan cara mengubah pola-pola dalam sikap

karyawan meggunakan potensinya bagi pengalaman baru

(26)

Jadi berdasarkan definisi yang telah diuraikan maka dapat clisimpulkan

bahwa sikap kerja adalah pernyataan evaluatif yang mencerminkan · .;

bagaimana seorang karyawan merasakan dan mengungkapkan kesiapan

mental dalam menghadapi obyek-obyek yang ada dalam pekerjaan.

2.1.2 Faktor-faktor sikap kerja

lnteraksi yang dialami individu dalam suatu lingkungan sosial menciptakan

adanya reaksi yang membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek

psikologis yang dihadapinya. Disamping lingkungan, mekanisme mental juga

dapat menjadi faktor yang menentukan sikap kerja.

Siagian (1998) menyatakan berbagai faktor seperti faktor biografi,

lingkungan dan situasi turut membentuk kepribadian seseorang yang

tercermin dalam sikap. Rosenberg (Gibson & Donelly, 1995), mengemukakan

salah satu teori yang menyatakan bahwa sikap individu dipe1ngaruhi faktor

kesesuaian antara kenyakinan dengan perasaan terhadap obyek.

Secara garis besar, faktor -faktor yang menentukan sikap kerja merupakan

kumpulan dari faktor-faktor kognitif, afektif dan konatif yang saling berinterasi

dalam memahami, merasakan dan berperilaku terhadap suatu obyek.

(27)

Unsur kognitif merupakan kepercayaan yang bersifat menilai terhadap obyek

yang meliputi penilaian untung atau tidak, baik atau buruk, dan sebaQ13inya.

Unsur afektif menunjukkan adanya emosi dan hubungannya1 dengan obyek

yang dihadapinya dalam lingkungan kerja berupa perasaan senang atau

tidak, disukai atau tidak disukai. Sedangkan unsur kecenderungan bertindak

mencakup kesiapan-kesiapan bertingkah laku yang berkaitan dengan sikap

seseorang.

Beberapa tokoh mendukung pernyataan tersebut, seperti Atkinson dkk.(1996)

mengkaji tentang sikap yang terdiri alas tiga bagian, yaitu kognitif, afektif dan

perilaku. Robbins (1996) menyatakan komponen kognitif suatu sikap adalah

segmen pengertian atau kenyakinan, komponen afektif adalah suatu segmen

emosional atau perasan dan komponen perlakuan diartikan sebagai satu

kehendak untuk berperilaku sebagai reaksi terhadap stimulus dari

lingkungan.

Menurut Davis dan Newstrom (1989) ada tiga faktor sikap kerja, yaitu

kepuasan kerja, keterlibatan kerja dan komitmen terhadap organisasi.

Kemudian Robbins (2001) menegaskan bahwa banyak riset dalam perilaku

organisasi yang membahas tiga faktor sikap kerja yang ineliputi kepuasan

kerja, keterlibatan kerja dan komitmen terhadap organisasi. Faktor-faktor

(28)

a. Kepuasan kerja Uob satisfaction)

Kepuasan kerja erat kaitannya dengan sikap kerja, seperti pendapat セッ「「ゥョウ@

(2001) bahwa kepuasan kerja sebagai suatu sikap umum s13seorang individu

terhadap pekerjaannya. Seseorang dengan tingkat kepuasan kerja tinggi

menunjukkan sikap yang positif terhadap kerja itu. Seseorang yang tidak

puas dengan pekerjaannya menunjukkan sikap negatif.

Hertzberg (Thoha, 1999) mengemukakan bahwa ada dua kelompok faktor

dalam kepuasan kerja, yaitu :

1. Faktor motivator (Satisfer), terdiri dari keberhasilan, ー・ョセゥィ。イァ。。ョL@

pekerjaan itu sendiri, rasa tanggung jawab dan faktor pe11ingkatan yang

kesemuanya itu merupakan isi pekerjaan Uob content).

Robbins (2001) menambahkan bahwa hadirnya faktor ini menimbulkan

kepuasa11 kerja.

2. Faktor hygiene (Dissatisfier), terdiri dari upah dan gaji, k()ndisi tempat

kerja, teknik pengaw&san antara bawahan dan pengawasnya, dan

kebijaksanaan administrasi organisasi, yang merupakan aspek keadaan

yan berhubugan dengan pekerjaan Uob content).

Davis & Newstrom (1990) menambahkan bahwa, fakt()r tersebut bukan

(29)

b. Keterlibatan kerja (Job Involvement)

Keterlibatan kerja mengukur derajat sejauhmana seseorang secara · ,

psikologis memihak pada pekerjaannya dan menganggap kinerjanya tersebut

penting untuk rasa harga dirinya. Secara praktis dapat dijabarkan menjadi

unsur-unsur utama keterlibatan kerja, antara lain penghayatan atau

identifikasi akan makna kerja, bersedia berkorban waktu dan tenaga,

partisipasi dengan usaha penuh dalam melakukan pekerjaan. Kesemuanya

itu disebabkan adanya suatu ekspresi yang diungkapkan terhadap aktifitas

yang sedang berlangsung, yang menimbulkan kebanggaan, jika berhasil

melakukannya dengan baik.

c. Komitmen terhadap organisasi.

Komitmen terhadap organisasi dapat didefinisikan sebagai sifat hubungan

seseorang dengan organisasi. Menurut Gibson dan Donnelly (1995),

komitmen pada organisasi adalah rasa menyatu, terkait dan loyalitas

diungkapkan pegawai terhadap perusahaan, komitmen menunjukkan adanya

identifikasi terhadap tujuan organisasi dan kesetiaan. Ciri-ciri yang

ditunjukkan karyawan untuk menyatakan komitmennya terhadap organisasi

menurut Porter & Smith (Steers, 1985) yaitu ... adanya keinginan kuat untuk

tetap menjadi anggota organisasi, kesediaan untuk tetap memjadi anggota

organisasi, kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan

organisasi dan kepercayaan serta penerimaan yang kuat terhadap nilai dan

(30)

Secara umum, dalam berbagai referensi, sikap memiliki 3 komponen yakni:

kognitif, afektif, dan kecenderungan tindakan (Morgan dan King, 197!:(; Krech

dan Ballacy, 1963, Howard dan Kendler 1974, Gerungan, 2000). Komponen

kognitif merupakan aspek sikap yang berkenaan dengan penitaian individu

terhadap obyek atau subyek. tnformasi yang masuk ke dalam otak manusia,

melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan mengha:silkan nilai baru

yang akan diakomodasi atau diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah

ada di dalam otak manusia. Nilai - nilai baru yang diyakini b(mar, baik, indah,

dan sebagainya, pada akhirnya akan mempengaruhi emosi atau komponen

afektif dari sikap individu.

Oleh karena itu, komponen afektif dapat dikatakan sebagai perasaan (emosi)

individu terhadap obyek atau subyek, yang sejalan dengan hasil

penilaiannya. Sedangkan komponen kecenderungan bertindak terhadap

keinginan individu untuk metakukan perbuatan sesuai dengan keyakinan dan

keinginannya.

Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau

negatif. Manifestasi sikap tertihat dari tanggapan seseorang apakah ia

menerima atau menotak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau

(31)

Komponen sikap berkaitan satu dengan yang lainnya. Keterkaitan antar

komponen sikap dan secara bersama-sama komponen kognitif, afekt)f, dan

kecenderungan bertindak menumbuhkan sikap individu. Dari manapun kita

memulai dalam analisis sikap, ketiga komponen tersebut tetap dalam ikatan

satu sistem.

Sikap individu sangat erat kaitannya dengan perilaku mereka. Jika faktor

sikap telah mempengaruhi ataupun menumbuhkan sikap seseorang, maka

antara sikap dan perilaku adalah konsisten, sebagaimana yang dikemukan

oleh Krech (1962). Komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak

merupakan suatu kesatuan sistem, sehingga tidak dapat dileipas satu dengan

lainnya. Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap

pribadi

Jadi faktor-faktor yang menentukan sikap kerja karyawan teirdiri dari

kepuasan kerja, keterlibatan kerja dan komitmen terhadap organisasi yang di

dalamnya terkandung unsur-unsur kognitif, afektif dan konatif.

2.1.3 Fungsi sikap

Konsep sikap merupakan konsep sentral dalam psikotogi sosial, sikap sering

digunakan untuk meramalkan tingkah laku, baik tingkah laku perseorangan,

(32)

Secara terbalik dapat dikatakan bahwa tingkah laku sebagian merupakan

fungsi dari sikap. Pernyataan ini harus dimengerti secara hati-hati. Ka,ta

sebagian di sini mengandung arti bahwa ada hal-hal lain selain sikap yang

ikut menentukan tingkah laku seseorang.

Banyak sosiolog dan psikolog memberi batasan bahwa sikap merupakan

kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap

stimulus yang ada dalam lingkungan sosial.Sejumlah ahli telah mencoba

memberikan definisi sikap. Definisi-definisi tersebut berbeda satu dengan

yang lain, lebih karena perbedaan tekanan yang diberikan. Howard dan

Kendler mengatakan (dalam Gerungan, 2000} sikap merupakan suatu

kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, positif atau negatif

terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide,

konsep dan sebagainya.

Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek dapat positif atau

negatif. Manifestasi sikap terlihat dari tanggapan seseorang apakah ia

menerima atau menolak, setuju atau tidak setuju terhadap obyek atau

subyek. Hal ini juga sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sarwono

( 1996) bahwa sikap dapat bersifat positif dan negatif. Dalam sikap yang

positif, kecenderungan tindakan akan mendekati, menyenangi, dan

(33)

terdapat kecenderungan tindakan yang menjauhi, menghindari, membenci

dan tidak menyukai obyek sikap tersebut.

Sikap memiliki beberapa fungsi yang sangat penting dalam kehidupan

seseorang. Hollander (1976) mengatakan setidaknya ada dua fungsi penting

dari sikap, yaitu:

(1) Menyediakan dasar atau kerangka untuk menginterpmtasi dunia dan

memproses informasi-informasi baru.

(2) Merupakan cara untuk mendapatkan dan mempertahankan identitas

sosial.

2.1.4. Pembentukan sikap

Sikap manusia berkembang bersamaan dengan perkembangan dirinya.

Dalam kehidupan, seseorang selalu berkembang di tengah-tengah orang lain

dan berkembang pula bersama-sama dengan orang lain.

Di

tengah

hubungan antara individu dengan dunia sekitarnya; antara individu yang satu

dengan individu tainnya sebagai sesama anggota suatu koh3ktivitas.Dalam

interaksi sosiat juga terjadi saling mempengaruhi antara individu yang satu

dengan individu lainnya, melalui interaksi inilah sikap seseorang terbentuk.

Beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap rnenurut Saefuddin

(34)

a. Pengalaman Pribadi

Pengalaman dengan obyek sikap akan memberikan kesempatan kepfiida

individu untuk memiliki pengetahuan dan tanggapan serta penghayatan atas

obyek tersebut. Pengetahuan dan tanggapan inilah yang kemudian menjadi

salah satu unsur dalam komponen sikap seseorang.

b. Kebudayaan

Kebudayaan masyarakat dimana seseorang hidup dan dibHsarkan

mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan sikap orang

yang bersangkutan. Nilai-nilai dan norma-normanya kebudayaan telah

memberikan arah bagi sikap yang sesuai terhadap berbagai masalah dalam

kehidupan.

c. Orang Lain yang dianggap penting

Seseorang yang dianggap penting, yang istimewa, yang tak ingin

dikecewakan, yang dibutuhkan persetujuannya, akan banyak mempengaruhi

pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Orang yang biasanya dianggap

penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih

tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, isteri atau suami, dan

(35)

d. Media massa

lnformasi yang disampaikan oleh media massa, terselip pula pesan-Pc!'San

yang dapat membentuk opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai

suatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal

tersebut. Sementara itu pesan-pesan sugestif yang menyertainya, apabila

cukup kuat, maka akan memberi dasar afektif dalam menilai hal tersebut.

e. lnstitusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama

Lembaga pendidikan dan lembaga agama mempunyai pengaruh dalam

pembentukan sikap karena keduanya adalah yang meletakkan dasar

pengertian konsep moral dalam diri individu. Konsep-konsep moral

menentukan sistem kepercayaan seseorang tentang segala sesuatu. lni

merupakan unsur komponen kognitif yang sangat penting dalam sikap

seseorang.

f. Emosi

Kadang-kadang suatu sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh

emosi, yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan

bentuk mekanisme pertahanan diri. Salah satu bentuk sikap yang didasari

(36)

Untuk menumbuhkan sikap karyawan menurut Blum (19!i0), pada diri

karyawan perlu adanya aspek-aspek seperti berikut, yaitu :

1. Perasaan diterima, diikutsertakan dan menjadi bagian dari suatu kegiatan

kelompok.

2. Persamaan tujuan umum dengan kelompok.

3. Keyakinan bahwa tujuan organisasi memang diinginkan oleh kelompok.

4. Kerjasama diantara anggota kelompok datam usaha mencapai tujuan

yang tetah ditetapkan.

Lebih lanjut dijelaskan oteh Blum, jika keempat aspek tersebut ada pada diri

karyawan suatu organisasi atau perusahaan, maka dapat diharapkan

karyawan akan cenderung untuk menampitkan tingkah laku yang dapat

menyokong keberhasilan organisasi. Karyawan akan lebih .giat dan senang

mengerjakan pekerjaannya. Sebaliknya jika aspek-aspek ini tidak ada datam

diri karyawan suatu organisasi, maka karyawan akan cenderung

menampilkan tingkah laku yang dapat menghambat tujuan organisasi.

2.1.5. Perubahan sikap

Sikap dapat berubah atau dapat diubah melalui banyak cara. Sikap adatah

suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan untuk menyesuaikan diri dalam

situasi sosial, atau respon terhadap stimuli sosial yang telah dikondisikan

(37)

2.2

Persepsi Karyawan tentang Supervisor

2.2.1.

Definisi persepsi

Persepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu perangkat psikologis

yang menandai kemampuan seseorang untuk mengenal dan memaknakan

sesuatu objek yang ada di lingkungannya. Menurut Scheereir persepsi

adalah representasi phenomenal tentang objek distal sebagai hasil dari

pengorganisasian dari objek distal itu sendiri, medium dan mngsangan

proksinal . Dalam persepsi dibutuhkan adanya objek atau stimulus yang

mengenai alat indera dengan perantaraan syaraf sensorik, kemudian

diteruskan ke otak sebagai pusat kesadartin (proses psikologis). Selanjutnya,

dalam otak terjadilah sesuatu proses hingga individu itu dapat mengalami

persepsi (proses psikologis).

Psikologi kontemporer menyebutkan persepsi secara umum diperlukan

sebagai satu vRrii:ibel campur tangan (intervening variabel), bergantung pada

faktor-faktor motivasional. Artinya suatu objek atau satu kejadian objektif

ditentukan baik oleh kondisi perangsang maupun oleh faktor-faktor

organisme. Dengan alasan sedemikian, persepsi mengenai dunia oleh

pribadi-pribadi yang berbeda juga akan berbeda, karena. setiap individu

menanggapinya berkenaan dengan aspek-aspek situasi tadi yang

(38)

Proses pemaknaan yang bersifat psikologis sangat dipengaruhi oleh ,

pengalaman, pendidikan dan lingkungan sosial secara umum. Sarwono

mengemukakan bahwa persepsi juga dipengaruhi oleh

pengalaman-pengalaman dan cara berpikir serta keadaan perasaan atau minat tiap-tiap

orang sehingga persepsi seringkali dipandang bersifat subjektif. Karena itu

tidak mengherankan jika seringkali terjadi perbedaan paham yang

disebabkan oleh perbedaan persepsi antara 2 orang terhadap 1 objek.

Persepsi tidak sekedar pengenalan atau pemahaman tetapi juga evaluasi

bahkan persepsi juga bersifat inferensional (menarik kesimpulan)

(Sarwono, 1983).

Persepsi sosial menurut David 0 Sears adalah bagaimana kita membuat

kesan pertama, prasangka apa yang mempengaruhi mereka, jenis informasi

apa yang kita pakai untuk sampai pada kesan tersebut, dan bagaimana

akuratnya kesan itu (David 0 Sears, et. al, 1994). Menurut l:stiqomah dkk,

Persepsi sosial mengandung unsur subyektif. Persepsi seseiorang bisa keliru

atau berbeda dari persepsi orang lain. Kekeliruan atau ー・イ「ャセ、。。ョ@ persepsi

ini dapat membawa macam-macam akibat dalam hubungan antar manusia.

Persepsi sosial menyangkut atau berhubungan dengan adanya

(39)

banyak hal, dapat terdiri dari (a) orang atau orang-orang berikut ciri-ciri,

kualitas, sikap dan perilakunya, (b) persitiwa-peristiwa sosial dalam -..

pengertian peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang-oran!;1, secara langsung

maupun tidak langsung, norma-norma, dan lain-lain (lstiqomah, dkk, 1988).

Terkait dengan persepsi sosial, lstiqomah menyebutkan ada 3 hal yang

mempengaruhi, yakni 1) variabel obyek-stimulus, 2) variabel latar atau

suasana pengiring keberadaan obyek-stimulus, dan 3) variabel diri preseptor

(pengalaman, intelegensia, kemampuan menghayati stimuli, ingatan,

disposisi kepribadian, sikap, kecemasan, dan pengharapan) (lstiqomah, dkk,

1988).

Ada tiga dimensi yang terkait dengan persepsi, menurut Osgood tentang

konsep diferensial semantik menjelaskan tiga dimensi dasar yang terkait

dengan persepsi, yakni evaluasi (baik-buruk}, potensi (kuat-·lemah}, dan

aktivitas (aktif-pasif). Menurutnya evaluasi merupakan dimEmsi utama yang

mendasari persepsi, disamping potensi dan aktivitas (David 0 Sears, et. al,

1994).

Persepsi kerap ditafsirkan sebagai sebuah konsep dengan dua macam

(40)

proses dan pengertian, yang kedua mengacu kepada hasil daripada proses

itu sendiri.

Banyak ahli di bidang psikologi sosial yang condong untuk mendefinisikan

persepsi sebagai: suatu proses melekatkan atau memberikcin makna kepada

informasi sensor! yang diterima seseorang.

Proses ini dapat digambarkan sebagai berikut, misalnya seorang melintas di

depan kita, melalui indera penglihatan kita dapat menangkap sejumlah ciri

yang terdapat pada dirinya. Ciri-ciri tersebut merupakan kumpulan informasi

sensoris yang tidak mempunyai makna apa-apa sebelum kita melekatkan

suatu makna padanya.

Penglihatan kita memberikan informasi bahwa makhluk yang sedang

melintas itu adalah seorang wanita, berambut panjang hing9a ke bahu,

berhidung mancung, berkulit mulus, bertubuh semampai dan lain-lain, lalu

kita memberikan penilaian bahwa wanita yang sedang melintas adalah gadis

cantik dan menawan {berbahagialah pria yang dapat menikahinya). Adanya

penilaian, kesan atau makna yang kita berikan kepada informasi sensoris

yang sampai pada diri kita, hal tersebut menunjukkan 「。ィキゥセ@ persepsi telah

bekerja pada diri kita. Tanpa pemaknaan, maka pengalaman yang kita

(41)

Persepsi juga didefinisikan sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa,

atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan ゥョヲッセュ。ウゥ@

dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli

inderawi (sensory stimu/y). Walaupun begitu makna informasi inderawi tidak

hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan

memori (Walgito, 2002).

Di sisi lain Felley, et. al. (dalam Unika, 2006) mengidentifikasi tiga komponen

utama dari proses persepsi. Pertama, seleksi atau screening yang sangat

erat hubungannya dengan pengamatan dan stimulus yang dilihat. Kedua,

interpretasi, yaitu proses pengorganisasian informasi ウ・ィゥョセQァ。@ mempunyai

arti bagi seseorang. lnterpretasi ini tergantung pada berbagai faktor, seperti

pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dipunyai seorang, motivasi

kepribadian, kecerdasan dan sebagainya. Ketiga, kemampuan seseorang

untuk mengadakan kategorisasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi

informasi yang komplek, menjadi lebih sederhana, yaitu interpretasi behavior

terhadap sesuatu obyek persepsi.

Branca, Woodworth dan Marquis sebagaimana dikutip w。ャセQゥエッ@ ( 2002)

mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses yang didahului oleh

penginderaan. Penginderaan adalah merupakan suatu proses diterimanya

(42)

tersebut tidak berhenti di situ saja, pada umumnya stimulus tersebut

diteruskan oleh syaraf ke otak sebagai pusat susunan syaraf, dan prq_ses

selanjutnya merupakan proses persepsi. Karena itu proses persepsi tidak

dapat lepas dari proses penginderaan, dan proses pengindewaan merupakan

proses yang mendahului terjadinya persepsi, dengan persepsi individu dapat

menyadari, dapat mengerti tentang keadaan lingkungan セイ。ョァ@ ada di

sekitarnya, dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan

(Davidoff, 1981 ).

Berdasarkan teori-teori yang telah dijelaskan maka dapat disimpulkan, bahwa

persepsi secara psikologis adalah proses pencarian informasi melalui

kegiatan seleksi, pengorganisasian dan penafsiran stimulus berdasarkan

pengalaman yang didapatkan dari lingkungan yang dapat mempengaruhi

tindakan selanjutnya.

2.2.2

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Menurut Robbins (2001) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut

adalah:

a. Karakterisrik individu yang mempersepsikan (perceiver).

Bila seseorang individu memandang suatu obyek dan menc:oba menafsirkan

apa yang dilihatnya, penafsiran tersebut sarat dipengaruhi oleh

(43)

memberikan respon stimuli itulah yang menentukan persepsi. Karakteristik

pribadi relevan tersebut adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, .•.

pengalaman masa lalu dan pengharapan.

b. Karakteristik obyek y;:ing dipersepsikan (perceived)

Menyatakan bahwa karakteristik-karakteristik pada obyek yang diamati juga

dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. Selanjutnya Thoha (1999)

pada umumnya karakteristik obyek yang dilihat dalam proses persepsi sosial

antara lain status orang yang dinilai, pengelompokan obyek dalam

kategori-kategori untuk memudahkan pandangan orang yang menilai dan sifat

perangai obyek yang dinilai.

c. Situasi kondisi yang berlangsung

Bagian ini berisi unsur-unsur lingkungan sekitar yang secara keseluruhan

mempengaruhi persepsi. Memahami lingkungan merupakan proses yang

aktif untuk membuat lingkungannya mempunyai arti bagi seseorang tersebut.

2.2.3

Proses terjadinya persepsi

Mempersepsikan sesuatu tidak terjadi begitu saja, tetapi ada unsur yang

dapat menciptakan sebuah persepsi atau suatu proses yang dapat membuat

terjadinya suatu persepsi, seperti berikut ini, (Walgito,1994) menyatakan

(44)

diteruskan ke syaraf sensori;alat alat indera/reseptor ke pusat susunan syaraf

yaitu otak;perhatian;karena tanpa adanya perhatian tidak ada ー・イウ・ーセゥN@

Persepsi bermula dari penginderaan, hal ini berarti bahwa teirjadinya proses

ini dirangsang kehadiran sesuatu/sekumpulan obyek yang tertangkap oleh

alat-alat indera manusia. lnformasi yang disalurkan ke da!am alam pikiran,

kemudian mengalami beberapa tahapan pengolahan mulai dari seleksi dan

organisasi dari rangsang-rangsang atau stimuli mengenai ke1seluruhannya.

Dikatakan oleh French, bahwa persepsi berlangsung lebih cepat dari proses

pengenalan atau berpikir biasa.persepsi harus dibedakan dari proses

inderawi. Proses inderawi adalah proses kerja indera kita, dan proses

persepsi adalah cara kita memproses data inderawi tadi menjadi informasi

agar dapat kita artikan (Sukadji,

1980).

2.2.4 Definisi supervisor

lstilah supervisor sebenamya berasal dari bahasa latin "sup13rvisor" yang

berarti "memeriksa" atau "mengawasi". Langkah awal untuk mendapat

batasan pengetian mengenai supervisor ini, peneliti berusaha dengan cara

mengajukan beberapa definisi. Definisi pertama diambil dari "The

National-Management Relation Act" (dalam Spriegel,dkk

1957)

adalah supervisor

seseorang yang memiliki otoritas dalam memilih, mengganti.,

(45)

mendisiplinkan karyawan lain. Dengan perkataan lain supervisor adalah

individu yang bertanggung jawab mengarahkan dan membimbing karyawan

lain.

Menurut Spriegel & Schulz, menyatakan bahwa supervisor !t)ertanggung

jawab atas hubungan antara manusia dan pekerjaannya. Di satu pihak

supervisor bertanggung jawab terhadap hasil produksi, di pihak lain harus

bertanggung jawab atas proses pembuatan produksi tersebut melalui orang

lain.

Sedangkan dalam "The Fair Labor Standards Acf' (Spriegel, dkk 1957)

mendefinisikan supervisor harus mampu menggunakan kekuasaan yang

telah diberikan padanya dalam rangka pelaksanaan tugasnya.

Berdasarkan dari definisi-definisi yang telah disebut dapat dikatakan bahwa

supervisor adalah individu yaang memiliki kemampuan mempengaruhi

tingkah laku orang lain dan menggunakan pengaruh tersebut untuk tujuan

mengubah tingkah laku orang yang mendapat pengaruh tersebut.

2.2.5.

Tugas-tugas dan tanggung jawab supervisor

Pada dasarnya fungsi adalah sekelompok tugas atau kegiatan yang harus

dijalankan oleh seseorang yang mempunyai kedudukan sebagai pemimpin

(46)

ini dilandaskan suatu pemikiran bahwa segala aktivitas dalam organisasi

akan dapat berjalan lancar dan berhasil mencapai tujuan seperti yang telah

ditetapkan (Bittel dan Newstrom, 1994). Di datam manajemen secara

fundamental tanggung jawab supervisor dapat diklasifikasikan alas

komponen-komponen,yaitu :

1. Perencanaan (Planning)

Perencanaan datan arti tua s adatah penetapan tujuan manajemen

(setting obyektives), peramatan kondisi-kondisi masa depan dan

penentuan tindakan serta kebijakan masa dating yang diperlukan untuk

mnecapai sasaran atau tujuan tersebut. Pengerian tersebut dalam

penerapannya adalah tugas direksi atau pimpinan manajemen. Walaupun

demikian supervisor mempunyai tugas yang hampir sama, hanya dibatasi

jangkauannya. Supervisor lebih merencanakan kerangka kerja dan

kebijakan tujuan bagian atau kelompok yang dipimpinnya. Selain itu pula

harus bertanggung jawab atas hubungan interpersonal antar bawahannya

sehingga diperoleh hasil yang maksimal.

2. Pengorganisasian (Organizing)

Mengorganisasian di sini dalamarti supervisor menetapkan peraturan

pada bawahan mengenai sistim kerja dan juga mengatur serta

(47)

produksi sedemikian rupa dengan tujuan agar memperoleh hasil produksi

yang maksimal dengan biaya yang minimal.

3. Pelaksanaan atau Pengoperasian (Executing or Operating)

Arti dari tugas dalam pelaksanaan atau pengoperasian ini adlah

pelaksanaan rencana kerja yang telah diterapkan baik oleh manajemen

pusat maupun bagian atau kelompok. Di dalam pelksanaan rencana kerja

perlu adanya wakil yang mempraksai dan mengadakan penelitian kembali

(cheking) terhadap hasil yang diperoleh. Dengan demikian pada tugas ini

supervisor memberikan sebagian dari tanggung jawab dan otoritasnya

kepada orang lain. Hal ini terjadi karena supervisor tidak ada waktu atau

tidak memiliki kemampuan mengerjakannya sendiri secara efisien.

Dengan catatan tanggung jawab dan otoritas yang diberikan kepada

orang lain tersebut dalam batas tertentu. Dengan perkataan lain yang

bertanggung jawab atas proses pembuatannya, akan tetapi hasil terakhir

merupakan tanggung jawab supervisor. Untuk tujuan tersebut supervisor

perlu memprakasai pelaksanaannya agar tidak terjadi peinyimpangan dari

rencana kerja yang telah ditetapkan.

Tugas penting bagi seorang supervisor adalah memimpin. Kepemimpinan

(48)

untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Untuk dapat mempengaruhi

atau memimpin orang lain, seorang supervisor harus dapat ュ・ョオョェオォセ。ョ@

hal-hal yang mesti dilakukan, bagaimana melakukannya, memberi kesempatan

bagi bawahan untuk mengajukan gagasan, mengikutsertakan mereka dalam

pengambilan keputusan atau memberi kesempatan bagi bawahan untuk

menunjukkan kemampuan berkinerja dengan baik atau sekedar mendukung

dan mendorong bawahannya.

Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Robert L.Kat2: (1974 dalam

Leslie 1996) bahwa seorang supervisor harus mempunyai 4 macam

keterampilan yaitu keterampilan teknik/pekerjaan, keterampiifan berhubungan

dengan orang lain, keterampilan administrasi, dan keterampilan membuat

keputusan dan pemecahan masalah.

2.2.6 Persepsi tentang supervisor

Persepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu perangkat psikologis

yang menandai kemampuan seseorang untuk mengenal dan memaknakan

sesuatu objek yang ada di lingkungannya.

Dalam persepsi dibutuhkan adanya objek atau stimulus yang mengenai alat

indera dengan perantaraan syaraf sensorik, kemudian diteruskan ke otak

(49)

terjadilah sesuatu proses hingga individu itu dapat mengalarni persepsi

(proses psikologis). .,

lnformasi ini akan diproses oleh seorang karyawan sehingga informasi

tersebut dapat diinterpretasikan, karena seorang karyawan tahu tentang apa

yang dihayati atau dimengerti. Maka setiap karyawan mempunyai perbedaan

dalam memberikan makna tersebut.

Persepsi tentang supervisor adalah suatu aktifitas menginderaan,

mengidentifikasikan dan memberi penilaian pada supervisor. Kelley (1983)

(dalam Sears,1994). Sesuai dengan penelitian yang dilakukan yang

berpatokan pada teori Robert L. Katz (1974), penilaian itu berupa empat

keterampilan yang harus dimiliki supervisor yaitu keterampilan dalam

pekerjaan, keterampilan berhubungan dengan orang lain, ke1terampilan

administrasi dan keterampilan dalam membuat keputusan dan memecahkan

masalah.

2.3

Kerangka Berpikir

Untuk memudahkan menyelami pemikiran penulis, berikut adalah kerangka

berpikir dari penelitian ini :

Perlakuan

セMk⦅。⦅イケ⦅。⦅キ⦅。⦅ョ⦅セセ@

Persepsi

tentang supervisor

(50)

Karyawan yang mendapatkan stimulus atau perlakuan dari supervisor

kemudian mempersepsikannya sebagai sesuatu yang sesuai (positif) atau •

tidak sesuai (negatif). Jadi bila karyawan mempersepsikan perlakuan

supervisor sebagai sesuatu yang positif maka karyawan akan memiliki sikap

kerja yang baik, sedangkan bila karyawan mempersepsikan perlakuan

supervisor sebagai sesuatu yang negatif maka karyawan ak<m memiliki sikap

kerja yang buruk. Dalam hal ini bias diduga bahwa semakin positif persepsi

tentang supervisor akan semakin positif sikap kerja karyawan.

2.4

Hipotesis

Berdasarkan konsep teori yang telah diuraikan, maka dapat diambil hipotesis.

Hipotesis yang diajukan penulis dalam penelitian ini yaitu :

Hipotesis Alternatif (Ha) : Ada hubungan yang signifikan antara persepsi

tentang supervisor dengan sikap kerja karyawan

Hipotesis Nihil (Hi) Tidak ada hubungan yang signifikan antara

persepsi supervisor dengan sikap kerja

(51)

METODOLOGI PENELITIAl\I

3.1. Jenis Penelitian

3.1.1. Pendekatan penelitian

Pendekatan dalarn penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, di rnana

penelitian yang bekerja dengan angka, yang datanya berNujud bilangan (skor

atau nilai, peringkat, atau frekuensi), yang dianalisis dengan rnenggunakan

statistik untuk rnenjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian yang sifatnya

spesifik, dan untuk rnelakukan prediksi bahwa suatu variabel tertentu

rnernpengaruhi variabel yang lain ( Alsa,2004).

3.1.2. Metode penelitian

Metode yang digunakan dalarn penelitian ini adalah rnetode deskriptif yang

rneliputi kegiatan pengurnpulan data dalarn rangka rnenguji hipotesis atau

rnenjawab pertanyaan yang rnenyangkut kegiatan pada waktu sedang

penelitian. Jenis penelitian ini adalah korelasional untuk rnengetahui tingkat

hubungan antara variabel yang berbeda dalarn suatu populasi (Sevilla,

(52)

3.2. Variabel Penelitian

3.2.1. Definisi variabel

Variabel adalah suatu karakteristik yang memiliki dua atau leibih nilai. Di

dalam penelitian ini ada dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel

terikat. Variabel bebas adalah variabel yang diduga dapat

mempengaruhi/mengakibatkan perubahan pada variable terikat. Sedangkan

variabel terikat adalah variabel yang diduga dapat dipengaruhi oleh variable

bebas penelitian.

Variabel Bebas : Persepsi tentang supervisor (X)

Variabel Terikat : Sikap kerja (Y)

3.2.2. Definisi operasional variabel

Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan alas sifat-sifat hal yang

sama yang dapat diamati atau di observasi. Definisi operasional merupakan

perincian kegiatan peneliti dalam menentukan pelaksanaan pengukuran

suatu variabel. Berikut ini adalah definisi operasional dan variabel-variabel

(53)

1. Persepsi tentang supervisor

Persepsi tentang supervisor adalah suatu aktifitas mengindeiraan,

mengidentifikasi dan memberi penilaian pada supervisor (Keilley (1983),

dalam Sears (1994)).

lndikator yang dipakai untuk persepsi tentang supervisor ini mengacu pada

teori yang dikembangkan oleh Robert L. Katz (1974) dalam Leslie (1996),

yang menyatakan bahwa seorang supervisor harus memiliki empat

keterampilan yaitu :

1. Keterampilan dalam teknik/pekerjaan

2. Keterampilan berhubungan dengan orang lain

3. Keterampilan dalam administrasi

4. Keterampilan membuat keputusan dan pemecahan masalah

2. Sikap kerja

Sikap kerja adalah pernyataan evaluatif yang mencerminkan bagaimana

seseorang karyawan merasakan dan mengungkapkan kesiapan mental

dalam menghadapi obyek-obyek yang ada dalam pekerjaan.

Sedangkan untuk mengetahui sikap kerja dapat diketahui deingan beberapa

indikator antara lain kepuasan kerja, keterlibatan kerja dan komitmen

(54)

3.3. Pengambilan Sampel

3.3.1. Populasi dan sampel

Gay (1976 dalam Sevilla 1993) mendefinisikan populasi sebagai kelompok

dimana peneliti akan menggeneralisasikan hasil ー・ョ・ャゥエゥ。ョョセイ。N@ Sedangkan

menurut Kerlinger seperti yang dikutip Sevilla bahwa populasi adalah

keseluruhan anggota, kejadian, atau objek-objek yang telah ditetapkan

dengan baik.

Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan-karyawan PT.lndomilk,

Jakarta Timur, sebanyak 350 pada karyawan bagian produksi. Dengan

karakteristik sebagai berikut:

1 ) Karyawan bekerja dibagian produksi

2) Berusia 20-40 tahun, laki-laki atau perempuan

3) Bekerja di perusahaan tersebut minimal 2 tahun

Sampel adalah beberapa bagian kecil atau cuplikan yang didapat dari

populasi (Sevilla, 1993). Sampel penelitian ini adalah sebagian karyawan

yang mewakili keseluruhan populasi di bagian produksi pada PT.lndomilk

yang telah di karakteristikkan, sebanyak 40 orang karyawan.

Alasan memilih karyawan yang telah bekerja selama 2 tallun, karena pada

(55)

cukup baik. Sedangkan usia subjek diantara 20 sampai 40 tahun didasarkan

pertimbangan bahwa dengan rentang usia tersebut sangat rnudah 、ゥセ。ー。エ@

dan pengalaman bekerja karyawan sudah mencapai ュゥョゥュ。セ@ 2 tahun.

3.3.2. Teknik pengambilan sampel

Proses yang meliputi pengambilan sebagian dari populasi, melakukan

pengamatan pada populasi secara keseluruhan disebut den1ian sampling/

pengambilan sampel (Sevilla, 1993). Teknik pengambilan sampel yang

digunakan adalah teknik random sampling yaitu suatu metod!e pemilihan

ukuran sampel dari suatu populasi di mana setiap anggota populasi

mempunyai peluang yang sama dan semua kemungkinan penggabungannya

yang diseleksi sebagai sampel mempunyai peluang yang sama (Sevilla,

1993). Dengan cara Equi-Probability yaitu setiap anggota populasi yang

termasuk dalam sampel mempunyai peluang yang sama. Me!nurut Sulaiman

(2002) sampel random adalah sebuah sampel yang terdiri dari unsur-unsur

yang dipilih dari populasi. Dianggap random bila tiap unsur yang terdapat

dalam populasi tersebut memiliki probabilitas yang sama untuk dipilih.

Menurut Arikunto (2002) jika jumlah subyeknya besar, peneliti dapat

mengambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih, tergantung dari:

(56)

2) Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek, karena hal ini

menyangkut banyak sedikitnya data.

3) Besar kecilnya resiko yang ditanggung oleh peneliti.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala model

Likert. Menurut Saifuddin (1995) menjelaskan bahwa skala rnengungkapkan

data konstrak atau konsep psikologis yang menggambarkan aspek

kepribadian individu. Pertanyaan dalam skala dibuat untuk memancing

jawaban yang merupakan refleksi dari keadaan diri subjek yang biasanya

tidak disadari oleh subjek yang bersangkutan.

Adapun skala yang digunakan adalah skala model Likert dengan empat

alternatif jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak :setuju (TS) dan

sangat tidak setuju (STS). Pernyataanya dibuat dengan kategori favorabel

dan unfavorable. Adapun cara subyek memberikan jawaban terhadap tipe

skala model Likert adalah dengan memberikan tanda silang (X) atau check

list( v') pad a salah satu alternatif jawaban berkisar antara 1-4 , untuk item

positif (favorable) skor jawaban SS=4, S=3, TS=2 dan STS=1, dan untuk item

negative (unfavorable) sebaliknya, untuk jawaban SS=1, S=:Z, TS=3 dan

(57)

Berikut ini adalah blue print persepsi tentang supervisor dan blue print sikap

kerja:

1. Skala persepsi tentang supervisor

Untuk mengukur persepsi tentang supervisor pada penelitian ini

menggunakan skala model Likert, berdasarkan teori yang di kemukan oleh

Robert.L.Katz adapun tabel blue print penyebaran item ウ・「。Qセ。ゥ@ berikut:

Tabel

3.1.

Blue Print Persepsi tentang Supervisor

No Aspek Pernyataan Jml

Fav Unfav

1 Keterampilan pekerjaan 4,8, 12,24,29,30 6,10,16 9

2 Keterampilan berhubungan 1,3,5,21,22 9, 15,40

8 dengan orang lain

3 Keterampilan administrasi 2, 11, 18,25,33 19,36,38,39

9

4 Keterampilan membuat 14,31,32 7, 13, 17',20,23,26,

keputusan dan 27,28,34,35,37 14

memecahkan masalah

[image:57.595.43.466.197.637.2]
(58)

2. Skala sikap kerja

Untuk mengukur sikap kerja pada penelitian ini menggunakan skala ir!odel

likert, berdasarkan teori yang dikemukan oleh Robbins adapun tabel blue

print sikap kerja sebagai berikut :

Tabel 3.2.

Blue Print Sikap Kerja

Pernyataan

No Aspek Jml

Fav Unfav

1 Kepuasan 4,5, 12, 19,28,29,32 18,20,21,24,33,36,37,40

15 kerja

2 Keterlibatan 7, 11, 13, 14,26,30,34,35 8,9, 16, 17,27,38,39,46

16 kerja

3 Komitmen 1,2,3,6, 10,31,42,45 15,22,23,25,41,43,44,47

terhadap 16

organisasi

24 24 47

Jumlah

Pada masing-masing skala tersebut terdapat pernyataan yang mendukung

(favorable) dan pernyataan yang tidak mendukung (unfavorable).

Pengukuran tersebut berdasarkan skala model Likert dari ernpat kategori

jawaban, yaitu: sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat

[image:58.595.41.467.161.522.2]
(59)

Tabel 3.3.

Skoring Jawaban

Alternatif Jawaban Favorable Unfavorable

Sangat setuju 4 1

Setuju 3

2

Tidak setuju

2

3

Sangat tidak setuju 1 4

3.5.

Hasil Uji Instrument

Penelitian

1. lnstrumen persepsi tentang supervisor

berdasarkan hasil uji coba terhadap 40 item dalam instrument ini, maka

terdapat 31 item yang valid baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada

taraf signifikansi 1 %, yaitu item nomor : 4, 10, 12, 24, 29, 30, 1, 5, 15, 22, 40,

11, 19,25,33,36, 38,39, 7, 13, 14, 17,20,23,27,28, 31, 32, 34,35, 37.

Sedangkan 9 item yang tidak valid, yaitu pada item nomor: El, 8, 16, 3, 9, 21,

[image:59.595.47.463.90.502.2]
(60)

Tabel 3.4

Blue Print Persepsi tentang Supervisor

Pemyataan

No Faktor Jml

Fav IJnfav

1 Keterampilan pekerjaan 2,7,16,20,21

,.

,) 6

2 Keterampilan berhubungan 1,3,14 15,40

5 dengan orang lain

3 Keterampilan administrasi 6,17,24 12,27,29,30

7

4 Keterampilan membuat 9,22,23 4,8, 11, 13, 15,

keputusan dan memecahkan 18, 19,25,26,28 13

masalah

Jumlah 14 17 31

Uji reliabilitas skala persepsi tentang supervisor dilakukan dengan

menggunakan Alpha Cronbach. Dari uji reliabilitas tersebut, diperoleh

koefisien reliabilitas sebesar 0,93. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa

instrument penelitian ini sangat reliabel untuk digunakan, karena menurut

Singarimbun dan Effendi (1989), suatu kuesioner dikatakan reliabel jika nilai

[image:60.595.41.461.121.497.2]
(61)

2. tnstrumen sikap kerja

Berdasarkan hasit uji coba terhadap 47 item datam instrument ini, maka

terdapat 30 item yang valid baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada

taraf signikansi 1 % yaitu item nomor: 4, 5, 12, 28, 29, 32, 18, 20, 21, 24, 33,

36, 37, 14, 30, 34, 35, 9, 17, 38, 39, 46, 2, 3, 45, 23, 25, 43, 44, 47.

Sedangkan 17 item tainnya tidak valid, yaitu nomor: 19, 40, 7, 11, 13, 26, 8,

16, 27, 1, 6, 10, 31, 42, 15, 22, 41. Berikut ini adatah blue ptint revisi sikap

kerja:

Tabel 3.5

Blue Print Skala Sikap Kerja

No Faktor

Pernyataan

Jml

Fav Unfav

1 Kepuasan kerja 3,4,6,15,16,18 9,10,11,12

13 ,19,22,23

2 Keterlibatan kerja 7, 17,20,21 5,8,24,25,29

9

3 Komitmen terhadap 1,2,28 13, 14,26,27 ,30

8 organisasi

Jumlah 13 17 30

Uji realibilitas skala sikap kerja ditakukan dengan menggunakan Alpha

Cronbach. Dari uji retiabititas tersebut, diperoteh koefisien seb,esar 0,92.

[image:61.595.42.460.213.618.2]
(62)

reliabel untuk digunakan, karena menurut Singarimbun dan Effendi (1989),

suatu kuesioner dikatakan reliabel jika nilai Alpha Cronbach lebih bes<;ir dari

0,60.

3.6. Teknik Analisa Data

Pengolahan data dilakukan dengan analisa statistic sebagai cara untuk

mengetahui hubungan antar variabel, menempatkan persepsi tentang

supervisor sebagai variabel independen terhadap sikap kerja. Dalam

penelitian ini penulis menggunakan beberapa rumus, yaitu :

1. Rumus Korelasi Sederhana

Ru mus korelasi Product Moment dari Pearson dimaksudkan untuk

melukiskan hubungan antara variabel bebas dengan terikat atau digunakan

untuk analisa daya pembeda item, dalam hal ini untuk melihat adanya

hubungan antara variabel persepsi tentang supervisor dengan sikap kerja.

Untuk mengetahui validitas instrumen (uji validitas) dimana skor tiap item

dikorelasikan dengan skor total (Arikunto, 2002).

Untuk menghitungnya, penulis menggunakan program SPSS versi 11.5

Adapun rumus Product Moment dari Pearson adalah sebagai berikut :

(63)

Keterangan :

rxy : Koefisien korelasi product moment

N : Jumlah subjek

Lxy

:

Jumlah hasil perkalian antara skor X dan Y

L:X : Jumlah seluruh skor X

L:Y : Jumlah seluruh skor Y

2. Rumus Reliabilitas

Untuk menghitung reliabilitas ala! pengumpulan data (uji reliabilitas)

digunakan teknik Alpha-Cronbach, dengan penghitungannya menggunakan

program SPSS versi 11.5. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut (Azwar,

2003).

a

=

{セ}@

[1-

Gambar

Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelarnin
Gambar 2.1 Kerangka berpikir
gambaran umum subjek penelitian, dan hasil utama penelitian. Yakni dengan
Tabel 3.1.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Persepsi mahasiswa fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap interprofessional education.. Skripsi program studi ilmu keperawatan

Hubungan Self Esteem dengan Optimisme Meraih Kesuksesan Karir pada Mahasiwa Fakultas Psikologi UIN Syarif HIdayatullah Jakarta.. Psikologi Perkembangan (terjemahan

Bapak Susatyo Yuwono, S.Psi, M.Si., Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk mengadakan

adalah mahasiswa semester VIII Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta akan melakukan penelitian tentang

Saya Faradillah Desniawati mahasiswi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan Lingkungan

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul PENGARUH LOCUS OF CONTROL DAN GOAL ORIENTATION TERHADAP CHEATING MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Status Identitas Terhadap Agresivitas pada Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN syarif Hidayatullah Jakarta ” adalah

Hampir separoh dari dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (40,90 %) memberikan umpan balik agar UIN atau Fakultas mengadakan pelatihan pembuatan