• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Strategi Promosi Lapis Bogor Sangkuriang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Strategi Promosi Lapis Bogor Sangkuriang"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS STRATEGI PROMOSI

LAPIS BOGOR SANGKURIANG, BOGOR

RIVAN SEPTIAN ANDRIANTO

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER

INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Strategi Promosi Lapis Bogor Sangkuraing adalah benar karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2015

Rivan Septian Andrianto

(4)

RIVAN SEPTIAN ANDRIANTO. Analisis Strategi Promosi Lapis Bogor Sangkuriang. Dibimbing oleh M. SYAMSUN dan EDWARD H. SIREGAR.

Lapis Bogor Sangkuriang (LBS) adalah UMKM yang bergerak di bidang kuliner. Strategi promosi yang baik harus dilakukan oleh LBS untuk mengahadapi persaingan bisnis yang ketat. Tujuan penelitian ini adalah: mengidentifikasi dan menganalisis faktor internal dan eksternal yang berpengaruh pada penetapan strategi promosi LBS, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan strategi promosi, dan menyusun analisis strategi yang paling tepat pada LBS untuk mencapai target yang diharapkan. Penelitian menggunakan data primer dan sekunder. Data primer menggunakan kuesioner kepada para pakar. Alat analisis yang digunakan, yaitu analisis Internal Factor Evaluation (IFE), External Factor Evaluation (EFE), matriks Interal External (IE), analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT) dan Analythical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian didapatkan 4 alternatif strategi, yaitu optimalisasi penjualan produk LBS, menambah outlet penjualan baru di daerah Bogor agar konsumen mudah mendapatkan produk LBS, mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar, dan meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial.

Kata kunci : Proses hierarki analitik (PHA), Strategi promosi, SWOT, ABSTRACT

RIVAN SEPTIAN ANDRIANTO. Promotion Strategy Analysis of Lapis Bogor Sangkuriang. supervised by M. SYAMSUN and EDWARD H. SIREGAR.

Lapis Bogor Sangkuriang (LBS) is one of micro, small, medium enterprise (SME) which engaged in culinary field. A good promotion strategy should be done by LBS to facing tight competition at the business. The purposes of this research are: to identify and analyze the internal and external factors that affect the determination of LBS promotional strategy, Analyze the factors that influence the purpose of this study, and to compose the most appropriate strategy analysis on LBS to achieve the expected target. The research using primary and secondary data. The primary data using a questionnaire to the experts. The analytical tools used by: Internal Factor Evaluation (IFE) analysis, External Factor Evaluation (EFE) analysis, Interal External (IE) matrix, Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT) analysis and Analythical Hierarchy Process (AHP). The research show there are 4 alternative strategy, which is Optimize the sales product of LBS products, adding a new sales outlet in Bogor therefore consumers can easily get the products of LBS, Maintaining and developing a market share, and increase the intensity of sales promotion through the media by electronic media, especially website and social media.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Manajemen

ANALISIS STRATEGI PROMOSI

LAPIS BOGOR SANGKURIANG, BOGOR

RIVAN SEPTIAN ANDRIANTO

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)
(7)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat membuat skripsi ini dengan judul “Analisis Strategi Promosi Lapis Bogor Sangkuriang, Bogor” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan skripsi ini karena tanpa bantuan serta motivasinya penulis tidak dapat membuat skripsi ini dengan baik dan lancar. Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusuan skripsi ini. Oleh karena itu kritik dan saran diperlukan dalam memperbaiki skripsi ini.

Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Juli 2015

(8)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL iii

DAFTAR GAMBAR iii

DAFTAR LAMPIRAN iii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan Penelitian 2

Manfaat Penelitian 2

Ruang Lingkup Penelitian 3

TINJAUAN PUSTAKA 3

Promosi 3

Bauran Promosi 3

Produk 4

Dimensi Produk 4

Jasa 4

Dimensi Jasa 5

Penelitian Terdahulu 5

METODE 6

Kerangka Pemikiran 6

Lokasi dan Waktu Penelitian 7

Jenis dan Sumber Data 7

Matriks IFE, EFE dan IE 7

Matriks SWOT 8

Analytical Hierarchy Process (AHP) 9

HASIL DAN PEMBAHASAN 10

Gambaran Umum Perusahaan 10

Bauran Promosi Lapis Bogor Sangkuriang 10

Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman

pada LBS 11

Analisis Internal Factor Evaluation dan External Factor

Evaluation pada LBS 13

Matriks Internal-External (IE) 14

Analisis SWOT 15

Analisis Pengambilan Keputusan pada LBS Menggunakan

Analytical Hierachy Process (AHP) 16

Implikasi Manajerial 21

SIMPULAN DAN SARAN 22

DAFTAR PUSTAKA 23

(9)

DAFTAR TABEL

1 Jumlah UMKM dan Tenaga Kerja di Indonesia periode 2008 - 2013 1

2 Hasil analisis IFE 13

3 Hasil analisis EFE 14

4 Pengolahan vertikal level faktor 18

5 Pengolahan vertikal level aktor 18

6 Pengolahan vertikal level tujuan 19

7 Pengolahan vertikal level alternatif strategi 19

8 Pengolahan horizontal level aktor 20

9 Pengolahan horizontal level tujuan 20

10 Pengolahan horizontal level alternatif 20

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka pemikiran penelitian 6

2 Matriks IE 8

3 Matrik SWOT 9

4 Hasil analisis matriks IE 14

5 Hasil analisis matriks SWOT 15

6 Struktur hierarki LBS 16

DAFTAR LAMPIRAN

1 Kuisioner faktor strategis internal dan eksternal 25

2 Kuisioner penentuan bobot prioritas 29

(10)
(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Makanan merupakan kebutuhan primer bagi manusia. Seiring dengan berjalannya waktu, perkembangan inovasi makanan terus berkembang. Makanan yang sehat dan bergizi sangat penting bagi tubuh manusia karena makanan yang baik sebagai penghasil kalori, pengatur suhu tubuh, sumber tenaga dan pertumbuhan tubuh. Makanan yang baik dapat membantu produktivitas manusia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) (2013), pertumbuhan penduduk Indonesia setiap tahun terus mengalami peningkatan yang diikuti oleh peningkatan pengeluaran penduduk Indonesia rata-rata per kapita per bulan untuk produk food and beverage.

Kondisi ini membuat peluang bisnis makanan terbuka lebar dan membuat para wirausahawan berlomba untuk membuka bisnis mereka pada sektor kuliner. Penduduk Indonesia yang beragam berdasarkan tingkat sosial akan mempengaruhi gaya hidup salah satunya adalah pola konsumsi pangan. Produk makanan dan minuman jadi menjadi alternatif terbaik bagi mereka yg hidup di perkotaan yang mempunyai kegiatan dan waktu yang sangat padat. Gaya hidup sangat berpengaruh pada tingkat konsumsi masyarakat perkotaan Indonesia yang mulai mengikuti pola hidup masyarakat kota-kota besar di negara lain dengan mengubah pola konsumsinya kearah yang lebih praktis dan efisien termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan.

Perkembangan Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia tergolong berkembang pesat, khususnya di bidang makanan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), presentase pertumbuhan UMKM di Indonesia 2008-2013 terus mengalami peningkatan. Hasil rekapitulasi kondisi UMKM dan tenaga kerja UMKM di Indonesia periode 2008 – 2013 dijelaskan pada Tabel 1.

Tabel 1 Jumlah UMKM dan Tenaga Kerja di Indonesia periode 2008 - 2013

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013

Berdasarkan Tabel 1, pada Tahun 2008 terdapat sekitar 51.409.612 UMKM dan 94.024.278 jumlah tenaga kerja UMKM di Indonesia. Peningkatan yang signifikan terjadi pada tahun 2011 – 2012 yaitu jumlah UMKM meningkat sebesar 2,41% yaitu dari 55.206.444 menjadi 56.534.592 diikuti peningkatan jumlah tenaga kerja UMKM yang mengalami peningkatan sangat signifikan sebesar 107.657.509 (BPS 2013). Hal ini disebabkan karena adanya program dari pemerintah untuk meningkatkan pendapatan negara dan pemberdayaan sumber daya manusia dari usaha mikro dan kecil menengah.

TAHUN Jumlah UMKM Jumlah Tenaga Kerja UMKM

2008 51.409.612 94.024.278

2009 52.764.603 96.211.332

2010 53.823.732 99.401.775

2011 55.206.444 101.722.458

2012 56.534.592 107.657.509

(12)

Dewasa ini, perkembangan usaha kuliner sangat cepat. Semua pelaku pasar makanan berlomba untuk menawarkan makanannya dengan berbagai cara dengan ke-khasnya masing-masing. Lalu, muncul berbagai produk makanan yang menggabungkan antara makanan ringan dengan makanan lain seperti buah-buahan khas dari daerah penghasil seperti Keripik Apel, Pancake Durian, Lapis Talas, dan lain-lain.

Bogor merupakan salah satu destinasi pariwisata di Jawa Barat juga memiliki kuliner yang sangat beragam. Banyak UMKM di Bogor pada sektor makanan berlomba untuk mengolah makanan semenarik mungkin untuk menarik minat beli konsumen. Beberapa contoh UMKM di Bogor yang mulai berkembang adalah Macroni Panggang, Choco Lava, Roti Unyil Venus, Lapis Bogor Sangkuriang (LBS), Pizza Meteran, dan masih banyak lagi.

LBS hadir dengan produk olahan makanan lapis bolu berbahan dasar talas yang sangat inovatif. Rasa dan kualitas menjadi prinsip utama LBS terhadap produknya. Sejak berdiri pada 2011, LBS telah mampu memikat banyak pecinta kuliner di Bogor. Persaingan diantara industri makanan olahan khususnya produk oleh-oleh khas daerah menjadi suatu tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha untuk mampu mempertahankan eksistensi usahanya. Posisi LBS yang sedang dalam masa tumbuh memerlukan strategi promosi yang tepat yang dapat digunakan untuk mempertahankan bahkan mengekspansi konsumennya sehingga penjualan LBS akan terus meningkat.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Faktor-faktor internal dan eksternal apa saja yang mempengaruhi rumusan strategi promosi LBS?

2. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi penyusunan strategi promosi yang dilakukan oleh LBS?

3. Apakah strategi yang paling tepat dilakukan oleh LBS untuk mencapai target yang diharapkan?

Tujuan

Adapun beberapa tujuan yang ingin diperoleh dari penelitian yang berjudul Analisis Strategi Promosi pada LBS, yaitu :

1. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor internal dan eksternal yang berpengaruh pada penetapan strategi promosi LBS.

2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan strategi promosi yang dilakukan oleh LBS.

3. Menyusun analisis strategi yang paling tepat pada LBS untuk mencapai target yang diharapkan.

Manfaat Penelitian

(13)

1. Perusahaan, untuk memberikan masukan bagi pihak LBS tentang seberapa efektif promosi yang telah dilakukan. Sehingga, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan dalam membuat strategi promosi yang tepat untuk dikembangkan di LBS.

2. Kalangan Akademisi, untuk menambah pembendaharaan kepustakaan. Sehingga penelitian ini menjadi masukan dalam penelitian di masa mendatang, terutama yang mengambil konsentrasi pemasaran dan ekonomi syariah.

3. Masyarakat, untuk menambah wawasan serta pengetahuan mengenai strategi promosi LBS, dan faktor-faktor yang mempengaruhi promosi yang telah dilakukan oleh LBS.

Ruang Lingkup

Penelitian ini dilaksanakan pada LBS. Penelitian difokuskan pada aspek promosi yang dilakukan oleh perusahaan. Informasi diperoleh dari hasil wawancara pada pihak manajemen LBS guna menghasilkan alternatif strategi promosi untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Promosi

Promosi menurut Kotler dan Garry Armstrong (2008) adalah aktivitas yang mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya. Tujuan utama dari promosi adalah agar konsumen mengenal produk yang ditawarkan.

Bauran Promosi

Bauran promosi seperti yang dikemukakan oleh Kotler dan Garry Armstrong (2008) berperan sebagai media komunikasi pemasaran yang memiliki lima kegiatan utama.

1. Personal Selling (Penjualan pribadi)

Interaksi langsung dengan calon pembeli atau lebih untuk melakukan suatu presentasi, menjawab langsung dan menerima pesanan.

2. Advertaising (Periklanan)

Merupakan semua penyajian non personal, promosi ide-ide, promosi produk atau jasa yang dilakukan sponsor tertentu yang dibayar.

3. Sales Promotion (Promosi penjualan)

Berbagai insentif jangka pendek untuk mendorong keinginan mencoba atau membeli suatu produk atau jasa.

4. Publicity and Public Relations (Publisitas dan Hubungan masyarakat)

Berbagai program untuk mempromosikan dan/atau melindungi citera perusahaan atau produk individualnya.

5. Direct Marketing (Pemasaran langsung)

(14)

Produk

Menurut Kotler dan Keller (2008), produk adalah elemen kunci dalam keseluruhan penawaran pasar. Selain itu produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui hasil produksinya (Tjiptono, 2008).

Dimensi Produk

Menurut Tjiptono (2008), kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggan. Kualitas suatu produk baik berupa barang atau jasa ditentukan melalui dimensi-dimensinya. Dimensi produk menurut Tjiptono (2008) adalah:

1. Performance (kinerja)

Berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk. 2. Durability (daya tahan)

Berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya produk.

3. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi)

Sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk. 4. Features (fitur)

Karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.

5. Reliability (reliabilitas)

Probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan, maka produk tersebut dapat diandalkan.

6. Aesthetics (estetika)

Berhubungan dengan bagaimana penampilan produk. 7. Perceived quality (kesan kualitas)

Merupakan hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan.

8. Serviceability

Meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta kompetensi dan keramahtamahan staf layanan.

Jasa

(15)

Dimensi Jasa

Menurut Parasuraman yang dikutip oleh Fandy Tjiptono (2002) mengemukakan bahwa terdapat lima dimensi pokok jasa. Kelima dimensi tersebut meliputi:

a. Tangibles

Bukti nyata dari kepedulian dan perhatian yang diberikan oleh penyedia jasa kepada konsumen.

b. Reliability (Keandalan)

Kemampuan perusahaan untuk melaksanakan jasa sesuai dengan apa yang telah dijanjikan secara tepat waktu.

c. Responsiveness (Daya tanggap)

Kemampuan perusahaan yang dilakukan oleh langsung karyawan untuk memberikan pelayanan dengan cepat dan tanggap.

d. Assurance (Jaminan)

Pengetahuan dan perilaku karyawan/pegawai untuk membangun kepercayaan dan keyakinan pada diri konsumen dalam mengkonsumsi jasa yang ditawarkan.

e. Emphaty

Kemampuan perusahaan yang dilakukan langsung oleh karyawan untuk memberikan perhatian kepada konsumen secara individu, termasuk juga kepekaan akan kebutuhan konsumen.

Penelitian Terdahulu

Soraya, NN (2013) Analisis Efektivitas Strategi Promosi melalui Elemen-Elemen Desain Kemasan Lapis Bogor Sangkuriang. Kesimpulan penulis adalah mayoritas konsumen Lapis Bogor Sangkuriang berusia 18-30 tahun atau tergolong dewasa awal, berjenis kelamin wanita, berpendidikan rendah yang meliputi tamatan SMP dan SMA, tidak bekerja yang meliputi mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, tergolong pada pendapatan rendah, dan tinggal di wilayah dalam Bogor, tingkat efektivitas penggunaan strategi promosi melalui elemen-elemen desain kemasan Lapis Bogor Sangkuriang dengan menggunakan metode EPIC model menunjukkan elemen-elemen desain kemasan Lapis Bogor Sangkuriang efektif pada setiap dimensi, dan hasil penelitian mengenai hubungan antara karakteristik konsumen dengan efektivitas strategi promosi melalui elemen-elemen desain kemasan Lapis Bogor Sangkuriang menunjukkan bahwa karakteristik konsumen dari segi pendidikan mempunyai hubungan dengan dimensi empati, persuasi, dan dampak.

Kuswara, E (2013). Analisis Perilaku Dan Kepuasan Konsumen Dalam Proses Keputusan Pembelian Lapis Bogor Sangkuriang. Kesimpulan penulis adalah karakteristik konsumen LBS terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan jumlah yang relatif seimbang, alasan utama konsumen membeli Lapis Bogor Sangkuriang adalah rasa produk yang khas dan sebagai buah tangan, berdasarkan nilai rata-rata tingkat kepentingan dan tingkat kinerja, setiap atribut LBS dibagi

kedalam empat kuadran, dan nilai Customer Satisfaction Index dari LBS adalh

(16)

METODE PENELITIAN

Kerangka Penelitian

Strategi Promosi sangat penting dilakukan oleh Lapis Bogor Sangkuriang untuk mencapai visi dan misi perusahaan serta menghadapi persaingan usaha di dunia kuliner. Untuk menganalisis sebuah strategi promosi yang baik, maka dilakukan analisis bauran promosi yang meliputi personal selling, advertaising, sales promotion, publicity and public relation, dan direct marketing. Lalu, menganalisis lingkungan internal dan ekternal perusahaan. Kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1.

Tahap perumusan dan penyusunan strategi pemasaran terbagi menjadi 3 bagian, yaitu tahap Pengumpulan masukan awal (the input stage) menggunakan faktor IFE (Internal Factors Evaluation) dan EFE (External Factors Evaluation) hasil analisis dari lingkungan internal dan eksternal perusahaan dan menggabungkan faktor IFE dan EFE menjadi faktor IE, selanjutnya tahap pencocokan (the matching stage) dilakukan analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunity, Threats) untuk merumuskan alternatif strategi , dan tahap terakhir

Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian Lapis Bogor Sangkuriang

Bauran Promosi

Lingkungan Internal

IFE

Rumusan Strategi Promosi LBS

Visi & Misi

Lingkungan Eksternal

EFE

Matriks SWOT Matriks

IE

Metode AHP Bauran Promosi

Kotler dan Garry A. (2008): 1. Direct Selling 2. Advertaising 3. Sales Promotion

4. Publicity and Public relation

(17)

yaitu tahap keputusan (the matching stage) dengan menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process) sebagai rekomendasi strategi untuk perusahaan.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dan pengambilan data dilakukan di LBS yang beralamat di Jl. Padjajaran No.20i Komplek Ruko Bantar Kemang. Penelitian dilakukan dari bulan Desember 2014 – Juni 2015.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini, meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui obeservasi di tempat penelitian, wawancara serta penyebaran kuisioner kepada General Manager, Manajer Pemasaran, Manajer Keuangan, Manajer SDM, dan Manajer Produksi. Kuesioner yang diserahkan adalah kuesioner faktor strategi internal dan eksternal (Lampiran 1) menurut David (2006) dan kuisioner penentuan bobot prioritas (Lampiran 2) menurut Saaty (1993). Data sekunder diperoleh dari literatur, seperti buku dan data-data dari perusahaan, seperti profil perusahaan.

Analisis IFE, EFE, dan IE

Menurut David (2009), matriks IFE (Internal Factor Evaluation) adalah alat perumusan strategi yang meringkas dan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan utama dalam area-area fungsional bisnis dan juga menjadi landasan untuk mengidentifikasi serta mengevaluasi hubungan di antara area tersebut. Tahapan kerja matriks IFE adalah (1) membuat daftar kata kunci aspek internal kekuatan dan kelemahan, (2) membuat bobot dari masing-masing faktor suskes tersebut, (3) memberikan rating (perlu diperhatikan bahwa untuk matriks IFE kekuatan harus mendapat rating 3 dan 4, serta kelemahan harus mendapat rating 1 atau 2), (4) mengalikan bobot rating untuk menentukan skor, dan (5) menjumlahkan semua skor untuk mendapatkan skor total nilai.

Matriks EFE (External Factor Evaluation) memungkinkan para penyusun strategi untuk meringkas dan mengevaluasi faktor-faktor eksternal seperti informasi ekonomi, sosial, budaya, demografis, lingkungan, politik, pemerintahan, hukum, teknologi, dan kompetitif. Masalah tersebut penting karena berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan. Cara membuat matriks EFE mirip dengan membuat matriks IFE, hanya saja ketika pemberian rating baik untuk peluang maupun ancaman diperbolehkan memberikan rating 1 sampai 4.

(18)

kondisi eksternal perusahaan tinggi. Gambar matriks IE dapat dilihat dari Gambar 2.

Berdasarkan Gambar 2, matriks IE dibagi menjadi 3 daerah utama yang mempunyai implikasi strategi berbeda, yaitu:

1. Daerah 1 meliputi sel I, II, atau IV, termasuk dalam grow and build. Strategi yang sesuai dengan daerah ini adalah strategi intensif, misalnya penetrasi pasar, pengembangan pasar atau pengembangan produk dan strategi integratif, seperti integrasi horizontal dan vertikal.

2. Daerah 2 meliputi sel III, V, atau VII. Strategi yang paling sesuai adalah strategi-strategi hold and maintain. Yang termasuk dalam strategi ini adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk.

3. Daerah 3 meliputi sel VI, VIII, IX, yaitu daerah harvest and divest. Strategi yang sesuai untuk daerah ini adalah strategi divestiture (pengurangan usaha).

SWOT

Menurut David (2006), analisi SWOT adalah metode perencanaan strategis yang berfungsi untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman suatu perusahaan. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Matriks SWOT menggunakan faktor strategis (eksternal maupun internal) sebagaimana yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya dalam matriks IFE dan EFE. Model matriks SWOT dapat dilihat pada Gambar 3.

Kuat Rata-Rata Lemah

Total IFE yang diberi bobot

(19)

Faktor Internal Gunakan kekuatan untuk Memanfaatkan peluang yang ada.

Strategi WO Atasi kelemahan dengan memanfaatkan peluang

Gambar 3 Matriks SWOT (David 2006)

Berdasarkan Gambar 3, matriks SWOT menghasilkan 4 alternatif strategi, yaitu :

1. Strategi SO (Strenght-Opportunity) adalah strategi yang menggunakan kekuatan internal perusahaan untuk meraih peluang-peluang yang ada di luar perusahaan.

2. Strategi ST (Strenght-Threat) adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.

3. Strategi WO (Weakness-Opportunity) merupakan strategi yang diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan.

4. Strategi WT (Weakness-Threat) merupakan strategi yang didasarkan pada usaha meminimalkan kelemahan yang ada dan menghindari ancaman.

Analytical Hierarchy Process (AHP)

Secara teoritis, menurut Saaty (1993), hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. AHP memberi kemungkinan untuk menciptakan tingkat-tingkat baru dan menatanya secara logis, sehingga tingkat-tingkat itu saling berkaitan satu sama lain secara wajar. Dengan membandingkan elemen-elemen dalam satu tingkat, secara berpasangan terhadap elemen-elemen yang satu tingkat di atasnya, maka dapat diputuskan suatu pilihan yang tepat mengenai tingkat yang lebih tinggi tersebut. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan kompleks.

Langkah–langkah pemecahan masalah dengan pendekatan AHP (Saaty 1993) adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan persoalan dan merinci permasalahan yang diinginkan;

2. Membuat struktur hierarki dari sudut pandang manajemen secara menyeluruh; 3. Menyusun matriks perbandingan berpasangan;

(20)

5. Memasukan nilai-nilai kebalikannya beserta bilangan 1 sepanjang diagonal utama;

6. Melaksanakan langkah 3, 4, dan 5;

7. Mensintesis prioritas untuk melakukan pembobotan vektor-vektor prioritas, dan

8. Mengevaluasi inkonsistensi untuk seluruh hierarki.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Perusahaan

Lapis Bogor Sangkuriang merupakan produsen makanan khususnya kue lapis berbahan dasar talas yang merupakan pertama dan terbesar di Bogor. Dengan mengedepankan komitmen yaitu menjaga rasa, kualitas dan standar mutu kue hingga layak dikonsumsi dan siap dipasarkan.

Produk LBS meliputi lapis talas rasa original keju, Brownies talas, full talas, green tea, durian talas, dan original bertabur rasa blueberry, strawberry, tiramisu, cappuccino, dan coklat. LBS berdiri sejak tahun 2011 dan mempunyai 3 cabang yang terletak di Jl. Padjajaran no, 20i, Jl. KH. Sholes Iskandar Raya no. 100, dan Jl. Raya Bogor Jakarta. Visi LBS adalah membuat Cakery dan Pastry kelas dunia dengan kenyamanan, kepuasan, dan kebahgiaan bersama. Sedangkan, misi LBS adalah inovasi dalam menciptakan produk baru serta memberikan pelayanan dan produk dengan kualitas terbaik. Saat ini LBS telah mengantongi sertifikasi Halal dari MUI No. 0120106651111.

Bauran Promosi LBS

Promosi merupakan alat komunikasi yang sangat penting karena promosi harus dapat menyampaikan pengetahuan produk kepada konsumen sehingga konsumen membeli produk tersebut dan mendapatkan kepuasan. Berikut merupakan bauran promosi yang dilakukan oleh LBS:

1. Personal Selling

LBS melakukan penjualan langsung kepada konsumen dengan membuka 3 toko yang terletak di posisi strategis agar konsumen dapat memesan secara langsung. Dan LBS selalu mengikuti event-event rutin yang ada di kota Bogor dengan membuka booth penjualan.

2. Iklan

LBS memasang iklan pada media cetak seperti di koran dan majalah dan memasang iklan pada media elektronik seperti pada web, dan media sosial seperti di facebook dan twitter.

3. Promosi Penjualan

Promosi penjualan yang dilakuan oleh LBS adalah memberikan 1 botol Coca

(21)

4. Publisitas dan Humas

LBS bekerja sama dengan info Bogor untuk mempromosikan lapis bogor dan memberi pengetahuan kepada masyarakat.

5. Pemasaran langsung

LBS melakukan pemasaran langsung dengan menggunakan website dan via telepon. Konsumen dapat lanngsung berinteraksi dengan customer service dengan tindak lanjut secepat mungkin.

Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman pada LBS

Identifikasi faktor-faktor strategis yang berpengaruh bagi kegiatan promosi LBS, baik faktor internal yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan, maupun faktor strategis eksternal yang terdiri dari peluang dan ancaman.

Identifikasi Kekuatan

Kekuatan dari LBS yang memiliki pengaruh terhadap strategi promosi, meliputi pertama dan terbesar, mempunyai sistem manajerial dan struktur organisasi yang baik, sudah memproduksi 20.000 boks/hari, dan memiliki relasi yang baik dengan konsumen dan distributor.

1. Pertama dan terbesar

LBS menjadi pelopor lapis berbahan dasar talas yang didirikan sejak tahun 2011. Dengan permintaan produk yang makin meningkat menjadikan produsen lapis bogor terbesar dengan pembangunan 3 toko di posisi strategis.

2. Mempunyai sistem manajerial dan struktur organisasi yang baik

Sistem manajerial dan struktur organisasi di LBS sudah baik sehingga tidak ada lagi timpang tugas dan dapat mengambil keputusan-keputusan manajerial dengan baik.

3. Sudah memproduksi 20.000 boks/hari

LBS sudah memeiliki tempat produksi yang cukup besar dan mesin yang baik sehingga dapat memproduksi 20.000 boks/hari

4. Memiliki relasi yang baik dengan konsumen dan distributor

Konsumen sudah percaya dengan mutu dan rasa LBS sehingga LBS sudah memiliki banyak pelanggan tetap dan memiliki relasi di instansi-instansi yang membuat LBS hadir di berbagai event. Dan LBS bekerja sama dengan IPB untuk pengolahan talas.

Identifikasi kelemahan

Kelemahan dari LBS yang memiliki pengaruh terhadap strategi promosil ini, meliputi kurangnya promosi di website yang dilakukan pihak manajemen, dan sebaran oulet yang kurang merata di kawasan sekitar Bogor.

1. Kurangnya promosi di website yang dilakukan pihak manajemen

Kurang aktifnya kegiatan promosi yang dilakukan di website LBS membuat konsumen kehilangan informasi mengenai produk dan kegiatan promosi.

2. Sebaran outlet yang kurang merata di kawasan sekitar Bogor

(22)

Identifikasi peluang

Peluang dari LBS yang memiliki pengaruh terhadap strategi promosi, meliputi tren permintaan pasar yang tinggi, tingkat daya beli penduduk kota Bogor yang meningkat, dan Bogor merupakan salah satu destinasi pariwisata di Jawa Barat.

1. Tren permintaan pasar yang tinggi

Pernjualan LBS hanya terpusat di kota Bogor saja. Tapi, permintaan pasar untuk produk LBS dari luar kota sangat tinggi. Pada weekend, kuota 20.000boks/hari belum cukup untuk memenuhi permintaan pasar.

2. Tingkat daya beli penduduk kota Bogor yang meningkat

Menurut BPS (2014), indeks daya beli penduduk kota Bogor terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2010 hingga 2013 mengalami peningkatan sebesar 2,33%. Hal ini sangat berdampak besar tingkat beli masyarakat pada produk LBS.

3. Bogor merupakan salah satu destinasi pariwisata di Jawa Barat

Bogor sangat terkenal dengan destinasi pariwisatanya. Terlebih Bogor memiliki beragam kuliner yang sudah terkenal di masyarakat. LBS sebagai salah satu kuliner ciri khas kota Bogor menjadi pilihan utama para wisatawan sebagai buah tangan.

Identifikasi ancaman

Ancaman dari LBS yang memiliki pengaruh terhadap strategi promosi, meliputi sudah mulai menjamurnya bisnis lapis talas, perputaran bisnis makanan yang sangat cepat, dan toko roti yang sudah memiliki nama besar mulai memproduksi lapis talas.

1. Pertumbuhan kompetitor baru

Dengan lahirnya competitor-kompetitor baru menyebabkan semankin banyaknya pesaing, LBS memerlukan memerlukan strategi khusus jika tidak ingin kalah oleh kompetitor tersebut.

2. Persaingan produk cakery dan bakery sebagai produk substitusi

Beragamnya kuliner di Bogor membuat konsumen dengan mudah memilih produk yang ingin mereka konsumsi. Terdapat cukup banyak cakery dan bakery sebagai produk substitusi seperti roti unyil Venus, The Harvest, Michelle, dll.

Analisis Internal Factor Evaluation dan External Factor Evaluation pada LBS

(23)

Tabel 2 Hasil analisis IFE

Faktor Bobot Rating Skor

Kekuatan

Pertama dan terbesar di Bogor 0,183 3,4 0,623

Mempunyai sistem manajerial dan struktur organisasi

yg baik 0,213 4 0,853

Sudah memproduksi 20.000 boks/hari 0,213 3,4 0,725

Memiliki relasi yang baik dengan konsumen dan

distributor 0,19 3,6 0,684

Kelemahan

Kurangnya promosi di website yang dilakukan pihak

manajemen 0,113 1,6 0,181

Sebaran outlet yang kurang merata di kawasan sekitar

Bogor 0,086 1,8 0,156

Total 3,223

Berdasarkan Tabel 2, mempunyai sistem manajerial dan struktur organisasi yang baik merupakan kekuatan utama yang dimiliki oleh LBS yaitu sebesar 0,853. Sementara, Kurangnya promosi di website yang dilakukan pihak manajemen merupakan kelemahan utama yang dimiliki oleh LBS yaitu sebesar 0,181. Total skor analisis IFE adalah 3,223.

Analisis lingkungan eksternal (EFE) mengevaluasi peluang dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. Hasil evaluasi lingkungan eksternal dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil analisis EFE

Faktor Bobot Rating Skor

Peluang

Tren permintaan pasar yang tinggi 0,270 3,8 1,026

Tingkat daya beli penduduk kota Bogor yang

meningkat 0,255 3,4 0,867

Bogor merupakan salah satu destinasi pariwisata di

Jawa Barat 0,225 3,4 0,765

Ancaman

Pertumbuhan kompetitor baru 0,130 3,4 0,442

Persaingan produk cakery dan bakery sebagai produk

substitusi 0,120 3,2 0,384

Total 3,484

(24)

Pertumbuhan kompetitor baru yaitu sebesar 0,442. Total skor EFE adalah sebesar 3,484.

Analisis Matriks Internal-External (IE)

Matriks IE disusun dengan menggunakan skor total yang diperoleh dari hasil analisis IFE dan EFE. Adapun hasil analisis matriks IE dari strategi pemasaran air minum pada LBS dapat dilihat pada Gambar 4.

Berdasarkan Gambar 4, strategi pemasaran yang diterapkan difokuskan strategi intensif karena daerah I termasuk dalam wilayah grow and build. Pada tahap ini harus menjalankan strategi yang intensif. Menurut David (2009), Strategi intensif dapat berupa penetrasi pasar, pengembangan pasar, dan pengembangan produk.Strategi penetrasi pasar dijalankan untuk meningkatkan pangsa pasar dari produk yang ada saat ini pada pasar yang ada saat ini melalui usaha-usaha pemasaran yang lebih gencar,seperti berusaha meningkatkan pangsa pasar untuk produk atau jasa saat ini melalui upaya pemasaran yang lebih besar. Strategi pengembangan pasar adalah usaha memperkenalkan produk yang ada saat ini pada pasar baru melalui perluasan area geografi baru dan menamabah segmen baru contohnya membangun outlet penjualan baru agar memudahkan masyarakat menjakau produk LBS. Strategi intensif yang terakhir adalah strategi pengembangan produk yang merupakan strategi yang dijalakan untuk meningkatkan penjualan dengan memperbaiki atau memodifikasi produk yang ada saat ini contohnya mengembangkan produk lain berbahan dasar talas.

Hasil Analisis SWOT

Setelah mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman serta mengetahui posisi usaha LBS, langkah berikutnya adalah melakukan perumusan alternatif strategi yang dapat dilakukan. Adapun perumusan alternatif strategi dapat dilihat pada Gambar 5.

I II III

IV V VI

VII VIII IX

4

3

2

1

3 2 1

IFE 3,223

EFE 3,484

(25)

Berdasarkan Gambar 5, didapat 4 alternatif strategi promosi, yaitu optimalisasi penjualan produk LBS, mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar, menambah outlet penjualan baru di daerah Bogor agar konsumen mudah mendapatkan produk LBS, dan Meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial.

Berikut adalah rumusan alternatif strategi yang telah dibangkitkan dari matriks SWOT pada LBS.

1. Optimalisasi penjualan produk LBS (S1, S3, S4, O1, O2, O3).

Optimalisasi penjualan produk dilakukan agar meningkatkan perputaran ekonomi di perushaan sehingga kedepannya dapat dilakukan implikasi manajerial oleh manajemen.

2. Menambah outlet penjualan baru di daerah Bogor agar konsumen mudah mendapatkan produk LBS (W2, O2, O4).

Penambahan outlet baru diharapakn agar konsumen di daerah sekitar Bogor lebih mudah untuk mendapatkan produk LBS dan menghindari antrian berlebih di outlet yang berada di kota Bogor.

3. Mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar (S1, S3, S4, T1, T2). LBS harus mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya seiring dengan banyaknya kompetitor dan banyaknya produk substitusi.

4. Meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial (W1, T1, T2).

Seiring dengan berkembangnya teknologi, promosi menggunakan website dan media sosial merupakan cara yang ampuh dalam penerapan stretegi promosi. LBS harus dapat menggunakan media ini sebagai sarana untuk melakukan promosi, penjulan produk hingga informasi terbaru mengenai produk LBS.

Kekuatan/Strengh (S): 1. Pertama dan terbesar di Bogor 2. Mempunyai sistem manajerial dan struktur organisasi yg baik 3. Sudah memproduksi 20.000

boks/hari

4. Memiliki relasi yang baik dengan konsumen dan distributor

Kelemahan/Weakness (W): 1.Kurangnya promosi di website

yang dilakukan pihak manajemen

2.Tingkat daya beli penduduk kota Bogor yang meningkat

3.Bogor merupakan salah satu destinasi pariwisata di Jawa Barat

Strategi S-O

Optimalisasi penjulan produk LBS

(S1, S3, S4, O1, O2, O3)

Strategi W-O

Menambah outlet penjualan baru di daerah Bogor agar konsumen mudah mendapatkan produk LBS (W2, O2, O4)

Ancaman/Threats (T):

1.Pertumbuhan kompetitor baru 2.Persaingan produk cakery dan

bakery sebagai produk substitusi

Strategi S-T penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial

(26)

Analisis Pengambilan Keputusan Strategi Promosi Air Minum pada LBS Menggunakan Analytical Hierachy Process (AHP)

Pada tahap ini dilakukan identifikasi faktor yang berpengaruh dalam strategi pemasaran, aktor yang terlibat, tujuan yang ingin dicapai serta alternatif strategi yang dilanjutkan dengan penyusunan hierarki strategi promosi LBS. Setelah dilakukan identifikasi elemen, dilakukan perhitungan bobot guna memilih strategi prioritas menggunakan Analytical Hierachy Process (AHP) berdasarkan penilaian para pakar yang mengerti mengenai kondisi dan pemasaran perusahaan. Hasil penelitian dan pengolahan data AHP menggunakan software expert choice 11 yang tersaji pada Lampiran 3. Adapun Struktur hierarki LBS dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6 Struktur Hierarki LBS

Strategi Promosi

(27)

Keterangan hierarki:

1) Fokus : Inti permasalahan yang ingin dipecahkan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP)

2) Faktor : Hal-hal yang menjadi faktor penyusun strategi promosi a. Ketersediaan Modal

b. SDM yang kompeten c. Relasi yang baik

d. Mencari pasar potensial

3) Aktor : Aktor yang memiliki peranan dalam pengambilan keputusan strategi promosi

a. Meningkatkan kegiatan promosi produk LBS b. Pembukaan toko baru di cibubur

c. Ikut event di instansi

5) Strategi : Hal-hal yang dirumuskan sebagai pilihan yang akan

direkomendasikan sebagai hasil untuk mencapai tujuan dari strategi promosi yang diteliti

a. Optimalisasi penjulan produk LBS

b. Menambah outlet penjualan baru di kawasan sekitar Bogor agar konsumen mudah mendapatkan produk LBS c. Mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar d. Meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui

media elektonik, khususnya website dan media sosial

Berdasarkan Gambar 6, Focus atau Goal dari perumusan struktur hierarki ini adalah Strategi Promosi LBS. Faktor-faktor yang mempengaruhi focus utama adalah ketersediaan modal, SDM yang kompeten, relasi yang baik, dan mencari pasar potensial. Aktor yang mempengaruhi dalam pengambilan keputusan adalah manajer pemasaran, manajer keuangan, General Manager, manajer SDM, dan manajer produksi. Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan strategin promosi adalah meningkatkan kegiatan pemasaran produk LBS, pembukaan toko baru di Cibubur, dan ikut event di instansi. Sedangkan strategi untuk mencapai tujuan dari strategi promosi adalah optimalisasi penjualan produk LBS, menambah outlet penjualan baru di daerah Bogor agar konsumen mudah mendapatkan produk LBS, mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar dan meningkatkan promosi penjualan melalui media elektronik, khususnya website dan media sosial.

Hasil Pengolahan Faktor Secara Vertikal dalam AHP

(28)

Tabel 4 Bobot hasil penilaian terhadap faktor

Elemen Faktor Bobot Prioritas

Ketersediaan Modal 0,355 1

SDM yang Kompeten 0,273 2

Relasi yang Baik 0,141 4

Mencari Pasar Potensial 0,231 3

Berdasarkan Tabel 4, ketersediaan modal menjadi faktor yang paling prioritas dengan bobot sebesar 0,355. Ketersediaan modal sangat berpengaruh dalam proses promosi karena manjemen dapat menghitung kegiatan promosi yg tepat dilakukan oleh LBS. Selanjutnya, SDM yang kompeten menjadi faktor kedua yang berpengaruh dengan bobot sebesar 0,273. Mencari pasar potensial menjadi faktor ketiga dengan bobot sebesar 0,231. Faktor terakhir adalah relasi yang baik dengan bobot sebesar 0,141.

Hasil Pengolahan Aktor Secara Vertikal dalam AHP

Pengolahan vertikal pada tingkat ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing aktor terhadap fokus utama. Adapun hasil pengolahan vertikal pada level faktor ini dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5 Bobot hasil penilaian terhadap aktor

Elemen Aktor Bobot Prioritas

Manajer Pemasaran 0,208 2

Manajer Keuangan 0,195 3

General Manager 0,356 1

Manajer SDM 0,173 4

Manajer Produksi 0,069 5

Berdasarkan Tabel 5, General Manager menjadi aktor yang paling priotas dengan bobot sebesar 0,356. General Manager merupakan puncak struktur organisasi sebagai aktor pengambil keputusan untuk tiap kegiatan manajerial. Manajer pemasaran menjadi aktor kedua dengan bobot sebesar 0,208.

Aktor yang menjadi prioritas ketiga adalah Manajer keuangan dengan bobot sebesar 0,195. Selanjutnya, Manajer SDM dan Manajer produksi menjadi aktor keempat dan kelima dengan bobot sebesar 0,173 dan 0,069. Pada Tabel 8 disajikan bobot hasil penilaian terhadap aktor yang mempunyai pengaruh pada penyusunan strategi promosi LBS.

Hasil Pengolahan Tujuan Secara Vertikal dalam AHP

(29)

Tabel 6 Bobot tujuan penilaian terhadap faktor

Elemen Tujuan Bobot Prioritas

Meningkatkan kegiatan promosi produk LBs 0,534 1

Pembukaan toko baru di Cibubur 0,272 2

Ikut event di instansi 0,204 3

Berdasarkan Tabel 6, meningkatkan omset merupakan tujuan prioritas dari strategi promosi yang dilakukan oleh LBS. Dengan bobot sebesar 0,534, peningkatan omset menjadi tujuan utama. Selanjutnya, pembukaan toko baru di Cibubur sebagai tujuan kedua dengan bobot sebesar 0,272. Ikut event di instansi menjadi tujuan terakhir dengan bobot sebesar 0,204.

Hasil Pengolahan Alternatif Secara Vertikal dalam AHP

Pengolahan vertikal pada tingkat ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing alternatif terhadap fokus utama. Adapun hasil pengolahan vertikal pada level faktor ini dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Bobot alternatif penilaian terhadap faktor

Elemen Alternatif Bobot Prioritas

Optimalisasi penjulan produk LBS 0,160 3

Menambah outlet penjualan baru di daerah Bogor agar

konsumen mudah mendapatkan produk LBS 0,333 2

Mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar 0,128 4 Meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui

media elektonik, khususnya website dan media sosial 0,379 1

Berdasarkan Tabel 7, meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektronik, khususnya website dan media sosial menjadi prioritas utama dengan bobot sebesar 0,379. Lalu menambah outlet penjualan baru di daerah Bogor agar konsumen mudah mendapatkan produk LBS menjadi prioritas kedua dengan bobot sebesar 0,333. Optimalisasi penujalan produk LBS dan mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar menjadi prioritas ketiga dan keempat dengan bobot sebesar 0,160 dan 0,128.

Hasil Pengolahan Faktor Secara Horizontal dalam AHP

(30)

Tabel 8 Hubungan antara elemen aktor dengan elemen faktor

Elemen Aktor

Elemen Faktor

KM SDM RB MPP

Manajer Pemasaran 0,142 0,144 0,310 0,321

Manajer Keuangan 0,304 0,131 0,122 0,148

General Manager 0,376 0,347 0,340 0,344

Manajer SDM 0,108 0,306 0,158 0,123

Manajer Produksi 0,070 0,072 0,070 0,063

Berdsarkan Tabel 8, General Manager memegang peranan penting terhadap semua faktor. Namun para manajer turut serta membantu peranan GM. Manajer Pemasaran turut ikut serta dalam menjaga relasi yang baik dengan para pelanggan dan mencari pasar potensial. Manajer keuangan bertugas untuk menjaga stabiliasi keuangan dan ketersediaan modal. Sedangkan manajer SDM bertugas untuk membatu dalam hal mendapatkan SDM yang kompeten.

Hasil Pengolahan Tujuan Secara Horizontal dalam AHP

Pengolahan ini menunjukkan prioritas tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing aktor. Adapun hasil pengolahan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Hubungan antara elemen tujuan dengan elemen aktor Elemen

Tujuan

Elemen Aktor

MM MK GM MSDM MP

T1 0,399 0,657 0,598 0,577 0,484

T2 0,290 0,279 0,298 0,297 0,399

T3 0,375 0,179 0,159 0,198 0,185

Berdsarkan Tabel 9, tujuan strategi promosi yang dilakukan oleh LBS adalah meningkatkan omset. Sebagai salah satu UKM yang sedang bertumbuh pesat, peningkatan omset menjadi prioritas utama untuk segala aktivitas manajemen.

Bagi perusahaan yang berorientasi bisnis, keuntungan merupakan hal yang diinginkan. Meningkatkan penjualan merupakan salah satu cara untuk mendapatkan keuntungan.

Hasil Pengolahan Alternatif Secara Horizontal dalam AHP

Pengolahan ini membandingkan setiap elemen pada level alternatif terhadap setiap elemen pada level tujuan. Hasil pengolahan ini dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Hubungan antara elemen alternatif dengan elemen tujuan

Alternatif Elemen Tujuan

T1 T2 T3

S1 0,139 0,229 0,129

S2 0,326 0,461 0,140

S3 0,101 0,101 0,255

(31)

Berdasarkan Tabel 10, strategi promosi yang dapat dilakukan sesuai dengan tujuan usaha untuk meningkatkan omset (T1) dan ikut event di instansi (T3) adalah meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial dengan bobot sebesar 0,434 dan 0,475. Tujuan selanjutnya adalah pembukaan toko baru di Cibubur (T2) dapat dilakukan strategi promosi dengan melakukan pembukaan toko baru di daerah sekitar Bogor degan bobot sebesar 0,461.

Implikasi Manajerial

Alternatif dengan bobot nilai tertinggi dapat diprioritaskan untuk diterapkan terlebih dahulu. meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial. General Manager menjadi aktor prioritas dalam tiap pengambil keputusan dan penannggung jawab setiap kegiatan manajerial.

Ketersediaan modal menjadi faktor prioritas bagi LBS untuk menjalankan kegiatan promosi. SDM yang kompeten merupakan salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian oleh manajemen LBS. Dengan adanya SDM yang kompeten, perusahaan dapat mendapatkan hasil yang terbaik yang dilakukan oleh para karyawannya.

Dengan peningkatan kegiatan promosi produk LBS, diharapkan memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para konsumen untuk mendapatkan produk LBS. Peningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial perlu dilakukan karena sudah berkembangnya teknologi. Masyarakat dapat dengan mudah dapat mendaptakan informasi dan berita terbaru mengenai produk.

Peranan Manajer pemasaran juga sangat penting untuk membatu General Manager sebagai pengambil keputusan. Manajer marketing juga bertanggung jawab penuh atas semua kegiatan promosi yang dilakukan. Peranan manajer lainnya juga sangat vital untuk meningktakan kegiatan promosi guna mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan.

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil pada penelitian mengenai analisis strategi promosi LBS yaitu :

(32)

satu destinasi pariwisata di Jawa Barat. ancamannya adalah pertumbuhan kompetitor baru dan persaingan produk cakery dan bakery sebagai produk substitusi.

2. Terdapat lima faktor yang mempengaruhi penyusunan strategi promosi LBS, yaitu: ketersediaan modal, SDM yang kompeten, relasi yang baik, dan mencari pasar yang potensial. Namun, ketersediaan modal menjadi faktor utama.

3. Alternatif strategi promosi yang dapat diterapkan yaitu optimalisasi penjulan produk LBS, Menambah outlet penjualan baru di daerah Bogor agar konsumen mudah mendapatkan produk LBS, Mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar, dan Meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial. Namun, Meningkatkan intensitas promosi penjualan melalui media elektonik, khususnya website dan media sosial menjadi alternative strategi prioritas.

Saran

1. LBS diharapkan lebih dapat melakukan kegiatan promosi lebih gencar dengan pemasangan billboard di tempat strategis, pemasangan iklan di media cetak atau media elektronik, dan melakukan kegiatan amal untuk meningkatkan citra perusahaan.

2. Penambahan outlet baru diharapkan dapat menjangkau konsumen yang berada di kawasan sekitar Bogor seperti di daerah Bogor Barat, Bogor Utara dan sekitar Kab. Bogor.

3. Penambahan divisi khusus media sosial sebagai admin account media sosial untuk melakukan update terbaru mengenai informasi dan berita tentang LBS. 4. Penentuan narasumber luar untuk penelitian selanjutnya

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, RA. 2014. Analisis Strategi Promosi Melalui Internet pada “Sablon Bogor” [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

[BPS] Badan Pusat Statistik. Pengeluaran Konsumsi Penduduk Indonesia 2011 [Internet]. [diunduh tanggal 2015 Mei 5] Tersedia pada: http://catalog.ihsn.org/index.php/catalog/4798/download/60399

[BPS] Badan Pusat Statistik. Indeks Pembangunan Manusia Kota Bogor 2014 [Internet]. [diunduh pada tanggal 2015 Juli 1] Tersedia pada:

http://perpustakaan.bappenas.go.id/lontar/file?file=digital/143291-%5B_Konten_%5D-Konten%20D79.pdf

Citrawati, Y. 2014. Penerapan Analytical Hierarchy Process Dalam Pemilihan Bauran Promosi pada Salon Muslimah (Studi Kasus House of Khadijah, Bogor [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

David, FR. 2006. Manajemen Strategi. Buku 1, Edisi kesepuluh. Jakarta (ID) : Salemba Empat.

Dharmmesta, BS dan Hani Handoko. 1997.Manajemen Pemasaran dan Analisa Perilaku Konsumen. Yogyakarta (ID) : Liberty.

(33)

Fewidarto, PD. 1996. Proses Hirarki Analitik (Analytical Hierarchy Process). Materi Kursus Singkat Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Griffin, RW. 2004. Manajemen. Jilid 1, Edisi Ketujuh. Jakarta (ID) : Erlangga. Gumilang, I. 2015. Analisis Strategi Pemasaran Air Minum Pada Pdam Tirta

Pakuan Kota Bogor [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Imran, M. 2009. Analisis Strategi Promosi Produk Takaful Ukhuwah pada PT. Asuransi Takaful keluarga (tesis). Jakarta (ID) : Universitas Indonesia.

Kuswanto, D. 2012. Statistik Untuk Pemula dan Orang Awam. Jakarta (ID): Laskar Aksara.

Kuswara, E. 2014. Analisis Perilaku Dan Kepuasan Konsumen Dalam Proses Keputusan Pembelian Lapis Bogor SANGKURIANG [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Kotler P dan Armstrong, G. 2006. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Edisi Ke-12. Jakarta (ID): Erlangga.

Kotler, P. 2005. Manajemen Pemasaran, Jilid 1 dan 2. Jakarta (ID): PT. Indeks. Kotler, P dan Armstrong, G. 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran, Jilid 1. Jakarta

(ID) : Erlangga

Lapis Bogor Sangkuriang. 2014. Bogor [ID] : http://www.lapisbogor.co.id/

Liseu. 2014. Analisis Strategi Daya Saing Kelapa Sawit Indonesia Di Pasar Internasional [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Nugraha, R. 2013. Analisis Strategi Promosi Hasanah Card pada PT. Bank BNI Syariah [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Rangkuti, F. 1997. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta (ID) : PT. Gramedia Pustaka Utama

Saaty, TL. 1991. Pengambilan Keputusan Bagi Para Pemimpin. Jakarta (ID) : Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM).

Saaty, TL. 1993. Proses Hirarki Analitik untuk Pengambilan Keputusan dalam Situasi yang Kompleks (Terjemahan). Jakarta (ID) : PT Pustaka Binaman Pressindo.

Setyawan, AB. 2014. Analisis Strategi Pemasaran Produk Mulia PT. Pegadaian (Persero) Cabang Kranggan, Bekasi [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Soraya, NN. 2013. Analisis Efektivitas Strategi Promosi Melalui Elemen-Elemen Desain Kemasan Lapis Bogor SANGKURIANG [skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.

Tjiptono, F. 2008. Strategi Bisnis Pemasaran. Yogyakarta (ID) : Yogyakarta. Umar, H. 2001. Strategic Management in Action : Konsep, Teori dan Teknik

(34)
(35)

Lampiran 1 Kuesioner faktor strategis internal dan eksternal

KUESIONER PENELITIAN

PENENTUAN BOBOT DAN RATING

TERHADAP FAKTOR STRATEGIS INTERNAL DAN EKSTERNAL

IDENTITAS RESPONDEN

Nama : ……….

Jabatan : ……….

Saya sangat berharap agar bapak/ibu dapat mengisi kuesioner ini secara obyektif dan benar, Karena kuesioner ini merupakan alat bantu penelitian untuk memperoleh data yang sahih dan akurat.

Peneliti:

Rivan Septian Andrianto H24114078

PROGRAM STUDI ALIH JENIS MANAJEMEN

DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(36)

Lanjutan Lampiran 1

A.PENENTUAN BOBOT FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL

Tujuan :

Mendapatkan penilaian dari para responden mengnai faktor-faktor strategi internal dan eksternal dengan cara pemberian bobot seberapa besar faktor strategis tersebut mempengaruhi atau menentukan keberhasilan perusahaan.

Petunjuk Umum :

1. Pengisian kuesioner dilakukan secara tertulis oleh para responden 2. Jawaban merupakan pendapat pribadi dari masing-masing responden 3. Dalam pengisian kuesioner, responden diharapkan melakukan secara

sekaligus (tidak menunda), agar terhindar dari inkonsistensi jawaban

4. Responden berhak untuk menambahkan atau mengurangi hal-hal yang sudah tercantum dalam kuesioner ini, dengan alasan yang jelas dan akurat 5. Responden dapat memiliki pandangan yang berbeda mengenai suatu faktor

dalam kuesioner ini, baik dengan responden lainnya ataupun dengan peneliti. Hal ini dibenarkan jika melengkapi dengan alasan yang kuat. Petunjuk Khusus :

1. Nilai diberikan pada perbandingan berpasangan antara dua faktor (variabel horizontal-variabel vertical) berdasarkan kepentingan atau pengaruhnya terhadap perusahaan. Untuk menentukan bobot setiap faktor digunakan skala 1, 2 dan 3 dengan ketentuan sebagai berikut.

Nilai 1 : Jika indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal

Nilai 2 ; Jika indikator horizontal sama penting daripada indikator vertikal Nilai 3 : Jika indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertical

(37)

Lanjutan Lampiran 1

B.PENENTUAN RATING FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL

Tujuan :

Mendapatkan penilaian dari para responden mengenai kemampuan perusahaan dalam menghadapi pengaruh faktor-faktor strategis internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengembangan perusahaan.

Petunjuk Umum :

1. Pengisian kuesioner dilakukan secara tertulis oleh para responden 2. Jawaban merupakan pendapat pribadi dari masing-masing responden 3. Dalam pengisian kuesioner, responden diharapkan untuk melakukannya

secara sekaligus (tidak menunda), agar terhindar dari inkonsistensi jawaban 4. Responden berhak untuk mendapatkan atau mengurangi hal-hal yang sudah

tercantum dalam kuesioner ini, dengan alasan yang jelas dan akurat

5. Responden dapat memiliki pandangan yang berbeda mengenai suatu faktor dalam kuesioner ini, baik dengan responden lainnya ataupun dengan peneliti. Hal ini dibenarkan jika dilengkapi dengan alasan yang kuat.

Petunjuk Khusus :

I. Pemberian Rating terhadap Kekuatan

Petunjuk Pengisian :

Pemberian rating pada faktor kekuatan digunakan skala 1 sampai dengan 4, dengan keterangan sebagai berikut :

Nilai 1 = Jika faktor tersebut merupakan faktor sangat lemah Nilai 2 = Jika faktor tersebut merupakan faktor lemah

Nilai 3 = Jika faktor tersebut merupakan faktor kuat

Nilai 4 = Jika faktor tersebut merupakan faktor sangat kuat

No. Uraian Rating

1 2 3 4

1. Pertama dan terbesar di Bogor 2. Mempunyai sistem manajerial dan

struktur organisasi yg baik

3. Sudah memproduksi 20.000 boks/hari

4. Memiliki relasi yang baik dengan konsumen dan distributor

II. Pemberian Rating terhadap Kelemahan

Petunjuk Pengisian :

Pemberian rating pada faktor kelemahan digunakan skala 1 sampai dengan 4, dengan keterangan sebagai berikut :

Nilai 1 = Jika faktor tersebut merupakan faktor sangat lemah Nilai 2 = Jika faktor tersebut merupakan faktor lemah

Nilai 3 = Jika faktor tersebut merupakan faktor kuat

(38)

Lanjutan Lampiran 1

No. Uraian Rating

1 2 3 4

1. Kurangnya promosi di website

yang dilakukan pihak manajemen 2. Sebaran outlet yang kurang merata di kawasan sekitar Bogor

III. Pemberian Rating terhadap Peluang

Petunjuk Pengisian :

Pemberian rating pada faktor peluang digunakan skala 1 sampai dengan 4, dengan keterangan sebagai berikut :

Nilai 1 = Jika faktor tersebut merupakan faktor sangat lemah Nilai 2 = Jika faktor tersebut merupakan faktor lemah

Nilai 3 = Jika faktor tersebut merupakan faktor kuat

Nilai 4 = Jika faktor tersebut merupakan faktor sangat kuat

No. Uraian Rating

1 2 3 4

1. Tren permintaan pasar yang tinggi

2. Tingkat daya beli penduduk kota Bogor yang meningkat

3. Bogor merupakan salah satu destinasi pariwisata di Jawa Barat

Pemberian Rating terhadap Ancaman

Petunjuk Pengisian :

Pemberian rating pada faktor peluang digunakan skala 1 sampai dengan 4, dengan keterangan sebagai berikut :

Nilai 1 = Jika faktor tersebut merupakan faktor sangat lemah Nilai 2 = Jika faktor tersebut merupakan faktor lemah

Nilai 3 = Jika faktor tersebut merupakan faktor kuat

Nilai 4 = Jika faktor tersebut merupakan faktor sangat kuat

No. Uraian Rating

1 2 3 4

1. Pertumbuhan kompetitor baru

2. Persaingan produk cakery dan bakery

(39)

Lampiran 2 Kuesioner penentuan bobot prioritas

ANALISIS STRATEGI PROMOSI LAPIS BOGOR SANGKURIANG, BOGOR

KUESIONER AHP

Petunjuk Pengisian :

1. Pada bagian ini responden diminta untuk membandingkan antara elemen-elemen kiri dan kanan, lalu memberi jawaban berupa tanda (√) pada nilai perbandingannya.

2. Jawaban dari pertanyaannya tersebut diberi nilai oleh responden berdasarkan tingkat kepentingan dari elemen-elemen yang dibandingkan secara berpasangan.

3. Nilai perbandingan yang diberikan mempunyai skala 1-9. Definisi dari skala yang digunakan untuk menilai komparasi ditentukan sebagai berikut :

Nilai Komparasi

Definisi (Kiri dibandingkan Kanan)

1 A dan B sama penting

3 A sedikit lebih penting dari B

5 A lebih penting dari B

7 A sangat jelas lebih penting dari B

9 A mutlak lebih penting dari B

(40)

Lanjutan Lampiran 2

I. Perbandingan Faktor terhadap Fokus

Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relative antara satu faktor denga faktor lainnya dalam menentukan bobot prioritas terhadap Strategi Promosi LBS. Elemen-elemen faktor (EF) tersebut adalah sebagai berikut:

1. Ketersediaan modal (EF1)

2. SDM yang kompeten (EF2)

3. Relasi yang baik (EF3)

4. Mencari pasar potensial (EF4)

Kolom Kiri

Kolom Kiri Lebih Penting Sama Kolom Kanan Lebih Penting Kolom Kanan

Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2,4,6,8 adalah nilai-nilai diantaranya

(41)

Lanjutan Lampiran 2

II.Perbandingan Aktor Terhadap Faktor Elemen aktor yang berpengaruh, yaitu:

1. Manajer pemasaran (A1)

2. Manajer keuangan (A2)

3. General Manager (A3)

4. Manajer SDM (A4)

5. Manajer produksi (A5)

2.1 Perbandingan aktor terhadap elemen faktor ketersediaan modal

Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan / pengaruh relatif antara satu aktor dengan aktor lainnya (besarnya pengaruh aktor) terhadap elemen Ketersediaan Modal.

Kolom Kiri

Kolom Kiri Lebih Penting Sama Kolom Kanan Lebih Penting Kolom Kanan 9 = mutlak lebih penting; nilai 2,4,6,8 adalah nilai-nilai diantaranya

(42)

Lanjutan Lampiran 2

2.2 Perbandingan aktor terhadap elemen faktor SDM yang kompeten

Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan / pengaruh relatif antara satu aktor dengan aktor lainnya (besarnya pengaruh aktor) terhadap elemen SDM yang Kompeten.

Kolom Kiri

Kolom Kiri Lebih Penting Sama Kolom Kanan Lebih Penting Kolom Kanan 9 = mutlak lebih penting; nilai 2,4,6,8 adalah nilai-nilai diantaranya

2.3 Perbandingan aktor terhadap elemen faktor relasi yang baik

(43)

Lanjutan Lampiran 2

Kolom Kiri

Kolom Kiri Lebih Penting Sama Kolom Kanan Lebih Penting Kolom Kanan 9 = mutlak lebih penting; nilai 2,4,6,8 adalah nilai-nilai diantaranya

2.4 Perbandingan aktor terhadap elemen faktor mencari pasar potensial

Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan / pengaruh relatif antara satu aktor dengan aktor lainnya (besarnya pengaruh aktor) terhadap elemen mencari pasar potensial.

Kolom Kiri

(44)

Lanjutan Lampiran 2 Keterangan:

Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2,4,6,8 adalah nilai-nilai diantaranya

III. Perbandingan Aktor dengan Tujuan Elemen tujuan terdiri dari tiga, yaitu:

1. Meningkatkan kegiatan promosi produk LBS

2. Pembukaan toko baru di Cibubur

3. Ikut event di instansi

3.1 Perbandingan tujuan terhadap elemen aktor General Manager

Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan ) terhadap elemen General manager.

Kolom Kiri

Kolom Kiri Lebih Penting Sama Kolom Kanan Lebih Penting Kolom Kanan 9 = mutlak lebih penting; nilai 2,4,6,8 adalah nilai-nilai diantaranya

3.2 Perbandingan tujuan terhadap elemen aktor Manajer pemasaran

(45)

Lanjutan Lampiran 2

Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan) terhadap elemen Manajer pemasaran.

Kolom Kiri

Kolom Kiri Lebih Penting Sama Kolom Kanan Lebih Penting Kolom Kanan

Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2,4,6,8 adalah nilai-nilai diantaranya

3.3 Perbandingan tujuan terhadap elemen aktor Manajer keuangan

Bandingkan berdasarkan tingkat kepentingan/pengaruh relatif antara satu tujuan dengan tujuan lainnya (besarnya pengaruh tujuan) terhadap elemen Manajer keuangan.

Kolom Kiri

Kolom Kiri Lebih Penting Sama Kolom Kanan Lebih Penting Kolom Kanan

Nilai 1 = sama penting; 3 = sedikit lebih penting; 5 = jelas lebih penting; 7 = sangat jelas penting; 9 = mutlak lebih penting; nilai 2,4,6,8 adalah nilai-nilai diantaranya

3.4 Perbandingan tujuan terhadap elemen aktor Manajer SDM

Gambar

Tabel 1 Jumlah UMKM dan Tenaga Kerja di Indonesia periode 2008 - 2013
Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian
Gambar 2 Matriks IE (David 2006)
Gambar 3 Matriks SWOT (David 2006)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Alternatif strategi promosi yang dapat dilakukan oleh Serambi Botani adalah dengan melakukan promosi melalui pemasaran langsung seperti belanja elektronik,

mempertimbangkan faktor penentu keberhasilan produk Lapis Bogor Sangkuriangyakni harga, keragaman, daya tahan, rasa, tekstur, warna, aroma, merek, desain kemasan,

Adapun masalah yang dihadapi oleh Toko Baylies&Co yaitu penjualan yang kurang konsisten, sehingga tidak dapat mencapai penjualan yang diharapkan,strategi

Tujuan penyusunan Laporan Akhir ini untuk mengetahui bagaimana strategi bauran promosi yang digunakan serta yang paling efektif dalam mencapai target penjualan dan

Promosi The Jungle Bogor dengan jelas memaparkan pesan yang ingin disampaikan kepada konsumen.. Promosi The Jungle Bogor memiliki daya tarik

Selain keberhasilan dalam melakukan strategi promosi melalui periklanan advertising, promosi penjualan sales promotion, PT BNI Syariah Cabang Mataram juga berhasil menarik minat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama ini Penjualan Produksi Rumahan Kerupuk Mama Hafizh Haruyan Barabai belum maksimal menerapkan strategi promosi karena melakukan penjualan lebih

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama ini Penjualan Riny Cosmetik Martapura Kabupaten Banjar tidak melakukan strategi promosi dengan maksimal seperti Periklanan, Promosi Penjualan