STATUS NUTRISI PADA PASIEN STROKE DENGAN DISFAGIA
DI RUANG R-A4 RUMAH SAKIT UMUM
HAJI ADAM MALIK MEDAN
SKRIPSI
Oleh
TINA AGUSTARI 091121005
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PRAKATA
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
dengan judul ”Perubahan Status Nutrisi Pada Pasien Stroke Dengan Disfagia Di Ruang
R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan Tahun 2010”.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada pihak-pihak yang telah
memberikan bantuan, bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini,
Melalui tulisan ini penulis juga ingin mengucapkan ribuan terima kasih dan rasa hormat
yang sedalam-dalamnya kepada:
1. dr. Dedi Ardinata M.Kes, selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara Medan.
2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNs, selaku pembantu dekan 1
3. Ibu Rosina Tarigan, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB selaku dosen pembimbing 1
4. Ibu Jenny Marlindawani Purba, SKp, MNS selaku pembimbing 2
5. Bapak Mula Tarigan, S.Kp, M.Kes selaku penguji
6. Direktur Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan yang telah memberikan izin
untuk melakukan penelitian
7. Kedua orang tua saya yang telah banyak memberikan doa dan dukungannya
8. Seluruh responden yang telah ikut berpartisipasi dalam penelitian ini dan Seluruh
teman-teman dan pihak yang ikut mendukung penulis dalam menyelesaikan
proposal ini
Dalam penyusunan skripsi ini peneliti merasa masih banyak kekurangan, untuk
itu penulis mengharapkan saran dan masukan yang dapat menyempurnakan karya tulis
ini. Akhir kata penulis mengucapkan ribuan banyak terima kasih, dan semoga skripsi ini
dapat bermanfaat untuk kita semua.
Medan, Januari 2011
DAFTAR ISI
Bab 1. Pendahuluan 1. Latar Belakang... 1
Bab 2. Landasan Teoritis 1. Stroke ... 5
2.3 Manifestasi Klinis ... 12
2.4 Patofisiologi ... 13
3. Nutrisi ... 14
3.1. Penilaian Status Nutrisi Secara Langsung ... 16
3.2. Penilaian Status Nutrisi Secara Tidak Langsung ... 23
Bab 3. Kerangka Konseptual 1. Kerangka Konsep ... 25
2. Definisi Operasional ... 26
Bab 4. Metodologi Penelitian 1. Desain Penelitian ... 27
2. Populasi, Sampel Penelitian dan Tehnik Sampling ... 27
2.1. Populasi ... 27
2.2. Sampel penelitian ... 27
2.3. Teknik Sampling ... 29
3. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 29
4. Pertimbangan Etik ... 29
5. Pengumpulan Data ... 30
6. Pengolahan Data ... 32
Bab 5. Hasil Penelitian Dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian ... 33
2. Pembahasan ... 35
Bab 6. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan ... 42
2. Saran ... 43
Daftar Pustaka
Lampiran
1. Surat Penelitian
2. Lembar Persetujuan Responden
3. Instrumen Penelitian
4. Tabel waktu pelaksanaan
5. Riwayat Hidup
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penyebab dari Disfagia ... 12
Tabel 2. Penggolongan Keadaan Gizi Menurut Indeks
Antropometri ... 17
DAFTAR SKEMA
Judul : Status Nutrisi Pada Pasein Stroke Dengan Disfagia di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan Tahun 2010
Peneliti : Tina Agustari
Nim : 091121005
Program : Sarjana Keperawatan
Tahun Akademi : 2009/2010
ABSTRAK
Stroke merupakan cedera serebrovaskular (CVA) yaitu kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak, biasanya diakibatkan oleh trombosis, embolisme, iskemia dan hemoragi. Sedangkan Disfagia adalah kesulitan menelan yang dapat pula disertai dengan nyeri menelan. Disfagia sangat sering dijumpai pada penderita stroke dimana hampir 65% penderita stroke mengalami gangguan pada proses menelannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran status nutrisi pasien stroke yang mengalami disfagia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2010 di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik non
probability sampling yaitu dengan metode purposive sampling, penelitian ini
melibatkan 15 orang pasien stroke yang mengalami disfagia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien stroke yang mengalami disfagia mengalami kekurangan nutrisi yaitu kurus sebanyak 60%, berat badan normal 13,3%, dan berat badan gemuk sebanyak 26,7%. Hal ini dapat berkaitan dengan proses metabolisme menjadi meningkat, dan kesulitan pasien untuk menelan makanannya. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat lebih mengembangkan penelitian tentang status nutrisi pasien stroke dengan disfagia dengan menggunakan metode-metode penilaian status nutrisi baik itu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Sehingga hasil yang diperoleh lebih baik lagi.
Judul : Status Nutrisi Pada Pasein Stroke Dengan Disfagia di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan Tahun 2010
Peneliti : Tina Agustari
Nim : 091121005
Program : Sarjana Keperawatan
Tahun Akademi : 2009/2010
ABSTRAK
Stroke merupakan cedera serebrovaskular (CVA) yaitu kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak, biasanya diakibatkan oleh trombosis, embolisme, iskemia dan hemoragi. Sedangkan Disfagia adalah kesulitan menelan yang dapat pula disertai dengan nyeri menelan. Disfagia sangat sering dijumpai pada penderita stroke dimana hampir 65% penderita stroke mengalami gangguan pada proses menelannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran status nutrisi pasien stroke yang mengalami disfagia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2010 di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik non
probability sampling yaitu dengan metode purposive sampling, penelitian ini
melibatkan 15 orang pasien stroke yang mengalami disfagia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien stroke yang mengalami disfagia mengalami kekurangan nutrisi yaitu kurus sebanyak 60%, berat badan normal 13,3%, dan berat badan gemuk sebanyak 26,7%. Hal ini dapat berkaitan dengan proses metabolisme menjadi meningkat, dan kesulitan pasien untuk menelan makanannya. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat lebih mengembangkan penelitian tentang status nutrisi pasien stroke dengan disfagia dengan menggunakan metode-metode penilaian status nutrisi baik itu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Sehingga hasil yang diperoleh lebih baik lagi.
BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Stroke atau cedera serebrovaskuler (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak. Stroke adalah masalah
neurologik primer di AS dan di dunia. Stroke adalah peringkat ketiga penyebab
kematian dengan laju mortalitas 18% sampai 37% untuk stroke pertama dan sebesar
62% untuk stroke selanjutnya. Terdapat kira-kira 2 juta orang bertahan hidup dari stroke
yang mempunyai kecacatan, 40% memerlukan bantuan dalam aktivitas kehidupan
sehari-hari (Smeltzer, 2002).
Pada pasien stroke sering mengalami disfagia (kesulitan menelan) dan status
gizi buruk, yang diperkirakan antara 16% - 60% dari penderita stroke. Disfagia sangat
sering dijumpai pada penderita stroke dimana hampir 65% penderita stroke mengalami
gangguan pada proses menelannya. Disfagia juga mempengaruhi peningkatan
komplikasi seperti peningkatan mortalitas, dan peningkatan biaya perawatan pasien di
rumah sakit. Sejumlah besar penderita stroke akan menunjukkan ciri-ciri disfagia dan
merupakan salah satu kondisi yang permanen (Crary, 2004).
Sulit menelan merupakan suatu gejala atau keluhan yang diakibatkan adanya
kelainan di dalam saluran pencernaan yang paling atas, yakni orofaring dan esophagus.
Keluhan ini akan bermanifestasi bila terdapat gangguan gerakan-gerakan pada otot
menelan dan gangguan transportasi makanan dari mulut ke lambung. Beberapa keluhan
lain yang dapat menyertai keluhan sulit menelan adalah nyeri waktu menelan
mual dan muntah, muntah darah (hematemesis), berak berdarah (melena) batuk dan
berat badan berkurang (Kartika, 2009).
Status nutrisi pada pasien stroke dapat memburuk ketika dirawat di rumah
sakit, prevalensi status dapat mencapai 22% sampai 26%. Status gizi buruk pada pasien
stroke yang masuk ke rumah sakit dilaporkan mencapai 50%. Hal ini biasanya
disebabkan oleh status gizi masyarakat miskin yang biasanya sudah ada sebelum pasien
menderita stroke. Status gizi ini akan membaik jika di atasi dengan baik. Penilaian
status gizi pada pasien stroke dapat dinilai dari lemak, otot, serta ukuran seperti
biokimia serum (Crary, 2004).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Michael terhadap hubungan disfagia
terhadap status gizi buruk menunjukkan relative tinggi, dikarenakan disfagia dan status
gizi sangat erat kaitannya. Pada penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa parameter
gizi (lingkar lengan, lipatan kulit trisep, dan kadar albumin yang rendah) berbeda antara
pasien yang mengalami kesulitan menelan dan yang bisa menelan. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa dari 76 pasien dengan iskemik akut didapati hasil 52,6% dari
pasien menunjukkan disfagia dan 26,3% diidentifikasi dengan status gizi buruk (Crary,
2004).
Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan pada tanggal 23 Maret 2010 di
ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan, peneliti mendapatkan data
bahwa pada tanggal 23 Januari sampai dengan 23 Maret jumlah pasien yang mengalami
kesulitan saat menelan adalah sebanyak 45 orang, hal ini ditandai oleh adanya gangguan
pada saraf ke IX (vagus) dan pasien terpasang NGT (naso grastitic tube), namun data
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka perumusan masalahnya adalah
disfagia dapat dijumpai pada pasien yang mengalami stroke, akibat dari gangguan pada
peredaran darah di otak. Selain itu pada pasien stroke yang dirawat di rumah sakit
biasanya mengalami disfagia. Adapun perumusan masalah adalah bagaimana gambaran
tentang status nutrisi pada pasien stroke dengan disfagia di ruangan R-A4 Rumah Sakit
Umum Haji Adam Malik Medan.
3. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang status
nutrisi pada pasien stroke dengan disfagia di ruangan R-A4 Rumah Sakit Umum
Haji Adam Malik Medan.
4. Manfaat Penelitian
4.1 Keluarga
Dengan mengetahui hubungan dari disfagia terhadap status gizi, sehingga
keluarga dapat berperan sebagai care giver dalam hal pemenuhan nutrisi
pasien stroke.
4.2 Pasien
Dapat memberi motivasi untuk mengkonsumsi makanan sesuai porsi yang
ditetapkan.
4.3 Perawat
Perawat dapat lebih profesional melakukan peran sebagai care provider
dalam memenuhi nutrisi pasien dan membuat rencana diet yang sesuai
4.4 Masyarakat
Masyarakat dapat mengetahui tentang bagaimana perawatan pasien yang
mengalami Stroke dengan disfagia dengan memperhatikan gizi yang di
BAB 2
LANDASAN TEORITIS
1. Stroke
1.1. Pengertian
Istilah stroke atau penyakit serebrovaskular mengacu kepada setiap
gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau berhentinya
aliran darah melalui sistem suplai arteri otak. Istilah stroke biasanya digunakan
secara spesifik untuk menjelaskan infark serebrum. Istilah yang masih lama dan
masih sering digunakan adalah cerebrovaskular accident (CVA) (Price, 2006).
Stroke atau cedera serebrovaskular (CVA) adalah kehilangan fungsi otak
yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. Yang biasanya
diakibatkan oleh trombosis, embolisme, iskemia dan hemoragi (Smeltzer, 2002).
Menurut Arif Muttaqin, stroke merupakan penyakit neurologis yang sering
dijumpai dan harus ditangani secara tepat. Stroke merupakan kelainan fungsi otak
yang timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran
darah otak yang bisa terjadi pada siapa saja (Muttaqin, 2008).
Gejala stroke dapat bersifat fisik, psikologis dan perilaku. Gejala fisik
yang paling khas adalah paralisis, kelemahan, hilangnya sensasi diwajah, lengan
atau tungkai disalah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, kesulitan menelan dan
hilangnya sebagian penglihatan disatu sisi. Seorang dikatakan terkena stroke jika
salah satu atau kombinasi apapun dari gejala diatas berlangsung selama 24 jam
1.2. Penyebab Stroke
1.2.1. Trombosis (bekuan darah didalam pembuluh darah otak dan leher).
Aterosklerosis serebral dan pelambatan sirkulasi serebral adalah
penyebab utama, trombosis serebral merupakan penyebab yang
umum pada serangan stroke.
1.2.2. Embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa
ke otak dari bagian tubuh yang lain). Abnormalitas patologik pada
jantung kiri, seperti endokarditis, infeksi, penyakit jantung rematik
dan infark miokard serta infeksi pulmonal adalah tempat-tempat
asal emboli. Embolus biasanya menyumbat arteri serebral tengah
atau cabang-cabang yang merusak sirkulasi serebral.
1.2.3. Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak). Iskemia serebral
(insufisiensi suplai darah ke otak) terutama karena konstriksi
ateroma pada arteri yang menyuplai darah ke otak.
1.2.4. Hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).
Hemoragi dapat terjadi diluar durameter (hemoragi ekstradural dan
epidural), dibawah durameter (hemoragi subdural), diruang
subarakhnoid (hemoragi subarakhnoid) atau didalam subtansi otak
Berbagai bagian otak dapat mengalami gangguan peredaran darah otak,
secara anatomi otak dibagi atas otak besar yang terdiri dari beberapa lobus, yaitu:
lobus frontalis, mengatur gerakan sadar, ciri kepribadian, perilaku sosial,
motivasi-inisiatif, dan berbicara. Lobus oksipita mengatur perhatian terhadap
rangsangan, menulis, menggambar, menghitung, merasakan, membentuk,
berpakaian. Lobus temporalis mengatur daya ingatan verbal, dan visual,
pendengaran, dan suasana hati. Lobus oksiput mengatur interprestasi penglihatan.
Otak kecil mengatur koordinasi, keseimbangan, gerakan mata, menelan, dan
gerakan lidah (Feigin, 2007).
1.3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dari stroke dapat berupa defisit lapang pandang seperti
kehilangan setengah lapang penglihatan, Kehilangan penglihatan perifer, dan
diplopia. Defisit motorik (seperti Hemiparesis, Hemiplegia, Ataksia, Disartria
dan Disfagia). Defisit sensori (seperti Parestesia). Defisit Verbal (seperti Afasia
eksprensif: tidak mampu membentuk kata yang dapat dipahami, Afasia reseptif:
tidak mampu memahami kata yang dibicarakan, Afasia global: kombinasi afasia
eksprensif dan reseptif). Defisit kognitif (seperti Kehilangan memori jangka
pendek dan panjang, Penurunan lapang perhatian, Perubahan penilaian, Kerusakan
untuk berkosentrasi). Defisit emosional (seperti Kehilangan kontrol diri, Labilitas
emosional, Penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan stres, Depresi,
1.4. Klasifikasi
Ada beberapa klasifikasi dari stroke yaitu: Stroke Hemoragi, stroke ini
merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subaraknoid, disebabkan
oleh pecahnya pembuluh darah otak pada area otak tertentu. Biasanya kejadian
saat melakukan aktifitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat.
Kesadaran klien umumnya menurun. Stroke Nonhemoragi, stroke ini dapat berupa
iskemia atau emboli dan trombosis serebral, biasanya terjadi saat istirahat, bangun
tidur, atau dipagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang
menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat menimbulkan edema sekunder
(Muttaqin, 2008).
1.5. Manajemen Stroke
Terapi darurat memiliki tiga tujuan, yaitu: yang pertama mencegah
terjadinya cedera otak akut dengan memulihkan perfusi ke daerah iskemik non
infark, yang kedua membaikkan cedera saraf sedapat munkin, yang ketiga
mencegah cedera neurologik lebih lanjut dengan melindungi sel didaerah iskemik
dari kerusakan lebih lanjut (Smeltzer. 2002).
Pada stroke iskemik akut, mempertahankan fungsi jaringan adalah tujuan
dari apa yang disebut sebagai strategi Neuroprotektif. Terapinya dapat berupa
hipotermia, dan pemakaian obat neuroprotektif seperti antikoagulasi, trombolisis
intravena, trombolisis intra arteri. Selain itu terapi yang digunakan adalah terapi
perfusi dimana dilakukan induksi hipertensi untuk meningkatkan tekanan darah
arteri rata-rata sehingga perfusi otak dapat meningkat. Pengendalian edema dan
terapi medis umum juga dilakukan, serta terapi bedah untuk mencegah tekanan
1.6. Komplikasi
Komplikasi medis yang sering menyebabkan kematian dalam bulan
pertama setelah stroke adalah: yang pertama terjadi pembengkakan otak diikuti
oleh dislokasi yang menyebabkan tertekannya pusat-pusat vital diotak yang
mengendalikan pernapasan dan denyut jantung. Kedua, terjadi pneumonia aspirasi
yang diakibatkan masuknya makanan atau cairan kedalam paru oleh karena
mengalami disfagia. Ketiga, terjadi bekuan darah di arteri jantung dan paru.
Keempat, terjadi infeksi saluran kemih, infeksi dada, dan infeksi kulit akibat
dekubitus. Kelima, terjadi komplikasi kardiovaskuler seperti gagal jantung
(Smeltzer. 2002).
Setelah stroke iskemik atau perdarahan intraserebrum, sel yang mati dan
hematom itu diganti oleh kista yang mengandung cairan serebrospinalis. Pada
kondisi ini mungkin pasien mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan
kematian atau cacat. Gejala sisa stroke mencakup komplikasi antara lain: 80%
pasien stroke mengalami penurunan parsial atau total gerakan dan kekuatan
lengan atau tungkai di salah satu sisi tubuh, 30% mengalami masalah
komunikasi, 30% mengalami kesulitan menelan (Disfagia), 10% mengalami
masalah melihat, banyak pasien stroke menderita sakit kepala, tanpa pencegahan
2. Disfagia
2.1. Definisi
Disfagia diartikan sebagai “perasaan melekat” atau obstruksi pada tempat
lewatnya makanan melalui mulut, faring, atau esophagus. Gejala ini harus
dibedakan dengan gejala lain yang berhubungan dengan menelan. Kesulitan
memulai gerakan menelan terjadi pada kelainan-kelainan fase volunter menelan.
Namun demikian setelah dimulai gerakan menelan ini dapat diselesaikan dengan
normal. Odinofagia berarti gerakan menelan yang nyeri, acapkali odinofagia dan
disfagia terjadi secara bersamaan. Globus faringeus merupakan perasaan adanya
suatu gumpalan yang terperangkap dalam tenggorokan. Arah makanan yang keliru
sehingga terjadi regurgitasi nasal dan aspirasi makanan kedalam laring serta paru
sewaktu menelan, merupakan ciri khas disfagia orofaring (Harrison, 2000).
Disfagia adalah kesulitan menelan yang dapat pula disertai dengan nyeri
menelan. Esofagus normal merupakan suatu aktifitas terkoordinasi yang rumit
dimana cairan dan makanan padat diteruskan dari mulut kelambung. Mekanisme
ini juga mencegah aspirasi makanan ke dalam paru, regurgitasi kehidung, dan
refluks melalui sfingter esophagus bawah. Oleh sebab itu disfagia menyebabkan
dua masalah yang berbeda yaitu: pertama, seringkali ada penyebab dasar yang
serius. Dan kedua, menyebabkan konsekuensi berbahaya (misal, aspirasi atau
2.2. Etiologi
Disfagia sering disebabkan oleh penyakit otot dan neurologis. Penyakit ini
adalah gangguan peredaran darah otak (stroke, penyakit serebrovaskuler),
miastenia gravis, distrofi otot, dan poliomyelitis bulbaris. Keadaan ini memicu
peningkatan resiko tersedak minuman atau makanan yang tersangkut dalam trakea
atau bronkus (Price, 2006).
Disfagi esophageal mungkin dapat bersifat obstruktif atau disebabkan oleh
motorik. Penyebab obstruksi adalah striktura esophagus dan tumor-tumor
ekstrinsik atau instrinsik esofagus, yang mengakibatkan penyempitan lumen.
Penyebab disfagi dapat disebabkan oleh berkurangnya, tidak adanya, atau
tergangguanya peristaltik atau disfungsi sfingter bagian atas atau bawah.
Gangguan disfagi yang sering menimbulkan disfagi adalah akalasia, scleroderma,
dan spasme esophagus difus (Price, 2006).
Ada dua jenis dari disfagia yaitu disfagia mekanis dan disfagia motorik.
Tabel 1 dapat menjelaskan dengan lebih jelas tentang perbedaan kedua jenis
disfagia.
Table 1. Penyebab dari Disfagia
Disfagia
Mekanis
Luminal
Diakibatkan oleh: Bolus yang besar, Benda
asing
Penyempitan
instrinsik
a. Keadaan inflamasi yang menyebabkan
pembengkakan seperti Stomatitis,
Faringitis,epiglottis, Esofangitis
b. Selaput dan cincin dapat dijumpai pada
Faring (sindroma pulmer, Vinson), Esophagus (congenital, inflamasi), Cincin mukosa esophagus distal
d. Tumor-tumor malignan, Karsinoma primer, Karsinoma metastasik, Tumor-tumor benigna, Leiomioma, Lipoma, Angioma, Polip fibroid inflamatorik, Papiloma epitel
Kompresi
ekstrinsik
Spondilitis servikalis, Osteofit vetrbra, Abses
dan masa retrofaring, Tumor pancreas,
Hematoma dan fibrosis
Seperti lesi oral dan paralisis lidah,
Anesthesia orofaring, Penurunan produksi
saliva, Lesi pada pusat menelan
Kelainan
pada otot
lurik
a. Kelemahan otot (Paralisis bulbar,
Neuromuskuler, Kelainan otot
b. Kontraksi dengan awitan stimultan atau
gangguan inhibisi deglutisi (Faring dan esophagus, Sfingther esophagus bagian atas)
Kelainan
pada otot
polos
esophagus
a. Paralisis otot esophagus yang menyebabkan kontraksi yang lemah
b. Kontraksi dengan awitan simultan atau
gangguan inhibisi deglutis
c. Sfingter esophagus bagian bawah.
2.3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari disfagia dapat dilihat dengan adanya gangguan pada
neurogenik mengeluh bahwa cairan lebih mungkin menyebabkan tersedak
daripada makanan padat atau setengah padat. Batuk dan regurgitasi nasal
menunjukkan kelemahan otot-otot palatum atau faring bagian atas. Suara serak,
nyeri menelan, dan nyeri telinga merupakan gejala tumor hipofaring. Sedang
aspirasi sering terjadi pada gangguan neurologik (Walsh, 1999).
2.4. Patofisiologi
Transportasi normal bolus makanan yang ditelan lewat lintasan gerakan
menelan tergantung pada ukuran bolus makanan yang ditelan, diameter lumen
lintasan untuk gerakan menelan, dan kontraksi peristaltik (Price, 2006).
Disfagia dibedakan atas disfagia mekanis dan disfagia motorik.
2.4.1. Disfagia mekanis
Disfagia mekanik dapat disebabkan oleh bolus makanan yang
sangat besar, adanya penyempitan instrinsik atau kompresi ekstrinsik
lumen lintasan untuk gerakan menelan. Pada orang dewasa, lumen
esofagus dapat mengembang hingga mencapai diameter 4 cm, jika
esofagus tidak mampu berdilatasi hingga 2,5 cm, gejala disfagia dapat
terjadi tetapi keadaan ini selalu terdapat kalau diameter esofagus tidak bisa
mengembang hingga diatas 1,3 cm. lesi yang melingkar lebih sering
mengalami disfagia daripada lesi yang mengenai sebagian lingkaran dari
dinding esofagus saja
2.4.2. Disfagia motorik
Disfagia motorik dapat terjadi akibat kesulitan dalam memulai
gerakan menelan atau abnormalitas pada gerakan peristaltik dan akibat
inhibisi deglutisi yang disebabkan oleh penyakit pada otot lurik atau otot
polos esofagus. Disfagia motorik faring disebabkan oleh kelainan
neuromuskuler yang menyebabkan paralisis otot (Price, 2006)
2.5. Komplikasi akibat disfagia
Disfagia adalah kondisi yang kompleks yang memiliki pengaruh besar
pada kehidupan pasien. Pasien yang mengalami disfagia masalah yang sering
ditemukan adalah kehilangan nafsu makan serta penurunan berat badan yang
diakibatkan oleh asupan nutrisi yang berkurang. Dalam manejemen gizi pada
pasien yang mengalami disfagia harus lebih diperhatikan lagi tentang cara
penyediaan makanan bergizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh pasien agar
komplikasi seperti terjadinya aspirasi dapat dihindari (Collier, 2009)
3. Nutrisi
Masalah nutrisi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu,
pendekatan penanggulangan harus melibatkan berbagai sektor yang terkait (Almatsier,
2005).
Status nutrisi adalah suatu keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Dan dibedakan atas satus gizi buruk, kurang, baik, dan lebih.
Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang
baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Ada 3 fungsi zat
gizi dalam tubuh yaitu: memberi energi, pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh,
mengatur proses tubuh (Almatsier, 2005).
Berikut ini ada beberapa istilah yang berhubungan dengan status gizi, antara lain:
a. Nutrition
Gizi adalah suatu proses organisme menggunkan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme, dan pegeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan
energi (Supariasa, 2002).
b. Nutrition Status
Keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara relatif maupun
absolute satu atau lebih zat gizi. Ada empat bentuk malnutrisi, Yaitu :
1. Under nutrition: kekurangan konsumsi pangan secara relative atau absolute
untuk periode tertentu.
2. Specific defisiensy: kekurangan zat gizi tertentu, misalnya kekurangan vitamin
A, yodium, Fe, dan lainnya.
3. Over Nutrition: kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu
4. Imbalance: karena disproporsi zat gizi, misalnya kolesterol terjadi karena tidak
seimbangnya LDL, HDL, dan VLDL.
c. Kurang Energi Protein (KEP)
Kurang energi protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan
gangguan penyakit tertentu. Pada umumnya KEP berasal dari keluarga yang
berpenghasilan rendah (Supariasa, 2002)
3.1. Penilaian Status Nutrisi Secara Langsung
3.1.1. Antropometri
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan
asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan
fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan beberapa
parameter seperti ukuran tunggal dari tubuh manusia antara lain: umur, berat
badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar
pinggul, dan tebal lemak dibawah kulit (Supariasa, 2002).
Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi
adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U),
dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Penilaian status gizi dengan
antropometri banyak digunakan dalam berbagai penelitian atau survey, baik
survey secara luas dalam skala nasional maupun survey untuk wilayah terbatas
(Supariasa, 2002). Berdasarkan ukuran baku tersebut, penggolongan status nutrisi
menurut indeks antropometri adalah seperti yang tercantum dalam tabel 2 berikut
ini:
Tabel 2: Penggolongan keadaan gizi menurut indeks antropometri
Status Gizi Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks
Beberapa indeks antrometri antara lain:
a. Berat badan menurut umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran masa
tubuh. Masa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak,
misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan dan
menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter
antropometri yang sangat labil.
b. Tinggi badan menurut umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan
pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan
bertambahnya umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif
kurang sensitif terhadap kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh
defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif
lama.
c. Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
Berat badan memliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam
keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan
tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jellife pada tahun 1966 telah
memperkenalkan indeks ini untuk menilai status gizi. Indeks BB/TB merupakan
indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini, dan merupakan indeks yang
d. Lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U)
Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot
dan lapisan lemak bawah kulit. LLA berkorelasi dengan indeks BB/U maupun
BB/TB. Lingkar lengan atas merupakan parameter antropometri yang sangat
sederhana dan mudah dilakukan oleh tenaga yang bukan professional. Indeks
lingkar lengan atas sulit digunakan untuk melihat pertumbuhan anak. Pada usia 2
sampai 5 tahun perubahannya tidak nampak secara nyata, oleh karena itu lingkar
lengan atas banyak digunakan dengan tujuan screening individu, tetapi dapat juga
digunakan untuk pengukuran status gizi.
e. Tebal lemak dibawah kulit menurut umur
Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak dibawah
kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian
lengan atas (Trisep dan bisep), lengan bawah (forearm), tulang belikat
(subcapular), ditengah garis ketiak (midaxilaris), sisi dada (pectord), perut
(abdomen), suprailiaka, paha, tempurung lutut (suprapatelar), dan pertengahan
tungkai bawah (medial calf)
f. Indeks masa tubuh (IMT)
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun
keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko
penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja. Oleh karena itu,
pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah
satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal
Di Indonesia khususnya, cara pemantauan dan batasan berat badan normal
orang dewasa belum jelas mengacu pada patokan tertentu. Menurut
FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal
orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Indeks (BMI). Di Indonesia
diartikan sebagai indeks masa tubuh (IMT). IMT merupakan alat yang sederhana
untuk memantau status gizi orang dewasa
Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:
IMT=
Tabel 3: Katagori Ambang Batas IMT
Katagori IMT
Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,5
Normal >18,5 – 25
Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan >25,0 – 27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0
(Supariasa, 2002).
3.1.2. Klinis
Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara tepat tanda-tanda klinis
umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. seseorang dengan melakukan
pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign), dan gejala (symptom) Atau riwayat penyakit
(Supariasa, 2002).
Pemeriksaan klinis (assesement clinik) secara umum terdiri dari dua
pemeriksaan fisik, yaitu melihat dan mengamati gejala gangguan gizi baik sign
(gejala yang dapat diamati) maupun symptom (Supariasa, 2002).
Pada pemeriksaan fisik, kita melakukan pengamatan terhadap perubahan
fisik, yaitu semua perubahan yang ada kaitannya dengan kekurangan gizi.
Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat dari:
a. Rambut. Berhubungan dengan kurang gizi dapat dijumpai dengan kondisi
rambut yang kurang bercahaya, kusam, kering, tipis dan jarang, rambut
kurang kuat/mudah putus.
b. Wajah. Pada wajah dapat dijumpai adanya penurunan pigmentasi yang
tersebar secara berlebih apabila disertai anemia, wajah seperti bulan (moon
face), pengeringan selaput mata.
c. Mata. Dijumpai selaput mata pucat, keratomalasia (keadaan permukaan
halus /lembut dari keseluruhan bagian tebal atau keseluruhan kornea,
pengeringan kornea.
d. Bibir. Pada bibir dapat dijumpai adanya angular stomatitis (celahan pada
sudut mulut) dan depigmentasi kronis pada bibir bawah.
e. Lidah. Terjadi edema pada lidah, atrofi papilla serta papilla bewarna merah
atau merah muda, atau berglanula, serta ditemukan keadaan pecah-pecah
pada permukaan lidah. Serta kadang ditemukan adanya pigmented tongue.
f. Gigi. Pada gigi keadaan yang mungkin dijumpai berhubungan dengan
kekurangan gizi adalah adanya mottled enamel (bintik putih dan kecoklatan
dengan atau tanpa erosi pada enamel), pengikisan dapat terjadi pada tepi
gigi seri dan taring akibat dari mengkonsumsi makanan yang keras yang
g. Gusi. Kekurangan gizi dapat dilihat dari dengan ditemukannya spongy,
bleeding gums (bunga karang keunguan atau merah yang membengkak pada
tepi gusi yang mudah berdarah), dan dapat ditemui infeksi tepi gusi serta
adanya kerusakan dan atrofi gusi yang menampakkan akar-akar gigi.
h. Kelenjar. Pada keadaan kurang gizi dapat dijumpai adanya Pembesaran
tiroid dapat dilihat pada perabaan.
i. Kulit. Xerosis (keadan kulit yang mengalami kekeringan tanpa mengandung
air), Ptechiae (bintik haemorragic kecil pada kulit atau membrane berlendir
yang sulit dilihat pada kulit gelap), dermatosis (lesi kulit yang khas, dimana
kulit menjadi merah, bengkak, gatal dan rasa terbakar).
j. Kuku. Dapat dijumpai adanya koilonychia yaitu suatu keadaan kuku
berbentuk sendok pada kuku orang dewasa atau karena kurang zat besi.
k. Jaringan bawah kulit. Keadaan yang berhubungan dengan kekurangan gizi
dapat ditemukan bilateral edema (pada kaki, wajah dan tangan).
(Supariasa, 2002).
3.1.3. Metode Biokimia
Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan
terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang
spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk
menentukan kekurangan gizi yang lebih spesifik. Ada beberapa indikator
laboratorium untuk menentukan status besi yaitu: hemoglobin, hematokrit, besi
serum, ferittin serum (Sf), transferin saturation (TS), free erytrosytes
Didalam darah ada 3 faktor praksi protein, yaitu: albumin, globulin,
fibrinogen. pemeriksaan biokimia terhadap status protein dibagi dalam 2 bagian
yaitu: somatic protein (terdapat di otot skeletal) dan visceral protein (terdapat
didalam organ tubuh seperti hati, ginjal, pancreas, jantung, dll) (Supariasa, 2002).
3.1.4. Biofisik
Penilaian status gizi dengan biofisik termasuk penilaian status gizi secara
langsung, penilaian ini adalah melihat dari kemampuan fungsi jaringan dan
perubahan struktur. Tes kemampuan fungsi jaringan meliputi kemampuan kerja
dan energi ekspenditure serta adaptasi sikap. Penilaian secara biofisik dapat
dilakukan melalui tiga cara yaitu uji radiologis, tes fungsi fisik, dan sitologi
(Supariasa, 2002).
3.2. Penilaian Status Nutrisi Secara Tidak Langsung
3.2.1. Survey konsumsi makanan
Survey penilaian konsumsi makanan adalah salah satu metode yang
digunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok. Banyak
metode yang digunakan untuk melakukan pengukuran konsumsi makanan
berdasarkan jenis data yang diperoleh antara lain: metode kuantitatif, metode
kualitatif, tingkat rumah tangga, tingkat nasional, tingkat individu atau perorangan
(Supariasa, 2002).
3.2.2. Statistik Vital
Salah satu cara untuk mengetahui gambaran keadaan gizi suatu wilayah
berhubungan dengan keadaan kesehatan gizi antara lain angka kesakitan, angka
kematian, pelayanan kesehatan, dan penyakit infeksi yang berhubungan dengan
gizi (Supariasa, 2002).
Jeliffe (1989) memberikan gambaran tentang beberapa informasi yang
dijadikan pegangan untuk menganalisis keadaan gizi disuatu wilayah. Informasi
tersebut adalah angka kematian pada kelompok umur tertentu (age specific
mortality rate), angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu (cause
specific morbility and mortality rate), statistik pelayanan kesehatan (health
service statistic) dan penyakit infeksi yang berhubungan dengan gizi (nutritionally
relevant infection rates) (Supariasa, 2002).
3.2.3. Faktor Ekologi
Jellife (1989), malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil yang
saling mempengaruhi (multiple overlapping) dan interaksi beberapa factor fisik,
biologi, dan lingkungan budaya. Jadi jumlah makanan dan zat-zat gizi yang
tersedia bergantung pada keadaan lingkungan seperti iklim, tanah, irigasi,
penyimpanan, transportasi, dan tingkat ekonomi penduduk (Supariasa, 2002).
Secara rasional, program yang bersifat preventif sebaiknya diarahkan pada
semua faktor yang terlibat dalam kesehatan masyarakat di suatu daerah tertentu.
Faktor ekologi yang berhubungan dengan penyebab malnutrisi dibagi dalam enam
kelompok yaitu keadaan infeksi, konsumsi makanan, pengaruh budaya, sosial
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL
1. Kerangka Konseptual
Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dijabarkan pada bab 2, maka dapat
disimpulkan bahwa pada penderita stroke sering mengalami disfagia sehingga dapat
mempengaruhi status nutrisi. Dalam penilaian status nutrisi dilakukan dengan
menggunakan indeks masa tubuh, dan dapat dikategorikan baik, sedang dan buruk
Dibawah ini adalah kerangka konsep yang digambarkan dalam bentuk skema.
Gambar 1 : kerangka konsep
Berdasarkan kerangka konsep diatas maka peneliti ingin mengetahui gambaran
tentang status nutrisi pada pasien stroke dengan disfagia di ruangan R-A4 Rumah Sakit
Umum Haji Adam Malik Medan dengan kategori baik, sedang dan buruk. Status Nutrisi:
Kurus: Tingkat ringan
Tingkat berat
Normal Stroke dengan
2. Definisi Operasional
2.1. Disfagia
Disfagia adalah suatu keadaan yang dialami responden dimana responden
mengalami kesulitan menelan yang diakibatkan oleh gangguan pada peredaran
darah otak, yang dapat meningkatkan resiko tersedak minuman atau makanan
yang tersangkut dalam trachea atau bronkus.
2.2. Stroke
Stroke adalah suatu keadaan dimana pasien mengalami cedera mendadak
dan berat pada pembuluh-pembuluh darah otak, yang disebabkan oleh sumbatan,
bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, atau pecahnya pembuluh darah
sehingga menimbukan gejala fisik yang khas seperti paralisis, hilangnya sensasi di
wajah, kesulitan menelan dan lain-lainnya.
2.3. Status Nutrisi
Status nutrisi adalah keadaan responden yang berhubungan dengan berat
badan untuk mengetahui keadaan gizi responden dengan katagori kurus tingkat
ringan, kurus tingkat berat, normal, gemuk tingkat ringan dan gemuk tingkat
BAB 4
METODELOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Desain ini bertujuan
untuk menggambarkan status nutrisi pasien stroke yang mengalami disfagia di ruang
R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan tahun 2010.
2. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling
2.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien stroke yang mengalami
disfagia yang dirawat di ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik
Medan Tahun 2010.
2.2. Sampel Penelitian
Kriteria sampel pada penelitian ini adalah:
1 Pasien yang mengalami disfagia
2 Pasien yang kooperatif
3 Pasien pria atau wanita yang telah dirawat selama tiga hari
4 Pasien dalam keadaan kompos mentis
Dalam penelitian ini kriteria ekslusinya adalah:
1 Pasien yang dalam kondisi terminasi
Semakin banyak sampel maka hasil penelitian akan lebih repersentatif.
Meskipun keseluruhan lapisan populasi telah terwakili. Untuk menetukan besar
sampel untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000 dapat menggunakan
rumus:
n = perkiraan jumlah sampel
N = perkiraan besar populasi
d = tingkat kesalahan yang dipilih (d=0,05)
(Notoadmodjo, 2005).
Jadi untuk menetukan jumlah sampel yang akan diteliti maka:
jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 15 orang
2.3. Teknik sampling
Teknik sampling dalam penelitian ini dilakukan dengan tekhnik non
probability sampling yaitu dengan metode purposive sampling. Yaitu
pengambilan sampel dengan menentukan ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota
yang telah ditentukan.
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji adam Malik
Medan pada tanggal 22 Juli – 22 Agustusi 2010. dengan pertimbangan antara lain,
RS.Haji Adam Malik Medan merupakan salah satu rumah sakit pendidikan,
merupakan rumah sakit umum yang menerima pasien dari berbagai daerah dan dengan
berbagai kasus penyakit. jumlah pasien yang dirawat cukup banyak sehingga
memudahkan dalam pengambilan sampel.
4. Pertimbangan Etik
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mendapat surat pengantar dari
fakultas keperawatan USU. Kemudian mengajukan surat permohonan kepada kepala
rumah sakit untuk mengadakan penelitian. setelah mendapatkan izin untuk melakukan
penelitian, peneliti memulai penelitian dengan mempertimbangkan pertimbangan etik,
sebagai berikut:
4.1. Informed consent (lembar persetujuan)
Lembar persetujuan diserahkan kepada subjek yang akan diteliti. Peneliti
menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang dilakukan serta dampak yang
mungkin terjadi sebelum dan sesudah penelitian. Jika bersedia dijadikan
tersebut. Jika mereka menolak untuk dijadikan responden, maka peneliti tidak
akan memaksa dan akan tetap menghormati hak – haknya.
4.2. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan
namanya pada lembar pengumpulan data, tetapi cukup dengan memberi nomor
kode pada masing-masing lembar tersebut.
4.3. Confidentialty (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden akan dijamin oleh peneliti, hanya
sekelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil
penelitian.
(Hidayat, 2007).
5. Pengumpulan Data
Data yang diperoleh pada penelitian ini merupakan data primer, dimana data di
dapat dari hasil pengukuran oleh peneliti. Adapun tahap-tahap pengumpulan data
dimulai dari meminta surat izin dari institusi untuk melakukan penelitian, kemudian
dikirimkan ke bagian Penelitian Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan, setelah
mendapat izin dari pihak rumah sakit, kemudian peneliti melakukan pengumpulan data
dengan menggunakan instrumen penelitian.
Dalam proses penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
instrumen penelitian yang berupa kuisioner dan lembar observasi yang memuat
sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari
responden serta beberapa instrumen pelitian yang berupa antropometrik untuk
1 Data Demografi
Data demografi ini membantu peneliti untuk mengetahui latar belakang dari
responden yang bisa berpengaruh terhadap penelitian ini. Data demografi ini
meliputi nomor responden, usia, jenis kelamin, pekerjaan, suku. Data demografi
ini dapat dilihat pada lampiran 2.
2 Lembar Observasi
Lembar observasi daftar kegiatan penelitian merupakan lembaran observasi
dimana dilembaran observasi terdiri dari pengukuran tinggi badan, berat badan,
serta indeks masa tubuh dari tiap responden. Untuk mengetahui status nutrisi pada
pasien stroke yang mengalami disfagia maka dapat dilakukan dengan metode
penilaian indeks masa tubuh, dimana :
IMT =
Dengan kategori sebagai berikut :
Katagori IMT
Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0
Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,5
Normal >18,5 – 25
Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan >25,0 – 27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0
6. Pengolahan Data
Data yang didapatkan dari hasil pengukuran melalui kuisioner dan observasi
6.1. Editing
Dilakukan pengecekan data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan
dan kekeliruan dalam pengumpulan data diperbaiki dan dilakukan pendataan
ulang terhadap responden.
6.2. Coding
Mengubah data yang sudah diedit ke dalam bentuk angka misalnya nama
responden diubah menjadi nomer kode responden
6.3. Entri data
Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan
kedalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi
frekuensi sederhana.
6.4. Analisa
Dalam melakukan analisa terhadap suatu penelitian digunakan statistik
terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis. Dengan
menggunakan analisis data deskriptif (Hidayat, 2007). Analisis deskriptif
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan tentang status nutrisi
pada pasien stroke dengan disfagia di ruang Rindu-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam
Malik Medan Tahun 2010.
1. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Juli sampai 22 Agustus 2010 di ruang
Rindu-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan dengan jumlah responden
sebanyak 15 orang pasien stroke yang mengalami disfagia. Dari hasil penelitian
diperoleh beberapa data antara lain:
1.1. Karakteristik Responden
Deskripsi karakteristik responden mencakup usia, jenis kelamin, pekerjaan
suku dan pendidikan. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan mayoritas laki-laki
berjumlah 9 orang (60%). Berdasarkan tingkat usia mayoritas usia rata-rata antara
60-74 tahun berjumlah 7 orang (46,7 %). Berdasarkan pekerjaan di dapat data
responden bekerja sebagai petani berjumlah 7 orang (46,7 %). Karakteristik
responden Berdasarkan suku, yang terbanyak adalah suku batak sebanyak 5 orang
(33,3%). Karakteristik responden berdasarkan pendidikan, mayoritas pendidikan
responden adalah SD berjumlah 7 orang (46,7 %).
Hasil penelitian tentang karakteristik responden secara singkat dapat dilihat
Tabel 4. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan karakteristik responden
yang mengalami stroke dengan disfagia di R-A4 rumah sakit umum haji
adam malik medan tahun 2010
No Karakteristik Responden F %
1.2. Status Nutrisi Pasien Stroke Yang Mengalami Disfagia
Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar pasien stroke yang
mengalami disfagia mengalami kekurangan nutrisi tingkat pertama yaitu sebanyak 7
kemudian berat badan normal dan kurus tingkat 2 sebanyak 2 orang (13.3%) dan
gemuk tingkat 2 sebanyak 1 orang (6,7 %).
Tabel 5. Distribusi frekuensi dan persentase status nutrisi pasien stroke mengalami
disfagia di R-A4 rumah sakit umum haji adam malik medan tahun 2010
No Kategori IMT F %
1. Kurus: Tingkat ringan
Tingkat berat
3. Gemuk: Tingkat ringan
Tingkat berat
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa status nutrisi pasien stroke yang
mengalami disfagia adalah kurus tingkat ringan yaitu sebanyak 7 orang (46,0 %),
gemuk tingkat ringan sebanyak 3 orang (20%) diikuti status nutrisi normal dan kurus
tingkat berat yaitu masing-masing sebanyak 2 orang (13,3 %), kemudian diikuti gemuk
tingkat berat sebanyak 1 orang (6,7 %). Data penelitian menunjukkan pasien stroke
dengan disfagia yang dirawat banyak mengalami berat badan di bawah normal yaitu
kurus, hal ini erat kaitannya dengan berapa lama disfagia yang di derita oleh pasien dan
perawatan yang di terima pasien sebelum masuk ke rumah sakit kurang baik sehingga
pasien mengalami penurunan status nutrisi.
Status nutrisi pasien yang mengalami kurus sangat erat kaitannya dengan kondisi
disfagia, hal ini sesuai dengan pendapat Crary yaitu: Pada pasien stroke sering
mengalami disfagia (kesulitan menelan) dan status gizi buruk, yang diperkirakan antara
dimana hampir 65% penderita stroke mengalami gangguan pada proses menelannya
(Crary, 2004).
Status nutrisi adalah suatu keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Dan dibedakan atas satus gizi buruk, kurang, baik, dan lebih.
Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang
dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Sebaliknya, bila makanan tidak di konsumsi
dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Ada 3
fungsi zat gizi dalam tubuh yaitu: memberi energi, pertumbuhan dan pemeliharaan
jaringan tubuh, mengatur proses tubuh (Almatsier, 2005).
Asupan nutrisi memegang peranan penting sebagai bagian dari proses pemulihan
setelah Stroke. Konsumsi makanan yang tepat dan seimbang dapat membantu penderita
untuk dapat merasa lebih baik dan juga lebih kuat. Nutrisi yang tepat tidak hanya dapat
membantu tubuh memperbaiki jaringan tubuh yang telah rusak akibat serangan Stroke,
tetapi juga memberikan energi dan memperbaiki stamina tubuh. Stroke bisa
mempengaruhi status nutrisi seseorang hal ini dapat dikarenakan keterbatasan dari
kemampuannya untuk melakukan kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan
pemenuhan kebutuhan nutrisi, seperti berbelanja, menyiapkan makanan dan
mengkonsumsi makanan. Jika kebutuhan kalori dan gizi tidak dapat dipenuhi, orang
bisa menjadi kekurangan gizi, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan penurunan berat
badan dan nafsu makan yang menurun (Pamela, 2010).
Gangguan nutrisi (nutritional disorder) merupakan masalah yang sangat sering
menyertai penyakit, baik yang dijumpai pada pasien yang dirawat di rumah sakit
maupun yang menjalani rawat jalan. Penyebab malnutrisi umumnya kompleks dan
dan memperberat komplikasi, mengakibatkan respons yang tidak adekuat terhadap
modalitas terapi lain, menurunkan imunitas dan selanjutnya meningkatkan angka
morbiditas dan mortalitas. Selain dampak medis, hal ini juga mengakibatkan
peningkatkan biaya pengobatan dan lama rawat.
Pasien stroke yang mengalami disfagia ini kemungkinan besar mengalami
penurunan berat badan, hal ini dikarenakan pasien susah menelan sehingga
berkurangnya konsumsi makanan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh michael juga
menunjukkan pasien stroke yang mengalami disfagia juga mengalami penurunan status
nutrisi, dimana hasil penelitiannya menunjukkan 26,3 % pasien diidentifikasi
mengalami gizi buruk (Crary, 2004).
Pada Simposium “Permasalahan
Nutrisi Pada Stroke” di Jakarta, menguraikan, hasil Penelitian tentang status nutrisi pada
stroke di Indonesia. penelitian dilakukan pada kasus stroke dengan kesulitan menelan,
yaitu melibatkan 36 pasien. Penelitian selama 14 hari menunjukkan adanya peningkatan
albumin dan protein, masing-masing 12 dan 4,5 persen, masalah utama pada stroke
adalah gangguan metabolisme protein, sehingga terjadi disintegrasi neuro-peptida,
neuro-transmiter, dan neuro-endokrin. Padahal, protein merupakan pembentuk ketiga
faktor tersebut, yang berfungsi sebagai sarana komunikasi sistem organ dan antar
neuron. Pemberian obat dan nutrisi seimbang dapat mempercepat restorasi sistem otak
dan organ, sehingga kualitas hidup pasien pasca-stroke dapat meningkat dan
memperkecil serangan berulang(Teguh Ranakusuma, 2010).
Pada stroke akut, sangat sulit ditentukan kebutuhan nutrisi tiap pasien, karena
munculnya reaksi hipermetabolik (metabolisme yang berlebihan) akibat gangguan
fungsi hipotalamus di otak. Karena itu, pemberian nutrisi pada masa penyembuhan atau
pemberian nutrisi. Pada masa penyembuhan ini, penderita harus belajar kembali banyak
hal, antara lain memenuhi kebutuhan gizinya melalui mengkonsumsi makanan. Fungsi
menelan pada pasien stroke dapat pulih sebagian atau seluruhnya, namun perhatian dan
bantuan diperlukan sampai keadaan pulih kembali. Kesulitan menelan sering kali
menyebabkan kurang gizi karena konsumsi makanan yang tidak cukup. Modifikasi diet
perlu dilakukan secara individu, sesuai dengan jenis dan beratnya gangguan fungsi serta
faktor risiko. Hal ini diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, tekanan darah, dan
biokimia darah (Teguh, 2010).
Kebutuhan zat-zat gizi dipengaruhi oleh berat badan, umur, dan jenis kelamin.
Pada orang dewasa zat-zat gizi digunakan untuk aktifitas/kerja (Suniar, 2002). Jenis
pekerjaan tersebut digolongkan menurut jumlah energi yang diperlukannya menjadi
pekerjaan ringan, sedang dan berat serta berat sekali. Kebutuhan energi untuk kegiatan
ringan, sedang, berat dan sangat berat berbeda, makin berat kegiatan/pekerjaan yang
dilakukan makin banyak juga energi yang dibutuhkan. Perhitungan rata-rata orang
bekerja sehari adalah 8 jam (Depkes RI, 1991). Untuk kegiatan ringan misalnya ibu
rumah tangga yang melakukan pekerjaannya dengan bantuan alat mekanik, untuk
kegiatan sedang misalnya kebanyakan pekerjaan pada industri ringan (memperbaiki
jam, menggambar, dan melukis), untuk kegiatan sangat berat misalnya menyikat lantai,
memukul karpet, kerja dipertanian dan untuk kegiatan sangat berat misalnya pekerja
bangunan (Arisman, 2004).
Dari data demografi menunjukkan responden yang banyak mengalami stroke
adalah laki-laki yaitu sebanyak 60% dibandingkan wanita. Hal ini sesuai dengan
memiliki resiko terkena stroke iskemik atau perdarahan itraserebrum lebih tinggi sekitar
20% dari pada wanita.
Berdasarkan status gizi, wanita dengan usia lanjut dimasukkan ke dalam
kelompok rentan gizi, meskipun tidak ada hubungan dengan pertumbuhan badan,
bahkan sebaliknya sudah terjadi involusi dan degenerasi jaringan dan sel-selnya.
Timbulnya kerentanan terhadap kondisi gizi disebabkan kondisi fisik, baik anatomis
maupun fungsionalnya. Faktor lain yang mengganggu kondisi gizi manula secara tidak
langsung ialah kondisi psychis yang labil dan menjadi sangat sensitif (Sediaoetama,
2000).
Dari segi usia didapati hasil bahwa usia 60-74 tahun yang banyak mengalami
serangan stroke yaitu sebanyak 7 orang (46,7 %). Hal ini juga diterangkan oleh Feigin
bahwa resiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Setelah mencapai usia 50
tahun meningkatkan resiko stroke sebesar 11-20%. Orang berusia lebih dari 65 tahun
memiliki resiko paling tinggi, 25 % dari semua stroke terjadi pada orang berusia
dibawah 65 thn, dan 4% terjadi pada orang berusia antara 15 dan 40 tahun (feigin,
2007).
Mayoritas pendidikan dari responden adalah tamatan SD berjumlah 7 orang (46,7
%), tingkat pendidikan SMP sebanyak 5 orang (33,3 %), SMA sebanyak 2 orang (13,3
%), dan tidak tamat SD 1 orang (6,7 %).
Pandangan dan kepercayaan seseorang, termasuk juga pengetahuan mereka
tentang ilmu gizi, harus dipertimbangkan sebagai bagian dari berbagai faktor penyebab
yang berpengaruh terhadap konsumsi makan mereka (suhardjo, 2003). Dengan
Dari pembahasan yang telah dijabarkan di atas, peneliti dapat menganalisa bahwa
pada penderita stroke yang mengalami disfagia rentan mengalami penurunan status
nutrisi, hal ini dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukungnya, antara lain
adalah kesulitan dalam menelan, metabolisme yang meningkat, serta status ekonomi
pasien juga mempengaruhi pemenuhan nutrisi tersebut. Dari data demografi dilihat
adanya pengaruh yang besar baik itu usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Meskipun hal
ini tidak menjadi masalah yang spesifik terhadap kejadian stroke. Dalam penanganan
pasien stroke dengan disfagia, diharapkan agar lebih memperhatikan makanan yang
akan di konsumsi oleh pasien, sehingga kebutuhan nutrisi pasien dapat tercukupi dan
tidak mengalami penurunan status nutrisi yang berlebih.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Status nutrisi adalah suatu keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan
penggunaan zat-zat gizi. Dan dibedakan atas kurus tingkat ringan, kurus tingkat berat,
normal, gemuk tingkat ringan dan gemuk tingkat berat. berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa status nutrisi pasien stroke yang
mengalami disfagia adalah kurus tingkat ringan yaitu sebanyak 7 orang (46,0 %),
gemuk tingkat ringan sebanyak 3 orang (20%) diikuti status nutrisi normal dan kurus
tingkat berat yaitu masing-masing sebanyak 2 orang (13,3 %), kemudian gemuk tingkat
berat sebanyak 1 orang (6,7 %).
Penderita stroke yang mengalami disfagia rentan mengalami penurunan status
nutrisi, hal ini dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukungnya, antara lain
adalah kesulitan dalam mengkonsumsi makanan, metabolisme pasien stroke yang
meningkat, serta status ekonimi pasien juga mempengaruhi pemenuhan nutrisi tersebut.
Dari data demografi dapat dilihat adanya pengaruh yang besar baik itu usia, jenis
kelamin, dan pekerjaan. Meskipun hal ini tidak menjadi masalah yang spesifik terhadap
kejadian stroke. Dalam penanganan pasien stroke dengan disfagia, diharapkan agar
lebih memperhatikan makanan yang akan di konsumsi oleh pasien, sehingga kebutuhan
nutrisi pasien dapat tercukupi dan tidak mengalami penurunan status nutrisi yang
2. Saran
2.1 Bagi keluarga
Sebagai care giver, diharapkan keluarga dapat memperhatikan asupan nutrisi bagi
pasien yang mengalami stroke sehingga kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. Keluarga
juga diharapkan lebih cepat dalam pengambilan keputusan bagi anggota keluarga yang
mengalami stroke dengan membawa anggota keluarga yang sakit ke pelayanan
kesehatan untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan yang optimal.
2.2 Bagi perawat
Sebagai pemberi asuhan keperawatan, diharapkan perawat dapat lebih
memperhatikan asupan nutrisi yang akan diberikan kepada pasien stroke yang
mengalami disfagia, dengan cara berkolaborasi bersama ahli gizi dalam perencanaan
diet, sehingga pasien dapat mempertahankan berat badan secara optimal.
2.3 Bagi peneliti selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Achmad Djaeni Sediaoetama (2000), Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan profesi jilid I. Jakarta: Dian Rakyat.
Almatsier, S (2005), Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Arisman (2004), Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC.
Crary. M. (2004), Status Nutrisi Stroke. diambil tanggal 12 maret 2010 dari webside
Collier, J (2009), Nutrisi Dalam Disfagia. diambil tanggal 12 maret 2010 dari
Danim. S (2003). Riset Keperawatan; Sejarah dan Metodelogi, Jakarta; EGC.
Depkes RI (1991). Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal di Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
Harrison (2000), Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 1, Jakarta: EGC.
Hidayat. A (2007), Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Jakarta: Salemba Medika.
Kartika. H (2009), Disfagia, diambil tanggal 12 maret 2010 dari
Leaner Suniar (2002), Dukungan Zat-Zat Gizi Untuk Menunjang Prestasi Olahraga. Jakarta: Kalamedia.
Muttaqin. A (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan System
Persarafa. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam (2008). Konsep Dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan;
Pedoman Skripsi, Tesis Dan Instrument Penelitian Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.
Pamela (2009), dari website:
Price S (2006). Patofisiologi; Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Volume 2, Jakarta: EGC.
Setiadi (2007). Konsep Dan Penulisan Riset Keperawatan, Yogyakarta: Graha Ilmu.
Smeltzer. S (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah, volume 3, Jakarta: EGC.
Supariasa. I (2005). Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Teguh Ranakusuma (2009). “stroke” penyebab kematian utama di indonesia, diambil tanggal 15 oktober 2010 pada website:
Walsh, T. (1999). Kapita Selekta Penyakit Dan Terapi, Jakarta; EGC.
Veigin, V. (2007). Stroke; Panduan Bergambar Tentang Pencegahan Dan Pemulihan
Lampiran 1
PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Judul Penelitian : Hubungan Disfagia Terhadap Perubahan Status Gizi Pada Pasien
Stroke Di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik
Medan
Peneliti : Tina Agustari
Nim : 091121005
Fakultas : Keperawatan USU
Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan belajar dan salah
satu syarat kelulusan untuk menyelesaikan tugas akhir di fakultas keperawatan
universitas sumatera utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
Disfagia (sulit menelan) terhadap perubahan status gizi pada pasien stroke.
Partisipasi anda dalam penelitian ini bersifat sukarela. Anda mempunyai hak
bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden, jika anda tidak bersedia
maka saya tetap menghargai dan tidak akan memaksa.
Peneliti akan menjamin kerahasiaan jawaban yang anda berikan dalam identitas
anda. Bila anda ingin mengajukan pertanyaan tentang penelitian ini peneliti akan
senang hati untuk menjawab pertanyaan dari anda.
No responden : (diisi peneliti)
Tanggal :
Responden Peneliti
Lampiran 2 No. Responden
Kuesioner Data Demografi
Usia :
Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan
Pekerjaan/aktivitas : PNS Petani
Polri/TNI Ibu Rumah Tangga
Pedagang dan lain-lain
Suku : Jawa Minang
Batak Aceh
Mandailing Melayu
Padang dan lain-lain
Pendidikan : Tidak Tamat SD SMA
SD Sarjana
SMP
No
Hasil Observasi
CURRICULUM VITAE
Nama : Tina Agustari
Nim : 091121005
Tempat/Tgl Lahir : Idi Rayeuk/5 Agustus 1987 Agama : Islam
Alamat : Ds.Titi Baroe, Kec. Idi Rayeuk, Aceh Timur Pendidikan : SD N. 1 Idi Rayeuk (1993-1999)
SMP N. 1 Idi Rayeuk (1999-2002) SMA N. 1 Idi Rayeuk (2002-2005) AKPER RS. Haji Medan (2006-2009) S1 Keperawatan USU Medan (2009-2011)