• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Nutrisi Pada Pasein Stroke Dengan Disfagia di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan Tahun 2010.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Status Nutrisi Pada Pasein Stroke Dengan Disfagia di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan Tahun 2010."

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

STATUS NUTRISI PADA PASIEN STROKE DENGAN DISFAGIA

DI RUANG R-A4 RUMAH SAKIT UMUM

HAJI ADAM MALIK MEDAN

SKRIPSI

Oleh

TINA AGUSTARI 091121005

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)
(3)

PRAKATA

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

dengan judul ”Perubahan Status Nutrisi Pada Pasien Stroke Dengan Disfagia Di Ruang

R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan Tahun 2010”.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada pihak-pihak yang telah

memberikan bantuan, bimbingan dan dukungan dalam proses penyelesaian skripsi ini,

Melalui tulisan ini penulis juga ingin mengucapkan ribuan terima kasih dan rasa hormat

yang sedalam-dalamnya kepada:

1. dr. Dedi Ardinata M.Kes, selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara Medan.

2. Ibu Erniyati, S.Kp, MNs, selaku pembantu dekan 1

3. Ibu Rosina Tarigan, S.Kp, M.Kep, Sp.KMB selaku dosen pembimbing 1

4. Ibu Jenny Marlindawani Purba, SKp, MNS selaku pembimbing 2

5. Bapak Mula Tarigan, S.Kp, M.Kes selaku penguji

6. Direktur Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan yang telah memberikan izin

untuk melakukan penelitian

7. Kedua orang tua saya yang telah banyak memberikan doa dan dukungannya

8. Seluruh responden yang telah ikut berpartisipasi dalam penelitian ini dan Seluruh

teman-teman dan pihak yang ikut mendukung penulis dalam menyelesaikan

proposal ini

Dalam penyusunan skripsi ini peneliti merasa masih banyak kekurangan, untuk

itu penulis mengharapkan saran dan masukan yang dapat menyempurnakan karya tulis

ini. Akhir kata penulis mengucapkan ribuan banyak terima kasih, dan semoga skripsi ini

dapat bermanfaat untuk kita semua.

Medan, Januari 2011

(4)

DAFTAR ISI

Bab 1. Pendahuluan 1. Latar Belakang... 1

Bab 2. Landasan Teoritis 1. Stroke ... 5

2.3 Manifestasi Klinis ... 12

2.4 Patofisiologi ... 13

(5)

3. Nutrisi ... 14

3.1. Penilaian Status Nutrisi Secara Langsung ... 16

3.2. Penilaian Status Nutrisi Secara Tidak Langsung ... 23

Bab 3. Kerangka Konseptual 1. Kerangka Konsep ... 25

2. Definisi Operasional ... 26

Bab 4. Metodologi Penelitian 1. Desain Penelitian ... 27

2. Populasi, Sampel Penelitian dan Tehnik Sampling ... 27

2.1. Populasi ... 27

2.2. Sampel penelitian ... 27

2.3. Teknik Sampling ... 29

3. Lokasi Dan Waktu Penelitian ... 29

4. Pertimbangan Etik ... 29

5. Pengumpulan Data ... 30

6. Pengolahan Data ... 32

Bab 5. Hasil Penelitian Dan Pembahasan 1. Hasil Penelitian ... 33

2. Pembahasan ... 35

Bab 6. Kesimpulan Dan Saran 1. Kesimpulan ... 42

2. Saran ... 43

Daftar Pustaka

Lampiran

1. Surat Penelitian

2. Lembar Persetujuan Responden

3. Instrumen Penelitian

4. Tabel waktu pelaksanaan

5. Riwayat Hidup

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Penyebab dari Disfagia ... 12

Tabel 2. Penggolongan Keadaan Gizi Menurut Indeks

Antropometri ... 17

(7)

DAFTAR SKEMA

(8)

Judul : Status Nutrisi Pada Pasein Stroke Dengan Disfagia di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan Tahun 2010

Peneliti : Tina Agustari

Nim : 091121005

Program : Sarjana Keperawatan

Tahun Akademi : 2009/2010

ABSTRAK

Stroke merupakan cedera serebrovaskular (CVA) yaitu kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak, biasanya diakibatkan oleh trombosis, embolisme, iskemia dan hemoragi. Sedangkan Disfagia adalah kesulitan menelan yang dapat pula disertai dengan nyeri menelan. Disfagia sangat sering dijumpai pada penderita stroke dimana hampir 65% penderita stroke mengalami gangguan pada proses menelannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran status nutrisi pasien stroke yang mengalami disfagia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2010 di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik non

probability sampling yaitu dengan metode purposive sampling, penelitian ini

melibatkan 15 orang pasien stroke yang mengalami disfagia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien stroke yang mengalami disfagia mengalami kekurangan nutrisi yaitu kurus sebanyak 60%, berat badan normal 13,3%, dan berat badan gemuk sebanyak 26,7%. Hal ini dapat berkaitan dengan proses metabolisme menjadi meningkat, dan kesulitan pasien untuk menelan makanannya. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat lebih mengembangkan penelitian tentang status nutrisi pasien stroke dengan disfagia dengan menggunakan metode-metode penilaian status nutrisi baik itu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Sehingga hasil yang diperoleh lebih baik lagi.

(9)

Judul : Status Nutrisi Pada Pasein Stroke Dengan Disfagia di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan Tahun 2010

Peneliti : Tina Agustari

Nim : 091121005

Program : Sarjana Keperawatan

Tahun Akademi : 2009/2010

ABSTRAK

Stroke merupakan cedera serebrovaskular (CVA) yaitu kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak, biasanya diakibatkan oleh trombosis, embolisme, iskemia dan hemoragi. Sedangkan Disfagia adalah kesulitan menelan yang dapat pula disertai dengan nyeri menelan. Disfagia sangat sering dijumpai pada penderita stroke dimana hampir 65% penderita stroke mengalami gangguan pada proses menelannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gambaran status nutrisi pasien stroke yang mengalami disfagia. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2010 di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan, dengan menggunakan desain penelitian deskriptif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan tekhnik non

probability sampling yaitu dengan metode purposive sampling, penelitian ini

melibatkan 15 orang pasien stroke yang mengalami disfagia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien stroke yang mengalami disfagia mengalami kekurangan nutrisi yaitu kurus sebanyak 60%, berat badan normal 13,3%, dan berat badan gemuk sebanyak 26,7%. Hal ini dapat berkaitan dengan proses metabolisme menjadi meningkat, dan kesulitan pasien untuk menelan makanannya. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat lebih mengembangkan penelitian tentang status nutrisi pasien stroke dengan disfagia dengan menggunakan metode-metode penilaian status nutrisi baik itu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Sehingga hasil yang diperoleh lebih baik lagi.

(10)

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Stroke atau cedera serebrovaskuler (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang

diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak. Stroke adalah masalah

neurologik primer di AS dan di dunia. Stroke adalah peringkat ketiga penyebab

kematian dengan laju mortalitas 18% sampai 37% untuk stroke pertama dan sebesar

62% untuk stroke selanjutnya. Terdapat kira-kira 2 juta orang bertahan hidup dari stroke

yang mempunyai kecacatan, 40% memerlukan bantuan dalam aktivitas kehidupan

sehari-hari (Smeltzer, 2002).

Pada pasien stroke sering mengalami disfagia (kesulitan menelan) dan status

gizi buruk, yang diperkirakan antara 16% - 60% dari penderita stroke. Disfagia sangat

sering dijumpai pada penderita stroke dimana hampir 65% penderita stroke mengalami

gangguan pada proses menelannya. Disfagia juga mempengaruhi peningkatan

komplikasi seperti peningkatan mortalitas, dan peningkatan biaya perawatan pasien di

rumah sakit. Sejumlah besar penderita stroke akan menunjukkan ciri-ciri disfagia dan

merupakan salah satu kondisi yang permanen (Crary, 2004).

Sulit menelan merupakan suatu gejala atau keluhan yang diakibatkan adanya

kelainan di dalam saluran pencernaan yang paling atas, yakni orofaring dan esophagus.

Keluhan ini akan bermanifestasi bila terdapat gangguan gerakan-gerakan pada otot

menelan dan gangguan transportasi makanan dari mulut ke lambung. Beberapa keluhan

lain yang dapat menyertai keluhan sulit menelan adalah nyeri waktu menelan

(11)

mual dan muntah, muntah darah (hematemesis), berak berdarah (melena) batuk dan

berat badan berkurang (Kartika, 2009).

Status nutrisi pada pasien stroke dapat memburuk ketika dirawat di rumah

sakit, prevalensi status dapat mencapai 22% sampai 26%. Status gizi buruk pada pasien

stroke yang masuk ke rumah sakit dilaporkan mencapai 50%. Hal ini biasanya

disebabkan oleh status gizi masyarakat miskin yang biasanya sudah ada sebelum pasien

menderita stroke. Status gizi ini akan membaik jika di atasi dengan baik. Penilaian

status gizi pada pasien stroke dapat dinilai dari lemak, otot, serta ukuran seperti

biokimia serum (Crary, 2004).

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Michael terhadap hubungan disfagia

terhadap status gizi buruk menunjukkan relative tinggi, dikarenakan disfagia dan status

gizi sangat erat kaitannya. Pada penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa parameter

gizi (lingkar lengan, lipatan kulit trisep, dan kadar albumin yang rendah) berbeda antara

pasien yang mengalami kesulitan menelan dan yang bisa menelan. Hasil penelitiannya

menunjukkan bahwa dari 76 pasien dengan iskemik akut didapati hasil 52,6% dari

pasien menunjukkan disfagia dan 26,3% diidentifikasi dengan status gizi buruk (Crary,

2004).

Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan pada tanggal 23 Maret 2010 di

ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan, peneliti mendapatkan data

bahwa pada tanggal 23 Januari sampai dengan 23 Maret jumlah pasien yang mengalami

kesulitan saat menelan adalah sebanyak 45 orang, hal ini ditandai oleh adanya gangguan

pada saraf ke IX (vagus) dan pasien terpasang NGT (naso grastitic tube), namun data

(12)

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka perumusan masalahnya adalah

disfagia dapat dijumpai pada pasien yang mengalami stroke, akibat dari gangguan pada

peredaran darah di otak. Selain itu pada pasien stroke yang dirawat di rumah sakit

biasanya mengalami disfagia. Adapun perumusan masalah adalah bagaimana gambaran

tentang status nutrisi pada pasien stroke dengan disfagia di ruangan R-A4 Rumah Sakit

Umum Haji Adam Malik Medan.

3. Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang status

nutrisi pada pasien stroke dengan disfagia di ruangan R-A4 Rumah Sakit Umum

Haji Adam Malik Medan.

4. Manfaat Penelitian

4.1 Keluarga

Dengan mengetahui hubungan dari disfagia terhadap status gizi, sehingga

keluarga dapat berperan sebagai care giver dalam hal pemenuhan nutrisi

pasien stroke.

4.2 Pasien

Dapat memberi motivasi untuk mengkonsumsi makanan sesuai porsi yang

ditetapkan.

4.3 Perawat

Perawat dapat lebih profesional melakukan peran sebagai care provider

dalam memenuhi nutrisi pasien dan membuat rencana diet yang sesuai

(13)

4.4 Masyarakat

Masyarakat dapat mengetahui tentang bagaimana perawatan pasien yang

mengalami Stroke dengan disfagia dengan memperhatikan gizi yang di

(14)

BAB 2

LANDASAN TEORITIS

1. Stroke

1.1. Pengertian

Istilah stroke atau penyakit serebrovaskular mengacu kepada setiap

gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau berhentinya

aliran darah melalui sistem suplai arteri otak. Istilah stroke biasanya digunakan

secara spesifik untuk menjelaskan infark serebrum. Istilah yang masih lama dan

masih sering digunakan adalah cerebrovaskular accident (CVA) (Price, 2006).

Stroke atau cedera serebrovaskular (CVA) adalah kehilangan fungsi otak

yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. Yang biasanya

diakibatkan oleh trombosis, embolisme, iskemia dan hemoragi (Smeltzer, 2002).

Menurut Arif Muttaqin, stroke merupakan penyakit neurologis yang sering

dijumpai dan harus ditangani secara tepat. Stroke merupakan kelainan fungsi otak

yang timbul mendadak yang disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran

darah otak yang bisa terjadi pada siapa saja (Muttaqin, 2008).

Gejala stroke dapat bersifat fisik, psikologis dan perilaku. Gejala fisik

yang paling khas adalah paralisis, kelemahan, hilangnya sensasi diwajah, lengan

atau tungkai disalah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, kesulitan menelan dan

hilangnya sebagian penglihatan disatu sisi. Seorang dikatakan terkena stroke jika

salah satu atau kombinasi apapun dari gejala diatas berlangsung selama 24 jam

(15)

1.2. Penyebab Stroke

1.2.1. Trombosis (bekuan darah didalam pembuluh darah otak dan leher).

Aterosklerosis serebral dan pelambatan sirkulasi serebral adalah

penyebab utama, trombosis serebral merupakan penyebab yang

umum pada serangan stroke.

1.2.2. Embolisme serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa

ke otak dari bagian tubuh yang lain). Abnormalitas patologik pada

jantung kiri, seperti endokarditis, infeksi, penyakit jantung rematik

dan infark miokard serta infeksi pulmonal adalah tempat-tempat

asal emboli. Embolus biasanya menyumbat arteri serebral tengah

atau cabang-cabang yang merusak sirkulasi serebral.

1.2.3. Iskemia (penurunan aliran darah ke area otak). Iskemia serebral

(insufisiensi suplai darah ke otak) terutama karena konstriksi

ateroma pada arteri yang menyuplai darah ke otak.

1.2.4. Hemoragi serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan

perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang sekitar otak).

Hemoragi dapat terjadi diluar durameter (hemoragi ekstradural dan

epidural), dibawah durameter (hemoragi subdural), diruang

subarakhnoid (hemoragi subarakhnoid) atau didalam subtansi otak

(16)

Berbagai bagian otak dapat mengalami gangguan peredaran darah otak,

secara anatomi otak dibagi atas otak besar yang terdiri dari beberapa lobus, yaitu:

lobus frontalis, mengatur gerakan sadar, ciri kepribadian, perilaku sosial,

motivasi-inisiatif, dan berbicara. Lobus oksipita mengatur perhatian terhadap

rangsangan, menulis, menggambar, menghitung, merasakan, membentuk,

berpakaian. Lobus temporalis mengatur daya ingatan verbal, dan visual,

pendengaran, dan suasana hati. Lobus oksiput mengatur interprestasi penglihatan.

Otak kecil mengatur koordinasi, keseimbangan, gerakan mata, menelan, dan

gerakan lidah (Feigin, 2007).

1.3. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala dari stroke dapat berupa defisit lapang pandang seperti

kehilangan setengah lapang penglihatan, Kehilangan penglihatan perifer, dan

diplopia. Defisit motorik (seperti Hemiparesis, Hemiplegia, Ataksia, Disartria

dan Disfagia). Defisit sensori (seperti Parestesia). Defisit Verbal (seperti Afasia

eksprensif: tidak mampu membentuk kata yang dapat dipahami, Afasia reseptif:

tidak mampu memahami kata yang dibicarakan, Afasia global: kombinasi afasia

eksprensif dan reseptif). Defisit kognitif (seperti Kehilangan memori jangka

pendek dan panjang, Penurunan lapang perhatian, Perubahan penilaian, Kerusakan

untuk berkosentrasi). Defisit emosional (seperti Kehilangan kontrol diri, Labilitas

emosional, Penurunan toleransi pada situasi yang menimbulkan stres, Depresi,

(17)

1.4. Klasifikasi

Ada beberapa klasifikasi dari stroke yaitu: Stroke Hemoragi, stroke ini

merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subaraknoid, disebabkan

oleh pecahnya pembuluh darah otak pada area otak tertentu. Biasanya kejadian

saat melakukan aktifitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat.

Kesadaran klien umumnya menurun. Stroke Nonhemoragi, stroke ini dapat berupa

iskemia atau emboli dan trombosis serebral, biasanya terjadi saat istirahat, bangun

tidur, atau dipagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun terjadi iskemia yang

menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat menimbulkan edema sekunder

(Muttaqin, 2008).

1.5. Manajemen Stroke

Terapi darurat memiliki tiga tujuan, yaitu: yang pertama mencegah

terjadinya cedera otak akut dengan memulihkan perfusi ke daerah iskemik non

infark, yang kedua membaikkan cedera saraf sedapat munkin, yang ketiga

mencegah cedera neurologik lebih lanjut dengan melindungi sel didaerah iskemik

dari kerusakan lebih lanjut (Smeltzer. 2002).

Pada stroke iskemik akut, mempertahankan fungsi jaringan adalah tujuan

dari apa yang disebut sebagai strategi Neuroprotektif. Terapinya dapat berupa

hipotermia, dan pemakaian obat neuroprotektif seperti antikoagulasi, trombolisis

intravena, trombolisis intra arteri. Selain itu terapi yang digunakan adalah terapi

perfusi dimana dilakukan induksi hipertensi untuk meningkatkan tekanan darah

arteri rata-rata sehingga perfusi otak dapat meningkat. Pengendalian edema dan

terapi medis umum juga dilakukan, serta terapi bedah untuk mencegah tekanan

(18)

1.6. Komplikasi

Komplikasi medis yang sering menyebabkan kematian dalam bulan

pertama setelah stroke adalah: yang pertama terjadi pembengkakan otak diikuti

oleh dislokasi yang menyebabkan tertekannya pusat-pusat vital diotak yang

mengendalikan pernapasan dan denyut jantung. Kedua, terjadi pneumonia aspirasi

yang diakibatkan masuknya makanan atau cairan kedalam paru oleh karena

mengalami disfagia. Ketiga, terjadi bekuan darah di arteri jantung dan paru.

Keempat, terjadi infeksi saluran kemih, infeksi dada, dan infeksi kulit akibat

dekubitus. Kelima, terjadi komplikasi kardiovaskuler seperti gagal jantung

(Smeltzer. 2002).

Setelah stroke iskemik atau perdarahan intraserebrum, sel yang mati dan

hematom itu diganti oleh kista yang mengandung cairan serebrospinalis. Pada

kondisi ini mungkin pasien mengalami komplikasi yang dapat menyebabkan

kematian atau cacat. Gejala sisa stroke mencakup komplikasi antara lain: 80%

pasien stroke mengalami penurunan parsial atau total gerakan dan kekuatan

lengan atau tungkai di salah satu sisi tubuh, 30% mengalami masalah

komunikasi, 30% mengalami kesulitan menelan (Disfagia), 10% mengalami

masalah melihat, banyak pasien stroke menderita sakit kepala, tanpa pencegahan

(19)

2. Disfagia

2.1. Definisi

Disfagia diartikan sebagai “perasaan melekat” atau obstruksi pada tempat

lewatnya makanan melalui mulut, faring, atau esophagus. Gejala ini harus

dibedakan dengan gejala lain yang berhubungan dengan menelan. Kesulitan

memulai gerakan menelan terjadi pada kelainan-kelainan fase volunter menelan.

Namun demikian setelah dimulai gerakan menelan ini dapat diselesaikan dengan

normal. Odinofagia berarti gerakan menelan yang nyeri, acapkali odinofagia dan

disfagia terjadi secara bersamaan. Globus faringeus merupakan perasaan adanya

suatu gumpalan yang terperangkap dalam tenggorokan. Arah makanan yang keliru

sehingga terjadi regurgitasi nasal dan aspirasi makanan kedalam laring serta paru

sewaktu menelan, merupakan ciri khas disfagia orofaring (Harrison, 2000).

Disfagia adalah kesulitan menelan yang dapat pula disertai dengan nyeri

menelan. Esofagus normal merupakan suatu aktifitas terkoordinasi yang rumit

dimana cairan dan makanan padat diteruskan dari mulut kelambung. Mekanisme

ini juga mencegah aspirasi makanan ke dalam paru, regurgitasi kehidung, dan

refluks melalui sfingter esophagus bawah. Oleh sebab itu disfagia menyebabkan

dua masalah yang berbeda yaitu: pertama, seringkali ada penyebab dasar yang

serius. Dan kedua, menyebabkan konsekuensi berbahaya (misal, aspirasi atau

(20)

2.2. Etiologi

Disfagia sering disebabkan oleh penyakit otot dan neurologis. Penyakit ini

adalah gangguan peredaran darah otak (stroke, penyakit serebrovaskuler),

miastenia gravis, distrofi otot, dan poliomyelitis bulbaris. Keadaan ini memicu

peningkatan resiko tersedak minuman atau makanan yang tersangkut dalam trakea

atau bronkus (Price, 2006).

Disfagi esophageal mungkin dapat bersifat obstruktif atau disebabkan oleh

motorik. Penyebab obstruksi adalah striktura esophagus dan tumor-tumor

ekstrinsik atau instrinsik esofagus, yang mengakibatkan penyempitan lumen.

Penyebab disfagi dapat disebabkan oleh berkurangnya, tidak adanya, atau

tergangguanya peristaltik atau disfungsi sfingter bagian atas atau bawah.

Gangguan disfagi yang sering menimbulkan disfagi adalah akalasia, scleroderma,

dan spasme esophagus difus (Price, 2006).

Ada dua jenis dari disfagia yaitu disfagia mekanis dan disfagia motorik.

Tabel 1 dapat menjelaskan dengan lebih jelas tentang perbedaan kedua jenis

disfagia.

Table 1. Penyebab dari Disfagia

Disfagia

Mekanis

Luminal

Diakibatkan oleh: Bolus yang besar, Benda

asing

Penyempitan

instrinsik

a. Keadaan inflamasi yang menyebabkan

pembengkakan seperti Stomatitis,

Faringitis,epiglottis, Esofangitis

b. Selaput dan cincin dapat dijumpai pada

Faring (sindroma pulmer, Vinson), Esophagus (congenital, inflamasi), Cincin mukosa esophagus distal

(21)

d. Tumor-tumor malignan, Karsinoma primer, Karsinoma metastasik, Tumor-tumor benigna, Leiomioma, Lipoma, Angioma, Polip fibroid inflamatorik, Papiloma epitel

Kompresi

ekstrinsik

Spondilitis servikalis, Osteofit vetrbra, Abses

dan masa retrofaring, Tumor pancreas,

Hematoma dan fibrosis

Seperti lesi oral dan paralisis lidah,

Anesthesia orofaring, Penurunan produksi

saliva, Lesi pada pusat menelan

Kelainan

pada otot

lurik

a. Kelemahan otot (Paralisis bulbar,

Neuromuskuler, Kelainan otot

b. Kontraksi dengan awitan stimultan atau

gangguan inhibisi deglutisi (Faring dan esophagus, Sfingther esophagus bagian atas)

Kelainan

pada otot

polos

esophagus

a. Paralisis otot esophagus yang menyebabkan kontraksi yang lemah

b. Kontraksi dengan awitan simultan atau

gangguan inhibisi deglutis

c. Sfingter esophagus bagian bawah.

(22)

2.3. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis dari disfagia dapat dilihat dengan adanya gangguan pada

neurogenik mengeluh bahwa cairan lebih mungkin menyebabkan tersedak

daripada makanan padat atau setengah padat. Batuk dan regurgitasi nasal

menunjukkan kelemahan otot-otot palatum atau faring bagian atas. Suara serak,

nyeri menelan, dan nyeri telinga merupakan gejala tumor hipofaring. Sedang

aspirasi sering terjadi pada gangguan neurologik (Walsh, 1999).

2.4. Patofisiologi

Transportasi normal bolus makanan yang ditelan lewat lintasan gerakan

menelan tergantung pada ukuran bolus makanan yang ditelan, diameter lumen

lintasan untuk gerakan menelan, dan kontraksi peristaltik (Price, 2006).

Disfagia dibedakan atas disfagia mekanis dan disfagia motorik.

2.4.1. Disfagia mekanis

Disfagia mekanik dapat disebabkan oleh bolus makanan yang

sangat besar, adanya penyempitan instrinsik atau kompresi ekstrinsik

lumen lintasan untuk gerakan menelan. Pada orang dewasa, lumen

esofagus dapat mengembang hingga mencapai diameter 4 cm, jika

esofagus tidak mampu berdilatasi hingga 2,5 cm, gejala disfagia dapat

terjadi tetapi keadaan ini selalu terdapat kalau diameter esofagus tidak bisa

mengembang hingga diatas 1,3 cm. lesi yang melingkar lebih sering

mengalami disfagia daripada lesi yang mengenai sebagian lingkaran dari

dinding esofagus saja

(23)

2.4.2. Disfagia motorik

Disfagia motorik dapat terjadi akibat kesulitan dalam memulai

gerakan menelan atau abnormalitas pada gerakan peristaltik dan akibat

inhibisi deglutisi yang disebabkan oleh penyakit pada otot lurik atau otot

polos esofagus. Disfagia motorik faring disebabkan oleh kelainan

neuromuskuler yang menyebabkan paralisis otot (Price, 2006)

2.5. Komplikasi akibat disfagia

Disfagia adalah kondisi yang kompleks yang memiliki pengaruh besar

pada kehidupan pasien. Pasien yang mengalami disfagia masalah yang sering

ditemukan adalah kehilangan nafsu makan serta penurunan berat badan yang

diakibatkan oleh asupan nutrisi yang berkurang. Dalam manejemen gizi pada

pasien yang mengalami disfagia harus lebih diperhatikan lagi tentang cara

penyediaan makanan bergizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh pasien agar

komplikasi seperti terjadinya aspirasi dapat dihindari (Collier, 2009)

3. Nutrisi

Masalah nutrisi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun

penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan

kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena itu,

pendekatan penanggulangan harus melibatkan berbagai sektor yang terkait (Almatsier,

2005).

Status nutrisi adalah suatu keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan

penggunaan zat-zat gizi. Dan dibedakan atas satus gizi buruk, kurang, baik, dan lebih.

Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang

(24)

baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Ada 3 fungsi zat

gizi dalam tubuh yaitu: memberi energi, pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh,

mengatur proses tubuh (Almatsier, 2005).

Berikut ini ada beberapa istilah yang berhubungan dengan status gizi, antara lain:

a. Nutrition

Gizi adalah suatu proses organisme menggunkan makanan yang dikonsumsi

secara normal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan,

metabolisme, dan pegeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan

kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan

energi (Supariasa, 2002).

b. Nutrition Status

Keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara relatif maupun

absolute satu atau lebih zat gizi. Ada empat bentuk malnutrisi, Yaitu :

1. Under nutrition: kekurangan konsumsi pangan secara relative atau absolute

untuk periode tertentu.

2. Specific defisiensy: kekurangan zat gizi tertentu, misalnya kekurangan vitamin

A, yodium, Fe, dan lainnya.

3. Over Nutrition: kelebihan konsumsi pangan untuk periode tertentu

4. Imbalance: karena disproporsi zat gizi, misalnya kolesterol terjadi karena tidak

seimbangnya LDL, HDL, dan VLDL.

c. Kurang Energi Protein (KEP)

Kurang energi protein (KEP) adalah seseorang yang kurang gizi yang disebabkan

(25)

gangguan penyakit tertentu. Pada umumnya KEP berasal dari keluarga yang

berpenghasilan rendah (Supariasa, 2002)

3.1. Penilaian Status Nutrisi Secara Langsung

3.1.1. Antropometri

Antropometri secara umum digunakan untuk melihat ketidakseimbangan

asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan

fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.

Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan beberapa

parameter seperti ukuran tunggal dari tubuh manusia antara lain: umur, berat

badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar

pinggul, dan tebal lemak dibawah kulit (Supariasa, 2002).

Indeks antropometri yang umum digunakan dalam menilai status gizi

adalah berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U),

dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Penilaian status gizi dengan

antropometri banyak digunakan dalam berbagai penelitian atau survey, baik

survey secara luas dalam skala nasional maupun survey untuk wilayah terbatas

(Supariasa, 2002). Berdasarkan ukuran baku tersebut, penggolongan status nutrisi

menurut indeks antropometri adalah seperti yang tercantum dalam tabel 2 berikut

ini:

Tabel 2: Penggolongan keadaan gizi menurut indeks antropometri

Status Gizi Ambang batas baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks

(26)

Beberapa indeks antrometri antara lain:

a. Berat badan menurut umur (BB/U)

Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran masa

tubuh. Masa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan yang mendadak,

misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan dan

menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Berat badan adalah parameter

antropometri yang sangat labil.

b. Tinggi badan menurut umur (TB/U)

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan

pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan

bertambahnya umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif

kurang sensitif terhadap kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh

defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif

lama.

c. Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)

Berat badan memliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam

keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan

tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Jellife pada tahun 1966 telah

memperkenalkan indeks ini untuk menilai status gizi. Indeks BB/TB merupakan

indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini, dan merupakan indeks yang

(27)

d. Lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U)

Lingkar lengan atas memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot

dan lapisan lemak bawah kulit. LLA berkorelasi dengan indeks BB/U maupun

BB/TB. Lingkar lengan atas merupakan parameter antropometri yang sangat

sederhana dan mudah dilakukan oleh tenaga yang bukan professional. Indeks

lingkar lengan atas sulit digunakan untuk melihat pertumbuhan anak. Pada usia 2

sampai 5 tahun perubahannya tidak nampak secara nyata, oleh karena itu lingkar

lengan atas banyak digunakan dengan tujuan screening individu, tetapi dapat juga

digunakan untuk pengukuran status gizi.

e. Tebal lemak dibawah kulit menurut umur

Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak dibawah

kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misalnya pada bagian

lengan atas (Trisep dan bisep), lengan bawah (forearm), tulang belikat

(subcapular), ditengah garis ketiak (midaxilaris), sisi dada (pectord), perut

(abdomen), suprailiaka, paha, tempurung lutut (suprapatelar), dan pertengahan

tungkai bawah (medial calf)

f. Indeks masa tubuh (IMT)

Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun

keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko

penyakit-penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktifitas kerja. Oleh karena itu,

pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah

satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal

(28)

Di Indonesia khususnya, cara pemantauan dan batasan berat badan normal

orang dewasa belum jelas mengacu pada patokan tertentu. Menurut

FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal

orang dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Indeks (BMI). Di Indonesia

diartikan sebagai indeks masa tubuh (IMT). IMT merupakan alat yang sederhana

untuk memantau status gizi orang dewasa

Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut:

IMT=

Tabel 3: Katagori Ambang Batas IMT

Katagori IMT

Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0

Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,5

Normal >18,5 – 25

Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan >25,0 – 27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0

(Supariasa, 2002).

3.1.2. Klinis

Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara tepat tanda-tanda klinis

umum dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. seseorang dengan melakukan

pemeriksaan fisik yaitu tanda (sign), dan gejala (symptom) Atau riwayat penyakit

(Supariasa, 2002).

Pemeriksaan klinis (assesement clinik) secara umum terdiri dari dua

(29)

pemeriksaan fisik, yaitu melihat dan mengamati gejala gangguan gizi baik sign

(gejala yang dapat diamati) maupun symptom (Supariasa, 2002).

Pada pemeriksaan fisik, kita melakukan pengamatan terhadap perubahan

fisik, yaitu semua perubahan yang ada kaitannya dengan kekurangan gizi.

Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat dari:

a. Rambut. Berhubungan dengan kurang gizi dapat dijumpai dengan kondisi

rambut yang kurang bercahaya, kusam, kering, tipis dan jarang, rambut

kurang kuat/mudah putus.

b. Wajah. Pada wajah dapat dijumpai adanya penurunan pigmentasi yang

tersebar secara berlebih apabila disertai anemia, wajah seperti bulan (moon

face), pengeringan selaput mata.

c. Mata. Dijumpai selaput mata pucat, keratomalasia (keadaan permukaan

halus /lembut dari keseluruhan bagian tebal atau keseluruhan kornea,

pengeringan kornea.

d. Bibir. Pada bibir dapat dijumpai adanya angular stomatitis (celahan pada

sudut mulut) dan depigmentasi kronis pada bibir bawah.

e. Lidah. Terjadi edema pada lidah, atrofi papilla serta papilla bewarna merah

atau merah muda, atau berglanula, serta ditemukan keadaan pecah-pecah

pada permukaan lidah. Serta kadang ditemukan adanya pigmented tongue.

f. Gigi. Pada gigi keadaan yang mungkin dijumpai berhubungan dengan

kekurangan gizi adalah adanya mottled enamel (bintik putih dan kecoklatan

dengan atau tanpa erosi pada enamel), pengikisan dapat terjadi pada tepi

gigi seri dan taring akibat dari mengkonsumsi makanan yang keras yang

(30)

g. Gusi. Kekurangan gizi dapat dilihat dari dengan ditemukannya spongy,

bleeding gums (bunga karang keunguan atau merah yang membengkak pada

tepi gusi yang mudah berdarah), dan dapat ditemui infeksi tepi gusi serta

adanya kerusakan dan atrofi gusi yang menampakkan akar-akar gigi.

h. Kelenjar. Pada keadaan kurang gizi dapat dijumpai adanya Pembesaran

tiroid dapat dilihat pada perabaan.

i. Kulit. Xerosis (keadan kulit yang mengalami kekeringan tanpa mengandung

air), Ptechiae (bintik haemorragic kecil pada kulit atau membrane berlendir

yang sulit dilihat pada kulit gelap), dermatosis (lesi kulit yang khas, dimana

kulit menjadi merah, bengkak, gatal dan rasa terbakar).

j. Kuku. Dapat dijumpai adanya koilonychia yaitu suatu keadaan kuku

berbentuk sendok pada kuku orang dewasa atau karena kurang zat besi.

k. Jaringan bawah kulit. Keadaan yang berhubungan dengan kekurangan gizi

dapat ditemukan bilateral edema (pada kaki, wajah dan tangan).

(Supariasa, 2002).

3.1.3. Metode Biokimia

Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan

terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang

spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk

menentukan kekurangan gizi yang lebih spesifik. Ada beberapa indikator

laboratorium untuk menentukan status besi yaitu: hemoglobin, hematokrit, besi

serum, ferittin serum (Sf), transferin saturation (TS), free erytrosytes

(31)

Didalam darah ada 3 faktor praksi protein, yaitu: albumin, globulin,

fibrinogen. pemeriksaan biokimia terhadap status protein dibagi dalam 2 bagian

yaitu: somatic protein (terdapat di otot skeletal) dan visceral protein (terdapat

didalam organ tubuh seperti hati, ginjal, pancreas, jantung, dll) (Supariasa, 2002).

3.1.4. Biofisik

Penilaian status gizi dengan biofisik termasuk penilaian status gizi secara

langsung, penilaian ini adalah melihat dari kemampuan fungsi jaringan dan

perubahan struktur. Tes kemampuan fungsi jaringan meliputi kemampuan kerja

dan energi ekspenditure serta adaptasi sikap. Penilaian secara biofisik dapat

dilakukan melalui tiga cara yaitu uji radiologis, tes fungsi fisik, dan sitologi

(Supariasa, 2002).

3.2. Penilaian Status Nutrisi Secara Tidak Langsung

3.2.1. Survey konsumsi makanan

Survey penilaian konsumsi makanan adalah salah satu metode yang

digunakan dalam penentuan status gizi perorangan atau kelompok. Banyak

metode yang digunakan untuk melakukan pengukuran konsumsi makanan

berdasarkan jenis data yang diperoleh antara lain: metode kuantitatif, metode

kualitatif, tingkat rumah tangga, tingkat nasional, tingkat individu atau perorangan

(Supariasa, 2002).

3.2.2. Statistik Vital

Salah satu cara untuk mengetahui gambaran keadaan gizi suatu wilayah

(32)

berhubungan dengan keadaan kesehatan gizi antara lain angka kesakitan, angka

kematian, pelayanan kesehatan, dan penyakit infeksi yang berhubungan dengan

gizi (Supariasa, 2002).

Jeliffe (1989) memberikan gambaran tentang beberapa informasi yang

dijadikan pegangan untuk menganalisis keadaan gizi disuatu wilayah. Informasi

tersebut adalah angka kematian pada kelompok umur tertentu (age specific

mortality rate), angka kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu (cause

specific morbility and mortality rate), statistik pelayanan kesehatan (health

service statistic) dan penyakit infeksi yang berhubungan dengan gizi (nutritionally

relevant infection rates) (Supariasa, 2002).

3.2.3. Faktor Ekologi

Jellife (1989), malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil yang

saling mempengaruhi (multiple overlapping) dan interaksi beberapa factor fisik,

biologi, dan lingkungan budaya. Jadi jumlah makanan dan zat-zat gizi yang

tersedia bergantung pada keadaan lingkungan seperti iklim, tanah, irigasi,

penyimpanan, transportasi, dan tingkat ekonomi penduduk (Supariasa, 2002).

Secara rasional, program yang bersifat preventif sebaiknya diarahkan pada

semua faktor yang terlibat dalam kesehatan masyarakat di suatu daerah tertentu.

Faktor ekologi yang berhubungan dengan penyebab malnutrisi dibagi dalam enam

kelompok yaitu keadaan infeksi, konsumsi makanan, pengaruh budaya, sosial

(33)

BAB 3

KERANGKA KONSEPTUAL

1. Kerangka Konseptual

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dijabarkan pada bab 2, maka dapat

disimpulkan bahwa pada penderita stroke sering mengalami disfagia sehingga dapat

mempengaruhi status nutrisi. Dalam penilaian status nutrisi dilakukan dengan

menggunakan indeks masa tubuh, dan dapat dikategorikan baik, sedang dan buruk

Dibawah ini adalah kerangka konsep yang digambarkan dalam bentuk skema.

Gambar 1 : kerangka konsep

Berdasarkan kerangka konsep diatas maka peneliti ingin mengetahui gambaran

tentang status nutrisi pada pasien stroke dengan disfagia di ruangan R-A4 Rumah Sakit

Umum Haji Adam Malik Medan dengan kategori baik, sedang dan buruk. Status Nutrisi:

Kurus: Tingkat ringan

Tingkat berat

Normal Stroke dengan

(34)

2. Definisi Operasional

2.1. Disfagia

Disfagia adalah suatu keadaan yang dialami responden dimana responden

mengalami kesulitan menelan yang diakibatkan oleh gangguan pada peredaran

darah otak, yang dapat meningkatkan resiko tersedak minuman atau makanan

yang tersangkut dalam trachea atau bronkus.

2.2. Stroke

Stroke adalah suatu keadaan dimana pasien mengalami cedera mendadak

dan berat pada pembuluh-pembuluh darah otak, yang disebabkan oleh sumbatan,

bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, atau pecahnya pembuluh darah

sehingga menimbukan gejala fisik yang khas seperti paralisis, hilangnya sensasi di

wajah, kesulitan menelan dan lain-lainnya.

2.3. Status Nutrisi

Status nutrisi adalah keadaan responden yang berhubungan dengan berat

badan untuk mengetahui keadaan gizi responden dengan katagori kurus tingkat

ringan, kurus tingkat berat, normal, gemuk tingkat ringan dan gemuk tingkat

(35)

BAB 4

METODELOGI PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Desain ini bertujuan

untuk menggambarkan status nutrisi pasien stroke yang mengalami disfagia di ruang

R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan tahun 2010.

2. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling

2.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien stroke yang mengalami

disfagia yang dirawat di ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik

Medan Tahun 2010.

2.2. Sampel Penelitian

Kriteria sampel pada penelitian ini adalah:

1 Pasien yang mengalami disfagia

2 Pasien yang kooperatif

3 Pasien pria atau wanita yang telah dirawat selama tiga hari

4 Pasien dalam keadaan kompos mentis

Dalam penelitian ini kriteria ekslusinya adalah:

1 Pasien yang dalam kondisi terminasi

(36)

Semakin banyak sampel maka hasil penelitian akan lebih repersentatif.

Meskipun keseluruhan lapisan populasi telah terwakili. Untuk menetukan besar

sampel untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000 dapat menggunakan

rumus:

n = perkiraan jumlah sampel

N = perkiraan besar populasi

d = tingkat kesalahan yang dipilih (d=0,05)

(Notoadmodjo, 2005).

Jadi untuk menetukan jumlah sampel yang akan diteliti maka:

jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 15 orang

(37)

2.3. Teknik sampling

Teknik sampling dalam penelitian ini dilakukan dengan tekhnik non

probability sampling yaitu dengan metode purposive sampling. Yaitu

pengambilan sampel dengan menentukan ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota

yang telah ditentukan.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji adam Malik

Medan pada tanggal 22 Juli – 22 Agustusi 2010. dengan pertimbangan antara lain,

RS.Haji Adam Malik Medan merupakan salah satu rumah sakit pendidikan,

merupakan rumah sakit umum yang menerima pasien dari berbagai daerah dan dengan

berbagai kasus penyakit. jumlah pasien yang dirawat cukup banyak sehingga

memudahkan dalam pengambilan sampel.

4. Pertimbangan Etik

Dalam melakukan penelitian ini, peneliti mendapat surat pengantar dari

fakultas keperawatan USU. Kemudian mengajukan surat permohonan kepada kepala

rumah sakit untuk mengadakan penelitian. setelah mendapatkan izin untuk melakukan

penelitian, peneliti memulai penelitian dengan mempertimbangkan pertimbangan etik,

sebagai berikut:

4.1. Informed consent (lembar persetujuan)

Lembar persetujuan diserahkan kepada subjek yang akan diteliti. Peneliti

menjelaskan maksud dan tujuan penelitian yang dilakukan serta dampak yang

mungkin terjadi sebelum dan sesudah penelitian. Jika bersedia dijadikan

(38)

tersebut. Jika mereka menolak untuk dijadikan responden, maka peneliti tidak

akan memaksa dan akan tetap menghormati hak – haknya.

4.2. Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan

namanya pada lembar pengumpulan data, tetapi cukup dengan memberi nomor

kode pada masing-masing lembar tersebut.

4.3. Confidentialty (kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi responden akan dijamin oleh peneliti, hanya

sekelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil

penelitian.

(Hidayat, 2007).

5. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh pada penelitian ini merupakan data primer, dimana data di

dapat dari hasil pengukuran oleh peneliti. Adapun tahap-tahap pengumpulan data

dimulai dari meminta surat izin dari institusi untuk melakukan penelitian, kemudian

dikirimkan ke bagian Penelitian Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan, setelah

mendapat izin dari pihak rumah sakit, kemudian peneliti melakukan pengumpulan data

dengan menggunakan instrumen penelitian.

Dalam proses penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan

instrumen penelitian yang berupa kuisioner dan lembar observasi yang memuat

sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari

responden serta beberapa instrumen pelitian yang berupa antropometrik untuk

(39)

1 Data Demografi

Data demografi ini membantu peneliti untuk mengetahui latar belakang dari

responden yang bisa berpengaruh terhadap penelitian ini. Data demografi ini

meliputi nomor responden, usia, jenis kelamin, pekerjaan, suku. Data demografi

ini dapat dilihat pada lampiran 2.

2 Lembar Observasi

Lembar observasi daftar kegiatan penelitian merupakan lembaran observasi

dimana dilembaran observasi terdiri dari pengukuran tinggi badan, berat badan,

serta indeks masa tubuh dari tiap responden. Untuk mengetahui status nutrisi pada

pasien stroke yang mengalami disfagia maka dapat dilakukan dengan metode

penilaian indeks masa tubuh, dimana :

IMT =

Dengan kategori sebagai berikut :

Katagori IMT

Kurus Kekurangan berat badan tingkat berat < 17,0

Kekurangan berat badan tingkat ringan 17,0 – 18,5

Normal >18,5 – 25

Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan >25,0 – 27,0

Kelebihan berat badan tingkat berat >27,0

6. Pengolahan Data

Data yang didapatkan dari hasil pengukuran melalui kuisioner dan observasi

(40)

6.1. Editing

Dilakukan pengecekan data yang telah terkumpul, bila terdapat kesalahan

dan kekeliruan dalam pengumpulan data diperbaiki dan dilakukan pendataan

ulang terhadap responden.

6.2. Coding

Mengubah data yang sudah diedit ke dalam bentuk angka misalnya nama

responden diubah menjadi nomer kode responden

6.3. Entri data

Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan

kedalam master tabel atau database komputer, kemudian membuat distribusi

frekuensi sederhana.

6.4. Analisa

Dalam melakukan analisa terhadap suatu penelitian digunakan statistik

terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis. Dengan

menggunakan analisis data deskriptif (Hidayat, 2007). Analisis deskriptif

(41)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian dan pembahasan tentang status nutrisi

pada pasien stroke dengan disfagia di ruang Rindu-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam

Malik Medan Tahun 2010.

1. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Juli sampai 22 Agustus 2010 di ruang

Rindu-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan dengan jumlah responden

sebanyak 15 orang pasien stroke yang mengalami disfagia. Dari hasil penelitian

diperoleh beberapa data antara lain:

1.1. Karakteristik Responden

Deskripsi karakteristik responden mencakup usia, jenis kelamin, pekerjaan

suku dan pendidikan. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan mayoritas laki-laki

berjumlah 9 orang (60%). Berdasarkan tingkat usia mayoritas usia rata-rata antara

60-74 tahun berjumlah 7 orang (46,7 %). Berdasarkan pekerjaan di dapat data

responden bekerja sebagai petani berjumlah 7 orang (46,7 %). Karakteristik

responden Berdasarkan suku, yang terbanyak adalah suku batak sebanyak 5 orang

(33,3%). Karakteristik responden berdasarkan pendidikan, mayoritas pendidikan

responden adalah SD berjumlah 7 orang (46,7 %).

Hasil penelitian tentang karakteristik responden secara singkat dapat dilihat

(42)

Tabel 4. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan karakteristik responden

yang mengalami stroke dengan disfagia di R-A4 rumah sakit umum haji

adam malik medan tahun 2010

No Karakteristik Responden F %

1.2. Status Nutrisi Pasien Stroke Yang Mengalami Disfagia

Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar pasien stroke yang

mengalami disfagia mengalami kekurangan nutrisi tingkat pertama yaitu sebanyak 7

(43)

kemudian berat badan normal dan kurus tingkat 2 sebanyak 2 orang (13.3%) dan

gemuk tingkat 2 sebanyak 1 orang (6,7 %).

Tabel 5. Distribusi frekuensi dan persentase status nutrisi pasien stroke mengalami

disfagia di R-A4 rumah sakit umum haji adam malik medan tahun 2010

No Kategori IMT F %

1. Kurus: Tingkat ringan

Tingkat berat

3. Gemuk: Tingkat ringan

Tingkat berat

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa status nutrisi pasien stroke yang

mengalami disfagia adalah kurus tingkat ringan yaitu sebanyak 7 orang (46,0 %),

gemuk tingkat ringan sebanyak 3 orang (20%) diikuti status nutrisi normal dan kurus

tingkat berat yaitu masing-masing sebanyak 2 orang (13,3 %), kemudian diikuti gemuk

tingkat berat sebanyak 1 orang (6,7 %). Data penelitian menunjukkan pasien stroke

dengan disfagia yang dirawat banyak mengalami berat badan di bawah normal yaitu

kurus, hal ini erat kaitannya dengan berapa lama disfagia yang di derita oleh pasien dan

perawatan yang di terima pasien sebelum masuk ke rumah sakit kurang baik sehingga

pasien mengalami penurunan status nutrisi.

Status nutrisi pasien yang mengalami kurus sangat erat kaitannya dengan kondisi

disfagia, hal ini sesuai dengan pendapat Crary yaitu: Pada pasien stroke sering

mengalami disfagia (kesulitan menelan) dan status gizi buruk, yang diperkirakan antara

(44)

dimana hampir 65% penderita stroke mengalami gangguan pada proses menelannya

(Crary, 2004).

Status nutrisi adalah suatu keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan

penggunaan zat-zat gizi. Dan dibedakan atas satus gizi buruk, kurang, baik, dan lebih.

Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang

dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Sebaliknya, bila makanan tidak di konsumsi

dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Ada 3

fungsi zat gizi dalam tubuh yaitu: memberi energi, pertumbuhan dan pemeliharaan

jaringan tubuh, mengatur proses tubuh (Almatsier, 2005).

Asupan nutrisi memegang peranan penting sebagai bagian dari proses pemulihan

setelah Stroke. Konsumsi makanan yang tepat dan seimbang dapat membantu penderita

untuk dapat merasa lebih baik dan juga lebih kuat. Nutrisi yang tepat tidak hanya dapat

membantu tubuh memperbaiki jaringan tubuh yang telah rusak akibat serangan Stroke,

tetapi juga memberikan energi dan memperbaiki stamina tubuh. Stroke bisa

mempengaruhi status nutrisi seseorang hal ini dapat dikarenakan keterbatasan dari

kemampuannya untuk melakukan kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan

pemenuhan kebutuhan nutrisi, seperti berbelanja, menyiapkan makanan dan

mengkonsumsi makanan. Jika kebutuhan kalori dan gizi tidak dapat dipenuhi, orang

bisa menjadi kekurangan gizi, yaitu suatu kondisi yang ditandai dengan penurunan berat

badan dan nafsu makan yang menurun (Pamela, 2010).

Gangguan nutrisi (nutritional disorder) merupakan masalah yang sangat sering

menyertai penyakit, baik yang dijumpai pada pasien yang dirawat di rumah sakit

maupun yang menjalani rawat jalan. Penyebab malnutrisi umumnya kompleks dan

(45)

dan memperberat komplikasi, mengakibatkan respons yang tidak adekuat terhadap

modalitas terapi lain, menurunkan imunitas dan selanjutnya meningkatkan angka

morbiditas dan mortalitas. Selain dampak medis, hal ini juga mengakibatkan

peningkatkan biaya pengobatan dan lama rawat.

Pasien stroke yang mengalami disfagia ini kemungkinan besar mengalami

penurunan berat badan, hal ini dikarenakan pasien susah menelan sehingga

berkurangnya konsumsi makanan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh michael juga

menunjukkan pasien stroke yang mengalami disfagia juga mengalami penurunan status

nutrisi, dimana hasil penelitiannya menunjukkan 26,3 % pasien diidentifikasi

mengalami gizi buruk (Crary, 2004).

Pada Simposium “Permasalahan

Nutrisi Pada Stroke” di Jakarta, menguraikan, hasil Penelitian tentang status nutrisi pada

stroke di Indonesia. penelitian dilakukan pada kasus stroke dengan kesulitan menelan,

yaitu melibatkan 36 pasien. Penelitian selama 14 hari menunjukkan adanya peningkatan

albumin dan protein, masing-masing 12 dan 4,5 persen, masalah utama pada stroke

adalah gangguan metabolisme protein, sehingga terjadi disintegrasi neuro-peptida,

neuro-transmiter, dan neuro-endokrin. Padahal, protein merupakan pembentuk ketiga

faktor tersebut, yang berfungsi sebagai sarana komunikasi sistem organ dan antar

neuron. Pemberian obat dan nutrisi seimbang dapat mempercepat restorasi sistem otak

dan organ, sehingga kualitas hidup pasien pasca-stroke dapat meningkat dan

memperkecil serangan berulang(Teguh Ranakusuma, 2010).

Pada stroke akut, sangat sulit ditentukan kebutuhan nutrisi tiap pasien, karena

munculnya reaksi hipermetabolik (metabolisme yang berlebihan) akibat gangguan

fungsi hipotalamus di otak. Karena itu, pemberian nutrisi pada masa penyembuhan atau

(46)

pemberian nutrisi. Pada masa penyembuhan ini, penderita harus belajar kembali banyak

hal, antara lain memenuhi kebutuhan gizinya melalui mengkonsumsi makanan. Fungsi

menelan pada pasien stroke dapat pulih sebagian atau seluruhnya, namun perhatian dan

bantuan diperlukan sampai keadaan pulih kembali. Kesulitan menelan sering kali

menyebabkan kurang gizi karena konsumsi makanan yang tidak cukup. Modifikasi diet

perlu dilakukan secara individu, sesuai dengan jenis dan beratnya gangguan fungsi serta

faktor risiko. Hal ini diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, tekanan darah, dan

biokimia darah (Teguh, 2010).

Kebutuhan zat-zat gizi dipengaruhi oleh berat badan, umur, dan jenis kelamin.

Pada orang dewasa zat-zat gizi digunakan untuk aktifitas/kerja (Suniar, 2002). Jenis

pekerjaan tersebut digolongkan menurut jumlah energi yang diperlukannya menjadi

pekerjaan ringan, sedang dan berat serta berat sekali. Kebutuhan energi untuk kegiatan

ringan, sedang, berat dan sangat berat berbeda, makin berat kegiatan/pekerjaan yang

dilakukan makin banyak juga energi yang dibutuhkan. Perhitungan rata-rata orang

bekerja sehari adalah 8 jam (Depkes RI, 1991). Untuk kegiatan ringan misalnya ibu

rumah tangga yang melakukan pekerjaannya dengan bantuan alat mekanik, untuk

kegiatan sedang misalnya kebanyakan pekerjaan pada industri ringan (memperbaiki

jam, menggambar, dan melukis), untuk kegiatan sangat berat misalnya menyikat lantai,

memukul karpet, kerja dipertanian dan untuk kegiatan sangat berat misalnya pekerja

bangunan (Arisman, 2004).

Dari data demografi menunjukkan responden yang banyak mengalami stroke

adalah laki-laki yaitu sebanyak 60% dibandingkan wanita. Hal ini sesuai dengan

(47)

memiliki resiko terkena stroke iskemik atau perdarahan itraserebrum lebih tinggi sekitar

20% dari pada wanita.

Berdasarkan status gizi, wanita dengan usia lanjut dimasukkan ke dalam

kelompok rentan gizi, meskipun tidak ada hubungan dengan pertumbuhan badan,

bahkan sebaliknya sudah terjadi involusi dan degenerasi jaringan dan sel-selnya.

Timbulnya kerentanan terhadap kondisi gizi disebabkan kondisi fisik, baik anatomis

maupun fungsionalnya. Faktor lain yang mengganggu kondisi gizi manula secara tidak

langsung ialah kondisi psychis yang labil dan menjadi sangat sensitif (Sediaoetama,

2000).

Dari segi usia didapati hasil bahwa usia 60-74 tahun yang banyak mengalami

serangan stroke yaitu sebanyak 7 orang (46,7 %). Hal ini juga diterangkan oleh Feigin

bahwa resiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Setelah mencapai usia 50

tahun meningkatkan resiko stroke sebesar 11-20%. Orang berusia lebih dari 65 tahun

memiliki resiko paling tinggi, 25 % dari semua stroke terjadi pada orang berusia

dibawah 65 thn, dan 4% terjadi pada orang berusia antara 15 dan 40 tahun (feigin,

2007).

Mayoritas pendidikan dari responden adalah tamatan SD berjumlah 7 orang (46,7

%), tingkat pendidikan SMP sebanyak 5 orang (33,3 %), SMA sebanyak 2 orang (13,3

%), dan tidak tamat SD 1 orang (6,7 %).

Pandangan dan kepercayaan seseorang, termasuk juga pengetahuan mereka

tentang ilmu gizi, harus dipertimbangkan sebagai bagian dari berbagai faktor penyebab

yang berpengaruh terhadap konsumsi makan mereka (suhardjo, 2003). Dengan

(48)

Dari pembahasan yang telah dijabarkan di atas, peneliti dapat menganalisa bahwa

pada penderita stroke yang mengalami disfagia rentan mengalami penurunan status

nutrisi, hal ini dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukungnya, antara lain

adalah kesulitan dalam menelan, metabolisme yang meningkat, serta status ekonomi

pasien juga mempengaruhi pemenuhan nutrisi tersebut. Dari data demografi dilihat

adanya pengaruh yang besar baik itu usia, jenis kelamin, dan pekerjaan. Meskipun hal

ini tidak menjadi masalah yang spesifik terhadap kejadian stroke. Dalam penanganan

pasien stroke dengan disfagia, diharapkan agar lebih memperhatikan makanan yang

akan di konsumsi oleh pasien, sehingga kebutuhan nutrisi pasien dapat tercukupi dan

tidak mengalami penurunan status nutrisi yang berlebih.

(49)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Status nutrisi adalah suatu keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan

penggunaan zat-zat gizi. Dan dibedakan atas kurus tingkat ringan, kurus tingkat berat,

normal, gemuk tingkat ringan dan gemuk tingkat berat. berdasarkan hasil penelitian

yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa status nutrisi pasien stroke yang

mengalami disfagia adalah kurus tingkat ringan yaitu sebanyak 7 orang (46,0 %),

gemuk tingkat ringan sebanyak 3 orang (20%) diikuti status nutrisi normal dan kurus

tingkat berat yaitu masing-masing sebanyak 2 orang (13,3 %), kemudian gemuk tingkat

berat sebanyak 1 orang (6,7 %).

Penderita stroke yang mengalami disfagia rentan mengalami penurunan status

nutrisi, hal ini dapat di pengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukungnya, antara lain

adalah kesulitan dalam mengkonsumsi makanan, metabolisme pasien stroke yang

meningkat, serta status ekonimi pasien juga mempengaruhi pemenuhan nutrisi tersebut.

Dari data demografi dapat dilihat adanya pengaruh yang besar baik itu usia, jenis

kelamin, dan pekerjaan. Meskipun hal ini tidak menjadi masalah yang spesifik terhadap

kejadian stroke. Dalam penanganan pasien stroke dengan disfagia, diharapkan agar

lebih memperhatikan makanan yang akan di konsumsi oleh pasien, sehingga kebutuhan

nutrisi pasien dapat tercukupi dan tidak mengalami penurunan status nutrisi yang

(50)

2. Saran

2.1 Bagi keluarga

Sebagai care giver, diharapkan keluarga dapat memperhatikan asupan nutrisi bagi

pasien yang mengalami stroke sehingga kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. Keluarga

juga diharapkan lebih cepat dalam pengambilan keputusan bagi anggota keluarga yang

mengalami stroke dengan membawa anggota keluarga yang sakit ke pelayanan

kesehatan untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan yang optimal.

2.2 Bagi perawat

Sebagai pemberi asuhan keperawatan, diharapkan perawat dapat lebih

memperhatikan asupan nutrisi yang akan diberikan kepada pasien stroke yang

mengalami disfagia, dengan cara berkolaborasi bersama ahli gizi dalam perencanaan

diet, sehingga pasien dapat mempertahankan berat badan secara optimal.

2.3 Bagi peneliti selanjutnya

(51)

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Djaeni Sediaoetama (2000), Ilmu Gizi untuk mahasiswa dan profesi jilid I. Jakarta: Dian Rakyat.

Almatsier, S (2005), Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Arisman (2004), Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC.

Crary. M. (2004), Status Nutrisi Stroke. diambil tanggal 12 maret 2010 dari webside

Collier, J (2009), Nutrisi Dalam Disfagia. diambil tanggal 12 maret 2010 dari

Danim. S (2003). Riset Keperawatan; Sejarah dan Metodelogi, Jakarta; EGC.

Depkes RI (1991). Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal di Indonesia. Jakarta: Depkes RI.

Harrison (2000), Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 1, Jakarta: EGC.

Hidayat. A (2007), Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Jakarta: Salemba Medika.

Kartika. H (2009), Disfagia, diambil tanggal 12 maret 2010 dari

Leaner Suniar (2002), Dukungan Zat-Zat Gizi Untuk Menunjang Prestasi Olahraga. Jakarta: Kalamedia.

Muttaqin. A (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan System

Persarafa. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam (2008). Konsep Dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan;

Pedoman Skripsi, Tesis Dan Instrument Penelitian Keperawatan. Jakarta:

Salemba Medika.

Pamela (2009), dari website:

Price S (2006). Patofisiologi; Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Volume 2, Jakarta: EGC.

(52)

Setiadi (2007). Konsep Dan Penulisan Riset Keperawatan, Yogyakarta: Graha Ilmu.

Smeltzer. S (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah, volume 3, Jakarta: EGC.

Supariasa. I (2005). Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Teguh Ranakusuma (2009). “stroke” penyebab kematian utama di indonesia, diambil tanggal 15 oktober 2010 pada website:

Walsh, T. (1999). Kapita Selekta Penyakit Dan Terapi, Jakarta; EGC.

Veigin, V. (2007). Stroke; Panduan Bergambar Tentang Pencegahan Dan Pemulihan

(53)

Lampiran 1

PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Judul Penelitian : Hubungan Disfagia Terhadap Perubahan Status Gizi Pada Pasien

Stroke Di Ruang R-A4 Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik

Medan

Peneliti : Tina Agustari

Nim : 091121005

Fakultas : Keperawatan USU

Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan belajar dan salah

satu syarat kelulusan untuk menyelesaikan tugas akhir di fakultas keperawatan

universitas sumatera utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh

Disfagia (sulit menelan) terhadap perubahan status gizi pada pasien stroke.

Partisipasi anda dalam penelitian ini bersifat sukarela. Anda mempunyai hak

bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden, jika anda tidak bersedia

maka saya tetap menghargai dan tidak akan memaksa.

Peneliti akan menjamin kerahasiaan jawaban yang anda berikan dalam identitas

anda. Bila anda ingin mengajukan pertanyaan tentang penelitian ini peneliti akan

senang hati untuk menjawab pertanyaan dari anda.

No responden : (diisi peneliti)

Tanggal :

Responden Peneliti

(54)

Lampiran 2 No. Responden

Kuesioner Data Demografi

Usia :

Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan

Pekerjaan/aktivitas : PNS Petani

Polri/TNI Ibu Rumah Tangga

Pedagang dan lain-lain

Suku : Jawa Minang

Batak Aceh

Mandailing Melayu

Padang dan lain-lain

Pendidikan : Tidak Tamat SD SMA

SD Sarjana

SMP

No

Hasil Observasi

(55)

CURRICULUM VITAE

Nama : Tina Agustari

Nim : 091121005

Tempat/Tgl Lahir : Idi Rayeuk/5 Agustus 1987 Agama : Islam

Alamat : Ds.Titi Baroe, Kec. Idi Rayeuk, Aceh Timur Pendidikan : SD N. 1 Idi Rayeuk (1993-1999)

SMP N. 1 Idi Rayeuk (1999-2002) SMA N. 1 Idi Rayeuk (2002-2005) AKPER RS. Haji Medan (2006-2009) S1 Keperawatan USU Medan (2009-2011)

Gambar

Tabel waktu pelaksanaan
Table 1. Penyebab dari Disfagia
Tabel 2: Penggolongan keadaan gizi menurut indeks antropometri
Tabel 3: Katagori Ambang Batas IMT
+4

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengidentifikasi perbedaan tingkat konstipasi sebelum dan sesudah dilakukan terapi minum air putih pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi pada pasien stroke

Berdasarkan hasil survey,jumlah pasien stroke iskemik yang dirawat inap di Bagian Neurologi FK-USU/RSUP Haji Adam Malik Medan per tanggal 1 Januari sampai 31

Dari penelitian ini didapati bahwa pada menit pertama, nilai apgar 4-6 pada persalinan normal adalah sebanyak 6,2%, sementara persalinan dengan teknik sectio caesarea

Setelah mempelajari dan mendapatkan penjelasan yang sejelas-jelasnya mengenai penelitian yang berjudul “ Perbandingan Perubahan Fungsi Kognitif Terhadap Pasien Stroke Hemoragik

Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan yang bermakna untuk fungsi kognitif antara pasien stroke iskemik dan stroke hemoragik di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik

Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan yang bermakna untuk fungsi kognitif antara pasien stroke iskemik dan stroke hemoragik di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik

Penelitian ini bertujuan untuk melihat status fungsi motorik pasien pasca stroke di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.. Desain penelitian yang digunakan

Analisis biaya terapi stroke hemoragi pada pasien rawat inap di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta November 2011-2013.. Tesis, Universitas