AYAM KAMPUNG DI JIMMY’S FARM CIPANAS
KABUPATEN CIANJUR JAWA BARAT
MINARNIEL GABE NGAMARTO BUTARBUTAR
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Risiko Produksi Usaha Peternakan Ayam Kampung di Jimmy’s Farm Cipanas Kabupaten Cianjur Jawa Barat adalah benar karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2014
Minarniel Gabe Ngamarto Butarbutar
NIM H34114050
MINARNIEL GABE NGAMARTO BUTARBUTAR. Analisis Risiko Produksi Usaha Peternakan Ayam Kampung di Jimmy’s Farm Cipanas Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Dibimbing oleh JUNIAR ATMAKUSUMA.
Ayam kampung merupakan ayam jenis lokal Indonesia. Peluang bisnis peternakan ayam kampung lebih menarik dan berkembang pesat. Jumlah populasi dan konsumsi rata-rata per kapita terus meningkat, selain itu harga dari hasil produksi ayam kampung juga relatif stabil, bahkan cenderung meningkat dan belum pernah terguncang fluktuasi harga pasar. Namun, dalam budi daya ayam kampung tetap dihadapkan pada risiko produksi. Risiko produksi menjadi salah satu kendala dalam proses budi daya ayam kampung di Jimmy’s Farm yang menyebabkan kerugian pada perusahaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis sumber risiko produksi beserta pengaruhnya, kemudian menganalisis alternatif strategi yang tepat untuk mengelola sumber risiko. Terdapat tiga sumber risiko pada Jimmy's Farm dengan nilai probabilitas dan dampak yang dihasilkan dari masing-masing sumber risiko. Sumber risiko yang dimaksud adalah : penyakit, suhu udara dalam kandang, dan non penyakit. Strategi alternatif yang diusulkan untuk mengelola sumber risiko suhu udara adalah dengan menggunakan strategi preventif, dan untuk sumber risiko penyakit menggunakan strategi preventif dan mitigasi untuk mencegah dan memperkecil risiko serta dampak yang dihasilkan. Kata kunci : Alternatif Strategi, Ayam Kampung, Risiko Produksi.
ABSTRACT
MINARNIEL GABE NGAMARTO BUTARBUTAR. The Production Risk Analysis of Native Chickens Farm Business at Jimmy's Farm Cipanas Cianjur West Java. Supervised by JUNIAR ATMAKUSUMA.
Native chicken is a kind of local chicken in Indonesia. The opportunity of native chicken farm business is more attractive and rapidly growing. The number of population and average consumption per capita is increasing, beside that the price of native chicken production was also relatively stable, in fact it’s tend to increase and never been shaken by market price fluctuations. However, the cultivation of native chicken remains faced with risk of production. The risk of production become one of the obstacles in the process of native chicken farming in Jimmy's Farm which is causing losses to the company. This study intend to analyze the sources of production risk and it's impact, then analyze alternative strategies appropriate to manage the source of risk. There are three sources of risk at Jimmy's Farm with probability value and impact that generated by each sources. The source of the risk are: disease, air temperature inside the stable, and non-diseases. The propose of alternative strategy to manage the sources of risk of the air temperature is by using preventive strategy, and for the source of risk of disease is by using preventive and mitigation strategies to prevent and minimize the risk along with the impact produced.
AYAM KAMPUNG DI JIMMY’S FARM CIPANAS
KABUPATEN CIANJUR JAWA BARAT
MINARNIEL GABE NGAMARTO BUTARBUTAR
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Jimmy’s Farm Cipanas Kabupaten Cianjur Jawa Barat Nama : Minarniel Gabe Ngamarto Butarbutar
NIM : H34114050
Disetujui oleh
Ir Juniar Atmakusuma, MS Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Ketua Departemen
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Analisis Risiko Produksi Usaha Peternakan Ayam Kampung di Jimmy’s Farm Cipanas Kabupaten Cianjur Jawa Barat” yang telah dilaksanakan sejak bulan November 2013 sampai Januari 2014.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir Juniar Atmakusuma, MS selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan saran dan arahan. Disamping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Benny Arifin selaku pemilik peternakan Jimmy’s Farm, Bapak Yohan, dan Ibu Fauziah, yang telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada ayahanda dan ibunda, serta seluruh saudara dan keluarga atas doa, dukungan dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.
Bogor, Februari 2014
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 5
Tujuan 7
Manfaat Penelitian 7
Ruang Lingkup 8
TINJAUAN PUSTAKA 8
Usaha Peternakan Ayam Buras 8
Sumber-sumber Risiko Agribisnis 10
Metode Analisis Risiko 11
Strategi Manajemen Risiko Agribisnis 12
KERANGKA PEMIKIRAN 13
Kerangka Pemikiran Teoritis 13
Konsep Dasar Risiko 14
Klasifikasi Risiko 16
Proses Manajemen Risiko 17
Kerangka Pemikiran Operasional 20
METODE PENELITIAN 21
Lokasi dan Waktu Penelitian 21
Jenis dan Sumber Data 22
Metode Pengumpulan Data 22
Metode Pengolahan dan Analisis Data 23
Analisis Deskriptif 23
Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko (Probabilitas) 23
Analisis Dampak Risiko 25
Pemetaan Risiko 25
Penanganan Risiko 26
HASIL DAN PEMBAHASAN 27
Gambaran Umum Jimmy’s Farm 27
Lokasi Perusahaan 28
Struktur Organisasi Perusahaan 29
Proses Produksi Peternakan Ayam Kampung Pedaging 31
Persiapan Kandang dan Peralatan 31
Proses Budi Daya Ayam Kampung Pedaging 33
Pemanenan 36
Pemasaran 37
Analisis Risiko Produksi Peternakan Ayam Kampung 38
Identifikasi Sumber-Sumber Risiko Produksi 38
Analisis Dampak Sumber Risiko Produksi 45
Pemetaan Risiko Produksi 47
Strategi Penanganan Risiko Produksi 49
SIMPULAN DAN SARAN 50
Simpulan 50
Saran 51
DAFTAR PUSTAKA 51
DAFTAR TABEL
1 Struktur PDB menurut lapangan usaha tahun 2008-2012 1
2 Populasi ternak 2009-2013 2
3 Populasi ayam buras di Indonesia tahun 2010-2013 3
4 Konsumsi rata-rata per kapita daging dan telur ayam buras di Indonesia
tahun 2008-2012 4
5 Studi terdahulu yang berkaitan dengan penelitian. 13
6 Perkembangan umur ayam kampung pedaging 33
7 Program Vaksinasi 34
8 Probabilitas sumber risiko dari setiap sumber risiko 44
9 Dampak risiko dari setiap sumber risiko 46
10 Status risiko dari sumber risiko 47
DAFTAR GAMBAR
1 Deplesi ayam kampung pedaging di Jimmy's Farm periode November
2010 - November 2013 6
2 Hubungan antara expected income dan income variance 15
3 Hubungan risiko dengan return 15
4 Proses pengelolaan risiko perusahaan 18
5 Peta risiko 19
6 Kerangka pemikiran operasional penelitian 21
7 Peta risiko 26
8 Pencegahan risiko (Preventif) 27
9 Penanganan Mitigasi risiko 27
10 Struktur Organisasi Jimmy’s Farm 30
11 Saluran pemasaran ayam kampung di Jimmy’s Farm 37
DAFTAR LAMPIRAN
1 Data produksi per periode ayam kampung pedaging di Jimmy’s Farm
November 2010 - November 2013 53
2 Analisis probabilitas sumber risiko penyakit 54
3 Analisis probabilitas sumber risiko suhu udara dalam kandang 54
4 Analisis probabilitas sumber risiko non penyakit 55
5 Analisis dampak sumber risiko penyakit 55
6 Analisis dampak sumber risiko suhu udara dalam kandang 56
7 Analisis dampak sumber risiko non penyakit 56
8 Keadaan Jimmy’s Farm 57
9 Perkandangan 57
10 Sumber risiko produksi penyakit 57
11 Sumber risiko produksi suhu udara dalam kandang 58
12 Sumber risiko produksi non penyakit 58
13 Hama di areal peternakan 59
14 Pergudangan 59
15 Sarana produksi 60
16 Pembersihan peralatan dan perkandangan 60
17 Proses budi daya ayam kampung pedaging 61
18 Proses vaksinasi 62
19 Proses penjualan 62
Latar Belakang
Sektor pertanian terdiri atas beberapa sub sektor, yaitu tanaman pangan dan hortikultura, tanaman perkebunan, kehutanan, peternakan dan hasil-hasilnya serta perikanan. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang berkontribusi besar dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia. Peranan dan kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Struktur PDB menurut lapangan usaha tahun 2008-2012
Lapangan usaha Tahun (persen)
2008 2009 2010 2011 2012 Pertanian, Peternakan, Kehutanan,
Perikanan 14.48 15.29 15.29 14.70 14.44
Pertambangan dan Penggalian 10.94 10.56 11.16 11.85 11.78 Industri Pengolahan 27.81 26.36 24.80 24.33 23.94 Listrik, Gas dan Air Bersih 0.83 0.83 0.76 0.77 0.79 Konstruksi 8.48 9.90 10.25 10.16 10.45 Perdagangan, Hotel dan Restoran 13.97 13.28 13.69 13.80 13.90 Pengangkutan dan Komunikasi 6.31 6.31 6.56 6.62 6.66 Keuangan, Real Estat dan Jasa
Perusahaan 7.44 7.23 7.24 7.21 7.26
Jasa-jasa 9.74 10.24 10.24 10.56 10.78
PDB 100 100 100 100 100
Sumber : Badan Pusat Statistika (2012)
Dalam kurun waktu tahun 2008-2012 diperoleh tiga sektor ekonomi yang memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan PDB bila dilihat dari lapangan usahanya. Ketiga sektor tersebut adalah sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan. Tabel 1 menunjukkan bahwa sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang positif selama lima tahun terakhir. Kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDB pada tahun 2008-2012 menempati urutan kedua tertinggi setelah sektor industri pengolahan. Hal ini merupakan bukti dan gambaran dari pembangunan pertanian Indonesia dalam peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya semakin baik.
Tabel 2 Populasi ternak 2009-2013
Keterangan : (*) adalah angka sementara; Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2013)
Pada Tabel 2 dapat dilihat tiga golongan ternak yaitu ruminansia, non-ruminansia, dan unggas. Pada ternak unggas terdapat tiga ternak yang memiliki jumlah populasi terbesar. Ketiga ternak tersebut adalah ayam buras, ayam ras petelur dan ayam ras pedaging. Ayam ras pedaging dan ras petelur memberikan kontribusi terbesar terhadap pangan di Indonesia karena selain penyedia nutrisi dan protein murah, ayam ras juga banyak dibudidayakan para oleh industri peternakan besar. Ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam kampung tiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah populasi, dimana peningkatan populasi ayam buras terbesar terjadi pada tahun 2012-2013 yaitu sebesar 5.79 persen. Jumlah populasi yang besar dan terus meningkat ini merupakan potensi yang harus dikelola dengan baik agar usaha peternakan ayam buras bisa terus berkembang, baik dalam skala peternakan besar maupun dalam skala peternakan kecil atau peternakan rakyat.
juga ditunjang dengan terdistribusinya komoditas ternak ini diberbagai pulau atau provinsi di seluruh wilayah Indonesia. Perkembangan populasi ayam buras di wilayah provinsi Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Populasi ayam buras di Indonesia tahun 2010-2013
Provinsi 2010 2011 2012 2013 (*)
Jawa Barat 27 394 516 27 396 416 27 224 219 29 112 107 Jawa Tengah 36 908 672 38 296 383 40 868 263 41 828 668 DI Yogyakarta 3 861 676 4 019 960 4 060 722 4 116 448 Jawa Timur 24 006 814 29 310 251 32 143 678 32 625 833 Banten 9 784 326 10 026 124 9 492 178 9 991 360 Non Pulau Jawa 155 588 100 155 290 500 160 775 367 172 780 789 Total 257 544 104 264 339 634 274 564 427 290 455 205
Keterangan : (*) adalah angka sementara; Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2013)
Berdasarkan Tabel 3, jumlah populasi ayam buras yang berada di tiap wilayah provinsi cenderung berfluktuasi, namun secara keseluruhan jumlah total populasi ayam buras yang ada di Indonesia cenderung mengalami peningkatan tiap tahunnya. Terdapat tiga provinsi yang menjadi sentra produksi terbesar ayam buras di Indonesia, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jumlah populasi ayam buras pada Provinsi Jawa Barat cenderung stabil dengan jumlah populasi berkisar 27.8 juta ekor dimana peningkatan populasi ayam buras terbesar di Jawa Barat terjadi pada tahun 2012-2013 yaitu sebesar 6.93 persen. Hal ini dikarenakan Provinsi Jawa Barat merupakan sentra pembudidaya ayam buras yang menjadi penyedia bahan baku untuk kota-kota besar seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).
Tabel 4 Konsumsi rata-rata per kapita daging dan telur ayam buras di Indonesia
Tabel 4 menunjukkan tingkat konsumsi rata-rata per kapita terhadap produk ayam buras yaitu daging dan telur mengalami fluktuasi. Pada tahun 2009 hingga 2011 konsumsi rata-rata per kapita terhadap produk ayam buras mengalami kondisi yang stabil dengan rata-rata konsumsi daging dan telur ayam buras yaitu sebesar 0.59 persen dan 3.70 persen. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat mulai mengarah ke sifat alamiah (back to nature) dikarenakan persepsi masyarakat terhadap ayam kampung adalah ayam yang asli, masih berkaitan dengan alam, dan belum tercemar oleh zat-zat berbahaya sehingga memiliki peluang bisnis bagi para peternak untuk mengembangkan usahanya (Suharno 2005). Namun, pada tahun 2012 mengalami penurunan yang signifikan yaitu untuk daging sebesar 16.77 persen dan telur sebesar 26.37 persen dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan naiknya harga pakan ternak yang disebabkan kenaikan bea impor bahan baku pakan ternak sebesar 5 persen per 1 Januari 2012 sehingga mengakibatkan harga ayam dan unggas lainnya akan naik yang pada akhirnya berdampak pada penurunan konsumsi produk ayam pada tahun 20121.
Prospek dari pengembangan usaha peternakan ayam kampung ini masih memiliki peluang yang cukup besar, karena jumlah populasi ayam kampung yang terus meningkat tiap tahunnya diimbangi konsumsi rata-rata per kapita yang terus meningkat. Namun, disamping perkembangan tersebut terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh peternak, salah satunya adalah adanya risiko produksi. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian untuk mengidentifikasi dan menganalisis penyebab yang mempengaruhi proses produksi, supaya langkah strategi dapat diambil oleh pengambil keputusan dan dapat diterapkan pada budi daya ayam kampung. Tingkat dan dampak kerugian yang disebabkan pada saat proses produksi juga perlu diperhitungkan karena sangat berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh peternak. Alternatif strategi yang kemudian diterapkan pada peternakan atau perusahaan merupakan langkah terbaik untuk menekan probabilitas dan dampak risiko dalam usaha peternakan ayam kampung serta dapat memaksimalkan keuntungan yang akan diperoleh peternak ataupun pengusaha.
1
Perumusan Masalah
Jimmy's Farm telah memulai produksi ayam kampung sejak tahun 1998. Lokasi peternakan berada di daerah Cipanas dengan lahan yang dimiliki sekitar 4.5 hektar. Jenis ayam kampung yang dipelihara sebanyak tujuh jenis ayam kampung yaitu persilangan ayam Kedu, ayam Bangkok, ayam Hutan, ayam Pelung, ayam Cemani, ayam Sentul, dan ayam Kapas. Jimmy's Farm merupakan salah satu usaha peternakan ayam kampung yang dibudidayakan secara intensif dengan memiliki beberapa unit kegiatan, yaitu unit pembibitan ayam kampung untuk menghasilkan telur tetas ayam kampung, unit penetasan (hatchery) untuk menetaskan telur dari pembibitan ayam kampung, dan unit budi daya ayam kampung pedaging untuk menghasilkan ayam kampung pedaging yang pada akhirnya akan dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat. Pada unit budi daya ayam kampung pedaging tiap periode produksinya memiliki jumlah populasi yang berbeda-beda yang dapat dilihat pada Lampiran 1. Hal ini dikarenakan DOC (day old chick) atau anak ayam umur sehari yang digunakan untuk budi daya ayam kampung pedaging merupakan hasil sisa dari penjualan, namun kualitas DOC yang digunakan tidak berbeda dengan kualitas DOC yang telah dijual. Jumlah populasi yang dibudidayakan berkaitan erat dengan kepadatan dan luasan kandang yang digunakan. Dengan jumlah populasi yang dibudidayakan berbeda-beda, namun Jimmy's Farm mengikut standart luasan kandang yang berlaku, yaitu untuk DOC 100 ekor per meter persegi dan diturunkan hingga minggu keempat menjadi 10 ekor per meter persegi yang digunakan hingga panen sekitar 60 sampai 75 hari. Sebagaimana bentuk usaha peternakan pada umumnya, Jimmy's Farm juga menghadapi banyak kendala, salah satunya adalah risiko produksi. Risiko produksi dapat disebabkan adanya perubahan cuaca atau iklim yang kurang menentu, serangan hama dan penyakit, proses vaksinasi, kepadatan kandang, manajemen sekam, kualitas dan palatabilitas (derajat kesukaan pada pakan tertentu yang terpilih dan dimakan) terhadap pakan yang diberikan, dan sumber daya manusia yang pada akhirnya mengakibatkan kematian atau mortalitas pada ayam. Indikator adanya risiko produksi dapat dilihat pada tingkat deplesi dari populasi per periode produksi yang terjadi di Jimmy's Farm sangat berfluktuasi dan tidak sesuai dengan harapan pemilik usaha. Deplesi adalah penyusutan sumber daya atau berkurangnya jumlah populasi ayam kampung pada saat proses budi daya2. Deplesi yang dimaksud merupakan gabungan dari kematian ayam (mortalitas) dan ayam yang afkir (culling) yang disebabkan oleh beberapa faktor produksi. Jimmy’s Farm memiliki standar tingkat deplesi sebesar 20-30 persen dari populasi setiap periodenya dan perusahaan mengusahakan agar tingkat deplesi tidak lebih dari standart. Hal serupa juga dijelaskan oleh Suharno (2005) yang menjelaskan bahwa tingkat kematian ayam kampung pedaging dihitung sebesar 20 persen yang merupakan angka maksimal karena apabila dibudidayakan dengan baik tingkat deplesi ayam kampung dapat diperkecil. Fluktuasi tingkat deplesi yang terjadi di Jimmy's Farm dapat dilihat pada Gambar 1.
2
Sumber : Jimmy’s Farm 2013 (diolah)
Gambar 1 Deplesi ayam kampung pedaging di Jimmy's Farm periode November 2010 - November 2013
Tingkat deplesi ayam kampung pedaging yang terjadi di Jimmy's Farm sangat berfluktuasi. Pada Gambar 1 dapat dijelaskan bahwa dari ke-12 periode produksi ayam kampung dapat terlihat ada empat periode yang melebihi tingkat deplesi 20 persen. Hal ini disebabkan beberapa penyebab, salah satu penyebabnya adalah pada saat periode pertumbuhan yaitu umur sehari hingga umur ayam 30 hari yang rentan terhadap kematian lebih kecil atau sama dengan 27 persen (Prayogi 2011), sehingga pada periode tersebut membutuhkan perhatian yang lebih. Dari Gambar 1 juga terlihat terjadi deplesi yang sangat tinggi dan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan periode-periode yang lainya, yaitu pada periode kesembilan sebesar 73.57 persen. Hal ini disebabkan pada saat periode tersebut sedang terjadi hujan yang lebat dan berkepanjangan sehingga terjadinya serangan penyakit ND atau tetelo yang mengakibatkan kematian sangat besar, yaitu sebanyak 63.1 persen dan sisa deplesi sebesar 10.47 persen akibat dari penyebab lainnya. Hal ini diperkuat oleh Krista dan Harianto (2010) yang menjelaskan bahwa tingkat kematian yang disebabkan oleh serangan penyakit tetelo ini cukup tinggi, yaitu apabila tingkat serangan ganas bisa mencapai 100 persen. Pada periode kesembilan ini Jimmy's Farm mengalami kerugian yang cukup besar, sehingga dilakukan evaluasi terhadap manajemen yang telah diterapkan. Sebelum dilakukan penanganan, maka harus diketahui bagaimana tingkat kemungkinan dan dampak risiko yang ditimbulkan dari masing-masing sumber risiko.
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di atas, maka segala risiko produksi harus bisa dicegah dan ditangani dengan baik agar segala bentuk risiko produksi dapat diminimalkan yang pada akhirnya berdampak terhadap kesuksesan perusahaan. Hal ini merupakan sesuatu yang menarik untuk diteliti sehingga dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu :
1 Apa saja sumber-sumber risiko produksi yang terdapat pada peternakan ayam kampung di Jimmy's Farm?
2 Bagaimana probabilitas dan dampak risiko dari sumber-sumber risiko produksi pada peternakan ayam kampung di Jimmy's Farm?
3 Bagaimana alternatif strategi penanganan risiko yang dapat diterapkan oleh Jimmy's Farm untuk mengendalikan sumber-sumber risiko produksi dalam kegiatan usaha budi daya ayam kampung?
Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan:
1 Mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi pada peternakan ayam kampung di Jimmy's Farm.
2 Menganalisis probabilitas dan dampak risiko yang disebabkan oleh sumber-sumber risiko produksi pada peternakan ayam kampung di Jimmy's Farm. 3 Menganalisis alternatif strategi yang dapat diterapkan oleh peternakan ayam
kampung di Jimmy's Farm untuk mengendalikan sumber-sumber risiko produksi dalam kegiatan usaha budi daya ayam kampung.
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup
Ruang lingkup analisis dan pembahasan penelitian ini meliputi :
1 Usaha peternakan ayam kampung pedaging di Jimmy's Farm pada kandang Kontrak, bukan pembibitan ayam kampung ataupun hatchery dikarenakan adanya rekomendasi dari pemilik usaha untuk mengevaluasi pada unit ayam kampung pedaging, dan karena keterbatasan data dan waktu.
2 Penelitian ini difokuskan mengenai analisis risiko produksi, yaitu analisis probabilitas dan dampak risiko dari setiap sumber risiko yang ditimbulkan, serta memberikan alternatif strategi pada perusahaan.
3 Penelitian ini menggunakan 12 data periode produksi yaitu berupa data
history atau time series dari bulan November 2010 hingga November 2013. Data tersebut terdiri atas jumlah populasi DOC, data hasil produksi atau panen, data deplesi, penyebab terjadinya kematian ayam kampung, dan data lain yang terkait dengan penelitian.
TINJAUAN PUSTAKA
Usaha Peternakan Ayam Buras
Ayam buras atau biasa disebut dengan ayam kampung merupakan ayam jenis lokal Indonesia. Ayam lokal ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia, memiliki beberapa rumpun dengan karakterisitk morfologis yang berbeda dan khas berdasarkan daerah asal. Saat ini perkembangan ayam kampung mengalami kemajuan yang cukup pesat diimbangi dengan peningkatan pendapatan dan peningkatan kesadaran gizi masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari berkembangnya jumlah populasi ayam kampung dan peningkatan konsumsi rata-rata hasil produksi ayam kampung setiap tahunnya. Akibat dari perkembangan ayam kampung tersebut, para pelaku bisnis dituntut untuk meningkatkan produksinya dalam menjamin ketersediaan hasil produk ayam kampung, baik dalam bentuk hidup maupun dalam bentuk daging dan telur, serta kuantitas dan kualitas yang tetap terjaga.
Daerah Provinsi Jawa Barat adalah salah satu dari beberapa provinsi di Indonesia yang termasuk salah satu sentra terbesar dalam pembudidayaan ayam kampung yang menyebar di beberapa wilayah dan kabupaten. Menurut Departemen Pertanian (2012) tingkat rata-rata konsumsi per kapita terhadap hasil produksi ayam buras cenderung relatif stabil. Konsumsi daging ayam buras pada tahun 2011 sebesar 0.63 kilogram per kapita per tahun yang tidak mengalami penurunan maupun peningkatan (tetap) dibandingkan dengan konsumsi tahun sebelumnya. Begitu juga dengan konsumsi telur ayam kampung, yaitu pada tahun 2011 sebesar 3.75 butir per kapita per tahun dan mengalami peningkatan sebesar 1.40 persen dibandingkan dengan konsumsi tahun 2010 sebesar 3.70 butir per kapita per tahun. Sekalipun ada kecenderungan peningkatan kebutuhan, tetapi konsumsi terhadap ayam kampung untuk kebutuhan sehari-hari cenderung stabil bahkan meningkat.
Berbagai kondisi ini merupakan gambaran bahwa besarnya peluang yang bisa diraih dari budi daya ayam kampung, baik itu pedaging maupun petelur. Terlebih lagi bila dalam budi daya dapat di terapkan manajemen yang baik dan tepat sehingga hasil yang didapatkan bisa sangat optimal. Adapun keunggulan-keungulan yang dikemukakan oleh Krista dan Harianto (2010), yaitu:
1 Peluang pasar besar dan berkesinambungan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah permintaan yang tinggi terhadap hasil produksi ayam kampung, bahkan dari para peternak masih belum mampu untuk memenuhi permintaan sepenuhnya. Seperti yang terjadi pada salah satu kelompok pembudidaya ayam kampung berskala besar di Jawa Barat yang mengungkapkan bahwa permintaan yang datang mencapai 35 000 ekor per bulan, namun hanya mampu dipenuhi sebesar 25 persen.
2 Belum banyak yang membudidayakan secara intensif. Jumlah peternak ayam kampung sampai sejauh ini belum memadai, ditambah lagi dengan skala budi daya para peternak yang masih tergolong kecil di berbagai daerah.
3 Harga jual tinggi dan relatif stabil. Hal ini jelas terlihat bahwa harga dari hasil produksi ayam kampung yaitu daging dan telur lebih tinggi bila dibandingkan dengan dengan ayam ras. Selain harga jualnya tiggi, harga jual ini relatif lebih stabil dibandingkan dengan harga jual ayam ras yang seringkali berfluktuasi dan belum bisa menyeimbangi harga dari ayam kampung.
4 Semakin lama pemeliharaan, harga jual semakin mahal. Keunggulan lain ini terlihat pada ayam kampung pedaging, karena semakin bertambah bobot tubuh ayam maka harga jual pun semakin tinggi sehingga peternak sangat diuntungkan dengan kondisi ini karena ayam dapat dijual kapan saja terutama pada saat harga sedang tinggi seperti menjelang hari raya.
5 Untung besar dari sedikit populasi. Hal ini dibuktikan dari sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih berpenghasilan sedang hingga rendah cukup diselamatkan oleh budi daya ayam kampung yang cocok diusahakan dalam skala rumah tangga.
6 Relatif tahan terhadap penyakit dan stres. Ayam kampung relatif tahan terhadap serangan penyakit, baik flu burung maupun berbagai penyakit unggas lainnya.
Perpres No 77/2007. Hal ini merupakan keunggulan untuk dapat lebih mensejahterahkan masyarakat menengah kebawah karena tidak akan ada campur tangan industri besar yang diijinkan untuk turut membudidayakan ayam kampung sehingga pasokan daging dan telur ayam kampung di pasaran akan tetap terkontrol dengan baik.
8 Kebanggaan beternak unggas lokal. Beternak unggas lokal yaitu ayam kampung dengan sistem intensif merupakan kebanggan tersendiri bagi peternak, karena selain masih sedikit yang beternak secara intensif dapat juga sebagai percontohan bagi peterakan rakyat lainnya.
Sumber-sumber Risiko Agribisnis
Usaha pertanian, peternakan maupun perikanan tidak mudah untuk dilakukan, karena pada kenyataannya pengembangan sektor ini dihadapkan pada salah satu kendala yang cukup berat untuk dihadapi yaitu tingginya tingkat risiko. Sumber-sumber penyebab risiko produksi sebagian besar disebabkan oleh faktor-faktor seperti perubahan cuaca atau suhu, serangan hama dan penyakit, kualitas penggunaan input serta kesalahan teknis dari tenaga kerja (human error).
Pada penelitian Amelia (2012) menemukan bahwa adanya risiko produksi pada peternakan ayam broiler dengan sumber-sumber risiko produksi yang dialami berasal dari ayam broiler afkir, serangan penyakit, dan kondisi cuaca. Hasil dari penelitian Aziz (2009) menjelaskan bahwa risiko yang tinggi sangat dirasakan oleh pemilik usaha ternak ayam broiler, yaitu risiko harga, risiko produksi berupa cuaca dan iklim dan juga penyakit dan risiko sosial. Begitu juga yang diungkapkan Nugraha (2011) yang menemukan faktor-faktor produksi pada peternakan plasma ayam broiler adalah jumlah DOC, pakan, Protect Enro,
Neocamp, Doxerin Plus, vaksin, pemanas serta tenaga kerja. Sumber risiko produksi yang dialami adalah pegawai dan cuaca yang tidak menentu. Pada penelitian Pinto (2011) menjelaskan bahwa terdapat faktor yang menyebabkan timbulnya sumber risiko produksi pada peternakan ayam broiler dengan hal yang menjadi perhatian dan peranan penting yaitu keberadaan sumber daya manusia (SDM). Pada peternakan milik Bapak Restu didapati empat jenis sumber risiko produksi, yaitu kepadatan ruang, perubahan cuaca, hama predator, dan penyakit. Hal serupa juga diungkapkan oleh Ruslan (2012) dalam penelitiannya bahwa terdapat sumber-sumber risiko produksi yang teridentifikasi pada usaha pembibitan domba ekor tipis, yaitu mortalitas anakan, mortalitas indukan betina, sumber daya manusia, cuaca dan kesulitan persalinan dan keguguran.
Berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu diperoleh variabel-variabel yang kemungkinan dapat menyebabkan risiko produksi yaitu cuaca atau iklim, serangan hama dan penyakit, sumber daya manusia atau tenaga kerja, efektivitas dan kualitas penggunaan input, dan ayam afkir. Variabel-variabel tersebut diduga menjadi sumber risiko pada peternakan ayam kampung di Jimmy’s Farm yang akan diteliti dalam penelitian ini.
Metode Analisis Risiko
Metode analisis risiko digunakan peneliti untuk mengetahui status dari setiap sumber risiko yang terjadi di perusahaan dan juga sebagai langkah untuk mengetahui alternatif strategi yang mungkin dapat diterapkan oleh perusahaan untuk meminimalkan risiko yang terjadi. Pada penelitian Amelia (2012), Aziz (2009), Nugraha (2011), Pinto (2011), dan Ruslan (2012) menggunakan analisis deskriptif untuk mengetahui gambaran umum terhadap situasi atau kejadian di peternak dan menganalisis sumber-sumber risiko dan manajemen yang telah dilakukan perusahaan sebelum dilakukan penelitian. Dengan sumber data yang dianalisis secara kualitatif dapat memberikan gambaran bagaimana pelaku usaha mengambil suatu keputusan secara subjektif, dan dapat diketahui seberapa efektif manajemen risiko produksi yang telah diterapkan.
Dalam penelitian Amelia (2012) dan Aziz (2009), pengolahan data secara kuantitatif menggunakan metode berupa Analisis risiko yang digunakan untuk menganalisis tingkat risiko yang dihadapi oleh usaha peternakan. Analisis risiko yang digunakan adalah dengan menghitung expected return, ragam (variance), simpangan baku (standarddeviation), koefisien variasi (coefficientvariation), dan batas bawah pendapatan berdasarkan tingkat pendapatan yang diperoleh. Sumber data kuantitatif yang digunakan berupa laporan biaya, penerimaan, dan pendapatan perusahaan per periode pengamatan. Laporan ini dapat memberikan informasi mengenai data yang dicari, karena penilaian risiko dilakukan dengan mengukur nilai penyimpangan terhadap return dari suatu aset.
maka akan dibuat beberapa alternatif strategi untuk dapat digunakan oleh perusahaan dalam menghadapi risiko yang dialami.
Dalam penelitian Nugraha (2011) menggunakan data panel yaitu gabungan antara data time series dan cross section. Pengolahan data menggunakan bantuan alat aplikasi Microsoft Excel, Minitab versi 14 serta Eviews 6. Dalam analisis risiko produksi menggunakan model Just dan Pope, yaitu fungsi produksi rata-rata dan fungsi variance, yang masing-masing fungsi tersebut dipengaruhi oleh penggunaan variabel-variabel produksi tersebut sehingga fungsi variance dan produksi diketahui. Metode lain yang digunakan adalah model ARCH-GARCH yang dipilih menjadi alat analisis dalam penelitian dengan pertimbangan bahwa model tersebut merupakan model yang dapat menjawab sekaligus permasalah yang diteliti oleh penulis, model tersebut mampu menjawab selain fungsi produksi rata-rata dan fungsi variance produksi.
Strategi Manajemen Risiko Agribisnis
Alternatif strategi penanganan risiko merupakan langkah akhir yang perlu dilakukan untuk menekan probabilitas dan dampak risiko produksi sehingga dapat di minimalkan kemungkinan dan kerugian yang terjadi. Pada umumnya risiko dapat diminimalisasi dengan cara penaganan yang baik dan intensif, penggunaan teknologi secara tepat guna, dan penggunaan input seefektif mungkin. Beberapa strategi yang sering digunakan untuk menangani risiko, yaitu dengan menghindari atau mencegah risiko, mengatasi atau mengendalikan risiko, dan bahkan bila mungkin dapat mengalihkan risiko yang dihadapi ke perusahaan yang lainnya.
Dalam penelitian Aziz (2009), hasil analisis menunjukkan bahwa manajemen risiko yang dapat diterapkan pada usaha peternakan adalah manajemen risiko harga, manajemen risiko produksi dan manajemen risiko sosial. Alternatif manajemen risiko diantaranya adalah mendatangkan tim medis yang dikepalai oleh seorang dokter hewan yang bertanggung jawab penuh terhadap kesehatan ayam secara keseluruhan. Alternatif lain yang dapat diterapkan adalah memperbaiki teknologi dalam hal pengaturan sirkulasi. Pada penelitian Nugraha (2011), dengan menggunakan Model Just dan Pope menemukan bahwa faktor-faktor produksi yang termasuk menimbulkan variance produksi adalah jumlah DOC, Protect Enro, dan tenaga kerja. Sedangkan faktor produksi yang dapat mengurangi risiko adalah pakan, Doxerin Plus, Neocamp, vaksin, serta pemanas. Sumber risiko produksi yang dialami oleh peternak adalah sumber daya manusia dan cuaca atau iklim yang tidak menentu. Alternatif penanganan risiko yang disarankan berupa pencegahan risiko, yaitu dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusianya dengan cara memberikan penyuluhan, serta membuat atau memperbaiki fasilitas agar cuaca yang tidak menentu dapat diatasi dengan fasilitas yang memadai.
sumber risiko kondisi cuaca dan serangan penyakit. Pada penelitian Pinto (2011), strategi preventif dilakukan pada sumber risiko hama predator, kepadatan ruang, dan penyakit, sedangkan strategi mitigasi yang disarankan untuk mengatasi sumber risiko penyakit. Sedangkan dalam penelitian Ruslan (2012), strategi preventif dan mitigasi yang diusulkan untuk sumber risiko mortalitas anakan. Dengan adanya strategi ini diharapkan dapat memperkecil probabilitas dan dampak yang disebabkan oleh sumber risiko yang pada akhirnya dapat diminimalkan kerugian yang ada.
Berdasarkan penelitian terdahulu, maka dapat dilihat persamaan penelitian ini dengan peneliti terdahulu, yaitu menggunakan metode nilai standar atau z-score dan metode VaR (Value at Risk). Sedangkan perbedaan peneliti terdahulu dengan penelitian ini adalah tempat usaha dan komoditas yang dianalisis, yaitu peternakan ayam kampung. Beberapa penelitian terdahulu telah dirasa cukup untuk digunakan sebagai bahan acuan dan referensi dalam penelitian ini. Studi penelitian terdahulu yang menjadi bahan acuan dalam penelitian ini ditampilkan dalam Tabel 5.
Tabel 5 Studi terdahulu yang berkaitan dengan penelitian.
Penulis Judul Penelitian Metode Analisis
Faishal Abdul Aziz (2009)
Analisis risiko dalam usaha ternak ayam broiler (studi kasus usaha peternakan X di Desa Tapos, Kecamatan Tenjo, Kabupaten risiko produksi ayam broiler (studi kasus peternak plasma ayam broiler pada CV Dramaga Unggas Farm Kabupaten Bogor) ayam broiler milik Bapak Restu di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang,
Analisis risiko produksi ayam broiler pada peternakan Bapak Maulid di Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Bukit Baru Kota Palembang
Analisis deskriptif, analisis probabilitas, analisis dampak, pemetaan, dan penanganan risiko Ruslan (2012) Analisis risiko produksi usaha pembibitan
domba di Mitra Tani Farm, Desa Tegal Waru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten
relevansi yang sangat erat dalam permasalahan penelitian. Oleh karena itu akan dijelaskan secara terperinci pada sub-sub bab berikut.
Konsep Dasar Risiko
Petani menghadapi situasi risiko dan ketidakpastian hampir setiap hari karena ada keterkaitan dengan alam yang memiliki dampak yang signifikan pada pertanian. Sebagai contoh, mungkin bila hujan tidak turun secara terus menerus dapat membuat lahan pertanian menjadi kekurangan air atau kekeringan, namun sebaliknya bila terjadi hujan berkepanjangan dapat menyebabkan tanaman menjadi busuk dan akhirnya gagal panen. Ketidakpastian yang dialami oleh petani disebabkan kurangnya informasi yang didapat. Ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang, sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan dikenal dengan istilah risiko. Memahami risiko merupakan titik awal untuk membantu petani maupun produsen dalam mengambil keputusan yang baik dalam situasi berisiko. Berikut ini merupakan pendapat para ahli yang diharapkan dapat membantu untuk mendapatkan pengertian risiko yang lebih lengkap dan jelas.
Menurut Harwood et al. (1999), mengungkapkan bahwa risiko adalah ketidakpastian terhadap masalah dan melibatkan probabilitas kehilangan pendapatan, mungkin membahayakan kesehatan manusia, dampak yang mempengaruhi sumber daya, jenis-jenis peristiwa yang mempengaruhi kesejahteraan seseorang, dan sering dikaitkan dengan kesulitan dan kerugian. Ketidakpastian merupakan situasi dimana seseorang tidak mengetahui kepastian terhadap apa yang akan terjadi. Lebih jelasnya Harwood et al, menjelaskan bahwa manajemen risiko mencakup pemilihan diantara berbagai alternatif untuk mengurangi efek dari risiko. Hal ini biasanya membutuhkan evaluasi timbal balik antara perubahan risiko, keuntungan yang diharapkan, kebebasan kewirausahaan, dan variabel lainnya.
Menurut Roumasset et al. (1979), Robison dan Barry (1987), Basyaib (2007) dan Djohanputro (2008), menjelaskan bahwa risiko adalah peluang terjadinya suatu kejadian yang dapat diukur oleh pengambil keputusan dan pada umumnya menimbulkan hasil yang negatif atau kerugian bagi yang mengalami kejadian. Risiko sangat erat kaitannya dengan ketidak pastian, tetapi kedua hal tersebut memiliki makna yang berbeda. Perbedaan antara risiko dan ketidakpastian adalah bahwa risiko berkaitan dengan keadaan ketidakpastian dan tingkat probabilitasnya terukur secara kuantitatif, sedangkan ketidakpastian adalah suatu peluang kejadian yang tidak dapat atau sulit diukur oleh pengambil keputusan.
Sumber: Debertin (1986)
Hubungan antara expected income dan income
2 menunjukkan hubungan antara expected incom
perilaku individu. Income variance merupakan
expected income merupakan tingkat kepuasan ku individu dalam membuat keputusan menghada adi tiga menururt Robison and Barry (1987), ya putusan yang takut terhadap risiko (Risk Averse
berusaha untuk menghindari risiko. Sikap ini adi kenaikan ragam (incomevariance) yang me kan diimbangi dengan harapan expectedincome
putusan yang netral terhadap risiko (Risk
vidu yang apabila terjadi kenaikan income var
semakin tinggi, maka expectedincome akan sei putusan yang berani terhadap risiko (Risk P
vidu yang menyukai atau tidak takut terhadap bahwa jika adanya kenaikan income variance
annya menerima expected income lebih rendah. ganggap risiko sebagai hal yang tidak perlu dikha kegiatan suatu bisnis juga dikaitkan dengan oleh pengambil risiko. Menurut Hanafi (2006 n tingkat keuntungan, yaitu semakin tinggi risi
aka akan semakin tinggi juga tingkat ke karena itu bila suatu kegiatan usaha ingin ebih tinggi, maka usaha tersebut akan menghada
itu dibutuhkan manajemen risiko usaha yang atan usaha yang dijalankan. Hubungan antara r
ambar 3.
Gambar 3 Hubungan risiko dengan return
Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa semakin besar risiko yang dihadapi maka semakin besar pula return yang diperoleh, atau dengan istilah yang dikenal yaitu high risk high return, dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, agar suatu kegiatan usaha dengan risiko yang besar dapat memberikan return
tinggi, meskipun risiko yang diperkirakan terjadi maka pelaku usaha dapat melakukan pengelolaan terhadap risiko tersebut. Dengan mengetahui besarnya risiko yang dihadapi maka pengambil keputusan dalam menerapkan alternatif strategi akan lebih efisien.
Klasifikasi Risiko
Menurut Kountur (2008), menjelaskan bahwa risiko merupakan suatu kejadian yang masih merupakan kemungkinan, dan apabila terjadi akan menimbulkan kerugian. Selanjutnya Kountur menjelaskan bahwa ada beberapa kategori risiko yang dapat dilihat dari beberapa sudut pandang setiap pelaku bisnis. Pertama, risiko dapat dilihat dari sudut pandang penyebab, terdiri atas risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan merupakan risiko yang berasal dari faktor-faktor keuangan, seperti harga, tingkat bunga, dan mata uang asing. Sedangkan risiko operasional merupakan risiko yang berasal dari faktor-faktor non-keuangan seperti manusia, teknologi, dan alam. Kemudian yang kedua risiko dari sudut pandang akibat, terdiri atas risiko murni dan risiko spekulatif. Risiko murni merupakan risiko yang terjadi dari suatu kejadian yang berakibat merugikan dan tidak memungkinkan adanya keuntungan. Risiko spekulatif adalah risiko yang memungkinkan terjadinya kerugian tetapi juga memungkinkan terjadinya keuntungan. Kemudian untuk yang ketiga risiko dari sudut pandang aktivitas dapat terjadi berdasarkan banyaknya jumlah aktivitas yang ada. Keempat, risiko dari sudut pandang kejadian merupakan salah satu bagian dari aktivitas, karena dalam suatu aktivitas pada umumnya terdapat beberapa kejadian.
Selanjutnya Harwood et al. (1999), menjelaskan bahwa kemungkinan terjadinya risiko produksi dalam pertanian lebih besar, dikarenakan selain sangat berkaitan erat dengan alam, sifat alami dari komoditi pertanian itu sendiri yang mendorong terjadinya risiko lebih besar, yaitu seperti mudah rusak, tidak tahan lama, dan membutuhkan lahan yang lebih luas. Berdasarkan penjelasan risiko yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dalam penelitian ini yang dibahas adalah risiko produksi pada peternakan ayam kampung. Adapun risiko produksi yang dihadapi berasal dari beberapa kemungkinan kejadian, yaitu: perubahan cuaca atau iklim, perubahan suhu dalam kandang, kualitas dan kuantitas pakan, proses vaksinasi, hama, penyakit, kanibalisme, kepadatan kandang, manajemen sekam, non penyakit, serta SDM yang sangat berperan disetiap kegiatan produksi.
Proses Manajemen Risiko
Analisis risiko merupakan upaya yang dapat dilakukan oleh suatu perusahaan untuk mengetahui tingkatan risiko yang dialami, sehingga dapat dilakukan antisipasi ataupun penanganan terhadap risiko yang terjadi. Keberhasilan suatu perusahaan ditentukan oleh kemampuan pengelola dalam menggunakan berbagai sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan adanya analisis risiko, maka dapat diketahui manajemen risiko yang baik, sehingga segala kemungkinan kerugian yang dapat menimpa perusahaan dapat diminimalkan, dan pada akhirnya akan memaksimalkan keuntungan perusahaan.
Sumber : Kountur (2008)
Gambar 4 Proses pengelolaan risiko perusahaan
1 Identifikasi Risiko
Tahapan pertama adalah mengidentifikasi risiko-risiko yang kemungkinan atau telah terjadi pada perusahaan. Banyak risiko yang terjadi dalam perusahaan, namun tidak semua risiko harus diidentifikasi, karena apabila semua risiko harus diidentifikasi maka tidak akan pernah selesai, dan juga membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar. Bentuk risiko yang harus ditangani adalah risiko yang memiliki tingkatan yang tinggi, bukan berarti risiko dengan tingkatan yang lebih kecil tidak penting, melainkan membuat prioritas terhadap risiko dengan tingkatan dan dampak kerugian yang besar. Lingkup identifikasi risiko adalah unit atau bagian di dalam perusahaan.
2 Pengukuran Risiko
Pada dasarnya, pengukuran risiko mengacu pada dua faktor, yaitu: kuantitas risiko dan kualitas risiko. Kuantitas risiko terkait dengan berapa banyak nilai yang rentan terhadap risiko, sedangkan kualitas risiko terkait dengan kemungkinan suatu risiko muncul. Semakin tinggi kemungkinan risiko terjadi, semakin tinggi pula risikonya. Pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui tingkatan masing-masing sumber risiko yang terjadi. Pengukuran yang dilakukan berupa dengan mengukur kemungkinan atau probabilitas terjadinya risiko dan pengukuran dampak risiko untuk dapat diketahui status yang dihasilkan setiap sumber risiko. Metode yang digunakan dalam pengukuran berupa metode nilai standar (z-score), dikarenakan pengukuran probabilitas pada komoditas pertanian memerlukan data historis dan dalam bentuk kontinu karena bisa dalam bentuk desimal. Untuk pengukuran dampak digunakan metode Value at Risk (VaR), dikarenakan data yang digunakan berbentuk historis. Setelah diketahui probabilitas dan dampak yang terjadi, maka dapat diketahui status risikonya dan langkah selanjutnya adalah pemetaan. Pemetaan risiko merupakan gambaran terhadap posisi suatu risiko yang kemudian dapat diketahui tingkat kepentingan risiko untuk dilakukan manajemen risiko berdasarkan tingkatan risiko yang terjadi. Berikut peta risiko yang digambarkan pada Gambar 5.
PROSES OUTPUT
Evaluasi Pengukuran risiko
Penanganan risiko Identifikasi risiko
Sumber : Kountur (2008)
Gambar 5 Peta risiko
Pada peta risiko dapat dijelaskan bahwa pada sumbu vertikal menggambarkan probabilitas, sedangkan pada sumbu horizontal menggambarkan dampak. Probabilitas dan dampak dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu besar dan kecil. Batas antara besar dan kecil ditentukan oleh pemilik perusahaan. Kuadran satu merupakan kuadran yang memiliki nilai probabilitas besar, namun dampak yang ditimbulkan kecil. Kuadran dua merupakan kuadran yang memiliki nilai probabilitas dan dampak yang besar, yaitu melebihi batas normal perusahaan. Pada kuadran tiga, nilai probabilitas dan dampak risiko yang dihasilkan kecil, sedangkan pada kuadran empat nilai probabilitas kecil, namun dampak yang dihasilkan besar.
3 Penanganan Risiko
Setelah dilakukan identifikasi dan pengukuran maka tahapan berikutnya adalah penanganan risiko. Menurut Kountur (2008), ada empat cara menangani risiko yaitu dengan cara menghadapi risiko, menghindari risiko, mengendalikan risiko, dan mengalihkan risiko. Mengendalikan risiko adalah mengelola risiko dengan meminimalkan risiko melalui pencegahan, sedangkan mengalihkan risiko dilakukan dengan mengalihkan kepada pihak lain seperti asuransi, hedging, leasing, outsourcing dan kontrak. Terdapat dua strategi penanganan risiko, yaitu: a Preventif, dilakukan untuk menghindari terjadinya risiko. Strategi ini
dilakukan apabila probabilitas risiko besar. Strategi preventif dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya :
1) Membuat atau memperbaiki sistem dan prosedur 2) Mengembangkan sumberdaya manusia, dan 3) Memasang atau memperbaiki fasilitas fisik
b Mitigasi, adalah strategi penanganan risiko yang dimaksud untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan dari risiko. Strategi mitigasi dilakukan untuk menangani risiko yang memiliki dampak yang sangat besar. Adapun beberapa cara yang termasuk ke dalam strategi mitigasi adalah: 1) Diversifikasi, adalah cara menempatkan asset dibeberapa tempat sehingga
jika salah satu tempat terkena musibah tidak akan menghabiskan semua Kecil
Besar Probabilitas
(%)
Sedang
Besar Sedang
Kecil Dampak (Rp)
Kuadran 1 Kuadran 2
asset yang dimiliki. Diversifikasi merupakan salah satu cara pengalihan risiko yang paling efektif dalam mengurangi dampak risiko.
2) Penggabungan atau yang lebih dikenal dengan istilah merger, menekankan pola penanganan risiko pada kegiatan penggabungan dengan pihak perusahaan lain. Contoh strategi ini adalah perusahaan yang melakukan merger atau dengan melakukan akuisisi.
3) Pengalihan Risiko (transfer of risk), merupakan cara penanganan risiko dengan mengalihkan dampak dari risiko ke pihak lain. Cara ini bermaksud jika terjadi kerugian pada perusahaan maka yang menanggung kerugian tersebut adalah pihak lain. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengalihkan dampak risiko ke pihak lain, diantaranya melalui asuransi,
leasing, outsourching, dan hedging.
4 Evaluasi Risiko
Evaluasi sangat penting dilakukan karena manajemen perlu memastikan bahwa pelaksanaan pengelolaan risiko berjalan sesuai dengan rencana. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui alternatif dalam penanganan risiko pada produk pertanian yang dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan diversifikasi usaha, integrasi vertikal, kontrak produksi, kontrak pemasaran, perlindungan nilai dan asuransi.
Kerangka Pemikiran Operasional
Jimmy’s Farm merupakan peternakan ayam kampung yang berlokasi di daerah Cipanas, Kabupaten Cianjur. Luas lahan yang dimiliki Jimmy's Farm sekitar 4.5 hektar yang digunakan untuk lokasi peternakan. Luas lahan tersebut tidak dalam satu lokasi, namun terbagi menjadi tiga lokasi yang berbeda dengan total jumlah kandang sebanyak 53 kandang yang berisikan sejumlah populasi ayam kampung kurang lebih sebanyak 62 000 ekor. Namun, dalam menjalankan usaha peternakan ayam kampung selalu menghadapi kendala, yaitu dihadapkan dengan risiko dan ketidakpastian. Risiko yang sering terjadi dalam peternakan yaitu risiko produksi.
Indikasi bahwa adanya risiko produksi yang dialami dalam budi daya ayam kampung pedaging adalah adanya fluktuasi deplesi yang dihasilkan selama 12 periode produksi. Faktor penyebab terjadinya risiko produksi tersebut yaitu karena adanya perubahan cuaca yang kurang menentu, perubahan suhu dalam kandang, kualitas dan kuantitas pakan, proses vaksinasi, hama, penyakit, kanibalisme, kepadatan kandang, manajemen sekam, non penyakit, dan keterampilan tenaga kerja pada saat proses budi daya. Hal ini mengakibatkan penurunan produksi yang akan berpengaruh terhadap berkurangnya pendapatan yang diterima oleh Jimmy’s Farm.
penanganan risiko untuk meminimalkan probabilitas dan dampak dari setiap sumber risiko yang terjadi di Jimmy's Farm. Untuk lebih jelas, alur kerangka pemikiran operasional penelitian dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Kerangka pemikiran operasional penelitian
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Jimmy’s Farm yang berlokasi di Jalan Gadog I, No 10A, Cipanas, Kabupaten Cianjur. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Jimmy’s Farm merupakan salah satu perusahaan pembibitan dan budi daya ayam kampung pedaging yang cukup besar di daerah Jawa Barat karena mempunyai sarana yang cukup lengkap dengan pemeliharaan sistem intensif. Berdasarkan informasi yang telah diperoleh, Jimmy’s Farm ini memulai usaha budi daya ayam kampung sejak tahun 1998 pada saat terjadinya krisis moneter. Hal lain yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi penelitian yang akan dilakukan adalah
Peternakan Jimmy’s Farm
Adanya risiko produksi yang menyebabkan produksi tidak optimal dan berfluktuasi
Identifikasi sumber-sumber risiko produksi dengan menggunakan analisis deskriptif pada aspek produksi
Probabilitas dari sumber-sumber risiko produksi dengan metode
Nilai Standar (z-score)
Dampak dari sumber-sumber risiko produksi dengan metode
Value at Risk (VaR)
Pemetaan risiko dari hasil perhitungan probabilitas dan dampak risiko
karena ketersediaan data dan kesediaan pemilik usaha untuk dijadikan lokasi penelitian. Penelitian pada Jimmy’s Farm dilaksanakan pada bulan November 2013 - Januari 2014.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif merupakan data yang bentuknya berupa keterangan-keterangan dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penelitian yang bukan angka (non numerik). Dalam penelitian ini data kualitatif terdiri atas fakta-fakta perkembangan usaha peternakan ayam kampung, kondisi usahanya, peralatan yang digunakan, teknis pelaksanaan kegiatan usaha, identifikasi sumber-sumber risiko produksi pada peternakan ayam kampung, upaya perusahaan untuk mengatasi risiko pada setiap tahapan proses produksi ayam kampung, dan hal lainnya yang terkait dengan penelitian. Berbeda dengan data kualitatif, dalam data kuantitatif berupa data angka atau numerik yang bentuknya merupakan fakta dan informasi usaha peternakan ayam kampung yang sudah disusun dan lebih terukur. Data kuantitatif ini terdiri atas informasi jumlah produksi per periode yaitu sebanyak 12 periode produksi, kematian akibat sumber-sumber risiko, harga panen setiap periode budi daya ayam kampung.
Berdasarkan sumbernya data yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari objek penelitian, sehingga dalam pencariannya banyak menggunakan wawancara langsung dengan pemilik usaha, teknik observasi, dan pengamatan langsung untuk mengetahui kondisi fisik usaha, proses penanganan produksi, pengidentifikasian sumber risiko pada budi daya ayam kampung serta upaya yang dilakukan perusahaan untuk mengantisipasi terjadinya risiko. Data sekunder adalah jenis data yang sudah diterbitkan. Data ini diperoleh melalui studi literatur dan penelusuran dari berbagai literatur yang ada di peternakan, Badan Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, perpustakaan Institut Pertanian Bogor, website internet, buku-buku dan jurnal yang terkait. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung penelitian agar lebih jelas dan spesifik.
Metode Pengumpulan Data
pedaging dan mengetahui kegiatan budi daya apa saja yang dilakukan setiap harinya. Selain itu, pengumpulan data juga dikumpulkan melalui penelusuran pustaka, studi literatur, pencatatan semua data yang dibutuhkan dalam penelitian. Keseluruhan teknik ini digunakan bersamaan dan disesuaikan dengan kondisi dan situasi di Jimmy’s Farm.
Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dan informasi yang dikaji dan dibahas dalam penelitian ini berupa data primer dan sekunder. Data ini diolah dan dianalisis melalui beberapa metode pengolahan data yang dikelompokkan kedalam dua jenis metode yaitu: metode analisis deskriptif (kualitatif) dan metode analisis risiko (kuantitatif).
Metode analisis yang digunakan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Analsisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi pada budi daya ayam kampung pedaging di Jimmy’s Farm dan alternatif strategi yang telah diterapkan sebelumnya dalam budi daya ayam kampung pedaging untuk mengendalikan sumber risiko yang ada. Jenis data yang digunakan dalam metode deskriptif ini adalah data dan informasi kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara disertai diskusi dengan pemiilik dan juga dengan pegawai di Jimmy's Farm. Analisis risiko digunakan untuk menganalisis seberapa besar probabilitas dan dampak risiko produksi pada usaha peternakan ayam kampung. Analisis risiko ini akan menggunakan data kuantitatif yang diperoleh dari peternakan ayam kampung di Jimmy’s Farm. Sumber data yang digunakan berupa data produksi yang terkait dengan jumlah populasi ayam kampung setiap periodenya, kematian ayam kampung, serta data penjualan ayam kampung hidup. Laporan ini dapat memberikan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Analisis Deskriptif
Fungsi dari analisis deskriptif adalah untuk memberikan gambaran umum terhadap data yang diperoleh. Analisis deskriptif merupakan metode untuk menganalisis sumber-sumber risiko dan manajemen risiko peternakan ayam kampung yang telah diterapkan sebelumnya oleh Jimmy’s Farm untuk menghadapi dan meminimalkan risiko dan ketidakpastian. Selain itu analisis ini juga digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lengkap terkait proses manajemen risiko yang diterapkan berdasarkan penilaian pengusaha sebagai pengambil keputusan secara subjektif. Identifikasi ini dilakukan untuk melihat apakah manajemen risiko yang diterapkan efektif atau tidak dalam meminimalkan risiko. Dalam hal ini, data yang dideskripsikan adalah data kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik.
Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko (Probabilitas)
baik untuk usaha peternakan. Dengan mengetahui besarnya kemungkinan terjadinya risiko dalam usaha peternakan dapat diketahui risiko-risiko yang kemungkinan terjadinya besar dan risiko-risiko yang kemungkinan terjadinya kecil karena dalam menggunakan strategi penanganannya yang berbeda setiap kemungkinan terjadinya risiko. Metode yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko adalah metode nilai standar atau yang disebut
z-score. Metode ini dapat digunakan apabila ada data historis dan data berbentuk kontinu (desimal). Pada penelitian ini, yang akan dihitung adalah kemungkinan terjadinya risiko pada budi daya ayam kampung dengan data produksi ayam kampung dari sepuluh periode terakhir. Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menghitung kemungkinan terjadinya risiko dengan menggunakan metode nilai standar dengan sumber referensi menurut Kountur (2008), yaitu: 1 Menghitung rata-rata
Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata presentase deplesi ayam kampung pedaging dari setiap kejadian berisiko adalah:
Dimana :
= Nilai rata-rata deplesi per sumber risiko (persen) = Nilai deplesi per periode per sumber risiko (persen) = Jumlah data produksi (periode)
2 Menghitung nilai standar deviasi
Standar deviasi merupakan jumlah rata-rata variabilitas didalam satu set data pengamatan3. Semakin besar nilai standar deviasi, maka semakin besar jarak rata-rata setiap unit data terhadap rata-rata hitung atau semakin besar risiko yang dihadapi oleh Jimmy's Farm. Rumus yang digunakan untuk menghitung standar deviasi dari presentase deplesi ayam kampung pedaging dari setiap kejadian berisiko adalah:
Dimana:
= Standar deviasi dari deplesi per sumber risiko (persen) = Nilai deplesi per periode per sumber risiko (persen) = Nilai rata-rata deplesi per sumber risiko (persen) = Jumlah data produksi (periode)
3 Menghitung nilai standar (z-score)
Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai Z dari deplesi ayam kampung pedaging adalah:
3
Vester. 2010. Standar deviasi. http://vesterstatistics.blogspot.com/ [16 Februari 2014]
= − ̅
= ∑ − 1− ̅
Dimana:
= Nilai z-score dari deplesi setiap sumber risiko
= Batas normal risiko akibat sumber risiko yang ditentukan oleh pemilik usaha (persen)
̅ = Nilai rata-rata deplesi per sumber risiko (persen) = Standar deviasi dari deplesi per sumber risiko (persen)
Bila nilai z-score yang diperoleh negatif, maka nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal, begitu juga sebaliknya bila nilai z-score yang diperoleh positif, maka nilai tersebut berada di sebelah kanan kurva distribusi normal.
4 Mencari probabilitas terjadinya risiko produksi
Setelah nilai z-score dari budi daya ayam kampung diketahui, maka selanjutnya dapat dicari probabilitas terjadinya risiko produksi yang diperoleh dari tabel distribusi z (normal) sehingga dapat diketahui berapa persen kemungkinan terjadinya keadaan dimana produksi ayam kampung mendatangkan kerugian.
Analisis Dampak Risiko
Metode yang paling efektif digunakan dalam mengukur dampak risiko adalah VaR (Value at Risk). VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis. Analisis ini dilakukan untuk mengukur dampak kerugian yang dialami dari setiap kejadian berisiko pada kegiatan budi daya ayam kampung pedaging. Kejadian yang dianggap merugikan berupa penurunan produksi sebagai akibat dari terjadinya sumber-sumber risiko. Menurut Kountur (2008), nilai VaR dapat dihitung dengan rumus berikut :
Dimana:
VaR = Dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian berisiko ̅ = Nilai rata-rata deplesi per sumber risiko (persen)
= Nilai z-score dari deplesi setiap sumber risiko
= Standar deviasi dari deplesi per sumber risiko (persen) = Jumlah data produksi (periode)
Pemetaan Risiko
Menurut Kountur (2008), sebelum dapat menangani risiko, hal yang terlebih dahulu perlu dilakukan adalah membuat peta risiko. Peta risiko adalah gambaran mengenai posisi risiko pada suatu peta dari dua sumbu, yaitu sumbu vertikal yang menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal yang menggambarkan dampak. Contoh layout peta risiko dapat dilihat pada Gambar 7 berikut :
Sumber : Kountur (2008)
Gambar 7 Peta risiko
Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Dampak risiko juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Batas antara probabilitas atau kemungkinan besar dan kecil ditentukan oleh pemilik atau manajemen, tetapi pada umumnya risiko yang probabilitasnya 30 persen atau lebih dianggap sebagai kemungkinan besar, sedangkan kurang dari 30 persen dianggap sebagai kemungkinan kecil (Kountur 2008). Kuadran 1 menjelaskan tentang sumber risiko dengan probabilitas besar dan memiliki dampak yang kecil bagi perusahaan. Kuadran 2 menjelaskan tentang sumber risiko dengan probabilitas besar dan dampak yang besar juga bagi perusahaan. Kuadran 3 menjelaskan tentang sumber risiko dengan probabilitas kecil dan dampak yang kecil juga bagi perusahaan. Kuadran 4 menjelaskan tentang sumber risiko yang memiliki probabilitas kecil dan dampak yang besar bagi perusahaan. Pada umumnya perusahaan menginginkan sumber risiko yang terjadi pada perusahaannya berada pada kuadran 3. Namun, setiap perusahaan memiliki tingkat risiko yang berbeda-beda seuai dengan tingkat usahanya.
Penanganan Risiko
Berdasarkan hasil pemetaan risiko, maka selanjutnya dapat ditetapkan strategi penanganan risiko yang sesuai. Menurut Kountur (2008), terdapat dua strategi yang dapat dilakukan untuk menangani risiko, yaitu:
1 Penghindaran Risiko (Preventif)
Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang tergolong dalam probabilitas risiko yang besar. Risiko-risiko yang berada pada kuadran satu dan dua diharapkan dapat bergeser menuju kuadran tiga dan empat. Penanganan risiko dengan strategi preventif dapat dilihat pada Gambar 8.
Kecil Besar Probabilitas
(%)
Sedang
Besar Sedang
Kecil Dampak (Rp)
Kuadran 1 Kuadran 2
Gambar 8 Pencegahan risiko (Preventif)
2 Mitigasi Risiko
Strategi mitigasi digunakan untuk meminimalkan dampak risiko yang terjadi. Risiko yang berada pada kuadran dengan dampak yang besar diusahakan dapat bergeser ke kuadran dengan dampak risiko yang kecil. Risiko-risiko yang berada pada kuadran dua dan empat diharapkan dapat bergeser menuju kuadran satu dan tiga. Strategi mitigasi dapat dilihat pada Gambar 9 berikut :
Gambar 9 Penanganan Mitigasi risiko
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Jimmy’s Farm
Jimmy's Farm merupakan sebuah perusahaan peternakan ayam kampung yang bergerak di bidang pembibitan, penetasan (hatchery), dan budi daya ayam kampung pedaging. Pada awalnya perusahaan ini berdiri atas dasar kegemaran Bapak Jimmy sebagai pemilik perusahaan dalam memelihara ayam sehingga ada keinginan beliau untuk mengembangkan usaha peternakan ayam. Beliau memulai
Kecil Besar Probabilitas
(%)
Sedang
Besar Sedang
Kecil Dampak (Rp)
Kuadran 1 Kuadran 2
Kuadran 4 Kuadran 3
Kecil Besar Probabilitas
(%)
Sedang
Besar Sedang
Kecil Dampak (Rp)
Kuadran 1 Kuadran 2
usahanya pada tahun 1968 dengan membeli lahan di daerah Kabupaten Cianjur seluas satu hektar yang kemudian dibangun sebuah areal peternakan. Beliau memulai usahanya dengan membudidayakan ayam broiler sebanyak 2 000 ekor yang diperoleh dari beberapa negara, seperti Amerika, Belanda, dan Australia dengan strain yang berbeda juga yaitu Hybro, White Cornish, dan Leghorn. Kegiatan usaha yang dilakukan Jimmy's Farm pada tahun pertama adalah melakukan budi daya ayam broiler, hingga tahun 1969 perusahaan mulai berkembang dan dapat menghasilkan DOC broiler untuk dikembangkan tanpa harus membeli dari luar negeri. Setelah beberapa tahun Bapak Jimmy mengelola usaha peternakannya, beliau akhirnya memutuskan untuk mewariskan usaha peternakannya kepada saudaranya yaitu Bapak Benny Arifin pada tahun 1971. Jimmy's Farm dikembangkan dengan sangat baik oleh Bapak Benny sehingga mengalami perkembangan yang pesat dan dapat memasarkan DOC ke beberapa daerah.
Perkembangan usaha peternakan Jimmy's Farm berlangsung sangat baik hingga tahun 1997. Namun, pada tahun 1998 terjadi krisis ekonomi di Indonesia yang mengguncang harga pakan ternak secara drastis, dan juga harga jual ternak pun turun secara drastis. Hal ini mengakibatkan banyak peternak mengalami kerugian yang besar, salah satunya usaha peternakan Jimmy's Farm. Kejadian tersebut menyebabkan Jimmy's Farm tidak dapat bertahan untuk membudidayakan ayam broiler bila dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan peternakan ayam broiler yang berskala industri sehingga usaha peternakan Jimmy's Farm mengalami kebangkrutan. Pada tahun yang sama, Bapak Benny Arifin melihat adanya peluang yang besar untuk mengembangkan usaha peternakan ayam kampung. Kemudian beliau mengalihkan usahanya ke usaha budi daya ayam kampung yang berkembang sangat baik hingga saat ini. Kegiatan budi daya ayam kampung di Jimmy's Farm dimulai dengan populasi kurang lebih sebanyak 500 ekor. Adapun keunggulan-keunggulan yang sangat dirasakan Jimmy's Farm dalam kegiatan usahanya adalah harga jual tinggi, relatif stabil di pasaran, belum banyak yang membudidayakan ayam kampung secara intensif dan berkesinambungan, serta adanya perlindungan pemerintah yang menjelaskan bahwa usaha ayam kampung tidak dapat dikembangkan oleh industri peternakan.
Perkembangan Jimmy's Farm dapat terlihat dari bertambahnya lahan areal peternakan dengan tempat yang berbeda. Penambahan lokasi peternakan di Jimmy's Farm tidak jauh dari lokasi peternakan pusat. Penambahan lahan areal peternakan ini dikarenakan pada lokasi peternakan pusat dijadikan lokasi khusus untuk pembibitan ayam kampung beserta penetasan (hatchery), dan lokasi peternakan yang lainnya dijadikan untuk kegiatan budi daya ayam kampung pedaging. Walaupun penambahan lokasi peternakan di tempat yang berbeda, Bapak Benny sangat sering melakukan pengontrolan langsung untuk mengawasi peternakannya sehingga dengan sigap dapat mengendalikan perusahaannya.
Lokasi Perusahaan