PENGARUH KONSENTRASI LILIN dan LAMA PEMBERIAN
TEKANAN TERHADAP SIFAT FISIK EMULSI
LILIN SARANG LEBAH
SKRIPSI
OLEH:
M. ABDUL ROZAQ 050305034
DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
PENGARUH KONSENTRASI LILIN dan LAMA PEMBERIAN
TEKANAN TERHADAP SIFAT FISIK EMULSI
LILIN SARANG LEBAH
SKRIPSI
OLEH:
M. ABDUL ROZAQ 050305034
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana Teknologi Pertanian di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
Disetujui Oleh: Komisi Pembimbing
Ir. Terip Karo-Karo, MS Dr. Ir. Elisa Julianty, M.Si
Ketua Anggota
DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
M. Abdul Rozaq: PENGARUH KONSENTRASI LILINDAN LAMA PEMBERIAN TEKANAN TERHADAP SIFAT FISIK EMULSI
LILIN SARANG LEBAH Dibimbing oleh: Terip Karo-Karo
Elisa Julianty
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengatahui pengaruh konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap sifat fisik emulsi lilin sarang lebah. Penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu konsentrasi lilin (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14%, K4 = 16%) dan lama
pemberian tekanan (T1 = tanpa pengadukan, T2 = 10 menit, T3 = 20 menit, T4 = 30
menit). Parameter yang diamati yaitu stabilitas relatif emulsi, viskositas, ukuran partikel, uji organoleptik (warna) dan pH (derajat keasaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi emulsi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas dan ukuran partikel tetapi berbeda tidak nyata terhadap uji organoleptik (warna) dan pH. Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas dan uji organoleptik (warna) tetapi berbeda tidak nyata terhadap pH. Interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap ukuran partikel tetapi berbeda tidak nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas, uji organoleptik (warna) dan pH. Konsentrasi lilin 16% dan lama pemberian tekanan selama 30 menit menghasilkan emulsi lilin sarang lebah yang paling baik.
Kata kunci: Emulsi, Lilin sarang lebah, Pompa Tekanan Tinggi. M. Abdul Rozaq: INFLUENCE WAX CONCENTRATION AND
SO LONG PRESSURIZING TO EMULSIONS PHYSICAL CHARACTER BEEHIVE WAX
Supervised by: Terip Karo-Karo Elisa Julianty ABSTRACT
The aim of this research was to know the influence of wax concentration and pressurizing time on physical properties of beehive wax emulsions. The research was carried out using factorial completely randomized design with the 2 factors i.e : the wax concentration (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14%, K4 = 16%)
and the pressurizing time (T1 = without mixing, T2 = 10 minute, T3 = 20 minute,
T4 = 30 minute). The parameters analyzed were emulsion relative stability,
value (color) and pH. The wax concentration of 16% and 30 minutes pressurizing produced the best quality of beehive wax fruit coating.
RINGKASAN
M. ABDUL ROZAQ, “Pengaruh Konsentrasi Lilindan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah” dibimbing oleh
Ir. Terip Karo-Karo MS. selaku ketua komisi pembimbing dan
Dr. Ir. Elisa Julianty, M. Si., selaku anggota komisi pembimbing.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Konsentrasi Lilin dan
Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan 2
faktor, yaitu: faktor 1: Konsentrasi lilin yang terdiri dari 4 taraf yaitu K1 = 10%:
K2 = 12%: K3 = 14% dan K4 = 16% dan faktor 2: Lama pemberian tekanan yang
terdiri dari 4 taraf yaitu: T1 = tanpa pengadukan: T2 = 10 menit: T3 = 20 menit dan
T4 = 30 menit.
Dari penelitian yang telah dilaksanakan didapat bahwa:
1. Stabilitas Relatif Emulsi
Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda nyata (p<0,05) terhadap
stabilitas relatif emulsi. Stabilitas relatif emulsi tertinggi diperoleh pada perlakuan
K1 sebesar 68.750% dan stabilitas relatif emulsi terendah diperoleh pada
perlakuan K4 sebesar 56.250%.
Lama pemberian tekanan memberikan berbeda sangat nyata (p<0,01)
terhadap stabilitas relatif emulsi. Stabilitas relatif emulsi tertinggi diperoleh pada
perlakuan T4 sebesar 96.875% dan stabilitas relatif emulsi terendah diperoleh pada
Interaksi antar konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan
pengaruh berbeda tidak nyata (p>0,05) terhadap stabilitas relatif emulsi sehingga
uji Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.
2. Viskositas
Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01)
terhadap viskositas. Viskositas tertinggi diperoleh pada perlakuan K4 sebesar
4.950 mPa.s dan viskositas terendah diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 4.463
mPa.s.
Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata
(p<0,01) terhadap viskositas. Viskositas tertinggi diperoleh pada perlakuan T1
sebesar 5.213 mPa.s dan viskositas terendah diperoleh pada perlakuan T4 sebesar
4.188 mPa.s.
Interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan
pangaruh berbeda tidak nyata (p>0,05) terhadap viskositas sehingga uji Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.
3. Ukuran Partikel
Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0.01)
terhadap ukuran partikel. Ukuran partikel tertinggi diperoleh pada perlakuan K4
sebesar 4.280 µm dan ukuran partikel terendah diperoleh pada perlakuan K1
sebesar 2,961 µm.
Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata
perlakuan T1 sebesar 4.561 µ m dan ukuran partikel terendah diperoleh pada
perlakuan T4 sebesar 3.040 µm.
Interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan
pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap ukuran partikel. Ukuran partikel
tertinggi diperoleh pada perlakuan K4T1 sebesar 5,270 µm dan ukuran partikel
terendah diperoleh pada perlakuan K1T4 sebesar 2,160 µm.
4. Uji Organoleptik Warna
Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (p>0,05)
terhadap uji organoleptik warna sehingga pengujian dengan Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.
Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata
(p<0,01) terhadap uji organoleptik warna. Warna tertinggi diperoleh pada
perlakuan T4 sebesar 2.691 dan ukuran partikel terendah diperoleh pada perlakuan
T1 sebesar 2.409.
Interaksi antar konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan
pengaruh berbeda tidak nyata (p>0,05) sehingga uji Least Significant Range
(LSR) tidak dilanjutkan.
5. pH (derajat keasaman)
Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (p>0,05)
terhadap pH sehingga uji Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.
Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata
Interaksi antar konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan
RIWAYAT HIDUP
M. ABDUL ROZAQ dilahirkan di Medan pada tanggal 28 November 1987. Anak ketiga dari bapak Sadikin dan ibu Mardiah Syam Tambunan. Penulis
merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.
Tahun 1999 lulus dari SD INPRES 060511, tahun 2002 lulus dari SMP
Dharma Pancasila Medan dan pada tahun 2005 penulis lulus dari SMU Dharma
Pancasila Medan. Pada tahun 2005 lulus seleksi masuk USU melalui jalur SPMB.
Penulis memilih Program Studi Teknologi Hasil Pertanian jurusan Teknologi
Pertanian, Fakultas Pertanian.
Selama mengikuti kuliah penulis aktif menjadi pengurus IMTEP (Ikatan
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur terlebih dahulu penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa atas berkat dan anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat selesai.
Skripsi ini berjudul ”Pengaruh Konsentrasi Lilin Dan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Ir. Terip Karo-Karo, MS selaku ketua komisi pembimbing, serta Ibu
Dr. Ir. Elisa Julianty, M. Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak
memberikan bimbingan, pengarahan serta saran-saran dalam menyelesaikan
skripsi ini.
Penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada
Ayahanda Sadikin dan Ibunda Mardiah Syam Tambunan atas segala do’a,
perhatian dan kasih sayangnya. Abangku yang tercinta M. Cici Harpenas, Shut
dan adikku M. Iqbal Sugeng P.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, Agustus 2011
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK ... i
RINGKASAN ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
Stabilitas emulsi... 10
Analisa Sifat Fisik Emulsi ... 12
Stabilitas relatife emulsi ... 12
Ukuran partikel ... 13
Viscositas ... 15
Penelitian Sebelumnya ... 16
BAHAN DAN METODA PENELITIAN Bahan Penelitian ... 18
Waktu dan Tempat Penelitian ... 18
Alat Penelitian ... 18
Metoda Penelitian ... 18
Model Rancangan ... 19
Pelaksanaan Penelitian ... 20
Pembutan Lilin Lebah ... 20
Pembuatan Emulsi Lilin Lebah ... 20
Pengamatan dan Pengukuran Data ... 21
Stabilitas Relatif Emulsi ... 21
Viskositas ... 21
Ukuran Partikel ... 22
Nilai Organoleptik Warna ... 22
pH ... 23
Skema Proses Penelitian ... 24
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Parameter yang Diamati ... 26
Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Parameter yang Diamati ... 27
Stabilitas Relatif Emulsi Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Stabilitas Relatif Emulsi... 28
Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Stabilitas Relatif Emulsi... 30
Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap Stabilitas Relatif Emulsi... 31
Viskositas Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Viskositas ... 32
Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Viskositas ... 33
Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap Viskositas ... 35
Ukuran Partikel Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Ukuran Partikel ... 35
Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Ukuran Partikel ... 37 Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin
Ukuran Partikel ... 38
Nilai Organoleptik Warna Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Nilai Organoleptik Warna ... 40
Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Nilai Organoleptik Warna ... 41
Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap Nilai Organoleptik Warna ... 42
pH /Derajat Keasaman Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap pH ... 42
Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap pH ... 43
Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap pH ... 43
KESIMPULAN DAN SARAN ... 44
DAFTAR PUSTAKA ... 45
DAFTAR TABEL
No Judul Hal
1 Hubungan antara ukuran partikel emulsi dengan penampakannya……… 15
2 Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap
Parameter yang Diamati ... 26
3 Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap
Parameter yang Diamati ... 27
4 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap
Stabilitas Relatif Emulsi ... 28
5 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan
Terhadap Stabilitas Relatif Emulsi... 30
6 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin
Terhadap Viskositas ... 32
7 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan
Terhadap Viskositas ... 34
8 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin
Terhadap Ukuran Partikel ... 35
9 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan
Terhadap Ukuran Partikel ... 37
10 Uji LSR interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama
Pemberian tekanan terhadap Ukuran Partikel ... 39
11 Uji LSR Efek Utama Lama Pemberian Tekanan
DAFTAR GAMBAR
No Judul Hal
1 Rumus Kimia dari Lilin Lebah ... 6
2 Skema Pembuatan Lilin Sarang Lebah ... 24
3 Skema Pembuatan Emulsi Lilin Lebah ... 25
4 Hubungan Konsentrasi Lilin dengan Stabilitas Relatif Emulsi ... 29
5 Hubungan Lama Pemberian Tekanan dengan Stabilitas Relatif Emulsi ... 31
6 Hubungan Konsentrasi Lilin dengan Viskositas ………. 33
7 Hubungan Lama Pemberian Tekanan dengan Viskositas ... 34
8 Hubungan Konsentrasi Lilin denganUkuran Partikel ... 36
9 Hubungan Lama Pemberian Tekanan dengan Ukuran Partikel ... 38
10 Interaksi antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan dengan Ukuran Partikel ... 40
DAFTAR LAMPIRAN
No Judul Hal
1 Data Pengamatan Analisa Stabilitas Relatif Emulsi (%) ... 47
2 Data Pengamatan Analisa Viscositas (mPa.s) ... 48
3 Data Pengamatan Analisa Ukuran Partikel (µ m) ... 49
4 Data Pengamatan Analisa Organoleptik Warna (numerik) ... 50
5 Data Pengamatan Analisa pH ... 51
6 Ukuran Partikel Emulsi Lilin ... 52
M. Abdul Rozaq: PENGARUH KONSENTRASI LILINDAN LAMA PEMBERIAN TEKANAN TERHADAP SIFAT FISIK EMULSI
LILIN SARANG LEBAH Dibimbing oleh: Terip Karo-Karo
Elisa Julianty
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengatahui pengaruh konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap sifat fisik emulsi lilin sarang lebah. Penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu konsentrasi lilin (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14%, K4 = 16%) dan lama
pemberian tekanan (T1 = tanpa pengadukan, T2 = 10 menit, T3 = 20 menit, T4 = 30
menit). Parameter yang diamati yaitu stabilitas relatif emulsi, viskositas, ukuran partikel, uji organoleptik (warna) dan pH (derajat keasaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi emulsi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas dan ukuran partikel tetapi berbeda tidak nyata terhadap uji organoleptik (warna) dan pH. Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas dan uji organoleptik (warna) tetapi berbeda tidak nyata terhadap pH. Interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap ukuran partikel tetapi berbeda tidak nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas, uji organoleptik (warna) dan pH. Konsentrasi lilin 16% dan lama pemberian tekanan selama 30 menit menghasilkan emulsi lilin sarang lebah yang paling baik.
Kata kunci: Emulsi, Lilin sarang lebah, Pompa Tekanan Tinggi. M. Abdul Rozaq: INFLUENCE WAX CONCENTRATION AND
SO LONG PRESSURIZING TO EMULSIONS PHYSICAL CHARACTER BEEHIVE WAX
Supervised by: Terip Karo-Karo Elisa Julianty ABSTRACT
The aim of this research was to know the influence of wax concentration and pressurizing time on physical properties of beehive wax emulsions. The research was carried out using factorial completely randomized design with the 2 factors i.e : the wax concentration (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14%, K4 = 16%)
and the pressurizing time (T1 = without mixing, T2 = 10 minute, T3 = 20 minute,
T4 = 30 minute). The parameters analyzed were emulsion relative stability,
value (color) and pH. The wax concentration of 16% and 30 minutes pressurizing produced the best quality of beehive wax fruit coating.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sarang lebah di Indonesia masih sangat kurang pemanfaatannya. Pada
pemanenan madu biasanya sarangnya tidak dimanfaatkan lebih lanjut oleh para
peternak lebah. Karena lilin yang berasal dari sarang lebah tersebut hanya
dimanfaatkan untuk pembuatan lilin (sebagai penerang) saja. Hal ini
menyebabkan peternak lebah tidak begitu memperhatikannya sehingga sarang
lebah itu dibuang begitu saja.
Manfaat lilin lebah adalah untuk bahan membatik, lilin penerang, industri
kosmetik, cold cream, lipstick dan berbagai lotion, juga bisa digunakan sebagai campuran pembuatan sabun natural yang berbahan dasar minyak. Pada industri
farmasi, lilin lebah digunakan untuk bahan pembuatan plester atau kain pembalut,
obat-obatan luar, campuran bahan-bahan tahan air/water proof, selain itu juga bisa digunakan sebagai campuran tinta, pensil, semir serta sebagai zat pengkilat.
Secara alami pada beberapa buah-buahan dan sayur-sayuran telah
mengandung lapisan lilin pada permukaan kulit. Tetapi sebagian lapisan lilin ini
hilang pada saat penanganan panen, pasca panen dan pencucian, sehingga perlu
diberi lapisan lilin untuk mengganti lapisan lilin yang hilang tersebut. Hal ini
bertujuan menghambat penguapan, proses pembusukan buah dan sekaligus
meningkatkan penampilan.
Pelpisan lilin akan membuat penampilan buah lebih segar dan mengkilat.
Dan inilah salah satu hal yang menyebabkan buah impor menjadi lebih menarik di
dipanen tanpa mendapat perlakuan pasca panen terlebih dahulu. Hal ini
menyebabkan buah lokal kalah bersaing dengan buah impor karena
penampilannya kurang menarik sehingga kurang diminati oleh konsumen
khususnya oleh masyarakat yang berkantong tebal.
Teknik pelapisan lilin merupakan salah satu metode yang sederhana dan
mudah untuk dilakukan. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan pelapis buah
dari emulsi lilin sarang lebah ini adalah sulitnya untuk melarutkan lilin dalam
pelarut (air) akibatnya bentuk emulsi yang dihasilkan tidak homogen dan
stabilitasnnya rendah. Dalam pelapisan lilin pada buah-buahan diharapkan lapisan
lilin yang homogen dan tidak terdapat gumpalan lilin yang tidak merata. Oleh
karena itu perlu adanya penanganan yang lebih baik, misalnya dengan
menggunakan emulsifier yang sesuai seperti tween, trietanolamin (bersama
dengan asam oleat) dan juga dengan penggunaaan pelarut lemak yang sesuai
untuk menghasilkan emulsi lilin yang stabil dan homogen.
Ada beberapa cara yang bisa diberikan dalam pembuatan emulsi lilin yang
baik salah satu diantaranya adalah dengan pemberian tekanan pengadukan pompa.
Untuk membuat emulsi lilin yang baik perlu homogenisasi, salah satu cara untuk
homogenisasi yaitu dengan cara memberi tekanan pompa.
Dari penjelasan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai “Pengaruh Konsentrasi Lilin Dan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah”.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Konsentrasi Lilin
dan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah.
Kegunaan Penelitian
- Sebagai sumber data di dalam penyusunan skripsi di Departemen
Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
Medan.
- Sebagai sumber informasi tentang Pengaruh Konsentrasi Lilin Dan Lama
Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah.
Hipotesa Penelitian
- Konsentrasi lilin yang tepat akan menghasilkan kualitas emulsi lilin sarang
lebah yang baik.
- Lama pemberian tekanan memberi pengaruh terhadap kualitas emulsi lilin
sarang lebah yang baik.
- Interaksi konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberi pengaruh
terhadap kualitas emulsi lilin sarang lebah yang baik.
TINJAUAN PUSTAKA
Malam (Lilin Lebah)
Ada tiga jenis lilin yang dikenal di alam, yakni yang berasal dari hewan,
tumbuhan dan petrolium atau mineral. Lilin asal hewan yakni malam (beewax) adalah salah satu lilin yang kimianya stabil dan terkenal sepanjang sejarah
perdagangan dunia (Sihombing, 1992).
Terdapat dua golongan kualitas malam yaitu: 1) Malam kualitas pertama,
diperoleh dari sarang lebah yang masih baru dan belum pernah diisi madu atau
tepung sari oleh penghuninya. Malam yang diperoleh dari sarang demikian ini
warnanya putih dan bersih, 2) Malam kualitas kedua yaitu malam yang diperoleh
dari sarang lebah yang telah diisi madu serta telah diambil madunya
(Hardiwiyoto, 1978).
Pembuatan Lilin Lebah
Lilin lebah diperoleh dengan merebus sarang lebah pada suhu 65 oC, lilin
lebah akan mengapung di permukaan air. Kemudian lilin lebah tersebut
dipindahkan pada wadah perebus lain dan direbus lagi pada suhu 90 oC dan
didinginkan sehingga diperoleh lilin lebah yang lebih murni dan bersih
(Selvita, 2011).
Cara mendapatkan lilin lebah adalah dengan merebus sarang lebah dalam
panci aluminium sampai mendidih. Semua kotoran yang mengapung harus
dibuang setelah lilin lebah dibersihkan dari segala kotoran kemudian didinginkan
Komposisi Lilin Lebah
Lilin lebah merupakan lilin yang kompleks dibentuk dari campuran
beberapa komponen meliputi hidrokarbon 14%, monoester 35%, diester 14%,
triester 3%, hidroksi monoester 4%, hidroksi poliester 8%, asam ester 1%, asam
poliester 2%, asam bebas, alkohol bebas 1%, dan 6% sisanya tidak diketahui.
Komponen utama dari lilin lebah adalah palmitat, palmitoleat, hidroksi palmitat
dan ester oleat yang berantai panjang (C30-C32) dari alkohol aliphatic.
Perbandingan triacontanil palmitat (CH3(CH2)29O-CO-(CH2)14CH3 dengan asam
serotik (CH3(CH2)24COOH, yaitu 6:1 (Enslikopedia, 2007).
Lilin lebah ini berada dalam bentuk triester dan diester. Sebagai senyawa
tersier, lilin lebah merupakan ester dari asam lemak berantai panjang dengan
alkohol berantai panjang (sterol/fatty alcohol) dan asam hidroksilat, berupa senyawa diester dari alkanadiol atau asam hidroksilat (Kalattukudy, 1976).
Titik lebur lilin lebah murni berkisar antara 61-69oC (142-156oF), indeks
refraksinya 1,44. Tahanan dielektrisnya 2,9 dan berat jenis pada suhu 20oC adalah
0,96 lebih ringan dari air. Tidak larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol
dingin. Benzen chloroform, karbon disulfida, eter dan beberapa minyak yang
mudah menguap melarutkan malam komplit. Bau dan rasanya khas dan terbakar
dengan nyala kuning bersih dan mengeluarkan aroma unik. Malam sering
terkontaminasi dengan sedikit polen, propolis, dan madu yang meningkatkan berat
jenis dan warnanya (Sihombing, 1992).
Dari sudut pandang kimia, wax didefinisikan sebagai ester dari asam lemak dengan alkohol monohydrat dengan berat molekul tinggi. Ini dibedakan
(biasanya glycerol) dengan berat molekul rendah, dan bisa ditambahkan bahwa
apa yang disebut dengan minyak tetap atau minyak lemak dalam kenyataannya
adalah lemak yang dicairkan pada temperatur biasa (Greene, 1999). Adapun
rumus kimia lilin lebah adalah sebagai berikut:
O
C13H27C-O-C26H53
Gambar 1. Rumus Kimia dari Lilin Lebah (Central Food Technological Reseach Institute, 1977).
Aplikasi Lilin Lebah
Manfaat lilin lebah adalah untuk bahan membatik, lilin penerang, industri
kosmetik, cold cream, lipstick, dan berbagai lotion, juga bisa digunakan sebagai campuran pembuatan sabun natural yang berbahan dasar minyak. Pada industri
farmasi, lilin lebah digunakan untuk bahan pembuatan plester atau kain pembalut,
obat-obatan luar, campuran bahan-bahan tahan air/water proof, selain itu juga bisa digunakan sebagai campuran tinta, pensil, semir serta sebagai zat pengkilat
(Lamar, et al., 1976).
Untuk pencegahan terhadap pembusukan buah, sehingga pembusukan
pada buah dapat diperkecil. Salah satu caranya adalah dengan melapisi buah
dengan lilin. Tujuan pelapisan lilin adalah untuk mencegah penguapan atau
kehilangan air terlalu banyak, mempertahankan kesegaran dalam waktu yang
cukup lama, mencegah kelayuan, serta memperindah kulit buah (Selvita, 2011).
Sebagian penyalutan permukaan sama seperti permukaaan buah alami
yang mengandung lilin dimana lilin tersebut merupakan penghalang yang baik
untuk uap air. Ini mengurangi laju penguapan air dari permukaaan buah dan
buah, ini juga bisa memperlambat kehilangan air buah dan serangan awal layu
yang dapat dilihat, yang melindungi hasil bumi dari kehilangan nilai karena
penurunan kualitas. Kecendrungan kehilangan air bisa ditandai dengan kehilangan
berat segar dalam kondisi standar (Lopez, 1975).
Setelah panen, tetapi sebelum buah atau sayuran dikemas dan dikirim ke
supermarket, buah atau sayuran dicuci berulang kali untuk membersihkan kotoran
dan tanah. Pencucian ekstensif sedemikian juga menghilangkan lilin alami.
Karena itu, lilin digunakan pada sebagian hasil bumi di tempat pengemasan untuk
menggantikan lilin alami yang hilang. Lilin digunakan untuk: 1) membantu
menahan air di dalam buah dan sayuran selama pengiriman dan pemasaran, 2)
membantu menghambat pertumbuhan jamur, 3) melindungi buah dan sayuran dari
memar, 4) mencegah kerusakan fisik lainnya dan penyakit, 5) meningkatkan
tampilan. Dengan melindungi terhadap kehilangan air dan kontaminasi,
penyalutan lilin membantu buah dan sayuran segera mempertahankan keutuhan
dan kesegarannya. Penyalutan lilin tidak meningkatkan kualitas buah atau sayuran
berkualitas rendah, namun penyalutan lilin bersama-sama dengan penanganan
yang tepat – memberi kontribusi dalam pemelihataan produk yang sehat
(Extension, 1998).
Pompa Tekanan Tinggi (Homogenizer)
Homogenizer adalah sejenis alat yang digunakan untuk mendispersikan
suatu cairan didalam cairan lainnya, alat ini cocok digunakan untuk membuat
emulsi dengan kestabilan tinggi, Karena dapat menghasilkan emulsi yang
pangan, homogenizer banyak digunakan untuk mereduksi ukuran globula lemak
didalam susu segar system emulsinya lebih stabil (Nguyen, 2010).
Homogenizer yang digunakan di dalam industri tersebut terdapat didalam
banyak model dan kapasitas.perbedaan model tersebut terdapat dalam banyak
model dan kapasitas. Perbedaan model tersebut umumnya terletak pada konstrukis
lubang dan alat pengatur pengeluaranya (Nguyen, 2010).
Kebanyakan tekanan tinggi homogenizers digunakan untuk homogenisasi
diadaptasi dari peralatan komersial yang dirancang untuk menghasilkan emulsi
dan homogenat dalam industri makanan dan farmasi. Mereka menggabungkan
tekanan tinggi dengan katup pelampiasan. Mereka dengan rating tekanan
maksimum 10.000 psi pecah sekitar 40% dari sel pada single pass, 60% pada lulus
kedua dan 85% setelah empat lewat. Kapasitas homogenizers terus bervariasi dari
55 sampai 4.500 liter / jam pada 10-17% b / v konsentrasi sel. Dengan mesin
berkapasitas lebih besar beberapa melewati diperlukan untuk mencapai hasil yang
tinggi gangguan. Panas yang cukup dapat dihasilkan selama operasi ini
homogenizers dan karena itu penukar panas terpasang ke port outlet penting
(Yacko, 2004).
Emulsi
Sistem emulsi
Emulsi adalah suatu system heterogen, yang terdiri dari tidak kurang dari
sebuah fase cair yang tidak bercampur, yang terdispersi dalam fase cair lainnya,
dalam bentuk tetesan-tetesan, dengan diameter secara umum, lebih dari 0,1 μm.
Secara umum, emulsi merupakan system yang terdiri dari dua fase cair yang tidak
emulsi: 1) Fase dalam (internal), 2) Fase luar (eksternal), 3) Emulsifiying Agent
(emulgator) (King, 1984).
Selanjutnya menurut Bird, et al., (1983), emulsi dapat dibedakan atas dua tipe, yaitu emulsi dengan sistem o/w (oil in water) dan emulsi dengan sistem w/o (water in oil). Kondisi tergantung dari bagian yang menjadi fase kontinu atau bagian yang menjadi fase diskontinu. Contoh umum untuk emulsi o/w adalah air
susu dan mayonaise, sedangkan contoh emulsi w/o adalah margarin dan mentega. Komponen yang paling penting dalam pembentukan emulsi adalah
minyak, karena minyak menentukan apakah bentukan emulsi adalah o/w atau w/o.
Jenis dan jumlah minyak yang ditambahkan berpengaruh terhadap kestabilan
emulsi. Lemak atau minyak yang mengandung asam lemak jenuh lebih sukar
diemulsikan daripada lemak atau minyak yang mengandung lemak tidak jenuh
dengan satu atau dua ikatan rangkap dengan jumlah atom karbon yang sama
(Christian and Saffle, 1967).
Trietanolamina
Trietanolamina, sering disingkat sebagai TEA, adalah senyawa kimia
organik yang merupakan sebuah amina tersier dan triol satu. triol adalah molekul
dengan tiga kelompok alkohol. Seperti amina lainnya, trietanolamin merupakan
basis kuat karena pasangan elektron mandiri pada atom nitrogen. Trietanolamina
juga dapat disingkat sebagai TEOA, yang dapat membantu untuk
membedakannya dari trietilamina. Sekitar 150.000 metrik ton diproduksi pada
tahun 1999. Trietanolamina dihasilkan dari reaksi etilen oksida dengan amonia
air, juga diproduksi etanolamin dan Dietanolamina. Rasio produk dapat dikontrol
sebagai emulsifier dan surfaktan. Hal ini juga berfungsi sebagai penyeimbang pH
di banyak produk kosmetik yang berbeda - mulai dari pembersihan krim dan susu,
lotion kulit, gel mata, pelembab, shampoo, dll (Ensiklopedia, 2009).
Asam oleat
Asam oleat adala
dalam berbagai hewan dan lemak nabati. Ia memiliki rumus CH 3 (CH 2) 7 CH =
CH (CH 2) 7 COOH. Ini adalah tidak berwarna, tidak berbau minyak, walaupun
sampel komersial mungkin kekuningan. Para
cis untuk
isomer trans). Istilah "oleat" berarti berkaitan dengan atau berasal dari,
atau
pengemulsi atau pelarut dalam produk aerosol (Ensiklopedia, 2010).
Stabilitas emulsi
Sifat emulsi ditentukan oleh sistem gaya yang terbentuk oleh
komposisinya, jenis bahan yang membentuk emulsi dan interaksi antara
bahan-bahan tersebut. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi
menurut Griffin, (1954) dapat dibedakan menjadi lima yaitu ukuran partikel, jenis
dan jumlah pengemulsi, perbedaan densitas antara kedua fase, pergerakan
partikel, serta viskositas fase eksternal. Penggabungan partikel dapat dihambat
dengan menambahkan bahan pengemulsi yang mempunyai aksi pelindung koloid
dan meningkatkan viskositas fase eksternal.
Ketidakstabilan emulsi dapat disebabkan oleh banyak hal diantaranya;
tidak sesuainya rasio antar fase minyak dan air, jumlah dan pemilihan emulsifier
yang berlebihan, pembekuan serta waktu dan kecepatan pencampuran yang tidak
tepat atau cocok (Bennet, 1964).
Dasar teori kestabilan emulsi menurut Petrowski, (1976) adalah
keseimbangan antara gaya tarik dan gaya tolak partikel. Gaya tolak elektrostatik
bersifat menstabilkan karena gaya ini cenderung mempertahankan butiran-butiran
yang terpisah. Sebaliknya gaya tarik menurunkan kestabilan emulsi, tetapi jika
agregat terbentuk maka sifat fisik dan mekanik lainnya akan tetap mencegah tahap
lanjut pengrusakan kestabilan partikel-partikel yang bergabung.
Zat aktif permukaan diarahkan pada suatu cara khusus pada antar muka.
Bagian hidrofilik berada dalam fase air sedangkan bagian lipofiliknya berada
dalam fase minyak. Selanjutnya zat aktif permukaan berorientasi pada antarmuka
adalah berkurangnya sedikit demi sedikit tegangan permukaan dengan berjalannya
waktu seiring dengan penambahan zat aktif permukaan sampai dicapai suatu
harga konstan. Sifat ini melukiskan bahwa molekul-molekul zat aktif permukaan
berdifusi melalui air sampai mencapai antarmuka dimana molekul-molekul
tersebut diadsorbsi membentuk sistem yang stabil (Lachman, et al., 1994).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi adalah sebagai
berikut : 1) Perbedaan berat jenis antara kedua fase, 2) Kohesi fase terdispersi,
3) Persentase padatan didalam emulsi. 4) Temperatur luar yang ekstrim,
5) Ukuran butiran fase terdispersi, 6) Viskositas fase kontinyu. 7) Muatan fase
terdispersi, 8) Distribusi ukuran butiran fase terdispersi. 9) Tegangan interfasial
antara kedua fase (Nguyen, 2010).
Stabilitas emulsi adalah sifat emulsi tanpa adanya koalesen dari fase
lainnya. Peneliti lain mendefenisikan bahwa ketidakstabilan fisis suatu emulsi
adalah adanya agglomerasi dari fase intern dan terjadi pemisahan produk
(Anief, 1999).
Creaming adalah proses yang bersifat reversible, berbeda dengan proses pecahnya emulsi yang bersifat irreversible. Flokul cream dapat mudah didispersi kembali, dan terjadi campuran homogen bila digojok perlahan-lahan, karena
butir-butir tetesan tetap dilingkupi dengan film pelindung. Sedangkan koalesen, dengan
pengojokan sederhana akan gagal untuk mensuspensi kembali butir-butir tetesan
dalam bentuk emulsi yang stabil, karena film yang meliputi partikel sudah rusak
(Anief, 1999).
Analisa Sifat Fisik Emulsi
Beberapa sifat fisik yang mempengaruhi emulsi diantaranya adalah
stabilitas relatif emulsi, viskositas dan ukuran globula (partikel).
Stabilitas relatif emulsi
Dasar teori stabilitas emulsi adalah keseimbangan antara gaya tolak dan
gaya tarik menarik yang bekerja dalam sistem. Stabilitas emulsi akan mencapai
maksimum apabila gaya tolak antara globula-globula fase tidak kontinyu
mencapai maksimum. Sebaliknya gaya tarik-menarik mencapai minimum. Gaya
tolak menolak berasal dari lapisan ganda dan gaya tarik menarik berasal dari gaya
Van der Waals (Petrowski, 1976).
Kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya gerak emulsi. Meskipun
telah sampai ke dasar wadah, partikel koloid dapat naik kembali dan terus
bergerak dalam mediumnya. Penyebab lainnya karena umumnya partikel koloid
sejenis, sehingga partikel-partikel koloid itu saling tolak-menolak karena
pengaruh ion sejenis yang telah diadsorpsi (Wanibesak, 2011)
Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami creaming, koaleser dan
eracking. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming
bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali,
Koaleser dan eracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya
irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena peristiwa kimia,
seperti penambahan alkohol, perubahan pH, serta peristiwa fisika. Seperti
pemanasan, penyaringan, pendinginan dan pengadukan (Sarmoko, 2010).
Gerak brown adalah gerak tidak beraturan atau gerak acak atau gerak
zig-zag partikel koloid. Hal ini terjadi karena adanya benturan tidak teratur dari
partikel koloid denga medium pendispersi. Dengan adanya gerak Brown ini maka
partikel koloid terhindar dari pengendapan karena terus-menerus bergerak,
sehingga koloid menjadi stabil. Gerak zig-zag partikel koloid disebut gerak
Brown, sesuai dengan nama penemunya Robert Brown (Wanibesak, 2011).
Ukuran partikel
Ukuran dari partikel ini tergantung dari tipe dan konsentrasi dari
pengemulsi, perlakuan mekanik seperti penggunaan koloid mill, homogenizer, cara dan waktu penyimpanan produk. Kebanyakan emulsi mempunyai ukuran
droplet lebih kecil dari 0,25 µm diameternya. Untuk droplet paling besar
mempunyai diameter sekitar 50 µm. Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk
atau dengan menggunakan lubang khusus untuk mengukur besar partikel
(Fennema, 1985).
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang
terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat
gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit
diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair
dengan suspensi zat padat (Wanibesak, 2011).
Pengecilan ukuran partikel dibutuhkan untuk meningkatkan kelarutan,
meningkatkan homogenitas dan memudahkan dalam pencampuran serta
kenyamanan dalam penggunaan. Mekanisme pengecilan ukuran partikel dapat
dilakukan dengan cara : a) Impact : pengecilan ukuran partikel akibat tenaga tumbukan yang tiba-tiba yang tegak lurus pada permukaan partikel/aglomerat,
b) Attrition : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga paralel pada permukaan partikel, c) Compression : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga secara perlahan (lebih kecil dibandingkan impact) pada permukaan partikel (pada bagian pusat dari partikel), d) Cutting : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan pembagian/sharring partikel (memotong partikel) (Sarmoko, 2010).
Penampakan emulsi ini pada dasarnya dipengaruhi oleh ukuran pertikel
emusi dan perbedaan indeks bias antara fase terdispersi dan medium terdispersi.
Pada prinsipnya emulsi yang tampak jernih hanya mungkin terbentuk bila indeks
bias kedua fasenya sama atau ukuran partikel terdispersinya lebih kecil dari
Table 1. Hubungan antara ukuran partikel emulsi dengan penampakannya
Ukuran Partikel Penampakan
Makroglobula Kedua fasenya dapat dibedakan > 1 mikron Tampak putih seperti susu 0.1 – 1 mikron Tampak biru keputihan 0.05 – 0.1 mikron Abu-abu agak transparan < 0.05 mikron Transparan
Sumber : Nguyen (2010)
Viskositas
Peningkatan rasio minyak/air berarti penurunan fase pendispersi dan
meningkatnya fase terdispersi. Penurunan fase pendispersi ini mengakibatkan
viskositas akan semakin meningkat. Jadi apabila konsentrasi fase terdispersi
ditingkatkan maka akan diikuti oleh peningkatan viskositas yang dihasilkan
(Jost, et al., 1986).
Viskositas emulsi dipengaruhi oleh perubahan komposisi adanya
hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas fase kontinyu, makin
besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas nyatanya. Untuk mengatur
viskositas emulsi, ada tiga faktor inetraksi yang harus dipertimbangkan, yaitu :
a) Viskositas emulsi o/w dan w/o dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran
partikel fase terdispersis, b) Kesetabilan emulsi ditingkatkan dengan pengurangan
ukuran partikel, c) Flokulasi atau pemggumpalan yang cenderung membentuk
fase dalam yang dapat meningkatkan efek penstabil (Sarmoko, 2010).
Faktor – faktor yang mempengaruhi viskositas suatu emulsi adalah
viskositas medium dispersi, persentase volume medium dispersi, ukuran partikel
fase terdispersi dan jenis serta konsentrasi emulsifier/stabilizer yang digunakan.
Semakin tinggi viskositas dan persentase medium disperse, maka makin tinggi
maka semakin tinggi viskositasnya dan makin tinggi konsentrasi
emulsifier/stabilizer yang digunakan (Nguyen, 2010).
Faktor penyimpanan juga mempengaruhi viskositas dari emulsi. Semakin
lama produk disimpan makin rendah viskositasnya. Hal ini disebabkan karena
adanya protonisasi hal ini menyebabkan penurunan pada daya pengikat dari bahan
penstabil dan menunjang terbukanya konfigurasi polimer (Jost, et al., 1986).
Cara Pembuatan Lilin dan Emulsi Lilin
Madu disaring atau disentrifus dari sel sarang madu, kemudian sel
sarang dipanaskan pada suhu 66-71oC (150-160oF) malam akan melebur dan
mengapung diatas sisa madu, dan setelah didinginkan malam mudah diperoleh
(Sihombing, 1992).
Sarang lebah yang sudah tua direndam di dalam air selama beberapa jam
dibersihkan untuk melarutkan material-material dari dalam sel sarang. Jika tahap
ini tidak berjalan dengan baik, lilin akan menyerap kotoran dan juga warna.
Setelah sel sarang dibersihkan, dicairkan pada air panas. Cairan lilin akan
mengapung pada bagian permukaan dan material-material asing yang ada dalam
sel sarang akan larut dalam air panas tersebut. Setelah dingin lilin akan terbentuk
pada bagian atas air (Abrol, 1997).
Lilin diberikan dalam bentuk emulsi. Penggunaan emulsi lilin dalam air
lebih aman dibandingkan pelarut jenis lain yang mudah terbakar. Emulsi lilin
hendaknya menggunakan air suling/aquadest tidak boleh menggunakan air sadah
karena garam-garam yang terkandung dalam air sadah akan merusak emulsi lilin.
Bahan pengemulsi yang biasa digunakan adalah trietanolamin (TEA) dan asam
oleat (Lolit Jeruk, 2004).
Penelitian Sebelumnya
Konsentrasi lilin yang digunakan untuk buah jeruk berkisar 4%-12%.
Pembuatan emulsi dengan pengemulsi trietanolamin (TEA) dan asam oleat
menggunakan perbandingan lilin : TEA : asam oleat, 6:2:1. Misalnya untuk
pembuatan emulsi lilin 6%, dibutuhkan 60 g lilin, 20 ml TEA dan 10 ml asam
oleat. Jumlah air (aquadest) yang ditambahkan adalah hasil pengurangan 1000 ml
– (60+20+10) = 910 ml aquadest (Lolit Jeruk, 2004).
Menurut Ginting, (1995) pada pembuatan emulsi lilin 12% digunakan
sebanyak 1 liter aquadest, kemudian emulsi lilin ini dapat diencerkan sesuai
dengan konsentrasi yang diinginkan. Sebanyak 120 ml dipanaskan sampai
mencair di dalam beaker glass. Kemudian ke dalam 25 ml air panas ditambahkan
40 ml trietanolamin. Sebelumnya ke dalam mortar dimasukkan air panas supaya
mortar ini menjadi panas. Setelah mortar panas airnya dibuang. Kemudian ke
dalam mortar tersebut dimasukkan lilin dengan asam oleat yang sudah dicampur
secara perlahan-lahan diaduk sampai terjadi emulsi lilin. Kemudian ditambahkan
sisa air panas sebanyak 795 ml sehingga terbentuk emulsi sebanyak 1 liter.
Kemudian emulsi dapat diencerkan sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan.
Homogenizer umunya terdiri dari pompa yang menaikkan tekanan dispersi
pada kisaran 500 sampai 5000 psi, dan suatu lubang yang dilalui cairan dan
mengenai katup penghomogenan yang terdapat pada tempat katup dengan suatu
spiral yang kuat. Ketika tekanan meningkat, spiral ditekan dan sebagian dispersi
tersebut bebas di antara katup dan tempat ( dudukan ) katup. Pada titik ini, energi
yang tersimpan dalam cairan sebagian tekanan dilepaskan secara spontan sehingga
homogenizer ini cukup efektif sehingga bisa didapatkan diameter partikel rata-rata
kurang dari 1 mikron tetapi homogenizer dapat menaikkan temperatur emulsi
sehingga dibutuhkan pendinginan (Sarmoko, 2010).
BAHAN DAN METODA PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan bulan Maret – Juni 2011 di Laboratorium Analisa
Kimia Bahan Pangan Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara.
Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sarang lebah yang
diperoleh dari Yayasan Bina Saudara Titikuning, Medan. Bahan-bahan lain adalah
Trietanolamin (TEA), Asam Oleat dan Aquadest.
Alat Penelitian
Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Pompa,
Termometer, Mikroskop optic, pH meter, Stopwatch, Pinset, Cling wrap, Stirrer, Object glass, Deck glas, Timbangan digital, Beaker glass, Viscosimeter, Spatula, Termokontrol Digital, Gelas ukur, Saringan, Pipet Tetes dan Hot Plate.
Metoda Penelitian
Penelitian ini menggunakan metoda Rancangan Acak Lengkap (RAL)
faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu:
Faktor I: Konsentrasi Lilin Lebah (K)
K1 = 10 %
K2 = 12 %
K3 = 14 %
Faktor II: Lama Pemberian Tekanan (T)
T1 = tanpa pengadukan
T2 = 10 menit
T3 = 20 menit
T4 = 30 menit
Banyaknya kombinasi perlakuan (tc) adalah 4 x 4 = 16, maka jumlah
ulangan (n) adalah sebagai berikut:
Tc (n -1) ≥ 15
16 (n –1) ≥15
16n – 16 ≥ 15
16 n ≥ 31;
n ≥ 1,93… dibulatkan menjadi n = 2
Model Rancangan
Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua
faktorial dengan model sebagai berikut:
Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk
Dimana:
Yijk : Hasil pengamatan dari faktor K pada taraf ke-I dan faktor T pada taraf
kek ke-j dengan ulangan k
µ : Efek Nilai tengah
αk : Efek dari faktor K pada taraf ke-i
βt : Efek dari faktor T pada taraf ke-j
(αβ)kt : Efek interaksi faktor K pada taraf ke-i dan pada faktor T pada taraf ke –j
εktk : Efek galat dari faktor K pada taraf ke-i dan faktor T pada taraf ke-j
dalam ulangan ke-k
Jika diperoleh hasil yang nyata atau sangat nyata kemudian dilanjutkan
dengan uji perbedaan sepasang nilai tengah dengan uji LSR (Least Significant
Range).
Pelaksanaan Penelitian
Pembutan lilin lebahDalam pembuatan lilin lebah, sarang lebah dicuci dengan air mengalir.
Direbus sarang lebah dengan kondisi sarang lebah terendam seluruhnya dengan
suhu pemanasan 90oC. Dibuang kotoran yang yang terdapat pada permukaan
rebusan. Dipindahkan dan disaring kedalam wadah. Didiamkan sampai dingin
(T=30oC) dan diperoleh lilin pada permukaan air. Dikeluarkan lilin dari dalam air,
kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari hingga tidak ada air pada
permukaan lilin, sehingga diperoleh lilin lebah. Skema pembuatan lilin lebah
dapat dilihat pada Gambar. 2.
Pembuatan emulsi lilin lebah
Untuk mebuat emulsi lilin lebah, ditimbang lilin lebah (10 %, 12 %, 14 %
dan 16 % dari total emulsi yg dihasilkan sebayak 1 L). Kemudian dipanaskan
sampai mencair dalam beaker glass dengan suhu 85oC. Ditambahkan 20 ml asam oleat sedikit demi sedikit sambil diaduk. Dipanaskan aquadest 1000 ml dengan
suhu 90oC. Diambil 25 ml aquadest panas, ditambahkan 40 ml trietanolamin
sedikit demi sedikit sambil diaduk. Dituangkan campuran aquadest dan
Ditambahkan 25 ml aquadest panas sambil diaduk selama 2 menit. Ditambahkan
25 ml aquadest panas setiap menitnya sampai volume total emulsi 1 L. Diberikan
tekanan pompa 15 Bar selama (0, 10, 20 dan 30 menit). Dilakukan pengulangan
sebayak 2 x. Skema pembuatan emulsi lilin dapat dilihat pada Gambar. 3.
Pengamatan dan Pengukuran Data
Pengamatan dan Pengukuran data dilakukan dengan cara analisa terhadap
parameter: 1) Stabilitas Relatif Emulsi, 2) Viskositas, 3) Ukuran Partikel, 4) Uji
Organoleptik Warna dan 5) pH.
Penentuan Stabilitas Relatif Emulsi (Anief, 1999 dimodifikasi).
Di ambil bahan dan dimasukkan kedalam tabung reaksi, kemudian
dibiarkan selama 3 hari. Ditentukan stabilitas relatif emulsi berdasarkan kriteria
sebagai berikut:
Skor Keterangan
0% Terjadi koalesen (kerusakan emulsi yang bersifat irreversible) dan terdapat pemisahan antara air dan lilin.
25% Terjadi koalesen tetapi tidak terdapat pemisahan antara air dan lilin. 50% Terjadi creaming (kerusakan emulsi yang bersifat reversible), tetapi
terdapat pemisahan antara air dan lilin.
75% Terjadi creaming, tetapi tidak terjadi pemisahan antara air dan lilin. 100% Tidak terjadi koalesen dan creaming.
Penentuan Viskositas (Prasetyo, 2005 dimodifikasi)
Penentuan viskositas ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat
viscosimeter VT-03E dengan pembacaan yang dikalibrasi menurut JIS Z 8809
dengan satuannya adalah mPa/s. Cara pengukurannya adalah sebagi berikut :
1) Pegang viskosimeter dalam 1 tangan atau pada posisi berdiri. Ukur tingginya
rotor atau baling-baling (No.4) ditengah cup dan dimasukkan bahan pada batas
yang ditentukan. 3) Diubah setelan jarum “clamp” ke bawah. 4) Diatur tombol ke
“ON”. 5) Ketika baling-baling mulai berputar, jarum indicator akan bergerak
kesebelah kanan dan akan berhenti pada skala yang sesuai dengan caiaran bahan.
Skala yang dilihat harus sesuai dengan baling-baling yang digunakan. 6) Setelah
pengukuran selesai, tombol ON diubah ke OFF. Jarum indicator kembali kearah
semula dan setelan jarum “Clamp” diubah ke atas.
Penentuan Ukuran Partikel (Tim Mikrobiologi, 2011 dimodifikasi).
Diambil sampel dengan menggunakan jarum hose dan diteteskan ke
permukaan object glass kemudian object glass ditutup dengan deck glass. Object glass telah dipanggang di atas api bunsen sebelumnya. Disiapkan mikroskop optik (cahaya terpolarisasi) merk Olympus BH-2 dengan kamera vidio yang telah
disambungkan ke komputer dengan kabel kamera vidio. Diletakkan objeck glass
yang telah berisi sampel di atas meja preparat mikroskop, dan diihat ukuran
partikel emulsi yang terbentuk pada perbesaran 400 kali. Setelah didapat ukuran
partikel emulsi lalu emulsi tersebut difoto. Dijumlahkan ukuran partikel yang
berbeda dan merata-ratakannya.
Uji Organoleptik Warna (Sukarto, 1982 dimodifikasi).
Penentuan warna emulsi ini dapat dilakukan dengan menggunakan nilai
numerik sebagai petunjuk warna, yaitu:
Skor Warna
1 Kuning pucat
2 Putih kekuningan
3 Putih seperti susu
pH (Derajat Keasaman) (Abigail dan Daynul, 2011 dimodifikasi)
pH emulsi lilin diukur dengan menggunakan pH meter. Elektroda dibilas
dengan aquadest dan kemudian dikeringkan dengan tisu. Elektroda kemudian
dicelupkan kedalam sampel sampai diperoleh pembacaan yang stabil kemudian
dicatat nilai pH sampel. Setiap pergantian sampel yang akan diukur, elektroda
Gambar 2. Skema Pembuatan Lilin Lebah
Direbus dalam air hingga semua sel sarang mencair (T = 90oC)
Disaring dengan saringan biasa
Didinginkan (T = 30oC) dan diperoleh lilin pada permukaan
Lilin dikeluarkan dari dalam air
Dikeringkan di bawah sinar matahari
Lilin lebah
Dicuci sarang lebah dengan air mengalir
Gambar 3. Skema Pembuatan emulsi Lilin lebah
Ditimbang lilin lebah sesuai perlakuan (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14% dan K4 = 16%)
dari total emulsi 1 L Dipanaskan 1 L aquadest (T=90oC)
Dipanaskan dalam
beaker glass (T=85oC)
Ditambahkan 20 ml asam oleat sedikit demi sedikit sambil diaduk
Diaduk perlahan selama 2 menit
Ditambahkan 25 ml aquadest panas setiap menit sampai volumenya 1 L
Emulsi lilin
Diberikan tekanan pompa sebesar 15 Bar sesuai
perlakuan (T1= tanpa
pengadukan, T2= 10 menit,
T3= 20 menit dan T4= 30
menit)
Diambil 25 ml aquadest panas, ditambahkan trietanolamin 40 ml
sambil diaduk
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi lilin dan lama pemberian
tekanan memberi pengaruh terhadap parameter yang diamati. Pengaruh dari
konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap parameter yang diamati
dapat dilihat sebagai berikut.
Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Parameter yang Diamati
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi lilin memberikan
pengaruh terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas, ukuran partikel, uji
organoleptik warna dan pH dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Parameter yang Diamati Konsentrasi
Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa konsentrasi lilin memberi pengaruh
terhadap parameter yang diuji. Stabilitas relatif emulsi tertinggi terdapat pada
perlakuan K4 yaitu sebesar 68,75% dan terendah terdapat pada perlakuan K1 yaitu
sebesar 56,25%. Viskositas tertinggi terdapat pada perlakuan K4 yaitu sebesar
4,95 mPa.s dan terendah pada perlakuan K1 yaitu sebesar 4,463 mPa.s. Ukuran
partikel tertinggi terdapat pada perlakuan K4 yaitu sebesar 4,28 µ m dan terendah
pada perlakuan K1 yaitu sebesar 2,961 µ m. Uji organoleptik warna tertinggi
perlakuan K1 yaitu sebesar 2,526. Dan pH tertinggi terdapat pada perlakuan K3
yaitu sebesar 8,753 dan terendah terdapat pada perlakuanK1 yaitu sebesar 8,744.
Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Parameter yang diamati
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pemberian tekanan
memberikan pengaruh terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas, ukuran
partikel, nilai organoleptik warna dan pH dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.
Tabel 3. Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Parameter yang Diamati Lama
Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa lama pemberian tekanan memberi
pengaruh terhadap parameter yang diuji. Stabilitas relatif emulsi tertinggi terdapat
pada perlakuan T4 yaitu sebesar 96,875% dan terendah terdapat pada perlakuan T1
yaitu sebesar 31,25%. Viskositas tertinggi terdapat pada perlakuan T1 yaitu
sebesar 5,213 mPa.s dan terendah terdapat pada perlakuan T4 yaitu sebesar 4,188
mPa.s. Ukuran partikel tertinggi terdapat pada perlakuan T1 yaitu sebesar 4,561
dan terendah terdapat pada perlakuan K4 yaitu sebesar 3,04 µm. Uji organoleptik
warna tertinggi terdapat pada perlakuan T4 yaitu sebesar 2,691 dan terendah
terdapat pada perlakuan K1 yaitu sebesar 2,409. Dan pH tertinggi terdapat pada
perlakuan T1 yaitu sebesar 8,751 dan terendah terdapat pada perlakuan T4 yaitu
sebesar 8,743.
Hasil analisis statistik untuk masing-masing parameter yang diamati dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Stabilitas Relatif Emulsi
Pengaruh konsentrasi lilin terhadap stabilitas relatif emulsi
Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa
konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda nyata (p<0,05) terhadap stabilitas
relatif emulsi.
Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR yang menunjukkan pengaruh konsentrasi lilin terhadap stabilitas relatif emulsi dapat dilihat pada
Tabel 4.
Tabel 4. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Stabilitas Relatif Emulsi
Jarak LSR Konsentrasi
Lilin (%)
Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).
Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan K1 memberi pengaruh berbeda
tidak nyata terhadap K2, K3 dan berbeda sangat nyata terhadap K4. Perlakuan K2
memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap K3 dan berbeda sangat nyata
terhadap K4. Perlakuan K3 memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap K4.
Stabilitas Relatif Emulsi tertinggi diperoleh pada perlakuan K4 yaitu sebesar
68,750% dan terendah diperoleh pada K1 yaitu sebesar 56,250%.
Hubungan antar konsentrasi lilin terhadap stabilitas relatif emulsi dapat dilihat
pada Gambar 4.
Gambar 4. Hubungan Konsentrasi Lilin dengan Stabilitas Relatif Emulsi
Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa stabilitas relatif emulsi tertinggi
diperoleh pada K4 sebesar 68,750% dan terendah pada K1 sebesar 56,250%. Dari
Gambar 4 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi lilin maka nilai
kesetabilan relatif emulsi juga meningkat. Hal ini disebabkan karena adanya gerak
Brown sehingga partikel koloid terhindar dari pengendapan karena terus-menerus
bergerak, sehingga koloid menjadi stabil. Wanibesak, (2011) menyatakan bahwa
kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya gerak emulsi. Meskipun telah
sampai ke dasar wadah, partikel koloid dapat naik kembali dan terus bergerak
dalam mediumnya.
Pengaruh lama pemberian tekanan terhadap stabilitas relatif emulsi
Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa lama
pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap
stabilitas relatif emulsi.
0
Konsentrasi lilin (%)
Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR yang menunjukkan pengaruh lama pemberian tekanan terhadap stabilitas relatif emulsi dapat dilihat
pada Tabel 5.
Tabel 5. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Stabilitas Relatif Emulsi
Jarak
Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).
Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 memberi pengaruh berbeda
sangat nyata terhadap T2, T3, T4. Perlakuan T2 memberi pengaruh berbeda sangat
nyata terhadap T3 dan T4. Perlakuan T3 memberikan pengaruh berbeda sangat
nyata terhadap T4. Stabilitas Relatif Emulsi tertinggi diperoleh pada perlakuan T4
yaitu sebesar 96,875% dan terendah diperoleh pada T1 yaitu sebesar 31.250%.
Hubungan antar lama pemberian tekanan terhadap stabilitas relatif emulsi
dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Hubungan Lama Pemberian Tekanan dengan Stabilitas Relatif Emulsi
Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa stabilitas relatif emulsi tertinggi
diperoleh pada T4 sebesar 96,875% dan terendah pada T1 sebesar 31,250%. Dari
Gambar 5 dapat dilihat bahwa semakin lama pemberian tekanan maka stabilitas
relatif emulsi semakin meningkat. Nguyen, (2010). Menjelaskan bahwa
Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi yaitu: 1) Perbedaan berat jenis
antara kedua fase, 2) Kohesi fase terdispersi, 3) Persentase padatan didalam
emulsi. 4) Temperatur luar yang ekstrim, 5) Ukuran butiran fase terdispersi, 6)
Viskositas fase kontinyu. 7) Muatan fase terdispersi, 8) Distribusi ukuran butiran
fase terdispersi, 9) Tegangan interfasial antara kedua fase.
Pengaruh interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap stabilitas relatif emulsi
Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 1) menunjukkan bahwa
konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberi pengaruh yang berbeda
tidak nyata (p>0.05) terhadap stabilitas relatif emulsi sehingga uji Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.
Viskositas
Pengaruh konsentrasi lilin terhadap viskositas
Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa
konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap
viskositas.
Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR yang menunjukkan pengaruh konsentrasi lilin terhadap viskositas dapat dilihat pada table 6.
Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan K1 memberi pengaruh berbeda
nyata terhadap K2, K3 dan K4. Perlakuan K2 memberi pengaruh berbeda tidak
nyata terhadap K3 dan berbeda nyata terhadap K4. Perlakuan K3 memberi
pengaruh berbeda tidak nyata terhadap K4. Viscositas tertinggi diperoleh pada
perlakuan K4 yaitu sebesar 4,950 mPa.s dan terendah diperoleh pada K1 yaitu
sebesar 4,463 mPa.s.
Tabel 6. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Viskositas
Jarak LSR Konsentrasi
Emulsi (%)
Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).
Hubungan antara konsentrasi lilin terhadap viskositas dapat dilihat pada
Gambar 6.
Gambar 6. Hubungan Konsentrasi lilin dengan Viskositas
Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi emulsifier
maka viskositas emulsi semakin meningkat. Hal ini disebabkan perubahan
komposisi serta adanya hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas
fase kontinyu, makin besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas
nyatanya. Sarmoko, (2010) menjelaskan bahwa untuk mengatur viskositas emulsi,
0 0
Konsentrasi lilin (%)
ada tiga faktor inetraksi yang harus dipertimbangkan, yaitu : a) Viskositas emulsi
o/w dan w/o dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran partikel fase
terdispersis, b) Kesetabilan emulsi ditingkatkan dengan pengurangan ukuran
partikel, c) Flekulasi atau penggumpalan yang cenderung membentuk fase dalam
yang dapat meningkatkan efek penstabil, biasanya viskositas emulsi meningkat
dengan meningkatnya umur sediaan tersebut.
Pengaruh lama pemberian tekanan terhadap viskositas
Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa lama
pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap
viskositas.
Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR yang menunjukkan pengaruh lama pemberian tekanan terhadap viskositas dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Viskositas
Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).
Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 memberi pengaruh berbeda
sangat nyata terhadap T2, T3 dan T4. Perlakuan T2 memberi pengaruh berbeda
sangat nyata terhadap T3 dan T4. Perlakuan T3 memberi pengaruh berbeda sangat
nyata terhadap T4. Viskositas tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 sebesar 5,213
mPa.s dan terendah pada perlakuan T4 sebesar 4,188 mPa.s.
Hubungan antara lama pemberian tekanan dengan viskositas dapat dilihat
pada Gambar 7.
Gambar 7. Hubungan Lama Pemberian Tekanan terhadap Viskositas
Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa semakin lama pemberian tekanan
maka viskositas emulsi semakin menurun. Hal ini disebabkan karena emulsi
memiliki partikel yang makin halus sehingga menunjukkan viskositas yang makin
kecil. Nguyen, (2010). menjelaskan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi
viskositas suatu emulsi adalah viskositas medium dispersi, persentase volume
medium dispersi, ukuran partikel fase terdispersi dan jenis serta konsentrasi
emulsifier/stabilizer yang digunakan.
Pengaruh interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap viskositas
Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 2) menunjukkan bahwa
konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberi pengaruh yang berbeda
r = - 0,989
tidak nyata (p>0.05) terhadap viscositas sehingga uji Least Significant Range
(LSR) tidak dilanjutkan.
Ukuran Partikel
Pengaruh konsentrasi lilin terhadap ukuran partikel
Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa
konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap
ukuran partikel.
Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR menujukkan pengaruh konsentrasi lilin terhadap ukuran patikel dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Ukuran Partikel
Jarak LSR Konsentrasi
Lilin (%)
Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).
Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan K1 memberi pengaruh berbeda
sangat nyata terhadap K2, K3 dan K4. Perlakuan K2 memberi pengaruh berbeda
sangat nyata terhadap K3 dan K4. Perlakuan K3 memberi pengaruh berbeda sangat
nyata terhadap K4. Ukuran partikel tertinggi diperoleh pada perlakuan K4 yaitu
sebesar 4,280 µm dan terendah diperoleh pada K1 yaitu sebesar 2,961 µm.
Hubungan antara konsentrasi emulsi terhadap ukuran partikel dapat dilihat
pada Gambar 8.
Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa ukuran partikel tertinggi diperoleh
pada perlakuan K4 yaitu 4,280 µ m dan terendah pada perlakuan K1 yaitu 2,961
µ m. Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi lilin maka
nilai ukuran partikel juga meningkat. Hal ini dipengaruhi dari tipe dan konsentrasi
dari pengemulsi, perlakuan mekanik seperti penggunaan koloid mill,
homogenizer, cara dan waktu penyimpanan produk. Hal ini sesuai dengan penyataan Wanibesak, (2011) yang menjelaskan mengapa gerak Brown sulit
diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair
dengan suspensi zat padat.
Gambar 8. Pengaruh Konsentrasi Emulsi terhadap Ukuran partikel
Pengaruh lama pemberian tekanan terhadap ukuran partikel
Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa lama
pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap
ukuran partikel.
Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR menunjukkan pengaruh lama pemberian tekanan terhadap ukuran partikel dapat dilihat pada
Tabel 9.
Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 memberi pengaruh berbeda
sangat nyata terhadap T2, T3 dan T4. Perlakuan T2 memberi pengaruh berbeda 0
Konsentrasi lilin (%)
sangat nyata terhadap T3 dan T4. Perlakuan T3 memberi pengaruh berbeda sangat
nyata terhadap T4. Ukuran partikel tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 yaitu
sebesar 4,561 µm dan terendah diperoleh pada T4 yaitu sebesar 3,040 µm.
Tabel 9. Uji LSR Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Ukuran Partikel
Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).
Hubungan antara lama pemberian tekanan dengan ukuran partikel dapat
dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9. Hubungan Lama Pemberian Tekanan terhadap Ukuran Partikel
Dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa semakin lama pemberian tekanan
maka ukuran partikel semakin menurun. Sarmoko, (2010) menjelaskan bahwa
Pengecilan ukuran partikel dibutuhkan untuk meningkatkan kelarutan,
meningkatkan homogenitas dan memudahkan dalam pencampuran serta
r = - 0,986
kenyamanan dalam penggunaan. Salah satu cara penecilan ukuran partikel adalah
dengan compression yaitu pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga secara perlahan (lebih kecil dibandingkan impact) pada permukaan partikel (pada bagian pusat dari partikel).
Pengaruh interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap ukuran partikel
Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) menunjukkan bahwa
konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberi pengaruh berbeda sangat
nyata (p<0.01) terhadap ukuran partikel.
Hasil pengujian dengan Least Significant Range (LSR), interaksi konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap ukuran partikel tiap-tiap
perlakuan dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Interaksi Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap Ukuran Partikel
Jarak LSR Perlakuan Rataan
Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).
Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa ukuran partikel tertinggi terdapat pada
kombinasi perlakuan K4T1 sebesar 5,270 µm dan terendah terdapat pada kombinasi