• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Konsentrasi Lilin Dan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Pengaruh Konsentrasi Lilin Dan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KONSENTRASI LILIN dan LAMA PEMBERIAN

TEKANAN TERHADAP SIFAT FISIK EMULSI

LILIN SARANG LEBAH

SKRIPSI

OLEH:

M. ABDUL ROZAQ 050305034

DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

PENGARUH KONSENTRASI LILIN dan LAMA PEMBERIAN

TEKANAN TERHADAP SIFAT FISIK EMULSI

LILIN SARANG LEBAH

SKRIPSI

OLEH:

M. ABDUL ROZAQ 050305034

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana Teknologi Pertanian di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh: Komisi Pembimbing

Ir. Terip Karo-Karo, MS Dr. Ir. Elisa Julianty, M.Si

Ketua Anggota

DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

M. Abdul Rozaq: PENGARUH KONSENTRASI LILINDAN LAMA PEMBERIAN TEKANAN TERHADAP SIFAT FISIK EMULSI

LILIN SARANG LEBAH Dibimbing oleh: Terip Karo-Karo

Elisa Julianty

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengatahui pengaruh konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap sifat fisik emulsi lilin sarang lebah. Penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu konsentrasi lilin (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14%, K4 = 16%) dan lama

pemberian tekanan (T1 = tanpa pengadukan, T2 = 10 menit, T3 = 20 menit, T4 = 30

menit). Parameter yang diamati yaitu stabilitas relatif emulsi, viskositas, ukuran partikel, uji organoleptik (warna) dan pH (derajat keasaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi emulsi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas dan ukuran partikel tetapi berbeda tidak nyata terhadap uji organoleptik (warna) dan pH. Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas dan uji organoleptik (warna) tetapi berbeda tidak nyata terhadap pH. Interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap ukuran partikel tetapi berbeda tidak nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas, uji organoleptik (warna) dan pH. Konsentrasi lilin 16% dan lama pemberian tekanan selama 30 menit menghasilkan emulsi lilin sarang lebah yang paling baik.

Kata kunci: Emulsi, Lilin sarang lebah, Pompa Tekanan Tinggi. M. Abdul Rozaq: INFLUENCE WAX CONCENTRATION AND

SO LONG PRESSURIZING TO EMULSIONS PHYSICAL CHARACTER BEEHIVE WAX

Supervised by: Terip Karo-Karo Elisa Julianty ABSTRACT

The aim of this research was to know the influence of wax concentration and pressurizing time on physical properties of beehive wax emulsions. The research was carried out using factorial completely randomized design with the 2 factors i.e : the wax concentration (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14%, K4 = 16%)

and the pressurizing time (T1 = without mixing, T2 = 10 minute, T3 = 20 minute,

T4 = 30 minute). The parameters analyzed were emulsion relative stability,

(4)

value (color) and pH. The wax concentration of 16% and 30 minutes pressurizing produced the best quality of beehive wax fruit coating.

(5)

RINGKASAN

M. ABDUL ROZAQ, “Pengaruh Konsentrasi Lilindan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah” dibimbing oleh

Ir. Terip Karo-Karo MS. selaku ketua komisi pembimbing dan

Dr. Ir. Elisa Julianty, M. Si., selaku anggota komisi pembimbing.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Konsentrasi Lilin dan

Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah.

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan 2

faktor, yaitu: faktor 1: Konsentrasi lilin yang terdiri dari 4 taraf yaitu K1 = 10%:

K2 = 12%: K3 = 14% dan K4 = 16% dan faktor 2: Lama pemberian tekanan yang

terdiri dari 4 taraf yaitu: T1 = tanpa pengadukan: T2 = 10 menit: T3 = 20 menit dan

T4 = 30 menit.

Dari penelitian yang telah dilaksanakan didapat bahwa:

1. Stabilitas Relatif Emulsi

Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda nyata (p<0,05) terhadap

stabilitas relatif emulsi. Stabilitas relatif emulsi tertinggi diperoleh pada perlakuan

K1 sebesar 68.750% dan stabilitas relatif emulsi terendah diperoleh pada

perlakuan K4 sebesar 56.250%.

Lama pemberian tekanan memberikan berbeda sangat nyata (p<0,01)

terhadap stabilitas relatif emulsi. Stabilitas relatif emulsi tertinggi diperoleh pada

perlakuan T4 sebesar 96.875% dan stabilitas relatif emulsi terendah diperoleh pada

(6)

Interaksi antar konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan

pengaruh berbeda tidak nyata (p>0,05) terhadap stabilitas relatif emulsi sehingga

uji Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.

2. Viskositas

Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01)

terhadap viskositas. Viskositas tertinggi diperoleh pada perlakuan K4 sebesar

4.950 mPa.s dan viskositas terendah diperoleh pada perlakuan K1 sebesar 4.463

mPa.s.

Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata

(p<0,01) terhadap viskositas. Viskositas tertinggi diperoleh pada perlakuan T1

sebesar 5.213 mPa.s dan viskositas terendah diperoleh pada perlakuan T4 sebesar

4.188 mPa.s.

Interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan

pangaruh berbeda tidak nyata (p>0,05) terhadap viskositas sehingga uji Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.

3. Ukuran Partikel

Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0.01)

terhadap ukuran partikel. Ukuran partikel tertinggi diperoleh pada perlakuan K4

sebesar 4.280 µm dan ukuran partikel terendah diperoleh pada perlakuan K1

sebesar 2,961 µm.

Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata

(7)

perlakuan T1 sebesar 4.561 µ m dan ukuran partikel terendah diperoleh pada

perlakuan T4 sebesar 3.040 µm.

Interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan

pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap ukuran partikel. Ukuran partikel

tertinggi diperoleh pada perlakuan K4T1 sebesar 5,270 µm dan ukuran partikel

terendah diperoleh pada perlakuan K1T4 sebesar 2,160 µm.

4. Uji Organoleptik Warna

Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (p>0,05)

terhadap uji organoleptik warna sehingga pengujian dengan Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.

Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata

(p<0,01) terhadap uji organoleptik warna. Warna tertinggi diperoleh pada

perlakuan T4 sebesar 2.691 dan ukuran partikel terendah diperoleh pada perlakuan

T1 sebesar 2.409.

Interaksi antar konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan

pengaruh berbeda tidak nyata (p>0,05) sehingga uji Least Significant Range

(LSR) tidak dilanjutkan.

5. pH (derajat keasaman)

Konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (p>0,05)

terhadap pH sehingga uji Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.

Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata

(8)

Interaksi antar konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan

(9)

RIWAYAT HIDUP

M. ABDUL ROZAQ dilahirkan di Medan pada tanggal 28 November 1987. Anak ketiga dari bapak Sadikin dan ibu Mardiah Syam Tambunan. Penulis

merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Tahun 1999 lulus dari SD INPRES 060511, tahun 2002 lulus dari SMP

Dharma Pancasila Medan dan pada tahun 2005 penulis lulus dari SMU Dharma

Pancasila Medan. Pada tahun 2005 lulus seleksi masuk USU melalui jalur SPMB.

Penulis memilih Program Studi Teknologi Hasil Pertanian jurusan Teknologi

Pertanian, Fakultas Pertanian.

Selama mengikuti kuliah penulis aktif menjadi pengurus IMTEP (Ikatan

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur terlebih dahulu penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan

Yang Maha Esa atas berkat dan anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat selesai.

Skripsi ini berjudul ”Pengaruh Konsentrasi Lilin Dan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah”.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada

Bapak Ir. Terip Karo-Karo, MS selaku ketua komisi pembimbing, serta Ibu

Dr. Ir. Elisa Julianty, M. Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah banyak

memberikan bimbingan, pengarahan serta saran-saran dalam menyelesaikan

skripsi ini.

Penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada

Ayahanda Sadikin dan Ibunda Mardiah Syam Tambunan atas segala do’a,

perhatian dan kasih sayangnya. Abangku yang tercinta M. Cici Harpenas, Shut

dan adikku M. Iqbal Sugeng P.

Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, Agustus 2011

(11)

DAFTAR ISI

Hal

ABSTRAK ... i

RINGKASAN ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

Stabilitas emulsi... 10

Analisa Sifat Fisik Emulsi ... 12

Stabilitas relatife emulsi ... 12

Ukuran partikel ... 13

Viscositas ... 15

(12)

Penelitian Sebelumnya ... 16

BAHAN DAN METODA PENELITIAN Bahan Penelitian ... 18

Waktu dan Tempat Penelitian ... 18

Alat Penelitian ... 18

Metoda Penelitian ... 18

Model Rancangan ... 19

Pelaksanaan Penelitian ... 20

Pembutan Lilin Lebah ... 20

Pembuatan Emulsi Lilin Lebah ... 20

Pengamatan dan Pengukuran Data ... 21

Stabilitas Relatif Emulsi ... 21

Viskositas ... 21

Ukuran Partikel ... 22

Nilai Organoleptik Warna ... 22

pH ... 23

Skema Proses Penelitian ... 24

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Parameter yang Diamati ... 26

Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Parameter yang Diamati ... 27

Stabilitas Relatif Emulsi Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Stabilitas Relatif Emulsi... 28

Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Stabilitas Relatif Emulsi... 30

Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap Stabilitas Relatif Emulsi... 31

Viskositas Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Viskositas ... 32

Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Viskositas ... 33

Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap Viskositas ... 35

Ukuran Partikel Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Ukuran Partikel ... 35

Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Ukuran Partikel ... 37 Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin

(13)

Ukuran Partikel ... 38

Nilai Organoleptik Warna Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Nilai Organoleptik Warna ... 40

Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Nilai Organoleptik Warna ... 41

Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap Nilai Organoleptik Warna ... 42

pH /Derajat Keasaman Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap pH ... 42

Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap pH ... 43

Pengaruh Interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap pH ... 43

KESIMPULAN DAN SARAN ... 44

DAFTAR PUSTAKA ... 45

(14)

DAFTAR TABEL

No Judul Hal

1 Hubungan antara ukuran partikel emulsi dengan penampakannya……… 15

2 Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap

Parameter yang Diamati ... 26

3 Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap

Parameter yang Diamati ... 27

4 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap

Stabilitas Relatif Emulsi ... 28

5 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan

Terhadap Stabilitas Relatif Emulsi... 30

6 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin

Terhadap Viskositas ... 32

7 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan

Terhadap Viskositas ... 34

8 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin

Terhadap Ukuran Partikel ... 35

9 Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan

Terhadap Ukuran Partikel ... 37

10 Uji LSR interaksi Antara Konsentrasi Lilin dan Lama

Pemberian tekanan terhadap Ukuran Partikel ... 39

11 Uji LSR Efek Utama Lama Pemberian Tekanan

(15)

DAFTAR GAMBAR

No Judul Hal

1 Rumus Kimia dari Lilin Lebah ... 6

2 Skema Pembuatan Lilin Sarang Lebah ... 24

3 Skema Pembuatan Emulsi Lilin Lebah ... 25

4 Hubungan Konsentrasi Lilin dengan Stabilitas Relatif Emulsi ... 29

5 Hubungan Lama Pemberian Tekanan dengan Stabilitas Relatif Emulsi ... 31

6 Hubungan Konsentrasi Lilin dengan Viskositas ………. 33

7 Hubungan Lama Pemberian Tekanan dengan Viskositas ... 34

8 Hubungan Konsentrasi Lilin denganUkuran Partikel ... 36

9 Hubungan Lama Pemberian Tekanan dengan Ukuran Partikel ... 38

10 Interaksi antara Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan dengan Ukuran Partikel ... 40

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Hal

1 Data Pengamatan Analisa Stabilitas Relatif Emulsi (%) ... 47

2 Data Pengamatan Analisa Viscositas (mPa.s) ... 48

3 Data Pengamatan Analisa Ukuran Partikel (µ m) ... 49

4 Data Pengamatan Analisa Organoleptik Warna (numerik) ... 50

5 Data Pengamatan Analisa pH ... 51

6 Ukuran Partikel Emulsi Lilin ... 52

(17)

M. Abdul Rozaq: PENGARUH KONSENTRASI LILINDAN LAMA PEMBERIAN TEKANAN TERHADAP SIFAT FISIK EMULSI

LILIN SARANG LEBAH Dibimbing oleh: Terip Karo-Karo

Elisa Julianty

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan untuk mengatahui pengaruh konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap sifat fisik emulsi lilin sarang lebah. Penelitian menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu konsentrasi lilin (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14%, K4 = 16%) dan lama

pemberian tekanan (T1 = tanpa pengadukan, T2 = 10 menit, T3 = 20 menit, T4 = 30

menit). Parameter yang diamati yaitu stabilitas relatif emulsi, viskositas, ukuran partikel, uji organoleptik (warna) dan pH (derajat keasaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi emulsi memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas dan ukuran partikel tetapi berbeda tidak nyata terhadap uji organoleptik (warna) dan pH. Lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas dan uji organoleptik (warna) tetapi berbeda tidak nyata terhadap pH. Interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap ukuran partikel tetapi berbeda tidak nyata terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas, uji organoleptik (warna) dan pH. Konsentrasi lilin 16% dan lama pemberian tekanan selama 30 menit menghasilkan emulsi lilin sarang lebah yang paling baik.

Kata kunci: Emulsi, Lilin sarang lebah, Pompa Tekanan Tinggi. M. Abdul Rozaq: INFLUENCE WAX CONCENTRATION AND

SO LONG PRESSURIZING TO EMULSIONS PHYSICAL CHARACTER BEEHIVE WAX

Supervised by: Terip Karo-Karo Elisa Julianty ABSTRACT

The aim of this research was to know the influence of wax concentration and pressurizing time on physical properties of beehive wax emulsions. The research was carried out using factorial completely randomized design with the 2 factors i.e : the wax concentration (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14%, K4 = 16%)

and the pressurizing time (T1 = without mixing, T2 = 10 minute, T3 = 20 minute,

T4 = 30 minute). The parameters analyzed were emulsion relative stability,

(18)

value (color) and pH. The wax concentration of 16% and 30 minutes pressurizing produced the best quality of beehive wax fruit coating.

(19)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sarang lebah di Indonesia masih sangat kurang pemanfaatannya. Pada

pemanenan madu biasanya sarangnya tidak dimanfaatkan lebih lanjut oleh para

peternak lebah. Karena lilin yang berasal dari sarang lebah tersebut hanya

dimanfaatkan untuk pembuatan lilin (sebagai penerang) saja. Hal ini

menyebabkan peternak lebah tidak begitu memperhatikannya sehingga sarang

lebah itu dibuang begitu saja.

Manfaat lilin lebah adalah untuk bahan membatik, lilin penerang, industri

kosmetik, cold cream, lipstick dan berbagai lotion, juga bisa digunakan sebagai campuran pembuatan sabun natural yang berbahan dasar minyak. Pada industri

farmasi, lilin lebah digunakan untuk bahan pembuatan plester atau kain pembalut,

obat-obatan luar, campuran bahan-bahan tahan air/water proof, selain itu juga bisa digunakan sebagai campuran tinta, pensil, semir serta sebagai zat pengkilat.

Secara alami pada beberapa buah-buahan dan sayur-sayuran telah

mengandung lapisan lilin pada permukaan kulit. Tetapi sebagian lapisan lilin ini

hilang pada saat penanganan panen, pasca panen dan pencucian, sehingga perlu

diberi lapisan lilin untuk mengganti lapisan lilin yang hilang tersebut. Hal ini

bertujuan menghambat penguapan, proses pembusukan buah dan sekaligus

meningkatkan penampilan.

Pelpisan lilin akan membuat penampilan buah lebih segar dan mengkilat.

Dan inilah salah satu hal yang menyebabkan buah impor menjadi lebih menarik di

(20)

dipanen tanpa mendapat perlakuan pasca panen terlebih dahulu. Hal ini

menyebabkan buah lokal kalah bersaing dengan buah impor karena

penampilannya kurang menarik sehingga kurang diminati oleh konsumen

khususnya oleh masyarakat yang berkantong tebal.

Teknik pelapisan lilin merupakan salah satu metode yang sederhana dan

mudah untuk dilakukan. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan pelapis buah

dari emulsi lilin sarang lebah ini adalah sulitnya untuk melarutkan lilin dalam

pelarut (air) akibatnya bentuk emulsi yang dihasilkan tidak homogen dan

stabilitasnnya rendah. Dalam pelapisan lilin pada buah-buahan diharapkan lapisan

lilin yang homogen dan tidak terdapat gumpalan lilin yang tidak merata. Oleh

karena itu perlu adanya penanganan yang lebih baik, misalnya dengan

menggunakan emulsifier yang sesuai seperti tween, trietanolamin (bersama

dengan asam oleat) dan juga dengan penggunaaan pelarut lemak yang sesuai

untuk menghasilkan emulsi lilin yang stabil dan homogen.

Ada beberapa cara yang bisa diberikan dalam pembuatan emulsi lilin yang

baik salah satu diantaranya adalah dengan pemberian tekanan pengadukan pompa.

Untuk membuat emulsi lilin yang baik perlu homogenisasi, salah satu cara untuk

homogenisasi yaitu dengan cara memberi tekanan pompa.

Dari penjelasan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai “Pengaruh Konsentrasi Lilin Dan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah”.

(21)

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Konsentrasi Lilin

dan Lama Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah.

Kegunaan Penelitian

- Sebagai sumber data di dalam penyusunan skripsi di Departemen

Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,

Medan.

- Sebagai sumber informasi tentang Pengaruh Konsentrasi Lilin Dan Lama

Pemberian Tekanan Terhadap Sifat Fisik Emulsi Lilin Sarang Lebah.

Hipotesa Penelitian

- Konsentrasi lilin yang tepat akan menghasilkan kualitas emulsi lilin sarang

lebah yang baik.

- Lama pemberian tekanan memberi pengaruh terhadap kualitas emulsi lilin

sarang lebah yang baik.

- Interaksi konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberi pengaruh

terhadap kualitas emulsi lilin sarang lebah yang baik.

(22)

TINJAUAN PUSTAKA

Malam (Lilin Lebah)

Ada tiga jenis lilin yang dikenal di alam, yakni yang berasal dari hewan,

tumbuhan dan petrolium atau mineral. Lilin asal hewan yakni malam (beewax) adalah salah satu lilin yang kimianya stabil dan terkenal sepanjang sejarah

perdagangan dunia (Sihombing, 1992).

Terdapat dua golongan kualitas malam yaitu: 1) Malam kualitas pertama,

diperoleh dari sarang lebah yang masih baru dan belum pernah diisi madu atau

tepung sari oleh penghuninya. Malam yang diperoleh dari sarang demikian ini

warnanya putih dan bersih, 2) Malam kualitas kedua yaitu malam yang diperoleh

dari sarang lebah yang telah diisi madu serta telah diambil madunya

(Hardiwiyoto, 1978).

Pembuatan Lilin Lebah

Lilin lebah diperoleh dengan merebus sarang lebah pada suhu 65 oC, lilin

lebah akan mengapung di permukaan air. Kemudian lilin lebah tersebut

dipindahkan pada wadah perebus lain dan direbus lagi pada suhu 90 oC dan

didinginkan sehingga diperoleh lilin lebah yang lebih murni dan bersih

(Selvita, 2011).

Cara mendapatkan lilin lebah adalah dengan merebus sarang lebah dalam

panci aluminium sampai mendidih. Semua kotoran yang mengapung harus

dibuang setelah lilin lebah dibersihkan dari segala kotoran kemudian didinginkan

(23)

Komposisi Lilin Lebah

Lilin lebah merupakan lilin yang kompleks dibentuk dari campuran

beberapa komponen meliputi hidrokarbon 14%, monoester 35%, diester 14%,

triester 3%, hidroksi monoester 4%, hidroksi poliester 8%, asam ester 1%, asam

poliester 2%, asam bebas, alkohol bebas 1%, dan 6% sisanya tidak diketahui.

Komponen utama dari lilin lebah adalah palmitat, palmitoleat, hidroksi palmitat

dan ester oleat yang berantai panjang (C30-C32) dari alkohol aliphatic.

Perbandingan triacontanil palmitat (CH3(CH2)29O-CO-(CH2)14CH3 dengan asam

serotik (CH3(CH2)24COOH, yaitu 6:1 (Enslikopedia, 2007).

Lilin lebah ini berada dalam bentuk triester dan diester. Sebagai senyawa

tersier, lilin lebah merupakan ester dari asam lemak berantai panjang dengan

alkohol berantai panjang (sterol/fatty alcohol) dan asam hidroksilat, berupa senyawa diester dari alkanadiol atau asam hidroksilat (Kalattukudy, 1976).

Titik lebur lilin lebah murni berkisar antara 61-69oC (142-156oF), indeks

refraksinya 1,44. Tahanan dielektrisnya 2,9 dan berat jenis pada suhu 20oC adalah

0,96 lebih ringan dari air. Tidak larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol

dingin. Benzen chloroform, karbon disulfida, eter dan beberapa minyak yang

mudah menguap melarutkan malam komplit. Bau dan rasanya khas dan terbakar

dengan nyala kuning bersih dan mengeluarkan aroma unik. Malam sering

terkontaminasi dengan sedikit polen, propolis, dan madu yang meningkatkan berat

jenis dan warnanya (Sihombing, 1992).

Dari sudut pandang kimia, wax didefinisikan sebagai ester dari asam lemak dengan alkohol monohydrat dengan berat molekul tinggi. Ini dibedakan

(24)

(biasanya glycerol) dengan berat molekul rendah, dan bisa ditambahkan bahwa

apa yang disebut dengan minyak tetap atau minyak lemak dalam kenyataannya

adalah lemak yang dicairkan pada temperatur biasa (Greene, 1999). Adapun

rumus kimia lilin lebah adalah sebagai berikut:

O

C13H27C-O-C26H53

Gambar 1. Rumus Kimia dari Lilin Lebah (Central Food Technological Reseach Institute, 1977).

Aplikasi Lilin Lebah

Manfaat lilin lebah adalah untuk bahan membatik, lilin penerang, industri

kosmetik, cold cream, lipstick, dan berbagai lotion, juga bisa digunakan sebagai campuran pembuatan sabun natural yang berbahan dasar minyak. Pada industri

farmasi, lilin lebah digunakan untuk bahan pembuatan plester atau kain pembalut,

obat-obatan luar, campuran bahan-bahan tahan air/water proof, selain itu juga bisa digunakan sebagai campuran tinta, pensil, semir serta sebagai zat pengkilat

(Lamar, et al., 1976).

Untuk pencegahan terhadap pembusukan buah, sehingga pembusukan

pada buah dapat diperkecil. Salah satu caranya adalah dengan melapisi buah

dengan lilin. Tujuan pelapisan lilin adalah untuk mencegah penguapan atau

kehilangan air terlalu banyak, mempertahankan kesegaran dalam waktu yang

cukup lama, mencegah kelayuan, serta memperindah kulit buah (Selvita, 2011).

Sebagian penyalutan permukaan sama seperti permukaaan buah alami

yang mengandung lilin dimana lilin tersebut merupakan penghalang yang baik

untuk uap air. Ini mengurangi laju penguapan air dari permukaaan buah dan

(25)

buah, ini juga bisa memperlambat kehilangan air buah dan serangan awal layu

yang dapat dilihat, yang melindungi hasil bumi dari kehilangan nilai karena

penurunan kualitas. Kecendrungan kehilangan air bisa ditandai dengan kehilangan

berat segar dalam kondisi standar (Lopez, 1975).

Setelah panen, tetapi sebelum buah atau sayuran dikemas dan dikirim ke

supermarket, buah atau sayuran dicuci berulang kali untuk membersihkan kotoran

dan tanah. Pencucian ekstensif sedemikian juga menghilangkan lilin alami.

Karena itu, lilin digunakan pada sebagian hasil bumi di tempat pengemasan untuk

menggantikan lilin alami yang hilang. Lilin digunakan untuk: 1) membantu

menahan air di dalam buah dan sayuran selama pengiriman dan pemasaran, 2)

membantu menghambat pertumbuhan jamur, 3) melindungi buah dan sayuran dari

memar, 4) mencegah kerusakan fisik lainnya dan penyakit, 5) meningkatkan

tampilan. Dengan melindungi terhadap kehilangan air dan kontaminasi,

penyalutan lilin membantu buah dan sayuran segera mempertahankan keutuhan

dan kesegarannya. Penyalutan lilin tidak meningkatkan kualitas buah atau sayuran

berkualitas rendah, namun penyalutan lilin bersama-sama dengan penanganan

yang tepat – memberi kontribusi dalam pemelihataan produk yang sehat

(Extension, 1998).

Pompa Tekanan Tinggi (Homogenizer)

Homogenizer adalah sejenis alat yang digunakan untuk mendispersikan

suatu cairan didalam cairan lainnya, alat ini cocok digunakan untuk membuat

emulsi dengan kestabilan tinggi, Karena dapat menghasilkan emulsi yang

(26)

pangan, homogenizer banyak digunakan untuk mereduksi ukuran globula lemak

didalam susu segar system emulsinya lebih stabil (Nguyen, 2010).

Homogenizer yang digunakan di dalam industri tersebut terdapat didalam

banyak model dan kapasitas.perbedaan model tersebut terdapat dalam banyak

model dan kapasitas. Perbedaan model tersebut umumnya terletak pada konstrukis

lubang dan alat pengatur pengeluaranya (Nguyen, 2010).

Kebanyakan tekanan tinggi homogenizers digunakan untuk homogenisasi

diadaptasi dari peralatan komersial yang dirancang untuk menghasilkan emulsi

dan homogenat dalam industri makanan dan farmasi. Mereka menggabungkan

tekanan tinggi dengan katup pelampiasan. Mereka dengan rating tekanan

maksimum 10.000 psi pecah sekitar 40% dari sel pada single pass, 60% pada lulus

kedua dan 85% setelah empat lewat. Kapasitas homogenizers terus bervariasi dari

55 sampai 4.500 liter / jam pada 10-17% b / v konsentrasi sel. Dengan mesin

berkapasitas lebih besar beberapa melewati diperlukan untuk mencapai hasil yang

tinggi gangguan. Panas yang cukup dapat dihasilkan selama operasi ini

homogenizers dan karena itu penukar panas terpasang ke port outlet penting

(Yacko, 2004).

Emulsi

Sistem emulsi

Emulsi adalah suatu system heterogen, yang terdiri dari tidak kurang dari

sebuah fase cair yang tidak bercampur, yang terdispersi dalam fase cair lainnya,

dalam bentuk tetesan-tetesan, dengan diameter secara umum, lebih dari 0,1 μm.

Secara umum, emulsi merupakan system yang terdiri dari dua fase cair yang tidak

(27)

emulsi: 1) Fase dalam (internal), 2) Fase luar (eksternal), 3) Emulsifiying Agent

(emulgator) (King, 1984).

Selanjutnya menurut Bird, et al., (1983), emulsi dapat dibedakan atas dua tipe, yaitu emulsi dengan sistem o/w (oil in water) dan emulsi dengan sistem w/o (water in oil). Kondisi tergantung dari bagian yang menjadi fase kontinu atau bagian yang menjadi fase diskontinu. Contoh umum untuk emulsi o/w adalah air

susu dan mayonaise, sedangkan contoh emulsi w/o adalah margarin dan mentega. Komponen yang paling penting dalam pembentukan emulsi adalah

minyak, karena minyak menentukan apakah bentukan emulsi adalah o/w atau w/o.

Jenis dan jumlah minyak yang ditambahkan berpengaruh terhadap kestabilan

emulsi. Lemak atau minyak yang mengandung asam lemak jenuh lebih sukar

diemulsikan daripada lemak atau minyak yang mengandung lemak tidak jenuh

dengan satu atau dua ikatan rangkap dengan jumlah atom karbon yang sama

(Christian and Saffle, 1967).

Trietanolamina

Trietanolamina, sering disingkat sebagai TEA, adalah senyawa kimia

organik yang merupakan sebuah amina tersier dan triol satu. triol adalah molekul

dengan tiga kelompok alkohol. Seperti amina lainnya, trietanolamin merupakan

basis kuat karena pasangan elektron mandiri pada atom nitrogen. Trietanolamina

juga dapat disingkat sebagai TEOA, yang dapat membantu untuk

membedakannya dari trietilamina. Sekitar 150.000 metrik ton diproduksi pada

tahun 1999. Trietanolamina dihasilkan dari reaksi etilen oksida dengan amonia

air, juga diproduksi etanolamin dan Dietanolamina. Rasio produk dapat dikontrol

(28)

sebagai emulsifier dan surfaktan. Hal ini juga berfungsi sebagai penyeimbang pH

di banyak produk kosmetik yang berbeda - mulai dari pembersihan krim dan susu,

lotion kulit, gel mata, pelembab, shampoo, dll (Ensiklopedia, 2009).

Asam oleat

Asam oleat adala

dalam berbagai hewan dan lemak nabati. Ia memiliki rumus CH 3 (CH 2) 7 CH =

CH (CH 2) 7 COOH. Ini adalah tidak berwarna, tidak berbau minyak, walaupun

sampel komersial mungkin kekuningan. Para

cis untuk

isomer trans). Istilah "oleat" berarti berkaitan dengan atau berasal dari,

atau

pengemulsi atau pelarut dalam produk aerosol (Ensiklopedia, 2010).

Stabilitas emulsi

Sifat emulsi ditentukan oleh sistem gaya yang terbentuk oleh

komposisinya, jenis bahan yang membentuk emulsi dan interaksi antara

bahan-bahan tersebut. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi

menurut Griffin, (1954) dapat dibedakan menjadi lima yaitu ukuran partikel, jenis

dan jumlah pengemulsi, perbedaan densitas antara kedua fase, pergerakan

partikel, serta viskositas fase eksternal. Penggabungan partikel dapat dihambat

dengan menambahkan bahan pengemulsi yang mempunyai aksi pelindung koloid

dan meningkatkan viskositas fase eksternal.

Ketidakstabilan emulsi dapat disebabkan oleh banyak hal diantaranya;

tidak sesuainya rasio antar fase minyak dan air, jumlah dan pemilihan emulsifier

(29)

yang berlebihan, pembekuan serta waktu dan kecepatan pencampuran yang tidak

tepat atau cocok (Bennet, 1964).

Dasar teori kestabilan emulsi menurut Petrowski, (1976) adalah

keseimbangan antara gaya tarik dan gaya tolak partikel. Gaya tolak elektrostatik

bersifat menstabilkan karena gaya ini cenderung mempertahankan butiran-butiran

yang terpisah. Sebaliknya gaya tarik menurunkan kestabilan emulsi, tetapi jika

agregat terbentuk maka sifat fisik dan mekanik lainnya akan tetap mencegah tahap

lanjut pengrusakan kestabilan partikel-partikel yang bergabung.

Zat aktif permukaan diarahkan pada suatu cara khusus pada antar muka.

Bagian hidrofilik berada dalam fase air sedangkan bagian lipofiliknya berada

dalam fase minyak. Selanjutnya zat aktif permukaan berorientasi pada antarmuka

adalah berkurangnya sedikit demi sedikit tegangan permukaan dengan berjalannya

waktu seiring dengan penambahan zat aktif permukaan sampai dicapai suatu

harga konstan. Sifat ini melukiskan bahwa molekul-molekul zat aktif permukaan

berdifusi melalui air sampai mencapai antarmuka dimana molekul-molekul

tersebut diadsorbsi membentuk sistem yang stabil (Lachman, et al., 1994).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi adalah sebagai

berikut : 1) Perbedaan berat jenis antara kedua fase, 2) Kohesi fase terdispersi,

3) Persentase padatan didalam emulsi. 4) Temperatur luar yang ekstrim,

5) Ukuran butiran fase terdispersi, 6) Viskositas fase kontinyu. 7) Muatan fase

terdispersi, 8) Distribusi ukuran butiran fase terdispersi. 9) Tegangan interfasial

antara kedua fase (Nguyen, 2010).

Stabilitas emulsi adalah sifat emulsi tanpa adanya koalesen dari fase

(30)

lainnya. Peneliti lain mendefenisikan bahwa ketidakstabilan fisis suatu emulsi

adalah adanya agglomerasi dari fase intern dan terjadi pemisahan produk

(Anief, 1999).

Creaming adalah proses yang bersifat reversible, berbeda dengan proses pecahnya emulsi yang bersifat irreversible. Flokul cream dapat mudah didispersi kembali, dan terjadi campuran homogen bila digojok perlahan-lahan, karena

butir-butir tetesan tetap dilingkupi dengan film pelindung. Sedangkan koalesen, dengan

pengojokan sederhana akan gagal untuk mensuspensi kembali butir-butir tetesan

dalam bentuk emulsi yang stabil, karena film yang meliputi partikel sudah rusak

(Anief, 1999).

Analisa Sifat Fisik Emulsi

Beberapa sifat fisik yang mempengaruhi emulsi diantaranya adalah

stabilitas relatif emulsi, viskositas dan ukuran globula (partikel).

Stabilitas relatif emulsi

Dasar teori stabilitas emulsi adalah keseimbangan antara gaya tolak dan

gaya tarik menarik yang bekerja dalam sistem. Stabilitas emulsi akan mencapai

maksimum apabila gaya tolak antara globula-globula fase tidak kontinyu

mencapai maksimum. Sebaliknya gaya tarik-menarik mencapai minimum. Gaya

tolak menolak berasal dari lapisan ganda dan gaya tarik menarik berasal dari gaya

Van der Waals (Petrowski, 1976).

Kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya gerak emulsi. Meskipun

telah sampai ke dasar wadah, partikel koloid dapat naik kembali dan terus

bergerak dalam mediumnya. Penyebab lainnya karena umumnya partikel koloid

(31)

sejenis, sehingga partikel-partikel koloid itu saling tolak-menolak karena

pengaruh ion sejenis yang telah diadsorpsi (Wanibesak, 2011)

Emulsi dikatakan tidak stabil bila mengalami creaming, koaleser dan

eracking. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana yang satu mengandung fase dispers lebih banyak daripada lapisan yang lain. Creaming

bersifat reversibel artinya bila dikocok perlahan-lahan akan terdispersi kembali,

Koaleser dan eracking (breaking) yaitu pecahnya emulsi karena film yang meliputi partikel rusak dan butir minyak akan koalesen (menyatu). Sifatnya

irreversibel (tidak bisa diperbaiki). Hal ini dapat terjadi karena peristiwa kimia,

seperti penambahan alkohol, perubahan pH, serta peristiwa fisika. Seperti

pemanasan, penyaringan, pendinginan dan pengadukan (Sarmoko, 2010).

Gerak brown adalah gerak tidak beraturan atau gerak acak atau gerak

zig-zag partikel koloid. Hal ini terjadi karena adanya benturan tidak teratur dari

partikel koloid denga medium pendispersi. Dengan adanya gerak Brown ini maka

partikel koloid terhindar dari pengendapan karena terus-menerus bergerak,

sehingga koloid menjadi stabil. Gerak zig-zag partikel koloid disebut gerak

Brown, sesuai dengan nama penemunya Robert Brown (Wanibesak, 2011).

Ukuran partikel

Ukuran dari partikel ini tergantung dari tipe dan konsentrasi dari

pengemulsi, perlakuan mekanik seperti penggunaan koloid mill, homogenizer, cara dan waktu penyimpanan produk. Kebanyakan emulsi mempunyai ukuran

droplet lebih kecil dari 0,25 µm diameternya. Untuk droplet paling besar

mempunyai diameter sekitar 50 µm. Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk

(32)

atau dengan menggunakan lubang khusus untuk mengukur besar partikel

(Fennema, 1985).

Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang

terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat

gerak Brown yang terjadi. Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit

diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair

dengan suspensi zat padat (Wanibesak, 2011).

Pengecilan ukuran partikel dibutuhkan untuk meningkatkan kelarutan,

meningkatkan homogenitas dan memudahkan dalam pencampuran serta

kenyamanan dalam penggunaan. Mekanisme pengecilan ukuran partikel dapat

dilakukan dengan cara : a) Impact : pengecilan ukuran partikel akibat tenaga tumbukan yang tiba-tiba yang tegak lurus pada permukaan partikel/aglomerat,

b) Attrition : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga paralel pada permukaan partikel, c) Compression : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga secara perlahan (lebih kecil dibandingkan impact) pada permukaan partikel (pada bagian pusat dari partikel), d) Cutting : pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan pembagian/sharring partikel (memotong partikel) (Sarmoko, 2010).

Penampakan emulsi ini pada dasarnya dipengaruhi oleh ukuran pertikel

emusi dan perbedaan indeks bias antara fase terdispersi dan medium terdispersi.

Pada prinsipnya emulsi yang tampak jernih hanya mungkin terbentuk bila indeks

bias kedua fasenya sama atau ukuran partikel terdispersinya lebih kecil dari

(33)

Table 1. Hubungan antara ukuran partikel emulsi dengan penampakannya

Ukuran Partikel Penampakan

Makroglobula Kedua fasenya dapat dibedakan > 1 mikron Tampak putih seperti susu 0.1 – 1 mikron Tampak biru keputihan 0.05 – 0.1 mikron Abu-abu agak transparan < 0.05 mikron Transparan

Sumber : Nguyen (2010)

Viskositas

Peningkatan rasio minyak/air berarti penurunan fase pendispersi dan

meningkatnya fase terdispersi. Penurunan fase pendispersi ini mengakibatkan

viskositas akan semakin meningkat. Jadi apabila konsentrasi fase terdispersi

ditingkatkan maka akan diikuti oleh peningkatan viskositas yang dihasilkan

(Jost, et al., 1986).

Viskositas emulsi dipengaruhi oleh perubahan komposisi adanya

hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas fase kontinyu, makin

besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas nyatanya. Untuk mengatur

viskositas emulsi, ada tiga faktor inetraksi yang harus dipertimbangkan, yaitu :

a) Viskositas emulsi o/w dan w/o dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran

partikel fase terdispersis, b) Kesetabilan emulsi ditingkatkan dengan pengurangan

ukuran partikel, c) Flokulasi atau pemggumpalan yang cenderung membentuk

fase dalam yang dapat meningkatkan efek penstabil (Sarmoko, 2010).

Faktor – faktor yang mempengaruhi viskositas suatu emulsi adalah

viskositas medium dispersi, persentase volume medium dispersi, ukuran partikel

fase terdispersi dan jenis serta konsentrasi emulsifier/stabilizer yang digunakan.

Semakin tinggi viskositas dan persentase medium disperse, maka makin tinggi

(34)

maka semakin tinggi viskositasnya dan makin tinggi konsentrasi

emulsifier/stabilizer yang digunakan (Nguyen, 2010).

Faktor penyimpanan juga mempengaruhi viskositas dari emulsi. Semakin

lama produk disimpan makin rendah viskositasnya. Hal ini disebabkan karena

adanya protonisasi hal ini menyebabkan penurunan pada daya pengikat dari bahan

penstabil dan menunjang terbukanya konfigurasi polimer (Jost, et al., 1986).

Cara Pembuatan Lilin dan Emulsi Lilin

Madu disaring atau disentrifus dari sel sarang madu, kemudian sel

sarang dipanaskan pada suhu 66-71oC (150-160oF) malam akan melebur dan

mengapung diatas sisa madu, dan setelah didinginkan malam mudah diperoleh

(Sihombing, 1992).

Sarang lebah yang sudah tua direndam di dalam air selama beberapa jam

dibersihkan untuk melarutkan material-material dari dalam sel sarang. Jika tahap

ini tidak berjalan dengan baik, lilin akan menyerap kotoran dan juga warna.

Setelah sel sarang dibersihkan, dicairkan pada air panas. Cairan lilin akan

mengapung pada bagian permukaan dan material-material asing yang ada dalam

sel sarang akan larut dalam air panas tersebut. Setelah dingin lilin akan terbentuk

pada bagian atas air (Abrol, 1997).

Lilin diberikan dalam bentuk emulsi. Penggunaan emulsi lilin dalam air

lebih aman dibandingkan pelarut jenis lain yang mudah terbakar. Emulsi lilin

hendaknya menggunakan air suling/aquadest tidak boleh menggunakan air sadah

karena garam-garam yang terkandung dalam air sadah akan merusak emulsi lilin.

Bahan pengemulsi yang biasa digunakan adalah trietanolamin (TEA) dan asam

oleat (Lolit Jeruk, 2004).

(35)

Penelitian Sebelumnya

Konsentrasi lilin yang digunakan untuk buah jeruk berkisar 4%-12%.

Pembuatan emulsi dengan pengemulsi trietanolamin (TEA) dan asam oleat

menggunakan perbandingan lilin : TEA : asam oleat, 6:2:1. Misalnya untuk

pembuatan emulsi lilin 6%, dibutuhkan 60 g lilin, 20 ml TEA dan 10 ml asam

oleat. Jumlah air (aquadest) yang ditambahkan adalah hasil pengurangan 1000 ml

– (60+20+10) = 910 ml aquadest (Lolit Jeruk, 2004).

Menurut Ginting, (1995) pada pembuatan emulsi lilin 12% digunakan

sebanyak 1 liter aquadest, kemudian emulsi lilin ini dapat diencerkan sesuai

dengan konsentrasi yang diinginkan. Sebanyak 120 ml dipanaskan sampai

mencair di dalam beaker glass. Kemudian ke dalam 25 ml air panas ditambahkan

40 ml trietanolamin. Sebelumnya ke dalam mortar dimasukkan air panas supaya

mortar ini menjadi panas. Setelah mortar panas airnya dibuang. Kemudian ke

dalam mortar tersebut dimasukkan lilin dengan asam oleat yang sudah dicampur

secara perlahan-lahan diaduk sampai terjadi emulsi lilin. Kemudian ditambahkan

sisa air panas sebanyak 795 ml sehingga terbentuk emulsi sebanyak 1 liter.

Kemudian emulsi dapat diencerkan sesuai dengan konsentrasi yang diinginkan.

Homogenizer umunya terdiri dari pompa yang menaikkan tekanan dispersi

pada kisaran 500 sampai 5000 psi, dan suatu lubang yang dilalui cairan dan

mengenai katup penghomogenan yang terdapat pada tempat katup dengan suatu

spiral yang kuat. Ketika tekanan meningkat, spiral ditekan dan sebagian dispersi

tersebut bebas di antara katup dan tempat ( dudukan ) katup. Pada titik ini, energi

yang tersimpan dalam cairan sebagian tekanan dilepaskan secara spontan sehingga

(36)

homogenizer ini cukup efektif sehingga bisa didapatkan diameter partikel rata-rata

kurang dari 1 mikron tetapi homogenizer dapat menaikkan temperatur emulsi

sehingga dibutuhkan pendinginan (Sarmoko, 2010).

(37)

BAHAN DAN METODA PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan bulan Maret – Juni 2011 di Laboratorium Analisa

Kimia Bahan Pangan Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara.

Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sarang lebah yang

diperoleh dari Yayasan Bina Saudara Titikuning, Medan. Bahan-bahan lain adalah

Trietanolamin (TEA), Asam Oleat dan Aquadest.

Alat Penelitian

Adapun alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Pompa,

Termometer, Mikroskop optic, pH meter, Stopwatch, Pinset, Cling wrap, Stirrer, Object glass, Deck glas, Timbangan digital, Beaker glass, Viscosimeter, Spatula, Termokontrol Digital, Gelas ukur, Saringan, Pipet Tetes dan Hot Plate.

Metoda Penelitian

Penelitian ini menggunakan metoda Rancangan Acak Lengkap (RAL)

faktorial yang terdiri dari dua faktor, yaitu:

Faktor I: Konsentrasi Lilin Lebah (K)

K1 = 10 %

K2 = 12 %

K3 = 14 %

(38)

Faktor II: Lama Pemberian Tekanan (T)

T1 = tanpa pengadukan

T2 = 10 menit

T3 = 20 menit

T4 = 30 menit

Banyaknya kombinasi perlakuan (tc) adalah 4 x 4 = 16, maka jumlah

ulangan (n) adalah sebagai berikut:

Tc (n -1) ≥ 15

16 (n –1) ≥15

16n – 16 ≥ 15

16 n ≥ 31;

n ≥ 1,93… dibulatkan menjadi n = 2

Model Rancangan

Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua

faktorial dengan model sebagai berikut:

Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk

Dimana:

Yijk : Hasil pengamatan dari faktor K pada taraf ke-I dan faktor T pada taraf

kek ke-j dengan ulangan k

µ : Efek Nilai tengah

αk : Efek dari faktor K pada taraf ke-i

βt : Efek dari faktor T pada taraf ke-j

(39)

(αβ)kt : Efek interaksi faktor K pada taraf ke-i dan pada faktor T pada taraf ke –j

εktk : Efek galat dari faktor K pada taraf ke-i dan faktor T pada taraf ke-j

dalam ulangan ke-k

Jika diperoleh hasil yang nyata atau sangat nyata kemudian dilanjutkan

dengan uji perbedaan sepasang nilai tengah dengan uji LSR (Least Significant

Range).

Pelaksanaan Penelitian

Pembutan lilin lebah

Dalam pembuatan lilin lebah, sarang lebah dicuci dengan air mengalir.

Direbus sarang lebah dengan kondisi sarang lebah terendam seluruhnya dengan

suhu pemanasan 90oC. Dibuang kotoran yang yang terdapat pada permukaan

rebusan. Dipindahkan dan disaring kedalam wadah. Didiamkan sampai dingin

(T=30oC) dan diperoleh lilin pada permukaan air. Dikeluarkan lilin dari dalam air,

kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari hingga tidak ada air pada

permukaan lilin, sehingga diperoleh lilin lebah. Skema pembuatan lilin lebah

dapat dilihat pada Gambar. 2.

Pembuatan emulsi lilin lebah

Untuk mebuat emulsi lilin lebah, ditimbang lilin lebah (10 %, 12 %, 14 %

dan 16 % dari total emulsi yg dihasilkan sebayak 1 L). Kemudian dipanaskan

sampai mencair dalam beaker glass dengan suhu 85oC. Ditambahkan 20 ml asam oleat sedikit demi sedikit sambil diaduk. Dipanaskan aquadest 1000 ml dengan

suhu 90oC. Diambil 25 ml aquadest panas, ditambahkan 40 ml trietanolamin

sedikit demi sedikit sambil diaduk. Dituangkan campuran aquadest dan

(40)

Ditambahkan 25 ml aquadest panas sambil diaduk selama 2 menit. Ditambahkan

25 ml aquadest panas setiap menitnya sampai volume total emulsi 1 L. Diberikan

tekanan pompa 15 Bar selama (0, 10, 20 dan 30 menit). Dilakukan pengulangan

sebayak 2 x. Skema pembuatan emulsi lilin dapat dilihat pada Gambar. 3.

Pengamatan dan Pengukuran Data

Pengamatan dan Pengukuran data dilakukan dengan cara analisa terhadap

parameter: 1) Stabilitas Relatif Emulsi, 2) Viskositas, 3) Ukuran Partikel, 4) Uji

Organoleptik Warna dan 5) pH.

Penentuan Stabilitas Relatif Emulsi (Anief, 1999 dimodifikasi).

Di ambil bahan dan dimasukkan kedalam tabung reaksi, kemudian

dibiarkan selama 3 hari. Ditentukan stabilitas relatif emulsi berdasarkan kriteria

sebagai berikut:

Skor Keterangan

0% Terjadi koalesen (kerusakan emulsi yang bersifat irreversible) dan terdapat pemisahan antara air dan lilin.

25% Terjadi koalesen tetapi tidak terdapat pemisahan antara air dan lilin. 50% Terjadi creaming (kerusakan emulsi yang bersifat reversible), tetapi

terdapat pemisahan antara air dan lilin.

75% Terjadi creaming, tetapi tidak terjadi pemisahan antara air dan lilin. 100% Tidak terjadi koalesen dan creaming.

Penentuan Viskositas (Prasetyo, 2005 dimodifikasi)

Penentuan viskositas ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat

viscosimeter VT-03E dengan pembacaan yang dikalibrasi menurut JIS Z 8809

dengan satuannya adalah mPa/s. Cara pengukurannya adalah sebagi berikut :

1) Pegang viskosimeter dalam 1 tangan atau pada posisi berdiri. Ukur tingginya

(41)

rotor atau baling-baling (No.4) ditengah cup dan dimasukkan bahan pada batas

yang ditentukan. 3) Diubah setelan jarum “clamp” ke bawah. 4) Diatur tombol ke

“ON”. 5) Ketika baling-baling mulai berputar, jarum indicator akan bergerak

kesebelah kanan dan akan berhenti pada skala yang sesuai dengan caiaran bahan.

Skala yang dilihat harus sesuai dengan baling-baling yang digunakan. 6) Setelah

pengukuran selesai, tombol ON diubah ke OFF. Jarum indicator kembali kearah

semula dan setelan jarum “Clamp” diubah ke atas.

Penentuan Ukuran Partikel (Tim Mikrobiologi, 2011 dimodifikasi).

Diambil sampel dengan menggunakan jarum hose dan diteteskan ke

permukaan object glass kemudian object glass ditutup dengan deck glass. Object glass telah dipanggang di atas api bunsen sebelumnya. Disiapkan mikroskop optik (cahaya terpolarisasi) merk Olympus BH-2 dengan kamera vidio yang telah

disambungkan ke komputer dengan kabel kamera vidio. Diletakkan objeck glass

yang telah berisi sampel di atas meja preparat mikroskop, dan diihat ukuran

partikel emulsi yang terbentuk pada perbesaran 400 kali. Setelah didapat ukuran

partikel emulsi lalu emulsi tersebut difoto. Dijumlahkan ukuran partikel yang

berbeda dan merata-ratakannya.

Uji Organoleptik Warna (Sukarto, 1982 dimodifikasi).

Penentuan warna emulsi ini dapat dilakukan dengan menggunakan nilai

numerik sebagai petunjuk warna, yaitu:

Skor Warna

1 Kuning pucat

2 Putih kekuningan

3 Putih seperti susu

(42)

pH (Derajat Keasaman) (Abigail dan Daynul, 2011 dimodifikasi)

pH emulsi lilin diukur dengan menggunakan pH meter. Elektroda dibilas

dengan aquadest dan kemudian dikeringkan dengan tisu. Elektroda kemudian

dicelupkan kedalam sampel sampai diperoleh pembacaan yang stabil kemudian

dicatat nilai pH sampel. Setiap pergantian sampel yang akan diukur, elektroda

(43)

Gambar 2. Skema Pembuatan Lilin Lebah

Direbus dalam air hingga semua sel sarang mencair (T = 90oC)

Disaring dengan saringan biasa

Didinginkan (T = 30oC) dan diperoleh lilin pada permukaan

Lilin dikeluarkan dari dalam air

Dikeringkan di bawah sinar matahari

Lilin lebah

Dicuci sarang lebah dengan air mengalir

(44)

Gambar 3. Skema Pembuatan emulsi Lilin lebah

Ditimbang lilin lebah sesuai perlakuan (K1 = 10%, K2 = 12%, K3 = 14% dan K4 = 16%)

dari total emulsi 1 L Dipanaskan 1 L aquadest (T=90oC)

Dipanaskan dalam

beaker glass (T=85oC)

Ditambahkan 20 ml asam oleat sedikit demi sedikit sambil diaduk

Diaduk perlahan selama 2 menit

Ditambahkan 25 ml aquadest panas setiap menit sampai volumenya 1 L

Emulsi lilin

Diberikan tekanan pompa sebesar 15 Bar sesuai

perlakuan (T1= tanpa

pengadukan, T2= 10 menit,

T3= 20 menit dan T4= 30

menit)

Diambil 25 ml aquadest panas, ditambahkan trietanolamin 40 ml

sambil diaduk

(45)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi lilin dan lama pemberian

tekanan memberi pengaruh terhadap parameter yang diamati. Pengaruh dari

konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap parameter yang diamati

dapat dilihat sebagai berikut.

Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Parameter yang Diamati

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi lilin memberikan

pengaruh terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas, ukuran partikel, uji

organoleptik warna dan pH dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Parameter yang Diamati Konsentrasi

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa konsentrasi lilin memberi pengaruh

terhadap parameter yang diuji. Stabilitas relatif emulsi tertinggi terdapat pada

perlakuan K4 yaitu sebesar 68,75% dan terendah terdapat pada perlakuan K1 yaitu

sebesar 56,25%. Viskositas tertinggi terdapat pada perlakuan K4 yaitu sebesar

4,95 mPa.s dan terendah pada perlakuan K1 yaitu sebesar 4,463 mPa.s. Ukuran

partikel tertinggi terdapat pada perlakuan K4 yaitu sebesar 4,28 µ m dan terendah

pada perlakuan K1 yaitu sebesar 2,961 µ m. Uji organoleptik warna tertinggi

(46)

perlakuan K1 yaitu sebesar 2,526. Dan pH tertinggi terdapat pada perlakuan K3

yaitu sebesar 8,753 dan terendah terdapat pada perlakuanK1 yaitu sebesar 8,744.

Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Parameter yang diamati

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama pemberian tekanan

memberikan pengaruh terhadap stabilitas relatif emulsi, viskositas, ukuran

partikel, nilai organoleptik warna dan pH dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Parameter yang Diamati Lama

Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa lama pemberian tekanan memberi

pengaruh terhadap parameter yang diuji. Stabilitas relatif emulsi tertinggi terdapat

pada perlakuan T4 yaitu sebesar 96,875% dan terendah terdapat pada perlakuan T1

yaitu sebesar 31,25%. Viskositas tertinggi terdapat pada perlakuan T1 yaitu

sebesar 5,213 mPa.s dan terendah terdapat pada perlakuan T4 yaitu sebesar 4,188

mPa.s. Ukuran partikel tertinggi terdapat pada perlakuan T1 yaitu sebesar 4,561

dan terendah terdapat pada perlakuan K4 yaitu sebesar 3,04 µm. Uji organoleptik

warna tertinggi terdapat pada perlakuan T4 yaitu sebesar 2,691 dan terendah

terdapat pada perlakuan K1 yaitu sebesar 2,409. Dan pH tertinggi terdapat pada

perlakuan T1 yaitu sebesar 8,751 dan terendah terdapat pada perlakuan T4 yaitu

sebesar 8,743.

(47)

Hasil analisis statistik untuk masing-masing parameter yang diamati dapat

dijelaskan sebagai berikut.

Stabilitas Relatif Emulsi

Pengaruh konsentrasi lilin terhadap stabilitas relatif emulsi

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa

konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda nyata (p<0,05) terhadap stabilitas

relatif emulsi.

Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR yang menunjukkan pengaruh konsentrasi lilin terhadap stabilitas relatif emulsi dapat dilihat pada

Tabel 4.

Tabel 4. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Stabilitas Relatif Emulsi

Jarak LSR Konsentrasi

Lilin (%)

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa perlakuan K1 memberi pengaruh berbeda

tidak nyata terhadap K2, K3 dan berbeda sangat nyata terhadap K4. Perlakuan K2

memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap K3 dan berbeda sangat nyata

terhadap K4. Perlakuan K3 memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap K4.

Stabilitas Relatif Emulsi tertinggi diperoleh pada perlakuan K4 yaitu sebesar

68,750% dan terendah diperoleh pada K1 yaitu sebesar 56,250%.

(48)

Hubungan antar konsentrasi lilin terhadap stabilitas relatif emulsi dapat dilihat

pada Gambar 4.

Gambar 4. Hubungan Konsentrasi Lilin dengan Stabilitas Relatif Emulsi

Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa stabilitas relatif emulsi tertinggi

diperoleh pada K4 sebesar 68,750% dan terendah pada K1 sebesar 56,250%. Dari

Gambar 4 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi lilin maka nilai

kesetabilan relatif emulsi juga meningkat. Hal ini disebabkan karena adanya gerak

Brown sehingga partikel koloid terhindar dari pengendapan karena terus-menerus

bergerak, sehingga koloid menjadi stabil. Wanibesak, (2011) menyatakan bahwa

kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya gerak emulsi. Meskipun telah

sampai ke dasar wadah, partikel koloid dapat naik kembali dan terus bergerak

dalam mediumnya.

Pengaruh lama pemberian tekanan terhadap stabilitas relatif emulsi

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 1) dapat dilihat bahwa lama

pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap

stabilitas relatif emulsi.

0

Konsentrasi lilin (%)

(49)

Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR yang menunjukkan pengaruh lama pemberian tekanan terhadap stabilitas relatif emulsi dapat dilihat

pada Tabel 5.

Tabel 5. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Stabilitas Relatif Emulsi

Jarak

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 memberi pengaruh berbeda

sangat nyata terhadap T2, T3, T4. Perlakuan T2 memberi pengaruh berbeda sangat

nyata terhadap T3 dan T4. Perlakuan T3 memberikan pengaruh berbeda sangat

nyata terhadap T4. Stabilitas Relatif Emulsi tertinggi diperoleh pada perlakuan T4

yaitu sebesar 96,875% dan terendah diperoleh pada T1 yaitu sebesar 31.250%.

Hubungan antar lama pemberian tekanan terhadap stabilitas relatif emulsi

dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Hubungan Lama Pemberian Tekanan dengan Stabilitas Relatif Emulsi

(50)

Dari Gambar 5 dapat dilihat bahwa stabilitas relatif emulsi tertinggi

diperoleh pada T4 sebesar 96,875% dan terendah pada T1 sebesar 31,250%. Dari

Gambar 5 dapat dilihat bahwa semakin lama pemberian tekanan maka stabilitas

relatif emulsi semakin meningkat. Nguyen, (2010). Menjelaskan bahwa

Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan emulsi yaitu: 1) Perbedaan berat jenis

antara kedua fase, 2) Kohesi fase terdispersi, 3) Persentase padatan didalam

emulsi. 4) Temperatur luar yang ekstrim, 5) Ukuran butiran fase terdispersi, 6)

Viskositas fase kontinyu. 7) Muatan fase terdispersi, 8) Distribusi ukuran butiran

fase terdispersi, 9) Tegangan interfasial antara kedua fase.

Pengaruh interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap stabilitas relatif emulsi

Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 1) menunjukkan bahwa

konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberi pengaruh yang berbeda

tidak nyata (p>0.05) terhadap stabilitas relatif emulsi sehingga uji Least Significant Range (LSR) tidak dilanjutkan.

Viskositas

Pengaruh konsentrasi lilin terhadap viskositas

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa

konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap

viskositas.

Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR yang menunjukkan pengaruh konsentrasi lilin terhadap viskositas dapat dilihat pada table 6.

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa perlakuan K1 memberi pengaruh berbeda

nyata terhadap K2, K3 dan K4. Perlakuan K2 memberi pengaruh berbeda tidak

(51)

nyata terhadap K3 dan berbeda nyata terhadap K4. Perlakuan K3 memberi

pengaruh berbeda tidak nyata terhadap K4. Viscositas tertinggi diperoleh pada

perlakuan K4 yaitu sebesar 4,950 mPa.s dan terendah diperoleh pada K1 yaitu

sebesar 4,463 mPa.s.

Tabel 6. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Viskositas

Jarak LSR Konsentrasi

Emulsi (%)

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Hubungan antara konsentrasi lilin terhadap viskositas dapat dilihat pada

Gambar 6.

Gambar 6. Hubungan Konsentrasi lilin dengan Viskositas

Dari Gambar 6 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi emulsifier

maka viskositas emulsi semakin meningkat. Hal ini disebabkan perubahan

komposisi serta adanya hubungan linear antara viskositas emulsi dan viskositas

fase kontinyu, makin besar volume fase dalam, makin besar pula viskositas

nyatanya. Sarmoko, (2010) menjelaskan bahwa untuk mengatur viskositas emulsi,

0 0

Konsentrasi lilin (%)

(52)

ada tiga faktor inetraksi yang harus dipertimbangkan, yaitu : a) Viskositas emulsi

o/w dan w/o dapat ditingkatkan dengan mengurangi ukuran partikel fase

terdispersis, b) Kesetabilan emulsi ditingkatkan dengan pengurangan ukuran

partikel, c) Flekulasi atau penggumpalan yang cenderung membentuk fase dalam

yang dapat meningkatkan efek penstabil, biasanya viskositas emulsi meningkat

dengan meningkatnya umur sediaan tersebut.

Pengaruh lama pemberian tekanan terhadap viskositas

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 2) dapat dilihat bahwa lama

pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap

viskositas.

Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR yang menunjukkan pengaruh lama pemberian tekanan terhadap viskositas dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Viskositas

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 memberi pengaruh berbeda

sangat nyata terhadap T2, T3 dan T4. Perlakuan T2 memberi pengaruh berbeda

sangat nyata terhadap T3 dan T4. Perlakuan T3 memberi pengaruh berbeda sangat

(53)

nyata terhadap T4. Viskositas tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 sebesar 5,213

mPa.s dan terendah pada perlakuan T4 sebesar 4,188 mPa.s.

Hubungan antara lama pemberian tekanan dengan viskositas dapat dilihat

pada Gambar 7.

Gambar 7. Hubungan Lama Pemberian Tekanan terhadap Viskositas

Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa semakin lama pemberian tekanan

maka viskositas emulsi semakin menurun. Hal ini disebabkan karena emulsi

memiliki partikel yang makin halus sehingga menunjukkan viskositas yang makin

kecil. Nguyen, (2010). menjelaskan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi

viskositas suatu emulsi adalah viskositas medium dispersi, persentase volume

medium dispersi, ukuran partikel fase terdispersi dan jenis serta konsentrasi

emulsifier/stabilizer yang digunakan.

Pengaruh interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap viskositas

Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 2) menunjukkan bahwa

konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberi pengaruh yang berbeda

r = - 0,989

(54)

tidak nyata (p>0.05) terhadap viscositas sehingga uji Least Significant Range

(LSR) tidak dilanjutkan.

Ukuran Partikel

Pengaruh konsentrasi lilin terhadap ukuran partikel

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa

konsentrasi lilin memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap

ukuran partikel.

Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR menujukkan pengaruh konsentrasi lilin terhadap ukuran patikel dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Ukuran Partikel

Jarak LSR Konsentrasi

Lilin (%)

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Dari Tabel 8 dapat dilihat bahwa perlakuan K1 memberi pengaruh berbeda

sangat nyata terhadap K2, K3 dan K4. Perlakuan K2 memberi pengaruh berbeda

sangat nyata terhadap K3 dan K4. Perlakuan K3 memberi pengaruh berbeda sangat

nyata terhadap K4. Ukuran partikel tertinggi diperoleh pada perlakuan K4 yaitu

sebesar 4,280 µm dan terendah diperoleh pada K1 yaitu sebesar 2,961 µm.

Hubungan antara konsentrasi emulsi terhadap ukuran partikel dapat dilihat

pada Gambar 8.

Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa ukuran partikel tertinggi diperoleh

pada perlakuan K4 yaitu 4,280 µ m dan terendah pada perlakuan K1 yaitu 2,961

(55)

µ m. Dari Gambar 8 dapat dilihat bahwa semakin tinggi konsentrasi lilin maka

nilai ukuran partikel juga meningkat. Hal ini dipengaruhi dari tipe dan konsentrasi

dari pengemulsi, perlakuan mekanik seperti penggunaan koloid mill,

homogenizer, cara dan waktu penyimpanan produk. Hal ini sesuai dengan penyataan Wanibesak, (2011) yang menjelaskan mengapa gerak Brown sulit

diamati dalam larutan dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair

dengan suspensi zat padat.

Gambar 8. Pengaruh Konsentrasi Emulsi terhadap Ukuran partikel

Pengaruh lama pemberian tekanan terhadap ukuran partikel

Dari daftar analisis sidik ragam (Lampiran 3) dapat dilihat bahwa lama

pemberian tekanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (p<0,01) terhadap

ukuran partikel.

Hasil pengujian dengan Least Significant Range LSR menunjukkan pengaruh lama pemberian tekanan terhadap ukuran partikel dapat dilihat pada

Tabel 9.

Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa perlakuan T1 memberi pengaruh berbeda

sangat nyata terhadap T2, T3 dan T4. Perlakuan T2 memberi pengaruh berbeda 0

Konsentrasi lilin (%)

(56)

sangat nyata terhadap T3 dan T4. Perlakuan T3 memberi pengaruh berbeda sangat

nyata terhadap T4. Ukuran partikel tertinggi diperoleh pada perlakuan T1 yaitu

sebesar 4,561 µm dan terendah diperoleh pada T4 yaitu sebesar 3,040 µm.

Tabel 9. Uji LSR Utama Pengaruh Lama Pemberian Tekanan terhadap Ukuran Partikel

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% ( huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Hubungan antara lama pemberian tekanan dengan ukuran partikel dapat

dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Hubungan Lama Pemberian Tekanan terhadap Ukuran Partikel

Dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa semakin lama pemberian tekanan

maka ukuran partikel semakin menurun. Sarmoko, (2010) menjelaskan bahwa

Pengecilan ukuran partikel dibutuhkan untuk meningkatkan kelarutan,

meningkatkan homogenitas dan memudahkan dalam pencampuran serta

r = - 0,986

(57)

kenyamanan dalam penggunaan. Salah satu cara penecilan ukuran partikel adalah

dengan compression yaitu pengecilan ukuran partikel dengan mengaplikasikan tenaga secara perlahan (lebih kecil dibandingkan impact) pada permukaan partikel (pada bagian pusat dari partikel).

Pengaruh interaksi antara konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap ukuran partikel

Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 3) menunjukkan bahwa

konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan memberi pengaruh berbeda sangat

nyata (p<0.01) terhadap ukuran partikel.

Hasil pengujian dengan Least Significant Range (LSR), interaksi konsentrasi lilin dan lama pemberian tekanan terhadap ukuran partikel tiap-tiap

perlakuan dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Uji LSR Efek Utama Pengaruh Interaksi Konsentrasi Lilin dan Lama Pemberian Tekanan terhadap Ukuran Partikel

Jarak LSR Perlakuan Rataan

Keterangan: Notasi huruf yang berbeda menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda sangat nyata pada taraf 1% (huruf besar).

Dari Tabel 10 dapat dilihat bahwa ukuran partikel tertinggi terdapat pada

kombinasi perlakuan K4T1 sebesar 5,270 µm dan terendah terdapat pada kombinasi

Gambar

Table 1. Hubungan antara ukuran partikel emulsi dengan penampakannya
Gambar 2. Skema Pembuatan Lilin Lebah
Gambar 3. Skema Pembuatan emulsi Lilin lebah
Tabel 2. Pengaruh Konsentrasi Lilin terhadap Parameter yang Diamati
+7

Referensi

Dokumen terkait

Interaksi antara konsentrasi kitosan dan lama penyimpanan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap semua parameter kecuali nilai uji organoleptik tekstur, warna dan aroma

Interaksi konsentrasi formalin dan lama peenyimpanan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap tekstur, warna, dan bau formalin tetapi berbeda tidak nyata terhadap kadar

Dan interaksi antara lama fermentasi dan konsentrasi kalium karbonat (K2C0 3) memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar air.. Lama fermentasi 6 hari dengan lama

Interaksi lama hidrolisa dan konsentrasi asam memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap rendemen dan kemanisan, tetapi memberi pengaruh berbeda tidak nyata terhadap kadar

Bedasarkan analisis keragaman data menunjukkan bahwa perlakuan pelapisan emulsi lilin lebah tidak berpengaruh nyata terhadap keragaman nilai kesukaan aroma buah

Analisis sidik ragam menghasilkan perlakuan ukuran partikel berpengaruh sangat nyata, untuk tekanan kempa dan interaksi ukuran partikel dengan tekanan kempa tidak

Dari Tabel 2 diketahui bahwa didapatkan konsentrasi garam dan lama fermentasi tidak berbeda nyata terhadap total padatan terlarut yang ada didalam kimchi

Interaksi konsentrasi margarin dan lama penyangraian memberikan pengaruh berbeda nyata (P&lt;0,05) terhadap kadar air dan memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P