IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
SKRIPSI
MUHAMMAD HAFIZ FARHAN 160302086
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
PENGARUH PEMBERIAN GROTOP DENGAN DOSIS DAN FEEDING RATE BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP
IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
SKRIPSI
MUHAMMAD HAFIZ FARHAN 160302086
Skripsi Sebagai Salah Satu diantara Beberapa Syarat untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Muhammad Hafiz Farhan NIM : 160302086
Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Grotop dengan Dosis dan Feeding Rate Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ” adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis ini telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Medan, April 2021
Muhammad Hafiz Farhan
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama Muhammad Hafiz Farhan lahir di Balige pada tanggal 17 Agustus 1998 yang merupakan putra dari Bapak Hamzah dan Ibu Fitriani Napitupulu.
Penulis merupakan anak kedua dari 4 bersaudara.
Pendidkan formal penulis ditempuh di SD Negeri 173524 Balige (2004-2010), SMP Negeri 4 Balige (2010-2013), SMA Swasta Bintang Timur 1 Balige (2013-2016). Pada tahun 2016 penulis melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Sumatera Utara melalui Jalur Mandiri dengan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.
Penulisn juga melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bersama BKS PTN Barat pada tahun 2019 yang di tempatkan di Desa Sirube-rube Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Kemudian penulis mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Unit Pelaksana Teknis Penerapan Mutu Hasil Perikanan Medan.
Dalam rangka menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, penulis melaksanakan penelitian dengan judul, “Pengaruh Pemberian Grotop dengan Dosis dan Feeding Rate Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Orechromis niloticus)” yang dibimbing oleh Bapak Ir. Syammaun Usman, M.Si dan diuji oleh ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc serta Bapak Rizky Febriansyah Siregar, S.Pi., M.Si
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian : Pengaruh Pemberian Grotop dengan Dosis dan Feeding Rate berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Nama : Muhammad Hafiz Farhan
NIM : 160302086
Program Studi : Manajemen Sumberdaya Perairan
Disetujui oleh : Komisi Pembimbing
Ir. Syammaun Usman, M.Si NIP.195610261994031001
Penguji I Penguji II
Dr. Eri Yusni, M.Sc Rizky Febriansyah Siregar, S.Pi.,M.Si NIP. 195911161993032001 NIP. 198802122018051001
Mengetahui :
Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan
Dr. Eri Yusni, M.Sc
NIP. 195911161993032001
ABSTRAK
MUHAMMAD HAFIZ FARHAN. Pengaruh Pemberian Grotop dengan Dosis dan Feeding Rate Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus). Dibimbing oleh Bapak Ir. SYAMMAUN USMAN, M.Si.
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan spesies ikan air tawar yang paling banyak dibudidayakan setelah ikan mas. Permintaan pasar akan ikan konsumsi air tawar semakin meningkat, salah satu ikan yang paling diminati pasar pada saat ini adalah ikan nila. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dosis dan feeding rate terbaik dari penambahan grotop terhadap pakan yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dilakukan adalah dengan penambahan dosis grotop terhadap pakan dengan tiga taraf yaitu tanpa pemberian grotop (G1), 2g/kg (G2), 4g/kg (G3) dan feeding rate 3%
(F1), 4% (F2), 5% (F3). Penelitian ini dilakukan selama 60 hari pemeliharaan untuk mengetahui pertambahan panjang, peningkatan bobot, Feed Covertion Ratio (FCR) kelangsungan hidup dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian grotop dengan dosis dan feeding rate berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan nila dan tidak memiliki pengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan nila.
Perlakuan G3 (dosis grotop 4g/kg) dan F3 (feeding rate 5%) merupakan perlakuan yang terbaik untuk pertumbuhan ikan nila.
Kata Kunci : Ikan Nila, Grotop, feeding rate, pertumbuhan dan kelangsungan hidup
ABSTRACT
MUHAMMAD HAFIZ FARHAN. The Effect of Grotop with Different Doses and Feeding Rates on the Growth and Survival of Tilapia (Oreochromis niloticus).
Guided by Ir. Syammaun Usman, M. Si.
Tilapia (Oreochromis niloticus) is a type of freshwater fish that is mostly cultivated after common carp. Market demand for freshwater consumption fish is increasing, one of the most popular fish on the market today is tilapia. The purpose of this study was to determine the best dose and feeding rate of adding grotop to feed that affected the growth and survival of tilapia. This study used a randomized block design (RBD) with 2 treatments and 3 repetitions. The treatment was done by adding a dose of grotop to feed with three levels ie without giving grotop (G1), 2g / kg (G2), 4g / kg (G3) and the feeding rate of 3% (F1), 4% (F2), 5% (F3). This research was conducted for 60 days to determine the increase in length, increase in weight, Feed Covertion Ratio (FCR) survival rate and water quality. The results showed that giving grotop at different doses and feeding rates had an effect on the growth of tilapia and had no effect on the survival rate of tilapia. G3 treatment (4g / kg grotop dose) and F3 (5% feeding rate) are the best treatments for the growth of tilapia.
Keywords: Tilapia, Grotop, feeding rate, growth and survival rate
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian dengan judul “Pengaruh Pemberian Grotop dengan Dosis dan Feeding Rate berbeda Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus)” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Ungkapan terima kasih yang tak ternilai penulis ucapkan kepada ayahanda Hamzah dan ibunda Fitriani Napitupulu atas kasih sayang, dukungan doa, materi dan semangatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian ini. Kepada Kakak dan adik saya, terima kasih atas doa dan dukungan semangat yang diberikan, serta kepada seluruh keluarga.
Penulis juga menyadari bahwa penulisan penelitian ini tidak mungkin selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak. Dr. Ir. Hasanuddin, M.S selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
2. Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan dan Bapak Rizky Febriansyah Siregar S.Pi., M.Si selaku sekretaris Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.
3. Bapak Ir. Syammaun Usman, M.Si selaku dosen pembimbing,
4. Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc dan Bapak Rizky Febriansyah, S.Pi., M.Si selaku dosen penguji I dan II yang telah memberikan masukan, saran, dan ilmu yang berharga bagi penulis.
5. Seluruh Dosen dan Staf Tata Usaha Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Sumatera Utara.
6. Kedua Orang Tua penulis Ayahanda Hamzah dan Mama Fitriani Napitupulu, Kakak Nurhardianti, Adik Mufthi Fadhli dan Sifa Aufa Salsabila yang telah banyak memberikan kasih sayang, doa, nasehat dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
7. Teman-teman seperjuangan sekaligus sahabat, Fathurrahman Ash Shadiq, Rizky Yonanda Lubis, Kristiando Siahaan, Bima Satria Purba, Siti Ramadhani, Novia Siti Aisyah, Rika Ramadana, Windi Ulvika dan Yati yang selalu memberikan masukan, bantuan kepada penulis saat penelitian hingga penulisan skripsi ini.
8. Serta, teman-teman seangkatan MSP 2016 yang telah memberi dukungan kepada penulis.
Medan, April 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ... I DAFTAR ISI ... III DAFTAR GAMBAR ... VI DAFTAR TABEL ... VII DAFTAR LAMPIRAN ... VIII PENDAHULUAN
Latar belakang ... 1
Rumusan Masalah ... 3
Kerangka Pemikiran ... 4
Tujuan Penelitian ... 5
Hipotesis ... 5
Manfaat Penelitian ... 5
TINJAUAN PUSTAKA Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ... 6
Feeding Rate ... 8
Feeding Convertion Ratio... 9
Pakan Ikan ... 10
Kandungan Nutrisi Grotop ... 11
Vitamin B1 (Tiamin) ... 12
Vitamin B2 (Riboflavin) ... 13
Vitamin C... 13
Asam Amino ... 15
Lisin ... 15
Metionin ... 16
Enzim Protease ... 17
Inositol ... 17
Survival Rate (Kelangsungan Hidup) ... 18
Kualitas Air ... 19
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian ... 21
Alat dan Bahan Percobaan ... 21
Rancangan Percobaan ... 21
Prosedur Penelitian ... 23
Menyiapkan Wadah Penelitian ... 23
Menyiapkan Air Media ... 24
Menyiapkan Ikan Uji ... 24
Menyiapkan Pakan Uji ... 24
Memelihara Ikan Uji ... 25
Pengamatan Hasil ... 26
Konversi Pakan (Feeding Convertion Ratio) ... 26
Survival Rate ... 26
Pertambahan Panjang ... 26
Pertambahan Bobot ... 27
Pengukuran Kualitas Air ... 27
Analisis Data ... 27
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 28
Pertambahan Bobot Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ... 29
Pertambahan Panjang Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ... 32
Feeding Convertion Ratio ... 35
Survival Rate ... 37
Kualitas Air ... 38
Pembahasan ... 40
Pertambahan Bobot Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ... 40
Pertambahan Panjang Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ... 42
Feeding Convertion Ratio ... 45
Survival Rate ... 46
Kualitas Air ... 47
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 50 Saran ... 50 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
No Halaman
1. Kerangka pemikiran ... 4
2. Rata-rata peningkat bobot ikan nila (Oreochromis niloticus) ... 29
3. Pertambahan rata-rata panjang ikan nila (Oreochromis niloticus) ... 32
4. FCR pada setiap perlakuan pada masa pemeliharaan ... 35
5. Rata-rata kelangsungan hidup (Oreochromis niloticus) ... 37
DAFTAR TABEL
No Halaman
1. Kombinasi Perlakuan pada penelitian ... 23 2. Analisis variasi terhadap bobot (g) ikan nila (Oreochromis niloticus)
dari H-10 sampai H-60 selama masa pemeliharaan ... 29 3. Hasil rata – rata dan standart error bobot (cm) ikan nila dengan penambahan
Grotop dengan dosis dan Feeding Rate yang berbeda selama 60 hari
pemeliharaan ... 31 4. Analisis variasi terhadap panjang (cm) ikan nila (Oreochromis niloticus)
dari H-10 sampai H-60 selama masa pemeliharaan ... 33 5. Hasil rata – rata dan standart error panjang (cm) ikan nila
dengan penambahan Grotop dengan dosis dan Feeding Rate
yang berbeda dari H-10 sampai H-60 selama 60 hari pemeliharaan ... 34 6. Analisis variasi terhadap feed convertion ratio ikan nila dari hari
ke 0 - hari ke-60 selama masa pemeliharaan ... 35 7. Hasil rata-rata dan standart error FCR ikan nila H-10 sampai H-60 ... 36 8. Hasil rata – ata kelangsungan hidup ikan nila selama 60 hari masa
pemeliharaan ... 38 9. Analisis variasi terhadap Survival Rate ikan nila dari hari ke-0 sampai
hari ke-60 selama masa pemeliharaan... 38 10. Data kualitas air selama penelitian ... 39
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman
1. Denah penempatan ember yang berisikan benih ikan nila dengan masing
masing perlakuan ... 56
2. Perhitungan pakan selama penelitian ... 57
3. Pengukuran bobot ikan nila selama pemeliharaan ... 66
4. Perhitungan statistik bobot ikan nila ... 68
5. Analisis sidik ragam peningkatan bobot ... 69
6. Hasil SPSS bobot ikan nila ... 71
7. Pengamatan panjang ikan nila selama pemeliharaan ... 75
8. Perhitungan statistik panjang ikan nila ... 77
9. Tabel sidik ragam terhadap pertumbuhan panjang ... 78
10. Hasil SPSS panjang ikan nila ... 80
11. Data perhitungan FCR ikan nila ... 84
12. Hasil SPSS FCR ... 85
13. Data pengamatan kelangsungan hidup ikan nila ... 90
14. Pengamatan kualitas air... 92
15. Dokumentasi alat dan bahan penelitian... 93
16. Dokumentasi kegiatan penelitian ... 95
17. Dokumentasi penelitian ... 96
18. Kandungan Grotop ... 97
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu hasil perikanan darat yang banyak diminati masyarakat karena merupakan sumber protein hewani tinggi. Ikan nila mempunyai nilai ekonomi tinggi dan merupakan komoditas penting dalam budidaya air tawar dunia. Ikan nila adalah ikan yang paling banyak dibudidayakan kedua di dunia, setelah ikan mas. Keunggulan ikan nila antara lain mudah dikembangbiakan dan kelangsungan hidup tinggi, pertumbuhan relatif cepat dengan ukuran badan relatif besar, serta tahan terhadap perubahan kondisi lingkungan Keunggungulan ikan nila antara lain; memiliki resitensi terhadap kualitas air dan penyakit, memiliki toleransi luas terhadap kualitas lingkungan, memiliki kemampuan tumbuh yang baik, serta mudah tumbuh dalam budidaya intensif (Oktapiandi et al, 2019).
Semakin tingginya permintaan pasar akan ikan nila mendorong dilakukannya usaha yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, salah satunya adalah dengan sistem budidaya intensif. Sistem budidaya intensif berarti melakukan pemeliharaan ikan dengan kepadatan tinggi, pemberian pakan berkualitas atau berprotein tinggi serta manajemen kualitas air yang baik. Salah satu inovasi teknologi yang dapat digunakan adalah budidaya ikan nila dengan teknik boster (Fitria, 2018)
Dalam manajemen budidaya perairan, pakan berperan penting terhadap keberhasilan budidaya ikan. Kualitas pakan mempengaruhi pertumbuhan ikan, jika kualitasnya baik, maka nutrisi untuk pertumbuhan ikan pun akan terpenuhi secara maksimal. saat ini para pembudidaya melakukan budidaya secara intensif yaitu dengan pemberian pakan buatan yang dicampurkan dengan suplemen. Hal ini dilakukan untuk memicu pertumbuhan ikan dalam waktu yang relatif singkat (Aprilia et al, 2018)
Boster Grotop adalah salah satu alternatif untuk penambahan suplemen kedalam pakan yang diolah dari berbagai macam bahan (hewan dan tumbuhan), manfaat yang terdapat didalamnya yaitu dapat meningkatkan nafsu makan, meningkatkan daya tahan tubuh, memacu enzim-enzim pencernaan serta mempercepat pertumbuhan (Utami et al, 2018).
Sesuai dari uraian di atas, ikan Nila merupakan jenis ikan yang memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan dapat mencapai bobot tubuh yang jauh lebih besar dengan tingkat produktivitas yang cukup tinggi. Hal tersebut membuat ikan nila semakin diminati pembudidaya karena mudah beradaptasi dan toleran terhadap perubahan. Namun, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap permintaan ikan nila dapat dilakukan inovasi baru agar kegiatan budidaya ini tetap berkelanjutan. Pakan yang diproduksi dengan harga mahal pun belum tentu memiliki kualitas yang baik. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif Penambahan bahan pakan yang dapat membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan.
Salah satu alternatif yang dikembangkan untuk mempercepat pertumbuhan adalah Boster Grotop. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Pengaruh Pemberian Grotop dengan Dosis dan Feeding
berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah boster grotop yang di campurkan ke pakan dengan dosis tanpa penambahan grotop, 2, 4 g/kg dan pakan dengan taraf feeding rate 3%, 4% dan 5%. Diharapkan perlakuan dalam penelitian ini dapat meningkatkan laju pertumbuhan yang cepat dengan konversi pakan yang rendah sehingga dapat meningkatkan harga jual dengan harga produksi ikan nila.
Rumusan Masalah
Ketersedian pakan menjadi salah satu faktor kegiatan budidaya perikanan, dimana pakan memegang peranan penting dalam budidaya, selain menggunakan pakan seperti pellet juga dibutuhkan pakan campuran dengan penambahan suplemen multivitamin seperti boster grotop yang dicampur ke pakan dalam dosis yang tertentu agar dapat mempercepat pertumbuhan ikan nila. Berdasarkan pada uraian di atas, maka perumusan masalah yang dapat di ambil adalah:
1. Adakah pengaruh d o s i s boster grotop terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila?
2. Adakah p e n g a r u h dosis boster grotop d e n g a n f e e d i n g r a t e terhadap konversi pakan dan kelangsungan ikan nila?
3. Adakah p e r l a k u a n t e r b a i k yang memberikan pengaruh pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada ikan nila?
Kerangka Pemikiran
Permintaan pasar akan ikan konsumsi air tawar semakin meningkat, salah satu ikan yang paling diminati pasar pada saat ini adalah ikan nila. Dalam kegiatan budidaya ikan, hal yang paling diutamakan adalah bagaimana cara meningkatkan pertumbuhan ikan. Peningkatan laju pertumbuhan dapat dilakukan dengan penambahan suplemen multivitamin pada pakan, salah satu suplemen yang ditambahkan ke pakan adalah Boster Grotop yang dapat mempercepat pertumbuhan.
Feeding rate merupakan persentase pakan yang diberikan setiap hari pada
ikan yang dibudidayakan dan dihitung dari biomassa ikan. Oleh karena itu, pemberian pakan dengan feeding rate yang tepat dapat menghasilkan pertumbuhan ikan yang optimum dan penggunaan pakan yang efisien. Kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Budidaya Ikan Nila
Pakan Komersial
Grotop
3%
4%
5%
Feeding Rate
Tanpa Grotop
Dosis 2 g/kg pakan
Dosis 4 g/kg pakan
Meningkatkan laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui pengaruh pemberian suplemen multivitamin boster grotop dengan dosis berbeda pada pakan ikan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila
2. Mengetahui perbedaan pada setiap perlakuan dalam mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila.
3. M engetahui dosis dan feeding rate terbaik dari penambahan suplemen multivitamin boster grotop pada pakan dalam mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila.
Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah diduga dengan penambahan pemberian boster grotop dengan feeding rate pada pakan akan terjadi perbedaan tingkat pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan serta untuk mengetahui cara meningkatkan pertumbuhan Ikan nila dengan pemberian suplemen multivitamin boster grotop pada pakan dengan feeding rate yang tepat untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup Ikan nila.
TINJAUAN PUSTAKA
Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Klasifikasi ikan nila menurut Lukman et al, (2014) yaitu:
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Sub Filum : Vertebrata Kelas : Pisces
Sub Kelas : Achanthopterygii Ordo : Perciformes Familia : Cichlidae Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
Ikan nila merupakan jenis ikan air tawar. Pada mulanya, ikan nila berasal dari perairan tawar di Afrika. Di Asia penyebaran ikan nila pada mulanya berpusat di beberapa negara seperti Filipina dan Cina. Dalam perkembangan selanjutnya, ikan nila meluas dibudidayakan di berbagai negara, antara lain Taiwan, Thailand, Vietnam, Bangladesh dan Indonesia. Pengembangan ikan nila di perairan tawar di Indonesia dimulai tahun 1969. Jenis atau strain ikan nila yang pertama kali didatangkan ke Indonesia adalah nila hitam asal Taiwan. Tahun 1981 didatangkan lagi jenis atau strain ikan nila merah hibrida. Kedua jenis ikan nila ini telah meluas dibudidayakan di seluruh wilayah perairan nusantara (Putra, 2017).
Adapun morfologi ikan nila yaitu lebar badan ikan nila umumnya sepertiga dari panjang badannya. Bentuk tubuhnya memanjang dan ramping, sisik ikan nila relatif besar, matanya menonjol dan besar dengan tepi berwarna putih.
Ikan nila mempunyai lima buah sirip yang berada di punggung, dada, perut, anus, dan ekor. Pada sirip dubur (anal fin) memiliki 3 jari-jari keras dan 9-11 jari-jari sirip lemah. Sirip ekornya (caudal fin) memiliki 2 jari-jari lemah mengeras dan 16-18 jari-jari sirip lemah. Sirip punggung (dorsal fin) memiliki 17 jari-jari sirip keras dan 13 jari-jari sirip lemah. Sementara sirip dadanya (pectoral fin) memiliki 1 jari-jari sirip keras dan 5 jari-jari sirip lemah. Sirip perut (ventral fin) memilki 1 jari-jari sirip keras dan 5 jari-jari sirip lemah. Ikan nila memiliki sisik cycloid yang menutupi seluruh tubuhnya (Lukman et al, 2014).
Ikan nila termasuk omnivora atau pemakan segala, baik tumbuhan maupun hewan. Kebiasaan itu bergantung pada umurnya. Pada saat larva ikan nila menyukai fitoplankton. Namun pada saat benih menyukai zooplankton, seperti Dapnia sp, dan Moina sp. Setelah dewasa menyukai cacing, seperti cacing darah
dan tubifex. Menurut kebiasaan tempat makan, ikan nila termasuk jenis floating feeder yaitu pemakan di permukaan air, terkadang juga bersifat bottom feeder
yaitu pemakan di dasar perairan. Ikan nila termasuk ikan yang aktif, bergerak cepat ketika diberi pakan tambahan. Ikan nila juga dapat tahan terhadap perubahan lingkungan dan mampu mencerna pakan secara efisien. Pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap penyakit (Putra, 2017).
Nila jantan mempunyai bentuk tubuh membulat dan agak pendek dibandingkan dengan nila betina. Warna ikan nila jantan umumnya lebih cerah dibandingkan dengan betina. Pada bagian anus ikan nila jantan terdapat alat kelamin yang memanjang dan terlihat cerah. Alat kelamin ini semakin cerah ketika telah dewasa atau matang gonad dan siap membuahi telur. Sementara itu
warna sisik ikan nila betina sedikit kusam dan bentuk tubuh agak memanjang.
Pada bagian anus ikan nila betina terdapat dua tonjolan membulat. Satu merupakan saluran keluarnya telur dan yang satunya lagi saluran pembuangan kotoran (Lukman et al., 2014).
Feeding Rate
Pemberian pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya ikan. Apabila pakan yang diberikan terlalu sedikit maka pertumbuhan ikan menjadi lambat dan terjadi persaingan antar ikan dalam memperoleh pakan.
Jika pakan yang diberikan berlebih dapat memengaruhi lingkungan hidup.
feeding rate adalah jumlah pakan yang diberikan setiap hari pada ikan dan
dihitung berdasarkan biomassa . Persentase pakan (feeding rate) yang cukup, berkualitas tinggi, dan tidak berlebihan merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat keberhasilan usaha budidaya ikan (Zahra, 2019).
Kebutuhan pakan harian dinyatakan sebagai tingkat pemberian pakan per hari yang ditentukan berdasarkan persentase dari bobot ikan. Tingkat pemberian pakan ditentukan oleh ukuran ikan. Semakin besar ukuran ikan maka feeding rate semakin kecil, tetapi jumlah pakan hariannya semakin besar. Secara berkala, jumlah pakan harian ikan disesuaikan dengan penambahan bobot ikan dan perubahan populasi (Effendi, 2004).
Salsabila dan Suprapto (2018) menyatakan Pemberian pakan sebanyak 2 kali sehari dengan dosis 3% dari bobot ikan mampu meningkatkan berat tubuh ikan nila secara optimal. Sesuai dengan pernyataan Popma dan Lovshin (1994), berat tubuh ikan meningkat secara optimal jika diberi pakan sebanyak 2,5-4% berat tubuh ikan
Feeding Convertion Ratio (FCR)
Feed convertion ratio adalah suatu ukuran yang menyatakan ratio jumlah
pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg ikan budidaya. Jika nilai FCR
= 1 artinya untuk memproduksi 1 kg daging ikan dalam sistem akuakultur dibutuhkan 1 kg pakan (Mardhiana et al, 2017). Menurut Arifin dan Rumondang, (2017), semakin besar nilai FCR, maka semakin semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 kg ikan daging kultur. FCR seringkali dijadikan indikator kinerja teknis dalam mengevaluasi suatu usaha akuakultur.
Efisiensi pakan adalah bobot daging ikan yang diperoleh per satuan berat kering pakan yang diberikan. Hal ini sangat berguna untuk membandingkan nilai pakan yang mendukung pertambahan bobot. Efisiensi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kualitas pakan, jumlah pakan, spesies ikan, ukuran ikan dan kualitas air (Zahra, 2019).
Besar kecilnya nilai konversi pakan merupakan gambaran tentang tingkat efisiensi pakan yang diberikan. Semakin kecil nilai konversi pakan, semakin efisiensi pakan yang diberikan dalam menunjang pertumbuhan ikan. Jumlah bobot pakan yang diperlukan untuk pertumbuhan atau menambah bobot badan disebut konversi. Nilai konversi pakan digunakan untuk mengetahui baik buruknya kualitas pakan yang diberikan untuk pertumbuhan ikan. Rendahnya konversi pakan berarti makin tinggi efisiensi pakan tersebut dan sebaliknya makin tinggi nilai konversi pakan maka makin rendah efisiensinya (Fran dan Akbar, 2013)
Pakan Ikan
Pakan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Pakan berfungsi sebagai pemasok energi untuk memacu pertumbuhan dan mempertahankan kelangsungan hidup. Pemberian pakan dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu akan mempercepat pertumbuhan ikan budidaya. Pemberian pakan yang berlebih dapat menurunkan efisiensi penggunaan pakan, sebaliknya apabila kekurangan pakan maka pertumbuhan ikan kurang optimum (Alfionita, 2019).
Pakan ikan merupakan campuran dari berbagai bahan pangan (biasa disebut bahan mentah), baik nabati maupun hewani yang diolah sedemikian rupa sehingga mudah dimakan dan dicerna sekaligus merupakan sumber nutrisi bagi ikan yang dapat menghasilkan energi untuk aktivitas hidup. Kelebihan energi yang dihasilkan akan disimpan dalam bentuk daging yang dipergunakan untuk pertumbuhan. Jumlah pakan yang dibutuhkan oleh ikan setiap harinya berhubungan erat dengan ukuran berat dan umurnya. Tetapi persentase jumlah pakan yang dibutuhkan semakin berkurang dengan bertambahnya ukuran dan umur ikan. (Wulandari, 2015).
Karakteristik pakan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada ikan serta menetukan tingkat penerimaan pada para pembudidaya ikan.
Syarat pakan yang berkualitas tinggi adalah yang memiliki kandungan nutrisi yang lengkap, mudah dicerna oleh ikan dan tidak mengandung zat-zat berbahaya bagi ikan. Di samping itu, pakan harus memiliki bentuk fisik yang tahan lama serta mampu bertahan selama proses penanganan dan pengangkutan (Yunaidi et al, 2019)
Kandungan Nutrisi Grotop
Booster grotop adalah salah satu jenis boster yang berfungsi sebagai peningkat nafsu makan, peningkat daya tahan tubuh, memacu enzim pencernaan dan juga mempercepat pertumbuhan ikan. Ada dua macam cara pengaplikasian yaitu melalui air atau melalui pakan. Pemberian melalui pakan atau oral dapat memperbaiki kualitas pakan sehingga dapat meningkatkan kecernaan ikan (Yunianda et al, 2020).
Utami (2018) menunjukkan Pemeliharaan ikan nila dengan pemberian dosis boster grotop yang berbeda memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila merah. Pemberian dosis boster grotop terbaik dijumpai pada perlakuan P3 dengan dosis 20 gr/kg pakan dengan pertumbuhan bobot mutlak 4,33 gram, pertumbuhan panjang mutlak 2,49 cm, dan kelulushidupan 96,67%.
Dari segi pakan, vitamin merupakan senyawa organik kompleks yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit sehingga keberadaannya dalam pakan dalam jumlah yang sedikit pula (1–4% dari total komponen pakan).
Penambahan multivitamin ini diharapkan dapat meningkatkan nutrisi dalam pakan ikan nila sehingga dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup ikan nila (Rahmiati et al, 2018).
Nutrisi merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam budidaya ikan. Beberapa komponen nutrisi yang sangat penting dan harus tersedia dalam pakan ikan antara lain adalah protein, lemak, karbohidrat, vitamin serta mineral.
Nutrisi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kesehatan, pertumbuhan dan reproduksi ikan. Kekurangan salah satu nutrisi dapat menurunkan laju
pertumbuhan, menyebabkan penyakit, sedangkan kelebihan nutrisi dapat menyebabkan laju pertumbuhan terhambat (Marzuqi, 2015).
Vitamin B1 (Tiamin)
Bentuk aktif tiamin (vitamin B1) adalah tiamin pirofosfat (TPP), yang bertindak sebagai koenzim dalam enzim dalam metabolisme karbohidrat, seperti transketolase, piruvat dehidrogenase, dan dehidrogenase ketoglutarat. Organ- organ yang menggunakan glukosa sebagai energi diharapkan lebih sensitif terhadap defisiensi tiamin, seperti sistem saraf, gonad, lensa mata, dan sel darah merah. Kekurangan tiamin pada ikan menyebabkan ikan berenang menjadi abnormal. Persyaratan untuk pertumbuhan optimal pada ikan bervariasi tergantng pada jenis ikan antara 0,5 dan 11 mg tiamin/kg (Hansen et al, 2015).
Tanda-tanda defisiensi tiamin yang diamati pada bibit nila hibrida merah (Oreochromis mossambicus x Orechromis niloticus) yang dibudidayakan di air laut mengurangi pertumbuhan dan efisiensi pakan serta hematokrit yang rendah.
Tingkat thiamin 2,5 mg / kg makanan cukup untuk pertumbuhan maksimum dan pencegahan tanda-tanda kekurangan thiamin (Shiau dan Lin., 2006).
Vitamin B1 atau tiamin penting di dalam nutrisi kebanyakan vertebrata (hewan bertulang belakang) dan beberapa spesies mikroba. Kadar karbohidrat dalam makanan merupakan faktor yang menentukan bagi kebutuhan tiamin dari hewan. Hewan yang diberikan makanan yang kaya akan karbohidrat mempunyai kandungan tiamin yang lebih tinggi. Kekurangan tiamin pada hewan mempengaruhi sistem kardiovaskuler, otot, saraf, dan gastrointestinal. Gangguan jantung, kelemahan otot, neuropati perifer dan sentral, dan kurang berfungsinya gastrointestinal (Taufiqurrahman, 2008)
Vitamin B2 (Riboflavin)
Riboflavin (vitamin B2) adalah bagian dari koenzim, flavin adenine dinucleotide (FAD) dan flavin mononucleotide (FMN). FAD dan FMN keduanya
penting untuk metabolisme energi sebagai koenzim dalam oksidase dan reduktase dalam metabolisme semua makronutrien. Gejala spesifik defisiensi riboflavin pada ikan salmon dan ikan air tawar adalah katarak dan fotofobia (Hansen et al, 2015).
Tanda-tanda defisiensi khas yang dilaporkan untuk ikan tilapia yang diberi makan diet bebas riboflavin adalah anoreksia, pertumbuhan yang buruk, mortalitas tinggi, erosi sirip, hilangnya warna tubuh normal, badan kerdil dwarmfish dan katarak. Kebutuhan riboflavin adalah 6 mg / kg untuk O. aureus remaja yang tumbuh dalam air tawar dan 5 mg / kg diet untuk O. mossambicus x O. niloticus tumbuh dalam air laut 32 ppt (Shiau dan Lin., 2006).
Vitamin C
Vitamin C berfungsi sebagai penunjang dalam pertumbuhan, mengurangi tingkat stress serta dapat mempercepat penyembuhan luka pada ikan. Kekurangan vitamin C pada ikan dapat menyebabkan kerusakan pada insang dan rendahnya tingkat pertumbuhan serta kelangsungan hidup ikan. Vitamin C juga berfungsi sebagai pembentuk jaringan kolagen. menyebutkan bahwa kolagen merupakan komponen pembentuk tulang pada ikan yang diserap secara cepat pada kulit, sirip punggung, kepala, insang, tulang rawan, rahang, tulang rawan penunjang dan mulut (Abdan et al, 2017).
Penggunaan vitamin C yang diaplikasikan pada pakan ikan diharapkan dapat mengurangi tingkat stress pada ikan nila. Vitamin C merupakan vitamin
yang mudah diserap oleh saluran pencernaan. Kelenjar adrenalin mengandung vitamin C yang sangat tinggi. Vitamin C mempunyai banyak fungsi dalam kaitannya dengan respirasi sel dan kerja enzim. Peranan dari vitamin C adalah oksidasi fenilalanin menjadi tirosin, reduksi ion ferri menjadi ferro dalam saluran pencernaan sehingga ion besi mudah diserap, mengubah asam folat menjadi asam folinat (dalam bentuk yang aktif) serta berperan dalam pembentukan hormon steroid dari kolesterol Vitamin C penting bagi ikan karena mempunyai banyak fungsi dalam metabolisme tubuh, bahkan dapat sebagai faktor pembatas pertumbuhan bila terjadi defisiensi (Kursistiyanto et al., 2013).
Penambahan vitamin C dapat meningkatkan kesehatan pada ikan maka akan memacu nafsu makan serta pemanfaatan pakan yang lebih baik, sehingga menyebabkan penyerapan zat besi dalam makanan terjadi dengan baik dan kemudian zat besi ini akan dialiri melalui darah dan diedarkankan keseluruh jaringan tubuh ikan (Abdan et al., 2017).
Hasil penelitian Abdan et al., (2017) menujukkan perlakuan dosis vitamin C dalam pakan dijumpai nilai kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan ke (3) 300 mg/kg pakan dengan persentase 96,70% berbeda nyata dari pada perlakukan (1) tanpa dosis, perlakuan (2) 200 mg/kg, (4) 400 mg/kg, (5) 500 mg/kg . Hal ini selaras dengan penelitian terdahulu dimana penambahan vitamin C di atas 60 mg/kg pakan dapat meningkatkan kelulushidupan ikan Cirrhinus mgrigala (Ashraf et al., 2008) dan ikan Ostechillus kappeni pada penambahan 300
mg/kg pakan (Uliza, 2015). Peran penting vitamin C dalam pakan adalah membantu reaksi tubuh ikan terhadap stres fisologis, pencegahan penyakit dan proses pertumbuhan ikan.
Asam Amino
Suplementasi asam amino merupakan strategi dalam pemenuhan keseimbangan asam amino pada pakan dan meningkatkan kualitas protein.
suplementasi asam amino dapat memperbaiki nilai nutrisi pada pakan sehingga memengaruhi pada peningkatan pertumbuhan ikan. suplementasi lisin dan metionin dapat meningkatkan bobot tubuh ikan (Yusuf et al., 2016).
Lisin
Lisin merupakan asam amino yang sangat berguna bagi tubuh karena merupakan bahan dasar antibodi darah, dapat memperkuat sistem sirkulasi darah dan mempertahankan pertumbuhan sel-sel normal prolina serta vitamin C yang akan membentuk jaringan kolagen,dan dapat menurunkan kadar trigliserida darah yang berlebihan. Lisin dapat meningkatkan keseimbangan pemanfaatan asam amino lainnya sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan (Warisan et al., 2018).
Lisin adalah salah satu asam amino yang pembatas dalam pakan ikan.
Semua spesies ikan membutuhkan lisin sebagai komponen makanan penting, terutama ketika sumber protein alternatif digunakan sebagai pengganti tepung ikan. Telah diamati bahwa banyak kerangka ikan mengandung konsentrasi lisin yang tinggi. Selain itu, ikan yang kekurangan asam amino esensial menunjukkan penurunan pertumbuhan dan tingkat kematian yang lebih tinggi. Lisin meningkatkan pertumbuhan otot pada ikan dengan cepat meningkatkan ukuran dan panjang serat otot melalui hiperplasia dan hipertrofi. Akiyama et al., (1997) menyatakan Ikan Oreochromis mosammbicus membutuhkan 4,1% dari total protein sedangkan Oreochromis niloticus 5,1-5,8% dari total protein (Muchtar, 2017).
Suplementasi asam amino merupakan strategi dalam pemenuhan keseimbangan asam amino pada pakan dan meningkatkan kualitas protein.
Suplementasi asam amino dilaporkan pada beberapa penelitian. Palavesam et al.
(2008), menyatakan bahwa pemberian lisin 0,5% pada pakan berprotein 35%
dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan Etroplus suratensis (Yusuf et al., 2016).
Metionin
Metionin merupakan asam amino essensial bagi ikan dan merupakan asam amino pembatas dalam diet protein yang mengandung sumber nabati tinggi.
Metionin pada pakan berperan dalam sintesis protein dan metabolisme lipid dalam tubuh. Defisiensi metionin pada pakan menyebabkan pertumbuhan lambat dan efisiensi pakan yang rendah. Pakan dengan kandungan metionin yang tidak seimbang dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat karena terjadi antagonisme asam amino yang bersifat toksik (Ristiawati, 2019).
Keberadaan metionin sering kali diikuti dengan keberadaan sistin.
Metionin dan sistin, keduanya merupakan asam amino yang mengandung gugus sulfur. Sistim mempunyai kemampuan mereduksi sejumlah metionin yang diperlukan bagi pertumbuhan optimal. Kebutuhan Metionin berbeda pada setiap jenis ikan. Ikan tilapia membutuhkan 3,2 % dari protein pakan. Asam amino metionin juga merupakan asam amino pembatas d dalam beberapa bahan makanan sumber protein nabati (Buwono, 2000)
Enzim Protease
Protease merupakan enzim pengurai yang mengkatalisis hidrolisis total protein. Enzim ini dapat dihasilkan secara intraseluler dan ekstraseluler oleh tanaman, hewan, dan mikrob, serta mempunyai peranan penting dalam metabolisme dan regulasi dalam sel. Enzim ekstraseluler disekresikan ke luar sel dan mendegradasi senyawa polimer menjadi senyawa yang lebih sederhana yang mudah larut dan diserap melalui dinding sel. Enzim ekstraseluler banyak digunakan dalam industri, karena dihasilkan dalam jumlah besar dan metode ekstraksi cukup mudah (Fatimah, 2005).
Tingkat kecernaan suatu bahan dapat ditingkatkan dengan penambahan enzim pada pakan alah satunya adalah enzim protease. Enzim protease disekresikan oleh mikrob proteolitik yang mampu menghidrolisis protein kompleks menjadi protein sederhana sehingga lebih mudah diserap dan dimanfaatkan ikan. Bakteri yang terdapat di dalam saluran pencernaan ikan diketahui dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan aktivitas pencernaan ikan, karena kemampuannya mensekresikan berbagai jenis enzim. Berbagai jenis yang dapat menghasilkan enzim protease seperti Bacillus, Lactobacillus, Pseudomonas, Clostridium, Proteus dan Serratia (Kurniasih, 2011).
Inositol
Inositol, ditemukan oleh Scherer pada tahun 1850 dan ditandai oleh Maquenne (1900). Inositol didistribusikan secara luas pada tumbuhan dan hewan, terutama sebagai komponen struktural membran biologis dalam bentuk fosfolipid.
Ini diklasifikasikan sebagai nutrisi seperti vitamin, dan merupakan bahan makanan penting untuk sebagian besar hewan air (Shirmohammad et al, 2016)
Inositol berupa myo-inositol di dalam tubuh merupakan nutrisi alami yang tersusun atas isomer gula alkohol dengan rantai C6 dan termasuk dalam kelompok vitamin B-kompleks yang berperan penting sebagai dasar struktural , nutrisi essensial yang penting untuk sebagian besar hewan air (Michael dan Koshio,2008), jalur sinyal transduksi yang dikontrol oleh hormon tertentu, neurotransmitter, atau berperan sebagai faktor pertumbuhan. Waagbo (1998) Kebutuhan inositol untuk ikan tampaknya berada di kisaran 250 hingga 500 mg/kg (Putri, 2014)
Kelangsungan Hidup (Survival Rate)
Kelangsungan hidup merupakan peluang hidup suatu individu dalam waktu tertentu. Kelangsungan hidup ditentukan oleh kualitas induk, kualitas telur, kualitas air, serta perbandingan antara jumlah pakan dan padat tebar. Tingkat kelangsungan hidup akan menentukan produksi yang diproleh dan erat kaitannya dengan ukuran ikan yang dipelihara. Pakan yang mempunyai nutrisi yang baik sangat berperan dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan mempercepat pertumbuhan ikan (Amalia et al., 2018).
Kelangsungan hidup yaitu persentase jumlah ikan yang hidup selama masa pemeliharaan tertentu. Padatnya populasi akan mengganggu proses fisiologis dan tingkah laku ikan sehingga ikan mengalami stress. Terganggunya proses fisiologis menyebabkan penurunan pemanfaatan makanan oleh tubuh, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup (Helpher dan Pruginin, 1981).
Tingkat kelangsungan ≥ 50% tergolong baik, kelangsungan hidup 30-50%
sedang dan kurang dari 30% tidak baik. Kelangsungan hidup ikan sangat bergantung pada daya adaptasi ikan terhadap makanan dan lingkungan, status
kesehatan ikan, padat tebar, dan kualitas air yang cukup mendukung pertumbuhan (Mulyani et al., 2014).
Kualitas Air
Air merupakan media hidup bagi ikan yang berperan penting sehingga kualitas air perlu dijaga dengan baik. kualitas air adalah kelayakan perairan untuk mendukung kehidupan dan pertumbuhan ikan yang ditentukan oleh fisika dan kimia air. Kualitas air merupakan variable yang mempengaruhi kelangsungan hidup, pertumbuhan, serta perkembang biakan ikan meliputi suhu, oksigen terlarut, pH, serta senyawa lain (Putri, 2014).
Ikan memerlukan oksigen terlarut untuk bernafas dan pembakaran makanan yang menghasilkan energi untuk berenang, pertumbuhan, reproduksi, dan lain- lain. Kadar oksigen terlarut didalam air dipengaruhi oleh suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer, sementara berkurangnya kadar oksigen terlarut dipengaruhi oleh meningkatnya suhu, ketinggian, dan berkurangnya tekanan atmosfer. Oksigen terlarut merupakan salah satu parameter yang dapat digunakan sebagai pilihan utama untuk menentukan layaktidaknya air untuk budidaya ikan..
Secara umum, ikan nila dapat hidup dalam air dengan kandungan oksigen 3 – >5 mg/liter. untuk meningkatkan produktivitas ikan, kandungan oksigen terlarut dalam air sebaiknya dijaga pada level diatas 5 mg/liter, sementara jika kandungan oksigen terlarut berada dibawah 3 mg/liter dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ikan (Arifin, 2016).
Menurut Apriliza (2012) bahwa kisaran oksigen terlarut yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan nila sebesar 5 mg.L. Menurut BSNI (2009) nilai oksigen terlarut untuk produksi ikan nila pada kolam air tenang adalah ≥3mg.L
dan konsentrasi oksigen terlarut kurang dari 4 mg.Ldapat menimbulkan efek yang kurang menguntungkan bagi hampir semua organisme akuatik.
Menurut Arifin (2016) nilai pH dapat digunakan sebagai gambaran tentang kemampuan suatu perairan dalam memproduksi garam mineral, yang mana bila pH tidak sesuai dengan kebutuhan organisme yang dipelihara, akan menghambat pertumbuhan ikan. Secara umum angka pH yang ideal adalah antara 4 – 9, namun untuk pertumbuhan yang optimal untuk ikan nila, pH yang ideal adalah berkisar antara 6 – 8. Dalam dunia perikanan nilai pH digunakan sebagai gambaran tentang kemampuan suatu perairan dalam memproduksi garam mineral. Pertumbuhan ikan akan terhambat bila pH tidak sesuai dengan kebutuhan organisme tersebut.
Menurut Mahendra (2018) Suhu menjadi faktor pembatas bagi kegiatan budidaya karena mampu mempengaruhi berbagai reaksi fisika dan kimia di lingkungan dan tubuh ikan. Suhu terkait pula dengan parameter air lainnya, diantaranya adalah oksigen terlarut. Pada level suhu yang meningkat, kandungan oksigen berkurang karena proses metabolisme lebih cepat.
Adanya peningkatan suhu pada air media pemeliharaan disebabkan oleh penempatan wadah pemeliharaan. Selama penelitian lokasi pemeliharaan benih ikan nila berada di luar ruangan. Berdasarkan Effendi (2003), bahwa cahaya matahari yang masuk ke perairan akan mengalami penyerapan dan perubahan energi panas. Sehingga wadah pemeliharaan terpapar langsung pada sinar matahari dan mengakibatkan nilai suhu air media pemeliharaan mengalami perubahan pada pagi hari, siang hari dan sore hari. Kisaran suhu untuk produksi ikan nila kelas pembesaran di kolam air tenang adalah 25-320C (BSNI, 2009) dan menurut Kordi (2009), suhu optimal untuk pertumbuhan ikan nila yaitu 25-300C
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan November 2020 yang berlokasi di Jalan Garu III Kecamatan Medan Amplas, Kelurahan Harjosari I, Provinsi Sumatera Utara
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah 27 buah ember berdiameter 36 cm dan tinggi 17 cm yaitu sebagai wadah pemeliharaan ikan nila. Timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 mg untuk menimbang bobot ikan uji. Kertas millimeter blok dan penggaris digunakan untuk mengukur panjang ikan uji. scoopnet untuk menangkap ikan uji yang akan diamati. Aerator sebagai pensuplai oksigen. Termometer, pH meter, DO meter, untuk mengukur kualitas air. Selang sifon untuk melakukan penyiponan dan kamera digital untuk mengambil dokumentasi.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ikan Nila dengan bobot ±15 g sebanyak 270 ekor. Air bersih untuk, media hidup ikan uji, boster grotop, Pakan komersil sebagai makanan ikan.
Rancangan Percobaan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan dua faktor yaitu faktor pertama yaitu G0 tanpa grotop, G1 dosis Grotop 2 g/kg pakan, G2 4 g/kg pakan. Faktor kedua dengan feeding rate pada Pakan 3%, 4%, 5%.
Menurut Hanafiah (1997) Model Linear yang digunakan adalah : Hijk = π + Pj + Pk + (Pj x Pk) + eijk Keterangan :
Hijk = Hasil akibat perlakuan ke-j dan perlakuan ke-k pada ulangan ke-i π = Nilai tengah umum
Pj = Pengaruh faktor perlakuan ke-j Pk = Pengaruh faktor perlakuan ke-k
Pj x Pk = Interaksi perlakuan ke-j dan perlakuan ke-k
Eijk = Eror akibat perlakuan ke-j dan perlakuan ke-k pada ulangan ke-i I = 1, 2, …., u (u = ulangan)
J = 1, 2, …., p ke-1 (p = perlakuan ke-1) K = 1, 2,…... p ke-2 (p = perlakuan ke-2)
Kombinasi yang ditentukan pada penielitian ini terdiri dari:
G0F1 : Feeding rate 3% tanpa grotop G0F2 : Feeding rate 4% tanpa grotop G0F3 : Feeding rate 5% tanpa grotop
G1F1 : Feeding rate 3% dengan dosis Grotop 2 gr/kg pakan G1F2 : Feeding rate 4% dengan dosis Grotop 2 gr/kg pakan G1F3 : Feeding rate 5% dengan dosis Grotop 2 gr/kg pakan G2F1 : Feeding rate 3% dengan dosis Grotop 4 gr/kg pakan G2F2 : Feeding rate 4% dengan dosis Grotop 4 gr/kg pakan G2F3 : Feeding rate 5% dengan dosis Grotop 4 gr/kg pakan
Tabel 1. Kombinasi perlakuan yang digunakan
Ulangan I Ulangan II Ulangan III
G0F1U1 G0F1U2 G0F1U3
G0F2U1 G0F2U2 G0F2U3
G0F3U1 G0F3U2 G0F3U3
G1F1U1 G1F1U2 G1F1U3
G1F2U1 G1F2U2 G1F2U3
G1F3U1 G1F3U2 G1F3U3
G2F1U1 G2F1U2 G2F1U3
G2F2U1 G2F2U2 G2F2U3
G2F3U1 G2F3U2 G2F3U3
Keterangan
G0 = Tanpa Grotop
G1 = Dosis Grotop 2 g/kg pakan G2 = Dosis Grotop 4 g/kg pakan F1 = Feeding rate 3%
F2 = Feeding rate 4%
F3 = Feeding rate 5%
U1,2,3 = Ulangan ke 1, 2, dan 3
Prosedur Penelitian
Penyiapaan wadah penelitian
Wadah media uji atau tempat pemeliharaan Ikan nila yang digunakan adalah ember plastik yang berjumlah 27 unit yang memiliki diameter 36 cm dengan volume 30 liter. Ember plastik yang akan digunakan dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu. Ember yang sudah bersih dan kering disusun sesuai tata letak percobaan yang ada pada denah
Penyiapan air media
Air merupakan sebagai media hidup dalam pemeliharaan ikan, sehingga diperlukan persiapan air media yang baik sebelum dilakukan penelitian. Air yang digunakan dalam penelitian ini adalah air yang berasal dari PDAM. Air diendapkan selama ± 168 jam atau 7 hari sampai kadar keasaman air mencapai 7 (tujuh) hal ini bertujuan untuk menghindari kematian ikan dan menghindari zat- zat berbahaya. Selanjutnya, air diisi ke dalam ember sebanyak 30 liter. Selanjutnya air diaerasi selama 3 (tiga) hari untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut.
Setelah itu air dapat digunakan untuk pemeliharaan ikan Penyiapan ikan uji
Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan nila yang memiliki ukuran ± 9 cm dan bobot ikan ± 15 gram. Jumlah total ikan nila yang digunakan dalam penelitian ini adalah 270 ekor. Ikan diletakkan ke dalam wadah sementara dan sebelum dimasukkan ke dalam media pemeliharaan, ikan di aklimitasi selama
± 4 (empat) hari sehingga ikan dapat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Penyiapan pakan uji
Pakan yang digunakan selama penelitian adalah pelet ikan komersial yang akan dicampurkan dengan Grotop,. Adapun tahapan pelaksanaan dalam pembuatan pakan diawali dengan menimbang pakan terlebih dahulu sesuai dengan bobot biomassa ikan, Selanjutnya Grotop ditimbang sesuai dengan dosis yang telah ditentukan, progol 5 gr/kg ditimbang dan dicampur dengan Grotop, dilarutkan dengan air sebanyak 125 ml/kg , lalu pakan disemprot menggunakan sprayer secara merata, langkah selanjutnya pakan diangin-anginkan selama 30
menit dan pakan siap diberikan ke ikan.
Pemeliharaan ikan uji
Pemeliharaan ikan nila dilakukan selama 60 hari. Selama masa pemeliharaan, kualitas air harus selalu diperhatikan agar kondisi ikan dalam keadaan baik. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 3 kali sehari. Pada proses pemeliharaan ikan, pengontrolan kualitas air harus terjaga agar ikan uji sehat dan tumbuh dengan baik serta memperhatikan tinggi air di dalam ember. Setiap hari ikan uji akan mengeluarkan kotoran atau sisa pakan yang menyebabkan air menjadi kotor, Oleh sebab itu penyifonan dilakukan setiap 2 hari. Volume air yang di sifon yaitu 10% dari volume awal . Kemudian ditambah dengan air bersih yang sudah diendapkan. Penyifonan air dilakukan setelah aerator dimatikan, ini bertujuan untuk kotoran dan sisa makanan ikan turun kedasar wadah pemeliharaan. Jumlah volume air yang akan tersifon 10%dari volume awal.
Kemudian, air yang terbuang akan diganti kembali dengan air bersih sebanyak jumlah volume air yang terbuang saat proses penyifonan.
Pengamatan Hasil
Feed convertion ratio (FCR)
Menurut Kordi (2009), rasio konversi pakan dapat dihitung menggunakan rumus :
Keterangan :
FCR : Feed convertion ratio
F : Jumlah pakan yang diberikan (gram)
Wt : Bobot rata-rata pada akhir penelitian (gram) W0 : Bobot rata-rata pada awal penelitian (gram) Survival rate (SR)
Menurut Effendie (1997), tingkat kelangsungan hidup dapat dihitung dengan rumus :
Keterangan :
SR : Survival rate (%)
Nt: Jumlah ikan yang hidup pada akhir penelitian (ekor) N0 : Jumlah ikan yang hidup pada awal penelitian (ekor) Pertambahan panjang
Pengukuran panjang dilakukan setiap 10 hari sekali. Pengukuran dilakukan dengan cara ikan diletakkan diatas kertas millimeter kemudian di catat panjang ikan. Pengukuran panjang ikan menggunakan rumusan pertumbuhan panjang menurut Pratama et al., (2016) yaitu :
L = L2 – L1
Keterangan:
L : Panjang Total (cm) L2 : Panjang akhir (cm) L1 :Panjang awal ikan (cm) Peningkatan bobot
Pengukuran bobot ikan menggunakan timbangan analitik. Bobot ikan yang telah di timbang kemudian dicatat. Pengukuran dilakukan setiap 10 hari sekali Pertumbuhan bobot dengan rumus pertumbuhan menurut Yanti et al. (2013) yaitu :
Wg = W2 – W1
Keterangan:
Wg : Pertambahan berat (gr) W2 : Bobot akhir (gr)
W1 : Bobot awal (gr) Pengukuran kualitas air
Pengukuran kualitas air parameter kualitas air yang diukur yaitu suhu, pH, dan DO. Pengukuran suhu dan pH dilakukan setiap hari selama penelitian.
Pengukuran kualitas air ini dilakukan setiap 10 hari sekali agar kondisi media uji tetap dalam keadaan yang terkontrol.
Analisa data
Hasil perhitungan data dianalisis menggunakan bantuan program Microsoft Excel untuk tabulasi data dan penyajian grafik. SPSS digunakan untuk Analisis Ragam (ANOVA) dan uji F pada selang kepercayaan 95%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pengambilan sampel ikan nila dilakukan setiap 10 hari sekali selama 60 hari masa pemeliharaan. Adapun perlakuan penelitian ini adalah penambahan Grotop dengan dosis dan feeding rate pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan nila.
Data yang diperoleh pada penelitian ini meliputi pertumbuhan panjang (cm), peningkatan bobot (g), feed convertion ratio (FCR), kelangsungan hidup dan data parameter kualitas air.
Dimana perlakuan yang digunakan adalah G0 (tanpa pemberian Grotop), G1 (penambahan Grotop pada pakan dengan dosis 2%), G2 (pemberian Grotop pada pakan dengan dosis 4% ), F1 (feeding rate 3%), F2 (feeding rate 4%), F3 (feeding rate 5%).
Pertambahan Bobot Ikan Nila
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama 60 hari dengan perlakuan pemberian Grotop pada pakan dengan dosis yang berbeda dan Feeding Rate yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan nila. Diagram Pertambahan bobot
Ikan nila dapat dilihat pada Gambar 2. Sidik ragam (ANOVA) peningkatan bobot ikan terdapat pada Tabel 2, dan untuk nilai rata – rata serta standard error peningkatan bobot dapat dilihat pada Tabel 3.
Gambar 2. Rata-rata peningkat bobot ikan nila
Berdasarkan Gambar 2 Rata-rata peningkatan bobot ikan nila selama 60 hari, dapat diketahui bahwa Rata-rata di masing-masing perlakuan berkisar antara 15,33 - 25,98 gram. Peningkatan bobot tertinggi terdapat pada perlakuan G2F3 yaitu 25,98 gr. Sedangkan Pertambahan bobot terendah terdapat pada perlakuan G0F1 yaitu 15,33 gr.
Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh setiap perlakuan terhadap pertambahan bobot ikan nila, maka dilanjutkan dengan uji ANOVA yang hasilnya disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Analisis variasi terhadap bobot (gr) ikan nila (Oreochromis niloticus) dari H-0 sampai H-60 selama masa pemeliharaan
Source
Type III Sum of Squares
df Mean
Square F Sig.
Corected
Model 314.445 8 39.306 336.687 0.000**
Grotop 273.513 2 136.756 1226.39 0.000**
Feeding Rate 39.294 2 19.647 176.19 0.000**
Grotop *
Feeding Rate 1.637 4 0.409 3.671 0.028*
Total 10819.3 243
Corrected
total 316.546 242
15.33 16.45 17.65 17.26 18.63 20.05 22.22 23.96 25.98
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00
G0F1 G0F2 G0F3 G1F1 G1F2 G1F3 G2F1 G2F2 G2F3
Bobot Rata-rata (Gram)
Perlakuan
G0F1 G0F2 G0F3 G1F1 G1F2 G1F3 G2F1 G2F2
Diketahui bahwa nilai signifikasi sumber variansi Grotop, feeding rate 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa sumber variansi tersebut memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap panjang ikan. Analisis variansi dari SPSS digunakan untuk melihat perbedaan secara signifikan antar rata-rata perlakuan secara keseluruhan. Dari nilai signifikansi Dosis Grotop sebesar 0,000, dapat dilihat bahwa nilai ini lebih kecil dari 0,01 yang artinya Dosis berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan panjang ikan nila. Sedangkan nilai feeding rate sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,01 yang berarti feeding rate berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan panjang ikan nila.
Nilai F hitung perlakuan interaksi dosis Grotop dengan feeding rate yaitu 3. 671 dimana nilai F hitung lebih besar dari F tabel yang berarti berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot ikan nila. Analisis variansi (ANOVA) rata – rata peningkatan bobot ikan nila dengan menggunakan SPSS yang dapat menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan bobot ikan nila.
Tabel 3. Hasil rata – rata dan standart error pertambahan bobot (gr) ikan nila dari H-10 sampai H-60 selama 60 hari pemeliharaan
Grotop x feeding rate
Hari
H10 H20 H30 H40 H50 H60
G0F1 17.301a 19.714a 22.210a 24.829a 27.589a 30.535a
±0.034 ±0.024 ±0.022 ±0.026 ±0.033 ±0.039 G0F2 17.373ab 19.979b 22.679b 25.603b 28.566b 31.645b
±0.048 ±0.012 ±0.016 ±0.030 ±0.038 ±0.050 G0F3 17.449bc 20.197d 23.101c 26.273d 29.560d 32.872d
±0.007 ±0.012 ±0.011 ±0.025 ±0.041 ±0.053 G1F1 17.506c 20.112c 23.037c 26.147c 29.296c 32.468c
±0.047 ±0.045 ±0.044 ±0.043 ±0.043 ±0.043 G1F2 18.030e 21.172e 24.207d 27.379e 30.606e 33.841e
±0.009 ±0.021 ±0.013 ±0.019 ±0.024 ±0.025 G1F3 18.267f 21.454f 24.666e 27.988f 31.486f 35.287f
±0.011 ±0.016 ±0.018 ±0.039 ±0.038 ±0.039 G2F1 17.901d 21.176e 24.903f 28.881g 33.165g 37.463g
±0.019 ±0.027 ±0.044 ±0.052 ±0.042 ±0.042 G2F2 18.377g 21.863g 25.890g 30.135h 34.623h 39.155h
±0.017 ±0.015 ±0.012 ±0.018 ±0.045 ±0.083 G2F3 18.916h 22.915h 27.347h 31.822i 36.530i 41.267i
±0.051 ±0.064 ±0.064 ±0.071 ±0.083 ±0.092
a,b,c,d,e,f,g,h,i: Perbedaan notasi huruf menyatakan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan
Pengamatan peningkatan bobot yang dilakukan setiap 10 hari sekali dengan masa pemeliharaan 60 hari, dapat diketahui bahwa penambahan dosis grotop dan Feeding Rate yang berbeda terhadap peningkatan bobot ikan nila. Setiap 10 hari
sekali terdapat perbedaan nilai disetiap perlakuan. Dosis Grotop dan Feeding Rate yang paling efektif dalam meningkatkan pertambahan bobot ikan adalah dosis G2F3, dikarenakan mendapatkan nilai yang lebih besar dari pada perlakuan yang lainnya. notasi huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda antar perlakuan.
sedangkan pada notasi huruf yg berbeda, menujukkan adanya perbedaan antar perlakuan yg signifikan terhadap pertumbuhan panjang ikan nila .
Pertambahan Panjang Ikan Nila
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama 60 hari dengan perlakuan pemberian Grotop pada pakan dengan dosis yang berbeda dan feeding rate yang berbeda terhadap pertumbuhan ikan nila. Diagram pertambahan panjang ikan nila dapat dilihat pada Gambar 3. Analisis sidik ragam (ANOVA) pertambahan panjang ikan terdapat pada Tabel 5 dan nilai rata – rata serta standard error peningkatan bobot dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel Pengamatan panjang ikan nila selama 60 hari bisa dilihat pada Lampiran 7.
Gambar 3. Pertambahan rata-rata panjang ikan nila
Pertambahan rata-rata panjang ikan nila selama 60 hari, dapat diketahui bahwa pertumbuhan rata-rata pada ikan nila. Pada masing masing perlakuan berkisar antara 2,94 – 4,38 cm. Pertambahan panjang tertinggi terdapat pada perlakuan G2F3 yakni 4,38 cm. Sedangkan pertambahan panjang terendah terdapat pada perlakuan G0F1 yakni 2,94 cm dengan pertumbuhan akhir 11,8 cm.
Untuk mengetahui pengaruh setiap perlakuan terhadap panjang ikan nila, maka dilanjutkan dengan uji ANOVA yang hasilnya disajikan pada tabel 4.
2.94 3.19 3.29 3.14
3.71 4.03 3.57
4.02 4.38
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00
GOF1 GOF2 GOF3 G1F1 G1F2 G1F3 G2F1 G2F2 G2F3
Panjang Rata-rata Ikan Nila (cm)
Perlakuan
GOF1 GOF2 GOF3 G1F1 G1F2 G1F3 G2F1 G2F2 G2F3
Tabel 4. Analisis variasi terhadap panjang (cm) ikan nila (Oreochromis niloticus) dari H-0 sampai H-60 selama masa pemeliharaan
Source
Type III Sum of Squares
df Mean
Square F Sig.
Corrected Model 5.705 8 0.713 217.581 ,000**
Grotop 3.283 2 1.646 496.86 ,000**
Feeding Rate 2.161 2 1.080 326.99 ,000**
Grotop * Feeding
Rate 0.262 4 0.065 19.84 ,000**
Total 353.312 243
Corrected Total 5.764 242
**(Sangat berpengaruh nyata) (P≤0,01). * (berpengaruh nyata) (P≤0,05).
Diketahui bahwa nilai signifikasi sumber variansi Grotop, feeding rate dan interaksi sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa semua sumber variansi tersebut memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap panjang ikan. Analisis variansi dari SPSS digunakan untuk melihat perbedaan secara signifikan antar rata- rata perlakuan secara keseluruhan. Dari nilai signifikansi dosis Grotop sebesar 0,000, dapat dilihat bahwa nilai ini lebih kecil dari 0,01 yang artinya Dosis berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan panjang ikan nila. Sedangkan nilai feeding rate sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,01 yang berarti feeding rate
berpengaruh sangat nyata terhadap pertambahan panjang ikan nila.
Nilai F hitung perlakuan interkasi dosis Grotop dengan feeding rate yaitu 19.84 dimana nilai F hitung tersebut lebih besar dari F tabel yang berarti berpengaruh signifikan terhadap pertambahan panjang ikan nila. Analisis Variansi (ANOVA) rata – rata peningkatan bobot ikan nila dengan menggunakan SPSS yang dapat menunjukkan perbedaan yang sangat nyata terhadap pertambahan panjang ikan nila dapat dilihat pada tabel 5.