ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui stressor kerja pada perawat rawat inap Rumah Sakit “X” di Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif, yaitu menggambarkan stressor kerja yang dialami oleh perawat rawat inap. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive random sampling, yaitu sampel ditarik dari anggota populasi yang sudah sesuai dengan karakterisitik sampel dan setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk ditarik sebagai sampel karena populasi bersifat homogen. Ukuran sampel pada penelitian ini adalah 79 perawat rawat inap di rumah sakit “X” Bandung.
Alat ukur yang dipergunakan adalah kuesioner yang dikonstruksi oleh peneliti berdasarkan Teori Stress Kerja dari Luthans (1992).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Organizational Stressors (72.15%) merupakan area stressor yang paling banyak dirasakan oleh perawat rawat inap rumah sakit “X” di Bandung. Untuk area stressor terbanyak kedua adalah Group Stressors (48.10%). Extraorganizational Stressors sebagai area stressor terbanyak ketiga memiliki persentase 22.78%. Individual Stressors merupakan area stressors yang paling sedikit dirasakan oleh perawat rawat inap rumah sakit “X” di Bandung(10.13%).
Dari hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa stressor yang paling banyak dialami oleh perawat rawat inap rumah sakit “X” Bandung adalah Organizational Stressors, dimana struktur organisasi memberikan kontribusi yang lebih dominan, dalam dirasakannya area stressor oleh para perawat rawat inap.
Saran yang dapat diberikan bagi rumah sakit “X” di Bandung ini adalah merestrukturisasi sistem di dalam organisasi, terutama lebih memberikan perhatian terhadap keluhan-keluhan yang disampaikan perawat. Kurang nyamannya perawat dalam menyampaikan keluhannya kepada atasan dan penghayatan perawat bahwa organisasi kurang menanggapi keluhan mereka secara serius, menjadi stressor yang lebih dominan bagi perawat rawat inap. Oleh sebab itu, maka organisasi dapat memulai restrukturisasi sistem organisasi dengan membuka aliran interaksi antara atasan dan bawahan agar stressor yang ada dapat diatasi secara bersama-sama.
DAFTAR ISI
ABSTRAK………iii
KATA PENGANTAR………..iv
DAFTAR ISI ………vii
DAFTAR TABEL ……….x
DAFTAR BAGAN………xi
DAFTAR LAMPIRAN………...xii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah………1
1.2. Identifikasi Masalah………..7
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian………..7
1.3.1. Maksud Penelitian………...7
1.3.2. Tujuan Penelitian………7
1.4. Kegunaan Penelitian………..8
1.4.1. Kegunaan Ilmiah……….8
1.4.2. Kegunaan Praktis………8
1.5. Kerangka Pemikiran……….9
1.6. Asumsi……….20
Bab II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Stres ………..21
2.1.2. Pendekatan ilmiah terhadap stres………..……22
2.2. Teori Stres Kerja ………25
2.2.1. Pengertian Stres Kerja .……….25
2.2.2. Penyebab Stres (Stressor).………25
2.2.3. Dampak dari Stres .……… ………...35
2.3. Perawat 2.3.1. Definisi Perawatan..………..37
2.3.2. Kualifikasi dasar seorang perawat ………...39
2.3.3. Delapan kualifikasi perawat yang baik………40
2.3.4. Interaksi pasien, dokter, dan perawat………...41
2.3.5. Faktor-faktor yang diperlukan dalam merawat ………...41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian……….43
3.2. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional………43
3.2.1. Variabel Penelitian………..43
3.2.2. Definisi Operasional………44
3.3. Populasi Sasaran dan Teknik Sampling……….45
3.3.1. Populasi Sasaran………..45
3.3.2. Teknik Sampling………..45
3.4. Alat Ukur………46
3.4.1. Uji Coba Alat Ukur………..49
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Responden………..52
4.2. Gambaran Hasil Penelitian………..54
4.2.1. Gambaran Stressor kerja………54
4.2.2. Gambaran Aspek Stressor kerja……….55
4.3. Pembahasan ……….58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan………..62
5.2. Saran………63
5.2.1. Saran Guna Laksana..…..………..63
5.2.2. Saran Penelitian Lanjutan….……….………64
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RUJUKAN LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 3.4.1. Tabel Alat Ukur……….………47
Tabel 3.4.2. Tabel Skoring Item………48
Tabel 4.1.1. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin………..52
Tabel 4.1.2. Distribusi Frekuensi Usia………...52
Tabel 4.1.3. Distribusi Frekuensi Latar Belakang Pendidikan………...53
Tabel 4.1.4. Distribusi Frekuensi Status perkawinan………53
Tabel 4.1.5. Distribusi Frekuensi Masa Kerja………..53
Tabel 4.2.1. Distribusi Stressor Kerja………54
Tabel 4.2.2. Distribusi Frekuensi Area Extraorganizational Stressors………….55
Tabel 4.2.3. Distribusi Frekuensi Area Organizational Stressors……….56
Tabel 4.2.4. Distribusi Frekuensi Area Group Stressors………...56
Tabel 4.2.5. Distribusi Frekuensi Area Individual Stressors………… ………….57
DAFTAR BAGAN
Bagan 1.1. Kerangka Pikir……….19
Bagan 3.1. Skema Rancangan Penelitian………...43
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Data Personal
Lampiran 2 Kuesioner Stressor Kerja
Lampiran 3 Kisi-kisi Alat Ukur Stressor Kerja
Lampiran 4 Hasil Try Out Uji Validitas Item dan Reliabilitas
Lampiran 5 Skoring Stressor Kerja berdasarkan Item Lampiran 6 Tabel sample size dari Krejcie dan Morgan Lampiran 7 Tabel Data Penunjang
Lampiran 8 Tabel Crosstabs
Lampiran 1
KATA PENGANTAR
Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Peneliti hendak meminta kesediaan dan kerjasama dari Saudara/i untuk mengisi kuesioner mengenai Job Stressors (penyebab/sumber stres yang dirasakan) pada perawat rawat inap.
Kerahasiaan dari data yang telah diisi oleh Saudara/i akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian ini.
Atas kesediaan dan kerjasama dari Saudara/i dalam mengisi kuesioner ini saya ucapkan terima kasih.
Bandung , September 2005
Data Personal
Petunjuk Pengisian :
Berikut ini terdapat sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan
identitas diri dan keadaan diri Sdr. Isilah setiap pertanyaan sesuai dengan apa yang Sdr. alami dan rasakan sebagaimana adanya. Jawaban yang Sdr. berikan akan sangat berguna untuk melengkapi data penelitian ini. Oleh karena itu, Sdr. dimohon untuk mengisi setiap pertanyaan, jangan sampai ada yang terlewatatau dikosongkan, agar jawaban Sdr. dapat diolah secara lengkap dan sebenar-benarnya.
Terima kasih atas kesediaan Sdr. mengisi semua pertanyaan di bawah ini.
-- Selamat Bekerja --
(* coret yang tidak perlu ) Nama inisial : Jenis kelamin : Usia : Pendidikan terakhir : Ruangan :
Status : Menikah / Belum menikah / Duda / Janda*
Lama kerja Sdr. sebagai perawat di rumah sakit ini:
a. 0-5 tahun d. 16-20 tahun
b. 6-10 tahun e. > 20 tahun
(……….tahun) c. 11-15 tahun
Diantara pernyataan-pernyataan di bawah ini, mana yang paling sesuai dengan diri Sdr.?
a. Membeli barang yang tidak bermerk dengan kualitas standar
Menurut Sdr., penghasilan yang Sdr. terima di rumah sakit ini : a. Lebih besar dibanding rumah sakit lain
b. Sama saja bila dibandingkan dengan rumah sakit lain c. Lebih kecil dibanding rumah sakit lain
Menurut Sdr., bagaimana perbandingan antara pengeluaran dengan penghasilan yang Sdr. rasakan?
a. Berlebih b. Pas-pas an c. Kurang
Apakah Sdr. merasa kondisi ekonomi yang sekarang Sdr. miliki tidak dapat Sdr. ubah, walaupun Sdr. sudah berusaha untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar ?
a. Ya
b. Tidak
Menurut Sdr, apakah pihak rumah sakit memberikan waktu yang cukup untuk Sdr. berlibur dengan keluarga?
Menurut Sdr., apakah mengisi waktu luang dengan anggota keluarga bisa mengembalikan energi dan semangat kerja?
a. Ya, dan saya memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas dengan keluarga
b. Ya, tetapi saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas
dengan keluarga
c. Tidak , dan saya pun tidak memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas dengan keluarga
d. Tidak, walaupun saya memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas dengan keluarga
Jika Sdr. sudah berkeluarga, Apakah Suami/istri Sdr. mengambil kerja sampingan sehingga waktu Sdr. untuk berkomunikasi dengan pasangan menjadi berkurang?
Apakah keluarga mendukung pekerjaan Sdr. ? Jika Ya , contoh dukungan yang diberikan :
……… ………
Jika Tidak , Apakah Sdr. merasa tidak dapat mengubah pandangan keluarga terhadap pekerjaan Sdr.?
a. Ya b. Tidak
Apakah ada diantara pernyataan berikut ini yang pernah terjadi dalam kehidupan Sdr. sekitar 1 tahun terakhir yang menjadikan Sdr. sulit berkonsentrasi pada pekerjaan ? Ya / Tidak
Jika Ya, berilah chek list (α ) pada kejadian-kejadian yang dimaksudkan oleh Sdr.
1. Kematian pasangan (Suami/Istri) 2. Perceraian
3. Kematian anggota keluarga dekat
4. Kecelakaan atau sakit yang serius pada diri Sdr. 5. Dipecat dari pekerjaan
6. Masalah dalam seksualitas 7. Perubahan tanggung jawab kerja 8. Masalah dengan atasan
9. Perubahan dalam kondisi atau jam kerja 10.Pelanggaran terhadap hukum (contoh : pernah
dipenjara)
Apakah Sdr. merasa tidak berdaya untuk menghilangkan kenangan kejadian buruk tersebut dari hidup Sdr. ?
• Jika Ya, Seberapa besar ketidakberdayaan yang Sdr. rasakan ? a. Sangat besar
b. Cukup besar
c. Dirasakan walaupun tidak begitu besar
• Jika Tidak, Apa yang telah Sdr. lakukan untuk menghilangkan kenangan buruk tersebut ?
……… ………
Sistem pemberian upah di rumah sakit ini adalah upah diberikan pada : a. Setiap awal bulan
Apakah pihak rumah sakit memberikan gaji + tunjangan tepat waktu ? a. Selalu tepat waktu
b. Kadang-kadang c. Sering terlambat
Bagaimana penghayatan Sdr. terhadap sistem pemberian upah tersebut ? a. Positif (Tidak masalah)
b. Negatif (Bermasalah). Alasannya
..……….. ………
Dalam menyampaikan keluhan, apakah Sdr. merasa lebih nyaman berbicara dengan atasan dibanding rekan kerja ?
a. Ya, karena saya percaya pada atasan saya.
b. Tidak, karena saya takut akan berakibat buruk pada pekerjaan saya. Seberapa sering keluhan Sdr. ditanggapi dan ditangani dengan serius oleh pihak rumah sakit?
Menurut Sdr., apakah Sdr. memiliki kesempatan dan waktu untuk mengobrol dan mengakrabkan diri dengan teman sejawat sehingga Sdr. bisa mempercayai teman Sdr. untuk menceritakan masalah yang dialami ?
a. Ya
b. Tidak
Menurut Sdr. , apakah kondisi dan tuntutan tugas yang Sdr. miliki menghambat Sdr. untuk bisa mengenal teman kerja secara lebih dekat ?
a. Ya
Kondisi dan tuntutan tugas yang saya maksud adalah
……… ………..………
Apakah tanggung jawab kerja yang Sdr. miliki dikomunikasikan secara jelas dan tegas oleh atasan Sdr. sehingga tidak ada kemungkinan overlap?
Apakah Sdr. pernah merasakan adanya ketidaklengkapan atau penyaringan informasi oleh rekan kerja ataupun atasan sehingga informasi yang sampai pada Sdr. tidak utuh dan membingungkan Sdr.?
a. Sering
b. Kadang-kadang c. Tidak pernah
Sebelum Sdr. diberikan tugas dan tanggung jawab baru, apakah pihak rumah sakit memberikan training terlebih dahulu ?
a. Ya, dan itu sangat membantu saya dalam menjalankan tanggung jawab
b. Ya, tetapi itu tidak memberikan pengaruh yang besar dalam membantu saya menjalankan tanggung jawab (masih banyak hal yang tidak saya mengerti sehingga saya tetap kesulitan)
c. Tidak pernah
Apakah Sdr. selalu berusaha untuk tepat waktu dalam hal apapun? a. Ya, selalu dalam situasi apapun
b Kadang-kadang , hanya untuk hal-hal seperti : ……… ……… c. Tidak pernah tepat waktu (selalu santai)
Saat Sdr. melakukan suatu kegiatan :
a. Saya melakukan segala hal dengan santai satu per satu.
b. Saya melakukan segala hal sekaligus pada waktu yang hampir bersamaan.
Lampiran 2
KUESIONER
Stressor
Kerja
Petunjuk pengisian :
Berikut ini terdapat sejumlah pernyataan mengenai beberapa kondisi di lingkungan kerja yang dapat menjadi penyebab stres yang saudara/i rasakan. Jawablah pernyataan itu sesuai dengan apa yang saudara rasakan sebagaimana adanya.
Berilah tanda silang (X) pada salah satu dari empat alternatif jawaban sesuai dengan yang saudara/i rasakan dan alami . Alternatif jawaban yang disediakan adalah :
- Sangat Tidak Sesuai (STS) - Tidak Sesuai (TS )
- Sesuai (S)
- Sangat Sesuai (SS)
Kerjakanlah semua pernyataan tersebut dengan teliti, jangan sampai ada nomor yang terlewat. Tidak ada jawaban yang benar ataupun salah. Jawablah dengan spontan, segera setelah saudara/i membaca setiap pernyataan, jangan dipikirkan terlalu lama.
Kejujuran saudara/i dalam menjawab sangat berarti bagi penelitian
ini. Kerjakanlah sesuai dengan apa yang saudara/i rasakan, jangan bekerja sama
Pernyataan STS TS S SS 1. Saya merasa senang dengan datangnya peralatan medis
baru karena akan menambah pengetahuan dan keterampilan.
2. Saya merasa lelah dengan kenaikan jumlah pasien yang harus dilayani.
3. Keluarga saya pada dasarnya berkeberatan dengan jadwal shift malam sehingga saya sulit berkonsentrasi dalam menjalankan tugas.
4. Saya merasa penghasilan yang diterima sepadan dengan beban tugas.
5. Latar belakang status sosial ekonomi pasien, tidak menghambat saya untuk memberikan pelayanan secara optimal.
6. Keharusan untuk mahir dalam menguasai peralatan medis baru membuat saya tertekan.
7. Semakin banyaknya informasi yang diperoleh masyarakat mengenai kesehatan, membuat saya kurang nyaman dalam bekerja.
8. Saya merasa tertekan karena ada anggota keluarga saya yang kurang mendukung profesi saya sebagai perawat. 9. Saya cemas karena penghasilan sebagai profesi perawat
kurang dapat mendukung kondisi finansial saya dan keluarga.
10.Saya merasa terganggu dengan ulah pasien yang menuntut pelayanan berlebih karena secara finansial mereka mampu membayar.
11.Saya merasa tidak puas karena penilaian hasil kerja oleh atasan seringkali tidak objektif.
12.Saya merasa kecewa karena pihak rumah sakit acapkali mengambil keputusan tanpa melibatkan perawat.
Pernyataan STS TS S SS
14. Saya merasa frustrasi karena minimnya komunikasi antara kepala perawat atau para dokter dengan perawat 15. Saya merasa nyaman dengan putaran shift kerja yang diberlakukan di rumah sakit ini
16.Saya menghayati pekerjaan sebagai perawat di rumah sakit ini, kurang menjamin adanya peningkatan karier. 17.Saya merasa tertekan karena tidak memperoleh
kesempatan untuk menanyakan kembali atau
menyampaikan pendapat tentang instruksi yang harus saya jalankan.
18.Saya merasa tidak puas dengan kelambanan bagian kepegawaian rumah sakit ini yang tidak kunjung menambah jumlah perawatnya.
19.Jalur pelaporan yang rumit antara atasan dan bawahan, menimbulkan tekanan bagi saya.
20.Feedback yang disampaikan oleh rekan kerja maupun atasan, membuat saya terganggu.
21.Saya merasa senang karena kerja sama dengan kelompok kerja saat ini sudah baik.
22.Saya merasa kesal dengan kebijakan dari rumah sakit yaitu memotong gaji perawat bila perawat absen, sekalipun dengan alasan sakit.
23.Kurangnya dukungan dari kelompok kerja membuat saya kecewa.
24.Saya sering marah-marah jika saya menghadapi kesulitan dalam pekerjaan.
25.Saya merasa tidak puas dengan kelompok kerja yang kurang kompak dalam bekerja.
Pernyataan STS TS S SS
27.Saya merasa tidak nyaman dengan adanya ketidakharmonisan hubungan antar anggota dalam kelompok kerja.
28.Kesabaran dan keramahan yang harus saya tunjukkan saat merawat pasien sekalipun pasien tersebut “rewel”, sering membuat saya lelah secara psikologis.
29.Saya tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja karena pasangan menuntut saya untuk mengedepankan tugas-tugas sebagai kepala keluarga atau ibu rumah tangga. 30.Saya merasa sering dikejar-kejar oleh tugas yang diluar
batas kemampuan
31.Saya merasa kurang bisa menyatu dengan kelompok kerja yang ada.
32.Pengambilan keputusan yang harus menunggu keputusan dari atasan, membuat saya bingung.
33.Saya merasa jengkel dengan kelompok kerja saya yang terlalu banyak menuntut
34.Saya merasa kesal karena kelompok kerja saya tidak mempedulikan kesulitan yang saya alami saat melakukan tugas.
35.Kurang tersedianya fasilitas yang menjamin perawat ruang rawat inap tidak tertular penyakit yang diidap pasien (seperti HIV,TBC,dll), membuat saya tidak nyaman dalam bekerja
36.Peran saya sebagai perawat, menjadikan saya berada pada situasi konflik.
37.Saya merasa tidak nyaman karena adanya konflik dengan pasien yang saya rawat
38.Saya tertekan karena tidak memiliki kekuasaan untuk mengendalikan perasaan saat melakukan tugas.
Lampiran 3
Kisi-kisi Alat Ukur
Stressor
Kerja
Aspek Indikator Item Validitas
Extraorganiza-tional
Stressors
Perubahan teknologi
1. Saya merasa senang dengan datangnya peralatan medis baru karena akan menambah pengetahuan dan keterampilan.
6. Keharusan untuk mahir dalam menguasai peralatan medis baru membuat saya tertekan
0.4020 0.4516
Perubahan Sosial
2. Saya merasa lelah dengan kenaikan jumlah pasien yang harus dilayani.
7. Semakin banyaknya informasi yang diperoleh masyarakat mengenai kesehatan, membuat saya kurang nyaman dalam bekerja.
0.3805 0.3460
Keluarga 3.Keluarga saya pada dasarnya berkeberatan dengan jadwal shift malam sehingga saya sulit berkonsentrasi dalam menjalankan tugas. 8. Saya merasa tertekan karena ada anggota keluarga saya yang kurang mendukung profesi saya sebagai perawat.
4. Saya merasa penghasilan yang diterima sepadan dengan beban tugas
9. Saya cemas karena penghasilan sebagai profesi perawat kurang dapat mendukug kondisi finansial saya dan keluarga.
0.3035 0.3211
Ras & Kelas Sosial
5. Latar belakang status sosial ekonomi pasien, tidak menghambat saya untuk memberikan pelayanan secara optimal 10. Saya merasa terganggu dengan ulah pasien yang menuntut pelayanan berlebih karena secara finansial mereka mampu membayar
0.3764 0.4288
Organizational Stressors
Kebijakan 11. Saya merasa tidak puas karena penilaian hasil kerja oleh atasan seringkali tidak objektif.
15. Saya merasa nyaman dengan putaran shift kerja yang diberlakukan di rumah sakit ini. 18. Saya merasa tidak puas dengan kelambanan bagian kepegawaian rumah sakit ini yang tidak kunjung menambah jumlah perawatnya.
22. Saya merasa kesal dengan kebijakan dari rumah sakit yaitu memotong gaji perawat bila perawat absen, sekalipun dengan alasan sakit. 35. Kurang tersedianya fasilitas yang
menjamin perawat ruang rawat inap tidak tertular penyakit yang diidap pasien (seperti HIV,TBC,dll), membuat saya tidak nyaman dalam bekerja.
Struktur 12. Saya merasa kecewa karena pihak rumah sakit acapkali mengambil keputusan tanpa melibatkan perawat.
16. Saya menghayati pekerjaan sebagai perawat di rumah sakit ini, kurang menjamin adanya peningkatan karier.
19. Jalur pelaporan yang rumit antara atasan dan bawahan, menimbulkan tekanan bagi saya.
0.5528 0.3461 0.3818
Kondisi fisik 13. Saya merasa nyaman dengan kebersihan di ruang kerja saya dan lingkungan rumah sakit secara keseluruhan.
0.3846
Proses 14. Saya merasa frustrasi karena minimnya komunikasi antara kepala perawat atau para dokter dengan perawat.
17. Saya merasa tertekan karena tidak memperoleh kesempatan untuk menanyakan kembali atau menyampaikan pendapat tentang instruksi yang harus saya jalankan.
20. Feedback yang disampaikan oleh rekan kerja maupun atasan, membuat saya terganggu.
21. Saya merasa senang karena kerja sama dengan kelompok kerja saat ini sudah baik. 31. Saya merasa kurang bisa menyatu dengan kelompok kerja yang ada.
25. Saya merasa tidak puas dengan kelompok kerja yang kurang kompak dalam bekerja. 33. Saya merasa jengkel dengan kelompok kerja saya yang terlalu banyak menuntut.
0.3546
23. Kurangnya dukungan dari kelompok kerja membuat saya kecewa.
34. Saya merasa kesal karena kelompok kerja saya yang tidak mempedulikan kesulitan yang saya alami saat melakukan tugas.
0.3401 0.3864
Konflik Intraindividual
27. Saya merasa tidak nyaman dengan adanya ketidakharmonisan hubungan antar anggota
,
interpersonal, & intergroup
dalam kelompok kerja.
37. Saya merasa tidak nyaman karena adanya konflik dengan pasien yang saya rawat
0.3673
36. Peran saya sebagai perawat, menjadikan saya berada pada situasi konflik .
39. Adanya pertentangan antara kebutuhan pribadi dan tuntutan sebagai perawat, membuat saya merasa tertekan.
29. Saya tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja karena pasangan menuntut saya untuk mengedepankan tugas-tugas sebagai kepala keluarga atau ibu rumah tangga
0.4933 0.3493 0.3239
Karakteristik tipe A
24. Saya sering marah-marah jika saya menghadapi kesulitan dalam pekerjaan. 30. Saya merasa sering dikejar-kejar oleh tugas yang diluar batas kemampuan
0.4659
38. Saya tertekan karena tidak memiliki kekuasaan untuk mengendalikan perasaan saat melakukan tugas.
32. Pengambilan keputusan yang harus menunggu keputusan dari atasan, membuat saya bingung.
0.6009 0.4142
Keyakinan diri 26. Kepercayaan akan kemampuan diri yang saya miliki, membuat saya tidak memiliki keraguan dalam bekerja.
0.3005
Ketahanan psikologis
28. Kesabaran dan keramahan yang harus saya tunjukan saat merawat pasien sekalipun pasien tersebut ‘rewel’, sering membuat saya lelah secara psikologis.
Lampiran 4
HASIL T RY OUT UJI VAL IDIT AS IT EM DAN REL IABIL IT AS
No. item Validitas Kategori
Lampiran 5
Lampiran 6
Table
Sample Size
dari Krejcie dan Morgan
Lampiran 7
Tabel Data Penunjang
Tabel 4.3.1 Gaya Hidup
Frequency Percent Membeli barang yang tidak bermerk dengan kualitas standar. 5 6.3 Membeli barang yang bermerk mahal karena percaya dengan
kualitasnya.
6 7.5
Membeli barang berdasarkan fungsinya, bukan bersasarkan merk. 68 85
Total 79 100
1.1.1.1.1.1 Tabel 4.3.2 Kondisi Ekonomi
Table 4.3.2.1.
Perbandingan penghasilan yang diterima di rumah sakit “X” dibanding rumah sakit lain:
Frequency Percent
Lebih besar dibanding rumah sakit lain 0 0
Sama saja bila dibandingkan dengan rumah sakit lain 2 2.5
Lebih kecil dibanding rumah sakit lain 77 97.5
Total 79 100
Tabel 4.3.2.2
Perbandingan antara penghasilan dengan pengeluaran
Frequency Percent
Ketidakberdayaan terhadap kondisi ekonomi yang sedang dialami
Frequency Percent
Merasa tidak berdaya 45 57
Tidak merasa tidak berdaya 34 43
Tabel 4.3.3 Kondisi Keluarga
Tabel 4.3.3.1
Persepsi perawat terhadap waktu yang diberikan oleh rumah sakit untuk berlibur dengan keluarga
Persepsi perawat terhadap pengisian waktu luang dengan keluarga apakah bisa mengembalikan semangat kerja atau tidak
Frequency Percent
Ya, dan saya memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas dengan keluarga
38 48.1
Ya, tetapi saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas dengan keluarga
41 51.9
Tidak , dan saya pun tidak memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas dengan keluarga
0 0
Tidak, walaupun saya memiliki waktu yang cukup untuk beraktivitas dengan keluarga
0 0
Total 79 100
Tabel 4.3.3.3
Jumlah perawat yang sudah menikah dimana suami/istri mengambil kerja sampingan sehingga waktu untuk berkomunikasi dengan pasangan menjadi berkurang
Frequency Percent
Mengambil kerja sampingan 15 30.6
Tidak mengambil kerja sampingan 34 69.4
Total 49 100
Tabel 4.3.3.4
Dukungan dari keluarga terhadap pekerjaan
Frequency Percent
Mendukung 79 100
Tidak mendukung 0 0
Tabel 4.3.3 Life Change
* Responden bisa menjawab lebih dari satu kejadian traumatis
Frequency Percent
Tidak ada kejadian traumatis 54 62.8
Kematian anggota keluarga dekat 4 4.7
Kecelakaan atau sakit yang serius pada diri perawat sendiri
4 4.7
Perubahan tanggung jawab kerja 5 5.8
Masalah dengan atasan 6 7
Perubahan dalam kondisi atau jam kerja 13 15
Total 86 100
Tabel 4.3.3.1.
Perasaan tidakberdaya terhadap life change yang terjadi *Untuk responden yang pernah mengalami kejadian traumatis
Frequency Percent Merasa tidak berdaya dalam porsi yang sangat
besar
2 8
Merasa tidak berdaya dalam porsi yang cukup besar
3 12
Merasa tidak berdaya walaupun tidak begitu besar
Pendapat perawat mengenai apakah pihak rumah sakit tepat waktu dalam memberikan gaji+tunjangan atau tidak Penghayatan perawat terhadap sistem pemberian upah
Frequency Percent
Positif 21 26.6
Negatif 58 73.4
Tabel 4.3.4.3 Sistem birokrasi dalam hal penyampaian keluhan
Frequency Percent Ya, karena saya percaya pada atasan saya. 37 46.8 Tidak, karena saya takut akan berakibat buruk
pada pekerjaan saya.
42 53.2
Total 79 100
Tabel 4.3.4.4
Pendapat responden mengenai seberapa sering keluhannya ditanggapi oleh organisasi
Komunikasi mengenai tanggung jawab kerja oleh atasan
Frequency Percent
Jelas dan tegas 57 72.2
Tidak jelas dan tegas 22 27.8
Total 79 100
Tabel 4.3.5. Hubungan dengan teman sejawat
Tabel 4.3.5.1.
Kesempatan untuk mengakrabkan diri dengan teman sejawat
Frequency Percent
Ada 66 83.5
Tidak ada 13 16.5
Total 79 100
Table 4.3.5.2.
Kondisi dan tuntutan kerja apakah menghalangi sosialisasi atau tidak
Frequency Percent
Ya 7 8.9
Tidak 72 91.1
Table 4.3.5.4.
Ketidaklengkapan informasi yang diperoleh dari rekan kerja
Frequency Percent
Sering 4 5.1
Kadang-kadang 65 82.3
Tidak pernah 10 15.7
Total 79 100
Tabel 4.3.6. Pemberian training
Frequency Percent Ya, dan itu sangat membantu saya dalam
menjalankan tanggung jawab
21 26.6
Ya, tetapi itu tidak memberikan pengaruh yang besar dalam membantu saya menjalankan tanggung jawab
20 25.3
Tidak pernah diberikan training 38 48.1
Total 79 100
Tabel 4.3.7. Karakteristik tipe A
Tabel 4.3.7.1
Selalu berusaha untuk tepat waktu
Frequency Percent
Ya, selalu dalam situasi apapun 67 84.8
Kadang-kadang 12 15.2
Tidak pernah tepat waktu (selalu santai) 0 0
Total 79 100
Tabel 4.3.7.2 Cara melakukan kegiatan
Frequency Percent Melakukan segala hal dengan santai satu per
satu
67 84.8
Melakukan segala hal sekaligus pada waktu yang hampir bersamaan
12 15.2
Lampiran 8
Tabel
Crosstabs
Tabel 4.4.1. Masa kerja dengan kebijakan organisasi
Tabel crosstabs 4.4.1.1
Crosstabulation masa kerja dengan pendapat responden mengenai apakah pihak rumah sakit tepat waktu dalam memberikan gaji+tunjangan atau tidak
Pendapat responden Total
Crosstabulation masa kerja dengan penghayatan responden terhadap sistem pemberian upah
Crosstabulation masa kerja dengan pendapat responden mengenai sistem birokrasi dalam hal penyampaian keluhan
≥ 20 4 5 9
Total 37 42 79
Tabel crosstabs 4.4.1.4
Crosstabulation masa kerja dengan pendapat responden mengenai seberapa sering keluhannya ditanggapi oleh organisasi
Tabel 4.4.2. Status dengan kondisi ekonomi
Tabel crosstabs 4.4.2.1
Crosstabulation status dengan penghayatan responden mengenai perbandingan penghasilan yang diterima di rumah sakit “X” dibanding rumah sakit lain
Penghayatan responden Total
Crosstabulation status dengan penghayatan responden mengenai perbandingan antara penghasilan dengan pengeluaran
Crosstabulation status dengan penghayatan ketidakberdayaan responden terhadap kondisi ekonomi yang sedang dialami
Penghayatan responden Total
Merasa tidak berdaya Tidak merasa tidak berdaya
Menikah 27 21 48
Total 45 34 79
Tabel 4.4.3. Gaya hidup dengan kondisi ekonomi
Crosstabulation gaya hidup dengan penghayatan responden mengenai perbandingan antara penghasilan dengan pengeluaran
Penghayatan responden Total Pas-pas an Kurang
Membeli barang yang tidak bermerk dengan kualitas standar
5 - 5
Membeli barang yang bermerk karena percaya dengan kualitasnya
4 2 6
Membeli barang berdasarkan fungsinya, bukan berdasarkan merk.
23 45 68
Total 32 47 79
Tabel 4.4.4. Masa kerja dengan kondisi ekonomi
Tabel crosstabs 4.4.4.1
Crosstabulation masa kerja dengan penghayatan responden mengenai perbandingan penghasilan yang diterima di rumah sakit “X” dibanding rumah sakit lain
Tabel crosstabs 4.4.4.3
Crosstabulation masa kerja dengan penghayatan ketidakberdayaan responden terhadap kondisi ekonomi yang sedang dialami
Penghayatan responden Total
Merasa tidak berdaya Tidak merasa tidak berdaya
Masa kerja 0-5 20 19 39
6-10 19 8 27
11-15 2 - 2
16-20 - 2 2
≥ 20 4 5 9
Total 45 34 79
Tabel 4.4.4. Masa kerja dengan penghayatan responden mengenai ketidaklengkapan informasi
Penghayatan responden Total Sering Kadang-kadang Tidak pernah
Masa kerja 0-5 3 33 3 39
6-10 - 21 6 27
11-15 - 2 - 2
16-20 - 2 - 2
≥ 20 1 7 1 9
1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Semakin sulitnya kondisi perekonomian di Indonesia menjadikan
persaingan diantara perusahaan-perusahaan semakin ketat. Tidak hanya
perusahaan-perusahaan dagang yang berusaha untuk tetap bertahan hidup, tetapi
perusahaan yang bergerak di bidang jasa pun turut bergulat di dalam persaingan
yang semakin ketat. Salah satu perusahaan atau organisasi yang bergerak di
bidang jasa adalah Rumah Sakit. Banyak bermunculannya rumah sakit-rumah
sakit baru, baik yang dikelola oleh swasta maupun pemerintah, menjadikan
persaingan ketat diantara institusi rumah sakit pun tak terelakkan. Sebagaimana
produk dari perusahaan jasa adalah pelayanan terhadap customer, maka kekhasan dari rumah sakit adalah melayani masyarakat yang menderita sakit dan
membutuhkan perawatan dari para ahli medis maupun perawatan dengan
peralatan lengkap dari segi teknis yang tersedia di rumah sakit. Ini berarti, SDM
maupun sumber daya teknologi dari rumah sakit akan menentukan kualitas
pelayanan.
Sama seperti perusahaan pada umumnya, rumah sakit pun memiliki tujuan
dalam menjalankan aktivitasnya. Dari usahanya untuk memberikan pelayanan
medis yang memuaskan kepada pasien dan secara terus menerus meningkatkan
mutu pelayanan, rumah sakit mengharapkan profit yang sebesar-besarnya sebagai
tujuan organisasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka organisasi
mengharapkan kontribusi yang maksimal dari seluruh komponen rumah sakit,
terutama dari Sumber Daya Manusianya.
Dalam menjalankan roda aktivitasnya, rumah sakit mendiferensiasikan
fungsi pelayanannya ke dalam beberapa unit. Diantaranya,ada unit utama dan
selalu terdapat di setiap rumah sakit yaitu Unit Rawat Jalan dan Unit Rawat Inap.
Unit rawat jalan diperuntukkan bagi pasien yang masih bisa berobat jalan dan
tidak perlu menginap di rumah sakit karena jenis penyakit yang diderita tidak
memerlukan penanganan intensif. Sebaliknya unit rawat inap diperuntukkan bagi
pasien yang memerlukan perawatan intensif karena jenis penyakit yang diderita
cukup berat. Unit rawat inap ini termasuk didalamnya adalah ICU (Intensive Care Unit), diperuntukkan bagi pasien yang kondisinya sudah kritis sehingga memerlukan perawatan intensif selama 24 jam.
Banyaknya pasien yang datang berobat, tentunya tidak dapat ditangani
sendiri oleh dokter-dokter yang ada di sebuah rumah sakit. Disinilah peran
perawat diperlukan, khususnya membantu dokter untuk memeriksa dan merawat
pasien. Di unit rawat jalan, peran perawat dirasakan kurang memberikan pengaruh
bagi perawatan pasien. Perawat di unit rawat jalan hanya mempermudah dokter
dalam memeriksa pasien, seperti misalnya memanggil pasien untuk masuk ruang
pemeriksaan, mengukur tensi darah pasien, menimbang berat badan pasien, dan
urusan administrasi lainnya. Selebihnya, dokterlah yang menangani pasien.
Lain halnya dengan perawat di unit rawat inap. Pasien yang menjalani
biasanya dokter hanya datang satu kali untuk memeriksa kondisi pasien,
selebihnya perawatlah yang mengambil alih dan bertanggung jawab terhadap
kondisi pasien. Tugas perawat rawat inap diantaranya memandikan pasien,mencek
tensi darah, mengganti infus, memberikan obat sesuai dosis dan waktu yang tepat,
serta yang tidak kalah pentingnya adalah berkomunikasi dengan pasien agar
pasien merasa nyaman dan merasa diperhatikan. Walaupun pasien ditunggui oleh
keluarganya, namun tidak dapat dipungkiri bahwa peran perawat rawat inap
sangat penting bagi proses kesembuhan pasien.
Baik buruknya cara perawat dalam merawat pasien, tentunya akan sangat
dirasakan oleh pasien dan pihak keluarganya. Lebih jauh lagi, ini akan
mempengaruhi image rumah sakit di mata pasien dan di mata masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain perawat rawat inap bisa dianggap sebagai gambaran
dari kualitas pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit secara keseluruhan. Hal
ini dikarenakan pasien menerima perawatan dalam waktu yang tidak singkat
sehingga pasien dapat melihat dan menilai kualitas pelayanan yang diberikan
perawat di unit rawat inap. Bila pasien menilai kualitas pelayanan kurang
memadai, maka hal ini akan mempengaruhi kepercayaan pasien terhadap rumah
sakit. Melihat pentingnya peran perawat rawat inap ini, maka tidak berlebihan jika
perawat rawat inap menjadi fokus perhatian bagi pihak rumah sakit untuk lebih
memperhatikan kesejahteraan mereka.
Dilihat dari kekhasan unit rawat inap (yaitu merawat pasien yang datang
dalam kondisi sakit secara fisik dan ‘dipaksa’ dipisahkan dari aktivitas sosialnya
memberikan rasa aman kepada pasien walaupun kondisi internal perawat pun
kurang stabil akibat masalah pribadi), maka perawat di unit rawat inap ini
menghadapi banyak permasalahan dalam pekerjaannya sehingga menjadi menarik
untuk diteliti.
Sebagaimana manusia pada umumnya, perawat rawat inap juga memiliki
permasalahan dalam menjalankan tanggung jawabnya yang membuat perawat
menjadi terganggu konsentrasinya dalam bekerja. Berbagai permasalahan yang
dialami ini merupakan stressor bagi perawat. Luthans (1992) mendefinisikan
stressor kerja sebagai penyebab stres dalam bekerja.
Bila permasalahan yang dihadapi melampaui batas kemampuannya, maka
perawat akan merasa tertekan dan akhirnya mengganggu kesejahteraan fisik,
psikologis, dan tingkah laku perawat dalam menjalankan tugasnya. Dengan
perkataan lain, perawat mengalami stres. Stres yang dirasakan perawat dapat
terjadi sebagai konsekuensi interaksinya dengan lingkungan tempat bekerja,
karena stres yang dirasakan oleh individu merupakan respon adaptif terhadap
situasi eksternal yang akan memberikan pengaruh pada gangguan kesehatan,
psikologis, dan gangguan tingkah laku individu (Luthans;1992).
Penyebab dari stres yang perawat rasakan berasal dari berbagai sumber
dan juga dirasakan dalam waktu yang bersamaan. Hal ini menjadikan stressor
yang dirasakan perawat semakin kompleks. Luthans (1992) menggolongkan
penyebab stres berdasarkan sumbernya, yaitu penyebab stres yang berasal dari
dalam organisasi, luar organisasi, kelompok kerja, dan karakteristik individu
Berdasarkan survey awal yang yang dilakukan oleh peneliti terhadap 10
orang perawat rawat inap rumah sakit “X” di Bandung menunjukkan hasil bahwa
70% perawat mengaku kurang bersemangat dan merasa jenuh dengan pekerjaan
mereka. Dari persentase perawat yang merasa stres tersebut, 80% perawat
menyatakan tidak sebandingnya jumlah pasien dengan jumlah perawat menjadi
penyebab kejenuhan dan kelelahan mereka, sedangkan sisanya tidak memiliki
permasalahan dengan kurangnya tenaga perawat.
Selain pihak rumah sakit yang dirasakan lamban dalam menambah jumlah
tenaga perawat rawat inap, 60% perawat menyatakan stres karena tidak adanya
fasilitas yang menjamin kesehatan mereka saat merawat pasien dengan penyakit
menular terdeteksi (misalnya TBC) ataupun yang belum terdeteksi (misalnya
HIV), sedangkan sisanya menyatakan tidak mengalami kesulitan dengan keadaan
tersebut.
Sumber stres dari rekan kerja pun dirasakan oleh 40% perawat rawat inap
menjadi penyebab tidak nyamannya dalam bekerja. Terkadang rekan kerja
dirasakan kurang memberikan dukungan, seperti kurang adanya bantuan jika
sedang menghadapi masalah dengan pekerjaan. Selain itu, tidak jarang timbul
konflik antar sesama rekan kerja ataupun konflik dengan atasan.
Kondisi ekonomi yang dirasakan kurang mencukupi, menjadi stressor
yang dirasakan oleh 70% perawat rawat inap. Kurangnya insentif yang diterima
dari organisasi diakui memberikan pengaruh yang besar dalam finansial mereka.
Belum lagi jika mereka harus menanggung kebutuhan anggota keluarganya, maka
insentif yang dirasa kurang mencukupi membuat perawat rawat inap kurang
Berbagai stressor yang dirasakan oleh perawat rawat inap menjadi keluhan yang pernah mereka sampaikan pada atasan ataupun pada pihak
manajemen rumah sakit. Dari wawancara singkat yang dilakukan peneliti terhadap
pihak manajemen, diperoleh pernyataan dari mereka bahwa keluhan-keluhan
tersebut memang mereka terima, namun mereka tidak mampu menangani
semuanya karena keterbatasan yang mereka miliki. Bila ditentukan skala prioritas
pun, pihak manajemen tidak tahu mana yang harus didahulukan untuk diatasi.
Bila stressor yang dialami perawat rawat inap ini tidak berusaha untuk ditanggulangi, maka perawat menjadi kurang termotivasi ketika merawat pasien,
kurang berkonsentrasi sehingga perawat menjadi kurang teliti dalam merawat
pasien padahal ketelitian perawat dibutuhkan. Selain itu, emosi perawat pun
menjadi labil sehingga kurang memiliki kesabaran ketika berhadapan dengan
pasien. Dampak dari dirasakannya stressor tersebut mau tidak mau akan berpengaruh pada kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasiennya. Pasien
akan menjadi tidak puas pada pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit
sehingga kepercayaan pasien akan kredibilitas rumah sakit akan berkurang.
Dengan demikian, rumah sakit akan kehilangan ‘pelanggan’ dan penghasilan
rumah sakit akan menurun. Bagi perawat rawat inap, stressor yang tidak diusahakan untuk ditanggulangi akan mengakibatkan menurunnya performance
kerja sehingga hal ini akan membuat perawat semakin stres.
Terena R. Mitchel dan James R. Larson (1987) dalam bukunya People in Organizations menyebutkan dua implikasi dari penelitiannya tentang stres. Pertama stres berpotensi menjadi pembunuh. Stres telah menjadi bagian dari
Kedua, organisasi harus mengambil sikap pro-aktif untuk berurusan dengan
masalah. Untuk itu, organisasi dan individu perlu memfokuskan diri bukan hanya
pada bagaimana cara mengurangi simptom dari stres, tetapi juga pada bagaimana
cara mengurangi stressor pada level dimana stres tidak memberikan hasil yang merusak.
Oleh sebab itu stressor pada perawat rawat inap penting untuk diteliti dan menarik perhatian peneliti, karena bila teridentifikasi stressor apakah yang paling banyak dirasakan oleh perawat rawat inap rumah sakit “X” di Bandung, maka
pihak organisasi dapat membuat perencanaan mengenai langkah-langkah
penanggulangan stressor sehingga dapat lebih mudah mengatasinya.
1.2. Identifikasi Masalah
Dalam penelitian ini akan diteliti :
“ Diantara stressor kerja yang diteliti, Stressor kerja apa yang paling dirasakan oleh perawat rawat inap rumah sakit “ X “ Bandung ? “
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1. Maksud Penelitian
Untuk mengetahui stressor kerja para perawat rawat inap di rumah sakit “ X “ Bandung.
1.3.2. Tujuan Penelitian
1.4. Kegunaan Penelitian
1.4.1. Kegunaan Ilmiah
Secara ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi berbagai pihak,
diantaranya :
1) Memberikan informasi bagi bidang Psikologi khususnya mengenai
stressor kerja yang dirasakan para perawat rawat inap sehingga dapat dikembangkan alternatif pemecahan untuk menanggulangi stressor
tersebut.
2) Menjadi acuan bagi penelitian lebih lanjut tentang stres kerja pada
perawat.
1.4.2. Kegunaan Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi berbagai
pihak, diantaranya :
1) Sebagai masukan bagi pihak rumah sakit yang bersangkutan mengenai
stressor kerja yang dirasakan oleh perawat rawat inap sehingga pihak rumah sakit bisa menentukan skala prioritas dalam melakukan
perencanaan untuk mengantisipasi dan menanggulangi stressor tersebut demi optimalnya perawat rawat inap dalam melakukan tugas.
2) Memberi informasi bagi para perawat rawat inap mengenai stressor kerja yang dirasakan oleh perawat rawat inap sehingga perawat rawat inap dapat
1.5. Kerangka Pemikiran
Setiap organisasi tentunya mengharapkan keberhasilan ketika menjalankan
organisasinya. Begitu pun dengan sebuah institusi rumah sakit. Keberhasilan
rumah sakit tidak akan bisa dilepaskan dari peran para employee yang terlibat didalamnya. Salah satu employee yang penting dalam sebuah rumah sakit antara lain adalah perawat.
Menurut International Labour Organization perawat profesional umum bertugas memberikan perawatan asuhan profesional kepada yang sakit, terluka,
lemah. Membantu para dokter dan melakukan tugas perawatan lain dalam rumah
sakit, klinik, sanatorium dan pengobatan berbagai jenis gangguan mental dan
fisik. Menolong pasien agar terbiasa dengan tempat pengobatan, menyiapkan
peralatan dan perlengkapan yang akan digunakan dokter, memberikan obat,
pengobatan dan suntikan, memakai dan mengganti pembalut bedah dan
memberikan berbagai tindakan pengobatan lain sebagaimana diinstruksikan
dokter. Mengamati, mengukur dan mencatat suhu badan, kecepatan pernafasan,
denyut nadi dan gejala lain. Mencatat kondisi mental pasien dan melaporkan
gejala yang terlihat. Mendorong pasien agar berperan dalam kegiatan sosial,
pendidikan, dan kegiatan lain yang membantu memulihkan kesehatan.
Memandikan, mengurut dan menyuapi pasien yang menderita penyakit berat.
Memberikan pertolongan pertama dalam keadaan darurat (Benyamin Lumenta
;1987).
Para dokter yang ada di dalam sebuah rumah sakit tidak akan bisa stand by
menjaga dan merawat pasien dalam jangka waktu 24 jam. Disinilah peran
kondisi kesehatan pasien sehingga dokter dapat mengetahui kondisi pasien dari
laporan yang diberikan oleh perawat.
Fenomena besarnya peran perawat dalam membantu kinerja dokter
merawat pasien, terutama lebih dirasakan di unit rawat inap. Berbeda dengan
pasien unit rawat jalan, yaitu pasien bisa pulang setelah diperiksa oleh dokter
maka kondisi pasien di unit rawat inap menjadi tanggung jawab perawat
sepenuhnya. Jumlah pasien yang tidak sebanding dengan jumlah dokter
menjadikan peran perawat rawat inap sangat dibutuhkan.
Selain peran perawat sebagai ‘tangan kanan’ dokter dalam merawat
pasien, perawat rawat inap juga mempunyai peran dalam pembentukan image
rumah sakit di mata pasien dan masyarakat pada umumnya. Pasien yang dirawat
di unit rawat inap akan dapat menilai kualitas pelayanan dari sebuah rumah sakit
melalui pelayanan dan perawatan yang diberikan oleh perawat rawat inap. Hal ini
dikarenakan pasien merasakan dan melihat pelayanan perawat rawat inap selama
beberapa hari, berbeda dengan pasien unit rawat jalan yang tidak begitu
merasakan pelayanan yang diberikan oleh perawat. Oleh sebab itu jika perawat
rawat inap memberikan pelayanan yang kurang memadai, maka hal ini akan
berbekas di ingatan pasien sehingga besar kemungkinan cerita mengenai
buruknya kualitas pelayanan di rumah sakit tersebut akan tersebar. Hal ini bisa
menjadikan customer rumah sakit tersebut akan berkurang dan berarti pula akan mempengaruhi income rumah sakit dan kredibilitas rumah sakit tersebut.
Dengan kata lain kinerja employee, dalam hal ini perawat rawat inap, yang buruk tidak diharapkan oleh institusi rumah sakit. Sebagai perawat yang bertugas
membantu pasien secara optimal agar pasien dapat merasa puas dan lebih nyaman
walaupun pasien tersebut sedang menderita sakit. Kesabaran diperlukan saat
menghadapi pasien yang menuntut perhatian lebih dari perawat rawat inap.
Ketelitian dan ketepatan dalam memberikan pelayanan medis seperti dalam hal
waktu pemberian obat, dosis obat, pengukuran tensi darah dan suhu badan,
menjadi hal-hal yang harus diperhatikan secara seksama oleh perawat rawat inap.
Dokumen-dokumen tentang riwayat kondisi pasien, mulai dari pasien
tersebut dirawat sampai akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter, juga
membutuhkan ketelitian dari perawat rawat inap agar proses penyembuhan pasien
dapat berjalan baik. Kepentingan pasien juga menjadi tanggung jawab perawat
rawat inap sehingga kondisi fisik dan emosional perawat rawat inap harus tetap
dijaga agar tidak ada keluhan dari pasien. Observasi terhadap kondisi pasien harus
dilakukan sehingga perawat rawat inap dituntut untuk berkonsentrasi penuh.
Namun sebagai manusia, perawat rawat inap juga pasti memiliki
kebutuhan dalam hidupnya yang kurang terpenuhi. Diantaranya adalah kurang
terpenuhinya kebutuhan secara fisik seperti kurang tidur dan beristirahat, kurang
terpenuhinya kebutuhan secara emosional seperti kurangnya waktu luang untuk
bercengkerama dengan keluarga atau orang yang disayangi, ataupun kurang
terpenuhinya kebutuhan finansial seperti gaji yang diterima tidak cukup untuk
menutupi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Kurang terpenuhinya semua
kebutuhan individual tersebut menjadi permasalahan yang bisa mempengaruhi
kualitas pelayanan yang diberikan. Perawat rawat inap menjadi tidak bersemangat
dalam merawat pasien sehingga pasien merasa tidak terlayani dengan baik.
tetap harus melayani pasien walaupun dirinya sendiri sedang mengalami masalah
yang mengganggu konsentrasinya saat bekerja, maka tidak heran jika peran dan
fungsi perawat pun tidak terhindar dari peluang stres. Luthans (1992)
mendefinisikan stres kerja sebagai respon adaptif terhadap situasi eksternal yang
berakibat pada penyimpangan fisik, psikologis, dan tingkah laku bagi anggota
organisasi.
Interaksi antara perawat rawat inap dengan tuntutan/situasi kerja yang
melebihi kapasitas diri perawat menimbulkan berbagai hal yang menjadi
penyebab stres. Luthans (1992) mengistilahkan penyebab stres sebagai stressor. Berbagai stressor yang bisa dirasakan oleh perawat rawat inap bisa berasal dari berbagai sumber. Luthans (1992) mengklasifikasikan stressor ke dalam empat kategori, yaitu extraorganizational stressors, organizational stressors, group stressors, dan individual stressors.
Menurut Luthans, Extraorganizational stressors meliputi perubahan teknologi, perubahan sosial, keluarga, kondisi ekonomi dan sosial, ras dan kelas
sosial. Organizational Stressors meliputi kebijakan yang diberlakukan di dalam organisasi, struktur organisasi, kondisi fisik organisasi, dan proses komunikasi
yang berlangsung di dalam organisasi. Untuk Group Stressors, Luthans menganggap kurangnya keterpaduan kelompok, kurangnya dukungan sosial, dan
adanya konflik intraindividual, interpersonal, intergroup yang timbul sebagai
stressor yang berasal dari kelompok. Individual Stressors meliputi konflik peran, ketidakjelasan peran dan kecenderungan individual seperti pola kepribadian tipe
A, kontrol personal, keadaan tidak berdaya yang dipelajari, keyakinan terhadap
Stressor-stressor tersebut dialami juga oleh perawat rawat inap. Perubahan
teknologi dapat menjadi stressor bagi perawat rawat inap ketika harus mempelajari alat–alat medis baru dalam waktu singkat. Perubahan sosial dialami
oleh perawat rawat inap dengan semakin ketatnya persaingan antar rumah sakit
dalam memberikan pelayanan yang terbaik. Ras dan kelas sosial pun dapat
menjadi stressor bagi perawat rawat inap, misalnya diskriminasi suku bangsa dan agama yang menyebabkan perawat rawat inap tersebut merasa terisolasi di tempat
kerjanya.
Selain penyebab stres yang berasal dari luar organisasi, terdapat penyebab
stres yang berasal dari organisasi sendiri. Organizational stressors yang dialami oleh perawat rawat inap, diantaranya adalah kebijakan dari pihak rumah sakit
seperti ketidakadilan dalam peninjauan tampilan kerja, ketidakadilan pembayaran
(imbalan), peraturan yang tidak fleksibel, putaran shift kerja yang kurang adil, dan prosedur yang tidak jelas. Hal lainnya adalah dalam hal struktur organisasi seperti
sistem sentralisasi yang tinggi sehingga kurangnya perawat rawat inap dalam hal
partisipasi pembuatan keputusan, kesempatan yang kecil untuk berkembang.
Kondisi fisik dari lingkungan rumah sakit sendiri juga dapat menjadi stressor, seperti sarana atau fasilitas yang kurang bersih. Proses yang terjadi di dalam
organisasi seperti kurangnya komunikasi dan feedback tentang hasil kerja, tidak jelasnya pengukuran hasil kerja.
Kelompok juga dapat menjadi sumber stres yang potensial. Group stressors terdiri atas kurangnya keterpaduan kelompok, kurangnya dukungan sosial diantara para perawat rawat inap sehingga tidak ada tempat untuk membagi
sesama rekan kerja yang lain, konflik diantara sesama rekan kerja ataupun
diantara kelompok kerja .
Hal-hal yang ada pada diri perawat sendiri juga dapat menjadi stressor (individual stressors) yang juga mempengaruhi bagaimana penghayatan perawat inap terhadap extraorganizational, organizational, dan group stressors. Kondisi-kondisi di dalam diri individu menentukan rentannya seseorang untuk menghayati
situasi yang ada sebagai stressor. Ketika perawat rawat inap merasa dirinya kurang dapat menguasai/mengontrol pekerjaan dan lingkungan kerjanya (personal control), maka hal ini menyebabkan individu merasa stres. Begitu pula jika dalam setiap kegagalan yang dialami dalam pekerjaannya, perawat rawat inap merasa
tidak berdaya dan yakin bahwa dirinya akan terus menerus gagal walaupun telah
berusaha untuk keluar dari kegagalannya. Learned helplessness ini akan menjadi
stressor bagi perawat .
Selain itu, pola kepribadian yang dimiliki individu akan menentukan
seberapa rentan seseorang terhadap dirasakannya situasi yang ada sebagai
stressor. Individu dengan pola kepribadian tipe A cenderung lebih rentan terhadap
stressor karena individu memiliki target yang tinggi dan ingin mencapai targetnya itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Jika individu tipe A ini berhadapan
dengan rintangan yang sulit ditembus dan mengakibatkan individu tidak mampu
mencapai targetnya, maka pola kepribadian tipe A yang dimilikinya menjadi
stressor baginya. Jika individu tidak menetapkan target yang tinggi dan memilki toleransi jika targetnya tidak tercapai, maka situasi yang menghambat individu
Selain pola kepribadian tipe A, keyakinan diri (self efficacy) juga penting untuk menolong memahami stres di tempat kerja adalah keyakinan diri karena
jika perawat ruang rawat inap yang memiliki keyakinan diri yang tinggi
cenderung untuk tetap tenang ketika dihadapkan pada situasi yang penuh stres
sehingga mampu menahan stres. Selain keyakinan diri, ketahanan psikologis
(psychological hardiness) pun mungkin berpengaruh pada level pengalaman stres seseorang. Jika perawat rawat inap memiliki daya tahan terhadap segala hal di
lingkungan yang berpotensi menimbulkan stres maka perawat tidak akan
menghayati hal-hal tersebut sebagai stressor.
Kondisi di lingkungan yang dekat sekali dengan kondisi individual
perawat adalah konflik peran dan ketidakjelasan peran (role conflict and ambiguity). Luthans (1992:376) menyatakan bahwa setiap individu memiliki peran yang banyak dalam waktu yang bersamaan. Hal ini menjadi individual stressor bagi perawat. Luthans (1992:377) menyatakan terdapat tiga role conflict. Pertama, konflik antara person’s personality dan expectations of the role, dimana kepribadian yang dimiliki individu bertentangan dengan apa yang diharapkan dari
peran yang dimilkinya. Kedua adalah intrarole conflict, dimana individu mengalami contradictory expectations tentang bagaimana seharusnya memainkan peran yang dimiliki. Ketiga adalah interrole conflict, dimana individu harus memainkan dua peran atau lebih dalam waktu yang bersamaan. Di dalam
kehidupan pribadinya, perawat bisa memiliki peran yang banyak dalam waktu
yang sama, misalnya sebagai suami/istri, ibu, atau anak. Ketika perawat
dihadapkan pada dua peran yang tidak bisa dijalankan dalam waktu yang
Kebalikan dari konflik peran adalah ketidakjelasan peran. Individu yang
memiliki konflik peran mengetahui dengan jelas peran yang dimilkinya, apakah
sebagai atasan atau bawahan. Sedangkan ketidakjelasan peran disebabkan oleh
peran yang dimainkan individu tidak teridentifikasi secara jelas dan tegas.
Misalnya, tanggung jawab dan kewenangan apa yang dimiliki oleh seorang
perawat rawat inap, tidak terdefinisikan dengan jelas dan tegas. Selain itu, ketika
perawat rawat inap memiliki masalah, individu tidak tahu harus menyampaikan
keluhannya kepada siapa di dalam sistem birokrasi rumah sakit. Hal ini
menjadikan ketidakjelasan peran (role ambiguity) menjadi stressor bagi perawat rawat inap.
Walaupun role ambiquity ini diklasifikasikan oleh Luthans ke dalam
individual stressors, namun ketidakjelasan peran ini berhubungan erat dengan
organizational stressors, terutama dalam proses komunikasi yang berlangsung antara atasan dan bawahan. Ketika perawat rawat inap tidak tahu dengan pasti
bisa menyampaikan keluhan kepada siapa, maka perawat rawat inap mengalami
ketidakjelasan peran sebagai bawahan. Dengan kata lain, sebagai bawahan,
perawat rawat inap tidak mengetahui kepada siapa mereka bisa menyampaikan
keluhan dan kepada siapa mereka bisa percaya bahwa keluhan mereka akan
ditanggapi sehingga mereka merasa tidak puas dengan kondisi kerja yang ada.
Berbagai keluhan, terkait dengan stressor-stressor yang dialami oleh perawat inap, tentunya akan mendatangkan ketidakpuasan kerja. Jika perawat
rawat inap merasakan ketidakpuasan, maka akan mempengaruhi performance
kerja. Perawat rawat inap menjadi kurang produktif, sering tidak masuk kerja,
rumah sakit lain. Walaupun ketidakpuasan kerja belum tentu menjadikan
employee bereaksi seperti disebutkan diatas, namun ada indikasi reaksi tersebut dilakukan oleh perawat rawat inap yang merasakan ketidakpuasan kerja.
Selanjutnya jika performance kerja perawat rawat inap buruk, maka akan mempengaruhi kredibilitas rumah sakit di mata masyarakat.
Dari keempat kategori stressor, masing-masing stressor memiliki derajat pengaruh yang berbeda bagi setiap individu. Diantara para perawat rawat inap
yang mengalami stres dalam bekerja, ada yang lebih dipengaruhi oleh salah satu
kategori stressor atau dipengaruhi dua atau tiga stressor sekaligus, bahkan mungkin keempat kategori stressor secara bersamaan. Makin banyak perawat yang menghayati area tertentu sebagai stressor maka area stressor itulah yang dirasakan paling berpotensi untuk menjadi penyebab stres perawat dalam bekerja.
Sebaliknya, makin sedikit perawat yang menghayati area tertentu sebagai stressor
maka area stressor itulah yang dirasakan kurang berpotensi untuk menjadi penyebab stres perawat dalam bekerja.
Sebagaimana definisi stres kerja yang dikemukakan oleh Luthans (1992)
bahwa stres kerja adalah suatu respon adaptif terhadap situasi eksternal yang
memberikan pengaruh pada gangguan kesehatan, psikologis, dan gangguan
tingkah laku dari anggota organisasi, maka persepsi atau penghayatan perawat
rawat inap terhadap area stressor tertentu akan dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi individu terhadap situasi kerja. Dengan demikian, proses penyesuaian
diri terhadap kondisi lingkungan, dapat menjadikan masing-masing perawat rawat
inap memiliki perbedaan dalam menghayati kondisi tertentu sebagai area
adaptasi terhadap lingkungannya semakin baik sehingga hal atau kondisi yang
mungkin bisa menjadi sumber yang potensial bagi timbulnya stress bagi individu
lain, tidak dirasakan oleh individu tersebut. Meskipun kecepatan adaptasi individu
berbeda-beda, namun masa kerja bisa menjadi salah satu faktor yang menjadikan
perawat rawat inap memiliki perbedaan dalam menghayati stressor.
Selain kecepatan adaptasi, motivasi pun menentukan apakah perawat akan
akan tenggelam dalam stressornya atau berusaha untuk menanggulangi stressor
yang dirasakannya sehingga stressornya dapat berkurang.
Dari uraian di atas, maka dapat dibuat sebuah bagan kerangka pikir pada
Situasi Kerja
- Menghadapi tuntutan dari organisasi dimana perawat rawat inap harus tetap memberikan performance yang baik walaupun sedang dilanda masalah pribadi
- Berhubungan dengan pasien yang sedang dalam kondisi sakit secara fisik dan kurang stabil secara emosional karena terpaksa diisolasi dari aktivitas sosial
- Menghadapi kebijakan dan sistem dari organisasi (rumah sakit)
- Berhubungan dengan rekan kerja dan atasan
I
1.6. Asumsi
o Dalam memenuhi tanggung jawabnya, tidak terelakkan jika seorang
perawat rawat inap berhadapan dengan pelbagai masalah.
o Permasalahan yang melebihi kapasitas diri perawat rawat inap, akan
memunculkan penghayatan stres.
o Terdapat kemungkinan munculnya 4 stressor yang dirasakan oleh
perawat rawat inap, yaitu extraorganizational stressor, organizational stressor, group stressor, dan individual stressor.
5.1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian, diperoleh beberapa kesimpulan :
1) Stressor kerja terbanyak pertama yang dirasakan oleh perawat rawat inap
rumah sakit “X” di Bandung adalah organizational stressors. Terbanyak
kedua adalah group stressors, terbanyak ketiga adalah extraorganizational
stressors, dan yang paling sedikit dirasakan adalah individual stressors.
2) Untukarea Organizational stressors, struktur organisasi yang menyangkut
kurang nyamannya perawat rawat inap untuk menyampaikan keluhannya
kepada atasan dan penghayatan perawat bahwa pihak rumah sakit jarang
menanggapi keluhan-keluhan yang disampaikan oleh perawatnya, menjadi
indikator yang lebih dominan.
3) Untuk area group stressors, kurangnya dukungan sosial yang menyangkut
adanya ketidaklengkapan atau penyaringan informasi mengenai petunjuk
kerja yang dilakukan oleh rekan kerja, menjadi indikator yang lebih
dominan.
4) Untuk area extraorganizational stressors, kondisi ekonomi dan finansial
yang menyangkut penghasilan yang diterima oleh perawat rawat inap yang
dihayati lebih kecil dibandingkan rumah sakit lain dan mereka merasa
tidak berdaya dengan kondisi ekonomi mereka, menjadi indikator yang
lebih dominan
5) Untuk area individual stressors, kurangnya ketahanan psikologis saat
perawat rawat inap berhadapan dengan pasien yang menuntut perhatian
lebih, menjadi indikator yang lebih dominan untuk area ini.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, peneliti
mengajukan beberapa saran yang sekiranya dapat menjadi pertimbangan bagi
pihak-pihak yang berkepentingan dengan penelitian ini, yaitu :
5.2.1. Saran Guna Laksana
Bagi pihak rumah sakit, keluhan-keluhan yang disampaikan oleh
perawatnya, dalam hal ini perawat rawat inap, sebaiknya lebih ditanggapi
secara serius karena hal ini sangat mempengaruhi kepercayaan perawat
kepada rumah sakit sebagai organisasi tempat mereka bekerja dan menaruh
harapan akan kondisi hidup yang lebih baik. Organisasi perlu membuka aliran
interaksi di dalam struktur organisasi, yaitu bawahan dapat mengeluarkan
aspirasinya kepada atasan secara bebas dan atasan pun dapat membuka diri
untuk menerima aspirasi bawahan.
Selain dalam hal struktur organisasi, kebijakan yang diberlakukan oleh
organisasi terutama yang berkaitan dengan ke-tidakkonsisten-an organisasi
dalam memberikan upah secara tepat waktu sebaiknya ditelusuri lagi secara
lebih seksama agar kebijakan organisasi ini memberikan kesejahteraan bagi
perawat rawat inap karena kebijakan yang diberlakukan oleh organisasi ini
memberikan pengaruh yang luas bagi penghayatan stres dari perawat rawat
5.2.2.Saran Penelitian Lanjutan
Bagi peneliti lain yang tertarik untuk meneliti stres kerja, maka
disarankan dapat memperhatikan hal berikut :
o Penelitian mengenai derajat stres dapat dilakukan agar memperoleh
pemahaman komprehensif tentang stres.
o Hasil penelitian ini menunjukkan Organizational Stressor merupakan
stressor yang paling banyak dirasakan oleh para perawat, dengan
spesifikasi tidak lancarnya alur interaksi antara perawat dengan pihak
manajemen rumah sakit. Atas dasar temuan tersebut, maka penelitian
selanjutnya hendaknya mengukur pola komunikasi di dalam suatu
organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Luthans, Fred. 1992- 6th ed. Organizational Behavior. McGraw-Hill, Inc.
Dunnette, Marvin. 1998. Handbook of Industrial and Organizational Psychology
Roper, Nancy. 1996. Prinsip – Prinsip Keperawat ruang rawat inapan / Nancy Proper ; Penerjemah, Andry Hartono. -Ed.1, cet.1 - Yogyakarta : And: Yayasan Essentia Medica.
Lumenta, Benyamin,dr. 1989. Perawat Citra, Peran, Dan Fungsi. Yogyakarta : Kanisius
Cox, Tom. 1978. Stress. London-Macmillan Press Ltd.
Selye, Hans. 1980. Selye Guide To Stress Research. New York-Van Nostrand Reinhold.
Lazarus, Richard S. 1969. Stress, Appraisal and Coping. New York-Springer-Verlag.
Mitchell, Terence R. 1987. People in Organizations : an introductions to Organizational Behavior. New York-McGraw-Hill Book Co.
Gulo,W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta : Grasindo.
Kaplan, Robert M. 1982. Psychological Testing Principles, Applications and Issues.
Singarimbun Masri. 1983. Metode Penelitian Survei. Jakarta : LP3ES
Nazir, Mohammad. 1988. Metode Penelitian/Moh.Nazir - cet.3 - Jakarta : Ghalia Indonesia
Sitepu, Nirwana. 1995. SK Statistik. Bandung
Daftar Rujukan
Marlina. 2005. Suatu Penelitian Mengenai Perbandingan Derajat Adversity Quotient Antara Perawat ICU Dengan Perawat Rawat Inap Di Rumah Sakit “X” Bandung. Skripsi. Bandung : Program Sarjana Fakultas Psikologi UKM.