• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN KASUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III TINJAUAN KASUS"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

Tanggal pengkajian 11 Mei 2007 1. Biodata

a. Identitas Pasien

Nama : Tn P

Umur : 80 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Suku Bangsa : Jawa

Agama : Islam

Status Perkawinan : Kawin

Pendidikan : Tidak sekolah

Pekerjaan : Petani

Alamat : Semarang barat

Tanggal Masuk : 28 April 2007

No. Register : 5022345

No. Medis : BPH

b. Identitas Penanggung Jawab

Nama : Tn S

Umur : 55 tahun

(2)

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : TNI

Hubungan dengan pasien : Tetangga 2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama

Pasien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis, meningkat apabila selang cateter terjadi kemacetan dan bila pasien beraktivitas berlebihan/ bergerak. Nyeri dirasakan tertusuk-tusuk dengan skala 5-6, Keluhan yang dirasakan hanya berlangsung jika pasien aktivitas yang menyebabkan nyeri dan akan hilang / berkurang jika istirahat.

b. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengatakan sebelum dilakukan tindakan operasi pasien mengatakan sulit BAK, bila urin keluar terasa nyeri. Setelah dilakukan tindakan operasi Transmilad Prostatektomi (TMP), saat ini klien mengalami beberapa keluhan seperti nyeri pada suprapubis, kesulitan bergerak saat beraktifitas. Pasien tampak cukup baik dan hanya dapat beraktifitas di tempat tidur dengan bantuan keluarga dan perawat.

c. Riwayat Perawatan dan Kesehatan Dahulu

± 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, klien merasa sulit untuk kencing, keluarnya urin sedikit dan terasa nyeri. Hal ini dibiarkan pasien selama 1 minggu. Namun keadaan masih tetap sama. Dan akhirnya pasien memeriksakan penyakitnya langsung ke RS Karyadi, kemudian di diagnosa oleh dokter dengan Cystisis. Setelah beberapa hari dirawat, klien melakukan

(3)

pemeriksaan diagnoatik dengan hasil terjadi pembesaran prostat, maka klien didiagnosa oleh dokter dengan BPH.

+ 1 tahun yang lalu pasien juga pernah memiliki riwayat seperti ini, tetapi setelah dilakukan pengobatan sembuh dan tanpa operasi. Klien baru pertama kalinya dirawat dirumah sakit.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit seperti ini, yaitu Benigna Prostat Hyperplasti atau penyakit kronis lainnya.

3. Pola Kesehatan Fungsional yang Terganggu a. Pola eliminasi

Saat sakit/ sebelum operasi pasien mengalami kesulitan dalam BAK yaitu sulit untuk kencing, dapat kencing namun sedikit dan terasa sakit, namun setelah operasi pasien dapat mengeluarkan urine melalui kateter sebanyak + 5300 cc/24 jam.

Pasien minum dalam sehari dapat menghabiskan ± 3000 ml/hari air mineral dan irigasi kandung kemih dengan NaCl 1500/ 7 jam atau 1500-4500 cc/ hari IWL dapat dihitung dengan

BB X 15 X Σ 7O X I5 X 24

24 24 1050 CC/ 24 jam Minum atau makan ± 3000 ml/hari

Irigasi kandung kemih mengunakan NaCl 4500 Total : ± 7500 cc/hari

(4)

Urin 6250 cc/ hari IWL 1050 cc/ hari Total : 7350 cc/ hari

Sehingga balance cairan dapat dilihat dengan input – (output + IWL) yaitu 7500 – 7350 = + 150 cc

b. Pola aktivitas dan latihan

Selama pasca operasi, dalam aktivitas pasien terganggu dengan adanya kateter di saluran kencing dan nyeri yang menyertainya. Sehingga pasien hanya cukup beristirahat di atas ranjang, dalam pemenuhan kebutuhan pasien dibantu oleh keluarga seperti mandi/ sibin. Dalam kesulitan beraktivitas ini, pasien juga tidak berani beraktivitas berlebihan.

c. Pola Persepsi Sensori dan Kognitif

Dalam kemampuan sensori dan kemampuan kognitif pasien tidak mengalami gangguan, namun pasien mengalami gangguan terhadap persepsi terhadap nyeri, dan dapat kita lihat dengan pendekatan P, Q, R, S, T.

P ( Paliatif/ Profokatif ) : Rasa nyeri meningkat apabila pasien beraktivitas berlebih dan terjadi kamacetan pada 3 way cateter.

Q ( Qualitas ) : Rasa nyeri yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk

R ( Regio ) : Daerah yang dirasa nyeri yaitu diatas

(5)

menyebar ke daerah pinggang jika nyeri yang dirasakan bertambah berat.

S ( Skala ) : Derajat nyeri yang dirasakan berkisar antara 5-6, jika nyeri berlangsung, pasien hanya berfokus pada nyerinya.

T ( Time ) : Keluhan yang dirasakan hanya berlangsung jika terjadi kemacetan pada 3 way atau aktivitas yang menyebabkan nyeri dan akan hilang / berkurang jika dibawa istirahat.

d. Pola Reproduksi dan Seksual

Tn.P berusia 80 tahun, jadi selama sakit pasien harus bersabar terakit ketidak mampuannya dalam beraktivitas atau ereksi karena adanya nyeri dan faktor lain yang memperberat kondisinya. Untuk itu pasien harus bersabar sampai kondisi penyakitnya sudah betul-betul baik.

e. Pola Mekanisme Koping

Dalam menghadapi masalah yang dihadapi termasuk dalam mekanisme pengalihan nyeri yang dirasakan pasien melakukan tarik nafas dalam atau menahan nafas jika nyeri timbul, untuk itu pasien hanya bisa bersabar dengan berdoa dalam mengharapkan kesembuhannya.

4. Pengkajian Fisik

a. Penampilan/ Keadaan Umum : Pasien tampak lemah b. Tingkat Kesadaran : Composmetis

(6)

a. Suhu : 36,70C b. Nadi : 87 x/mnt c. RR : 24 x/mnt d. TD : 140/80 mmHg d. Pengukuran Antropometri 1). TB : 160 cm 2). BB : 70 kg e. Kepala :

Bentuk mesocepal dan tidak terdapat luka

1). Rambut : Warna hitam, lurus, pendek dan cukup bersih.

2). Mata : Kemampuan penglihatan baik, konjungtiva

tidak anemis, sklera tidak ikterik dan tidak ada sekret

3). Hidung : Cukup bersih, tidak ada septum defiasi, tidak ada polip, tidak menggunakan tambahan oksigen.

4). Telinga : Kemampuan pendengaran baik, tidak ada

sekret pada telinga ataupun pembengkakan.

5). Mulut : Keadaan selaput mukosa baik, lembab dan

merah muda, keadaan dan kebersihan mulut dan gigi baik.

(7)

6). Leher dan Tenggorokan : Posisi trakea lurus, tidak ada nyeri telan, tidak ada pembesaran tiroid dan tidak mengalami obstruksi pada jalan napas.

7). Dada dan thorak : Bentuk dada simetris, pergerakan stabil dan tidak menggunakan otot bantu pernafasan 8). Paru-paru :

Inspeksi : Simetris statis dan dinamis

Palpasi : Fremitus kanan - kiri

Perkusi : Sonor

Auskultrasi : Vesikuler

9). Jantung :

Inspeksi : IC tak tampak

Palpasi : IC teraba di mid clavikula

Perkusi : Konfigurasi jantung ke caudal lateral Auskultrasi : Tidak ditemukan bunyi tambahan 10). Abdoment

Inspeksi : Bentuk datar tidak kencang.

Auskultrasi : Peristaltik usus dalam batas normal 15x dalam 1 menit

Perkusi : Tympani

Palpasi : Tidak terdapat hepatomegali

(8)

a). Ekstermitas atas : Kapilari refill baik yaitu kurang dari 3 detik, terpasang infus RL 20 tpm, kemampuan mobilitas baik, kekuatan otot baik.

b). Ekstermitas bawah : Kapilari refill baik yaitu kurang dari 3 detik dan tidak terdapat edema

12). Kulit

a). Warna sawo matang, kelembaban baik b). Tidak terdapat luka

13). Genital

Terpasang 3 way kateter ukuran 18, daerah selang terdapat sedikit warna kemerahan, insisi di bagian suprapubis, sehingga terjadi luka dan terdapat pendarahan. kebersihan cukup dan tidak nampak adanya tanda-tanda infeksi.

f. Data penunjang

1). PSA : Tanggal 8 Mei 2007

PSA total 8,29 mg/ ml ( Normal : 0,21 – 6,77 ) H 2). Hematologi : Tanggal 10 Mei 2007

Pemeriksaan Hasil Nilai normal Keterangan

HB 13.40 gr% 13 - 16 -

Hematokrit 38.6 % 35.0 – 47.0 L

(9)

juta/mmk Leukosit 8.20 ribu/ mmk 4.00 – 11.00 - Trombosit 346.0 ribu/ mmk 150.0-450.0 -

Hematologi Tanggal 11 Mei 2007

Pemeriksaan Hasil Nilai normal Keterangan

HB 11.40 gr% 13 - 16 L Hematokrit 32.3 % 35.0 – 47.0 L Eritrosit 3.49 juta/ mmk 3.90 – 5.60 L Leukosit 13.10 ribu/ mmk 4.00 – 11.00 H

(10)

Trombosit 312.0 ribu/ mmk

150.0-450.0 -

3).Kimia klinik : 11 Mei 2007

Pemeriksaan Hasil Nilai normal Keterangan

Glukosa sewaktu 170 mg/dl 80-110 H Ureum 30 mg/dl 15-39 - Creatinin 1.31 mg/di 0.60-1.30 H Albumin 3.6 3.4-5.0 - Elektrolit Natrium 141 mmol/L 136-145 - Kalium 3.4 mmol/L 3.5-5.1 L Clorida 106 mmol/L 98-107 -

4). Pemeriksaan foto polos : 7 Mei 2007

Kesan : Spondylosis lumbalis dan gambaran opak setinggi vert sacral kanan masih mungkin batu vesika urinaria.

Pengukuran Transabdominal Tranrectal

Transversal 42.7 mm 35.5 mm

(11)

Kramokaudal 63.9 mm 63.9 mm

Volume 84.4 cc 63.4 cc

5). Pemeriksaan USG : 16 Mei 2007 Ginjal

Kanan : Bentuk dan ukuran normal, batas kortikonoduler baiki-baik, tak ada penipisan kortek, tidak ada batu, pielokalis tak melebar.

Kiri : Bentuk dan ukuran normal, bats kortikomeduler baik, tak tampak penipisan kortek. Tak tampak batu dan masa.

Vesika urinaria : Dinding tak menebal, tampak rata, tidak tampak batu dan masa.

Kesan : Ukuran membesar volume ± 84.4cc, kapsul utuh, tak tampak klasifikasi tampak nodul.

6). Therapy

Infus RL 20 tpm Infus NaCl 30 tpm

B. Pengelompokkan data

DS : - Pasien mengatakan nyeri pada bagian suprapubis/ di atas kemaluan - Pasien mengatakan sulit untuk beraktivitas, karena terpasang 3 way

(12)

DO : - Terpasang kateter ukuran 18

- Terdapat aliran darah kemerahan pada selang kateter, warna tidak terlalu merah jumlah urin dalam kantong kateter 580 cc/ 7 jam. Palpasi di vesica urinaria penuh.

- Pengkajian nyeri

P : Nyeri meningkat jika banyak bergerak dan bila terjadi kemacetan.

Q : Nyeri yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk

R : Daerah nyeri di suprapubis, jika nyeri dirasa semakin berat, maka nyeri akan menyebar ke bagian pinggang.

S : Skala nyeri 5-6

T : Waktu nyeri yang dirasakan akan berlangsung sewaktu-waktu jika faktor penyebabnya tidak dihentikan seperti beraktivitas dan berkurang jika pasien beristirahat

- Pasien tampak lemas

- Aktivitas Pasien masih tampak dibantu oleh keluarga dan perawat.

C. Analisa data

No Data (DS dan DO) Masalah (P) Etilogi (F)

1 DS : Pasien mengatakan nyeri pada bagian atas kemaluan DO : Skala nyeri 5-6, bertambah

Nyeri Adanya prosedur

(13)

bila terjadi kemacetan pada 3 way kateter dan saat bergerak, waktu yang dirasakan tidak menetap

2 DS : Pasien mengatakan tidak leluasa dalam beraktivitas DO : - Pasien masih tampak

lemas

- Terpasang kateter

- Adanya nyeri post

operasi TMP

- Aktivitas masih dibantu keluarga dan perawat

Gangguan aktivitas

Adanya

keterbatasan fisik, sehubungan

adanya nyeri dan ketidaknyamanan

3 DS : -

DO : Terdapat perdarahan pada kandung kemih ( terlihat pada selang kateter ) dan terdapat insisi pada daerah suprapubik. DO Risiko infeksi Adanya prosedur infasif sekunder terhadap tindakan pembedahan dan adanya 3 way kateter di kantong kemih

(14)

D. Patway

- Proses penuaan

- Ketidak seimbangan estrogen dan testosteron

Produksi tesrosteron menurun konversi testosterone menjadi estrogen pada jaringan adipose dan perifer

BPH Kompresi uretra Peningkatan resistensi pada leher vesika urinarai

(15)

Penebalan otot detrusor Retensi urin

Disfungs Hydronefrosis Prostatektomi

saluran kemih atas TMP

Trauma insisi

Folley kateter Nyeri

Peningkatan kerentaran

terhadap bakteri Gg. mobilitas fisik

Resiko infeksi

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri berhubungan dengan adanya prosedur tindakan operasi TMP yang ditandai dengan klien mengeluh nyeri di daerah suprapubic, skala nyeri 6-7, nyeri tidak menetap dan seperti di tusuk-tusuk.

1. Gangguan mobilisasi berhubungan dengan keterbatasan fisik, adanya nyeri dan ketidaknyamanan yang ditandai dengan pasien masih nampak lemas, 3 way kateter masih terpasang, aktivitas masih dibantu oleh keluarga dan perawat.

(16)

2. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif sekunder terhadap tindakan pembedahan yang ditandai dengan masih nampak adanya pendarahan pada selang drainase/ kemerahan dan masih terpasang 3 way kateter.

F. Intervensi

1. Dx. Nyeri akut berhubungan dengan adanya prosedur tindakan operasi TMP yang ditandai dengan klien mengeluh nyeri di daerah suprapubic, skala nyeri 6-7, nyeri tidak menetap dan seperti di tusuk-tusuk.

Tujuan : Nyeri berkurang/ hilang

Kriteria hasil : a. Melaporkan penurunan nyeri dari skala 5-6menjadi skala 2-3 b. Ekspresi wajah dan posisi tubuh terlihat rileks

c. Mampu untuk istirahat Intervensi

a. Mengkaji nyeri

(17)

c. Meningkatkan pemasukkan 3000 ml/ hari sesuai toleransi.

d. Memberikan pasien informasi yang akurat tentang kateter, drainase dan spasme kandung kemih.

e. Memberikan tindakan kenyamanan. f. Memberikan rendam duduk.

g. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi. Rasional

a. Memberikan informasi untuk membantu dan menentukan pilihan intervensi. b. Mempertahankan fungsi kateter dan drainase.

c. Menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan konstan ke mukosa kandung kemih.

d. Menghilangkan ansietas. e. Menurunkan ketegangan otot.

f. Meningkatkan perfusi jaringan, perbaikan edem dan perbaikan penyembuhan. g. Meningkatkan relaksasi.

2. Dx. Gangguan aktivitas berhubungan dengan keterbatasan fisik, adanya nyeri dan ketidaknyamanan yang ditandai dengan pasien masih nampak lemas, 3 way kateter masih terpasang, aktivitas masih dibantu oleh keluarga dan perawat. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien dapat beraktivitas

secara mandiri minimal dapat turun dari tempat tidur

Kriteria hasil : Menunjukkan keinginan untuk berpartisipasi dalam terapi, menunjukkan teknik yang dapat melakukan aktivitas peningkatan kekuatan bagian tubuh yang sakit.

Intervensi :

(18)

b. Mencegah pasien jatuh.

c. Melakukan latihan aktif atau pasif.

d. Memonitor kulit tertekan, kemungkinan dekubitus. e. Meningkatkan aktivitas sesuai batas sesuai toleransi. f. Pertahankan nutrisi yang adekuat.

g. Melakukan kerja sama dengan keluarga dalam perawatan klien. h. Melakukkan ambulasi sebanyak mungkin.

Rasional

a. Mencegah iritsi dan mencegah komplikasi. b. Mempertahankan keamanan pasien.

c. Meningkatkan sirkulasi dan mencegah kontraktur. d. Memonitor gangguan integritas kulit.

e. Mempertahankan tonus otot. f. Nutrisi diperlukan untuk energi. g. Meneruskan perawatan setelah pulang.

3. Dx. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif sekunder terhadap tindakan pembedahan yang ditandai dengan masih nampak adanya pendarahan pada selang drainase/ kemerahan dan masih terpasang 3 way kateter.

Tujuan : tidak terjadi infeksi

Kriteria hasil : a. Tanda-tanda vital dan hasil pemeriksaan laboratorium urin pasien dalam batas normal

(19)

b. Tidak terjadi tanda-tanda infeksi

c. Berkemih dengan urin jernih tanpa kesulitan Intervensi

a. Pertahankan system kateter steril dan berikan perawatan kateter. b. Ambulasi dengan drinase dependent.

c. Observasi tanda vital.

d. Observasi drinase luka sekitar suprapubik e. Ganti balutan dengan sering ( insisi suprapubik ). f. Gunakan pelindung kulit.

g. Kolaborasi dengan antibiotik.

Rasional

a. Mencegah pemasukkan bakteri dan infeksi. b. Menghindari reflek balik urin.

c Mengobservasi terjadinya syok. d. Insisi beresiko terjadinya infeksi.

e. Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan pertumbuhan bakteri.

f. Memberikan perlindungan untuk kulit sekitar. g. Berhubungan dengan peningkatan resiko infeksi.

(20)

G. IMPLEMENTASI

No Tgl/jam No. DX Implementasi Respon TT

1. 11/5/07 jam 21.00 1. Mengkaji keluhan pasien, ketidaknyamanan yang dirasakan dan riwayat/ perjalanan penyakitnya DS : Pasien mengatakan masih terasa nyeri pada area insisi, menigkat saat terjadi kemacetan dan bila bergerak.

DO : Ekspresi wajah

mringis kesakitan, nampak menahan nyeri.

2 Jam 21.15

1,2,3 Mengukur tanda-tanda vital pada pasien DS : - DO : TD :140/80 mmHg N : 84 x/mnt S : 36,5 °C RR : 24 x/mnt

(21)

3 Jam 21.20 1,3 Memberikan berikan posisi yang nyaman untuk pasien. DS : Pasien mengatakan lebih suka posisi seperti ini. DO : Pasien tampak pada posisi semi folwer.

4 Jam 21.25 3 Meningkatkan pemasukkan 3000 ml/hari sesuai toleransi. DS : Pasien mengatakan “ ya “ DO : Pasien kooperatif. 5 Jam 21.30 1 Mengajarkan teknik relaksasi ( nafas dalam ) bila nyeri timbul.

DS : Pasien mengatakan bila nyeri timbul akan melakukan nafas dalam.

DO : Pasien tampak berlatih nafas dalam dan pasien tampak kooperatif. 6 01.20 1 Melakukan irigasi kandung kemih mengunakan NaCl 0.9 % DS : Pasien mengatakan nyeri pada bagian suprapubik, nyeri tertusuk-tusuk dengan skala 6-7, nyeri timbul dan berkurang saat aliran urin lancer.

DO : Ekspresi wajah pasien tamapak mringis menahan sakit.

(22)

7 03.00 Observasi

keadaan umum pasien

DS : -

DO : Pasien tampak istirahat ( tidur ). 8 05.00 3 Membantu aktivitas sesuai dengan keperluan ( Sibin ) DS : - DO : Pasien kooperatif 9 06.00 1,2 dan 3 Mengukur tanda-tanda vital DS : - DO :- Suhu : 36,5 °C - TD : 140/80 mmHg - HR : 84 x/ menit - RR : 18 x/ menit 10 06.30 Menggukur balance cairan DS : - DO : Input

Minum atau makan ± 3000 ml/hari

Irigasi kandung kemih mengunakan NaCl 4500 Total : ± 7500 cc/hari Output Urin 6250 cc/ hari IWL 1050 cc/ hari Total : 7350 cc/ hari

Sehingga balance cairan dapat dilihat dengan input – (output + IWL) yaitu

(23)

7500 – 7350 = + 150 cc No Tgl/ja m No. DX Implementasi Respon TT 1. 12/5/07 jam 14.00 1 Mengkaji keadaan pasien, mengamati drainase, kateter yang dipakai, apakah masih ada pendarahan yang keluar

DS: Pasien mengatakan ingin supaya kateternya segera dilepas, karena dia merasa sudah cukup kuat

DO: Keadaan pasien sudah cukup baik, tampak adanya pendarahan jumlah urin dalam kantong kateter 590 cc/ 7 jam

2 Jam 14 30 2 Memberikan informasi tentang kateter, drinase dan spasme kandung kemih. DS : Pasien mengatakan mengerti tentang manfaat dari penggunaan kateter.

DO : Ekspresi wajah pasien rileks. 3 Jam 15.00 1 Mempertahankan posisi yang nyaman DS : Pasien mengatakan lebih menyukai posisi seperti ini.

DO : Pasien tampak pada posisi semi fowler. 4 Jam

16.00

3 Observasi daerah insisi luka post operasi

DS : -

DO : Luka insisi bersih dan tidak ada tanda-tanda infeksi.

(24)

5 Jam 16.10 2 Membantu pasien sibin DS : - DO : Pasien kooperatif 6 Jam 17.00 1,2,3 Observasi tanda -tanda vital DS : - DO : - Suhu : 36,5 °C - TD : 130/80 mmHg - HR : 80 x/ menit - RR : 18x/ menit 7 Jam 17.10 2 Mengajarkan klien untuk latihan miring kiri dan kanan

DS : -

DO : Klien mampu miring kiri dan kanan G. EVALUASI No. DX Tgl/Jam Evaluasi TT 1 13 Mei 07 Jam 10.00 WIB

S : Pasien mengatakan masih terasa nyeri pada bagian luka post operasi.

O : Ekspresi wajah pasien tampak mringis menahan sakit, nyeri dapat dirasakan saat terjadi kemacetan dan saat bergerak, skala nyeri 4-5.

A : Masalah belum teratasi sepenuhnya P : Anjurkan untuk mengontrol nyeri

dengan teknik relaksasi ( nafas dalam )

2 S : Pasien mengatakan sudah dapat

bergerak ( latihan miring kiri dan miring kanan )

(25)

A : Masalah dapat teratasi sebagian

P : Lanjutkan latihan ROM secara

bertahap

3 S : -

O : Tidak terjadi tanda – tanda infeksi, - Suhu : 36,5 °C

a. TD : 130/80 mmHg

b. HR : 80 x/ menit - RR : 18x/ menit

A : Masalah teratasi

P : Lanjutkan intervensi dengan tetap menjaga kebersihan luka insisi operasi TMP

Referensi

Dokumen terkait

Pasien mengatakan nyeri, nyeri akibat jatuh dari tangga dengan kualitas nyeri seperti tertusuk – tusuk, nyeri di daerah paha atas dan menjalar sampai ke

Saat dikaji, klien mengatakan nyeri di bagian perutnya, P: nyeri bertambah ketika beraktivitas, Q: terasa seperti ditusuk-tusuk jarum, R: Nyeri yang klien rasakan

Klien mengatakan nyeri di daerah perineum, nyeri dirasa meningkat jika digunakan untuk bergerak dan berkurang saat untuk istirahat, nyeri terasa seperti tertusuk-tusuk, nyeri

Efusi pleura Penekanan rongga pleura Penurunan pengembangan Paru Penekanan abdomen Nyeri dada Gangguan rasa nyaman : nyeri Dyspnea Pola nafas tidak efektif

Kontak mata pasien kurang, pasien nampak malu, pasien tidak fokus jika di ajak ngobrol, pasien senang menyendiri dan pasien lebih memilih berdiam diri di kamar..

Nyeri dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup melalui berbagai cara. Individu dengan nyeri punggung bawah cenderung mengalami keterbatasan aktivitas jangka

Gangguan rasa aman nyaman: nyeri berhubungan dengan hiperurisema ditandai dengan pasien tampak meringis, pasien mengatakan nyeri dibagian lutut dan pergelangan kak, intensitas

Gangguan fungsional dan Kualitas hidup Faktor yang mempengaruhi.  Lama nyeri  Derajat nyeri