ASUHAN KEPERAWATAN DIVERTICULAR DISEASE
MAKALAH
oleh
Istna Abidah Mardiyah NIM 152310101070
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNVERSITAS JEMBER
ASUHAN KEPERAWATAN DIVERTICULAR DISEASE
MAKALAH
diajukan guna melengkapi tugas mata kuliah Keperawatan Bedah dengan dosen pengampu Ns. Mulia Hakam,M.Kep., Sp.Kep.MB
oleh :
Istna Abidah Mardiyah NIM 152310101070
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNVERSITAS JEMBER
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya,sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Diverticular Disease”. Makalah ini disusun berdasarkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Bedah Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.
Penyusunan makalah ini tentunya tidak terlepas dari kontribusi berbagai pihak. Oleh karenaitu,penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ns. Mulia Hakam,M.Kep., Sp.Kep.MB selaku dosen mata kuliah keperawatan Medikal Bedah Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.
2. Semua pihak yang secara tidak langsung membantu terciptanya makalah ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Jember, Mei 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PRAKATA ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1Latar Belakang ... 1
1.2Rumusan Masalah ... 1
1.3Tujuan Penulisan ... 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Pengertian ... 3
2.2 Epidemiologi... 3
2.3Etiologi... 3
2.4 Klasifikasi... 6
2.5 Phatogenesis... 6
2.6Phatofisiologi... 7
2.7Manifestasi klinis... 7
2.8PemeriksaanPenunjang... 9
2.9Penatalaksanaan medis... 9
BAB 3.KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN...13
3.1 Pengkajian...13
3.2 Diagnosis...20
3.3 Intervensi...21
3.4Implementasi...23
BAB 4.PENUTUP...24 4.1 Simpulan ...24 4.2 Saran ...24 DAFTAR PUSTAKA
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penyakit deverticular disease merupakan penyakit yang berhubungan dengan pola makan dan asupan gizi pada tubuh. Penyakit deverticular disease terjadi karena perubahan pola makan akubat dari konsumsi jenis makanan yang mengandung banyak serat ke jenis makanan yang kurang mengandung banyak serat. Prevalensi deverticula disease berjumlah 75% dari jumlah populasi di Amerika Serikat yang berusia diatas 80 tahun. Prevalensi tersebut meningkat secara drastis seiring dengan menurunnya asupan makanan berserat tinggi. (Schwartz, 2007). Berdasarkan survey lapangan didapatkan hasil prevalensi penyakit divertikula diperkirakan kurang dari 5% pada usia 40 tahun, meningkat menjadi 30%pada usia 60 tahun, dan menjadi sebesar 65% pada usia 85 tahun dengan semua jenis kelamin dapat terserang penyakit deverticular disease yaitu meliputi pria dan wanita. Secara geografs, penyakit divertikula tersebut banyak muncul di negara yang tinggi terhadap industrialisasi seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat daripada Negara dengan industrialisasi yang kurang seperti Afrika, Amerika Selatan, dan Asia. (Sabiston, 2000). Diperkirakan 90-95% penderita dengan divertikulosis melibatkan kolon sigmoid, dan 65% penderita mempunyai penyakit yang terbatas hanya terbatas pada kolon sigmoid. Sebaliknya, hanya 2-10% penderita mempunyai penyakit yang terbatas pada colon asenden atau transversum. (Sabiston,2000).
menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal dengan akibat hipertrof otot polos dan pembentukan divertikula. Divertikulum sering disebut dengan istilah herniasi usus besar yang menyerupai kantung yang terbentuk melalui defek pada lapisan otot tertentu. (Brunner, 2016). Penyakit ini disepabkan karena kurangnya supan serat pada tubuh, misalnya diet tinggi lemak. Kebanyakan diera modern ini masyarakat dunia termasuk di Indonesia kurang memperhatikan asupan serat bagi tubuh dalam memenuhi nutrisi seharai-hari. Sehingga perlu adanya penyuluhan dan deteksi dini terkait penyakit diverticular disease ini.
Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian divertikular disease ?
1.2.2 Bagaimana epidemiologi divertikular disease ? 1.2.3 Bagaimana etiologi dari divertikular disease ? 1.2.4 Bagaimana klasifkasi divertikular disease ? 1.2.5 Bagaimana pathogenesis divertikular disease ? 1.2.6 Bagaimana patofsiologi divertikular disease ? 1.2.7 Bagaimana manifestasi klinis divertikular disease ?
1.2.8 Bagaimana pemeriksaan penunjang divertikular disease ? 1.2.9 Bagaimana penatalaksanakan medis divertikular
disease ? 1.2 Tujuan
Tujuan Umum
Untuk mempelajari tentang asuhan keperawatan pada klien dengan Diverticular disease.
Tujuan Khusus
1.Mengetahui konsep dasar teoritis Divertikular disease.
2.Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan Divertikular disease, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1Definisi
Deverticular disease merupakan penyakit karena adanya peradangan yang terjadi pada divertikula yang disebabkan oleh kontraksi otot kolon (Painter, 2013). Divertikular disease yaitu adanya divertikel semu multiple, tidak bergejala pada 80% penderita. Divertikulitis adalah radang akut dalam divertikel tanpa atau dengan perforasi. (Sjamsuhidajat, 2007).
Gambar 2.1.1 Diverticular disease
millimeter sampai beberapa sentimeter. Divertikula biasanya merupakan manifestasi motalitas yang abnormal. Divertikulum dapat terjadi di mana saja sepanjang saluran gastrointestinal. (Sabiston, 2000). Divertikular disease adalah penyakit yang terjadi karena adanya herniasi pada kolon yang menyerupai kantung yang terbentuk melalui defek pada lapisan otot tertentu. (Brunner, 2016).
Jadi, berdasarkan beberapa pengertian devertikular disease diatas dapat disimpulkan bahwa deverticular sisease merupakan gangguan pada pencernaan yang terjadi di divertikula karena kontraksi pada otot kolon, biasanya ditemukan penonjolan berbentuk kantung di dinding kolon.
2.2Epidemiologi
Berdasarkan survey penyakit tidak menular ditemukan jumlah prevalensi dari divertikular disease diperkirakan kurang dari 5% pada usia 40 tahun, meningkat menjadi 30% pada usia 60 tahun, dan menjadi besar 65% pada usia 85 tahun dengan semua jenis kelamin dapat terserang penyakit deverticular disease yaitu meliputi pria dan wanita. Secara geografs, penyakit divertikula tersebut banyak muncul di negara yang tinggi terhadap industrialisasi seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat daripada Negara dengan industrialisasi yang kurang seperti Afrika, Amerika Selatan, dan Asia. (Sabiston, 2000)
2.3Etiologi
Deverticular disease biasanya disebabkan kan kare kurangnya supan serat pada tubuh. Penyebab timbulnya divertikula diduga karena faktor makanan. Penelitian klinik dan eksperimental telah melibatkan diet-rendah-serat sebagai faktor radiologic yang menonjol. Diet yang kurang serat sayuran diduga merupakan predisposisi untuk timbulnya divertikula akibat motilitas kolon terganggu. Terdapat bukti bahwa penderita divertikula menimbulkan respon kontraktil berlebihan terhadap makanan dan
stimuli hormonal. otot abnormal ini diduga menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal dengan akibat hipertrof otot polos dan pembentukan divertikula. Secara anatomi, divertikula membentuk titik”lemah” dimana pembuluh darah nutrient (vasa recta) menembus lapisan otot sirkular ke mukosa. “perforasi” pembuluh darah ini cenderung menembus dinding kolon sepanjang tepi mesenteric kedua taenia antimesentrik. Divertikula dapat terjadi dilokasi manapun diusus kecil maupun kolon sigmoid. Diverkulosis terjadi apabila terdapat beberapa divertikula tanpa disertai infamasi atau gejala. Kasus ini paling sering dijumpai pada lansia usia lebih dari 80 tahun. Asupan rendah serat diet yang rendah merupakan faktor predisposisi utama. Divertikulitis terjadi ketika makanan dan bakteri yang tertahan didalam divertikulum menyebabkan infeksi dan infamasi yang dapat menghambat pengeluaran cairan dan mengakibatkan perforasi atau abses. Diverticulitis dapat terjadi dalam bentuk serangan akut atau sebagai infeksi kronis yang terpendam. Predisposisi kemungkinan bersifat congenital apabila gangguan muncul pada individu berusia dibawah 40 tahun. (Brunner, 2016)
penuaan, obesitas, sifat genetika, dan konstipasi kronis. (Sabiston, 1994)
2.4Klasifikasi
2.4.1 Divertikulosis
Diverticulosis merupakan gangguan perncernaan karena adanya penonjolan-penonjolan deverticula di usus besar, sehingga menyebabkan perdarahan pada usus besar. Perdarahan dapat diduga akan terjadi pada 15% penderita dengan divertikulosis, dan penyakit divertikula merupakan penyebab bagi 30-50% perdarahan kolon massif. Perdarahan divertikula timbul dari kolon kanan pada 70-90% penderita, dan 70% penderita dengan perdarahan divertikula akan berhenti spontan. (Sabiston, 2000).
2.4.2 Divertikulitis
Diverticulitis dapat terjadi karena diverkulosis yang sudah parah dan tidak segera diatasi karena diverticulum pecah dan infeksi set di sekitar divertikulum tersebut, kondisi tersebut disebut dengan diverticulitis. Istilah divertikulitis menyatakan inflamasi satu atau lebih divertikula dan menggambarkan, pada tingkat anatomic, perforasi divertikulum kedalam ruang perikolik. Penderita diverticulitis dengan komplikasi menimbulkan masalah seperti obstruksi kolon, pembentukan abses, perforasi bebas, atau fistulisasi. (Sabiston, 2000)
2.5Patogenesis
Divertikel saluran cerna paling sering ditemukan dikolon, khususnya disigmoid. Divertikel kolon adalah divertikel palsu karena terdiri dari mukosa yang menonjol melalui lapisan otot seperti hernia kecil. Di vertikel sejati jarang ditemukan dikolon. Divertikel ini disebut divertikel pulsi (pukulan) karena disebabkan oleh tekanan tinggi dibagian usus distal ini. Besarnya berkisar antara beberapa millimeter – 2 sentimeter; leher divertikel atau pintunya biasanya sempit tetapi mungkin lebar. Kadang terbentuk fekolit (batu tinja) didalamnya. Pada orang barat 95% divertikel kolon terdapat disigmoid. Divertikel soliter disekum atau divertikel
multiple dikolon asendens, yang jarang ditemukan, biasanya terdapat pada orang asia. (Sjamsuhidajat, 2007)
Pathogenesis dipengaruhi tekanan intralumen dan defek didinding sigmoid. Tekanan intraluminer bergantung pada kepadatan feses yang meningkat bilakekurangan serat. Defek kecil dilapisan otot dinding usus ditemukan pada tempat keluarnya arteri ke apendiks epiploika. (Sjamsuhidajat, 2007) 2.6Patofisiologi/patologi
Divertikulosis menunjukkan kehadiran divertikulum didalam kolon dan keadaan patologi terlazim dengan lesi ini adalah diverticulitis. Merupakan suatu keadaan peradangan yang timbul setelah obstruksi leher divertikulum oleh tinja dan kadang-kadang barium. Proses ini menyebabkan penyempitan kolon dan bisa berlanjut ke obstruksi lengkap yang meniru manifesti klinis karsinoma. Perdarahan gastrointestinal bawah yang massif bisa mengikuti ulserasi didalam divertikulum. Abses, fstula atau perforasi sering mengkomplikasi perjalanan diverticulitis, sering dengan perikolitis dan edema mesentrium. (Sabiston, 1994)
atau leher dari divertikulum tersebut. Divertikula yang terletak pada sisi kanan dapat mengekspos bagian yang lebih besar dari vasa recta menjadi luka, karena mereka memiliki bagian leher yang lebih luas dan bagian kubah yang lebih besar dibandingkan dengan divertikulum khas pada kolon sisi kiri.
Pathway
8 Penurunan kekuatan otot
dalam dinding kolon
Peningkatan tekanan intraluminal
Volume kolon rendah serat
Inflamasi Obstruksi Divertikulum Herniasi lapisan mukosa
dan submukosa Hipertrofi muskuler
perdarahan Inflamasi menimbulkan
erosi pembuluh darah arterial
peritonitis Abses Inflamasi menyebar ke
2.7Manifestasi Klinis
tajam dengan divertikulum dalam penyempitan lumen, criteria yang lazim digunakan dimasa lampau, tidak lagi merupakan bukti peradangan yang tepat. (Sabiston, 1994)
Obstruksi bisa mengikuti diverticulitis kronika, penebalan peradangan, fbrosis, dan tekanan dari abses perikolika. Kecuali respon klinis terhadap terapi non bedah segera didapat, maka pendekatan operasi yang serupa dengan yang digunakan bagi diverticulitis akuta dengan abses, diindikasikan. (Sabiston, 1994). Perforasi kolon yang disertai dengan abses jarang terjadi, tetapi kadang-kadang terihat menyertai terapi kortikoseroid. Tanda sepsis dan syok bisa ditutup sementara waktu oleh steroid dan tingginya indeks kecurigaan penting dalam membuat diagnosis. Eksisi segera dengan kolostomi penglihatan proksimal merupakan terapi pilihan. (Sabiston, 1994)
Perdarahan dari divertikulum kolon biasanya berhenti spontan dan dapat ditangani secara konservatif dengan penggantian darah sesuai keperluan. Kurang dari 20% pasien dengan perdarahan divertikulum mengalami perdarahan bermakna yang menetap atau kambuh. Walaupun divertikulum kolon kanan kurang sering dibandingkan kolon kiri, bila ada tampaknya mempunyai kecenderungan lebih besar untuk berdarah. Perbedaan jelas ini sebagian bisa karena kebingungan dengan malformasi anteriovenosa didalam kolon kanan.karena malformasi demikian sulit didiagnosis dengan cara biasa bersama perdarahan yang menetap dan tak dapat dispesifkasi, maka arteriograf diindikasikan. Karsinoma kolon dapat menyebabkan perdarahan massif, tetapi hal tersebut tidak lazim. (Sabiston, 1994).
Divertikulosis yaitu adanya divertikel semu multiple, tidak bergejala pada 80% penderita. Keluhan dan tanda berupa serangan nyeri, obstipasi, dan diare oleh gangguan motilitas sigmoid. Pada pemeriksaan didapatkan nyeri tekan local ringan dan sigmoid sering dapat dan diraba sebagai struktur padat. Tidak
ada demam atau leukositosis bila tidak ada radang. Keadaan umum tidak terganggu dan tanda sistemik juga tidak ada. Pada foto roentgen barium tampak divertikel dengan spasme local dan penebalan dinding yang menyebabkan penyempitan lumen. (Sjamsuhidajat, 2007)
Menurut brunner, 2016
a. Sering kali tidak terlihat gejala yang bermasalah,konstipasi kronis kerap mengawali perjalanan penyakit.
b. BAB yang tidak teratur, sesekali disertai diare,mual dan anoreksia, serta kembung atau distensi abdomen.
c. Kram,ukuran feses menyempit , dan peningkatan konstipasi atau terkadang obstruksi usus.
d. Kelemahan,keletihan, dan anoreksia.
Diverticulitis adalah radang akut dalam divertikel tanpa atau dengan perforasi. Biasanya radang disebabkan oleh retensi feses didalamnya. Tekanan tinggi dalam sigmoid yang berperan pada terjadinya divertikel. Perforasi akibat diverticulitis menyebabkan peridivertikulitis terbatas, abses, atau peritonis umum. Diagnosis banding terpenting adalah karsinoma kolon kiri atau kelainan ginekologik. (Sjamsuhidajat,2007)
Menurut brunner, 2016
a. Nyeri akut ringan hingga berat dikuadran kiri bawah. b. Mual, muntah, demam, menggigil, dan leuositosis. c. Jika tidak ditangani peritonitis dan septicemia. 2.8Pemeriksaan Penunjang
a. Sinar x dengan barium enema.
b. Endokopi (kolonoskopi) untuk menyingkirkan karsinoma kolon. c. Laboratorium
2.9Penatalaksanakan Medis
antibiotic sistemik, dan analgetik. Reseksi bagian kolon yang mengandung divertikel multiple dapat dikerjakan secara elektif setelah diverticulitis menyembuh. Reseksi sigmoid biasanya dilakukan dengan cara Hartmann dengan kolostomi sementara. Cara ini dipilih untuk menghindari resiko tinggi gangguan penyembuhan luka anastomosis baru dikerjakan setelah rongga perut dan lapangan bedah bebas kontaminasi dan radang. (Sjamsuhidajat, 2007).
Komplikasi parah diverticulitis yang mencakup perforasi kolon, perdarahan tak terkendali, fstula dan obstruksi merupakan indikasi intervensi bedah gawat darurat. Proses peradangan dalam diverticulitis akuta bisa dilokalisir oleh peritoneum abdomen sekeliling atau bisa berpenetrasi kedalamorgan berdekatan. Jika proses ini tampak tampak local tanpa bukti peritonitis yang menyebar maka diindikasikan terapi non bedah intensif. Pengisapan nasogaster bagi distensi dan cairan intravena untuk pemeliharaan hidrasi dan keseimbangan elektrolit bersifat penting. Antibiotika berspektrum luas, biasanya mencakup ampisilin dan gentamisin, diberikan secara sistemik. Sering abses hilang dengan terapi demikian serta laksatif yang menyerap air dan bertindak sebagai masa didalam kolon, dan diet yang tepat bisa mencegah serangan lebih lanjut. (Sabiston, 1994)
Menetap atau membesarnya masa peradangan bersama demam, peningkatan nyeri dan nyeri tekan, lekositosis serta tanda sepsis mengaharuskan intervensi bedah segera. Jika masa peradangan tak dapat disingkirkan, maka biasanya dilakukan kolostomi pengalihan. Hal ini merupakan penatalaksanaan klasik perforasi dan jika digunakan mungkin dapat dianjurkan untuk menempatkan kolostomi serendah mungkin, lebih disukai dalam kolon desenden atau kolon sigmoideum untuk memungkinkan evakuasi melalui kolostomi dan mencegah peradangan lebih lanjut pada tempat abses. Abses juga didrainase serentak, terapi
suportif intensif diteruskan dan reseksi dapat dilakukan secara terencana 6-8 minggu kemudian dengan pemulihan kesinambungan. Akhirnya pembukaan kolostomi dilakukan sebagai operasi ketiga. Ini adalah terapi tradisional bagi diverticulitis perforate dengan peritonitis yang dianjurkan dimasa lampau. Pendekatan ini memerlukan tiga operasi dengan konvalensensi lama dan peningkatan mortalitas total. Biasanya kolon yang terlibat direseksi dengan drainasi abses dan kolostomi proksimal dengan penutupan kolon sigmoideum distal. Reanastomosis terencana pada kolon dilakukan 6-8 minggu kemudian. Reseksi segera dan anstomosis ujung ke ujung tanpa pembuatan kolostomi penglihatan telah dianjurkan dalam pasien terpilih dan merupakan tindakan yang dapat diterima. (Sabiston, 1994).
Penanganan diverticulitis Menurut Brunner (2016), penatalaksanaannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. Diverticulitis biasanya ditangani dengan rawat jalan, berupa pemberian medikasi dan diet, gejala ditangan dengan istirahat,analgesic, dan antispasmedik.
b. Pasien dianjurkan untuk minum cairan bening sampai infamasi mereda, kemudian berikan diet tinggi serat dan rendah lemak. Antibiotic diresepkan untuk 7-10 hari, dan laksatif pembentuk bungkal juga diresepkan.
c. Pasien yang menunjukkan gejala berat, dan terkadang pasien lansia,pasien yang mengalami gangguan imu, atau pasien yang menggunakan kortikosteroid harus dirawat inap. Untuk diistirahatkan dengan menghentikan asupan cairan, memberikan cairan IV dan melakukan pengisapan nasogastric. d. Antibiotic spectrum luas dan analgesic diresepkan, opioid
setelah gejala reda. Diet rendah serat harus diberikan sampai tanda-tanda infeksi berkurang.
e. Antipasmodik seperti propantelin bromide dan oksifensiklimina diresepkan.
BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian
a. Identitas klien
Nama :
-Umur : terjadi pada klien dengan usia 40tahun, tetapi lebih banyak pada klien yang berusi >60tahun
Jenis Kelamin: Laki-laki memiliki resiko yang sama
Suku :
-Alamat : Lebih banyak terjadi di Negara industri seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat
b. Riwayat kesehatan 1. Keluhan utama
Klien datang dengan keluhan nyeri didaerah abdomen. 2. Riwayat penyakit sekarang
Klien dengan gejala devertikulum biasanya merasakan nyeri hebat dibagian perut yang terinfeksi.
3. Riwayat penyakit dahulu
Memiliki riwayat nyeri perut sebelumnya. 4. Riwayat penyakit keluarga
Salah satu keluarga memiliki riwayat devertikular disease c. Pola fungsi kesehatan
1. Pola nutrisi dan metabolisme
Klien mengalami penurunan nafsu makan karena klien akan muntah bila makan.
2. Pola aktivitas.
Aktivitas klien akan terbatasi karena klien kehilangan sebagian energy akibat susah makan.
3. Pola istirahat dan tidur.
Terjadi perubahan pola tidur karena kadang klien merasakan nyeri.
4. Pola eliminasi
Seseorang yang mengalami divertikulum sebagian besar mengalami kesulitan dalam pola eliminasi.
5. Pola hubungan peran
Hubungan dan peran klien dalam keluarga mengalami perubahan karena adanya perubahan kenyamanan pada klien.
6. Pola penanggulan stress
Biasanya klien merasa cemas dan stress karena keadaan penyakitnya.
7. Pola tata nilai dan kepercayaan
Dalam hal beribadah klien sedikit terganggu dengan adanya nyeri pada abdomen.
8. Pola fungsi dan seksualitas
Reproduksi klien dalam batas normal d. Observasi dan pemeriksaan fsik
1. Keadaan umum
Kesadaran composmentis, tampak lemah 2. Tanda-tanda vital
Nadi : takikardi
Suhu : Hipertermi, jika terkena infeksi
TD : Hipertensi karena ansietas terhadap nyeri 3. Pemeriksaan kepala dan leher
Kepala : simetris, tidak terdapat luka, tidak ada benjolan, kulit kepala bersih.
Rambut : tidak ketombe
Muka : tampak sayu, tidak ada luka
Mulut : bibir agak kering, tidak bau, lidah tidak kotor. Leher : tidak ada benjolan, tidak ada pembesaran
kelenjar tiroid. 4. Pemeriksaan thorax
Bentuk normal tidak ada kelainan, paru suara dan nafas normal tidak ada suara tambahan,jantung teratur tidak ada suara tambahan
5. Pemeriksaan abdomen
Terjadi ketegangan pada abdomen sehingga sulit untuk BAB
6. Pemeriksaan ektremitas
Ekstremitas tidak ada kelainan 7. Pemeriksaan integumen
Kulit kering tidak ada kelainan 8. Pemeriksaan genetalia
Keadaan genetalia bersih 9. Pemeriksaan neurologi
System syaraf normal
Ds: klien mengeluh
Penyempitan kolon
sekunder akibat
penebalan segmen otot dan struktur.
Penurunan nafsu makan terhadap
nyeri ditandai
dengan hanya
makan 3-4 sendok.
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Ds: klien
Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri kronis yang berhubungan dengan penahanan/ penonjolan keluar pada mukosa dan sub mukosa disaluran gastrointestinal yang ditandai klien mengeluh nyeri pada perut, klien tampak gelisah.
2. Nyeri akut berhubungan dengan luka insisi (pembedahan) ditandai dengan klien Terdapat luka post operasi pada
daerah kuadran kiri bawah.
,Klien meringis kesakitan dan skala nyeri 5
3. Konstipasi yang berhubungan dengan penyempitan kolon sekunder akibat penebalan segmen otot dan struktur yang ditandai dengan klien mengeluh kembung pada abdomen, merasa mual, perut klien buncit, agak keras.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuhyang berhubungan dengan penurunan nafsu makan terhadap nyeri ditandai dengan hanya makan setengah porsi makan.
5. Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan klien merasakan nyeri pada abdomen ditandai pasien gelisah. 6. Ansietas yang berhubungan dengan nyeri yang tidak
kunjung sembuh yang ditandai klien tampak cemas.
7. Hipertermia yang berhubungan dengan dehidrasi yang ditandai dengan suhu tubuh 39oC, nadi cepat
3.3 Intervensi
Diagnosa Tujuan dan criteria hasil
1. osis optimal.
2. Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
teratur.
1. Mampu
mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu
mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
3. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali.
4. Berikan analgesic
tepat
5. waktu terutama saat nyeri hebat.
6. Evaluasi efektivitas analgesic tanda dan gejala.
Nyeri kronis NOC
Comfort level
kepuasan pasien terhadap
gangguan konsentrasi
3.Tidak ada
gangguan hubungan interpersonal
4. Tidak ada ekspresi menahan nyeri dan ungkapan secara verbal pasien penyebab nyeri
indicator untuk mencegah 2. Monitor bising usus.
3. Monitor feses
(frekuensi,
konsistensi, dan
volume)
4. Jelaskan etiologi dan rasionalisasi
tindakan terhadap pasien.
5. Identifkasi faktor penyebab
konstribusi konstipasi.
6. Dukung intake
cairan
7. Kolaborasikan pemberian laksatif. 8. Pantau tanda-tanda
dan gejala impaksi. 9. Memantau gerakan
usus, termasuk
konsistensi
frekuensi, bentuk, volume, dan warna. 10. Memantau bising
usus.
11. Konsultasikan
dengan dokter
tentang
penurunan/kenaikan
frekuensi bising
usus.
12. Pantau tanda gejala pecahnya
usus/peritonitis
13. Jelaskan etiologi
masalah dan
pemikiran untuk
tindakan pasien. 14. Mendorong
meningkatkan asupan cairan.
pasien/keluarga mencatat warna, volume, frekuensi, dan konsistensi tinja.
17. Anjurkan pasien
untuk diet tinggi serat.
18. Anjurkan pasien
pada penggunakan yang tepat dari obat pencahar.
peningkatan berat
badan sesuai
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
3. Anjurkan pasien
untuk meningkatkan protein dan vitamin
kebutuhan nutrisi.
pengecapan dan menelan.
6. Tidak terjadi
penurunan berat
badan yang
berarti.
C
4. Berikan substansi gula.
5. Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi
serat untuk
mencegah konstipasi.
6. Berikan makanan yang terpilih.
7. Monitor jumlah
nutrisi dan
kandungan kalori. 8. Berikan informasi
tentang kebutuhan nutrisi.
penurunan berat badan.
3. Monitor tipe dan
jumlah aktivitas
yang biasa
dilakukan.
anak atau orang tua selama makan.
5. Monitor lingkungan selama makan.
6. Monitor kulit kering
dan perubahan
pigmentasi.
7. Monitor turgor kulit 8. Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan mudah patah.
9. Monitor mual dan muntah.
10. Monitor kadar
albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht.
11. Monitor
pertumbuhan dan perkembangan.
12. Monitor pucat,
kemerahan dan
kekeringan jaringan konjungtiva.
13. Monitor kalori dan intake nutrisi.
14. Catat adanya
edema, hiperemik, hipertonik, papilla lidah dan cavitas oral.
15. Catat jika lidah
berwarna magenta,
2.Pola tidur, kualitas
dalam batas 1. Determinasi efek-efek
medikasi terhadap pola tidur
2. Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat.
3. Fasilitas untuk
mempertahankan
aktiftas sebelum
tidur.
4. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
5. Kolaborasi pemberian obat tidur.
6. Diskusikan dengan pasien dan keluarga tentang teknik tidur pasien
7. Monitor waktu makan dan minum dengan waktu tidur.
8. Monitor/catat
kebutuhan tidur
pasien setiap hari dan jam.
3. Koping dan menunjukkan
teknik untuk
ekpresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.
menyenangkan. 2. Nyatakan dengan
jelas harapan 4. Pahami perspektif
pasien terhadap
situasi stress.
5. Temani pasien untuk memberikan
keamanan dan
mengurangi rasa takut.
6. Lakukan back atau neck rub.
7. Dorong keluarga untuk menemani. 8. Dengarkan dengan
penuh perhatian. 9. Identifkasi tingkat
kecemasan
10. Bantu pasien untuk mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
11. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan,
ketakutan,persepsi. 12. Instrusikan pasien
menggunakan teknik
1. Suhu tubuh dalam rentang normal. 2. Nadi dan RR
rentang normal.
3. Tidak ada
perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
darah, nadi dan RR
5. Monitor tingkat 9. Berikan pengobatan
untuk mengobati penyakit demam 10. Selimuti pasien
11. Lakukan tapid
sponge 12. Kolaborasi
intravena.
13. Kompres pasien
pada lipat paha dan aksila.
14. Tingkatkan sirkulasi udara.
15. Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya
menggigil. Temperature regulation
1. Monitor suhu
minimal tiap 2 jam. 2. Rencanakan
monitoring suhu
secara kontinyu. 3. Monitor TD, nadi dan
RR
4. Monitor warna dan suhu kulit.
5. Monitor tanda
hipertermi dan
hipotermi.
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi.
7. Selimuti pasien
untuk mencegah hilangnya
kehangatan tubuh. 8. Ajarkan pada pasien
cara mencegah
keletihan akibat panas.
9. Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan kemungkinan efek negative dari kedinginan.
10. Beritahukan tentang indikasi terjadinya
keletihan dan
penanganan
emergency yang diperlukan.
11. Berikan antipiretik Vital sign Monitoring 1. Monitor TD,nadi,
suhu, dan RR
2. Catat adanya
fuktuasi tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk dan berdiri. 4. Auskultasi TD pada
kedua lengan dan bandingkan
5. Monitor TD,nadi, RR sebelum selama dan setelah aktivitas.
6. Monitor kualitas
7. Monitor frekuensi
dan irama
pernafasan.
8. Monitor suara paru.
9. Monitor pola
pernafasan abnormal
10. Monitor suhu,
warna, kelembapan kulit.
11. Monitor sianosis perifer.
12. Monitor adanya
cushing triad
(tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik) 13. Identifkasi
penyebab dari
perubahan vital sign
3.4 Implementasi
Diagnose Implementasi
Nyeri akut Pain management
1. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
2. Mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
3. Menggunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien.
4. Mengkaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.
5. Mengevaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
6. Mengevaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan control nyeri masa lampau.
7. Membantu pasin dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan.
8. Mengkontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, dan kebisingan.
9. Mengurangi faktor presipitasi nyeri.
10. Memilih dan melakukan penanganan nyeri
(farmakologi,non farmakologi dan
interpersonal)
11. Mengkaji tipe dan sumber nyeri untuk menentuka intervensi.
12. Mengajarkan teknik non farmakologi.
13. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri.
14. Mengevaluasikeefektifan control nyeri. 15. Meningkatkan istirahat.
16. Memonitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri.
Analgesic administration.
1. Menentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajad nyeri sebelum pemberian obat.
lebih dari satu.
3. Menentukan pilihan anlgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri.
4. Menentukan analgesic pilihan, rute pemberian dan dosis optimal.
5. Memilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri teratur.
6. Memonitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesic pertama kali.
7. Memberikan analgesic tepat waktu terutama saat nyeri hebat.
8. Mengevaluasi efektivitas analgesic tanda dan gejala.
Nyeri kronis 1. manajemen nyeri klien
2. Memonitor kepuasan pasien terhadap manajemen nyeri
3. Mingkatkan istirahat dan tidur yang adekuat pada klien
4. Mengelola anti analgetik
5. Menjelaskan pada pasien penyebab nyeri 6. Melakukan tehnik nonfarmakologis (relaksasi, masase punggung)
Konstipasi Konstipasi/impaction management
1. Memonitor tanda dan gejala konstipasi. 2. Memonitor bising usus.
3. Memonitor feses (frekuensi, konsistensi, dan volume)
4. Menjelaskan etiologi dan rasionalisasi tindakan terhadap pasien.
5. Mengidentifkasi faktor penyebab
konstribusi konstipasi.
6. Mendukung intake cairan
7. Mengkolaborasikan pemberian laksatif. 8. Memantau tanda-tanda dan gejala
impaksi.
9. Memantau gerakan usus, termasuk konsistensi frekuensi, bentuk, volume, dan warna.
10. Memantau bising usus.
11. Mengkonsultasikan dengan dokter tentang penurunan/kenaikan frekuensi bising usus. 12. Memantau tanda gejala pecahnya
usus/peritonitis
13. Menjelaskan etiologi masalah dan pemikiran untuktindakan pasien.
14. Mendorong meningkatkan asupan cairan. 15. Mengevaluasi profl obat untuk efek
samping gastrointestinal.
16. Menganjurkan pasien/keluarga mencatat warna, volume, frekuensi, dan konsistensi tinja.
17. Menganjurkan pasien untuk diet tinggi serat.
18. Menganjurkan pasien pada penggunakan yang tepat dari obat pencahar.
19. Menganjurkan pasien pada hubungan asupan diet, olahraga, dan cairan sembelit/ impaksi.
20. Menimbang BB pasien secara teratur. Keseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Nutrision management
1. Mengkaji adanya alergi makanan.
yang dibutuhkan pasien.
3. Menganjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C.
4. Memberikan substansi gula.
5. Meyakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi.
6. Memberikan makanan yang terpilih.
7. Memonitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
8. Memberikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.
9. Mengkaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
Nutrision monitoring
1. Menimbang BB pasien dalam batas normal.
2. Memonitor adanya penurunan berat badan.
3. Memonitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan.
4. Memonitor interaksi anak atau orang tua selama makan.
5. Memonitor lingkungan selama makan. 6. Memonitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi.
7. Memonitor turgor kulit
8. Memonitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah.
9. Memonitor mual dan muntah.
10. Memonitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht.
11. Memonitor pertumbuhan dan perkembangan.
12. Memonitor pucat, kemerahan dan kekeringan jaringan konjungtiva.
13. Memonitor kalori dan intake nutrisi.
14. Mencatat adanya edema, hiperemik, hipertonik, papilla lidah dan cavitas oral. 15. Mencatat jika lidah berwarna magenta,
scarlet. Gangguan pola
tidur
Sleep Enhancement
1. Mendeterminasi efek-efek medikasi terhadap pola tidur
2. Menjelaskan pentingnya tidur yang adekuat.
3. Memfasilitasi untuk mempertahankan aktiftas sebelum tidur.
4. Menciptakan lingkungan yang nyaman. 5. Mengkolaborasikan pemberian obat tidur. 6. Mendiskusikan dengan pasien dan
keluarga tentang teknik tidur pasien
7. Memonitor waktu makan dan minum dengan waktu tidur.
8. Memonitor/mencatat kebutuhan tidur pasien setiap hari dan jam.
Ansietas 1. Mengggunakan pendekatan yang
menyenangkan.
2. Menyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien.
3. Menjelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur
5. Menemani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi rasa takut. 6. Melakukan back atau neck rub.
7. Mendorong keluarga untuk menemani. 8. Mendengarkan dengan penuh perhatian. 9. Mengidentifkasi tingkat kecemasan
10. Membantu pasien untuk mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
11. Mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan,persepsi.
12. Menginstrusikan pasien menggunakan teknik relaksasi.
13. Memberikan obat untuk mengurangi kecemasan.
Hipertermia Fever treatment
1. Memonitor suhu sesering mungkin. 2. Memonitor IWL.
3. Memonitor warna dan suhu kulit.
4. Memonitor tekanan darah, nadi dan RR 5. Memonitor tingkat penurunan kesadaran. 6. Memonitor WBC, Hb, dan Htc.
7. Memonitor intake dan output. 8. Memberikan antipiretik.
9. Memberikan pengobatan untuk mengobati penyakit demam.
10. Menyelimuti pasien. 11. Melakukan tapid sponge.
12. Mengkolaborasikan pemberian cairan intravena.
13. Mengkompres pasien pada lipat paha dan aksila.
14. Meningkatkan sirkulasi udara.
15. Memberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil.
Temperature regulation
1. Memonitor suhu minimal tiap 2 jam.
2. Merencanakan monitoring suhu secara kontinyu.
3. Memonitor TD, nadi dan RR. 4. Memonitor warna dan suhu kulit.
5. Memonitor tanda hipertermi dan hipotermi. 6. Meningkatkan intake cairan dan nutrisi. 7. Menyelimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh.
8. Mengajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas.
9. Mediskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan kemungkinan efek negative dari kedinginan.
10. Memberitahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan penanganan emergency yang diperlukan.
11. Memberikan antipiretik Vital sign Monitoring
1. Memonitor TD,nadi, suhu, dan RR
2. Mencatat adanya fuktuasi tekanan darah 3. Memonitor VS saat pasien berbaring,
duduk dan berdiri.
4. Melakukan auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
5. Memonitor TD,nadi, RR sebelum selama dan setelah aktivitas.
6. Memonitor kualitas nadi.
pernafasan.
8. Memonitor suara paru.
9. Memonitor pola pernafasan abnormal. 10.Memonitor suhu, warna, kelembapan kulit. 11.Memonitor sianosis perifer.
12.Memonitor adanya cushing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)
13.Mengidentifkasi penyebab dari perubahan vital sign
3.5 Evaluasi
Data Evaluasi
Nyeri akut S : klien mengatakan nyeri di abdomen sedikit berkurang
O : Ekspresi wajah tenang A : Masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi
Nyeri kronis S : klien mengatakan nyeri di abdomen sedikit berkurang
P: nyeri karena adanya penonjolan Q : seperti ditusuk-tusuk
R : kuadran kiri bawah S : skala nyeri 5
T : hilang timbul O : Ekspresi wajah tenang A : Masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi
Konstipasi S : klien mengatakan sudah lancer BAB O : feses lunak
A : masalah teratasi
P : Anjurkan makan diet tinggi serat
Ketidakseimba S : klien mengatakan sudah nafsu makan dan
ngan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
tidak mual.
O : Porsi makan penuh dihabiskan A : Masalah teratasi
P : anjurkan tetap makan meskipun mual. Gangguan pola
tidur
S : Klien mengatakan sudah bisa tidur O : Klien tidur
A : Masalah teratasi P : Anjurkan tetap rileks
Ansietas S : Klien mengatakan sudah tidak gelisah
O : Klien tampak tenang A : Masalah teratasi P : Anjurkan tetap rileks
Hipertermia S : klien mengatakan suhu tidak panas lagi O : Suhu tubuh normal
A : Masalah teratasi
BAB 4. PENUTUP 4. 1 Kesimpulan
Divertikula merupakan penonjolan berbentuk kantung dari dinding kolon dengan besar bervariasi dari beberapa millimeter sampai beberapa sentimeter. Divertikula biasanya merupakan manifestasi motalitas yang abnormal. Divertikulum dapat terjadi di mana saja sepanjang saluran gastrointestinal. Biasanya penyakit ini disebakan karena klien mengkonsumsi rendah serat. Penyakit divertikula ini sering terjadi di amerika serikat,mayoritas penyakit divertikulaini menyerang pada usia lansia >80 tahun. 4. 2 Saran
Memperhatikan nutrisi yang kita konsumsi sangatlah penting, agar system pencernaan kita tidak mengalami gangguan seperti penyakit divertikula. Oleh karena itu, sebelum makan kita harus memperhatikan kandungan dalam makanan. Upaya yang dapat kita lakukan untuk menghindari penyakit divertikula adalah mengkonsumsi makanan yang tinggi serat, terutama bagi lanjut usia karena penyakit ini mudah menyerang kepada usia lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner, Suddarth.2016. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC
Carpenito – moyet,L.J. 2004. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC. Corwin J. Elisabet.2004.patofisiologi untuk perawat.EGC,Jakarta.
Doenges, Marilyn E, dkk.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, 3 th ed. Jakarta : EGC. Pierce,A,.Grace,.Neil R. Borley,.2006. At a Glance Ilmu Bedah.Jakarta : EGC
Tambayong, Jan,2000.Patofisiologi untuk Keperawatan.Jakarta:EGC Sabiston, & David. 2000. Buku Teks Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara Sabiston. 1994. Buku Ajar Bedah. Jakarta: EGC
Schwartz. 2007. Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Sjamsuhidajat. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC