BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Sejak jaman dahulu, manusia sangat mengandalkan lingkungan
sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya untuk makan, tempat
berteduh, pakaian, obat, pupuk, parfum, dan bahkan untuk kecantikan
dapat diperoleh dari lingkungan. Sehingga kekayaan alam di sekitar
manusia sebenarnya sedemikian rupa sangat bermanfaat dan belum
sepenuhnya digali, dimanfaatkan, atau bahkan dikembangkan. Bangsa
Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat
obat sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi masalah kesehatan.
Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat berdasar pada
pengalaman dan ketrampilan yang secara turun temurun telah diwariskan
dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia
telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu
terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada
(Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon
Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang Dalem dan relief candi Borobudur
yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan
tumbuhan sebagai bahan bakunya. Sukandar E Y ( 21 :2006)
Obat tradisional (herbal) telah diterima secara luas di hampir
seluruh Negara di dunia. Menurut World Health Organization (WHO),
negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin menggunakan obat
terima. Bahkan di Afrika, sebanyak 80% dari populasi menggunakan obat
herbal untuk pengobatan primer (WHO, 2003). Faktor pendorong
terjadinya peningkatan penggunaan obat tradisional di negara maju
adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi
penyakit kronik meningkat, adanya kegagalan penggunaan obat modern
untuk penyakit tertentu diantaranya kanker, serta semakin luas akses
informasi mengenai obat tradisional di seluruh dunia. Lusia Oktora Kumalasari (2 : 2006)
WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk
herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan
pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif
dan kanker. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan
keamanan dan khasiat dari obat tradisional. Penggunaan obat tradisional
secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat modern. Hal
ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif
lebih sedikit dari pada obat modern.
WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk obat
herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan
pengobatan penyakit, terutama untuk kronis, penyakit degeneratif dan
kanker. Hal ini menunjukan dukungan WHO untuk back to nature yang
dalam hal yang lebih menguntungkan. Untuk meningkatkan keselektifan
pengobatan dan mengurangi pengaruh musim dan tempat asal tanaman
terhadap efek, serta lebih dalam memudahkan standarisasi bahan obat
Indonesia dari tahun ke tahun terjadi peningkatan produksi obat
tradisional. Menurut data Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM),
sampai tahun 2007 terdapat 1.012 industri obat tradisional yang memiliki
izin usaha industri yang terdiri dari 105 industri berskala besar dan 907
industri berskala kecil. Karena banyaknya variasi sediaan bahan alam,
maka untuk memudahkan pengawasan dan perizinan, maka badan POM
mengelompokan dalam sediaan jamu, sediaan herbal terstandar dan
sediaan fitofarmaka. Persyaratan ketiga sediaan berbeda yaitu untuk jamu
pemakaiannya secara empirik berdasarkan pengalaman, sediaan herbal
terstandar bahan bakunya harus distandarisasi dan sudah diuji
farmakologi secara eksperimental, sedangkan sediaan fitofarmaka sama
dengan obat modern bahan bakunya harus distandarisasi dan harus
melalui uji klinik.( http://www.dinkesbonebolango.org)
Pengertian obat tradisional berdasarkan Peraturan Menteri
kesehatan Nomor 246/Menkes/Per/V/1990 Pasal 1 menyebutkan bahwa : “Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahan-bahan tersebut, yang secara traditional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman”
Menurut penelitian masa kini, meskipun obat-obatan tradisional
yang pengolahannya masih sederhana (tradisional) dan digunakan secara
turun-temurun berdasarkan resep nenek moyang adat-istiadat,
kepercayaan, atau kebiasaan setempat, memang bermanfaat bagi
kesehatan dan kini digencarkan penggunaannya karena lebih mudah
dijangkau masyarakat, baik harga maupun ketersediaannya. Obat
penelitian tidak terlalu menyebabkab efek samping, karena masih bisa
dicerna oleh tubuh. Beberapa perusahaan mengolah obat-obatan
tradisional yang dimodifikasi lebih lanjut. Bagian dari Obat tradisional yang
bisa dimanfaatkan adalah akar, rimpang, batang, buah, daun dan bunga.
Bentuk obat tradisional yang banyak dijual dipasar dalam bentuk kapsul,
serbuk, cair, simplisia dan tablet.
Khasiat alamiah dan kemurnian obat-obatan tradisional seringkali
“dinodai” oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab terutama
produsen obat tradisional yang hanya mencari keuntungan finansial saja
tanpa memperhatikan kemurnian dan resiko dari kandungan obat
tradisional. Banyak dari para produsen dengan sengaja mencampur
kandungan herbal dari obat tradisional dengan obat modern yang secara
kimiawi jika dosisnya tidak tepat akan berbahaya.
Bukan yang pertama kali Badan Pangan Obat dan Makanan
(BPOM) menarik obat tradisional dari peredaran. Seperti halnya yang
baru-baru ini terjadi, sebanyak 22 macam obat tradisional dan suplemen
berkhasiat menambah stamina pria ditarik dari peredaran. Obat-obat itu
mengandung bahan kimia obat Sildenafil sitrat dan Tadalafil sitrat. Bahan
kimia obat keras itu dapat membahayakan kesehatan bahkan dapat
mematikan jika digunakan tanpa resep dokter. Efek Sildenafil yang bisa
terjadi yaitu sakit kepala, dispepsia, mual, nyeri perut, gangguan
penglihatan, radang hidung, nyeri dada hingga kematian. Sedangkan
pada Tadalafil dapat menyebabkan nyeri otot, nyeri punggung, kehilangan
obat-obatan yang ditarik dari peredaran tersebut antara lain: Blue Moon,
Caligula kapsul, Cobra X kapsul, Hwang-Ni-Shen-Dan, kuat tahan lama
serbuk, Lak-Gao-69, Alvaret, Macagold, Manovel, Okura, Otot Madu,
Ramstamin, Sanomale, Sari Madu kapsul, Samson,
Sunny-Sang-Rang-Wang-Ing-Ying-Din, dan pil Sunny kapsul, Teraza, Top One kapsul,
Tripoten, Urat Perkasa kapsul dan Dumex. Saat ini BPOM telah
mengumpulkan 157.749 kotak obat tradisional dan suplemen makanan.
Secara nasional jmlahnya telah mencapai 208.091 kotal atau 1.095
bungkus. (www.tempointeraktif.com)
Seperti diketahui selama ini mayoritas obat-obatan tradisional yang
ditarik dari peredaran adalah obat-obatan tradisional dari negara lain yang
dalam hal ini adalah dari Cina. Produsen yang mengimpor produk obat
tradisional dari Cina tersebut jarang sekali melakukan penyaduran bahasa
yang terdapat dalam label obat tradisional dari Cina tersebut. Akibatnya
banyak konsumen hanya mengetahui informasi mengenai khasiat dan
penggunaan obat tersebut hanya dari penjualnya saja tanpa bisa
memahami arti yang tertulis dari label obat-obatan tersebut karena label
ditulis dalam bahasa Cina. Padahal dalam Pasal 15 Peraturan Pemerintah
Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, disebutkan
bahwa: “Keterangan pada Label, ditulis atau dicetak dengan
menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf Latin.”
Kewajiban penulisan label dalam bahasa Indonesia adalah salah
yang diamanatkan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) :
“Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen”
Pemerintah dalam waktu dekat ini akan mewajibkan setiap produk
impor untuk menggunakan label berbahasa Indonesia. Aturan tersebut
dimaksudkan untuk menekan tingginya penyelundupan barang impor.
Label itu seperti data asal produk, perusahaan importir dan menggunakan
bahasa Indonesia. Kebijakan mengenai label itu arus diterapkan agar
jangan sampai produk dalam negeri terancam atau kalah bersaing dengan
banyaknya produk impor ilegal.1
Banyaknya pangan atau yang dalam hal ini adalah obat-obatan
tradisional yang beredar di masyarakat tanpa mengindahkan ketentuan
tentang pencantuman label dinilai sudah meresahkan. Perdagangan
pangan yang kedaluwarsa, pemakaian bahan pewarna yang tidak
diperuntukkan bagi pangan atau perbuatan-perbuatan lain yang akibatnya
sangat merugikan masyarakat, bahkan dapat mengancam kesehatan dan
keselamatan jiwa manusia, terutama bagi anak-anak pada umumnya
dilakukan melalui penipuan pada label pangan atau melalui iklan. Label
yang tidak jujur atau menyesatkan dapat berakibat buruk terhadap
perkembangan kesehatan manusia. Dalam hubungannya dengan
masalah label dan iklan pangan maka masyarakat perlu memperoleh
informasi yang benar, jelas dan lengkap baik mengenai kuantitas, isi,
kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukannya mengenai pangan yang
beredar di pasaran. Informasi pada label pangan sangat diperlukan bagi
masyarakat agar supaya masing-masing individu secara tepat dapat
menentukan pilihan sebelum membeli dan atau mengkonsumsi pangan.
Tanpa adanya informasi yang jelas maka kecurangan-kecurangan dapat
terjadi. Perdagangan obat tradisional yang jujur dan bertanggungjawab
bukan semata-mata untuk melindungi kepentingan masyarakat yang
mengkonsumsi saja. Melalui pengaturan yang tepat berikut sanksi-sanksi
hukum yang berat, diharapkan setiap orang yang memproduksi
obat-obatan tradisional atau memasukkan obat-obat-obatan tradisional ke dalam
wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dapat memperoleh perlindungan
dan jaminan kepastian hukum. Persaingan dalam perdagangan
obat-obatan tradisional diatur supaya pihak yang memproduksi obat-obat-obatan
tradisional tidak menyesatkan masyarakat melalui pencantuman label
yang memuat keterangan mengenai obat-obatan tradisional dengan jujur. Adanya kewajibkan agar label ditulis dengan menggunakan bahasa
Indonesia, angka Arab dan atau huruf Latin berlaku mengikat tidak hanya
terhadap obat-obatan tradisional yang diproduksi di dalam negeri, namun
berlaku juga terhadap obat-obatan tradisional yang dimasukkan ke dalam
wilayah Indonesia untuk diperdagangkan. Selain itu pencantuman label
”halal” juga wajib dilakukan dikarenakan 80 persen penduduk Indonesia
adalah Muslim. Tujuan pengaturan ini dimaksudkan agar informasi tentang
pangan khususnya obat-obatan tradisional prosuksi pabrik dapat dipahami
tidak ada keraguan bahwa di dalam obat tradisional tersebut mengandung
bahan-bahan yang haram dimakan bagi umat muslim.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka Skripsi yang
berjudul : “Tinjauan yuridis terhadap Perlindungan Konsumen atas beredarnya Obat Tradisional yang Tidak Mencantumkan Label Halal dan Label Berbahasa Indonesia pada Kemasannya”, akan dibatasi pada permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah tanggung jawab pelaku usaha obat tradisional
impor dengan tidak dicantumkannya label halal dan label berbahasa
Indonesia pada obat
2. Bagaimanakah upaya hukum dari konsumen yang dirugikan akibat
tidak dicantumkannya label berbahasa Indonesia pada kemasan obat
tradisional impor ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimanakah tanggung jawab pelaku usaha
obat tradisional impor dengan tidak dicantumkannya label halal dan
label berbahasa Indonesia pada obat
2. Untuk mengetahui bagaimanakah upaya hukum dari konsumen
yang dirugikan akibat tidak dicantumkannya label berbahasa Indonesia
pada kemasan obat tradisional.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini pada dasarnya diharapkan dapat berguna dan
bermanfaat untuk hal-hal sebagai berikut: 1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangan pemikiran
yang tanggungjawab pelaku usaha atas impor obat tradisional yang
dilakukannya
2. Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat meberikan sumbangan pemikiran
khususnya kepada pihak-pihak yang dirugikan akibat tidak
dicantumkannya label halal dan label berbahasa Indonesia pada
Produknya.
E. Kerangka Pemikiran
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu
unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan
cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif,
partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan
sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan
dan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional. Setiap hal
yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada
masyarakat Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi yang
besar bagi negara, dan setiap upaya peningkatan derajat
kesehatan masyarakat juga berarti investasi bagi pembangunan
negara.
Upaya pembangunan harus dilandasi dengan wawasan kesehatan
masyarakat dan merupakan tanggung jawab semua pihak baik
Pemerintah maupun masyarakat.
Zaman yang semakin modern akan membawa dampak pula bagi
kemajuan teknologi. Dukungan kemajuan teknologi informasi dalam
perdagangan internasional memudahkan suatu teknologi diakses dari
suatu negara kepada negara-negara lainnya. Hal tersebut membawa
kemajuan di beberapa bidang, salah satunya kemajuan di bidang
kesehatan khususnya teknologi dalam bidang pengobatan. Kemajuan
teknologi juga membawa perubahan-perubahan besar bagi bidang
pengobatan di Indonesia. Perubahan-perubahan tersebut tampak dengan
meningkatnya industri farmasi, obat tradisional, makanan, kosmetika dan
alat-alat kesehatan di Indonesia.2 Penggunaan teknologi yang semakin
modern membuat industri farmasi kini mampu untuk memproduksi suatu
produk yang mencakup skala besar.
Kemajuan ilmu pengobatan yang semakin modern ternyata tidak
mematikan pengobatan tradisional yang lebih dulu dikenal. Menurut
Deputi II Bidang Obat Tradisional Suplemen Makanan dan Kosmetik
BPOM Ruslan Aspan, dalam setahun nilai pasar obat tradisional industri
obat tradisional adalah sebesar Rp 2 triliun setahun.3
Obat tradisional sebagai produk yang sudah dikenal masyarakat
Indonesia sejak masa lampau juga telah menjadi obat alternatif yang
diyakini akan khasiatnya. Selain itu obat tradisional juga dianggap tidak
mempunyai efek samping karena obat tradisional hanya mengandung
2 Anonim, “Konsumen Belum Sadari Hak dan Kewajibannya” (On-line), tersedia di
WWW: http://www.balipost.co.id (Juni 2005).
3 Anonim, “Obat Tradisional Dan Suplemen Kesehatan Perlu Standarisasi” (On-line),
bahan-bahan dari alam yang sudah diwariskan secara turun temurun. Hal
tersebut tampak dari jumlah masyarakat yang memanfaatkan pengobatan
tradisional tetap tinggi. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun
2001, 57,7% penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri, 31,7%
menggunakan obat tradisional, dan 9,8% memilih cara pengobatan
tradisional.4
Sejalan dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi,
obat tradisional tidak berbentuk sederhana lagi. Bentuk obat tradisional
saat ini hampir menyerupai obat–obat modern, obat tradisional juga
berbentuk tablet atau kapsul. Selain dari bentuknya, obat tradisional juga
mengalami peningkatan dalam skala penggunaannya. Mula-mula obat
tradisional hanya digunakan bagi kalangan yang terbatas, misalnya untuk
pribadi dan keluarga saja. Namun, akhir-akhir ini penggunaan obat
tradisional sudah mencakup sebagian besar masyarakat. Berdasarkan
pengamatan penulis sehari-hari, industri obat tradisional semakin marak
dan semakin banyak produk obat tradisional yang beredar di pasaran,
terutama obat tradisional impor. Maraknya industri obat tradisional
menyebabkan terjadinya persaingan antara pelaku usaha obat tradisional.
Hal yang diutamakan sebagian besar para pelaku usaha obat tradisional
adalah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan cara
memperbanyak hasil penjualan produk mereka. Untuk memperbanyak
hasil penjualan, pelaku usaha menjanjikan khasiat yang cepat pada
produk-produk yang dijual. Agar diperoleh khasiat yang lebih cepat maka
4 Anonim, “Pengobatan Obat Tradisional Tetap Diminati Masyarakat” (On-line), tersedia
sebagian besar pelaku usaha mencampur obat tradisional tersebut
dengan bahan lain yang sebenanya diharamkan menurut agama Islam.
Misalnya pencampuran dengan enzim babi, atau hewan-hewan lain yang
diharamkan untuk dikonsumsi. Banyak konsumen tidak mengetahui apa
isi kandungan dari obat tradisional yang dikonsumsinya dikarenakan tidak
adanya label halal dan tidak ditulisnya label pada obat tradisional tersebut
dengan label bahasa Indonesia. Padahal zat-zat tersebut terkadang justru
bisa merugikan kesehatan.
Kesehatan adalah sesuatu yang berharga, menurut Pasal 1 UU NO
32 Tahun 2009 tentang Kesehatan, disebutkan bahwa :”Kesehatan
adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial
yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan
ekonomis.”
Pencegahan timbulnya penyakit, seharusnya menjadi kewajiban
dari pelaku usaha khususnya dalam industri obat tradisional. Dalam hal ini
sudah ada regulasi yang jelas mengenai bagaimana seharnya standar
produk yang harus ada dalam setiap produksi. Aturan tersebut salah
satunya terdapat dalam Pasal 111 UU Kesahatan yang berbunyi :
(1) Makanan dan minuman yang dipergunakan untuk masyarakat harus
didasarkan pada standar dan/atau persyaratan kesehatan.
(2) Makanan dan minuman hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin
edar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Setiap makanan dan minuman yang dikemas wajib diberi tanda atau
label yang berisi: a. Nama produk;
d. Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukan
makanan dan minuman kedalam wilayah Indonesia; dan e. Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa.
(4) Pemberian tanda atau label sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dilakukan secara benar dan akurat.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemberian label
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan.
(6) Makanan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan standar,
persyaratan kesehatan, dan/atau membahayakan kesehatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk diedarkan, ditarik
dari peredaran, dicabut izin edar dan disita untuk dimusnahkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Konsumen di Indonesia masih cenderung pasif meskipun sudah
ada Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen yang mengatur tentang hak-hak konsumen, kewajiban pelaku
usaha serta memberikan bentuk-bentuk perlindungan hukum yang
diberikan kepada konsumen. Konsumen masih belum sepenuhnya
menyadari hak-hak mereka, sedangkan pelaku usaha juga belum
sepenuhnya memenuhi kewajibannya. Kondisi tersebut cenderung untuk
mendorong lahirnya berbagai bentuk pelanggaran pelaku usaha terhadap
hak konsumen namun pelaku usaha yang bersangkutan tidak
memperoleh sanksi hukum yang mengikat.5
5 Anonim, “Konsumen Belum Sadari Hak dan Kewajibannya” (On-line), tersedia di
Oleh karena itu sebagai grand thoery atau teori utama6 dalam
penelitian ini adalah didasatkan pada pendapat AZ nasution :
hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum
konsumen yang memuat asas-asas yang bersifat mengatur, dan
juga mengandung sifat melindungi kepentingan konsumen.7
Berdasarkan teori tersebut diketahui bahwa kegunaan asas-asas
tersebut di atas pada hakekatnya untuk memberikan kepastian hukum
dalam penggunaan dan pemanfaatan produk yang baik dan aman oleh
konsumen dan keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang
mengatur hubungan dan masalah antara berbagai pihak satu sama lain
berkaitan dengan barang dan jasa konsumen, di dalam pergaulan hidup. Sedangkan sebagai middle theory atau teori yang menghubungkan
grand theory dan applied theory8 adalah pendapat dari mantan Presiden
John F Kennedy pernah mengemukakan mengenai empat dasar hak
konsumen, yaitu :
1. Hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety) 2. Hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed) 3. Hak untuk memilih (the right to choose)
4. Hak untuk didengar (the right to be heard)9
Teori tersebut merupakan gambaran yang jelas bahwa dalam suatu
perlindungan konsumen, didalamnya terdapat hak untuk mendapatkan
informasi yang benar yang dikaitkan dalam penelitian ini adalah adanya
6 George Junus Aditjondro, Theory Testing Dan Theory Generating, Dua Jalur Penelitian Sosial Yang Halal Dan Sah, Handout No. 3: Pendekatan Theory Before dan Theory After, Jakarta, 2007, hlm. 1
7 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum tentang Perlindungan Konsumen, Gramedia
Pusaka Utama, Jakarta, 2000, Hal.4.
8 George Junus Aditjondro, Op.Cit., hlm. 2
pencantuman label halal dan label dengan berbahasa Indonesia agar
masyarakat tidak tersesat dalam mencari informasi produk tersebut.
Sedangkan sebagai applied theori atau teori yang secara aplikatif di
gunakan untuk memecahkan masalah dalam penelitian10 adalah Teori
menurut Sidharta mengenai prinsip tanggung jawab yakni :
1. Kesalahan (liability based onfault) prinsip tanggung
jawab berdasarkan unsur kesalahan adalah merupakan prinsip
yang cukup umum berlaku dalam hukum perdata khususnya
pasal 1356 KUH Perdata yang menyatakan : Tiap perbuatan
melanggar hukum yang membawa kerugian pada seseorang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Pasal 1336 KUH
Perdata yang secara tegas menyalakan lagi setiap orang
bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang
disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya. Kemudian
ditegaskan lagi 1367 KUH Perdata, seorang tidak saja
bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan untuk
orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh
barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. Prinsip tersebut
dipegang secara teguh yang menyatakan seseorang baru dapat
dimintai pertanggungjawaban secara hukum, jika ada unsur
kesalahan yang dilakukannya. Pada pasal 1365 KUH Perdata
yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan
hukum.
2. Praduga selalu bertanggung jawab (presumption of liability),
yang artinya prinsip ini menyatakan, tergugat selalu
bertanggung jawab sampai ia dapat membuktikan bahwa ia
tidak bersalah. Jadi, beban pembuktian ada pada si tergugat
(pelaku usaha dan atau pelaku periklanan).
3. Praduga selalu tidak bertanggung jawab (presumption of nonliability),
yang dimaksud dalam prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip yang
kedua. Prinsip untuk tidak bertanggung jawab hanya dikenal dalam
lingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas, dan pembatasan
demikian biasanya secara common sence dapat dibenarkan.
4. Tanggung jawab mutlak (strict liability). Arti dari prinsip tanggung
mutlak ini dapat saja si tergugat yang dimintai
pertanggungjawaban bukan merupakan pelaku langsung kesalahan
tersebut.
5. Pembatasan tanggung jawab (limitation of liability), yang berarti prinsip
tanggung jawab dengan pembatasan sangat disenagi olah
pelaku untuk dicantumkan sub klausula eksonerasi dalam
perjanjian yang dibuat.11
Teori tersebut digunakan karena tanggung jawab hukum merupakan
bagian dan konsep tewajiban hukum. Selain mengemban kewajiban yang
harus dilaksanakan terhadap konsumen, pelaku usaha juga mengemban tanggung jawab terhadap konsumen yang menggunakan dan
11 Miru Ahmadi dan Yudo Sutarman, Hukum Perlindungan Konsumen, Raja Grafindo
memanfaatkan barang dan atau jasa yang dijual. Tanggung jawab yang
diemban pelaku usaha adalah tanggung jawab untuk memberikan ganti
rugi kerusakan, pencemaran dan/ atau kerugian yang diderita oleh
konsumen sebagai akibat dari mengkonsumsi barang dan/ atau jasa yang
dihasilkan atau diperdagangkan.
F. Metode Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam
penelitian skripsi ini, karena metode penelitian dapat menentukan
langkah-langkah dari suatu penulisan, baik mengenai pendekatan
masalah, teknik pengumpulan data dan sumber data maupun analisis
datanya. Oleh karena itu, demi mencapai tujuan dari penulisan ini, maka
metode penelitian yang dipakai sebagai dasar penulisan ini, yaitu sebagai
berikut :
1. Pendekatan Masalah
Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian skripsi ini
adalah normatif atau disebut juga penelitian hukum doctrinal.12
Pendekatan yuridis normatif mempunyai pengertian bahwa penelitian
ini didasarkan pada peraturan hukum yang berlaku dan berkaitan erat
dengan hukum perlindungan konsumen.
2. Sumber data dalam penulisan ini hanya menggerakkan sumber data
sekunder karena penelitian hukum ini merupakan penelitian yang
bersifat normatif. Penggunaan data sekunder tersebut dibagi menjadi
12 Amirudin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT. Rajagrafindo Persada, 2004,
beberapa bahan hukum yaitu bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder, dan bahan hukum tersier yang diuraikan sebagai berikut :
a. Bahan Hukum primer
Bahan hukum primer adalah bahan-bahan hukum yang mengikat.13
Bahan hukum primer yang digunakan adalah :
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUH Pidana);
- Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
- Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
- Peraturan BPOM
b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penulisan skripsi ini
adalah bahan hukum yang dapat memberikan penjelasan
mengenai bahan hukum primer yaitu berupa literatur-literatur.14
c. Bahan hukum tersier adalah bahan yang memberikan petunjuk
maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan
hukum sekunder.15 Bahan hukum tersier yang digunakan adalah
Kamus bahasa Indonesia dan Kamus hukum 3. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Penulisan ini dilakukan dengan studi pustaka yaitu dengan cara
membaca buku-buku dan mempelajari literatur-literatur yang
selanjutnya diolah dan dirumuskan secara sistematis sesuai dengan
masing-masing pokok bahasannya.
4. Analisis Bahan Hukum
13 Soerjono Soekanto dan Srimamudji, Penelitian Hukum Normatif, Cet. V,
IND-HILL-CO, Jakarta, 2001, hlm. 13.
Dalam membahas permasalahan yang ada penulis menggunakan
analisa data deduktif, artinya penerapan dari hal yang umum menuju
hal yang khusus
G. Sistematika Penulisan
Pada penelitian ini, penulis membagi pembahasan ke dalam lima
bab, dimana setiap bab dibagi atas beberapa sub-bab. Sistematika
penulisannya secara singkat adalah sebagai berikut:
BAB I Dalam bab 1 ini akan dijelaskan mengenai latar belakang,
identifikasi masalah serta yang terpenting mengenai
kerangka pemikiran dan sistematika penulisan
BAB II Bab ini akan dipaparkan mengenai Tinjauan Umum
Perlindungan Konsumen yang memuat peraturan-peraturan
teori-teori yang menunjang pembahasan
BAB III Membahas mengenai tanggungjawab pelaku usaha atas
beredarnya produk obat tradisional impor tanpa label
berbahasa indonesia dan label halal yang mengakibatkan
kerugian bagi konsumen.
BAB IV Membahas mengenai upaya hukum dari konsumen yang
dirugikan akibat tidak dicantumkannya label berbahasa
indonesia pada kemasan obat tradisional
BAB V Merupakan penutup yang merupakan kesimpulan dan saran
sebagai rekomendasi penulis dalam dunia ilmu pengetahuan
BAB II
TINJAUAN UMUM PERLINDUNGAN KONSUMEN A. Pengertian Perlindungan Konsumen
Dalam mendefinisikan pengertian perlindungan konsumen dan
pengertian konsumen dapat dilakukan dengan dua pendekatan; pertama,
melalui pendekatan prinsip-prinsip yang bersumber dari norma-norma
hukum (undang-undang perlindungan konsumen). Kedua, melalui
pendekatan asal bahasa yang kemudian diikuti dengan penafsiran oleh
pakar hukum.
Istilah perlindungan konsumen merupakan terjemahan dari
“consumer protection” atau “consumerism” artinya melindungi masyarakat,
pembeli dari barang dan jasa berbahaya maupun yang rendah serta
melindunginya dari penjualan praktek tidak layak lainnya.
AZ. Nasution berpendapat, hukum perlindungan konsumen
merupakan bagian dari hukum konsumen yang memuat asas-asas
yang bersifat mengatur, dan juga mengandung sifat melindungi
kepentingan konsumen. AZ. Nasution mengakui asas-asas atau
kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan dan masalah
konsumen itu tersebar dalam berbagai bidang hukum baik tertulis
maupun tidak tertulis, seperti hukum perdata, hukum dagang,
hukum pidana, hukum administrasi negara, dan hukum
internasional , terutama konvensi-konvensi yang berkaitan dengan
kepentingan-kepentingan konsumen.16
16 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Hukum tentang Perlindungan Konsumen,
Sedangkan menurut Jhon Suprianto ada beberapa pendapat
tentang pengertian yang berkaitan dengan istilah perlindungan konsumen
sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa ahli yaitu:
Del. I. Hawkins, Roger J. Best dan Kenneth E. Coney yang
mengistilahkan consumerism sebagai suatu kegiatan baik dari
pribadi-pribadi organisasi independent, pemerintah maupun
lembaga bisnis yang dirancang untuk melindungi konsumen dari
tabiat pasar yang tidak etis. Menurut Charles D. Schewe dan
Reuben M. Smith mengatakan consumerism adalah lebih
disosialisasikan sebagai upaya penyelidikan untuk memperoleh
perlakuan lebih baik kepada konsumen. 17
Gunawan Widjaja dalam membandingkan UUPK dengan beberapa
definisi perlindungan konsumen yang diberikan dalam Law Dictionary
karya Steven H. Giff juga mengutip beberapa hal yang dapat
dikemukakan, yaitu:
1. undang-undang perlindungan konsumen tidak memberikan
perumusan maupun pengelompokan yang jelas mengenai
macam dan jenis barang yang dilindungi. Hal ini erat kaitannya
dengan sifat pertangungjawaban yang dapat dikenakan atau
dipikulkan kepada pelaku usaha dengan siapa konsumen telah
berhubungan. Tidak ada perumusan atau pengelompokan dan
pembedaan yang jelas dari jenis barang dan/atau jasa tersebut
pada satu sisi dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi
17 Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, PT. Grafindo Indonesia, Jakarta,
konsumen yang menggunakan ataupun memakai suatu jenis
barang dan/atau jasa dalam kehidupan sehari-harinya.
2. undang-undang perlindungan konsumen nampaknya sangat
menekankan pada pentingnya arti dari konsumen, dimana
dalam undang-undang perlindungan konsumen tersebut
ditegaskan lagi bahwa:”di dalam kepustakaan ekonomi dikenal
istilah konsumen akhir dan konsumen antara. Dan pengertian
konsumen dalam undang-undang ini adalah konsumen akhir”.18
Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa
perlindungan konsumen atau consumerism merupakan gerakan atau
kesadaran sosial bagi masyarakat baik individu maupun kelompok untuk
membantu dan melindungi konsumen terhadap perlakuan yang tidak etis
dari pelaku usaha. Dalam pengertian yang lebih luas consumerism
tumbuh dan berkembang untuk melindungi konsumen dari tindakan dan
perlakuan sepihak dari pelaku usaha.
Dalam pengertian yuridis sebagaimana terdapat dalam Pasal 1
angka 1 UUPK, yang dimaksud dengan perlindungan konsumen adalah
“segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk
memberikan perlindungan kepada konsumen.”
Meskipun Undang-undang ini disebut sebagai Undang-Undang
Perlindungan Konsumen, namun bukan berarti kepentingan pelaku usaha
tidak ikut menjadi perhatian, teristimewa karena keberadaan
perekonomian nasional banyak ditentukan oleh para pelaku usaha.19
18 Yusuf Sofie, Perlindungan Konsumen Dan Instrumen-Instrumen Hukumnya, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2003, Hal. 25.
19 Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, PT. RajaGrafindo
Sebab peranti hukum yang melindungi konsumen tidak dimaksudkan
untuk mematikan pelaku usaha.
Definisi Konsumen dalam Pasal 1 angka 2 UUPK, yang dimaksud
konsumen adalah “setiap orang pemakai barang dan / atau jasa yang
tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga,
orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.” Pernyataan tidak untuk diperdagangkan yang dinyatakan dalam
definisi dari konsumen ini ternyata memang dibuat sejalan dengan
pengertian pelaku usaha yang diberikan oleh UUPK, dimana dinyatakan
bahwa yang dimaksud dengan pelaku usaha adalah sebagai berikut: “Pelaku usaha adalah setiap orang atau badan usaha, baik yang
berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang
didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum Republik Indonesia, baik sendiri maupun
bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam
berbagai bidang ekonomi.”
Ini tidak berarti hanya produsen pabrikan yang menghasilkan
barang dan/atau jasa yang tunduk pada UUPK, melainkan juga para
rekanan, termasuk para agen, distributor, serta jaringan-jaringan yang
melaksanakan fungsi pendistribusian dan pemasaran barang dan/atau
jasa kepada masyarakat luas selaku pemakai dan/atau jasa pengguna
barang dan/atau jasa.20
Dalam batasan ini diharapkan dapat menjadi benteng untuk
melindungi kepentingan konsumen. Namun disisi lain bukan bearti UUPK
ini mengabaikan kepentingan pelaku usaha, teristimewa karena
keberadaan perekonomian nasional banyak ditentukan oleh pelaku usaha.
Istilah konsumen berasal dan alih bahasa dari kata “Consumer”
(Inggris-Amerika). Dalam kamus Bahasa Inggris-Indonesia memberi arti
consumer sebagai pemakai atau konsumen. Secara teknis berarti
seseorang untuk memenuhi kebutuhannya untuk kesenangan sendiri.21
Istilah lain yang agak dekat dengan konsumen adalah “pembeli”
(koper),istilah ini dapat dijumpai dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata.
Pengertian konsumen jelas lebih luas dari pembeli. Luasnya
pengertian konsumen dilukiskan secara sederhana oleh mantan Presiden
Amerika John F. Kennedy dengan mengatakan, “consumers by definition
include us all”.22
Konsumen memang tidak sekedar pembeli (koper) tetapi semua
orang (perorangan atau badan usaha) yang mengkonsumsi barang
dan/atau jasa. Jadi yang paling penting terjadinya transaksi konsumen
(consumer transactioan) berupa peralihan barang dan/atau jasa termasuk
peralihan dalam menggunakannya. Transaksi konsumen banyak sekali
metode, dewasa ini sudah lazim terjadi sebelum suatu produk dipasarkan
terlebih dahulu mengenalkan produk kepada konsumen (produc
knowledge).23
Pakar masalah konsumen di Belanda, Hondius menyimpulkan para
ahli hukum pada umumnya sepakat mengartikan konsumen sebagai,
pemakai produksi terakhir dari benda atau jasa (uiteindelijke gebruiker van
21 Az. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, Diadit Media, Jakarta, 2006, hal 21. 22 Shidarta, Op. Cit. Hal. 2.
goederen en diensten). Dengan rumusan itu, Hondius ingin membedakan
antara konsumen bukan pemakai akhir dengan konsumen pemakai
akhir.24
Sedangkan menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
sebagaimana dikutip oleh Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, “konsumen
adalah pemakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, bagi
kepentingan diri sendiri atau keluarganya atau orang lain yang tidak untuk
diperdagangkan kembali.”25
Konsumen dilihat dari segi unsur kegunaan barang dan/atau jasa
yang diperlukan dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu:
1. konsumen antara yaitu pemakai, pengguna barang dan/atau
jasa pemanfaat barang dan/atau jasa untuk diproduksi menjadi
barang dan/atau jasa lain atau untuk diperdagangkan dengan
tujuan komersil;
2. konsumen akhir yaitu pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat
barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri,
keluarga atau rumah tangganya dan tidak untuk
diperdagangkan kembali. Untuk memberikan gambaran dan
pemahaman tentang pengertian perjanjian jual beli dapat dilihat
beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para sarjana dan
perundang-undangan.
Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan di atas, maka
perlindungan konsumen dapat didefinisikan sebagai upaya yang
24Ibid, hal. 2.
25 Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, PT. RajaGrafindo
menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan
kepada konsumen dalam pemakai barang dan/atau jasa.
Dalam resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 39/248 Tahun
1985 tentang Perlindungan Konsumen (guidelines for consumer
protectioan), juga telah merumuskan kepentingan konsumen yang harus
dilindungi, meliputi:
a. Perlindungan konsumen dari bahaya kesehatan dan keamanannya. b. Promosi dan perlindungan kepentingan ekonomi sosial konsumen. c. Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen, memberikan
kemampuan bagi konsumen melakukan pilihan yang tepat sesuai
kehendak dan kebutuhan pribadi. d. Pendidikan konsumen.
e. Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif.
f. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau
organisasi lainnya yang relevan dan memberikan kesempatan
kepada organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya
dalam proses pengambilan yang menyangkut kepentingan
mereka.26
Perlindungan konsumen sebagai subsistem hukum nasional
tercermin dari rumusan-rumusan yang terdapat dalam UUPK antara lain
sebagai berikut ”UUPK dimaksudkan menjadi landasan hukum yang kuat
bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat untuk melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui
pembinaan dan pendidikan konsumen”.27
B. ASAS DAN TUJUAN PERLINDUNGAN KONSUMEN
1. Asas perlindungan konsumen
26 Yusuf Sofie, Perlindungan Konsumen Dan Instrumen-Instrumen Hukumnya, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2003, hal. 262.
Dalam kamus umum Bahasa Indonesia dapat dijumpai tiga
pengertian mengenai asas yaitu : 1. Dasar, alas, pedoman
2. Suatu kebenaran yang menjadi pokok atau tumpuan berpikir
dan berpendapat
3. Cita-cita yang menjadi dasar.
Dari ketiga pengertian tersebut diatas maka asas diartikan sebagai
suatu alam pikiran atau cita-cita ideal yang melatar belakangi
pembentukan norma hukum yang konkret dan bersifat umum atau
abstrak.
Dalam menyelenggarakan perlindungan konsumen, sedikitnya ada
5 (lima) buah asas yang terdapat di dalam Pasal 2 UUPK yaitu : a. Asas Manfaat
Asas ini mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
menyelenggarakan Perlindungan Konsumen harus memberikan
manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan
pelaku usaha secara keseluruhan.
a. Asas Keadilan
Asas ini dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat di
wujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan
kepada konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya
dan melaksanakan kewajiban secara adil. c. Asas keseimbangan
Asas ini memberikan keseimbangan antara kepentingan
konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam arti materil dan
spiritual.
d. Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen
Asas ini dimaksudkan untuk memeberikan jaminan atas
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau
jasa yang dikonsumsi atau digunakan. e. Asas Kepastian Hukum
Yaitu asas yang menghendaki agar pelaku usaha maupun
konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam
menyelenggarakan Perlindungan Konsumen serta negara
menjamin kepastian hukum.
Dari kelima asas yang disebutkan dalam Pasal 2 Undang-Undang
No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen tersebut diatas bila
diperhatikan substansinya dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu : 28
1. Asas kemanfaatan yang di dalamnya meliputi asas keamanan
dan keselamatan konsumen .
2. Asas keadilan yang di dalamnya meliputi asas keseimbangan. 3. Asas kepastian hokum.
2. Tujuan Perlindungan Konsumen
Tujuan hukum perlindungan konsumen tertuang didalam pasal
3 UUPK yang terdiri dari 6 (enam) tujuan perlindungan konsumen yaitu : 1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian
konsumen untuk melindungi diri .
2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara
menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang
dan/atau jasa
3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih,
menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen. 4. Menciptakan sistem Perlindungan Konsumen yang
mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi
serta akses untuk mendapatkan informasi
28 Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, PT. RajaGrafindo
5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya
Perlindungan Konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan
bertanggung jawab dalam berusaha
6. Meningkatkan kualitas barang dan atau jasa yang menjamin
kelangsungan usaha produksi barang dan jasa kesehatan,
kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.
Meskipun Undang-Undang ini disebut sebagai Undang-Undang
Perlindungan Konsumen, bukan berarti kepentingan pelaku usaha tidak
ikut diperhatikan. Dalam penjelasan UUPK disebutkan bahwa peranti
hukum yang melindungi konsumen tidak dimaksudkan mematikan pelaku
usaha, tetapi justru sebaliknya sebab perlindungan konsumen dapat
mendorong iklim usaha yang sehat, serta lahirnya perusahaan yang
tangguh dalam menghadapi persaingan melalui penyediaan barang
dan/atau jasa yang berkualitas. UUPK ini mengacu pada filosofi
pembangunan nasional termasuk pembangunan hukum yang memberikan
perlindungan terhadap konsumen adalah dalam membangun masyarakat
Indonesia seutuhnya yang berdasarkan pada falsafah kenegaraan
Republik Indonesia, yaitu dasar negara Pancasila dan konstitusi negara
Undang-Undang Dasar 1945.
C. Hak dan Kewajiban Konsumen dan Pelaku Usaha
Menurut mantan Presiden John F Kennedy pernah mengemukakan
mengenai empat dasar hak konsumen, yaitu :
5. Hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety) 6. Hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed) 7. Hak untuk memilih (the right to choose)
8. Hak untuk didengar (the right to be heard)29
Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 39/ 248 Tahun 1985
tentang Perlindungan Konsumen, juga merumuskan berbagai kepentingan
konsumen yang perlu dilindungi, yang meliputi :
1. Perlindungan konsumen dari bahaya-bahaya terhadap kesehatan
dan keamanannya
2. Promosi dan perlindungan kepentingan ekonomis sosial konsumen 3. Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk
memberikan kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat
sesuai kehendak dan kebutuhan pribadi
4. Pendidikan konsumen
5. Tersedianya ganti rugi yang efektif
6. Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau
organisasi lainnya yang relevan dan memberikan manfaat kepada
organisasi tersebut untuk menyuarakan pendapatnya dalam proses
pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan mereka.30
Hak konsumen secara umum diatur dalam pasal 4 Undang-undang
Nomor 8 Tahun 1999 yaitu :
1. Hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan atau jasa
2. Hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan
barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi
serta jaminan yang dijanjikan
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001, h. 27.
3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang dan atau jasa.
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan
atau jasa yang digunakan.
5. Hak untuk mendapat advokasi, perlindungan dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
6. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif
8. Hak untuk mendapat kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian,
apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya.
Dari sembilan butir hak konsumen yang dipaparkan di atas, terlihat
bahwa kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen merupakan
hal yang paling pokok dan utama dalam perlindungan konsumen.31
Dengan demikian untuk menjamin bahwa suatu produk yang beredar
dimasyarakat baik berupa barang dan atau jasa dalam penggunaannya
harus nyaman dan aman serta tidak membahayakan konsumennya. Oleh
karena itu konsumen diberikan hak untuk memilih produk yang
dikehendaki berdasarkan informasi yang benar, jelas dan jujur.
Mengenai kewajiban-kewajiban konsumen terdapat dalam Pasal 5
UUPK yang menentukan sebagai berikut :
1. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan pemakaian dan
pemanfaatan barang dan atau jasa, demi keamanan dan
keselamatan.
2. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan
atau jasa
3. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati
4. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan
konsumen secara patut
Dengan telah diaturnya hak dan kewajiban konsumen dalam pasal
4 dan 5 UUPK, maka konsumen mempunyai suatu kepastian hukum dari
setiap perbuatan yang dilakukan untuki memperoleh barang dan atau jasa
dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Untuk menciptakan kenyamanan berusaha bagi pelaku
usaha diberikan hak yang tertuang dalam Pasal 6 UU No. 8 Tahun 1999,
yaitu :
a. Hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan
kesepakatan mengenai kondisi dari nilai tukar barang dan/ atau
jasa yang diperdagangkan.
b. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dan tindakan
konsumen yangberitikad tidak baik.
c. Hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya didalam
penyelesaian hukum sengketa konsumen.
bahwa kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/ atau
jasa yang diperdagangkan.
e. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya.
Selanjutnya sebagai konsekuensinya dari hak konsumen yang
telah disebutkan pada uraian di atas, maka kepada pelaku usaha
dibebankan pula kewajiban-kewajiban yang tertuang dalam Pasal 7 UU
No. 8 Tahun 1999, yaitu :
a. Beritikad baik dalam meiakukan kegiatan usahanya.
b. Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi
dan jaminan barang dan/ atau jasa serta memberi penjelasan
penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan.
c. Memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur
serta tidak diskriminatif.
d. Menjamin mutu barang dan/ atau jasa yang diproduksi dan/
atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan-ketentuan standart
mutu barang dan/ atau jasa yang berlaku.
e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/
atau mencoba barang dan/ atau jasa tertentu serta memberi
jaminan dan/ atau garansi atas barang yang dibuat dan/ atau yang
diperdagangkan.
f. Memberikan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian
atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
barang dan/ atau jasa yang diperdagangkan.
g. Memberikan kompensasi ganti rugi dan/ atau penggantian
tidak sesuai dengan perjanjian.
Dalam Pasal 8 UU No. 8 Tahun 1999 ditentukan tentang
perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha sebagai berikut:
1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/ atau memperdagangkan
barang dan/ atau jasa yang :
a. Tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standart
yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
b. Tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan
jumlah
dalam hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label
atau etiket barang tersebut.
c. Tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam
hitungan menurut ukuran yang sebenarnya.
d. Tidak sesuai deangan kondisi, jaminan, keistimewaan
atau kemanjuran sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket
atau keterangan barang dan/ atau jasa tersebut.
e. Tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi,
proses pengolahan, gaya, mode, atau penggunaan tertentu
sebagaimana dinyatakan dalam label atau keterangan barang
dan/ atau jasa tersebut.
f. Tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket,
keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/ atau
jasa tersebut.
g. Tidak mencantumkan tanggal kadarluarsa atau jangka
tertentu.
h. Tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara “halal”
sebagaimana pemyataan "halal" yang dicantumkan dalam label. i. Tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang
memuat nama barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto,
komposisi, aturan pakai, tanggal pembuatan, akibat sampingan,
nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain untuk
penggunaan yang menurut ketentuan harus dipasang/ dibuat. j. Tidak mencantumkan informasi dan/ atau petunjuk
penggunaan barang dalam bahasa Indonesia sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat
atau bekas, dan tercermar tanpa memberikan informasi secara
lengkap dan benar atau barang dimaksud.
3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan
pangan yang rusak, cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau
tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar.
4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat
(2) Dilarang mempergunakan barang dan/atau jasa tersebut serta
wajib menariknya dari peredaran.
“Secara garis besar larangan yang dikenakan dalam Pasal 8 UU No.
8 1999 tersebut dapat dibagi kedalam dua larangan pokok yaitu :
Larangan mengenai produk itu sendiri yang tidak memenuhi syarat dan
standar yang layak untuk dipergunakan atau dipakai atau dimanfaatkan
benar dan tidak akurat yang menyesatkan konsumen.32
Dalam Pasal 9 UU No. 8 Tahun 1999 ditentukan tentang
perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha sebaqai berikut:
1) Pelaku usaha dilarang menawarkan mempromosikan,
mengiklankan suatu barang dan jasa secara tidak benar, dan/ atau
seolah-olah :
a. Barang tersebut telah memenuhi dan/ atau memiliki
potongan harga, harga khusus, standart mutu tertentu,
gaya atau mode tertentu, karakteristik tertentu, sejarah atau
guna tertentu;
b. Barang tersebut dalam keadaan baik dan/atau baru;
c. Barang dan/ atau jasa tersebut telah mendapatkan dan/
atau memiliki sponsor, persetujuan, perlengkapan tertentu,
ciri-ciri kerja, atau aksesoris tertentu
d. Barang dan atau jasa tersebut dibuat oleh perusahaan
yang mempunyai sponsor, persetujuan atau afiliansi; e. Barang dan/atau jasa tersebut tersedia;
f. Barang tersebut tidak mengandung cacat tersembunyi;
g. Barang tersebut merupakan kelengkapan dari barang tersebut; h. Barang tersebut berasal dari daerah tertentu;
i. Secara langsung atau tidak langsung merendahkan
barang dan/ atau jasa lain;
j. Menggunakan kata-kata yang berlebihan, seperti aman,
tidak berbahaya, tidak mengandung resiko, atau efek
samping tanpa keterangan yang lengkap;
k. Menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti. 2) Barang dan/ atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilarang u n t u k d i p e r d agangkan.
3) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap ayat (1)
dilarang melanjutkan penawaran, promosi, dan pengiklanan barang
dan/ atau jasa
Adanya ketentuan yang terdapat dalam UU No. 8 Tahun 1999
dapat diperoleh hak konsumen dan pelaku usaha serta
dilaksanakan kewajiban konsumen dan pelaku usaha.
Di dalam PP No.69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan,
juga mengatur tentang iklan yaitu:
Pasal 48, menentukan sebagai berikut:
Pernyataan dalam bentuk apapun tentang manfaat pangan bagi
kesehatan yang dicantumkan pada iklan dalam media masa, harus
disertai dengan keterangan yang mendukung pernyataan itu pada iklan
yang bersangkutan secara jelas sehingga mudah dipahami oleh
masyarakat.
Pasal 49 menentukan :
1) Iklan dalam media masa yang menyatakan bahwa pangan tersebut
adalah pangan yang diperuntukkan bagi orang yang menjalankan diet
khusus, wajib mencantumkan unsur-unsur dari pangan yang
mendukung pernyataan tersebut.
2) Selain keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Iklan
tersebut wajib pula memuat keterangan tentang kandungan gizi
pangan serta dampak yang mungkin terjadi apabila pangan tersebut
dikonsumsi oleh orang lain yang tidak menjalankan diet khusus
Pasal 50, mengatur larangan iklan: “Iklan dilarang memuat keterangan
atau pernyataan bahwa pangan tersebut adalah sumber energi yang unggul
dan segera memberikan kekuatan.”
D. Tanggung Jawab Pelaku Usaha
Konsep tanggung jawab hukum merupakan bagian dan konsep
tewajiban hukum. Selain mengemban kewajiban yang harus dilaksanakan
terhadap konsumen, pelaku usaha juga mengemban tanggung jawab terhadap konsumen yang menggunakan dan memanfaatkan barang dan atau
jasa yang dijual. Tanggung jawab yang diemban pelaku usaha adalah
tanggung jawab untuk memberikan ganti rugi kerusakan, pencemaran
dan/ atau kerugian yang diderita oleh konsumen sebagai akibat dari
mengkonsumsi barang dan/ atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. Menurut Sidharta ada beberapa prinsip tanggung jawab dalam
hukum seperti:
6. Kesalahan (liability based onfault) prinsip tanggung
jawab berdasarkan unsur kesalahan adalah merupakan prinsip
yang cukup umum berlaku dalam hukum perdata khususnya
pasal 1356 KUH Perdata yang menyatakan : Tiap perbuatan
melanggar hukum yang membawa kerugian pada seseorang
lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut. Pasal 1336 KUH
Perdata yang secara tegas menyalakan lagi setiap orang
bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan
disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya. Kemudian
ditegaskan lagi 1367 KUH Perdata, seorang tidak saja
bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan untuk
orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh
barang-barang yang berada di bawah pengawasannya. Prinsip tersebut
dipegang secara teguh yang menyatakan seseorang baru dapat
dimintai pertanggungjawaban secara hukum, jika ada unsur
kesalahan yang dilakukannya. Pada pasal 1365 KUH Perdata
yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan
hukum.
7. Praduga selalu bertanggung jawab (presumption of liability),
yang artinya prinsip ini menyatakan, tergugat selalu
bertanggung jawab sampai ia dapat membuktikan bahwa ia
tidak bersalah. Jadi, beban pembuktian ada pada si tergugat
(pelaku usaha dan atau pelaku periklanan).
8. Praduga selalu tidak bertanggung jawab (presumption of nonliability),
yang dimaksud dalam prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip yang
kedua. Prinsip untuk tidak bertanggung jawab hanya dikenal dalam
lingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas, dan pembatasan
demikian biasanya secara common sence dapat dibenarkan.
9. Tanggung jawab mutlak (strict liability). Arti dari prinsip tanggung
mutlak ini dapat saja si tergugat yang dimintai
pertanggungjawaban bukan merupakan pelaku langsung kesalahan
tersebut.
tanggung jawab dengan pembatasan sangat disenagi olah
pelaku untuk dicantumkan sub klausula eksonerasi dalam
perjanjian yang dibuat.33
Istilah tanggung gugat merupakan istilah untuk gugatan ganti rugi dalam
ruang lingkup perdata.Tanggung gugat merupakan tanggung jawab terhadap
kerugian yang diderita oleh pihak ketiga, baik yang diselesaikan melalui
musyawarah maupunmelalui pengadilan.
Menurut Henry Campbell tanggung gugat atau Liability berarti “one depending for it's existence one the enactment of a statute, and not
on the contract of the parties. Liable yang artinya 'compellable to make
satisfaction, compensation, restitution’ atau kewajiban untuk memikul
kerugian akibat kesalahan yang dilakukannya”.34
Tanggung gugat ditujukan untuk memperoleh kompensasi bagi
kerugian yang diderita dan untuk mencegah tindakan-tindakan yang
merugikan.Tanggung gugat dapat dilakukan dengan dua dasar hukum,
yaitu:
1. Dengan dasar wanprestasi atas cidera janji atau ingkar janji dalam
Pasal 1239 KUH Perdata.
2. Dengan berdasar perbuatan melawan hukum diatur dalam Pasal 1365
KUH Perdata.
E. Obat tradisional
33 Miru Ahmadi dan Yudo Sutarman, Hukum Perlindungan Konsumen, Raja Grafindo
Persada, Cetakan ke I, Jakarta, 2004, h. 68.
34 Henry Campbell Black, Blacks law Dictionary, sixth edition, St Paul, Minn, West
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa
bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik),
atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah
digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma
yang berlaku di masyarakat.35
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa
bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau
campuran dari bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan
untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.36
Obat tradisional impor adalah obat tradisional yang dibuat oleh
industri diluar negeri yang dimasukkan dan diedarkan di wilayah
Indonesia.Sumber obat tradisional yang sudah terbukti berkhasiat dan
aman digunakan dalam pencegahan, pengobatan, perawatan, dan/atau
pemeliharaan kesehatan tetap dijaga kelestariannya.37
Masyarakat dalam hal ini diberi kesempatan yang seluas-luasnya
untuk mengolah, memproduksi, mengedarkan, mengembangkan,
meningkatkan, dan menggunakan obat tradisional yang dapat
dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya.
Pemasukan obat tradisional adalah importasi obat tradisional
melalui angkutan darat, laut dan atau udara ke dalam wilayah Indonesia.38
35 Pasal 1 ayat 9 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
36 Pasal 4 Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor Hk.00.05.1.23.3516 Tentang Izin Edar Produk Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, Suplemen Makanan Dan Makanan Yang Bersumber, Mengandung, Dari Bahan Tertentu Dan Atau Mengandung Alkohol
37 Pasal 100 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Banyaknya masyarakat yang menggunakan obat tradisional
dikarenakan Efek samping obat tradisional relatif kecil jika digunakan
secara tepat, yang meliputi :39
1. Kebenaran bahan
Tanaman obat di Indonesia terdiri dari beragam spesies yang
kadang kala sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Kebenaran
bahan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang diinginkan.
Sebagai contoh lempuyang di pasaran ada beberapa macam yang agak
sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Lempuyang emprit (Zingiber
amaricans) memiliki bentuk yang relative lebih kecil, berwarna kuning
dengan rasa yang pahit. Lempuyang emprit ini berkhasiat sebagai
penambah nafsu makan. Jenis yang kedua adalah lempuyang gajah
(Zingiber zerumbet) yang memiliki bentuk lebih besar dan berwarna
kuning, jenis ini pun berkhasiat sebagai penambah nafsu makan. Jenis
yang ketiga adalah lempuyang wangi (Zingiber aromaticum) yang memiliki
warna agak putih dan berbau harum. Tidak seperti kedua jenis lempuyang
sebelumnya, jenis ini memiliki khasiat sebagai pelangsing Di Belgia, 70
orang harus menjalani dialysis atau transplantasi ginjal akibat
mengkonsumsi pelangsing dari tanaman yang keliru (WHO, 2003). 2. Ketepatan dosis
Tanaman obat, seperti halnya obat buatan pabrik memang tak bisa dikonsumsi sembarangan. Tetap ada dosis yang harus dipatuhi, seperti
halnya resep dokter. Buah mahkota dewa, misalnya, hanya boleh
dikonsumsi dengan perbandingan 1 buah dalam 3 gelas air. Sedangkan
39 Lusia Oktora Ruma Kumala Sari, Pemanfaatan Obat Tradisional Dengan
daun mindi baru berkhasiat jika direbus sebanyak 7 lembar dalam takaran
air tertentu. Hal ini menepis anggapan bahwa obat tradisional tak memiliki
efek samping. Anggapan bila obat tradisional aman dikonsumsi walaupun
gejala sakit sudah hilang adalah keliru. Sampai batas-batas tertentu,
mungkin benar. Akan tetapi bila sudah melampaui batas, justru
membahayakan
3. Ketepatan waktu penggunaan
Kunyit diketahui bermanfaat untuk mengurangi nyeri haid dan
sudah turun-temurun dikonsumsi dalam ramuan jamu kunir asam yang
sangat baik dikonsumsi saat datang bulan. Akan tetapi jika diminum pada
awal masa kehamilan beresiko menyebabkan keguguran. Hal ini
menunjukkan bahwa ketepatan waktu penggunaan obat tradisional
menentukan tercapai atau tidaknya efek yang diharapkan. 4. Ketepatan cara penggunaan
Satu tanaman obat dapat memiliki banyak zat aktif yang berkhasiat
di dalamnya. Masing-masing zat berkhasiat kemungkinan membutuhkan
perlakuan yang berbeda dalam penggunaannya. Sebagai contoh adalah
daun Kecubung jika dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan
igunakan sebagai obat asma. Tetapi jika diseduh dan diminum dapat
menyebabkan keracunan / mabuk 5. Ketepatan telaah informasi
Perkembangan teknologi informasi saat ini mendorong derasnya
arus informasi yang mudah untuk diakses. Informasi yang tidak didukung
oleh pengetahuan dasar yang memadai dan telaah atau kajian yang
bisa menyebabkan obat tradisional berbalik menjadi bahan