40
Universitas Kristen Petra
3. METODE PENELITIAN
3.1 Definisi Konseptual 3.1.1 Multimedia Journalism
Multimedia journalism adalah penyampaian cerita atau informasi yang menggunakan kombinasi dari teks, foto, animasi grafis, video, dan audio.
Multimedia journalism merupakan produk yang jauh lebih baik dari yang dihasilkan medium tunggal. Produk multimedia journalism yang paling sederhana adalah slide shows foto-foto yang disertai audio (Stevens dalam Quinn & Lamble, 2008).
3.1.2 Mekanisme Generatif
Dalam historiografi realisme kritis yang berkenaan dengan penelitian sejarah, dikenal sebuah istilah mekanisme generatif. Menurut Jasper Aastrup (2000), mekanisme generatif merupakan kekuatan-kekuatan yang memunculkan suatu peristiwa (dalam hal ini multimedia journalism). Mekanisme generatif inilah yang menjadi fokus utama penelitian sejarah berpendekatan realisme kritis.
3.1.3 Sejarah Media
Dalam ranah ilmiah, sejarah media merupakan rekam jejak konteks- konteks yang memberi gambaran media sebagai sebuah institusi sosial. Media dipandang sebagai sebuah arena tempat terjadinya berbagai aktivitas atau proses produksi yang terus berkembang hingga membentuk mekanisme yang repetitif dan menumbuhkan profesionalisme kerja (Dahl, n.d.).
3.2 Jenis Penelitian
Penelitian ini berjenis deskriptif dengan pendekatan kualitatif Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya saat penelitian dilakukan (Suharsimi, dalam Marhaendro, n.d.) Dengan pendekatan kualitatif, penelitian akan mengungkap apa yang tidak terlihat dalam
41
Universitas Kristen Petra
penelitian kuantitatif dan tidak menarik hubungan antarvariabel (A. Sobana Hs., 2008).
3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode historiografi. Secara sederhana, historiografi merupakan cara menuliskan sejarah. yang bertujuan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah (history as past actuality) menjadi sejarah sebagai kisah (history as written). Rekonstruksi masa lampau dilakukan secara sistematis dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta. Historiografi dapat dibagi menjadi historiografi sebagai filosofi sejarah, teori sejarah, dan metode sejarah (Hatch, n.d.). Penelitian ini menggunakan historiografi sebagai metode dan cara menuliskan sejarah kemunculan multimedia journalism di media massa online.
Historiografi yang peneliti gunakan dengan pendekatan realisme kritis. Metode ini mengacu pada fokus utama realisme kritis yaitu penemuan mekanisme generatif atau kekuatan-kekuatan kausal yang menyebabkan terjadinya suatu peristiwa. Dalam penelitian ini peristiwa yang diteliti adalah munculnya multimedia journalism. Dengan menggunakan cara penulisan dan metode sejarah, penelitian ini akan mencari mekanisme generatif atau faktor- faktor kausal apakah yang menyebabkan munculnya multimedia journalism ini.
Beberapa mekanisme generatif yang menjadi kekuatan yang memunculkan multimedia journalism adalah kemajuan dari segi teknologi, adanya permintaan dari khalayak, adanya ketidakpuasan hasil karya dari para jurnalis, serta kepentingan ekonomi dari organisasi media. Kekuatan-kekuatan ini diperkirakan menjadi pemicu yang saling berhubungan satu sama lain sehingga membentuk mekanisme yang memunculkan multimedia journalism ini.
Penelitian ini menggunakan model desain penelitian yang dicetuskan oleh seorang peneliti bernama Derek Layder (1993). Ia banyak mengarahkan penelitian berperspektif realisme kirits. Layder menganjurkan penelitian seperti ini dibuat secara sederhana. Penelitian sejarah dengan pendekatan ini bertujuan untuk mencari dan mengenali pentingnya makna yang diinterpretasikan oleh peneliti. Data yang ditemukan dapat disusun dan diinterpretasikan untuk
42
Universitas Kristen Petra
memaparkan mekanisme generatif yaitu faktor-faktor yang menyebabkan munculnya sebuah peristiwa sejarah.
Peristiwa munculnya multimedia journalism di media massa online ini merupakan sebuah peristiwa sejarah di mana data-data mengenai penelitian ini kemudian akan diinterpretasikan oleh peneliti. Data-data tersebut akan melalui proses tertentu agar layak diteliti dan menjadi sumber yang peneliti gunakan untuk menenukan kekuatan-kekuatan kausal apa sajakah yang melatarbelakangi kemunculan peristiwa ini.
Pada dasarnya penelitian sejarah tidak akan mungkin mencapai nilai objektivitas yang sempurna. Hal ini terjadi karena, peristiwa sejarah itu sendiri telah terjadi sebelum penelitian. Peneliti tidak bisa melihat peristiwa secara langsung melainkan peristiwa yang telah digambarkan oleh pihak lain. Gambaran yang diberikan oleh pihak lain ini tidak mungkin sepenuhnya objektif. Karena sama seperti penelitian sejarah yang dilakukan peneliti saat ini, gambaran pihak lain tersebut juga tentu dipengaruhi oleh lingkungan atau keadaan, budaya, tempat, ketertarikan yang berada di sekitarnya (Allen & Gomery, 1985).
3.4 Subjek dan Objek Penelitian
Subjek dari penelitian ini adalah multimedia journalism, sedangkan objek untuk penelitian sejarah realisme kritis terdiri dari media sebagai hasil perkembangan teknologi, media sebagai industri, sebagai representasi sistem visual dan audio, serta institusi sosial (Allen & Gomery, 1985, 37). Kategori media massa yang digunakan dalam penelitian ini adalah media massa online yang dimiliki oleh organisasi media massa.
Merujuk pada Carlsson (2005), objek penelitian sejarah media dengan pendekatan realisme kritis adalah kausalitas dan identifikasi mekanisme kausal dalam sebuah fenomena sosial dengan cara yang berbeda dari cara positivistik.
Bila metode yang bersifat positivistik menekankan pada pengujian teori dan data statistik, metode yang bersifat realisme kritis menekankan pada interpretasi peneliti atas data yang telah terkumpul untuk menghasilkan penjelasan tentang mekanisme kausal yang memunculkan sebuah fenomena sosial.
43
Universitas Kristen Petra
Mekanisme kausal atau mekanisme generatif dalam penelitian ini terdiri dari lima bagian karena dalam penelitian sejarah realisme kritis, media massa tidak mungkin dipandang sebagai sesuatu yang berdiri dengan sendirinya dan hanya bertugas menyampaikan berita pada khalayak. Di luar itu, tentu media massa juga ada dan menyampaikan berita sedemikian rupa dengan kompleksitas yang lebih dari sekedar penyajian berita.
3.5 Unit Analisis
Unit analisis penelitian ini berupa teks yang terdiri dari arsip-arsip, dokumen-dokumen, catatan harian, jurnal, transkrip, dan berita tertulis baik dalam bentuk fisik maupun digital yang mencatat tentang penerapan multimedia journalism di media mana-mana.
3.6 Pengumpulan Data 3.6.1. Jenis Sumber Data
Berdasarkan sifatnya, sumber data dalam penelitian sejarah dibagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber-sumber primer, yaitu data yang diperoleh dari cerita para pelaku atau saksi mata yang mengalami dan mengetahui peristiwa tersebut. Sumber-sumber primer lainnya yang menjadi perhatian para peneliti di lapangan atau situs di antaranya seperti, dokumen asli, relief dan benda-benda peninggalan masyarakat zaman lampau.
Menurut Hartoto (2009), secara umum, sumber data primer yang relevan dalam analisis sejarah dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:
• Dokumen
Materi yang tertulis atau tercetak dalam bentuk buku, majalah, koran, buku catatan, dan sebagainya. Dokumen merujuk pada beberapa jenis informasi yang eksis ke dalam bentuk tertulis atau cetak. Dalam penelitian ini, salah satu dokumen utama yang menjadi sumber data primer adalah produk multimedia journalism itu sendiri. Sebagai contoh, adalah slideshow foto beraudio, video dengan latar musik, atau gabungan dari slideshow foto, video, berlatar musik dengan ditambahkan teks atau narasi.
44
Universitas Kristen Petra
• Rekaman yang bersifat numerik
Merupakan rekaman yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk data numerik, mislanya skor tes, laporan sensus, dan sebagainya. Penelitian ini dapat juga menggunakan data-data statistik tentang penyebaran multimedia journalism di media massa online, ataupun data-data lain yang berkaitan dengan perkembangan multimedia journalism.
• Pernyataan lisan
Melakukan wawancara dengan orang yang merupakan saksi saat peristiwa lalu terjadi. Selain data-data yang berupa produk serta rekaman numerik, dibutuhkan juga data berupa hasil wawancara dengan para pelaku multimedia journalism, baik jurnalis foto maupun anggota tim lainnya yang terlibat langsung. Wawancara dapat dilakukan secara tatap muka langsung, dan juga melalui e-mail atau korespondensi dikarenakan keterbatasan lokasi.
• Relief
Objek fisik atau karakteristik visual yang memberikan beberapa informasi tentang peristiwa masa lalu. Contohnya berupa bangunan monumen, peralatan, pakaian dan sebagainya.
Sampai saat penelitian ini dibuat, peneliti belum menemukan adanya wujud fisik berupa monument, peralatan, ataupun segala sesuatu benda fisik yang dapat menjadi sumber data untuk mendukung penelitian tentang munculnya multimedia journalism ini.
Sumber informasi sekunder, yaitu informasi yang diperoleh dari sumber lain yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan peristiwa tersebut.
Sumber sekunder ini dapat berupa para ahli yang mendalami atau mengetahui peristiwa yang dikaji. Sumber sekunder berasal dari buku atau catatan yang berkaitan dengan peristiwa, buku sejarah, artikel dalam ensiklopedia, dan ulasan penelitian (Hartoto. 2009). Dalam hal ini, peneliti juga akan menggunakan berbagai literatur, artikel, maupun jurnal yang berhubungan dengan multimedia journalism.
45
Universitas Kristen Petra
3.6.2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam analisis sejarah dengan pendekatan realisme kritis, data dibedakan dengan bukti (evidence). Tidak semua data yang terkumpul dapat menjadi bukti sejarah yang dapat digunakan untuk menyusun mekanisme generatif sebuah peristiwa sejarah. Penentuan apakah data tersebut menjadi bukti, bergantung pada peneliti. Menurut Fisher (1977, dalam Lincoln, 2002) data menjadi menjadi bukti setelah menjalani dua proses yaitu, peneliti mengenalinya sebagai data, kemudian bila peneliti akan menggunakannya dalam analisis barulah data tersebut menjadi bukti yang akan diteliti.
Dalam menentukan apakah data tersebut dapat menjadi bukti, harus melakukan tahapan seleksi, interpretasi, mempertimbangkan, dan memutuskan apakah data tersebut relevan dengan objek penelitian. Bila sebuah data telah melalui proses tersebut dan dianggap relevan, maka data itu telah sah menjadi bukti yang dapat digunakan dalam penelitian sejarah (Allen & Gomery, 1985).
Pada awalnya, peneliti harus memahami apa itu bukti sejarah, dari mana bukti itu berasal, bagaimana bukti itu diperoleh, dan kemudian menyiapkan suatu aturan untuk mensahkan sebuah bukti. Aturan tersebut yakni dengan melakukan langkah-langkah seleksi, interpretasi, pertimbangan, dan pemutusan apakah sebuah data dapat menjadi bukti sejarah.
Dalam penelitian sejarah dengan pendekatan realisme kritis, peneliti tidak boleh menentukan atau memilih terlebih dahulu data-data yang sesuai dengan tujuan penelitian saja. Melainkan, peneliti justru harus melihat data secara keseluruhan terlebih dahulu, baru kemudian menjadikannya bukti yang layak untuk dianalisis (Lincoln, 2002). Sekian banyak data berada di luar peneliti. Dan hanya yang sesuai dengan konstruksi argumen penelitian atau objek penelitian sajalah yang peneliti pilih sebagai bukti.
Misalnya, terdapat berbagai macam data mengenai jurnalisme di media massa online. Peneliti akan melakukan proses seleksi, interpretasi, pertimbangan, dan pemutusan untuk menjadikan data tersebut sebagai bukti yang dapat digunakan untuk mendukung penelitian. Proses tersebut didasarkan pada apakah dari sekian banyak data tersebut ada yang sesuai subjek dan objek penelitian yakni multimedia journalism di media massa online. Selain itu, peneliti
46
Universitas Kristen Petra
juga harus mengetahui dengan jelas sumber dari data-data tersebut. Bila telah melalui proses dan sesuai dengan syarat-syarat tersebut, barulah data itu sah menjadi bukti sejarah yang dapat digunakan dalam penelitian.
3.7 Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dalam beberapa tahapan, yang pertama adalah mendeskripsikan ulang peristiwa kemunculan multimedia journalism di media online. Hal ini dilakukan karena sifat penelitian sosial yang terbuka pada perubahan membutuhkan abstraksi dan konseptualisasi peristiwa sejak awal penelitian.
Tahapan kedua adalah menganalisis mekanisme-mekanisme generatif yang menyebabkan kemunculan multimedia journalism di media online. Setiap aspek akan dicermati secara mendetil dengan mengacu pada teori-teori spesifik yang sesuai dengan aspek tersebut.
Setelah mengidentifikasi dan menganalisis masing-masing mekanisme, selanjutnya peneliti akan mencari hubungan antarmekanisme tersebut. Karena mekanisme generatif tidak akan beroperasi secara sendiri-sendiri melainkan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Sehingga mekanisme generatif yang memunculkan multimedia journalism pun akan saling mempengaruhi. Hubungan antarmekanisme tersebut akan menjadi sebuah situasi yang menyebabkan munculnya multimedia journalism di media online.
Tahapan keempat, merupakan proses terakhir di mana peneliti kembali menyusun hasil analisis tentang mekanisme generatif dari kemunculan multimedia journalism ini. Pada tahap akhir ini, peneliti menghasilkan susunan yang logis, sistematis, dan dalam bentuk narasi kronologis (Allen & Gomery, 1985).
Penelitian ini juga menggunakan kerangka penelitian untuk menganalisis bukti yang dicetuskan oleh Derek Layder. Ia menyarankan penggunaan kerangka yang memiliki tingkatan atau lapisan tertentu untuk penelitian mengenai aksi manusia dan organisasi sosial. Kerangka itu berasal dari sejarah dan terdiri dari elemen makro seperti fenomena struktural dan
47
Universitas Kristen Petra
institusional, serta elemen mikro seperti perilaku dan interaksi. Berikut merupakan bagan kerangka penelitian yang dibuat oleh Layder :
Tabel 3.1
Kerangka penelitian yang dikembangkan oleh Layder (1993).
Sumber : Carlsson (2005)
Elemen Fokus utama
Sejarah
Makro
Konteks (context) Bentuk-bentuk makro sosial seperti gender, budaya nasional, keadaan eknonomi nasional, dan lain-lain Latar (setting) Lingkungan terdekat tempat
berlangsungnya aktivitas sosial seperti departemen organisasi atau tim kerja.
Mikro
Aktivitas pada keadaan tertentu (situated activity)
Dinamika interaksi yang terjadi saat tatap muka secara langsung.
Diri pribadi (self) Pengalaman biografis dan
keikutsertaan pribadi individu dalam suatu aktivitas sosial.
Dari tabel di atas, penjelasan sejarah dalam realisme kritis dimulai secara bertingkat dari elemen diri pribadi (self) terlebih dulu baru kemudian bergerak ke elemen konteks (context). Tingkat diri pribadi lebih mengacu pada relasi seorang individu dengan lingkungan sosialnya. Relasi ini terbentuk ketika pengalaman biografis individu itu bertemu dengan kepentingan-kepentingan sosial. Tingkat ini mengutamakan pada bagaimana cara seorang individu dipengaruhi sekaligus merespon situasi sosial tertentu. Dalam menghadapi dan mengendalikan suatu situasi sosial, seorang individu akan menggunakan strategi dan taktik yang berdasarkan teori atau pola mental masing-masing. Sehingga tingkatan ini secara umum fokus pada cara seorang individu menyikapi bagian tertentu dari lingkungan sosial mereka, dan situasi sosial tertentu yang ada dalam lingkungan tersebut.
Tingkat berikutnya adalah aktivitas pada keadaan tertentu (situated activity) yang fokus pada dinamika dalam interaksi sosial, sifat dasar interaksi dan keterlibatan dalam sebuah situasi sosial. Dalam tingkatan ini, interkasi serta proses keterlibatan itu berkaitan juga dengan perilaku seorang individu yang tergabung di dalamnya.
48
Universitas Kristen Petra
Kedua tingkat pertama ini merupakan elemen mikro, sedangkan elemen makronya terdiri dari latar (setting) yang fokusnya ada pada bentuk- bentuk menengah organisasi sosial. Latar merupakan arena terdekat atau terlangsung dari aktivitas sosial. Latar dapat berwujud budaya dalam suatu organisasi sosial. Tingkat yang bersifat lebih luas dan merupakan area terjadinya aktivitas sosial dalam bentuk yang lebih abstrak adalah konteks (context). Secara umum, konteks mengacu pada bagian dengan skala besar dan luas dalam sebuah lingkungan sosial (Carlsson, 2005).
Berdasarkan tingkatan kerangka yang diadaptasi oleh Layder inilah penelitian sejarah kemunculan multimedia journalism akan disusun. Untuk mencari mekanisme kausal dari kemunculan multimedia journalism, penelusuran sejarah yang telah dilakukan akan ditelaah menurut tingkatan konteksnya, latarnya yakni media massa online, aktivitas interaksi jurnalis di dalam organisasi media, serta dari segi individual jurnalis itu sendiri.
3.8 Uji Keabsahan Data
Triangulasi digunakan untuk menguji apakah data yang digunakan itu valid dan dapat dipercaya. Denzin (1970) (dalam Yeung, 1997) menyebutkan empat dasar cara melakukan triangulasi, yaitu :
- Triangulasi data yang memperhatikan waktu, tempat, individu serta tingkatan.
- Triangulasi peneliti yang berarti terdapat lebih dari satu peneliti untuk satu fenomena penelitian.
- Triangulasi teori, di mana menggunakan lebih dari satu pandangan teoritis dalam satu objek penelitian.
- Triangulasi metode yang terdiri dari penggunaan dua metode yang berbeda atau penggunaan variasi metodologi yang berada di dalam naungan metode yang sama.
Triangulasi dapat dipraktikan dalam penelitian yang menggunakan pendekatan realisme. Dan penelitian ini menggunakan jenis triangulasi data.
Setelah memperoleh data, peneliti akan membandingkan dan menekankan perbedaan sumber data yang berada dalam batasan fenomena yang sama.