• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teks Cerpen untuk SMP Kelas VII

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teks Cerpen untuk SMP Kelas VII"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Mat a Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Sem est er : VII/2

Wakt u :

Tema : Cerit a Pendek

Sub Tem a : Rumah Kecil di Bukit Sunyi

Pernahkah kamu m endengar orang bercerita? Cerit a apa yang kamu dengarkan? Nah, kalau kam u pernah m endengarkan orang bercerita, apakah kam u juga bisa bercerita? Bercerit a di dalam karya sast ra salah sat unya adalah dengan m enulis cerita pendek at au cerpen. Sebelum bisa m enulis cerita pendek, pernahkah kam u m em baca cerit a pendek at au cerpen? Pelajaran kali ini kit a akan m embahas cerit a pendek.

Mat eri pem belajaran kit a adalah t ent ang cerit a pendek. Pokok-pokok bahasan yang akan dipelajari ada enam , yait u: (1) pengert ian cerit a pendek, (2) fungsi cerit a pendek, (3) unsur-unsur cerit a pendek, (4) st rukt ur cerit a pendek, (5) ciri bahasa/penggunaan bahasa cerit a pendek, (6) langkah-langah m enyusun cerita pendek.

1. Pengert ian

Cerpen (cerit a pendek sebagai genre fiksi) adalah rangkaian perist iwa yang t erjalin m enjadi sat u yang di dalam nya t erjadi konflik ant art okoh at au dalam diri t okoh it u sendiri dalam lat ar dan alur (Kurniawan, 20 12:60 ). Singkat nya, cerit a pendek adalah suat u bentuk prosa narat if fikt if atau sat u bent uk karya fiksi.

Cerit a pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang sepert i novel. Cerit a pendek sesuai dengan nam anya, m em perlihatkan sifat yang serba pendek , baik perist iwa yang diungkapkan, isi cerit a, jum lah pelaku dan jum lah kat a yang digunakan.

A.ORIENTASI

(2)

Perist iwa dalam cerit a pendek berwujud hubungan ant artokoh, t em pat , dan wakt u yang m embent uk satu kesatuan. Sama halnya dengan kehidupan nyat a, sebuah perist iwa t erjadi karena kesat uan m anusia, t em pat , dan wakt u.

Unt uk m enent ukan panjang pendeknya cerpen, khususnya berkait an dengan jum lah kata yang digunakan, berikut ini akan dikem ukakan beberapa pendapat para ahli. Menurut Guerin (1979), cerpen biasanya m enggunakan 15.00 0 kat a at au 50 halaman, sedangkan Nugroho Not osusant o m enyat akan bahwa jum lah kata yang digunakan dalam cerpen sekit ar 50 00 kat a at au kira-kira 17 halam an kuarto spasi dua.

Selain dit unjukkan oleh pem akain jum lah kat a yang m em ang pendek, perist iwa dan isi cerit a yang disajikan dalam cerpen juga sangat pendek. Perist iwa yang disajikan m em ang singkat t et api m engndung kesan yang dalam . Isi cerit a m em ang pendek karena m engut amakan kepadat an ide. Oleh karena it u, pelaku-pelaku at au t okoh-t okoh dalam cerpen pun relat if sedikit jika dibandingkan dengan novel.

Dari uraian di at as, dapat kit a sim pulkan bahwa cerpen adalah cerit a yang panjangnya kira-kira 17 halam an kuart o spasi rangkap (dua), isinya padat , lengkap, m em iliki kesat uan, dan m engandung efek kesan yang m endalan. Sedangkan unsur-unsur pem abangunnya pada dasarnya sam a dengan novel.

Cont oh:

Di at as bangku bambu yang reyot , pak Kert o menjulurkan kedua kakinya. Sebentar-sebent ar tangannya mengurut -urut kedua kakinya yang kurus kering it u. Tak lama kemudian ia beranjak dari bangku kemudian melangkah ke bilik belakang yang hanya dibat asi dengan rajut an daun rumbia. Lalu diambilnya beberapa pot ong ubi dari sebuah panci dan diletakannya di at as selembar daun pisang yang sudah agak mengering. Kemudian melangkah balik ke depan dan duduk di bangku bambu itu kembali.

Dinikmatinya perlahan sepotong demi sepotong ubi rebus, diteguknya pula sisa kopi di gelas unt uk melancarkan jalannya

RUMAH KECIL DI BUKIT SUNYI

(3)

kunyahan ubi itu di t enggorokan. Gelas it u belum sempat dilet akkan, sisa sedikit kopi dit eguknya kembali hingga tandas. Setelah it u gelas dilet akkan di bawah bangku, kemudian diambilnya punt ung rokok yang terselip di sela-sela t elinganya. Disulut dan dihisapnya kuat -kuat , asapnya dihembuskan perlahan-lahan. Nikmat sekali nampaknya.

Pint u t iba-tiba berderak dibuka seseorang dan disusul munculnya lelaki berperawakan pendek dengan perut yang gendut .

“Ooo….juragan. Silakan gan”, sambut pak Kert o sambil membungkuk-bungkuk. Dan dengan t ergesa dibersihkannya bangku bambu yang sudah reyot it u. Masih dengan membungkuk hormat Pak Kert o mempersilakan lelaki gendut yang dipanggilnya juragan it u unt uk duduk di bangku.

“Bagaimana? Apakah semuanya sudah beres?” tanya sang juragan dengan mimik serius. Mat anya sesekali memandang rumah kecil it u.

“Sebagian sudah saya panen, gan. Dan yang belum sisa ladang sebelah kanan parit . Silakan juragan periksa hasil panenan it u”.

“Dimana kau letakkan, Kert o?”

“Ada di samping rumah, gan. Semuanya berjumlah enam karung t erigu. Bagus-bagus hasil panenan kali ini”, kata Pak Kerto sambil membuang sisa rokoknya yang sudah mat i. Kemudian juragan it u beranjak dari bangku dan keluar diikuti Pak Kert o. Kedua orang it u melangkah menuju samping rumah. Dan sang juragan segera mendekati t umpukan karung. Sesaat , dibukanya salah satu karung dan diambilnya sehelai daun yang ada di dalamnya, kemudian sehelai daun itu diciumnya.

“Ahhh, luar biasa!” t eriaknya kegirangan.

“Bagus-bagus sekali panenan kali ini, Kerto”, lanjut juragan it u sambil menepuk-nepuk punggung Pak Kert o. Pak Kert o hanya mengangguk-angguk pelan. Dalam hati Pak Kert o ada rasa bahagia karena bisa membuat juragan senang yang berart i ia nanti akan mendapat tambahan upah. Wat ak juragan memang begit u, kalau sedang senang ia t ak segan-segan memberinya t ambahan upah. Tapi kalau sebaliknya, berkata pun tidak, apalagi t ambahan upah, kat a Pak Kert o dalam hati.

(4)

“Baik, gan”.

“Jangan lupa, simpan karung-karung ini baik-baik”.

“Akan saya laksanakan, gan”, jawab Pak Kert o lirih sambil membungkuk-bungkuk.

Sement ara mat ahari berangsur t enggelam dan juragan yang gendut it u menuruni perbukitan, meninggalkan Pak Kert o yang masih t ermangu-mangu dit erpa semilir angin senja. Tubuh Pak Kert o yang kurus it u masih saja t egak berdiri memat ung memandangi juragannya yang t erseok-seok jalan di pemat ang sawah.

Suara serangga bersahut -sahutan mewarnai malam yang dingin. Pak Kert o berbaring di bangku bambu yang reyot it u sambil berselimut selembar sarung. Ia t ak dapat t idur, padahal mat anya sudah t erasa berat oleh kant uk yang menggelant unginya.

Sebent ar kemudian diperbaiki letak sarungnya untuk menghalau dingin. Kedua t elapak t angannya dilet akkan di bawah kepalanya sebagai alas penggant i bant al. Sement ara lampu minyak yang t ergant ung di sudut ruangan semakin redup. Barangkali habis minyaknya, pikir pak Kert o.

Matanya belum juga bisa dipejamkan. Dit ariknya nafas dalam-dalam. Pikirannya t ert uju pada pohon-pohon kecil di ladang sebelah kanan parit yang besok harus dipanen.

Ia sebenarnya t ak habis pikir, unt uk apa juragan menanam pohon-pohon it u? Ia sendiri tak t ahu, apa nama pohon yang bent uknya hampir mirip t anaman cabai itu. Dan ia hanya tunduk pada segala perint ah juragannya lalu mendapat kan upah. Ya, hanya it u saja yang Pak Kert o lakukan. Sement ara Pak Kert o sendiri dilarang bergaul dengan orang-orang di sekit ar perbukitan. It u Perint ah juragan dan harus dipat uhi.

(5)

Sejauh ini Pak Kert o belum t ahu jenis apa dan unt uk apa pohon-pohon it u dit anam. Ah, kenapa aku harus memikirkannya? desah Pak Kert o lirih. Sement ara di luar gemersik dedaunan bergesekan dihembus angin malam perbukit an. Senandung serangga malam sisa satu dua yang t erdengar dan mulai ditingkahi suara kokok ayam satu-sat u bersahutan di kejauhan.

Pak Kert o baru saja selesai melipat sarungnya yang agak kumal. Sebentar-sebentar ditariknya nafas dalam-dalam. Kini t inggal melipat kaos oblong yang berwarna hijau pudar it u. Tak lama lagi pasti juragan akan datang lalu aku akan ikut sert a dengan juragan ke kot a, katanya dalam hati.

Selint as dipandanginya t umpukan karung t erigu. Semuanya berjumlah sebelas karung. Kemarin Pak Kert o memanen ladang sebelah kanan parit dan mendapat lima karung t erigu penuh. Pak Kert o t ert egun sejenak, rambut nya yang agak memut ih diusapnya perlahan. Tinggal apalagi yang harus dikemas, pikirnya. Kedua matanya memandangi seputar ruangan it u, t api ia tak menemukan sesuat u yang mest i dibawa pulang.

Disandarkannya t ubuh yang kurus it u ke t umpukan karung di sampingnya. Pikirannya menerawang jauh ke kampung halamannya. Sedang apa ist ri dan kedua anakku sekarang ya?, tanyanya dalam hati. Sesampainya di kota nant i pak Kert o ingin membelikan kain kebaya buat ist rinya, juga dua sandal plast ik buat kedua anaknya. Dan bibir pak Kert o yang hit am dan kering it u berdecah-decah kemudian t ersenyum-senyum sendiri. Rasa hat inya bahagia sekali karena sebentar nant i akan segera bisa melepas kerinduan pada ist ri dan kedua anaknya, set elah empat bulan lebih berpisah.

Pak Kert o kemudian bangkit dan berjalan menuju bilik belakang. Diambilnya sisa kopi yang t inggal seperempat gelas lalu diminumnya hingga t andas. Belum juga ia sempat meletakkan gelasnya, tiba-t iba t erdengar suara orang menget uk pint u. Ahh.., juragan dat ang, kat a Pak Kerto lirih penuh kegembiraan. Ia segera melet akan gelasnya dan dengan langkah yang t ergesa Pak Kerto menuju ke bilik depan.

(6)

Dan Pak Kert o merasa seluruh aliran darahnya t erhent i ket ika di depannya berdiri empat orang polisi dengan senjat a di t angan.

“Jangan bergerak!” gert ak salah seorang polisi. Sedangkan ket iga polisi lainnya langsung masuk rumah kecil it u. Pak Kerto sendiri berdiri kaku, memat ung, tak t ahu apa yang sebenarnya sedang t erjadi.

“Maaf, Bapak saya tangkap,” kat a polisi yang habis menggert ak t adi sambil mendekat dan memborgol kedua t angan Pak Kert o. Dan pak Kerto semakin bert ambah bingung.

“Apa kesalahan saya, Pak?” tanya Pak Kerto t erput us-put us.

“Bapak t elah menanam dan menyimpan pohon ganja, padahal pohon-pohon ganja ini dilarang ditanam oleh pemerint ah,” jawab polisi itu t egas.

“Tapi saya hanya disuruh juragan. Saya hanya melaksanakan perint ah juragan, Pak,” kat a Pak Kert o t ert unduk.

“Saya mengert i dan memahami keadaan Bapak. Juragan bapak sekarang ada di t ahanan polisi.”

Polisi it u kemudian menyuruh Pak Kert o berjalan menuruni lereng perbukit an. Sedang ket iga polisi lainnya memanggul beberapa karung t erigu yang berisi daun ganja dengan dibant u beberapa peladang yang kebet ulan berada di sekitar perbukit an it u.

Pak Kert o t ert unduk menuruni lereng perbukit an. Inilah jawaban at as t eka-t eki t anaman it u, bat in Bak Kert o. Ya, dua t ahun lebih baru t erjawab sekarang, bat innya lagi dalam hat inya. Tak t erasa pipi keriput lelaki t ua it u sudah basah oleh air mata. Sement ara rumah kecil di at as bukit semakin jauh dit inggalkan. Tuhan, jerit Pak Kert o lirih. * * *

Cerpen Rumah Kecil di Bukit Sunyi di at as t erdiri dari 1.178 kat a. Tokohnya pun hanya sedikit , yait u Pak Kert o dan juragan serta sedikit peran polisi di dalam nya. Cerpen bisa dibaca sam pai habis dalam sekali baca karena pendeknya.

(7)

2. Fungsi Cerit a Pendek

Fungsi cerpen sebagai karya sast ra t ent unya sebagai hiburan. Cerpen dapat m enjadi penghibur hat i ket ika kam u m em baca kat a per kat a yang m enyusunnya. Kalau t idak percaya, bacalah cerpen! Ket ika m em baca cerpen, kam u akan ikut larut dalam cerit a yang kam u baca.

Selain it u, fungsi cerpen ada beberapa m acam lagi. Berikut akan kit a bahas sat u per sat u.

Fungsi yang pert ama adalah funngsi rekreat if. Fungsi ini m em berikan rasa senang, gem bira, sert a m enghibur para penikm at at au pem bacanya. Nah, sudah jeas bukan bahwa fungsi ut ama cerpen adalah m enghibur pem bacanya.

Sekarang, coba perhat ikan kut ipan cerpen berikut ini!

”Semasa kecil, aku sering sekali mendengar dongeng negeri bercahaya yang berada di atas puncak gunung peninggalan. Aku suka sekali jika ibu menceritakan itu. Meski telah berulang kali diceritakan. Orang kampung pun sering menceritakannya pada anak-anak mereka. Sehingga kami yang saat itu kanak dan belum terlalu paham mana yang nyata dan tidak selalu berharap bisa ke puncak gunung peninggalan.

Negeri bercahaya yang ada di gunung peninggalan itu dihuni oleh para manusia yang baik rupa dan sifatnya. Mereka keturunan dewa dan dewi yang memberi keberkahan pada Desa Kaki Gunung. Di sana hidup sejahtera dengan cahaya yang

terang. Ada pendopo tempat orang-orang melakukan

pertunjukan. Ada taman tempat orang-orang bermain.”

(Dik utip dari cerpen Willy Adrian yang berjudul Gunung Peninggalan)

(8)

Fungsi yang kedua adalah fungsi didakt if. Fungsi didakt if ialah m endidik at au m engarahkan penikm at at au pem bacanya kearena nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang t erkandung di dalam nya. Selain m enghibur, cerpen juga m endidik dan m em berikan m asukan yang baik kepada pem bacanya.

Cerit a yang dit ulis pengarang m em ang m em iliki nilai yang bisa diam bil oleh pembacanya. Nam un, nilai didakt if ini t idak t ergam bar dengan jelas, ia t ersirat dalam kat a at au percakapan sert a pikiran tokohnya.

Unt uk lebih jelasnya, perhat ikanlah kut ipan cerpen di bawah ini! Malam harinya di ruang tamu, ayah menyuruhku duduk di sampingnya.

”Jadi kau benar-benar ingin tahu jawaban dari pertanyaan Ayah?” tanya Ayah tiba-tiba.

Aku yang sedikit bingung mengangguk karena aku sudah menyerah dan bosan dihantui pertanyaan misterius ayah. ”Kau tahu di antara semua jawaban yang kau berikan pada Ayahmemang tidak ada yang salah. Tapi Ayah ingin kau belajar sesuatu dari pertanyaan ini. Kau tahu kan bagian yang paling penting dari sepeda motor adalah sadel?”

Aku sedikit terkejut. ”Apa alasannya Yah?” tanyaku penasaran. ”Kau tahu kenapa? Karena dengan sadel, kita bisa membonceng dan kita bisa berbagi kebahagiaan dengan siapa saja di atas sepeda motor kita. Seperti itu pula harusnya kita hidup, selalu berbagi dan memberi selama kita masih diberi waktu dan rezeki untuk hidup di atas bumi ini.”

(dik ut ip dari cerpen Pert anyaan Mist erius Ayah k arya Angga Mardian)

Pesan apakah yang disam paikan pengarang m elalui t okoh ayah? Ya, benar sekali. Si ayah m enasehat i si aku unt uk m enjadi orang yang selalu berbagi dan berbuat baik kepada semua orang.

(9)

Fungsi yang ket iga adalah fungsi est et is. Fungsi est et is m em berikan keindahan bagi para penikm at at au para pem bacanya. Biasanya cerpen m elukiskan t em pat-t em pat , suasana, dan pelukisan tokoh dengan bahasa yang indah. Pengarang m elakukan pem ilihan diksi yang cocok sehingga m enim bulkan kesan est et is bagi pembacanya.

Bacalah kut ipan cerpen di bawah ini!

Lambat laun dingin semakin menusuk, masuk kesegala rongga tubuhku, dingin ini beradu kuat dengan suhu tubuhku yang semakin panas terasa. Aku masih dalam kesakitanku. Sudah dua hari aku terbaring lemas di atas kasur berselimut kain tebal berwarna merah dengan sedikit motif bunga tulip disetiap ujungnya.

Tanpa kusadari mutiara hangat mulai jatuh mengairi kedua pipiku. Semakin deras mengucur di kedua muara anak pipi. Aku menangis malam ini bukan alasan karena cinta, rasa sakit hati, bukan pula karena sakitku yang tiap harinya tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Tapi malam ini, kesedihan itu datang karena rasa rinduku yang membuncah mendengar suara lemah lembut beliau.

(dik ut ip dari cerpen Senja yang Mengantar Impiank u Karya Wardat ul Adawiyah)

Tidak sepert i t ulisan ilm iah, cerpen m enggunakan m et afora dan gaya bahasa dalam penulisannya. Inilah kekhasan karya sastra.

Fungsi yang keem pat adalah fungsi moralit as. Fungsi moralit as m engandung nilai moral sehingga para penikm at atau pem bacanya dapat m enget ahui moral yang baik dan t idak baik bagi dirinya.

(10)

Unt uk lebih jelasnya, perhat ikanlah kut ipan cerpen berikut ! Serta merta saya merasakan keanggunan Ibu, seorang perempuan yang mampu menegakkan rumah tangganya begitu tegar dalam kehalusan seorang istri yang begitu mengerti akan hasrat-hasrat yang mendadak, yang tidak dapat dimengerti. Ini semua saya rasa berkat kemampuan menguasai ruang dan waktu itu. Diam-diam Ibu telah menguasai suatu ilmu yang sudah ditinggalkan orang. Suatu kekuatan anugerah yang tidak dapat diminta maupun ditolak. Saya rasa ilmu itu datang

dengan sendirinya ketika seseorang lupa untuk

memperdulikannya.

(dik ut ip dari cerpen Rembulan di Dasar Kolam karya Danart o)

Moralit as cerpen di at as adalah moral yang baik. Cerpen di at as m eggambarkan moral seorang ibu sekaligus ist ri dari sudat pandang anaknya. Bagi si anak. ibunya adalah seorang ist ri yang begit u t egar dan kuat dalam m enegakkan rum ah t angganya sehingga ibunya m em iliki suatu ilmu yang t idak pernah t erpikirkan oleh orang lain. Apakah kam u jadi t eringat kepada ibumu? Kalau begit u, bert erimakasihlah kepada beliau karena t elah m enjadikanmu anak yang baik! Bangglalah kepada ibum u!

Fungsi yang t erakhir adalah fungsi religiusit as. Fungsi religiusit as m engandung ajaran agam a yang dapat dijadikan t eladan bagi para penikm at nya at au pem bacanya.

Dari kut ipan cerpen berikut kit a bisa m endapat kan nilai-nilai keagamaan.

”Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.”

(dik ut ip dari cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis)

(11)

3. Unsur Cerit a Pendek

Unsur cerit a pendek ada dua, yait u unsur int rinsik dan unsur ekst rinsik. Berikut ini akan dijelaskan kedua unsur t ersebut. Paham ilah baik-baik!

1) Unsur Int rinsik

Unsur int rinsik adalah unsur yang berkait an dengan eksist ensi sast ra sebagai st rukt ur yang verbal yang ot onom . Maksudnya, unsur int rinsik m erupakan unsur yang m elekat pada cerpen at au yang dapat diam at i at au dianalisis dari cerpen it u sendiri (Priyat ni, 20 12:10 9).

Unsur int rinsik cerpen ada t ujuh, yait u: t em a, t okoh dan penokohan, alur at au plot , gaya (st yle), set t ing at au lat ar, point of

view dan suasana (m ood dan atmosphere). Penjelasan dari ket ujuh

unsur int rinsik cerpen t ersebut adalah sebagai berikut .

a. Tema

Tema m em iliki kedudukan yang sangat pent ing di dalam cerpen karena semua elem en unsur int rinsik dalam cerita akan m enunjang dan m endukung t em a. Tema disebut juga sebagai ide sent ral at au m akna sent ral suat u cerit a. Tem a m erupakan jiwa cerit a karya sast ra. Jadi, t ema adalah ide yang m endasari suat u cerit a sehingga t em a juga berperan sebagai t it ik t olak unt uk m em aparkan cerit a yang dibuat pengarang.

Tema m enjadi panduan pengarang dalam m em ilih bahan-bahan cerit a, cara wat ak t okohnya bergerak, berpikir, dan m erasa, sert a cara t okoh yang bert ent angan sat u dengan lainnya it u diselesaikan. Sem uanya m erupakan t em a yang akan disam paikan oleh pengarang. Perhat ikanlah kut ipan cerpen di bawah ini!

Anak itu bangun dari tidurnya. Ditatapnya wajah ibunya dalam-dalam. Selanjutnya anak itu memandang ke sekeliling orang-orang yang mulai tertidur dengan sembarang. Bunyi rintihan kesakitan terdengar dari segala penjuru balai yang penuh dihuni orang, sebagai tempat mengungsi dan berlindung. Anak itu mempertajam telinga dan hatinya, nyata bunyi rintihan kesakitan itu merindingkan bulu kuduknya.

”Saya takut, Bu.”

(12)

malam takbiran ini. Sekarang tidurlah di pangkuan ibu, ibu akan membacakan takbiran untukmu.”

(dikutip dari cerpen Api di MalamLebaran karya Heru Kurniawan)

Tema kut ipan cerpen di at as adalah ket akutan, kegelisahan, dan ket abahan. Ket akut an ditunjukkan oleh perasaan si anak ket ika m endengar suara rint ihan kesakit an dan m em buat si anak m erasa gelisah dengan kondisi yang sedang t erjadi. Ket abahan dit unjukkan oleh perkat aan ibu ket ika m enyuruh anaknya unt uk t idur tanpa m em buat si anak lebih takut .

b. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah para pelaku dalam cerita. Berdasarkan bent uknya, t okoh dibedakan m enjadi dua bagian, yait u t okoh fisik dan t okoh imajiner. Tokoh fisik adalah t okoh yang dit am pilkan pengarang sebagai manusia yang hidup di alam nyat a. Sedangkan t okoh im ajiner adalah t okoh yang dit am pilkan sebagai m anusia yang hidup di dalam fant asi.

Berdasarkan sifat dan wat aknya, t okoh dibedakan m enjadi dua, yait u t okoh protagonis dan t okoh ant agonis. Tokoh prot agonis adalah tokoh yang berwat ak baik sehingga disukai oleh pem baca. Sedangkan t okoh ant agonis adalah t okoh yang berwat ak jelek sehingga t idak sesuai dengan yang diidam kan oleh pem baca.

Berdasarkan fungsinya, t okoh dibedakan m enjadi dua, yaitu t okoh ut ama dan tokoh bawahan/pem bant u. Tokoh ut ama adalah t okoh yang m em egang peran ut am a, frekuensi kem unculannya sangat t inggi, m enjadi pusat pencerit aan. Sedangkan t okoh bawahan adalah t okoh yang m endukung tokoh ut ama, yang m em buat cerit a lebih hidup.

Penokohan adalah cara pengarang m enam pilkan wat ak para t okoh dalam cerit anya. Wat ak adalah sifat dasar, akhlak, at au budi pekert i yang dim iliki oleh t okoh. Set iap t okoh m em iliki sifat , sikap, dan t ingkah laku t ert ent u sehingga wat ak t okoh pun berm acam -m acam.

(13)

Unt uk lebih jelasnya, perhat ikanlah kut ipan cerpen di bawah ini.

Biasanya bila aku dihajar Kak Hardo, Kak Sumi tak pernah membelaku. Tapi kali ini kelihatan juga jengkelnya.

”Bagaimana sih, ngajar anak sampai begini?” Berkata begitu Kak Sumi terus membersihkan mulutku yang penuh tanah dan debu.

”Kau mencuri, ya?” ”Tidak, Kak!”

”Ya, tidak! Kak Sumi juga yakin kalau Ari tidak mencuri. Dan tidak akan mencuri. Ayo, makan duu. Kau kan belum makan to?”

Dengan muka masam Kak Sumi meninggalkan Kak Hardo tanpa berkata sepatah pun. Aku dibimbingnya ke dapur.

(dikutip dari cerpen Ibu karya Sumartono)

Ada t iga t okoh dalam kut ipan cerpen t ersebut , yait u t okoh aku, Kak Sum i dan Kak Hardo. Wat ak t okoh aku adalah berani karena m eskipun sudah dihajar oleh Kak Hardo si aku t et ap berani m engat akan bahwa dia t idak m encuri. Sedangkan wat ak Kak Sum i adalah penyabar, penuh kasih sayang, dan lembut . Wat ak kedua t okoh ini berlawanan wat ak t okoh Kak Hardo yang kasar dan kejam dan suka m em ukul si aku.

c. Alur at au Plot

Alur adalah rangkaian perist iwa yang m em iliki hubungan sebab-akibat . Perist iwa adalah unsur ut am a alur. Jalinan perist iwa dalam cerit a t ersusun dalam t ahapan-t ahapan. Pada prinsipnya, rangkaian cerit a bergerak dari perm ulaan, melalui pert engahan, dan m enuju akhir. Suat u cerit a kadang m engdung sat u t ahapan saja dan ada pula yang lebuh dari sat u t ahapan.

(14)

Perhat iaknlah alur penggalan cerit a berikut ini!

Pada hari ketika aku tiba di Pelabuhan Bandarmasih, Banjarmasin, aku telah menetapkan dan mencari peranan diriku sendiri. Masih jelas kuingat kata-kata Amang Dulalin ketika kami hendak belanting mengarungi sungai Amandit dulu: irama. Ya, seperti lagu, belanting di sungai juga memerlukan irama. Kalian harus mampu mengikuti irama ke mana arus sungai menyeret.

Begitulah. Aku harus mampu memainkan perananku sendiri di dalam irama kehidupan tempat kini aku berada, agar aku tidak diempaskan dan ditelannya hidup-hidup (Lampau, 2013:225).

d. Lat ar at au Set t ing

Lat ar cerit a adalah lingkungan, yait u dunia cerit a sebagai t em pat t erjadinya perist iwa. Dalam lat ar inilah segala perist iwa yang m enyangkut hubungan ant art okoh t erjadi. Lat ar t em pat dalam cerpen biasanya m em punyai dua t ipe, yait u lat ar yang dicerit akan secara det ail, biasanya t erjadi jika cerpen fokus pada persoalan lat ar dan lat ar yang t idak m enjadi fokus ut am a at au m asalah, hanya sebagai t em pat t erjadinya peristiwa saja.

Perhatikanlah kut ipan cerpen di bawah ini!

Lima belas tahun sejak kutinggalkan, kampungku masih sama seperti dulu, ketika aku masih kanak-kanak. Masih berdiri di tengah hutan belantara. Masih dihuni oleh rumpun keluarga yang sama. Masih dengan kesederhanaannya dan masih dengan kepercayaannya.

Kepala kampung yang mengatur jalannya kehidupan bermasyarakat di Kampung Rumbi sudah berganti. Namun, tradisi yang dilakukan masih belum berganti.

Kepala kampung mempunyai andil yang besar dalam mengatur pernikahan antara si gadis dan si bujang. Si gadis dan si bujang telah dijodohkan sejak mereka baru melihat matahari di bumi oleh warga sekampung.

(dikutip dari cerpen Kampung Rumbi karya Winda Sevni Yenti)

Lat ar cerpen di at as adalah di sebuah kam pung yang bernam a Kam pung Rum bi. Lat ar t ersebut diceritakan secara det ail karena persoalan t em pat (Kam puang Rumbi)-lah yang m enjadi fokus cerit a.

(15)

e. Gaya (st yle)

Gaya adalah cara seorang pengarang m enyam paikan gagasannya dengan m enggunakan m edia bahasa yang indah dan harm onis sert a m am pu m enuansakan m akna dan suasana yang dapat m enyent uh daya int elekt ual dan em osi pem baca. Jadi, gaya sebenarnya adalah ciri khas yang dipakai pengarang unt uk m engungkapkan dan m eninjau persoalan cerit a.

f. Sudut Pandang at au Point of View

Sudut pandang adalah t em pat pengarang dalam hubungannya dengan cerit a, dari sudut pandang m ana pengarang m enyam paikan cerit a. Sudut pandang m engacu kepada posisi pengarang, yait u di dalam at au di dalam cerit a.

Pengarang dapat m em ilih sat u at au lebih pencerit a yang bert ugas m em aparkan ide, perist iwa-perist iwa dalam cerit anya. Pengarang bisa m enggunakan sudut pandang orang pert ama (akuan) dan juga sudut pandang orang ket iga (diaan) at au nama orang.

Perhat ikanlah kut ipan cerpen di bawah ini!

Bukannya Nayla tidak mau. Namun Nayla bosan menghadapi masalah yang itu-itu lagi dan sudah membuatnya jemu. Membayangkan jarak dari rumahnya ke kafe itu yang lumayan jauh. Kemacetan jalan yang harus mereka tempuh. Pertengkaran-pertengkaran tak penting. Kekesalan yang berbuah dari masalah yang sama sekali tak genting. Sudah cukup dengan membayangkannya saja membuat kepala Nayla pening.1

(dikutip dari cerpen Coffeewar karya Djenar Maesa Ayu)

Saya benar-benar tidak mengerti maksud mereka. Yang saya tahu saat itu hanya hati saya terasa ngilu bagai disayat-sayat sembilu. Mungkinkah ini yang disebut perasaan? Tapi saya sudah terlanjur kehilangan keberanian untuk mengatakan apa yang saya rasakan. Dan saya tambah tidak mengerti jika benar ini adalah perasaan yang mereka maksudkan, lalu mengapa mereka bisa menertawakan saya tanpa mempedulikan perasaan saya sama sekali?

Pada saat otak saya dipenuhi pertanyaan ini, saya pun berpikir. Apakah ini yang mereka maksud dengan akal? Lalu mengapa akal mereka tidak sampai pada pikiran bahwa saya tidak senang dijadikan bahan tertawaan?2

(16)

Sudut pandang cerpen pert am a adalah sudut pandang orang ket iga. Tam pak dari pencerit aan yang m enggunakan nama Nayla. Sedangkan sudut pandang cerpen kedua menggunakan sudut pandang orang pert am a yaitu pencerit aan m enggunakan saya. Nah, dari kedua sudut pandang t ersebut mana yang m enarik m enurut kamu?

g. Suasana Cerit a

Dalam cerit a pendek t erdapat suasana bat in dari individu pengarang. Di sam ping it u, juga t erdapat suasana cerita yang dit im bulkan oleh penat aan set t ing. Suasana cerit a yang dit im bulkan oleh suasana bat in individual pengarang disebut

mood, sedangkan suasana cerit a yang t im bul karena penat aan set t ing disebut dengan atmosphere.

Nah, set elah m em baca dan m em aham i unsur int rinsik cerpen,

dapat kah kam u m enent ukan unsur intrinsik dari cerpen? Lat ihlah pem ahamanm u dengan m enent ukan unsur cerpen Rum ah Kecil di

Bukit Sunyi yang t elah kam u baca!

2) Unsur Ekst rinsik

Unsur ekst rinsik adalah unsur-unsur luar yang berpengaruh t erhadap pencipt aan suat u bent uk karya sast ra. Unsur ekst rinsik ini ada dua yait u lat ar belakang sosio budaya dan aspek psikologis. Dengan lat ar belakang sosio budaya suat u cerit a dapat m em berikan lukisan yang jelas t ent ang suat u t em pat dalam suat u m asa.

4. St rukt ur Cerit a Pendek

St rukt ur cerita pendek t erdiri atas enam m acam, yait u:

a. Judul

(17)

b. Perkenalan

Perkenalan biasanya berisi perkenalan tokoh-t okoh cerit a, perkenalan m asalah atau kejadian yang dialam i oleh t okoh-t okoh t ersebut , dan perkenalan t em pat t erjadinya perist iwa.

Perhat ikanlah kut ipan cerpen beriku!

SETIAP pagi, di depan gerbang sekolah, Hardi selalu

menyaksikan

adegan

peluk-memeluk

yang

begitu

menggetarkan. Pagi-pagi, sebelum masuk ke dalam kelas,

Hardi selalu berdiri berlama-lama di depan gerbang

sekolah, demi menghitung adegan peluk-memeluk yang ia

saksikan, yang begitu indah dan ia idam-idamkan. Mata

Hardi menyipit dan hampir tak berkedip mengawasi Siska

dipeluk dan dicium mamanya sebelum masuk kelas.

Sepulang sekolah,

ia

juga selalu

memperhatikan

bagaimana

Bram

meloncat-loncat

setelah

dipeluk

kakeknya, sebelum masuk ke dalam mobil jemputan. Ia

juga selalu melirik Bu Guru yang sangat suka memeluk

erat-erat anaknya yang masih TK, dengan bonus kecupan

di kening.

(dikutip dari cerpen Pelukan karya Zainal Masdar)

c. Kom plikasi

Tahap kom plikasi adalah ket ika konflik m uncul dan para t okoh m ulai bereaksi t erhadap konflik, kemudian konflik m eningkat .

Unt uk lebih jelasnya, perkat ikanlah kut ipan cerpen Pelukan karya Zainal Masdar di bawah ini!

(18)

a. Klimaks

Klimaks adalah konflik yang sudah m encapai puncaknya. Klimaks m erupakan t ahapan t ert inggi di dalam cerit a. Perhat ikanlah klim aks cerit a dalam cerpen Pelukan karya Zainar Masdar berikut ini!

Di antara 30 anak, Hardi selesai paling pertama. Beberapa

anak mulai menyusul. Satu per satu, Bu Guru meneliti

tulisan anak-anak. Bu Guru berhenti agak lama ketika

membaca buku tulis milik Hardi.

“Hardi,” seru Bu Guru.

Hardi kaget. Apakah ia mendapatkan giliran pertama

untuk membaca di depan kelas?

“Coba bacakan ini, hobi dan cita-cita kamu, di depan, yang

keras.”

Hardi maju ke depan kelas dan mulai mengeja tulisannya

sendiri. Terbata-bata.

“Nama Hardian, alamat….”

“Stop, stop, baca hobi dan cita-citanya saja,” pekik Bu

Guru.

“Hobi saya…,” berhenti sejenak, “memeluk.”

Tawa-tawa anak sekelas meledak. Serentak.

“Siapa yang tertawa?” Bu Guru menggebrak meja, “Ayo

lanjutkan!” Bu Guru memelototi Hardi.

Dengan suara terlunta, Hardi melanjutkan bacaannya,

“Cita-cita saya… ingin dipeluk.”

Alunan tawa kembali menggelegar. Gempar.

“Diam!” Bu Guru kembali menggebrak meja, sebelum

kembali memelototi Hardi, “Apa ini maksudnya, hobi kok

aneh, memeluk, cita-citamu malah lebih aneh, dipeluk.

Apa ini maksudnya? Mau melucu? Mau cari perhatian?”

e. Penyelesaian

Set elah klim aks m aka ada suat u penyelesaian t erhadap konflik yang t erjadi sehingga konflik t ersebut t erpecahkan. Penyelesaian konflik di dalam cerita dapat kam u lihat dalam kut ipan cerpen

Pelukan karya Zaina Masdar berikut ini.

(19)

jelasnya dipeluk Bu Guru. Tapi, setelah kejadian menjengkelkan itu, serta merta cita-citanya berubah: ia ingin dipeluk siapa pun yang penting bukan Bu Guru. Ia sudah terlanjur membenci Bu Guru.

f. Am anat at au Pesan Moral

Pengarang biasanya m emberikan amanat at au pesan m oral di dalam cerit anya, baik it u pesan yang t ersurat m aupun t ersirat. Nah, perhat ikanlah kut ipan cerpen Pelukan k arya Zainar Masdar di bawah ini! Bagaim anakah cara pengarang m elukiskan pesan moralnya?

Pikiran Hardi semakin ke mana-mana. Bukankah ia

tinggal di panti asuhan? Tanpa ibu, tanpa ayah, tanpa

keluarga yang sebenarnya. Dan itu artinya, takkan pernah

ada orang yang mau untuk ia peluk atau memeluknya.

Menyadari hal itu, Hardi semakin sedih. Masa iya, aku

harus memeluk tubuhku sendiri, batinnya. Hatta, berulang

kali Hardi mencoba menyilangkan kedua tangan untuk

memeluk tubuhnya sendiri, namun tetap saja, kedua

tangannya

tak

cukup

panjang

untuk

tubuhnya.

Bagaimanapun, seseorang memang tak pernah bisa

memeluk tubuhnya sendiri, ia tetap butuh orang lain.

Sampai matanya terlelap, Hardi masih bertanya-tanya,

adakah seseorang yang sudi memeluknya?

Pesan m oral dari cerpen t ersebut adadalah set iap m anusia m em but uhkan orang lain dalam hidupnya. Sikap anak kecil bernam a Hardi yang begit u m erindukan pelukan m em berikan pesan kepada orang t ua unt uk selalu m emberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.

5. Penggunaan Bahasa

Dalam pencerit aanya, cerpen m em punayi ciri-ciri bahasa sebagai berikut:

a. Mem uat kat a-kat a sifat unt uk m endeskripsikan pelaku/t okoh, penam pilan fisik, at au kepribadiannya.

b. Mem uat kata-kat a ket erangan unt uk m enggambarkan lat ar (t em pat , wakt u, suasana sosial)

c. Mem uat kat a kerja yang m enunjukkan perist iwa-perist iwa yang dialam i para pelaku

(20)

6. Langkah-langkah Menyusun Cerit a Pendek

Mem baca karya sast ra akan m em buat pikiran kit a t erhibur. Selain it u, orang yang senang m em baca karya sast ra (cerpen) akan m em iliki perasaan yang halus. Banyak sekali t eladan yang bisa didapat kanan dari karya sast ra. Nah, sudah berapa banyakkah cerpen yang kamu baca?

Selain m enjadi pem baca, ada baiknya jika kam u bisa m enulis cerpen. Pengalam an yang kam u dapat kan set elah m em baca beberapa cerpen bisa m enuntunm u m enem ukan ide-ide unt uk m enulis cerpen. Kamu pun bisa m elihat cara penulis m enyusun cerit anya. Jadi, kem am puan m enulis cerpen bisa kamu m iliki jika kam u senang m embaca cerpen.

Ada beberapa langkah yang bisa kam u lakukan unt uk m enulis sebuah cerpen. Langkah-langkah t ersebut adalah sebagai berikut .

a. Menem ukan bahan unt uk m enulis cerpen dari berbagai sum ber (pengalam an pribadi, pengalaman orang lain, berit a t elevisi, koran, m ajalah, dan lain-lain)

b. Mengem bangkan garis besar kerangka/alur cerpen

c. Menulis pem buka cerpen (orient asi/perkenalan t okoh dan perist iwanya)

d. Menghidupkan t okoh dengan dialog

e. Mengem bangkan alur unt uk m enghidupkan cerit a f. Menulis penyelesaian.

Unt uk m em aham i langkah-langkah m enyusun t eks cerpen, berikut ini akan dijelaskan sat u persatu.

1) Menem ukan Bahan

Bahan yang paling m udah didapat kan ket ika akan m enulis cerpen adalah pengalam an. Pengalam an, bisa dari pengalam an pribadi yang kamu alam i sendiri, yang kam u lihat , dan yang kamu dengar at au dari pengalaman orang lain. Int inya, ket ika kam u berniat ingin m enulis cerpen, inspirasi unt uk m enulis it u bisa kam u korek dari pengalam an. Yang past i jika ada kem auan di sit u past i ada jalan.

(21)

ada di m ana-m ana. Misalnya, ada acara di t elevisi yang m enayangkan keindahan hut an pedalaman di Kalim ant an. Hut an yang m asih hijau dan rim bun, dihuni oleh berbagai jenis sat wa, baik buas maupun t idak. Kam u bisa m engam bil latar sepert i itu untuk cerit amu.

Perhat ikanlah kut ipan cerpen di bawah ini!

”Kampungku bernama Kampung Rumbi. Terletak di ujung Sumatera di pedalaman semak belukar. Jika kau ingin mencarinya di peta, pastilah kau tidak akan menemukannya. Kampungku bertapa dalam hening di hutan belantara. Jauh dari kebisingan kota. Apalagi teknologi canggih. Orang-orang di kampungku lahir dan mati di sana. Tak pernah pergi ke mana-mana.”

(dikutip dari cerpen Kampung Rumbi karya Winda Sevni Yenti)

Kut ipan cerpen t ersebut m enggam barkan keadaan kam pung yang berada di pedalam an hut an Sumat era. Penulis boleh m engam bil inspirasi dari sum ber at au bahan yang didapat kan t et api jangan pernah m enirunya serat us persen. Penulis harus bisa m engem bangkan imajinasinya unt uk m em buat cerit anya bahkan lebih bagus dari bahan yang didapat . Kamu past i bisa m elakukan yang lebih baik ket ika mencari bahan untuk m enulis cerpen bukan?

2) Mengem bangkan Kerangka Cerpen

Langkah kedua yang harus dilakukan ket ika akan m enulis at au m enyusun cerpen adalah m embuat garis besar at au kerangka cerpen. Set elah it u m engem bangkan kerangka cerpen t ersebut m enjadi cerit a yang ut uh.

Kerangka cerpen adalah garis besar cerit a yang akan disusun. Kerangka ini berupa siapa tokoh cerit a, kejadian apa saja yang akan t erjadi di dalam cerit a, bagaim ana t okoh-t okohnya m elewat i kejadian t ersebut , nasib apa yang dialam i oleh t okoh cerit a ket ika m enghadapi kejadian t ersebut , dan lain-lain.

Unt uk lebih jelasnya, perhat ikanlah kerangka cerit a pendek berikut ini!

(22)

kont rakan. Ket ika sedang berjualan bersam a ibunya, perem puan ini bert em u dengan seorang laki-laki yang seum uran dengannya. Akhirnya, laki-laki it u m enjadi t em annya dan selalu m em bant unya ket ika perem puan it u m engalam i kesulitan. Mereka berangkat sekolah bersama, pulang bersam a, dan belajar bersama. Lama kelam aan perasaan yang lebih dari sahabat m engisi hat i perem puan it u. Tetapi t epat pada saat itu pula, m ereka harus dipisahkan oleh keadaan yang t ak pernah disangka-sangka sebelum nya. Ternyat a laki-laki it u adalah anak t iri ayah si perem puan it u. Di sinlah konflik m ulai m em uncak, dan penulis bisa m enyelesaikan at au bahkan m enyudahi t ulisan unt uk m embuat kesan yang dram at ik pada cerit a.

3) Menulis Orient asi Cerpen

Orient asi adalah t ahap perkenalan t okoh dan lat ar. Pada orient asi dijelaskan t okoh dan kejadian yang akan t erjadi. Penulis bisa m em ulai dengan dialog unt uk m em pert egas kesan cerit a. Bisa juga dengan deskripsi lat ar.

Perhat ikanlah kutipan cerpen di bawah ini!

SEBELUM peristiwa malam itu—yang akan kuceritakan nanti,

Idang dikenal sebagai perempuan kurang waras. Kerap mengamuk kesurupan, dan meracau menceritakan tentang mimpi-mimpinya yang aneh. Kepada orang-orang ia sering mengatakan, “Ada ular-ular besar menyusup dalam mimpiku. Ular itu bukan mimpi, tapi ular yang menyusup dalam mimpiku. Dalam mimpi juga aku sering bertemu Ayah.”

Idang memang tak seperti kebanyakan perempuan lainnya yang hidup di pegunungan Meratus. Ia suka memanjat pohon, hal yang hanya pantas dan perlu kekuatan seperti dimiliki anak laki-laki. Ia juga kerap melakukan perjalanan sendiri ke hutan-hutan terdalam, hutan-hutan-hutan-hutan terlarang.

(dikutip dari cerpen Perempuan Balian karya Sandi Firly)

(23)

1) Menghidupkan Cerit a dengan Dialog

Agar cerit a t erkesan sepert i t ulisan art ikel populer, penulis harus m enghidupkan t ulisan dengan dialog. Maksudnya adalah m engisi cerit a dengan dialog ant ar t okoh cerit a.

Perhat ikan lah dialgo ant ar t okoh dalam kut ipan cerpen di bawah ini!

Tapi malam itu, Idang, seorang perempuan muda yang dianggap gila, menyeruak ke tengah-tengah upacara. Menari-nari, menyanyi, merapalkan mantra-mantra yang sebelumnya tidak pernah dibaca para balian.

“Ini menyalahi adat. Tidak pernah ada seorang perempuan, apalagi perempuan itu dianggap gila, bisa menjadi seorang balian. Ini alamat mendatangkan bencana,” ucap seorang lelaki tua di warung kepada dua lelaki yang lebih muda. Aku, yang meski berseberangan meja dengan mereka, masih dapat mendengarkan ucapan itu.

“Tapi ia telah berhasil menyembuhkan anak itu,” sahut salah satu lelaki muda sembari mengisap rokok.

“Betul, Pak. Saya ikut menyaksikan malam itu,” timpal yang seorang lagi setelah meneguk kopi hitamnya.

Dengan wajah agak memerah, orang tua itu berucap, “Kalian anak muda ini, tahu apa kalian tentang balian. Kalian lihat saja nanti, hutan dan kampung kita ini nantinya akan ditimpa bencana. Dan itu karena perempuan gila yang hendak menjadi balian.” Setelah membayar kopinya, lelaki tua itu pun pergi meninggalkan warung sambil menggerutu, “Celaka… celaka… celaka.”

(dikutip dari cerpen Perempuan Balian karya Sandi Firly)

Dengan dialog t okoh dalam cerit a seakan-akan hidup. Melalui dialog penulis bisa m elanjut kan cerit a dan perist iwa. Jadi, cerit a lebih hidup dengan t okoh yang juga hidup sepert i m anusia pada umum nya, berint eraksi dengan manusia lainnya yang digam barkan dengan dialog.

5) Mengem bangkan Alur

(24)

Perhat ikanlah kut ipan cerpen berikut ini!

AKU menikahi Manusia Es.

Pertama bertemu dengannya di sebuah hotel di ski resort, tempat paling sempurna untuk menemukan Manusia Es, memang. Lobi hotel begitu riuh dengan anak muda, tapi Manusia Es duduk sendiri di kursi sudut yang letaknya paling jauh dari perapian, diam membaca buku sendirian. Meski sudah hampir malam, tapi cahaya dingin pagi awal winter terlihat berpendar mengitarinya.

“Lihat! Itu si Manusia Es,” bisik temanku.

Waktu itu, aku sungguh tak tahu makhluk apa itu Manusia Es. Temanku juga. “Dia pasti terbuat dari es. Itu sebabnya orang-orang menyebutnya Manusia Es.” Temanku mengatakan hal tersebut dalam nada serius seolah dia sedang membicarakan hantu atau seseorang dengan penyakit menular.

(dikutip dari cerpen Manusia Es karya Haruki Murakami)

7) Menulis Penyelesaian

Langkah t erakhir dalam m enyusun cerpen adalah m enulis penyelasaian. Penyelesaian adalah jalan yang diam bil t okoh atau t indakan yang dilakukan tokoh unt uk m enyelesaian konfliknya. Penyelesaian dit ulis dengan bagus sehingga m enyaran bagi pem baca. Art inya, pembaca hendaknya m erasa penasaran dengan akhir cerit a t ersebut .

Perhat ikanlah akhir dari cerit a berikut ini!

Selama perjalanan meninggalkan kampung di pinggiran hutan pegunungan Meratus itu, benakku terus dihantui cerita tentang Idang perempuan balian, dan lelaki tua di warung yang mengabarkan akan datang bencana di kampung dan hutan mereka.

Entah, makna apa yang harus aku pahami. Namun aku tahu, sebentar lagi hutan tak jauh dari kampung itu akan dibongkar oleh sebuah perusahaan besar untuk mengeruk emas hitam dari perutnya. (*)

(dikutip dari cerpen Perempuan Balian karya Sandi Firly)

Dem ikianlah langkah-langkah m enyusun cerita pendek yang bisa dit erapkan untuk m em ulai m enulis. Penulis yang baik adalah penulis yang m emulai m enulis dengan m em baca karya (cerpen) orang lain. Apalagi jika karya yang dibaca adalah t ulisan seorang yang sudah m um puni. Tentu t ulisan yang dihasilkan akan bagus pula.

Perhat ikanlah kut ipan cerpen berikut ini!

AKU menikahi Manusia Es.

Pertama bertemu dengannya di sebuah hotel di ski resort, tempat paling sempurna untuk menemukan Manusia Es, memang. Lobi hotel begitu riuh dengan anak muda, tapi Manusia Es duduk sendiri di kursi sudut yang letaknya paling jauh dari perapian, diam membaca buku sendirian. Meski sudah hampir malam, tapi cahaya dingin pagi awal winter terlihat berpendar mengitarinya.

“Lihat! Itu si Manusia Es,” bisik temanku.

Waktu itu, aku sungguh tak tahu makhluk apa itu Manusia Es. Temanku juga. “Dia pasti terbuat dari es. Itu sebabnya orang-orang menyebutnya Manusia Es.” Temanku mengatakan hal tersebut dalam nada serius seolah dia sedang membicarakan hantu atau seseorang dengan penyakit menular.

(dikutip dari cerpen Manusia Es karya Haruki Murakami)

6) Menulis Penyelesaian

Langkah t erakhir dalam m enyusun cerpen adalah m enulis penyelasaian. Penyelesaian adalah jalan yang diam bil t okoh atau t indakan yang dilakukan tokoh unt uk m enyelesaian konfliknya. Penyelesaian dit ulis dengan bagus sehingga m enyaran bagi pem baca. Art inya, pembaca hendaknya m erasa penasaran dengan akhir cerit a t ersebut .

Perhat ikanlah akhir dari cerit a berikut ini!

Selama perjalanan meninggalkan kampung di pinggiran hutan pegunungan Meratus itu, benakku terus dihantui cerita tentang Idang perempuan balian, dan lelaki tua di warung yang mengabarkan akan datang bencana di kampung dan hutan mereka.

Entah, makna apa yang harus aku pahami. Namun aku tahu, sebentar lagi hutan tak jauh dari kampung itu akan dibongkar oleh sebuah perusahaan besar untuk mengeruk emas hitam dari perutnya. (*)

(dikutip dari cerpen Perempuan Balian karya Sandi Firly)

(25)

Cerpen adalah rangkaian perist iwa yang t erjalin m enjadi sat u yang di dalam nya t erjadi konflik ant artokoh atau dalam diri tokoh it u sendiri dalam latar dan alur.

Fungsi cerpen ada lim a, yait u (1) fungsi rekreat if, (2) fungsi didakt if, (3) fungsi est et is, (4) fungsi moralitas, dan (5) fungsi religius.

Unsur cerpen ada dua, yait u unsur int rinsik dan unsur ekst rinsik. Unsur int rinsik cerpen ada t ujuh, yait u: (1) t em a, (2) tokoh dan penokohan, (3) alur at au plot , (4) gaya (st yle), (5) set t ing at au lat ar, (6) point of view dan (7) suasana (m ood dan atm osphere). Sedangkan unsur ekst rinsik novel ada dua, yait u (1) lat ar belakang sosio budayadan (2) aspek psikologis.

St rukt ur isi cerit a pendek ada enam , yait u: (1) judul, (2) perkenalan, (3) kom plikasi, (4) klim aks, (5) penyelesaian, dan (6) amanat at au pesan moral.

Ciri bahasa cerpen ada em pat , yait u: (1) m emuat kat a-kat a sifat , (2) m emuat kat a-kat a ket erangan, (3) m em uat kat a kerja, dan (4) m emuat sudut pandang.

Langkah-langkah m enusun cerpen adalah sebagai berikut: (1) m enem ukan bahan unt uk m enulis cerpen, (2) m engem bangkan garis besar cerit a, (3) m enulis pembuka cerpen, (4) m enghidupkan t okoh dengan dialog, (5) m engam bangkan latar, dan (6) m enulis penyelesaian.

(26)

Bacalah cerpen di bawah ini kem udian kerjakanlah lat ihannya di buku lat ihanm u secara berpasangan!

TANGAN keriputnya bergetar saat menorehkan pisau pada batang

pohon yang hanya sebesar lutut orang dewasa itu. Setelah torehannya

hampir melingkari batang, titik-titik cairan kental putih muncul pada

bekas goresan pisaunya. Getah mengalir lamban menuju susudu.

Kemudian tetes demi tetes jatuh ke dalam tempurung.

Ini adalah pohon karet terakhir dari enam belas batang yang

disadap Ni Siti, dan matahari sudah lebih dari duduk di atas kepala.

Setelah membersihkan pisau sadapnya, Ni Siti duduk di samping

tangkitan yang diletakkannya tak jauh dari batang karet terakhir tadi.

Ni Siti ingin istirahat sebentar sebelum pulang sambil menunggu

getah karet terkumpul di tempurung. Dengan istirahat sebentar, ia

berharap bisa mengumpulkan tenaga guna memungut ranting yang

bisa didapat sepanjang tepian jalan pulang. Di rumah, kayu bakar

sudah hampir habis.

Menyadap karet akhir-akhir ini terasa sangat melelahkan. Padahal

sewaktu Kai Rustam sang suami masih hidup, sebelum matahari

muncul pohon karet keenam belas telah selesai disadap. Pulang ke

rumah, menanak nasi, sarapan dan sekitar pukul setengah sembilan,

saat mereka kembali ke kebun karet tempurung telah penuh dengan

getah karet yang masih cair.

D. EVALUASI

(27)

Namun sekarang semua telah berubah. Seorang diri, Ni Siti

membutuhkan waktu lebih lama untuk menyadap semua pohon karet.

Ni Siti tak pernah lagi mendapati getah cair dalam tempurung. Getah

itu telah beku sebelum Ni Siti kembali untuk mengumpulkannya.

Bagi Ni Siti, sebenarnya beku atau tidak karet itu bukanlah

masalah penting. Yang jadi masalah baginya adalah dalam dua tahun

terakhir ini, sejak suara mesin yang meraung-raung, kadang

berdentum di sebelah barat kebun karetnya, tempurung-tempurung

tempat menetesnya getah tak pernah penuh lagi. Sejak hampir tiap hari

truk-truk besar melintas di jalan depan rumah atap rumbianya,

rata-rata tiap batang karetnya hanya menghasilkan seperempat tempurung

getah. Sejak pohon rambutan depan rumahnya digantikan tong besar

yang katanya tempat air bersih itu, penghasilan Ni Siti yang sudah

sedikit bertambah cekat.

Ah… pohon rambutan itu. Masih jelas terbayang di benak Ni Siti,

bagaimana Rustam tergopoh-gopoh membawa bibit pohon yang baru

dibelinya di pasar Sajumput. “Ding, ini bibit rambutan Batuk, akan

kutanam di halaman kita. Kalau sudah tumbuh, daunnya sangat

rindang, sangat cocok untuk tempat bahanup. Anak-anak pasti suka

bermain di bawahnya,” kata Rustam menjelaskan.

“Apalagi kalau sudah berbuah, pasti tambah banyak anak-anak

yang bermain sambil memetik buahnya,” sambung Rustam. Sang istri

tersenyum, ia tahu keinginan suaminya itu adalah agar ia bisa melihat

anak-anak setiap hari. Maklum, setelah dua puluh tahun menikah,

mereka sadar bahwa salah satu dari mereka tamanang. Mereka harus

mengubur harapan mereka untuk memiliki anak. Dengan melihat

anak-anak setidaknya bisa sedikit menghibur.

Setelah menanam, dengan tekun sang suami merawat bibit itu.

Hingga bibit itu tumbuh seperti yang diharapkan. Dan benar saja,

hampir tiap sore anak-anak bermain di bawahnya. Halaman Ni Siti

pun tak pernah sepi dari anak-anak. Hampir tiap hari pula Ni Siti dan

suaminya duduk di teras rumah, memperhatikan anak-anak yang

sedang bermain. Kadang mereka berdua ikut bercanda bersama

anak-anak.

(28)

Sekarang, pohon itu telah digantikan dengan tong besar warna

biru yang katanya tempat air bersih. Tiga bulan lalu, Ni Siti didatangi

pembakal bersama beberapa orang dengan membawa tong besar. Di

tong itu tertera sebuah logo dan tulisan. Ni Siti yang tak bisa membaca

merasa tak perlu menanyakan arti gambar dan tulisan apa itu.

“Desa kita ini kekurangan air bersih, tong ini untuk menampung

air bersih,” kata Pembakal.

“Saya harus bayar berapa?” tanya Ni Siti lugu.

“Tak perlu bayar, ini merupakan kemurahan hati orang-orang

yang lalu lalang di desa kita.”

“Ini sudah kesepakatan seluruh warga desa dengan orang-orang

itu.” Pembakal menambahkan.

Sebenarnya Ni Siti ingin menanyakan lebih lanjut kenapa desanya

dikatakan kekurangan air bersih. Padahal sumur kecil di belakang

rumah Ni Siti tak pernah kering, sekalipun kemarau manahun. Namun

mendengar itu sudah menjadi kesepakatan warga desa, Ni Siti tak

ingin—dan juga memang tak bisa—berdebat.

Tong itu terlalu besar dan halaman Ni Siti tak terlalu luas, alhasil

pohon rambutan yang telah ditanam Kai Rustam pun ditebang.

Anak-anak tak pernah lagi bermain di halaman Ni Siti. Dan Ni Siti

kehilangan sesuatu yang bisa membuatnya merasa dekat dengan sang

suami.

***

Matahari kian tinggi, Ni Siti dengan lamban bangkit dari

duduknya. Diambilnya tangkitan, kemudian talinya dikaitkan di

kepala. Di kejauhan, dari arah jalan desa, di antara deru mesin

terdengar klakson truk yang menyalak-nyalak. “Tampaknya truk-truk

itu melintas lagi,” pikir Ni Siti.

Ni Siti memperhatikan susudu, masih ada getah yang menetes

jatuh ke tempurung. Berarti ia punya waktu beberapa jam untuk

kembali ke rumah sebelum baputik.

(29)

Ni Siti tak tahu banyak tentang serpihan hitam itu. Satu-satunya

yang ia ketahui adalah bahwa untuk mendapatkan serpihan hitam itu,

orang yang lalu lalang di desanya menggali lubang-lubang besar

dengan alat-alat bak raksasa di sebelah barat kebun karetnya.

Mungkin air dari berbagai tempat mengumpul di lubang-lubang

bekas galian itu. Sehingga air di sebelah barat tak lagi mengalir ke

kebun karet Ni Siti. Sedang air dari kebun karetnya mengalir menuju

lubang. Karet-karet Ni Siti pun kekurangan air. Dan sampai kapan hal

ini berlangsung?… Wanita renta itu tak pernah tahu. Ni Siti hanya

ingin pulang dan menyapu terasnya. (*)

Keterangan:

Susudu: benda, sesuatu—biasanya daun—untuk mengarahkan tetes getah ke tempurung. Tangkitan: Sejenis bakul, biasanya terbuat dari anyaman bambu. Digunakn dengan cara

mengaitkan talinya yang terbuat kulit pohon ke kepala. Orang Banjar hulu sungai biasa menggunakannya untuk membawa bekal meladang dan mengangkut kayu bakar.

Sajumput: Secuil, sedikit. Pasar Sajumput artinya pasar dengan sedikit pembeli dan pedagang Ding: Dik, Adik.

Bahanup: Berteduh, bernaung Tamanang: Mandul

Manahun: Lama, sangat lama. Bertahun-tahun Baputik: Memanen getah karet

Kerjakanlah lat ihan di bawah ini berdasarkan cerpen yang berjudul Serpihan di Teras rumah karya Zaidinoor!

1. Isilah t abel di bawah ini dengan unsur int rinsik cerpen, pengert ian unsur int rinsik, dan kut ipan dari cerpen yang m enunjukkan unsur t ersebut !

No. Unsur Intrinsik Pengertian Kutipan dari Cerpen 1.

(30)

4. Isilah t abel di bawah ini dengan benar!

No. Struktur Isi Cerpen Kutipan 1.

2. 3. 4. 5. 6.

5. Tunjukkanlah ciri-ciri bahasa cerpen Serpihan di Teras Rumah karya Zaidinoor!

Firly, Sandi. 20 03. Lam pau. Jakart a: Gagas Media.

Kurniawan. Heru dan Sut ardi. 20 12. Penulisan Sast ra Kreat if. Yogyakart a: Graha Ilmu.

Priyat ni, Endah Tri. 20 12. Membaca Sast ra dengan Ancangan

Lit erasi Krit is. Jakart a: Bum i Aksara.

2. Isilah t abel di bawah ini dengan benar!

No. Struktur Isi Cerpen Kutipan 1.

2. 3. 4. 5. 6.

3. Tunjukkanlah ciri-ciri bahasa cerpen Serpihan di Teras Rumah karya Zaidinoor!

Firly, Sandi. 20 03. Lam pau. Jakart a: Gagas Media.

Kurniawan. Heru dan Sut ardi. 20 12. Penulisan Sast ra Kreat if. Yogyakart a: Graha Ilmu.

Priyat ni, Endah Tri. 20 12. Membaca Sast ra dengan Ancangan

Lit erasi Krit is. Jakart a: Bum i Aksara.

(31)
(32)

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pemahaman struktur dan ciri kebahasaan teks cerpen terhadap kemampuan menulis teks cerpen oleh siswa kelas VII

Berdasarkan pembahasan pada bab se- belumnya dan tujuan penelitian yang hendak dicapai maka dapat disimpulkan sebagai beri- kut: Untuk Strategi peningkatan aktivitas seni musik

Data total hasil validasi dari keempat subjek uji tersebut , diperoleh total rata-rata hasil persentase sebesar 83,4%.Berdasarkan paparan hasil penelitian di atas,

Bahan ajar merupakan salah satu faktor keberhasilan guru dalam mengajar. Bahan ajar disusun untuk membantu guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Namun, penyediaan materi

Selain itu, menurut Moleong (2015:6), “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian,

peningkatan kemampuan siswa dalam menulis teks deskriptif sebelum dan setelah penggunaan media pembelajaran. Berdasarkan permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran

Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan kebutuhan guru terhadap bahan ajar teks deskripsi, (2) menyusun prototipe bahan ajar teks deskripsi, (3)

Pengamatan Sikap Santun Saat Tes Menulis Teks Eksposisi Siswa Kelas VII SMP Negeri 14 Padang dengan Berbantuan Media Gambar Berdasarkan Tabel 6, dapat dikemukakan bahwa keterampilan