• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERPELESET MENULIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TERPELESET MENULIS"

Copied!
183
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

2

TERPELESET MENULIS

MENCARI EKSISTENSI DIRI

Prakata : Surochiem As, S.Sos, SH, M.Si. (Kaprodi Ilmu Komunikasi UTM )

Pengantar :

Teguh Hidayatul Rachmad, S.I.Kom., M.Si., M.A Alumni Prodi komunikasi UTM

Penerima Program Beasiswa Unggulan Pascasarjana Dikti tahun 2011

Afiyah., Ainul Hurriyah., Anharudin Hafidz., Dedy Onto Laksono., Eka., M. Firmansyah R., Kamalia Mazita D.R., Muhammad Faisal Amir., Marina Tika Raya Oktavia Sibuea., Maya Adinar., Nurul., Okky Perdana Putra., A. Azis Wijaya Putra., Quryatul., Rahelmi Zulkarnain Akbar., Rendi Limantara., Rio Kurniawan., Riska Putri Trisna., Moch. Rizky Dharmawan., Silmia Nurilhutami.,

(3)

3 Sanksi Pelanggaran

Undang – undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

Pasal 72

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana penjara masing – masing paling singkat 1 (satu) bulan dan atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

TERPELESET MENULIS MENCARI EKSISTENSI DIRI

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura Prakata : Surochiem As, S.Sos, SH, M.Si.

(Kaprodi Ilmu Komunikasi UTM ) Pengantar :

Teguh Hidayatul Rachmad, S.I.Kom., M.Si., M.A Alumni Prodi komunikasi UTM

Penerima Program Beasiswa Unggulan Pascasarjana Dikti tahun 2011 Hak cipta dilindungi undang – undang

Dilarang memperbanyak isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Jurusan Ilmu Komunikasi

(4)

4

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... 4

Prakata Kaprodi Ilmu Komunikasi UTM ... 6

Pengantar ... 15

Sajadah Hitam, Tempat Inspirasi Menulis ... 21

Artikel Populerku ... 32

Cerita Akhir Sekolah ... 40

Aku Terjerat Dunia Menulis ... 51

Tulisan Pertamaku ... 59

Apa Itu Menulis ? ... 68

My Diary ... 74

Membuka Jendela Dunia ... 84

Diary Versus Artikel ... 93

Pena Terasing ... 100

Menulis Adalah Hidupku ... 107

Kontribusi Cendekiawan Muda ... 114

Arti Penting Tulisan ... 120

Fenomena Plagiasi Bagi Sebuah Karya Tulisan ... 128

Kiai, Santri dan Dunia Politik ... 139

Ketika Menulis Menjadi Sebuah Tuntutan ... 144

Rekam Jejak Pengalamanku di Dalam Karya ... 149

(5)

5

Curahan Hati ... 165 Kisahku Dan Kitty ... 169 Menulis dengan Tidur ... 177

(6)

6

Prakata Kaprodi Ilmu Komunikasi UTM

“Saatnya Berkarya, Eksis Melalui Buku”

Sejak saya di’paksa’ dan kemudian menerima untuk menjalankan amanah sebagai Kaprodi Ilmu Komunikasi (Oktober, 2013), ada beberapa hal yang terus mengelayut dalam benak saya. Mau dimulai dari mana membangun ikom-UTM? Seberapa serius masalah yang harus dihadapi Prodi Ikom? Modal apa yang sudah dimiliki? Masih adakah semangat dan keyakinan menjadi lebih baik itu? …. Deretan pertanyaan itu tentu saja awalnya menjadi beban secara pribadi. Saya masih ingat bahwa medan tugas awal ini -- seloroh Pak Muhtar W Oetomo adalah baju ‘kekecilan’, tetapi saya anggap adalah medan pengabdian yang lumayan -- menantang dan menjadi pertaruhan bagi ‘reputasi’ saya, sebagaimana harapan awal rekan-rekan dosen ikom pada saat memberi mandat itu.

Waktu sungguh terbatas dan tugas harus segera dikerjakan. Langkah awal saya adalah mengidentifikasi beragam masalah dan bisa menemukan road-map atas masalah yang dihadapi ikom-UTM. Deteksi masalah itu saya lakukan

(7)

7

melalui grup facebook warta prodi komunikasi dan … hasilnya sungguh diluar dugaan … ikomers (begitu kami menyebut warga ikom utm) berani untuk menyuarakan isi hatinya yang lama terpendam. Mereka berani sharing berbagai persoalan mulai dari pelayanan akademik, kuliah, administrasi, fasilitas, hingga urusan akreditasi prodi. Intinya, tumplek blek masalah di ikom, yang mereka sendiri tidak tahu mengapa demikian dan harus seperti apa dipecahkan. Alumni juga tidak ketinggalan, mereka penuh harap agar akreditasi ikom bisa berubah menjadi lebih baik agar bisa memudahkan mereka meraih karier dan profesi lebih baik. Saya masih ingat betul pada saat Bu Netty menujukkan surat isi hati dari salah satu alumni yang terpaksa gagal mendaftar lowongan di kementrian Jakarta gara-gara status akreditasi, Kaprodi pertama ini sempat menitikkan air mata dan berujar “Ayo pak, kasihan mereka, mari kita perjuangkan harapan mereka, akreditasi ini harus diprioritaskan”.

Sungguh, tidak sekadar masalah yang disuarakan melalui grup media social ikom, tetapi juga prestasi, semangat,

(8)

8

dan banyak harapan. Ya, harapan menjadi lebih baik. Tidak sedikit diantara ikomers yang dengan spontan memberi komentar mengenai apa yang bisa mereka bantu. Saya masih bisa menangkap bahwa ikomers tidak rela prodi ini menjadi biasa-biasa saja. Mereka butuh perubahan dan juga kebanggaan. Mereka bahkan ‘rela’ untuk berpartisipasi menjadikan prodi ini menjadi tidak biasa dan menjadi hebat.

Tentu saja, menjawab semua persoalan itu tidak bisa dijawab dengan cara instant dan harus cermat agar tidak kehabisan energi ditengah jalan, saya percaya sebagian itu. Namun, saya juga berkeyakinan bahwa perlu percepatan untuk menunjukkan bukti agar kepercayaan itu kembali pulih. Saya berkeyakinan diatas semua masalah yang terekam melalui jaring aspirasi itu persoalan status akreditasi dan meyakinkan kembali ikomers bahwa kita bisa lebih baik adalah prioritas.

Jadi, garapan pertama adalah bagaimana mengubah mindset ikomers menjadi tidak biasa dan tidak biasa biasa saja. Dengan menjadi tidak biasa maka ikomers akan bisa unjuk karya dan berkompetisi di level yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, harus ada terobosan kegiatan dan program out of

(9)

9

the box. Perlu diperbanyak cara membangkitkan kreativitas dan

inovasi ikomers. Ya terobosan baru… menciptakan iklim kompetisi internal alamiah dengan menghadirkan komunitas berorientasi karya dan prestasi yang tidak biasa … saatnya mendorong kreativitas dan inovasi ikomers unjuk karya dan prestasi.

Selanjutnya tinggal menentukan aksi tindak lanjut. Masalah sudah dideteksi, skala prioritas sudah dikantongi … sekarang tinggal pilihan aksi … mau langsung gas pol atau perseneleng normal normal saja. Orang lain boleh saja mencibir dan memberi tanggapan atas pilihan ‘nekat’ kami. Namun, kami telah berketetapan hati, kerja keras ini butuh percepatan. Ya, pilihan itu adalah yang tidak bisa, segera setel gas polllll agar ikom segera berubah … Ikom Bisa …. Ikom Eksis

Dalam rangka menggelorakan semangat untuk menumbuhkan harapan dan keyakinan itu branding ikom diluncurkan. Salam ikom Cie cie digemakan dan tradisikan dalam berbagai forum … Kreatif inovatif eksis …. Menjadi nilai utama yang harus ada dibenak para ikomers sebagai bentuk transformasi visi misi ikom. Bendera restorasi ikom telah mulai

(10)

10

dikibarkan, selanjutnya adalah memberi akses, fasilitasi, dan membangkitkan partisipasi ikomers. Saya tiada henti berdiskusi dengan rekan rekan mahasiswa himakom untuk terus menumbuhkan harapan dan keyakinan bahwa ikom bisa hebat … ikomers harus berubah … perubahan itu harus dilakukan tidak langsung oleh banyak orang, tetapi oleh kelompok kecil yang tiada henti berkeyakinan maju meraih secercah cerah. Saya mempercayai betul bahwa diantara sedikit orang yang tulus dan penuh keyakinan akan membawa perubahan bagi banyak orang jika sudah nampak hasilnya. Ikomers harus menjadi pelopor dan menjadi bagian dari yang masih sedikit itu dan berubah mindset menjadi tangguh, tidak mudah menyerah, tidak gampang menuntut, tidak pasrah, dan itu modal yang kemudian membangkitkan semangat CIE CIE

(creative, innovative, exist).

Mahasiswa harus memulai berbuat sesuatu untuk kepentingan strategis itu … Pilihan membuat karya buku bagi saya adalah hadiah terindah menandai era kebangkitan ikom. Awalnya saya juga harap harap cemas. Apa yang bisa mereka hadirkan, mau menulis apa, bahkan diantara mereka juga terus

(11)

11

mencoba mendapatkan penguatan apa bisa ya, apa bisa ya begitu mereka terus bertanya pada awalnya. Tidak kehabisan akal, sudahlah … Saya tantang mereka untuk menulis apa saja … asal bisa menumbuhkan kepercayaan diri ikomers ….

Alhamdulillah kendati agak molor waktunya, tetapi akhirnya

karya itu hadir juga …

Saya tidak terlampau berekspektasi bahwa karya mahasiswa ini akan menjadi rujukan. Bagi saya yang berpenting meraka telah berproses, urusan hasil akhir toh nanti dengan sendirinya akan mengiringi dan tiba masanya. Ya dari segi isi mungkin masih jauh dari layak, tetapi bukan itu semata yang saya nilai. Bagi saya, semangat dan keyakinan untuk eksis dengan karya buku itu yang mahal. Ikomers-Mahasiswa ikom lho bisa berkarya, ini buktinya mereka tidak omong doang. Mereka bisa menunjukkan jati dirinya. Mereka kini mulai bisa eksis dan percaya diri …dan itu semua adalah modal yang pernah hilang dari mahasiswa ikom.

Saya juga memiliki keyakinan bahwa keterbatasan yang ada bukanlah alasan untuk tidak berkarya. Justru ditengah keterbatasan itu saya melihat lahirnya ikomers yang bermental

(12)

12

pejuang. Ikomers yang memiliki karakter kuat dan tangguh yang menjadi pembeda dengan yang lain. Bukankah banyak ahli juga telah menulis bahwa lahirnya kreativitas dan inovasi tidak ditentukan semata oleh kelengkapan fasilitas, tetapi lebih banyak didorong oleh kebutuhan untuk berprestasi. Pengalaman mahasiswa juga membuktikan bahwa kreasi itu sering muncul pada saat deadline dan karena kepepet. Nah, kreativitas dan inovasi sungguh lagi-lagi bukan karena sempurna dan lengkapnya fasilitas, tetapi lebih banyak berkaitan dengan mindset, daya dorong untuk survive dan eksis. Kreativitas dan inovasi, mengutip Hernowo (2004) adalah wujud kuasa illahi yang akan campur tangan kepada mahluqnya yang mau berusaha dan berikhtiar termasuk melebihi kapasitas apa yang dipunyai. Kreativitas adalah adalah anugerah Allah yang tidak boleh disia-siakan dan harus dieksplorasi apapun kondisinya untuk melahirkan karya.

Atas alasan itu saya menyambut baik usaha mahasiswa Ikom untuk berani berekpresi, berani berproses melalui karya pertama ini. Sungguh saya menghargai dan merasa bangga. Ini baru karya awal semoga bisa menjadi pematik bagi lahirnya

(13)

13

karya karya baru ikom selanjutnya. Saya percaya jika ikomers mulai menggunakan persneleng dan gas poll maka setelah ini akan muncul buku buku lain karya mahasiswa ikom yang hebat dan penuh inspirasi

Kini karya pertama itu sudah hadir dihadapan pembaca, silahkan diberikan tanggapan dan jika anda masih belum puas, jawablah dengan karya susulan. Mari kita gelorkan terus slogan ‘ini karyaku mana karyamu’ agar iklim kompetisi di ikom dapat tercipta dan perubahan itu segera bisa menjadi kenyataan ..amin. Semoga buku ini bisa menjadi tanda awal bahwa mahasiswa ikom UTM ada (eksis) …mahasiswa ikom masih memiliki harapan dan keyakinan …. Ikom UTM bisa lebih baik . Sekali lagi saya menyampaikan terima kasih atas usaha awal ini, lanjutkan dan teruslah berkarya dan jangan berhenti Cie Cie …

Salam Cie Cie

Selalu ada Secercah Harapan dan Keyakinan untuk Menjadi lebih baik

(14)

14 Kampus Telang Pertengahan Februari Sore Hari Pasca Letusan Kelud

Kaprodi Ilmu Komunikasi-UTM Surochiem As, S.Sos, SH, M.Si.

(15)

15

Pengantar

POINT OF VIEW FOR UNDER PRESSURE

Melihat dan membaca judul buku ini membuat teringat akan filsuf terkenal asal Perancis Rene Descartes yang terkenal dengan kata-katanya “cogito ergo sum” (aku berfikir maka aku ada). Manusia dikatakan bermakna dan berguna di sekitar masyarakat bila dia dapat berfikir. Itulah makna dibalik kata-kata Descartes. Buku ini pun dibuat pertama kali dengan tujuan bahwa mahasiswa dapat exist bagi masyarakat. Perwujudan

exist yang creative dan inovative salah satunya adalah

membuat hasil karya yang terpublikasikan di media, yaitu karya tulis ataupun artikel pribadi. Semangat untuk creative, innovative dan exist bagi mahasiswa sesuai dengan visi dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura yang baisa dikenal dengan CIE (Creative, Inovative, and Exist). membuat hasil karya tulis dengan membiasakan diri kita untuk menulis apa pun merupakan bentuk nyata dari eksistensi mahasiswa di dunia pendidikan.

(16)

16

Menulis adalah aktivitas memindahkan pengalaman kedalam simbol-simbol verbal. Pengalaman apa pun juga, pengalaman empirik, pengalaman membaca, pengalaman imajinatif, maupun pengalaman orang lain (Redi Panju, 2008: 09). Buku ini pun menceritakan berbagai pengalaman mahasiswa ilmu komunikasi UTM, seperti; pengalaman pertama kali menulis, kiat-kiat menulis dan pegalaman pribadi tentang cinta, persahabatan dan cita-cita.

Banyak mahasiswa untuk memulai menulis berawal dari

under pressure. Faktor under pressure yang dimiliki oleh para

penulis dalam buku ini bermacam-macam, mulai dari tugas sekolah, bentuk emosi, dan psikologi komunikasi. Sebagian besar masyarakat tidak menyukai cara kerja under pressure dikarenakan tidak memanusiakan manusia atau melanggar

human right. Pola kerja under pressure adalah membatasi

manusia untuk tidak bebas dalam melakukan aktivitas yang diinginkannya, karena harus fokus untuk mengerjakan tugas ataupun kerjaan yang harus diselesaikan tepat waktu.

Beberapa kritikan pola kerja under pressure yang ada di atas telah membuat beberapa orang menjauh bahkan tidak

(17)

17

mau dengan sistem kerja yang seperti itu, namun berbeda dengan mahasiswa ilmu komunikasi UTM. Mereka mengerjakan artikel pribadinya sebagai bentuk perwujudan tugas kuliah dengan sistem under pressure yang harus dikumpulkan tepat waktu. Seorang psikolog terkenal bernama Sheldon Kopp dalam buku Failing Forward yang ditulis oleh John C Maxwell mengatakan,”semua pertempuran yang penting terjadinya di dalam diri sendiri”. Orang mengadakan pertempuran paling berat melawan kelemahan serta kegagalannya sendiri. Mahasiswa ilmu komunikasi UTM pertama kali mengalami pertempuran dengan dirinya sendiri untuk memulai proses menulis artikel pribadinya. Setiap mahasiswa berusaha untuk melawan rasa malas dan ketidak-mampuannya dalam menulis agar dapat berkarya dalam ranah intelektual.

Hasil akhir yang sangat signifikan adalah mahasiswa dapat menumbuhkan bakat, minat dan keinginan menulis yang sudah lama ditinggalkan. Dampak yang sangat mencolok dari penentangan sistem under pressure adalah potensi-potensi yang ada di dalam mahasiswa tidak ter-expose keluar, sehingga

(18)

18

bakat yang terpendam hanya berada di dalam diri mahasiswa tanpa bisa diwujudkan dalam sebuah karya tulis yang terdokumentasikan. Dibalik pola kerja under pressure yang tidak disukai oleh masyarakat, ternyata menyimpan kelebihan yang cukup significant untuk menumbuhkan potensi yang terpendam di dalam diri seseorang. Judul buku “terpeleset menulis, mencari eksistensi diri” yang berkorelasi dengan faktor under pressure dengan disimbolisasikan oleh teks “terpeleset” yang kemudian menghasilkan eksistensi diri sebagai perwujudan mahasiswa ada di tengah-tengah masyarakat.

Keanekaragaman pengalaman dan budaya mahasiswa ilmu komunikasi UTM tentang konsep menulis dituangkan dalam buku ini. Pemilihan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti seperti catatan harian membuat semua lapisan masyarakat yang membacanya dapat menikmati buku ini, sehingga menimbulkan motivasi untuk membuat karya-karya tulis lainnya. Seperti salah satu artikel di dalam buku ini yang dibuat oleh Anharudin Hafidz dengan judul Cerita Akhir Sekolah (Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita) yang menceritakan bagaimana

(19)

19

kisah seorang sahabat mulai dari tingkat sekolah sampai ke perguruan tinggi yang saling berjuang untuk menantang dunia hingga ke negeri orang. diantara perjalanan menantang dunia, para sahabat itu mengalami berbagai pengalaman cinta dan permasalahan hidup di dalamnya. Pemaknaan atas tulisan Anharudin Hafidz adalah cita-cita, keinginan dan cinta tidak hanya bisa dicapai oleh seseorang hanya dengan bermalas-malasan saja. Namun, harus disertai dengan usaha yang maksimal tanpa mengenal lelah agar dapat tercapai cita-cita dan keinginannya. Cinta dari persahabatan menambah kekuatan dari semangat yang mulai menurun. Karya tulis yang mempunyai emosional untuk selalu menumbuhkan semangat agar terus menggapai cita-cita, berawal dari under pressure karena tugas kuliah yang diberikan oleh dosen. Hasil yang didapat dari sistem under pressure yang diberikan oleh dosen adalah eksistensi buku “Terpeleset Menulis, Mencari Eksistensi Diri” yang pertama kali di ranah akademisi Ilmu Komunikasi UTM.

Hasil karya tulis mahasiswa lainnya yang merupakan bagian dari isi buku ini sangat layak di apresiasi, karena mereka telah mampu memulai menulis dan menceritakan kembali pengalaman-pengalaman saat di rumah, sekolah maupun di

(20)

20

lingkungan masyarakat mengenai arti hidup. Beberapa kisah mahasiswa juga ada yang bersifat secret, namun merelakannya untuk tetap dipublikasikan agar para pembaca dapat mengambil inti sari yang ada di dalam tulisan tersebut yang kemudian dirubah menjadi saran untuk menjalani hidup dengan berkarya dan terus berkarya.

Buku ini juga merupakan kritik atas ketidak berdayaan kaum akademisi untuk melawan rasa malas dalam menulis dan berkarya. Berkarya dalam tulisan mempunyai beberapa tujuan, yaitu: menginformasikan, membujuk, mendidik, dan menghibur (Elina, Zulkarnaini, dan Sumarno, 2009: 6). Semua tujuan menulis sudah ada di dalam buku ini. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojo Madura melalu artikel populernya mencoba untuk menginformasikan pengalaman-pengalamannya, membujuk pembaca buku ini agar dapat menentukan sikap, mendidik para pembaca dengan membuka wawasan dan pengetahuan setelah membaca buku ini, dan mempunyai tujuan untuk menghibur para pembaca yang sedang tidak bersemangat untuk menulis ataupun beraktivitas.

(21)

21

Sajadah Hitam, Tempat Inspirasi Menulis

Oleh : Afiyah

Aku menundukkan kepalaku di atas sajadah hitam yang selalu menemaniku saat berkomunikasi dengan Allah SWT, dzat maha sempurna dan pencipta . Sewaktu aku memohon kepada-Nya, sempat teringat dalam memori ingatanku akan peristiwa pedih yang telah menimpaku. Tanpa disengaja aku mulai menangis dan mengadu pada-Nya. Aku menangis pada Allah SWT, kuluapkan segalanya di hadapan ilahi Rabbi. Tidak lama aku bangkit dari tempat shalatku, kemudian dengan penuh semangat aku mengambil sebuah buku kosong dan segera aku wujudkan inspirasi tangisanku melalui artikel. Semuanya akan aku tulis pada buku yang berisi lembaran-lembaran putih ini. Sembari kumenangis, aku mulai menulis dengan tangan bergemetaran. Tak tahu kata pertama apa yang ingin kutulis.

Sajadah hitam yang selalu menemaniku saat berdoa kepada Allah SWT, menjadi inspirasi aku menemukan kata yang mengwali artikel pertamaku. Bismillahirrahmanirrahim,

(22)

22

Akhirnya kata itulah yang mengawali artikelku. Sebelumnya aku tak pernah menulis dengan kata yang sungguh luar biasa maknanya ini. Sedikit aku ulas makna bismillahirrahmanirrahim atau biasa diucapkan basmalah ini. Maknanya adalah dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Arti dari kata ini bukan hanya sekedar menyebut nama Allah SWT tapi kita langsung bernaung dan memohon bantuan pada-Nya. Sungguh, Maha Besar Allah SWT. dengan segala Maha Sempurnanya.

Tidak berapa lama, aku langsung menulis tentang kepedihan yang kualami hari ini. “Musuh dalam selimut”. Kalimat inilah yang membuatku menangis dihadapan Allah SWT. aku mulai menulis dengan sambil menangis. Aku tak pernah menyangka, teman sekaligus sudah kuanggap seperti adikku sendiri, begitu tega menusukku dari belakang. Aku dibuatnya menangis, menangis dan terus menangis di atas buku ini. Aku mempunyai kekasih yang sangat aku sayangi, begitu juga dengan kekasihku. Aku juga punya teman yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Aku dengan temanku selalu berdua kemanapun kami pergi.

(23)

23

Kekasihku memutuskan hubungan cintanya denganku karena dia tidak mau keluargaku hancur dan citra dirinya jelek karena berhubungan denganku, karena salah satu anggota keluargaku pernah berkelahi atau Carok dengan orang lain. Anggota keluargaku akhirnya mendekam di penjara. Karena itu, dia memilih PHK (Putus Hubungan Kekasih) denganku. Kejadian ini sebenarnya tidak bisa aku abaikan begitu saja. Karena sudah jelas, aku begitu sangat mencintai kekasihku. Aku begitu tulus menyayangi dia, walaupun bisa dikatakan dia hanya lulusan Sekolah Dasar. Tapi itu tidak membuatku malu atau gengsi tentang perasaanku ke dia.

Putus! Aku terima bila memang alasannya cukup rasional dan masuk akal. Namun, ternyata, yang kudapatkan bukan hanya itu. Ternyata dia diam-diam berhubungan dengan sahabat, sekaligus sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Aku membaca sebuah pesan singkat di Handphone temanku yang banyak sekali berisi kata-kata sayang dari pacarku. Seketika itu juga hatiku hancur, sakit bercampur benci kepada keduanya. Mungkin itu alasan yang ke dua dan terkuat mengapa kekasihku memilih putus denganku.

(24)

24

Seketika itu juga aku bergegas ke kamar mandi, mengambil wudlu, sambil menangis di dalam kamar mandi. Aku menangis dan menangis. Hatiku begitu sakit saat membaca pesan singkat tadi di handphone temanku. Dalam hati aku mengatakan bahwa dia adalah musuh dalam selimut. Pantas saja kekasihku tak pernah membalas pesan singkat dariku. Setelah dari kamar mandi, aku bergegas mengambil mukenah dan sajadah hitam ku kemudian shalat. Dalam shalat aku menangis dan mengadu pada Allah SWT dan bertanya pada-Nya, apa sebenarnya salahku?. Tapi aku mencoba untuk tegar kembali.

Aku menuliskan betapa temanku telah menjadi musuh dalam selimut. begitu juga dengan kekasihku, kekasih yang menjadi dambaan hatiku dan kuingin kelak dia menjadi suamiku, ternyata dia membuatku begini. Menusukku dari belakang. Membuat hatiku rasanya hancur berkeping-keping, kalau memang dia adalah jodohku, aku yakin nanti dia akan bersatu lagi. Dalam do’aku, aku ingin dialah kelak yang menjadi pendamping hidupku. Aku ingin di dalam buku yang kutuliskan namaku dan namanya tidak hilang dan tidak rapuh dimakan

(25)

25

zaman. Aku ingin jika nanti dia tahu melalui artikel ini, dia sadar kalau aku begitu menyanyanginya.

Lembaran demi lembaran aku tuliskan tentang kepedihaku pada dia. Dia yang telah menjadi musuh dalam selimut. Sungguh aku tak dapat berkata apa-apa padanya. Aku hanya bisa diam dan menuliskan perbuatan yang kurang baik di dalam buku tulis. Air mataku yang tadinya mengalir dengan deras dan rasanya tak ingin berhenti, sekarang begitu terasa lega karena aku dapat meluapkan segala kesedihan hati di atas buku ini. Aku sedikit tidak terbebani karena sudah kuungkapkan semuanya. Aku berterima kasih kepada buku ini, karena dengan aku menulis dapat membuat kesedihanku sedikit berkurang.

Menulis memang bukan kegemaran pribadiku. Sejak kecil aku tidak pernah menuliskan apapun itu. Jangankan menulis hal yang berat, hal yang kecil seperti catatan harian/

diary saja aku tidak pernah menulis. Aku lebih suka

menghitung, jalan-jalan, dan membaca saja. Tetapi karena masalah yang kualami begitu kuat dan mendalam serta

(26)

26

menyakitkan, akhirnya aku tuangkan dalam bentuk artikel. Aku ingin menuangkan peristiwa sakit ini melalui buku ini.

Menulis catatan harian untuk pertama kalinya bisa dikatakan sangat susah karena aku tidak tahu kata apa yang harus aku tuliskan untuk pertama kalinya. Sungguh heran, walaupun artikel yang aku tuangkan nanti merupakan peristiwa pedih yang kualami sendiri tapi ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Menulis, sangat sulit bagiku untuk mengawalinya. Namun, tidak apa akan terus aku coba dan lakukan. Kalau berbicara tentang ini, teringat dalam benakku tentang inspirasi yang disampaikan oleh motivator perempuan nomor satu se-asia yang juga pengusaha jasa keuangan dengan penghasilan 1 juta dollar pertamanya di usia 26 tahun, Merry Riana. Dia mengatakan,”lakukanlah yang kamu cintai dan cintailah yang kamu lakukan”. Sungguh sangat menginspirasi aku untuk artikel pertama.

Aku ingin menuliskan dan mengenangkan kisah asmaraku yang begitu menyakitkan di atas buku ini. Aku ingin menumpahkan setiap kesedihan, kepedihan, kesakitan, dan

(27)

27

kemuakanku di atas artikel ini, hingga nantinya aku merasa lega dan terasa ringan beban hidup yang kualami. Aku juga ingin menulis agar otakku tidak tumpul, agar aku dapat menuliskan peristiwa-peristiwa lain yang mungkin lebih dahsyat dari ini. semoga sewaktu artikelku mulai lancar nanti, aku dapat membuat cerpen bahkan dapat membuat novel yang nantinya bisa dipublikasikan di media.

Jika aku memikirkan bagaimana awalnya aku menulis dan memikirkan segala peraturan-peraturan dalam menulis seperti kohesif dan koherensi, sedikit canggung dan merasa tidak ttahu harus bagaimana. Tapi aku menulis yang pertama ini untuk di konsumsi sendiri. Memang benar apa yang dikatakan oleh guru dan dosenku, apabila kita mau menulis, maka kita harus banyak-banyak membaca. Dari banyak membaca, maka kita akan merasa nyaman dan lancar dalam menulis.

Teringat juga dengan bacaan yang pernah aku temui, Gus Luthfi. Seorang penulis dengan judul buku “Langkah Demi Langkah Meraih Sukses”, yang mengatakan pada kita untuk

(28)

28

selalu membaca setiap hari minimal 15 menit, bacaan apa saja wajib kita konsumsi disertai dengan artikel. Dengan menulis otak kita akan bekerja. Penyesalanku adalah mengapa aku tak menghiraukan nasihatnya. Mengapa aku hanya mengingatnya. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa nyaman untuk menulis walau yang kutulis masih berupa catatan harian. Aku yakin dengan terus menulis, aku bisa merasakan keindahan mendalam dan manfaat besar dari kegiatan yang satu ini.

Dengan menulis, aku mulai merasakan keindahan dan hikmah dibalik kepedihan yang aku alami. Dan dari artikel ini, pikiranku mulai terbuka kalau aku tak boleh terus begini. Aku tak boleh terus terkungkung dan merasakan sakit dan sakit yang begitu mendalam karena asmara. Aku harus katakan pada diriku sendiri kalau aku bisa jalani hidup sendiri walau tanpa seorang kekasih di sampingku. Teringat juga dalam benakku, kalau mati satu pasti akan tumbuh seribu. Maksudnya, meskipun aku putus dengan dia, aku yakin masih ada insan-insan lain yang mempunyai hati yang lebih tulus dan menerima aku apa adanya serta tak ada musuh dalam selimut lagi.

(29)

29

Nikmat juga rasanya kalau aku terus menyelam dalam artikel di atas kepedihan ini. Dan terbersit juga di benakku, kalau kekasih sejati itu hanyalah Allah SWT. Dia tidak akan pernah meninggalkanku selama aku mendekatkan diri pada-Nya. Aku bersyukur juga dengan menulis, aku merasa lega dan seperti tak ada beban pedih yang dialami. Aku bersyukur pada-Nya yang telah menegarkan hatiku untuk menjalani hidup ini bahkan memecahkannya lewat artikel, tanpa harus berteriak melalui lisan kalau dia telah merebut kekasihku.

Dengan menulis yang aku awali dari asmara yang kualami, aku yakin dapat terus menulis di diary-ku dan nantinya dapat mengantarkanku untuk menjadi penulis terkenal. Amien. Sempat juga terbayang dalam benakku tentang tokoh penulis seperti Hernowo. Walau aku tidak kenal dengan beliau tapi aku menyukainya. Menulis baginya seperti makan nasi.

Memang, aku tidak begitu tahu betul tentang karya-karyanya tetapi namanya yang masih sangat asing di telingaku, membuatku merasa kagum dengannya. Mungkin nanti, aku dapat mengetahui artikel beliau, kemudian mengamati,

(30)

30

meniru, dan memodifikasi artikelnya dan nanti artikelku berada di samping beliau. Sungguh, senang hatiku bila artikelku nanti sejajar dengan artikelnya.

Aku dengan kesendirianku saat ini, hanya bisa berserah diri pada Allah SWT dan tetap terus menyebut nama-Nya dalam hatiku. Dialah kekasih sejatiku. Peristiwa pedih yang kualami ini merupakan langkah awal bagiku untuk berpetualang di dunia tulis-menulis walau saat ini masih berantakan dan hanya didokumentasikan untuk diriku sendiri. Menulis itu bagiku seperti menyelam di dunia tinta.

“Membaca dapat memperkaya diri dengan kata-kata; sementara itu, menulis dapat diibaratkan sebagai kegiatan mengeluarkan “diri” dengan bantuan kata-kata. Jika kita ingin menulis tetapi enggan membaca, kegiatan menulis yang kita jalani akan menjadi kegiatan yang berat dan kadang-kadang menyiksa”, itulah kutipan dari artikel Hernowo Hasyim yang begitu mengispirasi diriku untuk terus menulis. Aku ingin menulis dalam keadaan apapun dan di manapun. Sebab, bila aku tak menuliskannya baik dalam catatan harianku maupun di

(31)

31

media yang lain, maka sudah pasti aku akan kehilangan sejarah hidupku.

Terbersit juga dalam benakku akan sebuah ucapan yang disampaikan oleh Ali Bin Thalib, yakni Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Ilmu di sini bagiku adalah sumber bacaan, bisa dari buku, koran, majalah, atau bahkan pengalamanku sehari-hari. Bila kita tidak menuliskan apa yang pernah kita baca, maka hal itu akan menjadi hal yang mudah hilang. Membaca tanpa menulis mungkin mudah dilakukan oleh setiap orang, tetapi membaca kemudian menuliskannya yang sesuai dengan Bahasa kita mungkin itu yang agak sulit dilakukan. Tetapi selama kita mau terus belajar, maka membaca dan menulis akan mudah kita lakukan. Aku percaya itu.

(32)

32

Artikel Populerku

Oleh :

AINUL HURRIYAH

Artikel bukan sesuatu hal yang baru dalam kehidupan dan kegiatan sehari-hari saya dalam perkuliahan atau kehidupan sehari-hari. Banyak tugas dari kampus yang mengharuskan kita mencari sebuah artikel tentang mata kuliah yang bersangkutan. Namun dalam hal membuat artikel sendiri, merupakan sesuatu hal yang baru dan mungkin tidak pernah saya duga dan bayangkan hingga sejauh ini. Terniat di benak saya, apa yang akan saya tulis untuk membuat sebuah artikel. Banyak referensi dan bantuan-bantuan untuk mempermudah saya menulis sebuah artikel, baik referensi dari sebuah buku atau dari internet. Itupun masih membuat saya kebingungan hingga melamun sendiri, untuk menulis artikel. Bahkan terkadang saya malas-malasan untuk menulis dan melanjutkan

(33)

33

tugas artikel tersebut, dikarenakan tidak ada ide yang dapat saya tuangkan dalam artikel.

Artikel yang saya tulis, biasanya bersifat personal. Tidak terfokus pada suatu bagian, baik pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dikarenakan kemampuan yang minim dalam hal menulis artikel. Setiap menulis artikel, saya memiliki banyak hambatan. Mulai dari malas, tidak berkonsentrasi, adanya tugas-tugas yang harus lebih didahulukan. Artikel tersebut sepertinya selesai dengan jangka waktu yang cukup lama, karena situasi dan kondisi yang kurang mendukung, yang membuat artikel tersebut sulit untuk rampung dan dapat dikumpulkan. Artikel yang dibuat pun tidak dapat dikatakan layak atau bagus, tanpa adanya penilaian dari yang membaca. Judul-judul yang biasa saya gunakan untuk artikel saya, biasanya tentang bahasa sehari-hari kita sebagai anak muda, salah satunya mengenai komunikasi jarak jauh, yang banyak dilakukan oleh anak muda baru-baru ini. Kurangnya inspirasi atau masukan untuk membuat artikel merupakan hambatan tersendiri dalam penyelesaiannya. Baik hambatan seperti kurang adanya semangat, bad mood, sampai tidak adanya

(34)

34

bahasan yang baik untuk dibentuk menjadi sebuah artikel. Suka duka banyak saya alami dalam menulis sebuah artikel, suka yang saya temui adalah dapat menghibur diri sendiri disaat mengalami suatu masalah. Saya meluapkan segalanya, apa yang ada di pikiran dan benak, saya tuangkan dalam artikel tersebut, sehingga dengan menulis tersebut beban pikiran yang ada, sedikit berkurang bahkan dapat menemukan solusi yang bagus dalam masalah yang ada. Sedangkan dukanya adalah benar-benar tidak bisa mengontrol emosi dan kemauan yang ada, artikel yang sedang saya kerjakan terkadang dirobek atau dicorat-coret, sehingga saya harus mengulanginya lagi. Membuat yang sama persis bahkan kalau bisa lebih bagus dari yang sudah saya hancurkan. Terkadang saya pun menyesali tindakan yang sudah saya lakukan tersebut. Akibat adanya masalah yang sangat besar, sehingga saya tidak bisa mengontrol emosi, tindakan, hingga sikap saya sendiri dan meluapkan segalanya kepada artikel yang sedang saya kerjakan dan dalam proses finishing.

Dongkol, marah, emosi saya rasakan dan tuangkan dalam artikel yang sedang saya tulis. Bahkan saat sedang

(35)

35

berselisih paham dengan pacar yang membuat semakin malas atau bahkan tidak sedikitpun menyentuh laptop untuk melanjutkan artikel yang sedang saya kerjakan tersebut. Namun disaat lagi semangat untuk menulis artikel tersebut hingga tidak sadar sudah larut malam, bahkan juga tidak sadar belum makan dikarenakan asyiknya menyelesaikan artikel. Keinginan menulis itu timbul sejak saya masih duduk di bangku SMP. Semuanya mengalir sejak kurangnya atau bahkan tidak adanya aktifitas yang saya lakukan, karena saat itu masih duduk di bangku SMP tepatnya kelas 1. Disaat senggang saya mulai menulis, menuangkan segala hal yang ada di otak dan pikiran.

Bila inspirasi atau ide itu tidak ada, saya keluar rumah cari makan atau sekedar beli camilan untuk menemukan ide tau gagasan untuk menyelesaikan artikel. Saya lebih senang dan lebih nyaman menulis artikel di dalam kamar, dengan situasi yang sepi dan tenang tanpa gangguan sedikitpun, karena bila ada gangguan sedikit saja, konsentrasi akan terganggu dan biasanya akan enggan melanjutkannya, bahkan cenderung emosi dengan orang yang membuat gangguan itu. Tantangan tersendiri dalam menulis artikel adalah bila tidak dapat

(36)

36

menyelesaikan artikel ini sesuai waktu yang telah saya targetkan. Saya sendiri merasa telah gagal menulis, karena seharusnya saya dapat bersikap profesional dalam artikel ini. Bahkan faktor yang membuat artikel atau artikel saya tidak dapat rampung sesuai jadwalnya, seperti kesibukan disaat duduk di kelas 3 SMP dan tengah sibuk dengan persiapan ujian akhir, maka artikel tersebut akan terbengkalai bahkan tidak diperiksa sedikitpun. Terkadang saya rindu ingin menulis, menuangkan segala ide-ide saya, namun situasi yang ada belum memungkinkan, ada hal yang lebih penting untuk didahulukan yaitu Ujian Akhir. Saya harus berkonsentrasi penuh terhadap ujian yang akan saya hadapi.

Lulus SMP, saya melanjutkan pendidikan ke bangku SMA, dan nasib artikel saya masih belum diketahui. Namun semenjak masuk SMA, saya mulai melanjutkan lagi hobby saya dalam menulis dan membaca. Saya mulai mencari referensi-referensi yang lebih baru untuk menambah ide artikel. Semenjak masuk SMA, saya memiliki semangat baru untuk menulis kembali, meskipun saya sendiri kurang yakin dengan artikel yang akan saya tulis kali ini, seperti nasib-nasib artikel

(37)

37

saya sebelumnya. Inspirasi-inspirasi dalam artikel, saya dapatkan dari sahabat-sahabat, teman dekat serta keluarga yang memberikan support. Dengan tujuan agar nantinya hobby tersebut dapat berkembang dan bermanfaat untuk diri saya. Namun kepercayaan diri tersebut masih sulit saya tumbuhkan pada diri sendiri. Terkadang bila saya tidak menemukan ide dalam artikel, saya mencoba mencari bantuan atau referensi dari internet, yang digunakan hanya sebagai panduan sekilas. Tidak hanya menulis artikel, saya juga terkadang menulis cerpen yang saya tulis sendiri. Saya ambil dari kisah nyata dalam kehidupan sehari-hari saya. Perjalanan hidup bahkan asmara saya sendiri, saya tulis dalam cerpen tersebut.

Alhamdulillah hasil artikel saya yang kali ini berbentuk cerpen

terpilih dan dapat diterbitkan di Mading kelas, yang saya sendiri kurang yakin akan hasil saya. Semenjak hari itu, kepercayaan diri saya tumbuh. Setiap ada libur sekolah, saya mulai membuat artikel yang lebih baru lagi dengan judul-judul yang lebih trend di zamannya. Karena hanya saat liburan sekolah waktu yang tepat untuk menulis dengan baik dan intensitas yang sering karena tidak adanya gangguan seperti rutinitas sekolah, tugas,

(38)

38

dan bimbingan belajar. Terkadang saya memulai artikel saya ditempat Hang-out dengan fasilitas Free Wi-fi dengan tujuan dapat lebih mudah mengakses untuk menambah referensi dalam artikel saya. Setelah dibaca-baca, saya terkadang merasa artikel tersebut kurang terasa gregetannya, kurang menarik, itu semua terjadi terkadang karena kekesalan saya terhadap kekasih dan hal tersebut saya lampiaskan terhadap artikel saya, sehingga artikel saya yang amburadul. Komunikasi jarak jauh banyak terjadi kepada hubungan yang biasanya memiliki jarak yang jauh (long distance relationship). Hal tersebut sangat sulit dilakukan antara yang cowok atau cewek. Banyak hal yang menjadi kendala, mulai dari biaya, jaringan, dan kesibukan. Masih banyak juga yang mengatakan jika hubungan tersebut tidak akan berumur panjang dikarenakan intensitas pertemuan yang akan sulit dilakukan, serta komunikasi yang dilakukan kurang lancar. Saya mendapatkan referensi ini dari pengalaman saya dan teman-teman yang mengalami.

Tidak berhenti sampai disitu, saya terus menulis dan menulis. Melanjutkan hobby saya yang semakin saya cintai ini. Meskipun terkadang rasa malas itu menghinggapi saya,

(39)

39

begitupun rasa bosan, jenuh hingga dongkol tidak ada hentinya saya rasakan. Hingga akhirnya saya pun lulus SMA dan nasib artikel saya pun tidak diketahui ujungnya. Tapi sebagian artikel saya dapat terselesaikan dengan baik, meskipun artikel saya tidak dapat dimuat dan diterbitkan. Bila tidak ada kesibukan, terkadang saya mengoreksi kembali artikel-artikel saya tersebut. Agar hasilnya dapat lebih baik dari sebelumnya. Saat ini saya cenderung lebih sering menulis cerita-cerita pribadi saya sendiri pada sebuah catatan atau diary untuk meluapkan segalanya.

(40)

40

Cerita Akhir Sekolah

(Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita)

oleh : Anharudin Hafidz

Tiap dari kita pasti memiliki teman dekat atau sahabat, dimana waktu kita banyak dihabiskan bersama. Biasanya ditiap episode kehidupan ada sahabat yang datang dan pergi. Namun yang namanya sahabat biasanya memiliki jangka waktu hubungan yang lebih lama, lebih awet dari jenis hubungan lain seperti teman biasa ataupun pacar. Bicara tentang persahabatan yang masih awet, saya memiliki beberapa orang sahabat sejak duduk di bangku sekolah, saat masih memakai seragam putih abu-abu. Mereka itu, Alvan, Bagus, dan Dito, dimana kami kemana-mana selalu bersama, sampai ke kamar mandi pun bersama. Menjalani waktu remaja yang buat kami begitu indah.

Persahabatan, cinta, dan cita-cita. Ketiga tema itu lah yang mewarnai hari-hari kami, yang ketika mulai membicarakan tema tersebut seakan waktu menjadi berlalu

(41)

41

begitu cepat. Tentang persahabatan, Bagus dan Dito sudah saya kenal sejak jaman kami masih memakai seragam putih biru tua, di SMPN 2 Jember, namun saat itu belum dekat. Saya lebih dulu dekat dengan Bagus, seorang pemuda berkacamata, dengan kulih putih bersih dan mata sipit-nya yang sering kali membuat orang mengira bahwa dia adalah seorang chinese. Ditambah kemahirannya dalam bermain basket membuat cukup banyak yang ngefans dengannya. Pertama kali memasuki dunia putih abu-abu, di SMAN 1 Jember, secara tidak sengaja kami berada di kelas yang sama, X.1. Duduklah kami sebangku selama setahun. Kemudian saat naik ke kelas sebelas, saat mulai penjurusan, saya memilih jurusan IPA, Bagus juga. Akhirnya kami kembali sekelas. Karena sudah cocok dan belum terlalu mengenal teman yang lainnya, kami duduk sebangku lagi. Apalagi kami sudah menjadi satu tim yang sangat solid ketika ada ulangan di sekolah, bekerja sama dengan sangat rapi dengan modus yang tidak diketahui oleh guru manapun.

Dari kelas sebelas ini, cerita masa SMA kami pun mulai berwarna. Kami menamakan diri kami Djabley, kependekan dari Djajaran Anak Ipa Lima Euy, sebuah nama yang disepakati

(42)

42

oleh 36 siswa di kelas. Sempat sedikit dipertanyakan oleh wali kelas kami karena namanya nyerempet ke satu kata yang berkonotasi kurang baik, namun setelah diberi penjelasan dan sedikit merayu, akhirnya disetujui dan disahkan langsung oleh wali kelas kami tercinta, Bu Anita.

Di kelas ini, saya mulai mengenal Alvan, sosok pemuda tegap yang bila pertama kali orang melihat, pasti bisa merasakan jiwa kepemimpinannya. Aktif di Paskibra, dan dia dipercaya menjadi ketua kelas kami. Orangnya lurus dan tidak neko-neko, agak sedikit kaku, namun setia sekali terhadap wanita yang dicintainya. Alvan sendiri dekat dengan Dito, pemuda polos dan baik hati, yang bangga dengan motor Jupiter MX merahnya, dan menjadi fans berat pembalap moto GP yang lekat dengan nomor 46, Valentino Rossi. Ketika kami ditakdirkan sekelas bersama, tidak dengan begitu saja kami menjadi dekat. Bahkan boleh dibilang kedekatan itu baru tercipta ketika kelas tiga. Awalnya kami masih memiliki kesibukan sendiri-sendiri, Alvan di Paskibra, Bagus di basket, sedangkan saya dan Dito punya kesibukan sendiri walaupun kurang suka ikut ekskul ataupun organisasi.

(43)

43

Akhirnya kami menjadi dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Jika kami punya rencana untuk pergi jalan-jalan ke suatu tempat, rumah Bagus selalu menjadi tempat kami bertemu. Jika kami pulang sekolah dan sedang tidak ada pekerjaan rumah atau besoknya hari libur, kami biasanya berkumpul di kosan Alvan. Yang menjadi menarik dari kosan Alvan karea memiliki atap yang bisa dinaiki. Tempat kami menggalau melihat bintang di langit malam, atau iseng mengganggu kosan siswi perempuan di sebelah rumah. Bahkan pernah kami ditegur ibu kos Alvan terkait hal ini.

Tidak cukup itu, kami juga memiliki sebuah tempat rahasia yang jarang sekali dikunjungi orang, seolah tempat itu hanya milik kami. Namanya Gumuk Kerang, yang dari tempat itu kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota Jember. Bila diingat-ingat, entah sejak kapan kami memutuskan untuk menjadi empat orang sahabat, tapi jika dilihat lagi kebelakang, saya pikir ada sebuah momen yang menjadikan kami begitu akrab. Momen itu, adalah tentang cinta. Selalu ketika kami membicarakan mengenai hal ini, cinta, bahasannya seakan tiada habisnya. Dari empat orang, sebenarnya masing-masing

(44)

44

dari kami memiliki seseorang yang kami sukai secara diam-diam. Namun hanya dua orang yang berani menyatakannya. Lainnya beralasan tidak dibolehkan oleh orang tua, hingga tidak diperjuangkan, walaupun disitu sebenarnya ada unsur tidak berani mengungkapkan.

Saya masih ingat sekali, salah seorang dari kami sampai membuat kode di plat nomor motornya, yang membentuk sebuah tanggal, tanggal spesial mengenai dia dan orang yang dia sukai. Momen yang menjadikan kami akrab, malah ketika dua diantara kami yang berpacaran, akhirnya harus mengakhiri hubungannya, karena sesuatu hal. Nah, tanpa kami sadari momen itulah yang akhirnya mempersatukan kami, membuat kami menjadi semakin akrab, bertambah dekat, dan mulai mengerti mengenai arti sahabat. Tidak lama setelah momen itu, kami sudah kembali move on, saat itu sudah memasuki semester kedua di kelas dua belas, dan kami bertekad untuk membayar waktu kami yang sempat hilang karena kesibukan masing-masing, dengan membuat sisa waktu kami di bangku SMA menjadi lebih indah dan berwarna.

(45)

45

Kemudian kami sedikit melakukan provokasi pada tema-teman Djabley yang waktu itu memiliki interest sendiri-sendiri bersama gengnya, bersama kelompoknya, untuk kembali bersatu padu. Karena kami percaya bahwa masa SMA tidak harus melulu belajar saja, karena saat itu suasana di kelas terlalu study oriented, tapi ada saat-saatnya kami tersenyum dan tertawa, bersama menghabiskan waktu, melepas penat di hati. Saat itu ada perlombaan antar kelas, yang menjadi momen bagi kami untuk unjuk gigi diantara kelas lainnya. Untuk perlombaan yang cukup bergengsi, yaitu sepak bola, kami harus rela menjadi juara empat, karena memang secara kemampuan fisik kami kalah dibanding kelas lain. Lomba lainnya adalah lomba kebersihan kelas, dimana kami mengeluarkan segala kreativitas untuk membuat kelas kami menjadi bersih dan indah. Usaha kami terbayar dengan diraihnya peringkat kedua. Puncak prestasi kami adalah saat pertandingan sepak bola daster, saat itu kelas kami termasuk yang tidak diunggulkan, karena saat sepak bola dilapangan rumput juga tidak cukup bersaing. Pertandingan yang dilaksanakan di lapangan basket sekolah itu diikuti oleh seluruh kelas dari kelas satu sampai

(46)

46

kelas tiga, setiap tim terdiri dari tiga orang yang menggunakan daster dan ditonton oleh seluruh warga sekolah. Saya ikut dalam tim itu, bersama Dito dan Luqman. Teman kelas lainnya menjadi suporter. Ketika harus menggunakan daster, saya meminjam daster mama saya yang berwarna pink. Dan ketika pertandingan berlangsung, terdengar teriakan riuh, saya tidak begitu memperhatikan karena fokus pada pertandingan. Namun samar-samar saya mendengar,“Mas Afdilla cantik pake

daster pink”. Setelah beberapa kali memenangkan

pertandingan, bangganya saya, berhasil mencetak dua gol penentu kemenangan, yang ahirnya kami keluar sebagai juara pertama, kelas kami menang. Saat itu termasuk hari paling bahagia yang dimiliki kelas kami, Djabley. Dan sebagai tambahan, saya juga tidak menyangka bahwa saya secantik itu saat memakai daster.

Suatu waktu kami menonton sebuah film bersama, Catatan Akhir Sekolah, yang mengisahkan seorang yang membuat film dokumenter mengenai kegiatan di sekolahnya. Film itu sangat menginspirasi kami, kebetulan saat malam lepas pisah kami diminta menampilkan profil masing-masing kelas,

(47)

47

dan kami menjadikan film itu sebagai acuan untuk membuat profil kelas dalam bentuk video. Tema yang kami angkat adalah tentang persahabatan, cinta dan cita-cita. Finally, dengan beberapa kegilaan yang kami lakukan, kami berhasil membuat sisa waktu kami di bangku putih abu-abu menjadi lebih indah.

Mission completed!

Tiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Usai lulus dari SMA masing-masing dari kami sudah punya rencana sendiri mengenai masa depan kami, melanjutkan studi di bangku universitas. Tentang cita-cita, Dito memiliki mimpi untuk menjadi seorang ahli mesin, dia melanjutkan studinya di teknik mesin Universitas Brawijaya, di kota apel, Malang. Bagus, mengikuti keinginan orang tuanya untuk melihat anaknya menjadi seorang dokter. Dia melanjutkan studi di fakultas kedokteran Universitas Jember. Alvan yang awalnya ingin bergabung di angkatan udara Republik Indonesia, akhirnya melanjutkan studi di fakultas ekonomi Universitas Jember. Sedangkan saya sendiri, melanjutkan studi di manajemen bisnis Institut Manajemen Telkom, di kota kembang, Bandung. Kami pernah membuat janji, untuk bertemu kembali suatu saat

(48)

48

nanti, dengan kesuksesan masing-masing. Saat itu kami berharap, semoga ada takdirnya. Together we fly ..

Bandung, Februari 2013

Hari ini langit Dago begitu dingin. Angin pun cukup kencang menambah dinginnya udara sampai rasanya merasuk ke setiap sendi tubuh ini. Sembari terduduk santai di kantor, memandang laporan rekap order katering yang sebentar lagi selesai, juga pada setumpuk kertas berisi jadwal penyusunan proposal thesis. Semalam ada pesan singkat masuk ke handphone saya, “Ini aku uda duduk di dalam pesawat, di

tengah. Ya Allah, aku pengen dua tahun lagi yang duduk di samping kanan kiriku adalah bapak, ibuku, guna naik haji bersama.” Sebuah pesan singkat dari Alvan. Ceritanya dia

sedang dalam perjalanan untuk mewujudkan salah satu mimpinya, pergi melihat luasnya dunia. Beberapa waktu lalu

papernya diterima dan dia diundang untuk

mempresentasikannnya, di salah satu negara di benua biru, Italia. Saya tahu betul, betapa bahagianya dia sekarang.

(49)

49

Beberapa waktu lalu juga ada sebuah kabar dari Dito,

“Alhamdulillah bro.. matur nuwun semangat semeru nya dan doanya. Aku lolos sampe tahap akhir. PTPN XI” Saat turun dari

Semeru awal Januari lalu, memang saya sempat merepotkannya dengan menumpang menginap di kosan dia di daerah Pisang Dalam, dekat kampus UB. Paginya saya sempat menemani dia lari pagi di Malang, ceritanya saat itu dia sedang fokus untuk memaksimalkan persiapan tes kesehatan di PTPN XI. Saya senang sekali saat mendengar kabar bahwa akhirnya dia diterima,“sebentar lagi jadi punya teman pak sinder nih”, canda saya padanya. Sedangkan Bagus, sekarang dia sedang menyelesaikan koas dokternya di Jember sampai akhir taun 2013 ini. Dia nanti akan jadi seorang dokter favorit yang digandrungi, karena baik, putih dan ganteng. Akhirnya, semoga kami bisa menepati janji semasa sekolah dulu, untuk bertemu kembali dengan kesuksesan masing masing.

(50)
(51)

51

Aku Terjerat Dunia Menulis

oleh : Dedy Onto Laksono

Mungkin banyak (termasuk aku) yang ingin memulai karier sebagai penulis, kadang tidak sadar tentang dunia yang mereka masuki. Terjun menjadi penulis tanpa perhitungan akan menjadikan menulis menjadi pekerjaan yang menjemukan seperti pekerjaan kantor lainnya. Menulis menurutku, adalah bidang pekerjaan yang fokus dalam dunia informasi, literatur sistematis, atau suatu karya ilmiah tertentu. Namun, perlu dipahami bahwa menulis akan berjalan dengan baik dan terasa cukup mudah apabila kita terus berlatih serta memahami banyak pengetahuan, aturan atau tips tentang menulis. Seperti dalam pemahaman ku, dasar untuk memulai menulis adalah memahami segala aspek yang berkaitan, seperti; apa saja jenis tulisan yang ada di media, bagaimana bahasa dalam menulis, bagaimana mencari sumber informasi atau referensi untuk memperkaya pengetahuan dan kata-kata, seperti yang ada di bawah ini :

(52)

52

Tajuk. Sering juga disebut induk karangan (berasal dari bahasa Belanda hoofd artikel), editorial atau leadaer (istilah dari bahasa ini banyak digunakan di Negara yang pernah dipengaruhi Inggris, misalnya : the economist sedangkan istilah editorial umumnya dipakai oleh penerbitan Amerika). Seperti halnya berita dan kolom, tajuk seringkali dijadikan acuan kewibawaan sebuah media. Sedangkan, bentuk-bentuk tajuk dapat berupa sekedar memberikan informasi, menjelaskan atau memberikan intrepretasi mengenai sebuah kejadian, argumentasi, sifatnya analitis, mendorong aksi, bersifat jihad, persuasif, memuji ataupun menghibur.

Kolom, sebagai forum diskusi mempunyai tempat terpandang dalam pers Indonesia. Ia ikut membentuk aliran utama pemikiran intelektual yang tengah berkembang dalam masyarakat. Kolom hanya menyoroti fakta dan datanya yang telah dimuat berita. Sebuah kolom mungkin hanya memberikan sebuah pandangan atau penilaian, penekanan pada segi tertentu dan melihat kecenderungannya. Kolom juga biasanya bercorak komis, komedis, anekdotis, atau humoris, bahkan sarkatis atau bias satiris. Sehingga tulisan ini lebih otonom.

(53)

53

Pojok. Berisi komentar singkat mengenai topik yang sedang hangat. Komentar bias humor, namun punya sindiran tajam. Opini, tulisan berupa opini berisi gagasan, ulasan, dan kritik terhadap sebuah permasalahan yang ditulis dalam bahasa ilmiah popular. Tulisan ini juga menyediakan solusi. Memilah perbedaan antara fakta dan opini melahirkan jurnalisme evaluative (berperan mengevaluasi birokrasi, para pejabat pemerintah dan realitas sosial yang lain) serta jurnalisme partisan (memperjuangkan kebenaran versi media bersangkutan).

Berita, Secara sederhana, berita mengandung unsur 5W+1H (What, Why, When, Where, Who, dan How). Berita mengandung muatan nilai dan kepentingan dari pengasuh (manajemen, wartawan, karyawan), pendukung (pembaca, pemasang iklan), sehingga setiap kelompok penerbitan punya visi dan misi tertentu, meski dikemas dengan label

independent. Fungsi penebritaan bukanlah untuk

memepringatkan, menginstruksikan maupun membuat tercengang pembacanya. Berita harus bermanfaat tidak hanya memberitahu saja. Agar bermanfaat berita diusahakan sebagai

(54)

54

pengetahuan umum dan alat kontrol sosial. Kemudian, beberapa patokan yang aku pahami tentang menulis diantaranya:

Gunakan kalimata-kalimat pendek dan mudah dimengerti, bahasa adalah alat untuk menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan untuk komunikasi. Kita perlu ingat agar apa yang disampaikan kepada khalayak betul-betul dapat dimengerti orang. Kalau tidak demikian, maka tidak dapat disebut orang itu sebagai komunikatif. Kita harus berusaha menjauhi penggunaan kata-kata teknik ilmiah, dia harus menjelaskan terlebih dahulu apakah arti kata-kata tersebut. Kita harus menjauhi kata-kata bahasa asing. Misalnya, aku lebih yakin memakai kata “partisipasi” ketimbang “keikutsertaan”.

Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya, Khalayak media massa, yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Maka prinsip yang dipegang ialah; Gunakan

(55)

55

bahasa tanpa kalimat majemuk, yang terdiri dari kata pokok atau subjek (S), kata sebutan atau predikat (P), dan kata tujuan atau objek (O). Misalnya, kalimat “Si Amat (S) pergi ke pasar (P) membeli sebuah pena”. Kalimat tersebut sudah lengkap berdiri sendiri. Karena kadang kita akan terpengaruh oleh bahasa Belanda atau Bahasa Inggris, yaitu menulisnya dengan kalimat yang panjang, berbentuk “compound sentence”, kalimat majemuk dengan induknya dan anaknya yang dihubungkan dengan kata sambung. Seperti, “Si Amat pergi ke pasar beli sebuah pena yang mana merupakan pemborosan tenaga oleh karena telah dikatakan kepadanya bahwa pena itu dapat juga dibeli di took seberang rumahnya sehingga segala sesuatu lebih mudah jadinya”. Dengan menggunakan kalimat majemuk, pengutaraan pikiran kita mudah terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Sebaiknya, kita menjauhkan diri dari kesukaan memakai kalimat majemuk karena bias mengakibatkan tulisan menjadi “woolly” alias tidak terang.

Gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif, membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut dari seorang penulis. Berita demikian

(56)

56

lebih menarik dibaca. Aku mencoba membandingkan kalimat yang berbunyi “Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan” dengan kalimat yang berbunyi, “Si Polan memukul si Amat babak belur”. Tidaklah terasa kalimat yang kedua jauh lebih hidup bergaya? Kecuali tentunya jika fokus hendak dijuruskan pada si Amat yang membuat kalimat pertama dapat dipertanggungjawabkan, maka umummnya cara menulis dengan kalimat kedua, yaitu dalam bentuk aktif lebih disukai dalam dunia jurnalistik. Kalimat pasif jarang dipakai, walaupun ada kalanya dia dapat menimbulkan kesan kuat.

Gunakan bahasa padat dan kuat, kita mungkin masih seringkali terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam berbagai kata. Bahasa jurnalistik tidak menghajatkan hal demikian karena kata-kata yang digunakan harus efisien dan seperlunya saja. Kembang-kembang bahasa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.

Gunakan bahasa positif, bukan bahasa negatif, Kembali kepada pengarang Ernest Hemingway, mengemukakan sebuah

(57)

57

prinsip lain dalam penulisan berita. Kita bisa menulis umpamanya kalimat berikut, “Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga”. Kalimat ini secara teknis dinamakan berbentuk negatif (lihat perkataan “tidak menghendaki”). Akan tetapi, dengan arti yang persis sama, kita bisa pula menulis, “Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga”, kalimat ini dinamakan berbentuk positif (perkataan “menolak” positif sifatnya dibandingkan dengan perkataan “tidak menghendaki”.

Ulasan di atas memberitahu kita tentang bagaimana dasar-dasar kita memulai tulisan. Banyak sekali mengenai dasar menulis yang perlu kita pahami. Perhatian terhadap makna kalimat ataupun kata akan sangat diperhatikan oleh penulis hebat untuk menghasilkan tulisan yang sungguh menarik pembaca. Tidak diragukan lagi, kata memegang perananan penting dalam berbahasa, sehingga kita pun mempunyai kedudukan dalam berbagai macam aspek kehidupan kita. kita dapat memahami manusia dengan kata-kata. kita dapat berbicara kepada mereka dengan kata-kata. Kata-kata memang mempunyai daya pukau untuk mengekspresikan diri, baik

(58)

58

dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Semakin banyak kosakata kita, semakin banyak ide yang bisa kita utarakan. Tidak mengherankan jika ada pertalian erat antara kosakata dan kemampuan menulis. Dunia tulisan yang menggairahkan dibangun oleh kata-kata yang bercita rasa.

(59)

59

Tulisan Pertamaku

oleh : Eka

Pertama kali aku menulis saat aku masih berada di sekolah Taman Kanak-kanak (TK). Dulu di TK guruku mengajari menulis huruf alphabet, mulai dari huruf kecil hingga huruf kapital. Selain itu guru-guru di sekolah TK ku itu sering kali menyuruhku untuk menuliskan nama dari masing-masing muridnya. Mulai dari nama panggilan sampai nama lengkap kami, baik itu di papan tulis maupun di kertas yang sudah disediakan oleh guru kami. Jadi, setiap pulang sekolah aku selalu ingin mencoba apa yang telah guruku ajarkan di sekolah. Tidak hanya itu, saya selalu mencoba menulis dan mengeja nama panggilanku begitupun nama panjangku. Setelah lancar dan bisa menghafal huruf alphabet dari A sampai Z, aku terkadang meminta orang tua ku untuk memberikan soal atau meminta petunjuk apa yang akan aku pelajari selanjutnya. Misalnya dengan menuliskan nama orang tuaku dan nama teman-temanku. Pernah sekali ibuku menyuruh ku untuk menuliskan sebuah kalimat dengan mencontohnya dari buku, majalah kesukaan ku yaitu majalah bobo.

(60)

60

Dulu memang aku belum bisa membaca, hanya saja aku lebih sering dan senang sekali jika aku melihat gambar-gambar yang ada di majalah bobo. Dari kebiasaanku melihat gambar-gambar di majalah tersebut, maka orang tua ku mempunyai ide untuk memberikan tugas kepadaku untuk mengikuti tulisan-tulisan yang ada di majalah itu, seperti halnya puisi yang ada di halaman depan majalah bobo. Setelah terus berlatih dan sering mendapat dukungan dari orang tua ku yang terus mendampingi. Hingga saat aku masuk di bangku Sekoah Dasar (SD), aku tidak merasa canggung dan takut lagi, jika ada guru yang menyuruhku menulis di papan tulis di depan kelas. Akan tetapi ketika aku melihat tulisan teman sekelasku yang terlihat rapi dan bagus diantara teman kelasku yang lain, maka di rumah aku bertekat untuk lebih rajin lagi menulis dan melatih tanganku untuk terbiasa menulis sehingga tulisanku dapat perlahan-lahan lebih rapi dan bagus dari pada awalnya. Tiba saatnya ada tugas untuk merangkum sebuah wacana di buku pedoman anak SD kelas 1, lalu aku pun berusaha untuk bisa menulis dengan rapi dan bagus. Beberapa kali setelah aku mencoba menulis memang masih belum sepenuhnya rapi dan

(61)

61

bagus tetapi setidaknya aku sudah bisa melihat sedikit perubahan pada kerapian tulisanku.

Kemudian saat kelas lima SD, guruku memberikan tugas untuk membuat puisi, sedikit bingung memang saat aku membuatnya dirumah. Selain orang tua ku tidak begitu pandai membuat puisi, juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sampai akhirnya aku teringat akan pertama kali menirukan tulisan yang ada di majalah bobo, tulisan yang sering kali aku tirukan yaitu puisi yang ada di halaman depan majalah bobo. Dari situlah aku akhirnya mulai membuat tulisan puisi yang memang tidak seberapa bagus seperti buatan para seniman. Sangat sulit mendapatkan ide dan inspirasi untuk membuat sebuah puisi pada awalnya, namun dari mencoba dan terus mencoba akhirnya akupun terbiasa dan menjadikanku bisa membuat puisi maupun tulisan-tulisan yang lain. Sehingga saat aku mengumpulkan tugas puisi yang menjadi pekerjaan rumah ku, guruku sempat memujiku dan memberitahuku bahwa aku punya bakat untuk menjadi sastrawan di kelasku. Meskipun puisiku belum begitu

(62)

62

sempurna, namun guruku setidaknya sudah memuji hasil karyaku.

Tiba saatnya libur sekolah dan aku sering memanfaatkannya untuk lebih sering membaca dan menulis apa yang telah kubaca. Usai libur sekolah berlalu guruku memberikan tugas yang sangat menarik bagiku yaitu menuliskan pengalaman saat aku berlibur. Saat pelajaran bahasa Indonesia berlangsung di kelas aku dan teman-teman langsung menuliskan apa saja pengalaman yang telah kita dapat saat kita libur panjang kemarin. Pengalaman teman-teman ku bermacam-macam ketika mereka membacakan tulisan pengalaman liburan mereka. Ternyata tidak hanya pengalaman yang menyenangkan saja yang teman-temanku tuliskan dalam cerita mereka, ada juga pengalaman lucu sampai pengalaman yang menyedihkan. Pernah suatu waktu sekolah ku mengadakan lomba menulis, dari menulis puisi sampai menulis tulisan arab. Kemudian guruku memilihku untuk mewakili kelas dengan mengikuti lomba menulis arab, awalnya aku ragu namun guruku telah memberikan kepercayaan kepadaku memenangkan lomba tersebut. Setelah aku

(63)

63

menuruti dan mengikuti perlombaan tersebut aku tidak menyangka bahwa aku akhirnya bisa memenangkan lomba menuis dengan juara pertama di sekolahku. Aku tidak menyangkanya mungkin dari kebiasaanku menulis dan menirukan tulisan-tulisan yang ada dibuku sehingga aku juga bisa dan mampu menirukan tulisan arab yang sedang dilombakan tersebut. Sejak saat itu guruku sering memberi kepercayaan padaku untuk menuliskan rapot adik-adik kelasku di SD. Guru SD ku terus memberikan motivasi dengan menyuruh kami untuk lebih sering membaca buku cerita atau majalah yang ada cerita pendeknya. Tujuannya adalah agar kami murid-muridnya bisa memahami apa itu alur cerita dan pilihan kata yang terdapat di dalam cerita.

Kemudian setelah aku beranjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), guruku memberikan tugas untuk membuat cerita pendek dan aku lebih sering mendapat tugas merangkum. Aku senang dan menikmati tugas merangkum yang telah diberikan oleh guruku, karena aku sudah terlatih untuk menulis ataupun merangkum dari buku pedoman yang diberikan oleh sekolah. Pernah suatu saat aku

(64)

64

diberi tugas untuk membuat cerita pendek oleh guruku, tema cerita tersebut bebas boleh dari pengalaman pribadi maupun dari pengalaman orang lain. Jujur saja pada awal menuliskan cerita aku bingung karena aku sudah terbiasa dengan menirukan tulisan-tulisan yang ada di buku cerita namun aku belum memahami apa itu jalannya cerita yang mereka buat. Sehingga tulisanku saat itu masih acak-acakan, maka dari itu aku lebih sering membaca dan melihat lagi cerita-cerita pendek yang sudah ada di buku pedoman dari sekolahku. Dari usahaku membaca dan terus mencari untuk mengetahui, maka aku pun lambat laun memahami dan mengerti bagaimana cara membuat cerita pendek. Serta kita juga membutuhkan imajinasi yang tinggi dan ide-ide kreatif sehingga cerita yang nantinya kita buat bisa hidup tentunya lebih menarik. Cerita yang bagus itu dari awal hingga akhir, ceritanya mengalir baik dengan kita menggunakan alur mundur maupun campuran. Jika ceritanya tidak nyambung maka cerita itu tidak akan menarik. Guru bahasa indonesiaku juga sering kali mengingatkan bahwa pilihan kata yang akan kita gunakan dalam membuat cerita juga harus sesuai dengan cerita apa yang akan kita buat. Setelah

(65)

65

lulus dari SMP, kemudian aku masuk ke sebuah SMK yang tergolong favorit di kota itu dan pada saat itulah kemampuan menulisku bertambah sejak kelas 1 hingga kelas 2 SMK. Karena, pada saat itu aku mengikuti sebuah lomba karya tulis ilmiah yang diadakan oleh sekolah untuk menyambut HUT RI.

Pada saat mulai membuat karya tulis ilmiah, aku sangat bersemangat dan berharap bahwa tulisanku ini mendapatkan juara dalam perlombaan tersebut. Setelah karyaku selesai aku buat, aku memberikannya kepada seorang guru yang pada saat itu menjadi juri dalam perlombaan tersebut. Setelah kuberikan, guru tersebut mengatakan padaku bahwa pengumuman pemenang lomba akan di beritahukan keesokan harinya. Aku menantinya dengan harap-harap cemas dan muncul banyak pertanyaan dalam benakku apakah karyaku tersebut masuk juara atau tidak. Keesokan harinya aku sudah sangat tidak sabar dengan hasil pengumuman juara lomba karya tulis ilmiah yang aku ikuti, berharap dapat menduduki juara pertama ataupun juara kedua. Namun, setelah pengumuman dibacakan aku sama sekali tidak mendengar namaku disebut mulai dari juara harapan hingga juara utama. Pada saat itu aku merasa sangat

(66)

66

kecewa dan sangat berkecil hati atas apa yang terjadi. Akan tetapi, tiba-tiba ada seorang guru yang menghampiriku dan mengatakan bahwa kalah menang adalah hal yang sudah biasa dalam perlombaan. Namun yang terpanting adalah aku sudah berani menuangkan pendapatku dalam sebuah tulisan apalagi sebuah karya ilmiah yang jarang pada saat itu diminati oleh banyak siswa SMK, dan pada saat itulah semangatku kembali dan menjadi termotivasi agar tetap meneruskan kegiatan menulisku. Namun seiring berjalannya waktu, aku perlahan-lahan menjadi jarang menulis apalagi setelah aku lulus dari SMK entah karena kegiatanku yang terlalu padat atau kerena pergaulanku dengan teman-teman baru sehingga terlalu asyik sehingga aku tinggalkan kegiatan menulisku. Hingga kini, aku sudah tidak pernah menulis apalagi mencurahkan segala perasaanku lewat tulisan yang biasanya aku lakukan. Sempat terpikir bahwa ingin sekali kembali melakukan hal dulu yang aku tinggal namun sekarang aku menjadi kaku kekita ingin menulis kembali.

(67)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Kotler & Keller (2006:204), komunikasi pemasaran adalah sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan, membujuk, dan

Strategi Komunikasi pemasaran adalah sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen baik secara langsung maupun

Tidak kalah pentingnya promosi juga diperlukan dalam bentuk komunikasi yang digunakan untuk menginformasikan (to inform), membujuk (to persuade) atau mengingatkan

Penelitian ini menarik karena komunikasi pemasaran adalah sarana bagi perusahaan agar dapat menginformasikan produk yang akan dikenalkan kepada konsumen, membujuk

Menurut Barry Berman (1995; 400), promosi dapat diartikan sebagai semua jenis komunikasi yang digunakan untuk menginformasikan, membujuk dan atau mengingatkan

Komunikasi Pemasaran (Philip Kotler dan Kevin Lane Keller 2007 : 24) adalah sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan

Marketing communication (komunikasi pemasaran) adalah “Sarana yang digunakan perusahaan dalam upaya untuk menginformasikan, membujuk dan mengingatkan konsumen langsung atau tidak

Dapat disimpulkan bahwa komunikasi pemasaran ialah sarana dimana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengajak konsumen secara pribadi maupun tidak langsung perihal