Menulis adalah sesuatu yang sederhana dan biasa dilakukan hampir semua orang di dunia. Menulis surat, menulis nota, menulis cerpen, bahkan yang hanya sekedar mencoret. Namun tidak semua orang bisa menulis dengan pemaknaan-pemaknaan agar bisa dinikmati oleh yang membaca tulisan tersebut. Menulis dengan pemaknaan-pemaknaan tertentu memang bukanlah hal yang mudah. Perlu konsentrasi dan
feeling yang tajam untuk menghasilkan tulisan yang
benar-benar bagus. Tidak hanya pada penulisan cerpen, poin-poin di atas juga wajib ada pada setiap penulisan suatu karya tulis. Tidak semua orang memiliki konsentrasi dan feeling yang sama dalam kegiatan menulis. Itulah yang menyebabkan adanya sudut pandang yang berbeda antara penulis satu dengan penulis yang lainnya. Namun bukannya sudut pandang itu menjadikan satu tulisan menjadi tidak bagus, justru adanya sudut pandang yang berbeda-beda itulah yang menjadikan dunia menulis tidak stagnan dan selalu menarik.
121
Orang tua saya keduanya berkecimpung di dunia pendidikan menengah sejak mereka belum mengenal satu sama lain. Ayah seorang guru honorer sebuah Sekolah Menengah Pertama swasta, dan ibu sebagai staf tata usaha di sekolah yang sama. Mungkin jika dibayangkan sekilas, dunia mereka tidak jauh dari dunia menulis. Menulis ujian, data siswa, rapot, atau bahkan ijazah para siswanya. Tapi kegiatan menulis hanya sebatas itu, dan itupun karena kewajiban mereka dalam pekerjaan. Semenjak kecil saya tidak mempunyai bakat untuk menceritakan sesuatu kepada orang banyak, baik lisan, maupun tulisan. Saya hanya senang bercerita secara lisan kepada ibu saya, atau nenek. Karena itu, saya tidak terbiasa untuk menuliskan sesuatu yang berarti. Jangankan untuk menulis suatu penggambaran, pada saat pertama belajar menggoreskan pensil di secarik kertas pada saat duduk di Taman Kanak-kanak, saya adalah salah satu anak yang paling akhir untuk menyelesaikan tugas menulis dari guru. Tidak hanya saat itu, hal serupa seringkali terjadi hingga tahun terakhir di Taman Kanak-kanak.
122
Hingga SD, pada tahun pertama, dapat dikatakan saya adalah anak yang mempunyai kelebihan verbal di kelas, namun mempunyai kekurangan pada pengolahan pena. Kelebihan disini dalam arti selalu banyak bicara sendiri dengan teman dibanding memperhatikan guru. Oleh sebab itu, di tahun-tahun pertama memakai seragam putih merah, prestasi saya tidak terlihat oleh kedua orang tua. Setelah tahun ketiga, ibu lebih banyak waktu dirumah, dan dari situlah kemampuan saya dalam mengolah pena mengalami perkembangan. Kesukaan akan tulisan mulai muncul, karena pekerjaan-pekerjaan rumah yang diberikan guru. Tetapi dibanding saya harus menghitung serta menghafal perkalian dan pembagian, lebih baik saya menulis untuk mata pelajaran yang lain.
Kebiasaan-kebiasaan itu terus berkembang hingga tahun terakhir saya berseragam putih biru. Lebih suka menuliskan sepuluh sampai dua puluh huruf, daripada menuliskan satu sampai sepuluh angka pada selembar kertas yang ada di depan saya. Kebiasaan itu membuat saya sedikit demi sedikit mulai bercerita kesana kemari di lembaran kertas usang sisa pembuatan soal untuk anak didik ayah. Apalagi
123
ketika pertama kali ayah membelikan perangkat digital berpentium 1 di tahun terakhir Sekolah Dasar. Semuanya seolah ingin dituangkan pada sebuah tampilan lembar Microsoft Word ’98. Entah itu tentang cinta monyet pribadi, tentang cerita seram karangan orang kampung, atau bahkan hanya sekedar membuat susunan-susunan beberapa kata yang tidak memiliki maksud dan tujuan yang jelas dengan bentuk variasi-variasi bentuk dan warna huruf yang lebay. Semua itu menurut saya sebuah awal ketertarikan pada produk pena dari pada produk bibir.
Pertama kali melakukan kegiatan menulis dengan pemaknaan-pemaknaan tertentu, karena ada tugas untuk menulis satu artikel pada waktu sekolah di tingkat pertama di bangku SMP. Bisa dikatakan semua itu berjalan dengan keterpaksaan karena jika tidak mengerjakan tugas, maka tidak akan mendapatkan nilai. Untuk pertama kali menulis, yang bisa dikatakan benar-benar menulis, tulisan saya bisa dikatakan
semrawut dan tidak ada fokus pada suatu obyek. Pada saat itu
saya sedikit tidak peduli, yang penting sudah mengerjakan sesuai dengan ketentuan fisik tulisan yang diberikan oleh guru.
124
Pada saat berseragam putih biru itulah saya mulai terbiasa untuk menulis artikel, cerpen maupun dialog-dialog drama, dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Sering menulis karena tugas juga banyak, walaupun kualitasnya masih belum bisa dikatakan tulisan bagus. Namun menurut wali kelas, dibandingkan dengan tulisan pada waktu pertama kali menulis, itu sangat jauh sekali perkembangan positifnya.
Waktu itu siswa SMP di kota saya seakan diberikan fasilitas menulis dengan adanya majalah-majalah remaja maupun anak-anak yang mau menampung karya tulis siswa-siswi tersebut. Dari trend itu pula saya mulai tertarik dengan menulis artikel-artikel ringan, walaupun jumlah yang diterbitkan majalah tidak sebanyak jumlah jari tangan kanan. Tetapi menurut saya, disitulah letak motivasi, walaupun jika misalnya seorang sastrawan bahasa Indonesia mengoreksi tulisan yang saya buat, mungkin tidak akan terima dengan bahasa-bahasa yang digunakan karena sangat amburadul-nya tulisan itu.
Pada waktu saya duduk di bangku sekolah menengah kejuruan, saya kurang sering menulis, karena ada hal lain yang
125
menurut saya menarik. Saya sekolah di jurusan yang mendukung kesukaan pada dunia digital. Dari sekolah kejuruan tersebut, saya jadi lebih tertarik dengan hal-hal yang berbau teknis komputer dan pekerjaan yang berhubungan dengan lapangan dan aplikasi secara langsung. Saya hanya menulis ketika benar-benar senggang dan itupun tidak sebanyak pada waktu berada di bangku Sekolah Menengah Pertama. Hingga waktu kuliah kualitas tulisan saya tidak banyak berubah. Tetap seperti itu, dan tanpa tahu lagi apa yang kurang dari tulisan saya. Hanya jika ada tugas menulis, saya menulis saja, dan sekali lagi tidak ada koreksi tentang tulisan.
Namun lama-kelamaan, karena tugas menulis di bangku perkuliahan tidak seperti pada bangku Sekolah Menengah Kejuruan, saya terbiasa untuk menulis lagi. Apalagi pada konsentrasi ilmu yang saya ambil, terdapat beberapa mata kuliah yang orientasinya memang untuk menulis seperti Teknik Membaca dan Menulis Berita, Produksi Media Cetak, Produksi Media Radio, Public Speaking, serta yang saat ini saya jalani yaitu Penulisan Artikel Populer. Hernowo, seorang sastrawan dan penulis terkenal mengutip suatu pertanyaan dari khalifah
126
Islam, Ali bin Abi Thalib, yang menyatakan bahwa ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Dengan menuliskan sesuatu, kita akan mengingat apa yang kita tulis, apakah itu sebuah ilmu yang sudah ada, ataupun sebuah ilmu bagi diri kita sendiri yang dapat memotivasi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita.
Dari situ saya mengambil poin penting tentang menulis. Tulisan yang bagus bukan karena kita mempelajari teori-teori yang ada tentang menulis, tetapi bagaimana kita berlatih menulis, dengan melatih konsentrasi kita pada apa yang akan kita tulis dan melatih ketajaman feeling kita dalam menulis. Menulis bukan soal bagaimana kita menyusun sebuah kata hingga secara tata bahasa benar dan bernilai sastra, tetapi bagaimana luasnya pikiran dan hati kita dapat tertuang dalam secarik benda tipis berwarna putih dengan tinta hitam yang membuatnya menjadi sangat jelas. Apa yang kita pikirkan tidak hanya tertuang setetes, atau dua tetes, tapi sebanyak-banyaknya, sebebas-bebasnya, apa saja yang ada dalam pikiran dan hati kita. Dengan begitu sebuah tulisan akan memiliki nilai secara sendirinya, tanpa seseorang memaksa untuk
127
memasukkan hasil goresan penanya pada kotak nilai sastra yang amat luas penjabarannya.
128