Pukul 01.00 WIB dini hari, mata masih terbuka bukanlah hal yang langka bagiku. Malam ini terdengar suara hujan dengan riuhnya. Beberapa jam yang lalu aku tertidur. Tertidurku adalah berfikirku akan sebuah persembahan terutama untuk orang tuaku. Tertidurku biasa saya sebut sebagai lamunanku. Aku seorang mahasiswa yang mempunyai banyak inpirasi dalam otakku. Imajinasiku tergolong tinggi. Aku suka menggambar. Tapi malam ini, media gambar ku sulap jadi media menulis. Sebenarnya cukup buat aku tertawa, bukan jiwaku mengutarakan unek-unek otak dengan menulis. Kamar tidur itu persinggahan paling hangat terutama menghangatkan otak di tengah dingin hujan bagiku. Awal mula tertidurku berasal dari umur. Usiaku bertambah setelah melewati jam 00.00 tadi, tengah malam ini bukan hanya pergantian hari saja, namun termasuk sejarah. Bertambahnya usiaku membuat pikiran terkocak melesat mengikuti detik-detik jam yang terdengar bersahutan dengan hujan. Memejamkan mata seolah bermimpi. Bukan tak ada niat untuk masuk ke dalam
178
dunia fana, Tampak alur-alur perjalanan yang aku inginkan dan tak ku inginkan. Menitih tujuan yang benar-benar ku tuju sebagai hasil akhir. Mendadak nadi terasa berdenyut kencang, mengernyitkan alis mata dan seolah baru terbangun, kutumpahkan pemikiranku dalam coretan. Bukan sekedar sandi-sandi atau coretan bentuk gambar, tapi susunan kata yang menyerupai daftar menu makanan dengan harga murah dan mahal. Bias-bias lamunanku memperlihatkan fatamorgana di dinding kamar dengan pesona keindahannya.
ku mulai tulisannku dengan menceritakan kembabli aktvitas rutinku. Menunjukkan Pukul 06.00, bangun dari tidur yang benar-benar tidur. Kesiangan, matahari sudah secerah anggapan mimpiku. Bergegas ku sapa ayah dan ibu, di rumah sederhana hidup dengan sedikit anggota keluarga membuat aktivitasku tidak jauh dari pengaruh kedua orang tua. Jadwal kuliah jelas terpasang di dinding tepat di bawah jam dinding. Tertidurku yang bias semalam menimbulkan semangat baru, kuputuskan berangkat menuju kampus lebih awal dari jadwal kuliah saja.
179
Pukul 10.00 WIB, tidak biasanya sedikit istimewalah pandanganku hari ini. Berhenti di depan kampus, duduk di warung kecil ditemani secangkir kopi. Menikmati setapak demi setapak yang terlihat mata, tampak dengan anggunnya gedung-gedung yang berjajar kokoh dalam satu gerbang universitas tempatku melukis masa depan. Cita-cita masa kecil kembali terlintas, lagi-lagi aku tertidur (baca: melamun). Ku ambil perlengkapan menulis seperti seorang jurnalis. Mencoba terbiasa untuk menumpahkan pemikiran dalam kertas. Seorang pilot, tertawa geli melihat saat ini aku tidak berada dalam sekolah penerbangan sesuai cita-citaku. Entah alasan apa aku mengingkan menjadi seorang pilot. Kuanggap saja hanya imajinasi masa kecil untuk melegakan hati. Pemikiran itu
standart tinggi untuk masa depan yang cerah, namun nyata nya
di usia ku kepala dua aku seorang mahasiswa biasa dengan mimpi yang baru.
Nada BBM meramaikan handphone, memang sedikit ku abaikan. Tak lama terdengar suara nyaring menyebut namaku dari seberang jalan. Tersontak aku merespon cepat panggilan seorang yang sebaya denganku. Kelas, ruang belajar yang
180
selama ini masih menjadi tempat pusat ilmu. Aku menyukai suasana kelas dengan warna-warni kelakuan teman-temanku. Ku anggap pendukung meraih kesuksesan yang bagaikan pemandu sorak di lingkup kompetisi. Jam kuliah berakhir, tidak terdengar bel berbunyi selayaknya Sekolah Dasar. Kantin, tujuan kedua saat berada dikampus, maklum manusiawi setelah kegiatan ion tubuh berkurang. Hiruk pikuk melepas penat tampak dari wajah-wajah kerumunan mahasiswa. Hari ini masih peringatan hari bertambahnya usiaku. Tak sedikit ucapan yang ku terima, hingga acara makan-makan mendadak pun terjadi sebut saja traktiran. Berbaik hati membagi rezeki apa salahnya, pikirku. Tak ada sesuatu yang lebih indah daripada berbagi.
Menjelang sore, sesampai di rumah menyempatkan diri untuk beristirahat. Tidur merupakan salah satu cara melupakan rutinitas sejenak. Suara ibu bagai alarm pribadi yang selalu membangunkan ku. Membasuh diri dan duduk di ruang kesayangan keluarga. Hampir setiap hari cerita bersama keluarga menjadi agenda yang tak terlewatkan. Gelak tawa ayah dan ibu sudah menjadi matahari yang menuntut aku
181
secara tidak langsung untuk memintaku hidup sukses. Mungkin itu salah satu tujuan terbesarku, melihat kedua oaring tua bangga. Pukul 20.00 WIB, tugas-tugas kuliah menanti di kamar tidurku. Berfikir positif, lelah penat pasti ada dihantui tugas yang berjibun tapi ini jalan menuju mimpi yang baru. Tugas kuliah selesai, ku ulangi tertidurku dengan bermimpi. Kali ini aku berniat memikirkan rencana susunan atau semacam jadwal apalah untuk mengatur waktu berusaha lebih cepat meraih kesuksesan. Tersadar, aku menulis lagi, inilah yang ku sebut “tertidur dengan menulis” melayangkan pikiran berisi mimpi sama hal nya lamunanku dan menuangkannya dalam tulisan. Aku mulai terbiasa, iya aku sengaja melatih jari-jari menuangkan pemikiran. Bukan bermaksud membelokkan hobi ku yang pada dasarnya menuangkan dalam gambar, secara realita saat ini aku berada dalam lingkup yang memang seharusnya aku beradaptasi dengan jurusan yang ku ambil dalam perkuliahan “Ilmu Komunikasi”.
Berkuliah di jurusan ilmu komunikasi memberi tantangan baru untuk belajar “menulis”. Dalam belajar menulis, aku mempelajari dari pendapat-pendapat para ahli. Menulis
182
dapat dijadikan kegiatan untuk mengungkapkan perasaan seperti pendapat menurut D.H. Lawrence ,” Saya suka menulis waktu saya merasa kesal; itu seperti bersin yang melegakan.”
Lalu dengan menulis dapat memudahkan untuk membantu dalam memahami suatu hal menurut C. Day Lewis, “Kita tidak
menulis untuk dipahami; tetapi untuk memahami.”
Susunan-susunan huruf yang kita tulis memiliki arti yang luar biasa semacam kata-kata mutiara, “Kadang-kadang, kata yang
paling sederhana adalah yang paling indah.
Ada beberapa tips menulis yang aku petik dalam pengalaman menulis. Pertama, menciptakan ide dan menemukan inti dari cerita, lebih mudah berisi pengalaman diri sendiri atau lingkungan terdekat, jika jauh dari pengalaman pribadi maka penulis lebih banyak mempunyai tugas. Kedua, tentukan judul yang bersifat menarik, mudah dan membuat orang penasaran karena pandangan pertama pembaca adalah ada pada judul kemudian turun kesinopsis. Ketiga, kembangkan inti cerita menjadi storyline, buat cerita menjadi senyata mungkin, jangan hanya menyebut adegan cerita tapi gambarkan juga suasananya sehingga pembaca dapat masuk ke
183
dalam cerita. Lalu buat paragraf yang memfokuskan pada inti cerita sesuai alur yang ditentukan. Dalam menulis, penulis harus dapat mendalami cerita kalau perlu mendatangi lokasi atau pemeran yang menjadi sumber ide untuk lebih mudah mencurahkan ke dalam tulisan.