Plagiasi, satu kata yang cukup menggemparkan pikiran dan perasaanku. Sungguh, aku begitu takut dengan kata-kata ini untuk mulai menulis. Plagiasi, satu kata yang kata dosenku adalah tindakan kriminal dalam menulis membuatku seakan tak ingin menulis. Aku merasa sedikit bingung untuk menulis, baik menulis di media cetak maupun on line. Nanti aku akan di penjara oleh pihak-pihak yang mengatur tulisan orang kalau ketahuan mem-plagiasi. Cukup antik bagiku bila harus memplagiasi tulisan orang karena dikatakan tidak kreatif. Namun, jauh dalam benakku; jika aku memplagiasi tulisan orang, mungkin aku menjadi orang malas dan pada akhirnya menjadi bodoh. Sungguh aku tak ingin menjadi seperti itu. Plagiasi, plagiasi lagi. Di benakku saat ini dipenuhi dengan kata yang satu ini. Gara-gara kata ini juga membuatku cukup anti untuk mulai menulis.
Sebenarnya aku ingin menulis di sebuah buku dengan sampul yang berwarna biru. Ingin kutuangkan kata demi kata di
129
buku yang bersampul biru tentang pengalaman dan kejadian-kejadian yang akan kutemui nanti. Berbicara tentang sampul biru memang telihat biasa saja, namun bagiku ini cukup unik. Sederhana memang mengapa aku nanti menulis pengalamanku di buku yang bersampul biru, jawabannya adalah karena aku sangat suka dengan warna ini. Kata orang warna ini menunjukkan warna angan-angan yang tinggi. Pemaknaan terhadap makna tergantung dari kita sendiri yang mengartikannya. Yang pernah aku tahu, warna biru menunjukkan kalau kita bercita-cita tinggi. Kembali lagi ke plagiasi. dosen yang mengampu suatu mata kuliah memintaku dan teman-teman yang lain untuk menulis. Menulis tentang pengalaman pertamaku menulis. Dalam beberapa menit, memori ingatanku tentang masa lalu mulai kuingat. Masa di mana aku mulai pertama menulis. Ketika itu aku sedang menyendiri dan kesepian di dalam kamar tempat aku tinggal. Aku tinggal di rumah dosen. Tempat aku tinggal sementara karena sedang kuliah di Kampus yang paling megah di wilayah Madura, Universitas Trunojoyo Madura. Waktu itu, aku tidak punya Handphone (HP), tidak ada hiburan dan aktivitas apapun
130
yang kulakukan selain tidur. Karena bosan tidur, akhirnya aku coba-coba menulis sejarah hidupku mulai dari kecil sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). “Ternyata sangat sulit”, gumamku dalam hati. Mungkin ini karena aku tak pernah menulis walau hanya sekedar catatan harian.
Selang beberapa menit, aku mulai mengambil dan membaca sebuah buku dengan judul Emotional and Spiritual Quation yang ditulis Ary Ginanjar. Sungguh, bagiku, bahasa dan kosa kata yang digunakan senada dengan suara hati manusia. Sangat menyentuh dan begitu sederhana sehingga mudah dipahami dan sangat membangun. Kata-katanya begitu indah. Kira-kira tiga puluh menit kemudian, aku tutup buku itu dan aku mulai mencatat ulang apa yang aku baca tadi dengan menggunakan bahasaku sendiri. Walau masih agak sulit karena aku sudah jarang mencatat namun tetap aku paksakan. Aku yakin aku bisa lancar menulis jika aku berlatih untuk menulis minimal lima menit setiap harinya. Aku dengan lancarnya mencatat ulang apa yang aku baca dari buku Ary Ginanjar. Aku yang mencatat dengan bahasaku sendiri membuatku ingin menulis sesuatu hal lain yang menjadi langkah awalku untuk
131
menulis, yakni mulai dari sederhana saja dulu; apa yang kulakukan hari itu.
Aku mulai menuliskan aktivitas-aktivitasku saat itu. Mulai dari bangun tidur ketika ayam belum berkokok sampai aku bosan dengan aktivitas tidurku. Aku menuliskan aktivitas-aktivitas seperti sholat tahajjud saat bangun tidur pada dini hari, shalat witir, mengaji, membaca buku karya Ary Ginanjar karena buku unik yang aku punya saat itu adalah buku ini, kemudian tidur lima belas menit, lalu kudengar suara adzan shubuh berkumandang, kemudian bergegas ke masjid, mengaji lagi, membereskan tempat tidur dan melakukan aktivitas di dapur dan halaman, mandi, shalat dhuha, mengaji, sampai tak ada aktivitas apa-apa lagi selain tidur karena waktu itu kuliah sedang libur. Setelah menulis tentang aktivitas-aktivitas harianku lalu aku menulis sedikit demi sedikit peristiwa-peristiwa unik yang kualami. Setelah aku menulis cukup banyak tentang peristiwa-peristiwa yang kualami lalu aku tutup bukuku. Aku sedikit lega karena dengan menulis kisah-kisah hidupku yang kecil nantinya dapat menjadi catatan yang bisa kubaca di waktu senggang. Membaca ulang setiap kisah
132
hidupku, dapat menjadikanku senang karena aku dapat melalui berbagai peristiwa, peristiwa sulit sekalipun.
Kembali memori ingatanku pada kata plagiasi. Aku sedikit enggan untuk menulis bila teringat dengan kata yang satu ini. Walaupun aku menulis sesuatu hal yang kurang menarik, hal yang kecil, dan tidak terlalu berguna tapi setidaknya aku tidak memplagiasi tulisan orang lain. Dalam tulis-menulis aku memang tak begitu mahir, tetapi aku yakin dengan hanya menulis dari sesuatu hal kecil seperti; menulis kegiatan harian yang tentunya tidak memplagiasi tulisan orang lain, aku yakin dapat menghindarkan diriku dari kata enggan untuk menulis karena takut dengan kata plagiasi. Mendengar kata plagiasi, rasanya aku tak ingin memulai untuk menulis yang berat-berat atau yang berkaitan dengan teori yang cukup berat. Aku sedikit takut untuk memulainya. Menulis sedikit demi sedikit akan aku tuangkan dalam buku harianku baik itu hanya berupa pengalaman atau tulisan-tulisan yang teori dan konsepnya ringan dalam kehidupan sehari-hari sampai yang tak berteori sekalipun akan kutulis. Plagiasi, aku harap tak akan menemuinya. Walaupun aku harus melihat tulisan orang lain,
133
akan aku tuliskan kalau tulisan itu merupakan kutipan dari tulisan orang lain. Aku tak ingin melihat dan meniru bila suatu tulisan orang lain itu berada di luar potensiku. Sedikit rumit memang bagiku bila aku mengawali sebuah peristiwa yang ingin kutulis apalagi kalau dibenakku sudah teracuni kata plagiasi. Plagiasi yang mengartikan kalau kita Copas (copy
paste) tulisan orang membuatku merasa seperti terjepit di
pintu emas. Mengapa di pintu emas? Tulisan yang akan kutulis nanti merupakan hal yang bagus, tetapi sayang sudah ada yang menulis. Kalau sudah ada yang menulis, kalau ditulis ulang, plagiasi namanya.
Plagiasi memang bukan merupakan karakter tulisanku. Aku menulis tentang apa yang aku tahu. Aku menulis apa yang ada di benakku. Tulisan apapun itu. Terlebih bila tulisan itu tulisan ringan. Bila tulisan itu berhubungan dengan teori apalagi sulit aku mengerti, maka aku tak lupa mencatat ulang dengan mengatakan kalau itu tulisan kutipan. Pikiranku buntu pada tulisan apa yang akan aku tulis. Aku mulai terus menggali potensiku akan pengetahuan-pengetahuan yang aku punya. Aku menulis dari sesuatu hal yang tak berbobot sampai puisi.
134
Bila berkata tentang puisi, bisa dikatakan aku bisa merangkai puisi dan pernah menjuarai lomba menulis puisi. Teringat lagi dalam benakku tentang pengalaman pertamaku menulis. Saat aku sedih dan merasa kesepian. Aku mulai menulis dari pengalaman sehari-hariku sampai aku menulis tentang kepelikan dan kepahitan hidup yang kualami. Terkadang aku menangis dalam tulisanku. Aku merasa tidak kuat jalani hidup, tetapi aku serahkan semuanya kepada Allah SWT. Aku yakin dengan pertolongan dan kasih sayang-Nya aku dapat melewati masa-masa sulit dan kelak memenangkannya. Aku menulis dari hal yang kecil dalam hidupku sampai peristiwa-peristiwa yang mungkin tidak dialami oleh gadis seusiaku. Aku tetap tegar jalani hidup ini. Selama aku yakin Allah SWT akan memberikanku jalan terindahnya kelak, aku tak akan mencoba mengeluh. Aku yakin dengan tulisan-tulisan yang aku dokumentasikan untuk diriku sendiri, aku akan tersenyum bangga bila kelak aku telah keluar dari kepelikan ini. Aku yakin pula, dengan tulisan-tulisan ini dapat menginspirasi diriku sendiri dan kelak bisa menginspirasi orang-orang yang mungkin akan mengalami apa yang aku alami sekarang. Buntu, saat
135
pikiranku mulai aku kembalikan pada kata plagiasi, aku tak dapat menemukan kata-kata yang dapat aku tuangkan. Mungkin, memang karena aku bukan tipikal orang yang memplagiasi tulisan orang, maka pikiranku tak kan melayang jauh menerAwang tinggi tentang plagiasi.
Lalu, aku coba memulai mengingat lagi dan menulis dari awal tentang mengapa aku menulis pada kali pertama. Saat itu aku sendiri berada di dalam kamar, tak melakukan kegiatan apapun selain tidur. Maka dengan iseng-iseng, aku membaca buku, mencatat, dan mulai menulis hal-hal yang lain. Sekarang aku sudah mulai mengingat kembali saat kali pertama aku menulis. Aku menulis tentang kesedihan diriku saat berulang tahun. Saat itu, usiaku genap 19 tahun. Aku tak punya
handphone dan tak punya apa-apa. Sangat pelik diriku saat itu.
Aku menangis sendirian di dalam kamar, tanpa ditemani oleh siapapun. Tak ada yang mengucapkan ulang tahun padaku. Cukup sedih memang, tetapi apa mau di kata, waktu itu aku memang tidak punya apa-apa. Karena yang kupunya hanyalah buku dan pulpen, akhirnya aku menulis hari ulang tahunku ini yang berbeda 180 derajat dari tahun sebelumnya. Tahun
136
sebelumnya, aku bersama teman-teman SMA-ku dan kekasihku, merayakan ulang tahunku di sekolah. Sungguh indah waktu itu. Tetapi sekarang tidak lagi.
Aku menulis waktu itu karena tidak mendapat kado spesial dari orang yang aku sayang, tetapi aku tetap bersyukur karena Allah SWT yang selalu menyayangiku tetap memberikanku hati yang tegar, kuat, dan tetap jalani hidup ini. Aku bersyukur pada-Nya atas kenikmatan hidup yang telah diberikan. Aku bersyukur dengan hidup yang kualami dulu dan sekarang. Aku bersyukur karena mungkin tak akan kutemui lagi kelak. Dengan hidup yang kualami sekarang dapat menjadikanku pribadi yang memperjuangkan hidup yang sulit. Saat diriku menulis tentang hari ultahku yang tak meriah, aku merasa dan berpikir itu sudah kado terindah dari Allah SWT untukku karena aku dapat menuliskannya. Dengan menulis, jiwaku yang tegar, semakin terasah ketegaranku. Pikiran dan perasaanku tidak sunyi waktu aku menuliskan hari ultah yang tak meriah. Aku bersyukur yang banyak pada Allah SWT karena dengan tulisan ditulis dapat menghibur jiwaku yang kelam, sedih, merana, dan galau. Teringat pula pada buku motivasi
137
yang ditulis oleh Ary Ginanjar, bahwa selama kita yakin dan percaya akan pertolongan Allah SWT, maka hidup ini akan terasa damai dan tenang walaupun hidup dalam keadaan susah. Tetapi kita harus tetap berpikir dan bercita-cita besar serta berusaha sekuat mungkin untuk meraihnya. Aku bersyukur dengan aku menulis, jiwaku tidak terasa hampa. Apalagi dengan menulis, aku berkomunikasi dengan diriku sendiri dan berkomunikasi dengan Allah SWT. Tuhan Pencipta alam. Aku bersyukur pula dengan membaca buku motivasi Ary Ginanjar dapat menjadikan tegar dan kuat jalani hidup yang berliku ini. Aku mau setiap momen dan peristiwa yang menimpaku dapat kutuliskan. Tulisanku adalah sejarah hidupku dalam mengarungi hidup yang seperti lautan ini. Kita tidak akan sampai pada tujuan kalau tidak ada petunjuk dari Allah SWT. Dengan aku menuliskan setiap kisah dan perjuangan hidup yang aku tempuh dapat menjadi sejarah hidupku dan semoga kelak dapat aku baca kembali dan dapat kuceritakan pada orang-orang di sekitarku saat aku sukses nanti.
Menulis bagiku adalah modal awal dalam mengawali, memperjuangkan, dan memenangkan hidup yang penuh
138
warna. Menulis bagiku ibarat mengikat kuda yang liar. Pada saat kita membaca sesuatu, tentunya otak kita menyerap puluhan bahkan ribuan informasi setiap harinya. Bila kita membaca suatu sumber bacaan, kita akan mudah lupa apabila tidak disertai dengan menulis. Setelah membaca lalu menuliskannya, maka informasi yang kita dapat bisa kita lontarkan kembali dalam sebuah tulisan.
139