Mungkin banyak (termasuk aku) yang ingin memulai karier sebagai penulis, kadang tidak sadar tentang dunia yang mereka masuki. Terjun menjadi penulis tanpa perhitungan akan menjadikan menulis menjadi pekerjaan yang menjemukan seperti pekerjaan kantor lainnya. Menulis menurutku, adalah bidang pekerjaan yang fokus dalam dunia informasi, literatur sistematis, atau suatu karya ilmiah tertentu. Namun, perlu dipahami bahwa menulis akan berjalan dengan baik dan terasa cukup mudah apabila kita terus berlatih serta memahami banyak pengetahuan, aturan atau tips tentang menulis. Seperti dalam pemahaman ku, dasar untuk memulai menulis adalah memahami segala aspek yang berkaitan, seperti; apa saja jenis tulisan yang ada di media, bagaimana bahasa dalam menulis, bagaimana mencari sumber informasi atau referensi untuk memperkaya pengetahuan dan kata-kata, seperti yang ada di bawah ini :
52
Tajuk. Sering juga disebut induk karangan (berasal dari bahasa Belanda hoofd artikel), editorial atau leadaer (istilah dari bahasa ini banyak digunakan di Negara yang pernah dipengaruhi Inggris, misalnya : the economist sedangkan istilah editorial umumnya dipakai oleh penerbitan Amerika). Seperti halnya berita dan kolom, tajuk seringkali dijadikan acuan kewibawaan sebuah media. Sedangkan, bentuk-bentuk tajuk dapat berupa sekedar memberikan informasi, menjelaskan atau memberikan intrepretasi mengenai sebuah kejadian, argumentasi, sifatnya analitis, mendorong aksi, bersifat jihad, persuasif, memuji ataupun menghibur.
Kolom, sebagai forum diskusi mempunyai tempat terpandang dalam pers Indonesia. Ia ikut membentuk aliran utama pemikiran intelektual yang tengah berkembang dalam masyarakat. Kolom hanya menyoroti fakta dan datanya yang telah dimuat berita. Sebuah kolom mungkin hanya memberikan sebuah pandangan atau penilaian, penekanan pada segi tertentu dan melihat kecenderungannya. Kolom juga biasanya bercorak komis, komedis, anekdotis, atau humoris, bahkan sarkatis atau bias satiris. Sehingga tulisan ini lebih otonom.
53
Pojok. Berisi komentar singkat mengenai topik yang sedang hangat. Komentar bias humor, namun punya sindiran tajam. Opini, tulisan berupa opini berisi gagasan, ulasan, dan kritik terhadap sebuah permasalahan yang ditulis dalam bahasa ilmiah popular. Tulisan ini juga menyediakan solusi. Memilah perbedaan antara fakta dan opini melahirkan jurnalisme evaluative (berperan mengevaluasi birokrasi, para pejabat pemerintah dan realitas sosial yang lain) serta jurnalisme partisan (memperjuangkan kebenaran versi media bersangkutan).
Berita, Secara sederhana, berita mengandung unsur 5W+1H (What, Why, When, Where, Who, dan How). Berita mengandung muatan nilai dan kepentingan dari pengasuh (manajemen, wartawan, karyawan), pendukung (pembaca, pemasang iklan), sehingga setiap kelompok penerbitan punya visi dan misi tertentu, meski dikemas dengan label
independent. Fungsi penebritaan bukanlah untuk
memepringatkan, menginstruksikan maupun membuat tercengang pembacanya. Berita harus bermanfaat tidak hanya memberitahu saja. Agar bermanfaat berita diusahakan sebagai
54
pengetahuan umum dan alat kontrol sosial. Kemudian, beberapa patokan yang aku pahami tentang menulis diantaranya:
Gunakan kalimata-kalimat pendek dan mudah dimengerti, bahasa adalah alat untuk menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan untuk komunikasi. Kita perlu ingat agar apa yang disampaikan kepada khalayak betul-betul dapat dimengerti orang. Kalau tidak demikian, maka tidak dapat disebut orang itu sebagai komunikatif. Kita harus berusaha menjauhi penggunaan kata-kata teknik ilmiah, dia harus menjelaskan terlebih dahulu apakah arti kata-kata tersebut. Kita harus menjauhi kata-kata bahasa asing. Misalnya, aku lebih yakin memakai kata “partisipasi” ketimbang “keikutsertaan”.
Gunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya, Khalayak media massa, yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Maka prinsip yang dipegang ialah; Gunakan
55
bahasa tanpa kalimat majemuk, yang terdiri dari kata pokok atau subjek (S), kata sebutan atau predikat (P), dan kata tujuan atau objek (O). Misalnya, kalimat “Si Amat (S) pergi ke pasar (P) membeli sebuah pena”. Kalimat tersebut sudah lengkap berdiri sendiri. Karena kadang kita akan terpengaruh oleh bahasa Belanda atau Bahasa Inggris, yaitu menulisnya dengan kalimat yang panjang, berbentuk “compound sentence”, kalimat majemuk dengan induknya dan anaknya yang dihubungkan dengan kata sambung. Seperti, “Si Amat pergi ke pasar beli sebuah pena yang mana merupakan pemborosan tenaga oleh karena telah dikatakan kepadanya bahwa pena itu dapat juga dibeli di took seberang rumahnya sehingga segala sesuatu lebih mudah jadinya”. Dengan menggunakan kalimat majemuk, pengutaraan pikiran kita mudah terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Sebaiknya, kita menjauhkan diri dari kesukaan memakai kalimat majemuk karena bias mengakibatkan tulisan menjadi “woolly” alias tidak terang.
Gunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif, membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut dari seorang penulis. Berita demikian
56
lebih menarik dibaca. Aku mencoba membandingkan kalimat yang berbunyi “Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan” dengan kalimat yang berbunyi, “Si Polan memukul si Amat babak belur”. Tidaklah terasa kalimat yang kedua jauh lebih hidup bergaya? Kecuali tentunya jika fokus hendak dijuruskan pada si Amat yang membuat kalimat pertama dapat dipertanggungjawabkan, maka umummnya cara menulis dengan kalimat kedua, yaitu dalam bentuk aktif lebih disukai dalam dunia jurnalistik. Kalimat pasif jarang dipakai, walaupun ada kalanya dia dapat menimbulkan kesan kuat.
Gunakan bahasa padat dan kuat, kita mungkin masih seringkali terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam berbagai kata. Bahasa jurnalistik tidak menghajatkan hal demikian karena kata-kata yang digunakan harus efisien dan seperlunya saja. Kembang-kembang bahasa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.
Gunakan bahasa positif, bukan bahasa negatif, Kembali kepada pengarang Ernest Hemingway, mengemukakan sebuah
57
prinsip lain dalam penulisan berita. Kita bisa menulis umpamanya kalimat berikut, “Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga”. Kalimat ini secara teknis dinamakan berbentuk negatif (lihat perkataan “tidak menghendaki”). Akan tetapi, dengan arti yang persis sama, kita bisa pula menulis, “Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga”, kalimat ini dinamakan berbentuk positif (perkataan “menolak” positif sifatnya dibandingkan dengan perkataan “tidak menghendaki”.
Ulasan di atas memberitahu kita tentang bagaimana dasar-dasar kita memulai tulisan. Banyak sekali mengenai dasar menulis yang perlu kita pahami. Perhatian terhadap makna kalimat ataupun kata akan sangat diperhatikan oleh penulis hebat untuk menghasilkan tulisan yang sungguh menarik pembaca. Tidak diragukan lagi, kata memegang perananan penting dalam berbahasa, sehingga kita pun mempunyai kedudukan dalam berbagai macam aspek kehidupan kita. kita dapat memahami manusia dengan kata-kata. kita dapat berbicara kepada mereka dengan kata-kata. Kata-kata memang mempunyai daya pukau untuk mengekspresikan diri, baik
58
dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Semakin banyak kosakata kita, semakin banyak ide yang bisa kita utarakan. Tidak mengherankan jika ada pertalian erat antara kosakata dan kemampuan menulis. Dunia tulisan yang menggairahkan dibangun oleh kata-kata yang bercita rasa.
59