Istilah cendikiawan yang sudah umum dan sering kita dengar, yang dilihat sebagai suatu hal yang sangat bagus dalam asumsi kita. Cendikiawan atau orang yang mempunyai jiwa intelektual yang luas dengan pemikiran-pemikiran ilmiah yang menjadi keinginan dan sesuatu hal yang menggebu-gebu serta diidam-idamkan. Banyak terdapat jiwa-jiwa berintelektual tinggi di zaman yang modern seperti sekarang ini, tapi masih sedikit sekali cendikiawan berintelek tinggi yang benar-benar berguna bagi masyarakat, yang benar-benar berkontribusi nyata kepada masyarakat. Apa gunannya memiliki intelektual tinggi tetapi tidak dapat disalurkan dengan baik kepada masyarakat. Bahkan ada yang tidak tersalurkan sama sekali atau hanya untuk kepentingan diri sendiri. Begitu miris-nya dan egoisnya jiwa-jiwa ini.
Banyak para intelek yang sombong dan bangga terhadap dirinya sendiri atas ilmu yang mereka miliki. Mereka merasa dengan hasil besar membawa kemakmuran,
115
kemakmuran apa?. Untuk dirinya sendiri, bukannya kemajuan yang didapat, tetapi kemerosotan moral yang terjadi. Makanya masih banyak disana sini kesenjangan yang terjadi. Hal ini menunjukan masih sedikitnya kepekaan sosial dan juga menunjukan pentingnya kontribusi terhadap masyarakat yang secara otomatis memajukan bangsa dan negara tercinta ini. Kontribusi sendiri tidak terbatas dengan hal-hal ini-itu, tetapi memikirkan sesuatu hal yang baru, produktif dan dapat dinikmati serta berguna bagi masyarakat adalah suatu hal yang kontribusi, apapun itu! Besar ataupun kecil, dan sederhana maupun megah. Jadi tedapat banyak sekali peluang yang bisa dilakukan untuk berkontribusi kepada masyarakat, walaupun bukan seorang cendikiawan sekalipun.
Bentuk-bentuk kontribusi sendiri yang abstrak karena setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Kontribusi tidak harus mengadakan suatu kegiatan, tetapi dengan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat pun adalah kontribusi. Jadi dengan kontribusi, menentukan pandangan dan peran kita dalam masyarakat. Walaupun seorang itu tidak berintelektual
116
luas, tetapi ia berpartisipasi dan berkontribusi ke dalam masyarakat, akan lebih dipandang baik oleh masyarakat daripada seorang yang berintelektual luas tetapi hanya berdiam diri, tidak menggunakan jiwa dan kelebihannya kepada masyarakat.
Pemuda-pemudi adalah salah satu harapan bangsa, disaat itulah semangat masih menggebu-gebu, waktu masih lapang, pikiran masih jernih, dan banyak hal yang bisa dilakukan di masa ini. Orang yang berkecukupan saja ilmunya bisa menjadi sosok yang besar karena langkah awalnya dengan berani berkontribusi. Sekarang banyak cendikiawan yang berintelektual luas, hanya saja mereka tidak ada keberanian untuk terjun ke masyarakat. Banyak cendikiawan yang berintelek luas juga memiliki keberanian tetapi dia egois, mementingkan diri sendiri. Bahkan ada yang rela membodohi orang lain ataupun masyarakat hanya untuk kepentingan dan keinginan dirinya sendiri. Itulah kebanyakan jiwa intelektual Indonesia. Penyalahgunaan ilmu sekarang ini banyak sekali terjadi. Intelektual yang seharusnya memajukan bangsa dan negara Indonesia, tetapi banyak intelek yang menggunakannya
117
untuk kepentingan dirinya sendiri. Korupsi, jual beli hukum, dan sebagainya sangat sering kita dengar di negara ini, sampai panas telinga ini mendengar isu-isu yang tidak kunjung tuntas penyelesaiannya. Hukum sudah tidak tegak lagi. Moral sudah tak berarti lagi. Semua itu hanya karena egoisme kepentingan diri sendiri. Disinilah masyarakat berharap besar kepada munculnya sosok cendikiawan muda yang intelektual, prestasi, dan kontribusi, yang diimbangi dengan spiritual.
Maka dari itu, jiwa-jiwa intelektual perlu digugah kembali. Menjadikan cendikiawan dengan intelektual yang dimilikinya dapat tersalurkan dan teraplikasikan dengan baik kepada masyarakat. Karena masyarakat tidak bisa menunggu, tetapi hadirlah para cendikiawan muda yang berpengaruh tanpa egoisme, yang intelektual, prestasi, kontribusi, spiritual, yang benar-benar berguna bagi masyarakat. Dengan jiwa-jiwa seperti inilah yang akan membawa kemajuan masyarakat, bangsa, dan negara. Para cendikiawan muda, kalau bukan kita siapa lagi. Cendikiawan muda yang berakhlak mulia adalah harapan utama masyarakat Indonesia, yang memajukan dan patut menjadi contoh bagi masyarakat dan generasi-generasi
118
penerus. Jiwa yang membawa kepada perubahan juga menjadi salah satu harapan masyarakat dan bangsa ini untuk menjadi yang lebih baik dan produktif. Orang berpengaruh sangat dibutuhkan sekarang ini untuk mengelola dan memajukan masyarakat, karena sumber daya manusia di Indonesia belum mencukupi untuk mengolah kekayaan sumber daya alam yang ada. Maka dari itu masyarakat membutuhkan sosok pembimbing untuk menuntunnya menuju hal-hal yang lebih baik dan produktif. Salah satu sosok pembimbing yang menjadi orang berpengaruh adalah para cendikiawan yang berani berkontribusi secara nyata kepada masyarakat.
Salah satu modal untuk merangkul hati masyarakat adalah dengan akhlak mulia yang harus dimiliki oleh para cendikiawan, yang menjadi landasan kepercayaan masyarakat akan para cendikiawan. Dengan kepercayaan, cendikiawan akan mudah mengelola masyarakat untuk melangkah lebih maju dari sebelumnya. Untuk menjadi sosok seorang yang berakhlak mulia adalah dimulai dari diri sendiri. Karena ia harus konsekuen antara keyakinan, pembicaraan, dan perbuatannya. ia harus mampu memimpin dirinya sendiri, selalu introspeksi
119
diri, hingga benar-benar mampu menunjukan bahwa dirinya pribadi yang baik, disukai dan dipercaya masyarakat. Sehingga ia siap untuk memimpin orang lain. Masyarakat akan mempunyai respect positif terhadap orang-orang yang seperti ini.
Dengan para cendikiawan yang berkontributif secara nyata diharapkan mengangkat derajat Sumber Daya Manusia (SDM), mampu membimbing dan memajukan masyarakat. Tidak peduli seberapa besar hasil dan pengaruh cendikiawan terhadap kemajuan masyarakat yang dikelolanya, tetapi melalui proses yang mereka hadapi, dan keberanian mereka berkontribusi sudah menjadi hal yang sangat besar untuk mewujudkan kejayaan masyarakat Indonesia.
120