Pepatah terdahulu berkata ‘’ membaca adalah jendela dunia’’. Logika pikirnya ketika ada jendela pastilah disitu terdapat pintu. Membaca dan menulis adalah hal yang tidak bisa terpisahkan seperti dua sisi pada uang koin emas. Dengan membaca kita bisa membuka jendela dunia, namun dengan menulis kita akan membuka pintu dunia. Dengan kata lain kita membaca akan melihat sesuatu yang baru, dan ketika menulis kita akan memiliki sesuatu yang baru. Bermula dari seorang bocah yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Memiliki cita-cita yang tinggi merupakan bekal untuknya menempuh dunia nyata ini. Anak lelaki yang akrab disapa ‘’Awang’’ selalu terlihat senang ketika pelajaran bahasa dan sejarah disekolahnya. Dari dua pelajaran ini dia dapat membaca, menulis, dan mengetahui sejarah dunia luar. Awang banyak memiliki teman yang sangat dekat secara emosional dengannya. Saat waktunya longgar, Awang selalu menulis sesuatu yang terkadang hanya sekedar iseng. Kesukaanya untuk menulis telah muncul sejak dini,
150
sampai pada suatu saat dia diminta oleh salah satu guru untuk mengikuti lomba ‘’menulis cerpen’’ tingkat Sekolah Dasar. Tetapi berhubung dia masih belum menguasai ilmu seutuhnya dalam menulis, dia tidak ingin mencoba dan memutuskan ingin berlatih terlebih dahulu dengan cara menulis dibuku hariannya. Dengan metode seperti itu, dia berharap akan berkembang dan sambil meminta petunjuk kepada guru dan orangtua terutama ayah, yang selalu ingin anaknya mendapatkan ranking satu dikelas.
Beranjak pada kelas lima, suatu ketika sang ayah bertanya kepada Awang,’’ mas, kamu bercita-cita ingin menjadi apa? Dia menjawab,, aku ingin menjadi pilot yah’’. Lalu sang ayah memberi nasehat kepadanya. ‘’Kamu ingin menjadi pilot, tapi sering sekali menulis. Jika ingin menjadi pilot harus suka berhitung dan pintar pelajaran matematika. Setelah mendapat sedikit nasehat itu, Awang mulai berusaha menyukai matematika. Meski pada realita yang ada selama enam tahun dibangku sekolah dasar, bocah yang bernama lengkap Rio Kurniawan ini tidak pernah suka pada pelajaran matematika dan dia hanya mampu memberikan prestasi ranking dua
151
sebanyak enam kali kepada ayahnya. Harapan sang ayah pun pupus dan hilang. Masa pendidikan Seklah Dasar akhirnya usai. Sebelum masuk Sekolah Menengah Pertama, Awang mulai mengenal musik yang dikenalkan oleh sang ayah. Lalu Awang mulai tertarik dengan salah satu nada pada setiap lagu yang ayahnya berikan. Nada itu berasal dari alat musik bernama ‘’drum’’. Sang ayahpun langsung memberikan pendidikan non formal kepada Awang. Berupa kursus musik yang ada dikota Surabaya. Berawal dari lembaga ternama inilah dia mulai belajar apa itu musik dan bagaimana berprestasi dengan musik. Pada saat musik telah mendarah daging di dalam dirinya. Dia lambat laun sudah mulai menghilangkan kebiasaan menulisnya, karena pada saat SMP, dia lebih sering mengisi waktunya dengan berkumpul bersama teman – temannya dan belatih. Terlebih ketika Awang mulai memiliki sebuah grup band pertamanya. Dia setiap minggunya ada agenda untuk berlatih bersama grup bandnya yang baru berdiri dari SMP 1 Kamal ‘’
Peoples Pie’’.
Nama ini dipilih karena kelima anak SMP 1 Kamal berasal dari komplek perumahan yang sama yaitu ‘’perumnas
152
kamal’’. Awang dan anggotanya sangat berkomitmen dalam hal ini, demi nama baik sekolah dan prestasi yang akan diperoleh. Dengan dibimbing oleh salah satu guru kesenian, mereka sedikit demi sedikit telah kompak dan berhasil membuat sebuah lagu untuk awal dari band ini. Tiga tahun masa SMP hampir tidak pernah digunakan oleh Awang untuk menulis, bisa dibilang masa–masa ini adalah sangat sulit untuknya. Tetapi dia tidak pernah lupa belajar demi akademiknya disekolah dan lebih sering membaca. Karena terbatasnya waktu dan kesempatan untuk menulis. Tiga tahunpun telah usai, memasuki masa SMA. Band yang dia bangun dari SMP, akhirnya kandas ketika pasca lulus dari SMP. Kelima anggota peoples pie berpisah karena mereka harus melanjutkan pendidikan SMA yang berbeda kota. Awang dan kedua temannya berada di SMA2 Bangkalan, dan kedua temannya lagi berada di kota Surabaya. Awal sekolahnya di Smada Bangkalan, Awang memiliki banyak teman baru dan sangat unik. Pada masa SMA Awang mulai merasakan cinta kepada lawan jenisnya. Dia menjalani hubungan dengan seorang gadis manis asal kota Surabaya yang umurnya selisih dua tahun dari Awang. Tiga
153
belas bulan mereka berpasangan dan harus berpisah karena faktor yang tidak seharusnya terjadi.
Mulai dari pengalaman yang sempat membuat Awang sedih ini, memutuskan untuk kembali bermain musik. Saat itu juga dia mencoba membuat grup dengan dua orang personel baru dari sekolahnya. Band kali ini sangat berbeda karena didasari oleh organisasi internal sekolah yakni ‘’Sanggar Seni Smada’’. Band yang disebut Smada Big Band sering mengikuti perlombaan dalam skala regional maupun nasional. Dengan prestasi yang cukup membanggakan. Setalah dua tahun sekolah di Smada Bangkalan. Awang akhirnya merindukan bakat yang ada dalam dirinya yaitu menulis, tidak berpikir lama dia langsung menuliskan perjalanan kisahnya dengan gadis manis kota pahlawan itu. Untuk mengawali kebiasaan menulisnnya yang sudah lama dia tinggalkan karena kecintaannya kepada musik.
Pada saat itu sangat terasa aneh baginya, menulis kisah cinta yang sangat berarti itu. Sedikit demi sedikit susunan huruf menjadi kata dan barisan kalimat menjadi beberapa paragraph
154
memenuhi lembaran putihnya. Akhirnya selesailah tulisan Awang, dengan judul ‘’agama jalan yang terakhir’’ yang berisikan kisah manis dan pahit masa dia menjalin hubungan romantis dengan wanita berasal dari kota Surabaya. Ada beberapa nilai sosial didalamnya tentang bagaimana kita menjalankan cinta terhadap seseorang dengan penuh rasa sabar, serta niat dan etikat dalam hal segala kebaikan. Tidak lupa menyertakan nilai – nilai Islam didalam hubungan yang akan kita jalani. Setelah Awang kehilanagn rasa senangnya dari menulis, kini dia mendapatkan kembali rasa itu. Tetapi tetap saja selama tiga tahun di SMA, dia hanya menyempatkan diri untuk menulis. Karena dia harus fokus pada band yang dia bangun dan impian untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi ternama Jakarta, yang berkonsentrasi dalam bidang seni musik. Tempat itu adalah Institut Kesenian Jakarta. Takdir berkata lain, setelah dia lulus SMA dengan nilai yang memuaskan. Dia tidak mendapatkan restu oleh orangtuanya untuk melanjutkan sekolah ke ibukota Jakarta. Alhasil dengan berjalannya waktu Rio Kurniawan memutuskan untuk kuliah di Universitas Trunojoyo Madura. Dia memilih ilmu
155
komunikasi sebagai jalan untuk menggapai impian – impian besarnya. Dia memiliki impian untuk menjadi musisi ternama nanti, namun rasanya impian itu seakan hilang terbawa gelombang ombak pantai. Ketika orang tuanya melarang dia untuk pergi ke Jakarta. Tetapi Awang tidak putus asa sampai disini, dia percaya bahwa esok kelak akan menjadi terkenal meskipun bukan dari musik. Namun dari maha karyanya yang lain dengan berlandaskan ilmu komunikasi. Pada masa perkuliahan, dia mulai belajar dengan serius.
Awang sudah sedikit vakum dengan dunia musik, band pada saat SMA sudah terpisah. Karena anggota personel melanjutkan kuliah di beberapa kota berbeda. Namun sesekali Awang tetap eksis didalam kampus untuk acara internal, karena dia juga masuk dalam anggota UKMF Viper–C. Saat masa perkuliahan berjalan sekitar satu tahun, tepatnya ketika Awang masih berada di semester tiga. Saat itulah dia sangat merasakan perlunya keahlian menulis, ketika itu banyak beberapa mata kuliah yang menuntut para mahasiswa untuk ‘’menulis’’. Seperti saat ujian mata kuliah TMMB dan produksi media cetak. Prakteknya ketika mahasiswa diajarkan
156
bagaimana menjadi seorang wartawan atau jurnalis. Memiliki tugas membuat berita, dengan mengacu pada unsur 5W 1H. Apa yang terjadi, kapan kejadiannya, dimana itu terjadi, siapa yang ada dalam kejadian itu, mengapa kejadian itu terjadi, bagaimana kejadian itu. Demikianlah rumus menulis berita yang dia dapatkan ketika teori didalam kelas. Namun, ketika langsung terjun dilapangan, pada saat ujian praktek di kota gudeg Jogjakarta, teori yang dapat diaplikasikan hanya mencapai beberapa persen saja. Banyak faktor lain yang mempengaruhi ketika menulis berita, seperti; latarbelakang wartawan dan media yang menjadi dasar dari sudut pandang sebuah berita diberikan untuk publik. Selanjutnya ketika satu tahun berlalu, saat semester lima Awang mempelajari konsep dasar dari sebuah penelitian. Yang langsung dibimbing oleh salah satu dosen dalam matakuliah MPS (Metode Penelitian Sosial). Pada saat itu Awang mempelajarinya dengan serius. Agar kemampuan menulisnya menjadi terus berkembang. Banyak pengetahuan baru yang didapat dari dosen pengampu matakuliah tersebut, terkait dengan sebuah penelitian. Beberapa bulan ketika semester enam, Awang mendapat
157
pembelajaran yang lebih berharga lagi. Yakni ketika dia harus pergi KKN dan mengabdikan dirinya untuk masyarakat selama kurang lebih satu bulan di desa yang dingin dan hijau berada pada dataran tinggi pulau Madura. Saat itulah Awang, mengaplikasikan ilmu yang dia dapat untuk ‘’menulis’’. Alhasil saat KKN, dia mampu menulis sedikit kisah cerita dengan judul ‘’26 hari dikaki bukit hijau’’. Kisah ini melukiskan tentang enam belas mahasiswa yang awalnya tidak saling mengenal, memiliki kepentingan berbeda, dan saling bersaing. Namun akhirnya mereka menjadi suatu keluarga kecil nan bahagia, yang tidak akan pernah mereka lupakan sampai akhir nanti. Semua kenangan yang telah terjadi diantara mereka, akan memiliki cerita yang berbeda.
Namun saat ini, Rio telah mendapatkan pengalaman berharga dalam menulis. Rio menganggap menulis bagaikan menyiram tanaman. Selama persediaan airnya terus terpenuhi maka jangan khawatir untuk menyiram diberbagai lahan yang sangat luas. Dari hal inilah Rio sangat merasakan pentingnya membaca. Ketika kita menulis dengan berdasarkan pada pengalaman, pasti akan terasa mudah dan senang untuk
158
menulis. Seperti karya yang telah sebelumnya Rio buat dengan judul “agama jalan terakhir, sepuluh tangkai cinta putih, menunggu dibalik keraton kuno, dan terakhir tulisan tentang menulis ini”. Lalu akan datang lagi satu karya berjudul cintamu dimalam natal. Semua karya tulis ini dibuat hanya sekedar ‘’uji coba’’. Namun dari hal yang dirasa tidak penting, disitulah adanya tahapan untuk mencapai impian. Bagaimana saat pertama kali menulis, jenuh dan bosan, hingga menjadi senang. Seakan menyiram tanaman pada lahan yang sangat luas. Terlebih saat ini dia sedang menghadapi proposal skipsi yang harus diseleseikannya pada akhir tahun 2013. Segala bentuk revisi dari dosen akan menjadi stimulus yang sangat berharga dan harus dapat menjadi yang lebih baik lagi.
159