• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) PROVINSI BENGKULU TRIWULAN I TAHUN 2015"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

No. 30/05/17/V, 5 Mei 2015

I

NDEKS

T

ENDENSI

K

ONSUMEN

(ITK)

P

ROVINSI

B

ENGKULU

T

RIWULAN

I

T

AHUN

2015

PENJELASAN UMUM

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi konsumen terkini yang dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). ITK merupakan indeks yang menggambarkan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan dan perkiraan triwulan mendatang,

Jumlah sampel STK pada triwulan I-2015 sebanyak 14.021 rumah tangga di seluruh provinsi di Indonesia. Untuk Provinsi Bengkulu sampel sebanyak 180 rumah tangga tersebar di kabupaten Bengkulu Selatan, Rejang Lebong, Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu. Responden STK mulai triwulan I -2015 dipilih pada strata blok sensus kategori sedang dan tinggi berdasarkan “wealth index” dan merupakan subsampel dari survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) khusus di daerah perkotaan. Pemilihan sampel secara panel antar triwulan umtuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen antar waktu. Pada saat yang sama juga dilakukan penyempurnaan kuesioner dan cara penghitungan indeksnya.

A. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan I-2015

 Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan I-2015 di Provinsi Bengkulu sebesar 96,54, yang berarti kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan I-2015 tidak lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi pada triwulan sebelumnya.

 Penurunan kondisi ekonomi konsumen ini disebabkan oleh tingkat pendapatan rumah tangga yang rendah (84,95%). Namun tingkat pesimisme tidak terlalu rendah karena masih didorong oleh rendahnya pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi (indeks 114,87) dan tingkat optimisme volume konsumsi barang/jasa (100,92).

B. Perkiraan Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan II-2015

 ITK Provinsi Bengkulu pada triwulan II-2015 diperkirakan sebesar 103,95, yang berarti terjadi peningkatan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan II-2015 dibandingkan triwulan I-2015 dengan tingkat optimisme konsumen lebih tinggi dibanding dengan realisasi triwulan I-2015 (indeks 96,54).  Optimisme konsumen pada triwulan II-2015 diperkirakan karena adanya peningkatan pendapatan rumah

tangga yang cukup tinggi (111,79), meskipun rencana konsumen untuk membeli barang-barang tahan lama rendah (90,17). Sehingga angka triwulan II-2015 meningkat dari triwulan I-2015.

(2)

1. ITK Provinsi Bengkulu Triwulan I Tahun 2015

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Provinsi Bengkulu pada Triwulan I-2015 sebesar 96,54 artinya secara umum konsumen mempunyai pandangan bahwa kondisi ekonomi melambat, jika dibandingkan kondisi pada Triwulan IV-2014. Persepsi pesimis dari konsumen terhadap perekonomian ini disebabkan oleh menurunnya pendapatan rumah tangga di triwulan I ini (indeks 84,95). Kenaikan harga barang/jasa sepanjang triwulan I rendah, bahkan bisa dikatakan deflasi. Sehingga pengaruh inflasi terhadap total pengeluaran rumah tangga rendah (114,87). Karena tidak ada pengaruh inflasi terhadap pengeluaran rumah tangga, maka volume konsumsi rumah tangga terhadap barang/jasa tetap tinggi (100,92).

Rendahnya optimisme konsumen terhadap perekonomian Provinsi Bengkulu utamanya disebabkan oleh pendapatan rumah tangga yang rendah. Pendapatan yang rendah ditengarai karena musim penghujan di Bulan Januari dan Februari. Bencana longsor di daerah perbukitan membuat transportasi barang/jasa menjadi tidak lancar. Banjir juga membuat sawah dan kebun menjadi rusak. Usaha pertanian sebagai sektor utama di Provinsi Bengkulu mejadi terganggu, dan mempengaruhi pendapatan masyarakat.

Terlambatnya disahkan APBNP 2015 juga menjadi faktor penghambat lancarnya perekonomian Provinsi Bengkulu. APBN 2015 bersifat belanja pokok yang disusun di masa transisi pemerintah, disesuaikan dengan RPJMN 2015-2019 dan RKP 2015 (revisi) serta menampung visi misi dan agenda pemerintah. Hal ini membuat perekonomian menjadi sepi, sangat terasa di di Provinsi Bengkulu dengan jumlah penduduk yang bergerak di sektor jasa yang dominan.

Tabel 1

Indeks Tendensi Konsumen Menurut Variabel Pembentuk Triw I-2014 s.d Triw I-2015

Variabel Pembentuk

Tahun 2014 Tahun 2015

Triw I Triw II Triw III Triw IV Triw I

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Pendapatan rumah tangga kini 101,66 102,00 112,12 100,58 84,95 Pengaruh inflasi terhadap tingkat konsumsi 115,62 119,05 111,57 105,50 114,87 Tingkat konsumsi bahan makanan,

makanan jadi di restoran/rumah makan, dan bukan makanan (pakaian, perumahan, pendidikan, transportasi, komunikasi, kesehatan, rekreasi)

112,02 109,13 118,01 120,78 100,92

Indeks Tendensi Konsumen 107,63 108,12 113,23 106,26 96,54

Sepanjang triwulan I-2015 secara kumulatif atau tahun kalender, terjadi inflasi yang rendah yaitu -2,08 %, hal ini ditunjukkan dalam hasil perhitungan inflasi kalender triwulan I tahun 2015, komoditi bahan makanan (-6,63%), makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (1,29%), perumahan, air, listrik dan bahan bakar (2,03%), sandang (0,76%), kesehatan (5,05%), pendidikan rekreasi dan olahraga (0,74%) dan transpor, komunikasi dan jasa keuangan (-6,59%). Faktor kenaikan harga yang rendah ini ternyata tidak mempengaruhi konsumsi makanan dan non makanan di Provinsi Bengkulu.

(3)

125.07 101.15 94.66 97.34 86.28 89.99 113.05 100.83 0 50 100 150 Bahan Makanan/Minuman

Makanan/minuman jadi, rokok, tembakau dan makan di restoran/rumah makan Pakaian

Komunikasi Rekreasi/Hiburan

Akomodasi (Hotel/Penginapan)

Pada Gambar 1 terlihat optimisme konsumen terhadap tingkat konsumsi makanan dan non makanan mereka (nilai indeks 100,92). Deflasi menjadi faktor pemicu yang menjadi penyebab tetap tingginya konsumsi barang/jasa rumah tangga.

Gambar 1

Indeks Tendensi Konsumsen (ITK) Menurut Variabel Pembentuk Triwulan I-2014 s.d Triwulan I-2015

Konsumsi rumahtangga pada triwulan I-2015 rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara

umum angka pada triwulan I-2015 ini paling rendah sepanjang tahun 2014-2015. Pada triwulan I-2015 tingkat konsumsi makanan lebih rendah dari kondisi sebelumnya dengan indeks kelompok makanan 112,61. Sementara tingkat konsumsi kelompok non makanan juga lebih rendah dengan indeks sebesar 97,03. Untuk melihat indeks konsumsi makanan dan non makanan pada seluruh komoditi dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2.

Indeks Konsumsi Komoditi Makanan dan Non Makanan Triwulan I-2015

Perubahan harga yang rendah pada awal tahun 2015 membawa dampak positif persepsi masyarakat pada pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan. Konsumsi makanan dan non makanan meningkat yang

terlihat dari angka indeks yang berada di level positif (indeks diatas 100), tekanan inflasi yang dirasakan di akhir

101.66 102.00 112.12 100.58 84.95 115.62 119.05 111.57 105.50 114.87 112.02 109.13 118.01 120.78 100.92 107.63 108.12 113.23 106.26 96.54 80.00 85.00 90.00 95.00 100.00 105.00 110.00 115.00 120.00 Tw 1-14 Tw 2-14 Tw 3-14 Tw 4-14 Tw 1-15 Pendapatan rumahtangga Pengaruh inflasi terhadap konsumsi

Tingkat konsumsi bahan makanan & makanan jadi ITK 123.15 114.85 120.78 112.61 97.03 100.92 Triw 4-2014 Triw 1-2015

(4)

2014, mulai mengendur memasuki bulan Februari 2015 ditandai dengan adanya deflasi, dan kembali normal di Maret 2014. Bulan November dan Desember 2014 inflasi terkait kebijakan pemerintah mencabut subsidi BBM.

Gambar 3.

Perkembangan Inflasi Bulanan Kota Bengkulu

Kondisi yang sama terjadi pada provinsi-provinsi di Pulau Sumatera dimana peningkatan kondisi ekonomi konsumen didorong oleh peningkatan pendapatan rumah tangga dan rendahnya pengaruh inflasi terhadap konsumsi makanan. Dibandingkan provinsi-provinsi yang ada di Pulau Sumatera, nilai ITK Provinsi

Bengkulu berada pada peringkat kelima di bawah Provinsi Sumatera Selatan dan diatas Provinsi Sumatera Barat. Jika dibandingkan dengan ITK Nasional, posisi ITK Bengkulu beserta provinsi lain di Sumatera juga berada dibawahnya, kecuali Provinsi Kepulauan Riau.

Gambar 4.

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan I-2015 Menurut Regional Sumatera dan Nasional

2. Perkiraan ITK Triwulan II Tahun 2015

ITK di Provinsi Bengkulu pada Triwulan II-2015 diperkirakan sebesar 103,95 yang menunjukkan terjadi peningkatan kondisi ekonomi konsumen. Dibandingkan ITK Triwulan I-2015, indeks ini mengalami kenaikan, diartikan sebagai peningkatan tingkat kepercayaan atau optimisme konsumen akan kondisi ekonomi mereka. Peningkatan pendapatan rumah tangga mendatang diduga menjadi penyebab optimisme konsumen.

1.03 -0.24 0.04 -0.04 -0.59 0.38 2.92 0.67 0.73 0.39 2.11 3.03 -0.82 -1.46 0.19 -2.00 -1.50 -1.00 -0.50 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 101.80 100.87 100.48 100.33 99.97 96.54 94.58 93.38 92.19 91.66 90.72 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00 94.00 96.00 98.00 100.00 102.00 104.00

(5)

Tabel 2

Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen (ITK)

Triw I 2014 s.d Triw I tahun 2015 menurut Variabel Pembentuk

Variabel Pembentuk Tahun 2014 Tahun 2015

Triw I Triw II Triw III Triw IV Triw I Triw II

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Perkiraan pendapatan rumah

tangga 106,50 109,30 115,50 104,24 107,48 111,79

Rencana pembelian

barang-barang tahan lama 102,41 105,82 100,59 103,52 101,98 90,17

Perkiraan*) ITK 105,04 108.06 110,15 103,98 105,49 103,95

Realisasi ITK 107,63 108,12 113,23 106,26 96,54 -

*) Angka perkiraan ITK hasil survey triwulan sebelumnya

Disahkannya APBNP 2015 yang menitikberatkan pada belanja infrastruktur membuat masyarakat optimis bahwa perekonomian akan tumbuh. Pemerintah melakukan realokasi anggaran yang kurang produktif maupun kurang tepat sasaran ke sektor yang lebih produktif seperti dukungan sektor pendorong pertumbuhan, pemenuhan kewajiban dasar dan pengurangan kesenjangan serta infrastruktur konektivitas menunjukkan struktur anggaran yang lebih baik, dengan menjamin keberpihakan kepada golongan masyarakat kurang mampu melalui Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar dan perlindungan sosial lainnya. Pengalihan program ini tidak membuat masyarakat berani merencanakan pembelian barang tahan lama di triwulan mendatang (indeks 90,17) karena pendapatan yang meningkat diimbangi pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga yang tinggi membuat masyarakat harus berhemat.

Tabel 3

Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I-2014 s.d Triw I-2015 dan Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Triw I-2015 Regional Sumatera

No Provinsi Tahun 2014 Tahun 2015

Triw I Triw II Triw III Triw IV Triw I Triw II1)

(1) (2) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Aceh 107,22 104,18 107,18 105,77 100,33 101,21 2 Sumatera Utara 113,28 113,69 114,27 105,69 100,48 100,60 3 Sumatera Barat 111,58 107,48 108,91 106,14 94,58 103,63 4 Riau 110,69 110,41 114,69 101,96 90,72 108,14 5 Jambi 105,66 112,17 114,68 104,81 91,66 101,50 6 Sumatera Selatan 107,69 107,74 112,65 102,78 99,97 106,95 7 Bengkulu 107,63 108,12 113,23 106,26 96,54 103,95 8 Lampung 108,16 109,48 112,64 106,41 93,38 100,91 9 Kep Bangka Belitung 105,13 108,62 108,89 105,15 92,19 107,88 10 Kep Riau 110,46 113,06 113,18 107,29 101,80 111,66 1) Angka perkiraan ITK Triwulan II-2015

Pada triwulan I-2015 konsumen di Pulau Sumatera tidak semua menunjukkan sikap yang optimis yang ditunjukkan dengan tidak semua indeks di atas 100. Secara umum, masyarakat Sumatera mempunyai

persepsi terhadap perekonomian lebih rendah dibandingkan persepsi masyarakat Indonesia pada umumnya. Sedangkan ITK mendatang Provinsi Bengkulu triwulan II-2015 yaitu sebesar 103,95 diperkirakan masih lebih rendah

(6)

dibandingkan Nasional (indeks 107,91), dan pada level regional Sumatera, Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan optimisme tertinggi dengan nilai indeks 111,66.

Gambar 5.

Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan II-2015 Menurut Regional Sumatera dan Nasional

Jika kita amati dari series Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Provinsi Bengkulu dari triwulan I-2013 sampai Triwulan I-2015, terlihat bahwa saat triwulan I nilai ITK berada di titik terendah. Artinya optimisme

konsumen terhadap kondisi ekonomi terendah di tiap tahunnya terjadi di triwulan I. Hal ini biasa di dorong oleh pengaruh tingkat pendapatan dan tingkat konsumsi masyarakat menurun mengingat di triwulan ini baru masuk tahun buku baru dan pemerintah baru mengesahkan undang-undang anggaran sehingga proyek pembangunan belum mulai berjalan.

Gambar 6.

Perkiraan dan Realisasi ITK Provinsi Bengkulu Triwulan I-2013 s.d Triwulan II-2015

111.66 108.14 107.91 107.88 106.95 103.95 103.63 101.5 101.21 100.91 100.6 94 96 98 100 102 104 106 108 110 112 114

Kep Riau Riau Nasional Kep Bangka Belitung Sumatera Selatan Bengkulu Sumatera Barat

Jambi Aceh Lampung Sumatera Utara 107.16 107.52 108.77 106.56 105.04 108.06 110.15 103.98 105.49 103.95 104.31 107.78 110.65 106.00 107.63 108.12 113.23 106.26 96.54 95 97 99 101 103 105 107 109 111 113 115 Perkiraan Realisasi

(7)

Tabel 4

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Seluruh Indonesia Triwulan I-2015 dan Perkiraan Triwulan II-2015

Provinsi

Triwulan I-2015 Perkiraan Tw II-2015

Pendapatan Ruta Kini Pengaruh Inflasi Thd Konsumsi Makanan Konsumsi Makanan &

Non Makanan ITK Kini

Pendapatan Ruta Mendatang Rencana Pembelian Barang Tahan Lama ITK Mendatang Aceh 98,63 102,26 101,92 100,33 101,48 100,71 101,21 Sumut 97,23 105,45 101,91 100,48 106,01 91,08 100,60 Sumbar 84,16 109,09 100,99 94,58 102,72 105,21 103,63 Riau 84,31 100,43 93,68 90,72 113,19 99,25 108,14 Jambi 87,32 100,37 90,95 91,66 97,36 108,73 101,50 Sumsel 88,17 111,49 113,50 99,97 117,10 89,13 106,95 Bengkulu 84,95 114,87 100,92 96,54 111,79 90,17 103,95 Lampung 89,20 90,90 106,48 93,38 107,33 89,63 100,91 Babel 86,16 99,85 96,83 92,19 109,45 105,10 107,88 Kepri 95,04 113,51 103,05 101,80 106,06 121,46 111,66 DKI 101,43 112,25 99,50 103,97 113,56 112,55 113,20 Jabar 100,59 115,43 99,63 104,43 110,93 95,00 105,15 Jateng 95,38 106,89 100,92 99,71 117,77 95,26 109,60 DI Yogya 87,57 111,66 101,72 97,18 118,94 113,40 116,94 Jatim 97,83 106,74 100,10 100,75 115,84 100,01 110,10 Banten 103,33 108,38 100,35 104,07 107,80 104,93 106,77 Bali 97,11 108,22 107,43 102,36 116,45 116,41 116,45 NTB 86,90 112,56 103,62 97,50 117,34 82,42 104,66 NTT 88,60 104,97 90,39 93,45 116,39 102,89 111,49 Kalbar 88,75 112,65 112,84 100,44 107,72 112,17 109,35 Kalteng 87,73 101,17 104,39 94,98 112,07 117,22 113,95 Kalsel 91,21 99,64 94,66 94,25 104,22 121,97 110,68 Kaltim 96,31 108,65 102,59 101,03 102,22 104,76 103,15 Sulut 91,14 102,96 85,48 93,15 110,09 113,45 111,32 Sulteng 88,48 99,63 89,66 91,78 116,43 101,71 111,09 Sulsel 90,00 100,52 105,90 96,29 105,51 111,59 107,73 Sultra 84,06 102,84 99,61 92,52 121,37 96,92 112,50 Gorontalo 89,00 98,74 105,40 95,18 110,87 110,50 110,75 Sulbar 96,80 108,64 99,88 100,69 116,37 114,72 115,78 Maluku 101,49 100,96 105,36 102,18 113,49 118,96 115,49 Malut 100,98 107,02 103,58 103,19 109,82 120,65 113,76 Papua Barat 98,84 102,41 98,66 99,77 108,26 89,37 101,40 Papua 92,54 95,55 94,97 93,88 107,67 98,88 104,49 Nasional 96,63 109,00 100,65 100,87 112,13 100,49 107,91

(8)

DATA

Mencerdaskan Bangsa

BPS PROVINSI BENGKULU

Informasi lebih lanjut hubungi :

Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik

Rudy Nooryadi, S.Si, ME

Telepon: 0736-349117

Referensi

Dokumen terkait

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan II-2016 sebesar 108,69 artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme lebih

ITK Sulawesi Tengah pada triwulan I-2015 sebesar 91,78 artinya bahwa kinerja ekonomi pada triwulan I- 2015 mengalami penurunan bila dibandingkan triwulan sebelumnya (nilai

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2015 sebesar 103,29, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat tetapi tingkat optimisme lebih

 Perkiraan ITK Sulawesi Tengah pada triwulan III-2015 sebesar 114,76, artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan meningkat dengan tingkat optimisme lebih

Dibandingkan dengan triwulan II-2017 yang memiliki nilai ITK sebesar 106,42, optimisme konsumen Sulawesi Tengah terhadap kondisi perekonomian pada triwulan III-2017 ini

 Nilai ITK DIY pada Triwulan III-2015 diperkirakan mencapai 113,85; artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan membaik atau mengalami peningkatan dengan

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di DKI Jakarta pada Triwulan IV-2015 adalah sebesar 106,64 yang artinya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan tersebut secara umum dikatakan

Nilai ITK DIY pada Triwulan II-2014 diperkirakan mencapai 120,58; artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan meningkat lebih baik dengan tingkat optimisme yang lebih