• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN Praktikum Farmasetika Sediaan Li

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN Praktikum Farmasetika Sediaan Li"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN

Praktikum Farmasetika Sediaan Liquida dan Semisolida DROP (Parasetamol)

Disusun oleh :

KELOMPOK II / Farmasi E

AULIA MULIDA PUTRI (201010410311009)

HANAN (201110410311013)

DYAH RAHMASARI (201110410311014)

MUHAMMAD SUGIANUR (201110410311018)

AYU MEGA YUSTANIA (201110410311063)

ROHIMATUS SA’DIYAH (201110410311072)

NUR SYAFRIDAH (201110410311073)

KHOIRUS SHALEH (201110410311092)

FENNY YUNIHARTO (201110410311118)

ESTI LISTIANI (201110410311178)

Dosen Pembimbing : Heru Prabowo, S.Farm., Apt

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Asetaminofen adalah salah satu obat yang terpenting dalam terapi nyeri ringan sampai sedang.Asetaminofen merupakan metabolit aktif fenestetin dan bertanggung jawab atas efek analgesiknya.Obat ini penghambat COX-1 dan COX-2 yang lemah pada jaringan perifer dan tidak memiliki efek antiinflamasi.(Farmakologi Dasar & Klinik, Katzung Bertram G hal.608)

A. Karakteristik Bahan Obat

- Nama Bahan Obat : Paracetamol ( FI III ,hal 37 )

- Sinonim : N-Acetil-P-Aminofenol, Acetaminofen. - Struktur Kimia :

- BM : 151,16

- Kemurnian : kemurniaan Paracetamol tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2.

- Efek Terapeutik : Analgesik, antipiretik.

B. Tinjauaan Farmakologi Obat

(3)

Farmakoterapi)

Farmakokinetik : Acetaminophen diberikan peroral. Absorbsorbsinya bergantung pada kecepatan pengosongan lambung dan kadar puncaknya dalam darah biasanya tercapai dalam waktu 30-60 menit. Acetaminophen sedikit terikat pada protein plasma dan sebagiaan dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati dan diubah menjadi acetaminofen sulfa dan glukoronida yang tidak aktif secara farmakologis. Kurang dari 5% acetaminofen diekskresi tanpa mengalami perubahan. Suatu metabolit minor tetapi sangat aktif (N-asetel-p-benzokuinon) penting pada dosis besar karena bersifat toksik atau penyakit hati, waktu-paruhnya bisa meningkat hingga dua kali lipat atau lebih. (Farmakologi Dasar & Klinik, Katzung Bertram G hal.608)

Indikasi : asetaminofen berguna untuk nyeri ringan sampai sedang seperti nyeri kepala,myalgia, nyeri pasca persalinan dan keadaan lain ketika aspirin efektif sebagai analgesic dapat digunakan sebagai analgetik tambahan pada terapi antiinflamsai.(Farmakologi Dasar & Klinik, Katzung Bertram G hal.608)

(4)

C. Organoleptis Bahan Obat(FI III hal.37) - Warna : Putih

- Bau : Tidak berbau

- Rasa : Pahit

D. Karakteristik Fisika Kimia Kelarutan menurut FI III (hal.37)

: larut dalam 70 bagian air,dalam 7 bagian etanol (95%), dalam 13 bagiaan aseton P, dalam 40 bagiaan gliserol P dan dalam larutan-larutan alkali.

Kelarutan menurut FI IV (hal 649)

: Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1N, mudah larut dalam etanol. Kestabilan pada pH : Stabil pada pH antara 4 dan 7 pada 250C.(FI

III, hal 37)

E. Mikroskopik

- Bentuk Kristal : Hablur atau serbuk Hablur (FI III hal.37)

F. Karakteristik Fisika Mekanik - Titik lebur : 1680C-1720C

- Higroskopisitas : Tidak higroskopis(FI III hal.37)

G. Stabilitas Bahan Padat

-Terhadap Suhu : Stabil -Terhadap Cahaya : Stabil -Terhadap : Stabil Bahan Larutan

-Terhadap pelarut : Sangat Stabil dalam air H. Higroskopisitas

(5)

-pKa : 9,5 pada suhu 250 -Nama kimia : N-asetil-4 aminofen

I. Pengertian

Drop atau guttae adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi atau suspense dimaksudkan untuk obat dalam atau luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yang setara dengan penetes baku (menurut FI III ).

Rancangan formula

Senyawa aktif Efek/khasiat Efek samping Karakteristik fisika Karakteristik kimia berlebihan dan jangka panjang

(6)

Alasan :Karena bahan aktif paracetamol sedikit efek sampingnya dibandingkan dengan analgetik lain.

b. Bentuk sediaan terpilih : Sediaan Drop

Alasan :Paracetamol merupakan bahan obat yang rasanya pahit, diharapkan dengan bentuk drop dapat memperbaiki rasa dari bahan aktif sehingga dapat mempermudah anak usia yang di tuju dapat mengkonsumsi obat ini (lebih akseptabel).

c. Dosis dan jumlah per kemasan : Pemakaian oral :

 Dewasa : 0,5 g – 1 g setiap 4-6 jam, maksimum 4 g sehari Licensed untuk anak-anak:

3 bulan-1 tahun = 60 mg – 120 mg 1 tahun-5 tahun = 120 mg – 250 mg 6 tahun-12 tahun = 250 mg – 500 mg  Diberikan setiap 4-6 jam, jika diperlukan

BNFC Neonates :

28 – 32 hari 20 mg/kgBB sebagai dosis tunggal dan 10-15 mg/kgBB setiap 8-12 jam, jika diperlukan maksimal 30 mg/kgBB sehari.

(Martindale, 108)

(7)

Dosis untuk bayi (table berat badan ISO Vol.45 hal: 642, tahun 2010)

Usia (bulan)

Laki-laki Perempuan Rata-rata

bobot (kg) Bobot (kg) Panjang Bobot (kg) Panjang

0 3,1 48 3,0 48 3,05

1 4,2 52 3,8 52 4,00

2 5,2 56 4,8 56 5,00

3 5,9 59 5,4 57 5,65

4 6,4 61 6,1 61 6,21

Dosis yang diperlukan: 0 bulan-3 bulan: 30-60 mg

3 bulan-6 bulan: 60-80 mg

6 bulan-9 bulan: 80-100 mg 9 bulan-12 bulan: 100-120 mg Volume takaran pipet: 0,3 ml; 0,4 ml; 0,6 ml; 0,8 ml Volume takaran terkecil: 0,3 ml setara dengan 30 mg

- 0 bulan-3 bulan : 0,3 ml-0,6 ml

a. 0 bulan-3 bulan =0,3 ml-0,6 ml (30-60 mg) 1 hari: (0,3 ml-9,6 ml)x4= 1,2 ml-2,4 ml

1 hari: (0,8ml-1 ml)x4= 3,2 ml-4 ml

(8)

3 hari: (3,2 ml-4 ml)x4= 12,4 ml-16 ml

d. 9 bulan-12 bulan= 1 ml – 1,2 ml (100 – 120 mg) 1 hari: (1 ml-1,2 ml)x4= 4 ml- 4,2 ml

3 hari: (4 ml-4,2 ml)x4= 16 ml-19,2 ml

Sehingga untuk kemasan terkecil adalah 15 ml

d. Rencana Spesifikasi :

Bentuk sediaan : larutan / drops

Kadar bahan aktif : 30 mg/0,3 ml

pH sediaan : 6,0 ± 0,5

Warna : merah muda

Bau : strawberry

Rasa : manis

Viskositas :

-Kemasan terkecil : 15 ml

e. Bahan Tambahan

Macam-macam bahan eksipien yang dapat digunakan:

Fungsi Bahan

Macam – Macam Bahan, Karakteristiknya

Bahan terpilih Pelarut Aquadestilata ( FI III hal. 96 )

 Bentuk

Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa Glyserin ( HPE hal. 301 )

 Bentuk

Cairan jernih, tidak berbau, tidak

(9)

bewarna, kental, higroskopik, rasa manis 0.6 kali sukrosa  Kelarutan

Sedikit larut dalam aseton, larut dalam etanol 95%, metanol, air, tidak larut dalam benzena, kloroform minyak, larut 1 : 500 dengan eter dan 1 : 1 dengan etil asetat

Propilen Glikol ( HPE hal. 624 )  Bentuk

Cairan jernih, tidak berwarna, kental, tidak berbau, rasa manis, sedikit pahit

 Kelarutan

Carmpur dengan aseton, kloroform, eter, etanol 95%, glyserin, air, larut dengan perbandingan 1 : 6 dengan eter, tidak larut dengan minyak mineral

PEG ( Polietilen Glikol ) 400 ( FI III hal. 504 )

 Bentuk

Cairan kental, jernih, tidak berwarna, atau praktis tidak berwarna, khas lemah, agak higroskopik

 Kelarutan

(10)

95%, dalam aseton, dalam glikol lain dan dalam hidrokarbol aromatik, praktis tidak larut dalam eter, dan dalam hidrokarbon alifatik

Pengawet Natrium Benzoat ( HPE hal. 662 )  Bentuk

Granul putih/kristalin, sedikit higroskopik, tidak berbau, tidak berwana, tidak manis dan asin  Kelarutan

Pada suhu 20 0C kelarutan dalam:

 Etanol 95% 1:75

 Etanol 90% 1:50

 Air 1:1.8

 Air 100% 1:1

Nipagin ( Metil Paraben ) ( HPE hal. 466 )

 Bentuk

Kristal tidak berwarna atau serbuk kristalin, berwarna putih, tidak berbau atau berbau lemah, rasa sedikit membakar

 Kelarutan

Pada suhu 25 0C larut dalam:  Etanol 95% 1:3

 Etanol 50% 1:6

(11)

 Glyserin 1:60

Pemanis Propilen Glikol ( HPE hal.624 )  Bentuk

Cairan jernih, tidak berwarna, kental, tidak berbau, rasa manis, sedikit pahit

 Kelarutan

(12)

 Bentuk

Serbuk atau hablur putih, tidak berbau atau berbau aromatik lemah, larutan encer, sangat manis, larutan bereaksi dengan lakmus

 Kelarutan

Agak sukar larut dalam air, dalam kloroform dan dalam eter, larut dalam air mendidih, sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam larutan amoniak encer, dalam larutan alkali hidroksida dan dalam alkali karbonat

dengan pembentukan

karbondioksida Glyserin ( HPE hal. 301 )

 Bentuk

Cairan jernih, tidak berbau, tidak bewarna, kental, higroskopik, rasa manis 0.6 kali sukrosa  Kelarutan

Sedikit larut dalam aseton, larut dalam etanol 95%, metanol, air, tidak larut dalam benzena, kloroform minyak, larut 1 : 500 dengan eter dan 1 : 1 dengan etil asetat

(13)

Hablur putih/tidak berwarna, massa hablur atau berbentuk halus atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa manis, stabil di udara, larutannya netral terhadap lakmus

 Kelarutan

Sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter

Sorbitol ( FI IV hal. 756 )  Bentuk

Serbuk, granul, atau lempengan, higroskopik, warna putih, rasa manis

 Kelarutan

Sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, dalam metanol dan dalam asam asetat Saccharin Na ( FI IV hal. 750 )

 Bentuk

(14)

 Kelarutan

Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol

Formula standart

1. ACETAMINOPHENI ELIXIR ( Formularium Nasional ed. Kedua 1978,hal 3 )

Eliksir Asetaminofen Eliksir Parasetamol

Komposisi : Tiap 5 ml mengandung :

Acetaminophenum 120 ml

Glycerolum 2,5 ml

Propylenglycolum 500 ml Sorbitoli solutio 70 % 1,25 ml

Aethanolum 500 ml

Zat tambahan yang cocok secukupnya Aqua destilata hingga 5 ml

(15)

RANCANGAN FORMULA

Bahan Fungsi Rentang Kadar

Paracetamol Bahan aktif 20 g

Propilenglikol Pelarut Pengawet

10 – 25 % 41,52 g

Glycerin Pelarut 20 % 63,1 g

PEG 400 Pelarut 10 – 25 % 45,3 g

Sakarin Na Pemanis 0,025 – 0,6

%

0,2 g

Gliserin Pemanis Ad 300 ml

essense Perasa 30 tetes

Pewarna strawberry 6 tetes

(16)

Umur BB (kg) ADI 25mg/kgBB

1 – 5 tahun 10 – 15 kg 250 mg – 375 mg

6 – 12 tahun 16 – 23 kg 400 mg – 575 mg

Penggunaan untuk umur 0-3 bulan

Sehari = {(1,2-2,4 ml) / 15ml} x 41,52g = 3,3216 g- 6,6432 g Penggunaan untuk umur 3-6 bulan

Sehari = {(2,4 ml-3,2 ml) / 15ml} x 41,52g = 6,6432 g- 8,8576 g Penggunaan untuk umur 6-9 bulan

Sehari= (3,2 ml-4 ml)/15 ml x 41,52 g= 8,8576 g-11,072 g Penggunaan untuk umur 9-12 bulan

Sehari = (4 ml-4,2 ml)/15 ml x 41,52 g= 11,072 g-11,62 g

Kesimpulan : Melebihi ADI, namun diperbolehkan karena tidak dikonsumsi setiap hari, hanya ketika sakit saja.

2. Gliserin (1,0 – 1,5 g/kgBB)

Umur BB (kg) ADI 1,0–1,5g/kgBB

1 – 5 tahun 10 – 15 kg (10-15g) – (15-22,5g) 6 – 12 tahun 16 – 23 kg (16-23g) – (24-34,5g)

Penggunaan untuk umur 0-3 bulan

Sehari = {(1,2-2,4 ml) / 15ml} x 63,1g = 5,048 g- 10,096 g Penggunaan untuk umur 3-6 bulan

Sehari = {(2,4-3,2ml) / 15ml} x 63,1g = 10,096 g- 13,46 g Penggunaan untuk umur 6-9 bulan

Sehari= (3,2-4 ml)/15 ml x 63,1g= 13,46 g- 16,82 g Penggunaan untuk umur 9-12 bulan

Sehari= (4-4,2 ml)/15 ml x 63,1 g= 16,82 g- 17,668 g Kesimpulan : Tidak melebihi batas ketetapan ADI

3. PEG 400 (10mg/kgBB)

(17)

1 – 5 tahun 10 – 15 kg 100mg – 150mg

6 – 12 tahun 16 – 23 kg 160mg – 230mg

Penggunaan untuk umur 0-3 bulan

Sehari = {(1,2-2,4 ml) / 15ml) x 45,3g = 3,624 g-7,248 g Penggunaan untuk umur 3-6 bulan

Sehari = {(2,4-3,2 ml) / 15ml) x 45,3g = 7,248 g-9,664 g Penggunaan untuk umur 6-9 bulan

Sehari= (3,2- 4 ml)/15 ml x 45,3 g= 9,664 g- 12,08 g Penggunaan untuk umur 9-12 bulan

Sehari = (4-4,2 ml)/15 ml x 45,3 g= 12,08 g-12,684 g

Kesimpulan : Melebihi ADI, namun diperbolehkan karena tidak dikonsumsi setiap hari, hanya ketika sakit saja.

4. Sakarin Na (2,5mg/kgBB)

Umur BB (kg) ADI 2,5mg/kgBB

1 – 5 tahun 10 – 15 kg 25mg – 37,5mg

6 – 12 tahun 16 – 23 kg 40mg – 57,5mg

Penggunaan untuk umur 0-3 bulan

Sehari = {(1,2-2,4ml) / 15ml) x 0,2g = 0,016 g- 0,032 g Penggunaan untuk umur 3-6 bulan

Sehari = {(2,4-3,2ml) / 15ml) x 0,2g = 0,032 g- 0,0426 g Penggunaan untuk umur 6-9 bulan

Sehari= (3,2-4 ml)/15 ml x 0,2 g= 0,0426 g- 0,0533 g Penggunaan untuk umur 9-12 bulan

Sehari= (4-4,2 ml)/15ml x 0,2 g= 0,0533 g- 0,056 g Kesimpulan : Tidak melebihi batas ketetapan ADI

H. Perhitungan Konstanta Dielektrik

(18)

ε=(20x32,1)+(10x42,5)+80(15x12,4)+(19,96x80)

ε=(642)+(425)+80(186)+(1596,8)

ɛ=35,6225

Cara Peracikan :

1. Kalibrasi beaker glass 2. Timbang paracetamol 3. Timbang PEG 400 4. Timbang propilenglikol 5. Timbang gliserin

6. Larutkan paracetamol dengan PEG 400 aduk ad larut.

7. Tambahkan Propilenglycol kedalam campuran No. 6, aduk ad larut dan homogen.

8. Tambahkan gliserin kedalam campuran No. 7, aduk ad bahan obat terlarut sempurna dan homogen

9. Timbang Saccharin Na, kemudiaan larutkan dengan aquadest ad larut. 10. Tambahkan essence strawberry, aduk ad homogen.

11. Tambahkan gliserin.

BAB II

EVALUASI SEDIAAN

(19)

pengujian diinginkan

1. Cuci alat dengan alcohol 95% dan keringkan

2. Masukkan zat uji kedalam viscometer sebanyak 100 ml 3. Masukkan lempeng besi (nomor

3) ke dalam larutan zat uji yang telah dipindahkan pada wadah yang terdapat pada alat

viskometer

4. Nyalakan mesin, dan baca angka yang tertera pada alat viskometer

1. Bersihkan piknometer, kemudian keringkan.

2. Timbang piknnometer kosong dengan neraca analitik.

3. Piknometer diisi dengan aquadest sampai penuh.

4. Sesuaikan suhu yang tertera pada piknometer dengan suhu 20o C.

(20)

Penetapan pH

pH meter fischer

6. Piknometer diisi dengan sediaan sirup.

7. Sesuaikan suhu sampai 20o C

8. Timbang piknometer yang berisi sediaan (sirup).

9. Lakukan replikasi sebanyak 3 kali. 10. Hitung BJ masing-masing

replikasi

11. Hitung rata-rata BJ BJ = M2- M 1

V air

Dimana :

M2 = berat piknometer yang berisi

sediaan

M1 = berat piknometer kosong

V air= volume air

1. Bersihkan electrode alat yang digunakan dengan aquadest 2. Siapkan pH standart yang akan

digunakan untuk kalibrasi 3. Masukkan magnetic stirrer

electrode ke dalam larutan standart

4. Atur posisi dalam keadaan ON 5. Catat pH yang tertera pada alat

(21)

6. Ukur larutan pH sediaan 7. Catat pHnya.

 RANCANGAN ETIKET / LABEL DAN LEAFLET / BROSUR

1. Komposisi

Parasetamol : 30,5 mg / 0,6 ml 2. Farmakologi

Sebagai analgesik, bekerja dengan meningkatkan ambang rangsang rasa sakit dan sebagai antipiretik, diduga bekerja langsung pada pusat penghantar panas hipotalamus.

3. Indikasi

Untuk meringankan rasa sakit pada keadaan sakit kepala, sakit gigi,

menurunkan demam yang menyertai influenza dan demam setelah imunisasi. 4. Kontraindikasi

 Hipersensitivitas terhadap parasetamol

 Penderita dengan gangguan fungsi hati yang berat 5. Efek samping

Penggunaan jangka panjang dan dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati

Reaksi Hipersensitivitas 6. Perhatian

Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal

Bila setelah 2 hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri tidak menghilang, segera hubungi Unit Pelayanan Kesehatan

Penggunaan obat ini pada penderita yang mengkonsumsi alkohol, dapat meningkatkan resiko kerusakan fungsi hati

7. Dosis

(22)

3 bulan – 1 tahun : 2 – 4 tetes 8. Penyimpanan

Simpan pada suhu kamar (25 o – 30 o C), terlindung dari cahaya.

9. Kemasan

Batch. No : LG 2529 Exp. Date : Maret 2017

No. Reg : DBL9722221636A1

(23)
(24)

PEMBAHASAN

Asetaminofen atau yang biasa dikenal parasetamol merupakan derivat dari para amino fenol. Efek terapeutik dari paracetamol adalah menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga merupakan efek sentral dan tidak digunakan sebagai antiinflamasi karena efek inflamasinya yang lemah atau tidak ada. Efek yang ditimbulkan parasetamol adalah analgesik-antipiretik, tidak seperti analgesik lain seperti aspirin dan ibuprofen. paracetamol tidak menimbulkan iritasi lambung atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arterious pada janin.

Pada praktikum kali ini, kelompok kami membuat sediaan larutan berupa drop. Drop adalah sediaan cair berupa larutan, suspense, atau emulsi yang dimaksudkan untuk obat luar atau obat dalam. Digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menggunakan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes baku yang disebutkan Farmakope Indonesia. Jika disebutkan Guttae, obat tetes tanpa penjelasan lebih lanjut, maka obat tetes yang dimaksudkan adalah obat tetes untuk obat dalam.

Pembuatan sediaan drop ini dimaksudkan untuk mempermudah konsumen dalam penggunaan, karena selain bentuk sediaan yang berupa cairan, penggunaan pipet tetes pada sediaan drop ini juga dapat membantu dalam pengaplikasiannya pada konsumen yaitu bayi usia 0 bulan sampai 3 bulan. Dosis sediaan yang kami buat adalah 30 mg/0,3 ml. Volume sediaan yang dibuat pada optimasi yakni 15 ml.

(25)

Kosolven yang dipilih dalam pembuatan formula sirup parasetamol adalah propilenglikol, gliserin dan polietilenglikol. Dalam pembuatan formula, jumlah propilenglikol, gliserin dan polietilenglikol dilebihkan dari standar kelarutan yang terdapat pada farmakope. Hal tersebut dimaksudkan agar parasetamol tidak mudah kembali menjadi kristal karena larutan yang tertulis di farmakope merupakan kelarutan jenuh. Selain melarutkan parasetamol, kosolven juga ditujukan untuk mengurangi jumlah pemakaian air. Karena penggunaan air dapat mengurangi stabilitas sediaan. Air dapat mempermudah terjadinya perubahan pH dan terjadinya suatu reaksi kimia. Selain itu, pada kadar tertentu, propilenglikol, gliserin dan polietilenglikol dapat berfungsi sebagai pengawet. Penggunaan propilenglikol, gliserin dan polietilenglikol juga dimaksudkan untuk menambah viskositas dari larutan agar saat penuangan tidak banyak larutan yang tumpah.

Ada tiga cara pelarutan yang dilakukan pada proses optimasi formula, antara lain:

1. Parasetamol dilarutkan dalam pelarut yang memiliki kelarutan paling tinggi dahulu, yaitu polietilenglikol, propilenglikol, dan setelah itu gliserin.

2. Parasetamol dilarutkan dalam masing-masing kosolven sesuai dengan perbandingan kelarutannya, kemudian ketiganya dicampur.

3. Propilenglikol, gliserin dan polietilenglikol dicampur terlebih dahulu kemudian parasetamol dilarutkan dalam campuran kosolven tersebut.

Dari ketiga cara pelarutan tersebut, kelompok kami memilih cara ketiga, yaitu mencampurkan semua kosolven lebih dahulu setelah itu parasetamol dimasukkan sedikit demi sedikit. Proses pelarutan dengan cara ini membutuhkan proses pengadukan yang cukup lama karena parasetamol belum bisa larut dengan sempurna. Hal ini disebabkan sudah terjadinya ikatan antara propilenglikol, gliserin dan polietilenglikol. Ketiganya bersifat nonpolar dan saling berikatan, sehingga saat parasetamol dimasukkan akan membutuhkan waktu yang cukup lama agar parasetamol dapat berikatan dengan komponen pelarut bebasnya.

(26)

telah ditetapkan dalam literatur. Pada formulasi drop yang kami buat, tidak digunakan penambahan air, sehingga pH bahan aktif dapat lebih stabil. Selain itu kami juga menambahkan pemanis yakni saccharin Na yang dimaksudkan untuk menutupi rasa pahit dari paracetamol, proses pelarutan saccharin Na tidak menggunakan air, dimana saccharin Na dilarutkan dahulu pada propilenglikol sampai terlarut sempurna, kemudian ditambahkan ke larutan drop. Untuk meningkatkan tingkat akseptabilitas dari obat, kami menggunakan essence anggur sehingga memberikan warna dan aroma yang segar dan nyaman dikonsumsi bagi anak-anak.

Dari hasil scale up, didapatkan pH 6,61. pH tersebut mengalami penurunan daripada dalam formula kecilnya. pH tidak memenuhi syarat dikarenakan dapar yang dipakai tidak dapat bekerja secara maksimal. Penggunaan bahan tambahan seperti kosolven dan perasa yang bersifat asam juga dapat memperngaruhi penurunan tersebut.

Hasil organoleptis berwarna merah muda, beraroma strawberry, dan memiliki rasa strawberry. Hasil organoleptis sudah memenuhi spesifikasi yang diinginkan. Selain dilakukan pengecekan pH sediaan dan organoleptis, evaluasi juga dilakukan untuk viskositas dan BJ. Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan viskometer Oswald. Sedangkan pengukuran berat jenis dilakukan dengan menggunakan alat piknometer dan didapatkan pengukuran yaitu 1,1623.

Sedangkan dari uji viskositas yang menggunakan alat viscometer cup and bob dengan spandle no.3 didapatkan hasil 3,5 dPas. Hasil evaluasi menunjukkan hasil positif bagi seluruh parameter uji yang dilakukan, sehingga formula ini memenuhi syarat untuk diproduksi pada skala yang lebih besar.

(27)

KESIMPULAN

1. Organoleptis hasil scale up memenuhi hasil spesifikasi yang diinginkan yaitu rasa manis strawberry, warna merah muda dan beraroma strawberry.

2. pH hasil scale up yaitu 6,61

3. BJ sediaan yang didapatkan adalah 1,1623

Referensi

Dokumen terkait

1. Mengenal dan memahami cara pembuatan dan komposisi sediaan emulsi cair Oleum Iecoris Aselli. 2. Menentukan formulasi yang tepat untuk sediaan emulsi cair Oleum Iecoris

Setelah menyelesaikan praktikum formulasi sediaan emulsi, praktikan dapat membahas hasil dari sediaan emulsi yang dibuat dengan metode pembuatan korpus emulsi cara

Produk steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi-bagi yang  bebas dari mikroorganisme hidup. Sediaan parenteral ini merupakan sediaan yang unik diantara bentuk

 Obat dibuat suspensi karena obat – obat tertentu tidak stabil secara kimia, bila ada dalam larutan tapi stabil bila dibuat dalam bentuk suspensi, dan jika ada bahan

Guttae Ophthalmicae : Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan

Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat terdispersi dalam pembawa, distabilkan dengan zat pengemudi atau surfaktan yang cocok... Sediaan

Pembahasan Krim adalah bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai mengandung air